Anda di halaman 1dari 44

CASE BASED DISCUSSION (CBD)

BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA (BPH)

Oleh :
Elvira Rosalia Kambu (1718012169)
Nur Aina Rahmania (1718012167)
Yuwandita Tamara Putri (1718012121)
Amira Puri Zahra (1718012170)

Perseptor :
dr. Noflih Sulistia, Sp.Rad

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI


RSUD DR.H. ABDUL MOELOEK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

Pembesaran prostat jinak atau lebih dikenal sebagai BPH (benign prostatic
hyperplasia) merupakan istilah histopatologis, yaitu terdapat hiperplasia sel-sel
stroma dan sel-sel epitel kelenjar prostat. BPH dapat dialami oleh sekitar 70% pria
di atas usia 60 tahun. Angka ini akan meningkat hingga 90% pada pria berusia di
atas 80 tahun.

BPH merupakan salah satu keadaan yang menyebabkan gangguan miksi yaitu
retensio urin yang mengakibatkan supersaturasi urin, sehingga rentan untuk
terbentuknya batu buli. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab
timbulnya BPH diantaranya teori dihidrotestosteron, teori ketidakseimbangan
antara estrogen-testosteron, teori interaksi stroma-epitel, teori berkurangnya
kematian sel prostat, serta teori sel stem.

Keluhan yang disampaikan oleh pasien BPH seringkali berupa LUTS (lower
urinary tract symptoms) yang terdiri atas gejala obstruksi (voiding symptoms)
maupun iritasi (storage symptoms) yang meliputi: frekuensi miksi meningkat,
urgensi, nokturia, pancaran miksi lemah dan sering terputus-putus (intermitensi),
dan merasa tidak puas sehabis miksi, dan tahap selanjutnya terjadi retensi urine.

Salah satu panduan untuk mengarahkan dan menentukan adanya gejala obstruksi
akibat pembesaran prostat adalah International Prostate Symptom Score (IPSS).
WHO dan AUA telah mengembangkan dan mensahkan prostate symptom score
yang telah distandarisasi. Analisis gejala ini terdiri atas 7 pertanyaan yang
masing-masing memiliki nilai 0 hingga 5 dengan total maksimum 35. Selain itu,
di dalam daftar pertanyaan IPSS terdapat satu pertanyaan tunggal mengenai
kualitas hidup (quality of life atau QoL) yang juga terdiri atas 7 kemungkinan
jawaban. Kuesioner IPSS dibagikan kepada pasien dan diharapkan pasien mengisi
sendiri tiap-tiap pertanyaan. Kemudian dihitung total skor dengan interpretasi skor
0-7: bergejala ringan, skor 8-19: bergejala sedang, skor 20-35: bergejala berat.

Colok dubur atau digital rectal examination (DRE) merupakan pemeriksaan yang
penting pada pasien BPH, di samping pemeriksaan fisik pada regio suprapubik
untuk mencari kemungkinan adanya distensi buli-buli. Dari pemeriksaan colok
dubur ini dapat diperkirakan adanya pembesaran prostat, konsistensi prostat, dan
adanya nodul yang merupakan salah satu tanda dari keganasan prostat.

Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan adalah urinalisis, pemeriksaan


fungsi ginjal, pemeriksaan Prostate Spesific Antigen (PSA), dan pencitraan (foto
polos abdomen, pielografi intravena atau PIV, pemeriksaan ultrasonografi
transrektal atau TRUS, atau ultrasonografi transabdominal). Pemeriksaan derajat
obstruksi prostat dapat diperkirakan dengan cara mengukur residual urine dan
pancaran urine.
BAB II
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. S
Umur : 70 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Buruh
Alamat : Dusun I Pekon Sukabumi, Talang Padang, Tanggamus
Bangsa : Indonesia
Agama : Islam
No. MR : 00.60.44.79
Ruangan : Kutilang

II. ANAMNESIS
Dilakukan secara Autoanamnesis
Keluhan utama
Pasien mengeluhkan tidak bisa BAK sejak 1 bulan yang lalu

Keluhan tambahan
Perut pada bagian bawah terasa penuh, BAK harus mengedan

Riwayat Perjalanan Penyakit


Pasien datang ke RS Abdul Moeloek rujukan dari RS Mitra Husada,
Pringsewu dengan keluhan tidak bisa BAK sejak 1bulan yang lalu. Keluhan
dirasakan sejak 1 tahun yang lalu dan memberat sejak 1 bulan yang lalu.
Sejak 1 tahun yang lalu untuk memulai BAK pasien harus mengedan agar
BAK nya keluar. Urin yang dikeluarkan pancarannya melemah dan diakhir
BAK urin menetes. Pasien juga merasakan BAK tidak tuntas dan tidak
merasa puas. Pasien mengeluhkan nyeri pada saat BAK dan juga mengaku
perut pada bagian bawah terasa penuh. Dalam 1 malam pasien dapat BAK 5-6
kali. Pasien merasa keluhannya semakin parah sejak 1 bulan yang lalu sampai
pasien tidak dapat BAK dan terasa sakit sekali. Pasien sudah pernah berobat
ke Puskesmas terdekat dan di pasang kateter, jika kateter di lepas pasien
mengeluhkan tidak bisa BAK lagi dan terasa sakit sekali. Pasien menyangkal
keluar pasir saat BAK, keluhan demam dan riwayat trauma saluran urinarius
disangkal.

Riwayat Penyakit Terdahulu

1. Penyakit terdahulu : Tidak ada


2. Trauma terdahulu : Tidak ada
3. Operasi : Tidak ada
4. Sistem saraf : Tidak ada
5. Sistem kardiovaskuler : Tidak ada
6. Sistem gastrointestinal : Tidak ada
7. Sistem urinarius : Tidak ada
8. Sistem genitalis : Tidak ada
9. Sistem musculoskeletal : Tidak ada

Riwayat Keluarga
Pasien menyangkal di dalam keluarga ada yang mengalami hal serupa.

Riwayat Pribadi Sosial Ekonomi


Pasien merokok, mengkonsumsi kopi dan jarang berolahraga

III. STATUS PRESENT


Status umum
1. Keadaan umum : Tampak sakit sedang
2. Kesadaran : Compos mentis, GCS : 15, E: 4, V: 5, M: 6
3. Kulit : Akral hangat, turgor baik
Pemeriksaan fisik

1. Tanda Vital
a. Tekanan darah : 130/80 mmHg
b. Pernafasan : 20 x/menit, reguler
c. Nadi : 87x/menit, reguler, isi cukup
d. Suhu : 36,90C
2. Kepala dan wajah
a. Bentuk dan ukuran : Normocephal, simetris
b. Mata
 Konjungtiva : Anemis (-/-)
 Sklera : Ikterik (-/-)
 Reflek cahaya : (+/+)
 Pupil : Isokor, Bulat , Letak Central
c. Telinga : Dalam batas normal
d. Hidung : Dalam batas normal
e. Tenggorokan : Dalam batas normal
f. Mulut : Dalam batas normal
g. Gigi : Dalam batas normal
3. Leher
a. Kelenjar getah bening : Tidak terdapat pembesaran
b. Kelenjar tiroid : Dalam batas normal
4. Dada (thorax)

Anterior Posterior

Inspeksi Hemithoraks simetris kiri Hemithoraks simetris


dan kanan, ictus cordis kiri dan kanan , ictus
tidak terlihat cordis tidak terlihat

Palpasi Nyeri tekan (-), ictus cordis Nyeri tekan (-),ictus


teraba cordis teraba
Perkusi Kiri Sonor Sonor

Kanan Sonor Sonor

Auskultasi Kiri Vesikuler Vesikuler

Kanan Vesikuler Vesikuler

BJI-II Reguler, normal BJI-II Reguler, normal

5. Abdomen
 Inspeksi : Datar, lesi (-)
 Palpasi : Organomegali (-) Nyeri tekan (-)
 Perkusi : Timpani
 Auskultasi : Bising usus (+) 8x/menit
6. Ekstremitas
 Superior : Sianosis (-/-), oedema (-/-), CRT <2s
 Inferior : Sianosis (-/-), oedema (-/-), CRT <2s
7. Status Lokalis
- Regio Costovertebra
Inspeksi : Simetris, massa (-), lesi (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-), Bimanual ballottement ginjal (-)
Perkusi : Nyeri ketok ginjal (-)
Auskultasi : Tidak dilakukan
- Regio Supra Pubis
Inspeksi : Terdapat rambut pubis, tidak ada benjolan
Palpasi : Nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) 8x/menit
- Regio Genitalia Eksterna
Inspeksi :Orifisium uretra eksterna baik, Benjolan (-),
Ulkus(-), Hiperemis (-), terpasang kateter
Palpasi :Testis teraba dua buah, kanan dan kiri. Konsistesi
kenyal, nyeri tekan (-), massa (-)
- Regio Anal
Inspeksi : Bentuk normal, benjolan (-)
Rectal Toucher :
- Tonus sfingter ani (+)
- Pada mukosa permukaan licin, ampula recti tidak kolaps
- Prostat : Teraba massa arah jam 11-1, konsistensi kenyal dan
padat, batas tegas, permukaan rata licin, nodul (-)
- Handscoon : Feses, lendir dan darah tidak ada

IV. STATUS LOKALIS


1. Regio genitalia : Terpasang kateter (16F) yang terisi urin ±500
cc, darah (-), pasir (-)
2. Regio Suprapubik : Inspeksi : Datar
Palpasi : nyeri tekan (-)
Perkusi : timpani

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Darah rutin
Hb : 12,4 (13-18 g/dL)
Leukosit : 6.500 (4.800-10.800 /µL)
Eritrosit : 4,1 (4,7-6,1 juta/ µL)
Ht : 34 (42-52 %)
Trombosit : 279.000 (150.000-450.000/µL)
MCV : 82 (79-99 fL)
MCH : 30 (27-31 pg)
MCHC : 37 (30-35 g/dL)
Hitung jenis
- Basofil : 0 (0-1%)
- Eosinofil : 0 (2-3%)
- Batang : 0 (3-2%)
- Segmen : 71 (50-70%)
- Limfosit : 21 (25-40%)
- Monosit : 8 (2-8 %)

b. Kimia
Tidak dilakukan
c. Urine Rutin
Tidak dilakukan
d. Faces Rutin : Tidak dilakukan
e. Radiologi
USG Traktus Urinarius:
Hasil
Ren : Besar normal, intensitas echo parenkim normal. Batas tekstur
Dextra parenkim dengan central echocomplek jelas, sistem pelviokalises
tak tampak ektasis, tak tampak batu/massa/cyst.
Ren : Besar normal, intensitas echo parenkim normal. Batas tekstur
Sinistra parenkim dengan central echocomplek jelas, sistem pelviokalises
tak tampak ektasis, tak tampak batu/massa/cyst.
VU : Terpasang balon catheter, lumen VU terisi cairan optimal,
dinding tebal, tak tampak massa/batu
Prostat : Ukuran membesar (Volume 42,2 ml), echostruktur normal,
massa/kalsifikasi (-).
Kesan
- Hiperplasia prostat
- Cystitis
- Tidak tampak vesikolithiasis maupun nephrolithiasis
IV. DIAGNOSIS BANDING
1. Benign Prostat Hyperplasia
2. Striktur uretra
3. Ca Prostat

V. DIAGNOSIS KERJA
Benign prostat hyperplasia

VI. TERAPI
Medikamentosa
1. 5 α reduktase inhibitor : Finasterid 5 mg/hari
Dutasterid 0,5 mg/hari
2. α Blocker : Tamsulosin 0,4 mg/hari
Operatif
TUR Prostat

VII.PROGNOSIS
Qua ad vitam : dubia ad Bonam
Qua ad sanationam : dubia ad Bonam
Qua ad fungsionam : dubia ad Bonam
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Benign Prostat Hyperplasia (BPH)

1. Definisi
BPH(Benign Prostat Hiperplasia) addalah suatu keaddan dimana kelenjar

prostat mengalami pembesaran, memanjang ke atas ke dalam kandung kemih

dan menyumbat aliran urin dengan menutup orifisium uretra. BPH merupakan

kondisi patologis yang paling umum pada pria ( Smeltzer dan Bare, 2002)

2. Etiologi

BPH terjadi karena proliferasi stroma dan epithelial dari glandula prostatyang

sering didapatkan gejala voiding.Dengan bertambahnya usia, akan terjadi

perubahan testosteron estrogenkarena produksi testosteron menurun dan terjadi

konversi testosteron menjadiestrogen pada jaringan adiposa di perifer.Hingga

sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinyahyperplasia

prostat; tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasiaprostat erat

kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron ( DHT ) danproses

aging ( menjadi tua ). Beberapa hipotesis yang diduga sebagai

penyebabtimbulnya hiperplasia prostat adalah :

1. Teori dihidrotestosteron

2. adanya ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron

3. interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat

4. berkurangnya kematian sel ( apoptosis )

5. teori stem sel


1. Teori Dihidrotestosteron

Dihidrotestosteron atau DHT adalah metabolit androgen yang sangatpenting

pada pertumbuhan sel – sel kelenjar prostat. Dibentuk daritestosterone di dalam

sel prostat oleh enzim 5α- reduktase dengan bantuankoenzim NADPH. DHT

yang telah terbentuk berikatan dengan reseptorandrogen ( RA ) membentuk

kompleks DHT-RA pada inti sel dan selanjutnyaterjadi sintesis protein growth

factor yang menstimulasi pertumbuhan selprostat. Pada berbagai penelitian

dikatakan bahwa kadar DHT pada BPH tidakjauh berbeda dengan kadarnya

pada prostat normal, hanya saja pada BPH,aktivitas enzim 5α- reduktase dan

jumlah reseptor androgen lebih banyakpada BPH. Hal ini menyebabkan BPH

lebih sensitif terhadap DHT sehinggareplikasi sel lebih banyak terjadi

dibandingkan dengan prostat normal.

2. Ketidakseimbangan Antara Estrogen – testosteron

Pada usia yang semakin tua, kadar testosteron menurun, sedangkankadar

estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen :testosteron relatif

meningkat. Telah diketahui bahwa estrogen di dalamprostat berperan dalam

terjadinya proliferasi sel – sel kelenjar prostat dengancara meningkatkan

sensitifitas sel – sel prostat terhadap rangsangan hormonandrogen,

meningkatkan jumlah reseptor androgen dan menurunkan jumlahkematian sel –

sel prostat ( apoptosis ). Hasil akhir dari semua keadaan iniadalah, meskipun
rangsangan terbentuknya sel –sel baru akibat rangsangantestosteron menurun,

tetapi sel – sel prostat yang telah ada mempunyai umuryang lebih panjang

sehingga massa prostat menjadi lebih besar.

3. Interaksi Stroma – Epitel

Cunha ( 1973 ) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan selepitel

prostat secara tidak langsung dikontrol oleh sel – sel stroma melaluisuatu

mediator ( growth factor ) tertentu. Setelah sel – sel stromamendapatkan

stimulasi dari DHT dan estradiol, sel – sel stroma mensintesissuatu growth

factor yang selanjutnya mempengaruhi sel – sel epitel secaraparakrin. Stimulasi

itu menyebabkan terjadinya proliferasi sel – sel epitelmaupun sel stroma.

4. Berkurangnya Kematian Sel Prostat

Program kematian sel ( apoptosis ) pada sel prostat adalah mekanismefisiologi

untuk mempertahankan homeostasis kelenjar prostat. Padaapoptosis terjadi

kondensasi dan fragmentasi sel yang selanjutnya sel –selyang mengalami

apoptosis akan difagositosis oleh sel – sel di sekitarnyakemudian didegradasi

oleh enzim lisosom.Pada jaringan normal, terdapat keseimbangan antara laju

proliferasi seldengan kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat

sampai padaprostat dewasa, penambahan jumlah sel – sel prostat baru dengan

yang matidalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel – sel prostat

yangmengalami apoptosis menyebabkan jumlah sel – sel prostat

secarakeseluruhan menjadi meningkat sehingga menyebabkan pertambahan

massaprostat.

5. Teori Sel Stem


Untuk mengganti sel – sel yang telah mengalami apoptosis, selaludibentuk sel

– sel baru. Di dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitusel yang

mempunyai kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Kehidupansel ini

sangat tergantung pada keberadaan hormon androgen, sehingga jikahormon ini

kadarnya menurun seperti yang terjadi pada kastrasi,menyebabkan terjadinya

apoptosis. terjadinya proliferasi sel – sel pada BPHdipostulasikan sebagai

ketidaktepatan aktivitas sel stem sehingga terjadiproduksi yang berlebihan sel

stroma atau sel epitel (Kapita Selekta, 2016)

3. Patofisiologi
Biasanya ditemukan gejala dan tanda obstruksi serta iritasi. Gejala dan tanda

obstruksi saluran kemih berarti penderita harus menunggu padapermulaan

miksi, miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran miksi menjadi lemah

dan rasa belum puas sehabis miksi. Gejala iritasi disebabkan hipersensitivitas

otot detrusor berarti bertambahnya frekuensi miksi, nokturia, miksi sulit

ditahan dan disuria. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal berkontraksi

cukup kuat atau gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus –

putus. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna pada saat

miksi atau pembesaran miksi atau pembesaran prostat menyebabkan

rangsangan pada kandung kemih sehingga vesika sering berkontraksi

meskipunbelum penuh. Gejala dan tanda ini diberi skor untuk menentukan

berat keluhan klinis. Apabila vesika menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi

urin sehingga pada akhir miksi masih di dalam kandung kemih dan timbul rasa

tidak tuntas pada akhir miksi. Jika keadaan ini berlanjut, pada suatu saat akan

terjadikemacetan total sehingga penderita tidak mampu lagi miksi. Karena


produksiurin terus terjadi, pada suatu saat vesika tidak mampu lagi

menampung urin sehingga tekanan intra vesika terus meningkat. Apabila

tekanan vesika menjadi menjadi lebih tinggi daripada tekanan sfingter dan

obstruksi, akan terjadi inkontinensia paradoks. Retensi kronik menyebabkan

refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal. Proses

kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. pada waktu miksi, penderita

harus selalu mengeda sehingga lama kelamaan menyebabkan hernia atau

hemoroid. Karena selalu terdapat sisa urin, dapat terbentuk batu endapan di

dalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan

menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula menyebabkan sistitis dan

bila terjad refluks, dapat terjadi pielonefritis(Kapita Selekta, 2016).

4. Manifestasi Klinis
Pada umumnya, pasien BPH datang dengan gejala traktus urinarius bawah

(lower urinary tract symptomps-LUTS) yang terdiri dari gerjala obstruksi dan

iritasi (Ikatan Ahli Urologi Indonesia, 2015).

Gejala obstruksi yang mungkin timbul adalah:

a) Miksi terputus

b) Hesistancy: saat miksi pasien harus menungu sebelum urin keluar

c) Harus mengedan saat miksi

d) Berkurangnya kekuatan dan pancaran urin

e) Sensasi tidak selesai saat berkemih

f) Miksi ganda (berkemih untuk kedua kalianya dalam waktu <2 jam

setelah miksi sebelumnya).

g) Menetes pada akhir miksi


Gejala iritasi yang mungkin timbul adalah:

a) Frekuensi: menjadi sering bermiksi

b) Urgensi: rasa tidak dapay menahan lagi saat ingin miksi

c) Nokturia: terbangun saat malam hari untuk miksi

d) Inkontinensia: urin keluar di luar kehendak

5. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan memalalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang (Ikatan Urologi Indonesia, 2015).

1. Anamnesis

a) Riwayat Penyakit

Pemeriksaan awal terhadap pasien BPH adalah melakukan anamnesis

atau wawancara yang cermat guna mendapatkan data tentang riwayat

penyakit yang dideritanya.

Anamnesis itu meliputi:

 Keluhan yang dirasakan dan berapa lama keluhan itu telah

mengganggu.

 Seluruh gejala iritasi dan obstruksi perlu ditanyakan secara

lengkap.

 Riwayat penyakit lain dan penyakit pada saluran urogenitalia

(pernah mengalami cedera, infeksi, kencing berdarah

(hematuria), kencing batu, atau pembedahan pada saluran

kemih).

 Riwayat kesehatan secara umum dan keadaan fungsi seksual.


 Riwayat konsumsi obat yang dapat menimbulkan keluhan

berkemih.

b) Skor keluhan

Pemandu untuk mengarahkan dan menentukan adanya gejala obstruksi

akibat pembesaran prostat adalah sistem penskoran keluhan. Salah

satu sistem penskoran yang digunakan secara luas adalah International

Prostate Symptom Score (IPSS) yang telah dikembangkan American

Urological Association (AUA) dan distandarisasi oleh World Health

Organization (WHO). Skor ini berguna untuk menilai dan memantau

keadaan pasien BPH. IPSS terdiri atas 7 pertanyaan yang masing-

masing memiliki nilai 0 hingga 5 dengan total maksimum 35.

Kuesioner IPSS dibagikan kepada pasien dan diharapkan pasien

mengisi sendiri setiap pertanyaan. Berat-ringannya keluhan pasien

BPH dapat digolongkan berdasarkan skor yang diperoleh, yaitu: skor

0-7: ringan, skor 8-19: sedang, dan skor 20-35: berat. Selain 7

pertanyaan di atas, di dalam daftar pertanyaan IPSS terdapat satu

pertanyaan tunggal mengenai kualitas hidup (quality of life atau QoL)

yang juga terdiri atas 7 kemungkinan jawaban. Kuisioner IPSS dapat

dilihat pada gambar X (Barry, Fowler, dan O'Leary MP, et al, 1992).
Gambar X. Kuisioner IPSS
2. Pemeriksaan fisik

Colok dubur merupakan pemeriksaan fisik yang sangat penting pada

kasus BPH. Pelapran yang dilakukan adalah adaanya pembesaran prostat,

konsistensinya, dan ada/tidaknya nodul. Selain itu, dapat dilakukan

pemeriksaan regio suprapubik untuk menilai distensi vesika dan fungsi

neuromuskular eksrtemitas bawah.

3. Pemeriksaan penunjang

BPH dapat diperiksa melalui pemeriksaan:

a) Prostate spesific antigen (PSA), bersifat spesifik organ tetapi tidak

spesifik kanker. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk menilai

bagaimana perjalanan penyakit BPH selanjutnya. Kadar PSA yang

lebih tinggi dapat berarti laju pertumbuhan volume prostat yang lebih

cepat, keluhan akibat BPH lebih berat, atau lebih mudah terjadi retensi

utin akut. Rentang normal nilai PSA adalah:

 40-90 tahun: 0-2,5 ng/mL

 50-59 tahun: 0-3,5 ng/mL

 60-69 tahun: 0-4,5 ng/mL

 70-79 tahun: 0-6,5 ng/mL

Nilai PSA> 4 ng/mL merupakan indikasi tindakan biopsi prostat

b) Flowmetri: Qmax (laju pancaran urine maksimal). Pada pasien BPH

biasanya turun <15cc.

c) USG/Kateter untuk menilai volume urin residual


d) Transrectal/Transabdominal USG: untuk mengukur volume prostat

dan menemukan gambaran hipoekoik

e) Pemeriksaan atas indikasi: intravenous pyelografi (IVP) dan

sistogram.

6. Tatalaksana

Menurut Gravas S, Bachmann A, Descazeaud A tahun 2014, tatalaksana untuk

BPH berkisar antara observasi waspada (watchful waiting) hingga diperlukan

intervensi. Skor IPSS dapat digunakan sebgaai patokan untuk panduan

tatalaksana. Prinsip pengobatan BPH adalah untuk mengurangi resistensi otot

polos prostat (komponen dinamis) atau mengurangi volume prostat (komponen

statis) .

1. Obstervasi waspada (watchful waiting)

Tidak seluruh pasien BPH yang bergejala akan terus mengalami

perburukan. Observasi waspada dapat dilakukan pada pasien bergejala

ringan dengan skor IPSS 0-7. Evaluasi dilakukan secara berkala, yaitu

pada 3,6, dan 12 bulan kemudian, serta dilanjutkan 1 kali pertahun.

2. Farmakologi

Terapi medikamentosa diberikan pada pasien dengan skor IPSS >7. Jenis

obat yang digunakan adalah:

a) α1-blocker

Pengobatan dengan α1-blocker bertujuan menghambat kontraksi

otot polos prostat sehingga mengurangi resistensi tonus leher

kandung kemih dan uretra. Beberapa obat α1-blocker yang


tersedia, yaitu terazosin, doksazosin, alfuzosin, dan tamsulosin

yang cukup diberikan sekali sehari. Obat golongan ini dapat

mengurangi keluhan storage symptom dan voiding symptom dan

mampu memperbaiki skor gejala berkemih hingga 30-45% atau

penurunan 4-6 skor IPSS. Tetapi obat α1-blocker tidak mengurangi

volume prostat maupun risiko retensi urine dalam jangka panjang.

Masing-masing α1-blocker mempunyai tolerabilitas dan efek

terhadap sistem kardiovaskuler yang berbeda (hipotensi postural,

dizzines, dan asthenia) yang seringkali menyebabkan pasien

menghentikan pengobatan. Penyulit lain yang dapat terjadi adalah

ejakulasi retrograd. Salah satu komplikasi yang harus diperhatikan

adalah intraoperative floppy iris syndrome (IFIS) pada operasi

katarak dan hal ini harus diinformasikan kepada pasien.

b) 5α-reductase inhibitor

5α-reductase inhibitor bekerja dengan menginduksi proses

apoptosis sel epitel prostat yang kemudian mengecilkan volume

prostat hingga 20 – 30%. 5a-reductase inhibitor juga dapat

menurunkan kadar PSA sampai 50% dari nilai yang semestinya

sehingga perlu diperhitungkan pada deteksi dini kanker prostat.

Saat ini, terdapat 2 jenis obat 5α-reductase inhibitor yang dipakai

untuk mengobati BPH, yaitu finasteride dan dutasteride. Efek

klinis finasteride atau dutasteride baru dapat terlihat setelah 6

bulan. Finasteride digunakan bila volume prostat >40 ml dan


dutasteride digunakan bila volume prostat >30 ml. Efek samping

yang terjadi pada pemberian finasteride atau dutasteride ini

minimal, diantaranya dapat terjadi disfungsi ereksi, penurunan

libido, ginekomastia, atau timbul bercak-bercak kemerahan di

kulit.

3. Pembedahan

Pembedahan dapat memperbaiki klinis pasien BPH secara obyektif,

namun dapat disertai berbagai penyulit pasa saat atau setelah operasi.

Indikasi pembedahan adalah:

a) Retensi urin

b) Infeksi saluran kemih berulang

c) Hematuria makroskopis

d) Gagal ginjal

e) Divertikulum buli yang besar

f) Batu buli

g) Keluhan pasien sedang hingga berat

h) Tidak ada perbaikan dengan terapi non-bedah

i) Pasein menolak medikamentosa

Terdapat tiga teknik pembedahan yang direkomendasikan adalah:

1. Prostatektomi terbuka. Disarankan pada pasien dengan volume

prostat >80-100 cm3. Komplikasi yang dapat terjadi adalah striktur

uretra dan inkontinensia urin.


2. Insisi prostat transuretra (TUIP). Prosedur yang dilakukan pada

volume prostat yang kecil, yaitu kurang dari 30 cm3, tidak terdapat

pembesaran lobus medius, dan tanpa kecurigaa karsinoma prostat.

3. Reseksi prostat transuretra (TURP). Saat ini, TURP menjadi peosedur

baku. Kejadian trauma lebih sedikit dengan masa pemulihan lebih

singkat.

3.2 Ultrasonografi (USG)

1. Definisi
Ultrasonografi (USG) adalah alat pemeriksaan dengan menggunakan ultrasound
(gelombang suara) yang dipancarkan oleh transduser. Suara merupakan fenomena
fisika untuk mentransfer energi dari satu titik ke titik yang lainnya sehingga
mendapatkan gambaran yang jelas hampir semua bagian tubuh, kecuali bagian
tubuh yang dipenuhi udara atau ditutupi tulang.

2. Komponen USG
1. Transduser
Salah satu bagian dari alat USG adalah transduser. Tranduser merupkan alat yang
nantinya akan ditempelkan pada tubuh pasien. Didalam alat ini terdapat material
piezoelektrik yang mampu menghasilkan “piezoelektrik effect” yaitu bila
diberikan energi listrik akan menimbulkan suatu getaran yang kemudian
menghasilkan gelombang suara, begitu pula sebaliknya apabila ada gelombang
suara yang dipantulkan oleh organ, maka piezoelektrik ini akan menangkap dan
merubah menjadi sinyallistrik. Pulsa yang di pancarkan kemudian dipantulkan
oleh organ dan ditangkap kembali oleh tranduser. Pulsa itu akan di ubah menjadi
data digital dan diolah secara komputer sehingga menjadi sebuah gambar yang di
tampilkan pada layar monitor. Teknologi transduser digital sekiar tahun 1990an
memungkinkan sinyal gelombang suara yang diterima menghasilkan tampilan
gambar suatu jaringan tubuh dengan lebih jelas.Penemuan komputer pada
pertengahan 1990 jelas sangat membantu teknologi ini.
Gelombang suara akan melalui proses sebagai berikut, pertama, gelombang akan
diterima transduser. Kemudian gelombang tersebut diproses sedemikian rupa
dalam komputer sehingga bentuk tampilan gambar akan terlihat pada layar
monitor. Transduser yang digunakan terdiri dari transducer penghasil gambar 2
dimensi atau 3 dimensi. Hingga USG berkembang sedemikian rupa hingga saat
ini.

Transduser Ultrasonik adalah piranti yang dapat mengubah suatu bentuk energi
kedalam bentuk energi lain. Transduser ultrasonik untuk merubah suatu sinyal
listrik kedalam energi suara ultra yang dapat dipancarkan kedalam jaringan,
mengubah energi ultrasonik yang dipantulkan kembali dari jaringan/materi ke
dalam sinyal listrik. Pada sistem elektronik, gelombang ultrasonik dapat
dibangkitkan melalui kristal tipis yang bersifat piezoelektrik terbuat dari bahan
alami kuarsa, garam rochelle, tourmaline atau bahan piezoelektrik buatan,
misalnya: Barium Titanate, Lead Circonate-titanate, Lead Metaniobate. Bahan
tersebut bersifat seperti kapasitor dengan konstanta dielektrik tertentu yang
memiliki perbedaan muatan listrik dalam lapisannya.

Penggunaan gaya perubahan bentuk atau tegangan pada kristal asimetris akan
menciptakan suatu tegangan listrik, fonemena ini disebut dengan efek
piezoelektrik. Ketika transduser piezoelektrik berfungsi sebagai pemancar
(transmitter) akan mengubah energi listrik menjadi energi mekanis (efek
piezoelektrik terbalik), dan bila sebagai penerima (receiver) maka akan mengubah
energi mekanis menjadi energi listrik (efek piezoelektrik). Untuk membangkitkan
gelombang ultrasonik, bahan tersebut digetarkan oleh rangkaian osilator. Pola
radiasi yang dipancarkan melalui tranduser yang berada didepan nya tergantung
pada diameter transduser dan panjang gelombangnya sehingga transduser yang
sama dapat memiliki pola radiasi yang berlainan jika medium yang dilalui juga
berlainan.
Gambar 1. Transduser

2. Monitor USG
Monitor adalah layar yang digunakan untuk menampilkan bentuk gambar dari
hasil pengolahan data komputer. Monitor yang digunakan pada awal penemuan
USG masih berupa layar tabung besar yang terpisah dari mesin USG.
Perkembangan teknologi yang terus berkembang pesat membawa kemajuan pada
teknologi monitor. Kalau pada awal penemuan memakai layar tabung yang besar
kini sudah menggunakan layar kecil dan tipis. Awal penemuan USG layar
monitor masih hitam putih sekarang sudah berwarna. Layar monitor sekarang
juga menjadi satu dengan alat USG sehingga bentuk USG lebih terlihat kecil.

3. Mesin USG
Mesin USG merupakan bagian dari sistem alat USG dimana fungsinya untuk
mengolah data yang diterima dalam bentuk gelombang. Mesin USG adalah pusar
kontrol USG sehingga di dalamnya terdapat komponen-komponen yang sama
seperti CPU pada komputer. Dimana cara kerja USG merubah gelombang
menjadi gambar. Mesin pada USG digunakan sebagai pengolah data.Sinyal suara
yang diterima transduser akan dirubah menjadi sinyal listrik dan akan dikirim ke
mesin. Komputer merubah sinyal listrik menjadi data gambar dan merekonstruksi
gambar. Kemudian hasil olahan komputer akan di tampilkan pada monitor.

Dalam peralatan USG, layar monitor merupakan salah satu media output dari
gambaran yang diperoleh yang diperoleh setelah sinyal listrik dari pengolahan
komputer, dahulu layar monitor yang digunakan adalah jenis CRT dengan resolusi
gambar yang baik. Namun dengan siring kemajuan teknologi, saat ini tersedia
layar monitor berupa LCD maupun LED yang lebih simpel dan mempunyai
banyak variasi warna. Layar ini biasanya lebih datar dan tipis sehingga lebih
praktis.

4. Printer
Pada peralatan USG, printer merupakan media output dari gambaran yang
diperoleh dari pengolahan komputer, pada zaman dahulu piranti printer ditempati
oleh foto Polaroid namun sekarang sudah diganti dengan film khusus, yaitu film
termal. Saat ini terdapat dua jenis printer yang digunakan yaitu printer berwarna
dan printer hitam putih. Printer warna akan lebih mahal dari printer hitam-putih.
Jika tidak ada printer USG, dapat juga digunakan printer lain seperti printer pada
komputer pada umumnya, maupun printer foto. Kekurangan jika menggunakan
printer lain, gambar tidak sejelas printer khusus USG dan printer ini tergantung
dari isi tinta di dalamnya.

Gambar 2. Mesin dan monitor USG


3. Prinsip Kerja Alat Ultrasonografi (USG)
Gelombang USG dihasilkan oleh sebuah tranduser (alat transmisi dan penerima
gelombang USG) yang mampu mengubah sinyal elektrik menjadi gelombang
mekanis. Tranduser yang sama dapat pula menerima gelombang yang dipantulkan
dan kemudian mengubahnya kembali menjadi sinyal elektrik. Sedangkan
gelombang yang dihasilkan oleh tranduser mempunyai getaran yang frekuensinya
2 hingga 10 MHz (1 MHz sama dengan 1.000.000 siklus per detik). Durasi dan
getaran tersebut adalah sekitar 1 mikro detik (seperjuta detik) yang berbeda akan
mengubah gelombang tersebut dengan cara yang berbeda. Sebagian
memantulkannya secara langsung sedangkan sebagian yang lainnya
menghamburkan itu sebelum kembali kepada tranduser sebagai gelombang eko
(echo). Gelombang bunyi melintas jaringan dengan kecepatan yang berbeda.

Transduser bekerja sebagai pemancar dan sekaligus penerima gelombang suara.


Pulsa listrik yang dihasilkan oleh generator diubah menjadi energi akustik oleh
transducer yang dipancarkan dengan arah tertentu pada bagian tubuh yang akan
dipelajari. Sebagian akan dipantulkan dan sebagian lagi akan merambat terus
menembus jaringan yang akan menimbulkan bermacam-macam pantulan sesuai
dengan jaringan yang dilaluinya. Pantulan gema yang berasal dari jaringan-
jaringan tersebut akan membentur transducer dan akan ditangkap oleh transducer,
dan kemudian diubah menjadi pulsa listrik lalu diperkuat dan selanjutnya
diperlihatkan dalam bentuk cahaya pada layar monitor. Gelombang ini kemudian
diteruskan ke tabung sinar katoda melalui recevier seterusnya ditampilkan sebagai
gambar di layar monitor.

Getaran USG yang dipantulkan dan terdeteksi lewat tranduser harus diperkuat
atau diamplifikasi dalam skener. Echo yang kembali dari struktur yang lebih
dalam tidak sekuat echo yang berasal dari jaringan yang berada di dekat
permukaan, sehingga memerlukan amplifikasi yang lebih besar. Skener USG
memiliki alat kontrol yang dapat mengubah keseluruhan sensitifitas, yaitu nilai
ambang dari instrumen tersebut disamping mengubah amplifikasi echo dari
pelbagai kedalaman yang berlainan. Ketika echo kembali pada tranduser,
gambaran dari semua jaringan yang sudah ada dalam berkas pancaran suara
tersebut dapat direkonstruksi. Informasi tersebut disimpan dalam komputer dan
diperhatikan melalui monitor video atau televisi.

Hasil pemeriksaan ultrasonografi


- Putih (hyperechoic/hyperechoigenic): tulang, otot padat.
- Abu-abu (putih+hitam) atau hypoechoic: hepar, otak, uterus,ren.
- Hitam (anechoic/anechoigenic): cairan dan sejenisnya

4. Jenis Pemeriksaan USG


1. USG 2 Dimensi
Menampilkan gambar dua bidang (memanjang dan melintang). Kualitas
gambar yang baik sebagian besar keadaan janin dapat ditampilkan. Dari hasil
gambar 2D diperoleh bentuk citra P x L (panjang x lebar)
2. USG 3 Dimensi
Dengan alat USG ini maka ada tambahan 1 bidang gambar lagi yang disebut
koronal. Gambar yang tampil mirip seperti aslinya. Permukaan suatu benda
(dalam hal ini tubuh janin) dapat dilihat dengan jelas. Begitupun keadaan
janin dari posisi yang berbeda. Ini dimungkinkan karena gambarnya dapat
diputar (bukan janinnya yang diputar). Untuk gambar 3 dimensi diperoleh
bentuk citra P x L x Tebal (Panjang x lebar x Tebal
3. USG 4 Dimensi Ultrasonografi (USG)
Adalah teknik yang dilakukan di mana gelombang suara frekuensi sangat
tinggi ditransmisikan ke dalam tubuh, yang mencerminkan gema yang dibawa
kembali dan dianalisis untuk membuat gambar. Gambar yang akan
ditampilkan adalah gambar organ internal dan janin yang sedang beristirahat
di dalam rahim. 4D adalah singkatan untuk empat dimensi. USG 4D adalah
teknologi USG terbaru prenatal yang mengambil gambar tiga dimensi USG
3D dan menambahkan elemen waktu untuk proses. Hal ini memungkinkan
untuk melihat bayi yang belum lahir secara detail. Sebuah USG 4D
menggunakan teknologi yang sama tetapi dengan kemajuan bahkan lebih.
Dalam jenis scan, gelombang suara dikirim kembali pada sudut yang berbeda
sehingga volume hidup seperti tiga dimensi.Pada USG 4 dimensi diperoleh
bentuk citra P x L x Tebal + pembuluh darah dapat divisualisasi dan bergerak.
4. USG Doppler
Pemeriksaan USG yang mengutamakan pengukuran aliran darah terutama
aliran tali pusat.Alat ini digunakan untuk menilai keadaan/kesejahteraan janin.
Penilaian kesejahteraan janin ini meliputi:
- Gerak napas janin (minimal 2x/10 menit).
- Tonus (gerak janin).
- Indeks cairan ketuban (normalnya 10-20 cm).
- Doppler arteri umbilikalis.
- Reaktivitas denyut jantung janin.
Pada aplikasi USG aliran darah menyebabkan pergeseran frequensi yang
disebut frequensi Doppler, yaitu beda antara frequensi refleksi dan
transmitter.

USG pada BPH

Ultrasonografi (USG) merupakan salah satu pencitraan diagnostik untuk


pemeriksaan organ-organ bagian dalam tubuh manusia. USG dapat digunakan
untuk mempelajari bentuk, ukuran anatomi, gerakan serta hubungan dengan
jaringan sekitarnya. Pemeriksaan ini bersifat non-invasif pada tubuh pasien, data
nilai diagnostik yang tinggi, aman, dan tidak mempunyai kontra indikasi
(Maleuka, 2007).

Prosedur diagnosis USG dianalisis dari gelombang suara yang dilakukan di atas
permukaan kulit untuk menghasilkan suatu ultrasound di dalam jaringan.
Gelombang selalu membawa energi, oleh sebab itu energi yang berasal dari
gelombang ultrasonik akan diserap oleh jaringan. Oleh karena energi gelombang
ultrasonik sangat kecil dibandingkan dengan sinar X, maka penyerapan energi
gelombang ultrasonik ini hanya akan menyebabkan peningkatan suhu jaringan.
Semakin tinggi frekuensi suara, akan semakin besar absorbsi energi oleh jaringan,
sehingga semakin sedikit suara yang dapat diteruskan maupun dipantulkan (Boer
azwar, 2007).
Dalam 20 tahun terakhir ini diagnostik ultrasonik berkembang dengan pesatnya
sehingga saat ini USG mempunyai peranan yang penting untuk menentukan
kelainan berbagai organ tubuh misalnya kelenjar prostat. Kelenjar prostat adalah
organ tubuh pria yang paling sering mengalami pembesaran baik jinak maupun
ganas. Pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hiperplasia yang selanjutnya
disingkat BPH. Penyebab terjadinya BPH adalah Kelenjar periuretra mengalami
pembesaran sedangkan jaringan prostat asli terdesak ke perifer menjadi
kapsul.BPH akan timbul selling dengan bertambahnya usia sebab BPH berkaitan
erat dengan penuaan.

Salah satu penyebab BPH adalah menurunnya kadar hormon terutama testosteron.
Hormon testosteron dalam kelenjar prostat akan diubah menjadi dihidrotestosteron.
Dihidrotestosteron inilah yang kemudian secara kronis merangsang kelenjar prostat
sehingga membesar. Pembentukan nodul pembesaran prostat ini sudah tampak
gejalanya pada pria yang berusia 25 tahun sekitar 25 % (Hardjowidjoto S, 2010).

Berdasarkan gambaran klinis pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala
yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal
berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga mengakibatkan: pancaran
miksi melemah, rasa tidak puas sehabis miksi, kalau mau miksi harus menunggu
lama (hesitancy), hams mengejan (straining), kencing terputus-putus
(intermittency), dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin
dan inkontinen karena overflow. (Hardjowidjoto S, 2010).

Gejala iritasi, terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran
prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun
belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitasotot detrusor dengan tanda
dan gejala antara lain: sering miksi (frekwensi), terbangun untuk miksi pada
malam hari (nokturia), perasaan ingin miksi yang mendesak (urgensi), dan nyeri
pada saat miksi (disuria) (Hardjowidjoto, 2010).
Derajat berat gejala BPH di bedakan menjadi 4 stadium:

1. Stadium I
Apabila batas atas prostat mudah teraba dan sisa urin kurang dari 50 ml
ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai
habis. Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan
pengobatan konservatif, misalnya menghambat adrenoresptor alfa, seperti
alfazosin dan terazosin. Keuntungan obat ini adalah efek positif segera terhadap
keluhan, tetapi tidak mempengaruhi proses hiperplasi prostat Sedikitpun
kekurangannya adalah obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian lama.

2. Stadium II
Apabila ditemukan posisi prostat lebih menonjol sehingga dapat teraba
dan sisa urin lebih dari 50ml sampai 100ml, ada keluhan retensi urine tetapi
kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak sampai habis. Ada
rasa tidak enak buang air kecil atau disuria dan menjadi nocturia. Pada stadium II
merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan biasanya dianjurkan
reseksiendoskopi melalui uretra (trans uretra).

3. Stadium III
Apabila ditemukan batas atas prostat sedikit teraba atau tidak dapat teraba
lagi dan sisa urin lebih dari 100 ml. Setiap buang air kecil urine tersisa kira-kira
150 cc. Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila
diperkirakan prostat sudah cukup besar, sehingga reseksi tidak akan selesai dalam
1 jam. Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka dapat
dilakukan melalui trans vesika, retropubik dan perineal.

4. Stadium IV
Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine
menetes secara periodik (over flowin kontinen). Pada stadium IV yang harus
dilakukan adalah membebaskan penderita dari retensi urin total dengan memasang
kateter atau sistotomi.
Manifestasi dari BPH adalah peningkatan frekuensi penuh, nokturia,
dorongan ingin berkemih, anyang-anyangan, abdomen tegang, volume urine yang
turun dan harus mengejan saat berkemih, aliran urine tak lancar, dribbing (urine
terns menerus setelah berkemih), retensi urine akut (Sjamjuhidayat, 2005).

Pemeriksaan Ultrasonografi
Langkah awal persiapan pasien sebelum melakukan pemeriksaan yaitu pasien
disuruh minum air terlebih dahulu agar bisa di peroleh gambar yang lebih jelas di
monitor. Pada saat pemeriksaan berlangsung pasien berbaring dalam keadaan
terlentang dalam keadaan rileks, kemudian di abdomen lumasi dengan jeli yang
berfungsi sebagai penghubung antara transduser dengan permukaan kulit.
Pemeriksaan ini dilakukan pada daerah abdomen untuk melihat dan mengukur
volume dari prostat pada penderita prostat jinak.

Berdasarkan teori yang telah disebutkan dalam tinjauan pustaka menyebutkan


bahwa tingkat keparahan penyakit prostat diklasifikan atas empat stadium dengan
ukuran volume yang juga semakin meningkat, pasien yang menderita BPH rata -
rata berumur di atas 50 tahun.

Pemeriksaan USG untuk mengevaluasi morfologi prostat serta ukuran volume


prostat dapat secara transabdominal dan transrektal. USG transabdominal
menggunakan transmisi gelombang ultrasonik melalui dinding abdomen untuk
melihat organ-organ dalam,termasuk kelenjar prostat. USG transabdominal dan
transrektal dapat memberikan informasi signifikan pembesaran prostat, adanya
batubuli-buli, serta residu urin. (Maleuka, 2007)

USG transabdominal memerlukan pengisian buli-buli yang cukup sebagai


acoustic window. Terdapat korelasi kuat pengukuran volume buli menggunakan
transabdominal dan transrektal pada volume buli kurang dari 400 mL. Transduser
curve frekuensi 2,5 – 5 MHz yang diletakkan di supra simfisis serta menyudut
kearah kaudal dapat memvisualisasikan kelenjar prostat. Gambar diambil pada
potongan transversal dan longitudinal. (Maleuka, 2007)
USG Transabdominal dan Transrektal
Pengukuran volume prostat dengan USG transabdominal pada kapasitas kandung
kemih antara 100 –200 mL dengan ketepatan yang mendekati USG transrektal.
USG transabdominal memerlukan persiapan isi kandung kemih yang cukup agar
dapat menjadi acoustic window, sehingga penetrasi gelombang dapat mencapai
kelenjar prostat. Kelenjar prostat terletak di dasar buli, anterior rektum (Gambar
1). Transduser curve dengan rekuensi 3,5 sampai dengan 5 MHz diletakkan pada
regio suprapubis dengan posisi transversal dan longitudinal (Gambar 2).

Pada USG transabdominal, ukuran normal kelenjar prostat tidak melebihi 3x3x5
cm atau volume tidak melebihi 25 mL. Pengukuran volume prostat menggunakan
formula geometrik ellipsoid:
= p/6 × diameter transversal × diameter anteroposterior × diameter longitudinal.

Berdasarkan studi Hough dan List,USG transabdominal memiliki akurasi cukup


baik untuk mendeteksi dan menilai pembesaranprostat. Penggunaan USG
transrektal (TRUS) pertama kali diperkenalkan oleh Watanabe, dkk. TRUS dapat
mengevaluasi anatomiserta menghitung volume kelenjar prostatsecara akurat pada
penderita BPH yang akanmenjalani terapi bedah atau minimal invasif.
Perhitungan volume prostat dengan TRUS menggunakan proyeksi sagital dan
transversal,sama seperti dengan USG transabdominal. Pemeriksaan menggunakan
transduser khusus frekuensi 6 s/d 10 MHz. Frekuensi lebih rendah, maka
kemampuan gelombang untuk penetrasi jaringan akan lebih dalam, namun
resolusi gambar rendah.(Sidarta, 2008)

Volume kelenjar prostat dapat dihitung menggunakan rumus geometik ellipsoid


yang sama seperti pada USG transabdominal. Tidak terdapat perbedaan signifikan
antara volume prostat yang didapatkan dengan TRUS dan USG transabdominal.
Pengukuran terhadap diameter prostat dipisahkan atas tiga bagian yaitu panjang
anterior - posterior (Dl), panjang longitudinal (D2), dan panjang transversal (D3).
Salah satu gambar hasil pengukuran diameter prostat pasien seperti yang di
tujukan pada gambar berikut
Gambar.3 Hasil USG prostat dan cara pengukuran D1, D2, dan D3

Pada pengukuran ini menggunakan rumus

Dimana 0.53 adalah nilai tetapan dalam penentuan volume organ (prostat), D1
adalah ukuran panjang enterior posterior, D2 adalah ukuran panjang longitudinal
dan D3 adalah ukuran panjang transversal. (Maleuka, 2007).
BAB IV
PEMBAHASAN

Benign Prostat Hyperplasia (BPH) adalah perbesaran kelenjar prostat yang

diakibatkan oleh hiperplasia dari sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat. Ikatan

Urologi Indonesia tahun 2015 menyatakan diagnosis BPH dapat ditegakkan

dengan menilai anamnesis, pemeriksaan fisik dan juga pemeriksaan penunjang.

Anamnesis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya tanda dan gejala BPH pada

pasien. Berdasarkan dari anamnesis yang telah dilakukan, tanda dan gejala yang

dialami oleh pasien dalam kasus ini menunjukan kesesuaian dengan teori yang ada

bahwa pasien BPH akan megalami gejala LUTS iritatif dan obstruktif. Gejala

LUTS iritatif yang dialami pasien dalam kasus ini adalah frekuensi dan nokturia

karena berkemih 15 kali dalam semalam. Gejala LUTS obstruktif yang dialami

pasien dalam kasus ini adalah hesistensi karena butuh waktu sekitar 3-5 menit

untuk berkemih, straining karena harus mengejan terlebih dahulu agar urin keluar,

weak stream karena pancaran urin melemah, terminal dribling karena diakhir

BAK urin menetes, dan setelah melakukan BAK pasien merasa belum puas.

Pemeriksaan fisik pada kasus BPH yang paling penting adalah rectal rouche. Pada

pasien dalam kasus hasil rectal touche yang didapatkan sesuai dengan teori bahwa

akan teraba pembesaran prostat. Hasil pemeriksaan fisik teraba pembesaran pada

jam 11 ± 2 cm dengan konsistensi kenyal dan terfiksasi. Mukosa prostat yang

teraba licin dapat menyingkirkan kecurigaan keganasan adanya keganasan pada

prostat.
Pada kasus ini, pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah urinalisis dengan

hasil dalam batas normal. Pemeriksaan urinalisis diperlukan untuk melihat adanya

leukosituria dan hematuria yang perlu dicari penyebabnya. Pemeriksaan lain

adalah pemeriksaan fungsi ginjal dengan menilai ureum dan kreatinin yang dalam

kasus ini didapatkan hasil normal. Pemeriksaan fungsi ginjal diperlukan karena

BPH dapat menyebabkan gangguan pada saluran kemih bagian atas. Gagal ginjal

akibat BPH terjadi sebanyak 0,3-30% dengan rata-rata 13,6%. Pemeriksaan faal

ginjal berguna sebagai petunjuk perlu tidaknya melakukan pemeriksaan

pencitraan pada saluran kemih bagian atas. Pada kasus tidak ini tidak dilakukan

pemeriksaan penunjang yaitu PSA, berdasarkan teori penilaian PSA berguna

untuk meramalkan perjalanan penyakit BPH, semakin tinggi PSA semakin cepat

laju pertumbuhan prostat. Pemeriksaan penunjang lain yang tidak dilakukan

adalah uflowmetri, yaitu pemeriksaan pancaran urine selama proses berkemih.

Pemeriksaan non-invasif ini ditujukan untuk mendeteksi gejala obstruksi saluran

kemih bagian bawah. Pemeriksaan ini dipakai untuk mengevaluasi gejala

obstruksi infravesika, baik sebelum maupun setelah terapi.

Pemeriksaan USG untuk mengevaluasi morfologi prostat serta ukuran volume


prostat dapat secara transabdominal dan transrektal. USG transabdominal
menggunakan transmisi gelombang ultrasonik melalui dinding abdomen untuk
melihat organ-organ dalam,termasuk kelenjar prostat. USG transabdominal dan
transrektal dapat memberikan informasi signifikan pembesaran prostat, adanya
batubuli-buli, serta residu urin.

Pada pasien ini, dilakukan pemeriksaan usg abdomen untuk menunjang diagnosis
dan didapatkan hasil :
USG Traktus Urinarius:
Hasil
Dextra : Ukuran dan echostruktur normal, calyx pole inferior
tampak melebar, tak tampak massa/batu
Sinistra : Ukuran dan echostruktur normal, calyx pole inferior
tampak melebar, tak tampak massa/batu
VU : Terpasang balon catheter, lumen VU terisi cairan optimal,
dinding tampak menebal, double layer (-), tak tampak
massa/batu
Prostat : Ukuran membesar (V : 50,2 cc dengan protrusio ke aras
VU 1,5 cm), echostruktur normal, kalsifikasi (+).
Kesan
- BPH (v50,2 cc dengan protrusio kearah VU 1,5 cm) dengan kalsifikasi
prostat
- Cystitis kronis
- Calyektasis pole inferior ren bilateral

Pada pasien ini didapatkan hasil gambaran USG :


-Volume 50,2 cc dengan protrusio kearah vesica urinaria 1,5 cm, dengan
kalsifikasi prostat.

Pada USG transabdominal, ukuran normal kelenjar prostat tidak melebihi 3x3x5
cm atau volume tidak melebihi 25 cc. Pengukuran volume prostat menggunakan
formula geometrik ellipsoid = p/6 × diameter transversal × diameter
anteroposterior × diameter longitudinal. Karena volume prostat pada pasien ini
50,2 cc ( lebih dari 25 cc), maka dapat dikatakan terjadi perbesaran pada prostat
yang disertai dengan penonjolanke arah vesica urinaria sebesar 1,5 cm.

Pada pasien ini juga didapatan kesan cystitis kronis.Hal ini diihat dari dinding
vesica urinaria yang tampak menebal. Sistitis adalah suatu penyakit yang di
sebabkan oleh berkembangbiaknya mikro organisme di saluran kemih terutama
VU (kandung kemih). Sistitis merupakan reaksi inflamasi sel - sel urotelium
yang melapisi dinding VU. Saat inflamasi mulai timbul, maka akan terjadi respon
terhadap struktur permukaan dinding kandung kemih menyebabkan kesulitan
yang tinggi dalam berkemih. Untuk dapat mengeluarkan urin, kandung kemih
harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus
menerus ini menyebabkan perubahan anatomik kandung kemih berupa hipertrofi
otot detrusor. Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi otot dinding
Selain itu, pada pasien ini juga didapatkan kesan Calyektasis pole inferior ren
bilateral.Kaliektasis adalah adalah suatu kondisi dimana calyces menjadi melebar
dan membengkak karena adanya cairan berlebih (urin), contohnya dikarenakan
adanya gangguan aliran urine yang tersumbat. Pada pasien ini sumbatan
diakibatkan karena adanya penyempitan saluran akibat pembesaran kelenjar
prostat. Apabila aliran urine tersumbat air urine akan mengalir kembali ke tubulus
renalis dan ke Pelvis renalis dan dapat memberikan tekanan yang tinggi ke ginjal.
Ginjal yang bengkak akan menimbulkan kerusakan fungsi ginjal. Jika tidak
diobati, ginjal bengkak (kaliektasis/hidronefrosis) akan menyebabkan kerusakan
ginjal dan dapat terjadi gagal ginjal.

Tujuan terapi medikamentosa pada kasus BPH ialah mengurangi resistensi otot
polos prostat atau mengurangi volume prostat dengan menurunkan kadar hormon
testosteron/ dihidrotestosteron DHT (Purnomo, 2015). Pasien dengan skor IPSS 0-
7 hanya dilakukan observai, apabila skor IPSS >7 terapi medikamentosa
diberikan. Skor IPSS Pada pasien ini berdasarkan anamnesa mencapai >7 maka
diberikan terapi medikamentosa.

1. Medikamentosa
a. 5 α reduktase inhibitor
5 α reduktase inhibitor pada pasien BPH digunakan sebagai
penghambat pembentukan DHT (Purnomo, 2015). Penurunan kadar
DHT akan menyebabkan mengecilnya ukuran prostat dan menguranngi
pertumbuhan jaringan prostat. Saat ini, terdapat 2 jenis obat 5α
reductase inhibitor yang dipakai untuk mengobati BPH, yaitu
finasteride dan dutasterid. Finasterid menghambat isoenim 5a-
reduktase tipe 2 sedangkan Dutasterid menghambat isoenim 5a-
reduktase tipe 1 dan tipe 2. Pada kasus BPH jumlah isoenim 5a-
reduktase tipe 2 lebih banyak sehingga efek klinis finasterid dan
dutasterid tidak berbeda.

5a-reduktase inhibitor terbukti mengurangi ukuran prostat hingga 25%


dalam periode 2-6 bulan. Peninkatan apoptosis atrofi dan pengecilan
organ bervariasi antara 15-25% dalam 6 bulan (Roveny, 2016). Kadar
yang diberikan untuk pasien BPH ialah finasteride 5 mg dan dutasterid
0,5 mg selama 2-6 bulan .

Analisis:
Pada pasien diberikan finasteride 5 mg/ hari PO dan dutasterid 0,5
mg/hari PO:
 Tujuan pemberian sudah tepat
 Pemilihan jenis regimen obat sudah tepat
 Dosis yang diberikan sudah tepat
 Cara pemberian sudah tepat

b. α blocker
α blocker (penghambat reseptor adrenergik α) bekerja menghambat
reseptor simpatis α yang memediasi kontraksi otot polos prostat dan
leher kandung kemih. α blocker dapat meperbaiki laju perkemihan
namun mempunyai efek samping sistemik seperti hipotensi dan pusing
terutama pada non selektif (Purnomo, 2015). α blocker non selektif
(terazosin, doxazosin, alfuzosin) dan selektif (tamsulosin dan
silodosin) ditargetkan menghambat reseptor α di otot polos prostat
dengan efek minimal pada reseptor α untuk regulasi tekanan darah.

Pada pasien diberikan α blocker selektif yaitu tamsulosin.


Rekomendasi dosis harian tamsulosin adalah 0,4-0,8 mg dengan durasi
minimum untuk efek yang adekuat yaitu 2-4 minggu (Roveny, 2016).

Analisis:
Pada pasien diberikan Tamsulosin dengan dosis 0,4 mg/hari:
 Tujuan pemberian sudah tepat
 Pemilihan jenis regimen obat sudah tepat
 Dosis yang diberikan sudah tepat
 Cara pemberian sudah tepat
2. Operatif
a. Transurethral Resection of the Prostate (TURP)
TURP merupakan prosedur baku emas pembedahan pada pasien BPH
dengan volume prostat 30-80 ml. Pada pasien ditemukan BPH dengan
volume 50,2 cc menandakan prosedur TURP dapat dilakukan pada Tn.
S. Secara umum, TURP dapat memperbaiki gejala BPH hingga 90%
dan meningkatkan laju pancaran urine hingga 100% (Grava, 2014).
DAFTAR PUSTAKA

Abedi AR. Incidental prostate cancer: a 10-year review of a tertiary center,


Tehran, Iran. Dove Med Press. 2018;10:1-6.

Barry MJ, Fowler FJ, O'Leary MP, et al. The American Urological Association
Symptom Index for Benign Prostatic Hyperplasia. J Urol. 148: 1549, 1992.

Bare, Smeltzer. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart (alih bahasa
Agung Waluyo) edisi 8 vol 3. Jakarta : EGC; 2002

Boer Azwar. 2007. Ultrasonografi dalam radiolgi Diagnostik. Jakarta : FKUI.

Brunicardi CF. Schwartz’s principles of surgery. Ninth edition. USA: McGraw-


Hills. 2010.

Filipovski V. Androgen receptor expression in epithelial and stromal cells of


prostatic carcinoma and benign prostatic hsyperplasia. J Mac Med Sci. 2017;
5(5):608-612.

Gravas S, Bachmann A, Descazeaud A, et al. Guidelines on the Management of


Non-Neurogenic Male Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS), incl. Benign
Prostatic Obstruction (BPO). European Association of Urology; 2014

Hardjowidjoto, S. 2010. Benigna Prostat Hiperplasia.Airlangga University Press:


Surabaya

Ikatan Ahli Urologi Indonesia. Panduan penatalaksanaan klinis pembesaran


prostat jinak (Benign Prostat Hyperplasia/BPH). Jakarta, 2015.

Mansjoer, Arif, Suprohaita, et. Al. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Keempat Jilid
Dua. Jakarta : Media Aesculapicius ; 2016
Palmer. P.E.S, 2006,Panduan pemeriksaan diagnostic USG, Buku kedokteran EGC,
Jakarta.

Purnomo BS. Dasar-dasar urologi Edisis III. Jakarta: Sagung Seto. 2015

Reksoprodjo S. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Jakarta: Staf Pengajar Bagian Ilmu
Bedah FK UI. 2010.

Roveny. Terapi Farmakologis Hiperplasia Prostat Jinak. CDK Vol 43(4): 251-6.
2016

Rusdy Ghazali Maleuka. 2007. Ultrasonografi prostat dalam Radiologi


DiagnosticPustaka Cindekia Press, Yogyakarta

Sidarta. 2008. Atlas Ultrasonografi abdomen dan beberapa organ penting, FK UI,
Jakarta.

Sjamsuhidayat,2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC