Anda di halaman 1dari 9

UJIAN AKHIR SEMESTER

PENDEKATAN DAN TEKNIK DALAM BK

OLEH

ADLI JULIANDRA

16151002

PROGRAM STUDI S2 BIMBINGAN KONSELING

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2017
Penjelasan matrik pendekatan dalam konseling keterkaitan antara unsur pendekatan
dan tahapan proses pelaksanaan konseling menyeluruh

1. Harkat dan martabat manusia terwujud dalam dalam kehidupan manusia di tunjang oleh 5
unsur presdiposisi manusia dalam bentuk hati, otak, potensi dasar, energi dan petunjuk dari
Allah yang kelimanya bersinergi dalam dinamika kehidupan ber BMB3 dan ber – Lima
bersih , serta bersih dalam hak dan kewajiban alam beriman dan bertaqwa, bersih dalam
perkenalan dan pergaulan, bersih dalam kesehatan fisik dan lingkungan. Kehidupan ideal
terwujudkan dengan KES sepenuhnya, seiring dengan kondisi kemandirian dan kemampuan
meraih sukses untuk mencapai kondisi kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

2. Manusia yang mandiri dan sukses dalam berkehidupan kesehariannya dapat menampilkan
prilaku yang efektif untuk sebagian besar (diharapkan semua) sisi kehidupannya. Itulah yang
dinamakan kehidupan efektif sehari-hari (KES), dari bangun tidur di pagi hari, beraktivitas
seharian, sampai dengan tidur lagi di malam hari, prilaku tidur itupun termasuk ke dalam
KES, prilaku KES itu mengandung di falamnya unsur unsur bermutu yaitu, tujuan,
kompetensi, hasil, nilai dan moral, dan konteks , Kondisi KES dan KES-T individu pada
dasarnya adalah gatra.Kedua gatra besar itu dapat diurai menjadi gatra-gatra yang lebih kecil,
sampai menjadi gatra-gatra sangat spesifik yang dapat dikenali secara lebih akurat ADD-nya
sehingga dapat diberikan ADD yang spesifik dan akurat pula. ADL-ADL yang akurat itu
akan membentuk gatra-gatra baru dengan kandungan ADD-ADD yang lebih bermutu dan
menunjang bagi terbangunnya kehidupan individu dengan masidu yang lebih positif.

3. Tingkah laku individu yang bersumber pada pancadaya itu diwarnai oleh lima kondisi yang
ada pada diri individu (masidu) yaitu: (1) rasa aman, (2) kompetensi, (3) aspirasi, (4)
semangat, dan (5) penggunaan kesempatan. Pengembangan pancadaya dan masidu
berlangsung melalui dan dipengaruhi oleh segenap unsur likuladu. Lebih jauh, dinamika dan
interaksi pancadaya-likuladu-masidu akan membentuk pribadi individu yang setiap kali
terwujud dalam bentuk tingkah laku.

4. Pendekatan direktif cenderung memberiakn arahan langsung kepada subjek yang dilayani
berkenan dengan pengembangan KES dan pengembangan KES-T, dalam pendekatan direktif
ini konselor cenderung pada posisi sangat aktif, sedang subjek yang dilayani lebih cenderung
pasif dalam dalam memahami dan menerima berbagai hal dari konselor, sebalikanya, dalam
pendekatan non direktif iini konselor berusaha sekuat tenaga menggerakan subjek yang
dilayani untuk berpikir, merasa, bertindak berkenaan dengan materi yang dibahas dalam
layan konseling.

5. .Manusia yang mandiri dan sukses dalam berkehidupan kesehariannya dapat menampilkan
prilaku yang efektif untuk sebagian besar (diharapkan semua) sisi kehidupannya. Itulah yang
dinamakan kehidupan efektif sehari-hari (KES), dari bangun tidur di pagi hari, beraktivitas
seharian, sampai dengan tidur lagi di malam hari, prilaku tidur itupun termasuk ke dalam
KES, prilaku KES itu mengandung di falamnya unsur unsur bermutu yaitu, tujuan,
kompetensi, hasil, nilai dan moral, dan konteks, konseling mendorong terjadinya pembebasan
yang memungkinkan individu mengaktifkan potensi/ energi yang ada pada dirinya dan
membawa individu ke arah pembangunan diri bagi kemandiriannya dengan memanfaatkan
sebesar-besarnya potensi/ energi baik yang ada bagi diri individu maupun di luarnya/
lingkungan..

6. bahwa manusia adalah makhluk yang tertinggi derajatnya. Ketertinggian derajat ini
diperlengkapi dengan lima dimensi kemanusiaan yang melekat pada diri setiap insan, yaitu:
 Dimensi fitrah (dimfit): kesucian dan keluruhan.
 Dimensi keindividualan (dimin): potensi dan perbedaan.
 Dimensi kesosialan (dimsos): komunikasi dan kebersamaan
 Dimesi kesusilaan (dimsus): nilai dan moral.
 Dimensi keberagaman (dimag): iman dan takwa.

7. Energi yang terdapat pada diri individu selain kondisi jasmaninya, terpancar dalam
pancadaya yang meliputi daya takwa, cipta, rasa, krasa, dan karya. Individu merupakan
sebuah gatra luar biasa yang meliputi gatra-gatra yang lebih kecil yang jumlahnya tak
terhingga. Perkembangan individu secara menyeluruh dan terpadu itu yang meliputi
perkembangan gatra-gatra dengan ADD dan ADL-nya serta perkembangan segenap unsur
pancadaya dan dimensi kemanusiaan merupakan hasil dari lima kekuatan di luar individu
(likuladu), yaitu gizi, pendidikan, sikap, dan perlakuan orang lain, budaya, dan kondisi
insidental.

8. Setiap individu berpotensi untuk melaksanakan berbagai tingkah laku secara tidak terbatas,
bebas, tetapi seringkali individu perlu atau bahkan harus bertingkah laku dengan pola tertentu
apabila ia hendak memasuki kehidupan social budaya dilingkungannya. Kehidupan sosio-
budaya penuh dengan nilai, moral dari norma yang mengacu kepada lima ranah atau tataran
kehidupan (lirahid), yaitu ranah atau tataran jasmaniah-rohaniah, individual-sosial, material-
spiritual, dunia-akhirat dan lokal global/ universal.

9. Bahwa manusia lebih dekat pada kulturnya sehingga masalah yang dihadapi manusia pada
umumnya berkembang. Hal ini merupakan hasil/ akibat dari konflik manusia dengan
lingkungannya. Oleh karena itu, manusia harus belajar mempergunakan pemecahan masalah
yang berdasar pada kenyataan objektif.

10. bahwa manusia adalah makhluk yang tertinggi derajatnya. Ketertinggian derajat ini
diperlengkapi dengan lima dimensi kemanusiaan yang melekat pada diri setiap insan, dalam
melihat masalah manusia agar jenis jenis dan kegiatan kegiatan pendukung berjalan dengan
sebaik baiknya, maka setiap jenis layan konseling perlu di selenggarakan dengan memenuhi
standar prosedur operasioanal (SPO) yang di tentukan yaitu, pengantaran, penjajagan,
penafsiran, pembinaan dan penilaian.
1. Pengantaran, yaitu kegiatan awal untuk membangun suasana rapport sehingga
klien memasuki proses konseling dengan rasa aman, nyaman, dinamis, positi
dan sukarela.

2. Penjajakan, yaitu kegiatan untuk mengungkapkan kondisi diri klien


(perasannya, pikirannya, keinginan, sikap dan kehendaknya, serta
pengalamannya) dalam suasana kekinian
3. Penafsiran, yaitu kegiatan untuk mendalami dan memahami lebih jauh atas
berbagai hal yang dikemukakan klien melalaui proses klien berpikir, merasa,
bersikap, kemungkinan bertindak dan bertanggung jawab (BMB3) secara
positif. Kegiatan ini dapat terarah pada analisis diagnosis terhadap kondisi
yang perlu diperbaiki.
4. Pembinaan, yaitu kegiatan yang menunjang terbangunnya KES dan/atau
teratasinya KES-T, berdasarkan hasil analisis diagnosis, terarah pada
dipahaminya/ dikuasainya acuan yang tepat, kompetensi yang memadaqi,
upaya yang efektif, perasaan positif, dan kesungguhan yang menjamin
suksesnya usaha.
5. Penilaian, yaitu kegiatan untuk mengetahui hasil yang dicapai klien melalui
kegiatan belajarnya dalam proses konseling yang ia jalani, dan tindak
lanjutnya.

11. Hakikat manusia itu yaitu sebgai makhluk Allah yang ber pancacitra :
 Beriman dan bertakwa kepada Allah
 Diciptakan paling sempurna
 Paling tinngi derajatnya
 Sebagai khalifah di muka bumi
 Menyandang HAM (Hak hak azasi manusia)
Untuk mencapai HMM yang PERPOSTUR haruslah disertai dengan unsur AKURS
dan dimulai dari diri sendiri
Dari poin diatas untuk mencapai konsep berpostur manusia harus memahami Harkat dan
martabat manusia terwujud dalam dalam kehidupan manusia di tunjang oleh 5 unsur
presdiposisi manusia dalam bentuk hati, otak, potensi dasar, energi dan petunjuk dari Allah
yang kelimanya bersinergi dalam dinamika kehidupan ber BMB3 dan ber – Lima bersih ,
serta bersih dalam hak dan kewajiban alam beriman dan bertaqwa, bersih dalam perkenalan
dan pergaulan, bersih dalam kesehatan fisik dan lingkungan. Kehidupan ideal terwujudkan
dengan KES sepenuhnya, seiring dengan kondisi kemandirian dan kemampuan meraih
sukses untuk mencapai kondisi kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

12. Kondisi pada diri itu sangat mempengaruhi tingkah laku, kondisi positif akan
menghasilkan tingkah laku yang menjurus kepada efektifitas dan efiensensi yang tinggi,
sedangkan kondisi negatif akan mewujudkan tingkah laku yang tidak memadai serta tidak
sesuai dengan nilai, moral, dan norma-norma yang berlaku.

13. Tingkah laku individu yang bersumber pada pancadaya diwarnai oleh lima kondisi yang
ada pada diri individu (masidu), yaitu, : rasa aman, kompetensi, aspirasi, semangat, dan
penngunaan kesempatan, untuk mencapai konsep PERPOSTUR seaharusnya dapat
diwujudkan dengan kehidupan yang damai, berkembang maju, sejahtera, dan bahagia dunia
dan akhirat.
14. Tujuan konseling adalah menolong individu untuk secara bertahap dan pelan-pelan
semakin memahami dan semakin terampil mengatur dirinya sendiri, agar kehidupannya
efektif.

15. Dalam mewujudkan konsep PERPOSTUR berserta dengan akurs kelima tahapan
prosedur harus dilaksanakan agar tercapai tujuan yang diinginkan dan unruk menunjang
proses dan hasil layanan

16. Pelayanan konseling dapat dan perlu diselenggarakan di mana saja dan kapan saja, yang
kesemuanya terfokus pada pengembangan KES dan penangan KES-T. Pada bagian ini
dikemukakan pelayanan konselingpada dua sisi kehidupan, yaitu sisi kehidupan diri individu
dan sisi tatanan kehidupan tertentu, kedua sisi kehidupan yang dimaksudkan itu memberi
fokus khusus, suasana, dan warna tersendiri dalam pelayan konseling.

17. disini di tekankan pentingnya pengatraan gatra pada diri individu yang dilayani gatra
adalah sesuatu yang penuh arti apa yang ada pada diri individun yang dilayani

18. Dalam pelayanan profesi konseling inti kegiatannya adalah belajar dan
pembelajaran, menuntut dipenuhinya seperangkat panduan operasional beserta sarana dan
prasarana pelaksanaannya. Pengelolaan pembelajaran dalam pelayanan konseling adalah
langkah-langkah dalam tahapan P3MT dalam operasionalisasi jenis layanan dan/ atau
kegiatan pendukung tertentu.
Jenis layanan konseling tersebut terdiri atas layanan informasi, orientasi, penempatan
dan penyaluran, penguasaan konten, konseling perorangan, bimbingan kelompok,
konseling kelompok, konsultasi, mediasi, dan advokasi. Sedangkan jenis kegiatan
pendukung itu adalah himpunan data, aplikasi instrumentasi, konferensi kasus, kunjungan
rumah, tampilan kepustakaan, dan ahli tangan kasus.
Pelaksanaan kegiatan konseling dengan menggunakan berbagai jenis layanan dan/
atau kegiatan pendukung memiliki tujuan untuk Pengembangan KES dan penanganan
KES-T. Individu yang KES atau KES-T bisa dilihat dari MASIDU. Seseorang dikatakan
KES apabila MASIDU-nya tercapai, kemudian keadaan KES-T seseorang apabila
MASIDU-nya tidak tercapai. MASIDU (lima kondisi yang ada pada diri individu)
merupakan warna dari tingkah laku individu yang bersumber dari pancadaya, yaitu:
1. Rasa aman
2. Kompetensi
3. Aspirasi
4. Semangat
5. Penggunaan kesempatan.

19. Dalam pelayanan profesi konseling inti kegiatannya adalah belajar dan pembelajaran,
menuntut dipenuhinya seperangkat panduan operasional beserta sarana dan prasarana
pelaksanaannya. Pengelolaan pembelajaran dalam pelayanan konseling adalah langkah-
langkah dalam tahapan P3MT dalam operasionalisasi jenis layanan dan/ atau kegiatan
pendukung tertentu.
Jenis layanan konseling tersebut terdiri atas layanan informasi, orientasi, penempatan
dan penyaluran, penguasaan konten, konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling
kelompok, konsultasi, mediasi, dan advokasi. Sedangkan jenis kegiatan pendukung itu adalah
himpunan data, aplikasi instrumentasi, konferensi kasus, kunjungan rumah, tampilan
kepustakaan, dan ahli tangan kasus.

20. agar jenis jenis dan kegiatan kegiatan pendukung berjalan dengan sebaik baiknya, maka
setiap jenis layan konseling perlu di selenggarakan dengan memenuhi standar prosedur
operasioanal (SPO) yang di tentukan yaitu, pengantaran, penjajagan,
penafsiran, pembinaan dan penilaian.
a) Pengantaran, yaitu kegiatan awal untuk membangun suasana rapport sehingga klien
memasuki proses konseling dengan rasa aman, nyaman, dinamis, positi dan sukarela.
b) Penjajakan, yaitu kegiatan untuk mengungkapkan kondisi diri klien (perasannya,
pikirannya, keinginan, sikap dan kehendaknya, serta pengalamannya) dalam suasana
kekinian
c) Penafsiran, yaitu kegiatan untuk mendalami dan memahami lebih jauh atas berbagai
hal yang dikemukakan klien melalaui proses klien berpikir, merasa, bersikap,
kemungkinan bertindak dan bertanggung jawab (BMB3) secara positif. Kegiatan ini
dapat terarah pada analisis diagnosis terhadap kondisi yang perlu diperbaiki.
d) Pembinaan, yaitu kegiatan yang menunjang terbangunnya KES dan/atau teratasinya
KES-T, berdasarkan hasil analisis diagnosis, terarah pada dipahaminya/ dikuasainya
acuan yang tepat, kompetensi yang memadaqi, upaya yang efektif, perasaan positif,
dan kesungguhan yang menjamin suksesnya usaha.
e) Penilaian, yaitu kegiatan untuk mengetahui hasil yang dicapai klien melalui kegiatan
belajarnya dalam proses konseling yang ia jalani, dan tindak lanjutnya.

21. Setiap penyelenggaraan layan konseling di tuntut mengahsilakan sesuatu secara


signifikan menungjang pengembangan KES dan/atau penanganan KES_T pada diri subjek
yang dilayani, keberhasilan layanan dimaksud itu di fokuskan pada aspek aspek AKURS,
yang berarti :
 A : acuan
 K : kompetensi
 U : usaha
 R : rasa
 S : Kesungguhan

22. layanan konseling dikatakan berhasil apabila pada diri subjek yang dilayan berkembang
acuan positif untuk berprilaku KES sebagaimana menjadi tujuan layan konseling, acuan ini di
sertai kompetensi untuk diwujudkan prilaku KES yang dimaksudkan, apabila acuan sudah
jelas dan kompetensi dikuasai, diharapkan subjek yang dilayani mampu mengembangkan
usaha dan kegiatan nyata untuk terwujudnya prilaku dan kehidupan yang diinginkannya.

23. keberhasilan layan konseling juga ditinjau dari sisi kondisi MASIDU yang ada pada diri
subjek, atau kondisi rasa yaitu rasa diri , rasa sosial, rasa nilai dan moral, dan rasa spritual ,
kondisi rasas yang dimaksudkan itu terkait dengan rasa senang, rasa lega, plong terbebas dari
beban, serta terkait pula dengan acuan, kompetensi dan usaha yang telah dikuasai dan hendak
dilaksanakan.

24. Hasil pelayanan konseling berupa PERPOSTUR dengan AKURS-nya itu perlu diperiksa
melalui tingkat-tingkat penilaian, yaitu:

1. Penilaian segera (laiseg) diakhir kegiatan layanan


2. Tindak lanjut (penilaian jangka pendek: laijapen, dan penialain jangka panjang:
laijapang) serta penuyusunan laporan
Penilaian ini berguna memastikan individu KES atau KES-T setelah melakukan proses
konseling. Proses konseling memiliki pendekatan direktif dan non-direktif. Direktif
merupakan konselor cenderung pada posisi aktif, sedang subjek yang dilayani cenderung
pasid dalam memahami dan menerima berbagai hal dari konselor. Sebaliknya Pendekatan
non-direktif konselor mendorong subjek yang dilayani untuk benar-benar aktif, sebagaimana
dikehendaki dalam asas kegiatan. Dalam pendekatan non-direktif konselor berusaha sekuat
tenaga menggerakan subjek yang dilayani untuk berfikir, merasa dan bertindak berkenaan
dengan materi yang dibahas dalam layanan konseling.

25. Hasil pelayanan konseling berupa PERPOSTUR dengan AKURS-nya itu perlu diperiksa
melalui tingkat-tingkat penilaian, yaitu:

1. Penilaian segera (laiseg) diakhir kegiatan layanan


2. Tindak lanjut (penilaian jangka pendek: laijapen, dan penialain jangka panjang:
laijapang) serta penuyusunan laporan
Penilaian merupakan salah satu dari Standar Prosedur Operasional (SPO). Adapun preseder
lima-an itu adalah:
1. Pengantaran, yaitu kegiatan awal untuk membangun suasana rapport sehingga
klien memasuki proses konseling dengan rasa aman, nyaman, dinamis, positi
dan sukarela.
2. Penjajakan, yaitu kegiatan untuk mengungkapkan kondisi diri klien
(perasannya, pikirannya, keinginan, sikap dan kehendaknya, serta
pengalamannya) dalam suasana kekinian
3. Penafsiran, yaitu kegiatan untuk mendalami dan memahami lebih jauh atas
berbagai hal yang dikemukakan klien melalaui proses klien berpikir, merasa,
bersikap, kemungkinan bertindak dan bertanggung jawab (BMB3) secara
positif. Kegiatan ini dapat terarah pada analisis diagnosis terhadap kondisi
yang perlu diperbaiki.
4. Pembinaan, yaitu kegiatan yang menunjang terbangunnya KES dan/atau
teratasinya KES-T, berdasarkan hasil analisis diagnosis, terarah pada
dipahaminya/ dikuasainya acuan yang tepat, kompetensi yang memadaqi,
upaya yang efektif, perasaan positif, dan kesungguhan yang menjamin
suksesnya usaha.
5. Penilaian, yaitu kegiatan untuk mengetahui hasil yang dicapai klien melalui
kegiatan belajarnya dalam proses konseling yang ia jalani, dan tindak
lanjutnya.