Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN

PERBAIKAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH


PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL

PENGGUNAAN MODEL PROBLEM BASED


LEARNING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA
PEMBELAJARAN TEMATIK TEMA 8 SUB TEMA 1 KELAS IV
SDN 05 BARUAH GUNUANG KECAMATAN BUKIK BARISAN

Disusun Oleh :

NOFRIDA
NIM : 835499656

PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
POKJAR TANJUNG JATI
UNIVERSITAS TERBUKA
UPBJJ UT PADANG
2019
ABSTRAK

Nofrida.835499656.Penggunaan Model Problem Based Learning Dalam


Meningkatkan Hasil Belajar Pada Pembelajaran Tematik
Tema 8 Sub Tema 1 Kelas Iv Sdn 05 Baruah Gunuang
Kecamatan Bukik Barisan.

Berdasarkan hasil ulangan pelajaran tematik tema 8 sub tema 1 tentang


karakteristik keragaman individu menunjukkan bahwa pembelajaran kurang
berasil. Padahal menurut informasi guru tersebut dalam pembelajaran sehari-hari
sudah dijelaskan secara lisan dan sudah diberi soal-soal latihan dan memberikan
pada siswa untuk bertanya, namun mereka tak memanfaatkan kesempatan
tersebut. Rendahnya penguasaan kemampuan siswa dalam pelajaran tersebut
dikarenakan kurang tepatnya metode pembelajaran dan media yang digunakan.
Sehingga siswa menjadi tidak aktif, mudah bosan dan kurang memperhatikan
penjelasan guru. Oleh karena itu untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam
pembelajaran tersebut diperlukan model pembelajaran dengan media yang tepat.
Salah satunya adalah model pembelajaran based learning. Penelitian ini bertujuan
untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas 4 SD N 05 Baruah Gunuang Kec.
Bukik Barisan dalam memahami materi pembelajaran tematik tema 8. Lokasi
penelitian ini adalah di SD N 05 Baruah Gunuang Kec. Bukik Barisan dengan
jumlah siswa 10 orang, 5 orang perempuan dan 5 siswa laki-laki. Data dalam
penelitian ini diperoleh dari hasil diskusi dalam mengerjakan LKS, hasil observasi
tindakan, dan hasil evaluasi. Penelitian ini dilakukan dalam 3 siklus. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa menurut hasil observasi peneliti pada pra siklus
adalah dalam pembelajaran siswa kurang aktif, mudah jenuh, dan perhatian siswa
pada penjelasan guru sangat kecil. Pada tindakan siklus 1 penguasaan materi
sebelum pembelajaran diberikan 31%, setelah kegiatan berlangsung aktivitas
menunjukan : siswa aktif 48%, siswa sedang 30% dan siswa pasif 12%.
Sedangkan hasil evaluasi pada pra siklus rata-rata 66.00 dengan siswa tuntas 5
dan belum tuntas 5 siswa. Hasil tindakan pada siklus 2 penguasaan materi
sebelum tindakan 49% setelah tindakan dilakukan ativitas siswa : siswa aktif 78%,
siswa sedang 18% dan siswa pasif 4%. Dari hasil evaluasi tercapai nilai rata-rata
94,00 dengan hasil semua siswa tuntas. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model based learning dapat
meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran, meningkatkan
aktifitas siswa, dan minigkatkan kerja siswa dalam menyelesaikan tugas
kelompok dan membuat siswa tidak jenuh.

Kata Kunci : Model Pembelajaran.Media.Tematik


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang undang no . 2 tahun 1998 pada penjelasan pasal 35 menjelaskan


bahwa pendidikan tidak mungkin terselenggara dengan baik bilamana dalam
kegiatan pembelajaran tidak didukung oleh sumber belajar yang
diperlukan.salah satu sumber belajar yang sangat dibutuhkan adalah metode
dan alat peraga yang berguna untuk memperjelas dan memvisualkan konsep.

Berdasarkan hal tersebut,berbagai upaya perlu dilakukan untuk


meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap suatu materi ajar.Kurangnya
pemahaman siswa terhadap suatu materi ajar,dapat disebabkan oleh berbagai
faktor. Salah satunya ialah kurangnya pemamfaatan media pembelajaran yang
sesuai.seorang guru yang profesional perlu mengadakan Penelitian Tindakan
Kelas sebagai perbaikan pembelajaran dan juga proses pelaksanaan
pembelajaran.

1. Identifikasi Masalah

Setelah memberikan soal ujian mata pelajaran Tema 8 SubTema 1


pembelajaran 4, ternyata dari 10 orang siswa yang mencapai tingkat
penguasaan materi hanya 5 orang yang tuntas dengan pengusaan materi 75%
keatas. Selama proses pembelajaran berlangsung banyak siswa yang ragu-ragu
dalam menyampaikan pendapat serta penggunaan waktu yang kurang efisien.

Banyak siswa yang tidak mau bertanya ketika guru bertanya tentang
pelajaran yang dipelajari tersebut maka nilai siswa tidak sesuai dengan yang
diinginkan.Jika dibandingkan dengan KKM yang ditetapkan yaitu 75,jelas
masih sangat jauh dari yang diharapkan.
2. Analisis Masalah

Melalui diskusi dengan teman sejawat diketahui bahwa faktor penyebab


rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah:

a. Penanaman konsep kurang jelas


b. Kurangnya fasilitas pembelajaran
c. Penggunaan metode kurang menarik
d. Pemakaian media pembelajaran kurang maksimal
e. Kurangnya penekanan pada pemantapan penguasaan materi
f. Siswa kurang aktif

3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah

Pelaksanaan tugas guru mempunyai ruang lingkup yang sangat


luas.Menurut Suhertin( 1994; 12 )Tugas umum seorang guru adalah tugas
personal,sosial,dan tugas profesional.Tugas profesional ini dilihat dari segi:

a. Menyusun rencana pembelajaran


b. Guru lebih membimbing siswa,baik dalam kegiatan pembelajaran maupun
pada saat diskusi
c. Melakukan evaluasi
d. Menganalisa hasil evaluasi
e. Harus menggunakan media yang tepat dan menggunakan metode yang
bervariasi,sehingga siswa tidak jenuh.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah pada pembelajaran tematik tema 8


sub tema 1 pembelajaran 4 setelah diadakan ulangan harian terlihat hasilnya
tidak sesuai dengan yang diharapkan. Disebabkan penggunaan waktu kurang
efisien, penggunaan media yang tidak bervariasi sering terabaikan oleh
seorang guru selama ini.
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, dirumuskan masalah yang
ditemukan dalam pembelajaran tematik tema 8 sub tema 1 pembelajaran 4
antara lain :

Bagaimana kah penggunaan model problem based learning dalam


meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran tematik tema 8 sub tema 1
kelas 4 SDN 05 Baruah Gunuang ?

C. Tujuan Penelitian Perbaiakan Pembelajaran

Adalah untuk meningkatkan mutu dan hasil belajar siswa pada mata
pembelajaran tematik tema 8 sub tema 1 pembelajaran 4 kelas IV SDN 05
Baruah Gunuang Kecamatan Bukik Barisan

D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran


1. Bagi siswa
a. Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran tematik
b. Melatih siswa untuk belajar berkelompok dan belajar bekerja sama
2. Bagi Guru
a. Membantu guru dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik
b. Sebagai bahan rujukan bagi guru dalam meningkatkan aktivitas belajar
siswa pada pembelajaran tematik tema 8 subtema 1 pembelajaran 4
3. Bagi sekolah
a. Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan
b. Sebagai masukan dalam upaya perbaikan pembelajan.
4. Bagi peneliti
a. Untuk memperdalam dan memperluas ilmu pengetahuan penulis
b. Mengembangkan wawasan mengenai penerapan pembelajaran tentang
model problem based learning
c. Mendapatkan fakta bahwa model problem based learning dalam
pembelajaran tematik akan mampu menyelesaikan masalah rendahnya
kemampuan siswa dalam memahami model problem based learning.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Hakikat Belajar dan Pembelajaran


Ada beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar : Menurut
Ernes Hilgard ” learning is the profcess by which an activity originates or is
changed through training procedures ( whether in the laboratory or in the
natural environment ) is ritingiushed to training , dapat diartikan bahwa
Seseorang dikatakan belajar apabila ia dapat melakukan sesuatu yang tak dapat
dilakukan sebelum ia belajar, atau bila kelakuannya berubah, sehingga lain
caranya menghadapi suatu situasi dari pada sebelum itu. Kelakuan dalam
proses belajar melingkupi : pengamatan, pengenalan, pengertian, perbuatan
perasaan, minat, penghargaan dan sikap.

Menurut Sumadi Suryobroto bahwa belajar mencakup beberapa hal


pokok : a. belajar itu membawa perubahan ( behavior ) b. perubahan pada
pokoknya adalah didapatnya kecakapan baru c. perubahan itu terjadi karena
usaha ( dengan sengaja _ Dari beberapa pendatat di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa : Belajar adalah suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu
hasil/tujuan. Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi belajar lebih luas dari
pada itu, yakni mengalami, Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan
melainkan perubahan kelakuan, kegiatan belajar dapat dihayati (dialami ) oleh
orang yang sedang belajar dan juga dapat diamati oleh orang lain. Kegiatan
belajar yang berupa perilaku kompleks tersebut menimbulkan berbagai teori
belajar.

B. Model Pembelajaran
1. Pengertian Model Pembelajaran

Model pembelajaran adalah unsur penting dalam kegiatan belajar


mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran digunakan
guru sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Joyce &
Weil (dalam Rusman, 2012: 133) berpendapat bahwa model pembelajaran
adalah suatu rencana atau pola yang dapat membuat bahan-bahan
pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.

Menurut Adi (dalam Suprihatiningrum, 2013: 142) memberikan definisi


model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan
prosedur dalam mengorganisasikan pengalaman pembelajaran untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman guru
dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran


merupakan pola pilihan para guru untuk merancang pembelajaran yang sesuai
dan 9 efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapakan. Model
pembelajaran merupakan suatu prosedur dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Berfungsi
sebagi pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang
dan melaksanakan proses belajar mengajar.

2. Tujuan Model Based Learning

Tujuan utama Model based learningadalah untuk mengarahkan peserta


didik mengembang kemampuan belajar kolaboratif. Martinis Yamin (2011,
h.25) kemampuan berpikir dan strategi-strategi belajarnya sehingga peserta
didik bisa belajar dengan kemampuan sendiri tanpa bantuan orang lain atau
pembelajar (self-directed learning strategies). Hsiao (1996, h.10) 25 Adapun
tujuan dan hasil dari model pembelajaran berbasis masalah ini adalah:

a. Keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah pembelajaran


berbasis masalah ini ditujukan untuk mengembangkan keterampilan berpikir
tingkat tinggi.
b. Pemodelan peranan orang dewasa. Bentuk pembelajaran berbasis masalah
penting menjembatani gap antara pembelajaran sekolah formal dengan
aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah. Aktivitas-
aktivitas mental di luar sekolah yang dapat dikembangkan adalah :  PBL
mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas.  PBL memiliki elemen-
elemen magang. Hal ini mendorong pengamatan dan dialog dengan yang
lain sehingga pebelajar secara bertahap dapat memi peran yang diamati
tersebut.  PBL melibatkan pebelajar dalam penyelidikan pilihan sendiri,
yang memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan
fenomena dunia nyata dan membangun femannya tentang fenomena itu.
c. Belajar Pengarahan Sendiri (self directed learning) yaitu setiap individu
harus mampu mengembangkan hasil pemikiran untuk mencapaiu suatu
tujuan dalam meningkatkan prestasi setiap pembelajaran. Resnick (Ibrahim
dan Nur(2004, h.12) Jadi tujuan problem based learning adalah sangat
berpengaruh pada keberhasilan peserta didik dalam mengembangkan materi
26 pembelajaran, karena punya variasi-variasi dalam menyelesaikan
permasalahan secara bersama. Masing-masing pendapat individu
digabungkan menjadi suatu pemecahan masalah yang menjadi tanggung
jawab bersama dalam menjadi kesepakatan untuk mencari titik temu
permasalahan-permasalahan.
3. Manfaat Model Pembelajaran Based Learning

Adapun manfaat model pembelajaran Based Learning ialah:

a. Bagi Guru.
1) Memudahkan dalam melaksanakan tugas pembelajaran sebab telah jelas
langkah-langkah yang akan ditempuh sesuai dengan waktu yang tersedia,
tujuan yang hendak dicapai, kemampuan daya serap peserta didik, serta
ketersediaan media yang ada.
2) Dapat dijadikan sebagai alat untuk mendorong aktifitas peserta didik
dalam pembelajaran.
3) Memudahkan untuk melakukan analisa terhadap perilaku peserta didik
secara personal maupun kelompok dalam waktu relatif singkat.
4) Dapat membantu guru pengganti untuk melanjutkan pembelajaran
peserta didik secara terarah dan memenuhi maksud dan tujuan yang
sudah ditetapkan (tidak sekedar mengisi kekosongan).
b. Bagi Siswa
1) Kesempatan yang lebih luas untuk berperan aktif dalam kegiatan
pembelajaran
2) Memudahkan siswa untuk memahami materi pembelajaran
3) Mendorong semangat belajar serta ketertarikan mengikuti pembelajaran
secara penuh
4) Dapat melihat atau membaca kemampuan pribadi dikelompoknya secara
objektif.

C. Problem Based Learning


1. Pengertian Problem Based Learning

Problem Based Learning (PBL) dalam bahasa Indonesia disebut


Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM). Pembelajaran Berbasis Masalah
merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk
melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk
menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada.

Pengertian Pembelajaran Berbasis masalah yang lain adalah metode


mengajar dengan fokus pemecahan masalah yang nyata, proses dimana Peserta
didik melaksanakan kerja kelompok, umpan balik, diskusi yang dapat
berfungsi sebagai batu loncatan untuk investigasi dan penyelidikan dan laporan
akhir. Dengan demikian Peserta didik di dorong untuk lebih aktif terlibat dalam
materi pembelajaran dan mengembangkan ketrampilan berfikir kritis.

Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan


pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang
peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran
berbasis masalah, peserta didik bekerja dalamtim untuk memecahkan masalah
dunia nyata (real world).

Finkle and Torp (1995) dalam Aris Shoimin (2014:130) menyatakan


bahwa:
PBM merupakan pengembangan kurikulum dan sistem pengajaran
yang mengembangkan secara stimulan strategi pemecahan masalah
dan dasardasar pengetahuan dan keterampilan dengan menempatkan
para peserta didik dalam peran aktif sebagai pemecah permasalahan
sehari-hari yang tidak terstruktur dengan baik.

Dari definisi diatas mengandung arti bahwa PBL atau PBM


merupakan suasana pembelajaran yang diarahkan oleh suatu permasalahan
sehari-hari.

2. Tujuan Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning

Tujuan penggunaan model pembelajaran problem based learning pada


proses pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan
permasalahan yang peserta didik alami, meningkatkan keterampilan sosial
peserta didik yang didapatkan dari interaksi antar anggota kelompok,
memperluas pemahamam kosep belajar pada diri mereka masing - masing,
memupuk proses pembelajaran sepanjang hayat dimana masing masing
peserta didik akan terus melakukan pemecahan masalah dan menemukan
solusi dari masalah yang mereka hadapi sepanjang hayat.

3. Manfaat Problem Based learning

Melalui peningkatan kecakapan dalam algoritma dan penguasaan


pengetahuan dasar dalam matematika, siswa dalam PBL harus belajar proses
matematika yang bervariasi dankemampuan berkaitan komunikasi,
representasi, pemodelan dan penalaran menurut Smith,Erickson, dan,
Lubienski (dalam Panji, 2009).

Adapun manfaat yang diperoleh melalui pembelajaran PBL antara lain:

a. Motivasi (Motivation)PBL membuat siswa lebih terlibat dalam


pembelajaran sebab mereka terikat untuk merespon dan karena mereka
merasa diberi kesempatan untuk mendapatkan hasil
(dampak)dari penyelidikan.
b. Relevansi dan Isi ( Relevance and Context )
PBL menawarkan siswa sebuah jawaban yang jelas terhadap pertanyaan,
“Mengapakita perlu mempelajari informasi ini?”, dan “Apa saja dari yang
sedang saya lakukan disekolah harus dilakukan dengan sesuatu dalam
dunia nyata?
c. Berpikir Tingkat tinggi (Higher-Order Thinking )Skenario masalah
membangkitkan berpikir kritis dan kreatif siswa, menebak
apa jawaban yang benar yang dikehendaki guru untuk saya temukan?
d. Belajarbagaimana belajar (Learning How To Learn)PBL mengembangkan
metakognisi dan pembelajaran diri yang teratur dengan memintasiswa
untuk menghasilkan cara mereka sendiri mendefinisikan masalah, mencari
informasi,menganalisis data dan membuat serta menguji hipotesis,
membandingkan strategi lain, danmembaginya dengan siswa lain dan
strategi dari pembimbing.
e. Otentik (Authenticity)PBL melibatkan siswa dalam mempelajari informasi
dalam cara yang sama ketikamengingatnya kembali dan menerapkan
dalam situasi yang akan datang dan menilai pembelajaran dengan cara
mendemonstrasikan pemahaman dan bukan kemahiran belaka (Gick and
Holyoak, 1983).

4. Kelebihan Model Problem Based Learning (PBL)

Aris Shoimin (2014:132) berpendapat bahwa kelebihan


model Problem Based Learningdiantaranya:Siswa didorong untuk memiliki
kemampuan memecahkan masalah dalam situasi nyata.Siswa memiliki
kemampuan membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas
belajar.Pembelajaran berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada
hubungannya tidak perlu dipelajari oleh siswa. Hal ini mengurangi beban
siswa dengan menghafal atau menyimpan informasi.Terjadi aktivitas ilmiah
pada siswa melalui kerja kelompok.Siswa terbiasa menggunakan sumber-
sumber pengetahuan, baik dari perpustakaan, internet, wawancara, dan
observasi.Siswa memiliki kemampuan menilai kemajuan belajarnya
sendiri.Siswa memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah
dalam kegiatan diskusi atau presentasi hasil pekerjaan mereka.Kesulitan
belajar siswa secara individual dapat diatasi melalui kerja kelompok dalam
bentuk peer teaching.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kelebihan dengan


menggunakannya model pembelajaran Problem Based
Learning yaitu:Melatih siswa memiliki kemampuan berfikir kritis,
kemampuan memecahkan masalah, dan membangun pengetahuannya
sendiri.Terjadinya peningkatan dalam aktivitas ilmiah siswa.Mendorong
siswa melakukan evaluasi atau menilai kemajuan belajarnya sendiri.Siswa
terbiasa belajar melalui berbagai sumber sumber pengetahuan yang
relevan.Siswa lebih mudah memahami suatu konsep jika saling
mendiskusikan masalah yang dihadapi dengan temannya.

5. Kekurangan Model Problem Based Learning (PBL)


Aris Shoimin (2014:132) berpendapat bahwa selain memiliki
kelebihan, model Problem Based Learning juga memilki kelemahan,
diantaranya sebagai berikut:PBM tidak dapat diterapkan untuk setiap materi
pelajaran, ada bagian guru berperan aktif dalam menyajikan materi. PBM
lebih cocok untuk pembelajaran yang menuntut kemampuan tertentu yang
kaitannya dengan pemecahan masalah.Dalam suatu kelas yang memiliki
tingkat keragaman siswa yang tinggi akan terjadi kesulitan dalam pembagian
tugas.
Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa pendapat di atas adalah
model Problem Based Learning ini memerlukan waktu yang tidak sedikit,
Pembelajaran dengan model ini membutuhkan minat dari siswa untuk
memecahkan masalah, jika siswa tidak memiliki minat tersebut maka siswa
cenderung bersikap enggan untuk mencoba, dan model pembelajaran ini
cocok untuk pembelajaran yang menuntut kemampuan pemecahan masalah.
D. Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang
menggunakan temauntuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat
memberikanpengalaman bermakna kepada murid dalam Majid (2014:
80).MenurutSukmadinata (2011:164) penelitian dan pengembangan adalah
suatu proses ataulangkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru
atau menyempurnakan produk yang sudah ada, yang dapat
dipertanggungjawabkan. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dilakukan dengan
menggabungkan beberapa mata pelajaran dan terikat tema-tema tertentu serta
diperlukan penelitian yang efektif untuk menguji produk tersebut.
1. Standar Kompetensi Lulusan di Sekolah Dasar
Standart Kompetensi Lulusan (SKL) digunakan sebagai pedoman
penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan
(Mulyasana,2011:156). Adapun tujuan dari standar kompetensi lulusan yaitu
digunakan sebagai acuan utama pengembangan satndar isi, standar proses,
standar penilaian pendidikan, standar pendidikan dan tenaga kependidikan,
standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.
Menurut Kemendikbud (2013) standar kelulusan kelas II Sekolah Dasar
untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika sesuai standar isi
yang telah ditetapkan oleh pemerintah pada kurikulum 2013 yaitu:
Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati, mendengar,melihat,
membaca, dan menanya berdasar rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk
ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah
dan sekolah. Bahasa Indonesia 3.5 Mengenal teks permintaan maaf tentang
sikap hidup rukun dalam kemajemukan keluarga dan teman dalam bahasa
Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi kosakata bahasa daerah untuk
membantu pemahaman.
2. Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari
kata “medium”. Secara harfiah, artinya adalah “perantar” atau
“pengantar”.Oleh karenanya, media dipahami sebagai perantara atau
pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Media pembelajaran bisa
dikatakan sebagai alat yang bisa merangsang siswa sehingga terjadi proses
belajar.
Media pembelajaran memiliki banyak pengertian sebagaimana
Munadi (2008:7) media pembelajaran dapat dipahami sebagai segala sesuatu
yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara
terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana
penerimanya dapat melakukan Proses belajar secara efisien dan efektif.
Berdasarkan pernyataan para ahli di atas dapat diketahui bahwa media
pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan dalam proses
pembelajaran untuk menyampaikan pesan/materi dari pengantar ke
penerima/siswa. Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar
mengajar bertujuan agar peserta didik menjadi aktif mudah memahami suatu
materi secara mandiri.
3. Klasifikasi Media Pembelajaran
Media pembelajaran dalam penggunaannya harus relevan dengan
kompetensi yang ingin dicapai dan isi pembelajaran itu sendiri. Dengan adanya
berbagai macam media yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan proses
pembelajaran.
Menurut Munadi (2008:54) media dalam proses pembelajaran
dikelompokkan menjadi 4 kelompok besar yaitu:
a. Media audio adalah media yang hanya melibatkan indera pendengar dan
hanya mampu memanipulasi kemampuan suara semata.
b. Mediavisual adalahmedia yang hanya melibatkan indera penglihatan.
c. Media audio visual adalah media yang melibatkan indera pendengarandan
penglihatan sekaligus dalam satu proses.
d. Multimedia adalah media yang melibatkan berbagai indera dalam
sebuah proses pembelajaran.
Berdasarkan pemahaman atas klasifikasi media pembelajaran
diatas,pemilihan media yang disesuaikan dengan tujuan, materi serta
kemampuan dan karakteristik pembelajaran akan sangat menunjang efisiensi
serta efektifitas hasil pembelajaran.

4. Manfaat Media Pembelajaran


Media memiliki peranan penting dalam pembelajaran, yakni untuk
menjelaskan hal-hal abstrak dan dapat mewakili guru sebagai alat komunikasi
materi pembelajaran. Adapun menurut Syafi`I dalam Sumanto (dalam
Haryono,2014:50) menyatakan media bermanfaat untuk berupa hal sebagai
berikut:a).membangkitkan perhatian siswa, b).memperjelas informasi yang
disampaikan, c).menstimulasi ingatan tentang konsep, d) memotivasi siswa
mengikuti materi pembelajaran, e).menyajikan bimbingan belajar,
f).membangkitkanperformansi siswa yang relevan dengan materi,
g).memberikan masukan performansi siswa yang benar dan h).mendorong
ingatan, menstransfer pengetahuan keterampilan,dan sikap yang sedang di
pelajari.
Dari paparan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa
menggunakan media dalam proses belajar memiliki banyak manfaatnya.
Manfaat yang dirasakan adalah peserta didik akan lebih mudah menerima dan
memahami suatu materi. Manfaat lainya adalah peserta didik akan merasa
memiliki minat, motivasi,pengalaman belajar dengan guru memakai media
pembelajaran dalam proses belajar mengajar.

5. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran


Kegiatan pemilihan media pembelajaran merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari keseluruhan proses penggunaan media pembelajaran. Nana
Sudjana dalam Sutikno (dalam Haryono, 2014:67) mengemukakan bahwa dalam
memilih dan menggunakan media pembelajaran hendaknya memperhatikan
sejumlah prinsip-prinsip, diantaranya yakni:
a. Menentukan jenis media dengan tepat
b. Menetapkan atau mempertimbangkan subyek dengan tepat
c. Menyajikan media dengan tepat
d. Menempatkan atau memperhatikan media pada waktu, tempat, dan situasi
yang tepat
Begitu halnya dengan Aqip (dalam Haryono, 2014:67) hal yang harus
dilakukan untuk mempertimbangkan media dalam pembelajaran yang akan
digunakan sehingga tidak salah dalam memilih yaitu: a) kompetensi
pembelajaran, b) karakteristik sasaran didik, c) karakteristik media yang
bersangkutan, d) waktu yang tersedia, e) biaya yang diperlukan, f) ketersediaan
fasilitas/peralatan, g) konteks penggunaan dan h) mutu teknis
media.Berdasarkan paparan para ahli di atas, dapatlah disimpulkan bahwa
pemilihan media sangat penting untuk guru.

6. Pengembangan Media pada Pembelajaran Tematik


Pelaksanaanpembelajarantematik memerlukan media pembelajaran yang
menarik yang dapat membangkitkan minat belajar siswa.Hal tersebut sejalan
dengan pernyataan Prastowo (2013:398) yaitu pembelajaran tematik
membutuhkan media pembelajaran yang variatif dan tidak monoton. Sebab,
tanpa adanya media pembelajaran yang bervariasi sulit rasanya pelaksanaan
pembelajaran tematik dapat berhasil dan tidak akanberjalan dengan efektif.
Media pembelajaran harus dijadikan sebagai bagian integrasi dengan
komponen-komponen belajar lainnya, dapat artian komponen media tidak berdiri
sendiri, tetapi saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka
menciptakan situasi belajar yang bermakna.
Dari paparan ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan
pembelajaran tematik membutuhkan media pembelajaran yang variatif dan tidak
monoton karena, tanpa adanya media pembelajaran yang bervariasi sulit rasanya
pelaksanaan pembelajaran tematik tidak akan berjalan dengan efektif.
a. Media Papan Kartu Bicara
Media papan kartu bicara digunakan untuk pembelajaran tematik kelas
II sekolah dasar.Media tersebut digunakan pada pembelajaran tematik tema 1
hidup rukun, subtema 1 hidup rukun di rumah dan pembelajaran 1. Media ini
menggunakan kaca mika sebagai sarana untuk melakukan dialog dan papan
seng untuk menempelkan kaca mika tersebut yang telah dilengkapi magnet.
Media ini terdiri dari 3 bagian yaitu papan seng, kaca mika, dan kartu.Berikut
penjelasana masing-masing bagian:
1) Papan seng.
Papan seng adalah bagian media yang digunakan untuk
menempelkankaca mika. Papan ini terdiri dari dua lapis yaitu seng dan triplek
yang berbentukpersegi dengan ukuran 70 cm yang dilengkapi dengan 2 engsel
dipasang pada bagian tengah seng dan triplek agar papan seng dapat dilipat.
Papan ini didesain aman terutama bagian tepi papan agar mudah untuk
dipegang.Selain itu, papan seng diwarnai putih dengan cat kayu dan diberikan
triplek yangdiwarnai merah pada tepi sebagai pembatas.
2) Kaca mika
Bagian ini merupakan inti dari media papan kartu bicara karena sebagai
tempat kartu yang digunakan untuk memahami atau mempraktikan sebuah
dialog. Kaca mika didesain berbentuk persegi panjang dengan ukuran 16 cm
dan 8 cm dengan warna rainbow yang masing-masing 9 buah. Kaca ini
dibentuk dua lapis agar dapat dimasukkan kartu. Pada bagian belakang, kaca
mika ini diberikan magnet agar dapat menempel di papan seng.Kaca ini juga
dapat ditulisi dengan spidol board marker jika pengguna ingin menulis.
3) Kartu
Kartu pada media ini terbuat dari kertas folio dilaminataing yang
ukurannya disesuaikan dengan kaca mika yaitu 16 cm dan 8 cm dengan warna
yang menarik untuk siswa. Kartu ini berisi tulisan atau angka berdasarkan
Kebutuhan dan tujuan dalam menggunakan media ini. Jika media ini digunakan
untuk mempraktikan dialog, maka isi kartu berupa kata dan kalimat yang
membentuk sebuah dialog. Namun jika digunakan untuk melakukan operasi
hitung, maka media dapat diberikan gambar benda atau angka.

b. Manfaat Media Papan Kartu Bicara


Terdapat beberapa manfaat yang dapat diperoleh melalui pengembangan
media ini, antaranya:
1) Membangkitkan minat belajar siswa.
2) Dapat memenuhi kebutuhan dalam pembelajaran tematik.
3) Meningkatkan pembelajaran yang lebih menarik perhatian siswa, sehingga
dapat menumbuhkan motivasi dan kreativitas dalam belajar siswa.
4) Memberikan kemudahan pada guru dalam penyampaian materi
pembelajaran.
5) Memberikan kemudahan pada siswa untuk menangkap materi
pembelajaran.
6) Menimbulkan perasaan senang pada siswa karena menggunakan media
pembelajaran.

c. Tahap Penggunaan Media Papan Kartu Bicara


Dalam memudahkan penggunaan media ini, maka dapat dijabarkan
kedalam beberapa tahapan diantaranya :
1) Persiapan
a) Tegakkan badan Papan Kartu Bicara.
b) Letakkan pada tempat dan posisi yang mudah dilihat oleh siswa.
c) Jelaskan kepada siswa nama dan kegunaan bagian-bagian media Papan
Kartu Bicara
2) Penggunaan
a) Kondisikan siswa agar tetap tenang. Pada saat menjelaskan materi.
b) Ajak siswa untuk menyanyikan lagu “Ruri Abangku” dengan teks lagu
yang sudah ditempel pada papan kartu bicara.
c) Sampaikan pada siswa bahwa akan belajar dialog.
d) Tempelkan mika putih bening ke papan secara zigzag.
e) Siapkan kartu atau kertas yang berisi kalimat dialog.
f) Masukkan kartu dialog tersebut pada mika sesuai dengan urutan dialog.
g) Ajarilah siswa mempraktikkan dialog tersebut.
h) Jika ingin belajar tentang menentukan pola-pola bilangan sederhana,guru
dapat melepas semua kartu dialog dan merubah posisi mika sesuai
kebutuhan.
i) Tempelkan satu atau dua kartu bergambar pada papan kartu bicara.
j) Tempelkan mika bening (yang sudah dimasukkan kertas kuning) di bawah
mika warna putih bening.
k) Ajarilah siswa menghitung gambar dan tulislah jumlah gambar pada mika
kuning dengan spidol board maker.
l) Ulangi hal-hal tersebut bila perlu.
3) Pasca penggunaan
a) Ambilah kartu atau kertas yang terdapat pada mika.
b) Ambillah mika yang menempel pada papan.
c) Ikatlah mika dan kertas kartu.
d) Letakkan badan papan kartu bicara di tempat yang aman.

d. Kelebihan Papan Kartu Bicara


1) Meningkatkan kreativitas dan siswa juga termotivasi untuk menuangkan
gagasannya.
2) Pembelajaran akan berjalan dengan sempurna karena siswa dapat belajar
langsung tentang materi pembelajaran.
3) Siswa dapat berinteraksi langsung diantara satu dengan yang lain.
4) Tidak mudah rusak, karena terbuat dari papan triplek dan dilapisi seng.
5) Memberikan kemudahan pada guru dalam penyampaian materi
pembelajaran.

e. Kekurangan Papan Kartu Bicara


1) Hanya dapat digunakan untuk angka dan tulisan.
2) Keterbatasan bila menggunakan gambar.
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subjek , Tempat dan Waktu Penelitian


Proses pelaksanaan dan perbaikan pembelajaran dilaksanakan di
Sekolah Dasar Negeri O5 Baruah Gunuang Kecamatan Bukik Barisan
Kabupaten Lima Puluh Kota dari tanggal13 sampai 27 Maret 2019. Adapun
pihak pihak yang membantu dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini
adalah Kepala Sekolah Dasar Negeri O5 Baruah Gunuang adalah :
Penilai 1, Penilai 2, Supervisor 1 dan Supervisor 2.
Jadwal pelaksanaan pembelajaran dan perbaikan pembelajaran.

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran


1. Perencanaan dan Pelaksanaan
Pemamfaatan metode dan media gambar diharapkan dapat membantu
memperjelas materi pembelajaran yang disampaikan kepada siswa dan
mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa, sehingga pesan guru
sebagai mediator dan fasilitas dapat dilaksanakan dengan baik.
Adapun Langkah Langkah yang ditempuh dalam proses perbaikan
pembelaran dengan menggunakan model Based Learning adalah sebagai
berikut :
a. Memberikan bimbingan kepada siswa.
b. Menarik perhatian siswa dengan berusaha membuat situasi belajar
menyenangkan.
c. Menerangkan dengan teliti agar mudah dimengerti.
d. Memakai metode pembelajaran.
e. Menggunakan media gambar.
f. Membentuk kelompok dan tutor sebaya.
g. Memberi bimbingan yang kontinyu.

Sesuai dengan masalah yang dihadapi siswa, yaitu kurangnya


perhatian dan hasil belajar siswa terhadap materi pembelajaran, maka yang
menjadi perhatian ini yaitu pembelajaran yang menyenangkan dengan
menggunakan media gambar.

2. Pengamatan dan Pengumpulan Data


Pembelajaran Tematik Tema 8 Daearah Tempat Tinggalku di semester
11 Tahun Pembelajaran 2018/2019.Dari hasil evaluasi belajar 10 siswa di
kelas 1V ,Diperoleh data bahwa yang mencapai tingkat ketuntasan 70%
hanya 5 orang , dengan rata rata penguasan materi 60,55%. Hal ini
menunjukkan sangat rendahnya pemahaman siswa terhadap materi
tersebut. Adapun kendala yang dihadapi siswa adalah kurang dipahaminya
konsep pada materi pembelajaran .
Untuk mengatasi kesulitan tersebut di atas , maka digunakan media
pembelajaran yang dibutuhkan .Dengan penggunaan media diharapkan
dapat menigkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
3. Refleksi
Berdasarkan tindakan di atas peneliti melakukan refleksi dengan cara
menganalisis dan menafsirkan hasil belajar kurang memuaskan, karena itu
dicari penyebabnya dan dilakukan perbaikan pada siklus 1. Apabila hasil
belajar masih belum mampu mencapai ketuntasan klasikal maka perlu
dilanjutkan dengan perbaikan pembelaran siklus 11 .
Namun ketika sudah mencapai ketuntasan klasikal , maka dipertahankan
kegiatan pembelaran yang sudah dilaksanakan.

C. Teknik Analisis Data


1. Data yang bersifat kuantitatif

Data yang sudah terkumpul kemudian diolah dengan ketentuan penelitian


sebagai berikut :

a. Mengumpulkan dan menyeleksi data, apakah sudah sesuai dengan


kebutuhan penelitian.
b. Setelah data terkumpul kemudian diklasifikasikan sesuai dengan
kebutuhan penelitian.
c. Kemudian data yang terkumpul dimasukkan kedalam tabel yang
disediakan setelah di hitung, Frekuensi serta persentasenya, dari
berbagai alternatif jawaban pada setiap item, pernyataan pada setiap
angket yang penulis edarkan kepada sampel penelitian.
d. Hasil persentase tersebut kemudian di interprestasikan selanjutnya
ditarik kesimpulan penelitian yang sekaligus juga merupakan hasil
dari penelitian yang penulis lakukan ini.

2. Data bersifat kualitatif.


Data yang bersifat kualitatif yang diperoleh melalui wawancara
hanya digambarkan atau analisa secara umum atau garis besarnya saja.
Dalam menganalisa data penelitian dipergunakan teknik analisa
deskriptif yaitu analisa yang mengarah kepada gambaran umum tentang
masalah pokok yang sudah diteliti.
Untuk membuktikankebenaran dari penelitian ini terlebih dahulu
dikumpulkan semua data yang berkaitan dan menunjang penelitian
kemudian dibahas dan disajikan dalam bentuk kuantitatif menjadi
kualitatif.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Hasil pengolahan data dari prasiklus sampai siklus II
pembelajarantematik tema 8 sub tema 1 pembelajaran 4 kelas IV sebagai
berikut :
Keterangan:
1. a . Nilai Tertinggi Prasiklus adalah 80
b. NilSai Tertinggi Siklus 1 adalah 100
c. Nilai Tertinggi Siklus 11 adalah 100
2. a. Nilai Terendah Prasiklus adalah 40
b. Nilai Terendah Siklus 1 adalah 60
c. Nilai Terendah Siklus 11 adalah 80
Berdasarkan hasil temuan yang diperolh dari ketiga siklus pembelajaran
yang dilaksanakan pada tematik tema 8 sub tema 1 pembelajaran 4 di kelas
1V sudah menunjukkan kemajuan. Hal ini dapat dilihat dengan keberhasilan
siswa menjawab soal latihan dan soal evaluasi yang diberikan guru tentang
materi : Keragaman karakteristik individu dalam keluarga,
Mengidentifikasikan jenis pekerjaan dalam kegiatan ekonomi, dan
Menceritakan tokoh utama dan tokoh tambahan dalam cerita fiksi. Sehingga
semua siswa dapat mencapai target ketuntasan belajar pada materi pokok
yang diajarkan.

Dari hasil temuan temuan peneliti dapat diamati hal hal berikut ini :
a) Media belum ada
b) Apersepsi belum tepat
c) Materi yang diberikan kurang jelas
d) Pemantapan materi belum terlaksana
e) Pengelolaan waktu kurang efektif
f) Penilaian proses belum terlaksana
Karena pada pra siklus pembelajaran belum sempurna maka dilaksanakan
perbaikan pembelajaran dilakukan dua siklus untuk masing masing
pembelajaran.Berikut keadaan nilai hasil belajar yang dapat pada setiap
akhir pembelajaran,sebagai berikut :
1. Siklus 1
Pada siklus 1 nilai yang harus diperoleh masih kurang
memuaskan,sehingga penulis melakukan refleksi dan beberapa
perbaikan untuk siklus 11.termasuk menggunakan media gambar pada
pembelajaran tematik tema 8 sub tema 1 pembelajaran 4.
2. Siklus 11

Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa seluruh siswa berhasil


mencapai tujuan belajarnya pada siklus 11,dengan rata rata nilai hasil
belajar akhir tema 8 sub tema 1 pembelajaran 4 ; 94,00 dengan tingkat
keberhasilan 100%.Maka pembelajaran tersebut mengalami kemajuan dan
dapat dikatakan ‘’ Tuntas’’.

Berdasarkan hasil diskusi dengan teman sejawat dan konsultasi


dengan supervisor, maka ditemui beberapa permasalahan dalam
pembelajaran Tematik Tema 8 sub tema 1 pembelajaran 4 kelas 1V
Sebagai berikut :

a. Bagaimana cara meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi


pelajaran.
b. Bagaimana cara memotivasi siswa agar siswa memusatkan perhatian
pada pembelajaran.
c. Bagaimana guru mrmberikan penjelasan tentang materi dan langkah
langkah kerja dalam menyelesaikan soal.
d. Bagaimana cara guru menanamkan konsep materi pembelajaran yang
sedang dipelajari.
e. Bagaimana cara guru membina keterampilan siswa dalam proses
pembelajaran
Dari permasalahan diatas yang menjadi fokus perbaikan adalah :
1) Menyusun rencana pembelajaran sebaik mungkin sehingga dapat
dilaksanakan dengan sempurna dalam proses belajar mengajar.
2) Menyediakan dan mengoptimalkan penggunaan media sehingga dapat
menanamkan konsep.
3) Memberikan informasi dengan jelas dan rinci dengan memilih metode
yang relevan dan bervariasi.
4) Memberikan latihan latihan dengan memperhatikan proses untuk
penerapan konsep dalam kehidupan sehari hari.
5) Selalu memberikan motivasi agar tercipta pembelajaran yang aktif,
efektif dan menyenangkan.

Berdasarkan hasil refleksi diatas, yang telah dituangkan pada perbaikan


pembelajaran 1 dan 11 . Dari hasil temuan yang diperoleh melalui observasi
yang dilakukan oleh teman sejawat, maka perbaikan pembelajaran sudah
menunjukkan nilai tambah kearah yang lebih baik,setelah ditinjau dari segi
siswa dan guru.

B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Siswa memiliki masalah dalam hal keaktifan dalam pembelajaran


tematik tema 8 sub tema 1 pembelajaran 4.karena sistim pembelajaran yang
konvensional dan kurang maksimalnya pemilihan dan penggunaan metode dan
media pembejaran yang kurang menarik.Untuk mengatasi masalah tersebut
penulis melakukan upaya perbaikan dengan model Based Learning.
Upaya ini dilakukan dalam 3 siklus bersama teman sejawat yang berperan
sebagai observer

Pra siklus

Pada pra siklus dari hasil temuan guru sebagai peneliti dapat disimpulkan
bahwa dengan strategi pembelajaran tematik tersebut masih ditemui siswa yang
tidak konsentrasi dalam mengikuti pembelajaran. Pada umumnya siswa
bingung dalam mengidentifikasi karakteristik individu dalam keluarga.
Sehingga siswa tidak memahami materi yang disajikan. Banyak siswa yang
bermain main sewaktu pembelajaran berlangsung. Sehingga peneliti harus
melakukan perbaikan pembelajaran.

Siklus 1

Dari hasil temuan guru sebagai peneliti dapat disimpulkan bahwa guru
lebih bersemangat dalam melakukan model pembelaran ini,karena lebih cepat
memahami materi yang telah diberkan.Siswa terlihat sangat responsive dan
aktif.Masih ada siswa yang salah menjawab pertanyaan yang diberikan. Hasil
pembelajaran sudah lumayan memuaskan,tapi masih ada siswa yang belum
mencapai KKM.

Siklus 11

Dari hasil temuan guru sebagai peneliti dapat disimpulkan bahwa semua
kekurangan pada pembelajaran pertama dan kedua .dan dapat diatasi pada
pertemuan ketiga.Penggunaan waktu sesuai dengan rencana. Hasil dicapaipun
sangat memuaskan.Dengan melakukan pembelajaran satu sampai perbaikan
kedua, banyak manfaat yang didapatkan :

1. Materi yang disampaikan tanpa strategi dan model pembelajaran yang


atraktif,akan bisa membuat siswa menjadi bosan.
2. Anak usia pada umumnya dalam masa bermain, maka seorang guru
harus inovatif dan aktif menyusun dan melaksanakan scenario
pembelajaran.
3. Kesetaraan jender harus diperhatikan sehingga tidak ada perbedaan
antara siswa pintar dan siswa kurang pintar.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari keseluruhan hasil perbaikan maka dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran dengan penggunaan model based lerning ternyata berpengaruh
terhadap peningkatan hasil belajar tematik tema 8 seb tema 1 kelas 4 SD
Negeri 05 Baruah Gunuang Kecamatan Bukik Barisan. Hal ini diketahui dari
peningkatan rata-rata nilai hasil belajar pada siklus I sebesar 83,00 dengan
tingkat ketuntasan 75% dan sebesar 94,00 pada siklus II, dengan tingkat
ketuntasan 100%. Peningkatan skor siswa diasumsikan merupakan akibat dari
perlakuan yang telah diberikan kepada siswa dengan menggunakan model
based learning dan media gambar.

B. Saran
Beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran antara lain :
1. Rencana pelaksanaan pembelajaran hendaknya disusun secara rinci dan
terurai sehingga memudahkan kita dalam menyajikan pembelajaran.
2. Guru mengunakan media pembelajaran yang kongkrit dan relefan dengan
materi pokok yang diajarkan.
3. Guru menggukan metode yang menyenangkan agar pembelajaran tidak
membosankan siswa dan membuat suasana kelas lebih hidup dan
bersemangat.
4. Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran, karena keaktifan
siswa dalam pembelajaran akan meningkatkan pemahaman siswa
terhadap materi pembelajaran.
5. Selalu memberikan motivasi dan penguatan dalam pembelajaran agar
siswa bersemangat dalam berlajar.
DAFTAR PUSTAKA

Aristo Rahadi, Drs, Dep Pen Nas 2003. Media Pembelajaran Program Guru
Bantu – Direktorat Tenaga Kependudukan.

I.G.A.K. Wardani, 2007. Pemantapan Kemampuan Profesional ( Panduan ),


Jakarta: Universitas Terbuka

I.G.A.K Wardani, 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka

Suciati, Dr, dkk. 2004. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Universitas Terbuka

P. Tantya Hisnu dan Winarsi. 2008. IlmuPengetahuan Sosial 4 untuk SD/MI Kelas
4. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Suryana, Yana, Yudi Suparyanto, Khilya Fa’izia dan Novia Hariani. 2014.
Ensiklopedia Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan: Persatuan
dan Kesatuan Bangsa. Klaten: Cempaka Putih.

Samsudin, Abim, Prof. Dr dan Nandang Budiman, S.Pd. 2002. Profesi Keguruan
2, Jakarta : Universitas Terbuka.

Fachrurazi. 2011. “Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk


Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis dan Komunikasi Matematis
Siswa Sekolah Dasar”, Edisi Khusus No. 1.

Graff, Erik De dan Anette Kolmos. 2003. “Characteristics of Problem-Based


Learning”, International Journal Engng /Vol. 19, No. 5, 657-662.

Ertmer, Pegg y A. Dkk, 2014, “The Grand Challenge: Helping Teachers Learn/
Teach Cutting-Edge Scince via a PBL Approach”, Interdisciplinary
Journal of Problem-Based Learning/ Vol. 8 No. 1, 8-20.