Anda di halaman 1dari 24

Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang

ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

Analisis Penyelesaian Sengketa Tata Usaha Negara Mengenai


Pemberhentian Kepala Desa
di Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang
(Studi Kasus Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang
Nomor: 074/G/2015/PTUN-SMG)
Maridjo, SH.MH.
maridjo@yahoo.com

ABSTRAK
Kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara adalah memeriksa dan memutus dan
menyelesaikan suatu sengketa Tata Usaha Negara yang diajukan kepadanya, dengan
Pertimbangan hukum yang terdiri dari dua bagian yaitu: pertimbangan mengenai duduk
perkara atau peristiwa/fakta dan pertimbangan tentang hukumnya, yang terungkap di
persidangan. Pertimbangan hukum memuat alasan-alasan atau argumentasi hukum serta
penalaran hukum yang dilakukan oleh hakim. Dalam pertimbangan hukum memuat uraian
tentang korelasi antara fakta hukum yang terungkap di persidangan dengan peraturan
perundang-undangan yang dijadikan dasar dalam surat gugatan. Analisa yang dilakukan
terhadap putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Nomor: 074/G/2015/PTUN.SMG, dalam
pertimbanganya telah diuraikan mengenai duduk perkaranya dan telah pula diuraikan
mengenai argumentasi hukumnya. Salah satu argumentasi hukum yang digunakan majelis
hakim adalah referensi hukum atau asas hukum Lex Superior Derogat Lege Inferior untuk
menilai kedudukan Keputusan Bupati Boyolali tentang Pemberhentian dengan tidak
hormat Kepala Desa. Majelis hakim telah mempertimbangkan asas hukum lex superior
derogat legi inferior dan telah menerapkannya dengan mengesampingkan keputusan bupati
tersebut, juga telah pula mempertimbangkan mengenai adanya susunan norma dari teori
Hans Kelsen yang sering disebut dengan stufenbau theory yang diimplementasikan dalam
Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
undangan.
Kata Kunci: Pertimbangan Hukum, Putusan, Sengketa TUN.

menyelenggarakan peradilan guna


menegakkan hukum dan keadilan.1
1. Pendahaluan Pembatasan yang demikian itu tidak
Kekuasaan kehakiman di Indonesia lain adalah merujuk pada teori
memiliki kekuasaan yang terpisah ketatanegaraan klasik yang
dari lembaga -lembaga politik seperti dikemukakan Aristoteles, bahwa
DPR dan Presiden, sebagaimana konsep Negara Hukum (rule of law)
dalam Undang-undang Dasar Negara merupakan pemikiran yang
Republik Indonesia Tahun 1945, dihadapkan (contrast) dengan konsep
merupakan salah satu prinsip penting rule of man.
negara hukum, yang membawa Kekuasaan kehakiman di Indoensia
konsekuensi adanya jaminan dilaksanakan oleh sebuah Mahkamah
penyelenggaraan kekuasaan Agung dan badan peradilan yang
kehakiman yang merdeka, bebas dari
pengaruh kekuasaan lainnya untuk 1
Pasal 24 ayat (1) UUD 1945
31
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

berada di bawahnya dalam salah satunya adalah administrasi


lingkungan peradilan umum, negara dan ketetapan tertulis yang
lingkungan peradilan agama, merugikan rakyat sebagai pangkal
lingkungan peradilan sengketanya, maka kekuasaan
militer,lingkungan peradilan tata kehakiman tersebut dilaksanakan
usaha negara, dan oleh sebuah oleh pengadilan administrasi yang
Mahkamah Konstitusi, berikut dasar berdiri sendiri, mempunyai
hukumnya membuktikan bahwa kedudukan yang sederajat dengan
Indonesia berupaya konsisten dalam pengadilan-pengadilan lainnya dan
menerapkan prinsip-prinsip sebagai bebas dari pengaruh kekuasaan lain.
negara hukum. setidaknya melalui Oleh karena itu menurut Soenaryati
badan-badan peradilan akan dapat Hartono, pengadilan administrasi
ditegakkan sendi-sendi hukum, yang memberikan perlindungan
meskipun dalam proses berjalannya hukum itu tidak hanya selaku
akan banyak menemukan benturan- pemelihara ketertiban dan tempat
benturan, dikarenakan gerakan untuk mencari keadilan saja, melainkan
menegakkan hukum (supremasi juga merupakan “stabilisator” hukum
hukum) harus berhadapan dengan dalam menjalankan fungsinya
aspek-aspek politik, sosial, ekonomi.2 sebagai “penegak hukum”. 4

Mahkamah Agung dan badan Menurut Satjipto Rahardjo, dalam


peradilan di bawahnya merupakan masa pembangunan ini volume
pelaksana kekuasaan kahakiman pekerjaan yang harus dikerjakan oleh
yang menyelenggarakan peradilan. pemerintah yang bersentuhan
Peradilan menunjukkan proses dengan kepentingan-kepentingan
mengadili, sedangkan pengadilan warga negara menjadi semakain
merupakan lembaga yang mengadili. besar, maka perlu adanya suatu
Penyelenggaraan peradilan bertujuan peradilan tata usaha negara sebagai
menegakkan hukum dan bagian dari pengontrolan sosial di
keadilan.Mengadili mempunyai bidangnya, sungguh dirasakan.5
makna memberikan perlakuan dan Bertitik tolak dari pendapat-pendapat
tindakan secara adil. Hasil akhir dari di atas, maka keberadaan Peradilan
proses peradilan berupa putusan Administrasi atau Peradilan Tata
pengadilan atau disebut pula dengan Usaha Negara dituntut dapat
putusan hakim.3 menghasilkan suatu putusan yang
Implementasi kekuasaan kehakiman bersifat menyelesaikan sehingga
dalam hal yang bersengketa tersebut dapat memberikan pengayoman

4
Sjachran Basah, 1985,Eksistensi
2
Bambang Sutiyoso dan Sri Hastuti dan Tolak Ukur Badan Peradilan
Puspitasari, 2005, Aspek-Aspek Kekuasaan Administrasi di Indonesia, Alumni,
Kehakiman Di Indonesia, UII Press, Bandung, hal.154.
5
Yogyakarta, hal.16. Satjipto Rahardjo, 2009, Hukum dan
3
Abdullah, 2008, Pertimbangan Perubahan Sosial : Suatu Tinjauan Teoritis
Hukum Putusan Pengadilan, Program Pasca Serta Pengalaman-Pengalaman Di
Sarjana Universitas Sunan Giri, Sidoharjo, Indonesia, Genta Publishing, Yogyakarta,
hal.9. hal.114-115.
32
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

hukum dan kepastian hukum yang Sistem Peradilan Tata Usaha Negara
tidak hanya untuk rakyat semata membatasi hakim untuk memilih
melainkan juga bagi administrasi antara menyatakan batalnya obyek
negara (badan atau pejabat tata usaha gugatan yakni keputusan Tata Usaha
negara) yaitu adanya keseimbangan Negara yang digugat, atau
kepentingan masyarakat dengan menyatakan keabsahan obyek
kepentingan individu, sehingga sengketa yang digugat tersebut.
dengan demikian keberadaan Menurut Pasal 53 ayat (2) huruf a
Peradilan Tata Usaha Negara dan b Undang-undang Nomor: 9
diadakan dalam rangka memberikan Tahun 2004, perubahan atas Undang-
perlindungan kepada rakyat pencari undang Nomor: 5 Tahun 1986
keadilan, yang merasa dirinya tentang Peradilan Tata Usaha
dirugikan akibat suatu keputusan Negara, mengadili harus
Tata Usaha Negara. mengutamakan ketentuan hukum.
Putusan merupakan suatu pernyataan Ketentuan pasal tersebut secara
hakim sebagai pejabat negara yang lengkap berbunyi:
diberi wewenangoleh undang- Alasan-alasan yang dapat digunakan
undang yang diucapkan di dalam gugatan sebagaimana
persidangan, dan bertujuan untuk dimaksud pada ayat (1) adalah :
menyelesaikan suatu perkara antara a. Keputusan Tata Usaha
para pihak yang merupakan akhir Negara yang digugat itu
suatu proses pemeriksaan perkara bertentangan dengan
yang dilakukan majelis hakim peraturan perundang-
dengan terlebih dahulu dilakukan undangan yang berlaku;
musyawarah berdasarkan ketentuan b. Keputusan Tata Usaha
perundang-undangan.6 Negara yang digugat itu
Pengadilan Tata Usaha Negara bertentangan dengan asas-
memiliki karakteristik khusus. Oleh asas umum pemerintahan
Yos Johan Utama, kekhususan yang baik;
putusan Pengadilan Tata Usaha
Negara dibandingkan dengan putusan Untuk mewujudkan yang demikian
pada peradilan yang lainnya, yaitu itu, menurut Djokosoetono hakim
dalam hal putusan Pengadilan Tata harus berfikir secara yuridis,
Usaha Negara tidak memberikan sistematis dan teratur atau
ruang yang luas dengan segala geordendenken, sehingga setiap
disparitas keadilannya.7 persoalan hukum dapat dipecahkan
secara baik dan benar.8 Sedangkan
menurut Bagir Manan demi
6 keadilan, hakim tidak dibenarkan
Sudikno Mertokusumo, 1998,
Hukum Acara Perdata, Liberty, Yogyakarta, hanya menerapkan hukum sebagai
hal.167.
7
Yos Johan Utama, 2010, Hukum UNDIP Semarang, Badan Penerbit
Membangun Peradilan Tata Usaha Negara Universitas Diponegoro, Semarang, hal.17.
Yang Berwibawa, Pidato Pengukuhan Guru 8
Abdullah, Op.Cit, hal.11.
Besar Dalam Ilmu Hukum Pada Fakultas
33
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

“legal justice”, melainkan wajib berpihak, dan tidak berat sebelah.


mengutamakan ”moral justice” atau Maka oleh sebab itu pihak penengah
“social justice”.9 (pengadilan) harus di atas para pihak
Hakim harus mampu menerapkan dan tidak terpengaruh oleh siapapun,
hukum (rechtstoepassing), lebih-lebih oleh pihak-pihak yang
menemukan hukum (rechtsvinding) bersengketa.
“in concreto” dalam
mempertahankan dan menjamin Salah satu sengketa yang ada di
ditaatinya hukum materiil, dengan peradilan tata usaha Negara adalah
menggunakan cara prosedural yang sengketa mengenai pemberhentian
ditetapkan oleh hukum formil. kepala desa. Sebagai contoh
Setiap putusan pada akhirnya harus sengketa mengenai pemberhentian
dipertanggungjawabkan dan kepala desa yang ditangani
pertanggungjawaban hakim terhadap Pengadilan Tata Usaha Negara
putusan terletak pada pertimbangan Semarang adalah sengketa tata usaha
hukumnya yang harus memenuhi dua Negara yang didaftarkan tahun 2015
persyaratan, yakni kebutuhan teoritis dengan register perkara Nomor:
dan kebutuhan praktis. Kebutuhan 074/G/2015/PTUN.SMG dengan
teoritis menitik kepada isi beserta obyek sengketa Surat Keputusan
petimbangannya sehingga putusan Tata Usaha Negara adalah
dapat dipertanggungjawabkan dari Keputusan Bupati Boyolali Nomor
segi ilmu hukum atau harus juridisch 141/387 tahun 2015 tentang
en filosofisch verantwoord, Pemberhentian tidak dengan hormat
sedangkan dalam kebutuhan praktis saudara Budi Raharjo, ST. dari
diharapkan putusan dapat jabatannya sebagai Kepala Desa
menyelesaikan sengketa hukum yang Guwokajen Kecamatan Sawit
ada dan dapat diterima para pihak, Kabupaten Boyolali tanggal 2
maupun masyarakat karena dirasakan September 2015 yang diterbitkan
adil, benar dan berdasar hukum atau oleh PJ. Boyolali. Karena
dapat diterima secara sosiologis. berdasarkan surat Perintah
Terjadinya sengketa merupakan Penangkapan Kepolisian Resort
sesuatu yang mengganggu Klaten Nomor SP.KAP/49/III/2015
masyarakat, ketentraman masyarakat, Reskrim tanggal 24 Maret 2015
tata tertib masyarakat, dan saudara Budi raharjo, ST Kepala
kedamaian rakyat, sehingga Desa Guwokajen Kecamatan Sawit
keseimbangan masyarakat diduga keras melakukan tindak
tergoncang karenanya. Sengketa pidana penggelapan sebagaimana
antara kedua pihak sukar didamaikan dimaksud dalam rumusan pasal 372
tanpa bantuan pihak ketiga yaitu KUHP, saudara Budi Raharjo,ST
pihak penengah, yang netral/tidak tidak bisa menjalankan tugasnya
sebagai Kepala Desa karena yang
9
Bagir Manan, 2009, Menegakkan bersangkutan sedang menjalani
Hukum Suatu Pencarian, Asosiasi Advokat proses hukum dan di tahan di Polres
Indonesia, Jakarta, hal.2.
Klaten.
34
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

Berdasarkan pertimbangan tersebut konsideran dan amar putusan.


di atas PJ. Bupati menerbitkan Ketiganya merupakan satu kesatuan
Keputusan Pemberhentian sementara yang tidak dapat
saudara Budi Raharjo,ST dari dipisahkan.Diantara ketiga bagian
Jabatannya sebagai Kepala Desa tersebut, terdapat bagian yang
Guwokajen Kecamatan Sawit menjadi inti putusan, yaitu bagian
Kabupaten Boyolali, jika konsideran atau pertimbangan
dihubungkan dengan ketentuan pasal putusan.Pertimbangan putusan
41 Undang-Undang Nomor 6 tahun terdiri dari dua bagian, yaitu
2014 tentang Desa menyebutkan pertimbangan tentang fakta hukum
Kepala desa diberhentikan dan pertimbangan hukumnya.
sementara oleh Bupati/Walikota Pertimbangan tentang fakta
setelah dinyatakan sebagai terdakwa diperoleh dengan cara memeriksa
yang diancam dengan pidana alat bukti secara empiris dalam
penjara paling singkat 5 (lima) persidangan.
tahun berdasarkan register perkara Fakta-fakta yang terungkap di
di Pengadilan. Sehingga sebagai persidangan selanjutnya di
langkah penyelesaian tersebut Kepala ujimenggunakan teori kebenaran
Desa mengajukan gugatan ke koresponden untuk memperoleh
Pengadilan Tata Usaha Negara fakta hukum dan
Semarang. Berdasarkan latar petunjuk.Pertimbangan hukum
belakang masalah tersebut diatas, merupakan bagian yang memuat uji
dapat dirumuskan masalah sebagai verifikasi antara fakta hukum
berikut: a. Bagaimana pertimbangan dengan berbagai teori dan peraturan
hukum putusan Pengadilan Tata perundang-undangan.
Usaha Negara Nomor: Segala putusan pengadilan selain
074/G/2015/PTUN.SMG terhadap harus memuat alasan dan dasar
obyek sengketa berupa keputusan putusan tersebut, memuat pula
pemberhentian kepala desa? pasal tertentu dari peraturan
b.Bagaimana analisa putusan perundang-undangan yang
Pengadilan Tata Usaha Negara bersangkutan atau sumber hukum
Nomor: 074/G/2015/PTUN.SMG? yang tidak tertulis yang dijadikan
dasar untuk mengadili.Alasan yang
dimaksudkan berupa rangkaian
2. Pembahasan argumentasi yuridis yang disusun
2.1. Pertimbangan hukum putusan secara sistematis dan
Pengadilan Tata Usaha Negara rasional.Argumentasi disusun dan
Nomor: 074/G/2015/PTUN.SMG dikonstruksi sedemikian rupa,
terhadap obyek sengketa berupa sehingga dapat menunjukkan arah,
Keputusan Pemberhentian alur dan pola berpikir yang
Kepala Desa. jelas.Kedudukan alasan atau
argumentasi adalah penting dan
Formalitas putusan terdiri dari: menentukan.
kepala putusan, pertimbangan atau
35
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

Penalaran merupakan suatu proses perundang-undangan


berpikir logis, artinya berpikir yang bersifat
menggunakan cara atau metode prosedural/formal.
tertentu yaitu logika. Pada dasarnya b. bertentangan dengan
penalaran hukum merupakan ketentuan-ketentuan
kegiatan berpikir problematis.10 dalam peraturan
Substansi pertimbangan hukum perundang-undangan
putusan terletak pada argumentasi yang bersifat
hukumnya.Kualitas putusan terletak materiel/substansial.
pada pertimbangan hukum, kualitas c. dikeluarkan oleh badan
pertimbangan hukum terletak pada atau pejabat tata usaha
argumentasi hukumnya, sedang negara yang tidak
kualitas argumentasi tergantung berwenang. Keputusan
pada penalaran sederhana dan Tata Usaha Negara yang
mudah dicerna, dipahami dan dikeluarkan oleh Badan
dimengerti siapapun termasuk atau Pejabat Tata Usaha
pencari keadilan. Negara yang tidak
Pengadilan Tata Usaha Negara di berwenang disebut
dalam menguji suatu keputusan keputusan yang cacad
Tata Usaha Negara mendasari mengenai kewenangan:
ketentuan Pasal 53 ayat (2) Onbevoegdheid ratione
Undang-undang Nomor: 51 tahun materiae, yaitu apabila
2009 tentang Perubahan ke dua suatu keputusan tidak ada
atas Undang-undang Nomor: 5 dasarnya dalam peraturan
Tahun 1986 tentang Peradilan Tata perundang-undangan atau
Usaha Negara yaitu: apabila keputusan itu
1. Keputusan Tata Usaha Negara dikeluarkan oleh badan
yang digugat itu bertentangan atau pejabat Tata Usaha
dengan peraturan perundang- Negara yang tidak
undangan yang berlaku. berwenang
Penjelasan Undang-undang ini mengeluarkannya,
mengetengahkan tiga hal Onbevoegdheid ratione
dalam pengertian loci, keputusan yang
“bertentangan dengan diambil oleh badan atau
peraturan perundang-undangan pejabat Tata Usaha
yang berlaku” yakni: Negara tersebut
a. bertentangan dengan menyangkut hal yang
ketentuan-ketentuan berada di luar batas
dalam peraturan wilayahnya,
Onbevoegdheid ratione
10
Shidarta, 2006, Karakteristik temporis, badan atau
Penalaran Hukum dalam Konteks pejabat Tata Usaha
Keindonesiaan, CV. Utomo, Bandung, Negara belum berwenang
hal.155.
atau tidak berwenang lagi
36
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

untuk mengeluarkan pokok penilaian dan


keputusan Tata Usaha pendapatnya tentang
Negara, misalnya karena gugatan yang
jangka waktunya sudah bersangkutan, kalau ia
lampau atau menerapkan berpendapat bahwa
peraturan lain sementara keputusan yang digugat
itu sudah berlaku itu bertentangan dengan
peraturan baru. salah satu asas umum
2. Keputusan Tata Usaha Negara pemerintahan yang baik,
bertentangan dengan Asas-asas maka ia perlu
Umum Pemerintahan Yang menunjukkan asas yang
Baik. mana atau bagaimana
Asas-asas umum pemerintahan yang telah dilanggar itu.
yang baik tersebut adalah asas- b) Seperti halnya dengan
asas umum penyelenggara keharusan agar keputusan
negara sebagaimana diatur Pengadilan itu diucapkan
dalam Undang-undang Nomor: dalam sidang yang
28 Tahun 1999 tentang terbuka untuk umum,
Penyelenggara Negara Yang maka dengan
Bersih dan Bebas dari KKN pertimbangan yang cukup
yang dalam penjelasan pasal baik akan dapat
tersebut hanya menyebutkan 6 menimbulkan rasa
(enam) asas diantaranya asas percaya terhadap
kepastian hukum, tertib penyelesaian sengketa
penyelenggaraan negara, yang dilakukan
keterbukaan, proporsionalitas, Pengadilan.
profesionalitas dan c) Pertimbangan dapat
akuntabilitas. merupakan jaminan,
Sesuatu keharusan bahwa tidak terjadi
diadakannya pertimbangan pengambilan keputusan
yang cukup memadai dalam secara sewenang-wenang
setiap putusan pengadilan itu dan bersifat memihak.
mengandung maksud, antara d) Pertimbangan merupakan
lain:11 titik pangkal bagi para
a) Dengan pertimbangan pihak untuk pengajuan
yang dibuatnya itu Hakim banding atau tidak.
selalu diingatkan kepada e) Pertimbangan juga
merupakan ukuran
11 pengujian bagi hakim
Indroharto, 1999, Usaha
Memahami Undang-Undang Tentang
banding dan kasasi.
Peradilan Tata Usaha Negara Buku II f) Pertimbangan dapat
Beracara di Pengadilan Tata Usaha merupakan bahan
Negara, Pustaka Sinar Harapan Jakarta, referensi bagi Badan atau
hal.131.
Pejabat Tata Usaha
37
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

Negara yang setelah menerima putusan atau


kepputusannya dibatalkan menempuh jalan damai
harus mengeluarkan dengan lawannya.
keputusan yang baru. Suatu pertimbangan hukum putusan
g) Pertimbangan merupakan yang benar bila mendasarkan teori
sarana ekspresi bagi yang benar.Pertimbangan hukum
Pengadilan dalam putusan merupakan
melaksanakan fungsinya pertanggungjawaban hakim
melakukan pembentukan terhadap putusan
hukum. pengadilan.Sebagai
h) Pertimbangan juga dapat pertanggungjawaban sudah
merupakan bahan seharusnya disusun dengan
referensi umum bagi mendasarkan hukum penalaran
tindakan-tindakan yang benar.
pemerintahan di waktu- Membicarakan mengenai putusan
waktu yang akan datang pengadilan, selain harus memenuhi
mengenai segi-segi yang syarat sahnya suatu putusan, maka
perlu diperhatikan agar tidak dapat lepas dari adanya asas
suatu keputusan yang harus ditegakkan agar suatu
administratif itu dianggap putusan yang dijatuhkan tidak
sah menurut hukum. mengandung cacat, dan oleh M.
i) Pertimbangan juga Yahya Harahap asas tersebut dapat
merupakan objek dirinci sebagai berikut:12
penelitian dalam a. Memuat Dasar Alasan
pengembangan ilmu Yang Jelas dan Rinci.
hukum. Menurut asas ini putusan
j) Pertimbangan yang yang dijatuhkan harus
konstan dalam berdasarkan pertimbangan
jurispsrudensi merupakan yang jelas dan
penunjang kepastian cukup.Putusan yang tidak
hukum yang penting memenuhi ketentuan ini
k) Karena itu ia dapat dikategorikan putusan
mencegah membanjirinya yang tidak cukup
permintaan-permintaan pertimbangan atau
banding yang tidak perlu, onvoldoende gemotiveerd.
serta dapat mengurangi Alasan-alasan hukum
tambahnya beban yang menjadi dasar
pekerjaan bagi pertimbangan bertitik
pengadilan. tolak dari
l) Pertimbangan juga dapat ketentuan:pasal-pasal
menambah rasa
12
keyakinan pada para M. Yahya Harahap, 2004, Hukum
pihak yang dapat Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta,
hal.797-806
mendorong untuk
38
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

tertentu peraturan Mengadili dengan cara


perundang- mengabulkan melebihi
undangan,hukum dari apa yang digugat,
kebiasaan,yurisprudensi, dapat dipersamakan
dandoktrin hukum. dengan tindakan yang
b. Wajib Mengadili Seluruh tidak sah (illegal)
Bagian Gugatan. meskipun dilakukan
Putusan harus secara total dengan itikad baik. Oleh
dan menyeluruh karena itu hakim yang
memeriksa dan mengadili melanggar prinsip ultra
setiap gugatan yang petita, sama dengan
diajukan. Tidak boleh pelanggaran terhadap
memeriksa dan memutus prinsip rule of law.
sebagian saja, dan d. Di Ucapkan Di Muka
mengabaikan gugatan Umum.
selebihnya. Dari ketentuan dalam Pasal 97
c. Tidak Boleh Undang-undang Nomor: 5 Tahun
Mengabulkan Melebihi 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Tuntutan. Negara dapat diketahui bahwa
Putusan tidak boleh putusan akhir dapat berupa13:
mengabulkan melebihi 1. Gugatan ditolak,
tuntutan yang yakni putusan yang
dikemukakan dalam menyatakan bahwa
gugatan.Larangan ini keputusan Tata
disebut ultra petitum Usaha Negara yang
partium.Hakim yang menimbulkan
mengabulkan melebihi sengketa Tata Usaha
posita maupun petitum Negara adalah
gugatan, dianggap Keputusan Tata
melampaui batas Usaha Negara yang
wewenang atau ultra vires tidak dinyatakan
yakni bertindak batal atau sah. Pada
melampaui wewenangnya umumnya suatu
(beyond the powers of this gugatan ditolak oleh
authority).Apabila Majelis Hakim,
putusan mengandung karena alat-alat bukti
ultra petitum, harus yang diajukan pihak
dinyatakan cacat (invalid) penggugat tidak
meskipun hal itu dapat mendukung
dilakukan hakim dengan gugatannya, atau
itikad baik (good faith)
13
maupun sesuai dengan R. Wiryono, 2007, Hukum Acara
kepentingan umum Peradilan Tata Usaha Negara, Sinar
Grafika, Jakarta, hal.165.
(public interest).
39
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

alat-alat bukti yang e. Melakukan


diajukan pihak rehabilitasi.
tergugat lebih kuat. 3. Gugatan tidak dapat
2. Gugatan dikabulkan, diterima, yakni
yakni putusan yang putusan yang
menyatakan bahwa menyatakan bahwa
Keputusan Tata syarat-syarat yang
Usaha Negara yang telah ditentukan tidak
menimbulkan dipenuhi oleh
sengketa Tata Usaha gugatan yang
Negara adalah diajukan oleh
Keputusan Tata Penggugat.
Usaha Negara yang 4. Gugatan gugur,
dinyatakan batal atau yakni putusan yang
tidak sah, maka dijatuhkan hakim
kewajiban yang karena Penggugat
harus dilaksanakan tidak hadir dalam
oleh Badan atau beberapa kali sidang,
Pejabat Tata Usaha meskipun telah
Negara meliputi: dipanggil dengan
a. Pencabutan patut atau Penggugat
Keputusan Tata telah meninggal
Usaha Negara dunia.
yang Di bawah ini akan peneliti sajikan
bersangkutan. pertimbangan putusan Pengadilan
b. Pencabutan Tata Usaha Negara Semarang yang
Keputusan Tata menjadi bahan kajian dalam
Usaha Negara penelitian ini, pertimbangan
yang putusan tersebut adalah:
bersangkutan a. Perkara nomor:
dan menerbitkan 074/G/2015/PTUN.S
keputusan yang MG, antara Budi
baru. Raharjo, ST melawan
c. Penerbitan PJ. Bupati Boyolali,
Keputusan Tata dengan obyek
Usaha Negara sengketa Surat
yang Keputusan Tergugat
bersangkutan selaku PJ. Bupati
dalam hal Boyolali Nomor :
gugatan 141/387/2015
didasarkan pada tertanggal 2
pasal 3. September 2015
d. Membayar ganti Tentang
rugi. Pemberhentian tidak
40
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

dengan hormat Dari Jabatannya sebagai Kepala


saudara Budi Desa Guwokajen Kecamatan Sawit
Raharto, ST dari Kabupaten Boyolali Tanggal 2
Jabatanya sebagai september 2015 yang diterbitkan
Kepala Desa oleh PJ. Bupati Boyolali;
Guwokajen Menimbang, bahwa Penggugat
Kecamatan Sawit merasa kepentingannya dirugikan
Kabupaten Boyolali oleh tindakan tergugat yang
karena terbukti secara mengeluarkan obyek sengketa
sah dan meyakinkan yang mengandung cacat hukum
melakukan tindak Penggugat menerima objek sengeta
pidana turut serta pada tanggal 5 september 2015
melakukan tindak yang kemudian Penggugat
pidana penggelapan mendapatkan salinan surat
sebagaimana keputusan Bupati Boyolali Nomor
dimaksud dalam : 141/261 tahun 2015 Tentang
pasal 372 KUHP jo. Pemberhentian sementara
Pasal 55 ayat (1) ke – tertanggal 25 Mei 2015, hal ini
1 KUHP dalam bertentangan dengan peraturan
proses persidangan perundang-undangan yag berlaku
dijatuhkan pidana khususnya Undang-Undang
penjara selama 6 Nomor 32 tahun 2004 Tentang
(enam) bulan. Pemerintahan Daerah, Undang-
Sehingga Penggugat Undang Nomor 6 tahun 2014
merasa tentang Desa, Peraturan Pemerintah
kepentingannya Nomor 72 tahun 2005 Tentang
dirugikan sebagai Desa, Peraturan Pemerintah Nomor
akibat dari 49 Tahun 2008 Tentang perubahan
Keputusan PJ.Bupati Peraturan Pemerintah nomor 6
Boyolali tersebut. tahun 2005 tentang Pengangkatan
Dengan pertimbangan dan amar dan Pemberhentian Kepala Daerah
putusan sebagai berikut: dan Wakil Kepala daerah, serta
TENTANG PERTIMBANGAN bertentangan dengan Asas-asas
HUKUM umum Pemerintahan yang Baik
Menimbang, bahwa keputusan tata khususnya asas kepastian hukum,
usaha negara yang dimohonkan asas Permainan, dan asas
Penggungat untuk dinyatakan batal Keseimbangan.
atau tidak sah oleh Pengadilan Menimbang, bahwa tergugat dalam
dalam perkara berupa Surat bagian konsideran mengeluarkan
Keputusan Tata Usaha Negara yaitu keputusan Pemberhentian
Keputusan Bupati Boyolali Nomor Sementera Penggugat sebagai
141/387 tahun 2015 tentang Kepala Desa jika dihubungkan
Pemberhentian Tidak dengan dengan Undang-Undang Nomor 6
hormat saudara Budi Raharjo, ST, tahun 2014 Pasal 41 yang
41
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

menyatakan “ Kepala Desa No. 5 Tahun 1986 tentang


diberhentikan sementara oleh Peradilan Tata Usaha Negara Bab
Bupati/Walikota setelah dinyatakan IV, Hukum Acara, Bagian Pertama,
sebagai terdakwa yang diancam Gugatan, Pasal 53 ayat (1)
dengan pidana penjara paling menyebutkan :
singkat 5 (lima) tahun berdasarkan Seseorang atau Badan Hukum
register perkara di pengadilan. Perdata yang merasa
Majelis berpendapat, tindakan kepentingannya dirugikan oleh
Tergugat yang menegeluarkan suatu keputusan Tata Usaha Negara
Keputusan Pemberhentian dapat mengajukan Gugatan tertulis
Sementara pada tanggal 25 Mei kepada Pengadilan yang berwenang
2015 dalam Keputusan Bupati yang berisi tuntutan agar keputusan
Boyolali Nomor 141/262 tahun Tata Usaha Negara yang
2015 sebelum status Penggugat disengketakan itu dinyatakan batal
dinyatakan sebagai terdakwa atau tidak sah dengan atau tanpa
adalah merupakan keputusan yang disertai tuntutan ganti rugi dan atau
mengandung cacad yuridis dari rehabilitasi;
aspek prosedur penerbitannya - Penjelasan Pasal 53 ayat (1)
sebagaimana ditentukan dalam UU No. 5 Tahun 1986
Pasal 41 Undang-Undang Nomor 6 disebutkan antara lain:sesuai
tahun 2014. dengan ketentuan Pasal 1 angka
Menimbang bahwa, berdasarkan 4 maka hanya orang atau badan
ketentuan hukum terdapat dalam hukum Perdata yang
Peraturan Pemerintah Nomor 43 berkedudukan sebagai subyek
Tahun 2014 Tentang Peraturan hukum saja yang dapat
Pelaksanaan Undang-Undang mengajukan gugatan ke
Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa Pengadilan Tata Usaha Negara
Pasal 54 : (1) : Kepala Desa untuk menggugat keputusan
berhenti karena: a). Meninggal Tata Usaha Negara;
Dunia b). Permintaan sendiri, c). Selanjutnya hanya orang atau badan
Diberhentikan; Pasal 54 (2) Kepala hukum perdata yang
Desa diberhentikan sebagaimana kepentingannya terkena oleh akibat
dimaksud pada ayat (1) huruf c hukum keputusan Tata Usaha
karena dinyatakan sebagai Negara yang dikeluarkan dan
terpidana berdasarkan putusan karenanya yang bersangkutan
pengadilan yang telah mempunyai merasa dirugikan diperbolehkan
kekuatan hukum tetap; menggugat keputusan Tata Usaha
Majelis Hakim mempertimbangkan Negara;
: bahwa Undang-Undang No. 5 - Bahwa berdasarkan Pasal 53
Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata ayat (1) tersebut maka
Usaha Negara jo Undang-Undang Penggugat dalam perkara ini
No.9 Tahun 2004 jo Undang- dapat mengajukan gugatan ke
Undang No. 51 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tata Usaha Negara
Perubahan atas Undang-Undang karena merasa kepentingannya
42
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

dirugikan. mempunyai kekuatan hukum tetap,


Menimbang, bahwa berdasarkan berdasarkan putusan Nomor
pertimbangan hukum tersebut di 109/Pid.B/2015/PN Klaten.
atas maka eksepsi Tergugat harus Menimbang, bahwa dalam
dinyatakan ditolak; melakukan pengujian terhadap
DALAM POKOK PERKARA : keabsahan objectum litis, Majelis
Menimbang, bahwa oleh karena Hakim berpedoman pada
eksepsi Tergugat dinyatakan tidak pengujian yang terbatas dan fakta-
diterima, maka selanjutnya Majelis fakta, keadaan hukum atau suasana
Hakim akan mempertimbangkan hukum yang melatarbelakangi
tentang pokok perkara dan Majelis terbitnya objektum litis (asas ex
Hakim mencermati dan tunc) oleh karena itu perlu
mempelajari secara seksama alasan ditentukan terlebih dahulu fakta
dasar hukum Gugatan Penggugat hukum mana yang relevan dalam
serta dalil-dalil bantahan yang sengketa a quo yang berdasarkan
diajukan oleh Tergugat maka alat-alat bukti yang diajukan
Majelis Hakim berpendapat dalam kepada pengadilan berupa bukti
sengketa terdapat perbedaan surat, keterangan saksi dan
penilaian hukum antara Penggugat pengakuan para pihak yang telah
dan Tergugat terhadap terbitnya dikonfrontir di persidangan sesuai
objectum litis, dan menurut hemat dengan Pasal 107 Undang-undang
Majelis Hakim perbedaan tersebut Peradilan tata Usaha Negara, maka
terletak pada penilaian masing- didapatkan fakta hukum sebagai
masing pihak terhadap tindakan berikut:
Tergugat yang mengeluarkan a. Bahwa Penggugat adalah
objectum litis yaitu Keputusan Kepala desa Guwokajen Kec.
Bupati Boyolali No. 141/387 tahun Sawit Kab, Boyolali
2015 tentang pemberhentian tidak berdasarkan Keputusan
hormat Saudara Budi Raharjo,ST, Bupati No. 141/238 Tahun
dari Jabatannya sebagai Kepala 2013.
Desa Guwokajen Kecamatan Sawit b. Bahwa dalam mejalankan
Kebupaten Boyolali Tanggal, 2 tugasnya Penggugat
September 2015 yang diterbitkan melakukan tindak pidana
oleh Pj. Bupati Boyolali, sehingga turut serta melakukan
Penggugat merasa kepentingannya penggelapan yang dituntut
dirugikan, sedangkan tindakan pidana penjara 6 bulan
Tergugat mengeluarkan objectum penjara dan dijatuhi hukuman
litis sesuai ketentuan Pasal 54 6 bulan pejara dikurangi masa
ayat(2) huruf g yang menyatakan “ penangkapan dan penahanan
Kepala Desa diberhentikan segaimana diputuskan oleh
sebagaimana dimaksud pada ayat Majelis Hakim Klaten dalam
(1) huruf c karena g Dinyatakan putusan No.
sebagai terpidana berdasarkan 109/PidB/2015/PN. KLN.
Keputusan Pengadilan yang telah c. Bahwa berdasarkan Surat
43
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

Perintah Penangkapan Polres walikota untuk kota.


Klaten terhadap Penggugat Pasal 131 Ayat (4) Dalam
kemudian Tergugat hal terjadi kekosongan
mengeluarkan Keputusan jabatan Kepala Daerah
Bupati Boyolali No. 141/262 dan wakil kepala daerah
tahun 2015 tentang sebagaimana dimaksud
pemberhentian sementara pada ayat (3) sekretaris
Saudara Budi Raharjo, ST. daerah melaksanakan
Dari jabatannya sebagai tugas sehari-hari kepala
kepala desa Guwokajen Kec. daerah sampai Presiden
Sawit Kab. Boyolali mengangkat pejabat
Tertanggal 25 Mei 2015. kepala daerah.
d. Bahwa Majelis Hakim akan 3. Peraturan Pemerintah no.
mempertimbangkan sesuai 43 Tahun 2014 Pasal 54
dengan kewenangnya yaitu Ayat (4) Pemberhentian
menguji keabsahan Kepala Desa
penerbitan objectum litis dari sebagaimana dimaksud
aspek hukum yang meliputi pada Ayat (3) dittapkan
kewenangan, prosedur/formal dengan keputusan
dan subtasi/materiil dari bupati/walikota
objectum litis sebagai beikut : 4. Peraturan Menteri Dalam
Negeri No. 35 Tahun
Majelis Hakim 2013 Pasal 1 : seorang
mempertimbangkan apakah Pejabat Bupati memiliki
Tergugat mempunyai tugas, wewenang dan
kewenangan untuk kewajiban sama dengan
mengeluarkan objektum litis bupati difinitif selaku
sebagai berikut : kepala daerah.
1. berdasarkan Pasal 40 Menimbang, bahwa berdasarkan
Ayat (3) Pemberhentian ketentuan hukum di atas bila
Kepala Desa dihubungkan dengan tindakan
sebagaimana dimaksud Tergugat selaku Pejabat Bupati
pada Ayat (1) ditetapkan Boyolali sebagai Pejabat Tata
oleh Bupati/Walikota. Usaha Negara yang menjalankan
2. Peraturan Pemerintah fungsi penyelenggara
Nomor 49 Tahun 2008 pemerintahan daerah kabupaten
Pasal 1 Angka (2) boyolali telah diberikan
Kepala daerah dan Wakil kewenangan secara atribusi oleh
Kepala daerah adalah suatu ketentuan hukum, maka
Gubernur dan Wakil tindakan Tergugat dalam
Gubernur untuk propinsi, mengeluarkan objectum litis
bupati dan Wakil Bupati berupa surat Keputusan Tata
untuk Kapupaten serta Usaha Negara yaitu Keputusan
walikota dan wakil Bupati Boyolali Nomor: 141/387/
44
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

Tahun 2015 tentang penjara dikurangi masa


Pemberhentian Tidak hormat penangkapan dan penahanan
Saudara Budi Raharjo, ST. dari sebagaimana diputuskan oleh
Jabatanya sebagai Kepala desa Majelis Hakim PN. Klaten dalam
Guwokajen Kec. Sawit Kab. Putusan No.
Boyolali Tanggal 2 Septemebr 109/Pid/B/2015/PN.KLN yang
2015 menurut hemat Majelis telah mempunyai kekuatan hukum
Hakim, Tindakan Tergugat dalam tetap.
menerbitkan objectum litis telah Menimbang, bahwa dari
sesuai dengan kewenangan yang pertimbangan Tergugat dalam
padanya yang diberikan oleh bagian konsideran huruf a yang
hukum menurut ketentuan dalam mengeluarkan Surat Keputusan
Undang-undang Nomor 6 Tahun Pemberhentian sementara
2014 Tentang Desa. Penggugat sebagai Kepala desa
Pengujian objectum litis Ditinjau dan bila dihubungkan dengan
dari Aspek Prosedur ketentuan yang diatur undang-
Penerbitan................. undang Nomor 6 Tahun 2014
Pasal 41 Undang-Undang Nomor yang menyebutkan “ Kepala desa
6 tahun 2014 Tentang Desa: Kepala diberhentikan sementara oleh
Desa diberhentikan sementara Bupati/Walikota setelah
oleh Bupati/Walikota setelah dinyatakan sebagai terdakwa yang
dinyatakan sebagai terdakwa yang diancam dengan pidana penjara
diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun
paling singkat 5 (lima) Tahun berdasarkan register perkara di
berdasarkan register perkara di Pengadilan” Majelis berpendapat,
pengadilan; tindakan tergugat yang
Pasal 42 : Kepala Desa mengeluarkan Keputusan
diberhentikan sementara oleh Pemberhentian Sementara pada
Bupati/Walikota setelah ditetapkan tanggal 25 Mei 2015 dalam
sebagai tersangka dalam tindak Keputusan Bupati Boyolali
pidana korupsi, terorisme, makar Nomor: 141/262 tahun 2015
dan atau tindak pidana terhadap sebelum status Pengugat
keamnana negara; dinyatakan sebagai terdakwa
Pasal 43 : Kepala Desa yang adalah merupakan keputusan yang
diberhentikan sementara mengandung cacad yuridis dari
sebagaimana dimaksud dalam Pasal aspek prosedur penerbitannya
41 dan Pasal 42 diberhentikan oleh sebagaimana ditentukan Undang-
Bupati/Walikota setelah dinyatakan Undang Nomor 6 Tahun 2014
sebagai terpidana berdasarkan dalam Pasal 41 tersebut, kemudian
putusan pengadilan yang telah tergugat mengeluarkan keputusan
mempunyai kekuatan hukum yang objectum litis merupakan
tetap. rangkaian dari proses
Menimbang, bahwa Penggugat pemberhentian sementara yang
dijatuhi hukuman 6 (enam) bulan dalam pengujiannya terbukti
45
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

menurut hukum bertentangan sementara oleh bupati/Walikota


dengan ketentuan Pasal 41, Pasal setelah dinyatakan sebagai
42 dan Pasal 43 Undang-Undang terdakwa yang diancam dengan
Nomor 6 Tahun 2014 Tentang pidana penjara paling singkat 5
Desa, maka Majelis Hakim (lima) tahun berdasarkan register
berpendapat, Keputusan objectum perkara di pegadilan.
litis yang dikeluarkan oleh Menimbang bahwa oleh karena
Tergugat, telah cacad prsesedur hukuman Pasal 372 KUHP adalah
sejak dikeluarkannya Keputusan paling lama 4 (empat) Tahun,
Pemberhentian sementara sedangkan syarat pemberhentian
Penggugat. sementara maupun tetap
Pengujian Objectum Litis sebagaimana dimaksud Pasal 54
ditinjau dari Aspek Subtansi Ayat (2) huruf g Peraturan
Materi..................... Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014
Peraturan Pemerintah Nomor 43 junctoPasal 41 Undang-Undang
Tahun 2014 Tentang Peraturan Nomor 6 Tahun 2014 adalah paling
Pelaksanaan Undang-Undang singkat 5 (lima) tahun maka
Nomor 6 Tahun 2014 Tentang tindakan Tergugat dimaksud adalah
Desa, Pasal 54 Ayat (1) : Kepala telah bertentangan dengan Pasal 54
Desa berhenti karena a) Meninggal Ayat (1) Peraturan Pemerintah
Dunia; b) Permintaan sendiri c). Nomor3 Tahun 2014.
Diberhentikan; Pasal 54 Ayat (2): Menimbang, bahwa Bupati
Kepala desa diberhentikan Boyolali mengeluarkan Keputusan
sebagaimana dimaksud pada ayat Pemberhentian Sementara atas
(1) huruf c karenaDinyatakan nama Penggugat dengan
sebagai terpidana berdasarkan pertimbangan, selain karena
putusan pengadilan yang telah tergugat terlebih Penggugat tidak
mempunyai kekuatan hukum tetap; mampu menjalankan tugasnya
Menimbang, bahwa terkait dengan secara optimal karena ada warga
Peraturan Pemerintah Nomr 43 desa yang tudak bisa mengurus
Tahun 2014 adalah merupakan Taspen di Kantor Desa
peraturan Pelaksana Undang- sebagaimana dilaporkan Camat
Undang Nomr 6 Tahun 2014 kepada Bupati Boyolali dan untuk
Tentang Desa artinya bahwa memperlancar pelayanan
terhadap penerapan Pasal 54 Ayat dilakukanlah pemberhentian
(2) huruf g tersebut khususnya sementara, maka Majelis Hakim
terhadap “Status terpidana “ yang berpendapat, terkait dengan
bagaimanakan sehingga dapat konteks pelayanan tidaklah dapat
dilakukan tindakan pemberhentian serta merta mengesampingkan
sementara atau tetap, tentunya ketentuan hukum dalam Pasal 41
harus berpedoman pada ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun
Pasal 41 Undang-Undang Nomor 6 2014 tentang Desa, oleh karena
Tahun 2014 yang menyatakan “ norma tersebut adalah bersifat
Kepala Desa diberhentikan imperatif yaitu mengatur
46
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

mekanisme pemberhentian Menimbang, bahwa oleh karena


sementara Kepala Desa dan dalam Gugatan Penggugat dikabulkan
hal ini tidak ada alasan normatif untuk seluruhnya, maka
yang mengatur pengecualian berdasarkan Pasal 110 Undang-
penerapan Pasal 41 Undang- undang Nomor 5 Tahun 1986
Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Peradilan Tata Usaha
tersebut dengan demikian Negara kepada Tergugat sebagai
Keputusan Pemberhentian pihak yang kalah dihukum untuk
sementara Penggugat terdapat cacat membayar biaya perkara yang
yuridis dalam muatan subtansi besarnya akan ditentukan dalam
materinya yang tidak sesuai dengan amar putusan ini;
ketentuan yang diatur dalam Mengingat, Undang-Undang
Undang-Undang Nomor 6 Tahun Nomor 51 Tahun 2009 Perubahan
2014 tentang Desa; kedua atas Undang-Undang Nomor
Menimbang, bahwa dari uraian 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan
pertimbangan hukum di atas, Tata Usaha Negara dan peraturan
Majelis Hakim berkesimpulan, perundang-undangan lainnya yang
secara hukum terbukti tindakan berkaitan dengan perkara ini ;
tergugat dalam mengeluarkan MENGADILI
objectum litis terdapat cacat yuridis Dalam Eksepsi :
dari aspek prosedur penerbitan dan Menyatakan eksepsi Tergugat
subtansi/materiilnya dan tidak diterima;
bertentangan pula dengan Asas-
asas umum Pemerintahan yang Dalam Pokok Perkara :
baik khususnya asas kecermatan 1. Mengabulkan Gugatan
yang menuntut tergugat untuk Penggugat untuk seluruhnya;
meneliti, mempertimbangkan, dan 2. Menyatakan batal Surat
memutuskan mengeluarkan sebuah Keputusan Tata Usaha Negara
keputusan mengandung muatan yaitu Keputusan Bupati
materi dan fakta yang ada, Boyolali Nomor 141/387
sehingga maksud dan tujuan Tahun 2015 Tentang
ditebitkan objectum litis dapat Pemberhentian Tidak dengan
tercapai yakni Tergugat dituntut hormat Saudara Budi
untuk cermat dalam mengeluarkan Raharjo,ST,. Dari Jabatannya
keputusan dengan mempelajari sebagai Kepala Desa
ketentuan-ketentaun hukum yang Guwokajen Kecamatan Sawit
diatur ketentuan peraturan Kabupaten Boyolali Tanggal 2
perundang-undangan, dengan fakta September 2015 yang
yang ada sebagimana telah diterbitkan oleh Pj. Bupati
diuraikan dalam pertimbangan Boyolali;
hukum ini, maka beralasan hukum 3. Mewajibkan Tergugat untuk
terhadap Gugagtan Penggugat mencabut Surat Keputusan
dinyatakan dikabulkan untuk Tata Usaha Negara yaitu
seluruhnya; Keputusan Bupati Boyolali
47
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

Nomor 141/387 Tahun 2015 Raharjo,ST,. Dari Jabatannya


Tentang Pemberhentian Tidak sebagai Kepala Desa Guwokajen
dengan hormat Saudara Budi Kecamatan Sawit Kabupaten
Raharjo,ST,. Dari Jabatannya Boyolali yang diterbitkan oleh Pj.
sebagai Kepala Desa Bupati Boyolali
Guwokajen Kecamatan Sawit Majelis Hakim yang memeriksa
Kabupaten Boyolali Tanggal 2 sengketa tersebut memberikan
September 2015 yang pemecahan atas permasalahan
diterbitkan oleh Pj. Bupati hukum dengan mempertimbangkan
Boyolali; 2 (dua) hal, yaitu:
4. Mewajibkan Tergugat untuk 1. Apakah Tergugat
merehabilitasi, berwenang menerbitkan
mengembalikan harkat, Surat Keputusan objek
martabat, hak dan kedudukan sengketa aquo;
Penggugat seperti semula; 2. a. Apakah Surat
5. Menghukum Tergugat untuk Keputusan objek
membayar biaya yang timbul sengketa
dalam perkara ini sebesar Rp. Penerbitannya
219.500,- ( Dua ratus sembilan bertentangan dengan
belas ribu lima ratus rupiah). Peraturan
Sebagaimana telah disinggung di Perundang-undangan
atas bahwa pertimbangan hukum yang berlaku;
merupakan bagian yang memuat uji b. Apakah Surat
verifikasi antara fakta hukum Keputusan objek
dengan berbagai teori dan peraturan sengketa
perundang-undangan dibantu bertentangan dengan
dengan penalaran maka akan Asas-Asas Umum.
dicapai suatu argumentasi yuridis Pemerintahan yang
dalam menyusun pertimbangan- Baik;
pertimbangan putusan, maka Dengan mempertimbangkan adanya
dariputusan Pengadilan Tata Usaha asas lex superior derogate legi
Negara tersebut di atas akan dapat inferior serta menerapkan asas
dirumuskan mengenai masalah persamaan sebagai asas-asas umum
hukumnya, pemecahannya dan pemerintahan yang baik dalam
terakhir mengenai putusannya. mempertimbangkan atau
Permasalahan hukum pada sengketa memecahkan permasalahan hukum
Tata Usaha Negara Nomor: tersebut dan selanjutnya
074/G/2015/PTUN.SMG adalah memberikan putusan yang pada
Penggugat merasa dirugikan pokoknya amarnya berbunyi:
kepentingannya atas terbitnya Surat “Mengabulkan gugatan Para
Keputusan Bupati Boyolali Nomor: Penggugat untuk seluruhnya”.
141/387/2015 tanggal 2 September Pemercahan dari permasalahan
2015 tentangPemberhentian Tidak hukum tersebut, oleh Majelis
dengan hormat Saudara Budi Hakim telah dipertimbangkan
48
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

dengan menggunakan beberapa sedangkan syarat pemberhentian


teori maupun asas hukum untuk sementara maupun tetap
menghubungkan dengan fakta sebagaimana dimaksud Pasal 54
hukum yang terungkap dalam Ayat (2) huruf g Peraturan
persidangan serta mendasarkan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014
pada beberapa peraturan juncto Pasal 41 Undang-Undang
perundang-undangan yang berlaku. Nomor 6 Tahun 2014 adalah paling
singkat 5 (lima) tahun maka
2.2. Analisa Putusan Pengadilan Tata tindakan Tergugat dimaksud adalah
Usaha Negara Semarang telah bertentangan dengan Pasal 54
Putusan Pengadilan Tata Usaha Ayat (1) Peraturan Pemerintah
Negara Semarang Nomor: Nomor 3 Tahun 2014.
074/G/2015/PTUN.SMG - Bahwa yang menjadi alasan
Dalam sengketa Tata Usaha Negara gugatan penggugat adalah surat
ini, dapat diketahui: keputusan obyek sengketa tersebut
- Bahwa terdapatPenggugat yang bertentangan dengan peraturan
menggugat Bupati Boyolali dengan perundang-undangan yang berlaku;
objek gugatan adalah Surat - Bahwa disamping itu perbuatan
Keputusan Nomor: No. 141/387 tergugat juga telah bertentangan
tahun 2015 tentang pemberhentian dengan asas-asas umum
tidak hormat sebagai Kepala Desa pemerintahan yang baik khususnya
Tanggal, 2 September 2015 yang asas kecermatan.
diterbitkan oleh Pj. Bupati Boyolali, Putusan yang dijatuhkan oleh
sehingga Penggugat merasa Majelis Hakim dengan mengambil
kepentingannya dirugikan, sebagai pertimbangan diantaranya:
akibat dari keputusan tersebut dan - Menimbang, bahwa bila
tindakan Tergugat mengeluarkan bertitik tolak dari pandangan
objectum litiskhususnya terhadap normatif yuridis maka
“Status terpidana” yang Penerbitan Surat Keputusan
bagaimanakah sehingga dapat objek sengketa dari segi
dilakukan tindakan pemberhentian kewenangan telah sesuai
sementara atau tetap, tentunya dengan ketentuan yang
harus berpedoman pada ketentan berlaku yaitu Pejabat yang
Pasal 41 Undang-Undang Nomor 6 berwenang menerbitkan
Tahun 2014 yang menyatakan “ Bupati dasar kewenangan
Kepala Desa diberhentikan atribusi;
sementara oleh bupati/Walikota - Menimbang, bahwa dalam
setelah dinyatakan sebagai konteks perkara ini
terdakwa yang diancam dengan berdasarkan fakta hukum
pidana penjara paling singkat 5 yang terungkap
(lima) tahun berdasarkan register dipersidangan Penilaian
perkara di pegadilan. oleh karena Penerbitan Surat Keputusan
hukuman Pasal 372 KUHP adalah objek sengketa tidak cukup
paling lama 4 (empat) Tahun, hanya berdasarkan normatif
49
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

yuridis atau berdasarkan perundang-undangan yang lebih


Peraturan Perundang- rendah bertentangan dengan
Undangan yang berlaku, peraturan perundang-undangan yang
namun harus juga dinilai dari lebih tinggi yang mengatur materi
pandangan nilai-nilai yang yang sama, maka peraturan
hidup dalam masyarakat dan perundang-undangan yang lebih
Asas-Asas Umum tinggilah yang berlaku.
Pemerintahan yang Baik Berbicara mengenai persoalan dari
yang harus diperhatikan oleh tujuan hukum dapat dikaji melalui 3
Badan atau Pejabat Tata (tiga) sudut pandang, yaitu:14
Usaha Negara dalam a. Dari sudut pandang ilmu hukum
mengambil keputusan. positif normatif atau yuridis
dogmatis, tujuan hukum
Analisa yang dapat dilakukan dititikberatkan pada segi
terhadap uraian pertimbangan kepastian hukumnya.
putusan Nomor: b. Dari sudut pandang filsafat
074/G/2015/PTUN.SMG, yaitu: hukum, tujuan hukum
Isu hukum: Apakah keputusan dititikberatkan pada segi
pemberhentian dengan tidak hormat keadilan.
Penggugat dari jabatan kepala desa c. Dari sudut pandang sosiologi
telah bertentangan dengan peraturan hukum, tujuan hukum
perundang-undangan yang berlaku dititikberatkan pada segi
dan asas-asas umum pemerintahan kemanfaatan.
yang baik? Dengan demikian, tujuan hukum
Analisis:Terhadap isi, hendaknya sebenarnya sama dengan apa yang
dicermati fakta hukum yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch
diajukan para pihak dalam sebagai 3 (tiga) nilai dasar hukum,
persidangan. Dari beberapa alat yaitu keadilan, kemanfaatan dan
bukti yang diajukan dan tertuang kepastian hukum. Selanjutnya
pula dalam surat gugatan. Radbruch mengajarkan penggunaan
Menyikapi kondisi yang demikian, asas prioritas dari ketiga asas
maka diperlukan suatu penerapan tersebut, dimana prioritas pertama
asas yang berlaku umum bagi selalu jatuh pada keadilan, baru
peraturan perundang-undangan, kemanfaatan dan terakhir kepastian
yaitu asas Lex Superiore Derogat hukum.15
Legi Inferiore.Asas ini bermakna Dalam praktik peradilan, sangat sulit
bahwa peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi
14
melumpuhkan peraturan perundang- Ahmad Rifai, 2010, Penemuan
Hukum oleh Hakim Dalam Persfektif Hukum
undangan yang lebih rendah atau Progresif, Sinar Grafika, Jakarta, hal.131-
sebaliknya peraturan yang lebih 132.
15
rendah tidak boleh bertentangan Achmad Ali, 1993, Menguak
Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan
dengan peraturan yang lebih tinggi.
Sosiologis), Chandra Pratama, Jakarta,
Dalam asas ini apabila peraturan hal.96.
50
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

bagi seorang hakim untuk dirinya tersebut. Disinilah


mengakomodir ketiga asas tersebut sebenarnya letak pengujian terhadap
di dalam suatu putusan.Dalam suatu Keputusan Tata Usaha Negara
menghadapi keadaan ini, hakim terhadap pemenuhan terhadap
harus memilih salah satu dari ketiga peraturan perundang-undangan lebih
asas tersebut untuk memutus suatu ditonjolkan atau diutamakan, oleh
perkara dan tidak mungkin ketiga karena suatu keputusan Tata Usaha
asas tersebut dapat tercakup Negara harus bersumber dan
sekaligus dalam suatu putusan.Jika berlandaskan peraturan perundang-
diibaratkan dalam sebuah garis, undangan sebagai pelaksanaan asas
hakim dalam memeriksa dan legalitas dalam negara hukum.
memutus suatau perkara berada di Setelah terdapat syarat pemenuhan
antara dua titik pembatas dalam akan peraturan perundang-
garis tersebut, yaitu apakah berdiri undangan, maka selanjutnya
pada titik keadilan atau titik keputusan Tata Usaha Negara akan
kepastian hukum, sedangkan titik diuji menggunakan asas-asas umum
kemanfaatan berada di antaranya. pemerintahan yang baik.
Dengan diputus “mengabulkan Tidak menutup kemungkinan suatu
gugatan penggugat” maka Majelis keputusan Tata Usaha Negara yang
Hakim secara tidak langsung telah telah memenuhi suatu peraturan
menciptakan kondisi yang perundang-undangan di dalamnya
bertetentangan dengan kepastian tidak memenuhi asas-asas umum
hukum. Hal ini nampak dalam pemerintahan yang baik.Demikian
pertimbangan Majelis Hakim yang pula halnya jika suatu keputusan
menyatakan: Tata Usaha Negara sudah dapat
Menimbang, bahwa dalam konteks diketahui tidak sesuai atau
perkara ini berdasarkan fakta hukum bertentangan dengan peraturan
yang terungkap dipersidangan perundang-undangan yang berlaku
Penilaian Penerbitan Surat maka sudah barang tentu telah
Keputusan objek sengketa tidak melanggar asas-asas umum
cukup hanya berdasarkan normatif pemerintahan yang baik.
yuridis atau berdasarkan Peraturan Dalam konteks putusan a quo
Perundang-Undangan yang berlaku, peneliti berpendapat bahwa
namun harus juga dinilai dari seharusnya Majelis Hakimharus
pandangan nilai-nilai yang hidup mempertimbangkan terlebih dahulu
dalam masyarakat dan Asas-Asas semua aspek terhadap pemenuhan
Umum Pemerintahan yang Baik terhadap peraturan perundang-
yang harus diperhatikan oleh Badan undangan yang berlaku yang tidak
atau Pejabat Tata Usaha Negara hanya menitikberatkan pada
dalam mengambil keputusan. kewenangan pemberhentian atau
Selanjutnya barulah pengangkatan yang dimiliki Bupati
dipertimbangkan mengenai saja, namun harus pula
keberatan Penggugat terhadap objek mempertimbangkan landasan lain
sengketa tentang pemberhentian yang dijadikan alas untuk
51
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

menggugat dari Para Penggugat, memuat uraian tentang


kemudian setelah diperoleh korelasi antara fakta hukum
kesimpulan telah sesuai dengan yang terungkap di
peraturan perundang-undangan yang persidangan dengan
berlaku, selanjutnya baru peraturan perundang-
mempertimbangkan terhadap undangan yang dijadikan
pemenuhan asas-asas umum dasar dalam surat
pemerintahan yang baik. Namun gugatan.Dalam pertimbangan
jika sudah diperoleh kesimpulan Putusan Nomor:
bahwa yang djadikan alas untuk 074/G/2015/PTUN.SMG,
menggugat tidak sesuai atau secara normatif telah
bertentangan dengan peraturan memenuhi syarat suatu
perundang-undangan yang berlaku, pertimbangan, dengan
maka menurut hemat penulis sudah demikian majelis hakim yang
tidak perlu lagi dipertimbangkan memeriksa telah melakukan
mengenai pemenuhan asas-asas penilaian terhadap
umum pemerintahan yang baik, oleh pemenuhan landasan hukum
karena dengan tidak dipenuhinya terhadap pemberhentian
ketentuan peraturan perundang- jabatan kepada desa yaitu
undangan sudah barang tentu tidak Keputusan Bupati:
memenuhi asas-asas umum 141/387/2015 terhadap asas
pemerintahan yang baik. hukum dan tata urutan
peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
3. Penutup Majelis hakim disamping
telah mempertimbangkan
3.1. Kesimpulan adanya asas hukum lex
superior derogate legi
1. Pertimbangan hukum terdiri inferior juga telah
dari dua bagian yaitu: mempertimbangkan dengan
pertimbangan mengenai teori norma (stufenbau
duduk perkara atau peristiwa theory) dari Hans Kelsen
atau fakta dan pertimbangan untuk menilai Keputusan
tentang hukumnya. Bupati: 141/387/2015
Pertimbangan duduk perkara tentang Pemberhentian
atau peristiwanya memuat dengan tidak hormat sebagai
fakta-fakta hukum yang Kepala Desa.
terungkap di persidangan. 2. Dari analisa yang dilakukan
Pertimbangan hukum terhadap putusan Pengadilan
memuat alasan-alasan atau Tata Usaha Negara Nomor:
argumentasi hukum serta 074/G/2015/PTUN.SMG,
penalaran hukum yang dalam pertimbanganya telah
dilakukan oleh hakim. Dalam diuraikan mengenai duduk
pertimbangan hukum perkaranya dan telah pula
52
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

diuraikan mengenai 3.2. Saran


argumentasi hukumnya.
Salah satu argumentasi Bupati Kepala Daerah apabila
hukum yang digunakan mengeluarkan atau menerbitkan
majelis hakim adalah suatu surat keputusan yang
preferensi hukum atau asas berkaitan dengan pemberhentian
hukum Lex Superior Derogat kepala desa sebaiknya
Lege Inferior untuk menilai mendasarkan pada ketentuan
kedudukan Keputusan Bupati perundang-undangan yang tidak
Boyolali tentang bertentangan dengan peraturan
Pemberhentian dengan tidak yang ada di atasnya sehingga
hormat Kepala Desa. Asas tidak menimbulkan kerugian
hukum Lex Superior Derogat bagi orang atau badan hukum
Lege Inferior adalah suatu perdata yang penerima surat
asas dimana peraturan keputusan tersebut. Sedangkan
perundang-undangan yang bagi para hakim yang
lebih tinggi memeriksa, memutus dan
mengesampingkan peraturan menyelesaikan sengketa Tata
perundang-undangan yang Usaha Negara yang demikian
lebih rendah., disamping itu, hendaknya memperhatikan
majelis hakim telah terlebih dahulu ketentuan
mempertimbangkan asas peraturan perundang-undangan
hukum lex superior derogat yang berlaku sebagai penerapan
legi inferior dan asas legalitas dalam negara
menerapkannya dengan hukum dan memperhatikan asas
mengesampingkan keputusan wetmatigheid van bestuur
bupati tersebut, juga sebagai landasan bagi keabsahan
mempertimbangkan sikap tindak pemerintahan
mengenai adanya susunan dalam menerbitkan suatu
norma dari teori Hans Kelsen keputusan Tata Usaha Negara
yang sering disebut dengan sebelum mengujinya dengan
stufenbau theory yang asas-asas umum pemerintahan
diimplementasikan dalam yang baik.
Undang-undang Nomor 12
Tahun 2011tentang
Pembentukan Peraturan Daftar Pustaka
Perundang-undangan. Dalam Buku-Buku:
theory norma dikatakan Abdullah, 2008, Pertimbangan Hukum
bahwa norma yang berada di Putusan Pengadilan, Program
bawah atau yang lebih PascaSarjanaUniversitas Sunan
rendah tidak boleh Giri, Sidoharjo.
bertentangan dengan norma 1Achmad Ali, 1993, Menguak Tabir
yang berada di atasnya atau Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan
norma yang lebih tinggi.
53
Serat Acitya – Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang
ISSN : 2302-2752, Vol. 5 No. 2, 2016

Sosiologis), Chandra Pratama, Yos Johan Utama, 2010, Membangun


Jakarta, hal.96. Peradilan Tata Usaha Negara
Ahmad Rifai, 2010, Penemuan Hukum Yang Berwibawa, Pidato
Oleh Hakim Dalam Perfektif Pengukuhan Guru Besar Dalam
Hukum Progresif, Sinar Grafika, Ilmu Hukum Pada Fakultas
Jakarta. Hukum UNDIP Semarang, Badan
Bagir Manan, 2007, Kekuasaan Penerbit Universitas Diponegoro,
Kehakiman Indonesia Dalam UU Semarang.
No. 4 Th. 2004, FH UII Press, Undang-undang:
Yogyakarta. Undang-undang Dasar Negara RI Tahun
Bambang Sutiyoso dan Sri Hastuti 1945 beserta perubahannya
Puspitasari, 2005, Aspek-Aspek Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986
Kekuasaan Kehakiman Di tentang Peradilan Tata Usaha
Indonesia, UII Press, Yogyakarta. Negara (LNRI Tahun 1986
Indroharto, 1999, Perbuatan Pemerintah Nomor 77, TNLRI Nomor 3344)
Menurut Hukum Publik dan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004
Hukum Perdata, Lembaga tentang Kekuasaan Kehakiman
Penelitian dan Pengembangan (LNRI Tahun 2004 Nomor 8,
Hukum Administrasi Negara, TNLRI Nomor 4358)
Bogor-Jakarta. Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004
M. Yahya Harahap, 2004, Hukum Acara tentang Perubahan atas Undang-
Perdata, Sinar Grafika, Jakarta. Undang Nomor 5 Tahun 1986
Muchsan, 1981, Beberapa Catatan tentang Peradilan Tata Usaha
Tentang Hukum Administrasi Negara (LNRI Tahun 2004
Negara Dan Peradilan Nomor 35, TNLRI Nomor 4380)
Administrasi Di Indonesia, Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009
Liberty, Yogyakarta. tentang Kekuasaan Kehakiman
Rochmat Soemitro, 1998, Peradilan (LNRI Tahun 2009 Nomor 157,
Tata Usaha Negara, Refika Aditama, TNLRI Nomor 5076)
Bandung. Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009
Satjipto Rahardjo, 2009, Hukum dan tentang Perubahan Kedua atas
Perubahan Sosial : Suatu Undang-Undang Nomor 5 Tahun
Tinjauan Teoritis Serta 1986 tentang Peradilan Tata
Pengalaman-Pengalaman Di Usaha Negara (LNRI Tahun
Indonesia, Genta Publishing, 2009 Nomor 160, TNLRI Nomor
Yogyakarta. 5079)
1
Shidarta, 2006, Karakteristik Penalaran
Hukum dalam Konteks Keindonesiaan,
CV. Utomo, Bandung.
Sjachran Basah,1985, Eksistensi dan
Tolak Ukur Badan Peradilan
Administrasi di Indonesia,
Alumni, Bandung.

54

Anda mungkin juga menyukai