Anda di halaman 1dari 6

Nama : Ronauli Sitinjak

NIM : 21080116120023
Kelas : A

1. a. Glukosa (C6H12O6)
 Pada respirasi aerobic : C6H12O6 + O2  6CO2 + 6H2O + Energi (688Kkal)
 Senyawa yang dihasilkan : Karbon dioksida , Uap air, dan Energi
 Prosesnya : Proses biologis senyawa glukosa disini yaitu proses
respirasi dimana yang diawali dengan adanya penangkapan O2 dari lingkungan.
Proses transport gas-gas berlangsung secara difusi. Oksigen yang digunakan dalam
respirasi masuk ke dalam setiap sel dengan jalan difusi melalui ruang antar sel,
dinding sel, sitoplasma dan membran sel Setelah mengambil O2 dari udara, O2
kemudian digunakan dalam proses respirasi dengan beberapa tahapan, diantaranya
yaitu glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, siklus asam sitrat, dan transpor elektron.

b. Nitrogen organik (R-NH2)


 Pada Amonifikasi : CH3(COO)NH2 + energi kimia + [2H+] → CH3COOH + NH3
 Senyawa yang dihasilkan : Amonia dan Asam Etanoat
 Prosenya : amonifikasi merupakan proses pembusukan
senyawa organic yang dibantu oleh beberapa mikroorganisme seperti bakteri dan
jamur, dimana keberadaan N2 di dalam tanah terdapat dalam bentuk molekul
anorganik. Organisme yang sudah mati diuraikan melalui proses hidrolisis yang
menyebabkan protein terurai menjadi asam amino yang sudah terbentuk dikonversi
menjadi ammonia (NH3) dan proses tersebut dinamakan amonifikasi.

c. Fosfor (P)
 Pada proses hidrolisis menghasilkan ortofosfat:
CaHPO4 . 2H2O + H+ →Ca2+ + H2PO4 – + 2H2O
 Senyawa Produk : Ion Kalsium, Dihidrogen Fosfat, Air
 Proses : Akumulasi polifosfat dalam intraseluler pada kondisi
aerobik. Sedangkan pada kondisi anaerobik terjadi pelepasan fosfat dari sel-sel.
Proses ini digunakan untuk menyisihkan fosfat dalam air limbah. daur fosfat
diawali yang dengan pembentukan fosfat anorganik oleh alam. Fosfor terdapat di
alam dalam bentuk ion fosfat (PO4-) dan banyak terdapat pada batu-batuan. Batu-
batuan yang kaya dengan fosfat yang mengalami erosi dan pelapukan terkikis dan
hanyut oleh air membentuk larutan fosfat. Larutan fosfat kemudian diserap oleh
tumbuhan dan makhluk hidup autotrof seperti protista fotosintesis dan
Cyanobacteri. Bentuk fosfat yang disimpan intraseluler polifosfat disebut volutin.
Volutin banyak mengandung asam ribonukleat (RNA) dan memiliki sifat mudah
menyerap zat warna tertentu, yakni zat warna yang bersifat basa.

d. Sulfur (S)
 Pada proses Pembentukan Hujan Asam : H2S + 2O2 → H2SO4
S + 1,5O2 + H2O → H2SO4
 Senyawa yang dihasilkan : H2SO4 (Asam Sulfat)
 Prosesnya : Oksidasi aerobik oleh bakteri
pengoksidasi sulfur acidophilic membentukan asam sulfat . siklus belerang
adalah gas hydrogen sulfide H2S; mineral-mineral sulfide seperti PbS; asam
sulfat H2SO4; belerang oksida, SO2 komponen utama dari hujan asam; dan
belerang yang terikat dalam protein. Mineralisasi senyawa belerang organik
(RSH, di mana R adalah radikal organik) secara anaerobic berasal dari
pembusukan bahan organic.. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena
membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan
binatang.

e. Besi (Fe)
 Pada proses siklus oksidasi Fe2+/reduksi F3+ :
4Fe2+ + O2 + 4H+ → 4Fe3+ + 2H2O / Fe3+ + [H=bioreduktan] + OH- → Fe2+ + 2H2O
 Senyawa yang dihasilkan : Fe3+ dan Fe2+
 Proses : Oksidasi Fe2+ pada pH rendah dilakukan
oleh bakteri acidophilic pengoksidasi besi. Reduksi Fe3+ dalam kondisi anaerob
dilakukan oleh bakteri pereduksi bes. Proses tersebut juga yaitu kemosintesis
dimana pembuatan energy anorganik menjadi bahan organiki tu ternyata tidak
selalu menggunakan energy matahari maka dari itu proses ini dikenal dengan
dengan kemosintesis bakteri besi memperoleh energy kimia dengan oksidasi
tersebut.

2. Biomassa mati dan limbah organik mengalami kecepatan degradasi yang berbeda-
beda maka dari itu disini strategi saya mengolah campuran sampah A dan B secara biologis
agar proses biodegradasi lebih cepat yaitu saya akan menyusun tingkatan selanjutnya
berdasarkan pada kecepatan kandungan dalam zat tersebut terdegradasi. Menyusun
timbunan/tumpukan sampah dimana yang paling mudah terdegradasi diletakkan di paling
atas karena hal tersebut akan membuat mudah bereaksi dengan udara yaitu O2 (Oksigen).
Pada susunan paling atas yaitu 1Glukosa kemudian pada tingkatan bawahnya
terdapat 2Galaktosa lalu Disakarida, kemudian 3limbah limbah makanan lalu pada
4 5 6
tingkatan bawahnya Protein, kemudian Sampah daun dan kertas, Plastik, lalu
6
Minyak dan lemak, dan pada susunan paling bawah terdapat 6Ranting pohon. Hal ini
sesuai dengan urutan tingkat biodegradasi, yaitu sebagai berikut:
oligosakarida (tersimpan dalam sel) > polisakarida (tersimpan dalam sel) > RNA>
protein> polisakarida struktural> alifatik dan aromatik senyawa> lipid> lignin.
Hal ini juga karena kadar air pada sampah A dan B berbeda dimana semakin banyak kadar
air yang terkandung saya tempatkan zat/bahan sampah tersebut pada tingkatan atas karena
agar zat/bahan tersebut cepat kering dan cepat terbiodegradasi. maka kadar air yang tinggi
yaitu bak sampah A 70 % digabungkan dengan bahan-bahan sampah di Bak sampah B
sesuai dengan jenis nya.

3. Menurut saya konten jurnal ini sudah tepat mengenai penyerapan dan
transformasi logam berat dengan mikroorganisme. Prinsip bioremediasi sendiri adalah
sebuah proses untuk menghilangkan polutan yaitu mengeliminasi polutan dari air, tanah,
dan sedimen oleh mikroorganisme, cara kerja daribioremediasi adalah mentransformasi
polutan yang berbahaya ke dalam bentuk senyawa atau gas yang tidak berbahaya, dimana
dalam jurnal ini menggunakan mikroorganisme.
Mikroorganisme khususnya nanopartikel digunakan dalam mengeliminasi polutan
yang terdapat pada air dan tanah, definisi dari nanopartikel itu sendiri adalah benda kecil
yang berperilaku sebagai satu kesatuan terhadap sifat dan transportasinya. Kombinasi
nanopartikel dan proses biologis berhasil dalam meningkatkan akurasi pengukuran,
meningkatkan efisiensi bioremediasi dan memperluas aplikasi biokimia dalam penelitian
lingkungan. Nanopartikel terkait bioremediasi memiliki risiko kebocoran genetik yang
rendah di lingkungan dan dapat memberikan fungsi dan karakter tambahan pada proses
biokimia. Pada jurnal ini ada beberapa metode untuk mengsintesis nanopartikel yang
berfungsi untuk mentransformasi logam. Sintesis nanopartikel yang digunakan yaitu “
green nanotechnology “ karena dapat mentransformasi organisme, tanaman dan mikroba.
Sebagian besar mikroba digunakan untuk penggunaan komersial dan proses
dekontaminasi yang cepat karena daya toleransi dan reproduksi yang tinggi, sifat-sifat ini
cocok untuk mentransformasi logam berat. Beberapa keuntungan mengunakan “ green
synthesis “ adalah :

Keuntungan dari penggunaan nanopartikel sangat banyak, sebagai berikut :


 Memiliki kemampuan untuk menyerap jumlah polutan maksimum karena luas permukaan
yang besar
 Mengkatalisis reaksi dalam tingkat yang lebih cepat dibandingkan dengan bahan curah,
sehingga mengurangi konsumsi energi
 Selama degradasi membantu mencegah pelepasan kontaminan. Bentuk partikel yang
tersirat membuat kontaminan mudah diakses sehingga meningkatkan remediasi in-situ
daripada remediasi ex situ yang akan memakan proses panjang
 Kemampuan nanopartikel untuk melapisi berbagai ligan dan memiliki kontrol luas
permukaan rasio volume dengan mengubah bentuk nanopartikel yang memungkinkan
desain sensor polutan yang dengan tinggi.

Mengurangi polutan terutama logam berat yang tercemar pada air, tanah sangat
efektif menggunakan nanopartikel dengan mengtransformasi logam berat menjadi senyawa
yang tidak berbahaya bagi lingkungan dikarenakan sifat nanopartikel yaitu memiliki luas
permukaan yang besar dan proses nya cepat, langsung mengubah senyawa tanpa
membutuhkan berbagai proses terlebih dahulu dan dapat terarah ( langsung ke polutan yang
terdapt di lingkungan ) karena logam-logam berat seperti Fe, Na dllnya dapat membentuk
ligan, dengan nanopartikel maka ligan-ligan dari senyawa logam berat dalam dilapisi dan
dirubah menjadi senyawa yang tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar dengan proses
sebagai berikut :

Hal tersebut dapat dilihat bahwa nol valent besi, emas, perak, titania, titik kuantum dan
nanotube yang merupakan logam berat. Membuktikan potensi dari nanopartikel mereka
sebagai sensor dan remediator yang efisien terhadap penyerapan dan transformasi logam
berat. Kesimpulan nya yaitu mikroba dapat digunakan sebagai pabrik untuk berbagai
keperluan untuk mengeksplorasi nanoremediasi seiring dengan kesuburan tanah dan
menjaga keseimbangan ekosistem. Nanopartikel juga dapat membatasi penggunaan
pestisida dengan biosintesis mikroba mikroba nanopartikel yang muncul sebagai teknologi
baru bagi umat manusia untuk melindungi tanaman mereka. Lingkup nanoteknologi hijau
“ green nanotechnology “ perlu mekar untuk membuat bumi dapat membuat bumi lebih
hijau dan bersih terutama logam-logam berat yang merupakan polutan primer pada
pencemaran air dan tanah. kemajuan terapi prosedur mikrobial ramah lingkungan.