Anda di halaman 1dari 20

“HEAT EXCHANGER”

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Heat exchanger merupakan suatu alat penukar panas dapat digunakan


untuk memanfaatkan atau mengambil panas dari suatu fluida untuk dipindahkan
ke fluida lain. Biasanya, medium pemanas dipakai uap lewat panas (super heated
steam) dan air biasa sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas
dirancang sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung
secara efisien. Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida
terdapat dinding yang memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung
begitu saja. Penukar panas sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang
minyak, pabrik kimia maupun petrokimia, industri gas alam, refrigenerasi,
pembangkit listrik. Salah satu contoh sederhana dari alat penukar panas adalah
radiator mobil dimana cairan pendingin memindahkan panas mesin ke udara
sekitar. Maka dari itu, diperlukan adanya percobaan heat exchanger ini untuk
mengetahui perpindahan panas dalam skala laboratorium.

Dalam percobaan akan digunakan jenis heat exchanger, yaitu single pass
double pipe heat exchanger, melakukan pengukuran wolume air dingin dan air
pass dengan variabel bukaan kran tertentu dalam tangki penampung dipanaskan
hingga temperature tertentu. Kemudian pipa air diisi dan gelembung-gelembung
dari pipa manometer dihilangkan, lalu air dialirkan melalui bagian dalam pipa
pada laju alir yang diinginkan sesuai variabel bukaan kran. Selanjutnya air panas
dialirkan ke dalam bagian annulus pada laju alir tertentu. Setelah aliran dan
temperature konstan (tercapai keadaan steady), dilakukan pengamatan setidaknya
selama 20 menit dengan selang waktu 2 menit untuk mendapatkan data-data
waktu, pembacaan manometer, temperature air pendingin / air panas masuk dan

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 1


“HEAT EXCHANGER”

keluar, tekanan air panas. Percobaan diulangi dengan variasi laju alir umpan air
panas.

Adapun tujuan dari percobaan ini antara lain yang pertama yaitu untuk
mempelajari jenis Heat Exchanger DPHE. Yang kedua yaitu untuk
memperkirakan harga koefisien perpindahan panas keseluruhan (overall) pada
proses pemanasan air. Yang ketiga yaitu untuk mempelajari faktor - faktor yang
mempengaruhi proses pertukaran panas pada Heat Exchanger.

I.2 Tujuan

1. Untuk mempelajari jenis Heat Exchanger DPHE.


2. Untuk memperkirakan harga koefisien perpindahan panas keseluruhan
(overall) pada proses pemanasan air.
3. Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi proses pertukaran
panas pada Heat Exchanger.

I.3 Manfaat

1. Agar praktikan dapat mengerti bagaimana cara kerja Heat Exchanger.


2. Agar praktikan dapat membandingkan hasil percobaan Heat Exchanger
dengan literatur yang ada.
3. Agar praktikan dapat mengetahui pengaplikasian Heat Exchanger dalam dunia
industri.

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 2


“HEAT EXCHANGER”

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Secara Umum

Heat exchanger adalah suatu alat yang digunakan untuk memindahkan


atau transfer energy panas (enthalpy) di antara dua atau lebih fluida, di antara
fluida dengan permukaan solid, atau di antara fluida dengan partikel padat, pada
temperature berbeda dan dalam kontak thermal. Dalam heat exchanger, umumnya
tidak terdapat panas eksternal dan interaksi kerja. Aplikasi tipikalnya yaitu
melibatkan pemanasan, pendinginan aliran fluida dan evaporasi, atau kondensasi
dari suatu aliran fluida single-component atau multi-component. Dalam
pengaplikasian lainnya, yaitu dapat digunakan untuk mendapatkan panas atau
mengeluarkan panas, atau untuk sterilisasi, pasteurisasi, fraksionasi, distilasi,
pemekatan, kristalisasi, atau untuk proses control dari suatu aliran fluida. Untuk
beberapa heat exchanger, transfer panas dilakukan dengan kontak secara
langsung. Tetapi pada heat exchanger kebanyakan pada umumnya, transfer panas
terjadi melalui dinding yang terpisah atau masuk dan keluar dari suatu dinding
dengan sementara. Pada kebanyakan heat exchanger, fluida dipisahkan oleh
permukaan transfer panas, dan secara ideal tidak bercampur maupun bocor.
Exchanger seperti ini disebut dengan tipe transfer langsung, atau sederhananya,
recuperators. Sebaliknya, exchanger yang dimana terdapat selang seling
pertukaran panas antara fluida panas dan dingin – melalui penyimpanan energy
thermal dan lepas melalui permukaan exchanger– disebut dengan tipe transfer
tidak langsung, atau sederhananya regenerators. Exchanger jenis ini biasanya
memiliki kebocoran antara satu fluida ke fluida lain dikarenakan perbedaan
tekanan dan rotasi matriks / pergantian valve. Contoh paling umum dari heat
exchangers yaitu shell-and-tube exchanger, automobile radiators, kondensor,

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 3


“HEAT EXCHANGER”

evaporator, air preheaters, dan cooling tower. Jika tidak terjadi perubahan fase
pada heat exchanger, maka kadang heat exchanger ini disebut dengan heat
exchanger sensible.

Sebuah heat exchanger terdiri dari elemen transfer panas seperti ruang
berisi permukaan transfer panas, dan elemen distribusi fluida seperti header,
manifolds, tangki, inlet, dan outlet nozzles atau pipa, atau segel. Biasanya, tidak
ada bagian yang dapat bergerak pada heat exchanger, tetapi, ada pengecualian,
seperti rotary generative exchanger (dimana matriks digerakkan berputar sesuai
ketentuan) atau scraped surface exchanger.

Permukaan heat exchanger adalah permukaan bagian dalam heat


exchanger yang kontak secara langsung dengan fluida dan dilalui transfer panas
secara konduksi. Bagian permukaan yang kontak secara langsung dengan kedua
fluida panas dan dingin dan transfer panas di antara keduanya disebut dengan
primary atau direct surface. Untuk meningkatkan area transfer panas, tambahan
perlu langsung dihubungkan dengan primary surface untuk memberikan
perluasan, secondary, atau indirect surface. Permukaan tambahan ini disebut
dengan fins. Dengan begitu, panas dikonduksikan melalui fins dan kemudian
dikonveksikan (dan/atau diradiasikan) dari fins (melalui surface area) ke fluida di
sekitarnya, atau, begitu pula sebaliknya, tergantung apakah fins akan dipanaskan
atau didinginkan. Akibatnya, penambahan fins pada primary surface mengurangi
resistansi thermal pada sisi tersebut dan dengan begitu meningkatkan total transfer
panas dari permukaan itu untuk perbedaan temperature yang sama. Fins dapat
membentuk aliran fluida individu tetapi tidak akan memisahkan dua (atau lebih)
fluida pada exchanger. Secondary surface atau fins ini juga biasanya bertujuan
untuk tambahan kekuatan untuk pencampuran cairan dengan viskositas tinggi.

(Shah, 2003)

Tipe yang paling umum digunakan yaitu tipe dimana fluida dingin dan
fluida panas tidak terjadi kontak secara langsungsatu sama lain, tetapi terpisahkan

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 4


“HEAT EXCHANGER”

dengan dinding tube atau permukaan datar atau melengkung. Perpindahan panas
berlangsung dari konveksi fluida panas ke dinding tube atau permukaan, melalui
dinding tube atau plate dengan konduksi, dan kemudian dengan konveksi ke
fluida dingin. Berikut merupakan beberapa tipe heat exchangers:

1. Double-pipe heat exchanger.


Exchanger yang paling sederhana adalah double-pipe atau concentric-pipe
exchanger. Ini ditunjukkan pada Gambar 2.1, dimana satu fluida mengalir di
dalam satu pipa dan fluida lainnya di dalam ruang anular di antara kedua pipa.
Fluida dapat mengalir dalam keadaan cocurrent atau countercurrent. Exchanger
ini dapat terdiri dari sepasang pipa single-lengths dengan fittings pada akhir atau
dari beberapa pasang interconnected berseri. Tipe exchanger ini sangat berguna
dan umumnya untuk aliran dengan kecepatan alir yang kecil.

Gambar 2.1 Aliran dalam double-pipe heat exchanger


2. Shell-and-tube exchanger
Jika kecepatan aliran lebih besar, maka shell-and-tube exchanger
digunakan, yang merupakan tipe heat exchanger yang paling penting dalam
penggunaan di proses industry. Dalam tipe exchanger ini, aliran merupakan aliran
continuous. Banyak tubes dalam parallel digunakan dimana aliran mengalir di
dalam tubes ini. Tubes disusun dalam satu kelompok dan diselimuti dengan satu
shell dan fluida lainnya mengalir di luar tube di dalam sisi shell. Shell-and-tube
exchanger paling sederhana ditunjukkan pada Gambar 2.2 untuk 1 shell pass dan
1 tube pass, atau 1-1 counterflow exchanger. Fluida dingin memasuki dan
mengalir di dalam melalui seluruh tubes dalam parallel dengan satu pass. Fluida
panas memasuki dari ujung yang lain dan mengalir counterflow menyebrangi luar

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 5


“HEAT EXCHANGER”

tube. Baffle silang digunakan sehingga fluida dipaksa untuk mengalir tegak lurus
menyilang tube daripada mengalir dengan parallel. Turbulence yang meningkat
akibat aliran silang ini meningkatkan shell-side heat-transfer coefficient.

Gambar 2.2 Shell-and-tube 1 shell dan 1 tube pass (1-1 exchanger)


Pada Gambar 2.3 menunjukkan 1-2-parallel-counterflow exchanger.
Liquid pada sisi tube mengalir dalam dua jalur seperti yang ditunjukkan, dan
liquid pada shell-side mengalir dalam satu jalur. Di dalam jalur pertama sisi tube,
fluida dingin mengalir secara counterflow terhadap fluida panas shell-side, dan
pada jalur kedua sisi tube, fluida dingin mengalir secara parallel (cocurrent)
dengan fluida panas. Tipe lain dari exchanger yang memiliki 2 shell-side passese
dan 4 tube passes. Kombinasi lainnya untuk beberapa pass juga digunakan,
dengan tipe 1-2 dan 2-4 yang paling umum digunakan.

Gambar 2.3 Shell-and-tube 1 shell dan 2 tube passes (1-2 exchanger)

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 6


“HEAT EXCHANGER”

3. Cross-flow exchanger
Ketika gas seperti udara dipanaskan atau didinginkan, alat yang paling
sering digunakan adalah cross-flow heat exchanger. Salah satu fluida, yang
berfase cair, mengalir di bagian dalam melalui tubes dan gas exterior mengalir
melewati kumpulan tube dengan paksa atau kadang dengan konveksi alami.
Fluida di dalam tube dianggap menjadi tidak tercampur karena terbatasi dan tidak
dapat bercampur dengan aliran yang lain. Aliran gas di luar tube tercampur karena
dapat bergerak secara bebas di antara tube dan akan terdapat kecenderungan
temperature gas untuk menyesuaikan dengan arah aliran normal. Untuk fluida
yang tidak bercampur di dalam tube akan terjadi gradient temperature kedua
parallel dan normal terhadap aliran normal.
Tipe kedua dari cross-flow heat exchanger digunakan untuk aplikasi
air conditioning dan space-heating. Pada tipe ini, gas mengalir menyebrangi
kumpulan tube dengan fins dan tidak bercampur karena terbatasi dalam saluran
alir yang terpisah di antara fin sembari melewati tube. Fluida yang ada di dalam
tube tidak tercampur.
(Geankoplis,1993)

Koefisien perpindahan panas total didefinisikan sebagai koefisien


hambatan termal total menuju perpindahan panas diantara dua fluida. Koefisien
perpindahan panas total juga didefinisikan sebagai hasil gabungan proses
konduksi dan konveksi dengan memperhitungkan hambatan diantara fluida yang
dipisahkan oleh lapisan komposit dan dinding silinder
Koefisien perpindahan kalor total pada heat exchanger :

Gambar 1. Koefisien perpindahan kalor total pada heat exchanger.

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 7


“HEAT EXCHANGER”

Dalam melakukan analisis untuk menentukan seberapa tinggi koefisien


perpindahan panas total saat proses maka dapat diperoleh melalui persamaan:

Keterangan

U : Koefisien perpindahan panas total (W/m2.K)


ho : Koefisien konveksi di luar pipa (kJ/kg)
ro : Jari-jari luar (m)
R”f,o : Representative Cooling factors luar pipa (m2.K/W)
hi : Koefisien konveksi di dalam pipa (kJ/kg)
ri : Jari-jari dalam (m)
R”f,i : Representative Cooling factors dalam pipa
(m2.K/W)
k : Koefisien konveksi (W/m.K)

(Prajitno,2005)

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja heat exchanger antara


lain :
1. Desain heat exchanger, yaitu perhitungan yang menghasilkan dimensi alat
pemindah panas yang sesuai dengan kondisi proses dan operasi yang
ditentukan.
2. Lajur alir massa fluida, yaitu semakin tinggi laju alir fluida akan semakin
menaikkan perpindahan panasnya terhadap fluida lainnya.
3. Nilai konduktivitas bahan heat exchanger, yaitu setiap benda mempunyai
konduktivitas thermal sendiri-sendiri yaitu angka yang menunjukkan
kemampuan perambatan panas.
4. Luas permukaan kontak, juga dapat mempengaruhi jumlah panas yang dapat
dipindahkan oleh suatu benda, semakin luas permukaan akan semakin
banyak terjadi perpindahan panas.

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 8


“HEAT EXCHANGER”

5. Perbedaan suhu, yaitu semakin besar selisih temperatur akan semakin cepat
perpindahan panasnya.
(Rudi,2016)
Ada 3 macam cara perpindahan panas, diantaranya yaitu:
A. Perpindahan panas secara konduksi
Mekanisme perpindahan panas yang terjadi dengan suatu aliran atau
rambatan proses dari suatu benda yang bertemperature lebih tingginke benda
yang bertemperature lebih rendah atau dari suatu benda ke benda lain dengan
kontak langsung.
B. Perpindahan panas secara konveksi
Mekanisme perpindahan panas yang terjadi dari satu benda ke benda yang
lain dengan perantara benda itu sendiri. Perpindahan panas konveksi ada 2
macam yaitu konveksi paksa dan konveksi alami. Konveksi alami adalah
perpindahan molekul–molekul di dalam zat yang dipanaskan karena adanya
perbedaan densitas. Konveksi paksa yaitu perpindahan panas konveksi yang
berlangsung dengan bantuan tenaga lain.
C. Perpindahan panas secara radiasi
Perpindahan panas dari suatu benda ke benda lain dengan bantuan
gelombang elektromagnetik, dimana tenaga ini akan diubah menjadi panas
jika tenaganya diserap oleh benda yang lain.
(Setyoko,2008)
Adapun rumus dari perhitungan DPHE antara lain memiliki urutan
pengerjaan:
A. . Neraca Panas
Untuk mengetahui besarnya panas yang dapat ditransfer
dari fluida panas ke fluida dingin pada HE dilakukan perhitungan dengan
menggunakan rumus:
Q = m Cp ∆T............................................................. (1)
Dengan : Q = laju perpindahan kalor (Btu/jam)
m = massa air (lb/jam)

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 9


“HEAT EXCHANGER”

Cp = kapasitas panas (Btu/lb.oF)


∆T = selisih suhu (oF)

B. Beda Temperatur Rata-rata Logaritma (LMTD)


Untuk menghitung suhu rata – rata dari suatu fluida yang
mengalir dalam HE, pola aliran dapat dilihat pada gambar 2 dan gambar 3,
yang kemudian dapat dihitung dengan rumus:

........................... (2)

Dengan :
∆th = selisih suhu fluida panas (oF)
∆tc = selisih suhu fluida dingin (oF)

C. Faktor Koreksi (FT) untuk perhitungan ∆TLMTD


FT dihitung karena di dalam tube terjdi perubahan arah aliran.
Sebagai contoh untuk 1-2 exchanger, lewatan merupakan gabunganantara
aliran searah dan lawan arah. Dengan demikian dalam 1-2exchanger
tersebut jika dihitung LMTD untuk countercurrent makaharus dihitung
faktor koreksi FT nya.
a) Untuk 1-2 exchanger FT > 0,75. jika FT pada 1-2
Exchanger < 0,75 maka gunakan 2-4 Exchanger.
b) Untuk 2-4 exchanger FT > 0,9 untuk removable
longitudinal baffle.FT 0,85 untuk welded longitudinal baffle.
Untuk menentukan perbedaan temperatur yang sebenarnya (Δt) :
Δt = Δt LMTD x FT ..................................................... (3)
Nilai faktor koreksi (FT) untuk jenis 1-2-exchanger digambarkan
dalam faktor koreksi LMTD dengan S dan R sebagai parameternya.

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 10


“HEAT EXCHANGER”

D. Luas Penampang perpindahan panas


Luas penampang perpindahan panas dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:
A = π D L....................................................... (4)
Keterangan:
A = Luas penampang perpindahan panas (ft2)
D = Diameter inner pipe (ft)
L = Panjang pipa heat exchanger (ft)

E. Koefisien Perpindahan Panas pada Pipa Kotor (UD)

.................................................. (5)
Keterangan:
Ud = Koefisien perpindahan panas pada pipa kotor (Btu
ft2˚F/jam)
Q = Laju perpindahan kalor (Btu/jam)
A = Luas penampang perpindahan panas (ft2)
Δt = perbedaan temperatur yang sebenarnya (ᵒF)

Penukar kalor yang baik adalah penukar kalor yang memiliki nilai
koefisien perpindahan panas (U) yang besar. Saat penukar kalor telah
digunakan cukup lama, maka akan terbentuk kotoran di bagian dalam dan
di bagian luar pipa. Setelah diketahui nilai UD yang didapat dari hasil
perhitungan, maka nilai ini dibandingkan dengan nilai standar UD yang
terdapat di Tabel 8 halaman 840 buku “Process Heat Transfer” oleh D. Q.
Kern untuk mengetahui apakah rancangan alat tersebut sudah tepat. Oleh
karena itu, kesimpulannya yaitu jika nilai UD perhitungan lebih kecil
daripada UD ketetapan maka perancangan alatnya belum tepat begitu juga
sebaliknya.

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 11


“HEAT EXCHANGER”

Gambar 1. Tabel UD Standar oleh Kern

F. Penurunan Tekanan (Pressure Drop)


Pressure drop adalah penurunan tekanan maksimal yang
diperbolehkan dalam HE apabila suatu fluida melaluinya. Penurunan
tekanan ini semakin besar dengan bertambahnya fouling factor pada heat
exchanger. Umumnya besarnya pressure drop yang diperbolehkan untuk
setiap aliran fluida untuk satu kali proses adalah 5 sampai 10 psi.

G. Faktor Pengotor (Dirt Factor)


Dirt factor adalah hambatan perpindahan panas karena
adanya endapan - endapan didalam HE. Fouling factor ini dipengaruhi
oleh bebrapa hal antara lain: jenis fluida, temperatur, jenis material tube,
kecepatan aliran serta lamanya operasi.
Rd = Rdi + Rdo
Dengan :
Rd = Faktor pengotor total

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 12


“HEAT EXCHANGER”

Rdi = Faktor pengotor untuk inner pipe pada inside diameter dari
inner pipe

Rdo = Faktor pengotor untuk annulus pada outside diameter dari


inner pipe

(Kern, 1983)

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 13


“HEAT EXCHANGER”

II.2 Sifat Bahan

II.2.1 Aquadest

1. Sifat Fisika
a. Fase : Cair
b. Bau : Tidak berbau
c. Warna : Tidak berwarna
d. Densitas : 1 gr/ml
e. Titik Didih : 100oC
2. Sifat Kimia
a. Rumus Molekul : H2 O
b. Berat Molekul : 18.02 gr/mol
c. pH : 7 (Netral)
d. Stabilitas : Senyawa stabil
e. Korosifitas : Tidak korosif
(MSDS, 2013)

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 14


“HEAT EXCHANGER”

II.3 Hipotesa

Pada praktikum heat exchanger ini menggunakan jenis single pass double
pipe. Pada percobaan ini suhu yang berbeda secara signifikan akan menghasilkan
hasil yang maksimal. Semakin besar variasi laju alir maka kemungkinan semakin
besae pula koefisien perpindahan panas yang didapatkan

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 15


“HEAT EXCHANGER”

II.4 Diagram Alir

Tampung volume air panas dan air dingin sesuai variabel bukaan kran

Panaskan air dalam tangki penampung air panas hingga mencapai suhu
yang ditentukan

Nyalakan pompa air panas dan air dingin.

Buka gate valve air panas dan air dingin secara bersamaan dengan
variabel tertentu.

Tampung volume keluar dan amati tekanan serta suhu air dingin dan
panas yang masuk beserta yang keluar.

Hitung koefisien perpindahan panas keseluruhan dari data setiap


putaran gate valve dan LMTD.

Ulangi percobaan untuk variabel yang berbeda.

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 16


“HEAT EXCHANGER”

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

III.1 Bahan Praktikum


1. Air

III.2 Alat Praktikum


1. 1 unit alat single pass double pipe heat exchanger
2. Gelas ukur
3. Stopwatch
4. Termometer
5. Penggaris

III. 3 GambarAlat

Gelas Ukur Stopwatch Thermometer Penggaris

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 17


“HEAT EXCHANGER”

III.4 Rangkaian Alat

Satu unit alat double pipe heat exchanger

III.5 Prosedur Percobaan


Single Pass Double Pipe Heat Exchanger

1. Panaskan air dalam tangki penampung air panas sehingga temperature x


tertentu
2. .Isi pipa air dan hilangkan gelembung-gelembung udara dari pipa
manometer, alirkan air melalui bagian dalam pipa pada laju alir yang
diinginkan.
3. Alirkan air panas ke dalam bagian annulus pada tekanan tertentu
4. Setelah aliran dan temperature konstan (tercapai keadaan steady), lakukan
pengamatan selama sedikitnya 20 menit untuk data-data berikut selam
aselang waktu 2 menit :
 Waktu
 Pembacaaan manometer
 Temperatur air pendingin atau air panas masuk dan keluar

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 18


“HEAT EXCHANGER”

 Tekanan air panas


5. Ulangi percobaan dengan variasi laju alir dan temperature umpan air panas
sesuai variasi bukaan kran.

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 19


“HEAT EXCHANGER”

DAFTAR PUSTAKA

Geankoplis, Christie J. 1993. “Transport Processes and Unit Operations Third


Edition”. New Jersey: Prentice Hall International.

Kern,D.Q.1983.”Process Heat Transfer”.Singapore:McGraw-Hill International


Editions.

MSDS. 2013. “MSDS Water”. (www.sciencelab.com/msds.php?msdsId


=9927321). Diakses pada tanggal 09 September 2018 pukul 11:10 WIB.
Pradjino.2005.” Koefisien Perpindahan Panas Total ”.(
http://berbagienergi.com/2013/05/12/koefisien-perpindahan-panas-total/ ).
Diakses pada tanggal 11 September 2018 pada pukul 12.00 Wib.
Rudi.2016.” Faktor-faktor Perpindahan Panas ”( http: //
eprints.undip.ac.id/53356/11/13._BAB_VII .pdf ). Diakses pada tanggal
11 September 2018 pada pukul 12.01 Wib.

Setyoko, Bambang. 2008. “Evaluasi Kinerja Heat Exchanger dengan Metode


Fouling Faktor”. (ejournal.undip.ac.id/index.php/teknik/article/download/
1931/1691). Diakses pada tanggal 12 September 2018 pukul 20.00 WIB.

Shah, Ramesh K., dkk. 2003. “Fundamentals of Heat Exchanger Design”. New
Jersey: Willey John & Sons

Praktikum Operasi Teknik Kimia II 20