Anda di halaman 1dari 21

1.

Pulo Cinta

Pulau Cinta Boalemo Gorontalo dikenal pula dengan nama "Pulo Cinta
Boalemo", merupakan sebuah pulau mungil yang terletak di Teluk Tomini, Boalemo.
Lantas, mengapa dinamakan demikian? mengacu pada asal usul sejarah Pulau Cinta
yang konon berawal dari kisah percintaan antara Pangeran dari Kerajaan Gorontalo
dengan Puteri seorang saudagar kaya raya asal Belanda. Dimana pada saat itu
merupakan masa peperangan sehingga menyebabkan kedua insan ini tak mendapat
restu dan ditentang oleh kedua belah pihak keluarga

Meskipun terhitung baru sejak 2015 lalu ditetapkan sebagai salah satu destinasi
wisata di Gorontalo terbaru, namun potensi akan suasana Pulau Cinta Gorontalo yang
mengagumkan begitu mencuri perhatian khalayak luas. Kemudian berkat kemajuan
dunia teknologi, informasi tentang pulau ini pun menyebar di dunia maya dan bahkan
pada berbagai jejaring media sosial pun banyak para wisatawan yang mengupload
akan foto-foto indah pulau cantik ini. Maka dalam singkat waktu tempat ini menajdi
salah satu tempat honeymoon di Indonesia terbaikuntuk bulan madu romantis bagi
banyak pasangan muda mudi. Sebagai destinasi liburan ke Gorontalo, Pulau Cinta
memang menawarkan keuinikannya dibandingkan wisata pantai lainnya. Selain
bentuk pulau yang berbentuk hati/love dengan hamparan pasir pantai putih nan halus,
disekitar pulau pun telah disediakan fasilitas resort terapung yang memiliki kesan
eksklusif dengan desain arsitektur menawan berkonsep natural bernama "Pulau Cinta
Eco Resort". Memiliki jumlah kamar yang terbatas yakni hanya sekitar 15 unit saja
memberikan kesan sangat private kala berlibur di pulau mungil ini.

 Cottages 1 kamar tidur dengan luas 92 meter/segi.


 Cottages 2 kamar tidur dengan luas 156 meter/segi.
 Cottages 3 kamar tidur dengan luas 212 meter/segi.
 semua type kamar memiliki teras, ruang keluarga hingga kolam renang
pribadi

Perihal untuk menginap permalam di Pulau Cinta Eco Resort harga terbaru update
2017 yang ditawarkan cukup bervariasi tergantung type kamarnya, berikut uraiannya:

1. Cottages 1 Kamar Tidur (2 orang)

Rp. 3.500.000/malam (weekdays)

Rp. 4.500.000/malam (weekend)

Rp. 5.000.000/malam (high season/libur nasional)

2. Cottages 2 Kamar Tidur (4 orang)

Rp. 7.000.000/malam (weekdays)


Rp. 9.000.000/malam (weekend)

Rp. 10.000.000/malam (high season/libur nasional)

3. Cottages 3 Kamar Tidur (6 orang)

Rp. 10.500.000/malam (weekdayas)

Rp. 13.500.000/malam (weekend)

Rp. 15.000.000/malam (high season/libur nasional)

untuk menginap Pulo Cinta harga tersebut sudah termasuk

1. Antar jemput dari Bandara Jalaluddin, Gorontalo


2. Penyebrangan menggunakan boat menuju Pulau Cinta
3. Makan 3x sehari (plus include teh/kopi)
4. Alat Snoekeling
5. Island Hopping Trip atau mengunjungi beberapa pulau disekitar dalam waktu
satu hari

Lokasi Pulo Cinta Eco Resort Gorontalo terletak di Patoameme, Botumoito,


Kabupaten Boalemo. Jika kamu berdomisili di luar Pulau Sulawesi, kamu dapat
terbang dari Jakarta menuju Bandara Jalaluddin, Gorontalo Sulawesi dan biasanya
akan transit terlebih dahulu di Makassar. Kemudian setibanya di Gorontalo, kamu
sudah akan dijemput oleh pihak Pulau Cinta Resort yang akan membawa kamu
dengan perjalanan darat selama sekitar 2.5 jam menujuPantai Bolihutuo, Boalemo
untuk menyebrang selama 20 menit dengan boat yang telah disediakan menuju Pulau
Cinta.

Perihal keindahan alam bawah laut di pulau ini rasanya tak perlu dipertanyakan
lagi, dimana bagi kamu yang gemar akan Snorkeling atau Diving maka disinilah
salah satu surga bagi kamu. Selain dapat berenang disekitar Eco Resort, kamu juga
nantinya akan diberikan fasilitas untuk diantarkan ke beberapa spot menyelam yang
berada di kawasan Teluk Tomini. Jernihnya air begitu memanjakan mata dengan
visibilitas yang baik, dimana kamu tak perlu menyelam begitu dalam hanya cukup 2-
3 meter saja kamu sudah menemukan aneka biota laut yang masih terjaga. Selain itu
masih ada berbagai kegiatan seru yang dapat kamu lakukan untuk mengisi hari libur
di Pulau Cinta Gorontalo sebagai berikut,

1. Berkunjung ke perkampungan suku bajo.

2. Trekking berjalan menyusuri hutan dikawasan pulau sekitar.

3. Hopping island berkunjung ke Pulau Pasir di Teluk Tomini, Pulau Bajo, Pulau
Lito Mohupomba Kiki.
4. Berfoto ria disekitar kawasan pulau.

2. Benteng Otanaha Fotress

Benteng Otanaha merupakan objek wisata yang terletak di atas bukit


di Kelurahan Dembe 1, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Benteng ini
dibangun sekitar tahun 1522. Benteng Otanaha terletak di atas sebuah bukit, dan
memiliki 4 buah tempat persinggahan dan 348 buah anak tangga ke puncak sampai ke
lokasi benteng. Jumlah anak tangga tidak sama untuk setiap persinggahan. Dari dasar
ke tempat persinggahan I terdapat 52 anak tangga, ke persinggahan II terdapat 83
anak tangga, ke persinggahan III terdapat 53 anak tangga, dan ke persinggahan IV
memiliki 89 anak tangga. Sementara ke area benteng terdapat 71 anak tangga,
sehingga jumlah keseluruhan anak tangga yaitu 348.

Belum ada hasil penelitian sejarah yang pasti mengenai pembangunan


Benteng Otanaha. Namun setidaknya hingga saat ini terdapat dua versi cerita yang
dipercayai masyarakat Gorontalo.Menurut sejarah Gorontalo, abad 15
berdiri Kerajaan Pinohu (Pinogu) yang diperintah seorang Raja bernama Wadipalapa
berasal dari Langit, yang oleh orang Bugis-Makassar dikenal dengan nama
"Remmang Ri Langi". Ketika raja ini mangkat, kerajaan Pinohu berubah nama
menjadi Tuwawa (Suwawa). Pada tahun 1481 berubah lagi dengan nama kerajaan
Bune (Bone). Sekitar tahun 1585, muncul salah seorang keturunan raja yang digelari
rakyatnya dengan Wadipalapa II, di tangan Wadipalapa II kemudian muncul gagasan
untuk memperluas kerajaan Bune dengan cara damai. Maka diperintahkanlah
rakyatnya mencari lahan baru dengan membagi warganya menjadi dua rombongan.
Jalur utara dari Suwawa, Wonggaditi terus ke Huntu Lo Bohu dipimpin Hemeto.
Sedang jalur selatan mulai dari Potanga, Dembe, terus ke Panipi diserahkan kepada
Naha. Jalur Utara yang dinakhodai Naha, akhirnya tiba di Dembe dan menemukan
benteng tersebut berada di atas bukit.

Literatur lainnya berbeda dalam menceritakan sosok Naha. Kononnya tokoh


ini adalah anak dari Raja Ilato dan Permaisuri Tilangohula yang memerintah Kerajaan
Gorontalo pada abad 15. Naha memiliki dua saudara, Ndoba dan Tiliaya. Ketika
dirinya remaja, ia memilih merantau negeri seberang. Sampai suatu masa, Ndoba dan
Tiliaya memimpin perlawanan mengusir Portugis yang dianggap memperalat mereka
dalam mengusir para bajak laut. Padahal, sebelumnya Portugis meminta bantuan dan
sepakat dengan pihak kerajaan Gorontalo, setelah pelayaran mereka terganggu oleh
cuaca buruk dan bajak laut serta kehabisan makanan. Kesepakatan dengan kerajaan
gorontalo adalah guna memperkuat pertahanan dan keamanan negeri, maka dibuatlah
3 benteng di Kelurahan Dembe sekarang. Pertempuran mengusir Portugis, Ndoba dan
Tiliaya dibantu oleh angkatan laut yang dipimpin 4 orang, yakni, Apitalao Lakoro,
Apitalao Lagona, Apitalao Lakadjo, dan Apitalao Djailani. Sekitar 1585, Akhirnya
Naha kembali dan menemukan benteng tersebut, dan kemudian memperisteri seorang
perempuan bernama Ohihiya. Dari pasangan lahirlah dua putera, Paha (Pahu) dan
Limonu.

3. Benteng Ulanta

Sebuah bangunan menyerupai benteng dibangun di atas sebuah bukit di


belakang Kantor Bappeda-Litbang Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Bangunan
ini dinamakan Benteng Ulantha, merupakan pendopo perencanaan yang didesain dan
dibangun menyerupai sebuah benteng kokoh di atas bukit. Kawasan di sekitar
Benteng Ulantha ini kelak difungsikan sebagai daerah wisata di Suwawa, yang
memiliki udara sejuk karena berada di pinggiran Taman Nasional Bogani Nani
Wartabone. “Pada tahap awal ini kami menganggarkan Rp 464 juta,” kata Hamim
Pou, Bupati Bone Bolango, Senin (18/9/2017). Nama Benteng Ulantha ini selain akan
lebih memikat juga menjadi destinasi wisata yang memikat karena didesain menarik
menyerupai sebuah benteng.

Di kawasan ini dilengkapi dengan mushala dan toilet bagi pengunjung.


”Tahun depan kami akan menambah fasilitas flying fox ataupun parasailing.
Termasuk ada pos kecil di depan pintu gerbang. Benteng ini pun akan disediakan
fasiltas teropong bagi pengunjung,” ujar Hamim Pou. Pembangunan di Kabupaten
Bone Bolango Hamim harus kaya inovasi dan mengembangkan proses kreatif sumber
daya manusianya. “Nanti akan lebih dimaksimalkan, semuanya untuk
menyejahterakan masyarakat, memperbaiki pelayanan public dan menaikkan
Pendapatan Asli Daerah,” kata Hamim Pou.

4. Rumah Adat Bantayo Poboide

Rumah panggung yang seluruhnya terbuat dari kayu [Bantayo Poboide].


Mengandung pengertian Rumah Musyawarah Adat, Bantayo Poboide memang
menjadi sebuah situs budaya yang berfungsi sebagai tempat berkumpul bagi
masyarakat Kabupaten Gorontalo. Berbagai upacara adat, penerimaan tamu
kenegaraan, pesta perkawinan adat, sampai kegiatan sosial dan keagamaan kerap
dilangsungkan di tempat itu. Seperti sebuah balai besar, Bantayo Poboide, menjadi
sebuah tempat ideal yang mengakomodir beragam kegiatan masyarakat Kabupaten
Gorontalo.

Rumah Musyawarah Adat itu sendiri terletak tepat berhadapan dengan Kantor
Bupati Gorontalo. Jika ditilik dari desain arsitekturnya, kedua bangunan tersebut
tampak jelas kemiripannya, sehingga peletakan yang tepat berhadapan dari keduanya
seolah mengesankan pertemuan dua era dari dari satu akar budaya yang sama.
Bantayo Poboide ini dibangun oleh Kolonel A.U MI Liputo selaku ta’uwa lo lahuwa
yang diresmikan pada 23 Robiul 1405 Hijriah atau tanggal 15 Januari 1985 dan
menjadi kebanggaan dari masyarakat Kabupaten Gorontalo.
Keseluruhan dinding, daun pintu, jendela, dan lantai terbuat dari kayu coklat
kemerahan, yang dipernis tipis. Sementara, semua kusen, tulang pintu, jendela dan
pegangan tangga serta balkon terbuat dari kayu hitam. Demikian pula denga lubang
angin di atas pintu, yang menampilkan ukiran halus bermotif tumbuhan dan bunga
yang berlubang – lubang. Ukiran kayu hitam inilah yang memberi aksen artistik
sekaligus karismatik pada eksterior bangunan. Dua buah tangga yang cukup lebar,
secara simetris terletak di muka bangunan. Karpet merah yang menutupi seluruh
lantai, bahkan juga setiap anak tangga di muka bangunan. Rona merah terang karpet
tersebut memberi aksen yang memperkuat keanggunan keseluruhan interiornya. Daun
pintu dan jendelanya yang menggunakan kayu coklat kemerahan tampak kokoh
dengan list lebar dari kayu hitam. Desain Krepyak pada daun pintu dan jendela itu
memperkuat kesan antik sekaligus fleksibel pada keseluruhan interior bangunan.
Keseluruhan bangunan Bantayo Poboide ini terbagi atas lima bagian. Yaitu :

a. Serambi Luar atau Depan.


b. Ruang Tamu, yang merupakan ruangan memanjang dengan sebuah kamar
di masing-masing ujung kanan dan kirinya
c. Ruang Tengah, yang merupakan ruangan terluas di antara kelima bagian
yang lain. Di Ruang Tengah ini terdapat dua buah kamar yang keduanya
terletak di sisi kiri ruangan. Dua buah tempat tidur kayu antik terdapat di
dalam masing-masing kamar itu. Keduanya menggunakan kelambu dan
dihiasi kain-kain bersulam benang emas yang sangat cantik. Sementara di
sisi kanan ruangan ini terdapat seperangkat pelaminan khas Gorontalo,
Lima boneka seukuran manusia berdiri di kedua sisi pelaminan. Sepasang
boneka laki-laki dan perempuan berpakaian adat berada di sisi kanan
pelaminan. Sementara tiga boneka lain, yang menggambarkan sebuah
keluarga kecil, berada di sisi kanan pelaminan. Ketiganya memakai
pakaian adat bergaya muslim yang kaya warna dan penuh bersulam
benang emas.
d. Ruang Dalam, yang memiliki luas dan bentuk sama dengan Ruang Tamu.
Dua buah kamar juga terdapat di masing-masing di ujung kanan dan kiri
ruangan ini. Selain pintu dalam kamar-kamar di Bagian Dalam ini juga
mempunyai pintu yang menuju ke serambi samping.
e. Ruang Belakang tempat beradanya Dapur, Kamar mandi, dan kamar-
kamar kecil. Sementara di masing-masing ujung kanan dan kirinya
terdapat sebuah pintu keluar menuju serambi samping. Yang sangat
menarik dalam pembagian ruangan ini adalah tata letak pintu-pintu
penghubung antar satu ruangan dengan ruangan lainnya. Seperti sebuah
poros tengah pintu-pintu tersebut menjadi titik tengah yang membagi
keseluruhan Ruangan secara simetris di kanan dan kirinya. Semua pintu
tersebut memiliki sepasang daun pintu dengan desain krepyak Sementara
pintu terakhir di ruang belakang langsung menuju serambi belakang yang
tidak terlalu luas dibandingkan dengan serambi depan. Sebuah tangga
yang langsung turun ke bawah terdapat di serambi belakang ini.
Pengamatan terhadap arsitektur rumah musyawarah adat dan rumah-
rumah penduduk maupun gedung-gedung yang ada di Kabupaten
Gorontalo semakin menarik. Tidak satupun rumah – rumah dan gedung –
gedung di Kabupaten Gorontalo ini menggunakan genteng. Jika tidak
menggunakan atap seng yang umum digunakan, masyarakat menggunakan
asbes sebagai atap rumah mereka. Orang Gorontalo anti menggunakan
genteng, yang terbuat dari tanah sebagai atap rumahnya. Keistimewaan:
Hal menarik lain yang sangat menonjol dari Bantayo Poboide ini adalah
tamannya. Puluhan para – para mungil yang diberi atap (Gazebo), mengisi
seluruh lahan di bawah pepohonan besar di dalam taman. Beragam
tanaman hias tumbuh di dalam ratusan pot yang diletakkan di atas para-
para yang dicat aneka warna, membuat taman diseputar Bantayo Poboide
terkesan cantik dan meriah
5. Desa Wisata Bubohu

Nama : Desa Bubohu

Lokasi : Desa Bubohu ini terletak di pesisir teluk tomini


Kelurahan Tanjung Kramat Kota Gorontalo, Provinsi
Gorontalo

Kategori :
Wisata

Dokumentasi :

Deskripsi : Desa Bubohu atau lebih dikenal dengan Desa Bongo


Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo
merupakan sebuah desa yang terletak di pesisir teluk
tomini. Berbatasan langsung dengan wilayah
Kelurahan Tanjung Kramat Kota Gorontalo. Desa
yang berpenduduk lebih kurang dari 3.200 jiwa atau
850 kk yang menyebar di 5 (lima) dusun, dusun timur,
dusun tengah, dusun barat, dusun tenilo dan dusun
wapalo pada tahun 2004 di tetapkan oleh Pemerintah
Provinsi Gorontalo sebagai Desa Wisata Religius
dengan pesona wisata budayanya yang spektakuler.
Selain memiliki keunikan budaya, Desa Bubohu
memiiki aset pariwisata alam dan religius lainnya.
Mayoritas penduduk desa ini adalah nelayan dan
perantau, kecuali dusun Tenilo dan Wapalo sebagian
besar penduduknya adalah petani dan penambang batu
alam. Masyarakat nelayan desa ini menjadi nelayan
pemburu ikan tuna sampai Molibagu Bolaang
Mongondow, Bitung, Maluku, Sorong, Flores,
Majene, Sulawesi Barat dan sebagian pulau-pulau di
Sulawesi Tengah, juga wilayah-wilayah lain di
Provinsi Gorontalo seperti Kabupaten Gorontalo
Utara, Kabupaten Boalemo, Kabupaten Pohuwato,
Kabupaten Bone Bolango menjadi daerah buruan
mereka secara turun-temurun bahkan banyak yang
sudah menetap jadi penduduk daerah itu.Sebelum
abad 17, Desa Bubohu yang ada pada saat itu adalah
kawasan pemukiman yang homogen dan religius,
yang wilayahnya terbagi dua, yaitu :

1. Wilayah dataran tinggi, bernama Tapa


Modelo (sekarang menjadi dusun Tenilo
dan Dusun Wapalo)
2. Wilayah Dataran rendah, bernama Tapa
Huota atau Huwata (sekarang menjadi
dusun timur, dusun tengah dan dusun barat)
Pada umumnya penduduk saat itu, sumber mata
pencariannya adalah bertani. Selain bertani
masyarakatnya mempunyai adat dan kebudayaan yang
sangat tinggi yang berlandaskan pada ajaran agama
islam sebagai acuan dalam berkehidupan dan
bermasyarakat. Pusat kegiatan keagamaan dan
kebudayaan serta kegiatan lainnya di lakukan
di Tudulio (dataran tinggi). Peran tokoh agama, tokoh
adat dan tokoh masyarakat sangat berpengaruh di
masyarakat dan satu tokoh yang menjadi panutan dan
berpengaruh pada saat itu bernama Hilalumo Amay.

Pada tahun 1750, seorang raja gorontalo dari Tamalate


(Raja Ternate) mengunjungi Tapa Modelo,
mengadakan pertemuan / perundingan dengan tokoh
agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat untuk
merumuskan kepemerintahan dan perluasan wilayah
kekuasaan dan untuk delegasi Tapa Modelo dipimpin
oleh Hilalumo Amay. Dalam perundingan tersebut,
menghasilkan :

1. Tapa Modelo dan Tapa Huota menjadi


bagian dari kerajaan gorontalo, dengan
nama Bubohu.
2. Hilalumo Amay sebagai pemimpin (Raja)
3. Wilayah kekuasaan meliputi wilayah
pantai, dengan batas – batas sebagai berikut
:
o Sebelah barat berbatasan
dengan Tanjung
Olimeala (sekarang batas antara
Kecamatan Biluhu dengan
Kecamatan Paguyaman Pantai
Kabupaten Boalemo)
o Sebelah Timur berbatasan
dengan Hulupilo / Huntingo (terl
etak di Kelurahan Pohe, Kota
Gorontalo).

Sebagai bukti dari keberhasilan perundingan antara


Raja Tamalate dan Bubohu, mereka tandai dengan
menanam kelapa (Bongo), dimana kelapa tersebut
sudah disiapkan oleh Raja Tamalate sebelum
perundingan, dan areal penanaman di Tudulio, dekat
dengan tempat pertemuan / perundingan mereka.
(Sekarang areal tersebut masih ada, walaupun pohon-
pohon kelapa yang ditanam sudah mati).

Kemudian sejak Gorontalo dikuasai oleh Belanda


pada tahun 1873 sampai dengan tahun 1886 dan
dengan dilkeluarkannya Beslit Gubernur Jenderal
Hindia Belanda tanggal 17 April 1889 (Staadblad No.
250 Tahun 1889) tentang Retrukturisasai kekuasaan
dengan menghapuskan kekuasaan, keputusan Raja-
raja sudah sangat berpengaruh pada pemerintahan
bubohu semua bukti sejarah dirusak dan diambil oleh
Belanda sampai dengan rumah-rumah penduduk yang
ada di Tudulio dan sekitarnya diperintahkan Belanda
dibongkar sampai dengan tiangnya (Woh Hi). Sejak
saat itu pula penduduk dari Bubohu sudah mulai
berpindah-pindah tempat dan mereka menyebar
keseluruh wilayah Gorontalo, diantaranya ke Isimu,
Bongomeme, M olopatodu, Uabanga (Bone Pantai),
Tapa dan Pesisir Pantai bagian Barat Gorontalo.

Bersamaan dengan dikeluarkannya Beslit tersebut


diatas maka Bubohu dibagi menjadi dua wilayah,
yakni dari Buotanga sampai dengan Tanjung
Olimealo masuk pada Onder Afdeling Limboto dan
dariBuotanga sampai dengan Hulupilo masuk
pada Onder Afdeling Gorontalo.

Kemudian pada Tahun 1925 terjadi perubahan


Pemerintahan Kolonial Belanda berdasarkan
Lembaran Negara No. 262/1925 dari Biluhu sampai
dengan Huonga masuk pada Onder Afdeling
Gorontalo dibawah Kepemerintahan Distrik Batudaa
dan dari Ayuhulalo (Sekarang Desa Kayubulan)
sampai dengan Bubohu (Bongo) masuk pada Onder
Afdeling Gorontalo dibawah kepemerintahan Distrik
Kota Gorontalo.

Tahun 1902, Bubohu menjadi satu kampung yakni


kampung Bubohu dan dipimpin oleh seorang kepala
kampung dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

 Utara berbatasan dengan Kelurahan Tenilo


/ Kelurahan Buliide
 Selatan berbatasan dengan Teluk Tomini
 Timur berbatasan dengan Kelurahan Pohe
(Dudetumo)
 Barat berbatasan dengan Tanjung
Pangatiboni

Kemudian pada tahun 1937 Kampung


Bubohu berubah nama menjadi Kampung Bongo,
tetapi tetap bergelar Ti Bobohu. Dasar pertimbangan
yang diambil oleh tokoh adat, tokoh agama, tokoh
masyarakat pada saat itu adalah kelapa yang ditanam
yang menjadi tanda dan bukti sejarah pertemuan /
perundingan antara Raja Talamate dengan Hilalumo
Amay sudah di budayakan oleh penduduk secara
turun-temurun sehingga berpuluh tahun kemudian
Kampung Bubohu telah menjadi hamparan tumbuhan
kelapa yang sangat luas dan pada masa itu
perekonomian dan penghidupan masyarakat sangat
tergantung dari hasil tanaman kelapa tersebut,
disamping hasil pertanian yang lain.

Faktor inilah yang diambil dan menjadi landasan


tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk
menetapkan nama kampung menjadi Kampung
Bongo. Dan sampai tahun 1959 Kampung Bongo
masih tetap tergabung dengan distrik Kota Gorontalo.
Setelah dikeluarkanya Undang-undang No. 29/1959
Tentang pembentukan Daerah Tingkat II Se –
Sulawesi, Kampung Bongo telah menjadi bagian dari
wilayah Kabupaten Daerah tingkat II Gorontalo pada
tahun 1960 dan namanya tetap Desa Bongo sampai
dengan sekarang.

Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan Wisata


Budaya Walima, sebaiknya berkunjung pada saat
perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, atau
pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Jarak tempuh ke
Desa Wisata Religius Bubohu dari Bandara Jalaluddin
hanya memakan waktu hampir 2 jam. Jarak dari
ibukota Provinsi Gorontalo dapat di tempuh dengan
waktu lebih kurang 20 menit dengan menggunakan
kenderaan roda dua dan roda empat. Jalan berliku –
liku serta menanjak di lereng bukit akan menemani
perjalanan Anda. Pengunjung juga dapat menyaksikan
pemandangan alam Teluk Tomini yang terhampar
luas.

Rencana pengembangan Desa Bongo menjadi desa


wisata religi mendapat tanggapan positif dari
pemerintah daerah Provinsi Gorontalo. Pemprov
sangat mendukung program ini karena menuntut peran
serta langsung dari masyarakat. Harapan kedepan,
adat istiadat walima di desa bongo ini dijadikan icon
pariwisata Provinsi Gorontalo, sehingga gorontalo
lebih dikenal lagi, bukan saja pada skala lokal
melainkan sampai pada tingkat internasional.

Keistimewaan : Desa Wisata Religius Bubohu, menyimpan banyak


sejarah dan terkenal dengan wisata budayanya. Untuk
mendukung program pemerintah provinsi gorontalo
dalam bidang pariwisa, maka di Desa Bubohu ini telah
dibangun beberapa aset pariwisata sebagai daya tarik
pengunjung, baik domestik maupun mancanegara, di
antaranya :

Masjid Walima Emas yang terletak di puncak bukit.


Dengan kubah masjid berbentuk Walima yang terang
dan bersinar ketika menjelang malam.

Kalender Islam atau Kalender Hijriah terbesar di


dunia yang terdapat di Masjid Walima Emas.

Kolam Miem, Sebuah kolam dengan air pegunungan


alami, yang dingin dan sejuk. Kolam yang terletak di
puncak bukit dan bersebalahan dengan Masjid Walima
Emas.

1. Kolam renang santri gratis dengan air


mancur tanpa mesin.
2. Pesona Gunung Tidur, pas buat pengunjung
yang punya hobby out bond.
3. Pantai Dulanga dengan pesona alamnya
yang eksotik.
4. Cendera Mata khas Desa Wisata Religius
Bubohu, yakni kue kolombengi khas
walima dan sarung putih walima yang telah
dikemas secara profesional.
5. Pasar Subuh, Pasar tradisional di Desa
Bubohu, yang sampai saat ini sebagian
pedagang dan pembelinya masih
menggunakan sistem barter atau metode
pertukaran barang dengan barang.

Akses : Arak dari ibukota Provinsi Gorontalo dapat di tempuh


dengan waktu lebih kurang 20 menit dengan
menggunakan kenderaan roda dua dan roda empat.

Harga Tiket :

Masuk

Akomodasi & : Seluruh aset pariwisata di Desa Wisata Religius ini di


Fasilitas kelola oleh PKBM Yotama yang berobsesi
menjadikan Desa Bongo menjadi Desa Wisata
Religius. Sejak tahun 1997 PKBM Yotama telah
merintis pembangunan, mulai dari marketing walima,
pembangunan masjid walima emas di atas bukit,
penanggalan hijriyah terbesar di dunia. Dan ke depan
akan dibangun istana bagi para penghafal Al-Qur’an,
juga menyulap rumah-rumah warga menjadi kamar
hotel sekelas bintang lima serta restoran termegah di
Indonesia.

6. Masjid Walima Emas

Masjid Walima Emas ini diresmikan tepat pada tanggal 12-12-2012 pukul 12.12
WITA. Peresmian Masjid Walima Emas dilakukan dengan sholat bersama, dzikir
serta pagelaran budaya Islam. Empat kubah yang pada ada pada Masjid Walima
Emas ini terlihat berdiri kokoh dengan warna cat kuning keemasan, berbentuk walima
yang terang dan bersinar ketika menjelang malam atau saat matahari terbenam. Tak
hanya itu, Kalender Islam atau Kalender Hijriah terbesar di dunia terdapat di Masjid
ini. Bersebelahan dengan Masjid, terdapat Kolam Miem, Sebuah kolam dengan air
pegunungan alami, yang dingin dan sejuk.

Masjid Walima Emas ini juga berdekatan dengan Desa Wisata Religius Bubohu.
Hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua
atau toda empat dari pusat Kota Gorontalo. Sepanjang perjalanan yang berliku, kita
akan ditemani pemandangan alam TelukTomini yang indah , Siapapun yang datang
berkunjung ke masjid ini pasti akan terpesona dengan pemandangan alam yang
menakjubkan. Hamparan luas samudra yang membentang, bukit-bukit kecil yang
indah, deretan rumah-rumah penduduk serta jejeran perahu-perahu nelayan di pesisir
pantai, membuat anda terhanyut dengan panorama alam yang menajubkan .
Disusun Oleh :
Nama :
Kelas:
Guru Pembimbing:

TAHUN AJARAN 2018/2019