Anda di halaman 1dari 4

MEDSOS

(Karya: Ryan Kurniawan)

(Bermain gitar sambil menyanyikan lagu Last Child yang berjudul “Diary
Deperesiku” di lorong sekolah)

Eldi : Wajar bila saat ini. Ku iri pada kalian. Yang hidup bahagia berkat suasana
indah dalam rumah. Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang
kelam. Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan.

Cynthia: Hebat kamu Di. Bagus suaramu. Main gitarnya pun mantap. Tapi kenapa
lagunya itu?

Eldi : Ah. Tidak apa-apa Cyn. Cuma refleks aja tiba-tiba pengen nyanyiin ini
lagu.

Cynthia: (memandang curiga)

Eldi : Apa sih kamu Cyn? Sudah ah. Ayo masuk kelas.

Cynthia : …. Oh iya ayo.

*****

(Di sebuah ruangan kelas saat KBM)

Guru : Eldi, dari tadi Bapak liat kamu melongo terus. Siang-siang udah
melongo. Keluar kamu. Berdiri di lorong.

Eldi : (Terkaget) Baik Pak.

(Di lorong kelas)

Eldi : (Bergumam sendiri) Sialan. Kenapa ga ada yang mau berempati.


Kenapa sesulit ini. Huff. (menghela napas panjang). Terkadang aku tidak
habis piker kenapa banyak orang yang tidak bersyukur atas
kehidupannya.

(Lonceng berbunyi)

Eldi : Fuhhhh. Istirahat juga akhirnya.

Guru : Eldi. Sekarang juga ikut Bapak ke kantor.

Eldi : Loh. Ada apa Pak? Memangnya saya salah apa?

Guru : Pokoknya ikut ke kantor. Ayo.

Eldi : Ya Pak.

*****

(Keduanya Duduk di ruang guru)

(Pak guru mewawancarai Eldi sambil melihat-lihat medsosnya)

Guru : Kamu tuh kenapa sih Di akhir-akhir ini kok melongo terus.

Eldi : Ah ga apa-apa Pak. Cuma sedikit cape aja.

Guru : Ada masalah ya? Pacar?

Eldi : Boro-boro pacar Pak. Ngurus hidup sendiri aja susah.

Guru : Nah. Ini, akhirnya mau ngomong juga. Yuk terusin.

Eldi : Ga apa-apa Pak.

Eldi : (Kesal setelah beberapa detik menunggu) Kalau begitu saya permisi ya
Pak. Saya agak kurang enak badan.

Guru : (meletakkan HP nya) Oh iya Di. Silakan istirahat ya.

Eldi : Ampuuuuuunnn.. Apa semua orang tersihir oleh HP ya. Selama di


sekolah aku belum pernah liat-liat kalau tak ada yang penting.
(Lonceng pulang berbunyi. Eldi pulang sambil menggendong tas gitarnya)

Cynthia : Di. Buku-bukunya disimpan di mana?

Eldi : Ini di dalam tas gitar. Kenapa Cyn?

Cynthia : (Terus memainkan HP nya) Nggak. Pulang bareng Yuk Di.

Eldi : (Kesal) Tidak usah. Sendiri aja ya. Kalau mau ngajak ngomong, yang
sopan dong. Jangan sambil mainin HP. (Melajukan motornya)

Cynthia : (Meletakkan HP nya lalu berteriak) Biasa aja kali Di. Ga usah ke mana-
mana. HP segala dibawa-bawa.

Eldi : (Bergumam sambil terus melajukan motornya) Bener-bener parah


zaman sekarang ini. HP bener-bener jadi toxic. Mudah-mudahan ga ada
masalah lagi.

(Sampai di rumah)

*****

Eldi : Aku pulang.

Ibu : Ohh. Kamu Di. Ayo masuk sini. Ibu udah beliin makanan.

Eldi : Ga masak Bu?

Ibu : Ga ah. Ibu sibuk. (sambil terus memainkan HP nya).

Eldi : Haduuuuhhh. Di sekolah. Di rumah. Semua sibuk dengan HP nya.

Ibu : Eeeehh. Penentang kamu ini ya?

Eldi : Benar Bu. Aku berada di posisi yang benar. Ga peduli siapapun
orangnya, semuanya autis. Punya dunia masing-masing. Ayah dan Ibu
cerai pun gara-gara medsos.

Ibu : Kurang ajar kamu.


Eldi : Kebalik Bu. Justru aku yang penuh dengan ajar. Ga kurang. Ga lebih.
Kebalik.

Ibu : ……..

Eldi : Sudah Bu. Aku tidak mau berdebat. Biarkan aku sendiri. Sampai saat
ini aku masih menjaga prestasiku dengan nilai paralel tertinggi. Ini bentuk
rasa terima kasihku kepada Ibu yang telah membiayai sekolahku. Jika
ibu masih mengungkit lagi jasa-jasa yang ibu berikan untuk
menghidupiku, tinggalkan aku sendiri. Aku akan pergi dari rumah ini.

Ibu : ………

(Eldi menutup pintu dengan pelan)

Eldi : (duduk bergumam di meja belajar) Huff. Semua memang sudah seperti
ini. Zaman memang tak dapat dipungkiri. Semua sudah berubah gara-
gara medsos. Kita memang berada di zaman dari mulai lapar, marah,
curhat, semua diumbar di status medsos. Kita berada di zaman anak
balita sudah bias memainkan video secara daring. Kita berada di zaman
anak SD berpacaran memanggil “mamah dan papah”. Mengerikan.
Mungkin hanya aku sendiri yang normal.

TAMAT