Anda di halaman 1dari 6

TUGAS AKHIR MODUL 3 PROFESSIONAL PPKn

INTEGRASI NASIONAL DALAM KERANGKA NKRI

Oleh :
Nama : Mauluddin Rahman Syah, S.Pd
NUPTK : 0361767671130043
No. Peserta PPG : 19280215410247
Bid. Studi : PPKn
Tempat Tugas : SMKS Plus Miftahul Ihsan Cilograng
Lebak – Banten

Tugas Akhir Modul 3


1. Penyakit budaya, seperti: prasangka, stereotipe, etnosentrisme dan diskriminatif
menjadi salah satu bentuk ancaman disintegrasi bangsa. Bagaimana menurut Anda,
upaya antisipasi untuk mencegah tumbuhkembangnya penyakit budaya tersebut, pada
masyarakat mejemuk di Indonesia. Berikan analisis secara komprehensif.

Upaya antisipasi untuk mencegah tumbuh kembangnya penyakit budaya sebagai salah satu
ancaman terhadap disintegrasi bangsa dapat dilakukan melalui :
1. Memperkokoh sikap religius; artinya dasar-dasar keagamaan seorang warga negara
harus kuat karena merupakan hal mendasar pada diri pribadi warga negara. Pada
dasarnya setiap agama yang dianut pasti mengajarkan semangat positif dalam setiap
ajarannya.
2. Menumbuhkan sikap nasionalisme dan cinta terhadap tanah air sebagai landasan berfikir
dan bertingkah laku sebagai cerminan warga negara yang baik. Dapat digambarkan
melalui :
a. Menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal dan nasional dan menjaga
kearifan lokal yang dimiliki
b. Menghormati perbedaan suku, budaya, agama, dan warna kulit sehingga muncul
toleransi
c. Menjaga wilayah dan kekayaan tanah air Indonesia
d. Memiliki semangat persatuan yang berwawasan nusantara
3. Semangat pluralisme yang dapat diusung sebagai solusi disintegrasi bangsa lewat sikap
mempertahankan kesamaan dan kebersamaan, yaitu kesamaan memiliki bangsa, bahasa
persatuan, dan tanah air Indonesia, serta memiliki pancasila, Undang-Undang Dasar
1945, dan Sang Saka Merah putih. Kebersamaan dapat diwujudkan dalam bentuk
mengamalkan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945.
4. Menjalankan norma-norma yang berlaku dengan sebaik-baiknya melalui cerminan taat
terhadap peraturan, agar kehidupan berbangsa dan bernegara berjalan dengan tertib dan
aman.
2. Panca Gatra yang meliputi aspek IPOLEKSOSBUDHANKAM, dievaluasi masih
banyak kelemahan dalam implementasinya untuk menjaga keutuhan NKRI. Berikan
analisis secara komprehensif terhadap kondisi tersebut.

Kelemahan implementasi Panca Gatra untuk menjaga NKRI :


1. Aspek Ideologi
Pancasila sebagai ideologi saat ini mulai tersingkir dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalam sila-silanya menjadi tidak
termaknai dengan baik dalam pelaksanaan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kondisi ini dapat terjadi karena Pancasila, bagi sebagian masyarakat, baru sebatas hal
yang mempengaruhi pola perasaan dan pola pikir, belum sampai ke perilaku
kesehariannya atau pola tindakannya, sehingga berakibat pada rendahnya ketahanan
terhadap pengaruh luar yang mengedepankan kebutuhan materiil.

Pemerintah yang diharapkan menjadi penjaga dalam melestarikan nilai-nilai Pancasila


ternyata tidak melahirkan kebijakan-kebijakan yang berlandaskan pada falsafah negara
tersebut. Banyak kebijakan negara yang arahnya bertentangan dengan prinsip-prinsip
atau pilar-pilar Pancasila.

Disisi lain, masing-masing individu, baik itu kelompok masyarakat hingga kalangan
pejabat pemerintahan mengapresiasikan pemikiran-pemikirannya dari ideologi-ideologi
yang mereka pahami dalam realitas kehidupan. Masing-masing membentuk golongan
dan kelompok-kelompok sendiri demi untuk mengkampanyekan ideologi-ideologi yang
mereka yakini dan berusaha untuk mewabahi pikiran dan keyakinan masyarakat atas
ideologi tersebut.

Padahal sampai detik ini, Pancasila merupakan falsafah, dasar negara, ideologi negara.
Ini berarti kita percaya bahwa Pancasila sebagai sumber inspirasi dan sumber solusi atas
permasalahan bangsa.

2. Aspek Politik
Gatra politik sejatinya berkaitan dengan kemampuan mengelola nilai dan sumber daya
bersama agar tidak menimbulkan perpecahan, stabil dan konstruktif untuk
pembangunan. Politik yang stabil akan memberikan rasa aman serta memperkokoh
persatuan dan kesatuan nasional, sehingga pada gilirannya akan memantapkan
ketahanan nasional suatu bangsa.

Namun faktanya, dalam kondisi kekinian bangsa Indonesia, sikap politik yang
dipertontonkan oleh kalangan elit justru memprovokasi berbagai isu-isu krusial seperti
suku, agama, ras dan golongan yang dapat memicu perpecahan serta disintegrasi
bangsa. Keputusan-keputusan politik yang diambil lebih banyak dilandasi oleh
kepentingan dan keuntungan kelompok tertentu tanpa memikirkan kepentingan
masyarakat banyak. Bahkan elit politik cenderung menghalalkan berbagai macam cara
hanya untuk meraih kekuasaan dan mengabaikan kepentingan masyarakat.
3. Aspek Ekonomi
Gatra ekonomi seharusnya diarahkan pada landasan yang bertumpu kekuatan
pertumbuhan perekonomian, pemerataan, dan stabilitas ekonomi. Inilah pondasi
perekonomian nasional yang harus di bangun. Namun, nyatanya masih banyak
kebijakan negara yang arahnya bertentangan dengan prinsip-prinsip atau pilar-pilar
ekonomi Pancasila, seperti dalam kebijakan impor beras, kebijakan rekapitulasi
perbankan, utang luar negeri dan sebagainya, serta praktik ”markup” dan korupsi yang
meluas di pemerintahan. Bagaimana mungkin mengharapkan implementasi Pancasila
dalam bidang ekonomi dapat dilaksanakan oleh masyarakat luas, sementara pemerintah
selaku pemilik kebijakan juga tak menjadikan Pancasila sebagai dasar pengambilan
keputusan.

4. Aspek Sosial Budaya


Kelemahan implementasi gatra sosial budaya menjadi salah satu yang paling nyata
terlihat di lingkungan masyarakat Indonesia saat ini. Penerapan nilai-nilai Pancasila
dalam kehidupan sehari-hari mulai pudar. Banyak perilaku-perilaku masyarakat yang
tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, misalnya; perilaku diskriminatif terhadap
pemeluk agama berbeda, tindakan persekusi dan main hakim sendiri, tawuran antar
pelajar dan kelompok masyarakat, pemaksaan kehendak kepada orang lain, perilaku
korupsi, kolusi dan nepotisme hingga kalangan generasi muda yang mulai melupakan
budaya sendiri karena menganggap bahwa budaya asing merupakan budaya yang lebih
modern.

Tidak dapat dipungkiri arus globalisasi yang semakin gencar menjadi salah satu
penyebab tergerusnya nilai-nilai Pancasila yang selama ini telah dijadikan pandangan
hidup di tengah-tengah masyarakat. Kondisi tersebut diperparah dengan semakin
minimnya pengetahuan masyarakat, terutama kalangan generasi muda terhadap
pengamalan nilai-nilai Pancasila. Hal ini disebabkan seluruh struktur dan bangunan
dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila telah dihapus pasca reformasi di
Indonesia.

Banyak perilaku-perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila juga
disebabkan sikap eksklusifisme, yaitu maraknya kelompok yang menganggap lebih baik
dan kuat dari pada kelompok lain, terutama kelompok yang berdasarkan
primordialisme. Selanjutnya adalah kesenjangan sosial yang semakin melebar di tengah-
tengah masyarakat, lemahnya penegakan hukum hingga kurangnya keteladanan dalam
mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dari tokoh bangsa dan tokoh masyarakat.

5. Aspek Pertahanan dan Keamanan


Saat ini Indonesia dihadapkan pada berbagai ancaman, baik yang datang dari luar negeri
maupun dari dalam negeri. Ancaman dari luar negeri misalnya terkait konflik
perbatasan dan pelanggaran wilayah seperti yang terjadi di Pulau Natuna yang
melibatkan China. Sedangkan ancaman dari dalam seperti gerakan separatis yang
dilakukan oleh beberapa kelompok yang ingin melepaskan diri dari Indonesia, aksi
terorisme, konflik horizontal hingga perang cyber di era abad 21.
Aksi terorisme yang menyasar objek vital, tempat-tempat penting dan strategis serta
rumah ibadah di berbagai daerah merupakan ancaman terhadap keamanan negara yang
paling sering terjadi beberapa tahun terakhir. Aksi terorisme ini tidak hanya
mengaganggu keamanan negara, namun sengaja diciptakan untuk menimbulkan
keresahan masyarakat yang pada akhirnya mengganggu stabilitas nasional.

Berbagai ancaman yang muncul dari dalam negeri tersebut umumnya akibat
kesenjangan sosial yang semakin lebar di tengah masyarakat, kurang tegas dan tidak
adilnya penegakan hukum yang dirasakan masyarakat serta tidak meratanya
pelaksanaan pembangunan. Kondisi ini menyebabkan masyarakat rentan untuk di
provokasi sehingga dapat menimbulkan kerugian besar bagi negara.
3. Dalam upaya mewujudkan integrasi nasional Indonesia, salah satu tantangan yang
dihadapi berakar pada perbedaan suku, agama, ras, dan geografi. Seiring dengan
kemajuan teknologi informasi terutama menjamurnya social media dan kebebasan
berpendapat saat ini, potensi konflik dan perpecahan yang berawal dari hal-hal sepele
seperti membuat pernyataan atau memberi komentar di sebuah akun social media bisa
saja terjadi. Menurut Anda, bagaimana menyikapi hal ini? dan bagaimana peran
seorang pendidik dalam mewujudkan generasi milenial yang berintegritas nasional?

Perkembangan teknologi yang mengglobal menjadikan sebagian besar manusia hampir tidak
lepas dari internet termasuk di Indonesia. Hampir seluruh sendi-sendi kehidupan terambah
dengan moda-moda informasi dan komunikasi serba digital yang ditandai munculnya media
baru berbasis internet dan web. Dengan adanya internet, komunikasi antar manusia yang
terhalang oleh ruang dan waktu menjadi lebih mudah. Hal tersebut didukung oleh
smartphone.
Penggunaan Media Sosial sebagai sarana komunikasi, informasi, rekreasi atau hiburan
secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi sikap pengguna. Namun media
ini bukan tanpa celah, justru karena kebebasan akses yang cepat itulah membuat banyak celah
dimana-mana sehingga kita sulit membedakan mana yang berdampak positif, mana yang
berdampak negatif, tidak jarang terdapat banyak informasi yang bersifat hoax atau tidak
terbukti kebenarannya sehingga dapat merugikan
Menyikapi gejala tersebut, dibutuhkan kecerdasan dan kedewaan dari seluruh element
masyarakat dalam beraktivitas di media sosial. Seluruh informasi yang akan disebarluaskan
hendaknya di sharing sebelum sharing, termasuk melakukan kroscek asal usul kebenaran
informasi, sehingga tidak menimbulkan dampak yang dapat merugikan masyarakat secara
luas serta mengancam disintegrasi bangsa.
Peran seorang pendidik dalam mewujudkan generasi milenial yang berintegritas
nasional?
Generasi milenial lahir di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi yang
demikian pesat dan bahwa era digital ini segala sesuatunya tidak terlepas dari IT. Tidak
terkecuali dalam dunia pendidikan. Revolusi dalam dunia pendidikan menuntut peran guru
untuk selalu up to date. Sehingga bisa menghantarkan siswanya untuk siap menghadapi
dunia kerja dan persaingan global setelah mereka lulus Karena itu lah, cara ajar untuk
mendidik mereka pun harus dibedakan.
Peran pendidik yang benar-benar harus mengikuti perkembangan jaman dalam model gaya
mengajarnya salah satunya dengan penerapan saintific learning pada setiap proses
pembelajarannya. Hal ini sebetunya adalah “gaya kekinia” seorang guru dalam memfasilitasi
anak didiknya Karena itu, peran pendidik dalam mewujudkan generasi milenial yang
berintegritas nasional dapat dilakukan melalui pengenalan dan pengamalan nilai-nilai
Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari pendidikan karakter bangsa dapat
kita kolaborasikan dengan IPTEK, semisal pemafaatan medsos dalam proses belajar
mengajarnya.
Selain itu, guru harus mampu menjadi contoh atau role model bagi peserta didik sebagai
guru yang menguasai teknologi informasi, disiplin, kreatif dan inovatif, berdaya saing tinggi,
namun tetap mengedepankan nilai-nilai luhur budaya bangsa serta memiliki kebanggaan
terhadap indentitas nasional sebagai jati diri bangsa yang tercermin dalam kehidupan sehari-
hari.

4. Tuliskan pengalaman hidup Anda terkait dengan peristiwa, kejadian atau sikap-sikap
positif yang muncul dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat yang mencerminkan
toleransi terhadap keberagaman!
Pengalaman hidup terkait dengan toleransi terhadap keberagaman yang pernah saya alami
adalah ketika saya masih remaja dan masih tinggal di kampung halaman. Di kampung saya
mayoritas masyarakatnya menganut kepercayaan agama islam, namun ada satu-satunya
keluarga yang menjadi warga kampung kami ini adalah seorang kristiani dari etnis
tionghoa.
Karena mereka hidup ditengah-tengah masyarakat mayoritas muslim, mau tidak mau
mereka akan selalu berinteraksi dengan kami yang muslim, kebetulan salah satu putranya
menjadi teman saya. Sikap toleransi yang dapat saya gambarkan dari pengalaman saya ini
salah satunya adalah ketika tiba momen hari besar agama islam idul fitri ataupun idul
adha. Seperti halnya banyak muslim kebanyakan, kami semua merayakan hari itu dengan
berbagai macam persiapan dan sajian-sajian. Nah, di momen idul fitri biasanya di
kampung kami ada adat kebiasaan “hantaran rantang”, maksudnya saling mengirim
masakan yang dibuat kepada para tetangga.
Sikap toleransi ini tercermin ketika beberapa dari kami sebagai tetangga tidak lupa ikut
mengirimkan hantaran itu kepada tetangga kami yang satu ini dan mereka sangan antusias
terhadap adat kebiasaan kami ini. Selanjutnya, dimalam takbirannya pun keluarga ini tidak
menutup diri dari keramaian kampung, malah dengan semangatnya mereka ikut serta
merayakan bersama kami.
Sebaliknya, sikap yang toleransi yang mereka tampilkan adalah ketika momentum imlek
(karena mereka dari etnis tionghoa), mereka sering mengirim bingkisan kepada kami
tetangga dekatnya yaitu berupa dodol cina sajian khas imlek sebagai tanda ucap syukur
mereka.
Toleransi ini tetap berlangsung di setiap tahun di kampung halaman saya, yang
alhamdulillah masyarakatnya sadar betul akan arti toleransi antar umat beragama