Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

ROUND PNEUMONIA

Pembimbing :
dr. Caecilia, Sp. Rad

Disusun oleh:
1. Dinar Yudistira F. (030.12.083)
2. Irma Darmayanti (030.12.132)
3. Argia Wiryawan (030.13.025)

KEPANITERAAN KLINIK RADIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 2 OKTOBER 2017 – 2 NOVEMBER 2017
JAKARTA, OKTOBER 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat-Nya yang begitu
besar sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah referat yang
berjudul Round Pneumonia pada kepaniteraan klinik Radiologi Rumah Sakit TNI
Angkatan Laut Dr. Mintohardjo.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai
pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan penyelesaian makalah ini,
terutama kepada dr. Caecilia, Sp. Rad selaku pembimbing yang telah memberikan
waktu dan bimbingannya sehingga makalah referat ini dapat terselesaikan.
Penulis berharap makalah referat ini dapat menambah pengetahuan dan
memahami lebih lanjut mengenai penyakit Round Pneumonia serta salah satunya
untuk memenuhi tugas yang diberikan pada kepaniteraan klinik di Rumah Sakit
TNI Angkatan Laut Dr. Mintohardjo.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah referat ini masih
banyak kekurangan, oleh karena itu, segala kritik dan saran dari semua pihak yang
membangun guna menyempurnakan makalah ini sangat penulis harapkan.
Demikian yang penulis dapat sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi berbagai pihak.

Jakarta , Oktober 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii


DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iv
DAFTAR TABEL ....................................................................................................v

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1


BAB II
PEMBAHASAN
....................................................................................................................................
2 ..................................................................................................................................
2.1 Definisi Round Pneumonia ......................................................................2
2.2 Etiologi Round Pneumonia ......................................................................2
2.3 Epidemiologi Round Pneumonia ............................................................3
2.4 Anatomi Round Pneumonia......................................................................4
2.5 Patofisiologi Round Pneumonia ..............................................................8
2.5 Manifestasi klinis Round Pneumonia ......................................................9
2.7 Gambaran Radiologi ...............................................................................10
2.9 Tatalaksana .............................................................................................14
BAB III KESIMPULAN ......................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................18

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Anatomi sistem respirasi ........................................................................7


Gambar 2.Gambaran round pneumonia ..................................................................... 10
Gambar 3. Evolusi round pneumonia...........................................................................

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 1.Etiologi pneumonia berdasarkan usia .........................................................3

1
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Di negara berkembang, pneumonia masih tercatat sebagai masalah


kesehatan utama pada anak. Lebih kurang 2 juta anak balita meninggal setiap tahun
akibat pneumonia, sebagian besar terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Pneumonia
merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia dibawah lima
tahun dan diperkirakan hampir seperlima kematian anak diseluruh dunia. Menurut
survei kesehatan nasional (SKN) 2001, 27,6% kematian bayi dan 22,8% kematian
balita di Indonesia disebabkan oleh penyakit respiratori, terutama pneumonia.

Salah satu tipe dari pneumonia anak adalah round pneumonia. Round
pneumonia adalah salah satu tipe dari pneumonia anak yang dapat dikenali
berdasarkan gambaran radiologinya yaitu kekeruhan berbentuk bulat yang
menandakan area yang terinfeksi.1 Kemampuan tenaga kesehatan khususnya dokter
dalam mengenali, mendiagnosis sampai memberikan terapi yang efektif tentunya
sangat dibutuhkan untuk mengurangi tingginya penderita pneumonia pada anak.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai parenkim paru. sebagian besar


oleh mikroorganisme (virus/bakteri) dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain
(aspirasi, radiasi, dll). Round Pneumonia adalah termasuk salah satu tipe dari
pneumonia pada anak. Penyakit ini dapat dikenali berdasarkan gambaran
radiologinya yaitu kekeruhan berbentuk bulat yang menandakan area yang
terinfeksi.1,2

2.2 Etiologi
Pada neonatus dan bayi kecil, mikroorganisme penyebab terjadinya
pneumonia tentunya berbeda dengan anak dengan usia yang lebih besar. Etiologi
pneumonia pada neonatus dan bayi kecil meliputi mikroorganispe seperti:
 Streptococcus gurp B
 bakteri Gram negatif seperti E.colli, Pseudomonas sp, atau Klebsiella sp.

Pada bayi yang lebih besar dan anak balita, pneumonia sering disebabkan
oleh infeksi Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenzae tipe B, dan
Staphylococcus aureus, sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja, selain
bakteri tersebut, sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma pneumoniae.2

Tabel 1. Etiologi pneumonia berdasarkan usia


Usia Etiologi yang sering Etiologi yang jarang
Lahir – 20 hari Bakteri Bakteri
E. colli Bakteri an aerob
Streptococcus grup B Haemophillus influenza
Listeria monocytogenes Streptococcus pneumonia
Ureaplasma urealyctims
Virus
3 minggu -3 bulan Bakteri Bakteri
Chalmydia trachomatis Bordetella pertussis

3
Streptococcus pneumonia Haemophilus influenza tipe
B
Virus Moraxella cathralis
Virus adeno Staphylococcus aureus
Virus influenza Ureaplasma urealyctims
Respiratory syncytial virus Virus
Virus parainfluenza 1,2,3 Virus sitomegalo
4 bulan – 5 tahun Bakteri Bakteri
Chalmydia trachomatis Haemophilus influenza tipe
B
Streptococcus pneumonia Moraxella cathralis
Mycoplasma pneumoniae Staphylococcus aureus
Virus Neisseria meningitidis
Virus adeno virus
Virus influenza Virus varisela-Zoster
Respiratory syncytial virus
Virus rinovirus
parainfluenza
5 tahun- remaja Bakteri Bakteri
Chalmydia trachomatis Haemophilus influenza tipe
B
Streptococcus pneumonia legionella
Mycoplasma pneumoniae Staphylococcus aureus
virus
Virus adeno
Virus influenza
Respiratory syncytial virus
Virusrinovirus
parainfluenza
Virus Epstein-Barr
Virus Varisela Zoster

2.3 Epidemiologi
Usia rata-rata pasien dengan round pneumonia adalah lima tahun, dan 90%
penderita berusia kurang dari 12 tahun.1

2.4 Anatomi
Sistem respirasi mencakup paru dan saluran udara yang menghubungkan
paru dengan lingkungan luar. Sistem respiratorius secara fungsional dapat
diklasifikasikan menjadi 2 bagian utama: bagian konduksi yang terdiri atas saluran
udara yang menghantarkan udara ke paru – paru, dan bagian respirasi yang terdiri

4
atas struktur dalam paru yang mana oksigen udara yang masuk ditukar untuk
karbondioksida dalam darah. Secara umum saluran napas dibagi menjadi dua, yaitu
saluran napas bagian atas dan saluran napas bagian bawah. Saluran pernapasan
bagian atas terdiri dari lubang hidung, rongga hidung, faring, laring.
Hidung merupakan alat pertama yang dilalui udara dari luar. Di dalam
rongga hidung terdapat rambut dan selaput lendir. Rambut dan selaput lendir
berguna untuk menyaring udara, mengatur suhu udara yang masuk agar sesuai
dengan suhu tubuh, dan mengatur kelembapan udara. Setelah melewati hidung,
udara masuk ke laring melalui faring. Faring adalah suatu kantung fibromuskuler
yang bentuknya seperti corong, yang besar di bagian atas dan sempit di bagian
bawah. Ke atas, faring berhubungan dengan rongga hidung melalui koana, ke depan
berhubungan dengan rongga mulut melalui isthmus faucium, sedangkan dengan
laring di bawah berhubungan melalui aditus pharyngeus, dan ke bawah
berhubungan esofagus.
Faring merupakan persimpangan antara rongga mulut ke kerongkongan dan
rongga hidung ke laring. Laring merupakan pangkal saluran pernapasan. Pada
laring terdapat katup yang disebut epiglottis. Ketika kita bernapas, epiglottis
terbuka sehingga udara akan masuk menuju laring. Ketika kita menelan, epiglottis
akan menutup laring untuk mencegah makanan agar tidak masuk ke dalam saluran
pernapasan.
Saluran pernafasan bagian bawah terdiri dari trakea, bronkus, bronkiolus,
alveolus dan membran alveouler – kapiler. Batas antara saluran pernapasan atas dan
saluran pernapasan bawah adalah cincin kartilago trakea ke-6. Trakea merupakan
pipa yang terdiri dari cincin-cincin kartilago. Panjang trakea sekitar 106cm.
Dinding dalamnya dilapisi selaput lendir dan bersilia. Silia berfungsi untuk
menolak debu dan benda asing yang masuk bersama udara. Akibat tolakkan secara
paksa tersebut kita akan batuk atau bersin.
Bronkus merupakan batang yang menghubungkan paru-paru dekstra dan
sinistra dengan trakea. Udara dari trakea akan di bawa ke paru-paru melewati
saluran ini. Bronkus dibagi menjadi bronkus principalis dekstra dan sinistra,
bronkus principalis dekstra lebih tegak, lebih pendek dan lebih lebar dibandingkan

5
dengan bronkus principalis sinistra yang memiliki panjang 5 cm, masing – masing
percabangan bronkus principalis bercabang lagi menjadi bronkus lobaris. Bronkus
lobaris adalah bronkus intrapulmonal dan akan bercabang lagi menjadi bronkus
segmentalis. Bronkus segmentalis dekstra berjumlah 10, jumlah ini lebih banyak
dibandingkan bronkus segmentalis sinistra yaitu 9.
Bronkiolus (jamak : bronkioli) merupakan cabang- cabang dari bronkus
segmentalis berupa tabung-tabung kecil yang jumlahnya sekitar 30.000 buah untuk
satu paru-paru. Bronkiolus ini akan membawa oksigen lebih jauh ke dalam paru-
paru. Alveolus (jamak: alveoli) merupakan ujung dari bronkiolus yang berjumlah
sekitar 600 juta pada paru-paru manusia dewasa. Pada alveolus, oksigen akan
berdifusi ke dalam darah dan terjadi pertukaran dengan karbon dioksida. Paru
diselimuti oleh pleura terdiri dari pleura parietalis (bagian yang menempel dengan
dinding toraks) dan viseralis (bagian yang menempel pada dinding paru), di antara
kedua lapisan ini terdapat cairan pelumas. 3
Paru-paru berbentuk kerucut dan memiliki 3 permukaan yaitu facies
diafragmatika, mediastinalis, dan costalis. Paru terbagi menjadi paru dekstra
(kanan) dan paru sinistra (kiri). Paru dekstra terdiri dari 3 lobus, yaitu lobus
superior, lobus medius, dan lobus inferior. Lobus superior dan lobus medius
dipisahkan oleh fisura horizontal sehingga lobus medius dan lobus inferior
dipisahkan oleh fisura obliqua. Paru sinistra terdiri dari 2 lobus, yakni lobus
superior dan lobus inferior. Lobus superior dan lobus inferior dipisahkan oleh fisura
oblique. Setiap paru memiliki hilus, yakni hilus paru kanan dan hilus paru kiri.
Hilus paru kanan terdiri atas :
a. Bronkus principalis dekstra dan cabang bronkus principalis ke lobus
superior di hilus posterior dan hilus superior;
b. Arteri pulmonalis dan cabang arteri pulmonalis ke lobus superior di hilus
anterior dan hilus superior
c. Dua vena pulmonalis kanan di anterior dan inferior hilus;
d. Arteri bronkialis
e. Nodulus limfatikus bronkopulmonalis
Hilus paru kiri terdiri atas :

6
a. Dua bronkus lobaris di posterior
b. Arteri pulmonalis di superior
c. Dua vena pulmonalis di anterior dan inferior
d. Arteri bronkhialis
e. Nodulus limfatikus bronkopulmonalis

Paru mendapat pasokan darah dari arteri pulmonalis, vena pulmonalis, arteri
bronkialis dan vena bronkialis. Arteri pulmonalis membawa darah dari ke paru
untuk oksigenisasi. Arteri pulmonalis masuk ke akar dari setiap paru dan bercabang
bersama percabangan bronkus. Arteri pulmonalis memasuki lobules paru, di mana
percabangannya mengikuti bronkiolus. Vena pulmonalis berjalan dalam jaringan
ikat antara segmen pada lobulus paru. Setelah meninggalkan lobulus, vena akan
mendekat ke percabangan bronkus dan berjalan sejajar percabangan arteri
pulmonalis. Arteri dan vena bronkialis memberi nutrisi dan membawa sisa
metabolisme dari bagian paru non respiratorik (bronkus, bronkiolus, jaringan
intertisial dan pleura).3

Gambar 1. Anatomi sistem respirasi

2.5 Patofisiologi

7
Terjadinya pneumonia tergantung kepada virulensi mikroorganisme,
tingkatan kemudahan dan luasnya daerah paru yang terkena serta penurunan daya
tahan tubuh. Respon yang di timbulkan juga bergantung dari agen penyebabnya.
Streptococcus pneumonia (pneumococcus), adalah penyebab yang paling sering
dari pneumonia bakteri, baik yang didapat di masyarakat maupun dari semua kasus
rumah sakit. Setelah mencapai alveoli, maka pneumococcus menimbulkan respon
khas yang terdiri dari 4 tahap berurutan:
1. Kongesti (4 sampai 12 jam pertama) : eksudat serosa masuk ke dalam
alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor.
2. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya): paru tampak merah dan bergranula
(hepatisasi = seperti hepar) karena sel-sel darah merah, fibrin, dan leukosit
PMN mengisi alveoli. Terjadi edema akibat reaksi jaringan yang
mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya
3. Hepatisasi kelabu (3 sampai 8 hari): paru tampak kelabu karena leukosit dan
fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang.
4. Resolusi (7 sanrpai 11 hari): jumlah makrofag meningkat di alveoli, sel akan
mengalami degenerasi, fibrin menipis, kuman eksudat dan debris
menghilang, dan isi alveolus akan melunak untuk berubah menjadi dahak
dan yang akan dikeluarkan lewat batuk, dan jaringan paru kembali kembali
pada struktur semulanya.

Round pneumonia adalah suatu tipe dari pneumonia yang biasanya terjadi
pada anak-anak, istilah ini didefinisikan sebagai gambaran opak yang berbentuk
lingkaran, dimana menggambarkan regio infeksi yang sudah mengalami
konsolidasi. Teori yang diajukan mengapa anak dapat terjadi round pneumonia
dibandingkan dengan dewasa yang tidak bisa mengalami hal tersebut, ternyata ada
kaitannya dengan perkembangan dari struktur jaringan interalveolar dan aliran
udara kolateral. Ini disebut pori Kohn dan kanal Lambert.
Ketika bagian tersebut telah berkembang pada dewasa, maka struktur ini
akan berfungsi sebagai kolateral aliran udara sehingga ada hubungan udara di
dalam satu alveoli ke alveoli lainnya. Pada dewasa jika terjadi infeksi parenkim

8
paru mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lateral lobus sehingga
terbentuklah pneumonia lobaris. Akan tetapi pada anak-anak, dimana
perkembangan struktur tersebut belum sempurna mengakibatkan penyebaran
infeksi terbatas dan membentuk round pneumonia. 4

2.6 Manifestasi Klinis


Pada pneumonia anak, manifestasi klinis yang terjadi akan berbeda-beda
berdasarkan kelompok umur tertentu. Pasien biasanya mengalami demam tinggi,
batuk, gelisah, rewel, dan sesak nafas. Pada bayi, gejalanya tidak khas, seringkali
tanpa demam dan batuk. Anak besar kadang mengeluh sakit kepala, nyeri abdomen
disertai muntah.
Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis pneumonia pada anak
adalah imaturitas anatomik dan imunologik, mikroorganisme penyebab yang luas,
gejala klinis yang kadang-kadang tidak khas terutama pada bayi, terbatasnya
penggunaan prosedur diagnostik invasif, etiologi non infeksi yang relatif lebih
sering dan faktor patogenesis. Disamping itu, kelompok usia pada anak merupakan
faktor penting yang menyebabkan karakteristik penyakit berbeda-beda, sehingga
perlu dipertimbangkan dalam tatalaksana pneumonia.
Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat
ringannya infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai berikut:

 Umum
Demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan napsu makan, keluhan
gastrointestinal seperti mual, muntah atau diare.
 Respiratori
Batuk, sesak napas, retraksi dada, takipnea, napas cuping hidung, air hunger,
merintih, dan sianosis.2

Manifestasi lesi bulat lebih awal muncul pada penyakit ini, riwayat batuk
atau demam mungkin tidak ada pada saat gambaran lesi tersebut muncul. Pada awal
masa infeksi, proses inflamasi yang terjadi sebagian besar terbatas pada ruang
alveolar. Proses ini kemudian menyebar dengan ekstensi langsung melalui saluran

9
interalveolar (pori-pori Kohn dan Lamberts channels). Hal ini menyebabkan lesi
dengan distribusi non-segmental dan dengan batas yang tegas. Kemudian, dengan
penyebaran sentrifugal dan peribronkial, lesi pneumonia menjadi segmental atau
lobar, dan memberikan penampilan khasnya yang terlihat pada radiografi.
Collateral ventilation (pori Kohn) kurang berkembang pada anak-anak.
Anak-anak juga memiliki jaringan ikat yang berdekatan dan alveoli lebih kecil
daripada orang dewasa. Secara konfluen faktor-faktor ini bekerja sama untuk
menghasilkan daerah konsolidasi paru yang lebih kompakta, tanpa gambaran
margin yang lebih halus yang terlihat pada infiltrat khas yang umunya terlihat pada
orang dewasa. Faktor-faktor tersebut juga berakibat pada perkembangan penyakit
yang lebih lambat dan meningkatkan kemungkinan dalam mendeteksi radang
pulmonal yang terjadi. Oleh karena itu, hal ini lebih sering terlihat pada anak
daripada pada orang dewasa.7

2.7 Gambaran Radiologi

Round pneumonia, disebut juga spherical pneumonia. Pada anak terutama


anak yang lebih kecil cenderung lebih mudah timbulnya round pneumonia , hal ini
dikarenakan pori-pori Kohn dan Lamberts channels mereka yang belum
berkembang sempurna. Sehingga memungkinkan penyebaran secara sentrifugal
cari mucus dan bakteri. Selain itu jaringan ikat pulmonal yang lebih dekat dan
alveoli lebih kecil, bila dibandingkan dengan orang dewasa. Faktor-faktor ini
bergabung untuk membentuk area infiltrate yang lebih kompak, yang dapat muncul
sebagai lesi bulat pada radiografi thorak.6

Gambar 2. Gambaran radiologi round pneumonia

10
Gambar 3. Evolusi round pneumonia7

11
12
13
2.8 Tatalaksana
Pengelolaan pneumonia harus berimbang dan memadai, pada keadaan ini
mencakup :
A. Pemberian antibiotika berdasarkan derajat penyakit
 Pneumonia ringan

14
1. Amoksisilin 25 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis sehari selama 3 hari.
Diwilayah resistensi penisilin yang tinggi dosis dapat dinaikan sampai 80-
90 mg/kgBB.
2. Kotrimoksazol (trimetoprim 4 mg/kgBB – sulfametoksazol 20 mg/kgBB)
dibagi dalam 2 dosis sehari selama 5 hari
 Pneumonia berat
1. Kloramfenikol 25 mg/kgBB setiap 8 jam
2. Seftriakson 50 mg/kgBB i.v setiap 12 jam
3. Ampisilin 50 mg/kgBB i.m sehari empat kali, dan gentamisin 7,5
mg/kgBB sehari sekali
4. Benzilpenisilin 50.000 U/kgBB setiap 6 jam, dan gentamisin 7,5 mg/kgBB
sehari sekali

Pemberian antibiotik diberikan selama 10 hari pada pneumonia tanpa komplikasi,


sampai saat ini tidak ada studi kontrol mengenai lama terapi antibiotik yang
optimal

B. Pemberian antibiotik berdasarkan umur


 Neonatus dan bayi muda (< 2 bulan) :
1. ampicillin + aminoglikosid
2. amoksisillin-asam klavulanat
3. amoksisillin + aminoglikosid
4. sefalosporin generasi ke-3

 Bayi dan anak usia pra sekolah (2 bulan - 5 tahun)


1. beta laktam amoksisillin
2. amoksisillin-amoksisillin klavulanat
3. golongan sefalosporin
4. kotrimoksazol
5. makrolid (eritromisin)

15
 Anak usia sekolah (> 5 tahun)
1. amoksisillin/makrolid (eritromisin, klaritromisin, azitromisin)
2. tetrasiklin (pada anak usia > 8 tahun

C. Penatalaksaan suportif
1. Pemberian oksigen 2-4 L/menit sampai sesak nafas hilang atau PaO2 pada
analisis gas darah ≥ 60 torr;
2. Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit;
3. Asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena dengan dosis awal
0,5 x 0,3 x defisit basa x BB (kg). Selanjutnya periksa ulang analisis gas
darah setiap 4-6 jam. Bila analisis gas darah tidak bisa dilakukan maka dosis
awal bikarbonat 0,5 x 2-3 mEq x BB (kg);
4. Obat penurun panas dan pereda batuk sebaiknya tidak diberikan pada 72
jam pertama karena akan mengaburkan interpretasi reaksi antibiotik awal.
Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu tinggi,
takikardi, atau penderita kelainan jantung.

Bila penyakit bertambah berat atau tidak menunjukkan perbaikan yang


nyata dalam 24-72 jam ganti dengan antibiotik lain yang lebih tepat sesuai dengan
kuman penyebab yang diduga sebelumnya perlu diyakinkan dulu ada tidaknya
penyulit seperti empyema, abses paru yang menyebabkan seolah-olah pemberian
antibiotik tidak efektif).5

16
BAB III
KESIMPULAN

Round pneumonia adalah salah satu tipe dari pneumonia anak yang dapat
dikenali berdasarkan gambaran radiologinya yaitu kekeruhan berbentuk bulat yang
menandakan area yang terinfeksi. Hal ini terjadi akibat perkembangan struktur pori
Kohn dan kanal Lambert belum sempurna dan mengakibatkan penyebaran infeksi terbatas
dan membentuk round pneumonia. Kemampuan dokter dalam mendiagnosis penyakit ini
sangat dibutuhkan sehingga terciptanya terapi pneumonia yang lebih efektif dan adekuat.

DAFTAR PUSTAKA

17
1. Weerakkody Y. Aziz P. Round Pneumonia. 2013. Available at:
https://radiopaedia.org/articles/round-pneumonia-1
2. Rahajoe N, Supriyanto B, setyanto D. Respirologi anak. Edisi ke-1. Jakarta:
IDAI; 2013
3. Price SA, Wilson LM, 2005. Pathophysiology: Clinical Concepts of Disease
Processes (Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Prose Penyakit), Edisi
4,Penerbit EGC, Jakarta, hal: 709-712
4. Mishaan AM, Mason EO Jr, Martinez Aguilar, Propst JJ, Hammerman W.
Emergence of a Predominant Clone of Communty-Acquired Staphylococcus
aureus Among Children in Houston, Texas. Paediatr Infect Dis J. 2005. 24(3):
201-6
5. Bradley JS, Byington CL, Shah SS, et al. The Management of Community-
Acquired Pneumonia in Infants and Children Older Than 3 Months of Age:
Clinical Practice Guidelines by The Pediatric Infectious Disease Society and
The Infectious Disease Society of America. Clin Infect Dis. 2011. 53(7): 70-6.
6. Liu YL, Wu PS, Tsai LP, Tsai WH. Pediatric Round Pneumonia. J-
Ped&Neo: Elsevier: Taipe; vol.55: 6: p. 491-4; 2014.
7. Silver M, Kohler S. Evolution Of a Round Pneumonia. West J- Emerg Med:
San Diego; 2013 ; 14(6): 643–644.

18