Anda di halaman 1dari 33

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Babi

3.1.1 Populasi Babi

Populasi ternak babi di Upt Bibd Baturiti Bali berjumlah 19 ekor yang terdiri dari
betina induk 8 ekor dan pejantan 11 ekor. Ternak babi yang dipelihara dibagi atas induk
bunting, induk menyusui, induk yang tidak bunting, pejantan dan anak yang disapih. Anak
yang disapih tidak termasuk dalam hitungan karena ada anak babi yang mati dan juga anak
babi yang dipelihara di Upt Bibd Baturiti hanya untuk dijual dan tidak dijadikan bibit.

Jenis ternak babi yang dipelihara pada kandang Upt Bibd Baturiti adalah : Babi
Landrace, Yorkshire,dan Duroc. Babi Landrace dengan ciri-ciri tubuh panjang, berwarna
putih dan telinga terkulai ke depan. Babi Yorkshire ciri-cirinya badan besar dan panjang,
muka berbentuk seperti mangkuk dan telinga tegak mengarah ke depan. Babi Duroc ciri-
cirinya berwarna merah yang bervariasi mulai dari merah muda sampai merah tua, tubuh
panjang dan membentuk busur yang dimulai dari leher sampai pangkal ekor dan telinga
terkulai ke depan. Sesuai dengan pendapat Prasetya (2012) mengatakan babi Landrace
memiliki ciri-ciri telinga terkulai, berwarna putih dan tubuh panjang sedangkan babi
Yorkshire ciri-cirinya badan besar dan panjang, muka berbentuk cekung. Lebih lanjut
wheindrata (2013) menyatakan babi Yorkshire bersifat jinak, sifat keibuan tinggi dan air susu
yang dihasilkan banyak. Menurut Subagyo (2008) menyatakan babi duroc memiliki ciri-ciri
tubuh berwarna erah yang bervariasi dari merah muda sampai merah tua. Punggung
membentuk busur yang dimulai dari leher sampai ekor, dengan titik tertinggi ditengah-
tengah, teliga sedang dan terkulai kedepan dan muka agak cekung.

Tabel Populasi Ternak Babi di Upt Bibd Baturiti

Jenis Babi Betina Jantan


Landrace 4 2
Yorkshire 3 4
Duroc 1 5
Total 8 11
3.1.2 Pemilihan Bibit Ternak Babi

Pemilihan bibit yang baik merupakan langkah awal keberhasilan suatu usaha
peternakan. Di Upt Bibd Baturiti sendiri mempunyai syarat atau kriteria yang telah
ditentukan untuk memilih calon bibit pejantan dan betina unggul yaitu :

 Mempunyai paha yang besar


 Mempunyai kaki yang tegap dan kokoh
 Puting susu yang lengkap dan normal
 Mempunyai punggung yang lurus
 Mempunyai bentuk testis yang simetris (untuk pejantan)
 Mempunyai kualitas produksi semen yang bagus (untuk pejantan)
 Jumlah anak yang dilahirkan 10-15 ekor (untuk betina)
 Mempunyai sifat keibuan (untuk betina)

Calon bibit bisa didapat dari induk yang ada di Upt Bibd Baturiti atau bisa juga
didapat dari peternakan lain. Jika calon bibit pejantan dan betina yang ada di Upt Bibd
Baturiti sesuai dengan kriteria maka akan dijadikan bibit. Sebaliknya jika tidak sesuai kriteria
maka akan diafkir atau dijual. Anak babi jantan akan dijual sekitar umur 3 bulan dan babi
betina akan dijual sebelum estrus pertama karena pada saat estrus pertama napsu makannya
tidak stabil sehingga akan mempengaruhi penurunan berat badan.

3.1.3 Manajemen Pemeliharaan Ternak Babi di UPT BIBD Baturiti Bali

Pemeliharaan ternak babi merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dengan
tujuan untuk menghasilkan semen cair serta mendapatkan anak babi yang sehat untuk
dijadikan bibit. Sistem pemeliharaan ternak babi di UPT BIBD Provinsi Bali meliputi
manajemen perkandangan, pemberian pakan dan air minum serta penerapan biosekuriti.
Dalam pemeliharaannya dilakukan kegiatan antara lain pemberian pakan dan air minum,
sanitasi kandang dan ternak, memandikan ternak, kastrasi, IB, dan peemberian obat-obatan.

3.1.3.1 Manajemen Perkandangan

Jenis kandang babi pada umumnya terrdapat 2 tipe kandang yaitu tipe kandang ganda
dan kandang tunggal. Menurut Prasetya (2012) berbagai macam kandang babi, masing-
masing dibedakan menurut kontruksi dan kegunaannya, tipe kandang menurut kontruksi dan
kegunaannya adalah kandang tunggal yaitu bangunan kandang yang terdiri dari satu baris
saja, kandang ganda yaitu bangunan kandang yang terdiri dari dua baris yang letakknya
saling berhadapan ataupun bertolak belakang.

Kandang babi yang ada pada Upt Bibd Baturiti yaitu kandang ganda dan kandang
tunggal. Kandang ganda berada disamping kiri dan kanan sedangkan kandang tunggal berada
di depan pintu masuk. Atap dan tiang kandang dibuat dari beton, terdapat tempat pakan
didepan dan dilengkapi dengan nippel yang menempet pada tembok dinding kandang. Untuk
kandang babi jantan lantai yang terbuat dari semen yang dibuat agak miring agar lebih
memudahkan kotoran babi jatuh ke dalam saluran pembuangan. Sedangkan pada kandang
babi induk menyusui dan induk bunting lantai kandangnya terbuat dari semen dan terdapat
kolong sehingga mempermudah kotoran babi jatuh ke dalam saluran pembuangan. Di
samping kandang bunting dan menyusui terdapat kandang kecil yang digunakan sebagai
kandang pemanas anak babi yang belum disapih. Di kandang pemanas terdapat jerami kering
yang disimpan di dasar lantai. Jerami kering inilah yang digunakan sebagai alas lantai guna
menghangatkan tubuh anak babi. Saluran pembuangan pada babi jantan sudah berada tepat
dibelakang kandang sehingga lebih memudahkan dalam pembersihan kotoran babi.

3.1.3.2 Pemberian Pakan dan Air Minum


Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi hari pukul 08.00 WITA
sebelum melakukan sanitasi kandang dan pada sore hari pukul 15.00 WITA. Pemberian
jumlah pakan tergantung dari jenis dan kebutuhan ternak babi. Dimana ternak babi jantan
yang digunakan untuk menghasilkan semen diberi makan 4 Kg/ekor/hari, induk bunting
diberi makan 4 Kg/ekor/hari, induk menyusui 4 Kg/ekor/hari ditambah dengan segenggam
lactamineral /ekor/hari, induk kering atau induk tidak bunting diberi makan 3 Kg/ekor/hari
dan anak babi yang disapih diberi makan 0,5 Kg/ekor/hari.

Pakan yang diberikan pada ternak babi adalah pakan yang dicampur sendiri.
Komposisi campuran pakan untuk babi meliputi dedak padi, polar, konsentrat, starbio dan
mineral. Induk babi yang menyusui membutuhkan tambahan mineral sehingga pada saat
pemberian pakan ditambahkan dengan lactamineral. Pemberian pakan pada anak babi yang
disapih yaitu pakan pelet 551 seiring dengan pertumbuhankan mulai ditambahkan sedikit
demi sedikit hingga penggunakan pakan 551 dikurangi sampai dihentikan dan digantikan
dengan pemberian pakan yang sama dengan babi yang lainnya. Pemberian air minum secara
tidak terbatas yang tersedia menggunakan nippel yang tertempel di dinding atas tempat
makan. Hal ini lebih memudahkan ternak babi untuk dapat mengakses tempat minumnya dan
mendapat air minum yang tidak terbatas.

Pemberian kecambah juga diberikan untuk babi pejantan. Dimana kecambah memiliki
kandungan vitamin E yang berfungsi untuk meningkatkan spermatozoa. Pemberian dilakukan
setiap 2 minggu sekali tetapi pemberian kecambah juga tergantung dari kualitas semen pada
babi. Jika terdapat semen yang kurang bagus maka akan di treatment dengan pemberian
kecambah.

Komposisi penyusun pakan ternak babi :

No BAHAN JUMLAH KEBUTUHAN TOTAL KET


PAKAN PENCAMPURAN PENCAMPURAN PENCAMPURAN
1 Dedak Padi 40 3 120 Untuk
4 hari
2 Polar 35 3 105
3 Konsentrat 25 3 75
152
4 Mineral D 1 3 3
5 Starbio 0,25 3 0,75
JUMLAH KEBUTUHAN KEBUTUHAN CAMPURAN
TERNAK PER EKOR PER HARI 4 HARI
JANTA 11 4 44 4 176 Kg
N
BETINA 8 3 24 4 96 Kg
JUMLAH 272 Kg

Gambar. Pemberian Pakan

3.1.3.3 Penerapan Biosekuriti

Biosekuriti merupakan serangkai kegiatan yang dirancang untuk mencegah penyakit


masuk kedalam peternakan ataupun menyebar keluar peternakan. Semua kegiatan dilakukan
dengan tujuan memisahkan inang (ternak) dari bibit penyakit dan sebaliknya.

Biosekuriti yang diterapkan di UPT BIBD Provinsi Bali ini adalah sanitasi kandang
dan ternak, desinfektan kandang dan ternak serta penyemprotan di tempat gerbang utama.
Sanitasi kandang dan ternak merupakan salah satu kegiatan untuk mencegah masuk dan
berkembangnya suatu agen penyakit. Kandang yang kotor dapat membuat agen penyakit
berkembang sehingga ternak dengan mudah terserang penyakit.

Kegiatan sanitasi kandang dan ternak di UPT BIBD Provinsi Bali ini dilakukan setiap
hari pada pagi hari setelah pemberian pakan pada babi. Sanitasi kandang dilakukan dengan
cara membersihkan kandang dan memandikan ternak. Membersihkan kandang dengan
mengeluarkan feses dari dalam kandang dan dibuang kedalam saluran pembuangan yang
berada dibagian belakang kandang. Kemudian disemprotkan menggunakan selang kedalam
kandang dan memandikan ternak babi. Jika terdapat feses yang melekat pada tubuh ternak
babi akan disikat sampai bersih. Desinfektan kandang dan ternak dilakukan dengan
menggunakan butox. 1 tutup botol butox dicampur dengan 15 liter air didalam tangki air dan
kemudian disemprotkan ke dalam kandang dan dibagian tubuh ternak babi. Desinfektan ini
bertujuan untuk menjauhkan ektoparasit dari dalam kandang dan tubuh ternak babi.
Desifektan dilakukan satu kali dalam sebulan. Penyemprotan di gerbang utama bertujuan agar
ketika kendaraan yang masuk kedalam lokasi Upt Bibd Baturiti kebersihannya tetap terjaga
sehingga tidak dapat menyebarkan atau menularkan penyakit. Penyemprotan di gerbang
utama setiap hari kerja, di gerbang utama sudah tersedia cctv sehingga ketika ada mobil
ataupun kendaraan lain yang masuk secara otomatis airnya langsung menyemprot keluar dari
3 arah yaitu samping kiri, samping kanan dan dari atas.

Gambar. pembersihan kanang dan memandikan babi

3.1.4 Prosesing Semen Cair Babi di UPT BIBD Prov Bali

Prosesing semen cair ternak babi terdiri dari beberapa kegiatan yaitu persiapan alat
tampung, penampungan semen, pemeriksaan semen segara secara makroskopis dan
mikroskopis, persiapan pengenceran, pengenceran semen, eveluasi semen, pengemasan
semen dan labeling.

3.1.4.1 Persiapan Alat Tampung dan Penampungan Semen Babi

Penampungan semen merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan agar semen yang
dihasilkan dapat diproses menjadi semen cair. Semen meruapakan sejenis cairan yang
dihasilkan oleh sel kelamin jantan yang dikeluarkan secara normal melalui ejakulasi ke dalam
saluran kelamin betina sewaktu kawin dan juga bisa ditampung untuk digunakan dalam IB.
Untuk penampung semen babi memerlukan beberapa peralatan seperti gelas tampung, tabung
elenmeyer ukuran 500 ml, corong air, karet dan kain kasa. Langkah kerja pembuatan alat
tampung ini sudah dibahas pada Bab sebelumnya. Ketika sudah selesai membuat alat
tampung kemudian dimasukkan kedalam ruang tampung lewat pintu khusus dan dimulai
dengan proses penampungan semen.

Proses penampungan semen pada ternak babi di Upt menggunakan Dummy Sow.
Dalam proses penampungan, pejantan yang masih dalam proses pelatihan akan menggunakan
dummy yang bisa dipindah-pindah sesuai kemauan pejantan, sedangkan pejantan yang sudah
terlatih menggunakan dummy yang tidak bisa dipindah-pindahkan. Pada saat menampung
semen yang harus diperhatikan adalah tidak boleh memakai cincin karena akan dapat
menyebabkan rasa sakit dan luka pada alat kelamin ternak babi pejantan. Dan juga pada saat
memegang penis harus memegang dengan erat agar pada saat ejakulasi penis tidak terlepas
dari tangan. Proses penampungan juga jika cairan bening yang pertama yang keluar tidak
boleh ditampung dan langsung dibuang karena cairan yang bening itu bukan semen tetapi
cairan plasma. Apabila cairan sudah berwarna putih maka baru ditampung dengan
menggunakan gelas tampung yang sudah disiapkan. Durasi waktu penampungan semen pada
ternak babi sekitar 15 menit. Penampungan dilakukan setiap hari dan banyaknya babi jantan
yang ditampung setiap hari adalah sekitar 2-4 ekor tergantung dari banyaknya permintaan
semen cair babi. Babi jantan yang telah ditampung semennya akan ditampung lagi 3 hari
kemudian karena waktu untuk spermatozoa matang adalah 72 jam.

Gambar. Alat tampung semen


Gambar. Penampungan semen

3.1.4.2 Pemeriksaan Semen Babi

Setelah semen ditampung secepatnya dimasukkan kedalam laboratorium untuk


dilakukan pemeriksaan secara makroskopik dan mikroskopik. Pemeriksaan semen segar
bertujuan untuk menentukan kelayakan sperma/semen segar tersebut diproses menjadi semen
beku.

 Pemeriksaan Makroskopik

Semen yang datang dari ruang penampungan langsung dilakukan pemeriksaan secara
makroskopis meliputi warna, bau, volume dan konsistensi semen. Warna semen dapat
diamati langsung karena tabung penampung semen terbuat dari gelas atau plastik sehingga
tembus pandang. Warna semen babi normalnya berwarna putih susu, jika warna kemerah-
merahan merupakan tanda bahwa semen terkontaminasi oleh darah segar sedangkan apabila
mendekati coklat dapat merupakan tanda bahwa darah yang mengkontaminasi semen sudah
mengalami dekomposisi. Warna hijauan merupakan tanda adanya bakteri pembusuk. Bau
semen yang terhirup oleh indra pernapasan umumnya berbau amis. Bau busuk juga bisa
terjadi apabila semen mengandung nanah yang disebabkan oleh adanya infeksi organ atau
saluran reproduksi hewan jantan. Konsistensi merupakan salah satu sifat semen yang
memiliki kepadatan/konsentrasi sperma didalamnya. Semakin kental semen dapat diartikan
bahwa semakin tinggi konsentrasi spermanya. Umumnya yang terjadi di Upt pada saat
pemeriksaan secara makroskopis mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik dimana warna
semen yang didapat normal yaitu berwarna putih susu, bau semennya amis, konsistensi
semennya cair dan volume semen yang didapat berkisar diatas 150 ml. Pemeriksaan pH tidak
lakukan karena alat yang digunakan tidak tersedia dan juga tingkat keasaman juga menurut
petugas sudah sesuai sehingga tidak lagi dilakukan pengujian.

 Pemeriksaan Secara Mikroskopik

Pemeriksaan secara makroskopis meliputi motilitas/ gerakan individu, viabilitas,


abnormalitas dan konsentrasi spermatozoa pada semen segar. Di Upt Bibd Baturiti
pemeriksaan mikroskopis dilakukan dengan melihat motilitas, mortilitas dan abnormalitas
spermatozoa menggunakan mikroskop. Sedangkan pemeriksaan konsentrasi dan viabilitas
tidak dilakukan. Pemeriksaan untuk melihat konsentrasi semen sempat dilakukan
menggunakan alat SDM 6 dan Spermacue tetapi tidak dilanjutkan sampai dengan sekarang.
Dimana alat SDM 6 tidak digunakan lagi karena menggunakan alat ini mendapatkan jumlah
konsentrasi pengencerannya lebih tinggi. Sedangkan untuk alat spermacue ini bisa digunakan
tetapi alatnya terlalu mahal dan hanya bisa digunakan sekali pakai dalam satu kali
pemeriksaan. Oleh karena itu untuk perhitungan konsentrasi hanya dilihat dari presentasi
motilitas. Dimana motilitas inilah yang akan menentukan nilai konsentrasi untuk menghitung
jumlah pengenceran semen dan juga menentukan semen layak diproses lebih lanjut atau
tidak. Presentasi motilitas semen segar babi yang sesuai standar adalah 60% dan jika
presentasi dibawah 60% maka akan dibuang. Untuk menghitung nilai motilitasnya dengan
menggunakan mikroskop dan hanya dengan melihat gerak individu sperma melalui kasat
mata sehingga dapat memperkirakan nilai motilitas. Umumnya presentasi motilitas sperma di
upt ini berkisar 60 - 70%.

3.1.4.3 Persiapan Pengenceran dan Pengenceran Semen Babi

Pengenceran semen merupakan salah satu cara untuk memperbanyak volume semen
dan memperpanjang daya hidup spermatozoa. Tujuan pengenceran yaitu sebagai penyedia
nutrisi untuk menjamin kelangsungan hidup spermatozoa selama penyimpanan atau
pembekuan. Persiapan bahan pengenceran dilakukan 1 jam sebelum penampungan. Bahan
pengencer yang dipakai adalah bahan pengencer instan yaitu Bestvile Thawing Solution
(BTS). Semen cair dengan bahan pengencer BTS dapat disimpan selama 3 hari tanpa terjadi
penurunan kualitas semen. Proses persiapan pengenceran semen menggunakan BTS yang
ditambahkan aquabides dengan perbandingan BTS 50 gram berbanding aquabides 1000 ml
atau BTS 25 gram berbanding aquabides 500 ml. Kandungan yang ada dalam BTS adalah
sebagai berikut : Glucosa, Tri Sodium Citrate, Edta Disodium Salt, Sodium
Hidrogencarbonate, Potassium Chloride, Sodium Penicillin, dan Streptomycin sulphate.

Pengenceran semen dapat dilakukan apabila semen telah melewati pemeriksaan


secara makroskopik dan mikroskopik dan telah memenuhi syarat yang sudah ditentukan.
Sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa untuk menentukan banyaknya jumlah
pengencer dilihat dari presentasi motilitas spermatozoa. Adapun rumus yang digunakan
untuk menghitung jumlah pengenceran yaitu :

Motilitas : 60% = 1 : 1

Motilitas : 65% = 1 : 2

Motilitas : 70% = 1 : 3 s/d 1 : 4

Contoh : Volume tampung 200 cc dan motilitas 65% (1 : 2)

Jumlah pengenceran = Volume Tampung X Jumlah Perbandingan

= 200 cc X 2 = 400 cc

Jadi jumlah pengencer yang ditambahkan ke dalam semen adalah 400 cc.

Jika sudah didapat jumlah pengencerannya maka jumlah yang didapat dituangkan
kedalam semen dan dihomogenkan. Setelah diberi pengencer maka dilakukan evaluasi lagi
menggunakan mikroskop untuk melihat tingkat motilitas spermanya. Jika gerakkan
spermanya masih bagus dan layak, akan dilanjutkan ke proses selanjunya yaitu dengan
mengemas atau mempacking semen kemudian diedarkan kepada masyarakat. Penggunaan
pengenceran selain BTS juga pernah digunakan beberapa merk dagang yaitu MIII,
Durasperm, Androhep, dan Androstar. MIII dan Durasperm ini biasa digunakan ketika
mendapat permintaan semen dari luar kota karena kedua merk dagang ini semennya dapat
bertahan selama 7 hari.

3.1.4.4 Pengemasan Semen Babi


Pengemasan semen merupakan salah satu tindakan untuk memudahkan dalam proses
pendistribusian. Sebelum mengemas semen untuk menentukan berapa banyak dosis yang
didapat dengan menggunakan rumus :

Volume Tampung + Volume Pengencer


80 cc
Contohya : Vol. Tampung = 200 cc, Vol Pengencer = 400 cc
200 cc + 400 cc = 7,5 dosis / 7 dosis
80 cc
Setelah mendapat jumlah dosis maka botle semen diambil sebanyak yang didapat oleh
rumus dan semen dituangkan kedalam botle semen secara perlahan-lahan. Kemudian
digunakan tisu untuk mengeringkan bagian dalam ujung botle dan selanjutnya dipress
menggunakan mesin press sebanyak 3 kali agar tidak bocor/ tumpah. Botle yang sudah
dipress kemudian diberi label yang sudah diprint. Label ini berisi alat kantor, jenis/bangsa,
nama pejantan, tanggal pelaksaan penampungan, tanggal kedaluwarsa dan aturan pakai
semen. Pemberian label ini dilakukan untuk mengurangi inbreeding pada babi ketika saat IB
label ini di tempelkan pada kandang babi sehingga saat anaknya akan dikawinkan tidak lagi
dengan babi jantan yang sama atau sedarah.

3.1.5 Kastrasi

Kastrasi adalah suatu tindakan yang sengaja dilakukan untuk menghilangkan fungsi
dari alat reproduksi dengan jalan mematikan sel kelamin jantan dan betina sehingga ternak
bersangkutan tidak mampu menghasilkan keturunan. Ternak yang dikastrasi adalah ternak
yang tidak dijadikan bibit. Umumnya umur ternak yang dikastrasi haruslah yang berumur
muda karena mengkastrasi ternak tua membawa resiko yang lebih berat dan mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan ternak selanjutnya yang dipersiapkan sebagai ternak potong.

Pada saat praktek magang ditempat Upt Bibd Baturiti kastrasi akan dilakukan ketika
anak babi dipeliharaan untuk penggemukan. Kastrasi dilakukan ketika anak babi berumur 2
sampai 3 minggu karena pada umur ini, anak babi dapat dengan mudah ditangani, gangguan
pertumbuhan sangat minim dan pada saat pembedahan ukuran pembedahannya lebih kecil
sehingga penyembuhan luka bedahnya lebih cepat. Langkah-langkah yang diakukan pada
saat kastrasi yaitu : menyiapkan alat dan bahan seperti pisau bedah, benang, jarum jahit, alat
penjepit, kapas, alkohol, dan gusanex. Setelah menyiapkan alat dan bahan dibersihkan
daerah yang akan dibedah menggunakan kapas yang telah diberi alkohol, selanjutnya
dilakukan pembedahan menggunakan pisau pada kulit scrotum dan kantung testis di salah
satu testis kemudian ditekan agar testis keluar dari kantungnya, setelah testis keluar
dijepitnya saluran yang akan dipotong menggunakan penjepit. Hal ini dilakukan agar
mengurangi pendarahan pada saat di potong. Setelah dijepit, salurannya dipotong dan
testisnya dikeluarkan dan dibuang. Testis yang satunya juga dilakukan dengan cara yang
sama, setelah kedua testis dikeluarkan dilakukan penjahitan pada daerah yang dibedah dan
disemprotkan dengan gusanex pada daerah yang dibedah agar lalat atau serangga lainnya
tidak menghinggap dan menyebarkan penyakit. Setelah melakukan kastrasi anak babi diberi
penyuntikan antibiotik Penstrep-400 atau Intramox-150 LA dan penambah darah yaitu Ferdex
-100.

Gambar. Kastrasi anak babi

3.1.6 Inseminasi Buatan (IB)

Inseminasi buatan merupakan cara mengawinkan ternak dengan bantuan inseminator.


Sesuai dengan pendapat Feradis (2010) inseminasi buatan adalah memasukan semen ke
dalam saluran kelamin betina dengan menggunakan alat-alat buatan manusia. Volume semen
yang digunakan untuk satu kali kawin per induk adalah 80 ml dalam satu botol semen cair
babi. Inseminasi buatan dilakukan ketika ada panggilan dari masyarakat kepada petugas
inseminator untuk dikawinkan babinya.

Inseminasi dilakukan dengan cara kateter direndam menggunakan air panas selama 5
menit dengan tujuan agar kateter menjadi steril. Bersamaan dengan itu semen cair babi
direndam juga dengan air hangat yang suhunya 37°C dengan tujuan untuk menyesuaikan
suhu sperma dengan vagina babi betina agar ketika sperma masuk tidak mengalami shok
dengan suhu didalam vagina. Setelah itu kateter dimasukkan kedalam vulva secara perlahan
sambil memutar kateternya kearah kiri sehingga bagian ujung kateternya dapat dikunci oleh
cincin-cincin serviks. Hal ini sesuai dengan pendapat Ardana (2008) kateter yang ujungnya
sebagai spriral diputar berlawanan dengan arah jarum jam. Ketika kateter mencapai serviks
selanjutnya mulut botol semen dibuka dan dimasukkan kedalam kateter. Kateter yang berisi
semen diangkat sampai berada sedikit lebih tinggi dari induk yang dikawinkan sambil di
tekan bagian punggung babi agar semen dapat yang masuk sampai semennya habis setelah
itu kateter dikeluarkan dengan cara ditarik perlahan sambil diputar kearah kanan.

Gambar. IB babi

3.1.7 Penanggulangan Penyakit Pada Ternak Babi di Upt Bibd Baturiti

Penyakit yang terjadi di Upt Bibd Baturiti yaitu diare, pyometra, distokia dan abses.
Umumnya jika terjadi penyakit, ternak babi tidak langsung diafkir tetapi dilakukan treatment
dan hampir semua berhasil disembuhkan. Penyakit yang sering terjadi adalah diare pada anak
babi. Diare pada anak babi dapat disebabkan karena beberapa hal yaitu; karena perubahan
cuaca, disebabkan karena bakteri dalam pencernaan atau parasit, disebabkan karena lantai
yang lembab dan disebabkan pada saat pergantian pakan pada anak babi yang disapih.
Treatment yang digunakan pada anak babi yang mengalami diare adalah dengan
penyuntikkan obat Intertrim LA dan juga penyuntikan Ivomec dan Antihistamine.
Penyuntikan Intertrim LA sebagai obat diare sedangkan penyuntikkan Ivomec dan
Antihistamin untuk obat antiparasit. Diare yang terjadi pada anak babi yang disapih
dilakukan treatment dengan dilatih sedikit demi sedikit pemberian pakan grower. Di Upt
Bibd Baturiti dahulu pernah terjadi penyakit reproduksi yaitu pyometra dan terjadi distokia
pada ternak babi. Selain itu juga terjadi abses pada anak babi. Abses ini terjadi karena pada
saat kastrasi alat-alat yang digunakan tidak steril sehingga terjadi abses pada daerah yang di
bedah dan terdapat penumbuhan jaringan di tempat yang dibedah. Treatment yang diberikan
dengan pemberian antibiotik dan pembersihan daerah bedah yang berisi nanah atau pus.

3.1.8 Pemberian Obat-Obatan

Pemberian obat-obatan pada ternak babi berdasarkan masalah atau penyakit yang
diderita. Di Upt Bibd Baturiti penyuntikan obat sering digunakan untuk anak babi.
Penyuntikan yang sering digunakan adalah penyuntikan obat intertrim LA untuk anak babi
yang diare, penyuntikan Ivomec dan Antihistamine untuk antiparasit pada anak babi,
penyuntikan ferdex untuk penambah darah pada anak babi. Dan juga penyuntikan vaksin hog
cholera setiap 6 bulan sekali.

3.2 Sapi

3.2.1 Populasi
Jenis ternak sapi yang dipelihara di Upt Bibd adalah jenis sapi bali. Populasi ternak
sapi bali yang dipelihara secara keseluruhan berjumlah 22 ekor yang terdiri dari 1ekor pedet,
6 ekor sapi betina dan 15 sapi pejantan .

3.2.2 Pemilihan Bibit Pejantan

Untuk pemilihan bibit sapi pejantan yang ingin dijadikan penghasil sperma didapat
dari luar lingkungan Upt Bibd Baturiti. Pemilihan calon bibit sapi pejantan juga memiliki
kriteria tertentu. Kriteria yang harus dipenuhi antara lain tinggi dari pejantan harus mencapai
140 cm, berat badannya 500-600 kg, dan kondisi sapi sehat.

3.2.3 Manajemen Pemeliharaan Ternak Sapi di UPT BIBD Baturiti Bali

Tujuan pemeliharaan ternak sapi pejantan di Upt Bibd Baturiti sama halnya dengan
pemeliharaan ternak babi pejantan tetapi berbeda pada sapi betina dan babi betina. Sapi
pejantan digunakan untuk memproduksi semen beku sedangkan pada sapi betina hanya
digunakan untuk penggemukan dan juga sebagai hewan coba untuk melihat kualitas straw
yang dihasilkan oleh Upt Bibd Baturiti. Sapi betina tidak dijadikan untuk pemilihan bibit
karena induknya juga kondisi tubuh secara fisik saja sudah tidak sesuai dengan kriteria bibit
yang bagus. Untuk pemeliharan sapi pejantan berbeda dengan pemeliharaan ternak sapi
penggemukkan umumnya, dimana sangat diperhatikan aspek kesehatan agar mampu
memproduksi semen yang berkualitas baik agar dapat diproses menjadi semen beku. Sistem
pemeliharaannya sama dengan ternak babi yaitu manajemen perkandangan, pemberian pakan
dan air minum serta penerapan biosekuriti. Dalam pemeliharaan sapi pejantan dilakukan
beberapa kegiatan meliputi: sanitasi kandang dan ternak, memandikan ternak, pemberian
pakan dan air minum, penampungan semen, penimbangan berat badan, pemotongan kuku,
pemotongan ramput preputium dan exercise. Sedangkan pada sapi betina dilakukan kegiatan
yaitu sanitasi kandang dan ternak, mandikan ternak dan pemberikan pakan dan air minum.

3.2.3.1 Manajemen Perkandangan

Model kandang yang digunakan di Upt Bibd Baturiti adalah kandang tipe ganda
saling berhadapan dan kandang tipe tunggal. Dimana pada kandang sapi pejantan terdapat 3
kandang yaitu kandang I dan II berbentuk kandang ganda yang dapat menampung 4 sampai 6
ekor. Jenis kandang ganda ini diantara kedua jajaran kandang tersebut terdapat jalur untuk
jalan, pemberian pakan dan pengontrolan ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan
Purbowati (2013) yang menyatakan bahwa untuk kandang ganda perlu dilengkapi dengan
lorong untuk memudahkan lalu lintas kegiatan. Sedangkan kandang III pada sapi pejantan
dan kandang sapi betina berbentuk kandang tunggal yang dapat menampung 4 ekor sapi
pejantan dan 6 ekor sapi betina. Jenis kedua kandang ini berbentuk persegi panjang dengan
bahan bangunannya terbuat dari semen yang dibuat secara permanen dan setiap kandang
diberi sekat pembatas antara sapi yang satu dengan sapi yang lainnya, lantai kandang terbuat
dari beton yang ditengah lantainya diberi alas karpet yang bertujuan agar sapi tidak mudah
terpeleset atau jatuh karena lantai yang licin, terdapat tempat makan dan tempat air minum
yang terbuat dari semen yang buat berbentuk persegi panjang, saluran pembuangan juga
dibuat berada belakang kandang sehingga memudahkan dalam pembersihan kandang.

Gambar. Perkandangan sapi pejantan


3.2.3.2 Pemberian Pakan dan Air Minum

Pemberian pakan dan air minum pada ternak bertujuan untuk pertumbuhan dan
kebutuhan hidup pokok ternak. Pemberian air minum pada sapi diberikan sekali sehari pada
pagi hari sebelum membersihkan kandang sedangkan pakan diberikan setelah pembersihan
kandang. Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsetrat. Pemberian pakan hijauan
dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pagi pukul 08.00 WITA dan sore hari pukul 15.00 WITA.
Pemberian konsentrat dilakukan satu kali sehari yaitu pada pagi hari pukul 10.00 WITA.

Pemberian hijauan pada 1 ekor sapi pejantan maupun betina sebanyak 50-60 kg/hari.
Banyaknya hijauan ditentukan berdasarkan berat badan dan kebutuhannya. Jika berat badan <
dari 600 kg maka akan diberikan hijauan sebanyak 50 kg/hari dan jika berat badan > dari 800
kg diberikan hijauan sebanyak 60 kg/hari. Jadi total hijauan yang diberikan pada seluruh sapi
pejantan maupun betina sebanyak 1 ton 710 kg per hari. Pemberian konsentrat pada sapi
sebanyak 4-5 kg/hari. Dan juga pemberian kecambah untuk sapi pejantan dilakukan sekali
seminggu yaitu pada hari jumat. Kecambah diberikan pada tiap sapi pejantan sebanyak 1
gayung. Pemberian kecambah juga akan diberikan ketika sapi pejantan memproduksi semen
yang kurang baik dan tidak sesuai dengan standar sehingga sapi tersebut diberi perlakuan
khusus. Sama halnya dengan pemberian kecambah pada babi yaitu untuk meningkatkan
produksi spermatozoa.
Gambar. Pemberian pakan pada sapi betina

Gambar. Hijauan dan Konsentrat

Jenis hijauan yang diberikan pada sapi antara lain: rumput lampung, rumput gajah,
rumput raja, rumput gajah afrika, rumput gajah thailand, rumput rodhes, rumput signal,
rumput meksiko, rumput afrika, rumput setaria sp dan rumput raja thailand. Jenis-jenis
hijauan ini diberikan kepada sapi hanya satu jenis saja dan tidak dicampur. Hijauan ketika
dicampur hanya dengan tanaman leguminosa seperti kacang pintu, indigofera, gamal dan
ligofera. Dimana pemberian leguminosa tergantung dari pada saat pemotongan hijauan
dilahan, jika pada saat pemotongan terdapat leguminosa maka akan dicampurkan dengan
hijauan. Hijauan yang digunakan untuk pakan sapi ini didapat dari lahan milik Upt Bibd
Baturiti dan juga didapat dari pihak ketiga sebanyak 2 ton selang waktu 3 hari. Panen hijaun
di Upt sendiri dilakukan setiap hari setelah pemberian hijauan pada ternak sapi pejantan
maupun betina. Umur hijauan yang baik untuk dipanen yaitu berkisar 42-60 hari dan hijauan
yang dipanen setiap hari sebanyak 400 sampai 1 ton.

Tabel 2. Komposisi penyusun konsentrat pada sapi

Bahan Pakan Jumlah Kebutuhan Total Keterangan


Pencampuran Pencampuran Pencampuran
Calf Feed 100 5,5 550 Untuk 7 hari
Starbio 0,25 5,5 1,375
Mineral Sapi 1 5,5 5,5
100 550

3.2.3.3 Penerapan Biosekuriti

Penerapan biosekuriti yang dilakukan pada kandang sapi antara lain : sanitasi kandang
dan ternak serta desinfektan kandang dan ternak.

Sanitasi kandang dilakukan satu kali pada pagi hari yaitu dengan membersihkan
tempat pakan dan air minum dimana sisa pakan/hijauan diangkat dan disapu kemudian di
masukan pada motor pengangkut setelah itu membersihkan kandang dengan cara feses ternak
disekop dan dimasukan kedalam motor pengangkut. Dan juga dilakukan pembersihan lokasi
sekita kandang. Selanjutnya kandang disemprot menggunakan air dan memandikan ternak
sambil feses yang melekat pada tubuh ternak disikat sampai bersih. Penggunaan sampo juga
dilakukan saat memandikan ternak agar ternaknya tetap bersih dan terhindar dari ektoparasit.
Penggunaan sampo ini dilakukan 2-3 kali setiap bulan. Setelah membersihkan kandang dan
memandikan ternak motor pengangkut dibawa ke lahan Hijaun Pakan dan Ternak (HPT)
untuk disebarkan sisa-sisa hijauan dan feses ternak untuk dijadikan sebagai pengganti pupuk.
Tujuan dari sanitasi kandang dan ternak ini agar ternak terhindar dari berbagai serangan
penyakit.

Desinfektan kandang dan ternak juga dilakukan untuk menjauhkan ektoparasit di


dalam kandang maupun ditubuh ternak. Desinfektan dilakukan menggunakan butox dengan
perbandingan 1 tutup botol butox dan 15 liter air. Kemudian disemprot dikandang dan tubuh
ternak, ini dilakukan satu bulan sekali.
Gambar. Membersihkan kandang dan memandikan sapi pejantan

3.2.4 Prosesing Semen Beku Sapi di UPT BIBD Baturiti Bali

Tahap prosesing semen beku sapi Bali diUpt Bibd Baturiti dimulai dari tahap
penampungan, pemeriksaan semen segar, pengenceran semen, evaluasi setelah pengenceran,
printing straw, filling and sealling, equilibrasi, evaluasi pra freezing, freezing, penyimpanan
dalam konteiner dan evaluasi post freezing (test thawing).

3.2.4.1 Penampungan Semen Sapi

Penampungan semen sapi merupakan salah satu bagian dari proses produksi semen
beku. Penanganan dan perlakuan terhadap sapi pejantan harus tepat dan teliti untuk
mendapatkan kualitas dan kuantitas semen yang maksimal. Hal-hal yang harus diperhatikan
sebelum penampungan adalah persiapan pejantan, dimana ternak sapi pejantan yang akan
ditampung semennya harus sudah dimandikan atau ternak yang sudah dibersihkan dari
kotoran yang melekat pada tubuhnya. Salah satu ternak sapi jantan yang akan ditampung
semennya dijadikan sebagai pemancing (teaser) yang artinya satu ekor ternak sapi jantan
dimasukkan kedalam kandang jepit sebagai penganti ternak betina.

Metode yang dapat dilakukan dalam melakukan penampungan yaitu dengan


menggunakan vagina buatan. Metode vagina buatan digunakan karena mudah dilakukan serta
dapat menampung semen dengan kualitas baik. Penampungan semen di Upt Bibd Baturiti
dilakukan ditempat khusus yaitu pada ruang terbuka yang alasnya diberi karpet. Pada saat
penampungan suhu vagina buatan harus disamakan dengan vagina sapi yaitu 37 - 41 °C rata-
rata yang dibuat di Upt Bibd Baturiti adalah 40 °C. Suhu pada vagina buatan harus benar-
benar diperhatikan karena suhu apabila suhu terlalu rendah tidak akan merangsang ejakulasi
dan jika suhu terlalu panas akan membunuh sperma dan dapat juga menyebabkan trauma.

Pelaksanan proses penampungan semen dilakukan dengan menggunakan teaser,


dimana ketika ternak sapi yang akan ditampung menaiki teaser diperlakukan teasing 3 kali
untuk mengukur ketegangan penis dan meningkatkan libido. Apabila sudah dilakukan teasing
sebanyak 3 kali barulah penis diarahkan kedalam vagina buatan untuk ditampung semennya
dan diserahkan kedalam laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan dan diproses menjadi
semen beku. Setiap pejantan ditampung semennya 2 kali dalam seminggu yaitu pada hari
senin dan kamis sesudah dimandikan.

Gambar. Vagina buatan dan proses penampungan semen sapi

3.2.4.2 Pemeriksaan Semen Segar Sapi


Pemeriksaan semen segar sapi dilakukan sama halnya dengan pemeriksaan semen
pada babi yaitu pemeriksaan secara makroskopis dan mikroskopis.

 Pemeriksaan secara makroskopis

Dalam pemeriksaan secara makroskopis semen yang baru selesai ditampung


dimasukkan kedalam water bath (suhu 35°C) sehingga suhu spermanya tetap terjaga. Pada
pemeriksaan secara makroskopis meliputi warna, volume, bau, pH dan konsistensi. Setiap
semen diperiksa dan dievaluasi apakah semen tersebut layak atau tidak untuk diproses lebih
lanjut. Standar yang digunakan pada pemeriksaan semen sapi segar di Upt Bibd Baturiti
adalah warna semen krem, volume semen yang harus didapat pada saat penampungan
minimal 2,5 ml, bau khas sperma agak amis, pH 6,2-6,8 dan konsistensi semennya kental.
Apabila semen yang dihasilkan tidak memenuhi standar maka akan dibuang dan pejantannya
diperhatikan secara khusus dengan pemberian kecambah agar semen yang dihasilkan pada
penampungan berikutnya dapat diproses lebih lanjut.

Gambar. Semen segar sapi

 Pemeriksaan secara mikroskopis

Pemeriksaan secara mikroskopis meliputi melihat gerakan massa, motilitas/gerakan


individu, abnormalitas dan konsentrasi spermatozoa pada semen segar.

Gerakan massa merupakan gerakan bersama-sama spermatozoa yang membentuk


gelombang yang tebal atau tipis serta gerakan cepat atau lambat tergantung dari spermatozoa
yang hidup didalamnya. Gerakan massa ini dilihat menggunakan alat sperm vision dengan
perbandingan 400 ℳl pengencer andromed dan 10 ℳl semen segar kemudian diteteskan
diatas objek glass dan diamati dilayar. Untuk menentukan kualitas semen berdasarkan
penilaian gerakan massa dilihat dengan :

 (-) tidak ada gerakan spermatozoa maupun gerak massa sperma


 (-) gerakan massa sperma lemah berupa gelombang-gelombang tipis, lamban dan
jarang
 (++) gerakan massa sperma berupa gelombang-gelombang sedang dan cepat
 (+++) gerakan massa sperma berupa gelombang-gelombang tebal, gelap, saktif dan
sangat cepat

Semen segar yang layak untuk diproses adalah semen dengan gerakan massa minimal
(++).

Motilitas/ gerakan individu semen adalah salah satu cara untuk mengetahui presentasi
sperma hidup dalam setiap semen. Motilitas juga dilihat menggunakan sperm vision dengan
perbandingan pengencer andromed dan semen segar yang sama dengan pemeriksaan gerakan
massa. Sperma yang akan diproses lanjut minimal motilitasnya 70% yang ditandai dengan
banyak spermatozoa yang hidup dan apabila kurang dari 70% maka akan dibuang.

Pemeriksaan mikroskopis merupakan inti dari evaluasi semen segar untuk


menentukan layak tidaknya semen tersebut diencerkan dan dibekukan.

Pemeriksaan konsentrasi adalah pemeriksaan semen untuk mengetahui tingkat


kepekatan dari semen tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengetahui jumlah sperma dalam tiap
ml semen tersebut. Perhitungan konsentrasi spermatozoa yang dilakukan di Upt Bibd Baturiti
menggunakan SDM 6 (alat penghitung konsentrasi spermatozoa secara otomatis). Untuk
mengetahui jumlah konsentrasi yaitu dengan mencampurkan Nacl sebanyak 3,5 ml dan
semen segar sebanyak 35 ℳl didalam cuvet dan cuvet dimasukkan kedalam alat SDM 6
untuk proses sehingga mendapatkan nilai perhitungan konsentrasi. Standar nilai konsentasi
sperma minimal 800 juta, jika kurang dari 800 juta maka tidak akan diproses lebih lanjut dan
dibuang. Pada kerja alat SDM 6 ini juga langsung didapat secara otomatis berapa banyak
pengencer yang akan diencerkan bersama dengan semen segar dan juga didapat berapa
banyak straw yang akan dihasilkan.
Gambar. Alat SDM 6 dan Hasil yang didapat menggunakan alat ini

Gambar. Alar Sperm Vision untuk melihat motilitas sperma

3.2.4.3 Persiapan Pengenceran dan Pengenceran Semen Sapi

Setelah tahap pemeriksaan secara makroskopik dan mikroskopik, maka semen


diencerkan menggunakan pengencer yang disediakan. Persiapan pengenceran semen sudah
disiapkan 1 jam sebelum penampungan. Bahan pengenceran semen sapi menggunakan
andromed dengan perbandingan 50 ml andromed yang dicampurkan dengan 200 ml
aquabides atau perbandingan (andromed 1: aquabides 4) yang selanjutnya dihomogenkan dan
dimasukkan kedalam water bath yang suhunya 35°C. Pengenceran semen yang dilakukan
adalah semen yang telah memenuhi syarat (motilitas 70% dan konsentrasi minimal 800 juta).
Untuk setiap bahan pengencer yang digunakan harus mampu mempertahankan sperma pada
saat pembekuan dan mempertahankan daya hidup sperma. Kandungan andromed terdiri dari
fructosa, glycerol, citric acid, buffers, phospholipids, spectinomycin, lincomycin, tylosin dan
gentamycin.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa untuk menghitung jumlah pengencer yang
diperlukan harus berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis dan perhitungan konsentrasi
semen yang akan diencerkan menggunakan alat SDM 6.

Gambar. Proses pengenceran semen dan bahan pengenceran semen

3.2.4.4 Printing Straw Menggunakan Easy Coder

Pencetakan straw dilakukan bersamaan dengan waktu pengenceran setelah diketahui


jumlah dosis straw yang akan dihasilkan. Warna straw yang digunakan untuk printing sapi
bali murni adalah warna merah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan secara nasional.
Pencetakan straw ini meliputi nama pejantan, kode pejantan, tanggal produksi dan nama
lembaga sehingga mudah diketahui asal semen tersebut. Setelah straw dicetak dibawa ke
tempat filling and sealing untuk diproses lebih lanjut.
Gambar. Alat Easy Coder

3.2.4.5 Filling and Sealling

Proses filling and sealing merupakan proses pengisian semen yang telah diencerkan
ke dalam straw yang sudah diberi label. Proses filling and sealing ini menggunakan mesin
yaitu mppuno yang akan memasukan semen secara otomatis sebanyak 0,25 cc = 25 juta
spermatozoa kedalam straw yang kemudian ujung straw ditutup langsung dalam sekali proses
agar semen tidak bocor. Setelah straw terisi semen maka dilakukan pengecekan terhadap
straw apakah straw terisi semen secara penuh atau tidak. Jika straw hanya terisi sebagian,
tidak penuh atau bahkan kosong maka straw tersebut dibuang. Dilanjutkan dengan tahap
dimana straw yang terisi semen dihitung menggunakan rak besi khusus yang dimiliki Upt
Bibd Baturiti. Rak ini dibagi menjadi dua macam yakni rak panjang yang berisi 100 straw
dan rak pendek yang berisi 75 straw. Setelah dihitung kemudian dimasukkan ke dalam cold
top untuk dilakukan proses selanjutnya. Di Upt Bibd Baturiti 3 straw di beri tanda
menggunakan alumunium foil pada masing-masing ujungnya dan akan digunakan untuk
beberapa kepentingan yaitu sebagai arsip, test pra freezing dan test thawing.
Gambar. Alat Mppuno untuk pengisian straw dan rak penghitung straw

3.2.4.6 Equilibrasi

Equilibrasi adalah proses yang digunakan untuk penurunan suhu semen secara
bertahap dari suhu 37°C menjadi suhu 3-6°C. Proses equilibrasi dilakukan selama 3-4 jam,
hal ini berguna agar sperma tidak mengalami cold shock, sehingga motilitasnya terjaga dan
melindungi dari terbentuknya kristas es. Yang harus dihindari dalam proses equilibrasi adalah
membuka dan menutup mesin cold top karena akan mempengaruhi perubahan suhu dan
kualitas dari straw.

Gambar. Tahap equilibrasi straw didalam mesin cold top


3.2.4.7 Evaluasi Pra Freezing

Evaluasi pra freezing dilakukan setelah straw dikeluarkan dari mesin cold top.
Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui apakah semen ini masih layak diproses lebih lanjut
atau tidak. Evaluasi pra freezing dilakukan dengan cara melihat motilitas spermatozoa yang
sudah di lakukan penurunan suhu, standar motilitas post equilibrasi adalah 65%-70%.

3.2.4.8 Freezing

Freezing merupakan proses pembekuan semen (freezing) yang bisa dilakukan


menggunakan 2 cara yaitu dengan menggunakan mesin dan secara manual. Pada praktek
yang dilakukan dengan freezing secara manual yaitu dengan cara mengguapkan straw dari
permukaan N2 cair yang suhunya -120 °C selama 13 menit. Proses ini dilakukan dengan cara
menempatkan straw diatas rak penyangga yang setinggi 12 cm dari dasar styreo foam yang
telah dituangkan N2 cair setinggi 8 cm sehingga jarak antara straw dengan permukaan N2
cair ± 4 cm. Straw tidak boleh diangkat sebelum waktu yang telah ditentukan karena jika
tidak maka kualitas sperma dalam straw tidak bagus. Setelah waktu selesai, straw diangkat
dan direndamkan kedalam N2 cair yang suhunya -196 °C. Ini bertujuan untuk mengetahui
straw terisi semen atau tidak apabila tidak terisi dengan semen maka straw akan mengembang
keatas. Straw juga harus benar-benar terendam didalam N2 cair jika tidak terendam maka
semen akan mati dan straw bisa juga menjadi patah atau rapuh. Setelah itu straw diambil dan
dimasukkan kedalam goblet dan kemudian direndam lagi kedalam N2 cair. Goblet besar
dapat menyimpan straw sebanyak lebih dari 200 straw sedangkan goblet kecil kurang dari
200 straw. Setelah itu dimasukan kedalam kanister dan disimpan didalam konteiner
penyimpanan sementara.

Sedangkan freezing menggunakan mesin freezer MT dilakukan dengan cara


memasukkan rak penghitung yang berisi straw ke dalam mesin freezer MT yang suhunya
mencapai -120 °C selama 9-15 menit. Ketika meletakan straw pada alat ini harus dilakukan
secara serentak sama seperti halnya dengan proses equilibrasi dimana untuk menghindari
perubahan suhu.
Gambar. Tahap Freezing secara manual

3.2.4.9 Thawing

Tujuan dari thawing adalah untuk mengetahui kelayakan semen beku untuk
didistribusikan. Thawing straw dilakukan pada keesokkan harinya setelah dilakukan freezing
dengan tujuan agar pembekuan semen benar-benar bagus. Thawing dilakukan dengan cara
mengambil satu atau dua straw dari masing-masing sapi pejantan dalam konteiner dan
mencelupkannya kedalam water bath yang suhunya 37 °C selama 30 detik dengan posisi
sumbat (tutup) berada dibagian bawah. Setelah itu straw yang sudah cair digunting pada
kedua bagian ujung untuk mengeluarkan sampel semen. Setelah straw digunting semen
dikeluarkan dengan menuangkannya ke atas objek glass dan ditutup dengan cover glass yang
kemudian diamati menggunakan alat sperm vision. Thawing menggunakan air hangat adalah
untuk menghindari bahaya kejutan dingin (cold shock) pada straw.

Pemeriksaan dilakukan dengan melihat motilitas dimana pada saat setelah freezing
motilitasnya terjadi penurunan sebanyak 10-15% sehingga standar motilitas yang biasa
dipakai setelah difreezing yaitu 40-55% dan jika kurang dari 40% maka akan dibuang.
Selanjutnya jika straw yang hasilnya bagus akan disimpan di konteiner penyimpanan dan
akan didistribusikan kepada masyakat.
3.2.4.10 Penyimpanan semen beku

Penyimpanan adalah usaha untuk mempertahankan daya fertilitas sperma agar


optimal dengan cara menghambat semua aktifitas dalam sel melalui penyimpanan dalam N2
cair bersuhu -196 °C.

Penyimpanan akan dilakukan setelah dilakukan freezing, straw akan dimasukkan


kedalam goblet yang sudah berisi N2 cair yang selanjutnya akan di masukan dikanister dan
disimpan didalam konteiner. Straw yang dimasukkan kedalam konteiner harus selalu
terendam didalam N2 Cair sehingga dilakukan pengecekan jumlah N2 cair didalam konteiner
secara berkala dan rutin.

3.2.5 Perawatan dan Kesehatan Ternak Sapi

Untuk mempersiapkan sapi pejantan agar tetap dalam kondisi prima dan siap untuk
ditampung, maka perawatan dan kesehatan hewan harus selalu mendapat perhatian yang baik.
Perawatan yang diberikan kepada ternak sapi meliputi, penimbangan berat badan,
pemotongan rambut preputium, pemotongan kuku, pemberian obat-obatan seperti vitamin,
obat cacing.
3.2.5.1 Penimbangan Berat Badan, Pemotongan Rambut Preputium dan Kuku

Penimbangan berat badan sapi pejantan dilakukan satu bulan sekali menggunakan
timbangan secara manual. Pada saat penimbangan berat badan dilakukan juga pemotongan
rambut disekitar preputium. Ini dilakukan untuk mencegah agar tidak terganggu pada saat
penampungan. Pemotongan dilakukan tergantung dari pertumbuhan rambut preputiumnya
ketika sudah panjang maka akan dilakukan pemotongan.

Pemotongan kuku dilakukan dengan tujuan agar keadaan kuku selalu baik dan
terhindar dari penyakit. Kondisi kuku ternak yang kurang baik memungkinkan ternak tidak
dapat menaiki ternak pemancing (teaser), menurunkan napsu makan, libido turun dan kualitas
sperma menurun. Pemotongan kuku dilakukan satu kali dalam sebulan.

Untuk pemotongan kukunya tidak dilakukan secara bersamaan dengan penimbangan


berat badan karena akan memakan waktu yang lama dan juga karena kekurangan pegawai.

Gambar. Penimbangan berat badan dan pemotongan kuku

3.2.5.2 Pemberian obat-obatan

Pemberian obat-obat untuk ternak sapi juga dilakukan tegantung dari masalah ternak.
Pemberian rutin obat-obatan untuk sapi pejantan yaitu pemberian vitamin pada sebulan
sekali. Vitamin yang diberikan berupa vitamin A, D, E dengan merk dagang Vitol yang
disuntikan sebanyak 10 ml/ekor. Jenis-jenis vitamin ini di butuhkan sapi untuk menunjang
pertumbuhannya antara lain: Vitamin A berfungsi untuk kesehatan kulit, mulut, mata, perut,
dan saluran genital. Vitamin D berfungsi dalam membantu proses metabolisme kalsium dan
fosfor serta berpengaruh langsung dalam pembentukan tulang. Sedangkan vitamin E
berfungsi sebagai antioksidan fisiologis pada sapi. Penyuntikan obat cacing levamisol
diberikan satu tahun sekali dan pemberian obat cacing. Pemberian gusanex dilakukan saat
ketika bagian tubuh ternak terluka dengan cara disemprot. Pemberian ini bertujuan untuk
mencegah lalat ataupun serangga menghinggap.

3.2.6 Exercise
Exercise merupakan perlakuan yang diberikan pada sapi pejantan di tempat exercise,
dimaksudkan agar sapi pejantan dapat memperoleh gerakan yang leluasa dialam terbuka,
meningkatkan libido, memperkuat otot-otot kaki dan mendapat sinar matahari yang cukup.
Terdapat 2 jenis exercise yaitu exercise line dan exersice sirkel dimana exercise line sapi
berjalan maju dan mundur sedangkan exercise sirkel sapi berputar mengelilingi tiang seperti
berputar membentuk lingkaran. Perlakuan ini dilakukan 3 kali dalam seminggu yaitu pada
hari selasa, rabu dan jumat setelah pemberian pakan dengan 4 ekor sapi pejantan setiap
dilakukan exercise. Dimana 1 ekor sapi pejantan di tempatkan pada exercise line dan 3 ekor
sapi pejantan lainnya di exersice sirkel. Setiap sapi mendapat satu kali perlakuaan exercise
line atau sirkel dalam seminggu selama 2 jam.

Gambar. Exersice line

3.2.7 Pengendalian Penyakit

Pengendalian penyakit di Upt Bibd Baturiti meliputi kegiatan pemeriksaan kesehatan


sapi pejantan secara laboratoris. Kegiatan ini dilakukan setiap setahun sekali pada ternak
pejantan dengan mengambil sampel berupa ulas darah, cairan serum dan spesimen feses lalu
dikirimkan ke laboratorium untuk dilakukan pengujian, hasilnya akan dikirimkan kepada Upt
Bibd Baturiti.
3.2.8 Penanggulangan Penyakit Yang Terjadi di Upt Bibd Baturiti

Penyakit yang menyerang ternak sapi pejantan antara lain: pincang, penis luka, diare
dan IBR. Pincang terjadi karena beberapa faktor yaitu terpeleset pada saat penampungan,
tumpuan untuk berdiri kurang bagus dan karena masalah kuku. Penis luka dikarenakan akibat
gesekan penis dengan pantat pejantan saat penampungan semen. Treatment yang dilakukan
dengan menggunakan antibiotik Penstrep selama 2 bulan. Diare terjadi pada sapi karena
perubahan cuaca, pakan rumput yang muda dan konsentrat yang jamuran. Rumput yang muda
mengandung kadar air tinggi sehingga menyebabkan diare. Treatment yang dilakukan dengan
pemberian antibiotik dan pemberian rumput yang tua. Pemberian antibiotik untuk diare
tergantung dari gejala yang dialami oleh sapi.

Saat magang disini juga terdapat sapi pejantan yang terkena penyakit Infectious
Bovine Rhinitis (IBR). Sapi pejantan ini dipindahkan dari kawanan sapi lainnya dan diisolasi
di kandang karantina. Berdasarkan penjelasan dokter di Upt bahwa gejalanya tidak nampak
hanya pada saat pemeriksaan serum ditemukan virus ini pada titer antibodinya. Treatment
yang digunakan hanya secara suportif dimana hanya dilakukan dengan pemberian antibiotik
dan vitamin.