Anda di halaman 1dari 2

55

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
1. Pengkajian
Dari hasil pengkajian pada kasus 1 didapatkan data subyektif yaitu pasien
mengatakan kaki kanannya merasa sedikit nyeri, pasien tidak tahan dengan bau busuk
kakinya, luka di kaki dikarenakan akhir Desember 2015 terkena paku dan luka tak
kunjung sembuh, kaki kanan tidak terasa, dan pasien belum mengerti cara mengontrol
kadar gula darah dan merawat lukanya. Pada data obyektif ditemukan terdapat luka
diabetik pada ekstermitas bawah yaitu pada ulkus pedis dextra dengan diameter + 10
cm dengan kedalaman 3 cm, leukosit: 11.500 mm3, tekanan darah: 135/75 mmHg,
nadi: 84 x/menit, suhu: 36,80C, irama napas: 18x/menit, GDS: 264 mg/dl. Pada
pengkajian kasus 2 data subyektif yang didapatkan yaitu pasien mengatakan nyeri
pada kaki kiri yang bengkak, kaki bengkak sudah 7 hari, pasien tidak tahu cara
merawat luka dan pasien memiliki penyakit penyerta yaitu hipertensi. Pasien
sebelumnya pernah diperiksa di PKU Gamping kemudian dirujuk ke PKU Yogyakarta.
Pada data obyektif yang ditemukan pada kasus 2 yaitu GDS: 496 mg/dl, tekanan
darah: 143/76 mmHg, nadi: 119x/menit, suhu: 36,70C, irama napas: 20x/menit,
terdapat luka pada ekstremitas bawah yaitu pada ulkus pedis sinistra, diameter ± 9 cm,
luka berwarna kuning dan mengeluarkan cairan nanah, terjadi kemerahan di sekitar
area luka.
2. Diagnosa
Dari hasil pengkajian yang dilakukan pada kedua kasus didapatkan diagnosis
prioritas yaitu kerusakan integritas jaringan.
3. Intervensi dan Implementasi
Intervensi dan implementasi pada kedua kasus yaitu membuka balutan dan
plester pada luka, memonitor jenis luka, mengambil kassa yang melekat pada luka,
mengukur luas luka, mencuci luka dengan cairan Nacl, membersihkan luka dengan
kassa yang sudah dibasahi dengan cairan Nacl, dan membalut kembali dengan kassa,
selanjutnya mengkaji perasaan klien tentang luka yang dialami apakah merasa sakit
atau tidak, mengontrol balutan pasien, dan ajarkan pasien dan keluarga mengenai
perawatan pada prosedur perawatan luka.
56
4. Evaluasi
Hasil dari evaluasi yang didapatkan dari asuhan keperawatan pada kedua kasus
adalah masalah kerusakan integritas jaringan belum teratasi, namun terjadi perbedaan
karakteristik luka yaitu pada kasus 1 terdapat granulasi pada luka. Sedangkan pada
kasus 2 yaitu masih terdapat nekrotik. Nekrotik pada kasus 2 disebabkan oleh
beberapa faktor pemberat untuk kesembuhan luka diantaranya yaitu kadar gula darah
yang lebih tinggi dari kasus 1 yaitu 496 mg/dl, tingkat infeksi yang lebih tinggi dari
kasus 1 yaitu leukosit 24.000 mm3, kemudian pasien pada kasus 2 memiliki penyakit
penyerta (Hipertensi) dan pengetahuan merawat luka DM yang kurang. Alasan
berikutnya besar kemungkinan saat operasi debridement mungkin kurang maksimal.

B. Saran
1. Mahasiswa
Mahasiswa perlu lebih meningkatkan keterampilan dalam melakukan asuhan
keperawatan kerusakan integritas jaringan pada Diabetes Melitus dengan luka ulkus.
2. Institusi Pendidikan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
UNISA hendaknya menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi dalam kegiatan
pembelajaran terutama mengenai asuhan keperawatan kerusakan integritas jaringan
pada Diabetes Melitus dengan luka ulkus.
3. Rumah Sakit
Diharapkan kepada institusi pelayanan di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta
dapat menerapkan asuhan keperawatan sesuai dengan asuhan dan masalah pada
pasien, sehingga pasien merasa puas dengan asuhan yang diberikan.
4. Pasien dan Keluarga
Pasien dan keluarga hendaknya menerapkan teknik perawatan luka saat berada di
rumah.