Anda di halaman 1dari 79

Mini Project

Pengaruh Penyuluhan dengan Media Audio Visual terhadap Peningkatan

Pengetahuan dan Sikap Ibu yang Memiliki Anak Stunting Bawah Lima

Tahun (24-59 Bulan) di Desa Pauh Barat Kota Pariaman

Oleh:

dr. Ayu Rahma Putri

dr. Nina Bonita

Dokter Pendamping:

dr. Dona Karmela

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

PUSKESMAS PARIAMAN

SUMATER BARAT

2019
DAFTAR ISI

Daftar Isi…………………………………………………………………………...i

Bab I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang………………………………………………………........1

1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................3

1.3 Tujuan Mini Project ...................................................................................3

Bab II. Tinjauan Pustaka

2.1 Definisi Anemia....................……………………………….........….......4

2.2 Kriteria Anemia ................…………………………………………........4

2.3 Prevalensi Anemia..................................…………………………….......4

2.4 Etiologi dan Klasifikasi……,,,………………………………………......5

2.5 Patofisiologi dan Gejala Anemia….....………………………………..... 8

2.6 Pemeriksaan Laboratorium ...………………………………………....... 9

2.7 Pendekatan Diagnosis Anemia .................................................................11

2.8 Pendekatan Terapi ...................................................................................11

2.9 Dampak Anemia pada Remaja Putri ........................................................12

Bab III. Analisis Situasi

3.1 Sejarah Puskesmas Kurai Taji .................................................................14


3.2 Letak Geografi..........................................................................................15

3.3 Jumlah Penduduk .....................................................................................16

3.4 Keadaan Ekonomi ....................................................................................16

3.5 Tingkat Pendidikan ..................................................................................17

3.6 Transportasi ..............................................................................................18

3.7 Sosial Budaya dan Agama .......................................................................18

3.8 Sarana Gedung .........................................................................................18

3.9 Analisa SWOT .........................................................................................19

3.10Sumber Daya .......................................................................................... 21

3.11Akreditasi Puskesmas ............................................................................. 22

Bab IV. Rencana Kegiatan

4.1 Identifikasi Masalah……….…………………………...……..……...23

4.2 Rencana Kegiatan…………………………………………………...23

4.3 Hasil Kegiatan .................................................................................. 30

Bab V. Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan .........................…………………………………………33

5.2 Saran .................................................………………………………..34

Daftar Pustaka…………………………………………………………………....58

Lampiran………………………………………………………………………....59
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stunting didefinisikan sebagai indikator status gizi TB/U sama dengan atau

kurang dari minus dua standar deviasi (-2 SD) dibawah rata-rata standar atau

keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak – anak lain

seusianya (WHO, 2006). Ini adalah indikator kesehatan anak kekurangan gizi

kronis yang memberikan gambaran gizi pada masa lalu dan yang dipengaruhi

lingkungan dan keadaan sosial ekonomi. Asupan zat gizi adalah salah satu faktor

yang berpengaruh langsung terhadap stunting (Hestuningtyas, 2014). Stunting

terjadi lantaran kekurangan gizi dalam waktu lama pada masa 1.000 hari pertama

kehidupan (HPK) (Kementrian desa, 2017). Pertumbuhan fisik berhubungan

dengan faktor lingkungan, perilaku dan genetik, kondisi sosial ekonomi,

pemberian ASI serta kejadian BBLR merupakan faktor-faktor yang berhubungan

dengan kejadian stunting.

Gizi diartikan sebagai suatu proses organisme menggunakan makanan

yang di konsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,

penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat – zat yang tidak digunakan untuk

mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ – organ

serta menghasilkan energi. Sedangkan status gizi diartikan sebagai keadaan gizi

seseorang yang diukur atau dinilai pada satu waktu. Penilaian atau pengukuran

terhadap status gizi dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.

1
Salah satu cara penilaian atau pengukuran status gizi adalah secara antoprometri

yaitu penilaian status gizi berdasarkan berat badan, tinggi badan, lingkar lengan

atas, dan tebal lemak di bawah kulit. Penilaian status gizi ini bertujuan untuk

menentukan klasifikasi status gizi. Ada beberapa klasifikasi umum yang

digunakan, diantaranya klasifikasi World Health Organization (WHO) dengan

indikator yang digunakan, meliputi berat badan per tinggi badan (BB/TB), berat

badan per umur (BB/U) dan tinggi badan per umur (TB/U) (Wiyogowati, 2012).

Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak

serius terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Salah satu masalah gizi

yang menjadi perhatian utama saat ini adalah masih tingginya kasus anak balita

pendek (stunting). Prevalensi stunting (tinggi badan per umur)di Indonesia

menurut hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 mencapai 37,2 %. Hasil

Riskedas tahun 2018 balita stunting sebanyak 30,8% yaitu balita sangat pendek

sebanyak 11,5% dan balita pendek 19,3% meningkat lebih tinggi daripada tahun

2007 yaitu balita pendek sebanyak 18%. Pemantauan Status Gizi Tahun 2016

stunting pada balita mencapai 27,5 % sedangkan batasan WHO < 20%. Hal ini

berarti pertumbuhan yang tidak maksimal dialami oleh sekitar8,9 juta anak

Indonesia, atau 1 dari 3 anak Indonesia mengalamistunting. Lebih dari 1/3 anak

berusia di bawah 5 tahun di Indonesia tingginyaberada di bawah rata-rata

(Kementrian desa, 2017).

Hasil riset Bank Dunia menggambarkan kerugian akibat stunting

mencapai 3—11% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Dengan nilai PDB

2015 sebesar Rp11.000 Triliun, kerugian ekonomi akibat stunting di Indonesia


2
diperkirakan mencapai Rp300-triliun—Rp1.210 triliun per tahun. Besarnya

kerugian yang ditanggung akibat stunting lantaran naiknya pengeluaran

pemerintah terutama jaminan kesehatan nasional yang berhubungan dengan

penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, diabetes atapun gagal ginjal.

Ketika dewasa, anak yang menderita stunting mudah mengalami kegemukan

sehingga rentan terhadap serangan penyakit tidak menular seperti jantung, stroke

ataupun diabetes. Stunting menghambat potensi transisi demografis Indonesia

dimana rasio penduduk usia tidak bekerja terhadap penduduk usia kerja menurun.

Belum lagi ancaman pengurangan tingkat intelejensi sebesar 5—11 poin. Stunting

pun menjadi ancaman masyarakat Desa (Kementrian desa, 2017).

Hasil Riskesdas menunjukkan bahwa angka stunting di sumatera

barat menurun dari tahun 2013 sebanyak 39,5% menjadi 29% pada tahun 2018.

Jumlah anak stunting di wilayah kerja Puskesmas Air Tawar dengan 3 desa tahun

2018 yaitu sebanyak 197 anak. 3 desa tahun 2019 yaitu sebanyak 157 anak

Jumlah stunting terbanyak didapatkan di desa Air Tawar Barat sebanyak 127

anak pada tahun 2018 dan 105 anak dari bulan januari sampai bulan juni tahun

2019 dan yang kedua terbanyak di desa ulak karang utara sebanyak 53 anak pada

tahun 2018 dan 37 dari bulan januari sampai bulan juni tahun 2019 (Data PPDGM

status BALITA PUSKESMAS AIR TAWAR, 2018 2019).

3
1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan dan sikap

ibu yang memiliki anak bawah lima tahun (24-56 bulan) stunting di desa Pauh

Barat kota Pariaman

1.3 Tujuan Mini Project

1. Mengetahui karateristik belita stunting wilayah kerja puskesmas air tawar

berdasarkan umur dan jenis kelamin

2. Mengetahui pengaruh pemberian penyuluhan menu makanan seimbang

terhadap peningkatan tinggi badan balita stunting wilayah kerja

puskesmas air tawar padang

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stunting

2.1.1 Pendahuluan

Stunting atau malnutrisi kronik merupakan bentuk lain dari kegagalan

pertumbuhan. Definisi lain menyebutkan bahwa pendek dan sangat pendek adalah

status gizi yang didasarkan pada indeks panjang badan menurut umur (PB/U) atau

tinggi badan menurut umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted

(pendek) dan severely stunted (sangat pendek). Kategori status gizi berdasarkan

indeks panjang badan menurut umur (PB/U) atau tinggi badan menurut umur

(TB/U) anak umur 0-60 bulan dibagi menjadi sangat pendek, pendek normal

tinggi. Sangat pendek jika Z-score < -3 SD, pendek jika Z-score -3 SD sampai

dengan -2 SD normal jika Z-score -2 SD sampai dengan 2 SD dan tinggi jika Z-

score > 2 SD. Seorang anak yang mengalami kekerdilan (stunted) sering terlihat

seperti anak dengan tinggi badan yang normal, namun sebenarnya mereka lebih

pendek dari ukuran tinggi badan normal untuk anak seusianya. Stunting sudah

dimulai sejak sebelum kelahiran disebabkan karena gizi ibu selama kehamilan

buruk, pola makan yang buruk, kualitas makanan juga buruk, dan intensitas

frekuensi menderita penyakit sering. Berdasarkan ukuran tinggi badan, seorang

anak dikatakan stunted jika tinggi badan menurut umur kurang dari -2 z score

berdasarkan referensi internasional WHO-NCHS. Stunting menggambarkan

kegagalan pertumbuhan yang terjadi dalam jangka waktu yang lama, dan

5
dihubungkan dengan penurunan kapasitas fisik dan psikis, penurunan

pertumbuhan fisik, dan pencapaian di bidang pendidikan rendah. (The world bank,

2010;UNICEF)

2.1.2 Epidemiologi Stunting

Kejadian balita stunting (pendek) merupakan masalah gizi

utama yang dihadapi Indonesia. Berdasarkan data Pemantauan

Status Gizi (PSG) selama tiga tahun terakhir, pendek memiliki

prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya

seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk. Prevalen sibalita pendek

mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5% menjadi 29,6%

pada tahun 2017.

Gambar 2.1 Masalah Gizi di Indonesia Tahun 2015-2017

6
Prevalensi balita pendek di Indonesia cenderung statis. Hasil Riset

Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan prevalensi

balita pendek di Indonesia sebesar 36,8%. Pada tahun 2010, terjadi

sedikit penurunan menjadi 35,6%. Namun prevalensi balita pendek

kembali meningkat pada tahun 2013 yaitu menjadi 37,2%. Prevalensi

balita pendek selanjutnya akan diperoleh dari hasil Riskesdas tahun

2018 yang juga menjadi ukuran keberhasilan program yang sudah

diupayakan olehpemerintah.

Gambar 2.2 Prevalensi Balita Pendek di Indonesia Tahun 2007-2013

Survei PSG diselenggarakan sebagai monitoring dan evaluasi

kegiatan dan capaian program. Berdasarkan hasil PSG tahun 2015,

prevalen sibalita pendek diIndonesia adalah 29%. Angka ini

mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 27,5%. Namun

prevalen sibalita pendek kembali meningkat menjadi 29,6% pada

tahun 2017.
7
Gambar 2.3 Prevalensi Balita Pendek di Indonesia Tahun 2015-2017

Prevalensi balita sangat pendek dan pendek usia 0-59 bulan di

Indonesia tahun 2017 adalah 9,8% dan 19,8%. Kondisi ini meningkat

dari tahun sebelumnya yaitu prevalensi balita sangat pendek sebesar

8,5% dan balita pendek sebesar 19%. Provinsi dengan prevalensi

tertinggi balita sangat pendek dan pendek pada usia 0-59 bulan tahun

2017 adalah Nusa Tenggara Timur, sedangkan provinsi dengan

prevalensi terendah adalah Bali.

8
Gambar 2.4. Peta Prevalensi Balita Pendek di Indonesia Tahun 2017

Menurut WHO, prevalensi balita pendek menjadi masalah kesehatan

masyarakat jika prevalensinya 20% atau lebih. Karenanya persentase balita

pendek di Indonesia masih tinggi dan merupakan masalah kesehatan yang harus

ditanggulangi. Dibandingkan beberapa negara tetangga, prevalensi balita pendek

di Indonesia juga tertinggi dibandingkan Myanmar (35%), Vietnam (23%),

Malaysia (17%), Thailand(16%) dan Singapura (4%)(UNSD, 2014). Global

Nutrition Report tahun 2014 menunjukkan Indonesia termasuk dalam 17 negara,

di antara 117 negara, yang mempunyai tiga masalah gizi yaitu stunting, wasting

dan overweight pada balita.

2.1.3 Faktor Resiko Stunting

1. Pendidikan Ibu

Penelitian mengenai hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian

stunting yang dilakukan di Kenya memberikan hasil bahwa anak-anak yang

9
dilahirkan dari ibu yang berpendidikan beresiko lebih kecil untuk mengalami

malnutrisi yang dimanifestasikan sebagai wasting atau stunting daripada anak-

anak yang dilahirkan dari ibu yang tidak berpendidikan. Hasil yang sama juga

diperlihatkan dari hasil penelitian yang dilakukan di Mesir, dimana semakin tinggi

tingkat pendidikan ibu, resiko anak yang dilahirkan stunted semakin kecil.

Grossman dan Kaestner (1997) juga mengatakan bahwa ibu yang berpendidikan

akan lebih mudah menerima dan memproses informasi kesehatan dibandingkan

dengan ibu yang tidek berpendidikan. (Frost et al, 2004; Zottarelli et al, 2007;

Shrestha & Findeis, 2007; Abuya et al,2010).

2. Sanitasi

Sanitasi dasar adalah sarana sanitasi rumah tangga yang meliputi sarana

buang air besar, sarana pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga.

(Kepmenkes No 852 tentang strategi nasional sanitasi total berbasis

masyarakat).Sanitasi yang buruk merupakan penyebab utama terjadinya penyakit

di seluruh dunia, termasuk didalamnya adalah diare, kolera, disentri, tifoid, dan

hepatitis A.Sanitasi yang baik sangat penting terutama dalam menurunkan risiko

kejadian penyakit dan kematian, terutama pada anak-anak. Sanitasi yang baik

dapat terpenuhi jika fasilitas sanitasi yang aman, memadai dan dekat dengan

tempat tinggal tersedia. (Water and Sanitation Program-East Asia and The Pasific)

3.Air Bersih

Anak-anak yang bertahan hidup dengan sumber air minum yang

terkontaminasi kemungkinan besar akan menderita malnutrisi, stunted, dan

perkembangan otak (intelektual) yang terhambat. (Clean Water ChangedLives)

1
0
4.Berat Bayi Lahir Rendah(BBLR)

Berat bayi lahir rendah (BBLR) diartikan sebagai berat bayi ketika lahir

kurang dari 2500 gram dengan batas atas 2499 gram.Banyak faktor yang

mempengaruhi kejadian BBLR terutama yang berkaitan dengan ibu selama masa

kehamilan. Berat badan ibu kurang dari 50 kg, keluarga yang tidak harmonis

termasuk didalamnya adalah kekerasan dalam rumah tangga dan tidakadanya

dukungan dari keluarga selama masa kehamilan, gizi ibu buruk terutama selama

masa kehamilan, kenaikan berat badan selama kehamilan kurang dari 7 kg, infeksi

kronik, tekanan darah tinggi selama kehamilan, kadar gula darah ibu tinggi selama

kehamilan, merokok, alcohol, dan genetic merupakan beberapa faktor penyebab

bayi yang dilahirkan BBLR (Reyes & Manalich, 2005).

Berat bayi lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan masyarakat

yang banyak terjadi di Negara-negara miskin dan berkembang.Diperkirakan 15 %

dari seluruh bayi yang dilahirkan merupakan bayi dengan berat lahir rendah. Berat

bayi lahir rendah erat kaitannya dengan mortalitas dan morbiditas janin dan bayi,

penghambat pertumbuhan dan perkembangan kognitif dan penyakit kronik ketika

menginjak usia dewasa seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan jantung (UNICEF,

2004).

5. ASI Eksklusif

ASI eksklusif adalah kondisi dimana bayi hanya diberi ASI saja, tanpa

tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan

tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur

nasi, dan tim. Pemberian ASI secara eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu

1
1
setidaknya selama 4 bulan, namun rekomendasi terbaru UNICEF bersama World

Health Asssembly (WHA) dan banyak Negara lainnya adalah menetapkan jangka

waktu pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Pemberian makanan padat atau

tambahan yang terlalu dini dapat menggangu pemberian ASI eksklusif serta

meningkatkan angka kesakitan pada bayi (Roesli, 2000)

6. Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)

Pemberian makanan pada bayi dan anak merupakan landasan yang penting

dalam proses pertumbuhan. Di seluruh dunia sekitar 30 % anak dibawah lima

tahun yang mengalami stunted merupakan konsekuensi dari praktek pemberian

makanan yang buruk dan infeksi berulang. Meskipun bayi mendapatkan ASI dari

ibu secara optimal, namun jika setelah berusia 6 bulan tidak mendapatkan

makanan pendamping yang cukup baik dari segi kuantitas maupun kualitas, anak-

anak akan tetap mengalami stunted. Diperkirakan sekitar 6% atau 600.000

kematian anak dibawah lima tahun dapat dicegah dengan memastikan bahwa

anak-anak tersebut diberi makanan pendamping secara optimal.(WHO, 2011;

UNICEF,2008)

7. Asupan Makanan (Konsumsi Energi danProtein)

Asupan makanan berkaitan dengan kandungan nutrisi (zat gizi) yang

terkandung didalam makanan yang dimakan.Dikenal dua jenis nutrisi yaitu

makronutrisi dan mikronutrisi.Makronutrisi merupakan nutrisi yang menyediakan

kalori atau energi, diperlukan untuk pertumbuhan, metabolisme, dan fungsi

tubuhlainnya.Makronutrisi ini diperlukan tubuh dalam jumlah yang besar, terdiri

dari karbohidrat, protein, dan lemak (WHO, 2011; Macronutriens, 2008).

1
2
Tanpa nutrisi yang baik akan mempercepat terjadinya stunting selama usia

6-18 bulan, ketika seorang anak berada pada masa pertumbuhan yang cepat dan

perkembangan otak hampir mencapai 90% dari ukuran otak ketika anak tersebut

dewasa(Children at Risk of Stunting and Wasting).

8. Pengeluaran Rumah Tangga(Ekonomi)

Besarnya pendapatan yang diperoleh atau diterima rumah tangga dapat

menggambarkan kesejahteraan suatu masyarakat. Di negara yang sedang

berkembang, pemenuhan kebutuhan makanan masih menjadi merupakan prioritas

utama, dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan gizi (oC nsumption and

Cost)Hartoyo et al. (2000) mengatakan bahwa keluarga terutama ibu dengan

pendapatan rendah biasanya memiliki rasa percaya diri yang kurang dan memiliki

akses terbatas untuk berpartisipasi pada pelayanan kesehatan dan gizi seperti

Posyandu, Bina Keluarga Balita dan Puskesmas, oleh karena itu mereka memiliki

resiko yang lebih tinggi untuk memiliki anak yang kurang gizi (Martianto et al.,

2008).

2.1.4 Upaya Pencegahan Stunting

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007

menunjukkan prevalensibalita pendek di Indonesia sebesar 36,8%

walau pada tahun 2010, terjadi sedikit penurunan, namun prevalensi

balita pendek kembali meningkat pada tahun 2013 yaitu menjadi

37,2%. Hsil yang tidak jauh berbeda dengan Pemantauan Status Gizi,

terjadi peningkatan prevalensi balita pendek dari 2016 ke 2017 dengan

hasil akhir 29,7%. Hal ini memperlihatkan bahwa balita pendek kian

1
3
meningkat jumlahnya oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya

pencegahan stunting pada kelompok umur terutama pada 1000 hari

pertama kehidupan anak (Pusdatin Kemenkes, 2018).

Untuk mengatasi permasalahan gizi ini,pada tahun 2010 PBB telah

meluncurkan programScalling Up Nutrition (SUN) yaitu sebuah upayabersama

dari pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan visi bebas rawan pangan dan

kuranggizi (zero hunger and malnutrition), melaluipenguatan kesadaran dan

komitmen untukmenjamin akses masyarakat terhadap makananyang bergizi. Di

Indonesia, Gerakan scalingup nutrition dikenal dengan Gerakan

NasionalPercepatan Perbaikan Gizi dalam rangka SeribuHari Pertama Kehidupan

(Gerakan 1000 HPK)dengan landasan berupa Peraturan Presiden(Perpres) nomor

42 tahun 2013 tentang GerakanNasional Percepatan Perbaikan Gizi dengan

sasaran masyarakat, khususnya remaja, ibu hamil, ibu menyusui, anak di bawah

usia dua tahun; kader-kader masyarakat seperti Posyandu, Pemberdayaan

Kesejahteraan Keluarga, dan/atau kader-kader masyarakat yang sejenis; perguruan

tinggi, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan; Pemerintah

dan Pemerintah Daerah; media massa; dunia usaha; dan lembaga swadaya

masyarakat, dan mitra pembangunan internasional (Rosha BC, 2016; Perpres No.

42 Tahun 2013). Dalam upaya penanggulangan stunting, terdapat 2 model

intervensi, yaitu intervensi gizi sensitif, merupakan berbagai kegiatan

pembangunan di luar sektor kesehatan, sasarannya adalah masyarakat umum dan

intervensi gizi spesifik, yang padaumumnya kegiatan ini dilakukan oleh

sektorkesehatan.

1
4
Gambar 2.5 Pendekatan Multisektor dan Intervensi Terintegrasi

dalam Strategi (Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat

Bappenas, 2018)

Intervensi spesifik merupakan kegiatan yang ditujukan langsung atau khusus

pada kelompok sasaran tertentu seperti balita,ibu hamil, remaja putri, dan lainnya.

Dalam The Lancet seri Ibu dan Anak menunjukkan bahwa terdapat 13 intervensi

giziyang telah terbukti dapat mengurangi masalah stunting sebesar sepertiga dari

prevalensi didunia, yaitu intervensi melalui suplementasi dan fortifikasi,

mendukung pemberian ASI eksklusif, penyuluhan mengenai pola makan anak,

pengobatan untuk kekurangan gizi akut,serta pengobatan infeksi. Intervensi ini

terbuktimenghasilkan manfaat yaitu pengurangan biayadengan rasio 15,8

berbanding 1.7.

1
5
Salah satu intervensi spesifik yang dilakukan di Kota Bogor yaitu melalui

kegiatan posyandu. Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan

bersumber daya masyarakat (UKBM) yang dilaksanakan oleh, dari dan bersama

masyarakat, untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada

masyarakat guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi dan anak balita.

Pada beberapa negara yangtelah berhasil menjalankan dan meyebar luaskan

intervensi gizi menunjukkan keberhasilan didukung oleh sistem kesehatan yang

berfungsi dengan efektif serta keterlibatan kader kesehatan berbasis dari

masyarakat. Salah satu tujuan kegiatan posyandu adalah sebagai upaya

pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Penelitian Hidayat dan

Jahari menunjukkan bahwa diantara rumah tangga balita yang memanfaatkan

pelayanan kesehatan di posyandu memiliki proporsi balita berstatus gizi baik

(indeks BB/U) dan tidak kurus/ normal(indeks BB/TB) lebih besar.

2.2 Definisi Gizi

Zat gizi dari makanan merupakan sumber utama untuk memenuhi

kebutuhan anak tumbuh kembang optimal sehingga dapat mencapai kesehatan

yang paripurna , yaitu sehat fisik, sehat mental, dan sehat sosial. Oleh karena itu,

slogan umum bahwa pencegahan adalah upaya terbaik dan lebih efektif-efisien

daripada pengobatan, harus benar-benar dilaksanakan untuk mencegah terjadinya

masalah gizi pada anak. Hal ini pula yang menjadi tujuan utama Millennium

Development Goals (MDGs) tahun 2015 yang dicanangkan UNICEF: tercapainya

keadaan gizi dan kesehatan yang baik serta seimbang.

1
6
Setiap harinya, anak membutuhkan gizi seimbang yang terdiri dari asupan

karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Asupan kandungan gizi tersebut

dapat diperoleh dari makanan yang dikonsumsi yang berguna untuk pertumbuhan

otak (intelegensia) dan pertumbuhan fisik. Untuk mengetahui status gizi dan

kesehatan anak secara menyeluruh dapat dilihat mulai dari penampilan umum

(berat badan dan tinggi badan), tanda-tanda fisik, motorik, fungsional, emosi dan

kognisi anak. Berdasarkan pengukuran antropometri, maka anak yang sehat

bertambah umur, bertambah berat, dan tinggi dikaitkan dengan kecukupan

asupan makronutrien, kalsium, magnesium, fosfor, vitamin D, yodium, dan zink.

Indonesia memiliki kesepakatan tanda anak sehat bergizi baik yang terdiri dari 10

kriteria, yaitu:

1. Bertambah umur, bertambah padat, bertambah tinggi. Anak

dengan asupan gizi baik akan mempunyai tulang dan otot yang sehat

dan kuat karena konsumsi protein dan kalsiumnya cukup. Jika

kebutuhan protein dan kalsium terpenuhi, massa tubuh pun akan

bertambah dan anak akan bertambah tinggi.

2. Postur tubuh tegap dan otot padat. Anak yang memiliki massa

otot yang padat dan tubuh tegap didapat adalah ciri anak yang tidak

kekurangan protein dan kalsium. Mengonsumsi susu dapat membantu

anak mencapai postur ideal kelaknya.

3. Rambut berkilau dan kuat. Protein dari daging, ayam, ikan dan

kacang- kacangan dapat membuat rambut menjadi lebih sehat dan kuat.

Rambut yang sehat dapat melindungi kepala si anak.

1
7
4. Kulit dan kuku bersih dan tidak pucat. Kulit dan kuku bersih

pada anak menandakan asupan vitamin A,C,E dan mineralnya

terpenuhi. Makanan yang kaya mineral didapatkan dari kangkung,

bayam, jambu buji, jeruk, mangga dan lainnya.

5. Wajah ceria, mata bening dan bibir segar. Mata yang sehat dan

bening didapat dari konsumsi vitamin A dan C seperti tomat dan wortel.

Bibir segar didapat dari vitamin B, C dan E seperti yang terdapat dalam

wortel, kentang, udang, mangga, jeruk.

6. Gigi bersih dan gusi merah muda. Gigi dan gusi sehat

dibutuhkan untuk membantu menceerna makanan dengan baik. Untuk

itu, asupan kalsium dan vitamin B pun diperlukan.

7. Nafsu makan baik dan buang air besar teratur. Nafsu makan

baik dilihat dari intensitas anak makan, idealnya yaitu 3 kali sehari.

Buang air besar pun harusnya setiap hari agar sisa makanan dalam usus

besat tidak menjadi racun bagi tubuh yang dapat mengganggu nafsu

makan.

2.2.1 Prinsip Gizi Seimbang

Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung

zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan

memperhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik,

kebersihan, dan berat badan ideal. Gizi seimbang di Indonesia divisualisasikan

dalam bentuk tumpeng gizi seimbang (TGS) yang sesuai dengan budaya

Indonesia. TGS dirancang untuk membantu setiap orang memilih makanan

1
8
dengan jenis dan jumlah yang tepat sesuai dengan berbagai kebutuhan menurut

usia (bayi, balita, remaja, dewasa dan usia lanjut), dan sesuai keadaan kesehatan

(hamil, menyusui, aktivitas fisik, sakit).

1
9
TGS terdiri dari beberapa potongan tumpeng, yaitu:

- 1 potongan besar: golongan makanan karbohidrat,

- 2 potongan sedang dan 2 potongan kecil yang merupakan golongan

sayuran dan buah,

- 2 potongan kecil diatasnya yang merupakan golongan protein hewani dan

nabati, dan

- 1 potongan terkecil di puncak yaitu gula, garam, dan minyak yang

dikonsumsi seperlunya.

- Potongan TGS juga dilapisi dengan air putih yang idealnya dikonsumsi 2

liter atau 8 gelas sehari.

- Luasnya potongan TGS ini menunjukkan porsi konsumsi setiap orang per

hari. Karbohidrat dikonsumsi 3 - 8 porsi, sayuran 3 - 5 porsi sedikit lebih

besar dari buah, buah 2-3 porsi, serta protein hewani dan nabati 2 - 3

porsi.

- Konsumsi ini dibagi untuk makan pagi, siang, dan malam. Kombinasi

makanan per harinya perlu dilakukan.

- Dibagian bawah TGS terdapat prinsip gizi seimbang yang lain, yaitu: pola

hidup aktif dengan berolahraga, menjaga kebersihan dan pantau berat

badan.

Prinsip gizi seimbang harus diterapkan sejak anak usia dini hingga usia

lanjut. Ibu hamil, remaja perempuan serta bayi sampai usia 2 tahun merupakan

kelompok usia yang penting menerapkan prinsip gizi seimbang ini. Kelompok ini

adalah kelompok kritis tumbuh kembang manusia yang akan menentukan masa
2
0
depan kualitas hidup manusia. Khusus untuk ibu hamil, akan mengalami periode

window of opportunity, kesempatan singkat untuk melakukan sesuatu yang

menguntungkan dan memanfaatkan zat gizi untuk kesehatan ibu dan janin.

Periode ini berkisar dari sebelum kehamilan hingga anak berumur dua tahun.

Prinsip gizi seimbang dinilai efektif dilakukan dalam periode ini karena jika calon

ibu kekurangan gizi dan berlanjut hingga ibu hamil, maka janin akan kekurangan

gizi dan dapat menimbulkan beban ganda masalah gizi, yaitu: anak kurang

gizi,

2
1
lambat berkembang, mudah sakit, kurang cerdas, serta ketika dewasa

kegemukan dan beresiko terkena penyakit degeneratif.

2.2.2 Gizi Seimbang Anak Usia Dini

Air susu ibu (ASI) adalah satu-satunya makanan yang mengandung semua zat

gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi 0-6 bulan. ASI eksklusif tanpa

ditambah cairan atau makanan lain merupakan makanan pertama dalam

kehidupan manusia yang bergizi seimbang. Namun sesudah usia 6 bulan

kebutuhan gizi bayi meningkat dan harus ditambah bahan makanan lain sehingga

ASI tidak lagi bergizi seimbang. Sampai usia 2 tahun merupakan masa kritis dan

termasuk dalam periode window of opportunity. Pada periode kehidupan ini sel-

sel otak tumbuh sangat cepat sehingga saat usia 2 tahun pertumbuhan otak sudah

mencapai lebih 80% dan masa kritis bagi pembentukan kecerdasan. Oleh karena

itu jika pada usia ini kekurangan gizi maka perkembangan otak dan kecerdasan

terhambat dan tidak dapat diperbaiki. Pola makan bergizi seimbang sangat

diperlukan dalam bentuk pemberian ASI dan MP-ASI yang benar.

Ketika memasuki usia 1 tahun, laju pertumbuhan mulai melambat tetapi

perkembangan motorik meningkat, anak mulai mengeksplorasi lingkungan sekitar

dengan cara berjalan kesana kemari, lompat, lari dan sebagainya. Namun pada

usia ini anak juga mulai sering mengalami gangguan kesehatan dan rentan

terhadap penyakit infeksi seperti ISPA dan diare sehingga anak butuh zat gizi

tinggi dan gizi seimbang agar tumbuh kembangnya optimal. Sementara ketika

masuk usia 3 tahun, anak mulai bersifat ingin mandiri dan dalam memilih

makanan sudah bersikap sebagai konsumen aktif dimana anak sudah dapat
2
2
memilih dan menetukan makanan yan ingin dikonsumsinya. Pada rentang usia

3-5 tahun kerap terjadi anak menolak makanan yang tidak disukai dan hanya

memilih makanan yang disukai sehingga perlu diperkenalkan kepada mereka

beranekaragam makanan.

Saat ini banyak ditemukan anak yang terlalu gemuk sekaligus kurus, sekitar

14% balita di Indonesia kurus (6% nya sangat kurus) dan sekitar 12% gemuk.

Aktivitas bermain yang meningkat dan mungkin mulai masuk sekolah membuat

anak menunda waktu makan, bahkan orang tua yang tidak memperhatikan bisa

saja membuat anak minta makan menjelang tidur saat ia terlalu lelah beraktivitas

seharian dan baru lapar ketika malam. Pada usia ini anak juga mulai banyak

bermain dengan teman-temannya sehingga mudah tertular penyakit sehingga

perlu ditanamkan kebiasaan makan beragam dan bergizi serta pola hidup bersih.

2.2.3 Makanan Anak Usia Dini

2.2.2.1 Makanan untuk usia 6-12 bulan

Usia 6 bulan. Pada usia ini sudah diberikan makanan tambahan pendamping

ASI (MP-ASI). Hal ini sudah boleh dilakukan karena bayi sudah mempunyai

reflek mengunyah dengan pencernaaan yang lebih kuat. Makanan tambahan

diberikan dalam bentuk lumat dan rendah serat, misalnya pisang yang

dilumatkan, sari jeruk, labu, papaya dan biscuit yang dilumatkan dengan susu.

Pola pemberian dilakukan secara bertahap sebanyak 2 sendok makan per waktu

makan dan diberikan 2 kali sehari. aKenalkan setiap jenis makanan 2-3 hari baru

lanjutkan mengenalkan jenis makanan yang lain.

2
3
Usia 7 bulan. Pada usia 7 bulan mulai dikenalkan bubur tim saring dengan

campuran sayuran dan protein hewani-nabati. Sehingga pola menunya terdiri dari

buah lumat, bubur susu dan tim saring.

Usia 8 bulan. Mulai usia 8 bulan sudah bisa diberi tim cincang untuk

membantu merangsang pertumbuhan gigi, meskipun belum tumbuh gigi, bayi

dapat mengunyah dengan gusi. Untuk meningkatkan kandungan gizi, makanan

pada usia ini dapat ditambah minyak. Minyak akan menambah kalori dan

meningkatkan penyerapan vitamin A dan zat gizi lain.

Usia 9 bulan. Secara bertahap mulai dikenalkan makanan yang lebih kental

dan berikan makanan selingan 1 kali sehari. Makanan selingan berupa: bubur

kacang hijau, pudding susu, biscuit susu.

Usia 10 bulan. Kepadatan makanan ditingkatkan mendekati makanan

keluarga, mulai dari tim lunak sampai akhirnya nasi pada usia 12 bulan.

Apa yang harus diperhatikan dalam pemberian MP-ASI?

- Buatlah makanan dari bahan segar yang bebas pestisida dan pengawet.

- Jangan menggunakan MSG, untuk menggantinya dapat digunkan keju atau

kaldu.

- Kenalkan gula dan garam saat usia 12 bulan.

- Variasikan sehingga anak tidak bosan sehingga kelak anak terhindar dari

kesulitan makan di usia berikutnya.

- Jika membeli makanan bayi dalam kemasan perhatikan tanggal kadaluarsa.


2
4
2.2.2.2 Makanan anak usia 1-5 tahun

Pada usia ini anak sudah harus makan seperti pola makan keluarga, yaitu:

sarapan, makan siang, makan malam dan 2 kali selingan. Porsi makan pada usia

ini setengah dari porsi orang dewasa. Memasuki usia 1 tahun pertumbuhan mulai

lambat dan permasalahan mulai sulit makan muncul. Sementara itu aktivitas

mulai bertambah dengan bermain sehingga makan dapat dilakukan sambil

bermain. Namun selanjutnya akan lebih baik kalau makan dilakukan bersama

seluruh anggota keluarga dengan mengajarkannya duduk bersama di meja

makan.

Beberapa hal yang harus diperhaikan dalam pemberian makan anak usia 1-5

tahun:

- Selalu variasikan makanan yang diberikan meliputi makanan pokok, lauk

pauk, sayuran dan buah. Usahakan protein yang diberikan juga berganti

sehingga semua zat gizi terpenuhi.

- Variasikan cara mengolah sehingga semua bahan makanan dapat masuk,

misalnya anak tidak mau makanbayam maka bayam dapat dibuat dalam

telur dadar.

- Berikan air putih setiap kali habis makan.

2
5
- Hindari memberikan makanan selingan mendekati jam makan utama.

- Ketika masuk usia 2 tahun jelaskan manfaat makanan yang harus dimakan

sehingga dapat mengurangi rasa tidak sukanya.

Kebutuhan Gizi dan Anjuran Pembagian Makan Sehari Usia 6-8 bulan: 650

kalori

Bahan makanan Jml porsi Pagi Selingan Siang Selingan Sore


atau penukar (p) pagi sore
Nasi ½ ¼ ¼
Daging
Tempe
Sayur
Buah 1 ½ ½
Susu ½ ½
Minyak
ASI sekehendak
Taburia 1 sachet sehari
Total sehari 650 84 97 28

Contoh set hidangan:

Waktu Hidangan Bhn makanan Berat (g) Porsi (p) Energi

(kalori)

Pagi Bubur susu Tepung beras 12 ¼ 117

saus jeruk Susu bubuk 10 2/5

Jam 10 Buah jeruk Jeruk manis 25 ½ 52

pepaya

Pepaya 60 ½

2
6
Usia 9-11 bulan: 900 kalori

Bahan makanan Jml Pagi Selinga Siang Selinga Sore

atau penukar porsi (p) n pagi n sore

Nasi 1 ¼ ¼

Daging ½

Tempe ½

Sayur ½

Buah 1½ ½ ½

Susu ½ ½

Minyak ½

ASI sekehendak

Taburia 1 sachet sehari

Total sehari 900 122 36 123 25 143

Usia 12 bulan: 1100 kalori

Bahan makanan Jml Pagi Selinga Siang Selinga Sore

atau penukar porsi n n

(p) pagi sore

Nasi 2 ½ ½ 1 ½

Daging 1 ¼ ½ ¼

Tempe 1 ¼ ½ ¼

2
7
Sayur 1 ¼ ½ ¼

Buah 2 1 1

Susu ½ ½

Minyak 1½ ½ ½ ½

ASI sekehendak

Taburia 1 sachet sehari

Total sehari 1100 144 50 218 126 253

Usia 1-2 tahun: 1300 kal

Bahan makanan Jml Pagi Selinga Siang Selinga Sore

atau penukar porsi n n

(p) pagi sore

Nasi 2¼ 7/10 ¼ 7/10 6/10

Daging 1¼ ¼ ¼ ½ ¼

Tempe 1½ ½ ½ ½

Sayur 1½ ¼ ¼ ½ ½

Buah 2 ½ 1 ½

Susu

Minyak 1 ½ ¼ ¼

ASI sekehendak

Taburia 1 sachet sehari

Total sehari 1300 221 149 261 87 235

2
8
Usia 1-2 tahun: 1300 kal

Bahan makanan Jml Pagi Selinga Siang Selinga Sore

atau penukar porsi (p) n pagi n sore

Nasi 2¼ 7/10 ¼ 7/10 6/10

Daging 1¼ ¼ ¼ ½ ¼

Tempe 1½ ½ ½ ½

Sayur 1½ ¼ ¼ ½ ½

Buah 2 ½ 1 ½

Susu

Minyak 1 ½ ¼ ¼

ASI sekehendak

Taburia 1 sachet sehari

Total sehari 1300 221 149 261 87 235

Usia 3-5 tahun: 1400 kal

Bahan makanan Jml Pagi Selinga Siang Selinga Sore

atau penukar porsi n n

(p) pagi sore

Nasi 3 1 1 1

Sayur 2 ¾ ¾ ½

Buah 2½ ½ 2

10
Tempe 2 1 1

Daging 3 1 1 1

Minyak 2 ½ ¾ ¾

Gula 2 1 1

Susu 1 1

Total sehari 1400 293,75 75 381,25 275 375

Patokan porsi yang digunakan:

1. Nasi 1 porsi= 3/4 gls=100 g=175 kal

2. Sayur 1 porsi= 1 gls=100 g=25 kal

3. Buah 1 porsi=1-2 bh=50-190 g=50 kal

4. Tempe 1 porsi= 2 ptg sdg=50 g=75 kal

5. Daging 1 porsi= 1 ptg sdg= 35 g=75 kal

6. Minyak 1 porsi= 1 sdt=5 g=50 kal

7. Gula 1 porsi= 1 sdm=13 g=50 kal

8. Susu bubuk (tanpa lemak) 1 porsi=4 sdm=20 g=75 kal

11
2.2.4 Mengatasi susah makan anak.

Susah makan merupakan problem yang dihadapi oleh hampir semua ibu- ibu.

Terkadang anak menolak makanan yang diberikan tanpa tahu apa penyebabnya.

Susah makan dapat pula terjadi karena pemberian makan kepada anak sudah salah

sejak awal. Misalnya anak terlalu lama diberi ASI dan pengenalan M-ASI terlambat,

tidak dikenalkan beragam bahan pangan, terlalu banyak diberi susu formula atau

banyak diberi makanan jajanan. Mengatasi susah makan dapat dilakukan dengan

berbagai cara, salah satunya adalah memberikan suasana makan yang nyaman dan

menyenangkan, perhatikan pula hal-hal berikut:

 Ajakan makan harus disampaikan dengan penuh kasih saying. Lebih

ideal jika disertai dengan menanamkan pemahaman tentang arti

makanan.

 Coba dengan menambahkan hal-hal menyenangkan seperti sambil

menonton TV, mendengarkan music atau bermain tetapi usahakan

anak tetap duduk dan sambil berkomunikasi.

 Coba ajak makan bersama temannya.

 Ajak makan bersama seluruh anggota keluarga dan duduk bersama di

meja makan. Biarkan anak makan sendiri dengan alat makan yang

sama dengan anggota keluarga yang lain.

 Buat jadwal makan secara teratur sehingga lama kelamaan anak akan

kenal dan tahu waktunya makan.


BAB III

LAPORAN KEGIATAN

3.1 Metode

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Quasi Experiment.

Untuk menilai Pengaruh Pemberian Penyuluhan Menu Makanan Seimbang terhadap

Peningkatan Tinggi Badan Balita Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Air Tawar

Padang.

3.2 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah dengan rancangan one group pre and

posttest design, yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama

melihat pengaruh Pengaruh Pemberian Penyuluhan Menu Makanan Seimbang

terhadap Peningkatan Tinggi Badan Balita Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Air

Tawar Padang berdasarkan grafik TB/U pada grafik Z-Score. Pengolahan Data

dengan menyajikan data statistik dasar berupa rerata dan simpangan baku. Untuk

mengetahui Pengaruh Pemberian Penyuluhan Menu Makanan Seimbang terhadap

Peningkatan Tinggi Badan Balita Stunting dan dilakukan uji statistik repeated

measured anova.

3.3 Subjek Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua balita stunting

yang berada di wilayah kerja Puskesmas Air Tawar


2.Ukuran Sampel

Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah multistage random

sampling, yakni mengambil sebagian dari anggota populasi yang memenuhi

criteria inklusi untuk dijadikan sampel penelitian

Dengan metode sampling :

𝑍𝛼 2 𝑋𝑃𝑋𝑄
𝑛=[ ]
𝑑2

Keterangan :

n = Jumlah Sampel
P = Proporsi
Q = 1-P
d = Tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki (ditetapkan)
α = Tingkat kemaknaan (ditetapkan)

3. MetodePengumpulanSampel

Metode pengumpulan sampel diperoleh melalui data primer dan sekunder

yang diperoleh dari laporan puskesmas mengenai jumlah penduduk dan jumlah

balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Air Tawar Padang.

3.4 Penyajian Data

Data yang telah terkumpul akan di tabulasi dan ditampilkan dalam bentuk

tabel, diagram dan penjelasan naratif.

3.5 Variabel Penelitian

Pada penelitian ini, yang menjadi variable penelitian adalah balita stunting

yang tercatat pada periode 2018 hingga Juni 2019.


3.6 Definisi Operasional

1. Stunting

Definisi : Gabungan dari kategori status giz sangat pendek dan pendek.

Sangat pendek jika Z-Score <3SD, dan pendek jika Z-Score -

3SD- 2SD (Kemenkes)

Alat Ukur : Antropometri

Cara Ukur : Dengan menggunakan WHO-Antropometri TB/U dengan

memperhatikan umur, tanggal survey dan jenis kelamin

Hasil Ukur : Jumlah stunting

Skala Ukur : Numerik

2. Kenaikan Tinggi badan

Definisi : Naiknya kurva TB/U pada skala antropometri WHO Z-Score

setelah 1 bulan penelitian

Alat Ukur : Antropometri

Cara Ukur : Dengan menggunakan WHO-Antropometri TB/U dengan

memperhatikan umur, tanggal survey dan jenis kelamin

Hasil Ukur : Jumlah anak yang mengalami peningkatan tinggi badan

Skala Ukur : Numerik

3.7 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu persiapan penelitian,

pengambilan data penelitian, dan pelaporan hasil penelitian.


Persiapan penelitian diawali dengan penentuan tema dan judul penelitian

dengan berdiskusi dengan pihak Puskesmas Air Tawar Padang dan dimulai

pengambilan data sekunder dari data laporan tahunan dan register Balita Stunting di

Wilayah Kerja Puskesmas Air Tawar. Hasil yang diperoleh kemudian direkap dan

disusun dalam penyusunan laporan penelitian.

3.8 Tempatdan Waktu

Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2019. Pengambilan data

dilakukan di Puskesmas Air Tawar Kota Padang Provinsi Sumatera Barat.


BAB IV
GAMBARAN UMUM
A. Geografis
Puskesmas Air Tawar mempunyai wilayah kerja kurang lebih 3,28 km2
dengan akses jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda
empat, yang terdiri dari tiga (3) kelurahan:
a) Kelurahan Air Tawar Barat
b) Kelurahan Air Tawar Timur
c) Kelurahan Ulak Karang Utara
Puskesmas Air Tawar berbatasan dengan :
a) Sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Koto Tangah
b) Sebelah selatan berbatasan dengan wilayah kerja puskesmas
Ulak Karang
c) Sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Nanggalo
d) Sebelah barat berbatasan dengan samudra Indonesia
e) PETA WILAYAH KERJA PUSKESMAS AIR TAWAR

B. Demografi
Wilayah Puskesmas Air Tawar dengan jumlah penduduk sekitar
31.182 jiwa dengan jumlah laki laki sebanyak 15.597 jiwa dan perempuan
sebanyak 15.585 jiwa.Puskesmas Air Tawar terdiri dari 23 RW dan 95 RT
serta mempunyai 3 LMPK .
Adapun rincian data penduduk perkelurahan seperti pada Tabel 2.1
dibawah ini:
LUAS JUMLAH PENDUDUK JUMLAH
NO KEL
WILAYAH L P Total RUMAH
(km2) TANGGA
1 ATB 1,10 8114 7.437 15.551 1.980
2 ATT 0,60 4239 5.097 9.336 423
3 UKU 1,50 3244 3.051 6.295 756
JUMLAH 3,2 15.597 15.585 31.182 3.159
Tabel 2.1 Distribusi Penduduk perkelurahan tahun 2018
Dari tabel 2.1 didapat data sasaran program tahun 2018 sebagai
berikut di tabel 2.2
No Kel Bumil Bufas Bayi 6-11 bln Bayi 0-11 bln Balita 0 -5 thn

L P Total L P Total L P Total

1 ATB 304 294 33 34 67 141 138 279 683 677 1360

2 ATT 123 117 84 84 168 56 58 114 272 264 536

3 UKU 185 176 50 49 99 84 84 168 409 400 809

Jumlah 612 587 167 167 334 281 280 561 1364 1341 2705

Tabel 2.2 Data Sasaran Program Tahun 2018


C. Kondisi Sosial Budaya dan Ekomoni
Dari sisi hubungan sosial kemasyarakatan, warga Kecamatan Padang
Utara khususnya wilayah kerja Puskesmas Air Tawar termasuk cukup
harmonis dalam pluralitas budaya dan agamanya. Dengan semakin
banyaknya penduduk pendatang, sikap mental dan tingkat kepedulian warga
masyarakat atas lingkungannya perlu ditingkatkan melalui kegiatan kerja
bakti dan kegiatan gotong royong lainnya.Untuk mengantisipasi dampak
sosial akibat remaja putus sekolah atau angkatan kerja yang belum
mendapatkan pekerjaan, perlu adanya pembinaan/pelatihan ketrampilan.
Kelompok utama pekerjaan masyarakat di wilayah Puskesmas Air
Tawar adalah PNS/TNIPOLRI, wiraswasta, nelayan dan lain-lain sedangkan
tingkat pendidikan yang utama adalah SLTA, SLTP, SD, PT
D. Sarana dan Prasarana Umum
Sarana dan Prasarana umu yang dimiliki Puskesmas Air Tawar tahun
2018 :
1. Sarana ibadah: mesjid dan mushalla.
2. Sarana-sarana lingkungan: Perumahan,Tempat-Tempat Umum
(TTU), Tempat Pengolahan Makanan (TPM), Sarana Air Bersih
(SAB) dan Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL).
3. Sarana pendidikan: dari PAUD hingga PT, SLB dan PAUD
(Pendidikan Anak Usia Dini)
4. Sarana pelayanan kesehatan terdiri dari sarana kesehatan milik
pemerintah, UKBM dan swasta. Sarana kesehatan pemerintah
selain Puskesmas Air Tawar juga terdapat 3 Puskesmas
Pembantu, Sedangkan UKBM berupa Posyandu balita berjumlah
31 posyandu.
5. Untuk sarana pelayanan kesehatan swasta antara lain adalah :
a) Klinik Swasta : 3
b) Dokter Praktek Umum : 10 Orang
c) Dokter Praktek Spesialis : 1 Orang
d) Bidan Praktek Swasta : 5 Orang
e) Kader aktif : 87 Orang
f) Posyandu Balita : 25
g) Posyandu Lansia : 6
h) Apotik : 6
i) Toko Obat : 6
j) Batra : 15
Data Sarana Umum dan Lingkungan
No Sarana umum dan Jumlah
lingkungan
1 TPM 80
2 TTU 39
3 Sarana Air minum 27
4 Jamban sehat 3928
5 SPAL 3815

Tabel 2.3 Data Sarana Umum dan Lingkungan Tahun 2018


Wilayah kerja Puskesmas Air Tawar memiliki sarana pendidikan dari
berbagai jenjang, mulai dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar,
pendidikan lanjutan hingga perguruan tinggi yang tersebar di tiga kelurahan.
1 perguruan tinggi Negeri dan 2 swasta terletak di kelurahan di wilayah kerja
Puskesmas Air Tawar.
Semua murid dan siswa di semua sarana pendidikan dasar dan
lanjutan adalah sasaran pelayanan kesehatan Puskesmas Air Tawar, melalui
program-program Promkes, UKS, UKGS, KIA-Anak dan Imunisasi.
Data sarana pendidikan Tahun 2018 secara rinci dapat dilihat pada
Tabel 2.4. di bawah ini :
Kel PT
TK SD SMP SMA

ATB 6 8 2 2 1
ATT 3 5 0 0 1
UKU 0 2 1 1 1
jumlah 9 15 3 3 3

Tabel 2.4 Data Sarana Pendidikan Tahun 2018


Dilihat dari jumlah sekolah ini terlihat dengan 3 perguruan tinggi,
sehingga jumlah mahasiswa cukup banyak dari populasi di wilayah kerja
Puskesmas dengan mobilitas yang agak tinggi.
E. Sarana dan prasarana Khusus
Untuk melaksanakan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat
dalam wilayah kerja, Puskesmas Air Tawar memiliki sarana dan prasarana
yang cukup. Secara umum sarana dan prasarana tersebut meliputi:
1. Sarana fisik gedung
2. Sarana transport
3. Sarana pelayanan dan penunjang pelayanan
4. Sarana penunjang administrasi dan sistem informasi
Puskesmas Air Tawar memiliki 1 buah Puskesmas induk, dan 3 buah
Puskesmas pembantu yang tersebar di wilayah kerja Puskesmas Air Tawar
yaitu : 1. Puskesmas Pembantu Air Tawar Barat I
2. Puskesmas Pembantu Air Tawar Barat II
3. Puskesmas Pembantu Air Tawar Timur
Untuk kelancaran tugas pelayanan terhadap masyarakat, Puskesmas
Air Tawar mempunyai satu buah kendaraan roda empat ( Ambulance ) dan 2(
dua) buah kendaraan roda dua.

F. Ketenagaan
Data Ketenagaan Tahun 2018
Status
Jenis Kelamin
Jum Kepegawaian
N Pendidik
Jenis Tenaga
o an lah Laki- Perem Kontrak
Laki PNS
puan BLUD

1 Dokter Umum S1 2 0 2 1 1

2 Dokter Gigi S1 2 0 2 2 0

3 Ka TU S1 1 0 1 1 0

4 Perawat S1 1 0 1 1 0

D3 3 0 3 3 0

SPK 2 0 2 2 0

5 Bidan D3 8 0 8 8 0

6 Analis D4 1 0 1 1 0

D3 1 0 1 1 0
7 Apoteker S1 1 0 1 1 0

8 AA SMF/SAA 2 0 2 2( 1 0
tubel)

9 Sanitasi D4 1 0 1 1 0

10 Perawat Gigi D3 1 0 1 1 0

11 Gizi D4/D3 2 0 2 2 0

12 Administrasi S1 1 0 1 1 0

D3 2 0 2 0 2

13 Rekam Medis D3 1 0 1 1 0

14 Akuntan S1 1 0 1 0 1

15 Supir SLTP 1 1 0 0 1 /honor

Jumlah 34 1 33 29 5

Tabel 2.5 Data Ketenagaan Puskesmas Tahun 2018

Tahun 2018 Puskesmas Air Tawar mengalami perubahan jumlah


ketenagaan Yaitu 1 orang perawat pensiun, 2 orang pindah ke instansi lain
dan tambahan 1 orang rekam medis.

G. Visi, Misi, Strategi dan Tujuan


1. Visi Puskesmas
Visi Puskesmas Air Tawar : Masyarakat Air Tawar Yang Peduli Sehat,
Mandiri, Berkualitas, dan Berkeadilan.
2. Misi Puskesmas
Misi Puskesmas Air Tawar :
a. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan
masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani.
b. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya
upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan.
c. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan yang
berkualitas.
d. Menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan melayani.

3. Strategi Puskesmas
Untuk mewujudkan Visi dan misi Puskesmas Air Tawar .Puskesmas
Air Tawar terus berusaha memberikan pelayanan prima dengan strategi:
a. Peninjauan kembali peran dan fungsi lintas sektor dalam
pemberdayaan masyarakat
b. Penerapan SOP dalam setiap kegiatan di Puskesmas
c. Pengembangan kualitas SDM di Puskesmas.
d. Kelengkapan kebijakan kebijakan dalam administrasi Puskesmas

4. Tujuan Puskesmas
Sebagai tujuan akhir yang akan dicapai dari penjabaran visi, misi dan
strategi Puskesmas Air Tawar adalah meningkatnya kesadaran, kemauan
dan kemampuan hidup sehat bagi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas
Air Tawar sehingga tercipta lingkungan sehat .
G. Struktur Organisasi
Kegiatan yang akan dilakukan pada program Puskesmas tergambar dalam
struktur organisasi Puskesmas sebagai wadah penanggung jawab dari
pelaksanaan masing-masing program yang tercermin dalam struktur
organisasi Puskesmas yang dapat kita lihat pada lampiran laporan tahunan
ini.
H. Fungsi Puskesmas
1. Sebagai Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan.
Puskesmas selalu berupaya menyelenggarakan dan memantau
penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh
masyarakat dan dunia usaha diwilayah kerjanya sehingga
berwawasan dan mendukung pembangunan kesehatan. Disamping
itu aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari
penyelenggaraan program diwilayah kerjanya khususnya untuk
pembangunan kesehatan dan pencegahan penyakit dan pemulihan
kesehatan.
2. Sebagai pusat pemberdayaan masyarakat
Puskesmas selalu berupaya agar perorangan, masyarakat, pemuka
masyarakat, dan keluarga serta dunia usaha memiliki kesadaran,
kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat
untuk hidup sehat, berperan dalam memperjuangkan kepentingan
kesehatan, pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat
dengan memeperhatikan kondisi dan situasi masyarakat setempat.
3. Sebagai Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama, yang
memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh, terpadu dan
seimbang yang menjadi tanggung jawab Puskesmas dan meliputi
pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan
masyarakat.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Gizi diartikan sebagai suatu proses organisme menggunakan makanan yang di

konsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan,

metabolisme, dan pengeluaran zat – zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan

kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ – organ serta menghasilkan

energi.
Stunting didefinisikan sebagai indikator status gizi TB/U sama dengan atau

kurang dari minus dua standar deviasi (-2 SD) dibawah rata-rata standar atau keadaan

dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak – anak lain seusianya

Intervensi yang diakukan pada 11 orang ibu balita stunting di Pauh Barat

untuk mengukur tingkat pengetahuan dan mendorong perubahan sikap terhadap

displin konsumsi gizi seimbang setiap memberi makan kepada anaknya. Pengukuran

tingkat pengetahuan dilakukan dengan pengisian kuisioner yang dibagikan sebelum

penyuluhan kemudian dibandingkan dengan sesudah penyuluhan. Sedangkan output

dari perubahan sikap ditandai dengan berkurangnya kejadian stunting pada anak

balita di Pauh Barat.

Dengan dilakukannya intervensi berupa penyuluhan, pembagian leaflet

stunting dan menu gizi seimbang serta penyebaran informasi terkait stunting dan

akibatnya melalui media audiovisual dapat memunculkan peningkatan pengetahuan

serta perbaikan terhadap sikap konsumsi gizi seimbang untuk mencegah stunting,

yang pada hasil akhirnya diharapkan dapat mencegah kejadian stunting pada anak

balita di Pauh Barat.

5.2 Saran
Adanya respon yang positif terhadap hasil intervensi sederhana pada

pelaksanaan mini project ini diharapkan diikuti dengan pemantauan berkelanjutan dan

kerjasama lintas sektoral. Pengawasan kader posyandu, bidan desa, dan tenaga

kesehatan terkait harus tetap terjalin dengan para ibu balita, sehingga kontinuitas

konsumsi gizi seimbang tetap terlaksana dengan baik. Edukasi berkelanjutan juga

harus dilaksanakan melaui program pokok kerja Puskesmas seperti pelaksaan

pemberdayaan kader posyandu mengenai gizi dan pelayanan ibu hamil di poli ibu.

Selain itu, diharapkan mini project ini dapat diteruskan pada ibu-ibu balita di

desa lainnya di wilayah kerja Puskesmas Pariaman sehingga pencapaian angka

kecukupan konsumsi gizi seimbang dan penurunan kejadian stunting pada balita

dapat terpenuhi.
LAMPIRAN

Lampiran Foto Kegiatan

Foto 1. ibu-ibu sedang menyimak materi yang sedang disampaikan


Foto 2. Pemberian Materi oleh Dokter

Foto 3. Tanya Jawab oleh dokter


Foto 4. Bersama ibu-ibu balita

Lampiran Media Visual


Foto 5. Leaflet Gizi Seimbang
Foto 6. Leaflet Gizi Seimbangs
Foto. 17 Leaflet Stunting
lampiran kuisioner

I. INDENTITAS IBU

A Identitas Sampel (Ibu Balita)

1 Nomor ID

2 Nama ……………………………………..

3 Usia ……………… th

4 Pendidikan [ ] tamat SD

[ ] tamat SMP

[ ] tamat SMA

5 Pekerjaan [ ] Tidak bekerja/ ibu RT

[ ] Karyawan swasta/ PNS

6 Alamat Rumah
Dukuh,RT/RW

Desa ……………...RT ……..RW….….

Kecamatan …………………………………..

………………………………….

7 Nama Suami ………………………………….

8 Usia ……………… th

9 Pendidikan [ ] tidak tamat SD/tamat SD

[ ] tamat SMP

[ ] tamat SMA

[ ] DIII/sarjana/S2

10 Pekerjaan [ ] Tidak bekerja

[ ] wiraswasta

[ ] Karyawan swasta/ PNS


I. IDENTITAS KELUARGA DAN ANAK BALITA
B Identitas keluarga
1 Jumlah anak …………………orang

2 Anak dibawah 5 tahun …………………orang

3 Anak diatas 5 tahun …………………orang

4 Jumlah anggota keluarga lain


…………………orang
yang hidup serumah

C Identitas anak balita

1 Nama ………………………………………

2 Usia ……………………bulan

3 Jenis Kelamin 1.[ ] laki-laki 2.[ ] perempuan

4 Berat badan lahir …………………….kg

5 Berat badan sekarang …………………….kg

6 Tinggi/ panjang badan sekarang …………………….cm

7 Lama PMT pemulihan yang sudah ……………hari

diberikan

8 ASI eksklusiv [ ] ya [ ] tidak


9 Penyakit yang diderita selama

Pengamatan ………………………………………

10 Saat ini masih minum ASI [ ] ya [ ] tidak

11 Immunisasi [ ] lengkap sesuai umur

[ ] belum lengkap sesuai umur

yaitu…………………………….

Penyakit yang saat ini diderita [ ] ISPA [ ] TBC

[ ] Gastroenteritits [ ] Penyakit kulit

[ ] bronchitis

[ ] kecacingan

[ ] lainnya : .......................................................

Gejala dan tanda gizi buruk yang [ ] sangat kurus, tulang iga kelihatan

Didapatkan [ ] pipi kempot, wajah seperti orang tua

[ ] bengkak seluruh tubuh

[ ] rambut kemerahan, mudah rontok


[ ] rewel

[ ] apatis

[ ] kulit bercak merah muda, kecoklatan/

menghitam, mengelupas

……………………………………………….
Hasil pemeriksaan laboratorium

……………………………………………….
atau rontgen yang pernah ada

dalam dua bulan ini ……………………………………………….

Pengasuh utama ……………………………………………….

……………………………………………….

Tanggal Wawancara

Nama Petugas ……………………………………

Tanda tangan petugas

Tanggal memasukkan data

I. KUESIONER PENGETAHUAN IBU TENTANG PERBAIKAN STATUS GIZI

ANAK BALITA
No ITEM B S Skor

1 ASI eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja


B S
pada bayi, tanpa susu /makanan yang lain

2 ASI eksklusif diberikan sampai 6 bulan B S

3 ASI yang pertama kali keluar dinamakan


B S
Kolostrum

4 Pada anak diatas 12 bulan, ASI tidak perlu lagi


B S
Diberikan

5 Yang dimaksud gizi seimbang adalah makanan

yang mengandung zat tenaga, pembangun dan B S

Pengatur

6 Anak balita perlu diberikan makanan yang

beraneka ragam sesuai pedoman gizi seimbang B S

agar tercukupi kebutuhan gizinya

7 Disamping makan tiga kali sehari anak balita B S


diatas 9 bulan perlu diberi makanan selingan.

8 Manfaat KMS adalah untuk mengetahui


B S
pertumbuhan anak balita

9 Cara memperbaiki nafsu makan anak adalah dengan


B S
mengganti- ganti hidangan anak.

10 Tujuan pemberian makanan pada anak balita gizi


B S
buruk agar kenyang dan dapat tidur nyenyak.

11 Bila anak balita diberi makan telur akan


B S
menyebabkan bisul

12 Bila anak balita diberi makan telur akan


B S
menyebabkan bisul

13 Telur dan tempe merupakan makanan sumber zat


B S
Pembangun

14 Buah-buahan tidak baik untuk anak balita karena


B S
dapat menyebabkan diare

15 Dalam pengolahan makanan anak balita perlu


B S
memakai garam beryodium
16 Cara memasak sayur yang baik adalah merebus
B S
makanan anak balita sampai lembek

17 Buah- buahan dapat juga diberikan pada anak


B S
balita sebagai makanan selingan

18 Makanan yang bervariasi baik untuk pertumbuhan


B S
anak balita

19 Manfaat KMS adalah untuk mengetahui


B S
pertumbuhan anak balita

20 Balita gizi buruk bila berat badannya pada KMS


B S
dibawah garis merah.

21 Sebaiknya anak balita ditimbang sebulan sekali di


B S
posyandu untuk mengetahui pertumbuhannya

22 Bila berat badan anak berada di bawah garis merah


B S
artinya anak balita gizinya baik

23 Jika berat badan anak balita bulan ini naik B S


dibandingkan bulan lalu berarti pertumbuhan anak

balita baik

24 Pertumbuhan anak balita yang terlambat karena


B S
faktor keturunan

25 Penyabab anak balita kekurangan gizi adalah


B S
karena kurang minum susu formula/susu buatan

II. KUESIONER SIKAP IBU TENTANG PERBAIKAN STATUS GIZI ANAK

BALITA

JAWABAN
No ITEM
SS S R TS STS

1 Saya akan memberikan Asi saja pada anak saya

sejak baru lahir sampai umur 6 bulan


2 Saya perlu mengetahui jenis sumber makanan

yang diperlukan anak balita

3 Seorang ibu berkewajiban mengetahui kebutuhan

makanan anak sesuai umur dan perkembangannya

4 Menurut pendapat saya anak balita perlu diberi

aneka ragam makanan agar gizinya tercukupi

5 Sebelum menyuapi anak balita saya akan selalu

mencuci tangan dengan sabun

6 Sebelum menyuapi anak balita saya akan selalu

mencuci tangan dengan sabun

7 Saya akan selalu mengontrol makanan anak balita

walaupun yang memberikan orang lain/pengasuh

8 Menurut saya, dalam memberikan makanan

kepada anak balita yang penting anak kenyang.

9 Saya harus menimbangkan anak balita ke

posyandu setiap bulan agar bisa mengetahui


pertumbuhannya.

10 Saya akan konsultasi kepada petugas kesehatan

jika berat badan anak balita turun dibandingkan

bulan lalu dan berada pada pita merah

DATA ANTROPOMETRI

Kode : An

Nama anak : ......................................... No ID : .......................................

Nama ibu : .........................................

Alamat : .........................................

Hasil Pemantauan Tanggal


Berat badan/kg

Tinggi Badan /cm

Status Giza (Z-Score ,WHO,NHCS)

Wawancara /Tugas Pemantau

DAFTAR PUSTAKA
1. Abuya, A.A., Kimani, K.J., & Elijah, O.O. (2010). Influence of

maternal educationon child health in Kenya.

http://paa2010.princeton.edu/download.aspx?submissionId=100182

2. American Thyroid Association. (2011). Iodine deficiency.

http://www.thyroid.org/patients/patient_brochures/iodine_deficienc

y.html

3. Anderson, J., & Young, L. (2008). Fat-soluble vitamins.

http://www.ext.colostate.edu/pubs/foodnut/09315.html

4. Arisman. (2008). Gizi dalam daur kehidupan : buku ajar ilmu gizi,

ed. 2. Jakarta : EGC.

5. Astari, L.D., Nasoetion, A., & Dwiriani, C.M. (2005). Hubungan

karakteristik keluarga, pola pengasuhan dan kejadian stunting

anak usia 6-12 bulan. Media Gizi & Keluarga, 29 (2) : 40-46.

6. Bobroff, L.B., & Jensen, N.C. (2009, Desember). Facts about vitamin

A. http://edis.ifas.ufl.edu/pdffiles/fy/fy20600.pdf
7. Brown, J.E. (2005). Nutrition through the life cycle (2nd ed.). USA :

Wadsworth.

8. B vitamins. (2011).

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/bvitamins.html

9. Children at risk of stunting and wasting.

http://www.dairyglobalnutrition.org/content.cfm?ItemNumber=883

74

10. Consumption and cost.

http://www.jabarprov.go.id/root/dalamangka/dda2003Konsumsi.pdf

11. Dietary fats: know which types to choose. (2011, February15).

http://www.mayoclinic.com/health/fat/NU00262

12. Depkes RI. (2004). Sistem Kesehatan Nasional.

http://www.depkes.go.id/downloads/SKN+.PDF

13. Depkes RI. (2008). Strategi nasional sanitasi total berbasis

masyarakat.

http://www.depkes.go.id/downloads/pedoman_stbm.pdf
14. Facts for feeding: feeding low birthweight babies. (2006).

http://www.linkagesproject.org/media/publications/FFF_LBW_3-

30- 06.pdf

15. Norhayati, Noorhayati, Mohammod, Oothuman, Azizi, Fatimah, &

Fatmah. Malnutrition and its risk factors among children 1-7 years

old in rural Malaysian communities. Asia Pasific Journal of

Clinical Nutrition (1997) volume 6, Number 4:260-264.

http://apjcn.nhri.org.tw/server/apjcn/Volume6/vol6.4/norhayatil.htm

16. Pengertian dasar imunisasi. (2011).

http://www.artikelkedokteran.com/540/pengertian-dasar-

imunisasi.html

17. Reyes, L., & Manalich, R. (2005). Long term consequences of low

birth weight.

http://www.nature.com/ki/journal/v68/n97s/pdf/4496408a.pdf

18. Shrestha, S.S., & Findeis, J.L. (2007). Maternal human capital and

childhood stunting in Nepal: a multi level modeling approach.

http://ageconsearch.umn.edu/bitstream/9723/1/sp07sh02.pdf

19. Teshome, B., Kogi-makau, W., Getahun, Z., & Taye, G. (2009).

Magnitude and determinants of stunting in children under five


years of age in food surplus region in Ethiopia: the case of West

Gojam Zone.

http://ejhd.uib.no/ejhdv23n2/98%20Magnitude%20and%20determi

nants %20of%20stunting%20in%20children%20under-.pdf

20. UNICEF. (2004). Low birthweight: country, regional and

global estimate.

http://www.unicef.org/publications/files/low_birthweight_from_EY.

pdf

21. UNICEF. (2007). Progress for children.

http://www.unicef.org/publications/files/Progress_for_Children_No

_6_re vised.pdf

22. UNICEF. (2008). Complementary feeding.

http://www.unicef.org/nutrition/index_24826.html

23. University of Maryland Medical Center. (2011). Vitamin C (ascorbic

acid). http://www.umm.edu/altmed/articles/vitamin-c-000339.htm

24. University of Maryland Medical Center. (2011). Vitamin D.

http://www.umm.edu/altmed/articles/vitamin-c-000339.htm
25. Water and Sanitation Program-East Asia & The Pasific. Buku

penuntun opsi Sanitasi yang terjangkau untuk daerah spesifik.

http://www.wsp.org/wsp/sites/wsp.org/files/publications/wsp_Opsi_

Sanit asi_yang_terjangkau.pdf

26. WHO. (2011). 10 facts on sanitation.

http://www.who.int/features/factfiles/sanitation/en/index.html

27. WHO. (2011). Nutrition: complementary feeding.

http://www.who.int/nutrition/topics/complementary_feeding/en/inde

x.ht ml

28. WHO. (2011). 10 facts on nutrition.

http://www.who.int/features/factfiles/nutrition/en/index.html

29. Worthington-Roberts, B.S., & Williams, S.R. (2000). Nutrition

throughout the life cycle (4th ed.). Singapore : McGraw-Hill

30. Fat.(2011).

http://health.nytimes.com/health/guides/nutrition/fat/overview.html

31. Frost, M.B., Forste, R., & Haas, D.W. (2005). Maternal education and

child nutritional status in Bolivia : finding the links. Social


Science and Medicine, 60, 395- 407.

http://www.hawaii.edu/hivandaids/Maternal_Education_and_Child_

Nutrit ional_Status_in_BoliviaFinding_the_Links.pdf

32. Gurung, G. (2009). Investing in mother’s education for better

maternal and child health outcomes. Journal of Rural and Remote

Health Research, Education, Practice and Policy.

http://www.rrh.org.au/publishedarticles/article_print_1352.pdf

33. Hong, R., Banta, J.E., & Betancourt, J.A. (2006). Relationship

between household wealth inequality and chronic childhood under-

nutrition in Bangladesh. International Journal for Equity in

Health. http://www.equityhealthj.com/content/pdf/1475-9276-5-

15.pdf

34. Hutagalung, H. (2004). Karbohidrat.

http://library.usu.ac.id/download/fk/gizi- halomoan

35. Immunizations-general overview. (2010)

http://health.nytimes.com/health/guides/specialtopic/immunizations-

general-overview/overview.html

36. Iron. (2011). http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/iron.html


37. Iron deficiency anemia. (2011).

http://www.mayoclinic.com/health/iron- deficiency-

anemia/DS00323

38. Iron Disorders Institute. (2009). Iron overload.

http://www.irondisorders.org/iron-overload

39. Lifewater Internasional. Clean water changed lives: the crisis.

http://www.lifewater.org/water-crisis

40. Mbuya, M.N.N., Chidem, M., Chasekwa, B., & Mishra, V. (2010).

Biological, social, and environmental determinants of low

birthweight and stunting among infants and young children in

Zimbabwe. http://pdf.usaid.gov/pdf_docs/PNADR633.pdf

41. McKinley Health Center. (2008). Macronutriens: the importance of

carbohydrate, protein, and fat.

http://www.mckinley.illinois.edu/handouts/macronutrients.htm

42. National Institute of Health. (2011, June 24). Dietary supplement fact

sheet: vitamin C.http://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminC-

QuickFacts
43. Kementrian desa dan transmigrasi. 2007. Buku saku desa dalam

penanganan stunting. Jakarta

44. Hestuningtyas, NR & Noer ER. (2014). Pengaruh konseling gizi

terhadap pengetahuan, sikap, praktik ibu dalam pemberian

makan anak, dan asupan zat gizi anak stunting usia 1-2 tahun di

kecamatan semarang timur.

45. Wiyogowati, Citaningrum. (2012). Kejadian stunting pada anak

berumur dibawah lima tahun tahun (0-59 bulan) di provinsi papua

barat tahun 2010 (analisis data riskesdas 2010) skripsi.

Universitas Indonesia. Jakarta

46. Data PPDGM Puskesmas Pariaman. Jumlah Balita stunting di

wilayah kerja Puskesmas Pariaman tahun 2018