Anda di halaman 1dari 14

Laporan kasus

ANEMIA DEFISIENSI BESI

Oleh:
Nafisa Az-Zahra
NIM.1508153954

Pembimbing:
dr. Marlina Tasril, Sp.PD-KHOM

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ARIFIN ACHMAD
PROVINSI RIAU
2019
CASE REPORT

ANEMIA DEFISIENSI BESI

Nafisa Az-Zahra1
Marlina Tasril2

1. Penulis untuk korespondensi: Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau,


E-mail: zahranafisaa@gmail.com
2. SMF bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Riau

Abstrak
Anemia Defisiensi Besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat
berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong
(depleted iron strore) yang pada akhirnya pembentukan hemoglobin berkurang.
Infeksi kronis pada Tuberculosis (TB) paru paling sering menyebabkan anemia
defisiensi besi dan malnutrisi. Supresi eritropoesis dari mediator inflamasi
merupakan patogenesis tersering anemia dengan TB.
Pasien wanita berusia 26 tahun datang ke RSUD Arifin Achmad dengan
keluhan lemas sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluhkan
pusing, lemas, letih, lesu, mata berkunang dan terdapat riwayat muntah persisten
± sejak 2 tahun yang lalu, batuk berdahak (+), sesak (+). Pada pemeriksaan fisik
didapatkan beberapa data penting yaitu kulit dan mukosa bibir pucat, konjungtiva
anemis, atropi papil lidah, sela iga tampak jelas, BB= 28kg, TB=144cm, IMT=13,5
kg/m2(malnutrisi), (+)redup pada perkusi kedua lapang paru, (+)ronki kasar di
apex, (+) nyeri epigastrium.. Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan
hemoglobin 6,8 gr/dl, hematokrit 21,6%, leukosit 28,57 10^3 u/L, trombosit 468
10^3 u/L, eritrosit 2,87 10^6 u/L, MCV 75,3 fL, MCH 23,7 pg, MCHC 31,5 g/dL,
hitung jenis eosinofil 0,1%, neutrofil 86,4%, dan limfosit 7,9%. Pemeriksaan kadar
Feritin 69 mg/mL, TIBC 172 ug/dL, iron 18 ug/dL. Pada pemeriksaan rontgen
thorax (+) infiltrat di kedua lapang paru.
Kata kunci : Anemia Defisiensi Besi (ADB), Tuberkulosis (TB), Malnutrisi

Ilmu Penyakit Dalam FKUR 2019 Page 2


LAPORAN KASUS

PENDAHULUAN Laki-laki dewasa < 13 g/dl

Anemia secara fungsional Wanita dewasa <12 g/dl


dideifinisikan sebagai penurunan tidak hamil
jumlah massa eritrosit (red cell mass)
Wanita hamil <11 g/dl
sehingga tidak dapat memenuhi
fungsinya untuk membawa oksigen Anemia Defisiensi Besi (ADB)

dalam jumlah yang cukup ke jaringan merupakan anemia yang paling sering

perifer (penurunan oxygen carrying dijumpai, terutama di negara-negara

capacity).1 Anemia bukanlah suatu tropik atau negara dunia ketiga, karena

kesatuan penyakit tersendiri, tetapi sangat berkaitan erat dengan taraf sosial

merupakan gejala berbagai macam ekonomi. Anemia ini mengenai lebih

penyakit dasar (underlying disease). dari 1/3 penduduk di dunia yang

Oleh karena itu dalam diagnosis anemia memberikan dampak kesehatan yang

tidaklah cukup hanya sampai kepada sangat merugikan serta dampak sosial

label anemia tetapi harus ditetapkan yang cukup serius.2

penyakit dasar yang menyebabkan Berikut klasifikasi anemia


anemia tersebut. Parameter yang paling berdasarkan morfologi dan etiologi1 :
umum dipakai untuk menunjukkan
I. Anemia hipokromik mikrositer
penurunan massa eritrosit adalah kadar
a. Anemia defisiensi besi
hemoglobin, disusul oleh hematokrit
b. Thalassemia major
dan hitung eritrosit.1 Berikut kadar
c. Anemia akibat penyakit kronis
Hemoglobin (Hb) yang menjadi
d. Anemia sideroblastik
referensi diagnosis anemia berdasarkan
II. Anemia normokromik normositer
WHO. (Tabel 1)
a. Anemia paska perdarahan akut
Tabel 1. Kriteria Anemia menurut b. Anemia aplastik
WHO c. Anemia hemolitik didapat

Kelompok Kriteria d. Anemia akibat penyakit kronik


anemia (hb) e. Anemia pada gagal ginjal
kronik

Ilmu Penyakit Dalam FK UR – RSUD AA Juli 2019 Page 3


LAPORAN KASUS

f. Anemia pada sindrom hasil laboratrium yang menunjukkan


mielodisplastik cadangan besi kosong.2
g. Anemia pada keganasan
2. EPIDEMIOLOGI
hematologik
Prevalensi anemia diperkirakan
III. Anemia makrositer
9% di negara-negara maju, sedangkan
a. Bentuk megaloblastik
di negara berkembang prevalensinya
- Anemia defisiensi asam
43%. Anak-anak dan Wanita Usia
folat
Subur (WUS) adalah kelompok yang
- Anemia defisiensi B12,
paling berisiko, dengan perkiraan
termasuk anemia
prevalensi anemia pada balita sebesar
pernisiosa
47%, pada wanita hamil sebesar 42%,
b. Bentuk non-megaloblastik
dan pada wanita yang tidak hamil usia
- Anemia pada penyakit hati
15-49 tahun sebesar 30%.3 Hasil Riset
kronis
Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada
- Anemia pada hipotiroid
tahun 2007, prevalensi anemia di
- Anemia pada sindrom
Provinsi Sumatera Selatan sebesar
mielodisplastik
16,5% dan 70,1% di antaranya
merupakan anemia hipokrom
TINJAUAN PUSTAKA mikrositer.4
3. ETIOLOGI
1. DEFINISI
Anemia defisiensi besi dapat
Anemia Defisiensi Besi (ADB) disebabkan oleh karena rendahnya
adalah anemia yang timbul akibat masukan besi, gangguan penyerapan,
berkurangnya penyediaan besi untuk serta kehilangan besi akibat perdarahan
eritropoesis, karena cadangan besi menahun. Perdarahan menahun bisa
kosong (depleted iron strore) yang terjadi pada saluran cerna akibat tukak
pada akhirnya pembentukan Hb peptik, kanker lambung, kanker kolon,
berkurang. ADB ditandai dengan infeksi cacing tambang, dan pemakaian
anemia hipokromik mikrositer dan Obat Anti Inflamasi Non Steroid

Ilmu Penyakit Dalam FK UR – RSUD AA Juli 2019 Page 4


LAPORAN KASUS

(OAINS). Faktor nutrisi juga dapat Pada fase iron deficient


menyebabkan ADB akibat kurangnya erythropoiesis kelainan pertama yang
jumlah besi total dalam makanan, dijumpai adalah peningkatan kadar free
kebutuhan besi yang meningkat pada protophorphyrin atau zinc
prematuritas dan wanita hamil serta protophorphyrin dalam eritrosit.
adanya gangguan absorbsi besi.2 Saturasi transferin menurun dan
4. PATOFISIOLOGI kapasitas ikat besi total (total iron
Perdarahan menahun yang binding capacity = TIBC) meningkat,
menyebabkan kehilangan besi atau serta peningkatan reseptor transferin
kebutuhan besi yang meningkat akan dalam serum. Apabila penurunan
dikompensasi tubuh sehingga cadangan jumlah besi terus terjadi maka
besi makin menurun.2 Jika cadangan eritropoesis semakin terganggu
besi menurun, keadaan ini disebut sehingga kadar hemoglobin mulai
keseimbangan zat besi yang negatif, menurun. Akibatnya timbul anemia
yaitu tahap deplesi besi (iron depleted hipokromik mikrositik, disebut sebagai
state). Keadaan ini ditandai oleh anemia defisiensi besi (iron deficiency
penurunan kadar feritin serum, anemia). Pada saat ini juga terjadi
peningkatan absorbsi besi dalam usus, kekurangan besi pada epitel serta pada
serta pengecatan besi dalam sumsum beberapa enzim yang dapat
tulang negatif. Apabila kekurangan besi menimbulkan gejala pada kuku, epitel
berlanjut terus maka cadangan besi mulut dan faring serta berbagai gejala
menjadi kosong sama sekali, lainnya.2 Berikut adalah gambaran sel
penyediaan besi untuk eritropoesis eritrosit pada anemia (Gambar 1.)
berkurang sehingga menimbulkan
gangguan pada bentuk eritrosit tetapi
anemia secara klinis belum terjadi.
Keadaan ini disebut sebagai iron
deficient erythropoiesis.

Ilmu Penyakit Dalam FK UR – RSUD AA Juli 2019 Page 5


LAPORAN KASUS

Gambar 1. Gambaran sel eritrosit

5. DIAGNOSIS

Semua anemia menyebabkan


gejala klasik akibat penurunan
kapasitas pembawa oksigen yaitu, Gambar 2. Tahapan anemia defisiensi besi
kelelahan, kelemahan, dan sesak napas,
khususnya dispnea saat aktivitas, begitu Pada Anemia Defisiensi Besi (ADB)

juga dengan gejala umum dari anemia didapatkan anemia mikrositik

defisiensi besi. Namun terdapat gejala hipokromik dengan penurunan kadar

khas pada Anemia Defisiensi Besi Hb mulai dari ringan sampai berat.

(ADB) yang tidak dapat ditemui pada Mean Corpuscular Volume (MCV) dan

anemia jenis lain yaitu koilonychia, Mean Corpuscular Hemoglobin

atrofi papil lidah, stomatitis angularis, (MCH) menurun. Mean Corpuscular

disfagia, atrofi mukosa gaster dan pica. Hemoglobin Consentration (MCHC)

Sindrom Paterson Kelly adalah menurun pada defisiensi yang lebih

kumpulan gejala yang terdiri anemia berat dan berlangsung lama.2 (Gambar

hipokromik mikrositik, atrofi papil 3.)

lidah dan disfagia.2

Kelainan laboratrium pada kasus


anemia defisiensi besi yang dapat
dijumpai dapat dilihat pada gambar 2.

Ilmu Penyakit Dalam FK UR – RSUD AA Juli 2019 Page 6


LAPORAN KASUS

Pemberian dapat dilakukan secara


intramuskular dalam atau intravena
pelan.2

Non-Farmakologi

Terapi non farmakologi adalah


memberikan penjelasan mengenai diet
Gambar 3. Alur diagnosis anemia dengan makanan bergizi dan
mikrositik hipokrom
mengandung protein hewani serta
6. TATALAKSANA konsumsi vitamin C 3x100 mg/hari.
Transfusi darah diindikasikan pada
Farmakologi
pasien ADB dengan penyakit jantung
a. Terapi besi oral anemik dengan ancaman gagal jantung,
Ferrous sulphat (sulfas ferosus) anemia yang sangat simtomatik,
dosis anjuran 3 x 200 mg, setiap 200 mg misalnya anemia dengan gejala pusing
sulfas ferosus mengandung 66 mg besi. yang mencolok dan pasien memerlukan
Pemberian sulfas ferrosus 3 x 200 mg peningkatan kadar Hb yang cepat
mengakibatkan absorbsi besi 50 mg seperti kehamilan trimester akhir atau
perhari yang dapat meningkatkan pre-operasi.2
eritropoesis 2 – 3 kali normal. 2

LAPORAN KASUS
b. Terapi besi parenteral
Ny. N 26 tahun datang dengan
Terapi melalui paraenteral
keluhan utama badan terasa lemas sejak
diberikan apabila pasien mengalami
1 hari Sebelum Masuk Rumah Sakit
intoleransi terhadap pemberian secara
(SMRS).
oral. Pemberian besi paraenteral dapat
berupa preparat iron dextran complex 3 hari SMRS pasien mengeluhkan
(mengandung 50 mg besi/ml), iron badannya lemas akibat seringnya
sorbitol citric acid complex dan yang mengalami mual dan muntah setelah
terbaru adalah iron ferric gluconate dan pasien makan dan nyeri ulu hati.
iron sucrose yang lebih aman. Muntah berisi makanan, darah (-)

Ilmu Penyakit Dalam FK UR – RSUD AA Juli 2019 Page 7


LAPORAN KASUS

dengan volume sekitar ¼ gelas Berdasarkan hasil pemeriksaan


belimbing sebanyak >3 kali sehari. fisik umum Glasgow Coma Scale
Keluhan muntah hebat sudah terjadi (GCS) 15, dengan kesadaran
sejak ± 2 tahun. Akibat muntah setiap komposmentis kooperatif. Tekanan
setelah makan, pasien mengalami darah 110/80 mmHg, nadi 120
penurunan Berat Badan (BB) yang kali/menit, pernafasan 28 kali
sangat drastis ± 12kg terutama 2 bulan per/menit, suhu 37,0oC. BB = 28kg,
terakhir. BAB dan BAK tidak ada TB=144 cm dengan Indeks Massa
keluhan. Tubuh (IMT) = 13,5 kg/m2 (gizi
kurang).
1 hari SMRS pasien mengeluhkan
dirinya semakin lemas, badannya terasa Dari hasil pemeriksaan fisik,
lelah dan pandangannya terasa pada mata konjungtiva anemis (+/+),
berkunang-kunang. Batuk (+) tanpa sklera (-) ikterik, mata cekung, mukosa
darah, berdahak dan berwarna kuning bibir kering dan pucat, atrofi papil lidah
± sejak 2 bulan yang lalu, sesak (+), (+) (dapat dilihat pada lampiran 1).
Riwayat kontak tuberculosis (-). Pada pemeriksaan jantung dalam batas
Demam (-) namun pasien terkadang normal. Pada pemeriksaan paru pada
demam, namun saat datang ke rumah inspeksi sela iga tampak, perkusi redup
sakit tidak dalam keadaan demam. pada sela iga ke-5 pada kedua lapang
paru, pada palpasi fokal fremitus
Riwayat keluarga pada pasien
menurun pada paru bagian dextra,
tidak ada mengeluhkan hal yang sama
auskultasi terdengar ronki kasar di
dengan pasien, tidak ada riwayat
akhir ekspirasi pada kedua lapang paru
tekanan darah tinggi, kencing manis,
pada bagian apeks. Pada pemeriksaan
tuberkulosis, sakit kuning dan
abdomen (+) nyeri pada epigastrium.
keganasan pada pasien dan keluarga.
Ekstremitas turgor kulitnya baik,
Pasien adalah seorang ibu rumah
CRT<2detik, kekuatan otot 5 pada
tangga, tidak merokok dan konsumsi
ekstremitas atas dan bawah.
alkohol dan memiliki gangguan pada
pola makan.

Ilmu Penyakit Dalam FK UR – RSUD AA Juli 2019 Page 8


LAPORAN KASUS

Dari pemeriksaan laboratorium penyakit kronis. Tuberkulosis


didapatkan Hemoglobin 6,8 gr/dl, merupakan penyakit menular
hematokrit 21,6%, leukosit 28,57 10^3 disebabkan oleh Mycobacterium
u/L, trombosit 468 10^3 u/L, eritrosit tuberculosis, menyerang jaringan paru
2,87 10^6 u/L, MCV 75,3 fL, MCH tidak termasuk pleura.5 Gejala klinis
23,7 pg, MCHC 31,5 g/dL, hitung jenis tuberkulosis dibagi menjadi 2 golongan
eosinofil 0,1%, neutrofil 86,4%, dan yaitu gejala respiratorik dan sistemik.
limfosit 7,9%. Pemeriksaan kadar Gejala respiratorik seperti batuk ≥ 2
Feritin 69 mg/mL, TIBC 172 ug/dL, minggu, batuk darah, sesak nafas, dan
iron 18 ug/dL. nyeri dada. Gejala sistemik seperti

Pemeriksaan rontgen thorax yang demam, malaise, keringat malam,

dilakukan didapatkan hasil adanya anoreksia dan BB turun.5 Gejala klinis

infiltrat pada kedua lapang paru ini sesuai dengan gejala pasien yaitu

(lampiran 2) dan pada pemeriksaan adanya batuk berdahak berwarna

sputum Basil Tahan Asam (BTA) kuning ± sejak 2 bulan yang lalu, sesak

dengan pewarnaan ziehl nielseen (+). nafas, anoreksia dan penurunan BB.
Anemia sering dijumpai pada pasien
DAFTAR MASALAH
dengan infeksi atau inflamasi kronis
1. Anemia mikrositik hipokromik maupun keganasan. Anemia ini
(anemia defisiensi besi e.c umumnya ringan atau sedang, disertai
penyakit kronis) oleh rasa lemah dan penurunan berat
2. Tuberkulosis paru kasus baru badan dan disebut anemia pada
dengan lesi minimal penyakit kronis.6 Pada umumnya,
3. Malnutrisi anemia pada penyakit kronis ditandai
DISKUSI oleh kadar Hb berkisar 7-11, g/dL,
kadar Fe serum menurun disertai TIBC
Berdasarkan hasil anamnesis,
yang rendah, cadangan Fe yang tinggi
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
di jaringan serta produksi sel darah
laboratorium penunjang diagnosis
merah berkurang.
pasien adalah anemia defisiensi besi e.c

Ilmu Penyakit Dalam FK UR – RSUD AA Juli 2019 Page 9


LAPORAN KASUS

sel-sel retikuloendoteial di hati untuk


menghasilkan hepsidin. Hepsidin akan
Pada pasien ini, diduga anemia
berinteraksi dengan feropontin, yakni
yang terjadi merupakan bagian dari
protein membran yang akan
sindrom stres hematologik
menghambat absorbsi besi oleh usus
(hematological stress syndrome),
halus, di samping itu hepsidin juga akan
dimana terjadi produksi sitokin yang
menurunkan pelepasan besi oleh
berlebihan karena kerusakan jaringan
makrofag. Akibat kedua efek hepsidin
akibat infeksi, inflamasi atau kanker.
tersebut, maka kadar besi dalam plasma
Sitokin tersebut dapat menyebabkan
akan menurun (hipoferemia), yang
sekuestrasi makrofag sehingga
menjadi karakteristik untuk anemia
mengikat lebih banyak zat besi,
penyakit kronis.6
meningkatkan destruksi eritrosit di
limpa, menekan produksi eritropoietin
oleh ginjal, serta menyebabkan
perangsangan yang inadekuat pada
eritropoiesis di sumsum tulang. Kadar
besi yang rendah meskipun cadangan
besi cukup menunjukkan adanya
gangguan metabolisme zat besi pada
penyakit kronis. Hal ini memberikan
konsep bahwa anemia disebabkan oleh
penurunan kemampuan Fe dalam
sintesis Hb.6

Reaksi inflamasi atau infeksi pada Gambar 4. Patogenesis Anemia


contoh kasus yaitu karena bakteri Penyakit Kronis
Karena anemia yang terjadi
mycobacterium tuberculosis pada
umumnya derajat ringan dan sedang,
pasien menyebabkan aktivasi makrofag
sering kali gejalanya tertutup oleh
sehingga merangsang pengeluaran IL-
gejala penyakit dasarnya, karena kadar
6. Selanjutnya IL-6 akan mengaktivasi

Ilmu Penyakit Dalam FK UR – RSUD AA Juli 2019 Page 10


LAPORAN KASUS

Hb sekitar 7-11, gr/dL umumnya 30mg 2x1 ampul, infus Paracetamol


asimtomatik. Meskipun demikian, 1g/100ml 3x1 botol, injeksi
apabila demam atau debilitas fisik Ceftriaxone 2x1g, Ambroxol tab 30mg
meningkat, pengurangan kapasitas 3x1, Domperidone 10mg tab 3x1 dan
transport oksigen jaringan akan Curcuma tab 20mg 3x1. Untuk terapi
memperjelas gejala anemianya atau cairan yang telah diberikan infus
memperberat keluhan sebelumnya. RL:Aminofluid = 2:1 20tpm yang
kemudian dilanjutkan dengan terapi
Tuberkulosis aktif berhubungan
cairan rumatan dengan Ringer laktat
dengan kaheksia, penurunan BB, dan
0,9% 3 kolf dalam 24 jam. Pasien juga
konsentrasi leptin di serum yang
diberikan terapi transfusi PRC 4 labu
rendah. Leptin merupakan salah satu
dengan tujuan mencapai target Hb 10
mediator utama antara nutrisi dan
gr/dl. Pasien sebelumnya belum pernah
imunitas. Ketika muncul gangguan
mendapatkan terapi obat anti
terhadap leptin, maka akan terjadi
tuberkulosis, sehingga dapat dianjurkan
anoreksia yang memungkinkan
untuk pemberian terapi OAT
penurunan status nutrisi.7 Pada
berdasarkan pedoman Persatuan Dokter
penderita anemia terdapat kelainan
Paru Indonesia (PDPI) yang
regulasi serta nutrisi dalam tubuh.
disesuaikan berat badan (28kg) seperti
Kelainan nutrisi ini berupa kekurangan
Rifampicin 200mg, Isoniazid 150mg,
albumin, folat, dan mikronutrisi seperti
Pirazinamid 500mg, Etambutol 500mg
selenium, zinc, vitamin B12, vitamin D,
dan diterapi selama 6 bulan..
dan zat besi sehingga memiliki indeks
Perencanaan terapi yang dapat
massa tubuh dibawah normal.8 Status
diberikan kepada pasien untuk
nutrisi yang buruk akan berdampak
mengatasi defisiensi besi adalah
terhadap kelemahan dari status
dengan pemberian sulfas ferosus
imunitas seseorang.
3x200mg dan edukasi mengenai
Pada pasien telah diberikan
makanan bergizi yang harus
tatalaksana injeksi Ondansetron Hcl
dikonsumsi pasien dengan defisiensi
4mg 2x1 ampul, injeksi Lansoprazole
besi seperti daging merah, ikan, daging

Ilmu Penyakit Dalam FK UR – RSUD AA Juli 2019 Page 11


LAPORAN KASUS

ayam, hati ayam serta sayur dan buah DAFTAR PUSTAKA


yang mengandung vitamin c sehingga
1 Bakta IM. Pendekatan Terhadap
dapat membantu penyerapan zat besi
Pasien Anemia. Buku Ajar Ilmu
lebih optimal.
Penyakit Dalam Jilid II. 6th ed.
SIMPULAN Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu

Anemia bukanlah suatu Penyakit Dalam; 2014. p.2575-77.

diagnosis yang dapat berdiri sendiri, 2 Bakta IM, Suega K, Dharmayuda

melainkan suatu diagnosis yang harus TG. Anemia Defisiensi Besi. Buku

ditemukan penyebab dasarnya. Anemia Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II.

defisiensi besi menjadi salah satu 6th ed. Jakarta: Pusat Penerbitan

penyebab tersering dari suatu infeksi Ilmu Penyakit Dalam; 2014.

kronis seperti tuberkulosis yang p.2589-97.

kemudian dapat berdampak terhadap 3 McLean E, Cogswell M, Egli I,

kejadian malnutrisi sehingga pada Wojdyla D, De Benoist B.

akhirnya menjadi anemia yang Worldwide prevalence of anaemia,

disebabkan karena penyakit kronis. Hal WHO Vitamin and Mineral

ini tentunya memberikan dampak Nutrition Information System,

buruk bagi kesehatan masyarakat baik 1993–2005.

anak-anak, para wanita baik yang hamil 4 Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).

maupun yang tidak, juga pada pria Badan Penelitian dan Pengembang

dewasa. Oleh sebab itu dibutuhkan Kesehatan. Departemen Kesehatan

penegakan diagnosis dan penanganan Republik Indonesia. Riskesdas.

yang tepat melalui anamnesis, Jakarta:Depkes RI; 2007.

pemeriksaan fisik dan yang terpenting 5 Kawai K, Villamor E, Mugusi FM,

pemeriksaan laboratorium penunjang. Saathoff E, Urassa W, Bosch RJ, et


al. Predictors of change in
nutritional and hemoglobin status
among adults treated for
tuberculosis in Tanzania. NIH

Ilmu Penyakit Dalam FK UR – RSUD AA Juli 2019 Page 12


LAPORAN KASUS

PublicAccess. 2011;15(10):1380– Lampiran 1


9.
6 Supandiman I, Fadjari H. Anemia
pada penyakit kronis. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. 6th
ed. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu
Penyakit Dalam; 2014. p.2642-45.
7 Miyata S, Tanaka M, Ihaku D. The
prognostic significance of
Lampiran 2
nutritional status using malnutrition
universal screening tool in patients
with pulmonary tuberculosis.
Nutrition Journal; 2013;12(1):1.
8 Lettow M Van, West CE, Meer
JWM Van Der, Wieringa FT,
Semba RD. Low plasma selenium
concentrations , high plasma human
immunodeficiency virus load and
high interleukin-6 concentrations
Lampiran 3
are risk factors associated with
anemia in adults presenting with Follow up pasien

pulmonary tuberculosis in Zomba 6/07/2019


district , Malawi. Eur J Clin Nutr. S : badan lemah, pusing, nyeri
2005;59:526–32. epigastrium (+), mual&muntah(+),
batuk (+)
O : TD= 90/50 mmHg, HR=
88x/menit, RR=20x/menit,
suhu=37oC, IMT= 13,5 kg/m2. Nyeri
tekan epigastrium(+), konjugtiva
anemis, atrofi papil lidah (+). Hb: 6,8
g/dl, Feritin 69 mg/mL, TIBC 172
ug/dL, iron 18 ug/dL. Hasil rontgen

Ilmu Penyakit Dalam FK UR – RSUD AA Juli 2019 Page 13


LAPORAN KASUS

(+) infiltrat di paru sinistra dan g/dl, auskultasi: vesikuler (+/+),


dextra. ronki (-/+).
A : Anemia defisiensi besi, suspek A : Anemia defisiensi besi, TB kasus
TB kasus baru, malnutrisi baru, malnutrisi
P : injeksi omeprazole 40mg P : Injeksi ceftriaxone 1x2gr, inj.
1x1amp, curcuma tab 20mg 3x1. Lansoprazole 2x1gr, domperidone
Konsul ke paru untuk TB, diet tab 3x1tab, curcuma tab 20mg
makanan lunak. Transfusi PRC 3x1tab, dan ambroxol 20mg 3x1tab,
OAT (Rifampisin, isoniazid,
etambutol dan pirazinamid),
Tanggal 07/7/2019 (pindah ke bangsal IVFD RL 0,9% 3 kolf / 8 jam.
paru)
S : badan lemah, pusing,
mual&muntah(+), nyeri ulu hati(+)
batuk berdahak(+)
O : TD= 100/60 mmHg, HR=
86x/menit, RR=28x/menit,
suhu=36,4oC, IMT= 13,5 kg/m2,
nyeri tekan epigastrium(+)
konjugtiva anemis, atrofi papil lidah
(+). Hasil laboratrium baru(-)
A : Anemia defisiensi besi, suspek
TB kasus baru, malnutrisi
P : Injeksi ceftriaxone 1x2gr, inj.
Lansoprazole 2x1gr, domperidone
tab 3x1tab, curcuma tab 20mg
3x1tab, dan ambroxol 20mg 3x1tab,
IVFD RL 0,9% 3 kolf.
Tanggal 08/7/2019
S : nyeri epigastrium (+),
mual&muntah(+), batuk berdahak(+)
O : TD= 100/70 mmHg, HR=
88x/menit, RR=20x/menit,
suhu=36,3oC, IMT= 13,5 kg/m2.
Nyeri tekan epigastrium(+). Hb: 14,1

Ilmu Penyakit Dalam FK UR – RSUD AA Juli 2019 Page 14