Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PREPLANNING KEGIATAN PENDIDIKAN

KESEHATAN PADA KELUARGA DENGAN TB PARU

TUGAS PRAKEPANITERAAN STASE KOMUNITAS DAN KELUARGA

oleh
Kelompok 2

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Jl. Kalimantan No.37 Kampus Tegal Boto Jember Telp./Fax (0331) 323450
2019
LAPORAN PREPLANNING

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Ujian Kepranitraan Komunitas dan Keluarga


dengan dosen pengampu Ns. LatifaAini S.,M.Kep.,Sp.Kom

oleh :
Sya’baina Hasatun Hasanah
Arif Eko Cahyono
Ridlo Cahya Ilhami
Bayu Anggara P.W
Ramadhan Rifandy Widodo
Muhammad Anshori Rizky P.
Selvi Widiariastuti
Ekfatil Mardiyah

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Jl. Kalimantan No.37 Kampus Tegal Boto Jember Telp./Fax (0331) 323450
2019
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Analisis Situasi

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh


bakteri Mycobacterium tuberkulosa yang lebih sering menginfeksi daerah apeks
pada paru (Masrin, 2008). TB adalah penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Kemenkes,
2009). Menurut Riskesdas (2013), Tuberkulosis paru merupakan penyakit
menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium
tuberculosis). Gejala utama adalah batuk selama 2 minggu atau lebih, batuk
disertai dengan gejala tambahan yaitu dahak, dahak bercampur darah, sesak nafas,
badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat
malam hari tanpa kegiatan fisik, demam lebih dari 1 bulan.
Jumlah kasus baru TB di Indonesia sebanyak 420.994 kasus pada tahun
2017 (data per 17 Mei 2018). Berdasarkan jenis kelamin, jumlah kasus baru TBC
tahun 2017 pada laki-laki 1,4 kali lebih besar dibandingkan pada perempuan.
Bahkan berdasarkan Survei Prevalensi Tuberkulosis prevalensi pada laki-laki 3
kali lebih tinggi dibandingkan pada perempuan. Begitu juga yang terjadi di
negara-negara lain. Hal ini terjadi kemungkinan karena laki-laki lebih terpapar
pada fakto risiko TBC misalnya merokok dan kurangnya ketidakpatuhan minum
obat. Survei ini menemukan bahwa dari seluruh partisipan laki-laki yang merokok
sebanyak 68,5% dan hanya 3,7% partisipan perempuan yang merokok.
Berdasarkan Survei Prevalensi Tuberkulosis tahun 2013-2014, prevalensi TBC
dengan konfirmasi bakteriologis di Indonesia sebesar 759 per 100.000 penduduk
berumur 15 tahun ke atas dan prevalensi TBC BTA positif sebesar 257 per
100.000 penduduk berumur 15 tahun ke atas. Kemungkinan terjadi re-aktivasi
TBC dan durasi paparan TBC lebih lama dibandingkan kelompok umur di
bawahnya. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia,
terjadi pada negara-negara berkembang. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok
usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang
pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan.
Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya
sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan
pendapatannya sekitar 15 tahun. Menurut Riskesdas 2013, prevalensi penduduk
Indonesia yang didiagnosis TB paru oleh tenaga kesehatan tahun 2013 adalah 0.4
persen, tidak berbeda dengan 2007. Lima provinsi dengan TB paru tertinggi
adalah Jawa Barat (0.7%), Papua (0.6%), DKI Jakarta (0.6%), Gorontalo (0.5%),
Banten (0.4%) dan Papua Barat (0.4%). Proporsi penduduk dengan gejala TB paru
batuk ≥2 minggu sebesar 3,9 persen dan batuk darah 2.8 persen. Berdasarkan
karakteristik penduduk, prevalensi TB paru cenderung meningkat dengan
bertambahnya umur, pada pendidikan rendah, tidak bekerja. Prevalensi TB paru
terendah pada kuintil teratas. Dari seluruh penduduk yang didiagnosis TB paru
oleh tenaga kesehatan, hanya 44.4% diobati dengan obat program. Lima provinsi
terbanyak yang mengobati TB dengan obat program adalah DKI Jakarta (68.9%).
DI Yogyakarta (67,3%), Jawa Barat (56,2%), Sulawesi Barat (54,2%) dan Jawa
Tengah (50.4%).
Berdasarkkan hasil pengkajian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas
Keperawatan Universitas Jember di Desa Jaya pada tanggal 18 Agustus 2019
pada keluarga Bapak Ridho, telah didapatkan data dari hasil pengkajian keluhan
utama yang dirasakan oleh keluarga klien yaitu TB. Keadaaan klien saat ini sering
batuk dan tidak nafsu makan.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan analisis situasi diatas, maka perumusan masalah dalam kegiatan
yang akan dilakukan ini adalah pendidikan kesehatan tentang manajemen TBC
pada keluarga Bapak Ridho di Lingkungan Plalangan Kelurahan Bintoro
Kecamatan Patrang Kabupaten Jember.
BAB II
TUJUAN DAN MANFAAT
2.1 Tujuan

2.1.1 Tujuan Umum

Kegiatan pendidikan kesehatan ini bertujuan untuk memberi pengetahuan


pada masyarakat desa tentang penyakit TBC di Desa

2.1.2 Tujuan Khusus

1. Masyarakat menjelaskan tentang definisi dan penyebab TBC minimal 80%


benar;
2. Masyarakat mampu menjelaskan tentang tanda gejala penyakit TBC
minimal 85% benar;
3. Masyarakat mampu menjelaskan cara pencegahan dan penularan TBC;

2.2 Manfaat

Menambah pengetahuan masyarakat tentang konsep dasar dan pencegahan


penyakit TBC;
BAB III
KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH

3.1 Dasar Pemikiran

Anggota keluarga yang menderita TBC dapat meningkatkan resiko


anggota keluarga yang lain terpapar TBC karena sumber penularan TBC adalah
penderita tuberkulosis BTA positif, pada waktu batuk atau bersin, penderita
menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Faktor
paling besar yang mempengaruhi derajat kesehatan adalah faktor lingkungan dan
perilaku masyarakat sendiri yang dapat merugikan kesehatan. Penyakit
tuberkulosis merupakan penyakit berbasis lingkungan. Faktor risiko penularan
tuberkulosis adalah faktor lingkungan dan faktor perilaku, faktor lingkungan
meliputi ventilasi, kepadatan hunian, suhu, pencahayaan dan kelembaban.
Sedangkan faktor perilaku meliputi kebiasaan merokok, meludah atau membuang
dahak di sembarang tempat, batuk atau bersin tidak menutup mulut dan kebiasaan
tidak membuka jendela (Wulandari, dkk., 2015). Rumah dengan kondisi tidak
sehat atau tidak memenuhi syarat kesehatan dapat sebagai media penularan
penyakit pernafasan yang salah satunya adalah penyakit tuberkulosis paru (TB
paru). Penyakit tuberkulosis diperburuk dengan kondisi sanitasi perumahan yang
buruk, khususnya pada pemukiman padat dan penduduk miskin (Wulandari, dkk.,
2015).

Kejadian kasus tuberkulosis paru paling banyak terjadi pada kelompok


masyarakat dengan sosial ekonomi lemah. Penderita TB paru mempunyai
kebiasaan sering tidak menutup mulut saat batuk, hal ini tentunya dapat membuat
penularan TB pada orang-orang yang sehat di sekitarnya. Terjadinya peningkatan
kasus TB dipengaruhi oleh daya tahan tubuh, status gizi dan kebersihan diri
individu dan kepadatan hunian lingkungan tempat tinggal TB juga mudah menular
pada mereka yang tinggal di perumahan padat, kurang sinar matahari dan sirkulasi
udaranya buruk/pengap.
3.2 Kerangka Penyelesaian Masalah

Kerangka penyelesaian masalah yang dapat dilakukan untuk mengatasi


keluhan yang diutarakan oleh keluarga Tn. X adalah dengan pemberian
pendidikan kesehatan serta demonstrasi batuk efektif dan penggunaan APD.
Pendidikan kesehatan dapat dilakukan dengan penggunaan beragam metode untuk
memudahkan penerimaan informasi. Metode yang efektif dilakukan adalah
pertemuan kelompok. Untuk mencegah penularan kepada anggota keluarga lain
diberikan cara penggunaan APD yang benar dan memodifikasi lingkungan. Hal
ini bertujuan guna merubah perilaku masyarakat untuk mencapai kemandirian
guna meningkatkan derajat kesehatannya dengan menurunkna prevalensi kejadian
TB Paru.
BAB IV
RENCANA PELAKSANAAN TINDAKAN

4.1 Realisasi Penyelesaian Masalah

Pendidikan kesehatan merupakan upaya untuk memberikan pengalaman


belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi masyarakat khususnya pada keluarga
dengan penderita TBC agar dapat menerapkan gaya hidup sehat yang dapat
mengurangi penyebaran TBC. Selain itu juga diberikan metode demonstrasi yang
tidak hanya dapat meningkatkan kognitif klien tetapi juga dapat meningkatkan
kemampuan psikomotor klien sehingga dapat memberikan contoh nyata gaya
hidup yang sehat. Realisasi penyelesaian masalah mengenai TBC pada keluarga
yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pendidikan kesehatan tentang
gaya hidup sehat dan demonstrasi batuk efektif serta penggunaan APD yang tepat
pada keluarga dengan TBC pada keluarga Tn. X.

4.2 Khalayak Sasaran

Khalayak sasaran pada kegiatan pendidikan kesehatan dan demonstrasi ini


yaitu pada keluarga Tn. X sehingga dapat mempraktikkan tentang batuk efektif
serta penggunaan APD yang benar dan dapat memodifikasi lingkungan rumah
yang lebih sehat.

4.3 Metode yang Digunakan

1. Jenis model pembelajaran : ceramah dan praktik (gaya hidup sehat dan
batuk efektif serta penggunaan APD)
2. Landasan teori : diskusi (tanya jawab)
3. Langkah pokok
a. Menciptakan suasana pertemuan yang baik
b. Mengajukan masalah
c. Mengidentifikasi pilihan tindakan
d. Memberi komentar
e. Menetapkan tindak lanjut sasaran
DAFTAR PUSTAKA

Masrin. 2008. Tuberkulosis Paru. Jurnal. Semarang: Universitas Muhamadiyah.

Badan Pusat Statistik, 2017. Jakarta.: Statistik Kesejahteraan Rakyat 2017.

Kementerian Kesehatan RI, 2015. Jakarta: Survei Prevalensi Tuberkulosis 2013-


2014
Daftar Lampiran
Lampiran 1 : Berita acara
Lampiran 2 : Daftar hadir
Lampiran 3 : SAP
Lampiran 4 : SOP
Lampiran 5 : Materi
Lampiran 6 : Media Leaflet
Lampiran 1: Berita Acara

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
T.A 2019/2020

BERITA ACARA

Pada hari ini, 20 Agustus 2019 jam 06.00-06.30 WIB bertempat di rumah Tn. X
telah dilaksanakan pendidikan kesehatan dan demonstrasi mengenai batuk efektif,
penggunaan APD serta modifikasi lingkungan yang dilaksanakan oleh Mahasiswa
Keperawatan Universitas Jember yang diikuti oleh … orang (daftar terlampir)

Jember, 20 Agustus 2019


Mengetahui,
Penguji

Latifa Aini S., S.Kp., M.Kep., Sp.Kom


NIP. 19710926 200912 2 001
Lampiran 2: Daftar Hadir

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
T.A 2019/2020

DAFTAR HADIR

Kegiatan pendidikan kesehatan dan demonstrasi mengenai batuk efektif,


penggunaan APD serta modifikasi lingkungan pada: 20 Agustus 2019 jam 06.00-
06.30 WIB bertempat di rumah Tn. X

NO NAMA ALAMAT TANDA TANGAN


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Jember, 20 Agustus 2019


Mengetahui,
Penguji

Latifa Aini S., S.Kp., M.Kep.,Sp.Kom


NIP. 19710926 200912 2 001
Lampiran 3: Satuan Acara Penyuluhan (SAP)

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Topik : Pencegahan penularan TBC pada keluarga


Sasaran : Tn. X
Waktu : 06.00 s/d 06.30 WIB (30 menit)
Hari/Tanggal : Selasa, 20 Agustus 2019
Tempat : Rumah Tn. X

1. Standar Kompetensi
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan dan demonstrasi mengenai batuk
efektif, penggunaan APD dan modifikasi lingkungan sasaran akan dapat
mengerti, memahami, dan mampu mendemonstrasikan batuk efektif,
penggunaan APD dan modifikasi lingkungan.

2. Kompetensi Dasar
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan dan demonstrasi mengenai batuk
efektif, penggunaan APD dan modifikasi lingkungan selama 30 menit sasaran
akan mampu:
a. Mengerti dan mampu mempraktekkan batuk efektif, penggunaan APD dan
modifikasi lingkungan yang benar
b. Mampu menerapkan batuk efektif dan penggunaan APD sehari-hari
c. Keluarga Tn. X mampu membantu Tn. X dalam melakukan batuk efektif
dan penggunaan APD

3. Pokok Bahasan
Pencegahan penularan TBC pada keluarga dengan cara penerapan batuk
efektif, penggunaan APD, dan modifikasi lingkungan

4. Subpokok Bahasan
a. Pengertian batuk efektif, penggunaan APD dan modifikasi lingkungan
b. Tujuan batuk efektif, penggunaan APD dan modifikasi lingkungan

5. Waktu
1 x 30 menit

6. Bahan/Alat yang diperlukan


a. Materi
b. Leaflet
c. Flipchart
d. Masker
e. Tempat sputum
f. Detergen
7. Model Pembelajaran
a. Jenis model penyuluhan: Pertemuan Tn. X
b. Langkah pokok:
1) Menciptakan suasana ruangan yang baik
2) Mengajukan masalah
3) Membuat keputusan nilai personal
4) Mengidentifikasi pilihan tindakan
5) Memberi komentar
6) Menetapkan tindak lanjut

8. Setting Tempat
Keterangan:
1. Pemateri

2. Peserta

9. Persiapan
Penyuluh menyiapkan materi dan SOP tentang batuk efektif, penggunaan
APD dan modifikasi lingkungan untuk Tn. X kemudian membuat media
pembelajaran yaitu leaflet dan flipchart.

10. Kegiatan Pendidikan Kesehatan


Tindakan
Proses Waktu
Kegiatan Pemateri Kegiatan Peserta
Pendahuluan a. Salam pembuka Memperhatikan 5 menit
b. Memperkenalkan
diri
c. Menjelaskan
tujuan umum dan
tujuan khusus
Penyajian 1. Menjelaskan Memperhatikan dan 20 menit
tentang: memberi tanggapan
a. Pengertian
batuk efektif,
penggunaan
APD dan
modifikasi
lingkungan
b. Tujuan dan
manfaat batuk
efektif,
penggunaan
APD dan
modifikasi
lingkungan
c. Langkah-
langkah
melakukan
batuk efektif,
penggunaan
APD dan
modifikasi
lingkungan
2. Memberikan
kesempatan
kepada Tn. X dan
keluarganya
untuk bertanya
3. Menjawab
pertanyaan
4. Mendemonstrasi
kan batuk efektif,
penggunaan APD
dan modifikasi
lingkungan
5. Memberikan
kesempatan
kepada Tn. X
untuk ikut
mempraktikkan /
mendemonstrasik
an batuk efektif,
penggunaan APD
dan modifikasi
lingkungan
Penutup a. Menyimpulkan Memperhatikan dan 5 menit
materi yang telah menanggapi
diberikan
b. Mengevaluasi
hasil pendidikan
kesehatan dan
demonstrasi
c. Memberikan
leaflet
d. Salam penutup
6. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Materi yang akan disajikan terkait batuk efektif, penggunaan APD dan
modifikasi lingkungan yang telah siap disajikan
b. Tempat yang akan digunakan untuk melakukan pendidikan kesehatan
dan demonstrasi telah siap digunakan
c. Persiapan mahasiswa telah dilakukan
d. Persiapan Tn. X dan keluarga telah dilakukan

2. Evaluasi Proses
a. Proses penyuluhan dan demonstrasi batuk efektif, penggunaan APD
dan modifikasi lingkungan pada Tn. X berjalan dengan lancar mulai
dari awal hingga akhir latihan sesuai dengan yang diharapkan
b. Tn. X dan keluarga kooperatif selama dilakukan pendidikan kesehatan
dan demonstrasi
c. Tujuan umum dan tujuan khusus tercapai setelah pendidikan
kesehatan dan demonstrasi dilaksanakan

3. Evaluasi Hasil
Setelah mendapatkan asuhan keperawatan pasien dan keluarga
mampu:
a. Menjelaskan pengertian, tujuan, serta manfaat batuk efektif,
penggunaan APD dan modifikasi lingkungan
b. Mengetahui dan mampu mempraktikkan langkah-langkah batuk
efektif, penggunaan APD dan modifikasi lingkungan
c. Melakukan konseling untuk membantu klien dalam mengemukakan
masalah yang dihadapi
Lampiran 4: Standar Operasional Prosedur

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR BATUK EFEKTIF

PROSEDUR TETAP NO DOKUMEN : NO REVISI : HALAMAN :

TANGGAL DITETAPKAN OLEH :


TERBIT :

1. PENGERTIAN Latihan mengeluarkan sekret yang terakumulasi dan


mengganggu di saluran nafas dengan cara dibatukkan
2. TUJUAN 1; Membebaskan jalan nafas dari akumulasi sekret.
2; Mengeluarkan sputum untuk pemeriksaan
diagnostik laboratorium.
3; Mengurangi sesak nafas akibat akumulasi sekret.
3. INDIKASI a) Klien dengan gangguan saluran nafas akibat
akumulasi secret.
b) Pemeriksaan diagnostik sputum di laboratorium
4. KONTRAINDIK -
ASI
5. PERSIAPAN a) Memastikan pasien aalah benar orang
PASIEN b) Memakai alat pelindung diri
6. PERSIAPAN a) Kertas tissue.
ALAT b) Bengkok
c) Perlak/alas.
d) Sputum pot berisi desinfektan
e) Air minum hangat
7. CARA KERJA Tahap PraInteraksi

1. Mengecek program terapi.


2. Mencuci tangan.
3. Menyiapkan alat.

Tahap Orientasi

1. Memberikan salam dan sapa nama pasien.


2. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan.
3. Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien.

Tahap Kerja

1. Menjaga privacy pasien.


2. Mempersiapkan pasien.
3. Meminta pasien meletakkan satu tangan di dada
dan satu tangan di abdomen.
4. Melatih pasien melakukan nafas perut (menarik
nafas dalam melalui hidung hingga 3 hitungan,
jaga mulut tetap tertutup).
5. Meminta pasien merasakan mengembangnya
abdomen (cegah lengkung pada punggung).
6. Meminta pasien menahan nafas hingga 3 hitungan.
7. Meminta menghembuskan nafas perlahan dalam 3
hitungan (lewat mulut, bibir seperti meniup).
8. Meminta pasien merasakan mengempisnya
abdomen dan kontraksi dari otot
9. Memasang perlak/alas dan bengkok (di pangkuan
pasien bila duduk atau di dekat mulut bila tidur
miring).
10. Meminta pasien untuk melakukan nafas dalam 2
kali , yang ke-3: inspirasi, tahan nafas dan
batukkan dengan kuat.
11. Menampung lender dalam sputum pot.
12. Merapikan pasien.

Tahap Terminasi

1. Melakukan evaluasi tindakan.


2. Berpamitan dengan klien.
3. Mencuci tangan.
4. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan
keperawatan

8. HASIL Dokumentasi :

1. Catat tindakan yang telah dilakukan.


2. Waktu dan Tanggal Tindakan.
3. Nama Pasien, Usia, Nomor Rekam Medik.
4. Nama Perawat dan Tanda Tangan Perawat.
Lampiran 5: Materi

PENGERTIAN DAN CARA PENCEGAHAN PENYAKIT


TUBERKULOSIS

1. Definisi Tuberkulosis
Menurut Price (2005) Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular
yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sedangkan menurut Mansjoer
arif (1999) Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang bervariasi.
Kesimpulan dari dua pernyataan diatas adalah Tuberkulosis atau biasa
disingkat TB adalah penyakit infeksit saluran pernafasan yang menular yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang ditimbulkan
dapat bervariasi.

2. Proses Penularan dan Kebiasaan masyarakat yang dapat menyebabkan


TBC
Menurut Helper Sahat (2010) Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi
yang disebabkan oleh bakteri berbentuk batang (basil) yang dikenal dengan nama
Mycobacterium Tuberculosis. Penularan penyakit ini melalui dahak penderita
yang mengandung basil tuberkulosis paru tersebut. Pada waktu penderita batuk,
butir-butir air ludah beterbangan di udara yang mengandung basil TBC dan
terhisap oleh orang yang sehat dan masuk ke dalam paru yang kemudian
menyebabkan penyakit tuberkulosis paru.
Kejadian kasus tuberkulosis paru ini paling banyak terjadi pada kelompok
masyarakat dengan sosial ekonomi lemah. Penderita TB paru mempunyai
kebiasaan sering tidak menutup mulut saat batuk, hal ini tentunya dapat membuat
penularan TB pada orang-orang yang sehat di sekitarnya. Terjadinya peningkatan
kasus TB dipengaruhi oleh daya tahan tubuh, status gizi dan kebersihan diri
individu dan kepadatan hunian lingkungan tempat tinggal TB juga mudah menular
pada mereka yang tinggal di perumahan padat, kurang sinar matahari dan sirkulasi
udaranya buruk/pengap, namun jika ada cukup cahaya dan sirkulasi, maka kuman
TB hanya bisa bertahan selama 1-2 jam.

3. Tanda Gejala Tuberkulosis


Menurut sumber dari pedoman diagnosis dan Penatalaksanaan TB Indonesia
gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala
respiratorik (atau gejala organ yang terlibat) dan gejala sistemik.
1. Gejala respiratorik
a) batuk ≥ 3 minggu
b) batuk darah
c) sesak napas
d) nyeri dada
2. Gejala Sistemik
a) Demam
b) gejala sistemik lain: malaise (kelemahn), keringat malam,
c) anoreksia, berat badan menurun.
Menurut Antoni lomini (2002), dalam Halper Sahat (2010) ada 2 gejala TB, yaitu
gejala umum dan gejala khusus.
1. Gejala Umum
a) Batuk selma lebih dari 3 minggu
b) Demam
c) Berat badan menurun tanpa sebab
d) Berkeringat pada malam hari
e) Mudah lelah
f) Nafsu makan hilang
2. Gejala Khusus
a) Suara mengi
b) Nafas melemah dan sesak
c) Sakit dada

4. Cara Pencegahan Tuberkulosis.


1) Untuk Penderita
a. Minum obat sampai habis sesuai petunjuk
b. Menutup mulut ketika batuk atau bersin
c. Tidak meludah di sembarang tempat
d. Meludah di tempat yang terkena sinar matahari langsung atau ditempat
yang sudah ada karbol/lisol
2) Untuk Keluarga
a. Jemur kasur seminggu sekali
b. Buka jendela lebar-lebar agar udara dan sinar matahari bisa langsung
masuk
3) Pencegahan Lain
a. Imunisasi BCG pada bayi
Menurut Ikatan Dokter Indonesia (2011) imunisasi BCG optimal
diberkan pada umur 2 sampai 3 bulan. Bila vaksin BCG akan diberikan
sesudah umur 3 bulan, perlu dilakukan uji tuberkulin. Bila uji
tuberkulin pra-BCG tidak dimungkinkan, BCG dapat diberikan, namun
harus diobservasi dalam 7 hari. Bila ada reaksi lokal cepat di tempat
suntikan, perlu di observasi lebih lanjut untuk mendiagnostik bayi
tersebut menderita TB
b. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan bergizi
c. Menggunakan masker n95

5. Pengobatan pada pasien TB


Cara pengobatan TB Paru yaitu negan obat anti TB (OAT) yang di dspstkan
di pelayanankesehatan secara gratis, yang harus diminum secara teratur tidak
boleh putus selam 6-8 bulan dan dosis yang diminum sesuai dengan petunjuk
petugas kesehatan. Saat minum obat perlu adanya orang yang mengawasi atau
PMO (pengawas menelan obat)
Cara minum obat yang benar :
1. Sebaiknhya satu papan obat (blister) diminum sekaligus setelah makan
pagi/malam hari sebelum tidur
2. Jika sulit minum obat bleh ditelan satu persatu akan tetapi harus dalam
waktu 2 jam
3. Minum obat harus didampingi oleh PMO (Pengawas Menelan Obat)
4. Jangan selesai minum obat/putus obat sebelum pada waktu yang
ditentukan

Akibat minum obat tidak teratur/putus obat

1. Tidak sembuh/menjadi lebih berat penyakitnya bahkan bisa meninggal


2. Sukar diobati karena kemungkinan kuman menjadi kebal sehingga
diperlukan obat yang lebih ampuh dan dapat menjadi penyakit TB MDR
dimana merupakan TB yang suah parah. Pengbatan TB MDR selama 2
tahun dengan minum obat dan obat suntik.

PENGERTIAN DAN CARA BATUK EFEKTIF PADA TUBERKULOSIS

a. Definisi batuk efektif


Batuk efektif merupakan suatu metode batuk dengan benar dimana dapat
menghemat energi sehingga tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan dahak
secara maksimal. Batuk efektif ini merupakan tindakan yang diperlukan dalam
membersihkan sekresi (Hudak dan Gallo, 2012).

b. Tujuan batuk efektif


1. Membebaskan jalan nafas ari akumulasi sekret
2. Mengeluarkan sputum untuk pemeriksaan diagnostik laboratprium
3. Mengurangi sesak nafas akibatt akumulasi sekret
4. Meningkatkan istribusi ventilasi
5. Meningkatkan volume paru
6. Memfasilitasi pembersihan jalan nafas

c. Alat dan bahan yang disediakan


1. Tissue/sapu tangan
2. Wadah tertutup beriisi cairan desinfektan (air sabun/detergen,air bayclin,
air lisol) atau pasir
3. Gelas berisi air hangat

d. Cara mempersiapkan tempat untuk dahak


1. Siapkan tempat pembuangan dahak: kaleng berisi cairan desinfektan yang
dicampur dengan air (air sabun / detergen, air bayclin, air lisol)
2. Isi cairan sebanyak 1/3 kaleng
3. Buang dahak ke tempat tersebut
4. Bila berisi air desinfektan : buang di lubang WC, siram
5. Bersihkan kaleng dengan sabun

e. Teknik batuk efektif


1. Tarik nafas dalam 4-5 kali
2. Pada tarikan nafas dalam yang terakhir, nafas ditahan selama 1-2 detik
3. Angkat bahu dan dada dilonggarkan serta batukkan dengan kuat dan
spontan
4. Keluarkan dahak dengan bunyi “ha..ha..ha” atau “huf..huf..huf..”
5. Lakukan berulang kali sesuai kebutuhan, bila klien mampu diulang setiap
1 sampai 2 jam

MODIFIKASI LINGKUNGAN

a. Definisi
Modifikasi lingkungan merupakan upaya yang dilakukan untuk pencegahan
penularan penyakit TB ke anggota keluarga, memodifikasi lingkungan dengan
cara membuka jendela kamar dan pintu rumah, menjemur kasur yang dipakai
anggota keluarga dengan TB secara satu minggu sekali, membuka ventilasi
rumah maupun menjemur kasur penderita TB dengan tujuan agar bakteri
tersebut mati karena terpapar sinar matahari secara langsung (Families fight
TB, 2006).
b. Hal yang perlu dilakukan untuk memodifikasi lingkungan yaitu menjaga
kebersihan lingkungan, :
1. Kamar-kamar harus berjendela. Ada lubang angin, dan sinar matahari yang
dapat masuk rumah
2. Dinding dan lantai harus kering, tidak lembab
Hal ini untuk menghindari jamur, dan kuman penyakit lainnya
3. Ruangan rumah cukup luas dan tidak padat penghuninya
Hal ini untuk menyediakan udara yang cukup dalam rumah dan untuk
menghindari penularan penyakit antar anggota keluarga misalnya salah satu
anggta keluarga mengalami penyakit TBC
4. Perilaku Hidup Bersih (PHBS)
Hal ini dilakukan untuk mencegah perkembangan bakteri TB tidak terlalu
banyak. Misalnya menjemur alat tidur, makan makananan yang bergizi,
olahraga secara teratur, BAB di jamban, istirahat yang cukup, selalu
mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan sesuatu seperti melakukan
aktivitas sehari-hari dirumah
Lampiran 6 : Media Leaflet