Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara dengan kekayaan sumber daya alam yang


melimpah, seperti tumbuhan. Kita ketahui, bahwa Indonesia memiliki
begitu banyak jenis tumbuhan yang bisa digunakan sebagai bahan
pangan. Berbagai macam bahan pangan di Indonesia yang sering kita
konsumsi diolah menjadi olahan pangan yang begitu beragam, seperti
olahan padi, jagung, kacang hijau, dan lain-lain. Dengan didukung oleh
iklim tropis yang dimiliki Indonesia, membuat petani Indonesia pandai dalam
memilih jenis tanaman apa yang akan ditanam pada musim kemarau atau
musim hujan. Dengan memiliki curah hujan yang tinggi, membuat tanah di
Indonesia bertambah subur.
Selain memiliki Sumber Daya Alam yang subur, Indonesia juga memiliki
jumlah penduduk yang banyak. Indonesia masuk ke dalam empat besar jumlah
penduduk terbanyak di dunia, setelah India, Cina, dan Rusia. Jumlah
penduduk Indonesia sampai bulan Mei tahun 2018 yaitu sebanyak 265 juta
penduduk. Lebih banyak dari tahun 2017 yang sebanyak 262 juta. Dengan 34
provinsi di Indonesia, Jawa Timur masuk ke dalam 3 besar jumlah penduduk
terbanyak di Indonesia setelah DKI Jakarta. Dari banyaknya jumlah penduduk
di Indonesia, tidak menutup kemungkinan bahwa adanya permasalahan yang
dialami penduduk Indonesia, seperti dalam masalah kesehatan.
Berbagai macam jenis penyakit di Indonesia, seperti halnya kurang gizi
dan gizi buruk. Indonesia masuk ke dalam urutan ke-108 penyandang gizi
buruk terbanyak di dunia. Oleh sebab itu, perlu adanya dukungan khusus
dari pemerintah Indonesia dan seluruh warga Indonesia untuk ikut serta dalam
membantu mengatasi permasalahan tersebut. Setiap provinsi di Indonesia,
pastinya memiliki penduduk yang menyandang penyakit gizi buruk dan
kurang gizi. Karena gizi buruk dan kurang gizi merupakan penyakit yang
“lumrah” yang di mana penyakit ini dapat terjadi di mana-mana. Karena
beberapa faktor yang mengakibatkan adanya penyakit ini, seperti faktor sosial
ekonomi. Seperti halnya di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kabupaten Jember
masuk ke dalam 5 besar penyandang gizi buruk dan kurang gizi terbanyak di
Jawa Timur. Dengan presentase 30% dari 180 ribu jumlah bayi yang lahir.
Tingginya angka gizi buruk bukan semata-mata faktor ekonomi,
melainkan lebih banyak disebabkan pola asuh orang tua yang salah. Oleh
karena itu , perlu adanya solusi untuk mengurangi jumlah penderita gizi
buruk dan kurang gizi seperti adanya inovasi pangan tumbuhan suweg yang
dapat memberikan solusi pada permasalahan ini. Di era millenial ini jarang
sekali kita mendengar nama tumbuhan suweg. Tumbuhan suweg merupakan
jenis umbi-umbian. Dengan kadar kandungan gizi yang cukup bagi tubuh
manusia. Hampir 86% dari tumbuhan suweg dapat dimanfaatkan, mulai dari
batang, umbi, dan bagian tumbuhan suweg yang lain.
Berdasarkan permasalahan di atas, timbul suatu pemikiran untuk
menginovasikan tumbuhan suweg menjadi suweg Milk yang kaya akan
karbohidrat dan protein dengan kandungan karbohidrat 15,1 gr dan
protein 1,0 gr. Selain itu, umbi suweg juga memiliki kandungan gizi
lain, salah satunya yaitu kandungan fosfor yang tinggi berperan dalam
pertumbuhan tulang dan gigi. Dengan proses pembuatan yang begitu
mudah dan dapat dilakukan oleh seluruh orang tua khususnya orang tua
penderita kurang gizi dan gizi buruk. Dengan adanya inovasi pangan dari
umbi suweg ini, diharapkan dapat membantu penyandang gizi buruk dan
kurang gizi serta orangtua penyandang di Indonesia khususnya penderita di
Kabupaten Jember.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan pernyataan di atas, peneliti merumuskan beberapa masalah
yaitu sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana prosedur kerja pengolahan tumbuhan suweg menjadi suweg
milk sebagai solusi mengatasi gizi buruk dan kurang gizi di Indonesia?
1.2.2 Apa manfaat yang diberikan tumbuhan suweg terhadap kesehatan
masyarakat Kecamatan Silo, Kabupaten Jember?
1.2.3 Bagaimana solusi untuk mengatasi gizi buruk dan kurang gizi di
Kecamatan Silo, Kabupaten Jember?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menemukan solusi dari
permasalahan gizi buruk dan kurang gizi yang marak terjadi di masyarakat
1.3.2 Tujuan khusus
Secara khusus, tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui tentang tumbuhan suweg
2. Untuk mengetahui prosedur kerja pengolahan tumbuhan suweg menjadi
suweg milk
3. Untuk mengetahui manfaat yang diberikan tumbuhan suweg terhadap
kesehatan masyarakat di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember

1.4 Manfaat Penulisan


Penulisan karya ilmiah ini diharapkan memberi manfaat yang luas baik
bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca umumnya:
1.4.1 Bagi penulis
Penelitian ini memberikan pengalaman berharga dan menambah wawasan
tentang tumbuhan suweg yang masih belum sering digunakan.
1.4.2 Bagi pembaca
1. Penelitian ini diharapkan agar pembaca mampu memanfaatkan SDA
secara benar
2. Sebagai sumber informasi yang dapat dijadikan referensi
3. Meningkatkan pengetahuan mengenai tumbuhan suweg dan kandungan
tumbuhan suweg bagi tubuh manusia
4. Penjelasan mengenai penyebab penyakit gizi buruk di Indonesia dan
solusinya
1.4.3 Bagi masyarakat
Penelitian ini diharapkan agar masyarakat mampu mengolah SDA dengan
baik dan benar serta dapat menjaga lingkungan
1.4.4 Bagi pemerintah
Penelitian ini diharapkan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah
untuk meningkatkan kesehatan di Indonesia, khususnya upaya penanganan
gizi buruk dan kurang gizi di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember serta
membantu di daerah- daerah lainnya
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Konseptual

Kelompok rawan gizi


buruk Inovasi pangan sehat

Masyarakat daerah di Optimalisasi bahan


Kecamatan Silo, pangan lokal guna
Kabupaten Jember menyongsong
pembangunan bidang
pangan indonesia
Pada balita 0– 5 bulan

Peningkatan produktivitas
Pengasuha dan kualitas produk pangan
n gizi lokal

Penyuluha
n Umbi suweg

Suweg milk

Asupan gizi tercukupi

Status gizi baik


2.1.1 Batasan
Kegiatan penelitian merupakan rangkaian proses pengkayaan ilmu
pengetahuan. Penelitian terdahulu dijadikan peneliti sebagai bahan acuan
pengetahuan, adalah :
Penelitian yang dilakukan Julfy Restu (2014),dalam jurnal ilmiah yang
berjudul “Yoghurt Susu Jagung Manis Kacang Hijau Sebagai Strategi Inovasi
Produk Alternatif Pangan Fungsional”. Penelitian ini bertujuan untuk
Menganalisis kelayakan dari produk inovasi berupa yoghurt susu jagung
manis kacang hijau. Hasil penelitian adalah sebagai Inovasi produk berupa
yoghurt berbahan dasar nabati dapat menjadi solusi alternatif yang
menjanjikan dalam rangka menyediakan pangan fungsional yang lebih
terjangkau.
Kaitan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Julfy Restu (2014)
adalah tujuan penelitian . Jika penelitian yang dilakukan Julfy Restu (2014)
bertujuan menganalisis kelayakan dari produk inovasi berupa yoghurt susu
jagung manis kacang hijau,maka tujuan penelitian penulis yaitu sebagai
berikut:
1. Memberikan informasi inovasi pemanfaatan umbi suweg menjadi produk
susu.
2. Menemukan solusi dari permasalahan gizi buruk yang terjadi di
masyarakat.
3. Mengetahui manfaat dari kandungan suweg bagi kesehatan masyarakat.
Perbedaan lain juga mengarah pada sumber bahan yang diperoleh, jika pada
penelitian Julfy Restu sumber data tergolong dalam data primer, sedangkan
dalam penelitian ini, sumber data tergolong dalam data primer dan sekunder .
Intinya penelitian ini berfokus pada upaya dalam menemukan solusi untuk
gizi buruk dan kurang gizi melalui inovasi suweg yang telah dibuat peneliti
untuk mengatasi hal tersebut.
2.1.2 Konsep
2.1.2.1 konsep Inovasi Pangan
Inovasi adalah proses atau hasil pengembangan pemanfaatan atau
mobilisasi pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman untuk menciptakan
atau memperbaiki suatu produk yang berusaha memberikan solusi terhadap
permasalahan yang ada. Sebuah inovasi biasanya berisi terobosan-terobosan
baru mengenai sebuah hal yang diteliti oleh sang inovator (orang yang
membuat inovasi). Inovasi biasanya sengaja dibuat oleh sang inovator melalui
berbagai macam aksi atau pun penelitian yang terencana.
Sedangkan pangan adalah menurut Undang-Undang No. 18 tahun 2012,
yang dimaksud dengan pangan adalahsegala sesuatu yang berasal dari sumber
hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan,
perairan dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yangdiperuntukkan
sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk
bahantambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan
dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau
minuman. Sumber pangan sangatlah dibutuhkan oleh masyarakat untuk
pemenuhan kebutuhan sehari-hari serta meningkatkan keadaan gizi seseorang.
Semakin banyak penganekaragaman sumber pangan,maka semakin
meningkatnya kesejahteraan individu dalam pemenuhan kebutuhan gizi
masyarakat. "program penganekaragaman pangan merupakan cara yang
penting untuk meningkatkan pengembangan gizi yang lebih mencukupi pada
tingkat daerah pedesaan, regional, dan nasional.
2.1.2.2 Konsep Ketahanan Pangan
Berdasarkan UU Pangan, 2012 bahwa ketahanan pangan adalah kondisi
terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin
dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman,
beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan
agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan
produktif secara berkelanjutan. Konsep ketahanan pangan dapat diterapkan
untuk menyatakan situasi pangan pada berbagai tingkatan yaitu tingkat global,
nasional, regional, dan tingkat rumah tangga serta individu yang merupakan
suatu rangkaian system hirarkis. Hal ini menunjukkan bahwa konsep
ketahanan pangan sangat luas dan beragam serta merupakan permasalahan
yang kompleks. Namun demikian dari luas dan beragamnya konsep ketahanan
pangan tersebut intinya bertujuan untuk mewujudkan terjaminnya
ketersediaan pangan bagi umat manusia.

2.2 Landasan Teori


2.2.1 Gizi Buruk
a. Pengertian Gizi Buruk
Gizi buruk adalah status gizi yang dialami seseorang dalam keadaan
kekurang gizi atau nutrisi secara terus menerus hingga mencapai tingkat berat
berdasarkan indeks umur, tinggi dan berat badan yang disebabkan oleh
rendahnya konsumsi nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Kebutuhan terhadap
zat tersebut terbagi dalam dua kategori utama yaitu makronutrien dan
mikronutien. Makronutrien adalah nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh kita
dalam jumlah banyak, meliputi lemak, karbohidrat, Protein dan Air. Zat-zat
ini diperlukan sebagai sumber utama proses metabolisme tubuh. Mikronutrien
adalah nutrisi yang yang diperlukan dalam jumlah yang sedikit seperti
vitamin, mineral, kimia nabati, dan antioksidan .
b. Penyebab Gizi Buruk
Faktor mendasar yang menyebabkan seseorang tidak mendapatkan nutrisi
dengan baik sehingga terjadi gizi buruk adalah masalah ekonomi, pola pikir
dan perilaku kesehatan yang minim serta pelayanan kesehatan yang masih
belum merata dan maksimal.
Ketika seseorang hidup dengan masalah ekonomi seperti kemiskinan dan
pengangguran, mengingat kompetensi dalam mencari pekerjaan semakin sulit
karena pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, sementara lapangan
pekerjaan yang sangat terbatas. Jika demikian, maka akan sulit seseorang
untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti sandang pangan (makanan) dan
papan (rumah). Ketiga unsur ini mengambil bagian sebagi penyebab gizi
buruk.
Gizi buruk bukan hanya disebabkan oleh itu saja, melainkan juga bisa
terjadi dari faktor rumah sebagai tempat tinggal dan beraktivitas. Pedoman
teknis ini disusun berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor :
829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan Kesehatan Perumahan, yang
mengatur tentang kelompok bobot rumah, kelompok sarana sanitasi dan
kelompok perilaku. Ada beberapa indikator dari sarana sanitasi lingkungan
yaitu ketersediaan air bersih, jamban, sarana pembuangan air limbah dan
sarana pembuangan sampah, yang sudah memiliki ketentuan-ketentuan
pengaturan tata letak, pengolahan dan standar tersendiri yang telah
ditetapkan . Apabila Indikator tersebut tidak terpenuhi baik salah satuatau
beberapa maka akan menimbulkan lingkungan tidak sehat yang akan
menimbulkan berbagai penyakit yang memicu pengurangan penyerapan
nutrisi kedalam tubuh seperti diare, Infeksi dan ISPA. Seseorang yang
mendapat makanan yang cukup baik, tetapi sering diserang diare atau demam,
dapat menderita kurang gizi. Demikian juga pada anak yang mendapat makan
tidak cukup baik maka daya tahan tubuhnya menjadi rendah yang
mengakibatkan mudah diserang penyakit infeksi sehingga mengurangi nafsu
makan dan akhirnya akan menderita kurang gizi bahkan gizi buruk.
Faktor terakhir adalah layanan kesehatan dan pola asuh orang tua
terhadap anaknya. Pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas
yang belum merata mengingat luasnya negara Indonesia yang penduduknya
tersebar hingga ke pelosok-pelosok desa, padahal layanan kesehatan sangaat
penting untuk memantau perkembangan dan pertumbuhan masyarakat serta
memberikan sosialisasi mengenai pola hidup sehat seperti mencuci tangan,
menjaga kebersihan diri maupun lingkungan dan konsumsi gizi yang
seimbang, karena tidak jarang banyak orang tua yang tidak memahami dengan
baik komposisi makanan apa saja

c. Mengatasi Gizi Buruk


Upaya mengatasi prevalensi balita gizi buruk dilakukan antara lain melalui:
1. Penanggulangan kurang energy protein (KEP), anemia gizi besi,

gangguan akibat kurang yodium, kurang vitamin A, dan kekurangan zat


gizi mikro lainnya;
2. Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi;
3. Pemberian subsidi pangan bagi penduduk miskin;
4. Peningkatan partisipasi masyarakat melalui revitalisasi pelayanan

Posyandu;
5. Pelayanan gizi bagi ibu hamil (berupa tablet besi) dan balita (berupa

makanan /minuman pendamping ASI) dari keluarga miskin.

2.2.2 Umbi Suweg


a. Deskripsi Umbi Suweg
Suweg (dari bahasa Jawa) adalah tanaman anggota marga Amorphophallus
dan masih berkerabat dekat dengan bunga bangkai raksasa (A. titanum) dan
iles-iles (A. muelleri). Suweg sering dicampurbaurkan dengan iles-iles karena
keduanya menghasilkan umbi batang yang dapat dimakan dan ada kemiripan
dalam morfologi daun pada fase vegetatifnya. Nama lainnya adalah porang,
meskipun nama ini juga dipakai untuk iles-iles. Nama-nama dalam bahasa
lain: elephant foot yam[4][5] atau stink lily (bahasa Inggris), teve (bahasa
Tonga), jimmikand, suran, chenna, ol (bahasa Bengal), serta oluo (bahasa
Odia).
b. Klasifikasi Umbi Suweg
Kingdom :Plantae
(tidak termasuk) :Angiospermae
(tidak termasuk) :Monokotil
Ordo :Alismatales
Famili :Araceae
Genus :Amorphophallus
Spesies :A. paeoniifolius
c. Kandungan Umbi Suweg
Adapun kandungan dalam umbi suweg sebagai berikut:

Komposisi Satuan Jumlah kandungan


Kalori kal 60-69
Protein gram 1
Lemak gram 0,01
Karbohidrat gram 15,7
Kalsium mg 62
Fosfor mg 41
Zat besi mg 42
Vitamin B1 mg 0.07
Air gram 8.2
Tabel 2.2.2 Kandungan Umbi Suweg
Sumber : Sutomo (2008)

2.2.3 Suweg Milk


a. Pengertian Suweg Milk
Suweg milk merupakan salah satu inovasi pangan berupa minuman dengan
kandungan gizi yang tinggi yang dibuat dari umbi suweg. Suweg milk sendiri
digunakan sebagai salah satu alternatif dalam mengatasi gizi buruk dan kurang
gizi di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Suweg milk menggunakan metode
pengolahan yang mudah sehingga dapat dilakukan oleh semua orang,
khususnya orang tua penyandang gizi buruk dan kurang gizi di Kecamatan
Silo, Kabupaten Jember. Dengan adanya suweg milk ini, diharapkan dapat
memberikan solusi untuk masalah gizi buruk dan kurang gizi di Kecamatan
Silo, Kabupaten Jember.
b. Manfaat suweg milk
Berdasarkan keterangan diatas, adapun manfaat yang didapat dari adanya
suweg milk ini, seperti:
a. Penurun berat badan
b. Mengatasi diabetes mellitus
c. Menurunkan tekanan darah tinggi
d. Mengatasi sembelit
e. Solusi gizi buruk dan kurang gizi
c.Keunggulan suweg milk
Selain adanya manfaat, suweg milk ini juga mempunyai beberapa
keunggulan, seperti:
a. Kandungan gizi yang cukup
b. Gizi mudah dicerna secara lebih sederhana
c. Pembuatanya mudah
d. Ramah lingkungan
e. Tanpa bahan kimia
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode secara kualitatif dan


kuantitatif agar hasilnya dapat maksimal. Metode kualitatif kami dapatkan
dari studi literatur berbagai sumber, seperti internet, televisi dan media cetak
(koran). Sedangkan metode kuantitatif kami dapatkan dari wawancara
berbagai sumber. Kami menggunakan metode studikasus di dalam
pengumpulan data, yakni penelitian yang dilakukan terhadap satu aspek yaitu
gizi buruk di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember.
Untuk memeroleh data yang relevan ,peneliti menggunakan teknik
pengumpulan data sebagai berikut:
3.1.1 Wawancara
Wawancara, menurut Lexy J. Moleong (1991:135) dikemukakan bahwa
wawancara merupakan suatu percakapan dengan tujuan-tujuan tertentu. Pada
metode ini, peneliti dan responden berhadapan langsung (face to face) untuk
memperoleh informasi secara lisan dengan tujuan mendapatkan data yang
dapat menjelaskan permasalahan penelitian. Bailey (1978) dalam bukunya
Methods of Social Research menguraikan beragam kelebihan dan kekurangan
metode wawancara dalam suatu penelitian.
Melalui metode wawancara kita akan dapat menjalin silaturrahmi dengan
masyarakat lain serta dapat mengembangkan kemampuan bersosial.
Wawancara ini kami lakukan kepada masyarakat Kecamatan Silo, Kabupaten
Jember yang telah bermukim disana, pengunjung Jember yang pada saat itu
ingin merefresh diri (berlibur ke Kecamatan Silo, Kabupaten Jember), dan
orang yang berjualan di lingkungan Kecamatan Silo, Kabupaten Jember.
3.1.2 Penyebaran Angket
Pengertian metode angket menurut Arikunto (2006:151) “Angket adalah
pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari
responden dalam arti laporan tentang pribadi atau hal-hal yanag ia
ketahui”.Sedangkan menurut Sugiyono(2008:199) “Angket atau kuesioner
merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara member
seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk
dijawab”. Kelebihan metode angket adalah sebagai berikut :
a. Menghemat waktu. Dalam waktu yang singkat, peneliti akan memperoleh
data mengenai permasalahan yang ingin diketahui.
b. Menghemat biaya. Metode angket ini tidak memerlukan berbagai
peralatan, hanya membutuhkan kertas dan alat tulis guna untuk mengisi.
c. Menghemat tenaga. dari angket, kita dapat mengetahui berbagai informasi
yang ditanyakan kepada banayak orang sekaligus tanpa harus mengulang-
ulang pertanyaan.
Sebagai seseorang yang meneliti mengenai kehidupan ekonomi
masyarakat Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, maka kami membagikan
angket yang kami buat kepada masyarakat Kecamatan Silo, Kabupaten
Jember karena kami memiliki presepsi bahwa akibat pola pikir dan kehidupan
masyarakat Kecamatan Silo, Kabupaten Jember lah yang menyebabkan
terjadinya kekurangan gizi tersebut.

3.2 Teknik Pengolahan Data


Pengolahan dan Analisis Data Menurut Hasan (2006: 24), pengolahan data
adalah suatu proses dalam memperoleh data ringkasan atau angka ringkasan
dengan menggunakan cara- cara atau rumus-rumus tertentu. Pengolahan data
bertujuan mengubah data mentah dari hasil pengukuran menjadi data yang
lebih halus sehingga memberikan arah untuk pengkajian lebih lanjut (Sudjana,
2001: 128). Pengolahan data menurut Hasan ( 2006: 24 ) meliputi kegiatan:
3.2.1 Editing
Editing adalah pengecekan atau pengoreksian data yang telah terkumpul,
tujuannya untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada
pencatatan dilapangan dan bersifat koreksi.
3.2.2 Coding (Pengkodean)
Coding adalah pemberian kode-kode pada tiap-tiap data yang termasuk
dalam katagori yang sama. Kode adalah isyarat yang dibuat dalam bentuk
angka atau huruf yang memberikan petunjuk atau identitas pada suatu
informasi atau data yang akan dianalisis.
3.2.3 Pemberian skor atau nilai
Dalam pemberian skor digunakan skala Likert yang merupakan salah satu
cara untuk menentukan skor. Kriteria penilaian ini digolongkan dalam empat
tingkatan dengan penilaian sebagai berikut:
a. Jawaban a, diberi skor 4
b. Jawaban b, diberi skor 3
c. Jawaban c, diberi skor 2
d. Jawaban d, diberi skor 1 (Sudjana, 2001: 106).
3.2.4 Tabulasi
Tabulasi adalah pembuatan tabel-tabel yang berisi data yang telah diberi
kode sesuai dengan analisis yang dibutuhkan. Dalam melakukan tabulasi
diperlukan ketelitian agar tidak terjadi kesalahan. Tabel hasil tabulasi dapat
berbentuk:
a. Tabel pemindahan, yaitu tabel tempat memindahkan kode-kode dari
kuesioner atau pencatatan pengamatan. Tabel ini berfungsi sebagai arsip.
b. Tabel biasa, adalah tabel yang disusun berdasar sifat responden tertentu
dan tujuan tertentu.
c. Tabel analisis, tabel yang memuat suatu jenis informasi yang telah
dianalisa (Hasan, 2006: 20)

3.3 Lokasi dan Tempat


No. Kegiatan Tempat Tanggal Waktu
1. Uji kandungan lab biologi 22 Oktober 2018 12.30
produk SMAN 1 Bangil
2. Wawancara ahli RSUD Bangil 25 Oktober 2018 16.00
gizi
3. Wawancara Kecamatan Silo, 27 Oktober 2018 09.30
masyarakat Kabupaten
Kecamatan Silo , Jember
Kabupaten Jember
4. Uji produk dan Kecamatan Silo, 27 Oktober 2018 12.30
penyebaran angket Kabupaten
Jember
Tabel 3.3 Lokasi dan Tempat

3.4 Populasi dan Sampel


Subjek penelitian adalah penyandang gizi buruk di Kecamatan Silo ,
Kabupaten Jember. Untuk keperluan penelitian, tidak semua subjek penelitian
digunakan, melainkan dari subjek penelitian tersebut diambil sebagian sampel
untuk diberi angket (pedagang, pemuda setempat, sebagian masyarakat).

3.5 Teknik Analisa Data


Teknik Analisa data dengan cara mencari sumer dan jenis data,
pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Media yang
digunakan adalah kertas sebagai sarana tulis menulis saat wawancara dan
pengisian angket, media cetak sebagai sarana literatur. Data yang telah masuk
dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif, kita mendeskripsikan hasil
data yang terkumpul apa adanya. Selain itu, kita juga menggunakan metode
analisis korelasi, kita melihat keterkaitan antara satu fenomena dengan
fenomena lain yang secara teori belum terbukti.

3.6 Kerangka berpikir

Asupan gizi terpenuhi

Suweg milk Gizi


Solusimudah
gizi buruk
dicerna lebih
sederhana
BAB IV

HASIL PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian Uji Kandungan Suweg Milk


Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biologi di SMA Negeri 1 Bangil
pada 23 Oktober 2018 dengan menguji kandungan suweg milk. Adapun hasil
penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel dengan hasil sebagai berikut :

Tabung Zat Warna


Reagen Keterangan
ke- makanan Sebelum Sesudah
Merah Ditetesi 20 tetes
1 Glukosa Benedict Cream bata benedict dan
dipanaskan
Ditetesi
Pink sebanyak 20
2 Protein Biuret Cream
tetes reagen
biuret
Biru Ditetesi
kehitaman sebanyak 20
3 Karbohidrat Lugol Cream
tetes reagen
lugol
Kertas Dilapisi setetes
4 Lemak Cair Cair
buram suweg milk
Tabel 4.1 hasil uji lab kandungan gizi pada suweg milk

4.2 Penentuan Perbandingan Bahan Baku


Penentuan nilai perbandingan bahan baku susu sangatlah penting untuk
menunjang kelayakan suatu produk. Dalam menentukan nilai perbandingan
terbaik, dilakukan eksperimen terhadap dua sampel perbandingan yang
diujikan. Kedua nilai perbandingan antara suweg milk botol 1; dan suweg milk
botol 2 adalah 1:2 dan 2:1. Sampel-sampel tersebut diuji dari segi warna,
aroma, rasa, dan tekstur. Adapun hasil yang didapatkan tersaji pada Tabel 4.2.
No Nilai Aroma Rasa Warna Tekstur
TS TE KN LN KR
Perbandingan
1:2 √
2:1
Tabel 4.2 Data Hasil Penentuan Nilai Perbandingan
Keterangan:
S = Sedap, TS = Tidak Sedap, E = Enak, TE = Tidak Enak, C = Cream
KN = Kuning, L = Lembut, K = Kasar, LN = Lunak, KR = Keras.

4.3 Komposisi Kimia Umbi


Karbohidrat umbi suweg terdiri atas pati, mannan, serat kasar, gula
bebas serta poliosa lainnya. Komponen lain yang terdapat di dalam umbi
suweg adalah kalsium oksalat. Adanya kristal kalsium oksalat menyebabkan
umbi terasa gatal. Komposisi kimia umbi lengkap dapat dilihat pada Tabel
4.3

Bahan Man- Polio- Serat Gula


Kadar Pati
Jenis Kering nan salain kasar bebas
air % %
% % % % %

Amorphophallus
\campanulatus 70,1 29,2 77,0 0,0 14,2 8,5 0
BI
Tabel 4.3 Komposisi kimia umbi
BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1 Analisi Uji Lab Kandungan Suweg Milk


Analisis Berdasarkan hasil percobaan pada tabel 4.1, diketahui
kandungan zat makanan, antara lain:
1. Uji amilum
Suweg milk ditetesi dengan reagen lugol dari warna putih menjadi warna
biru kehitaman . maka dari itu suweg milk mengandung amilum
2. Uji protein
Suweg milk ditetesi dengan reagen biuret dari warna putih menjadi warna
ungu pudar, maka dari itu suweg milk mengandung protein
3. Uji glukosa
Setelah ditetesi benedict dan dipanaskan diatas Bunsen suweg milk dari
warna putih menjadi warna merah bata, maka dari itu suweg milk
mengandung glukosa
4. Uji lemak
Suweg milk dioleskan pada kertas buram tidak meninggalkan noda
transparan . maka dari itu suweg milk mengandung sedikit lemak.

5.2 Analisis Perbandingan Bahan Baku


Berdasarkan hasil percobaan pada tabel 4.2, dapat dilihat bahwa nilai
perbandingan susu bubuk dan umbi suweg 1:2 memiliki aroma yang tidak
sedap, rasa yang tidak enak, warna yang kekuningan, dan tekstur yang kasar.
Perbandingan yang menunjukan kualitas susu terbaik adalah nilai
perbandingan 2:1. Susu yang dihasilkan pada nilai perbandingan ini memiliki
aroma yang sedap, rasa yang enak, warnaBahan:
yang cenderung cream, dan tekstur
yang lembut serta lunak. Dengan nilai 1. Umbi suweg
perbandingan susu bubuk dan umbi
2. Garam
suweg 2:1 3. Air mentah
4. Air masak
5.4 Prosedur Kerja Pengolahan Tumbuhan5.Suweg Susu menjadi
bubuk Suweg Milk
6. Gula
Prosedur kerja adalah suatu rangkaian
7. Susudari tata kerja yang saling
kedelai
8. Vanili
berhubungan satu dengan yang lain di mana terlihat adanya suatu urutan tahap
demi tahap dan jalan yang harus ditempuh dalam rangka menyelesaikan suatu
tugas. Pada proses pembuatan suweg milk ini dibutuhkan alat dan bahan yang
mendukung dalam prosedur pembuatannya. Pengertian Alat adalah benda
yang digunakan untuk mempermudah pekerjaan sehari-hari yang tidak habis
bila dipakai, sedangkan benda adalah zat atau bahan yang dari mana sesuatu
dapat dibuat darinya, atau barang yang dibutuhkan untuk membuat sesuatu
dan bisa habis bila dipakai. Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan
suweg Milk sebagai berikut:
Alat:
1. Pisau
2. Mangkok
3. Panci
4. Sutil
5. Kompor dan LPG
6. Blender
7. Sendok
8. Gelas
9. Saringan

Berikut prosedur kerja yang dilakukan:


1. Kupas umbi suweg menggunakan pisau, sebelum itu lumuri tangan dengan
garam untuk menghindari timbulnya rasa gatal akibat getah umbi
2. Rendam umbi suweg yang telah dikupas ke dalam baskom yang berisi air
garam selama 15 menit
3. Nyalakan kompor dan panaskan panci yang telah diisi air
4. Setelah panci panas, kukus umbi suweg selama 30 menit
5. Matikan kompor dan angkat umbi suweg
6. Dinginkan umbi suweg yang telah dikukus
7. Blender umbi suweg dengan tambahan air secukupnya
8. Saring umbi suweg yang telah diblender dengan saringan
9. Masukkan susu umbi suweg ke dalam baskom dan tambahkan susu bubuk
yang sudah cair secukupnya untuk mengurangi rasa “lengur” pada umbi
suweg serta tambahkan susu kedelai secukupnya untuk memberikan rasa
gurih pada suweg milk.
10. Tambahkan gula secukupnya
11. Masukkan suweg milk ke dalam panci sambil diaduk selama pemanasan.
12. Tunggu sampai suweg milk masak dan dingin
13. Suweg Milk siap diminum dalam keadaan dingin atau hangat.
5.5 Kandungan Suweg Milk Solusi untuk Gizi Buruk dan Kurang Gizi
Daya ungkit Dinas Kesehatan Jember untuk mengatasi persoalan kurang
gizi dan gizi buruk hanya 30% saja, sedangkan 70% berada di lintas sektor.
Menurut Reni Perwakilan Dinas Kesehatan Jember, perilaku masyarakat
menjadi pokok utama dalam mencegah dan mengendalikan kasus kurang gizi
dan gizi buruk. Dinas Kesehatan Kabupaten Jember sudah mengalakkan
program pencegahan kurang gizi dan gizi buruk dengan memberikan tablet
tambah darah kepada remaja putri. Dinas Kesehatan Kabupaten Jember juga
telah melakukan pemeriksaan kurang gizi dan gizi buruk secara berkala, yaitu
dua kali dalam setahun pada bulan Februari dan Agustus. Untuk balita gizi
buruk, akan dilakukan upaya pemulihan selama tiga bulan. Sedangkan untuk
kurang gizi akan dilakukan penyuluhan kepada orang tua.
BAB VI

PENUTUP

6.1 KESIMPULAN

Dari hasil analisa dapat disimpulkan bahwa gizi buruk merupakan salah
satu masalah yang sering terjadi di Indonesia sehingga diperlukan solusi untuk
menyelesaikan masalah tersebut. Pemicu dari maraknya gizi buruk dan kurang
gizi di Indonesia, salah satunya di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember adalah
salahnya pola asuh orang tua terhadap gizi anak. Dalam menciptakan sebuah
solusi, tentu akan lebih baik jika masyarakat memanfaatkan potensi alam di
sekitarnya sebab selain mengatasi masalah yang ada, solusi tersebut juga dapat
meningkatkan perekonomian sekitar. Salah satunya melalui pemanfaatan
tumbuhan suweg. Pemanfaatan tumbuhan suweg dapat dilakukan dengan
menginovasikan menjadi tumbuhan suweg menjadi suweg milk yang kaya
akan kandungan gizi dan mudah untuk diproduksi oleh masyarakat terutama
orang tua penyandang gizi buruk dan kurang gizi di Kecamatan Silo,
Kabupaten Jember. Suweg milk sebagai inovasi pangan selain dapat
mengurangi tingkat penderita gizi buruk dan kurang gizi juga dapat
meningkatkan perekonomian masyarakat di wilayah Kecamatan Silo,
Kabupaten Jember.

6.2 SARAN
1. Diharapkan penelitian ini dapat membantu mengatasi kekurangan gizi di
Kecamatan Silo, Kabupaten Jember.
2. Diharapkan penelitian ini menjadi motivasi masyarakat untuk menjual
belikan produk suweg milk sehingga menambah perekonomian
masyarakat.