Anda di halaman 1dari 23

EVALUASI PENGELOLAAN BAITUL MAAL DI PAMEKASAN

(STUDI KASUS BMT UGT SIDOGIRI CAPEM TLANAKAN


PAMEKASAN)

PROPOSAL

Di ajukan oleh:

MIFTAHUL ULUM

2014.04.01.0.0004

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM MADURA

2019
I. PENDAHULUAN

1.1 latar belakang

Di abad yang penuh dengan keemasan seperti sekarang ini mungkin sudah

tidak asing lagi dengan sebutan, baitul maal karena keberadaanya sudah tersebar di

berbagai wilayah tidak hanya di sudut kota besar saja bahkan di daerah terpencilpun

sudah masyhur akan penyebutan kata tersebut.

Kita tahu bahwa Istilah Baitul Maal telah adadan tumbuh sejak zaman Rasullullah

meskipun saat itu belum berbentuk suatu lembaga yang permanen dan terpisah.

Kelembagaan Baitul Maal secara mandiri sebagai lembaga ekonomi berdiri pada masa

Khalifah Umar bin Khattab atas usulan seorang ahli fiqih bernamaWalid bin Hisyam

(Al-Harran,1997). Sejak masa tersebut dan masa kejayaan Islam selanjutnya

(DinastiAbbasyiahdan Umayyah) Baitul Maal telah menjadi institusi yang cukup

vital bagi kehidupan negara. Ketika itu, Baitul Maal telah menangani berbagai macam

urusan mulai dari penarikan zakut (jugapajak),g hanimah, infaq, shadaqah sampai

membangun fasilitas umum seperti jalan, jembatan, menggaji tentara dan pajabat

negara, serta kegiatan sosial atau kepentingan umum lainnya (Qordhowi, 2000; dan

Robbani, 2010).

DalamperkembanganselanjutnyadiIndonesia, didorong oleh rasakeprihatinan

yangmendalam terhadapbanyaknyamasyarakatmiskin(yang

notabenenyaumatIslam)yangterjeratolehrentenir

danjugadalamrangkamemberikanalternatifbagi

merekayanginginmengembangkanusahanyanamun
tidakdapatberhubungansecaralangsungdengan

perbankanIslam(baikBMImaupunBPRS)

dikarenakanusahanyatergolongkecildanmikro,

makapadatahun1992lahirlahsebuahlembaga

keuangankecilyangberoperasidanmenggunakan

gabunganantarakonsepBaitulMaaldanBaitut Tamwil yang target, sasaran, dan

skalanya pada sektor usahamikro.

BMT merupakan lembaga keuangan mikro syariah dengan berbadan

hokum (HUKUM) koperasi yang berfungsi untuk mengumpulkan, mengelola, dana

dari masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat melalui pembiayaan.

Pembiayaan sering digunakan unuk menunjukkan akivitas utama BMT, karena

berhubungan dengan rencana memperoleh pendapatan. Disamping itu BMT juga

berfungsi untuk mengumpulkan, mengelola dan menyalurkan zakat infak dan

sodaqoh kepadamasyarakatyangberhak menerimanya.

PeranBMTdalam membantu masyarakat umum tentunya memikili strategi

khusus yang mendukung pesatnya perkembangan usaha BMT itu tersendiri, baik

secara tekhnis, maupun pengelolaan yang terkandung di dalamnya.

Kegiatan sosial ekonomi BMT dilakukan dengan gerakan zakat, infaq dan

shadaqah sementara kegiatan bisnis perlu adanya dana ekonomi produktif. Hal ini

merupakan keunggulan BMT dalam mengurangi kemiskinan. Dan di Indonesia BMT

yang mulai pesat perkembangannya antara lain yaitu BMT UGT SIDOGIRI.
BMT UGT Sidogiri merupakan lembaga keuangan syariah yang bergerak

pada pertumbuhan sector usaha mikro dengan melandaskan akivitasnya pada aturan-

aturan syariah dan menitik beratkan perhatian pada perekonomian rakyat khususnya

di pasar-pasartra disional.

Meskipun lahirnya BMT di Indonesia cukup menggembirakan, bukan berarti

tidak ada kendala dalam pengembangannya, banyak masalah penting yang perlu

segera dicarikan solusinya terutama terkait dengan implementasi sistempembukuan

syariah dan pengelolaan keuangan dalam operasional BMT yang belum maksimal

sehingga perluterus dievaluasi untuk siap diperbaiki sewaktu-waktu, keadaan ini di

sebabkankarena prinsip-prinsip syariah yang menjadi frame of referenca

dalamoperasional BMT belum sepenuhnya dipahami dengan baik oleh sebagian

besarpengelola BMT itu sendiri.Sebagaimana yang kita ketahui bahwa BMT sebagai

salah satu lembagakeuangan syariah dalam pengelolaannya otomatis sesuai dengan

prinsip-prinsipsyariah, namun tidak menutup kemungkinan sebagai lembaga

keuangan syariahdalam pengelolaannya juga bisa saja tidak sesuai dengan prinsip-

prinsip syariahpada umumnya.

Bedasarkan uraian diatas, maka timbul keinginan penulis untuk mengkaji

lebih dalam tentang Baitul Maal wat Tamwil (BMT)sebagai salah satu lembaga

keuangan mikro dan bagaimana pengelolaanya, sehingga mengangkat judul yaitu : “

Evaluasi pengelolaan baitul maal di pamekasan (studi kasus BMT UGT SIDOGIRI

capem tlanakan pamekasan)”.


1.2 Fokus penelitian

Dariuraianlatarbelakangdiatas,makapokokyangakanmenjadikajian ini adalah:

1.2.1. BagaimanakahPolapengelolaanbaitul maal di bmt ugt sidogiri cabang

tlanakan pamekasan?

1.3 Tujuan penelitian

1.3.1. untuk mengetahui pengelolaan baitul maal di bmt ugt sidogiri cabang

pamekasan.

1.4 Manfaat penelitian

1.4.1.Sebagai bentuk pengetahuan tentang pola pengelolaan baitul maal

di.bmt ugt sidogiri cabang tlanakan pamekasan

1.4.2.Sebagai evaluasi bagi bmt ugt sidogiri dalam pengelolaan baitul mall.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. landasan teori

2.1.1. pengertian pengelolaan

Pengelolaan merupakan terjemahan dari kata “management”, yang

terbawa oleh derasnya arus penambahan kata pungut ke dalam bahasa

Indonesia, istilah inggris tersebut lalu di Indonesia menjadi

manajemen. Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya

mengatur, pengeturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan

urutan dari fungsi-fungsi manajemn. Jadi manajemn itu merupakan

suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang di inginkan melalui

aspek-aspeknya antara lainplanning, organising, actuating, dan

controling. Dalam kamus Bahasa indonesia lengkap disebutkan bahwa

pengelolaan adalah proses atau cara perbuatan mengelola atau proses

melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakkan tenaga orang lain,

proses yang membantu merumuskan kebijaksanaan dan tujuan

organisasi atau proses yang memberikan pengawasan pada semua hal

yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapai tujuan.

Menurut Suharsimi arikunta pengelolaan adalah subtantifa dari

mengelola, sedangkan mengelola berarti suatu tindakan yang dimulai

dari penyususnan data, merencana, mengorganisasikan , melaksanakan,

sampai dengan pengawasan dan penilaian. Dijelaskan kemudian


pengelolaan menghasilkan suatu dan sesuatu itu dapat merupakan

sumber penyempurnaan dan peningkatan pengelolaan

selanjutnya.Marry Parker Follet (1997) mendefinisikan pengelolaan

adalah seniatau proses dalam menyelesaikan sesuatu yang terkait

dengan pecapaiantujuan. Dalam penyelesaian akan sesuatu tersebut,

terdapat tiga faktor yangterlibat:

1. Adanya penggunaan sumber daya organisasi, baik sumber daya

manusiamaupun faktor-faktor produksi lainya.

2. proses yang bertahap mulai dari perencanaan,

pengorganisasian,pengarahan dan pengimplementasian, hingga

pengendalian danpengawasan.

3. Adanya seni dalam penyelesaian pekerjaan.

Drs. M. Manulang dalam bukunya dasar-dasar manajemen istilah

pengelolaan (manajemen) mengandung tiga pengetian, yaitu : pertama,

manajemen sebagai suatu proses, kedua, manajemen sebagai

kolektifitas orang-orang yang melakukan aktifitas manajemen dan yang

ketiga, manajemen sebagai suatu seni (suatu art) dan sebagi suatu ilmu.

Menurut pengertian yang pertama yakni manajmen sebagai suatu

proses, Dalam buku encyclopedia of the social sciences dikatakan

bahwa manajemen adalah suatu proses dengan proses mana

pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi.


Sedangkan menurut pengertian yang kedua, manjemen adalah

kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen.Dan

menerut pengertian yang ketiga, manajemen adalah suatu seni atau ilmu

adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan,

pengarahan, dan pengawasan dari pada sumber daya manusia untuk

mencapai tujuan yang sudah ditetapkan terlebi dahulu.Jadi dapat

disumpukan bahwa pengelolaan (manajemen) adalah suatu cara atau

proses yang dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengawasan

dan evaluasi untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukanagar

berjalan efektif dan efisien.

2.1.2. fungsi-fungsi pengelolaan

Banyak sekali fungsi manajemen, tapi dapat ditarik kesimpulan

daripendapat para ahli ada empat fungsi yang sama yakni perencanan,

pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.

Adapun penjelasan dari fugsi-fungsi tersebuat adalah :

a. Perancanaan (Planning)

Perencanaan merupakan pemilihan dan penghubungan fakta,

menguatkan asumsi-asumsi tentang masa depan dalam membuat

visualisasi dan perumusan kegiatan yang diusulkan dan memang

diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan.14perencanaan

mencakup kegiatan pengambilan kepeutusan, karena termasuk


pemilihan alternative-alternatifkepuasan. Diperlukan kemampuan untuk

mengadakan visualitas dan melihat ke depan guna merumuskan suatu

pola dari himpunan tindakan untuk masamendatang.

1. Unsur-unsur suatu rencana

Pada umumnya suatu rencana yang baik berisikan atau memuat

enamunsur yaitu what, way, where, when, who dan how. Jadi sesuatu

rencana yang baikharus memeberikan jawaban kepada enam pertanyaan

sebagai berikut :

a. Tindakan apa yang harus dikerjakan ?

b. Apakah sebabnya tindakan itu harus dikerjakan ?

c. Dimakah tindakan itu harus dilaksanakan ?

d. Kapankah tindakan itu dilaksanakan ?

f. Siapakah yang akan megerjakan tindakan itu ?

g. Bagaimanakah caranya malaksanakan tindakan itu ?

2. Sifat suatu rencana yang baik

Sesuatu rencana ynag baik, haruslah mengandung sifat-sifat sebagai

berikut :

a. Pemakain kata-kata yang sederhana dan terang untuk menghindari

penafsiran-penafsiran yang berbeda-beda sehingga mudah diketahui

maksudnya oleh setiap orang.


b. Fleksibel, yaitu rencana tersebut harus dapat menyesuaikan diri

dengankeadaan yang berubah yang tidak diduga sebelumnya, apabila

terjadiperubahan maka tidak perlu dirubah seluruhnya.

c. Mempunyai stabilitas, yang berarti suatu rencana tidak perlu setiap

kalidiubah atau tidak dipakai sama sekali.

d. Meliputi semua tindakan yang diperlukan, yaitu rencana

tersebutmeliputi segala-galanya, sehingga dengan demikian terjamin

kordinasi

dari tindakan-tindakan seluruh unsur-unsur organisasi.

3. Proses pembuatan suatu rencana Untuk membuat suatu rencana ada

beberapa tindakan yang harus dilalui. Tingkatan-tingkatan atau

langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut :

a. Menetapkan tugas dan tujuan

b. Mengobservasi dan menganalisa

c. Mengadakan kemungkinan-kemungkinan

d. Membuat sintesa

e. Menyusun rencana

B.Pengorganisasian (Orginizing)

Dr. Sp. Siagian MPA mendifinisikan bahwa pengorganisasian adalah

keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas


tanggung jawab dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu

organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka

pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

1. Dasar- dasar pengorganisasian Dasar-dasar Yang fundamentil dari

pengorganisasian adalah :

a. Adanya pekerjaan yang harus dilaksanakan

b. Adanya orang-orang yang melaksanakan pekerjaan tersebut.

c. Adanya tempat dimana pelaksanaan kerja itu berlangsung.

d. Adanya hubungan antara mereka yang bekerja dan antara bagian

yang satu dengan bagian yang lain.

2. Prinsip-prinsip OrganisasiAgar suatu organisasi dapat berjalan

dengan baik atau dalamrangka membentuk suatu organisasi yang baik

atau dalam usahamenyusun suatu organisasi, perlu kita perhatikan atau

pedomanibeberapa asas-asas atau prinsip-prinsip organisasi sebagai

berikut:

a. Perumusan tujuan dengan jelas apa yang telah menjadi tujuan yang

beruapamateri atau non materi dengan melakuakn satu atau lebih

kegiatan.

b. Pembagian kerjaPembagian kerja pada akhirnya akan menghasilkan

departemendepartemendan job description dari masing-masing


departemen sampai unitunitterkecil dalam suatu organisas. Dengan

pembagian kerja, ditetapkan sekaligus susunan organisasi, tugas dan

fungsi-fungsi masing-masing unit dalam organisasi.

c. Delegasi kekuasaan (delegation of Authority)

Kekuasaan atau wewnang merupakan hak seseorang untuk

mengambiltindakan yang perlu agar tugas dan fungsi-fungsinya dapat

dilaksanakansebaik-baiknya.

d. Rentangan kekuasaan

yaitu bebrapa jumlah orang setepatnya menjadi bawahan

seorangpemimpin itu dapat memimpin, membimbing dan mengawasi

secara berhasilguna dan berdaya guna.

e. Tingkat-tingkat pengawasan

f. Kesatuan perintah dan tanggung jawab (Unity of Command

andresponsibility)

g. Koordinasi untuk mengarahkan kegitan seluruh unit-unit organisasi

agartertuju untuk memberikan sumbangan semaksimal mungkin bagi

pencapaintujuan organisasi sebagai keseluruhan.

3. Bentuk-bentuk organisasi

a. Bentuk organisasi garis

Organisasi ini merupakan organisasi tertua dan paling bsederhana,dan


merupakan oraganisasi kecil, jumlah karyawan sedikit dansaling kenal,

serta spesialisasi kerja belum tinggi.

b. Bentuk organisasi fungsional

Organisasi ini diketuai oleh pemimpin yang tidak mempunyai bawahan

yang jelas sebab setiap atasan berwenang memberi komando kepada

setiap bawahan sepanjang ada hubungan dengan fungsi atasan tersebut.

C. Bentuk organisasi garis dan staf

Bentuk dari organisasi ini dianut oleh organisasi yang besar, daerahnya

luas, dan memepunyai bidang-bidang tugas yang beraneka ragam.

d. Bentuk organisasi satf dan fungsional

Bentuk organisasi ini merupakan kombinasi dari bentuk organisasi

fungsional dan bentuk organisasi staf.

C. Pengerakan (Actuating)

Pengerakan atau juga bias didevinisikan sebagai segala tindakan untuk

menggerakkan orang-orang dalam suatu organisasi, agar dengan

kemauan dengan penuh berusaha mencapai tujuan organisasi dengan

berlandaskan pada perencanaan dan pengorganisasin. Penggerakan

mencakup penetapan dan pemuasan kebutuhan manusiawi dari

pegawai-pegawainya, memberi penghargaan, memimpin,

mengembangkan dan memberi kompensasi kepada mereka.actuating

atau juga disebut” gerakan aksi “ mencakup kegiatan yang dilakukan


seorang manajer untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang

ditetapkan oleh unsur-unsur perencanaan dan pengorganisasian agar

tujuan-tujuan dapat tercapai.

Dalam proses actuating ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Tujuan pemberian perintah

Pemberian perintah dari atasan kepada bawahanya adalah untuk

mengkordinasi kegiatan bawahan agar terkordinasi kepada suatu arah

selanjutnya dengan memeberikan perintah itu, pemimpin bermaksud

menjamin hubungan antara pemimpin sendiri dengan para bawahannya

dan juga memberikan pendidikan kepada bawahanya itu sendiri.

2. Unsur perintah

a. Intruksi resmi

b. Dari atasan kebawahan

c. Mengerjakan atau

d. Merealisasikan tujuan organisasi

3. Jenis-jenis perintah

Jenis perintah dibagi dua yaitu :

a. Perintah lisan diberikan apabila :

 Tugas yang diperintahkan itu merupakan tugas yang sederhana

 Dalam keadaan darurat


 Bawahann yang diperintah sudah pernah mengerjakan perintah

 Perintah itu dapat selesai dalam waktu singkat

 Apabila dalam mengerjakan tugas ada kekeliruan tidak

akanmembawa akibat yang besar.

Sedangkan kelemahan dari perintah ini adalah tidak begitu

dipersiapkan atau direncanakan, dan juga perintah ini terlalu

fleksibel.

b. Perintah tertulis dapat diberikan apabila :

 Pada pekerjaan yang rumit, memerlukan keterangan detail,

angkaangka yang pasti dan teliti

 Bila pegawai yang diperintah ada ditempat lain

 Bila pegawai yang diperintah sering lupa.

 Jika tugas yang diperintah itu berangsung dari satu bagian

kebagian yang lain

 Jika dalam pelaksanaan perintah itu terjadi kesalahn maka

akanmenimbulkan akibat yang besar.

4. Prinsip-prinsip perintah

a. Perintah harus jelas

b. Perintah diberi satu-persatu

c. Perintah harus positif


d. Perintah harus diberikan kepada orang yang positif

e. Perintah harus erat dengan motifasi

f. Perintah satu aspek berkomunikasi

D. Pengawasan (Contolling)

Pengawasan merupakan pemeriksaan apakah semua yang terjadisesuai

dengan rencana yang ditetapkan, intruksi yang dikeluarkan

sesuaidengan prinsip yang telah ditetapkan (Henry Fayol )

1. Prinsip-prinsip pengawasan

a. Dapat merefleksikan sifat-sifat dan kebutuhan-kebutuhan dari

kegiatan-kegiatan yang harus diawasi.

b. Dapat dengan segera melaporkan penyimpangan-penyimpangan

c. Fleksibel

d. Dapat mereflektif pola organisasi

e. Ekonomis

f. Dapat dimengerti.

g. Dapat menjamin diadakanya tindakan korektif.

2. Cara-cara mengawasi

a. Peninjau pribadi

b. Pengawasan melalui laporan

c. Pengawasan melalui laporan tertulis.

d. Pengawasan melalui loporan kepada hal-hal yang bersifat khusus.23


3. Langkah-lagkah pengawasan

a. Penetapan standar dan metode penilain kinerja

b. Penilaian kinerja

c. Penilaian apakah kinerja memenuhi standar ataukah tidak.

d. Pengambilan tindakan koreksi.


III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. jenis, lokasi, dan waktu penelitian

3.1.1. jenis penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

kualitatif.Menurut Bogdan dan Taylor dalam Basrowi dan Suwandi (2008:1)

penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan

data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang

diamati.

Adapun jenis penelitian ini bersifat Non eksperimental, yaitu dengan cara

observasi ketempat penenlitan secara langsung.

3.1.2. lokasi penelitian

Adapun lokasi dalam penelitian ini yaitu di BMT UGT sidogiri capem

tlanakan pamekasan yang beralamat: Jl. Raya tlanakan, ragang, tlanakan,

pamekasan, jawa timur 69371, Indonesia.

3.1.3. waktu penelitian

Waktu dalam melakukan penelitian ini di mulai sejak awal oktober 2018

hingga selesai.

3.2.situasi sosial dan nara sumber

3.2.1. situasi sosial

Situasi sosial yang terdapat dalam penelelitian ini adalah para anggota
BMT UGT sidogiri.

3.2.2. nara sumber

Untuk menyelesaikan penelitian ini tentunya memerlukan penyambung lidah

untuk mendapatkan informasi-informasi penting yang terkait dan menyangkut

paut terhadap data yang dibutuhkan dalam penelitian maka dari saya

mendapatkan informasi tersebut dari nara sumber yaitu pihak yang bertugas

dalam pengelolaan.

3.3. sumber dan metode pengumpulan data

3.3.1. sumber data

Sumber data dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Sumber data primer

Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data

kepada pengumpul data.Data primer merupakan informasi yang diperoleh

secara langsung dari pihak yang terkait.Data ini penulis peroleh dari dengan

mendatangi sumber-sumber data yang relevan dengan masalah penelitian.

b. Sumber Data sekunder

Data sekunder adalah data penunjang penelitian yang diperoleh dari berbagai

sumber utama untuk melengkapi penelitian ini. Data ini diperoleh dengan cara

membaca beberapa literature atau bahan bacaan yang berkaitan dengan judul

penelitian.

3.3.2. metode pengumpulan data


Dalam pengumpulan data, jenis data yang akan dikumpulkan yaitu data

kualitatif. Data yang akan dikumpulkan nanti bersumber dari data primer yang

didapatkan setelah penelitian dan data sekunder sebagai penunjang dalam hal

ini beberapa sumber referensi atau buku-buku yang relevan.

Pengumpulan data berdasarkan data primer dan sekunder yang ada diperoleh

dengan beberapa cara. Data yang baik dalam suatu penelitian adalah data yang

dipercaya kebenarannya, tepat waktu, mencakup ruang yang luas serta dapat

memberikan gambaran yang jelas untuk menarik kesimpulan. Dalam

pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik:

1. Observasi

Observasi ialah proses pengamatan, peninjauan secara cermat danmengawasi

secara teliti guna mendapatkan data yang lebih jelas sambil mencatatsecara

sistematis hal-hal yang dianggap penting dan berkaitan dengan

penelitian.Observasi dimaksudkan untuk mengumpulkan data dengan melihat

langsungkelapangan terhadap objek yang diteliti . Dalam penelitian ini penulis

akanmenggunakan alat bantu untuk memperlancar observasi di lapangan yaitu

kameradan buku catatan sehingga seluruh data –data yang diperoleh di

lapangan dapatlangsung dicatat.

2. Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian

dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan

informan.1 Informan yang dimaksud Penulis dalam hal ini ialah orang yang
dianggap berkompeten yang dapat memberikan data atau informasi

sehubungan dengan penelitian yang dilakukan.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah pengumpulan data dan keterangan seperti rekaman

siaran, kutipan materi dan berbagai bahan referensi lainnya yang berada di

lokasipenelitian dan dibutuhkan untuk memperoleh data yang valid.

3.4. tekhnis analisis data

Analisis data adalah proses mengorganisasi dan mengurut data kedalam pola,

kategori dan satu uraian besar. Tujuan analisis data ialah untuk

menyederhanakan data kedalam bentuk yang mudah dibaca.Metode yang

digunakan adalah metode survey dengan menggunakan pendekatan kualitatif,

yang artinya setiap data yang terhimpun dapat dijelaskan dengan berbagai

persepsi yang tidak menyimpang dari judul penelitian. Tekhnik pendekatan

deskriptif kualitatif merupakan suatu proses menggambarkan keadaan sasaran

yang sebenarnya, penelitian secara apa adanya sejauh apa yang peneliti

dapatkan dari hasil observasi, wawancara maupun dokumentasi.

Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan populasi yang sedang

diteliti.Analisis deskriptif dimaksudkan untuk memberikan data yang diamati

agar bermakna dan komunikatif.Untuk mengenalisis data yang terkumpul

nanti agar memperoleh kesimpulan yang valid maka digunakan


tekhnikpengolahan dan analisis data dengan metode kualitatif. Adapun

tekhnik dan interpretasi data yang akan digunakan yaitu:

1) Reduksi Data (Data Reduction)

Reduksi data merupakan bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan,

megarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data dengan

cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat diambil. Peneliti

mengola dan berolah dari teori untuk mendapatkan kejelasan pada

masalah.Baik data terdapat di lapangan maupun terdapat pada

kepustakaan.Data dikumpulkan, dipilih secara selektif dan disesuaikan dengan

permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian.Kemudian dilakukan

pengolahan dengan meneliti ulang data yang didapat.

2) Display data (Data display)

Display data adalah penyajian dan pengorganisasian data ke dalam satu

bentuk sehingga terlihat utuh. Dalam penyajian data dilakukan secara induktif yakni

menguraikan setiap permasalahan dalam permasalahan penelitian dengan

memaparkan secara umum kemudian menjelaskan secara spesifik.

3) Analisis perbandingan (Comparatif)

Pada teknik ini peneliti mengkaji data yang telah diperoleh dari lapangan

secara sistematis dan mendalam kemudian membandingkan data tersebut satu dengan

yang lainnya.

4) Penarikan kesimpulan (conclusion Drawing/ verification)


Langkah terakhir dalam menganalisis data kualitatif adalah penarikan

kesimpulan verifikasi, setiap kesimpulan awal masih merupakan kesimpulan

sementara yang akan berubah bila diperoleh data baru dalam pengumpulan data

berikutnya. Kesimpulan- kesimpulan yang diperoleh selama di lapangan diverifikasi

selama penelitian berlangsung dengan memikirkan kembali dan meninjau ulang

catatan lapangan sehingga terbentuk penegasan kesimpulan.