Anda di halaman 1dari 17

Kelas XII IPA Semester II

MODUL BIOLOGI
BIOTEKNOLOGI
BIOTEKNOLOGI

1. Prinsip Dasar dan Jenis-Jenis Bioteknologi


1. Prinsip Dasar Bioteknologi
Bioteknologi berasal dari dua kata, yaitu ‘bio’ yang berarti makhuk hidup dan
‘teknologi’ yang berarti cara untuk memproduksi barang. Secara klasik atau konvesional
, bioteknologi dapat didefinisikan sebagai teknologi yang memanfaatkan organisme atau
bagian-bagiannya untuk mendapatkan barang dan jasa dddalllam skala industri untuk
memenuhi kebutuhan manusia. Sementara itu, bioteknologi didefinsikan sebagai suatu
usaha terpadu dari berbagain disiplin ilmu untuk mengolah bahan baku dengan
memanfaatkan mikroorganisme dan komponen-komponen lainnyauntuk menghasilkan
barang dan jasa.
Dalam batasan pengertian bioteknologi tersebut, ada beberapa ciri suatu proses
bioteknologi. Ciri-ciri tersebut sebagai berikut:
1. Adanya agen biologi yang dipergunakan. Agen biologi yang dipergunakan ini
tidak hanya dalam bentuk fisik yang dipanen, namun juga termasuk di dalamnya
adalah hasil metabolit sekunder atau enzim yang dihasilkan.
2. Penggunaan agen biologi dilakukan dengan suatu cara atau metode tertentu.
3. Adanya produk turunan atau jasa yang dipakai dari proses pengguaan agen biologi
tersebut.
2. Jenis-Jenis Bioteknologi
Bioteknologi dibedakan menjadi dua berdasarkan tingkat kerumitan dalam
pelaksanaan prosesnya yaitu bioteknologi konvesional dan bioteknologi modern.
a. Bioteknologi Konvesional
Bioteknologi konvensional adalah semua produk bioteknologi yang menggunakan
mikroorganisme untuk menghasilkan produk dan jasa, misalnya mikroorganisme yang
digunakan adalah jamur maupun bakteri yang berperan dalam menghasilkan enzim –
enzim tertentu untuk melakukan proses metabolisme agar didapatkan produk yang
diinginkan dan bermanfaat bagi umat manusia. Bioteknologi konvensional tidak
menggunakan teknik rekayasa genetika sama sekali. Manipulasi yang dilakukan
bioteknologi konvesional hanya pada kondisi lingkungan dan medi tumbuh (substrat). Jika
pun ada, rekayasa yang dilkukan bersifta sederhana dan perubahan bahan genetic yang
dihasilkan tepat sasaran.
Kelebihan bioteknologi konvesional sebagai berikut:
1. Relatif mudah
2. Teknologi relatif sederhana
3. Pengaruh jangka panjang umumnya sudah diketahui karena sistemnya sudah
mapan.
Kekurarangan bioteknologi konvesional sebagai berikut:
1. Perbaikan sifat genetis tidak terarah
2. Tidak dapat mengatasi masalah ketidaksesuaian (inkompatibilitas) genetik
3. Hasil tidak dapat diperkirakan sebelumnya
4. Memerlukan waktu relatif lama untuk menghasilkan alur baru
5. Seringkali tidak dapat mengatasi kendala alam dalam sistem budidaya tanaman,
misalnya masalah hama.
6. Prosesnya relatif belum steril sehingga kualitas hasilnya belum terjamin.
7. Hanya diproduksi dalam skala kecil
b. Bioteknologi Modern
Bioteknologi modern adalah bagian dari penerapan ilmu bioteknologi yang telah
menggunakan alat – alat canggih dan modern, alat ini digunakan karena sudah tidak
memungkinkan menggunakan teknologi sederhana (konvensional) sebab yang akan di
manipulasi merupakan bagian terkecil dari makhluk hidup, pengaplikasian
bioteknologi modern harus dengan keterampilan khusus dan pengetahuan yang
mendalam terhadap makhluk hidup yang akan di uji coba. Banyak sekali makhluk
hidup yang sudah menjadi percobaan bioteknologi modern seperti bakteri e,coli, bayi
tabung, hormon tumbuhan dan manusia. Oleh karena itu, bioteknologi modern sangat
erat dengan rekayasa genetic. Rekaya genetik bertujuan menghasilkan organisme
trangenik yakni organisme yang susunan gen dala kromosom telah diubah sehingga
mempunyasi sifat menguntungkan sesuai dengan yang dikehendaki. Dengan demikian,
hasil rekaya genetic bersifat lebih terarah. Bioteknologi modern menghasilkan produk
dalam skala industri dengan menggunakan organisme, sistem, atau proses
bioteknologi.

Kelebihan bioteknologi modern adalah sebagai berikut:


1. Perbaikan sifat genetis dilakukan secara terarah.
2. Dapat mengatasi kendala ketidaksesuaian genetik
3. Hasil dapat diperhitungkan
4. Dapat menghasilkan jasad baru dengan sifat baru yang tidak ada pada jasad
alami
5. Dapat memperpendek jangka waktu pengembangan galur jasad tanaman baru
6. Dapat meningkatkan kualitas dan mengatasi kendala alam dalam sistem
budidaya tanaman.

Kekurangan bioteknologi modern adalah sebagai berikut:

1. Relatif mahal
2. Memerlukan kecanggihan teknologi
3. Pengaruh jangka panjang belum diketahui

Teknik yang digunakan dalam bioteknologi modern meliputi kultur jaringan,


kloning, teknik bayi tabung, DNA rekombinan, dan fusi sitoplasma.

1) Kultur Jaringan
Kultru jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman secara vegetative buatan
yang didasarkan pada sifat totipotensi tumbuhan. Prinsip kultur jaringan adalah
menumbuhkan jaringan maupun sel tumbuhan dalam suatu media buatan secara
aseptic. Dalam teori tersebut dikatakan bahwa setiap sel tumbuhan mempunyai
kemampuan untuk tumbuh menjadi individu baru apbila ditempatkan pada
lingkungan yang sesuai. Sifat individu baru yang dihasilkan sama persis dengan sifat
induknya.
Bagian tumbuhan yang ditumbuhkan dalam media kultur disebut eksplan.
Eksplan yangs erring digunakn adalah bagian tumbuhan yang memiliki sel-sel yang
katif emmbelah seperti ujung kaar dan ujung batang. Potingan tumbuhan yang
ditanam pada media kultur akan membentuk menjadi kalus. Kalus merupakan masa
sel yang belum terderensiasi. Kalus tersebut akan berkembang menjadi tanamn
lengkap yang disebut platlet.
MMedia kultur jaringan yang digunakn biasanya berupa agar-agar yang ditambah
dengan unsur hara dan vitamin yang dibuthkan oleh tumbuhan. Media tersebut juga
dapat ditambah dengan hormone pertumbuhan, misalnya auksin dan sitoklinin.
Auksin akan memicu pertumbuhan akar, sedagkan sitokinin akan memicu
pertumbuhan tunas. Komposisi media kultur tergantung pada spesies tumbuhan
yang akan diperbanyak.
Rangkaian tahap kultur jaringan sebagai berikut:
1. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.
Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan
diperbanyak. Media yang di gunakan biasanya terdiri dari garam mineral,
vitamin, dan hormon.
2. Intisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan
dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur
jaringan adalah tunas.
3. Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus
dilakukan di tempat yang steril, yaitu dilaminar flow dan menggunakan alat-
alat yang juga steril.
4. Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam
eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk
menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan
eksplan.
5. Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukan adanya
pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang
dilakukan mulai berjalan dengan baik.
6. Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan
aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu
dengan memberikan sungkup.
Gambar 1.1 Mekanisme Kultur Jarinagan
Sumber: http://www.modulbiologi.com

Keunggulan-keunggulan teknik kulutr jaringan sebagai berikut:


1) Tidak memrlukan lahan yang luas untuk memproduksi bibit tanaman.
2) Menghasilkan bibit tanaman yang sifatnya identic dengan sifat indukya.
3) Menghasilkan bibit tanaman dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang
singkat.

Tujuan dari teknik kultur jaringan ini diantaranya memperbanyak tanaman dalam
jumlah yang banyak dalam waktu singkat, menghasilkan varietas-varietas baru,
memodifikasi genotipe tanaman pada kegiatan pemuliaan tanaman, mengeliminasi
penyakit tanaman agar diperoleh bibit yang bebas penyakit, dan memproduksi
senyawa metabolit sekunder yang diperlukan untuk keperluan industri atau
biofarmasi.

2) Kloning
Kloning atau transplantasi atau pencangkokan nukleus digunakan untuk
menghasilkan individu secara genetik identik dengan induknya. Teknik kloning
melibatkan dua pihak, yaitu donor sel somatis (sel tubuh) dan donor ovum (sel
gamet). Meskipun pada proses ini kehadiran induk betina adalah hal yang mutlak
dan tidak mungkin dihindari, tetapi pada proses tersebut tidak ada fertilisasi dan
rekombinasi (perpaduan) gen dari induk jantan dan induk betina. Ini mengakibatkan
anak yang dihasilkan memiliki sifat yang sama persis dengan induk donor sel
somatis.
Gambar 1.2 Tahapan Kloning
Sumber: https://orindnesia.wordpress.com
Langkah kloning dimulai dengan pengambilan sel puting susu seekor domba. Sel
ini disebut sel somatis (sel tubuh). Dari domba betina lain diambil sebuah ovum (sel
telur) yang kemudian dihilangkan inti selnya. Proses berikutnya adalah fusi
(penyatuan) dua sel tersebut dengan memberikan kejutan listrik yang
mengakibatkan ‘terbukanya’ membran sel telur sehingga kedua sel bisa menyatu.
Dari langkah ini telah diperoleh sebuah sel telur yang berisi inti sel somatis.
Ternyata hasil fusi sel tersebut memperlihatkan sifat yang mirip dengan zigot, dan
akan mulai melakukan proses pembelahan. Sebagai langkah terakhir, ‘zigot’
tersebut akan ditanamkan pada rahim induk domba betina, sehingga sang domba
tersebut hamil. Anak domba yang lahir itulah yang dinamakan Dolly, dan memiliki
sifat yang sangat sangat mirip dengan domba induknya.
3) Teknik Bayi Tabung
Teknik bayi tabung bertujuan untuk membantu pasangan suami istri yang sulit
memperoleh keturunan. Pembuahan yang di lakukan pada teknik bayitung
(fertilisasi in vitro)berada di luar tubuh induk betina. Sel telur yang sudah dibuahi
akan membentuk embrio. Embrio kemudian ditanam (diimplitasi) pada Rahim
seorang wanita pendonor. Embrio tesrebut selanjutnya tumbuh menjadi anak yang
siap dilahirkan.

Gambar 1.3 Proses fertilisasi in vitro pada manusia


Sumber: http://bayi-tabung.org/
4) DNA Rekombinan
Teknik DNA rekombinan adalah rekayasa genetika untuk menghasilkan sifat
baru dengan cara merekombinasikan gen tertentu dengan DNA genom. Teknik
DNA rekombinan merupakan kumpulan bertujuan untuk merekombinasi gen dalam
tabung reaksi dan menghasilkan organisme transgenik. Porses DNA rekombinan
meliputi isolasi DNA, teknik memotong DNA, transpaltasi gen atau DNA dan
teknik untuk memasukan DNA ke dalam sel hidup.
a) Isolasi DNA
Isolasi DNA dilakukan untuk menyeleksi DNA yang dikehendaki. Isolasi
dilakukan dengan mengekstrak kromoso dari suatu organisme. DNA yang dipilih
kemudian dipotong dengan enzim endonuclease restriksi yang berperan sebagi
“gunting biologi”.
Segmen DNA yang dikehendaki kemudian dimasukkan ke dalam suatu vektor
(pembawa). Vektor pada proses ini dapat berupa plasmid atau DNA virus. Vektor
yang dipilih ini harus berikatan dengan gen, mampum memperbanyak, dan
mengekpresikan gen tersebut. Sebelum digunakan sebagai vektor, plasmid
maupun DNA virus harus dipotong endonuclease retsiksi.

Gambar 1.4 Plasmid dalam bakteri


Sumber: http://www.artikelsiana.com

b) Transplantasi Gen atau DNA


Transplatasi gen dilakukan dengan cara menyambung gen yang telah diisolasi
ke dalam DNA plasmid vektor dengan menggunakan enzim ligase. Enzim ligase
mampu menyambung ujung-ujung nukleotida dan berperan sebagai “lem
biologi”. Hasil penyambungan ini disebut DNA rekombinan yang mengandung
DNA asli vektor dan DNA asing yang diinginkan.

c) Memasukan DNA Rekombinan ke Dalam Sel Hidup


DNA rekombbina kemudian dimasukkan ke dalm vektor sel abkteri atau virus
melalui pemanasan daam larutan NaCl atau molekul elektroporasi. Sel bakteri
atau virus tersebut kemudian melakukan replikasi dengan cara membelah diri
sehingga diperoleh DNA ekombinan dalam jumlah banyak.
Gambar 1.5 Proses DNA rekombinan
Sumber: http://www.nafiun.com/

5) Fusi Protoplasma
Fusi protoplasma atau teknologi hibridoma adalah proses penggabungan dua sel
dari jaringan yang sama atau dari dua sel dari organisme yang berbeda dalam suatu
medan listrik. Teknik ini juga dapat digunakan untuk menghasilkan organisme
transgenik. Prinsip dasar fusi protoplasma yaitu menghilangkan dinding dari kedua
sel kemudian menggabungkan kedua isi sel tersebut dalam suatu medan listrik.
Teknik fusi ini dapat dilakukan ada sel tumbuhan maupun hewan.
1. Menyiapkan protoplasma dari tumbuhan.
2. Menghilangkan dinding sel-sel tumbuhan rendah mengisolasi protoplasmanya.
3. Menguji viabilitas (aktivitas hidup) protoplasm ayang diperoleh.
4. Melakukan fusi protoplasma dalam suatu medan listrik.
5. Menyeleksi hasil fusi protoplasma.
6. Membiakan hasil fusi protoplasma yang terseleksi.

Fusi protoplasma pada sel hewan dan manusia sangat berguna terutama untuk
menghasilkan hibridoma. Hibridoma merupakan hasil fusi yang terjadi antara sel
pembentuk antibodi dan sel mieloma. Sel pembentuk antibodi ini adalah sel limfosit
B, sedangkan sel mieloma sendiri merupakan sel kanker. Sel hibridoma yang
dihasilkan dapat membelah secara tidak terbatas seperti sel kanker, tetapi juga
menghasilkan antibodi seperti selsel limfosit B. Hibridoma yang dihasilkan
diseleksi karena setiap sel menghasilkan antibodi yang sifatnya khas. Satu antibodi
yang dihasilkan spesifik untuk satu antigen. Setiap hibrid ini kemudian diperbanyak
(dikloning). Oleh karena antibodi ini berasal dari satu klon maka antibodi ini disebut
antibodi monoklonal.

2. Penerapan Bioteknologi dan Dampaknya


1. Penerapan Bioteknologi
a. Bidang Pangan
1) Pemanfaatn Mikrooorganisme dalam Proses Fermentasi
Aplikasi bioteknologi konversional di bidamg pangan melalui proses fermentasi
dapat dilihat dari contoh dalam tabel berikut:
Tabel 1.1 Contoh Bioteknologi Konvesional Di Bidang Pangan

2) Pemanfaatn Mikrooorganisme untuk Memproduksi Bahan Makanan


a) Protein Sel Tunggal (PST)
Protein sel tunggal adalah istilah yang digunakan untuk protein kasar atau
murni yang berasal dari mikroorganisme bersel satu atau banyak yang sederhana,
seperti bakteri, khamir, kapang, ganggang, protozoa, dan jamur. Sel
microorganism tersebut selnajutnya ditumbuhkan dalam sistem biakan yang
berskala besar. Protein yang terkandung dalam PST dapat mencapai 80% dari
berat total, mikroorganisme penghasil PST mempunyai beberapa keunggulan
berikut:
1) Mempunyai kemampuan berkembang biak yang relative cepat.
2) Mempunyai kandungan protein lebih tinggi bila dibandingkan dengan sumber
protein lainnya.
3) Dapat menggunkan substrat limbah sebagai meida tumbuh.

Contoh mikroba yang dpat digunakan membuat PST adalah Saccharomyces


cerevislae dan Candida utilis. Protein yang dihasilkan mikroba ini menganudng
asam nukleat tinggi. PST dari kedua mikroba tersebut tidak dapat dikosumsi olh
manusia karena di dalam saluran pencernaan manusia tidak memiliki. PST dari
kedua mikroba tersebut hanya digunakan sebagai suplemen makanan ternak.
Mikroba lainnya yang digunakan sebagai sumber PST yaitu Spirulina dan
Chlorella.

b) Mikroprotein

Mikroprotein merupakan produk makanan yang berasal dari miselium jamur.


Pada pembuatan mikroprotein ini digunakan jasa jamur Fusarium graminearium
menggunakan bahan-bahan seperti glukosa, garam ammonia, serta zat hara
lainnya. Mikroprotein mengandung 47% protei, 14% lemak, 25% serat untuk
diet, 10% karbohidrat, 1% RNA, dan 3% abu.

b. Bidang Pertanian dan Perternakan


Bioteknologi modern banyak diaplikasikan dalam bidang pertanian dan peternakan,
terutama dalam usaha mendapatkan bibit unggul. Bioteknologi dalam bidang pertanian
dan peternakan modern banyak memanfaatkan teknologi DNA rekombinan. Proses
DNA rekombinan pada tumbuhan menggunakan vektor Agrobacterium tumefaciens
yang mempunyai plasmid Ti (Tumor inducing). Langkah pertama, plasmid Ti diisolasi,
kemudian disisipi dengan gen asing (transplantasi gen). Setelah itu, plasmid
dimasukkan ke dalam A. tumefaciens. Ketika digabung dengan sel-sel tumbuhan, A.
tumefaciens membiakkan plasmid.
Setelah berbiak, A. tumefaciens yang telah mengalami rekombinasi (melalui proses
DNA rekombinan) kembali menginfeksi kromosom tumbuhan. Kini tumbuhan tersebut
telah mengandung gen asing yang dicangkokkan pada A. tumefaciens. Sel-sel yang
dihasilkan dari proses DNA rekombinan tersebut ditumbuhkan dengan metode kultur
jaringan sehingga menghasilkan tunas. Setelah tumbuh, tanaman tersebut dapat
ditanam pada lahan pertanian.
Gambar 1.1 Rekayasa genetika pada tumbuhan menggunakan vektor Agrobacterium
tumefaciens
Sumber: http://www.nafiun.com
Beberapa contoh aplikasi bioteknologi dalam bidang pertanian dan peternakan sebagai
berikut:
1) Padi Transgenik
Teknologi rekombinan dapat dimanfaatkan untuk memperoleh tanaman padi transgenik.
Contoh tanamna padi rojolele yang mampu mengekresikan laktoferin dan tanaman padi
yang tahan terhadap cuaca dingin. Untuk mendapatkan tanaman padi yang tahan terhadap
cuaca dingin caranya dengan memasukkan gen tahan dingin dari hewan yang hdiup di
tempat dingin ke dalam kromosom tanamn dingin ke dalam kromosom tanaman padi.
2) Tembakau Resistan terhadap Virus
Berbagai macam tumbuhan dapat dikembangkan melalui DNA rekombinan
dengan plasmid Ti ini. Salah satu pemanfaatannya yaitu pada penemuan tumbuhan
tembakau yang tahan terhadap virus TMV (Tobacco Mozaic Virus). Beachy,
seorang ilmuwan dari Universitas Washington (AS) mengembangkan tumbuhan
yang tahan terhadap virus TMV. Ia menggunakan plasmid Ti yang digabung dengan
gen yang tahan terhadap penyakit TMV. Gabungan ini kemudian dimasukkan dalam
kromosom tembakau. Kromosom tembakau yang telah disisipi gen tahan virus
TMV tersebut kemudian diperbanyak melalui teknik kultur jaringan. Tanaman
tembakau yang dihasilkan terbebas dari infeksi virus TMV.
3) Bunga Antilayu dan Buah Tahan Buruk
Etilen merupakan hormon pertumbuhan yang menyebabkan bunga menjadi layu.
Kelayuan pada bunga terjadi akibat adanya gen yang sensitif terhadap etilen pada
mahkota bunga. Jika gen tersebut diganti dengan gen yang kurang sensitif terhadap
etilen akan mampu menunda kelayuan pada bunga. Dengan metode ini telah
dikembangkan anyelir transgenik yang mampu bertahan selam 3 minggu. Sementara
anyelir normal hanya bisa bertahan selama 3 hari. Etilen juga merangsang
pematangan buah, maka aktivitas gen penghasil etilen dapat dihambat melalui
rekayasa geetika sehingga buah tetap segar dalam waktu yang lama. Contohnya
pada tomat Flavr Savr yang tahan terhadap kebusukan.
4) Tanaman Kapas Anti Serangga
Teknik DNA rekombian juga digunakan untuk menghasilkan tanaman kapas
yang antiserangga. Caranya dengan memasukan gen delta endotoksin Bacillus
thuringiensis ke dalam tanaman kapas. Selanjutnya, tanaman kapas akan
memproduksi protein delta endoktosin. Enzim ini akan bereaksi dengan enzim di
lambung serangga, dan apabila serangga memakan tanaman tersebut akan
mengalami karacunan kemudian mati.
5) Pembuatan Pupuk Organik
Mikrobia juga dimanfaatkan dalam proses pembuatan pupuk organik. Peneliti di
Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) mengembangkan
teknologi pembuatan pupuk superfosfat yang disebut Bio–SP dengan menggunakan
bantuan mikroba pelarut fosfat. Keunggulan teknologi ini yaitu penggunaan agen
biologi untuk mengurangi penggunaan asam anorganik sehingga lebih aman bagi
lingkungan dan mengurangi biaya produksi.
6) Kain “Alami” Sintesis
Kain alami sintesis merupakan gabungan dari serat alami yang bertekstur halus
dengan serat sintetis (polyester) yang tidak mudah putus. Teknologi ini
dikembangkan untuk memecahkan persoalan penggunaan kain dari serat alami yang
mempunyai tektur halus tetapi mudah putus, tetapi terasa panas. Untuk membuat
kain alami sintetis dikembangkan gen pada bakteri yang mengode enzim yang dapat
mensintensis polyester.
Adapun contoh pemanfaatan bioteknologi dalam bidnag peternakan diantaranya
sebagia berikut:
1) Sapi Perah dengan Hormon Manusia
Gen laktoferin pada manusia yang memproduksi HLF (Human Lactoferin)
disisipkan pada sapi perah. Dengan penyisipan ini akan dihasilkan sapi yang mampu
memproduksi susu yang mengandung laktoferin. Contohnya sapi Herman.
2) Bovine Somatotropin (BST)
Penyisipan gen somatotropin sapi pada plasmid Escherichia coli dapat
menghasilkan BST. BST yang ditambahkan pada makanan terbak dapat
meningkatkan produksi daging dan susu ternak.
c. Bidang Kedokteran
1) Antibiotik
Antibodi adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang
mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam
organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Contoh mikroorganisme
yang dimanfaatkan sebagai penghasil antibiotic diantaranya sebagai berikut:
1. Jamur Cephalosporium sp, menghasilkan antibiotic sepalosporin untuk
membunuh bakteri yang kebal terhadap antibiotic penisilin.
2. Bakteri Streptomyces griseus menghasilkan antibodi streptomisin untuk
membunuh bakteri yang kebal terhadap antibiotic penisilin dan sefalosporin.
3. Jamur Penicillum notatum dan Penicillum chrysogenum menghasilkan
anibiotik penisilin untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Staphylococcus.
2) Insulin
Insulin adalah hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar pankreas. Hormon ini
berperan dalam mengatur kadar gula dalam darah (glukosa). Namun, tidak semua
orang dapat memproduksi insulin dengan jumlah yang sesuai kebutuhan tubuh.
Bahkan, terdapat pula orang yang sama sekali tidak memproduksi insulin. Orang ini
adalah penderita diabetes mellitus. Oleh karena itu, insulin diperoleh dengan
mengmbil kelenjar pankreas dari hewan untuk keperluan pengobatan diabetes
militus.

Gambar 1.2 Proses Insulin


Sumber: http://www.nafiun.com

3) Vaksin Transgenik
Selain digunakan untuk memproduksi hormon maupun enzim, teknologi DNA
rekombinan juga digunakan untuk membuat vaksin. Pada aplikasi ini, secara garis
besar beberapa mikroorganisme digunakan untuk menghambat kemampuan
mikroorganisme patogen (penyebab penyakit). Mikrobia menjadi suatu bibit
penyakit dalam tubuh apabila mikrobia tersebut menghasilkan senyawa toksik bagi
tubuh manusia. Selain itu, bagian-bagian tubuh mikrobia seperti flagel dan membran
sel juga dapat menimbulkan penyakit. Hal ini karena bagian-bagian tersebut
kemungkinan terdiri dari protein asing bagi tubuh. Senyawa dan protein asing ini
disebut antigen.

Gambar 1.3 Proses pembentukan vaksin transgenik


Sumber: http://www.nafiun.com
4) Antibodi Monoklonal
Teknologi pembuatan antibodi monoklonal diperkenalkan oleh Kohler dan
Milstein pada tahun 1975. Mereka dapat menunjukkan bahwa sel limfosit penghasil
antibodi dapat difusikan dengan sel mieloma (kanker). Teknologi ini menggunakan
prinsip fusi protoplasma. Fusi ini menghasilkan sel-sel yang dapat menghasilkan
antibodi sekaligus dapat memperbanyak diri secara terus-menerus seperti pada sel-
sel kanker. Sel-sel ini menghasilkan antibodi monoklonal.
Secara sederhana pembuatan antibodi monoklonal sebagai berikut. Kelinci atau
tikus terlebih dahulu diinjeksi dengan antigen kemudian limfanya (tempat
pembuatan sel darah putih) diambil. Sel-sel limfa ini kemudian difusikan dengan sel
mieloma (sel kanker) melalui elektrofusi. Elektrofusi adalah fusi secara elektris
dengan frekuensi tinggi yang menyebabkan sel-sel tertarik satu sama lain dan
akhirnya bergabung. Sel-sel yang melakukan fusi kemudian diseleksi untuk
mengidentifikasi sel gabungan tersebut. Sel-sel ini kemudian diinjeksikan ke tubuh
hewan. Sel-sel gabungan ini akan membentuk antibodi dalam tubuh hewan.
Sel gabungan ini dapat dibiakkan ke dalam suatu kultur sehingga menghasilkan
antibodi dalam jumlah besar. Antibodi monoklonal dapat digunakan untuk
mendeteksi kandungan hormon korionik gonadotropin dalam urine wanita hamil.
Dengan demikian, cara ini dapat untuk mendeteksi adanya kehamilan.
Gambar 1.4 Proses pembuatan antibodi monoclonal melalui rekayas genetik
Sumber: http://www.nafiun.com

5) Terapi Gen Pada Penderita Fibrosis Sistik


Terapi Gen bahwa terapi gen merupakan pengiriman gen terapeutik ke dalam
tubuh manusia yang bertujuan untuk pengobatan suatu penyakit yang disebabkan
oleh satu atau banyak gen yang mengalami kerusakan. Dewasa ini cara untuk
melakukan penggantian gen rusak dapat dilakukan dengan memanfaatkan agen
virus yang telah dilemahkan, senyawa kimia organik, atau dengan cara
penyuntikkan. Penggunaan virus sebagai agen pembawa gen disebut metode viral.
Metode ini memiliki keuntungan efektivitas yang tinggi. Metode ini dapat
memanfaatkan sifat serangan virus pada jaringan tertentu yang khas. Pada awalnya,
terapi gen diciptakan untuk mengobati penyakit keturunan (genetik) yang terjadi
karena mutasi pada satu gen, seperti penyakit fibrosis sistik. Penggunaan terapi gen
pada penyakit tersebut dilakukan dengan memasukkan gen normal yang spesifik ke
dalam sel yang memiliki gen mutan.
6) Interferon
Interferon merupakan sel-sel tubuh yang mampu menghasilkan senyawa kimia.
Senyawa kimia tersebut dapat membunuh virus. Interferon berguna untuk melawan
infeksi dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Produksi interferon dilakukan
melalui rekayasa genetika.
d. Bidang Lingkungan
Aplikasi bioteknologi dalam bidang lingkungan digunakan untuk menangani
pencemran lingkungan. Pada proses pemurnian logam, bahan-bahan tambang yang
ditemukan umumnya masih terikat dengan bijihnya., diperlukan bahan kimia untu
memurnikannya. Dengan menggunakan bakteri Thiobacillus ferrooxidans, beberapa
jenis logam dapat diambil dari cairan sisa penambangan. Bakteri ini mampu
mengoksidasi belerang yang mengikat berbagai logam seperti tembaga, seng, dan
uranium membentuk logan sulfida. Bakteri tidak memanfaatkan logam-logam tersebut
sehingga nantinya logam akan dilepas ke air dan dimanfaatkan oleh manusia. Dengan
demikian, pencemaran lingkunganakibat limbah penmbangan dapat dikurangi dengan
memanfaatkan perna mikroorganisme.

Bioteknologi lingkungan untuk mengatasi pencemaran akibat tumphan minyak di


laut. Tumpahan minyak tersebut dapat diatasi dengan memanfaatkan bakteri
Pseudomona putida. Bakteri tersebut mampu menguraikan ikatan hidrokarbon pada
minyak bumi.

2. Dampak Bioteknologi
a. Dampak di Bidang Lingkungan
1) Dampak Positif
Bioteknologi dapat digunakan untuk mengurangi pencemaran ligkungan akibat
pemakaian pestisida yakni dengan ditemukannya tumbuhan yang tahan terhadap
serangga. Selain, bioteknologi juga dapat mengurangi pencemaran limbah dengan
penggunaan Thiobacillus ferroxidans untuk memisahkan logam dari bijinya.
2) Dampak Negatif
a) Menimbulkan kerusakan pada ekosistem
Kondisi keseimbangan ekosistem juga mulai terganggu dengan bioteknologi
konvensional dan modern yang mulai diterapkan dewasa ini. Contoh yang sudah
terjadi misalnya tanaman kapas BT yang merupakan hasil rekayasa genetik telah
mampu membunuh hama ulat yang memakannya. Bukan hanya itu, racun dalam
tanaman unggul ini juga menyebabkan matinya banyak larva kupu-kupu dan
serangga-serangga lainnya yang tidak bertindak sebagai hama tanaman.
b) Hilangnya plasma nutfah
Keanekaragaman plasma nutfah secara berangsur-angsur mulai menurun
akibat adanya teknologi rekayasa genetik dalam memproduksi berbagai varian
bibit unggul tanaman. Varian lokal ditinggalkan karena petani lebih memilih
membudidayakan tanaman dengan penampilan fisik dan fisiologis yang lebih
baik. Ini merupakan dampak negatif bioteknologi yang juga perlu diwaspadai.
Pemberdayaan melalui konservasi plasma nutfah yang mulai punah akibat
hadirnya gen-gen unggul tanaman baru merupakan salah satu tindakan nyata
yang dapat dilakukan.
b. Dampak di Sosial Ekonomi
1) Dampak Positif
Terjadinya persaingan untu mencari tanaman atau hewan varietas baru melalui
proses rekayasa genetika yang terjadi di kalangan industri.

2) Dampak Negatif
Kesenjangan social dan ekonomi pada masyarakt karena produk-produk dari
petani dan peternak tradisional mulai tersisish oleh adanya produk-produk rekayasa
genetika. Hal ini dapat mengakibatkan banyak petani dan peternak tradisonal yang
ingin mengembangkan bibit hasil bioteknologi mau tidak mau harus membayar
royalty kepada pihak penemu bibit tersebut.
c. Dampak Terhadap Kesehatan
1) Dampak Positif
Adanya penemuan-penemuan produk obat maupun hormone hasil rekayasa
genetika mengakibatkan produk tersebut lebih murah dan mudah diperoleh oleh
masyarakyat.
2) Dampak Negatif
Penggunaan produk kesehatan hasil rekayasa genetic dapat mengakibatkan
timbulnya energi. Bahkan, beberapa produk transgenik dapat mengakibatkan
seseorang menjadi resisten terhadap beberapa jenis antibiotic tertentu. Misalnya
seseorang yang mengkonsumsi tomat Flavr Savr yang mengandung gen resisten
terhadap antibiotik.
d. Dampak Etika Moral
Penerapan tekonologi cloning yang dikhawatirkan akan diterapkan pada manusia
dianggap merendahkan martabat manusia. Kloning pada manusia sangat ditentang
karena tidak sesuai dengan etika moral dan melanggar aturan agama. Oleh karena itu,
para ilmuwan diharapkan dapat bersikap dan bertindak bijaksana dalam melakukan
rekayasa genetik.