Anda di halaman 1dari 28

Analisis Masalah

DISTRIBUSI LOGISTIK OBAT GENERIK

DI PUSKESMAS SUNGAI BESAR

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


”Perencanaan & Evaluasi PKM”

Di susun Oleh:
Gusti Kanzania Finansi
1610912420007

Universitas Lambung Mangkurat


Fakultas Kedokteran
Program Studi Kesehatan Masyarakat Alih Jenjang

Banjarbaru

2016

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan dan tempat yang digunakan untuk menyelenggarakannya
disebut sarana kesehatan. Sarana kesehatan berfungsi untuk melakukan upaya
kesehatan dasar atau upaya kesehatan rujukan dan/atau upaya kesehatan
penunjang. Selain itu, sarana kesehatan dapat juga dipergunakan untuk
kepentingan pendidikan dan pelatihan serta penelitian, pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan. Dari uraian di atas, sarana
kesehatan meliputi balai pengobatan, pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas),
Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit khusus, praktek dokter, praktek dokter gigi,
praktek dokter spesialis, praktek dokter gigi spesialis, praktek bidan, toko obat,
apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS), Pedagang Besar Farmasi (PBF),
pabrik obat dan bahan obat, laboratorium kesehatan, dan sarana kesehatan lainnya.
Dalam penyelenggaraan upaya kesehatan diperlukan perbekalan kesehatan yang
meliputi sediaan farmasi, alat kesehatan, dan perbekalan kesehatan lainnya,
sedangkan sediaan farmasi meliputi obat, bahan obat, obat tradisional, dan
kosmetik.

Dalam beberapa sarana kesehatan itu, seperti Rumah Sakit, pabrik buatan,
pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan dan
distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional.
Sistem Pengelolaan Obat merupakan suatu rangkaian kegiatan yang meliputi
aspek seleksi dan perumusan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan,
pendistribusian dan penggunaan obat. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan
bahwa masing-masing tahap pengelolaan obat merupakan suatu rangkaian yang
terkait, dengan demikian dimensi pengelolaan obat akan dimulai dari

2
perencanaan pengadaan yang merupakan dasar pada dimensi pengadaan obat di
Rumah Sakit.

Tujuan dari pengadaan yaitu untuk memperoleh barang atau jasa yang
dibutuhkan dalam jumlah yang cukup dengan kualitas harga yang dapat
dipertanggung jawabkan, dalam waktu dan tempat tertentu secara efektif dan
efisien, menurut tata cara dan ketentuan yang berlaku.
Sistem pengelolaan obat mempunyai empat fungsi dasar untuk mencapai tujuan
yaitu:

a. Perumusan kebutuhan dan perencanaan


b. Pengadaan (Procurement)
c. Distribusi (Distribution)
d. Penggunaan (Use)

Keempat fungsi tersebut didukung oleh sistem penunjang pengelolaan yang


terdiri dari:

a. Organisasi (Organization)
b. Pembiayaan dan kesinambungan (Financing and Sustainability)
c. Pengelolaan Informasi (Information Management)
d. Pengelolaan dan pengembangan sumber daya manusia (Human Resources
and Management)

Instalasi farmasi merupakan satu-satunya unit yang bertugas merencanakan,


mengadakan, mengelola, dan mendistribusikan obat untuk Rumah Sakit secara
keseluruhan. Perencanaan pengadaan obat harus sesuai dengan formularium yang
telah ditetapkan oleh Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) dan Instalasi Farmasi
Rumah Sakit (IFRS). Obat yang akan dibeli atau diadakan harus direncanakan
secara rasional agar jenis dan jumlahnya sesuai sehingga merupakan produk atau
bahan yang terbaik, meningkatkan penggunaan yang rasional dengan harga yang
terjangkau atau ekonomis.

3
B. Gambaran umum profil PUSKESMAS
Sistem informasi kesehatan PUSKESMAS Sei Besar merupakan ujung
tombak bagi pelaksanaan pmbangunan kesehatan serta pembangunan yang
berwaasan kesehatan khususnya di Kelurahan Sungai Besar Kecamatan
Banjarbaru Selatan Kota Banjarbaru.
1. Tujuan PUSKESMAS Sei Besar adalah untuk memberikan pelayanan
kesehatan khususnya di Kelurahan Sei Besar secara terpadu dan terintegrasi.
Selain itu tujuan lainnya adalah untuk melaksanakan upaya kesehatan yang
meliputi :
a. Promosi kesehatan
b. Kesehatan lingkungan
c. KIA/KB
d. Perbaikan gizi masyarakat
e. Pemberantasan penyakit menular
f. Pengobatan
2. Visi dan misi :
Visi : Sehubungan dengan pembangunan daerah yang serasi dan
berkesinambungan disusunlah visi PUSKESMAS Sei Besar yaitu
menjadikan masyarakat Kelurahan Sei Besar yang mandiri dan berkadilan di
bidang kesehatan
Misi : untuk mencapai visi PUSKESMAS Sei Besar dilaksanakan misi
sebagai berikut:
a. Menggerakkan pembangunan kota yang berwawasan kesehatan
b. Meningkatkan mutu kemudahan pelayanan kesehatan yang terjangkau
oleh setiap lapisan masyarakat
c. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
d. Perlindungan status gizi yang meningkatkan kemampuan fisik,
produktifitas kerja dan kemampuan ilmu pengetahuan
e. Meningkatnya kesehatan lingkungan

4
3. Serta melakukan upaya kesehatan pengembangan yang ditetapkan
berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditentukan di masyarakat dan
sesuai dengan kemampuan PUSKESMAS Sei Besar.
4. Tugas pokok PUSKESMAS adalah melaksanakan kegiatan kesehatan tingkat
pertama/dasar secara menyeluruh dan terpadu meliputi pelayanan kesehatan
dan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah Kelurahan Sei Besar
5. Fungsi PUSKESMAS antara lain untuk melaksanakan pelayanan kesehatan
tingkat pertama/dasar, maka fungsi PUSKESMAS Sei Besar antara lain
adalah :
a. Perumusan kebijakan dalam bidang pelayanan kesehatan masyarakat
tingkat pertama/dasar secara menyeluruh dan terpadu sesuai dengan
kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota
Banjarbaru
b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan di bidang kesmas
c. Perumusan dan penetapan kebijakan operasional, pembinaan, pengaturan,
pelaksanaan dan pengendalian di bidang kesehatan
d. Perumusan dan penetapan kebijakan operasional, pembinaan, pengaturan,
pelaksanaan dan pengendalian sarana dan prasarana di bidang kesehatan
masyarakat
e. Pengelolaan urusan ketata usahaan
6. Keadaan geografi
PUSKESMAS Sei Besar terletak di Kelurahan Sei Besar Kecamatan
Banjarbaru Selatan Kota Banjarbaru Selatan Kota Bnjarbaru dengan
perbatasan yaitu:
a. Sebelah utara : Kelurahan komet kecamatan banjarbaru utara
b. Sebelah selatan : Kelurahan cempaka kecamatan cempaka
c. Sebelah timur : Kelurahan sei ulin keamatan banjarbaru utara
d. Sebelah barat : Kelurahan guntung paikat keamatan banjarbaru
Selatan
Adapun luas Kelurahan Sei Besar adalah 480,27 Ha terdiri atas :
a. Pemukiman : 198,06 Ha

5
b. Lahan belum terbangun : 15,35 Ha
c. Industri : 1,13 Ha
d. Lapangan olah raga : 2,86 Ha
e. Pertambangan : 8,40 Ha
f. Kebun campuran : 103, 68 Ha
g. Semak belukar/alang-alang : 119,49 Ha
h. Taman kota : 0,31 Ha
i. Infrastruktur & fasilitas umum : 30,99 Ha
Kondisi geografis wilayah PUSKESMAS adalah terletak pada dataran
tinggi dengan curah hujan yang banyak dan suhu udara rata-rata. Adapun
orbitasi (jarak antara pusat pemerintahan desa/kelurahan) adalah :
a. Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan ± 2 km
b. Jarak dari ibukota kabupaten/kota ± 2 km
7. Struktur organisasi PUSKESMAS Sei Besar :

Kepala PUSKESMAS Sei Besar

Suhartono, SKM., MM

NIP. 19611108 1964401 1 002

Kepala SUB bagian tata usaha

Siti khadijah, SKM

NIP. 19700721 199101 2 001

Kelompok jabatan fungsional

Promkes Kesling KIA/KB

Gizi P3M pengobat


an

6
C. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana distribusi kebutuhan logistik obat generik di Puskesmas Sungai
Besar ?

7
BAB II
PEMBAHASAN

A. Analisis permasalahan distribusi Logistik Obat di PUSKESMAS Sungai


Besar
Permintaan untuk pengadaan obat generik di PUSKESMAS Sungai Besar
dilakukan tiap bulan dengan mengacu ada catatan rata-rata dan perkiraan
kebutuhan obat dalam sebulan hingga setahun ke belakang. Sumber perkiraan
diperoleh dari hasil koordinasi catatan dokter dan apoteker. Kemungkinan meleset
sehingga habis stok obat tetap memungkinkan. Contoh masalah dengan cara
penanggulangan dapat dilakukan oleh PUSKESMAS adalah:
1. Apabila stok obat habis di PUSKESMAS, dapat dilakukan BON obat di
gudang farmasi, penutupan jumlah obat dilakukan dengan pemotongan
jumlah obat yang akan datang bulan depan. Permintaan dapat dilakukan
oleh kepala PUSKESMAS.
2. Apabila stok obat habis di PUSKESMAS, dapat dilakukanperesepan agar
pasien dapat mencari obat sejenis di luar. Misalnya di apotek-apotek dan
stok obat.
3. Apabila stok obat habis di PUSKESMAS, dapat dilakukan pembelian stok
obat emergency dengan menggunakan dana PUSKESMAS. Namun harus
sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh Dinas Kesehatan. Pembelian harus
dilakukan dengan menggunakan e-katalog. Atau dilakukan pembelian diluar
namun dengan catatan harga saat pembelin harus lebih rendah dari harga di
e-katalog. Pembelian obat secara eksternal dilakukan oleh apoteker,
apoteker bekerja sama dengan apotek rumah sakit untuk menitip pembelian
obat atas nama rumah sakit.
4. Expired obat dekat. Solusi dapat didiskusikan saat rapat koordinasi antara
kepala PUSKESMAS dengan kepala Dinas Kesehatan.
5. Apabila terdapat kelebihan stok obat di PUSKESMAS maka PUSKESMAS
akan menghentikan sementara pemesanan obat ke gudang farmasi. Hingga
PUSKESMAS membutuhkan stok obat terbaru.

8
6. Sistem pertukaran obat antar PUSKESMAS juga dapat dilakukan apabila
stok obat habis atau menipis. Namun pencatatan yang rinci harus dilakukan.
7. Selain itu, system peminjaman obat untuk darurat bencana sebagai
pemenuhan sementara kebutuhan obat PUSKESMAS juga dapat dilakukan.
Namun apabila PUSKESMAS telah menerima stok obat baru, maka
PUSKESMAS wajib untuk mengembalikan obat tersebut sejumlah obat
yang dipinjam.

B. Jurnal Pendukung
Sebelum pembahasan mengenai permasalahan logistik dilanjutkan, akan
dibahas terlebih dahulu mngenai definisi dari logistik. Menurut Gattorna dan
Walters dalam bukunya Managing Supply Chain : A Strategic perspective,
logistic merupakan aspek manajemen srategis yang bertanggung jawab mengelola
akuisisi, pergerkan dan penyimpanan bahan mentah, bahan setengah jadi,
penyediaan barang jadi dan informasi-informasi yang mnyertainya dalam suatu
organisasi dan saluran pemasarannya untuk memenuhi harapan pelanggan
sehingga dapat mencapai target keuntungan perusahaan. (Manso et al, 2013).
Misi logistik adalah memenuhi kebutuhan barang yang sesuai ke tempat
yang tepat, ada waktu yang tepat dan pada kondisi yang diinginkan, sehingga
memberikan manfaat pada perusahaan.
Melihat definisi diatas, dalam lingkup nasional, logistik yang dimaksud
adalah proses perencanaan, implementasi dan pengendalian efisiensi aliran biaya
yang efektif dan penyimpanan bahan mentah, bahan setengah jadi, barang jadi dan
informasi-informasi yang menyertainya yang menjamin pengadaan dan
ketersediaan komoditas strategis, bahan kebutuhan pokok masyarakat secara
merata dan terjangkau dan meningkatkan daya saing industri.
Pusat kesehatan masyarakat dalam (puskesmas) menurut kepmenkes 128
tahun 2004 adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah
kerja (Depkes RI, 2004). Puskesmas memiliki fungsi sebagai pusat penggerak
pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, pusat

9
pelayanan kesehatan strata pertama meliputi pelayanan kesehatan perorangan
(private goods) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public goods). (Lestari
handayani, n.a. ma’ruf , evie sopacua. 2009)
Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk
mewujudkan masyarakat yang:
a. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat;
b. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu
c. hidup dalam lingkungan sehat; dan
d. memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat.
(Menteri kesehatan republik indonesia. 2014)
Proses pengelolaan akan berjalan efektif dan efisien bila ditunjang dengan
sistem informasi manajemen obat untuk menggalang keterpaduan pelaksanaan
kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan obat. Kegiatan pengelolaan obat meliputi
kegiatan perencanaan, pengadaan, penyimpanan, distribusi, penggunaan dan
pengendalian obat yang dikeloa.Puskesmas sbagai unit pelayanan kesehatan
memberikan pelayanan pengobatan (kuratif), pencegahan (preventif),
peningkatan kesehatan (promotif), dan pemulihan kesehatan
(rehabilitatif).Pengobatan merupakan kegiatan penting Puskesmas sehingga obat-
obatan pun jadi unsur penting.
Kegiatan perencanaan obat di puskesmas meliputi pemilihan jenis obat,
perhitungan jumlah kebutuhan obat dan peningkatan efisiensi dana. Sementara itu
kegiatan dari proses pengadaan obat di puskesmas meliputi menyusun daftar
permintaan obat-obatan yang sesuai dengan kebutuhan, pengajuan permintaan
kebutuhan obat kepada Dinas Kesehatan Dati II/Gudang Obat dengan
menggunakan formulir Daftar Permintaan/Penyerahan Obat, serta penerimaan
dan pengecekan jenis dan jumlah obat. (Sarlin djuna, muh. Alwy arifin ,
darmawansyah. 2012)
Obat generik adalah obat dengan nama kimia atau nama lazim, sementara
yang dimaksud dengan obat esensial adalah obat terpilih yang paling dibutuhkan

10
ditinjau dari kualitas, keamanan, manfaat, harga dan harus tersedia di unit
pelayanan kesehatan sesuai dengan fungsi dan tingkatnya (Depkes, 2008). Daftar
obat esensial nasional (DOEN) ditetapkan oleh Departemen Kesehatan dan setiap
periode tertentu dievaluasi dan direvisi. Dari 232 jenis obat generik, 153 jenis
termasuk obat esensial. Menurut Asosiasi Industri Farmasi pada tahun 2006, dari
50 jenis obat terlaris 21 jenis (42%) adalah obat esensial. Adapun jenis obat
terlaris adalah obat golongan antibiotika, analgetika. (Rini sasanti handayani,
sudibyo supardi, raharni, andi leny susyanty. 2009.)
Untuk meningkatkan penggunaan obat generik di sektor pemerintah,
Departemen Kesehatan (Depkes) menetapkan pedoman umum pengadaan obat
untuk Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD). Pada prinsipnya pengadaan obat untuk
pelayanan kesehatan dasar seperti Puskesmas seperti berikut: ”mutu obat terjamin,
memenuhi kriteria, khasiat, keamanan dan keabsahan obat serta mempunyai izin
edar (nomor registrasi), menerapkan konsepsi obat esensial dan dilaksanakan
melalui Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang mempunyai izin dari Depkes yang
masih berlaku” Kepmenkes RI No: 679/MENKES/SK/V/2005). Dalam bidang
peresepan obat, pemerintah dalam hal ini Depkes juga mengeluarkan peraturan
yang mewajibkan dokter di rumah sakit pemerintah menulis resep obat generik
(Permenkes RI No. 085/Menkes/Per/I/1989), tetapi pelaksanaannya tidak berjalan
sesuai harapan. Revitalisasi permenkes ini menjadi salah satu program 100 hari
Menteri Kesehatan RI Kabinet Indonesia Bersatu II. (Rini sasanti handayani,
sudibyo supardi, raharni, andi leny susyanty. 2009.)
Badan POM sebagai badan resmi milik pemerintah yang berperan utama
dalam pengawasan obat dan makanan sangat memiliki peran penting dalam
distribusi obat di Indonesia. Badan POM memiliki Visi : Obat dan makanan
terjamin aman, bermutu dan berkhasiat serta Misi : Melindungi masyarakat dari
obat dan makanan yang beresiko terhadap kesehatan. (BPOM, 2009)
Prinsip dasar badan POM adalah melalui Masyarakat, Pemerintah, Pelaku
Usaha. Tujuan dari badan POM itu sendiri adalah Melindungi Masyarakat dari :
Obat dan Makanan yang berisiko terhadap Kesehatan Masyarakat. Sedangkan
kegiatan yang dilakukan oleh bdan POM dinamakan SISPOM Sistim Pengawasan

11
Obat dan Makanan ( SISPOM ). Dan tujuan dari kegiatan SISPOM adalah dalam
rangka menjamin agar Obat dan Makanan Aman, bermanfaat dan bermutu dalam
kegiatan konsumsinya di masyarakat. (BPOM, 2009)
Ruang lingkup kerjasama antara badan POM dengan badan lain adalah :
Produk i sarana/ LEGAL ILEGAL
Jalur prod
/distribusi
LEGAL I. Produk legal/terdaftar II. Produk legal/terdaftar
diproduksi oleh produsen legal (mis. Obat keras)
disalurkan/
didistribusikan oleh
sarana
distributor/Pengecer yang
tidak berwenang
ILEGAL III. Produk ilegal/tidak terdaftar IV
disalurkan oleh sarana • Obat Palsu, Produk
distributor/Pengecer legal/ Ilegal
terdaftar • NAPZA diproduksi
• Mak/ Prod. Import tidak ilegal di
terdatar Jalur Ilisit
di supermarket
(Universitas udayana. 2015)
Sistem distribusi obat ideal yang terdapat di Indonesia adalah sebagai
berikut :

SARANA PRODUKSI
/DISTRIBUTOR

SARANA SARANA SARANA SARANA


PENYALU PELAYAN PELAYANA PELAYANAN
RAN AN N ( TOKO OBAT)
( PBF ) (APOTEK) (INSTALASI
FARMASI,
PRAKTEK
BERSAMA )

RUMAH
SAKIT/KLINIK
(TANPA
APOTEKER
(.Universitas udayana. 2015)

12
Dalam pelaksanaannya, badan POM mengacu pada beberapa PERMENKES
dan SK yang SK yang berasal dari pemerintah dan Kementerian Kesehatan
maupun peraturan kebijakan dari BPOM sendiri. Seperti :
1. Cara Distribusi Obat yang Baik, yang selanjutnya disingkat CDOB, adalah
cara distribusi/penyaluran obat dan/atau bahan obat yang bertujuan memastikan
mutu sepanjang jalur distribusi/penyaluran sesuai persyaratan dan tujuan
penggunaannya.
Prinsip CDOB
a. Menjamin keabsahan dan mutu obat agar obat yang sampai ke konsumen
adalah obat yang aman, efektif dan dapat digunakan sesuai indikasinya.
b. Menjamin agar produk obat tidak keluar ke jalur illicit, Napza: tidak ke
illicit, Bahan Kimia Obat : tidak ditambahkan ke jamu
Sarana distribusi yang baik ditinjau dari aspek berikut :
a. Sistem Jaminan Mutu Obat
b. Sistem Jaminan
c. Keabsahan Obat
d. Pengamanan Lalu-lintas Distribusi (TL pelanggaran Secara obyektif, cepat
dan tepat)
Ka Badan POM No : HK 00.05.3.2522 Tahun 2003 tentang Penerapan
Pedoman Cara Distribusi Obat Yang Baik. Adapaun aspek dari CDOB adalah
sebagai berikut :
a. Personalia
b. Dokumentasi
c. Pengadaan & penyaluran
d. Penyimpanan
e. Penarikan kembali
Dan berikut adalah cara dokumentasi yang benar :
a. SOP yang mantap
b. Pencatatan (mudah telusur)
c. Pelaporan
d. Inspeksi diri

13
(BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA,
2012)
2. PP 72/1998,Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan :
a. BAB I KETENTUAN UMUM
1) Pasal 1
Peredaran adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan
penyaluran atau penyerahan sediaan farmasi dan alat kesehatan baik
dalam rangka perdagangan, bukan perdagangan, atau
pemindahtanganan
2) BAB IV PEREDARAN
a) Peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan terdiri dari
penyaluran dan penyerahan dilaksanakan dengan memperhatikan
upaya pemeliharaan mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan
b) Setiap pengangkut sediaan farmasi dan alat kesehatan diperlukan
kelengkapan dokumen
c) Dokumen pengangkutan
d) Ijin Edar
e) Uji Mutu
f) Penyaluran:
Penyaluran sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat
dilakukan oleh badan usaha yang telah memiliki izin
g) Penyerahan
h) Penyerahan sediaan farmasi dan alat kesehatan dilakukan untuk
digunakan dalam pelayanan kesehatan atau kepentingan ilmu
pengetahuan.
i) Dalam pelayanan kesehatan dilakukan berdasarkan :
- . resep dokter;
- tanpa resep dokter.
(Presiden republik indonesia. 1998)

14
3. DISTRIBUSI OBAT
a. Pabrik Farmasi dapat menyalurkan hasil produksinya langsung ke PBF,
Apotik, Toko Obat dan sarana pelayanan kesehatan lainnya. (Permenkes
918/Menkes/Per/X/1993).
b. Apotik dilarang membeli atau menerim bahan baku obat selain dari PBF
Penyalur Bahan Baku Obat PT. Kimia Farma dan PBF yang akan
ditetapkan kemudian. (Permenkes 287/Menkes/SK/XI/76 ttg Pengimporan,
penyimpanan dan penyaluran bahan baku obat).
(Universitas udayana. 2015).
4. Peraturan menteri kesehatan republik indonesia. 2015 tentang peredaran,
penyimpanan, pemusnahan, dan pelaporan narkotika, psikotropika, dan
prekursor farmasi.
a. Pasal 4
Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi yang diedarkan harus
memenuhi persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu.
b. Pasal 5
1) Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi dalam bentuk obat
jadi hanya dapat diedarkan setelah mendapatkan izin edar dari Menteri.
2) Untuk mendapatkan izin edar Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor
Farmasi dalam bentuk obat jadi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus melalui pendaftaran pada Badan Pengawas Obat dan Makanan.
3) Ketentuan mengenai tata cara untuk mendapat izin edar sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
c. Pasal 6
1) Industri Farmasi yang memproduksi Narkotika dan PBF atau Instalasi
Farmasi Pemerintah yang menyalurkan Narkotika wajib memiliki izin
khusus dari Menteri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
2) Izin khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a) Izin Khusus Produksi Narkotika;

15
b) Izin Khusus Impor Narkotika; atau
c) Izin Khusus Penyaluran Narkotika.
3) Lembaga Ilmu Pengetahuan yang memperoleh, menanam, menyimpan,
dan menggunakan Narkotika dan/atau Psikotropika untuk kepentingan
ilmu pengetahuan dan teknologi harus memiliki izin dari Menteri
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Peredaran Narkotika dalam bentuk obat jadi yang digunakan dalam program
terapi dan rehabilitasi medis dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
d. Pasal 9
1) Penyaluran Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi hanya
dapat dilakukan berdasarkan:
a) surat pesanan; atau
b) Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) untuk
pesanan dari Puskesmas.
2) Surat pesanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a hanya
dapat berlaku untuk masing-masing Narkotika, Psikotropika, atau
Prekursor Farmasi.
3) Surat pesanan Narkotika hanya dapat digunakan untuk 1 (satu) jenis
Narkotika.
4) Surat pesanan Psikotropika atau Prekursor Farmasi hanya dapat
digunakan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis Psikotropika atau
Prekursor Farmasi.
5) Surat pesanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) harus
terpisah dari pesanan barang lain.
(Peraturan menteri kesehatan republik indonesia. 2015)

16
e. Merubah pasal 3 Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI tanggal 28 Januari 1964
No.809/Ph/64/b, sehingga berbunyi : "Pedagang Besar Farmasi Tidak
diperkenankan menjual obat langsung kepada dokter-dokter, dokter gigi dan 2.
Terhitung mulai berlakunya surat Keputusan ini semua dokter yang memiliki ijin
simpan obat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan R I tanggal 8 Juni
1962 No. 33148/Kab/ 176 tidak berhak lagi untuk membeli obat langsung pada
Pedagang Besar Farmasi, tetapi harus membeli obat-obat di apotik.
(SURAT KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
1973)
5. Penyimpangan Sistem Peredaran Obat
Dalam kegiatan distribusi obat dikenal istilah pemutihan, pemutihan adalah :
tindakan dimana suatu badan usaha ( apotik, rumah sakit, atau bahkan pbf )
Menyatakan diri sebagai penerima sejumlah Barang ( obat ) yang sesungguhnya tidak
pernah diterimanya.
a. Penyimpangan Yang Biasa dilakukan PBF :
PBF Distributor biasanya mendelegasikan penyimpangan pendistribusian
obatnya kepada PBF Sub Distributor (Sub Distributor mendapat discount untuk
tujuan ini
b. PBF Distributor dan PBF Sub Distributor memakai Apotik Panel untuk
menyamarkan penyimpangan distribusi obat disebut sebagai PEMUTIHAN
c. Bekerja sama dengan Apotik Panel untuk mendapatkan omzet di dokter, klinik,
RS tanpa apoteker, toko obat
d. Memanipulasi penerima obat yang tidak berhak dengan cara memanipulasi
penerima data
e. Cara yang lazim dipakai adalah seolah mengirim obat ke uotlet X, tetapi obatnya
dikirim ke outlet Y (umumnya ke dokter/took obat)
f. Salesman dengan sengaja mengirim pesanan yang salah berupa jumlah obat yang
lebih banyak dari yang dipesan apotik, atau obat yang tidak dipesan oleh apotik.
g. Obat-obat yang dikembalikan apotik, biasanya dibayar secara TUNAI oleh
salesman lalu dijual oleh salesman ke tempat lain (dokter/toko obat)

17
(Universitas udayana. 2015)
Apotik panel
Adalah Apotik yang bekerja sama dengan PBF dalam mendistribusikan obat keras
kepada pihak-pihak yang diinginkan oleh PBF yaitu :
a. Dokter
b. Rumah Sakit tanpa Apoteker
c. Poliklinik atau klinik tanpa apoteker
d. Paramedis
e. Toko Obat
f. Perorangan atau Freelancer
(Universitas udayana. 2015)
6. Tinjauan Hak Dokter atas Penyimpanan Obat :
Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
a. Pasal 35 ayat 1
Dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi mempunyai
wewenang melakukan praktik kedokteran sesuai pendidikan dan kompetensi yang
dimiliki yang terdiri atas :
1) huruf i :
Menyimpan obat dalam jumlah dan jenis yang diizinkan
2) huruf j :
Meracik dan menyerahkan obat kepada pasien, bagi yang praktik di daerah
terpencil yang tidak ada apotik
Penjelasan pasal
1) Pasal 35 ayat 1 huruf I
Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberikan kewenangan bagi dokter dan
dokter gigi untuk menyimpan obat selain obat suntik sebagai upaya untuk
menyelamatkan pasien. Obat tersebut diperoleh dokter atau dokter gigi dari
apoteker yang memiliki izin untuk mengelola apotek. Jumlah obat yang
disediakan terbatas pada kebutuhan pelayanan
(Universitas udayana. 2015)

18
7. Sanksi dalam rangka medukung sistem distribusi obat
a. Sanksi administratif
Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap
1) Tenaga kesehatan
2) Sarana kesehatan yaitu berupa pencabutan izin atau izin lain yang
diberikan
PP 72/1998, Pengamanan Sediaan Farmasi Dan Alat Kesehatan (Pasal 72)
1) Peringatan secara tertulis Larangan mengedarkan untuk sementara
waktu
2) Perintah penarikan produk yg tdk memenuhi Syarat Mutu, Keamanan,
Kemanfaatan
3) Perintah Pemusnahan; jika terbukti tidak Memenuhi Syarat Mutu,
Keamanan dan Kemanfaatan
4) Pencabutan sementara atau Pencabutan tetap Izin usaha industri, izin
edar atau izin lain yg ditetapkan
b. Sanksi (dasar hukum)
1) Ordonansi Obat Keras (St. 1949 No. 419)
Pasal 12 (ayat 1)
a) Hukuman penjara setinggi-tingginya 6 bulan atau denda setinggi-
tingginya 5000 gulden dikenakan kepada:
- Mereka yang melanggar peraturan-peraturan larangan yang
dimaksudkan dalam Pasal 3, 4 dan 5
- Pedagang kecil yang diakui berdagang berlawanan dgn ayat-
ayat khusus yg ditentukan pada surat izinnya atau
bertentangan dgn peraturan umum yg dimaksud dalam Pasal 6
ayat (5)
- Pedagang Besar yg diakui berdagang bertentangan dgn
syaratsyarat yg dimaksudkan dalam Pasal 7 ayat (4)
- Mereka yg berdagangan bertentangan dgn ketentuan-
ketentuan pada Pasal 8 ayat (1)

19
- Mereka yg berdagang bertentangan dgn peraturan-peraturan
yg dikeluarkan oleh Sec. V. St. sesuai dgn Pasal 8 ayat (2);
- Mereka yg tidak mentaati ketentuan-ketentuan dalam Pasal 6
ayat
b) (KUHP)
(7); Pasal 7 ayat (6) atau Pasal 9 ayat (1) dan (3) Pasal 12 ( ayat 2 )
- Obat-obat keras dengan mana atau terhadap mana dilakukan
dapat dinyatakan disitu
- Pasal 12 ( ayat 3 ) Jika tindakan –tindakan yang dapat
dihukum dijalankan oleh seorang Pedagang Kecil atau
Pedagang Besar yang diakui maka sebagai tambahan
perdagangan dalam obat keras dapat dilarang untuk jangka
waktu setinggi – tingginya 2 tahun
- Pasal 12 ( ayat 4 ) Tindakan-tindakan yang dapat dihukum
dalam pasal ini dianggap pelanggaran UU No. 1/1946 tentang
Peraturan Hukum Pidana (KUHP), UU No. 23/1992 tentang
Kesehatan, UU No. 5/1997 tentang Psikotropika, UU No.
22/1997 tentang Narkotika, UU No. 8/1999 tentang
Perlindungan Konsumen, PP No. 72/1998 tentang
Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
2) Pasal 386
Barang siapa menjual, menawarkan atau menyerahkan barang
makanan, minuman atau obat-obatan yang diketahui bahwa itu dipalsu,
dan menyembunyikan hal itu, diancam dengan pidana penjara paling
lama 4 tahun. Bahan makanan, minuman atau obat-obatan itu dipalsu,
jika nilainya atau faedahnya menjadi kurang karena sudah dicampur
dengan sesuatu bahan lain.
3) (UU No. 23 Th 1992 tentang Kesehatan)
Pasal 80 ayat (4) huruf b;
Barang siapa dengan sengaja memproduksi dan atau mengedarkan
sediaan farmasi berupa obat atau bahan obat yang tidak memenuhi

20
syarat Farmakope Indonesia dan atau buku standar lainnya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1); dipidana dengan pidana penjara
paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp
300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) Sediaan farmasi yang berupa
obat dan bahan obat harus memenuhi syarat Farmakope Indonesia atau
buku standar lainnya_Pasal 40 ayat (1); 􀁻 Pasal 81 ayat (2) huruf c;
Barang siapa dengan sengaja mengedarkan sediaan farmasi dan atau
alat kesehatan tanpa izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41
ayat (1); dipidana dengan penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau
pidana denda paling banyak Rp 140.000.000,00 (seratus empat puluh
juta rupiah), Pasal 41 ayat (1);, Sediaan farmasi dan alat kesehatan
hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin edar
4) Pasal 82 huruf d :arang siapa yang tanpa keahlian dan kewenangan
dengan sengaja melakukan pekerjaan kefarmasian sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah), Pasal 63 Pekerjaan kefarmasian
dalam pengadaan, produksi, distribusi, dan pelayanan sediaan farmasi
harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu
5) Pasal 84 angka 5
Barang siapa menyelenggarakan sarana kesehatan yang tidak
memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1)
atau tidak memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1)
dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau
pidana denda paling banyak Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah)
_ Sarana kesehatan tertentu yang diselenggarakan masyarakat harus
berbentuk badan hukum _ Pasal 58 ayat (1). Pasal 59 ayat (1). Semua
penyelenggaraan sarana kesehatan harus memiliki izin
6) (UU No. 23 Th 1992 tentang Kesehatan atau
( PP 72 /98 psl 79)

21
Denda Rp.10.000.000 ( sepuluh juta ) jika produksi tanpa menerapkan
CPOB, pengangkutan tanpa dokumen pengangkutan impor SF dan
alkes tanpa dokumen Lulus pengujian, mengedarkan dg kerusakan
kemasan, Mengiklankan SF and Alkes yang penyerahannya harus dgn
Resep , kecuali diklankan pada media, cetak ilmiah kedokteran atau
media cetak ilmiah farmasi
(Universitas udayana. 2015)

22
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Logistik yang dimaksud adalah proses perencanaan, implementasi dan
pengendalian efisiensi aliran biaya yang efektif dan penyimpanan bahan mentah,
bahan setengah jadi, barang jadi dan informasi-informasi yang menyertainya yang
menjamin pengadaan dan ketersediaan komoditas strategis, bahan kebutuhan
pokok masyarakat secara merata dan terjangkau dan meningkatkan daya saing
industri.
Badan POM sebagai badan resmi milik pemerintah yang berperan utama
dalam pengawasan obat dan makanan sangat memiliki peran penting dalam
distribusi obat di Indonesia. Badan POM memiliki Visi : Obat dan makanan
terjamin aman, bermutu dan berkhasiat serta Misi : Melindungi masyarakat dari
obat dan makanan yang beresiko terhadap kesehatan
Distribusi obat di Indonesia telah diatur keabsahnnya dalam UU dan SK
kementerian kesehatan dengan pasal yang jelas. Plenggaran yang dilakukan
berhubungan dengan distribusi obat memiliki sanksi yang memberatkan bagi
pelaku.
Permintaan untuk pengadaan obat generik di PUSKESMAS Sungai Besar
dilakukan tiap bulan dengan mengacu ada catatan rata-rata dan perkiraan
kebutuhan obt dalam sebulan hingga setahun ke belakang. Sumber perkiraan
diperoleh dari hasil koordinasi catatan dokter dan apoteker

B. Saran
1. Mahasiswa
Mahasiswa diharapkan lebih mendalami kembali tentang distribusi obat
generik di PUSKESMAS Sungai Besar agar dapat memberikan pemahaman
yang tepat dan efektif.

23
2. Institusi
Institusi diharapkan menyediakan sumber-sumber pustaka yang terbaru
sehingga mahasiswa dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan
terutama dalam bidang kesehatan
3. Lahan Praktek
Agar lebih mneingkatkan mutu pelayanan kesehatan dan lebih mengetahui
terhadap distribusi logistik obat generik di PUSKESMAS Sungai Besar agar
mampu menganalisis kejadian yang terjadi

24
DAFTAR PUSTAKA

Narasumber : Suhartono, SKM., MM (Kepala PUSKESMAS Sungai Besar,

Banjarbaru)

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA.

2012. Pedoman teknis cara distribusi obat yang baik. Jakarta, BPOM.

http://fkep.unand.ac.id/images/berita/CDOB.pdf. Diakses pada tanggal

11 oktober 2016.

BPOM, 2009. Peran perpustakaan POM RI dalam menunjang pengawasan obat

dan makanan. Jakarta, BPOM RI.ISSN 1829-9334.

http://perpustakaan.pom.go.id/KoleksiLainnya/Buletin%20Info%20POM

/0309.pdf. diakses pada tanggal 11 oktober 2016.

Lestari handayani, n.a. ma’ruf , evie sopacua. 2009. Peran tenaga

kesehatan

sebagai pelaksana pelayanan kesehatan puskesmas.

Surabaya. Departemen Kesehatan RI.

Https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&sou

rce=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=0ahukewiwt7fmiojq

ahxlti8khb2ycigqfggxmam&url=http%3a%2f%2fejournal.lit

bang.depkes.go.id%2findex.php%2fhsr%2farticle%2fdownl

oad%2f2752%2f1510&usg=afqjcng-

pi1gyzfdx74qfeqtovvmaonjdg&sig2=uqcypdhurv2swyw-

25
adedeq&bvm=bv.137132246,d.c2i. Diakses pada tanggal

11 oktober 2016

Menteri kesehatan republik indonesia. 2014. Pusat kesehatan

masyarakat.

Peraturan menteri kesehatan republik indonesia. Jakarta.

Http://pelayanan.jakarta.go.id/download/regulasi/perme

n-kesehatan-nomor-75-tahun-2014-tentang-pusat-

kesehatan-masyarakat.pdf. Diakses pada tanggal 11

oktober 2016

Peraturan menteri kesehatan republik indonesia. 2015. Peredaran, penyimpanan,

pemusnahan, dan pelaporan narkotika, psikotropika, dan prekursor

farmasi. Jakarta. Menteri kesehatan republik Indonesia.

http://kesehatan.jogjakota.go.id/public/uploads/download

/2016060210581 6_peraturan_menteri_ke.pdf. Diakses pada tanggal 11

oktober 2016

Presiden republik indonesia. 1998 . Pengamanan sediaan farmasi dan alat

kesehatan . Jakarta, peraturan pemerintah republik indonesia

http://www.idionline.org/wp-content/uploads/2010/03/

pp-no.-72-th-1998-ttg-pengamanan-sediaan-farmasi-dan-alat-

kesehatan.pdf. Diakses pada tanggal 11 oktober 2016

Rini sasanti handayani, sudibyo supardi, raharni, andi leny susyanty. 2009.

Ketersediaan dan peresepan obat generik dan obat

esensial di fasilitas pelayanan kefarmasian di 10

26
kabupaten/kota di indonesia.. Jakarta. Pusat penelitian

dan pengembangan sistem dan kebijakan kesehatan

badan penelitian dan pengembangan kesehatan.

Http://download.portalgaruda.org/article.php?article=806

90&val=4892. Diakses pada tanggal 11 oktober 2016.

Sarlin djuna, muh. Alwy arifin , darmawansyah. 2012. Studi

manajemen

pengelolaan obat di puskesmas labakkang Kabupaten

pangkep. Makassar. Fkm unhas.

Http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/1234567

89/10088/sarlin%20djuna%20k11109596.pdf?sequence=

1. Diakses pada tanggal 11 oktober 2016

Surat keputusan menteri kesehatan republik indonesia, 1973.

Surat keputusan

menteri kesehatan repUBLIK INDONESIA No. :

3987/A/SK/73 . Jakarta, menteri kesehatan republik

indonesia.

_https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=

web&cd=

2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiyw6yuj9TPAhVKo48KHfz4A

KoQF

gggMAE&url=http%3A%2F%2Fbinfar.kemkes.go.id%2F%3Fwp

dmact%

27
3Dprocess%26did%3DMTYzLmhvdGxpbms%3D&usg=AFQjCN

Gh5u_-

StNDI8-i6Jyy0bxyCA1ajw&sig2=59JgjdPCbx9fQrCKvZ-

nwQ&bvm=bv.135475266,d.c2I. Diakses pada tanggal 11

oktober 2016

Universitas udayana. 2015. Sistem Distribusi Obat di Indonesia. Bali, Universitas

Udayana. http://www.farmasi.unud.ac.id/ind/wp-content/uploads/P-VI-

Sistem-Distribusi-Obat-di-Indonesia-Kuliah.pdf. Diakses pada tanggal 11

oktober 2016.

28