Anda di halaman 1dari 18

1

TINDAKAN KHUSUS PADA PATOLOGI ANTENATAL

I. SRIKING RESIKO

Kartu Skor PoedjiRochjati


Kartu Skor Poedji Rochjati (KSPR) adalah kartu skor yang digunakan
sebagai alat skrining antenatal berbasis keluarga untuk menemukan faktor risiko
ibu hamil, yang selanjutnya mempermudah pengenalan kondisi untuk mencegah
terjadi komplikasi obstetrik pada saat persalinan. KSPR disusun dengan fforma
kombinasi antara checklist dari kondisi ibu hamil / faktor risiko dengan sistem
skor. Kartu skor ini dikembangkan sebagai suatu tekologi sederhana, mudah,
dapat diterima dan cepat digunakan oleh tenaga nonprofessional

Fungsi dari KSPR adalah:


1. Melakukan skrining deteksi dini ibu hamil risikotinggi.
2. Memantau kondisi ibu dan janin selamakehamilan.
3. Memberi pedoman penyuluhan untuk persalinan aman berencana
(Komunikasi InformasiEdukasi/KIE).
4. Mencatat dan melaporkan keadaan kehamilan, persalinan,nifas.
5. Validasi data mengenai perawatan ibu selama kehamilan, persalinan, nifas
dengan kondisi ibu danbayinya.
6. Audit Maternal Perinatal(AMP)

Sistem skor memudahkan pengedukasian mengenai berat ringannya faktor


risiko kepada ibu hamil, suami, maupun keluarga. Skor dengan nilai 2, 4, dan 8
merupakan bobot risiko dari tiap faktor risiko. Sedangkan jumlah skor setiap
kontak merupakan perkiraan besar risiko persalinan dengan perencanaan
pencegahan. Kelompok risiko dibagi menjadi 3 yaitu:

1. Kehamilan Risiko Rendah (KRR) : Skor2(hijau)


2. Kehamilan Risiko Tinggi (KRT) : Skor 6-10(kuning)
3. Kehamilan Risiko Sangat Tinggi (KRST) : Skor ≥ 12(merah)

Terdapat 20 faktor risiko yang dibagi menjadi 3 kelompok faktor risiko pada
penilaian KSPR.
1) Kelompok Faktor Risiko I (Ada Potensi GawatObstetrik)
2

1. Primi muda : terlalu muda, hamil pertama usia 16 tahun ataukurang


2. Primi Tua : terlalu tua, hamil usia ≥ 35tahun
3. Primi Tua Sekunder : jarak anak terkecil >10tahun
4. Anak terkecil < 2 tahun : terlalu cepat memiliki anaklagi
5. Grande multi : terlalu banyak memiliki anak, anak ≥4
6. Umur ibu ≥ 35 tahun : terlalutua
7. Tinggi badan ≤ 145 cm : terlalu pendek, belum pernah melahirkan normal
dengan bayi cukup bulan dan hidup, curiga panggulsempit
8. Pernah gagal kehamilan
9. Persalinan yang lalu dengantindakan
10. Bekas operasisesar

2) Kelompok Faktor RisikoII


1. Penyakit ibu : anemia, malaria, TBC paru, payah jantung, dan penyakit
lain.
2. Preeklampsia ringan
3. Hamilkembar
4. Hidramnion : air ketuban terlalubanyak
5. IUFD (Intra Uterine Fetal Death) : bayi mati dalam kandungan
6. Hamil serotinus : hamil lebih bulan (≥ 42 minggu belum melahirkan)
7. Letak sungsang
8. Letak Lintang

3) Kelompok Faktor RisikoIII


1. Perdarahan Antepartum : dapat berupa solusio plasenta, plasenta previa,
atau vasa previa
2. Preeklampsia berat/eklampsia
3

Ultrsonografi (USG)
Ultrsonografi (USG) adalah pemeriksaan dengan menggunakan ultrasonik (gelombang
suara) yang di pancarkan oleh transduser. Ultrasonografi (USG) ini juga merupakan
transmisi gelombang bunyi frekuensi tinggi yang berenergi rendah melewati suatu
medium, seperti cairan atau jaringan.

Gelombang suara ultrasonic adalah gelombang suara dengan frekuensi lebih dari pada
kemampuan pendengaran telinga manusia. Manusia memiliki frekuensi antara 20 Hz-
20.000 Hz, sedangkan gelombang ultrasonic ini memiliki frekuensi lebih 20.000 Hz,
namun yang digunakan dalam teknik ultrasonografi diagnostic ( kedokteran) adalah
gelombang suara dengan frekuensi antara 1 MHz hingga 15 MHz
Manfaatnya
1. Unjtuk meyakinkan adanya kehamilan
2. Untuk mengetahui usia kehamilan
3. Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan
4. Mengindetifikasi adanya ancaman keguguran. Jika terjadinya pendarahan USG
bisa mengidentifikasinya dengan baik
5. untuk memeriksa tubuh yang dianggap cukup akurat dan efektif untuk mengetahui
kelainan patologis dalam kehamilan.
6. Mengidentifikasi adanya masalah dengan plasenta misalnya plasenta previa
7. Mengenali kehamilan ganda/ kembar
8. Mengetahui kelainan letak janin ataupun kelainan pada janin tersebut misalnya
hirosefalus,sumbing, kelainan jantung, kehamilan Ektopik
9. Mengetahui jenis kelamin calon bayi

Komponen dalam mesin USG


4

Pada dasarnya, ada tiga komponen dalam mesin USG yaitu transdurer, monitor dan
terakhir mesin USG itu sendiri.
Transdurser
Transduser merupakan komponen yang di pegang dokter atau tenaga medis yang
berfungsi mengalirkan gelombang suara dan menerima pantulannya dan mengubah
gelombang akustik (gelombang pantu) ke sinyal elektronik sehingga gelombang tersebut
dapat diterjemahkan dalam bentuk gaambar. Di dalam transdurser ini terdapat yang
Kristal yang menangkap pantulan gelombang yang di salurkan oleh transduser ini.

Monitor dan mesin USG


Mesin USG merupakan bagian dari USG yang berfungsi untuk mengolah data yang
diterima dalam bentuk gelombang. Mesin USG ini sama dengan CPUnya USG karena
komponen di dalamnya sama seperti CPU pada PC.
5

Jenis USG
1. USG 2 Dimensi
Merupakan ultrasonografi tradisinonal yang memberikan gambaran janin
yang normal dan temuan patologis janin yang mudah dilihat dan akurat.
Namun, senografi 2D ini hanya memberikan pengamatan struktur janin
yang linear (panjang dan lebar)

2. USG 3 Dimensi
Merupakan USG yang memiliki 3 bidang yang berbeda yaitu membujur,
melintang dan mendatar yang disebut koronal. Sonografi ini dapat
memberikan parameter pengkajian yang baru, seperti gambaran
permukaan organ janin, wajah janin, volume janin dan kolerasi berat
dan panjang. Jadi gambar yang di tampilkan oleh USG ini hampir mirip
dengan yang aslinya. sehingga mempermudah melihat anatomi tubuh
janin dan mendeteksi kondisi kelainan pada janin, seperti kelainan bibir
sumbing atau bayi terlilit tali pusar.
6

3. USG 4 Dimensi
USG ini juga disebut dengan USG real time. USG ini dapat menghasilkan
gambar yang lebih detail, akurat dan tampak seperti aslinya, sehingga
tampak seperti sebuah film. Dengan USG ini kita dapat melihat dengan
jelas bentuk anggota tubuh, gerakan janin, dan ekspresi wajahnya
seperti bentuk hidung bayi, gerakan sedang menghisap jempol atau
menggerakan kakinya. Selain itu, USG 4D ini juga dapat mendeteksi
kelainan pada janin dengan lebih jelas, seperti kelainan plasenta atau
kehamilan ektopik.

4. USG Doppler
Merupakan alat sarana penunjang diagnostik pilihan untuk mendiagnosa
aliran darah pada pembuluh darah.
7

Kelebihan USG Doppler :


a. Mampu mendeteksi aliran darah dan kecepatan aliran darah
b. Mampu memberikan ruang informasi tentang ukuran, bentuk dan tingkat atau
besarnya aliran darah atau gejala kelainan darah yang terjadi pada pembuluh
darah
c. Mampu membedakan sifat tumor jinak dan ganas berdasarkan neo
vaskularisasi

Pengukuran USG ini mengutamakan pengukuran aliran darah terutama aliran pada tali
pusat. Alat ini juga digunakan untuk menilai keadaan/kesejahteraan janin. Penilainan
kesejahteraan janin meliputi :
a. Gerak nafas janin (minimal 2X/10 menit)
b. Tonus (gerak janin)
c. Indeks cairan ketuban (normalnya 10-20cm)
d. Doppler arteri umbilikalis
e. Reaktivitas denyut jantung janin.

Pemeriksaan laboratorium awal pada antenatal yang umum dilakukan

1. Pap Smear
Mengkaji kesehatan epitel serviks secara menyeluruh, tidak
perlu diulang, jika berada dalam batas normal selama 6 bulan terakhir.
2. Kultur GC/CT
Infeksi GC atau CT meningkatkan resiko persalinan prematur,
KPD kurang bulan, dan sepsis neonatal.
3. Hb/Ht
Mengkaji adanya anemia, intervensi meningkatkan hasil akhir
8

kehamilan yang lebih baik.


4. Skring antibodi (uji coombss tidak langsung)
Mengkaji adanya pemajanan terhadap antibodi Rh sebelumnya,
skrining positif mengharuskan konsultasi dokter.
5. Golongan darah/faktor Rh
Mengidentifikasi pasien dengan Rh negatif.
6. Sifilis
Mengkaji infeksi sifilis, hasil positif memerlukan tindak lanjut
dengan FTA-ABS untuk mengkaji infeksi saat ini dengan infeksi
sebelumnya.
7. HIV
Izin harus dilakukan agar pemeriksaan ini dapat dilakukan
penanganan pada ibu yang terinfeksi HIV telah terbukti menurunkan
risiko penyebaran HIV secara vertikal.
8. Hepatitis B
Adanya antigen inti mengindikasikan infeksi hepatitis B positif.
Antibodi permukaan hanya mengindikasikan kekebalan terhadap
hepatitis BB yang diperoleh melalui vaksinasi atau infeksi sebelumnya.
Bayi yang lahir dari pasien positif Hepatitis B perlu diterapi dengan
imunoglobin Hepatitis B.
9. Titer rubela
Infeksi rubela neonatal dapat menyebabkan defek lahir yang
berat. Ibu yang tidak kebal terhadap rubela perlu diingatkan tentang
pemajanan selama kehamilan dan harus divaksinasi dimasa
postpartum.
10. Urinalisis
Bakturia asimtomatik harus ditangani untuk mencegah
pielonefritis.
11. Tes mantoux (tes Tuberkulin)
Mengkaji adanya infeksi tuberkulosis. Tidak dilakukan jika
sebelumnya pasien telah diperiksa dan hasilnya positif.
12. Elektroforesis Hb
Harus dilakukan jika riwayat atau budaya pasien telah diperiksa
dan hasilnya positif.
13. Titer antibodi varisela
Mengkaji kekebalan terhadap varisela. Periksa apabila pasien
9

tidak memiliki riwayat infeksi atau vaksinasi sebelumnya.

Tindak lanjut pemeriksaan laboratorium


1. Quad Screen
Pada usia kehamilan 15-20 minggu. Skrining untuk sindrom
Down, trisomi 18, defek tuba neural.
2. GCT/GTT
Pada usia kehamilan 24-28 minggu. Mengkaji adanya GDM.
Pasien yang beresiko harus diperiksa lebih awal.
3. Hb/Ht
Pada usia kehamilan 28 minggu/36minggu. Mengkaji adanya
anemia.
4. Skrining antibodi
Pada usia kehamilan 28 minggu. Memastikan tidak ada
reaktivitas silang pada pasien Rh negatif dengan Rh positif. Rhogam
harus diberikan kepada pasien Rh negatif. Hasil positif memerlukan
konsultasi dokter.
5. Skrining GBS
Pada usia kehamilan 36 minggu. Skrining saluran genital
bawah/kolonisasi GBS direktum. Tangani pasien yang hasil
skriningnya positif saat persalinan.
6. Urinalisis
Dilakukan tiap kali kunjungan. Skrining bakturia asimtomatik,
proteinuria, dan glikosuna.
7. Sifilis/HIV
Pada usia kehamilan 28 minggu/36 minggu. Populasi beresiko
tinggi harus diskrining secara tepat.
8. Kultur GC/CT
Pada usia kehamilan 28 minggu/36 minggu. Populasi beresiko
tinggi harus diskrining secara tepat.
9. Preparat basah
Dilakukan setiap ada keluhan pasien tentang tanda dan gejala
vaginitis. Pengkajian untuk keluhan vaginitis. Bukti yang ada saat ini
bersifat kontroversial, tetapi beberapa penelitian menunjukkan adanya
kaitan antara vaginosis bakterial dan persalinan prematur.
10

II. Sistem Rujukan


A. Pengertian
Sistem rujukan adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dimana terjadi
pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus atau masalah kesehatan yang
timbul baik secara vertical (komunikasi antara unit yang sederajat) maupun secara
horizontal (komunikasi inti yang lebih tinggi ke unit yang lebih rendah).
 Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari : rujukan internal dan
rujukan eksternal.
a. Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan
di dalam institusi tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu)
ke puskesmas induk.
b. Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang
pelayanan kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas
rawat inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah).
 Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari : rujukan Medik dan
rujukan Kesehatan.
a. Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya
penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk pasien
puskesmas dengan penyakit kronis (jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus) ke
rumah sakit umum daerah.
b. Rujukan Kesehatan adalah rujukan pelayanan yang umumnya berkaitan
dengan upaya peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif).
Contohnya, merujuk pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (pojok gizi
puskesmas), atau pasien dengan masalah kesehatan kerja ke klinik sanitasi
puskesmas (pos Unit Kesehatan Kerja).

B. Kasus Kehamilan yang Harus Dirujuk


Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang
normal pada uterus sebelum janin dilahirkan. Definisi ini berlaku dengan masa
gestasi diatas 22 minggu atau berat janin diatas 500 gram. Istilah solusio plasenta
juga dikenal dengan istilah abruptio plasenta atau separasi prematur dari plasenta.
Plasenta dapat lepas seluruhnya yang disebut solusio plasenta totalis atau terlepas
sebagian yang disebut solusio plasenta parsialis atau terlepas hanya pada sebagian
kecil pinggir plasenta yang sering disebut ruptur sinus marginalis
Pelepasan sebagian atau seluruh plasenta dapat menyebabkan perdarahan baik
dari ibu maupun janin. Kejadian ini merupakan peristiwa yang serius dan merupakan
11

penyebab sekitar 15% kematian prenatal. 50% kematian ini disebabkan oleh
kelahiran prematur dan sebagian besar dari sisa jumlah tersebut meninggal karena
hipoksia intrauterin. Terlepasnya plasenta sebelum waktunya menyebabkan timbunan
darah antara plasenta dan dinding rahim yang dapat menimbulkan gangguan penyulit
terhadap ibu maupun janin.

C. Cara Merujuk
Langkah-langkah rujukan adalah :
1. Menentukan kegawat daruratan pasien
a) Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih ditemukan pasien yang tidak dapat
ditangani sendiri oleh keluarga atau kader/dukun bayi, maka segera dirujuk ke
fasilitas pelayanan kesehatan yang terdekat,oleh karena itu mereka belum tentu dapat
menerapkan ke tingkat kegawatdaruratan.
b) Pada tingkat bidan desa, puskesmas pembatu dan puskesmas.Tenaga
kesehatan yang ada pada fasilitas pelayanan kesehatan tersebut harus dapat
menentukan tingkat kegawatdaruratan kasus yang ditemui, sesuai dengan wewenang
dan tanggung jawabnya, mereka harus menentukan kasus manayang boleh ditangani
sendiri dan kasus mana yang harus dirujuk.
2. Menentukan tempat rujukan
Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan yang
mempunyai kewenangan dan terdekat termasuk fasilitas pelayanan swasta
dengan tidak mengabaikan kesediaan dan kemampuan pasien.
3. Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga
4. Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju
a) Memberitahukan bahwa akan ada pasien yang dirujuk.
b) Meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan dan
selama dalam perjalanan ke tempat rujukan.
c) Meminta petunjuk dan cara penangan untuk menolong pasien bila pasien tidak
mungkin dikirim.
5. Persiapan pasien
6. Pengiriman Pasien
7. Tindak lanjut pasien :
a) Untuk pasien yang telah dikembalikan
b) Harus kunjungan rumah, pasien yang memerlukan tindakan lanjut tapi tidak
melapor
12

D. Alur Rujukan
Alur rujukan kasus kegawat daruratan :
1. Dari Kader
Dapat langsung merujuk ke :
a) Puskesmas pembantu
b) Pondok bersalin atau bidan di desa
c) Puskesmas rawat inap
d) Rumah sakit swasta / RS pemerintah
2. Dari Posyandu
Dapat langsung merujuk ke
a) Puskesmas pembantu
b) Pondok bersalin atau bidan di desa

III. KOLABORASI MANAJEMEN MEDIS


Kolaborasi adalah hubungan saling berbagi tanggung jawab (kerjasama) dengan rekan
sejawat atau tenaga kesehatan lainnya dalam memberi asuhan pada pasien dalam
praktiknya,kolaborasi dilakukan dengan mendiskusikan diagnosis pasien serta
bekerjasama dalam penatalaksanaaan dan pemberian asuhan.masing –masing tenaga
kesehatan dapat saling berkonsultasi dengan tatap muka langsung atau melalui alat
komunikasi lainnya dan tidak perlu hadir ketika tindakan dilakukan.petugas kesehatan
yang ditugaskan menangani pasien bertanggung jawab terhadap keseluruhan
penatalaksanaan asuhan.

Pelayanan kebidanan kolaborasi adalah pelayanan yang dilakukan oleh bidan sebagai
anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara bersamaan atau sebagai salah satu urutan
dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan.tujuan pelayanan ini adalah berbagi
otoritas dalam pemberian pelayanan berkualitas sesuai ruang linkup masing-masing.

A. Elemen kolaborasi mencakup:


Harus melibatkan tenaga ahli dengan keahlian yang berbeda,yang dapat bekerjasama
secara timbale balik dengan baik
Anggota kelompok harus bersikap tegas dan mau bekerjasama Kelompok harus memberi
pelayanan yang keunikannya dihasilkan dari kombinasi pandangan dan keahlian yang
diberikan oleh setiap anggota tim tersebut.
B. Pelayanan kolaborasi/kerjasama terdiri dari:
1. Menerapkan manajemen keperawatan pada setiap asuhan keperawatan sesuai fungsi
13

kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga .


2. Memberikan asuhan keperawatan pada ibu hamil resiko tinggi dan pertolongan
pertama pada kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi .
3. Memberikan asuhan keperawatan pada ibu dalam masa persalinan dan pertolongan
pertama pada kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
4. Memberikan asuhan keperawatan pada ibu dalam masa nifas dan pertolongan pertama
pada kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
5. Memberikan asuhan keperawatan pada bayi baru lahir dan pertolongan pertama pada
kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
6. Memberikan asuhan keperawatan pada balita resiko tinggi dan pertolongan pertama
pada kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi.

C. Contoh kasus :
Kolaborasi bidan dengan ahli gizi
Ny.T datang kebidan A untuk konsultasi tentang keadaanya yang masih dalam masa
nifas. Ternyata setelah diperiksa,status gizi Ny.T buruk dan Ny.T mengalami anemia
berat.untuk menangani hal itu, bidan A berkolaborasi dengan ahli gizi dalam upaya
perbaikan status gizi Ny.T yang mengalami gizi buruk dan anemia berat.

Kolaborasi bidan dengan psikolog


Anak Ny.W meninggal satu minggu yang lalu, akibat hal itu Ny.W mengalami depresi.
Untuk menangani depresi Ny.W yang kehilangan anaknya ,bidan A berkolaborasi dengan
psikologi.

Kolaborasi dengan dokter


Ibu Rina melahirkan secara normal di RSUD Cilacap yang ditangani oleh Bidan Rara.
Namun, setelah melahirkan Ibu Rina mengalami pendarahan yang sangat hebat , sehingga
membuat Bidan Rara panik dan langsung menghubungi dokter Obgyn untuk meminta
solusi penanganan masalah yang di alaminya.

Asuhan Kolaborasi yang diberikan:


Bidan menghubungi dokter obgyn untuk meminta solusi penanganan masalah yang harus
dilakukan . Dan pada saat itu dokter obgyn menyuruh bidan Rara agar memberikan
transfusi darah pada ibu Rina, sehingga bidan Rara langsung menghubungi perawat untuk
memasangkan transfusi darah pada Ibu Rina. Sehingga terjalin kolaborasi antara ke tiga
tenaga kesehatan tersebut .
14

Pembahasan
Berdasarkan kasus diatas, dapat disimpulkan bahwa kasus tersebut adalah kasus
kolaborasi, karena pada kasus tersebut terjadi kerjasama antara bidan, perawat, dan dokter
obgyn. Dan kasus ini sesuai dengan PERMENKES RI NO. 28 Tahun Pasal 25 poin (b)
tentang asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit tertentu.

D. Perkembangan perawat kolaborasi

Pada awalnya, praktik kolaborasi menggunakan model hierarki yang menekankan


komunikasi satu arah , kontak terbatas antara pasien dan dokter, dan menempatkan dokter
sebagai tokoh yang dominan. Pola tersebut berkembang menjadi model praktik
kolaborasi yang menekankan komunikasi dua arah, tetapi tetap menempatkan dokter pada
posisi utama dan membatasi hubungan antara dokter dan pasien. Pola yang ketiga lebih
berpusatpada pasien.sesama pemberi pelayanan harus dapat bekerja sama, begitu juga
dengan pasien.model ini berbentuk melingkar. Menekankan kontinuitas dan kondisi
timbale balik satu sama lain. Tidak ada satu pemberi playanan yang mendominasi secara
terus menerus.

E. Kolaborasi dalam praktik keperawatan


Dalam praktik playanan keperawatan pelayanan kolaborasi adalah asuhan keperawatan
yang di berikan kepada klien dengan tanggung jawab bersama semua pemberi playanan
yang terlibat. misalnya: bidan,dokter,atau tenaga kesehatan profesional lainya.perawat
merupakan anggota tim.perawat menyakini bahwa dalam memberi asuhan harus tetap
menjaga,mendukung, dan menghargai proses fisiologis manusia.rujukan yang efektif di
lakukan untuk menjamin kesejahteraan ibu dan bayinya . Perawat juga bekerjasama
dalam mengembangkan kemitraan dengan anggota kesehatan lainya. Dalam
melaksanakan tugasnya, keperawatan melakukan kolaborasi,konsultasi, dan perujukan
sesuai dengan kondisi pasien, kewenangan dan kemampuanya.

Praktik perawat-kebidanan merupakan praktik perawatan kesehatan wanita mandiri dalam


system pelayanan kesehatan yang menyediakan konsultasi, penatalaksanaan kolaborasi,
atau rujukan sesuai indikasi status kesehatan klien…” (American College of Nurse-
Midwives. Definition of Midwifery Practice. Washington, DC: ACNM, 1997).
Selain itu memasukkan konsep penatalaksanaan mandiri atau kolaborasi ke dalam
definisi praktik perawat-kebidanan, American College of Nurse-Midwives telah
15

mengeluarkan pernyataan terpisah yang khusus mengupas masing-masing konsep ini


(Amrican College of Nurse-Midwives. Independent Midwifery Practice. Washington,
DC: ACNM, 1997 and American College of Nurse-Midwives. Collaborative
Management in Midwifery Practice for Medical, Gynaecological and Obstetrical
Conditions. Washington, DC: ACNM, 1997). Semua dokumen ini menginformasikan
bahwa perawatan kebidanan terutama ditujukan kepada wanita sehat, tetapi juga
menyatakan bahwa CNM dan CM dapat terus menjadi alat untuk perawatan kesehatan
wanita yang mengalami komplikasi medis, ginekologis, atau obstetric. Bekerja dengan
para wanita ini dapat melibatkan bidan dalam satu dari tiga proses:
1. Konsultasi. Nasihat atau pendapat seorang dokter atau anggota lain tim perawatan
kesehatan dicari sementara bidan memegang tanggung jawab utama dalam perawatan
kesehatan wanita.
2. Kolaborasi. Bidan dan dokter bersama-sama mengatur perawatan kesehatan wanita
atau bayi baru lahir yang mengalami komplikasi medis, ginekologis, atau obstetric.
Tujuan kolaborasi adalah berbagai otoritas ketika memberi pelayanan berkualitas dalam
ruang lingkup masing-masing individu. Kemampuan untuk berbagi tanggung jawab,
saling menghormati, saling mempercayai, dan komunikasi yang efektif antara bidan dan
dokter merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai keberhasilan penatalaksanaan
kolaborasi perawatan kesehatan berkualitas.
3. Rujukan. Bidan merujuk kliennya kepada seorang dokter atau pemberi perawatan
kesehatan professional lain untuk menyelesaikan masalah tertentu atau aspek perawatan
klien.

“Kemandirian dan kolaborasi bukanlah hal yang saling terpisah” (Williams, D. R.


Primary care for women: The nurse-midwifery legacy. J. Nurse-Midwifery 40(2): 57
(March/April) 1995). Melainkan bekerja sama dalam sebuah pendekatan yang memberi
keuntungan kepada ibu dan bayinya. Bidan ahli dalam membantu persalinan normal.
Ketika memberi perawatan kesehatan kepada wanita yang tidak sedang menderita sakit,
bidan melakukan praktik kebidanan secara mandiri. Namun, tidak semua pasien yang
berkunjung ke bidan berada dalam kondisi normal (Burst, H. V. Real midwifery. J.
Nurse-Midwifery 35(4): 189-191 (July/August) 1990). Riwayat perawatan-kebidanan
yang panjang dalam memberi pelayanan kepada masyarakat yang tidak terjangkau
fasilitas kesehatan dan kepada populasi yang rentan berulang kali menunjukkan
penurunan angka kesakitan dan kematian bayi pada masyarakat kompleks beresiko tinggi
dan berisiko tinggi mengalami komplikasi (Scuphohne, A., Dejoseph, J., Strobino, D. M.,
and Paine, L. L. Nurse-midwifery care to vulnerable populations: Phase I: Demographic
16

characteristic of the national CNM sample. J. Nurse-Midwifery 37(5): 341-347


(September/October) 1992). Betapapun besar risiko atau komplikasi pada status
kehamilan atau ginekologis ibu, komponen tertentu yang berkenaan dengan kondisi dan
situasi ibu berada dalam keadaan normal dan membutuhkan perhatian. Kontribusi bidan
dalam penatalaksanaan kolaborasi perawatan mencakup memberi perlindungan dan
memfasilitasi setiap proses yang bersifat normal, menyediakan informasi tentang
beberapa pilihan yang aman, dan melibatkan ibu dalam membuat keputusan, melibatkan
keluarga ibu, memberi pembelaan, penyuluhan dan konseling, dan memberi perawatan
berkesinambung.

Definisi ACNM tentang perujukan mengandung makna hubungan yang berkelanjutan


dengan ibu dan selaras dengan filosofi perawatan yang berkelanjutan. Kadang-kadang
perujukan dilakukan dalam bentuk memindahkan perawatan ibu kepada seorang dokter
spesialis. Sudah selalu menjadi fungsi seorang perawat-bidan untuk melakukan skrining
guna mendeteksi secara dini tanda dan gejala kondisi medis atau komplikasi kehamilan
supaya dapat dirujuk untuk mendapatkan keahlian khusus dokter spesialis
obstetric/ginekologis, genetic, kardiologi, urologi, bedah, gastroenterology, atau praktisi
lain. Menurut Clark-Coller, uji litmus yang merupakan dasar perujukan ibu dilakukan
“bila tindakan ini dipertimbangkan akan memberi keuntungan bagi perawatan ibu”. Ia
lebih lanjut menjelaskan bahwa perujukan tidak seharusnya didasarkan pada status risiko,
melainkan harus dilakukan “jika dipertimbangkan ada kondisi patologis yang berada di
luar lingkup praktik perawat-bidan” (Clark-Coller, T. Letter to the editor. J. Nurse-
Midwifery 39(6): 389-390 (November/December)1994). Pada kesempatan lain,
perujukan dilakukan dalam bentuk penatalaksanaan medis terhadap penyakit komplikasi
spesifik ketika ibu dalam masa hamil. Pada situasi ini, bidan tetap meneruskan
manajemen perawatan ibu atau masuk ke dalam manajemen perawatan ibu secara
kolaborasi. Kesinambungan ini merupakan upaya menyelaraskan pengertian kata bidan,
“mendampingi ibu”, tanpa memperhatikan status risiko ibu ataupun lokasi (Burst, H. V.
Real midwifery. J. Nurse-Mid). Bidan tidak boleh “menangguhkan” atau
“menyingkirkan” seorang wanita dengan cara merujuknya jika muncul komplikasi medis
atau obstetric. Sebaliknya, bidan harus mengupayakan keseimbangan antara keterlibatan
kedokteran dan kebidanan yang paling baik bagi masing-masing pasien. Dengan
demikian, dibutuhkan diskusi tentang penatalaksanaan kolaborasi. Shah mengidentifikasi
prinsip utama dalam perawatan primer yang kompeten ialah “mengetahui kapan
mengobati, kapan tidak mengobati, kapan hanya memantau dengan ketat, dan kapan
merujuk pasien untuk melakukan konsultasi dan/atau mendapatkan intervensi medis”
17
18