Anda di halaman 1dari 4

Definisi Penyakit Frambusia

Frambusia atau patek atau puru adalah infeksi sistemik menahun yang disebabkan oleh
Treponema pertenue. Frambusia merupakan penyakit menular yang ditularkan melalui kontak
langsung dengan lesi penderita (orang ke orang). Lesi awal bermanifestasi dalam bentuk lesi
kulit yang dalam masa penyembuhan memperlihan sedikit jaringan parut. Penyakit ini dapat
menjadi progresif dimana tulang dan kartilago yang terkena menyebabkan disabilitas dan
kecatatann apabila tidak diterapi.
Diagnosis Penyakit Frambusia
Penyakit ini terdapat di daerah tropik. Kelainan kulitnya bersifat khas dan pemeriksaan
laboratorik akan membantu menegakkan diagnosis. Gejala dan lesi kulit dapat diidentifikasi
berdasarkan stadium – stadiumnya. Diagnosis laboratorik dan survailans serologi merupakan
salah satu cara untuk membantu diagnosis. Pemeriksaan laboratorik memegang peranan yang
sangat penting dalam program eradikasi yaitu sebagai kofirmasi terhadap kasus suspek
frambusia dan juga dukungan survailans serologi untuk menggambarkan transmisi penyebaran
penyakitnya dalam komunitas. Pemeriksaan laboratorik yang dilakukan berupa pemeriksaan
langsung terhadap lesi dengan menggunakan mikroskop dan pemeriksaan antibody dari serum
pasien dengan menggunakan berbagai tes serologi.
1. Pemeriksaan langsung
Teknik mikroskopik yang digunakan adalah dengan menggunakan mikroskop
lapangan gelap, mikroskop fase kontras , dan mikroskop antibody floresens langsung.
Semua metode ini membutuhkan sampel segar dari lesi stadium I atau lesi stadium II
awal sehinggga pemeriksaan ini kurang praktis dan efisien. Pemeriksaan lapangan gelap :
treponema yang sangat kecil ini tidak dapat dilihat dengan mikroskop biasa. Dengan
pencahayaan yang gelap treponema terlihat seperti galur atau benang perak 13 kali
diameter sel darah merah. Beberapa spiral regular (1,5 μm) terikat kuat sepanjang
badannya dengan karekteristik bergerak memutar seperti pembuka botol dengan beberapa
kali gerakan fleksi. Pemeriksaan ini membutuhkan tenaga terampil dan harganya mahal
sehingga pemeriksaan ini hanya dilakukan pada laboratorium intermediet dan rujukan.

2. Pemeriksaan serologi
Serologi merupakan pemeriksaan yang paling dapat dipercaya dan dapat digunakan
pada semua stadium penyakit, selain itu tidak membutuhkan sampel yang segar.
Pemeriksaan serologi untuk menditeksi antibodi terhadap treponema, dan hanya dapat
dilakukan apabila penyakit sifilis genital telah disingkirkan. Pemeriksaan serologi standar
untuk sifilis juga memberikan reaksi positif pada penyakit frambusia, pinta, dan non
veneral endemik sifilis. Sehingga pemeriksaan serologi untuk sifilis dapat juga digunakan
untuk frambusia, yaitu VDRL ( Venereal Disease Research Laboratory ), RPR (Rapid
Plasma Reagen) dan TRUST (Toliridine Red Unheated Serum Test). Pemeriksaan ini
sudah menjadi standar dan sudah tersedia secara komersial. Pemeriksaan ini tidak mahal,
mudah dan cepat. Setelah onset penyakit muncul, masih dibutuhkan beberapa waktu
untuk dapat menghasilkan sero-positif. Dari pemeriksaan yang ada, RPR ternyata paling
banyak digunakan karena mudah digunakan dan teknik yang dibutuhkan tidak rumit. Tes
ini adalah tes aglutinasi cepat untuk mendeteksi antibodi dengan menggunakan antigen
kardiolipin yang dilapisi karbon. Singkatnya, 1 tetes(50 μl) serum pasien atau plasma
dicampurkan dengan 15 μl antigen pada kartu solid, akan terbentuk gumpalan hitam
keabu – abuan dalam 45 menit yang menandakan tes positif. Pemeriksaan non treponema
ini juga sering kurang sensitif pada infeksi lanjut. Skrining dengan tes non-treponema
saja sering menyebabkan reaksi positif palsu pada kondisi akut dan kronis pada pasien
dengan infeksi treponema yang negatif. Rata – rata reaksi positif palsu 1-2% dan sedikit
lebih tinggi kejadiannya pada kelompok usia yang sangat muda dengan faktor rheumatoid
autoimun. Western Blotting (immunolotting) assay tidak dapat membedakan bentuk
antibodi sifilis dengan frambusia atau pinta. Oleh karena itu, gejala klinis dan gambaran
lesi, anatomi lesi, mode transmisi dan usia penderita menjadi satu – satunya kriteria yang
dapat membedakan diagnosis penyakit ini secara benar dan tepat.

3. Pemeriksaan Histopatologi dapat dilakukan untuk mengetahui karakteristik lesi, dan


dapat dilakukan dengan cara biopsy.
Faktor Risiko Penyakit Frambusia
Faktor pejamu
Pria sedikit lebih berisiko terinfeksi frambusisa dari pada wanita. Namun beberapa studi
melaporkan bahwa anak kecil lebih rentan terinfeksi sedangkan studi lain menentang
pendapat ini. Studi dari India tidak melaporkan adanya perbedaan signifikan pada kelompok
usia tertentu yang terinfeksi. Studi eksperimental dan edpidemiologi menyatakan bahwa
infeksi frambusia memberikan imunitas parsial pada infeksi sifilis. Masalah latensi penyakit
juga dapat mempengaruhi tingkat kejadian frambusia. Sudah diketahui sejak lama bahwa
prevalensi infeksi subklinis lebih tinggi. Infeksi awal biasanya dapat menghilang dalam
beberapa waktu walaupun tanpa pengobatan dan menjadi bentuk laten. Bentuk ini dapat
bermanifes lagi setiap waktu dan inilah yang disebut dengan relaps lesi frambusia.
Munculnya erupsi lesi ini bisa berlangsung sampai interval 5 tahun. Lesi yang relaps ini
biasanya mempunyai tempat predileksi yaitu di daerah periaxila, perianal dan sekitar mulut.
Faktor lingkungan
Frambusia terdapat pada daerah pegunungan, terpencil dan yang tidak dapat terakses dan di
daerah hutan dimana iklimnya panas dan lembab. Kelembaban yang tinggi pada waktu yang
lama dan rata-rata curah hujan kurang lebih 40 inchi per tahun menjadi keadaan yang sangat
baik untuk transmisi. Masyarakat yang hidup dalam suku – suku dan daerah hutan dimana
kontak orang perorang sangat erat dan didukung degan padatnya penduduk, perumahan
yang buruk, standar kehidupan yang rendah mendukung penyebaran penyakit ini.
Riwayat Alamiah
Cara Penularan Penyakit Frambusia
Cara penularan melalui kontak langsung dengan sekret luka (dari orang ke orang ). Baju
yang terkontaminasi dan juga melalui lalat dapat menjadi sumber penularan namun
pengaruhnya tidak signifikan. T. pertenue tidak dapat menginvasi kulit yang utuh dan juga
tidak dapat melalui sawar plasenta atau kongenital. Faktor pendukung penyebaran
frambusia ialah kepadatan penduduk yang tinggi, dan sanitasi lingkungan yang buruk.
Setelah bakteri mengadakan penetrasi di kulit dalam waktu 3 - 4 minggu (kira - kira 10 - 90
hari) lesi awal mulai muncul. Lesi sekunder mulai muncul biasanya setelah interval 6 - 16
minggu (bahkan ada yang sampai lebih dari 2 tahun) dari infeksi primer. Pada akhir tahun
ke-5 lesi yang bersifat destruktrif dan menyebabkan deformitas pada kulit, tulang dan
periostium mulai muncul. Penyakit ini dapat kambuh 2 - 3 kali selama 5 tahun infeksi dan
dapat juga terjadi infeksi baru.
Epidemiologi Penyakit Frambusia
Pada awal tahun 1950-an diperkirakan banyak kasus frambusia terjadi di Afrika, Asia,
Amerika Selatan dan Tengah serta Kepulauan Pasifik, sebanyak 25 – 150 juta penderita.
Setelah WHO memprakarsai kampanye pemberantasan frambusia dalam kurun waktu tahun
1954 – 1963, para peneliti menemukan terjadinya penurunan yang drastic dari jumlah
penderita penyakit ini. Namun kemudian kasus frambusia kembali muncul akibat kurangnya
fasilitas kesehatan public serta pengobatan yang tidak adekuat. Dewasa ini, diperkirakan
sebanyak 100 juta anakanak beresiko terkena frambusia.3 Dengan ditemukannya penisilin
pada akhir tahun 1940 dan dilakukannya kampanye dan program anti-frambusia oleh
UNICEF dan WHO tahun 1950an – 1960an telah berhasil menurunkan prevalensi penyakit
treponematosis endemik di berbagai belahan dunia. Tahun 1970an menjadi kurang dari 2
juta penderita dan tahun 1980an dilaporkan kurang dari 500 kasus di belahan bumi bagian
barat. 3,4,5 Di Asia Tenggara sendiri terdapat 3 negara yang merupakan endemik frambusia
yaitu India, Indonesia,dan Timor Leste. Indonesia sudah menjadi bagain dari WHO dalam
usaha menanggulangi frambusia sejak tahun 1950an dan terus dilanjutkan sampai tahun
2000 namun tidak membawa hasil yang memuaskan karena upaya yang kurang fokus dan
kurangnya sumberdaya. Pada tahun 2003 angka kejadian kasus frambusia di Indonesia
sebanyak 4012. Di Indonesia penyakit ini ditemukan di Kalimantan barat, Sumatra utara,
Sumatra barat, Sumatra selatan dan Papua. Diperkirakan 75% penderita adalah anak-anak
usia di bawah 15 tahun dengan insiden terbanyak pada anak usia 6 -10 tahun, menyerang
baik pria maupun wanita tidak dipengaruhi oleh ras tertentu. Faktor yang mendukung
penyebaran dari penyakit ini adalah kepadatan penduduk, higienitas perorangan yang buruk,
dan fasilitas sanitasi yang buruk.
Upaya Pencegahan Penyakit Frambusia & Penanggulangan
Sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang dapat mencegah terjadinya frambusia.
Pada prinsipnya pencegahan yang dapat kita lakukan adalah pemutusan rantai penularan
kuman dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat dan efektif terhadap penderita dan
orang yang kontak langsung dengan penderita. Dengan demikan proses transmisi penyakit
dapat kita batasi. Selain itu higienitas perorangan dan sanitasi lingkungan perlu kita pelihara
dengan baik karena hal tersebut juga merupakan faktor risiko penularan penyakit.
Permasalahan Penyakit Frambusia di Indonesia