Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH IAS NO 1

PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN

SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN

Oleh :

Husniyah Khuzaimah (1711070266)

S1 AKUNTASI KELAS KARYAWAN


PERBANAS INSTITUTE BEKASI
2018

1
A. PENDAHULUAN

IAS 1 Penyajian Laporan Keuangan dikeluarkan oleh Komite Standar Akuntansi


Internasional pada bulan September 1997. IAS 1 menggantikan Kebijakan Pengungkapan IAS
(awalnya disetujui pada tahun 1974), Informasi IAS 5 akan diungkapkan dalam laporan
keuangan (awalnya disetujui pada tahun 1977) dan IAS 13 Penyajian Aset Lancar dan
Kewajiban Lancar (awalnya disetujui pada tahun 1979).

Pada bulan April 2001, Dewan Standar Akuntansi Internasional (IASB) memutuskan
bahwa semua standar dan interpretasi yang dikeluarkan berdasarkan konstitusi sebelumnya
tetap berlaku kecuali dan sampai mereka diamandemen atau ditarik kembali. Pada bulan
Desember 2003, IASB mengeluarkan revisi IAS 1. Sejak tahun 2003, IASB telah
mengeluarkan Amandemen untuk IAS 1 — Pengungkapan Modal (diterbitkan Agustus 2005).

IAS 1 Penyajian Laporan Keuangan menetapkan persyaratan keseluruhan untuk laporan


keuangan, termasuk bagaimana mereka harus disusun, persyaratan minimum untuk konten
mereka dan konsep utama seperti going concern, dasar akrual akuntansi dan perbedaan saat ini
atau tidak saat ini. Standar ini mensyaratkan set lengkap laporan keuangan untuk terdiri dari
laporan posisi keuangan, laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, laporan
perubahan ekuitas dan laporan arus kas. IAS 1 diterbitkan kembali pada bulan September 2007
dan berlaku untuk periode tahunan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2009. Perubahan
tersebut meliputi :

TERM BEFORE AMANDEMEND TERM AFTER AMANDEMEN


Balance Sheet Statement of Financial Position
Cash Flow Statement Statement of Cash Flow
Income Statement Statament of Comprehensive Income
Recognised In The Income Statement Recognised In Profit Or Loss
Recognised [Directly] In Equity (Only For Recognised In Other Comprehensive Income
OCI Components)
Recognised [Directly] In Equity (For Recognised Outside Profit Or Loss (Either In
Recognition Both In OCI And Equity) OCI Or Equity)
Removed From Equity And Recognised In Reclassified From Equity To Profit Or Loss
Profit Or Loss ('Recycling') As A Reclassification Adjustment

2
Equity Holders Owners (Exception For 'Ordinary Equity
Holders')
Balance Sheet Date End Of The Reporting Period
Reporting Date End Of The Reporting Period
After The Balance Sheet Date After The Reporting Period

Dalam IAS 1 menguraikan tentang penyajian laporan keuangan, yaitu :


1. Penyajian secara wajar dan kepatuhan terhadap SAK;
2. Disusun atas dasar kelangsungan usaha;
3. Disusun dengan menggunakan dasar akrual;
4. Materialitas dan Penggabungan;
5. Tidak memperkenankan Saling Hapus antara Aset dan Liabilitas
6. Disajikan minimal secara tahunan
7. Infomasi komparatif dengan periode laporan keuangan sebelumnya
8. Disajikan secara secara konsisten pada setiap periode

IAS 1 mensyaratkan identifikasi atas laporan keuangan dan membedakan laporan


keuangan dari informasi lainnya. Setiap elemen dari laporan keuangan harus memuat nama
entitas pelaporan, apakah laporan keuangan dari individu atau kelompok, tanggal entitas
pelaporan dan periode yang dicakup, mata uang presentasi dan tingkat pembulatan.

IAS 1 merincikan isi minimum yang harus disajikan dalam laporan keuangan, seperti
mengharuskan kewajiban lancar terdaftar secara terpisah dan rincian tentang kapan harus
diklasifikasikan sebagai kewajiban lancar atau tidak lancar. Di dalam IAS 1 juga menetapkan
persyaratan mengenai catatan atas laporan keuangan, termasuk pengungkapan kebijakan
akuntansi dan informasi asumsi yang digunakan.

Berikut penyajian laporan keuangan secara umum berdasarkan IAS 1:

3
B. TUJUAN

Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja
keuangan suatu entitas. Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai
posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar
kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga
menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang
dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan
menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi:
1. Aset
2. Liabilitas
3. Ekuitas
4. Pendapatan dan Beban termasuk keuntungan dan kerugian
5. Kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, dan
6. Arus kas.

Informasi tersebut, beserta informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas laporan
keuangan, membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa depan dan,
khususnya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas.

Ruang Lingkup
Standar ini harus diterapkan untuk semua laporan keuangan tujuan umum yang
disiapkan dan disajikan sesuai dengan Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS).

Laporan keuangan tujuan umum adalah yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan
pengguna yang tidak dalam posisi untuk meminta laporan yang dirancang untuk memenuhi
kebutuhan informasi khusus mereka. Laporan keuangan tujuan umum meliputi yang disajikan
secara terpisah atau dalam dokumen publik lain seperti laporan tahunan atau prospektus.
Standar ini tidak berlaku untuk struktur dan isi laporan keuangan interim kental yang disiapkan
sesuai dengan IAS 34 Pelaporan Keuangan Interim. Namun, paragraf 13–41 berlaku untuk
laporan keuangan tersebut. Standar ini berlaku sama untuk semua entitas dan apakah mereka
perlu menyiapkan laporan keuangan konsolidasian atau laporan keuangan terpisah,
sebagaimana didefinisikan dalam IAS 27 Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan
Keuangan Tersendiri.

4
Standar ini menggunakan terminologi yang cocok untuk entitas yang berorientasi laba,
termasuk entitas bisnis sektor publik. Entitas yang tidak untuk aktivitas laba di sektor swasta,
sektor publik, atau pemerintah yang ingin menerapkan Standar ini mungkin perlu mengubah
uraian yang digunakan untuk item baris tertentu dalam laporan keuangan dan untuk laporan
keuangan itu sendiri.

Demikian pula, entitas yang tidak memiliki ekuitas sebagaimana didefinisikan dalam
IAS 32 Instrumen Keuangan: Penyajian (misalnya beberapa reksa dana) dan entitas yang modal
sahamnya bukan ekuitas (misalnya beberapa entitas koperasi) mungkin perlu menyesuaikan
penyajian dalam laporan keuangan anggota atau kepentingan pemegang unit bisnis.

C. PERANGKAT LAPORAN KEUANGAN YANG LENGKAP

Satu set lengkap laporan keuangan terdiri dari:


1. Neraca;
2. laporan laba rugi;
3. Pernyataan perubahan ekuitas yang menunjukkan: Semua perubahan ekuitas, atau
Perubahan ekuitas selain yang timbul dari transaksi dengan pemegang saham yang
bertindak dalam kapasitasnya sebagai pemegang ekuitas;
4. Laporan arus kas; dan
5. Catatan, yang terdiri dari ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan catatan
penjelasan lainnya.

Banyak entitas hadir di luar laporan keuangan, tinjauan keuangan oleh manajemen yang
menggambarkan dan menjelaskan fitur utama dari kinerja keuangan dan posisi keuangan
entitas dan ketidakpastian utama yang dihadapinya. Laporan semacam itu dapat mencakup
tinjauan terhadap:
1. Faktor utama dan pengaruh yang menentukan kinerja keuangan, termasuk perubahan
dalam lingkungan di mana entitas beroperasi, respons entitas terhadap perubahan-
perubahan tersebut dan efeknya, dan kebijakan entitas untuk investasi untuk
mempertahankan dan meningkatkan kinerja keuangan, termasuk kebijakan dividennya,
2. Sumber pendanaan entitas dan rasio yang ditargetkan dari kewajiban terhadap ekuitas; dan
3. Sumber daya entitas yang tidak diakui dalam neraca sesuai dengan IFRS.

5
Banyak entitas juga hadir, di luar laporan keuangan, laporan dan laporan seperti laporan
lingkungan dan laporan pertambahan nilai, terutama di industri di mana faktor lingkungan
signifikan dan ketika karyawan dianggap sebagai kelompok pengguna yang penting. Laporan
dan laporan yang disajikan di luar laporan keuangan berada di luar ruang lingkup IFRS.

1. Laporan Posisi Keuangan Pada Akhir Periode


Laporan posisi keuangan minimal mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut:
1. Aset tetap
2. Properti investasi
3. Aset tak berwujud
4. Aset keuangan
5. Investasi dengan menggunakan metode ekuitas
6. Persediaan
7. Piutang dagang dan piutang lain
8. Kas dan setara kas
9. Total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan aset yang
10. Termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual
11. Utang dagang dan utang lain
12. Provisi
13. Liabilitas keuangan
14. Liabilitas yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki
untuk dijual
15. Kepentingan nonpengendali, disajikan sebagai bagian dari ekuitas
16. Modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Entitas menyajikan pos-pos tambahan, judul, dan subtotal dalam laporan posisi
keuangan jika penyajian tersebut relevan untuk pemahaman posisi keuangan entitas. Ketika
entitas menyajikan aset lancar dan tidak lancar, dan liabilitas jangka pendek dan jangka
panjang sebagai klasiftkasi yang terpisah dalam laporan posisi keuangan, maka aset (liabilitas)
pajak tangguhan tidak diklasiftkasikan sebagai aset lancar (liabilitas jangka pendek).

Informasi yang akan disajikan di muka neraca atau di catatan


Entitas akan mengungkapkan, baik di muka neraca atau dalam catatan, subklasifikasi
lebih lanjut dari item baris yang disajikan, diklasifikasikan dalam cara yang sesuai dengan
6
operasi entitas. Rincian yang disediakan dalam subklasifikasi tergantung pada persyaratan
IFRS dan pada ukuran, sifat dan fungsi jumlah yang terlibat. Faktor-faktor yang ditetapkan
dalam paragraf 72 juga digunakan untuk memutuskan dasar subklasifikasi. Pengungkapan
bervariasi untuk setiap item, misalnya:
a. Item-item properti, pabrik, dan peralatan dipisahkan ke dalam kelas-kelas sesuai dengan
IAS 16;
b. Piutang dipisahkan ke dalam jumlah piutang dari pelanggan perdagangan, piutang dari
pihak terkait, pembayaran di muka dan jumlah lainnya;
c. Inventori disubklasifikasikan, sesuai dengan inventori IAS 2, ke dalam klasifikasi seperti
barang dagangan, persediaan produksi, bahan, barang dalam proses dan barang jadi;
d. Ketentuan dipecah menjadi ketentuan untuk imbalan kerja dan barang-barang lainnya; dan
e. Kontribusi ekuitas dan cadangan dipilah menjadi beberapa kelas, seperti modal disetor,
premi saham, dan cadangan.

Entitas akan mengungkapkan hal-hal berikut, baik di muka neraca atau dalam catatan:
a. Untuk setiap kelas modal saham:
(i) Jumlah saham yang disahkan;
(ii) Jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh, dan diterbitkan tetapi tidak
dibayar penuh;
(iii) Nilai nominal per saham, atau bahwa saham tidak memiliki nilai nominal;
(iv) Rekonsiliasi jumlah saham yang beredar pada awal dan pada akhir periode;
(v) Hak, preferensi, dan pembatasan yang melekat pada kelas itu termasuk pembatasan
distribusi dividen dan pembayaran kembali modal;
(vi) Saham dalam entitas yang dimiliki oleh entitas atau oleh anak perusahaan atau
rekanannya; dan
(vii) Saham yang disediakan untuk penerbitan di bawah opsi dan kontrak untuk penjualan
saham, termasuk syarat dan jumlah; dan
b. Deskripsi sifat dan tujuan masing-masing cadangan dalam ekuitas.

Entitas yang tidak memiliki modal saham, seperti kemitraan atau kepercayaan, harus
mengungkapkan informasi yang setara dengan yang dipersyaratkan dalam paragraf 76 (a),
menunjukkan perubahan selama periode tersebut di setiap kategori kepentingan ekuitas, dan
hak, preferensi, dan batasan yang melekat pada setiap kategori kepentingan ekuitas.

7
2. Laporan Laba Rugi Dan Penghasilan Komprehensif Lain Selama Periode
Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain (laporan penghasilan komprehensif)
menyajikan, sebagai tambahan atas bagian laba rugi dan penghasilan komprehensif lain:
1. Laba rugi
2. Total penghasilan komprehensif lain
3. Penghasilan komprehensif untuk periode berjalan, yaitu total laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain.
Jika entitas menyajikan laporan laba rugi terpisah, maka entitas tidak menyajikan
bagian laba rugi dalam laporan yang menyajikan penghasilan komprehensif. Entitas
menyajikan pos-pos berikut, sebagai tambahan atas bagian laba rugi dan penghasilan
komprehensiflain, sebagai alokasi dari laba rugi dan penghasilan komprehensif lain untuk
periode berjalan:
1. Laba rugi untuk periode yang dapat diatribusikan kepada:
a. Kepentingan non-pengendali
b. Pemilik entitas induk
2 Penghasilan komprehensif untuk periode yang dapat diatribusikan kepada:
a. Kepentingan non pengendali
b. Pemilik entitas induk

Jika entitas menyajikan laba rugi dalam suatu laporan terpisah, maka entitas
menyajikan (a) dalam laporan tersebut.

Entitas harus menyajikan analisis pengeluaran menggunakan klasifikasi berdasarkan


sifat pengeluaran atau fungsinya dalam entitas, mana yang menyediakan informasi yang dapat
diandalkan dan lebih relevan. Entitas didorong untuk menyajikan analisis dalam paragraf 88 di
muka laporan laba rugi.

Biaya disubklasifikasikan untuk menyoroti komponen kinerja keuangan yang mungkin


berbeda dalam hal frekuensi, potensi untung atau rugi, dan dapat diprediksi. Analisis ini
disediakan dalam satu dari dua bentuk.

Bentuk analisis pertama adalah sifat metode pengeluaran. Beban dijumlahkan dalam
laporan laba rugi sesuai dengan sifatnya (misalnya, depresiasi, pembelian bahan, biaya
transportasi, manfaat karyawan dan biaya iklan), dan tidak dialokasikan kembali di antara

8
berbagai fungsi dalam entitas. Metode ini mungkin sederhana untuk diterapkan karena tidak
ada alokasi biaya untuk klasifikasi fungsional yang diperlukan. Contoh klasifikasi
menggunakan metode sifat biaya adalah sebagai berikut:

Revenue X
Other income X
Changes in inventories of finished goods and work in progress X
Raw materials and consumables used X
Employee benefits expense X
Depreciation and amortisation expense X
Other expenses X
Total expenses (X)
Profit X

Bentuk analisis kedua adalah fungsi dari biaya atau metode 'biaya penjualan' dan
mengklasifikasikan pengeluaran berdasarkan fungsinya sebagai bagian dari biaya penjualan
atau, misalnya, biaya distribusi atau kegiatan administrasi. Paling tidak, suatu entitas
mengungkapkan biaya penjualan berdasarkan metode ini secara terpisah dari pengeluaran lain.
Metode ini dapat memberikan informasi yang lebih relevan kepada pengguna daripada
klasifikasi pengeluaran secara alami, tetapi mengalokasikan biaya untuk fungsi mungkin
memerlukan alokasi sewenang-wenang dan melibatkan penilaian yang cukup. Contoh
klasifikasi yang menggunakan fungsi metode biaya adalah sebagai berikut:

Revenue X
Cost of sales (X)
Gross profit X
Other income X
Distribution costs (X)
Administrative expenses (X)
Other expenses (X)
Profit X

9
3. Laporan Perubahan Ekuitas Selama Periode
Entitas menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagaimana disyaratkan IFRS. Laporan
perubahan ekuitas memuat informasi sebagai berikut:
1. Total penghasilan komprehensif selama periode berjalan, yang menunjukkan secara
terpisah jumlah total yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada
kepentingan nonpengendali.
2. Untuk setiap komponen ekuitas, dampak penerapan retrospektif atau penyajian kembali
secara retrospektif sesuai dengan PSAK 25: Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi
Akuntansi, dan Kesalahan.
3. Untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat pada awal dan akhir
periode, secara terpisah mengungkapkan masing-masing perubahan yang timbul dari:
a. Laba rugi
b. Penghasilan komprehensif lain
c. Transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, yang menunjukkan
secara terpisah kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dan perubahan hak
kepemilikan pada entitas anak yang tidak menyebabkan hilangnya pengendalian.

Untuk setiap komponen ekuitas, entitas menyajikan, baik dalam laporan perubahan
ekuitas atau dalam catatan atas laporan keuangan, analisis penghasilan komprehensif lain
berdasarkan pos.
Entitas menyajikan, baik dalam laporan perubahan ekuitas atau catatan atas laporan
keuangan, jumlah dividen yang diakui sebagai distribusi kepada pemilik selama periode, dan
jumlah dividen per saham terkait.

4. Laporan Arus Kas Selama Periode


Informasi arus kas entitas berguna sebagai dasar untuk menilai kemampuan entias
dalam menghasilkan kas dan setara kas serta menilai kebutuhan kas entitas untuk
menggunakan arus kas tersebut.
Laporan arus kas menggambarkan perubahan historis dalam kas dan setara kas yang
diklasifikasikan atas aktivitas operasi, investasi dan pendanaan selama satu periode. Laporan
arus kas melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasikan menurut aktivitas
operasi, investasi dan pendanaan. Penyajian ketiga aktivitas terebut dengan cara yang paling

10
sesuai dengan bisnisnya. Suatu transaksi tunggal dapat diidentifikasikan ke dalam lebih dari
satu aktivitas misal pelunasan pinjaman dan bunganya sebagai pendanaan dan operasi.
Metode yang dapat digunakan dalam menyusun laporan arus kas adalah:
1. Metode langsung, kelompok utama dari penerimaan dan pengeluaran kas bruto
diungkapkan;
2. Metode tidak langsung, laba disesuaikan dengan mengoreksi transaksi non kas,
penangguhan atau akrual dan unsur penghasilan/beban yang terkait aktivitas investasi dan
pendanaan. Dan lenih dianjurkan untuk melaporkan dengan metode langsung.

5. Catatan Atas Laporan Keuangan, Berisi Ringkasan Kebijakan Akuntansi Penting


Dan Informasi Penjelasan Lainnya

Catatan atas laporan keuangan menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan
keuangan dan kebijakan akuntansi spesifik yang digunakan sesuai dengan IAS 1.
Mengungkapkan informasi yang disyaratkan oleh SAK yang tidak disajikan di bagian manapun
dalam laporan keuangan. Dan memberikan informasi yang tidak disajikan di bagian manapun
dalam laporan keuangan, tetapi informasi tersebut relevan untuk memahami laporan keuangan.

Entitas, sepanjang praktis, menyajikan catatan atas laporan keuangan secara sistematis.
Entitas membuat referensi silang atas setiap pos dalam laporan posisi keuangan dan laporan
laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas
untuk informasi yang berhubungan dalam catatan atas laporan keuangan.

Entitas umumnya menyajikan catatan atas laporan keuangan dengan urutan sebagai
berikut, untuk membantu pengguna memahami dan membandingkan dengan laporan keuangan
entitas lain:
1. Pernyataan kepatuhan terhadap SAK
2. Ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan
3. Informasi tambahan untuk pos-pos yang disajikan dalam laporan posisi keuangan dan
laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas dan
laporan arus kas, sesuai dengan urutan penyajian laporan dan penyajian masing-masing
pos; dan
4. Pengungkapan lain

11
Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas
menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali
pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan
keuangannya.

D. KETENTUAN UMUM
1. Penyajian Secara Wajar
Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus
kas suatu entitas. Penyajian yang wajar mensyaratkan penyajian secara jujur dampak dari
transaksi, peristiwa dan kondisi lain sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset,
laibilitas, pendapatan dan beban yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian
Laporan Keuangan. Penerapan SAK, dengan pengungkapan tambahan jika diperlukan,
dianggap menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.

Entitas yang laporan keuangannya telah patuh terhadap SAK membuat pernyataan secara
eksplisit dan tanpa kecuali tentang kepatuhan terhadap SAK dalam catatan atas laporan
keuangan. Entitas tidak dapat menyebutkan bahwa laporan keuangan telah patuh terhadap
SAK kecuali laporan keuangan tersebut telah patuh terhadap seluruh persyaratan dalam SAK.

Dalam hampir seluruh keadaan, entitas mencapai penyajian laporan keuangan secara wajar
dengan memenuhi SAK terkait. Penyajian secara wajar juga mensyaratkan entitas untuk:
a. Memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi sesuai dengan IAS 8: Kebijakan Akuntansi,
Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan. IAS 8 mengatur hirarki panduan otoritatif
yang dipertimbangkan oleh manajemen dalam hal tidak terdapat pernyataan yang secara
spesifik mengatur suatu pos tertentu.
b. Menyajikan informasi, termasuk kebijakan akuntansi, sedemikian rupa sehingga dapat
memberikan informasi yang relevan, andal, dapat dibandingkan, dan mudah dipahami.
c. Memberikan pengungkapan tambahan jika kesesuaian dengan persyaratan spesifik dalam
SAK tidak cukup bagi pengguna laporan keuangan untuk memahami dampak dari
transaksi, peristiwa lain dan kondisi tertentu terhadap posisi keuangan dan kinerja
keuangan entitas.

12
2. Disusun Atas Dasar Kelangsungan Usaha
Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen membuat penilaian tentang
kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Entitas menyusun laporan
keuangan berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, kecuali manajemen memiliki intensi untuk
melikuidasi entitas atau menghentikan perdagangan, atau tidak memiliki alternatif lain yang
realistis selain melakukannya. ]ika manajemen menyadari (dalam membuat penilaiannya)
mengenai adanya ketidakpastian yang material sehubungan dengan peristiwa atau kondisi yang
dapat menimbulkan keraguan yang signifikan tentang kemampuan entitas untuk
mempertahankan kelangsungan usaha, maka entitas mengungkapkan ketidakpastian tersebut.
]ika entitas menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, maka
entitas mengungkapkan fakta tersebut, bersama dengan dasar yang digunakan dalam
penyusunan laporan keuangan dan alasan mengapa entitas tidak dipertimbangkan sebagai
entitas yang dapat menggunakan asumsi kelangsungan usaha.
Dalam menilai apakah dasar asumsi kelangsungan usaha adalah tepat, manajemen
memperhitungkan seluruh informasi yang tersedia mengenai masa depan, paling sedikit
(namun tidak terbatas pada) dua belas bulan dari akhir periode pelaporan. Tingkat
pertimbangan bergantung pada fakta dari setiap kasus. Ketika selama ini entitas menghasilkan
laba dan memiliki akses ke sumber pembiayaan, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi
kelangsungan usaha telah sesuai tanpa melalui analisis rinci. Dalam kasus lain, manajemen
mungkin perlu untuk mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhi profitabilitas
masa kini maupun yang diharapkan di masa depan, jadwal pembayaran utang dan sumber
potensial pembiayaan pengganti sebelum dapat menyimpulkan bahwa asumsi kelangsungan
usaha telah sesuai.

3. Disusun Dengan Menggunakan Dasar Akrual


Entitas menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas. Ketika
akuntansi berdasarkan akrual digunakan, entitas mengakui pos-pos sebagai aset, liabilitas,
ekuitas, pendapatan dan beban (unsur-unsur laporan keuangan) ketika pos - pos tersebut
memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk unsur-unsur tersebut dalam Kerangka Dasar
Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan.

13
4. Materialitas dan Penggabungan
Entitas menyajikan secara terpisah setiap kelompok pos serupa yang material. Entitas
menyajikan secara terpisah pos yang memiliki sifat atau fungsi yang tidak serupa kecuali pos
tersebut tidak material.

Laporan keuangan merupakan hasil dari pemrosesan sejumlah transaksi atau peristiwa lain
yang digabungkan ke dalam kelas-kelas sesuai sifat atau fungsinya. Tahap akhir dari proses
pengabungan dan pengklasifikasian adalah penyajian data yang telah diringkas dan
diklasifikasikan yang membentuk pos-pos dalam laporan keuangan. Jika suatu pos secara
individual tidak material, maka dapat digabungkan dengan pos lain di dalam laporan keuangan
atau di dalam catatan atas laporan keuangan. Pos yang tidak cukup material untuk disajikan
terpisah dalam laporan keuangan mungkin cukup material untuk disajikan terpisah dalam
catatan atas laporan keuangan. Entitas tidak perlu menyediakan pengungkapan yang spesifik
yang disyaratkan oleh suatu standar jika informasi tersebut tidak material.

5. Tidak Memperkenankan Saling Hapus antara Aset dan Liabilitas


Entitas tidak melakukan saling hapus atas aset dan liabilitas atau pendapatan dan beban,
kecuali disyaratkan atau diizinkan oleh suatu standar. Entitas melaporkan secara terpisah aset
dan liabilitas serta pendapatan dan beban. Saling hapus dalam laporan laba rugi dan
penghasilan komprehensif lain atau laporan posisi keuangan mengurangi kemampuan
pengguna laporan keuangan baik untuk memahami transaksi, peristiwa, atau kejadian lain yang
telah terjadi maupun untuk menilai arus kas entitas di masa depan, kecuali jika saling hapus
mencerminkan substansi transaksi atau peristiwa. Pengukuran aset secara neto setelah
dikurangi penyisihan penilaian (sebagai contoh, penyisihan keusangan atas persediaaan dan
penyisihan piutang tak tertagih) bukan termasuk kategori saling hapus.

6. Disajikan Minimal Secara Tahunan


Entitas menyajikan laporan keuangan lengkap (termasuk informasi komparatif) setidaknya
secara tahunan. Ketika akhir periode pelaporan entitas berubah dan laporan keuangan tahunan
disajikan untuk periode yang lebih panjang atau lebih pendek daripada periode satu tahun,
maka sebagai tambahan terhadap periode cakupan laporan keuangan, entitas mengungkapkan:
a. Alasan penggunaan periode pelaporan yang lebih panjang atau lebih pendek; dan
b. Fakta bahwa jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan tidak dapat dibandingkan
secara keseluruhan.
14
Umumnya, entitas secara konsisten menyiapkan laporan keuangan untuk periode satu
tahun. Akan tetapi, untuk alasan praktis, beberapa entitas lebih memilih untuk melaporkan,
sebagai contoh, untuk periode 52 minggu. Pernyataan ini tidak menghalangi praktik tersebut.

7. Infomasi Komparatif Dengan Periode Laporan Keuangan Sebelumnya


Entitas menyajikan informasi komparatif terkait dengan periode sebelumnya untuk seluruh
jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan periode berjalan, kecuali diizinkan atau
disyaratkan lain oleh SAK. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari
laporan keuangan periode sebelumnya diungkapkan jika relevan untuk pemahaman laporan
keuangan periode berjalan.

Entitas mengungkapkan informasi komparatif tentang laporan keuangan, minimal, dua


laporan posisi keuangan, dua dari setiap laporan keuangan lainnya, dan catatan terkait. Ketika
entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif dalam laporan keuangan atau
ketika mereklasifikasi item dalam laporan keuangan, dua dari setiap laporan lainnya, dan
catatan terkait.

Entitas menyajikan laporan posisi keuangan pada:


a. Akhir periode berjalan,
b. Akhir periode sebelumnya (yang sama seperti awal periode berjalan), dan
c. Awal periode komparatif paling awal.

Dalam beberapa kasus, informasi naratif yang disajikan dalam laporan keuangan untuk
periode sebelumnya masih tetap relevan pada periode berjalan. Sebagai contoh, entitas
mengungkapkan dalam periode berjalan rincian tentang sengketa hukum, yang hasil akhirnya
belum diketahui secara pasti pada akhir periode sebelumnya dan masih dalam proses
penyelesaian. Pengguna laporan keuangan dapat memperoleh manfaat atas pengungkapan
informasi adanya ketidakpastian pada akhir periode pelaporan sebelumnya dan dari
pengungkapan informasi tentang langkah-langkah yang telah dilakukan selama periode untuk
mengatasi ketidakpastian tersebut.

8. Disajikan Secara Secara Konsisten Pada Setiap Periode


Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode dilakukan secara
konsisten kecuali:

15
a. Setelah terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi entitas atau kajian ulang
atas laporan keuangan, terlihat secara jelas bahwa penyajian atau pengklasifikasian yang
lain akan lebih tepat untuk digunakan dengan mempertimbangkan kriteria untuk penentuan
dan penerapan kebijakan akuntansi dalam IAS 8
b. Perubahan tersebut disyaratkan oleh suatu standar akuntansi keuangan.

Sebagai contoh, akuisisi atau pelepasan yang signifikan, atau kajian ulang atas penyajian
laporan keuangan, mungkin akan menghasilkan kesimpulan bahwa laporan keuangan perlu
disajikan secara berbeda. Namun demikian, perubahan penyajian dapat dilakukan jika
perubahan tersebut memberikan informasi yang andal dan lebih relevan bagi pengguna dan
struktur yang baru memiliki kecenderungan akan digunakan seterusnya, sehingga
keterbandingan tidak terganggu.

E. LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF


Laporan laba rugi komprehensif mencakup pendapatan komprehensif lain yang berisi pos-
pos pendapatan dan beban yang tidak diakui dalam laporan laba rugi yaitu:
1. Perubahan dalam surplus revaluasi
2. Keuntungan/kerugian aktuarial dalam manfaat pasti
3. Keuntungan dan Kerugian yang timbul dari penjabaran laporan keuangan dari entitas asing
4. Keuntungan dan Kerugian dari pengukuran kembali aset keuangan tersedia untuk dijual
5. Bagian Efektif dari keuntungan dan Kerugian Instrumen Lindung nilai dalam rangka
lindung nilai arus kas.

Perusahaan mempunyai pilihan untuk menyajikan pos pendapatan dan beban dalam
bentuk:
1. Dua laporan yang terpisah antara:
a. Laporan laba rugi yang menunjukkan komponen laba rugi terpisah dan;
b. Laporan pendapatan komprehensif yang dimulai dengan laba rugi dan pendapatan
komprehensif lain.
2. Satu laporan laba rugi komprehensif (gabungan dua laporan terpisah di atas)

Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif harus disajikan ketika entitas
menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali

16
pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan
keuangannya.

Dalam laporan laba rugi komprehensif, perusahaan mengungkapkan pos-pos berikut


sebagai alokasi laba rugi dalam periode:
1. Laba rugi periode berjalan dari kepentingan non-pengendali dan pemilik entitas induk.
2. Laba rugi komprehensif dari kepentingan non-pengendali dan pemilik entitas induk.

Kepentingan non pengendali (hak minoritas) disajikan sebagai bagian dari ekuitas. Pajak
penghasilan terkait dengan masing-masing komponen pendapatan komprehensif lain harus
diungkapkan dalam laporan pendapatan komprehensif atau catatan atas laporan keuangan.

Contoh Laporan Laba Rugi Komprehensif Digabung:

17
18
F. PENGUNGKAPAN KEBIJAKAN AKUNTANSI

Para pemakai laporan keuangan membutuhkan keterangan kebijakan akuntansi terpilih


sebagai bagian dari informasi yang dibutuhkan, untuk membuat penilaian, dan keputusan
keuangan dan keperluan lain. Mereka tidak dapat membuat penilaian handal jika laporan
keuangan tidak mengungkapkan dengan jelas kebijakan akuntansi terpilih yang penting dalam
penyusunan laporan keuangan. Keanekaragaman kebijakan akuntansi dan pengungkapan
tugas interpretasi laporan keuangan sulit dilaksanakan jika menggunakan berbagai kebijakan
beberapa bidang (akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, dan lain-lain) atau wilayah
akuntansi yang berbeda (wilayah akuntansi per negara, kumpulan negara dan lain-lain) Di
dunia belum ada sebuah daftar tunggal kebijakan akuntansi yang dapat digunakan bersama-
sama, sehingga para pemakai dapat memilih dari daftar tunggal itu, sehingga perbedaan
pilihan kebijakan berdasar pertimbangan kejadian, syarat dan kondisi yang serupa.

Contoh berikut adalah bidang yang menimbulkan perbedaan kebijakan akuntansi dan
karena itu diperlukan pengungkapan atas perlakuan akuntansinya sebagai berikut :
1. Kebijakan konsolidasi
2. Konversi atau penjabaran mata uang asing meliputi pengakuan keuntungan dan kerugian
pertukaran
3. Kebijakan penilaian menyeluruh seperti harga perolehan, daya beli umum, nilai
penggantian Peristiwa setelah tanggal neraca Sewa guna usaha, sewa beli atau transaksi
cicilan dan bunga Pajak Kontrak jangka panjang Franchise atau waralaba Aktiva Piutang
Persediaan (persediaan dan barang dalam proses) dan beban pokok penjualannya Aktiva
dapat disusutkan dan penyusutan Tanaman belum menghasilkan Tanah yang dimiliki
untuk pembangunan dan biaya pembangunan Investasi pada anak perusahaan, investasi
dalam perusahaan asosiasi dan investasi lain Penelitian dan pengembangan Paten dan
merek dagang Goodwill Kewajiban dan Penyisihan Jaminan Komitmen dan kontinjensi
Biaya pensiun dan tunjangan hari tua Pesangon dan uang penggantian Keuntungan dan
kerugian Metode pengakuan pendapatan Pemeliharaan, reparasi-perbaikan (repairs), dan
penyempurnaan penambahan (improvement) Untung-rugi penjualan aktiva Akuntansi
Dana, wajib atau tak wajib, termasuk pembebanan dan pengkreditan langsung ke perkiraan
surplus.

19
Kebijakan akuntansi sekarang ini tidak secara teratur dan tidak secara penuh diungkapkan
dalam semua laporan keuangan. Perbedaan besar masih terjadi dalam bentuk, kejelasan dan
kelengkapan pengungkapan yang ada dalam suatu negara maupun antar negara atas kebijakan
akuntansi harus diungkapkan. Dalam sebuah laporan keuangan, beberapa kebijakan akuntansi
yang penting telah diungkapkan sementara kebijakan akuntansi yang penting lain tidak
diungkapkan. Bahkan pada negara-negara yang mewajibkan pengungkapan atas kebijakan
akuntansi penting, tak selalu tersedia pedoman yang menjamin keseragaman metode
pengungkapan.

Pertumbuhan perusahaan multinasional dan pertumbuhan teknologi keuangan


internasional telah memperbesar kebutuhan keseragaman laporan keuangan melewati batas
negara. Laporan keuangan seharusnya menunjukkan hubungan angka-angka dengan periode
sebelumnya. Jika perubahan kebijakan akuntansi berpengaruh material, perubahan kebijakan
perlu diungkapkan, dampak perubahan secara kuantitatif harus dilaporkan. Perubahan
kebijakan akuntansi yang tidak mempunyai pengaruh material dalam tahun perubahan juga
harus diungkapkan jika berpengaruh secara material terhadap tahun-tahun yang akan datang.
Pengungkapan kebijakan akuntansi penting terpilih digunakan harus merupakan bagian
integral laporan keuangan. Kumpulan kebijakan-kebijakan tersebut lazimnya diungkapkan
pada suatu tempat tertentu dalam Laporan Keuangan. Perubahan kebijakan akuntansi
berpengaruh material periode sekarang atau dapat berpengaruh material periode yang akan
datang harus diungkapkan bersama alasannya. Pengaruh perubahan, jika material, harus
diungkapkan secara kuantitatif.

Contoh Ilustrasi Pengungkapan Modal (Paragraf 124A – 124C)


Suatu entitas yang bukan lembaga keuangan yang diatur IG5. Contoh berikut
menggambarkan penerapan paragraf 124A dan 124B untuk entitas yang bukan lembaga
keuangan dan tidak tunduk pada persyaratan modal yang diberlakukan secara eksternal. Dalam
contoh ini, entitas memantau modal menggunakan rasio modal yang harus disesuaikan. Entitas
lain dapat menggunakan metode berbeda untuk memantau modal. Contohnya juga relatif
sederhana. Entitas memutuskan, berdasarkan keadaannya, berapa banyak detail yang
diberikannya untuk memenuhi persyaratan paragraf 124A dan 124B.

20
Fakta
Grup A memproduksi dan menjual mobil. Grup A mencakup anak perusahaan keuangan yang
menyediakan pembiayaan kepada pelanggan, terutama dalam bentuk sewa. Grup A tidak
tunduk pada persyaratan modal yang diberlakukan secara eksternal.

Contoh pengungkapan
Tujuan Grup saat mengelola modal adalah:
1. Untuk melindungi kemampuan entitas untuk terus berlanjut, sehingga entitas dapat terus
memberikan pengembalian bagi pemegang saham dan manfaat bagi pemangku
kepentingan lainnya, dan
2. Untuk memberikan pengembalian yang memadai kepada pemegang saham dengan
memberi harga produk dan layanan yang sepadan dengan tingkat risiko.

Grup menetapkan jumlah modal sesuai dengan risiko. Grup mengelola struktur modal dan
melakukan penyesuaian berdasarkan perubahan kondisi ekonomi dan karakteristik risiko dari
aset yang mendasarinya. Untuk mempertahankan atau menyesuaikan struktur modal, Grup
dapat menyesuaikan jumlah dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham,
mengembalikan modal kepada pemegang saham, menerbitkan saham baru, atau menjual aset
untuk mengurangi utang.

Secara konsisten dengan orang lain dalam industri ini, Grup memantau modal berdasarkan
rasio modal yang harus disesuaikan. Rasio ini dihitung sebagai hutang bersih capital modal
yang disesuaikan. Utang bersih dihitung sebagai total utang (seperti yang ditunjukkan dalam
neraca) dikurangi kas dan setara kas. Modal yang disesuaikan terdiri dari semua komponen
ekuitas (yaitu modal saham, premi saham, hak minoritas, laba ditahan, dan surplus revaluasi)
selain jumlah yang diakui dalam ekuitas yang berkaitan dengan lindung nilai arus kas, dan
mencakup beberapa bentuk utang subordinasi.

Selama 20X4, strategi Grup, yang tidak berubah dari 20X3, adalah untuk mempertahankan
rasio modal terhadap utang di ujung bawah kisaran 6: 1 hingga 7: 1, untuk mengamankan akses
ke pembiayaan dengan biaya yang wajar dengan mempertahankan peringkat kredit BB.

21
Rasio modal yang disesuaikan terhadap utang pada 31 Desember 20X4 dan 31 Desember
20X3 adalah sebagai berikut:

31 Dec X4 31 Dec X3

$ million $ million

Total debt 1,000 1,100

Less: cash and cash equivalents (90) (150)

Net debt 910 950

Total equity 110 105

Add: subordinated debt instruments 38 38

Less: amounts recognised in equity relating to cash flow hedges (10) (5)

Adjusted capital 138 138

Debt-to-adjusted capital ratio 6.6 6.9

Penurunan rasio utang terhadap penyesuaian modal selama 20X4 dihasilkan terutama dari
pengurangan utang bersih yang terjadi pada penjualan anak perusahaan Z. Sebagai hasil dari
pengurangan utang bersih ini, peningkatan profitabilitas dan rendahnya tingkat piutang
dikelola, pembayaran dividen dinaikkan menjadi $ 2,8 juta untuk 20X4 (dari $ 2,5 juta untuk
20X3).

G. LAPORAN KEUANGAN

Berikut terlampir contoh laporan keuangan PT. Blue Bird, Tbk tahun 2018. Karena di
tahun tersebut PT. Blue Bird, Tbk dalam laporan keuangan tercatat memiliki aset tidak lancar
yang dikuasai untuk dijual, dan hal ini sesuai dengan pedoman IFRS 5 Non Current Asset Held
For Sale.

22

Anda mungkin juga menyukai