Anda di halaman 1dari 126

BUDAYA BANGSA INDONESIA

HIPOCRITED/ MUNAFIK
(MUCHTAR LUBIS)

SUKA MENERABAS
(KOENTJARANINGRAT)

SUKA MENGAMUK (BUDI


DARMA)

MALAS
(S. HUSSIN ALATAS)
BUDAYA TIDAK TERTIB
BUDAYA MEMAKSAKAN KEHENDAK
PENJARAHAN
(MENTAL PENERABAS)
PENGRUSAKAN
(BUDAYA NGAMUK)
BUDAYA NGAMUK
BUDAYA KEKERASAN
BUDAYA KEKERASAN
HAMBATAN KULTURAL
Berpikir diagonalistik
Berpikir sebab
Berpikir negatif
Bermental pembeli
Mengutamakan “jenang” (materi)
BERPIKIR DIAGONALISTIK

Mensikapi perbedaan sebagai:


benar/ salah, menang/kalah
CIRI-CIRI BERPIKIR SEBAB

MENCARI KAMBING HITAM

BERTINDAK DULU BARU


BERPIKIR

BERPIKIR KE BELAKANG
/ MASA LALU
CIRI BERPIKIR NEGATIF

MENCARI KEBURUKAN/
KEKURANGAN ORANG LAIN

SELALU BERPRASANGKA
BURUK KEPADA ORANG LAIN
Budaya konsumtif/ bermental
pembeli
Paradigma lebih mengutamakan
“jenang”/Materi

BUDAYA KORUPSI

Serakah

Materialis (menumpuk harta)

Mengabaikan moralitas
KULTUR YANG HARUS
DIKEMBANGKAN
BERPIKIR ALTERNATIF
BERPIKIR AKIBAT
BERPIKIR POSITIF
BERMENTAL PENJUAL
MENGUTAMAKAN “JENENG” /
NAMA (BERJIWA KESATRIA)
CIRI BERPIKIR ALTERNATIF

MENGAKUI ADANYA PERBEDAAN

MELIHAT PERBEDAAN SEBAGAI PILIHAN

MENGHARGAI PERBEDAAN PENDAPAT


CIRI BERPIKIR AKIBAT

VISIONER

BERPIKIR DULU BARU BERTINDAK

LEBIH MENEKANKAN PENCARIAN SOLUSI


ATAS PERMASALAHAN, DARIPADA MENCARI
PENYEBABNYA
CIRI BERPIKIR POSITIF

MENYADARI BAHWA SETIAP ORANG


MEMPUNYAI KELEBIHAN

MELIHAT ORANG LAIN DARI KELEBIHANNYA

MENYADARI BAHWA ADA KEKURANGAN


PADA DIRINYA
CIRI BERMENTAL PENJUAL

KREATIF

ULET
MENGUTAMAKAN
“JENENG”/BERJIWA KESATRIA
• Menjaga kehormatan diri
• Rela berkorban
• Suka menolong sesama yang membutuhkan
• Berani membela kebenaran
• Jujur dan bertanggung jawab
• Mencintai tanah air (nasionalisme)
• Hemat, cermat, dan bersahaja
• Tabah, ulet dan tanggung menghadapi kesulitan
• Bersatunya perkataan dengan perbuatan
NEGARA DAN
WARGANEGARA
IDENTITAS NASIONAL
1. HAKIKAT BANGSA
Konsep bangsa memiliki 2 (dua) pengertian:
a. Sosiologis Antropologis: Persekutuan hidup
masyarakat yang berdiri sendiri yang masing-
masing anggotanya merasa satu kesatuan ras,
budaya, keyakinan, bahasa dsb.
b. Politik adalah suatu masyarakat dalam
daerah yang sama tunduk kepada kedaulatan
negaranya sebagai suatu kekuasaan tertinggi
keluar dan ke dalam.
Proses terbentuknya Bangsa-
Negara
Ada dua proses pembentukan bangsa-
negara yaitu:
a. Model ortrodoks yaitu bermula dari
adanya suatu bangsa terlebih dahulu
untuk kemudian membentuk suatu
negara sendiri
b. Model Mutakhir yaitu adanya negara
terlebih dahulu yang terbentuk melalui
proses sendiri.
2.Hakikat Negara
1. Arti Negara
- Negara adalah organisasi di suatu wilayah
yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang
sah dan ditaati rakyatnya.

- Negara adalah kelompok sosial yang


menduduki wilayah atau daerah tertentu yang
diorganisir dibawah lembaga politik dan
pemerintahan yang efektif, mempunyai satu
kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak
menentukan tujuan nasionalnya.
2. Unsur-Unsur Negara
a. Rakyat
b. Wilayah
c. Pemerintah yang berdaulat
Sebagai organisasi kekuasaan negara memiliki sifat:
a. Memaksa: Memiliki kekuasaan untuk
menyelenggarakan ketertiban dengan memakai
kekerasan fisik yang legal.
b. Monopoli: Memiliki hak menetapkan tujuan
bersama masyarakat.
c. Mencakup semua: Semua peraturan dan kebijakan
negara berlaku untuk semua orang tanpa kecuali.
3. Tujuan dan Fungsi Negara
a. Tujuan Negara
Harold J.Laski: Menciptakan suatu kondisi
dimana rakyatnya dapat mencapai terwujudnya
keinginan-keinginan secara maksimal.
b. Fungsi Negara
1). Melaksanakan ketertiban
2). Mengusahakan kesejahteraan dan
kemakmuran rakyatnya.
3). Pertahanan
4). Menegakkan keadilan
Peserta, anggota atau warga dari suatu Anggota dari sebuah komunitas
negara, yakni peserta dari suatu persekutuan yang membentuk negara itu
yg didirikan dg kekuatan bersama atas dasar sendiri (A.S. Hikam)
tanggung jawab bersama dan untuk kepen-
tingan bersama (Dede Rosyada, 2003)

WARGANEGARA/Citizenship

Bangsa Indo. asli dan bangsa lain yang WNI : orang-orang yg berdasarkan
disahkan UU sebagai warganegara perundang-undangan yg berlaku
(Pasal 26 UUD 1945) sejak Proklamasi 17 Agustus 1945
sudah menjadi warganegara RI
(Ps. 1 UU No. 22/1958
1. KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA

a. Rakyat Dalam Suatu Negara

Yaitu meliputi semua orang yg bertempat tinggal di dalam wilayah


kekuasaan negara & tunduk pada kekusaan negara itu

Secara sosiologis, rakyat adalah sekumpulan manusia yang dipersatukan oleh


rasa persamaan, dan yang bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu.
Secara hukum, rakyat merupakan warga negara dalam suatu negara yang
memiliki ikatan hukum dengan pemerintah.
Rakyat, berdasarkan hubungannya dengan daerah tertentu dapat
dibedakan penduduk dan bukan penduduk.

1. Penduduk, adalah mereka yang bertempat tinggal atau berdomisili di


dalam suatu wilayah negara (menetap) untuk jangka waktu lama. Penduduk
yang memiliki status kewarganegaraan, disebut sebagai Warga Negara
Indonesia (WNI), Warga Negara Asing (WNA) yg menetap di Indonesia
karena suatu pekerjaan, disebut juga penduduk

2. Bukan Penduduk, adalah mereka yang berada di dalam suatu wilayah


negara hanya untuk sementara waktu. Contoh : para turis mancanegara.
Rakyat, berdasarkan hubungannya dengan pemerintah
negaranya dapat dibedakan warga negara & bukan warga negara.

1. Warga Negara, adalah mereka yang berdasarkan hukum tertentu


mrp anggota dari suatu negara, dengan status kewarganegaraan
WN asli atau WN keturunan asing. WN juga dapat diperoleh
melalui proses naturalisasi.

2. Bukan Warga Negara (orang asing), adalah mereka yang berada


pada suatu negara tetapi secara hukum tidak menjadi anggota
negara yang bersangkutan, namun tunduk pada pemerintah di
mana mereka berada (Duta Besar, Kontraktor Asing, dsb).
B. ASAS KEWARGANEGARAAN

Penentuan status kewarganegaraan lazim digunakan:


 Stelsel aktif, dengan melakukan tindakan-tindakan hukum tertentu secara aktif.
 Stelsel pasif, tanpa harus melakukan tindakan hukum tertentu.

Seseorang dalam suatu negara pada dasarnya memiliki hak-hak :


 Hak Opsi adalah hak untuk memilik suatu kewarganegaraan (dalam stelsel aktif).
 Hak Repudiasi adalah hak untuk menolak suatu kewarganegaraan (dalam
stelsel pasif)
Penentuan Kewarganegaraan dpt dibedakan
menurut Asas :

 Ius Soli, penentuan asas kewarganegaraan berdasar-kan


daerah/negara tempat di mana ia dilahirkan. Contoh: Seseorang yang
dilahirkan di negara A maka ia akan menjadi warga negara A,
walaupun orang tuanya adalah warga negara B. (Inggris, Mesir,
Amerika, dll).
 Ius Sanguinis, penentuan asas kewarganegaraan ber-dasarkan
pertalian darah/keturunan dari orang ybs. Contoh: Seseorang yang
dilahirkan di negara A, tetapi orang tuanya warga negara B, maka
orang tersebut tetap menjadi warga negara B (dianut oleh negara
RRC).
C. PENDUDUK DAN WARGA NEGARA INDONESIA

Pasal 26 UUD 1945 perihal Warga Negara dan Penduduk :

• Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai
warga negara.
• Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
tinggal di Indonesia.
• Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undangundang.
ASAS KEWARGANEGARAAN
(BEBAS SETIAP NEGARA)

1. KELAHIRAN 2. PERKAWINAN
a. Ius Soli (tempat lahir) a. Kesatuan Hukum
b. Ius Sanguinis (keturunan) b. Persamaan Derajat

Ius Soli : menetapkan seseorang yg dilahirkan di negara


tersebut, maka ia mendapatkan hak sebagai
warganegara
Ius Sanguiis : menetapkan seseorang mendapatkan
kewarganegaraan suatu negara, apabila
orang tuanya adalah warganegara dari
negara tersebut.

Asas Kesatuan Hukum : mendasarkan pada paradigma


bahwa suami-istri ataupun ikatan keluarga merupakan
inti masyarakat yg membutuhkan kesejahteraan,
kebahagiaan dan keutuhan dalam keluarga.  keluarga
tunduk hukum yg sama keluarga tetap utuh

Asas Persamaan Derajat : mendasarkan pd suatu


paradigma, bahwa suatu perkawinan tidak
menyebabkan perubahan status kewarganegaraan
masing-masing pihak.  suami-istri dapat memiliki
kewarganegaraan asal
Pewarganegaraan/Naturalisasi
(Berbeda antar negara tergantung filsafat, kebijakan dan hukum yg berlaku)

Sistem Aktif Sistem Pasif

Seseorang dpt menggunakan Seseorang dpt menolak


hak opsi yi memilih atau meng- pemberian kewarganegaraan
ajukan permohonan menjadi hak ini disebut repudiasi
warga negara dari suatu negara
3 STATUS KEWARGANEGARAAN
(persoalan pribadi, lokasi dan kepentingan tertentu)

Apatride : orang yang tidak memiliki status kewarganegaraan

Bipatride : orang yang memiliki status kewarganegaraan rangkap (misal.


penduduk yg ada di perbatasan 2 negara)

Multipatride : orang yang memiliki status kewarganegaraan lebih dari 2


kewarganegaraan
Prosedur Pewarganegaraan Di Indonesia
(diatur Undang Undang No. 62 tahun 1958)

7 cara memperoleh kewarganegaraan Indonesia :


1. Karena kelahiran
2. Karena pengangkatan
3. Karena dikabulkan permohonan
4. Karena pewarganegaraan
5. Karena perkawinan
6. Karena turut ayah dan atau ibu
7. Karena pernyataan
HAK ASASI MANUSIA

1. Merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat


pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng
2. Seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan
keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang
Maha Esa dan merupakan anugerah Nya yang wajib
dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara,
hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan
serta perlindungan harkat dan martabat manusia (pasal
1 (1) UU nomor 39 Tahun 1999).
UUD 1945 Tentang HAM

1. Setiap warga negara berhak untuk hidup serta berhak


mempertahankan hidup dan kehidupannya
2. Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan
keturunan melaui perkawinan yang sah
3. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan
berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi
4. Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan
kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan
memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni
dan budaya. Demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi
kesejahteraan umat manusia
5. Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam
memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun
masyarakat, bangsa dan negaranya
6. Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan perlindungan dan
kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan
hukum
7. Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan
perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja
8. Setiap warganegara berhak memperoleh kesempatan yang sama
dalam pemerintahan
9. Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan
10. Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut
agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih
pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di
wilayah negara dan meinggalkannya serta berhak kembali
11. Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan,
menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya
12. Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan
mengeluarkan pendapat
13. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh
informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan
sosialnya. Serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah dan meyampaikan informasi dengan
menggunakan segala jenis saluran yang tersedia
14. Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga,
kehormatan, martabat dan harta benda yang di bawah
kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan
dari ancaman ketakuatan untuk berbuat atau tidak berbuat
sesuatu yang merupakan hak asasi
15. Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan
yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak
memperoleh suaka politik dari negara lain.
16. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat
tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat,
berhak memperoleh pelayanan kesehatan
17. Setiap orang berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan
khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama
guna mencapai persamaan dan keadilan
18. Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan
pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang
bermartabat
19. Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik
tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh
siapapun
20. Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan
pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak
diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum,
dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut
adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam
keadaan apapun
21. Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat
diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan
perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu
22. Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati
selaras denga perkembangan zaman dan peradaban
23. Negara menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut
agamanya dan kepercayaanya itu
24. Tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha
pertahanan dan keamanan negara
25. Setiap warganegara berhak mendapat pendidikan
Rumusan HAM dalam UUD 1945 digolongkan dalam beberapa aspek
(MPR RI 2005)

1. Berkaitan dengan hidup dan kehidupan


2. Berkaitan dengan keluarga
3. Berkaitan dengan pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi
4. Berkaitan dengan pekerjaan
5. Berkaitan denga kebebasan beragama dan meyakini keercayaan,
kebebasan bersikap, berpendapat dan berserikat
6. Berkaitan dengan informasi dan komunikasi
7. Berkaitan denga rasa aman dan perlindungan dari perlakuan
yang merendahkan derajat dan martabat manusia
8. Berkaitan dengan kesejahteraan sosial
9. Berkaitan dengan persamaan dan keadilan
10. Berkewajiban menghargai hak orang dan pihak lain
UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM, menetapkan HAM dan
kebebasan dasar manusia, meliputi :

1. Hak untuk hidup


2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan
3. Hak mengembangkan diri
4. Hak memperoleh keadilan
5. Hak atas kebebasan pribadi
6. Hak atas rasa aman
7. Hak atas kesejahteraan, dan
8. Hak turut serta dalam pemerintahan
disamping itu, undang undang juga menetapkan hak hak :
1. Wanita
2. Anak
KEWAJIBAN

Manusia mempunyai kewajiban dasar antar manusia dan masyarakat


dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

Kewajiban dasar manusia adalah seperangkat kewajiban yang apabila


tidak dilaksanakan, tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya
hak asasi manusia. (UU No. 39 Tahun 1999)
UUD 1945 Menetapkan Kewajiban Dasar Manusia

1. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain


dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
2. Dalam menjalankan hak dan kebebasanya setiap orang wajib
tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-
undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin
pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang
lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan
pertimbangan moral, nilai agama, keamanan, dan ketertiban
umum dalam suatu masyarakat demokratis
3. Tiap warganegara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha
pertahanan dan keamanan negara
4. Setiap warganegara wajib mengikuti pendidikan dasar dan
pemerintah wajib membiayainya
UU No. 39 tahun 1999 menetapkan kewajiban dasar
manusia

1. Setiap orang yang ada di wilayah negara RI wajib patuh pada


peraturan perundang-undangan, hukum tak tertulis, dan hukum
internasional mengenai hak asasi manusia yang telah diterima
oleh negara RI
2. Setiap warganegara wajib ikut serta dalam upaya pembelaan
negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
3. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain,
moral, etika, dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara
4. Setiap hak asasi manusia seseorang menimbulkan kewajiban
dasar dan tanggung jawab untuk menghormati hak asasi orang
lain secara timbal balik serta menjadi tugas pemerintah untuk
menghormati, melindungi, menegakkan dan memajukannya
5. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib
tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan oleh Undang
Undang dengan maksud untuk menjamin pengakuan serta
penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk
memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral,
keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat
demokrasi.
POLITIK STRATEGI NASIONAL
(POLTRANAS)
POLITIK DAN STRATEGI NASIONAL
( POLSTRANAS )

A. Pengertian Politik, Strategi, dan Polstranas

1. Pengertian Politik.
Kata ‘Politik’ secara etimologis berasal dari bahasa Yunani Politeia,
yang akar katanya adalah polis yang berarti kesatuan masyarakat yang
berdiri sendiri yaitu ‘Negara’, sedangkan teia berarti ‘Urusan’.
Dalam Bahasa Inggris, Politik adalah suatu rangkaian
asas(prinsip),keadaan,cara, dan alat yang digunakan untuk mencapai
cita-cita atau tujuan tertentu.
Politik secara umum penyangkut proses penentuan tujuan negara dan
cara melaksanakannya.
Dengan demikian, Politik membicarakan hal-hal yang berkaitan
dengan Negara,Kekuasaan,Pengambilan Keputusan,Kebijakan
(policy), dan Distribusi atau Alokasi Sumber Daya.

 Negara
 Kekuasaan
 Pengambilan Keputusan
 Kebijakan Umum
 Distribusi
3. Politik dan Strategi Nasional

Politik nasional diartikan sebagai kebijakan umum dan


pengambilan
Kebijakan untuk mencapai suatu cita-cita dan tujuan nasional.
Strategi nasional disusun untuk pelaksanaan politik nasional ,
misalnya
strategi jangka pendek,jangka menengah, dan jangka panjang.
Jadi StrategiNasional adalah cara melaksanakan politik nasional
dalam
Mencapai Sasaran dan tujuan yang ditetapkan oleh politik
nasional.
B. Dasar Pemikiran Penyusunan Politik dan Strategi
Nasional

Penyusunan politik dan strategi nasional perlu memahami


pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam sistem
manajemen nasional yang berlandaskan ideologi Pancasila,
UUD 1945, Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional.
Pandangan masyarakat terhadap kehidupan
Politik,Ekonomi,Sosial Budaya, maupun bidang Hankam akan
selalu berkembang karena ;

a. Semakin tingginya kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan


bernegara.
b. Semakin terbukanya akal dan pikiran untuk
memperjuangkan haknya.
c. Semakin meningginya kemampuan untuk menentukan
pilihan dalam pemenuhan kebutuhan hidup.
d. Semakin meningkatnya kemampuan untuk mengatasi
persoalan seiring dengan semakin tingginya tingkat
pendidikan yang ditunjang oleh kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
e. Semakin kritis dan terbukanya masyarakat terhadap ide
baru.
Politik Nasional

kebijakan nasional dalam Negara Republik Indonesia


adalah sebagai berikut ;
1. Tingkat Penentu Kebijakan Puncak
2. Tingkat Kebijakan Umum
3. Tingkat Penentuan Kebijakan Khusus
4. Tingkat Penentuan Kebijakan Teknis
5. Dua Macam Kekuasaan dalam Pembuatan Aturan di Daerah
PERWUJUDAN POLSTRANAS

 POLITIK NASIONAL : asas, haluan, usaha serta


tindakan dari negara tentang pembinaan dan
penggunaan secara totalitas segenap potensi nasional,
maupun yang efektif untuk mencapai tujuan nasional

 STRATEGI NASONAL : pengetahuan tentang


penggunaan kekuatan nasional untuk usaha keamanan
dan kesejahteraan untuk menuju kepencapaian tujuan
nasional
POLA PERWUJUDAN POLSTRANAS

 Pola Polstranas
Berpedoman dan Berorentasi pada :
1. Wawasan nusantara : pol. dan strategi pembangunan
diarahkan pada upaya perwujudan kepulauan nusantara
sbg satu kesatuan pol, eko, sosbud dan hankam

2. Ketahanan nasional : pembangunan nas.


dilaksanakan dg pendekatan ketahanan nas. serta hasil
pembangunan nas. meningkatkan ketahanan nas.
POLSTRANAS DAN PERKEMBANGAN
ZAMAN

 Mitchael A Hitt et al (Strategic Management


Competitiveness and Globalization)  GLOBALISASI :
penyebaran inovasi ekonomi keseluruh dunia serta
penyesuaian politik dan budaya yang menyertainya. Dalam
ekonomi global, barang, jasa, manusia, skill dan ide
bergerak bebas melintasi batas negara
 Globalisasi yg didorong pesatnya perkembangan iptek
terutama telekomunikasi, informatika dan transportasi serta
semakin derasnya informasi disegala aspek kehidupan
nasional terutama yg berkaitan dg sistem politik, demokrasi,
HAM, nilai keadilan dan kebebasan.  Tantangan yg
tidak bisa dielakkan
Emil Salim (Menanggapi Tantangan Masa
Depan) ada 5 tantangan yg dihadapi
masyarakat Indonesia :
1. Integrasi ekonomi global yg dipicu oleh badan
internasional (Bank Dunia, Dana moneter
internasional, WTO dll)
2. Globalisasi teknologi
3. Pertumbuhan dan perkembangan kependudukan dg
segala dampaknya pd perikehidupan masyarakat
4. Masalah lingkungan hidup
5. Tumbuhnya hasrat membangun masyarakat warga
atas dasar keberadaan sokoguru perikehidupan
masyarakat
 Peluang : adanya globalisasi makin terbukanya
pasar internasional bagi hasil produksi dlm
negeri, terutama memiliki keunggulan
komparatif dan keunggulan kompetitif

 Tantangan : dibidang ekonomi, disamping


makin kuatnya persaingan di pasar
internasional, adl munculnya pengelompokkan
antar negara yg cenderung meningkatkan
proteksionesme dan diskreminasi pasar dpt
menghambat pemasaran hasil produksi dlm
negeri dan mendorong persaingan yg tdk sehat
 Ancaman : dibidang politik dan hankam adl
kemungkinan timbulnya rongrongan thd
ideologi pancasila, wawasan nusantara dan
ketahanan nasional  ganggu pembangunan

 Ancaman : dibidang Sosial budaya adl


masuknya nilai nilai yg bertentangan dg
nilai nilai luhur budaya bangsa
PENJABARAN GBHN SEBAGAI
POLSTRANAS

 Polstranas Pemerintah
1. Bidang Politik
2. Bidang Ekonomi
3. Bidang Sosial Budaya
4. Bidang Hukum
5. Bidang Hankam
 Polstra Hankam
PERSPEKTIF

 Kebijakan politik dlm neg tdk dpt dilepaskan dr “tata-kelola pem baru” sbg
hsl dr amandemen UUD 1945
 Tata kelola pem baru itu menghasilkan “demokratisasi & desentralisasi”
kekuasaan pemerintahan.
 Pengelolaan kekuasaan tdk lg terpusat pd & melibatkan hanya satu
lembaga (satu orang), ttp terbagi dlm berbagai lmbg pem & melibatkan
partisipasi publik
 Dng perubahan sprti itu, sampai saat ini blm terlihat suatu pola kebijakan
nas yg dpt dilihat sebagai “policy guidance” bg lmbg pemerintahan
khususnya & masy umumnya (spt pd masa lalu dng GBHN & Propenas)
 Framework utk “policy principles” mmg mengacu pd UUD 1945. Ttp,
policy principles ini dpt diterjemahkan scr berlainan oleh lembaga2
pemerintahan yg berbeda2 (meski sebenarnya ini tdk boleh terjadi)
 Kenyataan ini dpt dilihat pd kasus pemerintahan hsl Pemilu 2004,
khususnya antara DPR & Presiden.
 Ini tentu memp implikasi baik positif maupun negatif pd (percepatan)
proses pemb nasional.
PERSAINGAN KEPENTINGAN
 Politik menyangkut kekuasaan
 Kekuasaan terkait dengan penguasaan sumber2
otoritas, pengaruh, ekonomi & sebagainya
 Penguasaan sumber2 merangsang terbentuknya pluralitas
kepentingan
 Proses pembuatan kebijakan politik akan merupakan
proses persaingan kepentingan
 Kebijakan politik yg seharusnya bersifat publik bisa jd
merupakan kebijakan yg memihak kepada kepentingan yg
direpresentasikan oleh pelaku dominan dlm proses
pembuatannya.
 Kebijakan politik semestinya dirumuskan & selanjutkan
dilaksanakan dlm kondisi yg transparan & hrs dpt digugat
scr publik
POL DLM NEGERI : UMUM

 Demokratisasi pengelolaan kekuasaan pemerintahan


 Desentralisasi pengelolaan kekuasaan pemerintahan
 Menghindarkan sentralisasi & dominasi pengelolaan
kekuasaan pemerintahan oleh satu orang atau satu
lembaga
 Pengelolaan kekuasaan demokratis & desentralistis
berpeluang utk menghasilkan kebajikan bersama
Demokratisasi Kekuasaan
 Substantif terrumuskan dlm Amandemen UUD 1945
 MPR tdk lagi berkedudukan sbg lembaga tertinggi negara
 Presiden (eksekutif) & DPR berada dlm posisi (politis) yg
sejajar
 Lembaga2 tinggi negara lainnya: BPK & MA bersifat
independen thd MPR, DPR, & Presiden
 MK jg independen, & berfungsi sbg “penyelesai” sengketa
antar lembaga tinggi negara, hasil pemilu & permasalahan
UU thd konstitusi (UUD)
 Potensi utk bekerjanya mekanisme checks & balances antar
lembaga negara, & krn itu menghindarkan satu lembaga
negara menjadi dominan atas lembaga2 negara yg lain
Desentralisasi Kekuasaan
 Secara substantif terrumuskan dlm Amandemen UUD 1945
 Pemerintah Pusat mengalihkan sebagian besar
penyelenggaraan urusan pemerintahan kpd pemerintahan di
daerah: 5 urusan pemerintahan diselenggarakan sepenuhnya
oleh pemerintah pusat (LN, pertahanan, keamanan, fiskal &
moneter, justisi, & agama); sisanya dijalankan oleh
pemerintahan di daerah
 Pemerintahan di daerah menjalankan urusan pemerintahan
yg bersifat wajib & bersifat pilihan
 Penyelenggara pemerintahan di daerah (kepala daerah &
anggota DPRD) dipilih melalui pemilihan umum (tdk lagi
diangkat atau berdasarkan penujukkan oleh pemerintah
pusat)
POLDAGRI: SEKTORAL
 Kebijakan “politik” yg dirumuskan oleh masing2 institusi
politik baik utk pemberdayaan diri maupun utk peningkatan
kualitas kinerjanya (internal)
 Semua lembaga pemerintahan (utamanya) memp kebijakan
ini: MPR, DPR, DPD, Eksekutif, & Pemerintahan di Daerah
 Antar lembaga terbuka peluang membuat kebijakan
bersama: DPR & Eksekutif, DPD & DPR, DPD & Eksekutif,
Antar berbagai tingkatan Eksekutif; antara Eksekutif Daerah
& DPRD
 Antara lembaga pemerintahan & masyarakat
 Fokus pd DPR, DPD, Eksekutif & Pemerintahan di Daerah
 Litvack& Seddon (1999 :2)
mengemukakan bahwa desentralisasi
adalah : “ transfer of authority and
responsibility for public function from
central to sub-ordinate or quasi-
independent government organization
or the private sector “.
Menurut Rondinelli & Cheema (1983 : 18):
 dari sudut pandang kebijakan dan
administrasi :
“Desentralisasi adalah transfer
perencanaan, pengambilan
keputusan, atau otoritas
administrative dari pemerintah pusat
kepada organisasinya di lapangan,
unit -unit administrative lokal,
organisasi semi otonom dan organisasi
parastatal, pemerintahan lokal, atau
organisasi nonpemerintah”.
INTISARI DESENTRALISASI :

1) Adanya transfer kewenangan dan tanggung jawab;


2) Mengenai fungsi-fungsi publik;
3) Dari Pemerintah Pusat;
4) Kepada suatu entitas, yang dapat berbentuk :
- Organisasi pemerintah subnasional;
- Badan pemerintah semi-otonom;
- Organisasi dan atau Pejabat pemerintah pusat di
luar ibukota Negara;
- Organisasi nonpemerintah.
NEGARA FEDERAL NEGARA UNITARIS

PEM PEM PUSAT


FEDERAL

NEGARA NEGARA DAERAH DAERAH


BAGIAN BAGIAN OTONOM OTONOM
/PROV /PROV
 Di negara federalis, kekuasaan pemerintahan NEGARA BAGIAN/PROVINSI
sangat luas mencakup kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif.

 Di bawah pemerintah nasional terdapat entitas yang lebih kecil berbentuk


negara bagian (spt USA) atau provinsi (spt Canada).

 Di negara unitaris, kekuasaan pemerintahan yang ditransfer ke


daerah/local government hanyalah kekuasaan eksekutif.

 Dilihat dari isi transfer kewenangan pemerintahannya, negara unitaris


dapat dikelompokkan menjadi tiga klaster yakni:
a) negara unitaris yang sentralistik (spt China);
b) negara unitaris yang terdesentralisasi (spt Peranis, Jepang);
c) negara unitaris yang ultra-desentralistik (spt Indonesia, Philipina,
Pakistan, Eithopia).
 Otonomi daerah menurut Bintoro Tjokrohamidjojo (1995)
adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk
mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
 Menurut Abdul Rahman (1985:11) Otonomi Daerah adalah
hak mengatur dan memeratakan daerah sendiri atas inisiatif
dan kemauan sendiri
 Abdullah (2002) otonomi daerah adalah kewenangan daerah
otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan
aspirasi masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-
undangan.
Menurut Ryaas Rasyid (2002) Tujuan utama dari
kebijakan/ desentralisasi dan otonomi Daerah
tahun 1999 adalah, membebaskan pemerintah
pusat dari beban-beban yang tidak perlu dalam
menangani urusan domestik, sehingga ia
berkesempatan mempeiajari, memahami,
merespon berbagai kecendrungan global dan
mengambil manfaat dari menangani urusan
domestik, sehingga ia berkesempatan
mempelajari, memahami, merespon berbagai
kecendrungan global dan manfaat daripadanya.
Pada saat yang sama, pemerintah pusat
diharapkan lebih mampu berkonsentrasi pada
perumusan makro nasional yang bersifat
strategis.
UU Nomor 22 Tahun 1999, pasal 1 huruf
(e) menyebutkan bahwa desentralisasi
adalah : “ penyerahan wewenang
pemerintahan oleh Pemerintah kepada
Daerah Otonom dalam kerangka NKRI”.

Daerah Otonom, selanjutnya disebut


Daerah adalah kesatuan masyarakat
hukum yg mempunyai batas daerah
tertentu yang berwenang mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat
setempat menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat dalam
ikatan NKRI (pasal 1 huruf I UU 22/1999).
Dalam konteks UU Nomor 22 Tahun 1999, desentralisasi
diberikan kepada DAERAH OTONOM, bukan hanya kepada
PEMERINTAH DAERAH saja.

 Diperlukan desentralisasi internal dari Pemerintah Daerah


kepada unit-unit yang ada di dalam tubuh pemerintah daerah
itu sendiri dan atau kepada badan-badan semi otonom spt
BUMD, Badan otorita serta kepada Organisasi nonpemerintah
seperti sekolah, LSM, lembaga kesenian dlsb  menghadirkan
otonomi.

HAKIKAT OTONOMI DAERAH ADALAH :


“MENYELESAIKAN MASALAH SETEMPAT DENGAN CARA
SETEMPAT OLEH ORANG SETEMPAT”.
 Peran Kepemimpinan dalam Pelaksanaan
Otonomi Daerah dalam Undang-undang
Nomor 32 Tahun 2004 telah diamanahkan
bahwa tugas dan kewenangan sebagian
urusan pemerintahan diserahkan kepada
daerah melalui desentralisasi kewenangan
dan dengan memperkuat otonomi daerah
 Di era Otonomi daerah menuntut adanya
keterbukaan, akuntabilitas, ketanggapan,
dan kreatifitas dari segenap aparatur
Negara, sehingga peran kepemimpinan
sangat dibutuhkan
Menurut J. Kaloh, (2002,194) mengemukakan bahwa dalam pengembangan
kemampuan kepemimpinan khususnya Sumber daya aparatur dalam era
otonomi daerah diperlukan pengembangan sifat-sifat sebagai berikut :
 Kemampuan untuk mengembangkan jaringan-jaringan kerja sama
(network), Networking diperlukan oleh karena manusia tidak lagi hidup
terpisah-pisah tetapi berhubungan satu sama lain. Manusia hidup tanpa sekat,
sehingga yang dapat survive adalah manusia yang ahli dalam networking.
Dunia perdagangan bebas akan semakin lancar apabila ada network.
 Kemampuan kerjasama (teamwork). Setiap orang dalam masyarakat
mempunyai kesempatan untuk mengembangkan keunggulan spesifikasinya.
Kepemimpinan yang telah mengembangkan spesifikasinya akan dapat
membangun suatu teamwork yang pada gilirannya dapat menghasilkan kerja
yang unggul terutama dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat.
 Keinginan melakukan kerja yang berkualitas tinggi. Seorang pemimpin
adalah mereka yang terus menerus meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan dalam melaksanakan sesuatu sehingga kualitas yang dicapai had
ini akan ditingkatkan hari esok dan seterusnya. Otonomi daerah menghendaki
adanya peran kepemimpinan yang maksimal dalam memacuh dan
mengembangkan daerahnya demi tercapainya kesejahteraan masyarakat.
Unsur penting lain yang perlu diperhatikan
kepemimpinan dalam pelaksanaan Otonomi
Daerah adalah dibentuknya kreativitas yang
tinggi dalam organisasi, seperti :

 Pentingnya mendorong kreatifitas pegawai,


agar mampu menciptakan sesuatu yang baru
yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

 Melakukan perubahan cara kerja tradisional


menuju manajemen modern, pemerintahan
yang bersih, akuntabilitas clan pemberdayan
masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan.
KOORDINATIF
DALAM
MENGHADAPI
KOMPLEKSITAS

POLA
PEMERINTAHAN MENGATUR//MENGENDALIKAN
DALAM
MENGHAFAPI DINAMIKA

MENGATUR,
MENGINTEGRASIKAN,
MENCIPTAKAN KETERPADUAN
DALAM
MENGHADAPI
KEANEKARAGAMAN
84
Negara – Pasar - Keluarga
Democracy & Civil Society Bussines Friendly

Public
Sphere Community
Pasar
Public Demand Acknowledgement
Institusi Negara

Masy. Sipil

Quality
Perorangan Assurance

Funding

LSM Ormas dan Media Massa


Job Market

Keluarga
Grup Diskusi
Balai Rakyat
Library Regulasi
Institusi Non- Pemerintah Bisnis
OTONOMI DAERAH
PENDAHULUAN - 1
1. Pada masa reformasi dicanangkan suatu kebijakan
restrukturisasi sistem pemerintahan : otoda & pengaturan
perimbangan keuangan antara pusat & daerah.
2. Paradigma lama dalam manajemen negara & pemerintahan
yang berporos pada sentralistik kekuasaan diganti menjadi
otonomi yang berpusat pada desentralistik kebijakan otoda
merupakan upaya pempus merespon tuntutan kemerdekaan
wilayah yg memiliki aset SDA melimpah, namun tidak
mendapatkan haknya secara proporsional pd masa ORBA.
3. Dasar pemikiran:
Amanat UUD 1945: pemda berwenang untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut azas
otonomi dan tugas perbantuan.
Pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk
mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat
melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan
peranserta masyarakat.
PENDAHULUAN - 2
Daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dg
memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan,
keistimewaan & kekhususan, serta potensi &
keanekaragaman daerah dalam sistem NKRI.
Aspek hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan
SDA & SD lainnya dilaksanakan secara adil dan selaras.
Untuk menjalankan perannya, pemda perlu memperhatikan
peluang dan tantangan global dengan memanfaatkan
perkembangan iptek.
4. BEBERAPA DEFINISI
Otoda: hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat sesuai dg perat perUUan,
Desentralisasi: penyerahan wewenang pemerintahan oleh
pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus pemerintahan dalam sistem NKRI.
TUJUAN OTONOMI DAERAH

a. Menciptakan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pem.


b. Sebagai sarana pendidikan politik.
c. Pemda sbg persiapan untuk karir politik lanjutan.

d. Stabilitas politik.
e. Kesetaraan politik.

f. Akuntabilitas politik.
Fungsi pemerintah
1. Pengelola berbagai dimensi kehidupan
(poleksosbudhankam,kesejahteraan masy, integrasi sosial,
dll)
2. Fungsi distributif : penyediaan barang & jasa
3. Fungsi regulatif : kompetensi yang berhubungan dengan
penyediaan barang & jasa
4. Fungsi ekstraktif: memobilisasi sumber daya keuangan utk
pembiayaan penyelenggaraan negara.
5. Memberikan pelayanan masyarakat, menjaga keutuhan neg
bs, pthan diri.
VISI dan KONSEP DASAR OTODA
VISI DESENTRALISASI : simbol kepercayaan dari pempus kepada pemda.
VISI OTODA : dirumuskan dalam 3 ruang lingkup, yaitu :
1. POLITIK: harus dipahami sebagai proses untuk membuka ruang bagi
lahirnya kepala pemerintahan daerah yg dipilih secara demokratis, dan
memungkinkan berlangsungnya penyelenggaraan pem yg responsif.
2. EKONOMI: terbukanya peluang bagi pemda mengembangkan kebijakan
regional dan lokal untuk mengoptimalkan pendayagunaan potensi
ekonomi di daerahnya.
3. SOSIAL DAN BUDAYA: menciptakan kemampuan masyarakat untuk
merespon dinamika kehidupan di sekitarnya.
KONSEP DASAR OTODA
1. Penyerahan sebanyak mungkin kewenangan pem dlm hub DN kpd daerah
2. Penguatan peran DPRD sbg representasi rakyat lokal dlm pemilihan &
penetapan kepala daerah.
3. Pembangunan tradisi politik yg lebih sesuai dg kultur berkualitas tinggi dg
tingkat akseptabilitas yg tinggi pula.
4. Peningkatan efektivitas fungsi-fungsi pelayanan eksekutif.
5. Peningkatan efisiensi administrasi keuangan daerah.
6. Pengaturan pembagian sumber-sumber pendapatan daerah, pemberian
keleluasaan kpd daerah & optimalisasi upaya pemberdayaan masyarakat.
MODEL DESENTRALISASI
1. DEKONSENTRASI: pembagian kewenangan dan tanggungjawab
administratif antara departemen pusat dg pejabat pusat di lapangan
tanpa adanya penyerahan kewenangan untuk mengambil
keputusan atau keleluasaan untuk membuat keputusan.
Ada 2 tipe : administrasi lapangan (~ pejabat lapangan diberi
keleluasaan utk mengambil keputusan seperti merencanakan,
membuat keputusan rutin dan menyesuaikan pelaksanaan
kebijakan pusat dg kondisi setempat); dan administrasi lokal,
berupa administrasi terpadu, dan administasi yang tidak terpadu.
2. DELEGASI: pelimpahan pengambilan keputusan & kewenangan
manajerial untuk melakukan tugas khusus kpd organisasi yg tdk
secara langsung berada di bawah pengawasan pempus.
3. DEVOLUSI: transfer kewenangan untuk pengambilan keputusan,
keuangan dan manajemen kpd unit otonomi pemda.
4. PRIVATISASI: Tindakan pemberian kewenangan dari pemerintah
kepada badan-badan sukarela, swasta dan swadaya masyarakat.
SEJARAH OTODA DI INDONESIA
1. UU No. 1 tahun 1945: mengatur Pemda 3 jenis daerah otonom :
karesidenan, kabupaten dan kota.
2. UU No. 22 tahun 1948: mengatur susunan pemda yang
demokratis 2 jenis daerah otonom : daerah otonom biasa, dan
otonom istimewa, dan 3 tingkatan daerah otonom : propinsi,
kab/kota & desa.
3. UU No. 1 tahun 1957: mengatur tunggal yang berlaku seragam
untuk seluruh Indonesia.
4. UU No. 18 tahun 1965: menganut sistem otonomi seluas-luasnya.
5. UU No. 5 tahun 1974: mengatur pokok-pokok penyelenggara-an
pemerintahan yg menjadi tugas pempus di daerah. Prinsip yg
dipakai: bukan otonomi yg riil dan seluas-luasnya, tetapi otonomi
yang nyata dan bertanggungjawab. Alasannya, pandanganotoda yg
seluas-luasnya dapat menimbulkan kecenderungan pemikiran yg
dapat membahayakan keutuhan NKRI, dan tdk serasi dg maksud &
tujuan pemberian otonomi.
SEJARAH OTODA DI INDONESIA
6. UU No. 22 tahun 1999 ttg Pemda perubahan mendasar pd format
otoda dan substansi desentralisasi.
7. UU No. 25 tahun 1999 ttg perimbangan keuangan antara pempus
dan pemda.
Butir 6 & 7 memiliki misi utama desentralisasi, yaitu pelimpahan
wewenang dari pempus ke pemda, dan juga pelimpahan beberapa
wewenang pem ke pihak swasta dalam bentuk privatisasi.
Kemudian UU tsb dianggap tidak sesuai dg perkembagnan keadaan,
ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan otoda, shg diganti.
Beberapa pertimbangan lainnya, memperhatikan TAP dan
Keputusan MPR, a.l :
TAP MPR No.IV/MPR/2000 ttg Rekomendasi Kebijakan Dalam
Penyelenggaraan Otoda;
TAP MPR No.VI/MPR/2002 ttg Rekomendasi Atas Laporan Pelaksanaan Putusan
MPR RI oleh Pres, DPA, DPR, dan MA pada sidang tahunan MPR RI Tahun
2002;
Keputusan MPR No.5/MPR/2003 ttg Penugasan MPR RI utk menyampaikan
Saran Atas Laporan Pelaksanaan Keputusan MPR-RI oleh Pres, DPA, DPR, dan
MA pada sidang tahunan MPR RI Tahun 2003.
SEJARAH OTODA DI INDONESIA
8. UU No. 32 tahun 2004 ttg Pemerintahan Daerah pengganti
UU No. 22 tahun 1999
9. UU No. 33 tahun 2004 ttg Perimbangan Keuangan antara
pemerinah Pusat dan pemerintah Daerah UU No. 25 tahun
1999
Dalam melakukan perubahan UU, diperhatikan berbagai UU
yang terkait di bidang Politik dan Keuangan Negara, a.l :
UU NO. 12 Tahun 2003 ttg Pemilu Anggota DPR, DPD dan
DPRD;
UU NO. 22 Tahun 2003 ttg Susunan dan Kedudukan MPR,
DPR, DPD;
UU NO. 23 Tahun 2003 ttg Pemilihan Pres dan Wapres;
UU NO. 17 Tahun 2003 ttg Keuangan Negara
UU NO. 1 Tahun 2004 ttg Perbendaharaan Negara
UU NO. 15 Tahun 2004 ttg Pemeriksaan atas Pengelolaan
dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara
PRINSIP-PRINSIP OTODA
(Dalam UU NO. 22 Tahun 1999)

1. Demokrasi, Keadilan, pemerataan, potensi dan


keanekaragaman daerah.
2. Otonomi luas, nyata dan bertanggungjawab
3. Otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada
daerah kabupaten dan daerah kota
4. Sesuai dengan konstitusi negara
5. Kemandirian daerah otonom
6. Meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah
7. Azas dekonsentrasi diletakkan pada daerah propinsi
sebagai wilayah administrasi
8. Azas tugas perbantuan.
PRINSIP-PRINSIP OTODA
(Dalam UU NO. 32 Tahun 2004)
1. Demokrasi, Keadilan, pemerataan, keistimewaan dan
kekhususan, serta potensi dan keanekaragaman daerah.
2. Otonomi luas, nyata dan bertanggungjawab
Otonomi luas: daerah memiliki kewenangan membuat
kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan
peranserta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yg
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Otonomi nyata: penanganan urusan pemerintahan
dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang, dan
kewajiban yg senyatanya telah ada dan berpotensi untuk
tumbuh, hidup dan berkembang sesuai dg potensi dan
kekhasan daerah.
Otonomi bertanggungjawab: dalam penyelenggaraan
otonomi harus sejalan dengan tujuan dan maksud
pemberian otonomi, yang pada dasarnya untuk
memberdayakan daerah, termasuk meningkatkan kesra.
Butir 3 ~ butir 8 sama
KEWENANGAN PEMERINTAH PUSAT
dan PROVINSI
PEMERINTAH PUSAT :
1. HUBUNGAN LUAR NEGERI
2. HANKAM
3. PERADILAN
4. MONETER
5. AGAMA
6. BERBAGAI JENIS URUSAN YANG LEBIH EFISIEN
DITANGANI SECARA SENTRAL, seperti : kebijakan makro
ekonomi, standarisasi nasional, administrasi pemerintahan,
BUMN dan pengembangan Sumber Daya Manusia
PEMERINTAH PROVINSI :
1. Kewenangan bersifat lintas KAbupaten dan Kota
2. Kewenangan pemerintahan lainnya, seperti : perencanaan
dan penengendalian pembangunan regional secara makro
3. Kewenangan kelautan
4. Kewenangan yg belum dapat ditangani daerah Kab/Kota
KEWENANGAN PEMERINTAH
KABUPATEN dan KOTA

PEMERINTAH KABUPATEN DAN KOTA :


1. PERTANAHAN
2. PERTANIAN
3. PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
4. TENAGA KERJA
5. KESEHATAN
6. LINGKUNGAN HIDUP
7. PEKERJAAN UMUM
8. PERHUBUNGAN
9. PERDAGANGAN DAN INDUSTRI
10. PENANAMAN MODAL
11. KOPERASI
KETERKAITAN OTODA dan
DEMOKRATISASI serta KONSEKUENSINYA
KETERKAITAN :
Pemberian OTODA tidak saja berarti melaksanakan
demokrasi, tetapi juga mendukung berkembangnya
kemandirian (~ melaksanakan hal-hal yang dianggap
penting bagi lingkungan sendiri).
Dengan demikian tercapai pemerintahan yang
dilaksanakan oleh rakyat, untuk rakyat.
Rakyat tidak saja menentukan nasibnya sendiri,
melainkan juga diberi kesempatan memperbaiki nasibnya
sendiri.
KONSEKUENSI :
1. Otoda harus dipandang sbg instrumen desentralisasi
dalam rangka menjaga & mempertahankan keutuhan &
keberagaman bangsa
2. Otoda harus didefinisikan sbg otonomi bagi rakyat
daerah, bukan otonomi pemda, juga otonomi bagi daerah
KETERKAITAN OTODA dan
DEMOKRATISASI serta KONSEKUENSINYA
KONSEKUENSI :
3. Dari Dimensi politik : institusi PEMDA sbg instrumen
pendidikan politik dalam rangka mengembangkan
demokratisasi.
dapat mencegah terjadinya sentralisasi
mencegah kecenderungan sentrifugal dalam bentuk
pemisahan diri.
Adanya institusi pemda akan mengajarkan masyarakat
untuk menciptakan kesadaran akan hak dan
kewajibannya sebagai warga negara.
4. Dimensi administratif : mengisyaratkan Pemda untuk
mencapai efisiensi dan efektivitas dan ekonomis dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.
5. Dimensi ekonomi : memudahkan terwujudnya
kesejahteraan masyarakat
CIRI-CIRI DAERAH OTONOM SESUAI
AMANAT UUD 1945
1. Daerah Otonom tidak memiliki kedaulatan atau semi
kedaulaatan seperti di negara federal
2. Desentralisasi dimanisfestasikan dalam pembentukan
Daerah Otonom dan penyerahan atau pengakuan atas
wewenang pemerintahan di bidang tertentu
3. Penyerahan atau pengakuan urusan pemerintahan terkait
dengan pengaturan dan pengurusan kepentingan
masyarakat setempat sesuai prakarsa dan aspirasi
masyarakat.

Penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten dan Kota lebih


didasarkan kepada azas desentralisasi saja dalam wujud
otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab.
Pengaturan perimbangan keuangan Pusat dan Daerah
(UU No. 32 TAhun 1956: UU No. 25 Tahun 1999; UU No.
33 Tahun 2004)
TUJUAN POKOK PELAKSANAAN
PERIMBANGAN KEUANGAN
1. Memberdayakan dan meningkatkan kemampuan
perekonomian daerah
2. Menciptakan sistem pembiayaan daerah yang adil,
proporsional, rasional, transparan, partisipatif,
bertanggungjawab (akuntabel), dan pasti.
3. Mewujudkan sistem perimbangan keuangan Pusat dan
Daerah yang mencerminkan pembagian tugas
kewenangan dan tangjungjawab yang jelas antara
Pempus & Pemda, mendukung pelaksanaan otoda yg
transparan, memperhatikan partisipasi masy, dan
pertangjungjawaban kpd masy, mengurangi kesenjangan
antar daerah dalam pembiayaan otoda, dan memberikan
kepastian sumber keuangan yg berasal dr wilayah ybs.
4. Menjadi acuan dalam alokasi penerimaan negara bagi
daerah.
5. Mempertegas sistem pertanggungjawaban oleh Pemda.
6. Menjadi pedoman pokok tentang keuangan daerah.
BEBERAPA PERMASALAHAN DALAM
PELAKSANAAN OTODA
1. Pemahaman terhadap berbagai konsep dasar belum bulat
2. Sosialisasi konsep dasar belum meluas dan mendalam
3. Instrumen pelaksanaan masih ada yang belum tersedia,
seperti UU, PP, Keppres, Kepmen, Perda, dan Kep. daerah
4. Pedoman, standar yang jumlahnya pasti banyak, sama
dengan banyaknya urusan yang ditangani oleh daerah.
5. Isu globalisasi, transparansi, demokratisasi, HAM, dll.
6. Prinsip otonomi luas, nyata dan bertanggungjawab,
seharusnya dilaksanakan oleh masyarakt, sejauh ini masih
dilakukan oleh Pemda dan DPRD, yg seringkali melupakan
aspek filosofi dari penyelenggaraan Otoda.
7. Dalam aspek politik, tampak adanya komitmen politik yang
dituangkan dalam amandemen psl 18 UUD 1945 yg ingin
mengembangkan otomi seluas-luasnya, sehingga
pemahaman makna substantif dan otoda semakin kabur.
8. Muncul salah penafsiran beberapa pasal di dalam UUD 1945
ttg otoda : Psl 18 (ayat 1- 7), 18A (ayat 1-2), 18B (ayat 1-2)
GEOPOLITIK
DAN STRATEGI
NASIONAL
About Geostrategi.....
Geostrategi adalah suatu cara atau
pendekatan dalam memanfaatkan kondisi
lingkungan untuk mewujudkan cita cita
proklamasi dan tujuan nasional. Ketahanan
nasional sebagai geostrategi bangsa Indonesia
memiliki pengertian bahwa konsep
ketahanan nasional merupakan pendekatan
yang digunakan bangsa Indonesia dalam
melaksanakan pembangunan dalam rangka
mencapai cita-cita dan tujuan nasionalnya.
geostrategi
 Prinsip geostrategi yg dikembangkan oleh Rudolf
Kjelle,Karl Haushoffer, Ratzel yg mengembangkan
geostrategi demi kepentingan militer.
 Indonesia mengembangkan geostrategi dikembangkan
demi tujuan bangsa dan negara yg bersifat mulia yaitu
kesejahteraan dalam kehidupan bersama.
 Geostrategi Indonesia sebagai suatu cara dlm
memanfaatkan segenap konstelasi geografi dalam
menentu kan kebijakan untuk mencapai tujuan nasional
berdasarkan asas kemanusiaan dan keadilan sosial.
Geostrategi
 Geostrategi diartikan sebagai metode atau aturan
untukmewujudkan cita-cita/tujuan melalui proses
pembangunan.
 Geostrategi memberikan arahan ttg bagaimana membuat
strategi pembangunan melalui keputusan yg terukur
untuk diwujudkan kepada masa depan yg lebih Baik, lebih
aman dan bermartabat.

 Bagi Indonesia geostrategi sebagai metode untuk


mewujudkan cita-cita proklamasi seperti dimuat dalam
Pembukaan UUD 45 melalui pembangunan nasional.
geostrategi
 Tujuan menjadi pedoman atau bahkan doktrin
pembangunan dan hal ini lazim disebut sebagai suatu
ketahanan nasional.
 Pada alinea ke ketiga dimuat …. Kemudian dari pada Itu
untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia
yg melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah
darah dan untuk memajukan kesejahteraan umum dst
 Berdasarkan pengertian itu maka berkembanglah geo-
strategi Indonesia yg sangat terkait dengan hakikat
terbentuknya Bangsa Indonesia yg tdd berbagai etnis, ras,
golongan agama bahkan terletak dalam teritorial yg
terpisahkan pulau dan lautan
Geostrategi
Sehubungan dengan itu ada lima prinsip nasionalisme
Indonesia adalah sbb
1. Kesatuan sejarah
Bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang dalam su
atu proses sejarah, sejak zaman pra sejarah, Sriwija
ya, Majapahit, Sumpah Pemuda sampai Proklamasi
17-8-45 dan kemudian membentuk Bangsa dan Nega
ra Indonesia.
Geostrategi
2. Kesatuan nasib
Segenap unsur bangsa berada dalam suatu proses
sejarah yg sama dan mengalami nasib yg sama yaitu
dalam penderitaan penjajah dan kebahagiaan bersa-
ma.

3. Kesatuan budaya
Beraneka ragam kebudayaan tumbuh dan berkem-
bang dan secara bersama-sama membentuk puncak
kebudayaan nasional Indonesia.
Geostrategi
4. Kesatuan Wilayah
Segenap unsur bangsaa Indonesia berdiam di sege-
nap wilayah teritorial yg dalam wujud berbabagai pu-
lau dengan lautannya namun merupakan satu kesa –
tuan wilayah tumpah darah Bangsa Indonesia.

5. Kesatuan azas kerohanian


Adanya kesatuan ide, tujuan dan nilai-nilai kerohanian
yang secara keseluruhan tersimpul dalam dasar filoso
fis Pancasila.
Geostrategi
 Dengan demikian geostrategi Indonesia adalah meman-
faatkan segenap kondisi geografi untuk tujuan politik dan
ini dirinci dalam pembangunan nasional.
 Geostrategi itu diperlukan dan dikembangkan untuk
mewujudkan dan mempertahankan integritas bangsa,
wilayah meningat kemajemukan Indonesia serta sifat khas
wilayah maka geostrategi dirumuskan dalam bentuk
ketahanan nasional.
3 perspektif terhadap konsepsi
ketahanan nasional
1. Ketahanan Nasional sebagai kondisi
2. Ketahanan Nasional sebagai pendekatan, metode
atau cara.
3. Ketahanan Nasional sebagai doktrin
SEJARAH LAHIRNYA KETAHANAN
NASIONAL
Tahun 1960-an terjadi gerakan komunis di Filipina,
Malaysia, Singapura, dan Thailand. Bahkan, gerakan
komunis Indonesia berhasil mengadakan
pemberontakan pada 30 Septetmber 1965, namun
akhirnya dapat diatasi. Menyadari atas berbagai
kejadian tersebut, semakin kuat gagasan pemikiran
tentang kekuatan apa yang seharusnyta ada dalam
masyarakat dan bangsa Indonesia agar kedaulatan dan
keutuhan bangsa negara Indonesia terjamin di masa
masa mendatang.

*Con’t......
• Pada tahun 1968, tantangan dan ancaman terhadap
bangsa harus diwujudkan dalam bentuk ketahanan
bangsa yang di manifestasikan dalam bentuk tameng
yang terdiri dari unsur-unsur ideologi, ekonomi,
sosial, dan militer.
• Pada tahun 1969, konsepsi ketahanan nasional waktu
itu dirumuskan sebagai keuletan dan daya tahan suatu
bangsa yang mengandung kemampuan
mengembangkan kekuatan nasional yang ditujukan
untuk menghadapi segala ancaman dan kekuatan yang
membahayakan kelangsungan hidup negara dan
bangsa Indonesia.
• Konsepsi ketahanan nasional tahun 1972 dirumuskan
sebagai kondisi dinamis satu bangsa yang berisi
keuletan dan ketangguhan yang mengandung
kemampuan untuk mengembangkan kekuatan
nasional, didalam menghadapi dan mengatasi
segala tantangan, ancaman, hambatan, dan
gangguan baik yang datang dari luar maupun
dalam, yang langsung maupun tidak langsung
yang membahayakan identitas, integritas
kelangsungan hidup bangsa dan negara serta
perjuangan mengejar tujuan perjuangan
nasional.
KONSEP KETAHANAN NASIONAL DALAM
GBHN....
 Konsepsi ketahanan nasional untuk pertama kali
dimasukkan dalam GBHN 1973 yaitu ketetapan MPR
No.IV / MPR / 1973.
 Rumusan ketahanan nasional dalam GBHN 1973
adalah sama dengan rumusan ketahanan nasional
tahun 1972 dari Lemhanas.
 Pada GBHN 1993 terjadi perubahan perumusan
mengenai konsep ketahanan nasional.
 Perumusan ketahanan nasional dalam GBHN 1993
berlanjut pada GBHN 1998.
Rumusan Ketahanan Nasional dalam GBHN
1998..
1. Untuk tetap memungkinkan berjalannya pembangunan
nasional yang selalu harus menuju ke tujuan yang
ingin dicapai dan agar dapat secara efektif dielakkan.
2. Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis yang
merupakan intergasi dari kondisi tiap aspek kehidupan
bangsa dan negara. Pada hakikatnya ketahanan
nasional adalah kemampuan dan ketangguhhan suatu
bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidup
menuju kejayaan bangsa dan negara.
3. Ketahanan nasional meliputi ketahanan ideologi,
ketahanan politik, ketahanan ekonomi, ketahanan
sosial budaya, dan ketahanan pertahanan keamanan.
 Ketahanan ideologi adalah kondisi mental bangsa
Indonesia yang berlandaskan kepemimpinan akan
kebenaran ideologi Pancasila
 Ketahanan politik adalah kondisi kehidupan politik
bangsa Indonesia yang berlandaskan demokrasi politik
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
 Ketahanan ekonomi adalah kondisi kehidupan
perekonomian bangsa yang berlandaskan demokrasi
ekonomi yang berdasarkan Pancasila
 Ketahanan sosial budaya adalah kondisi kehidupan
sosial budaya bangsa yang dijiwai kepribadian nasional
berdasarkan Pancasila
 Ketahanan pertahanan keamanan adalah kondisi daya
tangkal bangsa yang dilandasi kesadaran bela negara
seluruh rakyat
SIFAT SIFAT DASAR KETAHANAN NASIONAL
Intregatif
Mawas ke dalam
Menciptakan Kewibawaan
Berubah Menurut waktu
UNSUR-UNSUR KETAHAN NASIONAL...
Unsur-unsur kekuatan nasional di Indonesia adalah
diistilahkan dengan gatra dalam ketahanan nasional
Indonesia.
 Trigatra adalah aspek alamiah (tangible) yang terdiri
atas penduduk, sumber daya alam dan wilayah.
 Panca Gatra adala aspek sosial (intangible) yang
terdiri atas ideologi, politik, ekonomi, sosial,
budaya dan pertahanan keamanan.
MAKNA BELA NEGARA..
Secara fisik yaitu yaitu dengan cara “memanggul bedil”
menghadapi serangan atau agresi musuh.
Secara non fisik dapat didefinisikan sebagai “segala
upaya untuk mempertahankan Negara Kesatuan
Republik Indonesia dengan cara meningkatkan
kesadaran berbangsa dan bernegara, menanamkan
kecintaan terhadap tanah air serta berperan aktif
dalam memajukan bangsa dan negara”.
PERATURAN PERUNDANG - UNDANGAN TENTANG
BELA NEGARA...
* Pasal 27 ayat (3) UUD 1945

* Pasal 30 UUD 1945

* Undang – undang No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia

* Undang – undang No. 3 Tahun 2003 tentang pertahanan negara

* Undang – undang No.34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional


Indonesia

* pasal 9 UU No.3 Tahun 2002 Mengenai peran warga negara


dalam bela negara
BENTUK ANCAMAN
 Ancaman militer adalah ancaman yang menggunakan
kekuatan bersenjata yang terorganisasi yang dinilai
mempunyai kemampuan yang membahayakan
kedaulatan negara , keutuhan wilayah negara, dan
keselamatan segenap bangsa.
 Ancaman non militer memiliki karakteristik yang
berbeda dengan ancaman militer , yaitu tidak bersifat
fisik serta bentuknya tidak terlihat.