Anda di halaman 1dari 3

Maggot Therapy': Menyembuhkan Borok dengan Belatung

22 Juli 2011 06:25 Diperbarui: 26 Juni 2015 03:28 1 6 10

1311315662320286898
[caption id="attachment_120865" align="aligncenter" width="630" caption="Lalat
hijau penghasil belatung (ilust kaheel7.com)"][/caption]

Semua orang akan merasa ngeri, horor dan jijik bilamana melihat kumpulan
belatung (maggot) yang menggeliat-geliat pada mayat yang sudah membusuk.
Sesungguhnya belatung ini adalah larva dalam proses metamorfosa menjadi seekor
lalat, sama halnya dengan ulat (caterpillar) yang pada saatnya akan bersalin rupa
menjadi kupu-kupu. Bilamana lalat ini bertelur pada luka mahluk hidup (jadi bukan
mayat), ini pun akan berkembang menjadi belatung. Dan secara naluriah kita akan
merasa mual membayangkan borok yang menganga dipenuhi dengan belatung
yang menggerogoti luka tersebut. Namun siapa sangka, justru belatung inilah yang
menjadi ’juru selamat’ untuk penyembuhan borok yang semakin parah karena
mengalami infeksi kuman ganas.

Seperti kita ketahui, pada setiap luka terbuka yang besar, dokter akan melakukan
prosedur debridement yaitu membersihkan luka tersebut dari jaringan yang mati
(necrotic tissue). Tanpa dilakukan debridementini, maka luka tidak akan bisa
sembuh dan bahkan menjadi tempat berkembang biak subur (breeding ground)
bakteri-bakteri ganas yang pada gilirannya akan mengakibatkan gangraen (suatu
kondisi di mana jaringan tubuh mengalami pembusukan). Dari pengalaman di
lapangan, debridement yang dilakukan oleh seorang dokter tidak selalu akurat,
kadangkala ada jaringan sehat yang ikut terkorek dan kadangkala ada jaringan mati
yang masih tertinggal luput dari pengamatan. Dan di sinilah ’keunggulan’ belatung di
dalam proses penyembuhan borok, karena belatung ini akan memakan jaringan
nekrotik secara tuntas dan tidak ’menyentuh’ jaringan yang sehat.

Sejarah penyembuhan luka besar dengan belatung ini sudah terjadi berabad-abad
yang lampau. Suku Indian Maya dan suku Aborigin di Australia sudah lama
mempraktekkannya. Di zaman Renaissance pun, dokter tentara mengamati bahwa
luka pada serdadu yang ditumbuhi belatung ternyata justru menyelamatkan
nyawanya dibandingkan dengan luka yang bebas belatung. Dalam Perang Dunia I,
ada kisah pengalaman seorang dokter bedah ortopedi yang menangani luka tempur
seorang prajurit yang mengalami patah tulang terbuka pada paha, luka menganga
pada perut dan kantung zakar (scrotum). Yang mengherankan dokter ini, meskipun
mengalami luka yang sangat parah, prajurit ini tidak mengalami suhu panas tinggi
(sebagai petunjuk adanya infeksi pada lukanya). Setelah membuka pakaian prajurit
ini, barulah dokter ini melihat adanya ’ribuan’ belatung yang memenuhi luka tersebut.
Dan yang lebih mengherankan dokter ini, setelah belatung-belatung ini disingkirkan,
nampaklah jaringan daging yang berwarna merah muda yang ’indah’, sebagai
petunjuk bahwa luka itu sudah dalam proses penyembuhan. Perlu diingat, kasus ini
terjadi pada era di mana luka patah tulang terbuka menyebabkan kematian pada 75
sampai 80 persen penderitanya.

Setelah dokter Baer dari Universitas Johns Hopkins membuktikan keampuhan


pengobatan belatung pada penderita osteomyelitis (infeksi ganas pada tulang) pada
tahun 1929, maka prosedur maggot therapy ( dinamakan juga maggot debridement
therapy atau larval therapy) menjadi protap medis penanganan borok baik pada
osteomyelitis, abses, luka bakar, sub-acute mastoiditis, maupun chronic empyema.

Baru setelah masa Perang Dunia II, saat ditemukan antibiotika penicillin, cara
pengobatan luka dengan belatung ini pelan-pelan mulai ditinggalkan. Dewasa ini,
dengan semakin banyaknya bakteri yang resisten terhadap antibiotika, maka cara
pengobatan dengan belatung ini mulai dihidupkan kembali. Seperti kita ketahui,
sekarang sudah berkembang bakteri yang sangat ganas dan kebal terhadap segala
antibiotika yang dinamakan MRSA (Methicillin Resistant Staphylococcus aureus).
Pada penelitian awal pada tahun 2007, terbukti terapi belatung ini berhasil
mengatasi infeksi karena bakteri MRSA ini, demikian juga golongan bakteri
’pemakan daging’ (flesh eating) yang banyak mengakibatkan kematian pada
penderitanya.

Untuk melakukan terapi belatung ini, maka belatung ini ditempatkan pada ’kawah’
luka dan dibalut dengan pembalut berbentuk kurungan (supaya belatung ini tidak
berkeliaran kemana-mana). Belatung yang diternakkan ini diambil dari lalat hijau
(green bottle fly). Pembalut ini juga perlu diberi lubang angin untuk pernafasan
belatung. Belatung ini akan memakan jaringan mati (nekrotik) ini selama dua hari
dan setelah itu akan dikeluarkan dari tempat luka. Umumnya setelah dua hari,
belatung ini sudah sangat kenyang dan berbadan gemuk, sehingga tidak berminat
untuk makan lagi. Bila diperlukan, pemberian belatung dapat diulangi lagi sesuai
dengan keparahan boroknya. Penderita borok karena penyakit diabetes, juga dapat
memanfaatkan maggot therapy ini. Umumnya mereka mengalami borok pada jari-jari
kaki dan tungkai bawah, sehingga terpaksa harus diamputasi bilamana borok itu
sudah mengalami pembusukan (gangraen). Dengan adanya terapi belatung ini
harapan kesembuhan borok pada kaki ini menjadi kenyataan.

Sekarang di hampir semua pusat kesehatan di Amerika Serikat dapat dilakukan


terapi belatung ini. Terapi ini juga sudah dilaksanakan oleh 4.000 ahli terapi di 20
negara di dunia. Pada tahun 2006 tercatat 50.000 terapi belatung dilakukan di
seluruh dunia. Seperti pada kasus-kasus pengobatan lainnya, terapi belatung masih
memerlukan uji klinis yang lebih komprehensif. Dari penelitian membandingkan
penanganan borok pada tungkai kaki (leg ulcer) dengan prosedur
pemberian hydrogel dan pemberian belatung, didapatkan bahwa pemberian
belatung tidak lebih unggul dibandingkan dengan hydrogel. Dengan demikian para
peneliti ingin mengatakan bahwa kita tidak usah terburu-buru menerima klaim
bahwa maggot therapy ini, dapat mempercepat kesembuhan borok dan ampuh
melawan bakteri ganas MRSA