Anda di halaman 1dari 19

MODUL PRAKTIKUM BIOMEDIS

PRODI SARJANA – S1

ANGKATAN 2018

2019
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
DATA PRIBADI

NAMA : ELSA DWI RAHAYUNINGRUM

NIM : 1813015134

PRODI : S1 FARMASI

JURUSAN : S1 FARMASI

SEMESTER : 2 (DUA)

KELAS : D1 2018
PERCOBAAN III

TRANSPOR MEMBRAN

I. Uraian Umum Percobaan


Membran sel/membran plasma merupakan bagian dari organel sel yang
memisahkan isi sel dengan lingkungan sekitarnya. Struktur membran sel yang
tersusun atas lapisan protein dan fosfolipid membuatnya memiliki sifat selektif
permiabel. Oleh karena sifatnya yang selektif, membran sel memiliki fungsi utama
secara selektif memilih zat kimia atau partikel kecil yang dapat masuk atau keluar
dari dalam dan luar sel. Substansi-subtansi tersebut dapat masuk dan keluar dengan
dengan beberapa mekanisme yaitu dengan mekanisme transport aktif dan pasif.
Transport aktif memerlukan energi (ATP) untuk mengangkut suatu zat/substansi
melalui membran sel. Sedangkan transpor pasif merupakan sistem pengangkutan
yang tidak memerlukan energi (ATP) karena eneri kinetik dari partikel dapat
menyebabkan partikel tersebut bergerak dari gradient konsentrasi tinggi ke daerah
dengan gradient konsentrasi lebih rendah. Adapun macam-macam proses transpor
meliputi difusi, osmosis, filtrasi, eksositosi dan endositosis.
Difusi dapat berlaku pada padatan, cairan dan gas di seluruh membran plasma.
Mekanisme perpindahan zat/partikel pada proses ini yaitu zat/partikel bergerak dari
gradient konsentrasi tinggi ke daerah dengan gradient konsentrasi lebih rendah.
Gradient konsentrasi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan konsentrasi dari
molekul/ion didalam sel (intraseluler) dibandingkan diluar sel (ekstraseluler).
Osmosis adalah difusi pelarut melintasi membrane semipermiabel yang terjadi
untuk menanggapi perbedaan konsentrasi. Air berdifusi dari daerah yang
konsentrasi airnya lebih tinggi (konsentrasi zat terlarut rendah) ke daerah dengan
konsentrasi air lebih rendah (konsentrasi zat terlarut lebih tinggi).
Osmosis merupakan akibat dari gerakan/perpindahan air dari larutan dengan
konsentrasi zat terlarut rendah (hipotonik) ke larutan dengan konsentrasi zat terlarut
tinggi (hipertonik). Penggunaan istilah hipotonik dan hipertonik hanya ketika dua
larutan dibandingkan. Air akan berpindah ke larutan hipertonik hingga konsentrasi
kedua larutan memiliki konsentrasi yang sama (isotonik).
II. Tujuan Percobaan
1. Mahasiswa mampu mendeskripsikan difusi dan osmosis serta
mengidentifikasi contoh dari difusi dan osmosis.
2. Mahasiswa mampu medefinisikan dan membedakan antara difusi dan
osmosis.
III. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1. Eksperimen “DIFUSI”
Alat : Bahan :
1. Gelas ukur 1. Tinta

2. Eksperimen “OSMOSIS”
Alat : Bahan :
1. Timbangan 1. Irisan kentang
2. Gelas ukur 2. Larutan gula 0,25M; 0,5M; 1M
3. Cawan petri 3. Air
4. Pisau
5. Pinset

IV. Cara Kerja Percobaan


1. DIFUSI
a. Siapkan air ke dalam gelas ukur
b. Masukkan setetes tinta ke dalam air tersebut
c. Amati pergerakan yang terjadi dengan seksama

2. OSMOSIS
a. Buatlah irisan kentang dengan potongan dadu ( 1x1x1x1 cm )
sebanyak 4 buah
b. Timbanglah masing – masing irisan kentang dan beri tanda atau
dicatat jangan sampai keliru
c. Masukkan masing – masing 20 ml larutan aquadest, gula 0,25M;
0,5M dan 1M pada gelas I, II, III, dan IV
d. Masukkan 1 potongan kentang ke dalam gelas I, II, III, dan IV
e. Diamkan kira – kira 20 – 30 menit, kemudian ambil dengan pinset
lalu ditimbang
f. Catat perubahan berat kentang dal

V. Hasil Pengamatan
1. Difusi

2. Osmosis
Pengamatan Kentang Larutan
Gula 0,25 Gula 0,5 Gula 1M Aquades
M M
Berat awal I 2,114 1,980 1,891 1,888
II 1,981 2,166 1,979 2,227
III 1,665 1,720 1,300 1,742
IV 1,768 1,489 1,495 1,184
Berat Akhir I 2,01 1,908 1,796 2,110
II 1,945 2,105 1,881 2,469
III 1,607 1,616 1,150 1,902
IV 1,744 1,400 1,349 1,341
Pertambahan I -0,1 -0,078 -0,095 0,222
Berat II -0,036 -0,061 -0,098 0,242
(Akhir- III -0,58 -0,104 -0,150 0,160
Awal) IV -0,24 -0,89 -0,146 0,157
VI. Pembahasan
Pada hari Rabu, 6 Maret 2019 telah dilaksanakan Praktikum Mata Kuliah
Biomedis Percobaan II tentang Transpor Membran yang bertempat di
Laboratorium Farmakologi dan Biomedik Fakultas Farmasi Universitas
Mulawarman. Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah dapat
mendeskripsikan difusi dan osmosis serta mengidentifikasi contoh dari difusi
dan osmosis lalu dapat mendefinisikan dan membedakan antara difusi dan
osmosis. Percobaan ini terbagi menjadi dua yaitu percobaan difusi dan
osmosis. Pertama dilakukan percobaan difusi dengan menyiapkan air di dalam
gelas ukur, kemudian dimasukkan setetes tinta ke dalam air yang ada di gelas
ukur kemudian diamati pergerakan yang terjadi setelah diteteskan tinta pada
gelas kimia yang berisi air. Yang kedua dilakukan percobaan osmosis, dimulai
dengan membuat irisan kentang berbentuk dadu sebanyak 4 buah lalu
ditimbang masing-masing irisan kentang dan diberi tanda. Digunakan kentang
pada percobaan ini untuk melihat proses transpor membran pada sel tumbuhan.
Kemudian dimasukkan masing-masing 20 mL larutan aquades, gula 0.25M,
0.5M, dan 1M pada gelas I, II, III, IV. Kemudian dimasukkan 1 potongan
kentang pada masing-masing gelas, setelah itu didiamkan sekitar 20 menit dan
diambil dengan pinset dan dilakukan penimbangan lagi untuk mengetahui berat
akhir kentang setelah dilakukan perendaman pada larutan aquades, gula 0.25M,
0.5M dan 1M.
Pada percobaan III kali ini membahas mengenai transpor membran. Yang
mana transpor membran sendiri merupakan proses pengangkutan materi atau
molekul dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke daerah yang konsentrasinya
rendah tanpa menggunakan ATP (Adenosin Trifosfat), atau proses
pengangkutan molekul dari daerah yang konsentrasinya rendah ke daerah yang
konsentrasinya tinggi dengan menggunakan energi hasil metabolisme, ATP
dan kedua proses tersebut berlangsung secara terpadu untuk menjaga
kesetimbangan molekul biologis di dalam sel (Sumadi dan Mariati, 2007).
Mekanisme transpor melintasi membran sel dapat terjadi secara pasif dan
aktif. Transpor pasif merupakan mekanisme perpindahan molekul atau zat
yang tidak melewati selaput membran semipermeabel dan tidak membutuhkan
energi (ATP) karena energi kinetik dari partikel dapat menyebabkan partikel
tersebut bergerak dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Transpor aktif
merupakan transpor partikel-partikel melalui membran semipermeabel yang
bergerak melawan gradien konsentrasi yang memerlukan energi dalam bentuk
ATP yang berperan sebagai molekul pembawa energi di dalam sel, transpor
akif berjalan dari larutan yang memiliki konsentrasi rendah ke larutan yang
memiliki konsentrasi tinggi sehingga dapat tercapai keseimbangan di dalam
sel. Adanya muatan listrik di dalam dan luar sel dapat mempengaruhi proses
ini (Raimundus Chalik, 2016)
Transpor pasif dapat berlangsung karena adanya perbedaan konsentrasi
antar membran larutan, transpor pasif bersifat spontan dan tidak memerlukan
energi dalam proses kerjanya. Transpor pasif dibagi menjadi difusi, osmosis,
dan filtrasi (Alkatiri, 1996). Difusi adalah proses berpindahnya zat dalam
pelarut yang berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah tanpa
melewati membran semipermeabel (Raimundus Chalik, 2016). Difusi
bergantung pada perbedaan konsentrasi dan tekanan hidrostatik. Energi untuk
proses difusi adalah energi kinetik yang normal ditimbulkan akibat pergerakan
suatu bahan (Hamong Suharsono, 2017)
Difusi melalui membran sel terbagi ke dalam dua tipe, yaitu difusi
sederhana dan difusi terfasilitasi. Pertama, difusi sederhana merupakan
gerakan acak dari suatu atom atau molekul dengan konsentrasi tinggi ke area
dengan konsentrasi rendah sampai terdistribusi secara merata. Kedua, difusi
terfasilitasi merupakan tipe difusi yang melibatkan molekul karier (pembawa).
Molekul yang larut air seperti glukosa dan gula lainnya, beberapa asam amino,
vitamin yang larut dalam air dan ion tidak dapat ditranspor secara difusi
sederhana karena tidak dapat larut dalam fosfolipid (Raimundus Chalik, 2016).
Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu ukuran
partikel, ketebalan membran, luas suatu area, jarak dan suhu. Semakin kecil
ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak sehingga kecepatan
difusi semakin tinggi. Semakin tebal membran dan besar luas area serta
semakin besarnya jarak antara dua konsentrasi, menyebabkan semakin lambat
kecepatan difusinya. Begitu pula dengan besarnya luas dan tingginya suhu akan
menyebabkan bertambah cepatnya laju difusi (Hamong Suharsono, 2017).
Contoh dari proses difusi dalam tubuh manusa yaitu pertukaran gas yang
terjadi di paru-paru yaitu pergerakan oksigen dari paru-paru ke pembuluh
darah, ketika menarik napas oksigen mengisi kantung udara kecil (alveoli)
yang ada di dalam paru-paru kita, di satu sisi ada kapiler paru yang
mengandung sel darah merah dengan kandungan oksigen yang sedikit
kemudian oksigen akan berdifusi dari area dengan konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah, yaitu pertama melalui sel alveolar, kemudian sel kapiler
paru, dan terakhir ke dalam sel darahmerah. Di sisi lain, karbondioksida yang
konsentrasinya tinggi di dalam sel akan berdifusi dari jaringan sel ke darah dan
selanjutnya ke kantug udara paru (Raimundus Chalik, 2016)
Kedua, osmosis merupakan proses difusi air melalui membran
semipermeabel dari pelarut yang berkonsentrasi tinggi (memiliki banyak air)
ke pelarut yang berkonsentrasi rendah (sedikit air), proses osmosis akan
berhenti jika konsentrasi di dalamdan di luar sel telah seimbang (Hamong
Suharsono, 2017). Mekanisme terjadinya osmosis pada sel hewan dapat
dipengaruhi oleh konsentrasi zat pelarut didalam sel. Jika dalam keadaan
isotonis yaitu konsentrasi zat pelarut didalam sel dan diluar sel seimbang tidak
akan ada aktivitas osmosis didalamnya. Sedangkan jika dalam keadaan
hipertonis atau konsentrasi zat pelarut didalam sel lebih tinggi dari konsentrasi
zat pelarut diluar sel akan menyebabkan terjadinya osmosis. Aktivitas osmosis
ini dapat dilihat dengan adanya krenasi ataau penyusutan yang terjadi pada sel
hewan. Mekanisme osmosis yang terjadi pada sel hewan juga dapat dilihat Jika
konsentrasi zat pelarut didalam sel lebih rendah dari konsentrasi zat pelarut
diluar sel atau sel dalam keadaan hipotonis. Kegiatan osmosis ini dapat dilihat
dengan adanya perpindahan molekul zat pelarut diluar sel yang masuk kedalam
sel sehingga menyebabkan terjadinya hemolisis atau pecahnya membran
plasma yang dimiliki sel hewan (Raimundus Chalik, 2016).
Mekanisme terjadinya osmosis juga dapat dilihat dari sel tumbuhan .Jika sel
tumbuhan dalam keadaan hipotonis atau molekul zat pelarut didalam sel lebih
rendah daripada di luar sel ,mekanisme osmosis yang terjadi adalah masuknya
molekul zat pelarut dari luar sel tunmbuhan memenuhi sel tumbuhan sehingga
terlihat adanya kenaikan volume dari sel tumbuhan yang dinamakan turgid.Sel
tumbuhan tidak pecah karena adanya dinding sel selulosa untuk menjaga
bentuk sel. Jika Sel tumbuhan dalam keadaan hipertonis atau konsentrasi zat
pelarut didalam sel lebih tinggi dari konsentrasi zat pelarut di luar sel akan
terlihat terjadinya osmosis dengan keluarnya molekul zat pelarut didalam sel
dan membuat mengekerutnya sel tumbuhan dan terlepasnya protoplasma dari
dinding sel, keadaan ini disebut plasmolisis (Hamong Suharsono, 2017).
Osmosis memainkan peran penting dalam fungsi sel dan seluruh tubuh kita,
karena perubahan volume besar karena pergerakan air akan menganggu fungsi
sel normal (Raimundus Chalik, 2016)
Selanjutnya, filtrasi merupakan pergerakan partikel yang didasarkan pada
gradien tekanan, yang mana partikel melalui membran dengan dorongan
tekanan. Contoh filtrasi dalam tubuh manusia adalah di ujung kapiler pembuluh
darah. Dengan bantuan tekanan darah, cairan dan zat terlarut dipaksa keluar
dari kapiler yang dindingnya hanya satu sel tebal dan sangat permeabel ke
ruang cairan interstitial, dan dengan cara ini sel mendapatkan glukos, asam
amino, dan nutrien. Molekul besar seperti protein dan sel darah merah tidak
dapat melalui pori membran dan tetap dalam kapiler (Raimundus Chalik, 2017)
Sedangkan transpor aktif merupakan kebalikaan dari transpor pasif, yang
mana transpor aktif merupakan transpor partikel-partikel melalui membran
semipermeabel yang bergerak melawan gradien konsentrasi yang memerlukan
energi dalam bentuk ATP. Tranpor aktif dibagi menadi transpor aktif primer,
transpor aktif sekunder, endositosis, eksositosis. Pertama, transpor primer salah
satu contohnya adalah pergerakan ion natrium dan kalium melintasi membran
plasma oleh pompa Na-K ATPase. Transporter ini menggerakkan 3 ion natrium
dari intrasel ke ekstrasel, dan 2 ion Kalium dalam arah yang berlawanan. Dalam
hal ini, pergerakan ion melawan gradien konsentrasi. Mekanisme kerja pompa
Na-K dimulai dari ion Na+ pada sitoplasma berikatan dengan ompa Na-K,
afinitas terhadap Na+ tinggi saat protein brbentuk seperti ini, kemudian
pengikatan Na+ merangsang fosforilasi (penambahan gugus fosfat) protein
oleh ATP yang mana fosforilasi menyebabkan protein berubah bentuk,
sehingga afinitasnya terhadap Na+ menurun dan dilepaskan ke sebelah luar.
Lalu, bentuk baru protein memiliki afinitas tinggi terhadap K+, yang berikatan
ke sisi ekstraseluler dan memicu pelepasan gugus fosfat dalam hal ini
hilangnya fosfat mengembalikan bentuk awal protein yang memiliki afinitas
lebih rendah terhadap K+. K dilepaskan, afinitas terhadap Na+ tinggi kembali
dan siklus ini berulang (Hamong Suharsono, 2017).
Dalam proses transpor aktif sekunder, transpor digerakkan secara tidak
langsung oleh energi yang telah tersimpan dalam bentuk perbedaan konsentrasi
ion antara dua sisi membran, yang dihasilkan oleh transpor aktif primer. Sistem
transpor aktif sekunder adalah sistem penggandengan, yang menggerakkan
lebih dari satu molekul atau ion pada waktu yang sama. Pada kebanyakan
daerah di tubuh, transportasi beberapa zat lainnya digabungkan/digandengkan
dengan transpor aktif Na+, yaitu protein karier yang sama yang terlibat dalam
transpor aktif Na+ juga secara sekunder mentranspor beberapa zat lainnya.
Transpor aktif sekunder dari beberapa molekul atau ion dapat terjadi dalam
bentuk kotranspor natrium atau kontra-transpor natrium Protein karier disini
bertindak sebagai simpor, yaitu mentranspor beberapa zat lain bersama dengan
natrium. Molekul atau ion yang dibawa bersama ko-transfor natrium natrium
meliputi glukosa, asam amino, klorida dan iodin. Ko-transfor natrium-glukosa
terjadi selama penyerapannya dari usus ke dalam darah dan selama penyerapan
kembali glukosa dari tubuli ginjal dalam darah. Ko-transfor natrium-asam
amino terjadi utamanya dalam sel epitel saluran usus dan tubuli ginjal selama
penyerapan asam amino ke dalam darah (Raimundus Chalik, 2016).
Selanjutnya, endositosis merupakan suatu proses yang menggunakan
membran plasma untuk menelan partikel-partikel padat dan butiran kecil
cairan.. Terdapat tiga tipe endositosis yang terjadi dalam sel yaitu pinositosis,
fagositosis dan endositosis yang dimediasi reseptor. Pertama, pinositosis
dikenal juga sebagai endositosis cairan atau cell drinking, suatu vesikel
endositosis yang menelan volume kecil butiran cairan ekstrasel, kemudian
menyatu dengan membran sel dan melepaskan isinya ketika vesikel sudah
berada dalam sitoplasma. Tidak seperti fagositosis, pinsitosis memiliki vesikel
yang lebih kecil dari fagositosis dan isinya adalah cairan, dan juga memiliki
aktivitas yang rutin pada kebanyakan sel. Pinositosis sangat penting dalam sel
yaitu fungsinya dalam proses absorpsi, seperti reabsorpsi oleh sel epitel tubuli
ginjal (Raimundus Chalik, 2016).
Kedua, Fagositosis atau cell eating, yaitu suatu proses dimana sel dapat
menelan partikel padat seperti bakteri, jaringan mati, kotoran sel, dan benda
asing. Fagositosis terutama sangat penting untuk sel darah putih yang menelan
sel bakteri dan merusaknya ketika sudah berada dalam sitoplasma. Fungsi ini
sangat penting dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap penyakit. Ketiga
endositosis yang dimediasi reseptor, dalam proses ini zat yang akan ditanspor
berikatan dengan protein reseptor spesifik yang ada pada permukaan sel.
Kompleks zat-protein ieseptorini kemudian ditelan oleh membran sel dengan
proses endositosis. Zat-zat yang ditranspor dengan mekanisme ini meliputi
besi, kolesterol, enzim, insulin (Raimundus Chalik, 2016).
Sedangkan eksositosis adalah kebalikan dari endositosis, yaitu proses
transpor vesikel yang mengeluarkan zat-zat dari bagian dalam sel keluar sel.
Zat-zat ini dikemas dalam vesikel oleh aparatus Golgi. Selama eksositosis
vesikel bergerak ke membran sel, melebur dengannya dan mengosongkan
isinya dimana sekresi terjadi. Sekresi enzim pencernaan dari pankreas, sekresi
susu dari kelenjar mamma, hormon, neurotransmiter, mukus dalam tubuh kita
terjadi dengan eksositosis. Eksositosis adalah mekanisme dimana neuron
berkomunikasi dengan yang lainnya melalui pelepasan neurotransmiter yang
disimpan dalam vesikel sekretori. Proses eksositosis memerlukan ion kalsium.
Peningkatan konsentrasi kalsium sitosol akan mengaktifkan protein yang
diperlukanoleh membran vesikel untuk melebur dengan membran sel dan
melepaskan isinya. Eksositosis dan endositosis keduanya adalah proses aktit
yang memerlukan energi daam bentuk ATP (Raimundus Chalik, 2016).
Dalam dunia kefarmasian, sistem transport membran mengambil peran
dalam mekanisme penyerapan obat dalam tubuh. Obat mirip seperti substansi
fisiologi seperti hormon dan neurotransmiter, harus mencapai dan berinteraksi
dengan atau melewati membran agar dapat memberi pesan untuk marangsang
(stimulasi) atau menghambat (inhibit) fungsi seluler. Kebanyakan obat
deberikan untuk memberi efek pada tubuh sel yang jaraknya jauh dari tempat
pemberian obat (misalnya mau memberikan efek sistemik). Untuk berpindah
melewati tubuh dan mencapi tempat reaksi, metabolisme, dan ekskresi
(pengeluaran), molekul obat harus melewati berbagai membran sel (Nora
Susanti, 2016).
Terdapat tiga cara (jalan) obat berpindah melewati membran sel. Jalan yang
paling banyak melalui penetrasi langsung melalui membran bagi obat-obatan
yang larut dalam lemak, yang mampu larut dalam lapisan lipid (lemak)
membaran sel (dinding sel). Kebanyakan obat diformulasikan dapat larut
dalam lemak sehingga dapat berpindah melalui membran sel meskipun obat
tablet oral dan kapsul harus dapat larut dalam air agar terlarut di cairan aqua
(air) di dalam lambung dan usus (Nora Susanti, 2016)
Cara kedua melalui saluran protein yang merupakan jalan untuk welewati
membaran sel (dinding sel). Hanya beberapa obat yang mampu menggunakan
cara ini karena kebanyakan molekul obat begitu besar untuk melewati saluran
yang kecil. Ion kecil (misalnya Na+ dan K+) menggunakan jalur ini, tetapi
perpindahannya diatur oleh saluran spesifik dengan mekanisme gerbang.
Gerbang terbuka untuk beberapa milidetik dan membiarkan ion berpindah
melewati membran sel, selanjutnya tertutup (menghalangi saluran masuk)
untuk mencegah perpindahan ion tambahan. Pada saluran Natrium (Na),
gerbang berlokasi di luarsel membran; ketika gerbang terbuka, ion Na+
berpindah dari cairan ekstraseluler (luar sel) ke dalam sel. Pada saluran Kalium
(K+), gerbang berlokasi di dalam membran sel, ketika gerbang terbuka, ion K+
berpindah dari dalam sel ke cairan ekstraseluler (Nora Susanti, 2016)
Cara ketiga melalui protein pembawa yang mentraspotasikan molekul dari
satu sisi membaran sel ke sisi lainnya. Seluruh protein pembawa selektif dalam
membawa substansi yang akan ditransporkan (pindahkan). Sistem transpor ini
memiliki arti sangat penting dalam memindahkan molekul obat melewati
tubuh. sistem ini di gunakan, sebagai contoh, untuk membawa obat oral dari
usus ke aliran darah, untuk membawa hormon ke tempat aksi (kerja) di dalam
sel, dan membawa molekul obat dari aliran darah ke tubulus ginjal.
Ketika obat diabsorbsi tubuh, obat ditransportasikan ke dan dari sel target
melalui mekanisme seperti difusi pasif, difusi terpasilitasi, dan transport aktif.
Pertama difusi pasif yang merupakan mekanisme paling umum, meliputi
perpindahan obat dari area yang berkosentasi tinggi ke area lain yang
konsentrasinya lebih rendah. Sebagai contoh, setelah obat oral diberikan,
konsentasi awal obat tinggi di saluran pencernaan dari pada di dalam darah. Ini
mendukung perpindahan obat ke dalam aliran darah. Ketika obat
disirkulasikan, kosentarasi obat lebih tinggi di dalam darah daripada kosentrasi
di tubuh sel, jadi obat berpindah (dari pembuluh kapiler) ke dalam cairan
disekitar sel atau kedalam sel sendiri. Difusi pasif terus berlanjut hingga
mencapi kondisi seimbang antara jumlah obat di jaringan jumlah obat di dalam
darah.
Sedangkan difusi terfasilitasi mempunyai peroses yang mirip, perbedaannya
molekul obat dikombinasi dengan substansi pembawa, seperti enzim atau
protein lainnya. Pada transpor aktif molekul obat dipindahkan dari area yang
berkosentrasi rendah ke konsentasi yang tinggi (kebalikan difusi pasif). Proses
ini membutuhkan substansi pembawa dan melepaskan energi sel.
(Nora Susanti, 2016)
Pada percobaan yang dilakukan kali ini yaitu difusi dan osmosis didapatkan
hasil pengamatan. Pertama, difusi pada larutan aquades yang ditetesi tinta.
Setelah diberi 3 tetes tinta pada aquades dalam gelas kimia terjadi pergerakan
acak dari molekul-molekul pada tinta berdifusi dari area konsentrasi tinggi
(pekat) ke konsentrasi rendah (encer) pada aquades hingga larutan tinta
terdistribusi atau menyebar secara merata (Raimundus Chalik, 2016)
Kedua, osmosis dengan menggunakan kentang yang dimasukkan dalam
larutan aquades, gula 0.25M, 0.5M, 1M. Pada percobaan ini diamati perubahan
berat dan tekstur kentang sebelum dan sesudah dimasukkan dalam larutan
aquades dan gula 0.25M, 0.5M, 1M. Berdasarkan hasil pengamatan pada
kentang yang dimasukkan larutan aquades terjadi pertambahan berat kentang,
aquades mengalir ke dalam sel-sel kentang karena konsentrasi dalam sel
kentang lebih tinggi (hipertonis) dari aquades yang mana hal tersebut
menyebabkan isi sel bertambah dan sel dalam keadaan turgid (tekanan turgor
tinggi) sehingga kentang menjadi keras dan beratnya bertambah. Selanjutnya
pada kentang yang dimasukkan dalam larutan gula 0.25M, 0.5M, 1M terjadi
pengurangan berat kentang, saat kentang direndam dalam larutan gula 0.25M,
0.5M dan 1M akan terjadi perpindahan air secara osmosis dari sel-sel kentang
keluar menuu ke larutan gula, hal ini terjadi karena sel-sel kentang hipotonis
terhadap larutan gula yang hipertonis. Peristiwa tersebut menyebabkan sel-sel
kentang kekurangan air, akibatnya terjadi plasmolisis yang menurunkan
tekanan turgor sehingga kentang menjadi empuk dan lembek serta penurunan
berat karena perpindahan air dari sel-sel kentang ke larutan (Krisdianto, 2005).
Selain itu perbedaan konsentrasi pada larutan gula juga membedakan
kelunakan kentang dan penurunan berat yang terjadi, semakin hipertonis
larutannya (konsentrasi makin tinggi) makan semakin lembek kentang dan
semakin banyak pengurangan beratnya.

VII. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan dapat diketahui bahwa
transpor membran terdiri dari transpor pasif dan aktif. Transpor pasif
merupakan mekanisme perpindahan molekul atau zat yang tidak melewati
selaput membran semipermeabel dan tidak membutuhkan energi (ATP) karena
energi kinetik dari partikel dapat menyebabkan partikel tersebut bergerak dari
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Transpor pasif dapat berlangsung
karena adanya perbedaan konsentrasi antar membran larutan, transpor pasif
bersifat spontan dan tidak memerlukan energi dalam proses kerjanya Yang
termasuk transpor pasif yaitu difusi, osmosis dan filtrasi. Difusi adalah proses
berpindahnya zat dalam pelarut yang berkonsentrasi tinggi ke bagian yang
berkonsentrasi rendah tanpa melewati membran semipermeabel. Contoh dari
proses difusi dalam tubuh manusa yaitu pertukaran gas yang terjadi di paru-
paru yaitu pergerakan oksigen dari paru-paru ke pembuluh darah, ketika
menarik napas oksigen mengisi kantung udara kecil (alveoli) yang ada di dalam
paru-paru kita, di satu sisi ada kapiler paru yang mengandung sel darah merah
dengan kandungan oksigen yang sedikit kemudian oksigen akan berdifusi dari
area dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah, yaitu pertama melalui sel
alveolar, kemudian sel kapiler paru, dan terakhir ke dalam sel darah merah. Di
sisi lain, karbondioksida yang konsentrasinya tinggi di dalam sel akan berdifusi
dari jaringan sel ke darah dan selanjutnya ke kantung udara paru.
Sedangkan, osmosis merupakan proses difusi air melalui membran
semipermeabel dari pelarut yang berkonsentrasi tinggi (memiliki banyak air)
ke pelarut yang berkonsentrasi rendah (sedikit air), proses osmosis akan
berhenti jika konsentrasi di dalam dan di luar sel telah seimbang. Osmosis
memainkan peran penting dalam fungsi sel dan seluruh tubuh kita, karena
perubahan volume besar karena pergerakan air akan menganggu fungsi sel
normal.
Selanjutnya, transpor aktif merupakan transpor partikel-partikel
melalui membran semipermeabel yang bergerak melawan gradien konsentrasi
yang memerlukan energi dalam bentuk ATP. Tranpor aktif dibagi menjadi
transpor aktif primer, transpor aktif sekunder, endositosis, eksositosis.
Contohnya adalah pergerakan ion natrium dan kalium melintasi membran
plasma oleh pompa Na-K ATPase. Transporter ini menggerakkan 3 ion natrium
dari intrasel ke ekstrasel, dan 2 ion Kalium dalam arah yang berlawanan.
Dalam bidang kefarmasian peristiwa transpor membran berperan
dalam mekanisme penyerapan obat dalam tubuh. Ketika obat diabsorbsi tubuh,
obat ditransportasikan ke dan dari sel target melalui mekanisme seperti difusi
pasif, difusi terpasilitasi, dan transport aktif.
DAFTAR PUSTAKA
Alkatiri, S. 1996. Kajian Ringkas Biologi. Surabaya: Airlangga University Press
Chalik, Raimundus. 2016. Anatomi Fisiologi Manusia. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia
Krisdianto. 2005. Penuntun Biologi. Jakarta: Erlangga
Suharsono, Hamong. 2017. Transportasi Transmembran. Bali: Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Udayana
Sumadi, dan Aditya Marianti. 2007. Biologi Sel. Yogyakartta: Graha Ilmu
Susanti, Nora. 2016. Farmakologi Umum. Jakarta : Kementeran Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
LAMPIRAN

Kentang direndam larutan Kentang direndam larutan


aquades dan larutan gula aquades dan larutan gula

Kentang direndam Kentang direndam


larutan gula 0,25M larutan gula 0,5M

Kentang direndam
Kentang direndam larutan aquades
larutan gula 1M
LEMBAR PENILAIAN

TANGGAL PRAKTIKUM : 6 Maret 2019

TANGGAL PENYERAHAN LAPORAN : 7 Maret 2019

TOTAL NILAI
NILAI RESPONSI

NILAI KEHADIRAN

NILAI AKTIVITAS

NILAI HJSP

CATATAN :

TANDA TANGAN

MAHASISWA ASISTEN DOSEN

Haura Wulan

Elsa Dwi Nabilah Febrina


Vita Olivia
Rahayuningrum (1713015005) Mahmudah,
Siregar, M. S.
(1813015134) Irene Maydy M.Farm, Apt.
Farm
(1613015162)
Selvy Jumiatul Astati

(1613015066)