Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH

MEMAHAMI PENILAIAN
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MI/SD

dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pembelajaran Bahasa Indonesia MI/SD
Dosen Pengampu : Dr. Mohamad Zubad Nurul Yaqin, M.Pd.

Disusun Oleh :
Salma Luklu’ul Aini (17140045)
Roshydatul Istiqomah (17140053)
Salsabila Rifda Mahdyah (17140071)

Kelas IV E
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH KEGURUAN
UNIVERSTAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam. Kami panjatkan puja
dan puji syukur kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, berkah, hidayah,
serta inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul
“Memahami Penilaian Pembelajaran Bahasa Indonesia MI/SD“ ini dengan lancar dan
tepat waktu.
Tanpa bantuan dari semua pihak, makalah ini tidak mungkin dapat kami
selesaikan dengan lancar dan tepat waktu. Maka dari itu kami sampaikan banyak
terimakasih terhadap semua pihak yang mendukung kelancaran pembuatan makalah
ini sehingga dapat kami selesaikan secara maksimal.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak
kekurangan baik dalam pemilihan kata, pemilihan bahasa, maupun penyusunan
kalimatnya. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami menerima segala kritik dan
saran dari pembaca agar nantinya kami dapat memperbaiki makalah ini, serta dapat
menjadi pembelajaran bagi kami dalam pembuatan makalah kedepannya.
Akhir kata kami ucapkan terimakasih bagi pembaca, dan semoga makalah
yang berjudul “Memahami Penilaian Pembelajaran Bahasa Indonesia MI/SD“ ini
dapat menjadi panduan pembelajaran, memberikan inspirasi, dan juga bermanfaat
bagi pembaca.

Malang, 31 Januari 2019

Kelompok 8

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………… i


DAFTAR ISI ………………………………………………….....……………… ii
1. BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ….……………………………………………... 1
B. Rumusan Masalah ……………………………………………... 2
C. Tujuan ………………..………………………………………… 2

2. BAB II PEMBAHASAN
A. Penilaian Proses …………………….…………..……………… 0
B. Penilaian Hasil ……..…………………………………………... 0
C. Teknik Tes Pembelajaran Bahasa Indonesia……...……………. 0
D. Contoh Kasus…………………………………………………… 0

3. BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan …………………………………………………. 0
B. Saran ………………………………………………………… 0

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………... iii


LAMPIRAN

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Proses pembelajaran dilakukan sebagai salah satu upaya yang
ditempuh untuk mendapatkan perubahan tingkah laku baik luar maupun
dalam yang bersifat positif. Perubahan tingkah laku tersebut dapat diamati
dari kemajuan yang didapat selama dari awal sampai akhir proses
pembelajaran berlangsung. Aspek pengukur kemajuan atau tingkat
keberhasilan perubahan tingkah laku, dapat diamati melalui aspek kognitif
(pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan) yang
dimiliki oleh pemelajar. Untuk mendapatkan hasil yang objektif secara
prosedural, proses menyimpulkan hasil belajar yang dicapai oleh seseorang
dilakukan pada tahapan akhir yaitu tahapan evaluasi atau penilaian.
Penilaian dapat disebut juga dengan istilah evaluasi yaitu proses yang
runtut dalam identifikasi, analisis, dan penyimpulan informasi perihal
penentuan seberapa jauh tujuan pendidikan yang dapat terealisasikan oleh
pemelajar selama proses pembelajaran.1 Pada setiap mata pelajaran yang
terdapat dalam sekolah dasar ataupun madrasah, masing-masing mempunyai
metode penilaian yang berbeda-beda. Hal tersebut disesuaikan dengan
orientasi pembelajaran yang beragam dari setiap mata pelajaran.
Dalam melakukan evaluasi atau penilaian, seorang pengajar terlebih
dahulu harus memahmai setiap metode dan tahapan yang terdapat dalam
proses evaluasi yang dilakukan. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan
hasil yang objektif dan akurat atas penilaian terhadap kemampuan belajar
siswa. Penerapan penilaian tersebut, salah satunya dapat diterapkan pada
pembelajaran bahasa Indonesia di SD/MI. Hal demikian seiring dengan
perkembangan zaman dimana kompetensi kebahasaan menjadi salah satu
kebutuhan dalam era modernisasi. Kompetensi linguistik mulai banyak

1
Burhan Nurgiyantoro, Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi, (Yogyakarta : BPFE-
Yogyakarta, 2011), hlm.7

1
diminati oleh beberapa kalangan sebagai salah satu sarana penyampaian ide
dan gagasan.
Untuk dapat melaksanakan penilaian tersebut, seorang pengajar
diharuskan memahami berbagai pendekatan, strategi, serta metode maupun
teknik yang digunakan dalam proses pembelajaran yang tepat dan sesuai
dengan era modernisasi. Pada pembelajaran bahasa Indonesia, penilaian
dilakukan dengan memperhatikan setiap aspek pembelajaran, terutama
aspek penilaian atau evaluasi yang tepat untuk diterapkan pada
pembelajaran bahasa Indonesia. Pemahaman akan proses penilaian
pembelajaran bahasa Indonesia diperlukan pengajar untuk menunjang
keobjektifan hasil penilaian. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan
dibahas beberapa aspek penting untuk membangun pemahaman pengajar
perihal penilaian pembelajaran bahasa Indonesia pada tingkat MI/SD.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana penilaian proses pada pembelajaran bahasa Indonesia
MI/SD ?
2. Bagaimana penilaian hasil pada pembelajaran bahasa Indonesia MI/SD ?
3. Bagaimana teknik tes pada pembelajaran bahasa Indonesia MI/SD ?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui dan memahami penilaian proses pada pembelajaran
bahasa Indonesia MI/SD
2. Untuk mengetahui dan memahami penilaian hasil pada pembelajaran
bahasa Indonesia MI/SD
3. Untuk mengetahui dan memahami teknik tes pada pembelajaran bahasa
Indonesia MI/SD

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENILAIAN PROSES
Proses dapat disebut sebagai runtutan perubahan, tindakan,
pengolahan yang menghasilkan sesuatu hasil. Maka dari pengertian tersebut,
dapat diketahui bahwa penilaian proses adalah penilaian yang mengukur
kompetensi kinerja atau tindakan peserta didik. Penilaian proses dilakukan
sepanjang dan bersamaan dengan preses pembelajaran yang menjadi bagian
dari strategi pembelajaran yang dalam realitanya menimbulkan umpan balik
kepada pembelajaran selanjutnya.

Penilaian proses lebih tepat dilakukan dengan model penilaian otentik.


Sebagaimana yang dikemukakan Callison (2009), penilaian otentik adalah
sebuah penilaian proses yang didalamnya memberikan pengukuran pada
kinerja peserta didik melalui cara peserta didik belajar, capaian hasil,
motivasi, dan sikap yang berhubungan dengan proses pembelajaran bahasa
Indonesia.2

Pada penilaian proses didalam pembelajaran bahasa Indonesia,


penilaian proses dituntut untuk mengukur kompetensi siswa berupa
keaktifan berbahasa dan kepenulisan. Dimana penilaian bersifat individu,
dimana dalam prakteknya guru menilai individu satu persatu sehingga
penilaian menjamin keobjektifan, nyata, benar-benar hasil profil peserta
didik, akurat, dan memiliki makna.

Ada beberapa caara yang dapat dilakukan untuk mengukur penilaian


proses pada peserta didik, yaitu:

1. Penilaian kinerja
Penilaian Kinerja berfungsi untuk menguji kemampuan peserta didik dalam
menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya, memberikan pengujian
terhadap apa yang mereka ketahui dan lakukan, sebagaimana apa yag

2
Burhan Nugriyantoro. Penilaian Otentik Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. (Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2011), hlm 29

3
mereka ketahui pada dunia nyata. Penilaian kinerja tersebut dapat
berhubungan dengan keaktifan dan produktivitas siswa dalam berbicara dan
menulis. Dimana subtansi materi yang dibicarakan dan diulas merupakan
isu-isu faktual dan kontekstual yang ditemukan sehari-hari.
Kinerja yang sering dilakukan pada penilaian kinerja adalah kinerja lisan.
Dimana kinerja lisan ini mencakup kegiatan berpidato, wawancara, dialog,
dan diskusi. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan semata-mata untuk
menunjukkan kompetensi berbicara dan berbahasa peserta didik. Selain
kinerja lisan, guru juga menggunakan kinerja kepenulisan melalui kegiatan
menulis karangan, laporan, surat, berita hingga menulis karya sastra seperti
puisi.

2. Wawancara Lisan
Penilaian proses menggunakan teknik wawancara dituntut untuk mengetahui
kebahasaan peerta didik. Dimana terjadi tanya jawab antara guru dengan
peserta didik perihal informasi-imformasi yang ingin didapatkan oleh guru.
Pada realitanya wawancara digunakan untuk mengetahui bagaimana siswa
dapat mengemukakan informasi yang didapatkannya melalui lisan, dengan
penilaian bertumpu pada jelas tidaknya informasi yang disampaiakan. Tidak
hanya menilai ketepatan struktur dan kosa kata.

3. Pertanyaan Terbuka
Penilaian dilakukan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan atau tugas
yang menjadi stimulus peserta didik yang harus dijawab atau dikerjakan
peserta didik. Stimulus-stimulus tersebut merupakan stimulus yang
membutuhkan jawaban panjang. Stimulus tersebut memaksa peserta didik
untuk mengkrasikan jawaban yang menjadi cermin penguasaannya terhadap
isu tertentu. Jawaban yang dikemukakan haruslah jawaban uraian yang
menjukkan kualitas berpikir peserta didik yang mampu mengembangkan
argumentasi, sebab-akibat, dan hasil atau kesimpulan dari isu yang
dibicarakan. Kemampuan peserta didik dlam menyampaiakan pesan dan

4
menggunakan bahasa merupakan tampilan dari kualitas berbahasa peserta
didik.

4. Menceritakan Kembali Teks atau Cerita


Penilaian dengan menggunakan cara menceritakan kembali teks atau cerita
merupakan penilaian proses untuk mengukur tingkay pemahaman peserta
didik terhadap teks atau cerita yang didengar atau dibaca. Pada penilaian
dengan menggunakan cara menceritakan kembali teks atau cerita aspke
yang dinilai adalah ketepatan bahasa yang digunakan, ketepatan dan
keakuratan subtansi yang terkandung dalam teks atau cerita

5. Portofolio
Portofolio merupakan kumpulan karya peserta didik yang dikumpulkan dan
kemudian dianalisis untuk menunjukkan perkembangan yang didaptkan oleh
peserta didik. Portofolio tersebut dapat berbentuk catatan, tugas, rekaman,
karya tulis, maupun piagam. Dengan melakukan penilaian padaportofolio
secara cermat dan tepat, guru dapat mengetahui perkembangan dan
kemajuan siswa yang didapat pada proses pembelajaran.

6. Proyek
Proyek merupakan pengukuran siswa dalam membuat atau membentuk
suatu karya tertentu. Pada penilaian proyek, guru melakukan investigasi dan
observasi pada peaerta didik mulai dari perencanaan, pengolahan data,
pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data, hingga pembuatan
laporan. Pada tugas proyek tersebut, guru dapat melihat kerja sama peserta
didik, penguasaan materi, pemahaman materi, pengaplikasian materi,
analisis materi, hingga pemaknaan dan pengambilan kesimpulan pada
materi tersebut.
Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan, sistem pendidikan di
Indonesia menerapkan kurikulum 2013 dimana didalamnya guru bukan lagi
menjadi pusat perhatian pada proses pembelajaran (teacher centered
learning) melainkan siswa yang menjadi pusat perhatian pada proses

5
pembelajaran (student centered learning). Pada pelaksanaannya kurikulum
2013 mengadopsi Teori Bloom yang didalamnya mengandung unsur 5M
yaitu mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi,
dan mencipta. Dengan begitu, pembelajaran yang dilakukan adalah
pembelajaran yang memberdayakan kemampuan berfikir tinggi atau HOTS
(Higher Order Thinking Skill).

HOTS merupakan kemampuan berfikir hingga taraf mengevaluasi dan


mengkreasi suatu topik tertentu. Pada praktiknya dalam penilaian proses
untuk mengukur HOTS pada peserta didik, dapat dilakukan dengan cara-
cara diatas dengan memberikan stimulus-stimulus kepada siswa hingga
siswa sampai pada poin C5 (mengevaluasi) dan C6 (mengkreasi).

Guru memberikan stimulus berupa soal-soal HOTS yang merupakan


instrumen-instrumen pengukuran untuk mengukur kemampuan berfikir
tingkat tinggi, yaitu kemampuan berpikir tidak hanya mengingat,
menyatakan kembali, atau merujuk kepada topik tanpa melakukan
pengkreasian. Soal-soal HOTS merupakan soal yang mengukur
kemampuan: 1) transfer konsep, 2) memproses dan menerapkan informasi,
3) mengkaitkan topik dari berbagai sumber berbeda, 4) mengaplikasikan
topik, 5) menelaah ide dan informasi secara kritis.3

Dari penjelasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penilaian


proses dapat dibubuhi dengan penilaian HOTS dimana menggunakan cara-
cara yang dapat menstimulus pemikiran siswa kearah berpikir kreatif. Cara-
cara tersebut dapat dilaksanakan dengan baik bila digunakan sesuai dengan
proporsi yang tepat sesuai dengan strategi pembelajaran yang dilakukan
guru.

3
Indra Safari. PROSISIDING SEMINAR NASIONAL “Membangun Generasi Emas 2045 yang
Berkarakter dan Melek IT” dan Pelatihan “Berpikir Suprasional”. (Sumedang: UPI Sumedang
Press, 2018), hlm 360

6
B. PENILAIAN HASIL
1. Pengertian penilaian hasil

Penilaian merupakan suatu proses untuk mengetahui (menguji)


apakah suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai
dengan tujuan atau kriteria yang telah ditentukan.4 Penilaian juga dapat
diartikan sebagai suatu proses pemberian nilai terhadap suatu objek. Dengan
demikian, untuk melakukan penilaian dibutuhkan suatu kriteria atau tujuan
yang jelas agar dapat menghasilkan sebuah nilai yang akurat.

Penilaian hasil belajar adalah suatu proses pemberian nilai terhadap


hasil-hasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran menggunakan
kriteria tertentu. Penilaian hasil belajar peserta didik mencakup semua hasil
belajar peserta didik yang telah dicapai dalam waktu yang tertentu. Hasil
belajar peserta didik pada hakikatnya merupakan perubahan tingkah laku.
Pada intinya, dalam penilaian hasil belajar rumusan kemampuan dan
tingkah laku yang diinginkan untuk dikuasai peserta didik (kompetensi)
menjadi unsur penting sebagai dasar dan acuan penilaian.

2. Jenis – jenis penilaian


a. Penilaian Berbentuk Tes

Brown (2014:13) menggolongkan penilaian ke dalam dua kelompok,


yaitu: Tradisional dan Alternatif/Otentik. Penilaian tradisional merupakan
kegiatan penilaian yang lebih banyak menyadap pengetahuan yang telah
dikuasai peserta didik sebagai hasil belajar yang pada umumnya ditagih
dalam bentuk tes objektif. Sedangkan untuk penilaian otentik lebih
menekankan pada pemberian tugas yang menuntut pembelajar untuk
menampilkan, mempraktikkan, atau mendemonstrasikan hasil

4
Burhan Nurgiyantoro, Op.Cit., hlm 5

7
pembelajarannya di dunia nyata secara bermakna yang mencerminkan
penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam suatu mata pelajaran.5

Berdasarkan uraian di atas penilaian dibagi menjadi dua yaitu tes dan
non tes. Penilaian berupa tes ini termasuk ke dalam penilaian tradisional.
Tes adalah suatu cara untuk mengadakan evaluasi yang berbentuk tugas
yang harus dikerjakan oleh peserta tes baik perorangan maupun kelompok
sehingga menghasilkan skor tentang prestasi atau tingkah laku peserta tes,
yang dibandingkan dengan nilai standar tertentu yang telah ditetapkan.
Dalam pelaksanaannya peserta tes diberikan suatu tugas atau pertanyaan
yang harus mereka kerjakan dalam waktu tertentu. Kemudian, jawaban yang
mereka berikan merupakan sebuah pegangan guru dalam menentukan hasil
belajar mereka. Jadi, dalam melakukan sebuah tes kita memerlukan
seperangkat tugas, pertanyaan, atau latihan. Perangkat tugas inilah yang kita
sebut sebagi alat tes. Dengan demikian, tes dapt merujuk ke dalam dua hal,
yaitu tes sebagai teknik/cara penilaian juga sebagai alat untuk mengevaluasi.

Berdasarkan cara mengerjakannya, tes dibagi menjadi tiga:

1) Tes tertulis, yaitu tes bahasa yang menghendaki jawaban peserta tes
dalam bentuk tertulis, baik berupa pilihan atau isian.
2) Tes lisan, yaitu tes bahasa yang menghendaki jawaban peserta tes dalam
bentuk lisan, yang dilaksanakan menggunakan komunikasi secara
langsung/tatap muka antara peserta tes dan penguji.
3) Tes perbuatan, yaitu tes bahasa yang menghendaki jawaban peserta tes
dalam bentuk penampilan atau kinerja.6

Berdasarkan cara menjawab, tes dibagi menjadi dua:

1) Tes objektif, yaitu tes bahasa yang cara menjawab pertanyaan-pertanyaan


pada tes dengan memilih salah satu jawaban yang paling tepat. Jawaban
yang benar pada tes objektif sudah pasti dan tidak ada alternatif jawaban
benar lainnya. Tes objektif mempunyai kelemahan, yaitu peserta didik

5
Dr. Sri Wahyuni, M.Pd. dan Prof. Dr Abd. Syukur Ibrahim, Asesmen Pembelajaran Bahasa.
(Bandung: PT Refika Aditama, 2012), hlm 10
6
Ibid. hlm 11

8
tidak mampu untuk mengembangkan jawaban mereka karena mereka
hanya dituntut untuk memilih jawaban yang benar saja dan jika mereka
tidak mengetahui jawabannya, otomatis mereka akan menjawab secara
asal-asalan. Jadi tes objektif ini hanya mampu menilai kemampuan
berpikir rendah saja, yaitu mengingat dan memahami. Tes objektif juga
mempunyai beberapa ragam diantaranya:
a) Benar-Salah (true-false)
Merupakan sebuah tes yang meminta peserta tes untuk menentukan
jawaban mereka antara benar atau salah.
b) Menjodohkan (matching)
Merupakan sebuah tes yang meminta peserta tes untuk memasangkan
antara pernyataan-pernyataan pertama dengan pernyataan-pernyataan
yang lain.
c) Pilihan ganda (multiple choice)
Merupakan sebuah tes yang meminta peserta didik untuk memilih
salah satu jawaban yang benar di antara alter alternatif jawaban yang
telah disediakan.
2) Tes non-objektif
Tes non-objektif disebut juga dengan tes subjektif. Tes subjektif adalah
tes bahasa yang yang meminta peserta tes untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan dengan menyebutkan atau menjelaskan berupa uraian tentang
hal-hal yang sudah dipelajari dalam uraian kalimat yang relatif panjang.
Yang termasuk ke dalam tes subjektif antara lain:
a) Isian (melengkapi)
Yaitu soal yang meminta peserta tes untuk melengkapi pertanyaan
yang rumpang, biasanya dapat berupa kata maupun kelompok kata.
b) Jawaban singkat
Yaitu soal yang meminta peserta tes untuk memberi jawaban dengan
menggunakan kalimat yang pendek atau singkat.
c) Soal uraian
Yaitu soal yang meminta peserta tes untuk mengingat serta
mengorganisisaikan gagasan-gagasan yang pernah dipelajarinya

9
dengan cara mengekspresikan atau menuliskan gagasan tersebut
dalam bentuk uraian.7

b. Penilaian Berbentuk Non Tes


Penilaian nontes disebut juga sebagai penilaian otentik. Penilaian
otentik yaitu proses pengumpulan informasi oleh guru mengenai
perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan peserta
didik dengan berbagai teknik yang mampu mengungkapkan,
membuktikan, atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan
pembelajaran dan kemampuan (kompetensi) telah benar-benar dikuasai
dan dicapai. Penilaian ini dilakukan guna untuk menilai proses dan hasil
belajar peserta didik secara menyeluruh.8
Penilaian otentik biasanya berupa sebuah tugas yang harus dikerjakan
oleh peserta didik dan sebuah rubrik yang dijadikan dasar menilai kinerja
peserta didik dalam tugas tersebut. Munculnya penilaian otentik ini
disebabkan karena dua hal, yaitu: penilaian tradisional dianggap tidak
mampu mengukur keseluruhan hasil belajar peserta didik, guru
mengalami kesulitan dalam mencari informasi mengenai peerta didik
untuk merencanakan kegiatan pembelajaran.
Beberapa jenis penilaian nontes adalah sebagai berikut:
1) Unjuk Kerja/Performance, yaitu sebuah penilaian yang dilakukan
dengan megamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu.
Dalam hal ini, guru dapat menilai kinerja peserta didik ketika mereka
mengerjakan tugasnya. Unjuk kerja biasanya dilakukan untuk
kompetensi yang berhubungan dengan praktik. Unjuk kerja dalam mata
pelajaran bahasa dapat berupa bermain peran, diskusi, pidato, bercerita,
wawancara, dsb.9
2) Portofolio, yaitu kumpulan hasil karya seseorang baik berupa
tulisan, karya seni, maupun berbagai penampilan yang tersimpan dalam
bentuk kaset audio atau video. Portofolio merupakan penilaian

7
Ibid. hlm 12
8
Ibid. hlm 66
9
Ibid. hlm 15

10
berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang
menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu
periode tertentu. Pada akhir periode tersebut hasil karya yang telah dibuat
oleh masing-masing peserta didik dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan
peserta didik jadi, dengan portofolio guru dan peserta didik dapat menilai
perkembangan peserta didik serta dapat melakukan perbaikan terus
menerus.10
3) Proyek, yaitu sebuah penilaian terhadap suatu tugas yang harus
dikerjakan dalam waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi
yang bermula dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian,
pengolahan dan penyajian data. Proyek dapat diberikan pada seluruh
tingkatan kelas untuk berbagai macam mata pelajaran termasuk Bahasa
Indonesia.11
4) Produk, yaitu penilaian terhadap penguasaan peserta didik akan
suatu keterampilan dalam membuat suatu hasil kerja dan kualitas hasil
kerja siswa. penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta
didik dalam membuat produk-produk teknologi dan seni. Contoh produk
yang dapat dibuat dalam Bahasa Indonesia adalah membuat maing yang
berisi cerpen dan puisi, atau karya lainnya.12
5) Diri, yaitu sebuah teknik penilaian terhadap dirinya sendiri yang
berkaitan dengan status, proses, dan tingkat pencapaian kompetensi yang
dipelajarinya. Self-assesment memberi peluang kepada peserta didik
untuk mengatur belajarnya dan menghargai kemajuan yang dibuatnya
secara mandiri.13
6) Teman sejawat (peer assesment), yaitu suatu teknik penilaian yang
dilakukan dengan cara meminta peserta didik mengemukakan kelebihan
dan kekurangan temannya dalam berbgai hal. Penilaian teman sejawat
dapat dilakukan secara berpasangan maupun secara acak.

10
Ibid. hlm 16
11
Ibid. hlm 18
12
Ibid. hlm 20
13
Ibid. hlm 21

11
7) Sikap, yaitu suatu kecenderungan untuk bertindak secara suka atau
tidak suka terhadap suatu objek. Sikap juga merupakan ekspresi dari
nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki seseorang. Secara umum,
objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran berbagai mata
pelajaran termasuk Bahasa Indonesia yaitu: sikap terhadap materi
pelajaran, sikap terhadap guru/pengajar, sikap terhadap proses
pembelajaran, sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan
dengan suatu materi pelajaran. 14
3. Penilaian Keterampilan Berbahasa
a. Penilaian Keterampilan Mendengarkan
Mendengarkan adalah kegiatan menangkap informasi berupa lambang-
lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta
interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, atau pesan serta
memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh si pembicara
melalui ujaran ata bahasa lisan.15 Penilaian mendengarkan diselenggarakan
dengan wacana lisan sebagai bahan penilaian. Wacana atau cerita
disampaikan oleh penutur dan didengarkan oleh si pendengar. Wacana atau
cerita yang telah dibacakan selanjutnya disertai tugas yang harus dilkukan
atau pertanyaan yang harus dijawab oleh pendengar.
Beberapa bentuk penilaian mendengarkan adalah sebagai berikut:
1) Identifikasi peristiwa atau kejadian
Berdasarkan informasi lisan yang telah didengarkan, peserta
didik diminta untuk menguraikan kejadian atau menyebutkan
penyebab terjadinya kejadian tersebut.
2) Identifikasi tema cerita
Guru membacakan sebuah cerita, kemudia peserta didik diminta
untuk menyebutkan tema dari cerita yang dibacakan.
3) Identifikasi topik percakapan
Melalui audio, diperdengarkan percakapan singkat, kemudian
peserta didik diminta untuk menuliskan topik percakapan tersebut.

14
Ibid. hlm 22
15
Ibid. hlm 28

12
4) Menjawab pertanyaan cerita
Melalui audio, diperdengarkan sebuah cerita, kemudian peserta
didik diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai
cerita yang telah didengarkan, yang diberikan usai mendengarkan
cerita
5) Merumuskan inti cerita
Berdasarkan sebuah cerita yang sudah diperdengarkan, peserta
didik diminta untuk merumuskan inti cerita secara singkat.
6) Menceritakan kembali
Berdasarkan sebuah cerita yang sudah diperdengarkan, peserta
didik diminta untuk menceritakan kembali isi cerita menggunakan
bahasa mereka sendiri namun tetap dalam garis besar yang sama
pula.16
b. Penilaian Keterampilan Berbicara
Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau
kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran,
gagasan, dan perasaan. Tuuan utama dari berbicara yaitu untuk
berkomunkasi.
Bentuk-bentuk penilaian berbicara tersebut diantaranya:
1) Berbicara singkat berdasarkan gambar
Bentuk tes ini dapat dilakukan dengan memberikan pertanyaan sesuai
gambar atau bercerita langsung sesuai dengan gambar.
2) Wawancara
Bentuk penilaian ini dilakukn dengan mengajukan pertanyaan secara lisan
kepada peserta didik, kemudian peserta didik menjawabnya dengan lisan
pula.
3) Menceritakan kembali
Teknis penilaian ini yaitu dengan memperdengarkan sebuah cerita pada
peserta didik, kemudian mereka diminta untuk menceritakan kembali isi dari
cerita tersebut dengan bahasa mereka sendiri.
4) Pidato/berbicara bebas

16
Ibid. hlm 30

13
Teknis penilaian ini yaitu guru memberikan beberapa topik untuk
dibicarakan, kemudian peserta didik menyusunnya menjadi pokok pikiran
yang kemudian akan dibacakan dalam bentuk pidato atau berbicara bebas
berdasarkan pokok-pokok pikiran yang sudah disusun.
5) Percakapan terpimpin
Penilaian ini dilakukan dengan cara guru menceritakan sebuah saituasi
percakapan kemudian peserta didik diminta untuk mempraktekkan
percakapan tersebut.
6) Diskusi
Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok, kemudian masing-
masing kelompok diberi materi sebagai bahan diskusi. Kemudian guru
mengadakan penilaian pada tiap tiap kelompok untuk mengukur
kemampuan berbicara peserta didik.17
c. Penilaian Keterampilan Membaca
Kegiatan membaca meliputi proses: mengamati simbol-simbol tulisan,
menginterpretasi apa yang diamati, mengikuti urutan yang bersifat linier
baris kata-kata yang tertulis, menghubungkan kata-kata dan maknanya
dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah dipunyai, membuat
inferensidan evaluasi materi yang dibaca, membangun asosiasi, dan
menyikapi secara personal kegiatan/tugas membaca ssuai dengan
interesnya.18
Tujuan pokok dari pelajaran membaca dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia yaitu kemampuan peserta didik memahami isi bacaan.19
Berikut ini merupakan beberapa bentuk penilaian kemampuan membaca
yang dapat dilakukan guru:
1. Tes “cloze”
Tes ini pertama kali dilakukan oleh Wilson Taylor pada awal tahun 50-
an. Dalam hal ini peserta didik diberikan sebuah bacaan yang kalimat
pertama dan terakhirnya dibiarkan utuh, setiap kata ketiga, kelima, atau

17
Ibid. hlm 32
18
Ibid. hlm 33
19
Ibid.

14
ketujuh pada pada kalimat-kalimat lainnya dihilangkan. Kemudian peserta
didik diminta untukmengisi bagian yang rumpah tersebut secara tepat.

2. Membaca sekilas
Peserta didik diberi sebuah surat kabar, kmudian mereka diminta untuk
menemukan artikel tentang olahraga, politik, kebudayaan, dsb.
3. Membaca teknik
Peserta didik diberi sebuah naskah berita, kemudian mereka diminta untuk
membaca dengan nyaring menggunakan nada, intonasi, pelafalan, dan
tekanan yang tepat.
4. Menjawab pertanyaan bacaan
Peserta didik diberikan sebuah teks bacaan, setelah membaca mereka
diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan.
5. Meringkas isi bacaan
Peserta didik diberi teks bacaan, kemudian mereka diminta untuk
merangkum bacaan tersebut.
6. Kritik terhadap tulisan
Tes ini diberikan pada siswa kelas tinggi, peserta didik diberikan sebuah
bacaan kemudian mereka diminta untuk memberikan tanggapan mengenai
permasalahan di bacaan tersebut.20
d. Penilaian Keterampilan Menulis
Menulis yaitu aktivitas mengekspresikan ide, gagasan, pikiran, atau
perasaan ke dalam lambang-lambang kebahasaan. Beberapa bentuk
penilaian kemampuan menulis diantaranya:
1) Tes unsur-unsur kemampuan menulis
Yang termasuk bentuk tes unsur-unsur kemampuan menulis adalah: tes
ejaan dan tanda baca, tes tata bahasa, tes menyuun kalimat, tes teori
paragraf, tes jenis karangan, tes sistematika karangan, dsb.
2) Menulis Reproduksi
Yaitu bentuk penilaian keterampilan menulis yang dihasilkan dari suatu
rangsangan tertentu, kemudian dijadikan bahan dalam tulisan. Yang

20
Ibid. hlm 36

15
termasuk ke dalam bentuk tes ini yaitu: tes menulis berdasarkan rangsang
visual, tes menulis berdasarkan rangsang visual, tes menulis dengan
rangsang buku.
3) Menulis Produksi
Yaitu penilaian yang dihasilkan tanpa adanya suatu rangsangan, tetapi
disusun berdasarkan tujuan, bagian, bentuk, atau jenis karangan tertentu.
Yang termasuk kedalam tes menulis produksi yaitu: tes menyusun paragraf,
tes menulis dengan tema tertentu, tes menulis karangan bebas, tes menulis
laporan, tes menulis surat, dan sebagainya.21
4. Penyusunan Tes Bahasa
Untuk menghasilkan sebuah tes yang berkualitas, maka dibutuhkan
perencanaan yang matang. Tanpa perencanaan yang baik hasil tes yang
sudah diujikan tidak akan maksimal karena tidak dapat memberikan
informasi yang tidak akurat. Tes akan berfungsi dengan baik jika disusun
berdasarkan kaidah penyusunan tes yang benar. Pengembangan atau
penyusunan sebuah tes mengikuti langkah-langkah berikut:
a. Menentukan tujuan tes
b. Menyusun kisi-kisi tes
c. Menulis soal tes
d. Menelaah soal tes
e. Melakukan uji coba tes
f. Menganalisis butir soal
g. Memperbaiki tes
h. Merakit tes
i. Melaksanakan tes
j. Menafsirkan hasil tes

Seiring berkembangnya zaman, pendidikan di Indonesia juga mengalami


beberapa perubahan seperti halnya kurikulum yang digunakan. Kini
pendidikan di Indonesia sudah menggunakan kurikulum 2013 dimana
penilaian serta penyusunan tes harus berdasarkan pada HOTS (High Order
Thinking Skill). HOTS merupakan penilaian yang menerapkan soal atau tes

21
Ibid. hlm 37

16
yang diberikan kepada peserta didik yang didalamnya mengandung unsur
C4-C6 yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Dengan demikian
pesrta didik dituntut untuk berpikir kritis.

C. TEKNIK TES PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA


1. KONSEP DASAR DAN PENERAPAN TEKNIK TES
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Pada proses penilaian atau evaluasi tidak terlepas dari istilah tes. Pada
penilaian pembelajaran, tes merupakan salah satu alat penilaian yang
digunakan untuk mengukur hasil belajar peserta didik. Disamping tes, alat
penilaian lain yang dapat dijadikan pengukur keberhasilan peserta didik
dalam pembelajaran adalah penialaian non tes. Alat penilaian mempuyai
pengaruh yang signifikan terhadap keobjektifan hasil penilaian atau evaluasi
pembelajaran. Apabila alat yang digunakan baik, maka hasil penilaian
pembelajaran mempunyai peluang yang besar untuk dijadikan alat penilaian
yang objektif. Dan sebaliknya, apabila alat yang dipergunakan kurang
berkualitas, maka hasil pengukuran dari penilaian tersebut dapat kurang
dipertanggungjawabkan.
Dari pernyataan diatas, maka dapat diketahui bahwa untuk
mendapatkan hasil pengukuran penilaian yang objektif dan dapat
dipertanggungjawabkan, maka alat penialain yang digunakan juga harus
memenuhi kualifikasi baik dan akurat, hal tersebut dapat diketahui melalui
validitas dan reliabilitas alat penilaian. Dalam hal ini pemfokusan alat
penilaian dengan teknik tes digunakan sebagai salah satu cara untuk
mendapat kan informasi mengenai hasil belajar peserta didik, hal tersebut
dapat diukur dengan beberapa teknik berikut :22
a. Tes Buatan Guru dan Tes Standar
Bentuk alat penilaian tes buatan guru merupakan alat tes yang dibuat
oleh guru kelas yang ditujukan untuk mengukur tingkat keberhasilan
pembelajaran peserta didik pada wilayah kelas tersebut. Tes buatan guru
bersifat regional dan dibuat berdasarkan kondisi peserta didik pada kelas
tersebut. Sedangkan tes terstandar adalah kebalikan tes batan guru,

22
Burhan Nurgiyantoro, Op.Cit., hal.106-116

17
dimana tes terstandar lebih bersifat universal. Tes standar dibuat dengan
beberapa pertimbangan kompetensi yang kompleks dikarenakan objek tes
ini lebih luas dibanding tes buatan guru. Tes standar terdiri dari dua
macam yaitu tes bakat (aptitude test) dan tes prestasi (achievement test).
b. Macam Tes Pengukur Keberhasilan
1) Tes Kemampuan Awal
Alat penilaian tes kemampuan awal dilaksanakan sebelum peserta
didik mengalami proses pembelajaran. Tes kemampuan awal
dibedakan menjadi 3 macam, yaitu : 1) Pretes, untuk mengetahui
kemampuan peserta didik sebelum pross pembelajaran berlangsung;
2) Tes prasyarat, dilakukan sebelum seseorang melaksanakan
pendidikan tertentu; dan 3) Tes penempatan, dilakukan sebelum
peserta didik memulai pendidikan untuk memudahkan menempatkan
peserta didik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
2) Tes Diagnostik
Tes diagnostik dilakukan sebelum dan atau saat proses
pembelajaran berlangsung. Tes ini dimaksudkan untuk
mengidentifikasi kompetensi yang tepat untuk diterapkan pada peserta
didik, serta untuk mengidentifikasi problema yang mungkin atau
sudah muncul dalam proses pembelajaran agar dapat diberikan solusi
penyelesaian secara cepat dan tepat.
3) Tes Formatif
Tes formatif dilakukan secara berkala dalam satu semester. Tes ini
biasa dilakukan diakhir beberapa kompetensi dasar atau satuan
pembahasan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik atas
kompetensi yang telah dipelajari sebelumnya.
4) Tes Sumatif
Tes sumatif dilakukan diakhir setelah seluruh kegiatan belajar
mengajar dan program pembelajaran telah selesai dilaksanakan.
Cakupan materi yang diujikan dalam tes ini lebih kompleks dibanding
tes formatif.

18
Disamping beberapa teknis tes diatas, juga terdapat alat penilaian
dengan teknik non tes yang dilaksanakan diluar tes. Teknik non tes tersebut
diantaranya kuesioner, pengamatan, wawancara, penugasan, dan portofolio.
Dari beberapa teknik penilaian tes yang telah dipaparkan diatas, dapat
diterapkan kedalam penilaian proses pembelajaran melalui beberapa bentuk
tes, diantaranya adalah :
1) Bentuk Tes Uraian
Bentuk tes uraian merupakan tes yang mana menuntut peserta didik
untuk dapat menjawab sebuah pertanyaan secara tertulis berupa uraian
dengan bahasa mereka sendiri.
2) Bentuk Tes Objektif
Tes objektif dapat disebut juga dengan tes jawaban singkat (short
answer test) dimana peserta didik dituntut untuk memberikan jawaban
singkat atau hanya berupa kode-kode tertentu dalam menjawab sebuah
pertanyaan.
3) Bentuk Tes Uraian Objektif
Tes ini merupakan bentuk perpaduan antara tes uraian dan objektif.
Pada tes ini siswa dituntut untuk dapat memberikan jawaban uraian
singkat terhadap pertanyaan yang telah disediakan.
4) Tes Lisan dan Kinerja.
Tes lisan dan kinerja banyak digunakan untuk mengukur
kompetensi bahasa peserta didik. Tes lisan merupakan tes langsung
secara verbal, dimana tes lisan juga mempunyai keterkaitan berupa
salah satu bentuk tes kinerja atau perbuatan.
Ragam tes dalam penilaian pembelajaran bahasa Indonesia
berdasarkan pelaksanaannya sendiri dapat dibedakan menjadi tes tulis, tes
lisan, dan tes praktik/perbuatan.Sedangkan berdasarkan kompetensi
kebahasaan tes penilaian pembelajaran bahasa Indonesia dibedakan menjadi
tes kompetensi kebahasaan, tes keterampilan berbahasa, dan tes kesastraan.
Dari beberapa pernyataan mengenai teknik alat penilaian tes diatas.
dapat diketahui bahwa alat penilaian tes tersebut dapat digunakan secara
akurat dan tepat sasaran apabila diselaraskan dengan materi pembelajaran

19
yang akan dinilai. Dalam hal ini penerapan teknik tes penilaian dihubungkan
dengan materi pembelajaran bahasa Indonesia di MI/SD. Selaras dengan
perkembangan zaman, kompetensi bahasa berubah menjadi suatu kebutuhan
tersendiri bagi masyarakat di era modernisasi. Hal tersebut ditunjang dengan
proses komunikasi dan perkembangan ilmu pengetahuan yang menjadikan
bahasa Indonesia menjadi salah satu pembelajaran penting untuk
disampaikan kepada setiap individu mulai dari anak usia sekolah dasar
sampai dewasa. Berikut akan dipaparkan ragam teknik tes yang dapat
diterapkan berdasarkan kompetensi berbahasa yang ada :
a. Tes Kompetensi Kebahasaan
Tes kompetensi kebahasaan diterapkan untuk mengetahui tingkat
pengetahuan kebahasaan dari peserta didik. Secara umum tes kompetensi
bahasa dapat diklasifikasikan menjadi tes struktur dan tes kosa kata,
sedangkan tujuan dari tes kompetensi kebahasaan adalah pemahaman dan
penggunaan pembentukan kata, frasa, dan kalimat yang tepat oleh peserta
didik. Berikut pemamaparan klasifikasi tes kompetensi bahasa :
1) Tes Struktur
Penyusunan tes struktur didalamnya mencakup dua masalah utama
seperti penyusunan tes yang lain hal tersebut adalah : a) pemilihan
bahan yang akan diteskan atau diujikan, dan b) pemilihan bentuk dan
cara mengetes, khusunya yang bertujuan dengan kompetensi
berbahasa.23 Hal umum yang menjadi sasaran dalam tes struktur ini
adalah kemampuan peserta didik untuk dapat menggunakan secara
tepat sistem bahasa dalam kinerja bahasa, Berikut beberapa contoh tes
struktur yang dapat diterapkan :
a) Tes struktur dalam teks versus tanpa teks
Teks ini dibedakan menjadi tes morfologi lewat teks dan tes
struktur kalimat lewat tes. Penggunaan tes bentuk ini tidak berdiri
sendiri, sehingga dapat diterapkan dalam tes objektif pilihan ganda.
Berikut contoh penerapan tes struktur :
i. Tes morfologi lewat tes

23
Ibid., hlm. 327

20
Penggunaan soal tes ini contohnya adalah dengan menanyakan
ketepatan bentuk kata dalam pengunaannya pada konteks
kalimat. Contoh :
Acara rapat yang diselenggarakan salah satu perusahaan itu
dapat ………. semua pegawai mulai dari atasan sampai
bawahan.
A. menemukan
B. ditemukan
C. memertemukan *)
D. dipertemukan
ii. Tes struktur kalimat lewat tes
Penerapan tes ini bertujuan untuk menanyakan pola struktur
kalimat dengan cara membenarkan pola struktur, menyusun
atau mengidentifikasi pola struktur, dan lain-lain.
Contoh :
Guru itu pasti hadir sebelum pukul 07.00 setiap hari. Hal
tersebut sudah menjadi kebiasaan bagi setiap guru yang ada di
SD N Harapan, sehingga pekerjaan yang dilakukan tidak
menjadi beban lagi.
Kalimat pertama pada wacana tersebut berpola ….
A. S-P-O-K
B. S-P-K *)
C. S-P-O
D. S-P-K-K
b) Identifikasi dan pembetulan kesalahan struktur pada teks
Tes jenis ini ada untuk melakukan identifikasi terhadap struktur tes
yang salah. Dalam penerapan tes ini teks yang dibuat harus singkat,
struktur yang salah harus jelas dan diberi tanda, perintah
pengerjaan soal jelas, dan hanya terdapat satu jawaban benar.
Contoh :

21
Tunjukkanlah bentuk yang salah pada teks yang dicetak tebal dan
diberi garis bawah dengan memberikan tanda silang pada huruf A,
B, C, atau D pada lembar jawaban.
“ Setiap orang harus bertanggung jawab (A*) perbuatannya.
Itulah yang disebut sebagai orang yang bertanggung jawab.
Namun, faktanya tidak sedikit orang yang lari dari tanggung
jawab.”
2) Tes Kosa Kata
Kemampuan yang diharapkan dari penerapan tes kosa kata adalah
kemampuan peserta didik untuk memahmi dan menggunakan kosa
kata secara tepat. Dalam pembahasan tes kosa kata, masalah-masalah
yang akan dibahas adalah mencakup pemilihan kosa kata yang akan
diteskan dan pemilihan bentuk dan cara pengetesan.24 Berikut
pemaparan jenis tes kosa kata :
a) Tes pemahaman kosa kata dalam konteks
Dalam tes ini berhubungan dengan sifat makna kata yang dapat
berubah-ubah. Makna kata yang sebenar-benarnya dapat
diputuskan atau dijelaskan setelah kata tersebut berada dalam
konteks kalimat. Contoh :
Dengan hati yang bulat Andika menerima tawaran kerja disebuah
perusahaan yang telah lama diimpikannya.
Kata yang dicetak kiring dalam teks bermakna ……
A. Utuh
B. Mantap *)
C. Gembira
D. Sungguh-sungguh
b) Tes penempatan kosa kata dalam konteks
Konsep yang ada dalam tes ini, siswa dituntut untuk dapat memilih,
mengungkapkan, menerapkan suatu kata, istilah atau ungkapan
yang tepat untuk menghasilkan suatu wacana.
Contoh :

24
Ibid., hlm. 342

22
Pada era globalisasi yang ditandai dnegan adanya persaingan global
yang semakin intensif dewasa ini ……. Dan kualitas kerja harus
ditingkatkan dan diutamakan.
A. Produk
B. Produktif
C. Produksi
D. Produktivitas *)
c) Identifikasi dan pembetulan kosa kata dalam teks
Dalam hal ini peserta didik dituntut untuk mampu menganalisis
yaitu dengan mengidentifikasi kesalahan berupa penggunaan kosa
kata yang kurang tepat.
b. Tes Keterampilan Bahasa
Dapat diketahui bahwa pembelajaran bahasa Indonesia mempunyai
empat keterampilan utama yang ditonjolkan. Keterampilan tersebut
terdiri dari keterampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis
dimana empat keterampilan tersebut berfungsi sebagai dasar
pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam hubungannya dengan penilaian,
kemampuan peserta didik dalam mempelajari empat keterampilan
tersebut dapat diukur melalui penilaian kompetensi kebahasaan yang
dilakukan. Berikut penjelasan tentang keterkaitan empat keterampilan
dasar bahasa Indonesia dengan penilaian kompetesi berbahasa dan sastra
:
1) Tes Kompetensi Menyimak
Tes kompetensi menyimak merupakan kemampuan peserta didik
dalam menerima, memahami juga menanggapi informasi yang
disampaikan oleh pihak lain melalui pesan lisan.25 Pada tes kemampuan
kompetensi menyimak, terdapat dua metode penyelesaian soal tes. Dari
hasil menyimak yang dilakukan siswa, cara yang dapat dilakukan untuk
mengukur pemahaman siswa adalah dengan mengarahkan peserta didik
untuk memilih jawaban yang telah tersedia atau dengan menuntun

25
Ibid., hlm. 360

23
peserta didik agar dapat menanggapi pernyataan yang disampaikan
dengan bahasa mereka sendiri.
Hal inilah yang memunculkan sebutan tes tradisional dimana peserta
didik diarahkan untuk dapat merespon, memilih ataupun menanggapi
sebuah pernyataan. Disamping itu juga muncul sebutan tes otentik,
dimana peserta didik mulai dituntun untuk dapat mengonstruk
pemahaman mereka sendiri yang dituangkan dalam bentuk lisan maupun
tulisan. Dalam tes kompetensi menyimak, tes tradisional mencakup tes
objektif seperti pilihan ganda, sedangkan tes otentik dapat mencakup tes
uraian atau lisan dan kinerja.
Contoh :
a) Merumuskan inti wacana
b) Menceritakan kembali
2) Tes Kompetensi Membaca
Tes kompetensi membaca merupakan kegiatan menyelesaikan suatu
tes dengan cara memahami apa yang disampaikan oleh pihak lain secara
tidak langsung melalui media tulisan.26 Untuk dapat melaksanakan tes
kompetensi membaca peserta didik terlebih dahulu dituntut untuk dapat
memahami sistem penulisan, baik huruf maupun ejaan. Selaras dengan
tes kompetensi menyimak, pada tes kompetensi membaca tes yang
diberikan kepada peserta didik juga dibagi menjadi dua bentuk tes yaitu
tes tradisional dan juga tes otentik.
Masing-masing bentuk tes mempunyai kelebihan dan kekurangan
tersendiri. Bentuk tes tradisional pada kompetensi membaca dapat berupa
pilihan ganda atau tes objektif, dimana siswa dituntut untuk dapat
memilih jawaban yang tepat dari pertanyaan yang tersedia, sehingga
diperlukan kemampuan membaca yang baik dan benar pada setiap
peserta didik. Sedangkan bentuk tes otentik lebih condong menuntut
peserta didik agar mampu mengonstruk jawaban sendiri dari bacaan yang
telah didapat. Pada dasarnya tes kompetensi membaca berbasis

26
Ibid., hlm. 368

24
tradisional lebih efektif diterapkan, akan tetapi dari segi hasil pencapaian
tes otentik lebih akurat dalam mencerminkan kompetensi peserta didik.
Contoh :
a) Melengkapi wacana
b) Menjawab pertanyaan
c) Meringkas isi bacaan
3) Tes Kompetensi Berbicara
Tes berbicara merupakan salah satu kompetensi untuk mengeluarkan
gagasan atau ide melalui lisan. Berbicara adalah aktivitas berbahasa
kedua setelah mendengarkan, dari proses pendengaran berbagai bunyi
suara kemudian manusia belajar mengucapkan sampai akhirnya mampu
dan mahir berbicara.27 Disamping demikian, proses berbicara juga
memerlukan keterampilan tersendiri bagi setiap individu. Salah satu
keterampilan penting yang harus dimiliki dalam berbicara adalah mampu
menguasai berbagai lambang-lambang bunyi yang ada sehingga gagasan
yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.
Dalam tes kompetensi berbicara, tes yang ditekankan serta
diutamakan untuk digunakan adalah tes yang bersifat otentik atau
pragmatik. Pada praktek tes berbicara otentik hal yang ditekankan adalah
kompetensi berbicara (kinerja bahasa) serta konten pembicaraan yang
mencerminkan kebutuhan nyata pada dikehidupan. Sedangkan contoh tes
kompetensi berbicara yang dapat diterapkan diantaranya adalah :
a) Berbicara berdasarkan gambar, dalam hal ini gambar dijadikan
acuan deskripsi / bahan dalam proses tes kompetensi berbicara.
b) Berbicara berdasarkan rangsang suara, pada aspek ini sangat
berhubungan dengan kompetensi menyimak. Siswa diarahkan untuk
menyimak rangsangan suara yang diperdengarkan terlebih dahulu
sebelum akhirnya dituntun untuk dapat berbicara kreatif berdasarkan
rangsangan suara yang telah diberikan.
c) Berbicara dengan rangsangan visual dan suara, hal ini biasa
diterapkan dengan penampilan visual serta audio berupa video, televisi,

27
Ibid., hlm. 399

25
dan lain-lain, dari hasil penampilan tayangan tersebut peserta didik
diarahkan untuk dapat berbicara otentik sesuai dengan hasil analisis
mereka dari tayangan yang telah diperlihatkan.
d) Bercerita, sebelum melakuakn kompetensi bercerita biasanya
terlebih dahulu peserta diberikan rangsang terlebih dahulu oleh pengajar.
Kemudian siswa diarahkan untuk menceritakan kembali hasil
pemahaman mereka dengan gaya bahasa serta penafsiran mereka secara
pribadi.
e) Wawancara, teknik yang umum digunakan dalam tes kompetensi
berbicara. Kegiatan wawancara merupakan kegiatan kompetensi
berbicara yang kompleks apabila dibandingkan dengan kompetensi lain,
hal ini dikarenakan terjadi proses interaksi berbicara dengan berbagai
tujuan yang kompleks pula.
4) Tes Kompetensi Menulis
Keterampilan menulis merupakan aktivitas kebahasaan paling akhir
dikuasai oleh para peserta didik atau pelajar setelah keterampilan
mendengarkan, berbicara, dan membaca dilakukan.28 Dari keempat
keterampilan berbahasa yang ada menulis merupakan keterampilan yang
kompleks dan sulit diterapkan. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa
aspek kebahasaan yang melekat pada keterampilan menulis seperti kata,
ejaan, simbol, aturan tata tulis dan lain-lain. Selaras dengan keterampilan
berbicara, kegiatan menulis yang leboh ditonjolkn adalah kegiatan
menulis pada aspek yang bersifat otentik. Pada kalangan anak sekolah
dasar, otentik dapat berarti tulisan yang berfungsi sebagai alat
komunikasi untuk mengutarakan gagasan yang ingin disampaikan oleh
penulis kepada pembaca.
Bentuk tes kompetensi menulis dapat dilakukan dengan tugas memilih
jawaban (objektif) ataupun membuat karya tulis. Tes kompetensi
memilih jawaban, lebih tertuju pada penilaian objektif. Salah satu contoh
yang sering diterapkan adalah mengurutkan susunan kalimat yang tepat
dan dijadikan kesatuan paragraf yang utuh. Sedangkan penerapan tes

28
Ibid., hlm. 422

26
menulis membuat karya tulis lebih beragam, seperti menulis berdasarkan
rangsang gambar, berdasarkan rangsang suara, berdasarkan rangsang
visual dan suara, berdasarkan rangsang buku, menulis laporan, menulis
surat, dan menulis berdasarkan tema tertentu.
Contoh :
a) Menceritakan gambar
b) Menceritakan kembali
c) Menyadur berdasarkan cerpen asing
d) Membuat ringkasan/rangkuman/synopsis
e) Menulis bebas
f) Menulis naskah drama
c. Tes Kesastraan
Penilaian dalam pembelajaran sastra berfungsi untuk mengungkapkan
kompetensi bersastra peserta didik dan menunjang tercapainya tujuan
pembelajaran dari kompetensi bersastra.29 Tes pada kesastraan dapat
berupa pengetahuan tentang sastra atau kemampuan dalam apresiasi
satra. Tes kesastraan sebaiknya diprioritaskan pada kemampuan apresiasi
satra yang meliputi hal berikut :
1) Tes kesastraan tingkat informasi
Tes kesastraan tingkat informasi mengarahkan peserta didik agar
mampu mengungkapkan data-data yang terdapat dalam suatu karya
sastra baik puisi, teks fiksi, ataupun drama, dimana data-data tersebut
kemudian dapat digunakan dalam menafsirkan karya sastra.
Contoh :
… teks cerpen …
a) Sebutkan tokoh yang ada dalam teks cerpen diatas !
b) Dimana atar cerita diatas berlangsung ?
2) Tes kesastraan tingkat konsep
Dalam tes ini setelah siswa mampu mengetahui informasi dalam
suatu karya sastra, kemudian siswa diasah agar dapat mengetahui

29
Ibid., hlm. 453

27
persepsi tentang bagaimana data-data yang terdapat dalam karya sastra
dengan mengungkapkan data berupa konsep dari karya sastra tersebut.
Contoh :
… teks cerpen …
a) Apa tema cerpen diatas ?
b) Jelaskan karakter yang menonjol pada tokoh utama cerpen
diatas !
3) Tes kesastraan tingkat perspektif
Dalam hal ini peserta didik dituntut untuk dapat memahami isi teks
karya sastra. Hal tersebut kemudian dituangkan dalam pemberian
persepsi peserta didik mengai pandangan mereka terhadap suatu karya
sastra.
Contoh :
… teks cerpen …
a) Apa hal yang menarik dalam teks cerpn diatas ?
b) Apakah hal yang dilakukan oleh tokoh utama sudah tepat ?
Jelaskan pendapat Anda !
4) Tes kesastraan tingkat apresiasi
Tes bentuk ini berkaitan dengan usaha peserta didik untuk
mengenali serta memahami karya sastra melalui ciri-cirinya dengan
membandingkan keefektifannya melalui penggunaan bahasa yang
terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat menjawab tes ini
peserta didik dituntut untuk dapat mengenali, menganalisis,
menggeneralisasi, dan menilai bentuk-bentuk kebahasaan yang
digunakan dalam karya sastra yang dianalisisnya.
Contoh :
… teks cerpen …
a) Sebutkan kelebihan dan kelemahan dari cerpen diatas !
2. HUBUNGAN TEKNIK TES PEMBELAJARAN BAHASA
INDONESIA DENGAN KURIKULUM 2013
Dari beberapa pernyataan diatas, telah dipaparkan berbagai konsep
perihal penilaian pembelajaran bahasa Indonesia di MI/SD. Pada era

28
moderenisasi sekarang, penilaian suatu pembelajaran harus disesuaikan dan
diselaraskan dengan penggunaan kurikulum 2013 yang berlaku. Telah
diketahui bersama bahwasanya konsep penilaian terlebih dahulu ditunjang
oleh proses pembelajaran. Apabila proses pembelajaran berkualitas, maka
penilaian yang dihasilkan akan baik. Dan sebaliknya, apabila proses yang
dilakukan kurang tepat sasaran, maka penilaian yang dihasilkan akan kurang
maksimal.
Pada kurikulum 2013 sendiri, pendekatan yang dilakukan terfokus
pada pendekatan scientific. Dalam hal ini pendekatan lebih bersifat ilmiah.
Sedangkan aspek yang diunggulkan dalam membantu proses pembelajaran
adalah aspek kognitif yang terangkum dalam taksonomi Bloom yaitu :
mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi atau
mensintetis, dan mencipta atau kreasi. Ada versi lain yang dikemukakan
oleh Anderson dan Krathwohl bahwa konssep teori Bloom C1-C6
merupakan konsep yang terdiri dari aspek mengetahui, memahami,
mengaplikasikan atau menerapkan, menganalisis, mengevalusi, dan
mencipta. Apabila ke enam aspek tersebut dapat dijalankan dengan mudah
dan terealisasi dengan apik maka dapat dipastikan bahwasanya penerapan
kurikulum 2013 telah berhasil. Keberhasilan tersebut dibuktikan dengan
pembelajaran yang kompleks mencakup ke enam komponen kognitif C1-
C6, disamping itu hal tersebut juga dapat dibuktikan dengan dilakukan
penilaian terhadap hasil pembelajaran bahasa Indonesia yang telah diterima
peserta didik tersebut.
Dalam kurikulum 2013 sendiri, penilaian yang diunggulkan adalah
penilaian yang berbasi HOTS (High Order Thinking Skill). Penilaian HOTS
merupakan penilaian dimana dalam penerapannya soal atau tes yang
diberikan kepada peserta didik mengandung unsur C4-C6 berupa
menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Sedangkan istilah lain yaitu
Middle Order Thinking Service dapat muncul apabila soal tes yang
diberikan hanya mengandung aspek C3 yaitu menerapkan. Dan apabila soal
tes didalmnya mengandung aspek C1-C2 yaitu mengetahui dan memahami,
maka soal tes tersebut termasuk kedalam jenis tes yang Lower Order

29
Thinking Skill. Dalam proses pembelajaran, penilaian HOTS dapat
diterapkan disemua mata pelajaran, dan diantaranya termasuk pembelajaran
bahasa Indonesia.
Pada pembelajaran bahasa Indonesia soal HOTS yang akan diterapkan
memiliki kriteria tertentu yang harus dipenuhi, yaitu : 1) Soal bersifat nyata
/ kontekstual; 2) soal didukung dengan analisis visual; 3) Soal mengarahkan
siswa untuk dapat menjelaskan alasan dari jawaban yang dipaparkan; 4)
materi bahasan soal disesuaikan dengan indikator atau tujuan yang igin
dicapai. Jadi, dalam teknik tes pembelajaran bahasa Indonesia dan dalam
hubungannya dengan kurikulum 2013, teknik tes yang baik yaitu tes yang
mampu mengonstruksi pemikiran siswa. Hal tersebut dapat diterapkan
melalui tes yang berbasis HOTS dan mempunyai keotentikan yang baik.
Disamping penilaian yang berbasis HOTS, dalam kurikulum 2013
terdapat beberapa aspek lain yang juga termasuk dalam 4 program utama
kurikulum 2013, dimana didalamnya juga termasuk HOTS. Hal tersebut
dapat dijadikan panduan dalam melakukan penilaian pembelajaran bahasa
Indonesia. Diantaranya yaitu PPK (Program Pendidikan Karakter), Literasi,
4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving,
and Creativity and Innovation), dan HOTS (High Order Thinking Service)
yang telah dijelaskan sebelumnya. Berdasarkan kurikulum 2013 aspek yang
dinilai bukan hanya aspek kognitif saja, melainkan aspek psikomotorik dan
afektif juga perlu dinilai. Untuk dapat menilai aspek psikomotorik dan
afektif dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan
berlandaskan pada program utama kurikulum 2013 diatas.

D. CONTOH KASUS
Pada penerapan penilaian pembelajaran bahasa Indonesia MI/SD yang
dilakukan dilapangan, tidak sedikit terjadi berbagai permasalahan yang
muncul secara alamiah. Permasalahan tersebut dapat muncul dikarenakan
berbagai faktor baik berasal dari guru atau pengajar, orang tua, lembaga, dan
juga peserta didik itu sendiri. Berikut penulis menemukan contoh kasus

30
pada penerapan penilaian pembelajaran yang sering terjadi dikalangan
masyarakat luas, artikel tersebut dapat diketahui melalui link dibawah ini :
http://reithatp.blogspot.com/2012/04/b-permasalahan-permasalahan-
evaluasi.html?m=1
Artikel lengkap mengenai contoh kasus tersebut dipaparkan pada
Lampiran 1.
Dalam artikel tersebut secara ringkas dipaparkan mengenai
permasalahan penilaian yang timbul dari segi guru yaitu dimana guru biasa
memanipulasi data nilai siswa, sedangkan dari sisi orang tua sendiri kurang
mengontrol dan memantau program sekolah serta perkembangan program
sekolah secara akurat. Kasus tersebut pun akan menjadi lebih kompleks
apabila dalam lembaga pendidikan itu sendiri tidak melakukan pembaharuan
terhadap program-progam yang dilakukan.
Dalam hubungannya dengan penilaian pembelajaran bahasa Indonesia
MI/SD, hal ini sering ditemukan. Dapat diketahui bahwa bahasa Indonesia
sendiri merupakan salah satu mata pelajaran wajib, sehingga setiap peserta
didik diharuskan lulus dalam mata pelajaran ini. Untuk mencapai tujuan
tersebut, maka tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang guru memanipulasi
data penilaian siswa. Terkadang manipulasi data nilai juga dilakukan karena
kepentingan-kepentingan tertentu. Kasus tersebut dapat semakin merajalela
dikarenakan guru dan lembaga menganggap hal tersebut sebagai hal yang
wajar dan kurang memantau secara intensif program dan hasil penilaian
peserta didik.
Sedangkan salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk memecahkan
permasalahn tersebut, salah satunya dengan melakukan pemantauan hasil
penilaian siswa dan dibandingka dengan proses belajar siswa sehari-hari.
Disamping itu kepala sekolah atau madrasah juga perlu memantau setiap
aktivitas guru agar dapat memberikan penilaian yang objektif terhadap
siswa. Dan hal penting lain yang dapat menjadi solusi adalah dengan adanya
kerjasama yang baik antar pihak sekolah dan orang tua agar memberikan
pengetahuan kepada siswa bahwa nilai bukan keberhasilan, melainkan ilmu
yang bermanfaatlah yang menjadi tanda suatu keberhasilan.

31
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

B. SARAN

32
33
DAFTAR PUSTAKA

Nurgiyantoro, Burhan. 2011. Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi.


Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta

Nugriyantoro, Burhan. 2011. Penilaian Otentik Dalam Pembelajaran Bahasa


Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Safari, Indra. 2018. PROSISIDING SEMINAR NASIONAL “Membangun Generasi


Emas 2045 yang Berkarakter dan Melek IT” dan Pelatihan “Berpikir
Suprasional”. Sumedang : UPI Sumedang Press

Wahyuni, Sri dan Abd. Syukur Ibrahim. 2012. Asesmen Pembelajaran Bahasa.
Bandung: PT Refika Aditama

iii
Lampiran 1
(Artikel Contoh Kasus)
Selasa, 24 April 2012
Permasalahan-permasalahan evaluasi ditinjau dari sisi guru, orang tua, dan
lembaga
1. Permasalahan-permasalahan evaluasi ditinjau dari sisi guru
Beberapa permasalahan evaluasi yang ditinjau dari sisi guru, sebagai
berikut:
a. Guru menaikkan nilai raport hasil belajar siswa dengan tujuan agar
siswanya dapat tuntas semua dalam mencapai nilai KKM (Kriteria Ketuntasan
Minimal). Namun, pada kenyataannya masih banyak siswa yang nilainya belum
mencapai KKM yang telah ditetapkan. Sehingga nilai yang diterima siswa
bukan nilai asli dari hasil belajar siswa itu sendiri.
b. Guru tidak melakukan perubahan dalam penyampaian materi kepada
siswanya. Padahal, dari hasil belajar siswa telah terlihat bahwa tingkat
pemahaman dan penangkapan materi oleh siswa sangat rendah sehingga nilai
hasil belajarnya pun juga rendah.
c. Nilai hasil belajar siswa rendah bahkan jelek yang dipengaruhi strategi
belajar guru kurang sesuai dengan karakteristik siswa sehingga siswa merasa
jenuh dengan pembelajaran. Dalam hal ini, biasanya guru sudah mengetahui
penyebab nilai hasil belajar siswa yang rendah. Akan tetapi, guru tetap
menggunakan strategi pembelajaran tersebut di kelas.
d. Guru memberikan soal-soal ujian kepada siswa, namun soal-soal tersebut
tidak sesuai dengan materi yang telah disampaikan kepada siswanya selama
pembelajaran di kelas. Hal tersebut mengakibatkan hasil belajar siswa rendah.
2. Permasalahan-permasalahan evaluasi ditinjau dari sisi orang tua
Beberapa permasalahan evaluasi yang ditinjau dari sisi orang tua, sebagai
berikut:
a. Orang tua menerima saja program-program yang disampaikan oleh pihak
sekolah tanpa mengetahui bagaimana pelaksanaan dari program-program yang
disampaikan. Dalam hal ini, orang tua hanya menganggap bahwa program-
program yang disampaikan sekolah adalah program yang terbaik untuk
pendidikan anaknya.
b. Orang tua tidak mengkonsultasikan mengenai hasil belajar anaknya.
Apakah nilai yang diperoleh anaknya itu nilai yang asli ataukah nilai hasil
manipulasi.
c. Orang tua memberikan sumbangan kepada pihak-pihak tertentu dalam
sekolah agar anaknya dapat naik kelas meskipun nilai anaknya jelek dan belum
tuntas jika dibandingkan dengan KKM yang telah ditetapkan.
d. Orang tua memberikan uang suap sebagai jalan untuk memperlancar agar
anaknya dapat diterima di perguruan tinggi favorit sesuai dengan yang
diinginkannya. Sedangkan berdasarkan hasil tes, anaknya tidak lulus untuk
masuk perguruan tinggi tersebut.
3. Permasalahan-permasalahan evaluasi ditinjau dari sisi guru lembaga
Beberapa permasalahan evaluasi yang ditinjau dari sisi lembaga, sebagai
berikut:
a. Sekolah maupun lembaga pendidikan tidak melakukan pembaharuan
program yang akan datang. Padahal, sudah diketahui bahwa program yang
dilaksanakan belum dapat mencapai hasil yang maksimal.
b. Tidak adanya pembaharuan program yang disesuaikan dengan Standar
Nasional Pendidikan sehingga program yang ada di lembaga hanya program
yang dahulu telah terlaksana dan kemudian dilaksanakan lagi. Padahal,
seharusnya terdapat pembaharuan program yang dimaksudkan agar sesuai
dengan hasil belajar dan Standar Nasional Pendidikan yang telah ditetapkan.