Anda di halaman 1dari 12

Case Report

DISPEPSIA FUNGSIONAL PADA OBESITAS


GRADE II

Disusun oleh:

SALEH NUR AZHARI


NIM. 1808437034

Pembimbing :
dr. Mukhyarjon, M.Biomed, SpPD.FINASIM

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2019
Case Report

Dispepsia Fungsional Pada Obesitas Grade II


Saleh Nur Azhari1, Mukhyarjon2
1
Penulis untuk korespondensi: Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau
2
Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Riau

ABSTRAK

Dilaporkan pasien laki-laki usia 23 tahun keluhan nyeri ulu hati. Nyeri dirasakan
seperti terbakar, nyeri dirasakan di ulu hati, intensitas terus menerus, tidak
menjalar, dan tidak hilang dibawa istirahat. Nyeri diperberat jika dibawa aktivitas
dan setelah makan. Setiap kali mencoba makan pasien mengeluhkan langsung mual
dan muntah yang berisi makanan yang dimakan, muntah 5x/hari. Pasien memiliki
riwayat penyakit magh. Pasien tidak memiliki pantangan makan, Pasien jarang
berolahraga, dan mudah stress. Dari pemeriksaan fisik BB 95 kg, TB 173 cm, IMT
31,77 kg/m2. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan peningkatan leukosit (14 x
103 /mm3). Pasien didiagnosis sebagai dyspepsia fungsional kriteria sindroma
nyeri epigastic dengan obesitas grade II. Penatalaksanaan adalah pemberian infus
ringer laktat 20 tpm, donperidone 10 mg tablet 3 kali dalam satu hari, omeprazol
injeksi 40 mg 1 ampul /24 jam secara intravena 2 kali dalam satu hari. Sukralfat
syrup 10 mg di berikan 3 kali sehari dan edukasi perubahan pola makan, latihan
fisik, dan obat anti obesitas.

Key words : Obesitas, Dyspepsia

Ilmu Penyakit Dalam FK UNRI April 2019 1


Case Report

PENDAHULUAN
Obesitas merupakan keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal
atau berlebihan dijaringan adiposa sehingga dapat mengganggu kesehatan.1
Obesitas merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskular (terutama
penyakit jantung dan stroke), diabetes, gangguan muskuloskeletal (osteoartritis dan
low back pain), dan beberapa jenis kanker (endometrium,payudara dan usus
besar).2,3 Obesitas terjadi karena adanya kelebihan energi yang disimpan dalam
bentuk jaringan lemak. Gangguan keseimbangan energi ini dapat disebabkan oleh
faktor eksogen (obesitas primer) sebagai akibat nutrisional (90%) dan faktor
endogen (obesitas sekunder) akibat adanya kelainan hormonal, sindrom atau defek
genetik (meliputi 10%). Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh
hipotalamus melalui 3 proses fisiologis, yaitu: pengendalian rasa lapar dan
kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran energi dan regulasi sekresi hormon.4
Asia-Pasifik memiliki batas ambang yang dimodifikasi lagi oleh WHO. Sehingga
didapatkan hasil bahwa batas ambang IMT untuk Asia-Pasifik. IMT berat badan
kurang <18,5 kg/m2., IMT berat badan normal 18,5-22,9 kg/m2, IMT berat badan
lebih >23,0 , IMT beresiko 23,0-24,9 kg/m2, IMT obes tingkat 1 25,0-29,9 kg/m2,
IMT obes tingkat II >30,0 kg/m2.5 Menurut World Health Organization (WHO)
2006, obesitas didefenisikan sebagai kumpulan lemak berlebih yang dapat
mengganggu kesehatan dengan Body Mass Index (BMI) ≥ 30 kg/m2.2
Dispepsia merupakan keluhan utama yang dalam waktu tertentu dapat
dialami oleh seseorang. Berdasarkan penelitian pada populasi umum didapatkan
bahwa 15-30% orang dewasa pernah mengalami hal ini dalam beberapa hari.
Diperkirakan bahwa hamper 30% kasus pada praktik umum dan 60% pada praktik
dokter spesialis gastroenterology merupakan kasus dispepsia ( Djojoningrat,2009).
Menurut kriteria ROMA III, dispepsia funcsional didefinisikan sebagai sindrom
yang mencakup satu atau ebih dari gejala-gejala berikut: perasaan perut penuh
setelah makan, cepat kenyang, atau rasa terbakar di ulu hati, yang berlangsung
sedikitnya dalam 3 bulan sebelum diagnosis.6

Ilmu Penyakit Dalam FK UNRI April 2019 2


Case Report

LAPORAN KASUS
Seorang laki-laki, 23 tahun datang ke RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau
dengan keluhan nyeri ulu hati 6 jam sebelum masuk Rumah Sakit. Nyeri dirasakan
semakin memberat, nyeri dirasakan hanya di ulu hati dan terus menerus, tidak
menjalar, dan tidak hilang dibawa istirahat. Nyeri di perberat jika di bawa akitvitas.
Nyeri dirasakan seperti terbakar di ulu hati. BAB tidak berdarah dan tidak berwarna
hitam.
Sejak 3 hari SMRS, pasien mengeluhkan nyeri ulu hati semakin memberat.
Nyeri berkurang ketika pasien membungkuk dan istirahat, tidak berkurang setelah
pasien buang angin, nyeri diperberat saat beraktivitas dan setelah makan, pasien
merasakan tidak nyaman setelah makan, setiap kali pasien mencoba makan, pasien
langsung mual dan muntah yang berisi makanan yang dimakan, muntah 5x/hari,
muntah sebanyak lebih kurang ½ gelas belimbing. Demam disangkal. BAB tidak
ada keluar darah dan tidak berwarna hitam.
1 minggu SMRS pasien kembali mengeluhkan nyeri perut yang sama,
keluhan disertai dengan mual, mual bertambah berat setelah pasien makan, muntah
(-), BAB hitam (-), BAB berdarah (-), sesak nafas (-), rasa terbakar di ulu hati (-)
5 bulan SMRS pasien mulai mengeluhkan nyeri perut di bagian ulu hati,
nyeri dirasakan seperti diremas, mendadak dan hilang timbul dengan durasi sekitar
lebih kurang 10 menit, nyeri dirasakan tidak menjalar dan respon dengan pemberian
obat yang didapatkannya dipuskesmas,pasien lupa nama obat yang diberikan,
pasien juga merasa cepat kenyang ketika makan,mual dan muntah (-), sesak nafas
(-)
Pada riwayat penyakit dahulu pasien memiliki riwayat penyakit magh,
pasien tidak memiliki riwayat penyakit jantung, diabetes melitus, dan tekanan
darah tinggi. Pada riwayat penyakit keluarga, ayah dan ibu pasien memiliki
penyakit maag (+).
Pada riwayat asupan makanan sebelum nyeri ulu hati 1 minggu SMRS,
pasien makan 3 kali sehari yaitu masing-masing 1 porsi nasi (2 centong nasi)
dengan 1-2 porsi lauk hewani (daging) yang dimasak di goreng dan di santan.
Pasien rutin meminum kopi di pagi hari, pasien suka mengomsumsi 8 potong
gorengan atau 1 porsi bakso/ mi ayam dan 3-4 keping biskuit coklat/hari.

Ilmu Penyakit Dalam FK UNRI April 2019 3


Case Report

Selama sakit, pasien hanya mengomsumsi nasi dan lauk biasa, pasien merasa cepat
kenyang. dan mulai mengomsumsi sayuran dan buah-buahan.
Pasien seorang mahasiswa semester akhir yang memiliki kerja sampingan
sebagai montir mobil disalah satu bengkel mobil, Pasien tidak memiliki pantangan
makan, kebiasaan makan 3x sehari dengan porsi setiap makan seperti nasi bungkus.
Pasien memiliki kebiasaan sering makan pada malam hari. pasien suka
mengomsumsi kopi,coklat, dan minuman yang manis-manis terutama saat pasien
merasa stress. pasien juga merokok 1 bungkus perhari namun berhenti setelah sakit
dirasakan semakin memberat. Pasien tidak pernah berolahraga.
Pemeriksaan fisik umum pasien tampak sakit sedang dengan kesadaran
komposmentis kooperatif. Dengan tanda vital TD : 120/90, HR : 82 x/menit, RR :
20 x/menit, suhu : 36,0 oC, Tinggi Badan : 173 cm, Berat Badan 95 kg, lingkar
perut, 115 cm, lingkar pinggang : 109 cm dan Indeks Massa Tubuh 31,77 kg/m2
(obesitas Il). Pada pemeriksaan fisik abdomen didapatkan pemeriksaan palpasi di
dapatkan nyeri tekan di epigastrium. Pada pemeriksaan fisik paru dan jantung
dalam batas normal. Pemeriksaan ekstremitas dalam batas normal.

Tabel 3. Hasil pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan Hasil Analisa
Darah rutin
Hemoglobin 15,6 g/dL Normal
Hematokrit 45,12 % Normal
Leukosit 14 x 103 /mm3 Meningkat
Eritrosit 5,76 x 106 /mm3
Trombosit 73 x 103 /mm3
Differential count
Neutrofil 62,2 % Tinggi
Limfosit 20 %
Monosit 4,9 %
Eosinofil 12,3%
Basofil 0,6 %
MCHC 34,3 g/Dl

Ilmu Penyakit Dalam FK UNRI April 2019 4


Case Report

MCV 79 µm3
MCH 27,1 pg/sel Normal

Elektrolit
Na 141
K+ 3,3 Rendah
Cl 104

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, pasien


ini didiagnosis Dispepsia Fungsional kriteria sindroma nyeri epigastic dengan
status nutrisi Obesitas 1l. Diagnosis banding pada pasien ini yaitu Dispepsia
organik. Tatalaksana non farmakologi pada pasien ini yaitu istirahat, pemberian
Ringer laktat 20 tpm/jam, diet kebutuhan kalori per hari 2088,6 kkal/hari.
Tatalaksana farmakologi pada pasien ini yaitu diberikan Donperidone 10 mg tablet
3 kali dalam satu hari, Omeprazol injeksi 40 mg 1 ampul /24 jam secara intravena
2 kali dalam satu hari. Sukralfat syrup 10 mg di berikan 3 kali sehari. Edukasi pasien
menghindari makanan yang pedas dan asam, kemudian makan sedikit-sedikit tapi
sering, perbanyak diet tinggi kalium dan edukasi menurunkan berat badan dengan
mengatur pola makan dan berolahraga.

FOLLOW UP PASIEN
Pada tanggal 24 Juni 2019 pasien masih merasakan lemas, lemah pada
ektremitas, mual, muntah, sendawa sudah mulai berkurang, tidur sudah mulai
nyenyak, belum ada BAB, BAK tidak ada keluhan. Urin output 1000 cc/24 jam,
tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 90x/ menit, suhu 36,90C dan frekuensi napas
18x/ menit. Rasa lemas, mual belum teratasi. Pada pasien ini terpasang infus ringer
laktat 20 tpm, telah diinjeksi Donperidone 10 mg tablet, diberikan injeksi
omeprazole injeksi 40 mg 1 ampul/24 jam dan sukralfat syrup 3x 10 mg. Monitoring
tanda-tanda vital, cek kalium dan diet pola makan, latihan fisik dan pemberian anti
obesitas.

DISKUSI

Ilmu Penyakit Dalam FK UNRI April 2019 5


Case Report

Telah dilaporkan pasien berumur 23 tahun dengan diagnosis Dispepsia


Fungsional kriteria sindroma nyeri epigastic dengan status nutrisi obesitas Il. Pada
pasien ini, diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
Pada anamnesis pasien mengeluhkan Nyeri ulu hati, rasa tidak nyaman
setelah makan, mual dan muntah setelah makan, nyeri hilang timbul, cepat merasa
kenyang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan epigastrium. Pada hasil
pemeriksaan penunjang, pada pasien ini pada pemeriksaan laboratorium didapatkan
leukositosis dan hipokalemi.
Pada kasus ini, guideline yang digunakan untuk penegakan diagnosis suatu
dyspepsia menggunakan kriteria Roma III yang mana dikategorikan sebagai
Dispepsia Fungsional kriteria sindroma nyeri epigastic. Berdasarkan The Asia-
Pasific perspective Redefining obesity and its treatment, World health Organization
Western Pacific Region didapatkan status nutrisi gizi pasien obesitas grade II
dengan Indeks Massa Tubuh 31,77 kg/m2.
Menurut scientific journal of pharmaceutical development and medical
aplication dyspepsia terjadi dikarenakan ketidakseimbangan antara faktor ofensif
dan faktor defensif dari bahan refluksat. Yang termasuk faktor defensif antara lain
‘disfungsi’ SEB atau sfingter esophagus bawah (disfungsi sfingter esofagus
bawah/SEB), bersihan asam dari lumen esofagus, dan ketahanan epitel esophagus.
Bentuk anatomik SEB yang melipat berbentuk sudut, dan kekuatan menutup dari
sfingter, menjadikan SEB berperan penting dalam mekanisme antirefluks.
Peningkatan tekanan intraabdomen (misalnya saat batuk), proses gravitasi saat
berbaring, dan kelainan anatomis seperti sliding hernia hiatal mempermudah
terjadinya refluks. Bersihan asam dari lumen esofagus adalah kemampuan esofagus
untuk membersihkan diri-nya dari bahan refluksat. Kemampuan esophagus ini
berasal dari peristaltik esofagus primer, peristaltik esofagus sekunder (saat
menelan), dan produksi saliva yang optimal. Ketahanan epitel esofagus berasal dari
lapisan mukus di permukaan mukosa, produksi mukus, dan mikrosirkulasi aliran
darah di post epitel. Sementara yang menjadi faktor ofensif adalah peningkatan
asam lambung, dilatasi lambung, beberapa kondisi patologis yang mengakibatkan
berkurangnya kemampuan pengosongan lambung seperti gastric outlet obstraction

Ilmu Penyakit Dalam FK UNRI April 2019 6


Case Report

dan delayed gastric emptying. Simptom khas PRGE adalah heartburn, yaitu rasa
terbakar di dada disertai nyeri dan regurgitasi (rasa asam pahit dari lambung terasa
di lidah). Salah satu dari keduanya cukup untuk mendiagnosis PRGE secara klinis.
Selain kedua gejala tersebut, PRGE dapat menimbulkan keluhan nyeri atau rasa
tidak enak di epigastrium atau retrosternal bawah, disfagia (kesulitan menelan
makanan), odinofagia (rasa sakit waktu menelan), mual dan rasa pahit di lidah.
Salah satu faktor yang berperan pada kejadian sindroma dispepsia diantaranya
adalah pola makan . Selain jenis – jenis makanan yang di konsumsi oleh remaja,
pola makan yang tidak teratur seperti jadwal makan yang tidak sesuai serta
kebiasaan yang dilakukan dapat berpengaruh sehingga dapat menyebabkan
sindroma dispepsia. Makanan yang tidak teratur serta mengkomsumsi jenis-jenis
makan yang pedas dan kebiasaan yang kurang baik adalah olahraga dengan perut
yang kosong yang menunjukkan pola makan yang tidak teratur.
Selain faktor makanan, salah satu penyebab terjadinya sindroma dispepsia
adalah sekresi cairan asam lambung. Asam lambung adalah cairan yang dihasilkan
lambung dan bersifat iritatif dengan fungsi utama untuk pencernaan dan membunuh
kuman yang masuk bersama makanan. Beberapa bahan makanan tertentu yang
bersifat iritatif dapat secara khusus sangat merusak sawar mukosa pelindung
lambung yaitu terhadap kelenjar mukus dan terhadap taut epitel yang rapat (tight
epithelial junctions) di antara sel pelapis lambung, dua bahan makanan yang paling
umum adalah alkohol atau aspirin yang berlebihan. Hal ini akan menyebabkan
terjadinya sindroma dispepsia. Produksi asam lambung berlangsung terus –
menerus sepanjang hari. Pengaturan sekresi lambung terdapat beberapa fase
termasuk fase sefalik yang dimulai bahkan sebelum makanan masuk ke lambung
yang berasal dari korteks serebri yang kemudian dihantar oleh nervus vagus ke
lambung yang mengakibatkan kelenjar gastrik terangsang untuk menyekresi HCL,
pepsinogen, dan menambah mukus. Hal ini menghasilkan sekitar 10% dari sekresi
lambung normal yang berhubungan dengan makanan. Frekuensi makan yang tidak
sesuai mengakibatkan jeda waktu makan yang lama sehingga produksi asam
lambung yang berlebihan dapat mengakibatkan terjadinya sindroma dispepsia.Hal
ini sesuai dengan penelitian, dimana frekuensi makan 2 kali dalam sehari dan

Ilmu Penyakit Dalam FK UNRI April 2019 7


Case Report

sebagian responden makan tidak teratur, atau hanya makan 1 kali dalam sehari
sebanyak 4%.
Berdasarkan buku endocrinology obesitas terjadi karena adanya kelebihan
energy yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Gangguan keseimbangan
energi ini dapat disebabkan oleh faktor eksogen (obesitas primer) sebagai akibat
nutrisional (90%) dan faktor endogen (obesitas sekunder) akibat adanya kelainan
hormonal, sindrom atau defek genetik (meliputi 10%). Pengaturan keseimbangan
energy diperankan oleh hipotalamus melalui proses fisiologis, yaitu: pengendalian
rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran energy dan regulasi sekresi
hormon. Proses dalam pengaturan penyimpanan energy ini terjadi melalui sinyal-
sinyal eferen yang berpusat di hipotalamus, setelah mendapatkan sinyal aferen dari
perifer (jaringan adipose, usus, dan jaringan otot), sinyal-sinyal tersebut bersifat
anabolic (meningkatkan rasa lapar serta menurunkan pengeluaran energy) dan
dapat pula bersifat katabolik (anoreksia meningkatkan pengeluaran energi) dan
dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang. Sinyal pendek
mempengaruhi porsi makan dan waktu makan, serta berhubungan dengan faktor
distensi lambung dan peptida gastrointestinal, yang diperankan oleh kolesistokinin
(CCK) sebagai stimulator dalam peningkatan rasa lapar. Sinyal panjang diperankan
oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan dan
keseimbangan energi. Apabila asupan kebutuhan energy lebih besar dari asupan
energy, maka jaringan adipose berkurang dan terjadi rangsangan pada orexigenic
center di hipotalamus yang menyebabkan peningkatan nafsu makan. Pada sebagian
besar penderita obesitas terjadi resistensi leptin, sehingga tingginya kadar leptin
tidak menyebabkan penurunan nafsu makan.
Permasalahan ini kenapa pada orang obesitas bisa menyebabkan dyspepsia?
Berdasarkan Evidence-based clinical practice guidelines for functional
dyspepsia ditemukan ada pengaruh pola makan orang menderita obesitas terhadap
dispepsia persentasenya 40 %. Pola makan yang tidak teratur menjadi predisposisi
untuk gejala gastrointestinal yang menghasilkan hormon-hormon gastrointestinal
yang tidak teratur sehingga akan mengakibatkan terganggunya motilitas
gastrointestinal. keteraturan makan dan jeda antara waktu makan sangat
berpengaruh. Jeda antara waktu makan merupakan penentu pengisian dan

Ilmu Penyakit Dalam FK UNRI April 2019 8


Case Report

pengosongan lambung. Jeda waktu makan yang baik yaitu berkisar antara 4-5 jam.
Faktor psikososial berkontribusi pada gejala dyspepsia fungsional kehadiran asam
lambung dianggap sebagai penyebab. Asam lambung adalah cairan yang dihasilkan
lambung dan bersifat iritatif dengan fungsi utama untuk pencernaan dan membunuh
kuman yang masuk bersama makanan. Produksi asam lambung berlangsung terus
– menerus sepanjang hari . Pengaturan sekresi lambung terdapat beberapa fase
termasuk fase sefalik yang dimulai bahkan sebelum makanan masuk ke lambung
yang berasal dari korteks serebri yang kemudian dihantar oleh nervus vagus ke
lambung yang mengakibatkan kelenjar gastrik terangsang untuk menyekresi HCL,
pepsinogen, dan menambah mukus. Hal ini menghasilkan sekitar 10% dari sekresi
lambung normal yang berhubungan dengan makanan. Frekuensi makan yang tidak
sesuai mengakibatkan jeda waktu makan yang lama sehingga produksi asam
lambung yang berlebihan dapat mengakibatkan terjadinya sindroma dispepsia.
Pada pasien ini pengobatan yang diberikan Menurut berdasarkan National
consensus on management of dyspepsia pertama memberikan edukasi modifikasi
gaya hidup, kemudian menilai predominant symptoms. Jika terdapat fullneas after
meal, early satiety bloating nausea,vomiting, blurping, diberikan dengan atau tanpa
PPI, setelah 4 – 8 minggu tidak ada respon mencoba memberikan antidepressant
atau anxiolytic jika tidak ada perbaikan rujuk ke spesialis. Jika ditemukan gejala
nyeri epigastric/burn maka pengobatan yang diberikan PPI dengan atau tanpa
prokinetics cytoprotectors PPI-down regulation.
Berdasarkan Panduan Praktik Klinis tatalaksana dalam obesitas ini yaitu
modifikasi gaya hidup berupa diet yang telah diperbaiki, aktivitas fisik yang
meningkat dan perubahan perilaku selama 6 bulan. BBI = (TB-100)- 10% (TB-
100)= (173-100) – 10% (173-100) = 65,7 kg. Diet yang diberikan berdasarkan
pengukuran kebutuhan energi basal menggunakan rumus dari Harris-Benedict yaitu
66,5 + (13.75 x kg) + (5.003 x cm) – (6.775 x age) = 66,5 + (13.75 x 95) + (5.003
x 173) – (6.775 x 22) = 2088,6 kkal. Kemudian dikalikan dengan aktivitas fisik
1,56 (kategori ringan pada laki-laki) maka hasilnya 3258,216 kkal. Kebutuhan
protein (10%-15%) 81,45 gr – 122,18 gr, kebutuhan lemak (10%-25%) 36,20 gr –
90,50 gr, kebutuhan karbohidrat (60%-75%) 488,73 gr –610,91 gr. Dengan
demikian diharapkan target penurunan berat badan sebesar ½ - 1 kg per minggu dan

Ilmu Penyakit Dalam FK UNRI April 2019 9


Case Report

penurunan sebesar 10% selama 6 bulan. Jika tidak memberikan respon terhadap
penurunan berat badan, maka pasien akan memperoleh obat-obatan penurunan
berat badan. Menurut Pusat informasi obat nasional adapun obat-obatan penurunan
berat badan yang telah disetujui oleh FDA di Amerika Serikat untuk penggunaan
jangka panjang yaitu sibutramine dan orlistat. Namun di Indonesia sibutramin telah
dibatalkan edarnya karena adanya peningkatan risiko kejadian kardiovaskular.
Orlistat merupakan obat anti obesitas yang bekerja pada pada saluran cerna yang
menghambat lipase, sehingga mengurangi absorbsi lemak.11

Kesimpulan
Dari laporan kasus ini, didapatkan bahwa pasien mengalami dispepsia
fungsional dengan status gizi obesitas II, dengan gejala-gejala seperti, nyeri ulu
hati, rasa tidak nyaman setelah makan, mual dan muntah setelah makan, nyeri
hilang timbul, cepat merasa kenyang. Kemudian didapatkan Indeks Massa Tubuh
(IMT) 31,77 kg/m2 (obesitas Il). Frekuensi makan yang tidak sesuai dan faktor
psikososial berkontribusi pada gejala dyspepsia fungsional kehadiran asam
lambung dianggap sebagai penyebab pada pasien obesitas. Terapi pada pasien ini
yakni diberikan dengan atau tanpa PPI , setelah 4 – 8 minggu tidak ada respon
mencoba memberikan antidepressant atau anxiolytic jika tidak ada perbaikan rujuk
ke spesialis. Monitoring tanda-tanda vital, diet pola makan, latihan fisik, dan obat
anti obesitas.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sugondo S. Obesitas. Dalam : Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simandibrata M,
Setiyahadi B, Syam AF. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid II. Edisi 6.
Jakarta; Balai penerbit FK-UI; 2014, 2559-69.

2. WHO. Media centre. Fact sheets. Obesity and Overweight. Available at


http://www.who.int/mediacentre/fact sheets/fs311/en/. [cite 2018 0ct 5]

3. Profil kesehatan Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016.

4. Cahyaningrum A. Leptin Sebagai Indikator Obesitas. J Kesehatan Prima;


2015;9(1);1367-9

Ilmu Penyakit Dalam FK UNRI April 2019 10


Case Report

5. The Asia-Pasific perspective: Redefining obesity and its treatment. World


health Organization Western Pacific Region. 2000.

6. Abdullah, M., & Gunawan, J., 2012. Dispepsia. Jurnal, Fakultas Kedokteran
Divisi Gastroenterologi dan Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Universitas
Indonesia, Jakarta

7. Riyanto BS. Buku Ajar Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.


EGC.2009.

Ilmu Penyakit Dalam FK UNRI April 2019 11