Anda di halaman 1dari 31

BAB III.

CAPAIAN DAN PERKEMBANGAN 2006-2010


(i). CAPAIAN PROGRAM

1. UMUM
Secara umum, realisasi pelaksanaan semua program
yang dilaksanakan sangat baik dan mencapai ≥90% dari
yang ditargetkan (Gambar 1). Prestasi demikian
merefleksikan kerja keras, komitmen dan partisipasi
yang tinggi dari seluruh civitas akademika. Ini tentu
dilakukansecara terus menerus dan berkesinambungan
untuk mewujudkan visi dan misi UB menuju World
Class, Entrepreneurial University sejajar dengan
universitas terkemuka di tingkat Asia dan bahkan dunia.

Gambar 1. Tingkat capaian dari masing-masing program pengembangan

berdasarkan target yang ditetapkan


2. ORGANISASI DAN MANAGEMEN
Program bidang Organisasi dan Manajemen pada dasarnya ditujukan untuk
mempersiapkan organisasi dan manajemen Universitas Brawijaya dan seluruh
infrastrukturnya dalam implementasi otonomi. Upaya pencapaian tujuan ini dilakukan
melalui implementasi (1) program pengembangan otonomi dan (2) program penyehatan
organisasi.

Realisasi pelaksanaan program Penyehatan organisasi


dengan serangkaian tindakan operasional sangat
memuaskan pada umumnya dengan tingkat capaian secara
rata-rata 97% dari yang ditargetkan. Semua program yang
dilaksanakan menunjukkan tingkat capaian ≥90% kecuali
tata kelola(Gambar 2A). Realisasi pelaksanaan
programPengembangan otonomi juga menunjukkan
capaian yang tinggi kecuali Penerimaan Negara Bukan
Pajak (Gambar 2B)

Dengan capaian dalam


bidang orgtanisasi dan
managemen diatas, UB
sudah siap menjadi suatu
universitasm yang
otonom terutama dengan
dukungan dari Dirjen
DIKTI (surat persetujuan
Dirjen Dikti No:
4022/D/T/2007 tanggal
29 November 2007).
Dalam perjalan
kemudian,program
otonomi UB dihadapkan
pada masalah pengesahan
UUBHPP yang,
sebagaimana
diketahui,akhirnya
dicabut. Keadaan ini
mendorong UB
menempuhjalan
alternatif, yang juga telah
dipersiapkan, yaitu
Gambar 2. Tingkat capaian program Penyehatan menjadi Perguruan Tinggi
Organisasi (A) dan program pengembangan otomi (B) Negeri (PTN) dalam
bentuk PPK-BLU (Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum).Dengan
Peraturan Mendiknas No. 55/Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimum
(SPM) UB tanggal 28 Oktober 2008, strategi UB menjadi PPK-BLU semakin mantap
yang diikuti dengan perancangan organisasi pengelolaan (Gambar 3).

Gambar 3. Struktur Organisasi Badan Layanan Umum UB (BLU-UB)


Catatan penting lain yang kiranya layak dikemukakan dalam persiapan UB menjadi suatu
institusi yang otonom ditunjukkan berikut ini.

1. Pembentukan dan pengembangan peran PJM (Pusat Jaminan Mutu), GJM (Gugus Jaminan
Mutu), dan UJM (Unit Jaminan Mutu)
2. Pembentukan dan pengembangan SPI (Satuan Pengendali Internal)
3. Penataan Organisasi di Bidang Administrasi
4. Peningkatan penerapan managemen berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)
5. Pengadaan DSS (Decision Support System) untuk menunjang penyusunan perencanaan
Strategis UB serta pengambilan kebijakan
6. Pembentukan organisasi komisi etik penelitian UB
7. Penguatan organisasi Job Pacemect Center (JPC)
8. Penguatan organisasi Penerbitan UB
9. Penguatan organisasi publikasi internasional
10. Peningkatkan peran Inkubator Bisnis dan Layanan Masyarakat agar hasil penelitian dapat
dikembangkan menjadi unit usaha baru
11. Pengembangan Unit Bisnis, baik yang bersifat akademik maupun non akademik
12. Penguatan ”Double Degree” untuk Program Magister dan Doktor
13. Perintisan Kelas Internasional melalui kerjasama dengan University of Kentucky dan
beberapa PT atau Lembaga lain
14. Pengembangan perpustakaan yang berstandar internasional
15. Pengembangan Fakultas Baru (FIB, FIS, Program Kedokteran Hewan)
16. Peningkatan jumlah PS dan pengembangan PS dengan Kelas Berbahasa Inggris
17. Peningkatan peringkat dalam World Class University
18. Penyiapan dan Sertifikasi mendapatkan ISO 9001-2000

3. PENDIDIKAN DAN KEMAHASISWAAN


Program Bidang Pendidikan ditujukan
untuk menghasilkan lulusan yang memiliki
kompetensi keilmuan dan kompetensi
sebagai professional di bidangnya. Upaya
pencapaian tujuan ini dilakukan melalui
implementasi (1) program pengembangan
pendidikan, (2) program pengembangan
kemahasiswaan, dan (3) program
peningkatan peran alumni. Dalam bidang
Kemahasiswaan, pusat perhatian adalah
pengembangan budaya kampus yang
mengintegrasikan pembinaan
intrakurikuler melalui kegiatan proses belajar mengajar dengan pembinaan
ekstrakurikuler yang
menyangkut pembinaan
penalaran, minat bakat dan
kesejahteraan mahasiswa.

Realisasi pelaksanaan
programPendidikandan
Kemahasiswaansangat
memuaskan pada umumnya
dengan tingkat capaian secara rata-rata 90% dari yang ditargetkan. Semua program yang
dilaksanakan menunjukkan tingkat capaian ≥90% kecuali Pemerataan dan Perluasan
akses serta Pengembangan Kemahasiswaan dengan tingkat capaian 88%.

Catatan penting lain tentang program pengembangan Pendidikan yang kiranya perlu
dipaparkan adalah sebagai berikut.

Gambar 4. Tingkat capaian program pendidikan dan


kemahasiswaan
 SPP proporsional. Kebijakan SPP proporsional telah diterapkan sejak tahun ajaran
2007/2008 (SK Rektor No. 016/SK/2008, tanggal 25 Januari 2008 tentang SPP
Proporsional menurut Katagori per program studi Mahasiswa UB tahun 2007/2008). Ini
ditujukan untuk membantu orang tua yang tidak mampu dalam rangka pemerataan
pendidikan.
 Pengembagan PS baru. Pengembagan PS baru untuk S-1 yang telah dilakukan adalah
pembukaan PS Kedokteran Gigi (Surat Ijin Dikti, No. 2123/DIT/2008), tanggal 11 Juli
2008, SK Rekor No.245/SK/2008, tanggal 9 Oktober 2008) dan PS Kedokteran Hewan
yang berada dibawah Fakultas Kedokteran (SK Rektor No. 244/SK/2008, tanggal 8
Oktober 2008)
 Pengembangan Program Pascasarjana. Pengembangan Program Pascasarjana melalui
peningkatan jumlah PS dan jumlah Mahasiswa telah dilakukan dengan pengajuan usulan
pembukaan PS baru ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
 Penutupan program D-3. Penutupan program D-3 di bawah fakultas/jurusan telah
dilakukan untuk program D-3 Produksi Tanaman dan Agribisnis yang berada di bawah
Fakultas Pertanian
 Perubahan Nama Fakultas Perikanan. Perubahan Nama Fakultas Perikanan menjadi
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dengan akronim FPIK telah dilakukan (SK Rektor
No. 041/SK/2008,)
 Pendirian Fakultas Ilmu Sosial. Pendirian Fakultas Ilmu Sosial yang sebelumnya dalam
bentuk Program Ilmu Sosial telah dilakukan (SK Rektor No.090/SK/2008, tanggal 8 April
2008)
 Pendirian Fakultas Ilmu Budaya.SK Rektor No. 279A/SK/2009 tanggal 10 Agustus 2009.
 Pendirian Program Vokasi dengan manajemen terpisah.SK Rektor No. 246A/SK/2009
tanggal 26 Juni 2009.
 Peningkatan kualitas MABA dan
jumlah MABA dari luar negeri (ASEAN) dengan peningkatan promosi
 JPC (Job Placement Center).
Peningkatkan peran JPC (Job Placement Center) dalam penyiapan lulusan terjun ke dunia
kerja telah dilakukan melalui kerjasama dengan pengguna (stake holders)
 Blended Learning. Studi yang tidak
hanya didasarkan atas tatap muka dalam ruang kelas tapi juga studi yang didukung oleh
sumberdaya yang tersedia dalam internet telah dikembangkan di UB. Secara khusus,
suatu program Blended Learning sedang dilakukan sekarang ini dengan pengembangan
suatu jejaring internet yang menyediakan informasi pembelajaran yang sediakan oleh
para dosen.
Dalam bidang Kemahasiswan, ada beberapa catatan tersendiri yang tidak mudah
dilupakan seperti berikut ini.

 Juara Umum PIMNAS 2008 dan 2009


 Predikat Penyelenggara PIMNAS
terbaik tahun 2009
 Pengembangan Asrama Mahasiswa
(Bantuan Menpera)
 Peningkatan sarana untuk kegiatan bidang minat dan bakat (GOR, dan Gazebo)
 Peningkatan prestasi di bidang minat dan bakat serta mempertahankan prestasi
prestasi puncak di bidang penalaran
4. PENELITIAN dan PENGABDIAN MASYARAKAT
Program pengembangan bidang Penelitian ditujukan untuk meningkatkan kinerja
manajemen penelitian dalam struktur organisasi universitas yang otonom dan manajemen
yang sehat, mengembangkan kuantitas dan kualitas penelitian untuk mendukung
pencapaian visi, meningkatkan atmosfir akademik, dan program internasionalisasi, serta
daya saing nasional serta
meningkatkan penelitian yang
diarahkan kepada pengembangan,
pemanfaatan, dan penuntasan
permasalahan, terutama yang
berkaitan dengan pengembangan
sumberdaya manusia, sumberdaya
alam, sumberdaya hayati dan
kelautan, teknologi, budaya, sosial
kemasyarakatan, dan kesehatan.
Upaya pencapaian tujuan ini
dilakukan melalui implementasi (1) program peningkatan sinergi riset-riset di bawah
payung penelitian, (2) program penelitian untuk pemenuhan kebutuhan industri dan
masyarakat, (3) peningkatan publikasi nasional dan internasional, dan (4) pengembangan
manajemen penelitian.

Program pengembangan bidang


pengabdian kepada masyarakat
ditujukan untuk meningkatkan
kinerja manajemen pengabdian
kepada masyarakat dalam
struktur organisasi universitas
yang otonom dan manajemen
yang sehat, dan meningkatkan
pendidikan dan pelayanan
kepada masyarakat dan secara
resiprokal menerima informasi,
masukan, bantuan masyarakat
untuk meningkatkan relevansi
pendidikan, penelitian, dan
pengabdian masyarakat itu
sendiri.Upaya pencapaian tujuan ini dilakukan melalui implementasi(1) program
peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan (2) program peningkatan pemanfaatan
masyarakat untuk pendidikan dan penelitian.
Realisasi pelaksanaan programPenelitian sangat memuaskan dengan tingkat capaian
secara rata-rata 99% dari yang ditargetkan, dan semua program yang dilaksanakan
menunjukkan tingkat capaian ≥95% (Gambar 5). Tingkat capaian dari program
Pengabdian kepada Masyrakat mencapai secara-rata 94%, tetapi capaian dari satu
program (Perlayanan Masyrakat) masih 75% (Gambar 6).

Catatan penting lain tentang program pengembangan Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyrakat yang kiranya perlu dipaparkan adalah sebagai berikut.

 Pengembangan laboratorium diawali


dengan penguatan Laboratorium
Sentral Ilmu Hayati (LSIH)
 Penggabungan Lembaga Penelitian
dan Lembaga Pengabdian
Masyarakat (SK Rektor No.
122A/SK/2008, tanggal 13 Mei
2008)
 Pembentukan organisasi komisi etik
penelitian UB (SK Rektor No.
057/SK/2008, tanggal 29 Pebruari)
 Pembentukan Tim Gugus
Pengendali Konservasi Energi UB
(SK 043/SK/2008, 13 Pebruari
2008)
 Pembentukan Pusat Studi Kebumian dan Mitigasi Bencana pada Lembaga
Penelitian UB (SK Rektor No.119/SK/2008, tanggal 9 Mei 2008).
 Pengembangan laboratorium
 Peningkatan Kerjasama pendidikan dan penelitian
 Peningkatan perolehan PATENT dan penyelesaian sertifikatnya
 Penulisan Jurnal Internasional dengan membentuk Tim Koordinasi Jurnal
Internasional
 Peningkatan jumlah IPTEK hasil penelitian untuk kegiatan unit bisnis
5. KERJASAMA INSTITUSIONAL
Program bidang pengembangan Kerjasama
Institusional ditujukan untuk mendapatkan sinergi yang
akan mendukung pengembangan otonomi universitas,
dan mempertajam fokus pengembangan Universitas
Brawijaya di setiap bidang pengembangan menuju
pencapaian kualitas institusi berstandar internasional.
Upaya pencapaian tujuan ini dilakukan melalui
implementasi (1) program peningkatan kolaborasi dan
(2) program pengembangan internasionalisasi.
Realisasi pelaksanaan programpengembangan Kerjasama Institusional sangat memuaskan
dengan tingkat capaian secara rata-rata 91% dari yang ditargetkan. Program dengan
capaian dibawah 90% adalah
Kolaborasi dan Internasionalisasi
(Gambar 7) sehingga perlu
mendapat perhatian pada
program pengembangan UB
selanjutnya. Perhatian khusus
nampaknya perlu diberikan pada
program Peran Alumni masih
dengan capaian 73%

Gambar 7. Tingkat capaian


program pengembangan
Kerjasama Institusional

6. PENUNJANG PENYELENGGARAAN UB
Program Penunjang Penyelenggaraan UB ditujukan untuk meningkatkan kemampuan
fisik dan manajerial untuk mendukung penyelenggaraan universitas yang otonom dan
khususnya bagi penyelenggaraan kegiatan akademik yang efektif, serta meningkatkan
gairah dan suasana kerja dengan peningkatan kesejahteraan dosen dan staf administrasi.
Upaya pencapaian tujuan ini dilakukan dengan implementasi (1) program tertib
administrasi dan peningkatan
mutu layanan, (2) program
peningkatan mutu sumberdaya
manusia, (3) program peningkatan
pengelolaan anggaran dan aset, (4)
program peningkatan mutu sarana
dan prasarana, (5) program
peningkatan kesejahteraan dosen
dan tenaga administrasi.

Realisasi pelaksanaan programPenunjang Penyelenggaraan UB sangat memuaskan


dengan tingkat capaian rata-rata 90% dari yang ditargetkan. Program dengan capaian
dibawah 80% adalah Tertib Asdministrai dan Mutu Layanan dan Peningkatan SDM yang
perlu mendapat perhatian dalam program opengembangan UB selanjutnya.
Gambar 8. Tingkat
capaian program
Penunjang
Penyelenggaraan
UB

Catatan penting lain


tentang program
Penunjang
Penyelenggaraan UB yang kiranya perlu dipaparkan adalah sebagai berikut.

 Pembangunan Gedung Kuliah dan Kantor (FH, FT, FIA, FISIP, Perpustakaan,
Program Vokasi)
 Penguatan Laboratorium Sentral Imu Hayati (LSIH) dan laboratorium-
laboratorium di seluruh jurusan
 Perbanyakan buku teks dan jurnal untuk perpustakaan
 Peningkatan peran Lembaga Penerbitan
 Pembangunan Rumah Sakit Pendidikan
 Pembenahan lingkungan kampus (motto: “Kampus AMANAH”= Kampus Aman,
nyaMAN, dan indAH) melalui penataan antara lain: Arus Lalulintas, Pertamanan,
Parkir, Masjid Kampus, dll)

(ii). PERKEMBANGAN

A. UMUM
Universitas Brawijaya terus mengalami perkembangan dalam pelaksanaan Misi yang
diemban dengan arah sebagaimana ditetapkan dalam Visi. Apabila keadaan sekarang
dibandingkan dengan keadaan awal, UB menunjukkan suatu perkembangan yang
mengesankah dengan laju peningkatan rata-rata 690 mahasiswa/tahun dan 39 dosen/tahun
(Gambar 10). Perkembangan demikian juga dapat dilihat pada indikator lain yang akan
disajikan kermudian. Dalam program EntrepreneurialUniversity, perhatian belakangan
ini difokuskan pada Akselerasi Pengembangan UB menuju World, Class,
EntrepreneurialUniversity sebagaimana ditandaskan pada RAKERPIM 2009.
Gambar. 9. Perkembangan UB secara umum berdasarkan jumlah mahasiswa sejak awal pendirian UB

B. PRESTASI UB
Sebagai institusi pendidikan, sebagaimana telah diketahui, UB telah mencapai
peringkat tertinggi (A) pada tingkat nasional berdasarkan AIPT (Akreditasi Institusi
Perguruan Tinggi).Penilain pada tingkat internasional menempatkan UB pada
peringkat 192 (QS Asian University Rankings 2009) dan 500+ (QS World University
Rankings 2009).Ini merefleksikan pengakuan UB pada tingkat internasional yang
semakin nyata. Hasil penilaian Potensi karya ilmiah perguruan tinggi belkangan ini
menempatkan UB pada peringkat nomor 5.
C. PENCITRAAN UB
 Suatu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa UB menyandang gelar dari
Raja Majapahit yaitu Brawijaya.
 Karena itu UB secara keleluruhan termasuk civitas akademika sudah selayaknya
mencitrakan makna gelar tersebut seperti antara lain i) Kepemimpinan/Kepeloporan
(Leadership), ii) Keagungan/Kemegahan (Kingdom), iii) Kerakyatan
(Kesederhaan/Modest), iv) Kebersamaan/Kesatuan (University), dan v)
Pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

1. Suasana Kampus
 Penataan suasana kampus UB
sangat nyata belakangan ini dengan
penekanaan pada kenyamanan,
keamanan dan keindahan yang menunjang kegiatan akademik tanpa
pengabaian aspek lingkungan.
 Ini dapat dilihat secara sederhana dari kondisi lingkungan utama kampus
dengan Gazebo yang digunakan untuk kegiatan akademik khususnya diskusi
mahasiswa.
 Pembangunan gedung bertingkat yang cukup pesat belakangan ini menjadi
kebijakan utama untuk mempertahankan luas lahan terbuka sebagai
konsekuensi dari luas lahan kampus yang terbatas.
2. Daily News
 Pencitraaan UB pada tingkat internasional tidak hanya dilakukan melalui
kegiatan akademik, tapi juga melalui kerjasama dengan media massa
sebagaimana dilakukandengan pihak THE-QS dan Daily News, New York.

D. PENDIDIKAN
 UB, yang hanya terdiri dari 7 Fakultas pada saat
ditetapkan sebagai Universitas Negeri pada tahun
1963, sekarang memiliki 12 Fakultas.
 Fakultas mengelola program studi (PS) S1 dan
program pascasarjana yang bersifat intradisiplin. UB
juga memiliki program Diploma (S0) dan Pascasarjana
interdisiplin dengan managemen tersendiri diluar
fakultas.
1. Program Studi
 Jumlah program studi (PS) hingga akhir 2009 meningkat menjadi 107 dari 95
pada tahun sebelumnya (Gambar 10).
 Peningkatan ini dapat dihubungkan terutama dengan pembukaan 9 PS vokasi
(program diploma). Sebagian besar (60.9%) dari PS tersebut sudah
terakreditasi dengan nilai A (39.1%) dan B (21.7%) (Gambar 11).

Gambar 10. Jumlah Program Studi (PS) UB Gambar 11. Hasil akreditasi PS S1

2. Kemahasiswaan
 Jumlah Peminat UB. Jumlah peminat (P) UB untuk program studi S1
meningkat dalam dua tahun terakhir setelah turun pada tahun 2007 (Gambar
12). Ini diikuti dengan peningkatan dalam jumlah mahasiswa baru (M) dari
6532 (2008) menjadi 7710 (2009) dengan peningkatan sebesar 18%.
 Peningkatan juga terjadi dalam jumlah peminat yang diterima (D). Tetapi
penurunan terjadi dalam nisbah P/D yang dapat menggambarkan penurunan
dalam kualitas mahasiswa baru sebagai konsekuensi dari penurunan dalam
jumlah mahasiswa yang bersaing untuk mendapatkan satu tempat (Gambar 13).
 Jumlah mahasiswa yang bersaing untuk mendapatkan satu tempat adalah 7
orang (P/D = 7) pada tahun 2005-2006, dan berkurang menjadi 4 pada tahun
2009. Jumlah yang diterima juga tidak semuanya mendaftar menjadi
mahasiswa baru yang dapat berarti S1 UB bukan sebagai pilihan utama bagi
sebagian peminat.
 Ini nampak dari IPU (Indeks Pilihan Utama) yang digunakan untuk
menggambarkan nilai relatif jumlah peminat yang diterima, tetapi tidak
mendaftar ulang yang berarti UB bukan sebagai pilihan utama.
 Harga IPU menunjukkan peningkatan peminat diterima yang tidak mendaftar
ulang. Jumlah calon mahasiswa yang tidak mendaftar ulang pada tahun 2008
adalah 18% yang kemudian meningkat menjadi 33% pada tahun 2009.
Gambar 12. Jumlah peminat UB dan nisbah P/D dan Gambar 13. Nisbah P/D (Peminat/Diterima)
P/M. P = peminat, D = diterima dan M = mahasiswa dan IPU (Indeks Pilihan Utama) untuk program
baru terdaftar S1 UB
 Jumlah Mahasiswa. Jumlah mahasiswa keseluruhan yang terdaftar hingga
akhir tahun 2009 mencapai 32068 yang meningkat lebih dari 16% dari yang
pada tahun 2008 (Gambar 14). Ini sebagian besar (86.8%) adalah mahasiswa
S1 yang menunjukkan peningkatan secara eksponensil selama 4 tahun terakhir.
 Jumlah mahasiswa pascasarjana (Sp-1, S2, S3 dan DD =Double degree) hanya
10,4% dari total mahasiswa, tetapi menunjukkan perkembangan yang cukup
baik pada tahun terakhir ini khususnya S2 dan S3(Gambar 15). Jumlah
mahasiswa program S0 masih cukup tinggi sebagai konsekuensi dari
perubahan pengelolaan yang diikuti dengan pembukaan program vokasi.
Gambar 14. Jumlah mahasiswa S1 dan Total Gambar 15. Jumlah mahasiswa S0, Sp-1, S2, S3
dan DD (S2 double degree)
 Sebaran Asal Mahasiswa. Sebagi gambaran dari pemerataan pendidikan,
mahasiswa UB berasal dari hampir seluruh wilayah Indonesia (Gambar 16).
Ini juga merefleksikan daya tarik UB sebagai tempat studi yang cenderung
meningkat dari tahun ke tahun yang didekati dari jumlah peminat.

Gambar 16. Sebaran spasial asal mahasiswa UB pada tahun 2008/2009

 Mahasiswa Asing. Jumlah mahasiswa asing yang terdaftar di UB masih


cukup terbatas (233 orang) yang berarti kurang dari 1% dari jumlah
keseluruhan mahasiswa. Ini tentu masih jauh dibawah dari yang diharapkan
dalam tujuan UB menjadi World Class University.
 Mahasiswa asing ini sebagian besar berada di Fakultas Kedokteran, dan hanya
sebagian kecil (1-3 orang) di Fakultas lain kecuali Fakultas Ilmu Administrasi
(Gambar 17). Asal dari mahasiswa tersebut sebagian besar adalah Malaysia
(Gambar 18). Timor Leste menempati urutan kedua dalam jumlah mahasiswa
sebagai Negara asal mahasiswa. Negara lain yang diharapkan menjadi sumber
mahasiswa untuk masa akan datang adalah yang berada di kawasan ASEAN
seperti Kamboja dan Laos yang perlu mendapatperhatian dalam pengenalan
UB pada Negara tersebut.
Gambar 17. Sebaran mahasiswa asing berdasarkan Gambar 18. Sebaran masiswa berdasarkan
Faultas Negara asal

 Lulusan/AEE. Efisiensi edukasi sering dinyatakan dengan nisbah


lulusan/mahasiswa keseluruhan (NLM), yang sama dengan AEE (Angka
Efisiensi Edikasi) untuk kondisi tertentu. Angka NLM yang berkisar diantara
0,11 untuk Sp-1 hingga 0,43 untuk S0 (Gambar 19) digunakan disini karena
syarat AEE yang tidak dapat dipenuhi. Ini didasarkan atas pertumbuhan
penerimaan mahasiswa yang tidak dipertimbangkan dalam AEE.
 Harga AEE = 0.25 adalah tertinggi untuk S1 dengan masa studi 4 (empat
tahun) yang berarti efisiensi edukasi maksimum. Ini berlaku apabila jumlah
mahasiswa baru yang diterima (terdaftar) tidak mengalami perubahan selama
jangka waktu yang dipertimbangkan. Untuk program studi dengan masa studi
yang berbeda, harga AEE berbeda (mis. AEE = 0.33 untuk masa studi 3 tahun,
dan AEE = 0.20 untuk masa studi 5 tahun).
 Peningkatan penerimaan jumlah mahasiswa baru setiap tahun sebagaimana
terjadi di UB akan mengakibatkan penurunan harga AEE sehingga ini tidak
dapat menggambarkan efisiensi edukasi (Gambar 20). Ini dapat menjelaskan
harga AEE yang rendah untuk program S1 sebagai konsekuensi dari
peningkatan penerimaan mahasiwa baru secara rata-rata sebesar 32% selama 4
tahun terakhir dibandingkan dengan jumlah mahasiswa baru pada tahun 2003.
Apabila pengaruh faktor ini dikoreksi dengan suatu Faktor Koreksi (Gambar
20), harga AEE = 0,20 untuk S1 yang cukup menggambarkan kondisi efisiensi
edukasi di UB saat ini, dan berarti juga efisiensi edukasi masih yang masih
sekitar 82% dari yang diharapkan.
Gambar 19. Harga AEE Gambar 20. AEE dan FK (Faktor Koreksi) sebagai fungsi
dari peningkatan jumlah penerimaan mahasiswa baru

 IPK dan Lama Studi. Secara umum, IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) dari
lulusan sudah cukup tinggi (3.08 – 3.56) untuk semua fakultas (Gambar 21).
Pemeriksaan yang lebih teliti menunjukkan bahwa lulusan dengan IPK = 2,50-
2,99 masih cukup tinggi yaitu 22% dengan kisaran 0% - ≥ 43%, dan hanya
19% (7% - ≥81%) dari lulusan dengan IPK ≥ 3.50 (Gambar 22).
 Lama studi mahasiswa S1 secara rata-rata masih diatas 4 tahun untuk semua
fakultas kecuali FIS, dan menunjukkan perbedaan yang cukup besar antara
fakultas (Gambar 23). Penurunan lama studi dengan tingkat yang cukup
rendah terjadi dengan waktu dari 4,6 tahun pada tahun 2005/06 menjadi 4,4
tahun pada tahun 2008/09 yang berarti hanya 0,2 tahun (2,4 bulan) selama 4
tahun terakhir (Gambar 24). Apabila tingkat penurunan demikian tidak
berubah, lama studi yang diharapkan (4 tahun) baru akan dicapai sekitar tahun
2016/2017.
Gambar 21. Sebaran persentase mahasiswa berdasarkan IPK Gambar 22. Rerata IPK untuk
untuk masing-masing Fakultas masing-masing Fakultas

Gambar 23. Lama studi mahasiswa untuk masing-masing Gambar 24. Perkembangan rata-rata
Fakultas lama studi mahasiswa

3. Metode Pembelajaran
 SCL (student-centered learning). Upaya perbaikan proses pembelajaran di
universitas terus dilakukan tidak hanya untuk memenuhi tuntutan masyarakat
(pengguna), tapi juga untuk membuat inovasi dalam perbaikan kehidupan.
 Konsep SCL (student-centered learning), yang dikembangkan lebih dari 100
tahun yang lalu, banyak mendapat perhatian belakangan ini dan telah
dianjurkan untuk diterapkan di universitas termasuk Universitas Brawijaya
(UB).
 Prinsip dasar dari SCL adalah pemberian otonomi dan kendali yang lebih besar
kepada mahasiswa dalam (i) penentuan apa yang akan dipelajari, (ii)
bagaimana cara mempelajarinya, dan (iii) kapan mempelajarinya. Mahasiswa
juga berpartisipasi dalam penilaian perkembangan studi dan tidak lagi
tergantung pada pengajar (dosen) yang berperanan sebagai fasilitator.
 Ini memerlukan perubahan kurikulum secara mendasar dalam penerapan SCL
yang tidak dilakukan pada universitas yang menerapkan SCL pada umumnya
karena berbagai kendala atau mungkin pemahaman yang kurang akan SCL.
 Model SPARS. Sesungguhnya metode pembelajaran yang diterapkan di
universitas selama ini tidak dapat dikategorikan TCL (Teacher-Centered
Learning) karena juga mengadopsi ciri dari SCL tergantung pada mahasiswa,
bidang pembelajaran dan dosen. Dengan berbagai kesulitan dengan
konsekuensi penerapan SCL secara penuh yang hampir tidak mungkin,
pendekatan baru diperlukan dalam perbaikan proses pembelajaran. Model
SPARS (self-propagating and regerating systems) ditawarkan sebagai suatu
alternatif untuk mengotimalkan proses pembelajaran yang dilakukan selama
ini.
 Landasan dasar dari model ini adalah
sistem pendidikan, falsafah gotong-
royong dari bangsa Indonesia, dan arah
pengembangan UB dengan pendekatan
Entreprenurial University untuk Gambar 25.Metode pembelajaran yang didasarkan
mempercepat pengembangan UB menjadi atas kebersamaan (Gotong Royong) untuk
World Class. Sasaran dari model ini akselerasi pembekalan kompetensi. IM = Individu
Mahasiswa, KM = Kelompok Mahasiswa (Diskusi),
adalah akselerasi pembekalan kompetensi
dan D = Dosen
mahasiswa dengan pemanfaatan dengan
niat yang tulus semua sumberdaya yang
tersedia secara optimal sehingga proses
pembelajaran menjadi tanggung jawab bersama dari semua pihak yang terlibat
dalam suatu kebersamaan (Gambar 25).
 Hasil lokakarya baru-baru ini tentang metode pembelajaran SCL dan SPARS
membawa pada kesimpulan sebagai berikut:
1) Revitalisasi pembelajaran yang dapat mengakselerasi pembekalan
kompetensi mahasiswa sehingga menjadi lulusan yang dapat menciptakan
pekerjaan (job seekers) disamping menjadi pekerja (karyawan) yang
kompeten atau prospektif sangat diperlukan
2) Metode pembelajaran yang diterapkan selama ini dan dikategorikan pada
TCL (teacher-centered leaning) dianggap tidak layak lagi dan perlu diganti
dengan SCL (student-centered leaning)
3) Dengan berbagai kesulitan yang berhubungan dengan pemberian otonomi
dan kendali yang lebih besar kepada mahasiswa serta keterlibatan
mahasiswa dalam penilaian dan integrasi sifat individu mahasiswa dalam
proses pembelajaran, implementasi dari SCL hampir tidak mungkin paling
sedikit dalam jangka pendek yang memerlukan perombakan mendasar dari
sistem perguruan tinggi khususnya dalam kurikulum dan termasuk sikap
mahasiswa dan dosen
4) Model SPARS ditawarkan sebagai suatu alternatif metode pembelajaran
yang ditekankan pada optimalisasi sumberdaya yang tersedia dengan
prinsip propagasi pengetahuan dan keterampilan melalui diskusi interaktif
untuk akselerasi pembekalan kompetensi mahasiswa
5) Models SPARS akan mendorong mahasiswa menjadi aktif membekali diri
sendiri dan membagi pengetahuan kepada orang lain melalui proses yang
propagatif yang akhirnya pembangkitan (regeneration) pengetahuan/
keterampilan dari semua mahasiswa secara bersama akan tercapai
4. Beasiswa
 Jumlah beasiswa, sebagai salah satu faktor yang menentukan keberhasilan
studi bagi mahasiswa yang kurang mampu, terus meningkat dari tahun ke
tahun dari berbagai sumber. Pada tahun 2009, jumlah beasiswa hampir 11,9
milyar yang 14% lebih tinggi dari yang diperoleh pada tahun sebelumnya
(Gambar 26)
 Mahasiswa penerima beasiswa untuk tahun 2009/2010 tersebar hampir di
seluruh fakultas dengan tingkat yang berbeda tergantung pada jumlah, kondisi
ekonomi dan prestasi akademik mahasiswa (Gambar 27)

Gambar 26. Perkembangan jumlah beasiswa Gambar 27. Jumlah mahasiswa penerima beasiswa untuk tahun
2009/2010

E. PENELITIAN dan PENGABDIAN MASYARAKAT


 Jumlah penelitian meningkat lebih dari 72% pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun
2008 yang merefleksikan peningkatan kinerja UB dalam penelitian (Gambar 28). Tetapi
dana penelitian pada tahun 2009 mencapai Rp.10,6 milyar yang tidak banyak berbeda
dengan yang pada dua tahun sebelumnya, dan hanya sekitar 4,7% lebih tinggi dari dana
pada tahun 2008.
 Gambaran yang berbeda dijumpai pada jumlah dosen yang terlibat dalam penelitian yang
menunjukkan penurunan dari 361 pada tahun 2007 menjadi 268 dan 186 masing-masing
pada tahun 2008 dan 2009 (Gambar 29). Ini dapat disebabkan pembatasan jumlah
anggota peneliti dan pembatasan frekuensi keterlibatan dosen dalam beberapa penelitian.
 Penyebaran jumlah penelitian dengan dana yang berasal dari sumber yang dibawah
pengamatan LPPM belum tersebar merata antar fakultas (Gambar 30). Pada tahun 2009
terakhir, jumlah penelitian sebagian besar tersebar hanya pada 7 fakultas.
Gambar 28. Perkembangan jumlah dan dana penelitian Gambar 29. Perkembangan jumlah
dosen yang terlibat dalam penelitian

Gambar 30. Sebaran jumlah penelitian antar fakultas dan unit kerja

F. SUMBERDAYA MANUSIA

Tenaga Edukatif.
 Jumlah tenaga edukatif (Dosen) hingga akhir tahun 2009 adalah 1479 orang yang
terdiri dari 24% pendidikan S1, 51% pendidikan S2, dan 25% pendidikan S3 (Gambar
31dan 32). Jumlah Professor hanya 9% dari keseluruhan dosen atau sekitar 36% dari
jumlah dosen dengan pendidikan S3.
 Tetapi peningkatan jumlah mahasiswa lebih cepat dari peningkatan jumlah dosen
pada tahun terakhir yang mengakibatkan peningkatan nisbah MHS/DSN
(Mahasiswa/Dosen) dari 19,4 menjadi 21,7. Kondisi idaman secara rata-rata 17,5
apabila jumlah mahasiwa bidang eksakta dan sosial sama karena MHS/DSN = 15
untuk bidang eksakta, dan MHS/DSN = 20 untuk bidang sosial.
 Dari segi gender, kondisi UB sudah cukup ideal dengan jumlah dosen perempuan
sebesar 36% dari keseluruhan dosen. Tetapi dari segi lulusan, sebagian besar dosen
adalah lulusan dalam negeri (87%) dengan proporsi lulusan dari UB yang cukup besar
(30%)

Gambar 31. Perkembangan jumlah Dosen untuk masing- Gambar 32. Sebaran Dosen
masing jenis kelamin (L = laki-laki dan P = perempuan)
berdasarkan kualifikasi pendidikan
dan Jabatan. Jumlah S3 termasuk
Professor
 Berdasarkan usia dosen dan usia pensiun 65 tahun, jumlah dosen akan berkurang
menjadi sekitar 85% pada tahun 2015 dan 50% pada tahun 2025 (Gambar 33).
Dengan estimasi pertambahan jumlah mahasiswa hingga 35000n(pada kurung waktu
sekitar 5 tahun mendatang), dan nisbah mahasiswa/dosen sebesar 20 untuk bidang
sosial dan 15 untuk bidang eksakta, tambahan kebutuhan dosen akan mencapai lebih
dari 850 orang pada tahun 2015 (Gambar 34). Pada kondisi sekarang saja,
kekurangan dosen lebih dari 200 orang untuk mencapai kondisi idaman
 Karena itu perencanaan penambahan dosen harus menjadi suatu prioritas untuk
mencegah defisit dosen yang semakin besar dan meningkatkan proses belajar-mengjar
serta kegiatan akademik lain.
Tenaga Administrasi
 Tenaga administrasi (ADM) yang terus meningkat dengan waktu sekarang mencapai
963 orang yang didominasi oleh karyawan administrasi dengan pendidikan SLTA
(50%), sedang yang dengan pendidikan DIP/SM, S1 dan S2 masih sangat rendah
(Gambar 35 dan 36).
 Struktur karyawan administrasi dari segi gender tidak begitu baik dengan jumlah
karyawan perempuan yang terus menurun menjadi 25% pada tahun 2009 (Gambar
37)
 Struktur kepegawaian cukup baik ditinjau dari nisbah DSN/ADM yang menunjukkan
penurunan dari 1,9 pada tahun 2005 menjadi 1,5 pada tahun 2009 yang artinya satu
karyawan administrasi melayani 1,5 Dosen (Gambar 38). Nisbah MHS/ADM sebesar
33,3 pada tahun 2009 dapat dipertimbangkan relatif baik apabila kualitas karyawan
administrasi cukup tinggi.

Gambar 33. Perkembangan jumlah Dosen yang pension Gambar 34. Permbangan tambahan
setiap tahun dan yan masih aktif kebutuhan dosen untuk kondisi idaman

Gambar 35. Perkembangan jumlah tenaga administrasi Gambar 36. Sebaran tenaga administrasi
(ADM) sdecara keseluruhan dan untuk masing-masing berdasarkan jenjang pendidikan
jenis kelamin
Gambar 37. Perkembangan nisbah DSN/ADM Gambar 38. Perkembangan nisbah MHS/ADM
(DSN = Dosen dan ADM = tenaga administrasi) (MHS = Mahasiswa)

G. SUMBERDAYA KEUANGAN
 Sumber dana utama UB adalah APBN dan PNBP yang berasal terutama dari
sumbangan pendidikan mahasiswa. Penerimaan dari sumber ini, baik APBN maupun
PNBP, terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun dan mencapai total
penerimaan sebesar Rp. 582 milliar pada tahun 2009 (Gambar 39).
 Peningkatan penerimaan ini diikuti dengan peningkatan nisbah total
penerimaan/Mahasiswa yang mencapai Rp. 18 juta/Mahasiswa pada tahun 2009 atau
10% diatas yang pada tahun 2008 (Gambar 40). Peningkatan ini berhubungan
sebagian besar dengan peningkatan penerimaan dari PNBP yang mencapai 73% dari
total penerimaan pada tahun 2008 dan kemudian turun menjadi 59% pada tahun 2009
(Gambar 40).

Gambar 39. Perkembangan jumlah penerimaan dari APBN dan PNBP dengan waktu


Secara sepintas, keadaan ini
menggambarkan kesehatan

Gambar 40. Proporsi sumber penerimaan (APBN/Total dan


PNBP/Total), dan Penerimaan/ Mahasiswa (Rp/Mhs)
keuangan UB yang tidak lagi tergantung sebagian besar pada APBN, tetapi atas
kemampuan sendiri. Permasalahannya adalah bahwa penerimaan tersebut masih
berasal dari sumbangan mahasiswa sebagian besar yang pada masa akan datang harus
dikurangi. Karena itu penggalian sumber dana lain melalui kegiatan
EntrepreneurialUniversity harus ditingkatkan untuk memperkuat struktur pendanaan
UB

F. ENTREPRENEURIAL UNIVERSITY
Pengembangan UB menjadi suatu Entrepreneurial University
yang diawali dengan pendirian INBIS atau Pusat Inkubator
Bisnis dan Layanan Masyarakat (PIBLAM) ditujukan untuk
pengembangan pendidikan entrepreneurship dan sumber
pendapatan.Roadmap pengembangan Entrepreneurial University
untuk kondisi UB telah disusun untuk percepatan pencapaian
sasaran yang diharapkan.Karena investasi dan upaya inovatif
yang masih dalam tahap pemantapan, propagasi kapital melalui
investasi inovatif untuk income generation belum berjalan
sebagaimana diharapkan.Ini mengakibatkan penerimaan yang belum memadai dan masih
terbatas pada kegiatan yang masih berada pada kawasan “Red Ocean” (Gambar 41).
Jenis kegiatan yang dilaksanakan hingga akhir tahun 2009 juga menggambarkan domain
bisnis yang belum beranjak ke kawasan “Blue Ocean” sebagaimana ditunjukkan berikut
ini.

Gambar 41. Perkembangan penerimaan INBIS


1. Unit Bisnis :
a. Bookstore yang menyediakan buku, souvenir mug, kaos, jacket, dasi, tas, pin, oleh-oleh
khas Malang.
b. Fitnes cntre yang telah beranggotakan 924 member.
c. Persewaan gedung pertemuan berkapasitas 300 orang
d. Pembuatan minuman mineral UB bekerjasama dengan PT. Total
e. Pendirian Stasiun Pompa Bahan bakar Umum (SPBU) sedang dalam proses.
f. Pendirian Perusahaan (Badan Usaha) milik Universitas Brawijaya, sedang dalam proses.
g. Mendayagunakan IpTek Sen untuk propagasi UMKM mandiri dan mitra kerjasama UB.
h. Merancang penumbuhan dan pengembangan usaha komersial inovetif untuk
mendukung otonomi kampus.
i. Merancang penumbuhan industry jasa kepakaran sebagai usaha komersial untuk
mendukung otonomi kampus
j. Membentuk UMKM baru mandiri internal UB
k. Memfasilitasi dan membina UMKM mitra kerjasama.

2. Unit Pendidikan Entrepreneurship :


a. Pelatihan Tenaga Akademik dan Administrasi untuk EntrepreneurialUniversity.
b. Menjual jasa kepakaran bekerjasama dengan Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa
Timur (6 paket teknologi).
c. Menjual jasa kepakaran bekerjasama dengan PT. Surya Pamenang Kediri dalam
pengolahan limbah kertas menjadi pupuk organic.
d. Menjual jasa kepakaran bekerjasama dengan PLN Pembangkit Jawa Bali mengolah
encenggondok menjadi pupuk organic.

3. Unit Inkubasi Bisnis :


a. Inkubasi 10 UKM baru.
b. Mengadakan pelatihan techno-entrepreneurship UMKM

G. STATUS PK-BLU UB

Universitas Brawijaya (UB) telah memperoleh status sebagai instansi pemerintah yang
menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK-BLU) berdasarkan
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 361/Kmk.05/2008 tanggal 17 Desember 2008
tentang Penetapan Universitas Brawijaya Malang Pada Departemen Pendidikan
Nasional Sebagai Instansi Pemerintah Yang Menerapkan Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum.
Persyaratan untuk menjadi PPK-BLU telah dipenuhi oleh UB sebelum tanggal
penetapan tersebut yaitu berupa syarat substantif, syarat teknis dan syarat
administratif. Syarat substantif terpenuhi karena UB sebagai instansi pemerintah yang
menyediakan jasa layanan. Syarat teknis yaitu karena kinerja pelayanan UB layak
dikelola dan ditingkatkan pencapaiannya melalui BLU serta kinerja keuangan UB
dinilai sehat sebagaimana ditunjukkan dalam dokumen usulan penetapan BLU. Syarat
administratif telah disampaikan saat pengajuan proposal ke Departemen Keuangan
antara lain dilampiri dengan Surat Pernyataan Kesanggupan Rektor UB untuk
meningkatkan kinerja pelayanan, Dokumen Pola Tata Kelola UB, Dokumen Rencana
Strategis Bisnis UB tahun 2008-2013, dan Dokumen Laporan Keuangan.
Tujuan utama dari PK-BLU adalah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang
diformulasikan secara terstruktur dalam Standar Pelayanan Minimum (SPM).. SPM
merupakan bentuk komitmen PK-BLU kepada masyarakat dan pemerintah yang harus
diukur pencapaiannya setiap akhir periode. Upaya pencapaian SPM diwujudkan dalam
penyusunan program kerja BLU yang disertai dengan berbagai konsekuensi
pendanaan. PK BLU-UB telah berkomitmen untuk menggunakan model anggaran
berbasis kinerja yang diformulasikan dalam bentuk Rencana Bisnis dan Anggaran
(RBA). Formulasi SPM sebagai kinerja outcome dari program kerja dan RBA BLU
dibuat terstruktur dengan melibatkan semua unsur akademik maupun penunjang dari
level jurusan/sub-bagian sampai dengan rektorat.
Program Persiapan PK-BLU. Hal-hal yang telah dikerjakan UB mulai dari
persiapan sampai implementasi PK-BLU adalah sebagai berikut:
1. Pembentukan Tim Penyusun Proposal Badan Layanan Umum (BLU) Universitas Brawijaya
berdasarkan Keputusan Rektor No. 059/SK/2008 tanggal 4 Maret 2008.
2. Tim telah bekerja untuk mempersiapkan persyaratan administrasi berupa dokumen-
dokumen yang diperlukan. Pimpinan Universitas yang diketuai oleh rektor bersama Tim
Keuangan UB dan Tim Penyusun Proposal BLU presentasi di Departemen Keuangan pada
bulan Oktober 2009.
3. Dokumen SPM UB ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional pada tanggal 7 Oktober
2008 berupa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 55
Tahun 2008 Tentang Standar Pelayanan Minimum Pada Universitas Brawijaya.
4. Pembenahan Organisasi UB sesuai dokumen Pola tata Kelola, yang dilakukan oleh Rektor
pada akhir Desember 2009 antara lain pemecahan Biro Administrasi Umum dan
Keuangan (BAUK) menjadi dua Biro yaitu Biro Administrasi Keuangan (BAK) dan Biro
Administrasi Umum (BAU) karena dalam instansi BLU dipersyaratkan ada tiga unsur yaitu
unsur Pimpinan, unsur Pengelola Keuangan dan unsur Pelaksana Teknis.
5. Pembentukan Tim Pendamping Implementasi PPK-BLU UB berdasarkan Surat Keputusan
Rektor No. 046/SK/2009 tanggal 6 Maret 2009 yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Abdul Latief
Abadi, MS dengan dua orang Pengarah dan dua orang Anggota dan satu staf
administrasi.
6. Penyempurnaan Statuta dan Dokumen Organisasi Tata Kerja
Konsep Statuta yang baru telah disahkan Senat Universitas pada awal tahun 2009,
tetapi belum disampaikan ke Mendiknas untuk disahkan. Dokumen Organisasi
Tata Kerja (OTK) sudah dibahas dalam Sidang Pleno Senat Universitas tetapi
masih belum disahkan. Setelah nantinya disahkan Senat Universitas, maka
dokumen OTK harusdisahkan Mendiknas setelah mendapatkan persetujuan
tertulis dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara.
7. Penyediaan Software Aplikasi SIPAA untuk Akuntansi dan Pelaporan Keuangan UB, untuk
automasi perhitungan dan aplikasi Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) UByang sudah
mulai dikerjakan bekerjasama dengan PPAB FEUB.
8. Penyusunan RBA 2009 dan RBA 2010 serta Pengesahannya oleh MenDiknas yang
menyangkut kegiatan-kegiatan berupa:
a. Pengesahan Program Kerja dan Prioritas Kegiatan Tahun 2010
b. Revisi RBA 2010 berdasarkan Pagu Indikatif DikTI (Juli-Agustus 2009)
c. Pengesahan RBA 2010 menjadi RBA Definitif (Juli-Agustus 2009)
d. Entri APBN ke DIPA BLU (sekitar Nopember 2009)
9. Mempersiapkan Sistem Akuntansi Keuangan menyangkut dokumen Rancangan: Sistem
dan prosedur Akuntansi, Standar kode rekening dan Pengesahan Kode Rekening oleh
Deptartemen Keuangan, Monitoring dan evaluasi Sistem pengelolaan dan Kecukupan
SDM, Rancangan kebijakan akuntansi, Buku pedoman pencatatan, Remunerasi dan Tarif
dan Sistem akuntansi aset
10. Hal-hal lain yang diharapkan terlaksana sampai dengan akhir tahun 2009 dan tahun 2010
adalah mempersiapkan Standar Operating Procedure (SOP) Keuangan UB,
menyempurnakan Rincian Tugas di BAK dan Unit Keuangan, mempersiapkan Pelaporan
per Triwulan dan semester ke KPPN, mempersiapkan Revaluasi Aset Tetap dan
Penyusutan atas Aset Tetap, mempersiapkan usulan Tarif dan Remunerasi,
mempersiapkan pembentukan Dewan Pengawas, Sosialisasi Standar Pelayanan
Minimum (SPM) yang berkesinambungan pada semua sivitas akademika.
11. Untuk memantapkan pelaksanaan PK-BLU, maka UB juga menyelenggarakan Lokakarya
Pemantapan Pelaksanaan PK-BLU tahun 2009 dengan mengundang Direktur PK-BLU
Departemen Keuangan pada bulan Desember 2009 khususnya membahas permasalahan
investasi hasil kerjasama, hutang, serta pelaksanaan audit eksternal.
Program Implementasi PK-BLU. Beberapa dari aspek persiapan telah
diimplementasikan seperti ditunjukkan berikut ini dalam bidang organisasi dan
managejemen.
(i). Pembentukan SPI
Pembentukan SPI (Satuan Pengendali Internal) (SK Rektor No.023/SK/2008, tanggal 4
Februari 2008), yang meliputi bidang: keuangan, TIK, peralatan dan gedung.
(ii). Penguatan PJM
Peningkatan mutu secara terus menerus menjadi fokus perhatian UB.Karena itu,
dibentuklah Pusat Jaminan Mutu (PJM) pada tanggal 12 Pebruari 2005 dengan SK Rektor
No. 017A/SK/2005. Sesuai dengan ketetapan Ditjen Dikti maka tugas utama PJM adalah
memperoleh mandat dari Rektor untuk mengembangkan dan memantau implementasi
sistem jaminan mutu UB, yaitu sebagai berikut:
(1) Mengembangkan prosedur kerja baku (Manual Prosedur/MP) untuk: Menjamin
mutu dan seleksi internal proposal Program Hibah Kompetisi (PHK) dari Ditjen Dikti;
Menjamin mutu pelaksanaan PHK Ditjen Dikti tersebut melalui Monitoring dan
Evaluasi (Monev); Pendampingan pada saat visitasi PHK dari Ditjen Dikti; Menjamin
mutu Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat; Menjamin mutu usulan
akreditasi Program Studi/Institusi melalui pendampingan;
(2) Monitoring dan evaluasi uji coba serta implementasi manual mutu kegiatan
akademik.
(3) Pengembangan Sistem Jaminan Mutu Akademik di UB
(4) Penyebarluasan praktek baik (good practices) dari suatu unit penerima PHK ke unit
yang lain.
Kelembagaan dan tugas tim diperbarui tiap tahun melalui SK Rektor sesuai dinamika UB.
Berdasarkan SK. No: 023A/SK/2006 PJM UB tanggal 13 Pebruari 2006, maka tugas PJM
diperpanjang dengan tugas pokok melanjutkan kegiatan sebelumnya.
Penguatan kinerja organisasi jaminan mutu dari mulai tingkat universitas Pusat Jaminan
Mutu (PJM) hingga tingkat fakultas dilakukan dengan pembentukan Gugus Jaminan
Mutu (GJM) dan Unit Jaminan Mutu (UJM) pada tingkat jurusan.
(iii). Pembentukan Staf Ahli.
Sebagai persiapan organisasi dan manajemen masa transisi menuju PT BHP-MN serta
untuk membantu Rektor dan Pembantu Rektor dalam mewujudkan organisasi yang
sehat mencakup tata pamong, akuntabilitas, penjaminan mutu, layanan prima, akses
yang berkeadilan dan keberlanjutan program, maka melalui SK Rektor No. 396/SK/2007
telah diangkat staf ahli untuk membantu Rektor dan Pembantu Rektor UB.
Pengangkatan 13 orang staf ahli terdiri dari: 1 orang Staf Ahi Rektor, 3 orang Staf Ahli
Pembantu Rektor I (Bidang Akademik, Bidang Kerjasama, Bidang Perencanaan dan
Pengembangan), 5 orang Staf Ahli Pembantu Rektor II (Bidang Keuangan, Bidang
Pengembangan Sumber Daya Manusia, Bidang Logistik dan Pembangunan, Bidang
Pemberdayaan Aset dan Ventura, Bidang Satuan Pengendalian Internal), dan 4 orang
Staf Ahli Pembantu Rektor III (Bidang Minat dan Bakat, Bidang Penalaran, Bidang
Kesejahteraan dan Soft Skill, Bidang Penempatan Tenaga Kerja Alumni).
(iv). Managemen Berbasis TIK
Peningkatan manajemen berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) telah banyak
dilakukan dengan dukungan Bandwidth Internet UB (Gambar 26) dan pengembangan
beberapa sistem informasi.
Sistem Informasi yang sudah diterapkan hingga saat ini antara lain adalah: Sistem
Informasi Akademik (SIAKAD), Sistem Informasi Keuangan (SIKEU), Sistem Informasi
Registrasi (SIREGI), Sistem Informasi Wisuda (SIUDA), dan Sistem Informasi Pelaporan
Online (SIMPEL).
Sedangkan yang masih dalam tahap pengembangan antara lain adalah: Sistem Informasi
Dosen (SIADO), Sistem Informasi Ketenagaan (SINAGA), Sistem Informasi
Kemahasiswaan (SIMAWA), Sistem Informasi Sarana dan Prasarana (SIRANA).

H. PERJALANAN BHP DI UB
Tekad Universitas Brawijaya menjadi perguruan tinggi otonom sesuai PP 60 dan PP
61 Tahun 1999, telah di persiapkan sejak tahun 2000, dengan melakukan sosialisasi
kepada civitas akademika. Puncaknya, UB mendapat surat persetujuan Dirjen Dikti
untuk menjadi perguruan tinggi yang otonom berdasar Surat Dirjen Dikti no:
4022/D/T/2007tanggal 29 November 2007, walaupun menurut Dirjen pelaksanaannya
harus menunggu pengesahan UUBHPBHP. Tetapi sebagaimana diketahui, UUBHP
dicabut sehingga upaya yang telah dilakukan untuk itu harus menunggu
perkembangan selanjutnya. Beberapa catatan perkembangan dalam upaya tersebut
disajuikan berikut ini sebagai memori tersendiri.
1. 24 Juni 1999. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi dan Nomor 61 Tahun 1999 tentang
Penetapan Perguruan Tinggi Negeri Sebagai Badan Hukum,
2. Kompas, 27 Nov 2000. Beberapa Presiden mahasiswa PT menolak otonomi kampus.
Presiden Mahasiswa UB Muhammad Fadhli mengatakan, ia mengusulkan adanya SPP
progresif (proporsional), jika otonomi kampus diberlakukan. "Kita harap ada subsidi
silang dalam SPP, mahasiswa yang kaya menyubsidi yang miskin," katanya.
3. Prasetya Online, 11 Desember 2000. Menurut Rektor UB, para rektor di Jawa Timur
sudah memilih otonomi sebagaimana PP No 60 itu," katanya. Model di dalam PP No 60
itu, ditambahkan, dalam soal personalia sama seperti yang berlaku saat ini. "Hanya saja
kita diberi kebebasan untuk menggali potensi kampus tanpa mengurangi subsidi,"
katanya.
4. Prasetya Online, 26 desember 2000. Menurut Presiden Mahasiswa UB, pihaknya telah
melakukan polling pendapat tentang otokam yang hasilnya 63,9% menolak penerapan
otonomi kampus dan hanya 26,7% yang setuju. Otonomi kampus, yang akan
diberlakukan di UB harus dikaji ulang dan dicarikan format yang paling baik dan matang.
5. Tahun 2003. Pembentukan Tim Evaluasi Diri (Persiapan BHMN-UB) untuk Pengembangan
Otonomi dan Akuntabilitas Organisasi Universitas Brawijaya berdasarkan SK Rektor
nomor 147/SK/2003
6. 27 September 2003. Sosialisasi Pelaksanaan Otonomi dan Akuntabilitas Perguruan
Tinggi. Otonomi salah satu pilar untuk menghasilkan SDM yang berkualitas. Paparan
hasil studi banding ke UI, UGM, ITB dan IPB yang telah berstatus perguruan tinggi BHMN
(Badan Hukum Milik Negara).
7. 14 Desember 2004. Diterbitkan keputusan Senat mengenai Otonomi Kampus UB
8. Februari – Maret 2005. Sosialisasi bagi kalangan pejabat di lingkungan UB, Sosialisasi
bagi para fungsionaris mahasiswa: Eksekutif Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa,
Himpunan Mahasiswa Jurusan dan Program Studi
9. 15 Oktober 2005. Proposal Pengembangan Otonomi UB persetujuan Senat Universitas
Brawijaya dalam rapat pleno 15 Oktober 2005.
10. 16 Januari 2009. Undang Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 2009 tentang Badan
Hukum Pendidikan disahkan oleh PresidenRI.
11. Tahun 2009. UB telah membentuk Tim Persiapan Otonomi Universitas Brawijaya
berdasarkan Surat Keputusan Rektor No. 032/SK/2009 tentang Pembentukan Tim
Persiapan Otonomi Universitas Brawijaya tanggal 4 Pebruari 2009 yang diketuai oleh
Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno yang juga melibatkan 13 orang Dosen sebagai Wakil Ketua,
Sekretaris dan Anggota.
12. Tim Persiapan Otonomi telah selesai membuat draft AD UB yang akan segera dibahas di
Senat UB untuk mendapatkan pengesahan. Selanjutnya Tim akan bekerja dalam
mempersiapkan pembuatan draft ART yang diperkirakan selesai pada tahun 2010.