Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH KEWIRAUSAHAAN

KEWIRAUSAHAAN DI ERA DIGITAL (ERA INDUSTRI 4.0)


UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH KEWIRAUSAHAAN I
SEHUBUNGAN DENGAN SUSULAN UJIAN AKHIR SEMESTER

Nama : Dapi Sulaiman Muhammad


Jurusan : Manajemen
Kelas :V/I
NIM : 434334022018441
Dosen : Dr. H. Khaerul Syobar, MM.

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PASUNDAN


BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan penulis kemudahan sehingga
dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya penulis tidak dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah
kepada Nabi Muhammad SAW.

Penulis bersyukur kepada Allah SWT karena atas nikmat -Nya, penulis mampu
untuk menyelesaikan makalah dengan judul Kewirausahaan Di Era Digital (Era
Industri 4.0) sebagai tugas untuk memenuhi syarat Ujian Akhir Semester susulan
mata kuliah Kewirausahaan I.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna dan masih
memerlukan banyak perbaikan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
dari pembaca, agar makalah ini dapat menjadi makalah yang lebih baik. Kemudian
apabila terdapat kesalahan pada makalah ini penulis menyampaikan permohonan
maaf.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada
bapak Dr. H. Khaerul Syobar, MM. selaku dosen mata kuliah Kewirausahaan I di
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pasundan yang telah membimbing dalam menulis
makalah ini.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Bandung, 13 Agustus 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................................ii


DAFTAR ISI .......................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ........................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................................... 2
1.3. Tujuan Penulisan........................................................................................................ 2
BAB II ISI ........................................................................................................................... 3
2.1. Landasan Teori .......................................................................................................... 3
2.1.1. Definisi dan Pengertian Wirausaha............................................................................. 3
2.1.2. Sejarah Terminologi Industri 4.0 ................................................................................. 4
2.1.3. Sebelum Industri 4.0................................................................................................... 5
2.2. Empat Prinsip dan Tujuan Industri 4.0 ........................................................................ 6
2.3. Komponen dalam Industri 4.0 ..................................................................................... 7
2.4. Penerapan Industri 4.0 saat ini ................................................................................... 7
2.5. Tantangan dalam Penerapan Industri 4.0 ................................................................... 9
2.6. Menjadi Entrepreneur di Era Industri 4.0 .................................................................. 12
2.7. Studi Kasus: Tokoh Sukses Entrepreneur di Era Industri 4.0.................................... 14
BAB III PENUTUP ............................................................................................................ 19
3.1. Kesimpulan .............................................................................................................. 19
3.2. Saran ....................................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 20

iii
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Saat ini masyarakat dunia sedang berada dalam transformasi yang besar
dalam hal produksi dan manufaktur berkat digitalisasi produksi. Transisi ini
disebut-sebut sebagai Revolusi Industri 4.0, yang menandai kali keempat
revolusi telah terjadi dalam dunia industri. Revolusi industri pertama dimulai
dari penggunaan mekanik melalui tenaga air dan uap, kemudian diikuti
dengan produksi masal dengan pemanfaatan listrik pada revolusi industri
kedua, revolusi industri keempat akan melanjutkan apa yang dimulai dari
revolusi industri ke-3 berupa pemanfaatan komputer dengan cara
menyempurnakan pemanfaatan data.

Sejak komputer diperkenalkan pada era Industri 3.0, terciptalah pasar baru di
dunia. Sekarang, ketika dunia mencapai Industri 4.0, komputer dapat
terhubung dan berkomunikasi satu sama lain sehingga dengan mudah dapat
melakukan pengambilan keputusan tanpa campur tangan manusia.
Kombinasi dari teknologi sistem siber-fisik, Internet of Things dan Internet of
Systems membuat Industri 4.0 dan industri pintar dapat menjadi kenyataan.
Hasilnya, mesin-mesin canggih menjadi semakin canggih karena dapat
mengakses lebih banyak data sehingga pabrik-pabrik akan lebih efisien,
produktif, dan lebih sedikit menghasilkan limbah.

1
1.2. Rumusan Masalah

Profesi apapun yang dijalani oleh seorang manusia pasti memiliki tantangan,
termasuk entrepreneur. Menjadi seorang entrepreneur berarti seseorang
harus peka terhadap perubahan dan perkembangan jaman dan mampu
menganalisis peluang untuk memperoleh keuntungan. Saat ini, di era digital,
perubahan dan perkembangan jaman terjadi dengan pesat berkat penemuan
berbagai teknologi yang mempermudah manusia. Perlahan teknologi ini
mengubah berbagai aspek kehidupan dalam masyarakat, termasuk pola
konsumsi, pola menabung, pola menjual, pola membeli dan cara bertransaksi.
Perubahan inilah yang harus dipelajari dengan serius oleh semua
entrepreneur agar dapat terus eksis dan memperoleh keuntungan yang
maksimal, namun pada kenyataannya belum semua entrepreneur siap
dengan perubahan ini.

1.3. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini antara lain:
a. Untuk memperoleh gambaran dan karakteristik mengenai era digital atau
yang banyak dikenal dengan era Industri 4.0.
b. Untuk mempelajari ancaman-ancaman yang dihadapi oleh entrepreneur di
era Industri 4.0.
c. Untuk mempelajari langkah-langkah untuk mengantisipasi perubahan
akibat dari penerapan Industri 4.0.
d. Untuk mempelajari kisah-kisah sukses entrepreneur-entrepreneur yang
berhasil di era Industri 4.0

2
BAB II ISI

2.

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Definisi dan Pengertian Wirausaha


Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan wirausaha sebagai orang yang
pandai atau berbakat mengenai produk baru, menentukan cara produksi
baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya,
serta mengatur permodalan operasinya. Beberapa pakar dunia usaha
mendefinisikan wirausaha sebagai berikut:
a. Peggy A. Lambing dan Charles R. Kuehl dalam bukunya
Entrepreneurship (1999) menyebutkan bahwa Entrepreneur adalah
tindakan kreatif yang membangun value dari sesuatu yang tidak ada.
Entrepreneurship merupakan proses untuk menangkap dan mewujudkan
suatu peluang terlepas dari sumber daya yang ada, serta membutuhkan
keberanian untuk mengambil resiko yang telah diperhitungkan.
b. Raymod Kao dalam bukunya yang berjudul Entrepreneurship menyatakan
bahwa Entrepreneur adalah yang menciptakan kemakmuran dan proses
peningkatan nilai tambah melalu inkubasi gagasan, memadukan sumber
daya dan membuat gagasan menjadi kenyataan Entrepreneurship adalah
suatu proses melakukan suatu yang baru dan berbeda degan tujuan
menciptakan kemakmuran bagi individu dan memberi nilai tambah pada
masyarakat.
c. Dr. Rhenald Kasali memberikan definisi lebih tegas bahwa Entrepreneur
adalah seseorang yang menyukai perubahan, melakukan berbagai
temuan yang membedakan dirinya dengan orang lain, menciptakan nilai
tambah, memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain, karyanya
dibagun berkelanjutan (bukan ledakan sesaat) dan dilembagakan agar
kelak dapat bekerja dengan efektif di tangan orang lain.

3
2.1.2. Sejarah Terminologi Industri 4.0
Istilah Industri 4.0 yang sering disingkat dengan I4.0 atau I4 pertama kali
didengar dari proyek pemerintah Jerman yang mengangkat
komputerisasi industri. Istilah Industri 4.0 kemudian didengar kembali
pada Pekan Raya Hanover (Hannover Fair), yaitu sebuah pameran
perdagangan terbesar yang diadakan di Hanover, Jerman. Pada bulan
Oktober 2012, Kelompok Kerja Industri 4.0 yang dipimpin oleh Siegfried
Dais dan Henning Kagermann memperkenalkan rekomendasi
implementasi Industri 4.0 kepada pemerintah federal Jerman. Para
anggota dari Kelompok Kerja Industry 4.0 dikenal juga sebagai pendiri
dan pemrakarsa Industri 4.0. Pada tanggal 8 April 2013 pada acara
Hannover Fair tersebut, mereka menampilkan laporannya terkait Industri
4.0.

4
2.1.3. Sebelum Industri 4.0

Revolusi Industri pertama ditandai dengan transisi dari dari produksi


dengan menggunakan tangan menjadi mesin tenaga uap dan tenaga air.
Implementasi teknologi ini memakan waktu yang cukup panjang,
sehingga periode Industri 1.0 berada antara tahun 1760 dan 1820, atau
tahun 1840 di Eropa dan Amerika Serikat. Masa Industri 1.0
berpengaruh terhadap perusahaan tekstil, yang pertama kali
mengadopsi perubahan tersebut, yang diikuti dengan industri besi,
pertanian dan pertambangan.

Revolusi Industri kedua yang lebih dikenal dengan nama revolusi


teknologi terjadi pada periode diantara tahun 1870 sampai dengan 1914.
Hal ini terjadi setelah tersambungnya jaringan rel kereta api dan telegraf
sehingga memungkinkan perpindahan manusia dan informasi dengan
lebih cepat. Revolusi Industri 2.0 juga ditandai dengan munculnya listrik
yang banyak digunakan di pabrik-pabrik. Pada masa ini juga terjadi
pertumbuhan ekonomi yang baik, dengan pertumbuhan signifikan pada
produktivitas. Efek samping dari Industri 2.0 adalah meningkatnya
pengangguran karena banyak pekerja yang digantikan oleh tenaga
mesin di pabrik-pabrik.

Era Revolusi Industri 3.0 terjadi pada akhir abad ke-20, setelah
berakhirnya perang dunia ke-II, sebagai akibat dari perlambatan di
sektor industri dan penemuan teknologi dibandingkan dua periode
sebelumnya. Hal ini juga disebut dengan Revolusi Digital. Penemuan Z1
(kalkulator mekanik yang beroperasi dengan listrik) merupakan awal dari
pengembangan lebih lanjut di dunia digital. Hal ini diteruskan dengan
pengembangan superkomputer. Dimulai dari era ini, mesin mulai
mengambil alih pekerjaan manusia.

5
2.2. Empat Prinsip dan Tujuan Industri 4.0
Dalam Industri 4.0, terdapat 4 prinsip desain. Prinsip-prinsip tersebut
mendukung perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengaplikasikan
kebutuhan Industri 4.0.
a. Interkoneksi
Yaitu kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk
saling terhubung dan berkomunikasi satu sama lain melalui Internet
of Things (IoT) atau Internet of People (IoP).
b. Transparansi Informasi
Tranparansi yang diberikan oleh Industri 4.0 membuat pengguna
dapat mengakses berbagai informasi yang berguna dan dibutuhkan
untuk pengambilan keputusan. Interkonektivitas memungkinkan
pengguna untuk mendapatkan data dan informasi yang berguna dari
berbagai titik dalam proses produksi, kemudian mengidentifikasi titik-
titik yang memungkinkan untuk dilakukan inovasi dan
pengembangan.
c. Dukungan Teknis
Meliputi kemampuan sistem untuk mendukung manusia dalam hal
memvisualkan informasi secara komprehensif untuk membantu
pengambilan keputusan dan menyelesaikan permasalahan-
permasalahan penting dalam waktu yang singkat. Selain itu,
kemampuan sistem untuk mendukung manusia melakukan tugas-
tugas yang tidak menyenangkan, terlalu melelahkan, atau tidak aman
bagi manusia.
d. Keputusan-keputusan yang terdesentralisasi
Sistem yang sudah terotomatisasi sehingga dapat melaksanakan
tugas-tugas dan melakukan pengambilan keputusan sendiri, hanya
kasus-kasus dan tugas-tugas yang khusus yang harus didelegasikan
pengerjaannya ke tingkat yang lebih tinggi.

6
2.3. Komponen dalam Industri 4.0
Industri 4.0 merupakan istilah yang abstrak dan kompleks yang terdiri
dari beragam komponen dalam masyarakat. Untuk dapat memahami
seberapa luas komponen-komponen tersebut, berikut ini beberapa
komponen yang terkait:
a. Perangkat Seluler
b. Internet of Things (IoT)
c. Teknologi pendeteksi lokasi
d. Antarmuka manusia-mesin
e. Alat otentikasi dan pendeteksi kecurangan
f. Pencetakan 3 dimensi
g. Sensor pintar
h. Analisis dan algoritma lanjutan untuk Big Data
i. Interaksi pelanggan dan pembuatan profil pelanggan
j. Realitas tertambah (Augmented Reality)
Secara umum, komponen-komponen teknologi tersebut dapat
dikelompokkan ke dalam 4 komponen besar yang terdiri dari:
a. Sistem Cyber-physical
b. Internet of Things (IoT)
c. Komputasi Awan
d. Komputasi Kognitif

2.4. Penerapan Industri 4.0 saat ini


Saat ini, sebagian besar organisasi yang masih menolak fakta bahwa Industri
4.0 dapat mempengaruhi bisnis mereka, sebagian yang lain sedang
mencoba beradaptasi, dan terdapat sebagian pula yang sudah
mengaplikasikan perubahan dan mempersiapkan masa depan dimana
mesin-mesin pintar dapat membantu mengembangkan bisnis mereka.
Berikut ini adalah contoh-contoh penerapan:
a. Sebagai alat untuk mengidentifikasi peluang terjadinya kesalahan
Saat ini perangkat-perangkat yang saling terhubung dapat
mengumpulkan data-data banyak tentang proses produksi,
pemasaran, penjualan dan lain sebagainya sekaligus
menganalisanya data tersebut. Dimana hal tersebut akan sulit

7
dilakukan oleh manusia saja dalam waktu yang terbatas.
Contohnya ketika sebuah tambang emas di Afrika yang dapat
mengidentifikasi terjadinya kekurangan level oksigen dengan
menggunakan sensor pada perangkatnya. Setelah hal ini
diperbaiki, bereka dapat meningkatkan keuntungannya sebesar
3,7% dan menghasilan USD 20.000.000 selama tahun tersebut.
b. Sebagai alat untuk meningkatkan kinerja logistik dan rantai pasok
Rantai pasokan yang saling terhubung dapat memudahkan untuk
melakukkan penyesuaian ketika ada informasi-informasi baru.
Contohnya: ketika terdapat informasi cuaca yang tidak bagus
sehingga menunda pengiriman barang melalui kapal laut, maka
bagian-bagian terkait dapat segera melakukan penyesuaian
terhadap kejadian tersebut, misalnya dengan memberitahukan
kepada pelanggan.
c. Perangkat dan kendaraan yang terotomatisasi
Contoh: pelabuhan yang menggunakan crane dan truk-truk yang
terotomatisasi saat mereka memindahkan peti kemas dari kapal ke
pelabuhan dan sebaliknya.
d. Robot
Selama ini, pada umumnya robot hanya dapat dibeli oleh
perusahaan-perusahaan berskala besar dengan anggaran yang
besar pula. Saat ini, robot tersedia dengan harga yang lebih
terjangkau dan tersedia untuk berbagai ukuran organisasi. Robot
dapat membantu pekerjaan mulai dari mengambil produk dari
gudang hingga mengantarnya ke dalam kapal, sehingga sangat
membantu industri.
e. Pencetakan 3 Dimensi
Dikenal juga dengan istilah additive manufacturing. Teknologi ini
telah sangat berkembang selama beberapa tahun terakhir dan
penggunaannya pun telah berubah yang pada awalnya digunakan
untuk pembuatan prototype, kini telah digunakan untuk produksi
produk itu sendiri.

8
f. Internet of Things – IoT (Internet untuk Segala) dan the Cloud
(Awan)
Merupakan sebuah konsep dimana perangkat-perangkat saling
terhubung satu sama lain. Hal ini tidak hanya membantu operasi
perusahaan, namun juga memungkinkan bisnis yang lebih kecil
yang memerlukan penggunaan perangkat/mesin yang sama namun
tidak mampu membelinya dapat mengakses perangkat/mesin
tersebut.
Industri 4.0 memang masih terus berkembang dan masyarakat dunia masih
belum dapat menyimpulkan secara lengkap kelebihan dan kekurangannya.
Di era ini, perusahaan-perusahaan sedang bersaing mengenai bagaimana
meningkatkan kemampuan untuk dapat bertahan di era ini, salah satunya
dengan cara mencari sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang
dibutuhkan. Inilah saat yang baik untuk meningkatkan kompetensi yang
dibutuhkan dunia usaha.

2.5. Tantangan dalam Penerapan Industri 4.0


Tantangan dalam penerapan Industri 4.0 antara lain
a. Bidang Ekonomi
 Biaya tinggi
Tidak semua orang telah mempersiapkan diri untuk menuju
penerapan Industri 4.0, sehingga akan banyak pihak yang merasa
perlu mengeluarkan biaya tinggi untuk membeli atau menyewa
perangkat atau sistem baru untuk menerapkan Industri 4.0.
 Perlu adaptasi model bisnis
Model bisnis yang sama dan digunakan secara berulang-ulang
memiliki peluang tidak lagi relevan di era Industri 4.0. Dengan
semakin canggihnya teknologi, tanpa disadari mengubah cara dan
perilaku masyarakat dalam berbisnis, menjual dan membeli
barang. Hal ini perlu membuat para pelaku bisnis segera dapat
beradaptasi.
 Sulitnya membedakan antara investasi yang menguntungkan atau
tidak

9
b. Bidang sosial
 Masalah privasi
Kemampuan perangkat-perangkat yang terhubung dengan
internet untuk mengumpulkan dan merekam data memunculkan
keresahan dalam masyarakat mengenai data apa saja yang
mampu direkam oleh perangkat-perangkat tersebut. Lebih jauh
lagi, masyarakat tidak dapat mengetahui secara jelas bagaimana
pihak-pihak pengumpul data memanfaatkan data mereka.
 Pengawasan dan ketidakpercayaan
Dengan bantuan teknologi, kini semakin mudah untuk mengawasi
suatu proses industri mulai dari pembelian bahan baku, proses
produksi, penyimpanan ke gudang sampai dengan penjualan.
Teknologi ini dapat memunculkan prasangka tidak percaya
kepada para pegawai dan membuat para pegawai merasa terlalu
diawasi sehingga dapat berpengaruh pada kepuasan kerja
mereka.
 Keengganan untuk berubah dari para pemangku kepentingan
Tidak semua pemangku kepentingan dalam sebuah perusahaan
terbuka terhadap perubahan. Perusahaan yang memiliki kesulitan
untuk berubah karena terhalang oleh pemangku kepentingan
mereka yang terkesan enggan, rawan terhadap konflik.
 Ancaman yang ditimbulkan oleh banyaknya perusahaan teknologi
Banyaknya perusahaan teknologi yang lahir dapat menciptakan
penawaran (supply) yang terlalu tinggi dalam masyarakat tanpa
disertai dengan adanya permintaan yang cukup. Hal ini kemudian
dapat menyebabkan pengangguran.
 Hilangnya lapangan kerja
Munculnya teknologi-teknologi baru dapat menyebabkan
banyaknya pekerjaan yang dapat diotomatisasi dan dikendalikan
oleh teknologi informasi sehingga menghilangkan lapangan
pekerjaan. Umumnya hal ini terjadi pada pekerja kerah biru.

10
c. Bidang politik
 Kurangnya regulasi, standard baku, dan bentuk sertifikasi lainnya
Belum siapnya pemerintah menghadapi Industri 4.0 membuat
belum adanya regulasi dan standar yang jelas terkait teknologi ini.
Hal ini berpotensi menimbulkan masalah dan kerugian di masa
mendatang.
 Permasalahan hukum dan keamanan data yang belum jelas
Pada dasarnya data yang disimpan secara elektronik sama
dengan data yang disimpan secara non-elektronik (manual), dan
pemanfaatannya pun harus sesuai dengan peraturan yang
berlaku karena ada sifat-sifat rahasia data yang harus dijaga. Saat
ini penggunaan data yang tidak semestinya masih belum diatur
secara jelas, efeknya dapat memberikan kerugian kepada
masyarakat yang merasa datanya telah dimanfaatkan secara tidak
semestinya.
d. Bidang organisasi
 Kurangnya kompetensi yang memadai untuk melakukan transisi
menuju Industri 4.0.
Tidak semua organisasi memiliki sumber daya manusia yang
memiliki kompetensi dan pola pikir yang memadai untuk dapat
melakukan transisi menuju Industri 4.0. Sehingga untuk
melakukan transisi, organisasi tersebut harus melakukan
reorganisasi besar-besaran di dalam internal organisasinya.
 Kurangnya komitmen dari manajemen tingkat atas
Tidak semua manajemen di tingkat atas menyadari pentingnya
beradaptasi dengan Industri 4.0, ataupun ada sebagian yang
menyadari urgensinya namun komitmennya dipertanyakan ketika
proses transisinya sedang berjalan. Hal inilah yang menjadi salah
satu tantangan dalam menghadapi Industri 4.0.
 Kurang memadainya kualifikasi pegawai
Tidak semua pegawai memiliki kualifikasi yang dibutuhkan untuk
menghadapi era Industri 4.0, bagi organisasi hal ini memberikan
dua pilihan. Pilihan pertama adalah mengeluarkan biaya untuk

11
mengadakan pelatihan bagi pegawai-pegawai yang sudah ada
atau membuka kembali lowongan pekerjaan.

2.6. Menjadi Entrepreneur di Era Industri 4.0


Pada era Industri 4.0 seperti sekarang, menjadi seorang entrepreneur
menjadi lebih mudah dengan dukungan teknologi, namun persaingan untuk
menjadi sukses sebagai entrepreneur menjadi lebih ketat. Saat ini dukungan
media sosial seperti Instagram dan YouTube telah memunculkan
pengusaha-pengusaha muda sukses baru, yang memulai bisnis mereka
melalui pemanfaatan pada media-media sosial tersebut.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan besar pun tidak ingin kalah begitu saja,
perusahaan-perusahaan teknologi seperti Apple melihat peluang media
sosial ini untuk berinovasi dan meluncurkan produk-produk baru untuk
mendukung penggunanya dapat memanfaatkan fasilitas dalam media-media
sosial tersebut dengan lebih maksimal. Ada beberapa cara untuk sukses
menjadi seorang entrepreneur di era Industri 4.0.
a. Belajar untuk menjadi supel
Untuk menjadi sukses, kita harus memiliki keinginan dan kemampuan
untuk beradaptasi, menerima perubahan, dan menjadi lebih fleksibel.
Pada era digital ini, waktu relatif berjalan dengan cepat. Ide yang
tercetus 6 bulan yang lalu mungkin pada saat ini sudah tidak relevan
lagi. Perbanyaklah berdiskusi dengan rekan-rekan sesame
entrepreneur, cerdaslah membaca perubahan ketika suatu teknologi
baru muncul. Pemimpin dan entrepreneur yang buruk adalah mereka
yang tidak bersedia mendengar pendapat para konsumennya.
b. Manfaatkan teknologi yang paling efektif
Apapun bidang usaha kita, selalu ada teknologi yang paling tepat
untuk digunakan. Setelah kita menentukan tujuan dan pangsa pasar,
langkah selanjutnya adalah menentukan teknologi yang tepat. Hal ini
dapat membuat bisnis kita terlihat lebih professional dan
meningkatkan kepercayaan konsumen. Survey yang dilakukan oleh
Jive Communication terhadap 2.000 masyarakat generasi milenial
menunjukkan hasil 70% setuju bahwa teknologi yang cepat pada
perkantoran adalah sebuah keharusan. Teknologi yang dimaksud

12
bukanlah teknologi yang mahal dan terlalu canggih. Yang dimaksud
adalah teknologi yang dapat mengakomodasi lingkungan kerja yang
sehat, dapat menampung kesempatan untuk berkembang dan dapat
mendukung pekerjaan jarak jauh. Menyisihkan anggaran untuk
menerapkan teknologi yang tepat pada bisnis kita bisa jadi
merupakan cara untuk mendorong bisnis kita agar lebih sukses.
Sudah banyak aplikasi-aplikasi yang membutuhkan biaya relatif
rendah yang dapat membantu kita dalam hal mengirimkan surel
kepada pelanggan, mencatat data-data keuangan, menyusun
anggaran, mengatur proyek, mengatur sosial media, dan membuat
situs web. Di era digital ini, konsumen menginginkan interaksi yang
mudah, cepat, enak dilihat,professional dan menyenangkan.
Teknologi-teknolgi inilah yang dapat kita manfaatkan.
c. Terima kegagalan
Kegagalan tidak dapat dihindari, yang lebih penting adalah
bagaimana kita bereaksi dan belajar dari kegagalan tersebut untuk
kebaikan di masa yang akan datang. Kurangi bicara, perbanyak aksi.
d. Lebih teliti melihat ke dalam bisnis kita
Pengusaha-pengusaha hebat selalu meluangkan waktu untuk melihat
lebih teliti ke dalam operasional bisnis mereka. Sebagai contoh,
restoran McDonald yang memiliki nilai kekayaan lebih dari USD 100
miliar dengan ribuan gerai di seluruh dunia. McDonald memiliki nilai
yang besar bukan karena mereka memiliki makanan terenak di
seluruh dunia, melainkan karena mereka menciptakan system terbaik
untuk menjual makanan mereka kepada konsumen. Apabila kita tidak
memiliki system yang efisien dan sederhana, apapun bidang usaha
kita, akan sulit untuk mendapatkan atau mempertahankan pelanggan.
Buatlah komunikasi yang lebih mudah dan sederhana, teliti proses
penjualan produk dari sisi konsumen untuk mengidentifikasi
kekurangan dan peluang untuk perbaikan. Kita semua menginginkan
proses internal dan eksternal berjalan dengan mulus. Kita juga dapat
meneliti proses yang dilakukan oleh pesaing kita dengan cara
meneliti apa hal baik yang dilakukan oleh pesaing dan apa yang bisa
kita lakukan lebih baik daripada pesaing. Pada akhirnya, walaupun

13
produk yang kita jual bagus kualitasnya, apabila proses penjualan
kepada pelanggan kurang baik maka berpotensi hilangnya
pelanggan.

2.7. Studi Kasus: Tokoh Sukses Entrepreneur di Era Industri 4.0


Beberapa tokoh di dunia dan di Indonesia telah berhasil menyambut era
Industri 4.0 dan menjadikannya peluang bisnis besar. Berikut ini
beberapa contoh cerita sukses tokoh-tokoh entrepreneur di dunia dan di
Indonesia.
a. Nadiem Makarim dan Gojek

Nadiem Makarim adalah founder Gojek. Nadiem sendiri adalah pria


kelahiran Singapura dan merintis kariernya dengan bekerja di
perusahaan McKinsey & Company, dilanjutkan dengan menjadi
managing director di Zalora Indonesia dan chief innovation di
Kartuku. Setelah beberapa kali berpindah perusahaan, Nadiem
merintis startup bernama Gojek. Hal ini ia lakukan karena prihatin
dengan kesulitan yang dihadapi oleh tukang ojek di sekitarnya yang
kurang produktif. Aplikasi Gojek pun kini menjadi aplikasi yang
digunakan oleh banyak orang di seluruh Indonesia dan memiliki
banyak kegunaan selain untuk memesan ojek.

14
Gojek sendiri merupakan perusahaan unicorn (perusahaan start-up
dengan dengan nilai melebihi USD 1 Miliar) dan decacorn
(perusahaan start-up dengan dengan nilai melebihi USD 10 Miliar)
pertama di Indonesia. Gojek juga menjadi satu-satunya perusahaan
di Asia Tenggara yang termasuk ke dalam daftar majalah Fortune “50
Perusahaan yang telah mengubah dunia tahun 2017”. Pada bulan
Februari 2019, nilai perusahaan ini diperkirakan sekitar USD 10
Miliar. Selain itu Gojek juga menempati daftar “Top 10 Merk Dagang
Paling Berpengaruh di Indonesia” dan “Top 3 Merk Dagang
Transportasi/Logistik Paling Berpengaruh”.

b. Ahmad Zaky dan Bukalapak

Ahmad Zaky merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB)


yang mendirikan perusahaan jasa konsultasi teknologi bernama
Suitmedia. Perusahaan inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya
situs Bukalapak. Bukalapak adalah situs daring yang menampung
para pelaku UMKM. Bukalapak juga sudah menarik sejumlah
investor, baik dalam maupun luar negeri. Selain untuk berjualan,

15
Bukalapak kini memiliki fitur-fitur lain yang dapat dimanfaatkan oleh
masyarakat untuk berinvestasi emas.
Bukalapak kini memiliki nilai lebih dari USD 1 Miliar. Di tahun 2019,
Bukalapak memiliki 4,5 juta penjual UMKM, 70 juta pengguna aktif
setiap bulan dan rata-rata 2 juta transaksi per harinya. Kurang dari
setahun sejak didirikan, Bukalapak menerima suntikan modal
tambahan dari Batavia Incubator. Pada tahun 2012, Bukalapak
menerima investasi tambahan dari perusahaan modal ventura GREE.

c. William Tanuwijaya dan Tokopedia

Sebelum berwirausaha, William sempat berkarier di sejumlah


perusahaan software developer dan game developer. Semasa
kuliahnya bahkan William pernah bekerja paruh waktu sebagai
penjaga warung internet (warnet). Dari pengalaman bekerjanya
sebagai penjaga warnetlah William mengenal dunia digital. William
mendirikan Tokopedia pada tahun 2009. Seiring berjalannya waktu,
Tokopedia kini menjadi salah satu e-Commerce terbesar di
Indonesia.

16
Tokopedia menerima pendanaan dari PT Indonusa Dwitama pada
tahun 2009 senilai Rp 2,5 miliar. Tahun-tahun berikutnya, Tokopedia
menerima suntikan dari modal dari perusahaan modal venture
termasuk East Ventures (2010), CyberAgent Ventures (2011),
NetPrice (2012), dan SoftBank Ventures Korea (2013). Pada bulan
Oktober 2014, Tokopedia mencetak sejarah sebagai perusahaan
teknologi di Asia Tenggara pertama yang memperoleh investasi USD
100 juta dari Sequoia Capital dan SoftBank Internet and Media Inc
(SIMI). Pada bulan April 2016, Tokopedia mendapatkan tambahan
USD 147 juta. Pada tahun 2017, Tokopedia menerima investasi
sebesar USD 1,1 miliar dari perusahaan dagang daring raksasa
China “Alibaba”. Pada tahun 2018, perusahaan mengamankan
pendanaan sebesar USD 1,1 miliar dari grup Alibaba dan grup
Softbank dari Jepang, yang membuat kini nilainya mencapai USD 7
Miliar.

d. Ferry Unardi dan Traveloka

Sosok wirausaha sukses lainnya adalah Ferry Unardi yang sejak


remaja sudah menyenangi dunia informatika. Ferry sempat bekerja
beberapa tahun di Microsoft. Karena merasa kariernya sulit
berkembang di Microsoft, Ferry pun berhenti bekerja dan melanjutkan
pendidikan jenjang S2-nya di Harvard University.

17
Awal cerita Ferry memutuskan untuk membangun Traveloka berawal
dari kesulitan yang dihadapinya ketika akan memesan tiket pesawat
pulang ke Indonesia yang melewati beberapa rute. Ferry kemudian
mulai menggarap Traveloka bahkan berhenti kuliah di Harvard agar
dapat fokus mengembangkannya. Kini Traveloka menjadi salah satu
e-Commerce terkemuka di Indonesia bahkan Asia Tenggara.
Traveloka yang didirikan pada tahun 2012 ini awalnya berfungsi
sebagai mesin pencari untuk membandingkan harga tiket pesawat
dari berbagai situs. Pada pertengahan tahun 2013, Traveloka
berubah menjadi situs reservasi tiket, dimana para pengguna dapat
melakukan pemesanan pada situs resmi maskapai. Pada bulan Juli
2014, Traveloka merambah layanan reservasi hotel. Pada bulan Juli
2017, Traveloka memperoleh suntikan data sebesar Rp 4,6 Triliun
dari berbagai perusahaan diantaranya Expedia Inc, East Ventures,
Hillhouse Capital Group, JD.com dan Sequoia Capital.

18
BAB III PENUTUP

3.

3.1. Kesimpulan
Kedatangan era Industri 4.0 tidak dapat dihindari, sehingga sudah
sepatutnya masyarakat, apapun profesinya, mempersiapkan diri dengan
perubahan-perubahan yang muncul. Tak terkecuali profesi entrepreneur,
yang akan langsung merasakan dampak dari modernisasi ini.

Salah satu pelajaran yang dapat diperoleh dari tokoh-tokoh entrepreneur


sukses di era digital adalah bahwa sebuah ide usaha bisa datang dari mana
saja, termasuk keprihatinan sosial atas kondisi masyarakat sekitar atau
kesulitan masyarakat untuk memperoleh suatu informasi.

3.2. Saran
Untuk menjadi sukses dalam menghadapi persaingan di era Industri 4.0 ini,
entrepreneur hendaknya memiliki karakter mau belajar dan terbuka pada
perubahan, khususnya terhadap teknologi yang berkembang dengan pesat.
Saat ini banyak sekali teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh para
entrepreneur untuk meningkatkan kualitas produk, pelayanan, pemasaran
dan memperluas basis penjualan.
Pemerintah Republik Indonesia juga sebaiknya memfasilitasi masyarakat
untuk mempersiapkan diri menghadapi era Industri 4.0, baik dari segi
pendidikan, pelatihan, sarana, prasarana, informasi, regulasi, dan fasilitas di
bidang perdagangan, ekspor, impor, dan perpajakan.

19
4. DAFTAR PUSTAKA

5.

Marr, Bernard. 2018. What is Industry 4.0? Here's A Super Easy Explanation For Anyone.
https://www.forbes.com/sites/bernardmarr/2018/09/02/what-is-industry-4-0-heres-a-
super-easy-explanation-for-anyone/#7d1f1eda9788 diakses pada tanggal 9 Agustus
2019

Kivo, Dillon. 2018. How To Find Success As An Entrepreneur In The Digital Age.
https://www.forbes.com/sites/theyec/2018/08/31/how-to-find-success-as-an-
entrepreneur-in-the-digital-age/#39641831248e diakses pada tanggal 9 Agustus
2019

Mario Damar, Agustinus. 2018. Kisah Bos Traveloka Masuk Daftar Orang Terkaya di
Indonesia. https://www.liputan6.com/tekno/read/3600950/kisah-bos-traveloka-masuk-
daftar-orang-terkaya-di-indonesia diakses pada tanggal 10 Agustus 2019

Syobar, Khaerul, Edi Komarudin, Rony Mohmad Rizal. Kewirausahaan (Entrepreneurship).


Bandung (ID): STKIP Pasundan Cimahi

https://en.wikipedia.org/wiki/Bukalapak diakses pada tanggal 10 Agustus 2019

https://en.wikipedia.org/wiki/Industry_4.0 diakses pada tanggal 10 Agustus 2019

https://en.wikipedia.org/wiki/Go-Jek diakses pada tanggal 10 Agustus 2019

https://en.wikipedia.org/wiki/Tokopedia diakses pada tanggal 10 Agustus 2019

https://en.wikipedia.org/wiki/Traveloka diakses pada tanggal 10 Agustus 2019

https://glints.com/id/lowongan/kisah-wirausaha-sukses-digital/ diakses pada tanggal 10


Agustus 2019

https://id.wikipedia.org/wiki/Achmad_Zaky diakses pada tanggal 10 Agustus 2019

https://id.wikipedia.org/wiki/Nadiem_Makarim diakses pada tanggal 10 Agustus 2019

https://id.wikipedia.org/wiki/William_Tanuwijaya diakses pada tanggal 10 Agustus 2019

20