Anda di halaman 1dari 3

Limbah cair kelapa sawit merupakan limbah dari sisa proses pembuatan minyak kelapa

sawit yang berbentuk cair. Parameter yang dijadikan indikator penilaian mutu limbah cair
adalah pH,BOD (Biological Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), TDS (Total
Dissolved Solid), temperatur, minyak dan lemak (Pasaribu 2011)

Limbah cair pabrik kelapa sawit memiliki nilai positif dan negatif bag lingkungan alam
dan manusia. Limbah cair kelapa sawit memiliki potensi sebagai pencemar lingkungan karena
berbau, berarna, serta padatan tersuspensi yang tinggi. Apabila limbah tersebut langsung
dibuang ke badan penerima, maka sebagian akan menendap, terurai secara perlahan,
mengkonsumsi oksigen terlarut, menimbulkan kekeruhan, megeluaran bau yang tajam
(Alaerts, G., 1987 dan Betty, J.S., 1996).

Namun, dari segi positifnya limbah dari proses pembuatan minyak kelapa sawit juga
merupakan sumber kandungan unsur hara yang tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai puuk
orgaik, memperbaiki tekstur tanah, meningkatkan kesuburan tanah, sebagai sumber air tanaman
(Pasaribu, 2011). Karena kandungan-kandungan bahan organik dari limbah ini, maka PT. Bio
Nusantara Tekhnologi memanfaatkan limbah ini untuk diproses menjadi pupuk organik.

Kesetaraan nilai unsur hara limah cair sawi dengan pupuk anorganik dalam 100 ton limbah:

Unsur Nilai (kg)


Nitrogen (N) 50 -67,5
Fosfat (P) 9 – 11
Kalium (K) 100 – 185
Magnsium (Mg) 15 -32
Pengolahan limbah kelapa sawit dilakukan dengan sistem pengolahan yang sederhana, yaitu
ditampung di kolam penampungan limbah. Limbah cair yang akan dimanfaatkan untuk
pupuk organik, diolah terlebh dahulu dengan sistem kolam di Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL) dan didiamkan didalam kolam penampungan dengan beberapa perlakuan.
Perlakuan-perlakuan yang diberikan selama limbah cair berada pada kolam penampungan
bertujuan untuk menurunkan BOD, dan untuk menaikkan pH air limbah menggunakan
metode kolam pendingin dengan memanfaatkan bakteri pengurai yang bekerja secara
anaerob maupun aerob. Pengolahan limbah menggunakan sistem land appication pada
kolam datar, dimana limbah ditampung di daam kolam-kolam dangkal dan datar dan
dihubungkan dengan saluran serupa parit untuk mengalirkan limbah dengan ketinggian
yang relatif tidak sama. Kolam-kolam penampungan limbah dari fungsinya dibahi menjadi
3 jenis kolam, yaitu:

1. Kolam pendinginan (anaerbik). Pada kolam anaerobik terjadi beberapa proses yang
menghasilkan lombah berupa lumpur padat.
2. Kolam pengasaman (fakultatif). Pada kolam pengasaman ini akan terjadi penurunan pH h
dan pembentukan karbondioksida. Proses pada kolam dibiarkan selama kurang lebih 30
hari.
3. kolam aerobik (pmbiakan bakteri). Setelah dari kolam pengasaman, limbah diteruskan ke
kolam aerobik. Pada kolam ini terjadi pembiakan bakteri, bakteri tersebut bermanfaat untuk
pembentukan methane, karbondioksida dan kenaikan pH. Proses pembiakan bakteri ini
berlangsung hingga limbah dapat dimanfaakan sebagai bahan pupuk organik.