Anda di halaman 1dari 4

RUMUSAN SEMENTARA SEMINAR

INOVASI TEKNOLOGI DAN PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN


PEMASARAN BOKAR MERESPON HARGA KARET RENDAH

Dalam 7 tahun terakhir, agribisnis karet mengalami kondisi kurang menguntungkan


dimana harga karet cenderung menurun, sementara itu di sisi yang lain biaya produksinya
terus meningkat. Di tengah kondisi harga yang kurang menguntungkan, perkebunan karet
terus berupaya untuk tetap bertahan. Untuk menyebarkan informasi tentang
perkembangan kondisi ekonomi industri karet ke depan dan dalam upaya agar pekebun
karet dapat bertahan pada kondisi harga yang rendah, Balai Penelitian Sembawa, Pusat
Penelitian Karet, telah menyelenggarakan Seminar ”Inovasi Teknologi dan
Pengembangan Kelembagaan Pemasaran Bokar Merespon Harga merespon Harga
Karet Rendah”.
Peserta seminar berjumlah ± 125 orang yang berasal dari berbagai lembaga,
pengambil kebijakan, praktisi perkebunan karet, pakar/peneliti/akademisi, yaitu :
Direktorat Jenderal Perkebunan dan Jajaran Dinas Perkebunan di Tingkat Propinsi dan
Kabupaten di Wilayah Sumatera Bagian Selatan, Gabungan Perusahaan Karet Indonesia
(Gapkindo) Pusat dan Daerah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tingkat Propinsi dan
Kabupaten, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sumatera Selatan, Balai
PengkajianTeknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan, Balai Riset dan Standardisasi
Industri Palembang, Perusahaan Perkebunan Besar Negara (PTPN) dan Swasta, Industri
Karet Remah (Crumb Rubber), Lembaga Keuangan (Bank), Asosiasi Petani Karet
Indonesia (APKARINDO) dan UPPB, perusahaan dan petani peserta CSR perkebunan
karet, Peneliti, Dosen, Mahasiswa, dan pemerhati bidang perkebunan karet.

Dari seminar ini dapat diambil beberapa point penting sebagai berikut:
1. Di tengah kondisi harga karet yang tertekan, diplomasi pasar dan pengelolaan
informasi dalam membangun sentimen pasar positif perlu dilakukan dalam upaya
perbaikan harga karet alam menjadi lebih baik. Terkait dengan upaya tersebut,
telah dilakukan kerjasama antara Indonesia, Thailand dan Malaysia melalui forum
ITRC (International Tripartite Rubber Council) yang telah menghasilkan AETS
(Agreed Export Tonnage Scheme) ke-6 .
2. AETS ke-6 akan diterapkan pada tahun 2019. Implementasi AETS ke-6
memberikan dampak positif terhadap pergerakan harga karet alam di pasar global.
Informasi terkait AETS dan info lainnya perlu dikelola dan di-release secara tepat
untuk menciptakan efek positif terhadap pasar.
3. Beberapa aspek penting yang perlu dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja
industri perkaretan nasional menyangkut diplomasi pasar yaitu peningkatan
konsumsi dalam negeri, kemitraan pelaku usaha, peremajaan karet tua, adanya
national platform NR sustainability dan eliminasi PPn bokar.
4. Penurunan harga karet dapat diimbangi dengan peningkatan produktivitas
tanaman, mengurangi kehilangan hasil, menekan biaya produksi, serta upaya
peningkatan pendapatan melalui diversifikasi usaha dengan sistem intercropping
dan peningkatan harga bokar petani melalui pemasaran di UPPB.
5. Dalam upaya tersebut, Pusat Penelitian Karet telah menghasilkan berbagai inovasi
teknologi meliputi penyediaan bahan tanam klon unggul (IRR 112, IRR 118, IRR
230, IRR 230, IRR 425, IRR 429), teknologi pemeliharaan dan pengendalian
terhadap penyakit tanaman karet utama seperti Jamur Akar Putih/JAP (Tricho-Sp),
Kering Alur Sadap/KAS (Antico F-96), lapuk cabang (Bio-C), manajemen
pemupukan dan pupuk (Pukalet) berdasarkan analisis kebutuhan unsur hara serta
teknologi eksploitasi (Bi-cut, Tap-SP, LD) yang sesuai dengan kondisi fisiologis
tanaman. Diharapkan dengan penerapan teknologi tersebut secara bertahap
produktivitas perkebunan karet dapat meningkat dari sekitar 1300 kg/ha hingga
mencapai lebih dari 2000 kg/ha.
6. Fluktuasi harga karet dan kenaikan biaya produksi merupakan ancaman bagi
kesejahteraan petani karet. Dengan pendekatan Low Tapping Frequency (LTF)
atau penyadapan intensitas rendah diharapkan terjadi penurunan biaya produksi
sehingga pendapatan petani tetap dapat dipertahankan. Perubahan intensitas sadap
dapat dilakukan dari D3 menjadi D4, D5, D6 atau D7. Perubahan tersebut dapat
meningkatkan produksi per sadap namun menurunkan produksi kumulatif sebesar
2 – 19%, sementara itu di sisi yang lain dapat menghemat biaya penyadapan
sebesar 19 – 52 %, penggunaan tenaga kerja dan konsumsi kulit dapat dihemat,
serta serangan kering alur sadap juga dapat dihindari. Dalam aspek tertentu,

2
penghematan tenaga kerja penyadapan dapat dimanfaatkan untuk melakukan
diversifikasi usaha, termasuk diversifikasi dan integrasi usahatani dengan
tumpang sari-tanaman sela (intercropping) dan usahatani campuran (mixed
cropping/ farming).
7. Peningkatan produktivitas lahan perkebunan karet dengan memanfaatkan
teknologi tumpangsari (intercropping) pangan-hortikultura-dan pakan merupakan
salah satu solusi bagi petani karet untuk meningkatkan pendapatan dalam
menghadapi penurunan harga karet. Berbagai modifikasi jarak tanam tanam dapat
dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan lahan perkebunan mulai dari jarak
tanam tunggal dan jarak tanam ganda (18 m x (2 m x 2.5 m) atau (19 m x (4 m x
2 m)) untuk tumpangsari dengan tanaman sela pangan-hortikultura-pakan dan
bahkan mixed cropping/farming dengan tanaman tahunan lain (kelapa sawit,
kakao, kopi, lada, tebu dll) serta ternak. Berdasarkan kondisi jarak tanam dan
kebutuhan pasar, dapat dilakukan pemilihan komoditas yang tepat untuk dijadikan
sebagai tanaman sela.
8. Pemasaran bokar yang terorganisir merupakan peluang dalam upaya peningkatan
harga jual bokar. Pola pemasaran dengan cara kemitraan dan lelang melalui
kelembagaan UPPB yang melibatkan partisipasi petani swadaya, mampu
memberikan pengaruh terhadap perbaikan mutu bokar dan peningkatan bagian
penerimaan harga bokar petani menjadi lebih besar dari 80% harga FOB SIR 20.
Pengembangan produksi bokar menunjang pengembangan produk lateks pekat
sebagai bahan baku lateks pravulkanisasi untuk produk aspal karet melalui UPPB
sebagai salah satu sarana penunjang keberhasilan program pengembangan
infrastruktur jalan oleh pemerintah juga berpeluang untuk dapat dilakukan.
9. Kolaborasi dari para stakeholder yang terkait diharapkan mampu menjadi
dinamisator pengembangan UPPB di masa mendatang melalui program
pemberdayaan yang lebih efektif.
10. UPPB berpotensi sebagai penyedia bahan baku untuk Aspal Karet dengan
memproduksi lateks pekat.
11. Komoditas karet alam tetap memiliki prospek yang baik, dimana kinerja industri
karet alam nasional di tahun 2019 diperkirakan akan mengalami perbaikan yang
cukup signifikan.

3
Sembawa, 15 April 2019
Perumus
Dr. Fetrina Oktavia