Anda di halaman 1dari 11

GRAFIK KEJADIAN DAN KEMATIAN HIV/AIDS DI JAWA TIMUR,

DIAGNOSE KEPERAWATAN DAN RENCANA KEPERAWATAN DAN


RENCANA EDUKASI UNTUK PROGRAM VCT BERDASARKAN KASUS

Untuk Memenuhi Ujian Akhir Semester keperawatan HIV


yang dibina oleh Bapak Supono, S.Kep.Ns., M.Kep., Sp.MB

Oleh:
Aldesiana Cahyaningrum
NIM. P17212195026

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
Agustus 2019
1. Grafik kejadian dan kematian HIV/AIDS di Jawa Timur
a. Grafik kejadian HIV/AIDS di Jawa Timur

Jumlah kasus HIV/AIDS di Jawa Timur 2017


(BPS jawa timur, 2018)
1000
900
800
700
600
500
400
300
200
100
0

b. Grafik kematian HIV/AIDS di Jawa Timur


2. Asuhan Keperawatan ( diagnose keperawatan dan rencana keperawatan) berdasarkan
literatur Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV adalah sebagai berikut :
a. Diagnosa Keperawatan
- Ketidakmampuan koping keluarga berhubungan dengan informasi atau
pemahaman yang tidak adekuat atau tidak tepat keluarga atau teman dekat, penyakit
kronis, perasaan yang tidak terselesaikan secara kronis
- Ketidakefektifan koping berhubungan dengan: kerentanan individu dalam situasi
krisis (misalnya penyakit terminal).
- Ketakutan berhubungan dengan: ketidakberdayaan,ancaman yang nyata terhadap
kesejahteraan diri sendiri, kemungkinan terkucil, kemungkinan kematian.
- Isolasi sosial berhubungan dengan stigma, ketakutan orang lain terhadap
penyebaran infeksi, ketakutan diri sendiri terhadap penyebaran HIV, moral budaya
dan agama, penampilan fisik, gangguan harga diri dan gambaran diri.
(Nursalam & Dian. N. 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV.
Jakarta : Salemba Medika)
NO DIAGNOSA DEFINISI DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI
KEPERAWATAN
1. D.00073 Perilaku orang terdekat yang membatasi Komunikasi, kesiapan
Kategori : Koping/toleransi kemampuannya dan kemampuan klien untuk meningkatkan I 7110
stress secara efektif menangani adaptasi terhadap 1. Peningkatan koping
Sub kategori : masalah kesehatan, dengan kriteria hasil : 2. Konseling
Ketidakmampuan koping 1. Dukungan keluarga selama perawatan 3. Peningkatan keterlibatan
keluarga 2. Tingkat kecemasan menurun keluarga
3. Kontrol diri terhadap depresi 4. Skrining kesehatan
Ketidakmampuan koping 4. Pengetahuan : managemen penyakit 5. Peningkatan system dukungan
keluarga berhubungan kronik Fasilitasi kehadiran keluarga I.7170
dengan informasi atau 5. Dukungan sosial 6. Komunikasikan informasi
pemahaman yang tidak mengenai keadaan terkini
adekuat atau tidak tepat pasien pada waktu yang tepat
keluarga atau teman dekat, 7. Yakinkan keluarga bahwa
penyakit kronis, perasaan perawatan terbaik sedang
yang tidak terselesaikan diberikan kepada pasien
secara kronis 8. Tentukan beban psikologis dari
prognosa terhadap keluarga
Terapi keluarga
9. Tentukan keluarga bagaimana
menentukan keputusan
10. Bantu keluarga meningkatkan
strategi koping yang ada
2. D.00069 Koping, ketidakefektifan : ketidakmampuan untuk Bantuan control marah I.4640
Kategori : Koping/toleransi membentuk penilaian valid tentang stressor, 1. Gunakan pendektan yang
Sub kategori : ketidakadekuatan pilihan respons yang dilakukan, tenang dan meyakinkan
Ketidakefektifan koping dan atau ketidakmampuan untuk menggunakan 2. ‘etapkan harapan yang pasien
sumber daya yang tersedia, dengan kriteria hasil : dapat mengontrol perilakunya
Ketidakefektifan koping 1. Penerimaan status kesehatan Babtuan modifikasi diri
berhubungan dengan: 2. Pembuatan keputusan 3. Dorong pasien untuk
kerentanan individu dalam 3. Control diri terhadap depresi mengidentifikasi langkah-
situasi krisis (misalnya 4. Kepercayaan mengenai kesehatan langkah yang bisa diatur dan
penyakit terminal). bisa dicapai dan diatur dalam
waktu tertentu
Terapi keluarga
4. Identifikasi area konfllik
3. D. 00148 Status kesehatan pribadi : keseluruhan fungsi fisik, Managemen lingkungan I.6482
Kategori : Koping/toleransi psikologis, social, dan spiritual dari orang dewasa, 1. Berikan pilihan sedapat
Sub kategori : ketakutan dengan kriteria hasil : mungkin untuk melakukan
1. Peningkatan kebugaran fisik kunjungan social
Ketakutan berhubungan 2. Peningkatan kenyamanan 2. Berikan sumber-sumber edkasi
dengan: 3. Peningkatan resistensi terhadap infeksi yang relevan dan berguna
ketidakberdayaan,ancaman mengenai menegemen penyakit
yang nyata terhadap 4. Peningkatan penyesuaian terhadap kondisi Managemen nutrisi
kesejahteraan diri sendiri, kronik 3. Tentukan status gizi pasien
kemungkinan terkucil, 5. Peningkatan hubungan sosial Pengurangan kecemasan
kemungkinan kematian. 4. Gunakan pendekatan yan
tenang dan meyakinkan
5. Jelaskan semua prosedur
termasuk sensasi yang
dirasakan selama prosedur
6. Dorong keluarga untuk
mendampingi klien dengan cara
tepat
7. Bantu klien mengidentifikasi
situasi yang menyebabkan
ketakutan
8. Kaji tanda verbal dan non
verbal kecemasan
4. D.00053 Kejesahteraan pribadi : tingkat persepsi positif Konsling
Kategori : Kenyamanan dari status kesehatan seseorang, kriteria hasil : 1. Rangkum status kesehatan klirn
Sub ketegori : isolasi sosial 1. Peningkatan hubungan social sehubungan dengan rencana
2. Kemampuan untuk mengatasi masalah asuhan
Resiko isolasi sosial meningkat 2. Diskusikan system rujukan
berhubungan dengan stigma, 3. Peningkatan kesehatan psikologis yang sesuai
ketakutan orang lain Inspirasi harapan
terhadap penyebaran infeksi, 3. Bantu pasien dan keluarga
ketakutan diri sendiri untuk mengidentifikasi aera
terhadap penyebaran HIV, dari harapan dalm hidup
moral budaya dan agama, 4. Bantu pasien mengembangkan
penampilan fisik, gangguan spiritualitas diri
harga diri dan gambaran diri. 5. Libatkan pasien secara aktif
dalam perawatanya sendiri
Dukungan emosional
6. Diskusikan dengan psien
tentang pengalaman emosinya
7. Berikan bantuan dalam
pembuatan keputusan
3. Rencana edukasi untuk program VCT berdasarkan kasus
Kegiatan konseling merupakan wadah untuk menyediakan dukungan
psikologis, informasi dan pengetahuan HIV dan AIDS, mencegah penularan HIV,
mempromosikan perubahan perilaku yang bertanggungjawab, pengobatan ARV dan
memastikan pemecahan masalah terkait degan HIV dan AIDS. Berdasarkan kasus
Petugas Kesehatan secara persuasive akan melakukan pemeriksaan pada suami istri
yang reaktif HIV. Jika klien setuju maka yang dilakukan petugas kesehatan adalah
menggunakan strategi dalam layanan kesehatan HIV/AIDS melalui pemeriksaan VCT.
Awal dari Rencana edukasi untuk program VCT yang harus dilakukan adalah sebagai
berikut :
1. Konseling pra test VCT
a. Tujuan
- Klien mendapat pelayanan konseling di ruangan atau tempat yang nyaman dan
aman
- Klien mendapat pelayanan konseling pretest yang terjaga kerahasiaan
- Klien mendapat pelayanan konseling pre-tes sesuai standar
- Klien dapat mengambil keputusan untuk melakukan tes HIV dengan bantan
konselor
- Klien mendapatkan rujukan untuk dilakukan tes HIV
b. Alat dan bahan
Ruangan sesuai standar (lihat standar ruangan konseling)
- Meja dan 2 kursi yang diatur menurut huruf L
- Almari File yang dapat dikunci
- Lampu/Penerangan cukup
- Sirkulasi udara yang baik dan sejuk
- Alat peraga yang minimal terdiri dari:
 Leaflet kesehatan tentang IMS dan HIV-AIDS
 Dildo
 Kondom
 Poster
 Stiker
 Alat peraga jarum suntik
- Form
- Informed consent
- Formulir permintaan dan hasil testing
- Formulir rujukan ke Manajer Kasus
- Bukti Pembayaran
- Dokumen klien
- Ceklis konseling pretes
- Alat tulis
- Tissue
- Kalendar
- Tempat sampah
c. Prosedur
1. Konselor menyiapkan perlengkapan untuk konseling
2. Konselor memanggil klien (dengan menyebutkan nomer registrasi) dan
mempersilahkan masuk keruangan
3. Konselor mempersilahkan klien duduk dengan nyaman di kursi yang telah
tersedia
4. Konselor memberi salam dan memperkenalkan diri
5. Konselor memeriksa ulang nomor kode klien dalam formulir dokumen klien.
6. Konselor menanyakan latar belakang kunjungan dan alasan kunjungan.
7. Konselor memberikan informasi tentang HIV/AIDS sesuai dengan yang ada pada
ceklis untuk konseling pretest (ceklis pada lampiran).
8. Konselor mengklarifikasi tentang fakta dan mitos tentang HIV/AIDS, termasuk
tentang IMS dan menawakan pemeriksaan IMS secara rutin, khususnya bagi
penasun (IDU).
9. Konselor membantu klien untuk menilai risiko diri klien.
10. Konselor membantu klien untuk membuat keputusan untuk dilakukan tes HIV,
antara lain dengan menjelaskan keuntungan dan akibat melakukan tes HIV.
11. Konselor mendiskusikan prosedur test HIV/AIDS, waktu untuk mendapatkan
hasil dan arti dari hasil test.
12. Konselor mendiskusikan kemungkinan tindak lanjut setelah ada hasil test.
13. Konselor menjelaskan implikasi terinfeksi atau tidak terinfeksi HIV dan
memfasilitasi diskusi tentang cara menyesuaikan diri dengan status HIV.
14. Konselor VCT menjajaki kemampuan klien dalam mengatasi masalah.
15. Konselor VCT melakukan penilaian sistem dukungan.
16. Konselor VCT memberikan waktu untuk berfikir.
17. Bila klien menyetujui untuk ditest, konselor memberikan form informed consent
kepada klien dan meminta tanda tangannya setelah klien membaca isi form.
HIV/AIDS.
18. Konselor mengisi dokumen klien dengan lengkap dan mengisi form rujukan ke
laboratorium.
19. Konselor membuat perjanjian dengan klien untuk kembali ke klinik bila hasil
sudah ada (paling lama 1 minggu). Bila di klinik VCT tersedia fasilitas
pengambilan darah/
20. Konselor mengantar klien ke tempat pengambilan darah dan menyerahkan form
laboratorium kepada petugas pengambilan darah
21. Bila klien tidak menyetujui untuk di test, konselor menawarkan kepada klien
untuk datang kembali sewaktu-waktu bila masih memerlukan dukungan dan /atau
untuk dilakukan tes.
22. Konselor mengucapkan salam dan mengakhiri proses
Apabila hasil dari tes VCT terbukti pasien positif HIV maka konselor akan
menjelaskan tentang arti pemeriksaan, memfasilitsi emosi dan koping klien. Setelah
klien cukup tenang dan konseling dapat dilanjutkan, konselor menjelaskan beberapa
informasi sebagai berikut;
1. Pengobatan ARV
2. Kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual
3. Menawarkan konseling pasangan
4. Menawarkan secara rutin klien mengikuti pemeriksaan sifilis dan manfaat
pengobatan sifilis,
5. Untuk klien perempuan terdapat fasilitas layanan pemeriksaan kehamilan dan
rencana penggunaan alat kontrasepsi bagi laki-laki dan perempuan.
6. Memotivasi agar datang ke klinik untuk evaluasi awal secara medis
7. Konselor dan klien menyepakati waktu kunjungan berikutnya
Apabila pada waktu yang ditentukan klien tidak bisa hadir, disarankan untuk
menghubungi konselor melalui telepon untuk perjanjian berikutnya. Konselor memberi
kesempatan kepada klien untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum diketahui dan
menawarkan pelayanan VCT pada pasangan klien. Apabila klien sudah jelas dan tidak
ada pertanyaan, maka konseling pasca-testing ditutup. Apabila hasil negative maka
konselor mendiskusikan kemungkinan klien masih berada dalam periode jendela dan
membuat ikhtisar dan gali lebih lanjut berbagai hambatan. Konselor memastikan klien
paham mengenai hasil test yang diterima dan pengertian periode jendela. Menjelaskan
kebutuhan untuk melakukan tes ulang dan pelayanan VCT bagi pasangan serta upaya
penurunan risiko yang dapat dilakukan. Konselor memberi kesempatan kepada klien
untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum diketahui. Apabila klien sudah jelas dan
tidak ada pertanyaan, maka konseling pasca-testing ditutup. Konselor memotivasi agar
bersedia didampingi oleh MK untuk mempertahankan perilaku yang aman. Membut
perjanjian untuk kunjungan ulang bila dibutuhkan. Konselor mengisi form pasca
koseling.
( Clinical Service Unit. 2007. Standart operasional prosedur Klinik VCT Testing
Dirujuk: FHI Indonesia)
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Jatim. 2017.


Clinical Service Unit. 2007. Standart operasional prosedur Klinik VCT Testing Dirujuk: FHI
Indonesia.
Dinkes kab Pacitan. 2017. Profil kesehatan kabupaten pacitan 2017. Dinas Kesehatan : Pacitan
Herdman, T. 2019. NANDA-I Diagnosa Keperawatan Definisi dan Kliasifikasi 2018-2020.
Jakarta: EGC.
Nurjannah, I., dkk. Nursing Intervention Classification. Jakarta : Elsevier.
Nurjannah, I., dkk. Nursing Outcome Classification. Jakarta : Elsevier.
Nursalam & Dian. N. 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV. Jakarta :
Salemba Medika.