Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PERTUMBUHAN UANG DAN INFLASI

Oleh KELOMPOK : 7

1. Christofer Lumopa

2. Vicky Warouw

3. Imanuel Rompas

4. Beatricia Panggabean

5. Shalomita Langie

6. Friskiani Seran

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

JURUSAN MANAJEMEN

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


KATA PENGANTAR

Tiada kata yang indah dan kalimat yang paling sempurna selain rasa syukur yang sebesar-
besarnya Penulis Panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat, karunia-Nya
serta kesehatan dan kesempatan sehingga kami dapat menyelesaikan Penulisan Makalah ini
dengan tepat waktu. Dan dapat kami sajikan guna memenuhi tugas mata kuliah Teori Ekonomi
makro dengan judul “Pertumbuhan Uang Dan Inflasi”

kami juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dosen
yang telah memberikan tugas kepada kami, sehingga kami dapat mengetahui cara-cara
penulisan Makalah.

Dengan kerendahan hati kami sadari bahwa dalam penulisan Makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Sebagai manusia biasa, tentunya tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu,
kami harapkan kritik dan saran untuk penyempurnakan Makalah selanjutnya
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................

DAFTAR ISI.................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................

A. Latar Belakang.............................................................................................

B. Rumusan Masalah......................................................................................

BAB II PEMBAHASAN..................................................................................

A. Pengertian pertumbuhan uang dan inflasi.................................................

B. Teori klasik inflasi.......................................................................................

C. Hubungan uang dan inflasi........................................................................

BAB III PENUTUP........................................................................................

A. Kesimpulan.................................................................................................

B. Saran..........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Friedman dan Schwartz menulis dua makalah yang mendokumentasi sumber danpengaruh
perubahan dalam kuantitas uang selama periode 1867 – 1960 dan 1867 –1975 di Amerika
Serikat. Secara empiris, Friedman dan Schwartz berhasil memverifikasi hubungan antara inflasi
dan pertumbuhan jumlah uang beredar.

Hasil penelitian Friedman dan Schwartz menunjukkan bahwa di Amerika Serikat dekade-dekade
dengan pertumbuhan uang tinggi cenderung memiliki inflasi yang tinggi, dandekade-dekade
dengan pertumbuhan uang rendah cenderung memiliki inflasi yang rendah.Hasil yang sama
diperoleh dari perbandingan tingkat rata-rata inflasi dan tingkat rata-rata pertumbuhan uang di
lebih dari 100 negara selama tahun 1990-an. Dalam kajian tersebut, terdapat hubungan yang
jelas antara pertumbuhan uang dan inflasi. Negara-negara dengan pertumbuhan uang tinggi
cenderung memiliki inflasi yang tinggi, sementara negara-negara dengan pertumbuhan uang
rendah cenderung memiliki inlfasi yang rendah.

Namun demikian, menurut Mankiw (2003), keeratan hubungan inflasi dengan jumlah uang
beredar tidak dapat dilihat dalam jangka pendek. Teori inflasi ini bekerja paling baik dalam
jangka panjang, bukan dalam jangka pendek. Dengan demikian, hubungan antara pertumbuhan
uang dan inflasi dalam data bulanan tidak akan seerat hubungan keduanya jika dilihat selama
periode 10-tahun.

Uang adalah persediaan aset yang dapat dengan segera digunakan untuk melakukan
transaksi. Inflasi adalah kenaikan jumlah barang dan jasa.

1.2.Rumusan Masalah

1. Pertumbuhan uang dan inflasi

2. Teori klasik inflasi

3. Beban beban inflasi

4. Hubungan uang dan inflasi


BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pertumbuhan uang dan inflasi

Antara tahun 1997 dan 2006, harga-harga naik dengan tingkat rata-rata sekitar 2% pertahun,
dan 3,4% di wilayah Asia secara keseluruhan.

Inflasi adalah fenomena dalam perekonomian yang berkaitan dengan pertama dan terpenting,
nilai alat tukar dalam perekonomian.

2.11. Teori Klasik Inflasi

 Tingkat Harga-harga dan Nilai Uang


 Jumlah Uang yang Beredar, Permintaan Uang, dan Keseimbangan Moneter

Meskipun ada banyak variable yang memengaruhi permintaan uang terdapat satu variable yang
penting: tingkat harga rata-rata di dalam perekonomian.

Semakin tinggi harganya, semakin banyak uang yang dibutuhkan untuk transaksi pada
umumnya, dan semakin banyak uang yang ingin dimiliki di dalam dompet dan rekening mereka.
Artinya, tingkat harga yang tinggi (bererti nilai uang rendah) meningkatkan jumlah permintaan
uang.

Dalam jangka panjang, tingkat keseluruhan menyesuaikan diri dengan tingkat keseimbangan
penawaran dan permintaan.

 Dampak-dampak Injeksi Moneter

Teori jumlah uang yaitusebuah teori ynag menyatakan bahwa jumlah uang yang tesedia
menentukan tingkat harga dan bahwa tingkat pertumbuhan jumlah uang menentukan tingkat
inflasi.

Tinjauan Singkat Proses Penyesuaian. Dikotomi Klasik dan Kenetralan MoneterVariable-


variabel nominal yaitu variable yang diukur dalam unit moneter. Variable-variabel riil yaitu
variable yang diukur dalam unit fisik. Dikotomi klasik yaitu pemisahan teoritis variable-variabel
nominal dan riil. Mengapa harus memisahkan variable-variabel ini menjadi dua kelompok?
Hume berpendapat bahwa dikotomi klasik berguna untuk menganalisis perekonomian
karenaberbagai kekuatan memengaruhi variable-variabel riil dan nominal. Ia berpendapat,
secara khusus, variable-variabel nomnal sangat dipengaruhi oleh perkembangan-
perkembangan pada system moneter dalam perekonomian, sedangkan system moneter sangat
tidak relevan dalam pemahaman tentang determinan variable-variabel riil yang penting.

Perubahan jumah uang yang beredar, menurut Hume, memengaruhi varabel-variabel nominal,
tetapi tidak memengaruhi variable-variabel riil.

Kenetralan moneter yaitu gagasan bahwa perubahan dalam jumlah uang yang beredar tidak
memengaruhi variable-variabel riil.Sebuah analogi membantu dalam menjelaskan arti
kenetralan moneter.Kecepatan dan Perssamaan JumlahVelositas uang yaitu kecepatan
perpindahan uang

V = (P X Y) / M

Persamaan jumlah yaitu persamaan MxV=PxY, yang berkaitan dengan jumlah uang, velositas
uang, dan lnilai moneter keluaran barang dan jasa dalam perekonomian

Langkah-langkah yang menjadi inti dari teori jumlah uang dan unsur-unsur yang menjelaskan
tingkat harga keseimbangan dan tingkat inflasi, yaitu :

1. velositas uang relatif stabil seiring berjalannya waktu

2. Karena velositas stabil, ketika bank sentral mengubah jumlah uang (M), hal ini akan
menyebabkan perubahan-perubahan yang sebanding dengan nilai nominal keluaran (PxY)

3. Keluaran barang dan jasa dalam perekonomian (Y) ditentukan oleh persediaan faktor
(tenaga kerja, modal fisik, modal manusia, dan sumber daya alam) dan teknologi produksi yang
tersedia. Secara khusus, karena uang bersifat netral maka uang tidak mempengaruhi jumlah
keluaran.

4. Dengan keluaran (Y) dipengaruhi oleh persediaan faktor dan teknologi. Saat bank sentral
mengubah jumlah uang yang beredar (M) dan menyebabkan perubahan pada nilai nominal
keluaran (PxY) perubahan ini dicerminkan pada perubahan tingkat harga (P).

5. Saat bank sentral meningkatkan jumlah uang yang beredar hasilnya adalah tingkat inflasi
yang tinggi
1. Pajak Inflasi

Pajak inflasi (inflation tax) merupakan penghasilan yang dikumpulkan oleh pemerintah dengan
cara mencetak uang yang harus diketahui dalam pajak inflasi yaitu : pajak ini dikenakan kepada
setiap orang yang memegang uang.

2. Efek Fisher

Suku bunga nominaladalah suku bungan yang kita ketahui / yang diberikan oleh bank.Suku
bunga riil adalah suku bunga yang telah disesuaikan dengan inflasi (suku bunga nomina) yang
telah dikurangi dengan tingkat inflasi.

Suku bunga riil = suku bunga nominal-laju inflasi

Suku bunga nominal = suku bunga riil+laju inflasi

Efek fisher (Fisher effect) yaitu penyesuaian suku bunga nominal seiring dengan tingkat inflasi.
Hal ini merupakan akibat atau lanjutan dari teori kenetralan moneter.

ü Beban-Beban Inflasi

1. Biaya Sol Sepatu

Pajak inflasi menyebabkan kerugian beban baku karena orang-orang menyia-nyiakan sumber
daya yang terbatas dengan mencoba untuk menghindari pajak. Untuk menghindari pajak inflasi
ini salah satu caranya yaitu dengan memegang uang lebih sedikit. Akibat dari memegang uang
lebih sedikit ini sadar atau tidak, sebenarnya kita telah terkena biaya sol sepatu(shoeleather
costs) -sumber daya yang terbuang ketika inflasi mendorong orang-orang untuk mengurangi
pemegangan uang mereka.

1. Biaya Menu

Biaya menu (menu cost) yaitu biaya untuk mengubah harga.Variabilitas harga relatif dan
kesalahan alokasi sumber-sumber daya.Harga-harga berubah hanya sekali-kali, inflasi
menyebabkan harga-harga relatif menjadi lebih berbeda daripada ketika tidak ada inflasi. Ketika
inflasi mengubah harga-harga relatif, keputusan konsumen juga berubah, dan paar-pasar
menjadi kurang mampu mengalokasikan sumber daya untuk digunakan dengan sebaik-baiknya.

2. Distorsi Pajak Akibat Inflasi

Inflasi seringkali tidak dipertimbangkan dalam penghitungan pajak. Solusinya yaitu dengan
membuat indeks pada sistem pajak -hukum pajak dapat dibuat kembali dengan
memperhitungkan efek-efek dari inflasi.

3. Kebingungan dan Ketidaknyamanan

Hal ini terjadi karena perubahan nilai uang yang turun secara drastis akibat inflasi. Namun para
akuntan sangat sulit untuk menghitung akibat dari inflasi ini karena inflasi mempengaruhi
variabel riil.

4. Kerugian Khusus Akibat Inflasi Tidak Terduga : Redistribusi Kekayaan secara Acak

Inflasi yang tidak terduga menyebabkan redistribusi kekayaan diantara populasi dengan cara
yang tidak ada hubungannya dengan kepantasan atau kebutuhan. redistribusi ini terjadi karena
banyak pinjaman dalam perekonomian ditentukan dengan menggunakan satuan hitung yaitu
uang.

2.111. Hubungan Uang dan Inflasi

Friedman dan Schwartz menulis dua makalah yang mendokumentasi sumber danpengaruh
perubahan dalam kuantitas uang selama periode 1867 – 1960 dan 1867 –1975 di Amerika
Serikat. Secara empiris, Friedman dan Schwartz berhasil memverifikasi hubungan antara inflasi
dan pertumbuhan jumlah uang beredar. Hasil penelitian Friedman dan Schwartz menunjukkan
bahwa di Amerika Serikat dekade-dekade dengan pertumbuhan uang tinggi cenderung memiliki
inflasi yang tinggi, dandekade-dekade dengan pertumbuhan uang rendah cenderung memiliki
inflasi yang rendah.

Hasil yang sama diperoleh dari perbandingan tingkat rata-rata inflasi dan tingkat rata-rata
pertumbuhan uang di lebih dari 100 negara selama tahun 1990-an. Dalam kajian tersebut,
terdapat hubungan yang jelas antara pertumbuhan uang dan inflasi. Negara-negara dengan
pertumbuhan uang tinggi cenderung memiliki inflasi yang tinggi, sementara negara-negara
dengan pertumbuhan uang rendah cenderung memiliki inlfasi yang rendah.
Namun demikian, menurut Mankiw (2003), keeratan hubungan inflasi dengan jumlah uang
beredar tidak dapat dilihat dalam jangka pendek. Teori inflasi ini bekerja paling baik dalam
jangka panjang, bukan dalam jangka pendek. Dengan demikian, hubungan antara pertumbuhan
uang dan inflasi dalam data bulanan tidak akan seerat hubungan keduanya jika dilihat selama
periode 10-tahun.

Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi.
Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong
perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang
bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi
yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian
menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja,
menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat.
Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum
buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka
menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.

Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh
seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya
beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan
berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi.
Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat
inflasi.

Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin
menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga,
nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan
sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang
diperoleh dari tabungan masyarakat.

Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat
pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam.
Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai
uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.

Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi
daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk
melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi
menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka
produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya
untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen
tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).

Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong
kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan
pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan
merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat
pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam.
Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai
uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.Bagi produsen,
inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan
biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan
produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya
biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk
meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu.
Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan
bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).

Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong
kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan
pelaksanaan pembangunan, ketidak stabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan
merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

3.2. Saran

Demikianlah makalah ini dibuat, tentunya makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, maka
saran yang membangun yang sangat diharapkan untuk memperbaiki makalah selanjutnya. Dan
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dalam memahami konsep pertumbuhan
uang dan inflasi.
DAFTAR PUSTAKA

Mankiw, N Gregory. DKK. 2014. Pengantar Ekonomi Makro. Salemba Empat.Jakarta.

Sukirno, Sadono. 2011. Makroekonomi Teori Pengantar Rajawali Pers. Jakarta

Mankiw, Gregory. 2003.Makro Ekonomi. Rajawali Pers. Jakarta

Ajeng Faiza. 2011. Makalah Pertumbuhan Uang dan


Inflasihttp://www.slideshare.net/ajengfaiza/makalah-pertumbuhan-uang-dan-inflasi (25
November 2017 Pukul 21:22)

Makalahku10. 2017. Makalah Inflasi, Pertumbuhsn Uang, Tingkat Suku Bunga dan
Pengangguran. http://www.makalahku10.ga/2017/01/makalah-inflasi-pertumbuhan-uang.html