Anda di halaman 1dari 8

Heat Stress, Penyakit Mematikan Akibat Paparan

Panas Ini Penting Diwaspadai Pekerja!


30 November 2017

Tekanan panas yang mengenai tubuh manusia dapat mengakibatkan permasalahan kesehatan
hingga kematian. Efek penyakit akibat panas yang paling fatal adalah heat stroke. Bila dibiarkan
tanpa penanganan yang serius, kondisi ini bisa mengancam jiwa pekerja.

Sumber: nipgroup.com
Para pekerja lapangan terutama pekerja konstruksi, industri minyak dan gas bumi (migas), dan galangan
kapal tentu sudah terbiasa bekerja di lingkungan yang panas dalam waktu lama. Namun tahukah Anda,
kondisi seperti ini berpotensi menimbulkan heat stress bagi pekerja?
Lingkungan kerja yang tidak nyaman seperti temperatur yang melebihi nilai ambang batas (NAB)
mengakibatkan panas yang dapat mempengaruhi performa kerja dan juga kesehatan tubuh pekerja. Bila
pekerja yang terpapar panas tidak mampu menjaga atau mengatur suhu normal dalam tubuhnya, hal ini
bisa memicu timbulnya heat stress. Lebih fatal lagi, bila dibiarkan tanpa penanganan serius bisa
mengakibatkan kematian.

Baca juga artikel ini:

 Studi IOSH: 42 Persen Kasus Kematian Akibat Melanoma Maligna Terjadi di Sektor
Konstruksi
 Bahaya Getaran Pada Alat Kerja, Pekerja Berisiko Terkena Hand-Arm Vibration
Syndrome
Apa Itu Heat Stress dan Bagaimana Pekerja Bisa Terkena Heat
Stress?
Tekanan panas atau heat stress dapat dikatakan sebagai reaksi fisik dan fisiologis pekerja terhadap suhu
yang berada di luar kenyamanan bekerja. Suhu yang dimaksud adalah suhu panas yang ekstrem.

Sumber: mediologiest.com
Paparan panas di lingkungan kerja bisa berasal dari:

 Suhu dan kelembaban tinggi, paparan sinar matahari secara langsung


 Gerakan atau aliran udara yang terbatas
 Kerja fisik yang berat
 Panas metabolisme tubuh
 Pakaian kerja
 Tingkat aklimatisasi

Faktor iklim kerja dan non iklim tersebut yang dapat meningkatkan risiko pekerja terkena heat stress.
Sebetulnya heat stressterjadi apabila tubuh pekerja sudah tidak mampu lagi menyeimbangkan suhu tubuh
normal karena besarnya paparan panas dari luar. Sederhananya, heat stress bisa terjadi ketika tubuh
gagal mengendalikan suhu internal.
Jika tubuh terpapar panas, maka sistem yang ada di dalam tubuh akan mempertahankan suhu tubuh
internal agar tetap berada pada suhu normal (36-37,5°C) dengan cara mengeluarkan keringat dan
mengalirkan darah lebih banyak ke kulit.
Dalam kondisi demikian, jantung bekerja keras memompa darah ke kulit bagian luar (permukaan tubuh)
dan kelenjar keringat terus mengeluarkan cairan yang mengandung elektrolit ke permukaan kulit dan
penguapan keringat menjadi cara efektif untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap normal.
Sumber: esaunggul.ac.id
Namun, jika suhu di luar dan kelembaban terlampau tinggi, maka keringat tidak dapat menguap dan tubuh
akan gagal mempertahankan suhu internalnya, dalam kondisi inilah tubuh mulai terganggu. Kondisi ini
mempengaruhi kemampuan seseorang untuk bekerja di lingkungan panas.
Dengan banyaknya darah mengalir ke kulit, maka pasokan darah ke otak, otot-otot aktif dan organ tubuh
lainnya menjadi berkurang, sehingga kelelahan dan permasalahan kesehatan akibat panas pun lebih cepat
terjadi. Kegagalan tubuh menyeimbangkan suhu tubuh internal ini yang pada akhirnya bisa memicu
timbulnya heat stress pada pekerja.

Siapa Saja yang Berisiko Terkena Heat Stress?


Seseorang yang mengenakan pakaian pelindung dan bekerja di lingkungan panas, kelembaban tinggi dan
melakukan kerja fisik berat adalah pekerja yang paling berisiko terkena heat stress. Umumnya heat
stress dialami oleh pekerja konstruksi, pertambangan, pabrik kaca dan pabrik karet, pabrik peleburan
logam, pekerja di ruang boiler, dan pekerja yang terpapar panas lainnya.

Apa Pengaruh Heat Stress Terhadap Pekerja?


Heat stress termasuk potensi bahaya di lingkungan kerja yang harus mendapat perhatian khusus. Heat
stress, baik akibat proses metabolisme tubuh maupun paparan panas dari lingkungan kerja dapat
menimbulkan masalah kesehatan dari yang ringan, seperti heat cramps dan heat exhaustion hingga yang
serius, yaitu heat stroke.

Sumber: safetyequipment.org
Heat Cramps
Heat cramps adalah kejang atau kram pada otot, bahkan bisa mengakibatkan pingsan pada penderita. Hal
ini disebabkan karena ketidakseimbangan cairan dan garam selama melakukan kerja fisik yang berat di
lingkungan panas.
Gejala:
Kram pada otot, nyeri atau kejang di perut, lengan atau kaki.
Pertolongan pertama:

 Hentikan semua aktivitas dan istirahatlah di tempat sejuk dan teduh


 Minum cairan elektrolit, namun tidak melebihi air minum biasa. Hindari mengonsumsi tablet
garam kecuali jika direkomendasikan oleh dokter
 Hindari kembali melakukan kerja fisik berat selama beberapa jam setelah kram mereda
 Segera hubungi petugas medis jika kram tidak mereda dalam waktu satu jam.

Heat Exhaustion
Heat exhaustion terjadi akibat kurangnya cairan tubuh atau volume darah. Kondisi ini terjadi jika jumlah air
yang dikeluarkan seperti keringat melebihi dari air yang diminum selama terpapar panas.
Gejala:

 Nadi cepat
 Keringat berlebih
 Kulit pucat
 Kelelahan ekstrem
 Pusing
 Mual dan muntah
 Emosi tidak stabil
 Pernapasan pendek dan cepat
 Suhu tubuh sedikit mengalami peningkatan (37-40°C)
 Kehilangan kesadaran

Pertolongan pertama:

 Beristirahatlah di tempat yang sejuk dan teduh


 Minumlah air yang banyak
 Longgarkan pakaian dan kompres bagian kepala, leher, dan wajah menggunakan handuk dingin
 Basuh kepala, wajah, dan leher dengan air dingin
 Jika gejala tidak mereda, segera hubungi petugas medis
 Pastikan ada rekan kerja yang menemani korban sampai bantuan tiba.

Heat Stroke
Heat stroke adalah efek heat stress paling serius/ fatal karena jika dibiarkan tanpa penanganan serius,
kondisi ini bisa mengakibatkan koma dan kematian. Penyebabnya adalah paparan panas yang terus-
menerus dan ekstrem, serta kegagalan regulator suhu tubuh.
Gejala:

 Suhu tubuh tinggi (di atas 40°C)


 Kurang berkeringat saat cuaca panas
 Mual dan muntah
 Kulit memerah
 Napas cepat dan dangkal
 Peningkatan denyut jantung
 Sakit kepala
 Kebingungan, kejang, halusinasi
 Pingsan
 Kram otot

Pertolongan pertama:

 Segera hubungi petugas medis


 Bawa korban ke tempat sejuk dan teduh
 Lepas pakaian pelindung/ pakaian luar yang korban kenakan
 Tempatkan tubuh korban di dalam bak air dingin atau air es atau membungkus korban dengan
selimut pendingin khusus dan menyelimuti korban dengan es. Terutama pada daerah leher,
pangkal paha dan ketiak untuk menurunkan suhu tubuh.

Apa yang Harus Dilakukan Perusahaan dan Pekerja untuk Mencegah


Heat Stress?
Pada kebanyakan kasus, heat stress dapat dicegah atau setidaknya risiko terkena heat stress dapat
diminimalkan. Berikut rekomendasi pencegahan heat stress menurut Occupational Safety and Health
Administration (OSHA):

Sumber: safetyandhealthmagazine.com
1. Membuat program pencegahan heat stress
Perusahaan harus memilih dan menentukan pekerja yang terlatih dan kompeten dalam menangani bahaya
di tempat kerja, salah satunya bahaya paparan panas. Selanjutnya, pekerja ini yang akan bertanggung
jawab dalam merencanakan, mengembangkan, melaksanakan dan mengelola program terkait paparan
panas di tempat kerja.
2. Melakukan identifikasi bahaya
Perusahaan dan pekerja wajib melakukan identifikasi bahaya paparan panas untuk meminimalkan
kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan penurunan produktivitas kerja. Kegiatan identifikasi bahaya ini
meliputi:

 Mengenali bahaya paparan panas dan risiko penyakit akibat panas bagi pekerja
 Menghitung indeks tekanan panas melalui pengukuran faktor-faktor eksternal lingkungan yang
mempengaruhi tekanan panas, yaitu suhu, kelembaban, kecepatan angin, suhu kering, suhu
basah dan suhu radiasi.
 Melakukan evaluasi terhadap kesehatan pekerja akibat paparan panas, yaitu dengan mengukur
tekanan darah, denyut nadi dan suhu tubuh pekerja
 Menentukan langkah pengendalian dan perbaikan untuk meminimalkan bahaya paparan panas.

3. Melakukan pengendalian teknik


Pengendalian teknik yang dapat dilakukan adalah memasang ventilasi umum, memasang exhaust fan,
memasang dust collector, penggunaan penyekat (shielding) terutama untuk mengurangi panas radiasi
serta mengurangi suhu dan kelembaban melalui pendingin udara.
4. Melindungi pekerja dari risiko terkena heat stress
Untuk mencegah pekerja dari heat stress, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Hindari melakukan
aktivitas fisik berat, lingkungan panas yang ekstrem, paparan sinar matahari, dan lingkungan dengan
kelembaban tinggi bila memungkinkan. Jika tidak memungkinkan, lakukan langkah-langkah pencegahan
berikut ini:

 Awali hari dengan minum air putih secukupnya. Hindari alkohol dan minuman yang mengandung
kafein karena dapat menyebabkan dehidrasi
 Gunakan pakaian berwarna cerah, ringan/ tipis, dan menyerap keringat (bahan katun). Hindari
pakaian berbahan sintetis.
 Lakukan diet seimbang. Konsumsi buah, sayuran, protein, serat akan sangat membantu.
 Konsumsi cairan elektrolit, namun tidak melebihi air minum biasa
 Gunakan pelindung wajah dan leher
 Pastikan di area kerja terdapat stasiun air minum dan mudah diakses
 Minumlah satu gelas air setiap 15 menit, sekalipun Anda belum merasa haus
 Lakukan istirahat secara berkala saat melakukan pekerjaan berat di lingkungan dengan suhu
panas dan kelembaban tinggi. Beristirahatlah di tempat sejuk dan teduh.
 Pertimbangkan untuk menyediakan wadah air bertanda khusus yang berisi air dan es untuk
membasahi handuk leher, lengan dan lainnya
 Pantau kondisi fisik Anda dan rekan kerja untuk mengetahui adanya tanda atau gejala penyakit
akibat panas. Laporkan kepada supervisor bila Anda atau menemukan rekan kerja yang
mengalami gejala heat stress.

5. Aklimatisasi
Aklimatisasi terhadap suhu tinggi merupakan proses penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya.
Aklimatisasi terhadap panas ditandai dengan penurunan suhu tubuh dan pengeluaran garam dari dalam
tubuh. Proses aklimatisasi ditujukan kepada suatu pekerjaan dan suhu tinggi untuk beberapa waktu.
Aklimatisasi panas biasanya tercapai setelah dua minggu, tergantung faktor lingkungan kerja dan faktor
pribadi individu (konsumsi obat, kondisi fisik, usia dan berat badan). Setiap pekerja baru dan pekerja lama
yang absen selama dua minggu atau lebih dari pekerjaannya harus dimulai dengan 20% beban kerja di
hari pertama, lalu meningkat secara bertahap tidak lebih dari 20% beban kerja di hari berikutnya.

6. Mengatur waktu kerja


Perubahan jadwal kerja dan pengaturan frekuensi istirahat dilakukan dalam upaya untuk meminimalkan
risiko paparan. Perusahaan dapat mengatur jadwal kerja dan istirahat dengan memperhatikan NAB
paparan panas.
Di Indonesia, mengenai kegiatan kerja di industri yang dapat menimbulkan iklim kerja panas di atur dalam
SNI 16-7063-2004 dan Permenakertrans No. PER. 13/MEN/X/2011 tentang NAB Faktor Fisika dan Kimia
di Tempat Kerja.

Pengaturan Waktu Kerja Setiap Indeks Suhu Basa dan Bola (ISBB °C)
Jam Beban Kerja
Waktu Kerja Waktu Istirahat Ringan Sedang Berat
75% 25% 30.6 28.0 25.9
50% 50% 31.4 29.4 27.9
25% 75% 32.2 31.1 30.0

Kriteria beban kerja menurut SNI:

 Beban kerja ringan membutuhkan kalori 100 – 200 Kkal/jam.


 Beban kerja sedang membutuhkan kalori >200 – 350 Kkal/jam.
 Beban kerja berat membutuhkan kalori >350–500 Kkal/jam.

NAB ini membatasi pemaparan panas lingkungan kerja 8 jam/ hari terhadap tenaga kerja dengan
mempertimbangkan kategori beban kerja dan pembagian waktu kerja – istirahat.
* Permenakertrans No. PER. 13/MEN/X/2011 juga memberikan NAB yang sama dengan SNI tersebut di
atas.
7. Memberikan pelatihan kepada pekerja
Perusahaan juga wajib memberikan pelatihan kepada pekerja mengenai bahaya dan efek paparan panas,
gejala penyakit akibat panas, bagaimana cara dan kapan harus merespons bila timbul gejala awal dan
bagaimana cara mencegah penyakit akibat panas.
8. Melakukan pengawasan untuk tanda dan gejala awal
Pekerja bisa membuat sebuah sistem untuk memantau dan melaporkan tanda dan gejala awal penyakit
akibat panas. Hal ini dapat membantu perusahaan juga manajemen dalam mendeteksi secara dini penyakit
akibat panas dan melakukan tindakan pengendalian sesegera mungkin.
9. Membuat perencanaan dan pelaksanaan tanggap darurat
Buatlah prosedur tanggap darurat terkait penyakit akibat panas. Komunikasikan prosedur tanggap darurat
tersebut kepada supervisor dan pekerja. Perencanaan tanggap darurat meliputi:

 Apa yang harus dilakukan seseorang bila mengalami atau melihat rekan kerja menunjukkan
tanda-tanda penyakit akibat panas
 Cara menghubungi unit tanggap darurat
 Memperhitungkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk petugas tanggap darurat tiba ke
lokasi dan melatih pekerja dalam melakukan pertolongan pertama sampai bantuan tiba.
Dalam menyusun perencanaan tanggap darurat ini Anda bisa melibatkan seorang profesional guna
mendapatkan masukan tentang pembuatan prosedur tanggap darurat terkait penyakit akibat panas.
Semoga Bermanfaat, Salam safety!
Sumber: www.SafetySign.co.id