Anda di halaman 1dari 4

HUBUNGAN PERUBAHAN ELIMINASI URINE DENGAN GANGGUAN TIDUR PADA

LANSIA DI PANTI WERDA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG

Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Menua bukanlah suatu
penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan kumulatif,
merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan
luar tubuh, seperti didalam Undang-Undang No 13 tahun 1998 yang isinya menyatakan bahwa
pelaksanaan pembangunan nasional yang bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945, telah menghasilkan kondisi sosial
masyarakat yang makin membaik dan usia harapan hidup makin meningkat, sehingga jumlah
lanjut usia makin bertambah. Banyak diantara lanjut usia yang masih produktif dan mampu
berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Upaya peningkatan
kesejahteraan sosial lanjut usia pada hakikatnya merupakan pelestarian nilai-nilai keagamaan dan
budaya bangsa.

Sebagai sebuah negara kepulauan dengan jumlah populasi keempat terbesar di dunia
menurut World Population Prospect 2017 Revision oleh Perserikatan BangsaBangsa (PBB),
pertumbuhan penduduk Indonesia sangat berpengaruh terhadap komposisi penduduk dunia.
Bahkan, dari tahun 2017 hingga 2050 diperkirakan bahwa separuh dari pertumbuhan penduduk
dunia akan terkonsentrasi pada sembilan negara saja, salah satunya adalah Indonesia. Populasi
dunia saat ini berada pada era penduduk menua (ageing population) dengan jumlah penduduk yang
berusia 60 tahun ke atas melebihi 7 persen populasi. Seiring dengan pertumbuhan tersebut, jumlah
penduduk lanjut usia (lansia) semakin lama juga semakin meningkat dan berkontribusi cukup
tinggi terhadap pertumbuhan penduduk secara keseluruhan. Populasi lansia mencapai 962 juta
orang pada tahun 2017, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 1980 yaitu hanya 382 juta
lansia di seluruh dunia. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat pada tahun 2050 yang
prediksinya akan mencapai sekitar 2,1 miliar lansia di seluruh dunia.

Persentase lansia di Indonesia juga semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2018,
terdapat 9,27 persen atau sekitar 24,49 juta lansia dari seluruh penduduk. Angka ini meningkat
dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya terdapat 8,97 persen (sekitar 23,4 juta) lansia di
Indonesia.

Menurut data BPS Jabar (2017) Hasil Proyeksi Penduduk Indonesia tahun 2010-2035,
jumlah penduduk lansia di Jawa Barat pada tahun 2017 sebanyak 4,16 juta jiwa atau sekitar 8,67
persen dari total penduduk Jawa Barat, yang terdiri dari sebanyak 2,02 juta jiwa (8,31 persen)
lansia laki-laki dan sebanyak 2,14 juta jiwa (9,03 persen) lansia perempuan.Perubahan-perubahan
yang terjadi dapat mengakibatkan kemunduran fungsi, sehingga kemampuan fisik menurun
(disability) atau kekacauan koordinasi (disorder) sehingga dapat menimbulkan hambatan atau
rintangan (handicap), bahkan sampai dapat mengarah pada suatu penyakit (disease). Perubahan-
perubahan itu akan berjalan terus dan akan semakin cepat progressive), setelah umur melampaui
dekade ke-enam. Dari sekian Geriatric Giant (problem yang banyak diderita lansia) adalah
inkontinentia urine (Prubosuseno, 2009).

Proses menua (aging) adalah proses alami yang dihadapi manusia. Dalam proses ini, tahap
yang paling krusial adalah tahap lansia (lanjut usia) dimana pada diri manusia secara alami terjadi
penurunan atau perubahan kondisi fisik,psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu
sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara fisik maupun
kesehatan jiwa secara khusus pada individu lanjut usia (Sarwono, 2010).

Sering berkemih merupakan gejala urinasi yang terjadi lebih sering dari normal bila
dibandingkan dengan pola yang lazim dimiliki seseorang atau lebih sering dari normal yang
umumnya diterima, yaitu setiap 3 hingga 6 jam sekali. Gejala ini dapat terjadi akibat berbagai
keadaan seperti infeksi dan penggunaan obat-obat tertentu seperti diuretik (Brunner & Suddart’s,
2002).

Perubahan fisiologis yang terjadi pada lansia akan berdampak pada gangguan pemenuhan
kebutuhan eliminasi urine. Berdasarkan data yang didapatkan pada lansia yang tinggal di Panti
Sosial Tresna Bahagia Magetan dari 60 orang responden, 30 orang (51,7%) mengeluh adanya
gangguan dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi urine. Kondisi ini merupakan tantangan bagi
keperawatan, khususnya keperawatan lansia. Faktor-faktor, seperti usia, jenis kelamin, jenis
makanan yang dikonsumsi, medikasi, dan aktivitas yang berpengaruh terhadap kebutuhan
eliminasi urine (Nursalam, 2007).
Perubahan eliminasi urine dapat juga mengganggu aktifitas dan kegiatan lansia sebagai
mana telah diuraikan diatas, salah satunya yaitu dapat mempengaruhi gangguan tidur. Gangguan
tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan pada penderita yang berkunjung
ke praktek. Gangguan tidur dapat dialami oleh semua lapisan masyarakat baik kaya, miskin,
berpendidikan tinggi dan rendah maupun orang muda, serta yang paling sering ditemukan pada
usia lanjut (Iskandar, 2002).

Pola eliminasi urine merupakan salah satu perubahan fisik yang akan dialami oleh usia
lanjut, salah satunya dalam proses berkemih, seperti merasakan keluarnya urin dalam bentuk
beberapa tetes pada saat sedang batuk, jogging atau berlari. Bahkan ada juga yang mengalami
kesulitan menahan urin sehingga keluar sesaat sebelum berkemih. Semua gejala ini disebut dengan
inkontinensia urin (Suparman dan Rospas, 2008). Inkontinensia urin merupakan pengeluaran urine
secara tak terkendali dan atau tidak pada tempatnya (mengompol) (Tjokronegoro dan Utama,
2001). Sikap lansia dalam menghadapi perubahan pola eliminasi urine merupakan suatu respon
atau faktor pendorong dari lansia untuk menghadapi perubahan pola eliminasi urine (inkontinensia
urine). Data di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 10-12 juta orang dewasa mengalami
inkontinensia urine. Penduduk dunia sekitar 200 juta mengalami inkontinensia urin (Data dari
WHO, dalam Collein, 2012). Penderita inkontinensia mencapai 13 juta dengan 85% diantaranya
perempuan di Amerika Serikat. Sekitar 50% usia lanjut diinstalasi perawatan kronis dan 11– 30%
dimasyarakat mengalami inkontinensia urine. Prevalensinya meningkat seiring dengan
peningkatan umur. Perempuan lebih sering mengalami inkontinensia urine dari pada laki–laki
dengan Perbandingan 1,5:1 (Yuliana, 2011).
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belaksng diatas peneliti ingin menegtahui bagaimanakah “hubungan


perubahan eliminasi urine dengan gangguan tidur pada lansia di panti werda”

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan perubahan eliminasi urine dengan gangguan tidur

pada lansia di panti werda


1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui jumlah lansia yang memiliki gangguan tidur yanng terjadi akibat

perubahan eliminasi urine.

b. Mengetahui cara untuk meminimalisir gangguan tidur yang terjadi akibat

perubahan eliminasi urine pada lansia.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan daalam mengevaluasi

program yang sedang berjalan dan sebagai pertimbangan untuk program yang akan

datang serta menjadi pertimbangan dalam menyusun rencana kegiatan lansia yang sehat.

1.4.2 Manfaat bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literature ilmiah dan referensi perpustakaan.

1.4.3 Manfaat Bagi Profesi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan perawat sebagai acuan dalam

memberikan asuhan keperawatan yang bersifat khusu dan komoerenshif terutama sebagai

educator dan advocator dalam memberikan informasi mengenai hubungan perubahan

eliminasi urine dengan gangguan tidur pada lansia.

1.4.4 Manfaat Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan gambaran dasar bagi peneliti selanjutnya

untuk menambah informasi hubungan perubahan eliminasi urine dengan gangguan

tidur pada lansia serta menjadi bahan referensi untuk pustaka.