Anda di halaman 1dari 4

CIRI-CIRI DAN SIFAT-SIFAT UNSUR TRANSISI

Ciri-ciri unsur transisi


Jari-jari atom unsur transisi tidak teratur seperti periode ketiga (dari kiri ke kanan
makin kecil), bahkan ada yang jari-jari atomnya lebih besar dari unsur disebelah kirinya.
Hal ini munkin disebabkan oleh banyaknya elektron-elektron 3d. Dari kiri ke kanan
jumlah elektron pada 3d akan semakin banyak. Elektron-elektron tersebut saling tolak
menolak sehingga dapat memperkecil gaya tarik inti atom terhadap elektron-elektron.
Akibatnya, elektron-elektron akan lebih menjauhi inti atom dan jari-jari realtif lebih besar.
Untuk jari-jari ion, ion dengan muatan 3+ lebih kecil daripada jari-jari ion dengan muatan
2+. Hal ini dapat dimengerti karena muatan dalam inti atom tetap sedangkan jumlah
elektron pada ion3+ lebih sedikit. Akibatnya gaya tolak menolak antar elektron.

Sifat-sifat unsur transisi


1. Sifat Logam
Semua unsure transisi periode keempat bersifat logam, baik dalam sifat kimia
maupun dalam sifat fisis. Harga energy ionisasi yang relative rendah (kecuali seng yang
agak tinggi), sehingga, mudah membentuk ion positif. Demikian pula, harga titik didih
dan titik lelehnya relative tinggi (kecuali Zn yang membentuk TD dan TL relative
rendah). Hal ini disebabkan orbital subkulit d pada unsure transisi banyak orbital yang
kosong atau tersisi tidak penuh. Adanya orbital yang kosong memungkinkan atom-atom
membentuk ikatan kovalen (tidak permanen) disamping ikatan logam. Orbital subkulit
3d pada seng terisi penuh sehingga titik lelehnya rendah.

2. Sifat unsur transisi yang kedua adalah mempunyai energi ionisasi logam transisi yang
relatif rendah sehingga akan mudah membentuk ion positif.

3. Mempunyai Beberapa Tingkat Oksidasi


Kecuali Sc dan Zn, unsure-unsur transisi periode keempat mempunyai beberapa
tingkat oksidasi. Bilangan oksidasi yang mungkin bergantung pada bilangan oksidasi
yang dapat dicapai kestabilannya.
Kestabilan senyawa logam transisi diantaranya bergantung pada jenis atom yang
mengikat logam transisi, senyawa berbentuk Kristal atau larutan, PH dalam air.
Kestabilan bilangan oksidasi yang tinggi dapat dicapai melalui pembentukan senyawa
dengan oksoaniaon, fluoride, dan oksofluorida.
Sifat unsur logam transisi yang ketiga adalah mempunyai berbagai macam bilangan
oksidasi. Bilangan oksidasi ini umumnya adalah +2 (pada akhir deret bilangan oksidasi)
dan +3 (pada awal deret bilangan oksidasi). Sedangkan untuk bilangan oksidasi didalam
unsur transisi secara maksimum dapat dicapai dalam Senyawa dengan oksigen dan fluor
yang memiliki keelektronegatifan terbesar.

4. Sifat Magnet
Sifat unsur kimia transisi yang keempat adalah banyak senyawa logam transisi yang
bersifat paramagnetik. Sifat magnetik ion kompleks dari senyawa ransisi tergantung
pada banyaknya elektron tidak berpasangan yang ada. Lalu unsur – unsur transisi
umumnya yang mempunyai orbital d dan f yg belum terisi penuh sehingga unsur Bebas,
atom ataupun senyawanya dapat mempunyai elektron yang tidak berpasangan. Dan
jumlah elektron tidak berpasangan didalam ion kompleks bisa diketahui lewat
pengukuran magnetik. Dilihat dari sifat kemagnetannya unsur transisi ada yang bersifat
paramagentik tetapi adapula yang bersifat diamegnetik. Pada seng dimana orbital pada
sub kulit d terisi penuh, maka bersifat diamagnetic (sedikit ditolak keluar medan
magnet).Contoh:
- ion [CoF6]3- bersifat paramangetik karena dalam ion Co2+ terdapat 4 elektron yang
tidak berpasangan
- ion [Co(NH3)6]3+ bersifat diamagnetik karena dalam ion Co3+ tidak terdapat elektron
yang tidak berpasangan.

5. Membentuk Senyawa-Senyawa Berwarna


Senyawa unsure transisi (kecuali scandium dan seng), memberikan bermacam warna
baik padatan maupun larutannya. Warna senyawa dari unsure transisi juga berkaitan
dengan adanya orbital sub kulit d yang terisi tidak penuh. Peralihan electron yang
terjadi pada pengisian subkulit d (sehingga terjadi perubahan bilangan oksidasi)
menyebabkan terjadinya warna pada senyaa logam transisi.
Senyawa dari Sc3+ dan Ti4+ tidak berwarna karena subkulit 3d-nya kosong, serta
senyawa dari Zn2+ tidak berwarna karena subkulit 3d-nya terisi penuh, sehingga tidak
terjadi peralihan electron.
Sifat unsur transisi kimia yang kelima adalah banyaknya senyawa unsur transisi yang
berwarna. Setiap ion logam transisi membentuk suatu kompleks yang memiliki warna
karakteristik, selain itu ion – ion dengan tingkat oksidasi yang berbeda memiliki nyala
warna yang berbeda pula karena warna – warna unsur kimia transisi yang cerah terlihat
dikebanyakan didalam senyawa kompleks.

6. Sifat tidak reaktif


Beberapa unsur transisi juga memiliki sifat tidak reaktif seperti Au, Pt, Ru, Rh, Pd,
Os, dan Ir. Sifat tidak reaktif ini ditandai dengan tingginya entalpi sublimasi, tingginya
energi ionisasi, dan rendahnya entalpi pelarutan. Tingginya titik leleh logam ini
mengindikasikan entalpi sublimasi yang sangat besar.

7. Titik leleh dan titik didih


Titik leleh dan titik didih unsur-unsur transisi pada umumnya sangat tinggi melebihi
titik leleh dan titik didih logam alkali atau alkali tanah. Sepuluh unsur transisi meleleh
pada susshu di atas 2000 derajat celcius, tiga unsur meleleh pada suhu di atas 3000 oC.
Tingginya titik leleh unsur transisi merupakan ciri khas sifat unsur ini. Hal ini
menunjukkan bahwa kisi-ksisi kristal logam transisi jauh lebih sulit untuk dirusak
dibandingkan kisi kisi pada logam alkali atau alkali tanah. Hal ini disebabkan karena
adanya ikatan logam dan ikatan kovalen antar atom. Ikatan kovalen dapat terbentuk
antara elektron-elektron yang terdapat pada orbital d.

8. Densitas
Densitas unsur-unsur logam transisi cukup besar. Dua unsur yang memiliki massa
jenis yang paling besar adalah osminum 22,57 g/cm3 dan iridium 22,61/cm3. Besarnya
massa jenis unsur ini dipengaruhi oleh massa atom, kecilnya volume atom, dan
kerapatan kristalnya.

9. Jari-jari atom
Jari-jari atom unsur transisi tidak teratur seperti periode ketiga (dari kiri ke kanan
makin kecil), bahkan ada yang jari-jari atomnya lebih besar dari unsur disebelah
kirinya. Hal ini munkin disebabkan oleh banyaknya elektron-elektron 3d. Dari kiri ke
kanan jumlah elektron pada 3d akan semakin banyak. Elektron-elektron tersebut saling
tolak menolak sehingga dapat memperkecil gaya tarik inti atom terhadap elektron-
elektron. Akibatnya, elektron-elektron akan lebih menjauhi inti atom dan jari-jari realtif
lebih besar. Untuk jari-jari ion, ion dengan muatan 3+ lebih kecil daripada jari-jari ion
dengan muatan 2+. Hal ini dapat dimengerti karena muatan dalam inti atom tetap
sedangkan jumlah elektron pada ion3+ lebih sedikit. Akibatnya gaya tolak menolak antar
elektron.