Anda di halaman 1dari 14

Clinical Science Session

RUPTUR UTERI

oleh :

Nabila Arifah 1740312029


Nafitra Windri 1740312257
Retno Putri Hafid 1740312256

Preseptor:

dr. Mutiara Islam, SpOG(K)

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUD PARIAMAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Ruptur uteri atau robekan uterus merupakan peristiwa yang sangat berbahaya,
yang umumnya terjadi pada persalinan, kadang-kadang pada kehamilan tua. Robekan
pada uterus ditemukan sebagian besar pada bagian bawah uterus. Apabila pada ruptur
uteri, peritoneum permukaan uterus ikut robek, hal itu dinamakan ruptur uteri
komplit, jika tidak maka dikatakan rupture uteri inkomplit. Ini biasanya merupakan
hasil dari penanganan persalinan yang buruk. Berhubungan dengan komplikasi yang
langsung terjadi yaitu anemia berat, syok dan ruptur kandung kencing. Jika dalam
kasus ruptur, pasien dapat bertahan hidup maka dapat terjadi komplikasi jangka
panjang seperti fistel vesikovaginal.1,2
Sebagian besar ruptur uteri terjadi pada wanita yang memiliki bekas luka
uterus,yang sebagian besar merupakan bekas seksio sesarea sebelumnya.Bekas seksio
sesarea satu kali meningkatkan angka ruptur uteri keseluruhan 0,5 %, sedangkan pada
bekas seksio sesarea dua kali atau lebih meningkat menjadi 2 %. Faktor lain yang
meningkatkan risiko ruptur adalah penutupan histerotomi seksio sesarea single layer,
jarak antar kehamilan yang pendek setelah seksio sesarea sebelumnya, kelainan
uterus congenital,makrosomia janin, pemberian prostaglandin, dan kegagalan trial of
labor (TOL) sebelumnya.2
Di Indonesia angka kejadian rupture uteri berkisar antara 1 dalam 93
persalinan sampai 1 dalam 1280 persalinan.3 Penelitian kasus ruptur uteri di RS
Hasan Sadikin dan 3 rumah sakit jejaringnya pada periode 1999-2003.
Hasilnya,insiden kasus ruptur uteri di RS Hasan Sadikin 0,09% (1: 1074). Insiden di
rumah sakit jejaring sedikit lebih tinggi yaitu 0,1% (1:996). Di RSHS tidak
didapatkan kematian ibu, sedangkan di 3 RS jejaring didapatkan sebesar 0,4 %.
Kematian perinatal di RSHS mencapai 90 % sedangkan di rumah sakit jejaring 100%.
Maka dari itu dapat disimpulkan, kasus ruptur uteri memberikan dampak yang negatif
baik pada kematian ibu maupun bayi.4

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Ruptur uteri atau robekan uterus yaitu peristiwa dimana terjadi robekan pada
uterus sehingga terjadi hubungan langsung antara kavum uteri dengan kavum
peritoneum. Robekan pada uterus ditemukan sebagian besar kasus pada bagian bawah
uterus. Apabila pada ruptur uteri, peritoneum permukaan uterus ikut robek, hal itu
dinamakan ruptur uteri komplit, jika tidak maka dikatakan ruptur uteri inkomplit. Hal
ini biasanya merupakan hasil dari penanganan persalinan yang buruk. Mortalitas dan
morbiditas ruptur uteri inkomplit lebih tinggi pada ruptur uteri lengkap.2,5
Kita juga harus membedakan antara ruptur jaringan parut bekas seksio sesarea
dan dehisensi jaringan parut bekas seksio sesarea. Ruptur paling tidak berarti
pelepasan atau pemisahan luka insisi lama di sepanjang uterus dengan robeknya
selaput ketuban sehingga kavum uteri berhubungan langsung dengan kavum
peritoneum. Pada keadaan ini seluruh atau sebagian janin mengalami ekstrusi ke
dalam kavum peritoneum. Disamping itu, biasanya terjadi perdarahan yang masif
dari tepi jaringan parut atau dari perluasan robekan yang mencapai bagian uterus
yang tadinya tidak apa-apa. Sebaliknya, pada dehisensi jaringan parut bekas seksio
sesarea, selaput ketuban tidak pecah dan janin tidak mengalami ekstruksi ke dalam
kavum peritoneum. Ciri khas dari dehisensi adalah pemisahan tersebut tidak
mengenai seluruh jaringan parut yang sudah ada sebelumnya pada uterus, sehingga
peritoneum yang melapisi defek masih utuh dan perdarahan minimal atau tidak
ada.6

2.2 Klasifikasi Ruptur Uteri 7


1. Menurut tingkat robekan :
a. Ruptur uteri komplit, bila robekan terjadi pada seluruh lapisan dinding uterus.

3
b. Ruptur uteri inkomplit, bila robekan hanya sampai miometrium, disebut juga
dehisensi. Diagnosis pasti ditegakkan dengan melakukan eksplorasi dinding
rongga uterus setelah janin dan plasenta lahir.
c. Ruptur uteri imminens, bila baru ada gejala akan terjadi ruptur. Penderita
merasa kesakitan terus menerus baik waktu his maupun di luar his. Teraba
ligamentum rotundum menegang. Teraba cincin Bandl setinggi pusat. Segmen
bawah rahim menipis. Urine kateter kemerahan.
2. Menurut etiologinya:
a. Ruptur uteri pada jaringan parut :
- Bekas seksio sesarea klasik (vertikal)
 Terjadi pada kehamilan lewat waktu atau persalinan premature
 Terjadi pada kasus nyeri akut abdomen dan syok
 Resiko ruptur uteri pada proses persalinan sangat tinggi, hampir 9%
- Ruptur uteri pada jaringan parut di segmen bawah uterus
Ruptur uteri demikian terdapat paling sering pada parut bekas seksio
sesarea; peristiwa ini jarang timbul pada uterus yang telah dioperasi untuk
mengangkat mioma (miomektomi), dan lebih jarang lagi pada uterus dengan
parut karena kerokan yang terlampau dalam. Diantara parut-parut bekas
seksio sesarea, parut yang telah terjadi sesudah seksio sesarea klasik lebih
sering menimbulkan ruptur uteri daripada parut bekas seksio sesarea
profunda. Perbandingannya ialah 4:1. Hal ini disebabkan oleh karena luka
pada segmen bawah uterus yang menyerupai daerah uterus yang lebih tenang
pada masa nifas dapat sembuh dengan lebih baik, sehingga parut lebih kuat.
Ruptur uteri pada bekas parut seksio sesaria klasik juga lebih sering terjadi
pada kehamilan tua sebelum persalinan dimulai, sedang peristiwa tersebut
pada parut bekas seksio sesaria profunda umumnya terjadi pada waktu
persalinan. Ruptur uteri pasca seksio dapat terjadi tanpa banyak
menimbulkan gejala karena tidak terjadi robekan yang mendadak, melainkan
lambat laun jaringan di sekitar bekas luka menipis untuk akhirnya terpisah
sama sekali dan terjadilah ruptur uteri. Di sini biasanya peritoneum tidak

4
ikut serta, sehingga terdapat ruptur uteri inkompleta. Pada peristiwa ini ada
kemungkinan arteri besar terbuka dan timbul perdarahan yang sebagian
berkumpul di ligamentum latum dan sebagian keluar. Biasanya janin masih
tinggal dalam uterus dan his kadang-kadang masih ada.8
Sementara itu penderita merasa nyeri spontan atau nyeri pada perabaan
tempat bekas luka. Jika arteri besar terluka, gejala-gejala perdarahan dengan
anemia dan syok; janin dalam uterus dapat meninggal.8
b. Ruptur uteri spontan
Yang dimaksudkan ialah ruptur uteri yang terjadi secara spontan pada
uterus yang utuh (tanpa parut). Faktor pokok di sini adalah persalinan yang
tidak maju karena rintangan, misalnya panggul sempit, hidrosefalus, janin
dalam letak lintang, dan sebagainya, sehingga segmen bawah uterus makin
lama makin teregang. Pada suatu regangan yang terus bertambah
melampaui batas kekuatan jaringan miometrium terjadilah ruptur uteri.
Faktor yang merupakan predisposisi terhadap terjadinya ruptur uteri ialah
multiparitas akibat di tengah-tengah miometrium sudah terdapat banyak
jaringan ikat yang menyebabkan kekuatan dinding uterus menjadi kurang,
sehingga regangan lebih mudah menimbulkan robekan. Banyak juga
dilaporkan bahwa kebiasaan yang dilakukan oleh dukun-dukun
memudahkan terjadinya ruptur uteri. Pada persalinan yang kurang lancar,
dukun-dukun itu biasanya melakukan tekanan keras ke bawah terus
menerus pada fundus uteri; hal ini dapat menambah tekanan pada segmen
bawah uterus yang teregang dan mengakibatkan terjadinya ruptur uteri.
Pemberian oksitosin dalam dosis yang terlampau tinggi dan/atau atas
indikasi yang tidak tepat, bisa pula menyebabkan ruptur uteri.
Sebelum terjadi ruptur uteri umumnya penderita menunjukkan gejala
ruptur uteri membakat. Pasien akan gelisah, pernapasan dan nadi menjadi
cepat serta dirasakan nyeri terus menerus di perut bawah. Segmen bawah
uterus tegang, nyeri pada perabaan dan lingkaran retraksi (Bandl) tinggi
sampai mendekati pusat, ligamentum rotundum tegang. Pada saat

5
terjadinya ruptur uteri penderita kesakitan sekali dan merasa seperti ada
yang robek dalam perutnya; tidak lama kemudian ia menunjukkan gejala-
gejala kolaps dan jatuh dalam syok. Pada waktu robekan terjadi
perdarahan; pada ruptur uteri kompleta untuk sebagian mengalir ke rongga
perut dan untuk sebagian keluar per vaginam. Sering seluruh atau sebagian
janin masuk ke dalam rongga perut. Pada pemeriksaan vaginal bagian
bawah janin tidak teraba lagi atau teraba tinggi dalam jalan lahir. Pada
ruptur uteri inkompleta perdarahan yang biasanya tidak seberapa banyak,
berkumpul di bawah peritoneum atau mengalir keluar. Janin umumnya
tetap tinggal di uterus. Pada pemeriksaan ditemukan pasien pucat dengan
nadi yang cepat dan dengan perdarahan pervaginam. Segera setelah ruptur
uteri terjadi dan janin masuk ke dalam rongga perut, ia dapat diraba dengan
jelas pada pemeriksaan luar, dan di sampingnya ditemukan uterus sebagai
benda sebesar kepala bayi. Lambat laun perut menunjukkan meteorismus
kadang-kadang disertai defense muskulaire dan janin lebih sukar diraba.
Pada ruptur uteri kompleta kadang-kadang juga pada pemeriksaan vaginal,
robekan dapat diraba, demikian pula usus dalam rongga perut melalui
robekan.7,8

c. Ruptur Uteri Traumatik 8


Ruptur uteri yang disebabkan oleh trauma dapat terjadi karena jatuh,
kecelakaan seperti tabrakan dan sebagainya. Robekan demikian itu yang
bisa terjadi pada setiap saat dalam kehamilan, jarang terjadi karena otot
uterus cukup tahan terhadap trauma dari luar. Yang lebih sering terjadi
ialah ruptur uteri yang dinamakan ruptur uteri violeta. Distosia
menyebabkan regangan segmen bawah uterus dan usaha vaginal untuk
melahirkan janin sehingga terjadi ruptur uteri. Hal ini misalnya terjadi pada
ekstraksi pada letak lintang yang dilakukan bertentangan dengan syarat-
syarat untuk tindakan tersebut. Kemungkinan besar yang lain ialah ketika
melakukan embriotomi. Berhubungan dengan itu, setelah tindakan-

6
tindakan tersebut di atas dan juga setelah ekstraksi dengan cunam yang
sukar, perlu dilakukan pemeriksaan kavum uteri dengan tangan untuk
mengetahui apakah terjadi ruptur uteri.Gejala-gejala ruptur uteri violeta
tidak berbeda dengan ruptur uteri spontan.

3. Menurut waktu terjadinya:


a. Ruptur uteri gravidarum, terjadi waktu sedang hamil, sering berlokasi
pada korpus
b. Ruptur uteri durante partum, terjadi waktu melahirkan anak, lokasinya
sering padasegmen bawah rahim. Jenis inilah yang terbanyak.

4. Menurut lokasi:
a. Korpus uteri, biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami
operasi, seperti seksio sesarea klasik (korporal) atau miomektomi.
b. Segmen bawah rahim (SBR), biasanya pada partus sulit dan lama (tidak
maju). SBR tambah lama tambah regang dan tipis dan akhirnya terjadilah
ruptur.
c. Servik uteri, biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forcep atau
versi dan ekstraksi, sedang pembukaan belum lengkap.
d. Kolpoporeksis-kolporeksis, robekan-robekan diantara servik dan vagina.

2.3 Etiologi7
1. Ruptur jaringan parut uterus
a. Jaringan parut seksio sesarea ( merupakan penyebab terbanyak)
b. Riwayat kuretase atau perforasi uterus
c. Trauma abdomen
2. Persalinan yang terhambat akibat disproporsi cephalopelvik
3. Stimulasi yang berlebihan pada uterus pada induksi persalinan
a. Pematangan serviks ( Misoprostol atau Dinoprostone)
b. Penggunaan kokain pada masa kehamilan

7
4. Faktor-faktor lain
a. Peregangan uterus yang berlebihan
b. Amnioinfusion
c. Neoplasia Trofoblastik Gestasional
d. Pelepasan plasenta yang sulit secara manual

2.4 Faktor Resiko Ruptur Uteri9


Kelainan uterus kongenital, multiparitas, miomektomi sebelumnya, jumlah dan
jenis seksio sesarea sebelumnya, makrosomia janin, induksi persalinan, instrumentasi
uterus, dan trauma uterus, semuanya meningkatkan risiko ruptur uteri, sedangkan
keberhasilan persalinan pervaginam sebelumnya dan jarak antar kehamilan setelah
seksio sesarea mungkin memberikan perlindungan secara relatif. Berbeda dengan
tersedianya cara untuk memprediksi potensi keberhasilan suatu trial of labor (TOL)
setelah seksio sesarea sebelumnya, cara yang akurat untuk memprediksi seseorang
secara spesifik berisiko terjadinya ruptur uteri pada individu tidak tersedia.
1. Keadaan uterus,berparut atau tidak.
Status berparut termasuk :
a. Bekas seksio sesarea sebelumnya,meliputi :
• Bekas SC low-transverse 1 kali (penutupan uterus 1 lapis atau 2 lapis)
• Bekas SC vertikal rendah 1 kali
• Bekas SC klasik
• Bekas SC multipel
b. Keadaan uterus berparut termasuk juga miomektomi sebelumnya (baik
transabdominal atau laparoskopi)
2. Bentuk uterus, apakah normal atau mengalami kelainan kongenital
3. Kehamilan yang perlu perhatian khusus meliputi :
a. Grande multipara
b. Umur ibu
c. Keadaan plasenta (akreta, perkreta, increta, previa, abruption)
d. Keadaan cornu (angular)

8
e. Overdistensi (kehamilan multiple, polihidramnion)
f. Distosia (makrosomia janin, panggul sempit)
g. Invasi trofoblas pada miometrium (mola hidatidosa, koriokarsinoma)
4. Riwayat kehamilan dan persalinan sebelumnya, meliputi :
a. Keberhasilan persalinan pervaginam sebelumnya
b. Tidak ada persalinan pervaginam sebelumnya
c. Jarak persalinan sebelumnya
5. Status persalinan,meliputi :
a. Sebelum persalinan
b. Persalinan spontan
c. Induksi persalinan, dengan oksitosin, prostaglandin
d. Akselerasi persalinan dengan oksitosin
e. Lama persalinan
f. Persalinan macet
6. Tindakan obstetri kebidanan meliputi :
a. Penggunaan instrument seperti forceps ekstraksi
b. Intra uterine manipulasi (versi ekstraksi, versi internal, ekstraksi sungsang,
distosia bahu, manual plasenta)
c. Tekanan pada fundus
7. Trauma uterus meliputi :
a. Trauma langsung uterus ( kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh )
b. Kekerasan (luka tembak, pukulan pada abdomen)

2.5 Mekanisme Terjadinya Ruptur Uteri 3


Mekanisme utama dari ruptur uteri disebabkan oleh peregangan yang luar
biasa dari uterus. Pada umumnya uterus terbagi atas dua bagian besar: korpus uteri
dan serviks uteri. Batas keduanya disebut ismus uteri (2-3cm) pada uterus yang tidak
hamil. Bila kehamilan sudah memasuki usia kurang lebih 20 minggu, dimana ukuran
janin sudah lebih besar dari ukuran kavum uteri, maka mulailah terbentuk segmen
bawah rahim dari ismus ini.

9
Batas antara korpus yang kontraktil dan segmen bawah rahim yang pasif
disebut lingkaran dari Bandl. Lingkaran Bandl ini dianggap fisiologik bila dijumpai
2-3 jari di atas simfisis, bila meninggi maka kita harus waspada terhadap
kemungkinan adanya ruptur uteri mengancam (RUM).
Rumus mekanisme terjadinya Ruptur Uteri:
R = H + O ket :R = Ruptur
H = His kuat (tenaga)
O = Obstruksi (halangan)

Pada waktu in partu, korpus uteri mengadakan kontraksi sedangkan segmen


bawah rahim tetap pasif dan serviks menjadi lembek (effacement dan pembukaan).
Bila oleh sesuatu sebab partus tidak dapat maju (obstruksi), sedangkan korpus uteri
berkontraksi terus dengan hebatnya (his kuat), maka segmen bawah rahim yang pasif
akan tertarik ke atas menjadi bertambah regang dan tipis serta lingkaran Bandl ikut
meninggi, sehingga suatu waktu terjadilah robekan pada segmen bawah rahim yang
disebut dengan ruptur uteri.

2.6 Manifestasi Klinis3


1. Tekanan darah menurun, nadi cepat dan halus, anemis akibat perdarahan yang
terjadi
2. Nyeri abdomen akibat robekan rahim
3. Pada palpasi ibu merasa sangat nyeri dan bagian terbawah janin mudah teraba
di bawah diding abdomen
4. Kekuatan his menurun seolah his telah menghilang
5. Nyeri dada yang disebabkan oleh haemoperitonium yang merangsang
diafragma
6. Pada pemeriksaan dalam teraba bagian terbawah janin berpindah atau naik
kembali keluar pintu atas panggul dan pemeriksa dapat menemukan robekan
yang berhubungan dengan rongga peritoneum terkadang dapat meraba usus.

10
2.7 Diagnosis Ruptur Uteri3

a. Anamnesis
1. Pada suatu his yang kuat sekali, pasien merasa kesakitan yang luar biasa,
menjerit seolah-olah perutnya sedang dirobek kemudian jadi gelisah, takut,
pucat, keluar keringat dingin sampai kolaps.
2. Pernafasan jadi dangkal dan cepat, kelihatan haus.
3. Muntah-muntah karena perangsangan peritoneum.
4. Syok, nadi halus dan cepat, tekanan darah turun bahkan tak terukur.
5. Keluar perdarahan pervaginam yang biasanya tak begitu banyak, lebih-lebih
kalau bagian terdepan atau kepala sudah jauh turun, dan menyumbat jalan lahir.
6. Kadang-kadang ada perasaan nyeri yang menjalar ke dada.
7. Kontraksi uterus biasanya hilang.
8. Terdapat defans muskuler dan kemudian menjadi kembung dan meteorismus.

b. Pemeriksaan Fisik

1. Teraba krepitasi pada kulit perut yang menandakan adanya emfisema subkutan
2. Bila kepala janin belum turun, akan mudah dilepaskan dari pintu atas panggul.
3. Bila janin sudah keluar dari kavum uteri dan di rongga perut maka teraba
bagian-bagian janin langsung di bawah kulit perut, dan di sampingnya kadang-
kadang teraba uterus sebagai suatu bola keras sebesar kelapa.
4. Nyeri tekan pada perut, terutama pada tempat yang robek.
5. Biasanya denyut jantung janin sulit atau tidak terdengar lagi beberapa menit
setelah ruptur, apalagi kalau plasenta juga ikut terlepas dan masuk ke rongga
perut.

c. Pemeriksaan Dalam
1. Kepala janin yang tadinya sudah turun ke bawah, dengan mudah dapat didorong
ke atas, dan ini disertai keluarnya darah pervaginam yang agak banyak.

11
2. Kalau rongga rahim sudah kosong dapat diraba robekan pada dinding rahim dan
kalau jari atau tangan kita dapat melalui robekan tadi, maka dapat diraba usus,
omentum, serta bagian-bagian janin. Kalau jari tangan kita yang di dalam kita
temukan dengan jari luar, maka terasa seperti dipisahkan oleh bagian yang tipis
sekali dari dinding perut, juga dapat diraba fundus uteri.

2.7 Penatalaksanaan
Pada kasus ruptur uteri harus dilakukan tindakan segera. Keselamatan pasien
tergantung dari kecepatan dan efisiensi dalam mengoreksi keadaan hipovolemia dan
mengendalikan perdarahan.6 Perlu ditekankan bahwa syok hipovolemik mungkin
tidak bisa dipulihkan kembali dengan cepat sebelum perdarahan arteri dapat
dikendalikan, karena itu, dengan adanya alasan ini, keterlambatan dalam tindakan
pembedahan tidak bisa diterima. Sebaliknya, darah harus ditransfusi dengan cepat
dan seksio sesarea atau laparatomi segera dimulai.6

Apabila sudah terjadi ruptur uteri, tindakan yang terbaik adalah laparatomi.
Janin dikeluarkan lebih dahulu dengan atau tanpa pembukaan uterus (jika janin sudah
tidak di dalam uterus lagi), kemudian dilakukan histerektomi. Janin tidak dilahirkan
pervaginam, kecuali janin masih terdapat seluruhnya dalam uterus dengan kepala
sudah turun jauh dalam jalan lahir dan ada keragu-raguan terhadap diagnosis ruptur
uteri. Dalam hal ini, setelah janin dilahirkan, perlu diperiksa dengan satu tangan
dalam uterus apakah ada ruptur uteri. Pada umumnya pada ruptur uteri tidak
dilakukan penjahitan luka dalam usaha untuk mempertahankan uterus. Hanya dalam
keadaan yang sangat istimewa hal itu dilakukan; dua syarat dalam hal ini harus
dipenuhi, yakni pinggir luka harus rata seperti pada ruptur parut bekas seksio sesaria,
dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Pengobatan untuk mencegah syok dan infeksi
sangat penting dalam penanganan penderita dengan ruptur uteri.8

Pada kasus-kasus yang perdarahannya hebat, tindakan kompresi aorta dapat


membantu mengurangi perdarahan. Pemberian oksitosin intravena dapat mencetuskan

12
kontraksi miometrium, dan selanjutnya vasokonstriksi sehingga mengurangi
perdarahan.6

2.8 Komplikasi3
Syok hipovolemik dan sepsis merupakan penyebab utama yang meningkatkan
angka kematian ibu dalam obstetri. Syok hipovolemik dikarenakan perdarahan yang
hebat dan tidak segera mendapatkan penatalaksanaan. Sepsis akibat infeksi biasanya
terjadi pada pasien kiriman dimana ruptur uteri terjadi sebelum tiba di rumah sakit
dan telah mengalami berbagai manipulasi termasuk pemeriksaan dalam yang
berulang. Kedua komplikasi ini merupakan komplikasi yang fatal, meskipun pasien
bisa diselamatkan namun angka morbiditas dan kecacatan tetap tinggi.

2.9 Prognosis
Ruptur uteri merupakan peristiwa yang gawat bagi janin.8 Angka mortalitas
yang ditemukan dalam berbagai penelitian berkisar dari 50% hingga 75%. Janin
umumnya meninggal pada kasus ruptur uteri. Tetapi, jika janin masih hidup pada saat
peristiwa tersebut terjadi, satu-satunya harapan untuk mempertahankan jiwa janin
adalah dengan persalinan segera, yang paling sering dilakukan adalah laparatomi.
Kalau tidak, keadaan hipoksia baik sebagai akibat terlepasnya plasenta maupun
hipovolemia maternal tidak akan terhindari. Jika tidak diambil tindakan, kebanyakan
wanita akan meninggal karena perdarahan atau mungkin pula karena infeksi yang
terjadi kemudian, kendati penyembuhan dapat terjadi spontan pernah pula terjadi
pada kasus yang luar biasa.8

Diagnosis cepat, tindakan operasi cepat, ketersediaan darah dalam jumlah


besar dan terapi antibiotik merupakan perbaikan prognosis yang sangat besar bagi
wanita dengan ruptur uteri yang hamil.6

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Kadowa, I. 2010. Ruptured uterus in rural Ughanda : prevalence,


predisposing, factor and outcome. Singapur med J: 1221-1228
2. Cunningham FG, Gant NF, Loveno KJ. 2010.Williams Obstetrics, 23 st Ed.
The Mc Graw-Hill Companies. New York: McGraw-Hill. Pg: 820-829.
3. Chalik TMA et al. Perdarahan Pada Kehamilan Lanjut dan Persalinan.Dalam :
Ilmu Kebidanan. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta, 2009;(4):
492-521
4. Andra. 2007.Ruptur uteri. Jakarta: Majalah Farmacia. Pg: 16
5. Cunningham, F.G, et al. 2004. Williams Obsetrics 22nd edition. New York.
McGraw-Hill : 824-838.
6. Departemen Kesehatan RI. 2004. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta. Tridasa
Printer : 5-16.
7. Fadel, H.E. 1982. Diagnosis and Management of Obstetric Emergencies.
California. Addison-Wesley publishing company : 193-213.
8. Hanretty, K. Obstetrics illustrated 6th edition. 2003.Philadelphia. Churchill
Livingstone : 285-290.
9. Bujold E, Gauthier RJ. Neonatal morbidity associated with uterine rupture:
what are the risk factors?. Am J Obstet Gynecol. Feb 2002;186(2):311-4.
10. Nahum GG. Uterine Rupture in Pregnancy.Diakses dari http:// www.
medscape.com. 2011

14