Anda di halaman 1dari 9

KBRN, Depok: Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebutkan pembiaran terhadap

pelayanan pembuatan SIM di Polresta Depok yang dikeluhkan warga berpontensi


menciptakan calo-calo. Itu pula yang menjadi kesempatan yang dimanfaatkan oknum
Polisi untuk menjadi perantara pengurusan surat izin mengemudi (SIM).

Dampaknya, terjadi pematokan harga pengurusan administrasi berkendara yang tinggi


kepada masyarakat untuk mendulang pundi-pundi rupiah yang apabila tidak segera
ditindak dikawatirkan akan tumbuh subur menjadi budaya.

“Tidak dibereskannya masalah pelayanan pembuatan SIM di Satlantas Polresta Depok


itu bukanlah hal yang baru lagi di telinga masyarakat. Sebab, keuntungan dari uang
pengurusan SIM itu akan menambah uang kantong para oknum Polisi nakal yang bertugas.
Sehingga, personil penegak hukum ini dapat dengan mudah mendekati para pengurus SIM
agar cepat mendapatkan surat berkendara tanpa mengikuti tes sama sekali,” ujar Divisi
Investigasi ICW Febri Hendri kepada rri.co.id, rabu (01/06/2016).

“Kami melihat disini telah terjadi unsur pembiaran, sehingga para oknum Polisi nakal
itu dapat bermain di ranah SIM. Potensinya orang dalam nyambi menjadi calo tidak dapat
dipungkiri lagi, hasilnya dapat dibagi dua dan masuk ke kantong pribadi,” ungkapnya.

Kata dia pelayanan pengurusan SIM di Satlantas Polresta Depok merupakan target
empuk bagi para oknum Polisi nakal dalam mencari uang tambahan cepat. Karena, dengan
kedekatan emosional sesama anggota Polisi dijadikan sebagai modus melakukan praktek
percaloan dalam pengurusan SIM. Terlebih, keinginan dari para pengurus yang tidak mau
dipersulit membuat mulus praktek ilegal tersebut.

“Ya akan dibagi dua uang yang di dapat dari warga yang ingin cepat mendapatkan SIM.
Tidak mungkin anggota Polri menolak memberikan bantuan kepada rekannya sendiri. Jadi
semua sudah tersistem dengan baik dan dikerjakan secara berkelompok,” tuturnya.

Karena itu, lanjut Febri, dengan adanya masalah pelayanan SIM yang dikeluhkan
masyarakat Kota Depok, Petinggi Polri harus melakukan perbaikan. Yakni, melakukan
penyelidikan dan pemeriksaann terhadap oknum pelayanan pembuatan SIM Satlantas
Polresta Depok. Atau melakukan rotasi kepada anggota pelayanan alat kelengkapan
berkendara tersebut. Pihaknya yakin, jika itu dilakukan maka citra Polisi dalam pelayanan
SIM akan kembali pulih.

“Kasihan masyarakat menjadi korban mal praktek polisi. Walapun tidak semua anggota
polisi seperti itu, tetapi karena dibiarkan semua akan rusak. Harus ditindak tegas agar
kinerja kepolisian menjadi baik kembali dimata masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, Pengamat Kepolisian, Universitas Indonesia, Bambang Widodo Umar


menilai, unsur pembiaran yang menimbulkan praktek percaloan itu akan menyebabkan
masalah baru di tubuh Polri. Yakni, akan menjurus ke ranah nepotisme serta korupsi.
Sehingga, aksi meniru dari anggota polisi yang lain untuk mendapatkan uang lebih tanpa
harus bekerja sesuai dengan tugasnya akan dilakukan juga.

“Mereka akan melalakukan hal serupa karena uang yang di dapatkan sangat cepat dan
mudah. Tidak mungkin atasan mereka tidak tahu permainan ditingkat bawah. Sama saja
Satlantas Polresta Depok melegalkan KKN, padahal ini yang harusnya diberantas,”
paparnya.

Dengan maraknya praktek percaloan memalui modus mempersulit pengurusan


pelayanan SIM, Bambang mengharapkan, Mabes Polri menempatkan pengawasan dari luar
institusi mereka. Seperti dari anggota masyarakat sendiri atau Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK).

Sebab, jika diperhitungkan patokan harga Rp.500 ribu (SIM,C) sampai Rp.700 ribu
(SIM,A) kepada setiap para pengurusan SIM diberlakukan maka dalam satu hari saja
puluhan juta dapat dikantongi oknum polisi nakal yang menjadi broker SIM.

Terkait hal ini, Kapolresta Depok, AKBP. Harry Kurniawan menyebutkan, pihaknya
akan melakukan pembenahan di internal Polresta Depok. Dirinya, menghimbau kepada
warga yang dipersulit dalam pembuatan SIM agar melaporkan.
“Saya akan menindak tegas anggota yang kedapatan mempersulit warga apalagi nyambi
jadi calo pembuatan SIM. Kedepan proses pembuatan SIM, satu pintu kemungkinan akan
menjadi solusi,” kata Harry. (RL)

http://rri.co.id/jakarta/post/berita/280459/layanan_publik/icw_buruknya_pelayanan_sim
_karena_unsur_pembiaran.html
MAKALAH AKUNTABILITAS LAYANAN PEMBUATAN SIM

DISUSUN OLEH

KELOMPOK VI

ANGGGOTA:

AFDHAL ZIKRI

RANJI AKBAR SYARIF

MAYZETRI

YAMAN JAYA HAREFA

NITRIYA BURHARIANTI
BAB I
LATAR BELAKANG KASUS

Akuntabilitas merupakan konsep yang kompleks yang lebih sulit mewujudkannya


daripada memberantas korupsi. Terwujudnya akuntabilitas merupakan tujuan utama dari
reformasi sektor publik. Tuntutan akuntabilitas publik mengharuskan lembaga-lembaga
sektor publik untuk lebih menekankan pada pertanggungjawaban horizontal bukan hanya
pertanggungjawaban vertikal.
Ulum (2008:47) mengatakan bahwa akuntabilitas adalah suatu pertanggungjawaban
oleh pihak-pihak yang diberi kepercayaan oleh masyarakat atau individu di mana nantinya
terdapat keberhasilan atau kegagalan di dalam pelaksanaan tugasnya tersebut dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pertanggungjawaban tersebut berkaitan langsung
dengan aktivitas birokrasi dalam memberikan pelayanan sebagai kontra prestasi atas hak-
hak yang telah dipungut langsung maupun tidak langsung dari masyarakat.
Dalam Konteks pelayanan publik maka “akuntabilitas berarti suatu ukuran yang
menunjukkan seberapa besar tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan dengan
ukuran nilai-nilai atau norma eksternal yang ada di masyarakat atau yang dimiliki
oleh para stakeholder”.. Dengan demikian tolak ukur dalam akuntabilitas pelayanan
publik adalah publik itu sendiri yaitu arti nilai-nilai atau norma-norma yang diakui,
berlaku dan berkembang dalam kehidupan publik. nilai-nilai atau norma tersebut
diantaranya transparansi pelayanan, pinsip keadilan, jaminan penegakan hukum, hak
asasi manusia, orientasi pelayanan yang dikembangkan terhadap masyarakat pengguna
jasa.
Pelayanan dalam bidang pembuatan SIM telah diatur pada Undang-Undang No 22
Tahun 2009 Pasal 77 sampai dengan pasal 28, namun agar lebih spesifik peraturan yang
mengatur tentang SIM maka, di buatlah Peraturan Kapolri (perkap) No 9 Tahun 2012 pasal
4 dikatakan bahwa, SIM memiliki fungsi sebagai legitimasi kompetensi berkendaraan,
identitas pengemudi, kontrol kompetensi pengemudi, dan forensic kepolisian. Dalam
Perkap No 09 Tahun 2012 Tentang Surat Izin Mengemudi. Hal ini sudah jelas bahwa
setiap pengemudi diwajibkan memiliki SIM sesuai dengan kendaraan yang dikendarain
agar pengendara memiliki etika berkendara dan mempermudah dalam identifikasi suatu
kecelakaan pengendara di jalan raya.
Surat Izin Mengemudi adalah prasyarat untuk menjalankan atau mengoperasikan
kendaraan bermotor dan berlaku selama lima tahun. Setiap pengendara diwajibkan
memiliki SIM. Dalam Undang-Undang lalu lintas 14 tahun 1992 diterangkan mengenai
persyaratan pembuatan SIM sebagai berikut
1. Sehat jasmani dan rohani dinyatakan dengan surat keterangan dokter;
2. Berusia sekurang-kurangnya 17 tahun;
3. Membayar formulir pada loket administrasi;
4. Mengisi formulir permohonan;
5. Dapat menulis dan membaca huruf latin;
6. Melampirkan foto copy KTP;
7. Memiliki pengetahuan yang cukup mengenai lalu lintas jalan dan memiliki keterampilan
mengemudikan kendaraan bermotor;
8. Lulus uji teori dan praktek

 INTI MASALAH KASUS


Masalah dari artikel diatas adalah praktek calo dalam pembuatan sim oleh oknum polisi
di Polresta Depok dan kaitannya dengan akuntabilitas kepolisian Polres Depok

 LANDASAN MASALAH KASUS


Landasan Masalah Kasus adalah:
1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia Pasal 14 ayat (1) huruf b dan Pasal 15 ayat (2) huruf c.
2. Undang-undang no. 22 tahun 2009, Tentang Lalu-lintas dan Angkutan Jalan, Bab
VIII.
BAB II
PEMBAHASAN KASUS

Dari artikel diatas dapat di bahas bagaimana akuntabilitas Polres depok diuji dalam proses
penerbitan sim melalui:
 Praktek kecurangan (fraud) dan perilaku korup
The Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) atau Asosiasi Pemeriksa
Kecurangan Bersertifikat, merupakan organisasi professional bergerak di bidang
pemeriksaan atas kecurangan yang berkedudukan di Amerika Serikat dan mempunyai
tujuan untuk memberantas kecurangan, mengklasifikasikan fraud (kecurangan) dalam
beberapa klasifikasi, dan dikenal dengan istilah “Fraud Tree” yaitu Sistem Klasifikasi
Mengenai Hal-hal Yang Ditimbulkan Sama Oleh Kecurangan (Uniform Occupational
Fraud Classification System).

The ACFE membagi Fraud (Kecurangan) dalam 3 (tiga) jenis atau tipologi berdasarkan
perbuatan yaitu:

1. Penyimpangan atas asset (Asset Misappropriation);


Asset misappropriation meliputi penyalahgunaan/pencurian aset atau harta
perusahaan atau pihak lain. Ini merupakan bentuk fraud yang paling mudah
dideteksi karena sifatnya yang tangible atau dapat diukur/dihitung (defined
value).

2. Pernyataan palsu atau salah pernyataan (Fraudulent Statement);


Fraudulent statement meliputi tindakan yang dilakukan oleh pejabat atau
eksekutif suatu perusahaan atau instansi pemerintah untuk menutupi kondisi
keuangan yang sebenarnya dengan melakukan rekayasa keuangan (financial
engineering) dalam penyajian laporan keuangannya untuk memperoleh
keuntungan atau mungkin dapat dianalogikan dengan istilah window dressing.

3. Korupsi (Corruption).
Jenis fraud ini yang paling sulit dideteksi karena menyangkut kerja sama dengan
pihak lain seperti suap dan korupsi, di mana hal ini merupakan jenis yang
terbanyak terjadi di negara-negara berkembang yang penegakan hukumnya
lemah dan masih kurang kesadaran akan tata kelola yang baik sehingga factor
integritasnya masih dipertanyakan. Fraud jenis ini sering kali tidak dapat
dideteksi karena para pihak yang bekerja sama menikmati keuntungan (simbiosis
mutualisma). Termasuk didalamnya adalah penyalahgunaan wewenang/konflik
kepentingan (conflict of interest), penyuapan (bribery), penerimaan yang tidak
sah/illegal (illegal gratuities), dan pemerasan secara ekonomi
(economic extortion).
Dari artikel diatas point yang dilakukan adalah korupsi atau suap yang dilakukan
oleh pemohon penerbitan sim kepada oknum kepolisian yang menerbitkan sim dengan
alasan agar dimudahkan dalam pengurusan penerbitan sim. Dalam Undang-Undang
lalu lintas 14 tahun 1992 sudah disebutkan bahwa pemohon harus memenuhi syarat dan
uji kompetensi, tetapi dengan adanya korupsi atau suap tersebut membuat pihak
kepolisian tidak bisa melihat atau mengontrol kompetensi pemohon sehingga yang
terjadi adalah banyaknya pengendara yang belum dan tidak lolos uji kompentensi dalam
mengendarai kendaraan bisa bebas berkendara di jalan raya dan tinggi nya angka
pelanggaran di jalan raya yang salah satu faktor pemicunya kurangnya kompentensi
pengendara.

 Faktor yang mendukung terjadinya kasus pada artikel diatas


1. Kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan institusi kepada
bawahannya untuk terciptanya akuntabilitas dalam lingkungan kerja polresta
depok
2. Tidak adanya laporan yang dilakukan masyarakat yang mengetahui terjadinya
praktik kecurangan dalam pembuatan sim tersebut.
3. Ketidakperdulian dari sesama anggota kepolisian yang mngetahui praktik
kecurangan untuk mnghentikan atau memangkas kecurangan tersebut.

 Kecurangan atau suap pada artikel diatas terjadi karena kurangnya pemahaman
masyarakat akan uji kompentensi dalam pembuatan sim sehingga memilih jalan yang
lebih mudah dengan cara melakukan kecurangan atau suap agar mendapatkan sim
dengan mudah. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang tata cara uji
kompentensi pembuatan sim adalah tanggung jawab dari institusi kepolisian sehingga
masyarakat mengerti alur dan cara uji kompentensi pembuatan sim.
BAB III
TINDAK LANJUT

Tindak lanjut yang diperlukan dalam kasus diatas adalah dengan melakukan audit
internal untuk memutus mata rantai suap yang mengganggu atau merusak akuntabilitas
institusi polresta depok. Serta memberikan informasi yang cukup kepada masyarakat
mengenai uji kompentensi dalam pembuatan sim.