Anda di halaman 1dari 22

KIMIA ANORGANIK II

STRUKTUR ATOM DAN SUSUNAN ELEKTRON DALAM ATOM

Oleh:

AISYAH TRI SETYANINGSIH (1717011050)

NOVALISA PUTRI (1717011051)

MUHLIS SETIAWAN (1717011055)

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMPUNG

2019
DAFTAR ISI
BAB I .................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan ....................................................................................................... 1
BAB II ................................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN ..................................................................................................................... 2
2.1 Partikel Dasar Atom .................................................................................................. 2
2.2 Perkembangan Model Atom ..................................................................................... 3
a. Model Atom John Dalton ..................................................................................... 3
b. Model Atom J.J. Thomson ................................................................................... 4
c. Model Atom Rutherford....................................................................................... 5
d. Model Atom Niels Bohr ............................................................................................ 6
2.3 Bilangan Kuantum ..................................................................................................... 6
2.4 Konfigurasi Elektron ................................................................................................ 11
1. Kelopak dan subkelopak ....................................................................................... 12
2. Notasi .................................................................................................................... 13
3. Sejarah................................................................................................................... 14
4. Asas Aufbau .......................................................................................................... 15
2.5 Tabel periodik ......................................................................................................... 15
Kelemahan asas Aufbau ............................................................................................ 16
Ionisasi logam transisi............................................................................................... 16
Pengecualian kaidah Madelung lainnya .................................................................... 16
BAB III. KESIMPULAN........................................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 20

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Istilah atom pertama kali dikemukakan oleh filsuf Yunani bernama


Demokritus dengan istilah “atomos” yang artinya tidak dapat dibagi. Kemudian
dilanjutkan oleh Dalton. Menurut Dalton atom dianggap sebagai bola kaku yang
tidak dapat diurai lagi menjadi partikelpartikel yang lebih kecil. Namun
berdasarkan hasil temuan dari penelitian dibuktikan bahwa ternyata atom masih
memiliki partikel-partikel dasar yang lebih kecil pembentuk atom tersebut yaitu
elektron, proton, dan neutron. Untuk mengetahui lebih jelas tentang struktur
atom maka dalam tulisan ini dibahas tentang pertikel dasar atom, perkembangan
teori atom, konfigurasi elektron, dan sifat atom.

1.2 Tujuan Penulisan

Berdasarkan latar belakang diatas penulisan ini bertujuan untuk:


1. Mempelajari mengenai struktur atom
2. Mempelajari tentang susunan electron dalam atom

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Partikel Dasar Atom


a. Elektron
Penemuan elektron diawali oleh percobaan yang dilakukan oleh Crookes
tahun 1875 dengan menggunakan tabung sinar katoda yang menghasilkaN
sinar mengalir dari kutub negatif ke kutub positif menunjukkan bahwa
sinar bermuatan negatif. Penyelidikan selanjutnya menunjukkan bahwa
sinar katoda merupakan partikel paling kecil dan ringan. Penelitian ini
dilanjutkan oleh Thomson dengan mengganti katoda dengan logam lain
ternyata hasilnya sama. Thomson menyimpulkan bahwa sinar katoda
adalah partikel negatif yang terdapat pada semua atom yang disebut
elektron dengan lambang 𝑒 −1 0 , massanya sangat kecil yaitu 9,11 x 10-
28 gram sehingga dianggap tak bermuatan.

b. Proton
Proton ditemukan oleh Goldstein tahun 1886, dengan
menggunakan alat mirip tabung Crookes. Katoda dibuat berlobang, tabung
diisi dengan gas hidrogen menghasilkan sinar saluran terusan melalui
lobang (saluran) pada katoda,sinar tersebut dibelokkan kemedan listrik
negatif.Disimpulkan bahwa sinar tersebut bermuatan positif yang disebut
proton dengan muatan sebesar muatan elektron tapi tandanya
berlawanan,lambangnya
1
1𝑝

c. Neutron
Neutron ditemukan oleh James Chadwick tahun 1932 yaitu
melalui percobaan dengan menembakkan inti berilium dengan sinar α
ternyata menghasilkan partikel tak bermuatan atau netral bermassa
sebesar 1 atom H, lambangnya 10𝑛. Sejak ditemukannya neutron diyakini
bahwa atom terdiri dari inti atom yang mengandung proton dan neutron,
sedangkan disekitar nya terdapat elektron yang berputar

2
mengelilinginya. Antara satu atom dengan atom yang lain dibedakan oleh
jumlah partikel tersebut dan bukan jenisnya. Setiap atom netral
mempunyai muatan inti sama dengan muatan elektron. Secara umum
lambang atom
ditulis sebagai : 𝐴𝑧𝑋
Dimana :
A = jumlah p dan jumlah n
Z = jumlah e = jumlah p
N = A- Z = jumlah neutron

2.2 Perkembangan Model Atom

Seorang filsuf Yunani yang bernamaDemocritus berpendapat bahwa jika


suatu benda dibelah terus menerus, maka pada saat tertentu akan didapat akan
didapat bagian yang tidak dapat dibelah lagi. Bagian seperti ini oleh Democritus
disebut atom. Istilah atom berasal dari bahasa yunani “a” yang artinya tidak,
sedangkan “tomos” yang artinya dibagi. Jadi, atom artinya tidak dapat dibagi lagi.
Pengertian ini kemudian disempurnakan menjadi, atom adalah bagian terkecil
dari suatu unsur yang tidak dapat dibelah lagi namun namun masih memiliki sifat
kimia dan sifat fisika benda asalnya.
Atom dilambangkan dengan 𝐴𝑍𝑋, dimana A = nomor massa (menunjukkan massa
atom, merupakan jumlah proton dan neutron), Z = nomor atom (menunjukkan
jumlah elektron atau proton). Proton bermuatan positif, neutron tidak bermuatan
(netral), dan elektron bermuatan negatif. Massa proton = massa neutron = 1.800
kali massa elektron. Atom-atom yang memiliki nomor atom sama dan nomor
massa berbeda disebut isotop, atom-atom yang memiliki nomor massa sama dan
nomor atom berbeda dinamakan isobar, atom-atom yang memiliiki jumlah
neutron yang sama dinamakan isoton.

1. Macam-macam Model Atom

a. Model Atom John Dalton

3
Pada tahun 1808, John Dalton yang merupakan seorang guru di Inggris,
melakukan perenungan tentang atom. Hasil perenungan Dalton menyempurnakan
teori atom Democritus. Bayangan Dalton dan Democritus adalah bahwa atom
berbentuk pejal. Dalam renungannya Dalton mengemukakan postulatnya tentang
atom:
1. Setiap unsur terdiri dari partikel yang sangat kecil yang dinamakan dengan
atom
2. Atom dari unsur yang sama memiliiki sifat yang sama
3. Atom dari unsur berbeda memiliki sifat yang berbeda pula
4. Atom dari suatu unsur tidak dapat diubah menjadi atom unsur lain dengan
reaksi kimia, atom tidak dapat dimusnahkan dan atom juga tidak dapat
dihancurkan
5. Atom-atom dapat bergabung membentuk gabungan atom yang disebut
molekul
6. Dalam senyawa, perbandingan massa masing-masing unsur adalah tetap
Teori atom Dalton mulai membangkitkan minat terhadap penelitian mengenai
model atom. Namun, teori atom Dalton memiliki kekurangan, yaitu tidak dapat
menerangkan suatu larutan dapat menghantarkan arus listrik. Bagaimana mungkin
bola pejal dapat menghantarkan arus listrik padahal listrik adalah elektron yang
bergerak. Berarti ada partikel lain yang dapat menghantarkan aruslistrik.

b. Model Atom J.J. Thomson


Pada tahun 1897, J.J Thomson mengamati elektron. Dia menemukan bahwa
semua atom berisi elektron yang bermuatan negatif. Dikarenakan atom bermuatan
netral, maka setiap atom harus berisikan partikel bermuatan positif agar dapat
menyeimbangkan muatan negatif dari elektron.
Kelebihan model atom Thomson
Membuktikan adanya partikel lain yang bermuatan negatif dalam atom. Berarti
atom bukan merupakan bagian terkecil dari suatu unsur.
Kelemahan model atom Thomson
Model Thomson ini tidak dapat menjelaskan susunan muatan positif dan negatif
dalam bola atom tersebut.

4
c. Model Atom Rutherford

Rutherford melakukan penelitian tentang hamburan sinar α pada lempeng emas.


Hasil pengamatan tersebut dikembangkan dalam hipotesis model atom Rutherford
yaitu:
a) Sebagian besar dari atom merupakan permukaan kosong.
b) Atom memiliki inti atom bermuatan positif yang merupakan pusat massa
atom.
c) Elektron bergerak mengelilingi inti dengan kecepatan yang sangat tinggi.
d) Sebagian besar partikel α lewat tanpa mengalami pembelokkan/hambatan.
Sebagian kecil dibelokkan, dan sedikit sekali yang dipantulkan.

Kelemahan Model Atom Rutherford


a) Menurut hukum fisika klasik, elektron yang bergerak mengelilingi inti
memancarkan energi dalam bentuk gelombang elektromagnetik.
Akibatnya, lama-kelamaan elektron itu akan kehabisan energi dan
akhirnya menempel pada inti.
b) Model atom rutherford ini belum mampu menjelaskan dimana letak
elektron dan cara rotasinya terhadap ini atom.
c) Elektron memancarkan energi ketika bergerak, sehingga energi atom
menjadi tidak stabil.
d) Tidak dapat menjelaskan spektrum garis pada atom hidrogen (H).

5
d. Model Atom Niels Bohr

Pada tahun 1913,Niels Bohr mengemukakan pendapatnya bahwa elektron


bergerak mengelilingi inti atom pada lintasan-lintasan tertentu yang disebut kulit
atom. Model atom Bohr merupakan penyempurnaan dari model atom Rutherford.
Kelemahan teori atom Rutherford diperbaiki oleh Neils Bohr dengan
postulat bohr :
a) Elektron-elektron yang mengelilingi inti mempunyai lintasan dan energi
tertentu.
b) Dalam orbital tertentu, energi elektron adalah tetap. Elektron akan
menyerap energi jika berpindah ke orbit yang lebih luar dan akan
membebaskan energi jika berpindah ke orbit yang lebih dalam
Kelebihan model atom Bohr
a) atom terdiri dari beberapa kulit untuk tempat berpindahnya elektron.
Kelemahan model atom Bohr
b) tidak dapat menjelaskan efek Zeeman dan efek Strack.
c) Tidak dapat menerangkan kejadian-kejadian dalam ikatan kimia dengan
baik, pengaruh medan magnet terhadap atom-atom, dan spektrum atom
yang berelektron lebih banyak.

2.3 Bilangan Kuantum


Persamaan gelombang oleh Erwin Schrodinger memperjelas kemungkinan
ditemukannya elektron melalui bilangan-bilangan kuantum. Daerah paling
mungkin ditemukannya elektron disebut orbital, sehingga bilangan-bilangan akan
memperjelas posisi elektron dalam atom.

6
Ada empat bilangan kuantum yang akan kita kenal, yaitu bilangan kuantum utama
(n), bilangan kuantum Azimut (I), bilangan kuantum magnetic (m) dan bilangan
kuantum spin (s). Berikut ini adalah contoh soal bilangan kuantum :
1. Salah satu electron terluar yang terdapat dalam atom dengan nomor atom 20
mempunyai harga bilangan kuantum..
a. n =1 l=1 m=1 s=+1/2
b. n=2 l=2 m=2 s=-1/2
c. n=3 l=1 m=2 s=+1/2
d. n=4 l=0 m=0 s=+1/2
e. n=4 l=1 m=1 s=-1/2
Jawaban
Bilangan kuantum ada 4 yaitu bilangan kuantum utama (n), bilangan kuantum
azimuth (l), bilangan kuantum magnetic (m), dan bilangan kuantum spin (s).
Atom dengan nomor atom 20, mempunyai konfigurasi elektron sebagai berikut :

1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2

Elektron terluar berada di orbital 4s sehingga :


Bilangan kuantum utamanya n = 4
Bilangan kuantum azimutnya l=0 (ingat orbital s nilai l nya adalah 0)
Bilangan kuantum magnetiknya m=0
Bilangan kuantum spinnya adalah s =1/2 atau -1/2
Jadi elektron terluar atom tersebut memiliki konfigurasi elektron sebagai berikut :
n =4 l=0 m=0 s=+1/2 atau n=4 l=0 m=0 s=-1/2

Jawaban D

1. Bilangan Kuantum Utama


Dalam model atom Bohr, elektron dikatakan berada di dalam lintasan
stasioner dengan tingkat energi tertentu. Tingkat energi ini berkaitan dengan
bilangan kuantum utama dari elektron. Bilangan kuantum utama dinyatakan

7
dengan lambang n sebagaimana tingkat energi elektron pada lintasan atau kulit
ke-n.
Bisa dikatakan bahwa bilangan kuantum utama berkaitan dengan kulit elektron di
dalam atom. Bilangan kuantum utama membatasi jumlah elektron yang dapat
menempati satu lintasan atau kulit berdasarkan persamaan berikut.
Jumlah maksimum elektron pada kulit ke-n adalah 2n2
Tabel 1. Hubungan jenis kulit dan nilai bilangan kuantum utama.
Jenis Kulit Nilai (n)
K 1
L 2
M 3
N 4

2. Bilangan Kuantum Azimut (I)


Elektron yang bergerak mengelilingi inti atom memiliki momentum sudut.
Efek Zeeman yang teramati ketika atom berada di dalam medan magnet berkaitan
dengan orientasi atau arah momentum sudut dari gerak elektron mengelilingi inti
atom. Terpecahnya garis spektum atomik menandakan orientasi momentum sudut
elektron yang berbeda ketika elektron berada di dalam medan magnet.
Bilangan kuantum azimut menyatakan sub kulit tempat elektron berada dan
bentuk orbital, serta menentukan besarnya momentum sudut elektron terhadap
inti.
Banyaknya subkulit tempat elektron berada tergantung pada nilai bilangan
kuantum utama (n). Nilai bilangan kuantum azimut dari 0 sampai dengan (n - 1).
Bila n = 1, maka hanya ada satu subkulit yaitu l = 0. Sedangkan n = 2, maka ada
dua subkulit yaitu l = 0 dan l = 1.
Seandainya dibuat dalam tabel maka akan tampak sebagai berikut :
Tabel 2. Hubungan bilangan kuantum utama dan azimut serta subkulit.
Bilangan Kuantum Bilangan Kuantum Banyaknya
Utama (n) Azimut (I) SubKulit
1 0 1

8
2 0 2
1
3 0 3
1
2
4 0 4
1
2
3
Sub kulit yang harganya berbeda-beda ini diberi nama khusus:
l= 0 ; sesuai sub kulit s (s = sharp)
l= 1 ; sesuai sub kulit p (p = principle)
l = 2 ; sesuai sub kulit d (d = diffuse)
l = 3 ; sesuai sub kulit f (f = fundamental)
Tabel 3. Hubungan subkulit sejenis dalam kulit yang berbeda pada atom.
Kulit Nilai n Nilai I Jenis Subkulit
K 1 0 1s
L 2 0 2s
1 2p
M 3 0 3s
1 3p
2 3d
N 4 0 4s
1 4p
2 4d
3 4f

3. Bilangan Kuantum Magnetic (m)


Momentum sudut elektron L merupakan sebuah vektor. Jika vektor
momentum sudut L diproyeksikan ke arah sumbu yang tegak atau sumbu-z secara
tiga dimensi akan didapatkan besar komponen momentum sudut arah sumbu-z

9
dinyatakan sebagai Lz. bilangan bulat yang berkaitan dengan besar Lz adalah m.
bilangan ini disebut bilangan kuantum magnetik. Karena besar Lz bergantung pada
besar momentum sudut elektron L, maka nilai m juga berkaitan dengan nilai l.
m = −l, … , 0, … , +l
misalnya, untuk nilai l = 1, nilai m yang diperbolehkan adalah −1, 0, +1.
Bilangan kuantum magnetik menyatakan orbital tempat ditemukannya elektron
pada subkulit tertentu dan arah momentum sudut elektron terhadap inti. Sehingga
nilai bilangan kuantum magnetik berhubungan dengan bilangan kuantum azimut.
Nilai bilangan kuantum magnetik antara - l sampai + l.
Hubungan antara bilangan kuantum azimut dengan bilangan kuantum magnetik
dapat Anda perhatikan pada tabel 6.
Tabel 6. Hubungan bilangan kuantum azimut dengan bilangan kuantum magnetik.
Bilangan
Tanda Bilangan Kuantum Gambaran Jumlah
Kuantum
Orbital Magnetik Orbital Orbital
Azimut
0 S 0 1
1 P -1, 0, +1 3
2 D -2, -1, 0, +1, +2 5
3 F -3, -2, -1, 0, +1, +2, +3 7

4. Bilangan Kuantum Spin (s).


Bilangan kuantum spin diperlukan untuk menjelaskan efek Zeeman anomali.
Anomali ini berupa terpecahnya garis spektrum menjadi lebih banyak garis
dibanding yang diperkirakan. Jika efek Zeeman disebabkan oleh adanya medan
magnet eksternal, maka efek Zeeman anomali disebabkan oleh rotasi dari elektron
pada porosnya. Rotasi atau spin elektron menghasilkan momentum sudut intrinsik
elektron. Momentum sudut spin juga mempunyai dua orientasi yang berbeda,
yaitu spin atas dan spin bawah. Tiap orientasi spin elektron memiliki energi yang
berbeda tipis sehingga terlihat sebagai garis spektrum yang terpisah.
Bilangan kuantum spin (s): menunjukkan arah perputaran elektron pada
sumbunya. Dalam satu orbital, maksimum dapat beredar 2 elektron dan kedua

10
elektron ini berputar melalui sumbu dengan arah yang berlawanan, dan masing-
masing diberi harga spin +1/2 atau -1/2.

2.4 Konfigurasi Elektron

Dalam fisika atom dan kimia kuantum, konfigurasi elektron adalah


susunan elektron-elektron pada sebuah atom, molekul, atau struktur fisik lainnya.
Sama seperti partikel elementer lainnya, elektron patuh pada hukum mekanika
kuantum dan menampilkan sifat-sifat bak-partikel maupun bak-gelombang.
Secara formal, keadaan kuantum elektron tertentu ditentukan oleh fungsi
gelombangnya, yaitu sebuah fungsi ruang dan waktu yang bernilai kompleks.
Menurut interpretasi mekanika kuantum Copenhagen, posisi sebuah elektron tidak
bisa ditentukan kecuali setelah adanya aksi pengukuran yang menyebabkannya
untuk bisa dideteksi. Probabilitas aksi pengukuran akan mendeteksi sebuah
elektron pada titik tertentu pada ruang adalah proporsional terhadap kuadrat nilai
absolut fungsi gelombang pada titik tersebut.
Elektron-elektron dapat berpindah dari satu aras energi ke aras energi yang
lainnya dengan emisi atau absorpsi kuantum energi dalam bentuk foton. Oleh
karena asas larangan Pauli, tidak boleh ada lebih dari dua elektron yang dapat
menempati sebuah orbital atom, sehingga elektron hanya akan meloncat dari satu
orbital ke orbital yang lainnya hanya jika terdapat kekosongan di dalamnya.
Pengetahuan atas konfigurasi elektron atom-atom sangat berguna dalam
membantu pemahaman struktur tabel periodik unsur-unsur. Konsep ini juga
berguna dalam menjelaskan ikatan kimiayang menjaga atom-atom tetap
bersama.Dibawah ini adalah contoh soal konfigurasi elektron :

11
K L M N O P Q
X= 2 8 18 32 32 32 32
11X= K L M N Periode ke 3
2 8 1 Golongan IA
X adalah 11Na

K L M N Periode ke 4
19X= 2 8 8 1 Golongan IA
X adalah 19K

1. Kelopak dan subkelopak


Konfigurasi elektron yang pertama kali dipikirkan adalah berdasarkan pada
model atom model Bohr. Adalah umum membicarakan kelopak maupun
subkelopak walaupun sudah terdapat kemajuan dalam pemahaman sifat-sifat
mekania kuantum elektron. Berdasarkan asas larangan Pauli, sebuah orbital hanya
dapat menampung maksimal dua elektron. Namun pada kasus-kasus tertentu,
terdapat beberapa orbital yang memiliki aras energi yang sama (dikatakan
berdegenerasi), dan orbital-orbital ini dihitung bersama dalam konfigurasi
elektron.
Kelopak elektron merupakan sekumpulan orbital-orbital atom yang memiliki
bilangankuantum utaman yang sama, sehingga orbital 3s, orbital-orbital 3p, dan
orbital-orbital 3d semuanya merupakan bagian dari kelopak ketiga. Sebuah
kelopak elektron dapat menampung 2n2 elektron; kelopak pertama dapat
menampung 2 elektron, kelopak kedua 8 elektron, dan kelopak ketiga 18 elektron,
demikian seterusnya.
Subkelopak elektron merupakan sekelompok orbital-orbital yang mempunyai
label orbital yang sama, yakni yang memiliki nilai n dan l yang sama. Sehingga
tiga orbital 2p membentuk satu subkelopak, yang dapat menampung enam
elektron. Jumlah elektron yang dapat ditampung pada sebuah subkelopak
berjumlah 2(2l+1); sehingga subkelopak "s" dapat menampung 2 elektron,
subkelopak "p" 6 elektron, subkelopak "d" 10 elektron, dan subkelopak "f" 14
elektron.
Jumlah elektron yang dapat menduduki setiap kelopak dan subkelopak berasal
dari persamaan mekanika kuantumterutama asas larangan Pauli yang menyatakan

12
bahwa tidak ada dua elektron dalam satu atom yang bisa mempunyai nilai yang
sama pada keempat bilangan kuantumnya.

2. Notasi
Para fisikawan dan kimiawan menggunakan notasi standar untuk
mendeskripsikan konfigurasi-konfigurasi elektron atom dan molekul. Untuk atom,
notasinya terdiri dari untaian label orbital atom (misalnya 1s, 3d, 4f) dengan
jumlah elektron dituliskan pada setiap orbital (atau sekelompok orbital yang
mempunyai label yang sama). Sebagai contoh, hidrogen mempunyai satu elektron
pada orbital s kelopak pertama, sehingga konfigurasinya ditulis sebagai 1s1.
Litium mempunyai dua elektron pada subkelopak 1s dan satu elektron pada
subkelopak 2s, sehingga konfigurasi elektronnya ditulis sebagai 1s2 2s1.
Fosfor(bilangan atom 15) mempunyai konfigurasi elektron : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p3.
Untuk atom dengan banyak elektron, notasi ini akan menjadi sangat panjang,
sehingga notasi yang disingkat sering digunakan. Konfigurasi elektron fosfor,
misalnya, berbeda dari neon(1s2 2s2 2p6) hanya pada keberadaan kelopak ketiga.
Sehingga konfigurasi elektron neon dapat digunakan untuk menyingkat
konfigurasi elektron fosfor. Konfigurasi elektron fosfor kemudian dapat ditulis:
[Ne] 3s2 3p3. Konvensi ini sangat berguna karena elektron-elektron pada kelopak
terluar sajalah yang paling menentukan sifat-sifat kimiawi sebuah unsur.
Urutan penulisan orbital tidaklah tetap, beberapa sumber mengelompokkan semua
orbital dengan nilai n yang sama bersama, sedangkan sumber lainnya mengikuti
urutan berdasarkan asas Aufbau. Sehingga konfigurasi Besi dapat ditulis sebagai
[Ar] 3d6 4s2 ataupun [Ar] 4s2 3d6 (mengikuti asas Aufbau).
Adalah umum untuk menemukan label-label orbital "s", "p", "d", "f" ditulis
miring, walaupaun IUPAC merekomendasikan penulisan normal. Pemilihan huruf
"s", "p", "d", "f" berasal dari sistem lama dalam mengkategorikan garis spektra,
yakni "sharp", "principal", "diffuse", dan "fundamental". Setelah "f", label
selanjutnya diikuti secara alfabetis, yakni "g", "h", "i", ...dst, walaupun orbital-
orbital ini belum ditemukan.
Konfigurasi elektron molekul ditulis dengan cara yang sama, kecuali bahwa label
orbital molekullah yang digunakan, dan bukannya label orbital atom.

13
3. Sejarah
Niels Bohr adalah orang yang pertama kali (1923) mengajukan bahwa
periodisitas pada sifat-sifat unsur kimia dapat dijelaskan oleh struktur elektronik
atom tersebut. Pengajuannya didasarkan pada model atom Bohr, yang mana
kelopak-kelopak elektronnya merupakan orbit dengan jarak yang tetap dari inti
atom. Konfigurasi awal Bohr berbeda dengan konfigurasi yang sekarang
digunakan: sulfur berkonfigurasi 2.4.4.6 daripada 1s2 2s2 2p6 3s2 3p4.
Satu tahun kemudian, E. C. Stoner memasukkan bilangan kuantum ketiga
Sommerfeldke dalam deskripsi kelopak elektron, dan dengan benar memprediksi
struktur kelopak sulfur sebagai 2.8.6.Walaupun demikian, baik sistem Bohr
maupun sistem Stoner tidak dapat menjelaskan dengan baik perubahan spektra
atomdalam medan magnet (efek Zeeman).
Bohr sadar akan kekurangan ini (dan yang lainnya), dan menulis surat kepada
temannya Wolfgang Pauli untuk meminta bantuannya menyelamatkan teori
kuantum (sistem yang sekarang dikenal sebagai "teori kuantum lama"). Pauli
menyadari bahwa efek Zeeman haruslah hanya diakibatkan oleh elektron-elektron
terluar atom. Ia juga dapat menghasilkan kembali struktur kelopak Stoner, namun
dengan struktur subkelopak yang benar dengan pemasukan sebuah bilangan
kuantum keempat dan asas larangannya (1925):
It should be forbidden for more than one electron with the same value of the main
quantum number n to have the same value for the other three quantum numbers k
[l], j [ml] and m [ms].
Adalah tidak diperbolehkan untuk lebih dari satu elektron dengan nilai bilangan
kuantum utama n yang sama memiliki nilai tiga bilangan kuantum k [l], j [ml]
dan m [ms] yang sama.
Persamaan Schrödingeryang dipublikasikan tahun 1926 menghasilkan tiga dari
empat bilangan kuantum sebagai konsekuensi penyelesainnya untuk atom
hidrogen: penyelesaian ini menghasilkan orbital-orbital atom yang dapat kita
temukan dalam buku-buku teks kimia. Kajian spektra atom mengizinkan
konfigurasi elektron atom untuk dapat ditentukan secara eksperimen, yang pada

14
akhirnya menghasilkan kaidah empiris (dikenal sebagai kaidah Madelung (1936))
untuk urutan orbital atom mana yang terlebih dahulu diisi elektron.

4. Asas Aufbau
Asas Aufbau (berasal dari Bahasa JermanAufbau yang berarti "membangun,
konstruksi") adalah bagian penting dalam konsep konfigurasi elektron awal Bohr.
Ia dapat dinyatakan sebagai:
Terdapat maksimal dua elektron yang dapat diisi ke dalam orbital dengan
urutan peningkatan energi orbital: orbital berenergi terendah diisi
terlebih dahulu sebelum elektron diletakkan ke orbital berenergi lebih
tinggi.

Urutan pengisian orbital-orbital atom mengikuti arah panah. 5g dan 6h telah


hilang.
Asas ini bekerja dengan baik (untuk keadaan dasar atom-atom) untuk 18 unsur
pertama; ia akan menjadi semakin kurang tepat untuk 100 unsur sisanya. Bentuk
modern asas Aufbau menjelaskan urutan energi orbital berdasarkan kaidah
Madelung, pertama kali dinyatakan oleh Erwin Madelung pada tahun 1936.
1. Orbital diisi dengan urutan peningkatan n+l;
2. Apabila terdapat dua orbital dengan nilai n+l yang sama, maka
orbital yang pertama diisi adalah orbital dengan nilai n yang
paling rendah.
Sehingga, menurut kaidah ini, urutan pengisian orbital adalah sebagai berikut:
1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p 5s 4d 5p 6s 4f 5d 6p 7s 5f 6d 7p
Asas Aufbau dapat diterapkan, dalam bentuk yang dimodifikasi, ke protondan
neutron dalam inti atom.

2.5 Tabel periodik


Bentuk tabel periodik berhubungan dekat dengan konfigurasi elektron atom
unsur-unsur. Sebagai contoh, semua unsur golongan 2 memiliki konfigurasi
elektron [E] ns2 (dengan [E] adalah konfigurasi gas inert), dan memiliki kemiripan
dalam sifat-sifat kimia. Kelopak elektron terluar atom sering dirujuk sebagai
"kelopak valensi" dan menentukan sifat-sifat kimia suatu unsur. Perlu diingat

15
bahwa kemiripan dalam sifat-sifat kimia telah diketahui satu abad sebelumnya,
sebelum pemikiran konfigurasi elektron ada.

Kelemahan asas Aufbau


Asas Aufbau begantung pada postulat dasar bahwa urutan energi orbital adalah
tetap, baik untuk suatu unsur atau di antara unsur-unsur yang berbeda. Ia
menganggap orbital-orbital atom sebagai "kotak-kotak" energi tetap yang mana
dapat diletakkan dua elektron. Namun, energi elektron dalam orbital atom
bergantung pada energi keseluruhan elektron dalam atom (atau ion, molekul, dsb).
Tidak ada "penyelesaian satu elektron" untuk sebuah sistem dengan elektron lebih
dari satu, sebaliknya yang ada hanya sekelompok penyelesaian banyak elektron,
yang tidak dapat dihitung secara eksak (walaupun terdapat pendekatan
matematika yang dapat dilakukan, seperti metode Hartree-Fock).

Ionisasi logam transisi


Aplikasi asas Aufbau yang terlalu dipaksakan kemudan menghasilkan paradoks
dalam kimia logam transisi. Kalium dan kalsiummuncul dalam tabel periodik sebelum
logam transisi, dan memiliki konfigurasi elektron [Ar] 4s1 dan [Ar] 4s2 (orbital 4s
diisi terlebih dahulu sebelum orbital 3d). Hal ini sesuai dengan kaidah Madelung,
karena orbital 4s memiliki nilai n+l = 4 (n = 4, l = 0), sedangkan orbital 3d n+l =
5 (n = 3, l = 2). Namun kromium dan tembagamemiliki konfigurasi elektron
[Ar] 3d5 4s1 dan [Ar] 3d10 4s1 (satu elektron melewati pengisian orbital 4s ke
orbital 3d untuk menghasilkan subkelopak yang terisi setengah). Dalam kasus ini,
penjelasan yang diberikan adalah "subkelopak yang terisi setengah ataupun terisi
penuh adalah susunan elektron yang stabil".
Paradoks akan muncul ketika elektron dilepaskan dari atom logam transisi,
membentuk ion. Elektron yang pertama kali diionisasikan bukan berasal dari
orbital 3d, melainkan dari 4s. Hal yang sama juga terjadi ketika senyawa kimia
terbentuk. Kromium heksakarbonil dapat dijelaskan sebagai atom kromium (bukan
ion karena keadaan oksidasinya 0) yang dikelilingi enam ligan karbon monoksida; ia
bersifat diamagnetik dan konfigurasi atom pusat kromium adalah 3d6, yang berarti
bahwa orbital 4s pada atom bebas telah bepindah ke orbital 3d ketika bersenyawa.
Pergantian elektron antara 4s dan 3d ini dapat ditemukan secara universal pada
deret pertama logam-logam transisi.
Fenomena ini akan menjadi paradoks hanya ketika diasumsikan bahwa energi
orbital atom adalah tetap dan tidak dipengaruhi oleh keberadaan elektron pada
orbital-orbital lainnya. Jika begitu, maka orbital 3d akan memiliki energi yang
sama dengan orbital 3p, seperti pada hidrogen. Namun hal ini jelas-jelas tidak
demikian.

Pengecualian kaidah Madelung lainnya


Terdapat beberapa pengecualian kaidah Madelung lainnya untuk unsur-unsur
yang lebih berat, dan akan semakin sulit untuk menggunakan penjelasan yang
sederhana mengenai pengecualian ini. Adalah mungkin untuk memprediksikan
kebanyakan pengecualian ini menggunakan perhitungan Hartree-Fock,yang
merupakan metode pendekatan dengan melibatkan efek elektron lainnya pada
energi orbital. Untuk unsur-unsur yang lebih berat, diperlukan juga keterlibatan
efek relativitas khusus terhadap energi orbital atom, karena elektron-elektron pada

16
kelopak dalam bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Secara
umun, efek-efek relativistik ini cenderung menurunkan energi orbital s terhadap
orbital atom lainnya.

Periode 5 Periode 6 Periode 7


Konfigura Konfigura Konfigura
Unsur Z si Unsur Z si Unsur Z si
elektron elektron elektron
2
3 [Kr] 5s 5 [Xe] 6s2 8 [Rn] 7s2
Itrium 1 Lantanum Aktinium
9 4d 7 5d1 9 6d1
5 [Xe] 6s2 9 [Rn] 7s2
Serium Torium
8 4f1 5d1 0 6d2
Praseodimiu 5 [Xe] 6s2 Protaktiniu 9 [Rn] 7s2
m 9 4f3 m 1 5f2 6d1
6 [Xe] 6s2 9 [Rn] 7s2
Neodimium Uranium
0 4f4 2 5f3 6d1
6 [Xe] 6s2 9 [Rn] 7s2
Prometium Neptunium
1 4f5 3 5f4 6d1
6 [Xe] 6s2 9 [Rn] 7s2
Samarium Plutonium
2 4f6 4 5f6
6 [Xe] 6s2 9 [Rn] 7s2
Europium Amerisium
3 4f7 5 5f7
6 [Xe] 6s2 9 [Rn] 7s2
Gadolinium Kurium
4 4f7 5d1 6 5f7 6d1
6 [Xe] 6s2 9 [Rn] 7s2
Terbium Berkelium
5 4f9 7 5f9

4 [Kr] 5s2 7 [Xe] 6s2


Zirkonium Hafnium
0 4d2 2 4f14 5d2
4 [Kr] 5s1 7 [Xe] 6s2
Niobium Tantalum
1 4d4 3 4f145d3
Molibdenu 4 [Kr] 5s1 7 [Xe] 6s2
Tungsten
m 2 4d5 4 4f14 5d4
4 [Kr] 5s2 7 [Xe] 6s2
Teknesium Renium
3 4d5 5 4f14 5d5
4 [Kr] 5s1 7 [Xe] 6s2
Rutenium Osmium
4 4d7 6 4f14 5d6
4 [Kr] 5s1 7 [Xe] 6s2
Rodium Iridium
5 4d8 7 4f14 5d7
4 7 [Xe] 6s1
Paladium [Kr] 4d10 Platinum
6 8 4f14 5d9
4 [Kr] 5s1 7 [Xe] 6s1
Perak Emas
7 4d10 9 4f14 5d10
Kadmium 4 [Kr] 5s2 Raksa 8 [Xe] 6s2

17
8 4d10 0 4f14 5d10
[Xe] 6s2
4 [Kr] 5s2 8 14 10
Indium Talium 4f 5d
9 4d10 5p1 1
6p1

18
BAB III.
KESIMPULAN

Atom terdiri dari partikel dasar yaitu elektron, proton, dan neutron. Istilah atom
pertama kali dikemukan oleh Demokritus yaitu atomos yang berarti tidak dapat
dibagi. Perkembangan teori atom dimulai dari teori atom Dalton, kemudian teori
atom Thomson, teori Rutherford, teori atom Bohr dan terakhir teori mekanika
gelombang. Elektron –elekron dalam atom tersebar dalam orbital yang disebut
dengan konfigurasi elektron, pengisian orbital tersebut berdasarkan beberapa
aturan yaitu aturan aufbau, aturan hund dan larangan Pauli. Atom memiliki sifat-
sifat yaitu jari-jari atom, energi ionisasi dan afinitas elektron.

19
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, H, 1988. Struktur atom Struktur Molekul Sistem Perodik.Jurusan Kimia


FMIPA. ITB. Bandung.

Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jilid 1. Edisi
5.Binarupa Aksara.Jakarta.

Chang, R. 2005. Kimia Dasar. Jilid 1. Erlangga. Jakarta.

Syukri,S. 1999. Kimia Dasar Jilid 1. ITB. Bandung.

20