Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Fisika klasik didominasi oleh mekanika Newton dan elektromagnetika
klasik yang dinyatakan dengan persamaan Maxwell. Berkembangnya konsep
fisika klasik pada masa lampau disebabkan karena gejala-gejala alamiah yang
teramati oleh manusia pada waktu itu dapat dijelaskankan dan diprediksi secara
akurat oleh teori fisika klasik. Gerakan benda dapat dijelaskan menggunakan
hukum Newton tentang gerak dan gravitasi, misalnya: hukum Kepler. Sedangkan
karakteristik cahaya, seperti pemantulan dan pembiasan cahaya, difraksi cahaya,
interferensi cahaya, dan polarisasi cahaya dapat dijelaskan menggunakan teori
elektromagnetika klasik dengan menganggap bahwa cahaya adalah gelombang
elektromagnetik.
Keyakinan akan kebenaran teori tersebut, membuat kedua teori itu menjadi
hukum-hukum dasar ilmu fisika, yang dapat menjelaskan semua gejala alamiah.
Keyakinan bahwa fisika klasik dapat menjelaskan semua gejala alamiah mulai
berkurang ketika para ilmuwan berhasil menemukan beberapa fenomena baru
terkait dengan dunia mikroskopis. Pada akhir abad ke-19 sampai awal abad 20,
ilmuwan menyadari adanya gejala-gejala alamiah yang tidak dapat dijelaskan
menggunakan kedua teori fisika klasik yang telah mantap. Oleh sebab itu pada
awal abad 20 mulai dikembangkan ilmu fisika modern untuk menjelaskan
fenomena-fenomena yang terjadi pada partikel ukuran atomic.

1
1.2.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana yang dimaksud dengan efek fotolistrik dan penjelasannya ?
2. Bagaimana yang dimaksud dengan efek Compton dan penjelasannya ?

1.3.Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui dan memahami yang dimaksud dengan efek fotolistrik
2. Mengetahui dan memahami yang dimaksud dengan efek Compton

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Efek Fotolistrik
Pada tahun 1886 dan 1887 Heinrich Hertz melakukan percobaan yang
pertama kali mengkonfirmasi keberadaan gelombang elektromagnetik dan teori
elektromagnetik propagasi cahaya Maxwell. Ini adalah salah satu fakta yang
menarik dan paradoks dalam sejarah sains yang dalam perjalanan eksperimennya
Hertz mencatat efek yang kemudian digunakan Einstein untuk bertentangan
dengan aspek lain dari teori elektromagnetik klasik. Hertz menemukan bahwa
pelepasan listrik antara dua elektroda terjadi lebih mudah ketika sinar ultraviolet
jatuh pada salah satu elektroda. Pengamatan itu diteruskan oleh Hallwachs; dia
mengamati emisi elektron ketika dia menyinari permukaan-permukaan logam
seperti seng, rubidium, potassium dan sodium. Proses lepasnya elektron-elektron
dari permukaan logam yang disinari disebut emisi fotoelektron atau efek foto-
listrik.

Gambar 1. Skema Eksperimen Efek Fotolistrik

3
Eksperimen dilakukan dengan menembakkan berkas cahaya ke sebuah plat
logam E yang terdapat pada selubung gelas (agar kondisi eksperimen terkontrol).
Terdapat sebuah plat logam lain (plat C) yang diposisikan sejajar untuk
menangkap elektron yang keluar dari plat E. Kedua plat tersebut tersambung
dengan sebuah sirkuit dimana terdapat amperemeter untuk membaca aliran
elektron dari plat E ke plat C.
Hubungan arus fotolistrik dengan perbedaan potensial (voltase) yang
terbaca dari hasil eksperimen plat E dan plat C untuk dua jenis intensitas cahaya
ditunjukkan pada grafik dibawah. Saat nilai voltase tinggi, besar arus
menunjukkan nilai yang maksimal dan besar arus tersebut tidak dapat bertambah
naik. Besarnya arus maksimum dapat bertambah jika intensitas cahaya
ditingkatkan, hal ini terjadi karena semakin tinggi intensitas cahaya yang
ditembakkan maka semakin banyak elektron yang keluar dari plat logam. Ketika
besar beda potensial (voltase) makin mengecil dan bahkan nilainya sampai minus
(-V0), ternyata tidak ada arus yang mengalir yang menandakan tidak ada
fotoelektron yang mengalir dari plat E ke plat C. Potensial V0 disebut sebagai
potensial henti.

Dari hasil eksperimen yang dilakukan, ternyata nilai beda potensial tidak
bergantung pada intensitas cahaya yang diberikan, akan tetapi karena banyaknya
muatan fotoelektron yang keluar dari plat. Hal ini menunjukkan bahwa
besarnya energi kinetik maksimum dari efek fotolistrik dirumuskan sebagai
berikut:

4
𝐸𝑘𝑚𝑎𝑘𝑠 = 𝑒𝑉𝑜

Efek fotolistrik adalah pengeluaran elektron dari suatu permukaan


(biasanya logam) ketika dikenai, dan menyerap, radiasi
elektromagnetik (seperti cahaya tampak dan radiasi ultraungu) yang berada di atas
frekuensi ambang tergantung pada jenis permukaan. Efek fotolistrik
membutuhkan foton dengan energi dari beberapa elektronvolt sampai lebih dari 1
MeV unsur yang nomor atomnya tinggi. Studi efek fotolistrik menyebabkan
langkah-langkah penting dalam memahami sifat kuantum cahaya, elektron dan
mempengaruhi pembentukan konsep Dualitas gelombang-partikel. fenomena di
mana cahaya mempengaruhi gerakan muatan listrik termasuk efek fotokonduktif
(juga dikenal sebagai fotokonduktivitas atau photoresistivity ), efek fotovoltaik ,
dan efek fotoelektrokimia .

Dalam pengamatan itu ternyata:


1. Untuk suatu jenis logam ada frekuensi cahaya minimal yang dapat
melepaskan elektron,
2. Semakin tingi intensitas cahaya yang mengenai permukaan logam,
semakin banyak elektron yang dilepaskan.

Fakta eksperimen dari efek foto-listrik ini tak dapat dijelaskan dengan
teori-teori klasik seperti teori listrik-magnetnya Maxwell. Pada 1905, Einstein
mengemukakan bahwa proses tersebut dapat diungkapkan sebagai masalah
tumbukan partikel. Menurut Einstein, suatu berkas cahaya monokromatik dapat
dipandang sebagai kumpulan partikel-partikel yang disebut foton yang masing-
masing memiliki energi hf di mana f adalah frekuensi cahaya. Jika suatu foton
menumbuk permukaan logam, energi foton itu dialihkan ke elektron dan ketika
electron diemisikan dari permukaan logam energi kinetiknya (K=½mv2).
Sehingga besarnya energy kinetic maksimum pada electron dirumuskan sebagai
berikut :
𝐸𝑘𝑚𝑎𝑘𝑠 = ℎ𝑓 − 𝜙

5
Dimana :
h : konstanta Planck (6,62 x 10 -34 Js)
f : frekuensi foton (Hz)

𝜙 : Fungsi kerja (eV) atau 𝜙 = 𝑓0

Fungsi kerja menggambarkan energi minimum yang diperlukan agar


elektron dapat terus menempel pada logam sehingga persamaan diatas menjadi :

𝐸𝑘𝑚𝑎𝑘𝑠 = ℎ (𝑓 − 𝑓0 )

Dengan menggunakan foton sebagai model cahaya, efek fotolistrik dapat


dijelaskan dengan benar daripada yang diprediksikan oleh konsep-konsep klasik,
yaitu:
 Besarnya energi kinetik yang dikeluarkan fotoelektron tidak bergantung
pada intensitas cahaya. Jika intensitas cahaya digandakan, maka jumlah
fotoelektron yang keluar juga berlipat ganda, namun besarnya energi
kinetik maksimum pada setiap fotoelektron nilainya tidak berubah.
 Elektron terlepas dari logam dalam waktu yang singkat. Selang waktu
antara cahaya yang datang dan fotoelektron yang keluar tergantung pada
besarnya paket energi yang dibawa foton. Jika intensitas cahaya yang
diterima rendah, hanya sedikit foton yang datang per unit waktu.
 Keluarnya elektron tidak bergantung pada frekuensi cahaya. Jika energi
yang dibawa foton besarnya tidak lebih dari fungsi kerja, maka elektron
tidak dapat dikeluarkan dari permukaan logam.
 Besarnya energi kinetik maksimum fotoelektron bergantung pada
frekuensi cahaya. Sebuah foton dengan frekuensi yang lebih besar
membawa energi yang lebih besar dan akan mengeluarkan fotoelektron
dengan enrgi kinetik yang lebih besar dibandingkan dengan foton
berfrekuensi rendah.

6
Contoh Soal :
1. Frekuensi ambang suatu logam sebesar 8,0 × 1014 Hz dan logam tersebut
disinari dengan cahaya yang memiliki frekuensi 1015 Hz. Jika tetapan
Planck 6,6 × 1014 Js, tentukan energi kinetik elekton yang terlepas dari
permukaan logam tersebut !
Jawab :
Diketahui:
f0 = 8,0 × 1014 Hz
f = 1015 Hz
h = 6,6 × 10-34 Js
Ditanya: Ek = ...?
Pembahasan :
Ek = h.f – h.f0
Ek = 6,6 × 10-34 (1014 – (8,0 × 1014))
Ek = 1,32 × 10-19 J

2.2.Efek Compton
Menurut teori kuantum cahaya, foton berlaku sebagai partikel, hanya saja
foton tidak mempunyai massa diam. jika hal ini benar kita harus bisa
menganalisis tumbukan antara foton dengan elektron, misalnya, dengan cara yang
sama seperti tumbukan bola bilyard dianalisis dengan mekanika pendahuluan.
Efek compton ditemukan oleh Arthur Holy Compton pada tahun 1923.
Menurut teori kuantum cahaya, foton berlaku sebagai partikel, hanya foton tidak
memiliki massa diam. Jika pendapat ini benar, maka berdasarkan peristiwa efek
fotolistrik yang dikemukakan oleh Einstein, Arthur Holy Compton pada tahun
1923 telah mengamati gejala-gejala tumbukan antara foton yang berasal dari sinar
X dengan elektron. Compton mengamati hamburan foton dari sinar X oleh
elektron dapat diterangkan dengan menganggap bahwa foton seperti partikel
dengan energi hf dan momentum hf/c cocok seperti yang diusulkan oleh Einstein.
Efek Compton merupakan gejala hamburan (efek) dari penembakan suatu
materi dengan sinar-X. Efek ini ditemukan oleh Arthur Holly Compton pada

7
tahun 1923. Jika sejumlah elektron yang dipancarkan ditembak dengan sinar-X,
maka sinar-X ini akan terhambur. Hamburan sinar-X ini memiliki frekuensi yang
lebih kecil daripada frekuensi semula.
Percobaan Compton cukup sederhana yaitu sinar Xmonokromatik
(sinar X yang memiliki panjang gelombang tunggal) dikenakan pada keping tipis
berilium sebagai sasarannya. Kemudian untuk mengamati foton dari sinar X dan
elektron yang terhambur dipasang detektor. Sinar X yang telah menumbuk
elektron akan kehilangan sebagian energinya yang kemudian terhambur dengan
sudut hamburan sebesar θ terhadap arah semula. Berdasarkan hasil pengamatan
ternyata sinar X yang terhambur memiliki panjang gelombang yang lebih besar
dari panjang gelombang sinar Xsemula. Hal ini dikarenakan sebagian energinya
terserap oleh elektron. Jika energi foton sinar X mula-mula hf dan energi foton
sinar X yang terhambur menjadi (hf – hf’) dalam hal ini f > f’, sedangkan panjang
gelombang yang terhambur menjadi tambah besar yaitu λ > λ’.

Gambar 2 Skema Percobaan Compton

Menurut teori elektromagnetik, intensitas cahaya terhambur oleh electron


akan bergantung pada sudut hamburan dan tidak bergantung pada panjang
gelombang yang datang. Tetapi pengamatan Compton memberikan hasil :
1. Radiasi terhambur terdiri dari dua panjang gelombang yaitu panjang
gelombang asal 𝜆0 dan panjang gelombang 𝜆𝑠

8
2. 𝜆𝑠 > 𝜆0
3. 𝜆𝑠 bergantung pada sudut 𝜃

Intensitas relative untuk beberapa sudut 𝜃, dan model hamburan yang


diajukan oleh Compton dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 3. Intensitas relative untuk 𝜃

Dalam analisa matematisnya, G.E.M Jauncey dan A.H Compton


mengajukan usul yang berani , yaitu :
1. Foton mempunyai momentum seperti partikel
2. Proses hamburan adalah tumbukan elastis antara foton dan electron.
Dengan menggunakan hukum kekekalan momentum dan kekekalan energi
Compton berhasil menunjukkan bahwa perubahan panjang gelombang foton
terhambur dengan panjang gelombang semula, yang memenuhi persamaan :

9

𝜆′ − 𝜆 = (1 − 𝑐𝑜𝑠𝜃)
𝑚0 𝑐
Keterangan :
𝜆 : panjang gelombang sinar x sebelum tumbukan
𝜆′ : panjang gelombang sinar X setelah tumbukan
h : konstanta Planck
m0 : massa diam electron ( 9,1 x 10-31kg )
c : kecepatan cahaya
𝜃 : sudut hamburan sinar X terhadap arah semula

Contoh Soal
1. Hitunglah perubahan fraksi panjang gelombang sinar x sebesar 0,500 yang
membuat hamburan Compton 90° dari sebuah elektron?
Jawab:

λ= 𝑚 𝑐 (1 − 𝑐𝑜𝑠𝜃) = (0,0243) – (1-cos 90°) = (0,0243) (1-0) = 0,0243
0

0,243
λ = 0,500 = 0,486

2.3. Konsep Foton

Foton adalah partikel elementer dalam fenomena elektromagnetik.


Biasanya foton dianggap sebagai pembawa radiasi elektromagnetik, seperti
cahaya, gelombang radio, dan Sinar-X. Foton berbeda dengan partikel elementer
lain seperti elektron dan quark, karena ia tidak bermassa dan dalam ruang vakum
foton selalu bergerak dengan kecepatan cahaya, c. Foton memiliki baik sifat
gelombang maupun partikel ("dualisme gelombang-partikel").
Sebagai gelombang, satu foton tunggal tersebar di seluruh ruang dan
menunjukkan fenomena gelombang seperti pembiasan oleh lensa dan interferensi
destruktif ketika gelombang terpantulkan saling memusnahkan satu sama lain.
Selain energi partikel foton juga membawa momentum dan memiliki
polarisasi. Foton mematuhi hukum mekanika kuantum, yang berarti kerap kali
besaran-besaran tersebut tidak dapat diukur dengan cermat. Biasanya besaran-

10
besaran tersebut didefinisikan sebagai probabilitas mengukur polarisasi, posisi,
atau momentum tertentu.
Deskripsi foton sebagai pembawa radiasi elektromagnetik biasa digunakan
oleh para fisikawan. Namun dalam fisika teoretis sebuah foton dapat dianggap
sebagai mediator buat segala jenis interaksi elektromagnetik, seperti medan
magnet dan gaya tolak-menolak antara muatan sejenis.
Konsep modern foton dikembangkan secara berangsur-angsur antara 1905-
1917 oleh Albert Einstein untuk menjelaskan pengamatan eksperimental yang
tidak memenuhi model klasik untuk cahaya. Model foton khususnya
memperhitungkan ketergantungan energi cahaya terhadap frekuensi, dan
menjelaskan kemampuan materi dan radiasi elektromagnetik untuk berada dalam
kesetimbangan termal. Fisikawan lain mencoba menjelaskan anomali pengamatan
ini dengan model semiklasik, yang masih menggunakan persamaan Maxwell
untuk mendeskripsikan cahaya. Namun dalam model ini objek material yang
mengemisi dan menyerap cahaya dikuantisasi. Meskipun model-model semiklasik
ini ikut menyumbang dalam pengembangan mekanika kuantum, percobaan-
percobaan lebih lanjut membuktikan hipotesis Einstein bahwa cahaya itu
sendirilah yang terkuantisasi. Kuantum cahaya adalah foton.
Konsep foton telah membawa kemajuan berarti dalam fisika teoretis dan
eksperimental, seperti laser, kondensasi Bose-Einstein, teori medan kuantum dan
interpretasi probabilistik dari mekanika kuantum. Menurut model standar fisika
partikel, foton bertanggung jawab dalam memproduksi semua medan listrik dan
medan magnet dan foton sendiri merupakan hasil persyaratan bahwa hukum-
hukum fisika memiliki kesetangkupan pada tiap titik pada ruang-waktu. Sifat-sifat
intrinsik foton seperti muatan listrik, massa dan spin ditentukan dari
kesetangkupan gauge ini.Konsep foton diterapkan dalam banyak area seperti
fotokimia, mikroskopi resolusi tinggi dan pengukuran jarak molekuler. Baru-baru
ini foton dipelajari sebagai unsur komputer kuantum dan untuk aplikasi canggih
dalam komunikasi optik seperti kriptografi kuantum.

11
2.4.Penerapan Efek Fotolistrik dan Efek Compton dalam Kehidupan

A. Efek Fotolistrik
1. Sel Surya

Sel surya atau sel fotovoltaik adalah memanfaatkan efek fotolistrik untuk
membangkitkan arus listrik dari cahaya matahari. Efek fotolistrik muncul ketika
cahaya tampak atau radiasi ultraviolet jatuh ke permukaan benda tertentu. Cahaya
atau radiasi mendorong elektron keluar dari benda tersebut, yang jumlahnya dapat
diukur dengan meteran listrik.
Keunikan efek fotolistrik adalah ia hanya muncul ketika cahaya yang
menerpa memiliki frekuensi di atas nilai ambang tertentu. Di bawah nilai ambang
tersebut, tidak ada elektron yang terpancar keluar, tidak peduli seberapa banyak
cahaya yang menerpa benda. Frekuensi minimum yang kemunculan efek
fotolistrik tergantung pada jenis bahan yang disinari.

2. Dubbing Film
Menggunakan bantuan peralatan elektronika saat itu, suara dubbing film
direkam dalam bentuk sinyal optik di sepanjang pinggiran keping film. Pada saat
film diputar, sinyal ini dibaca kembali melalui proses efek fotolistrik dan sinyal
listriknya diperkuat dengan menggunakan amplifier tabung sehingga
menghasilkan film bersuara.

12
3. Tabung foto-pengganda (photomultiplier tube)
Dengan menggunakan
tabung ini, hampir semua spektrum
radiasi elektromagnetik dapat
diamati. Tabung ini memiliki
efisiensi yang sangat tinggi, bahkan
ia sanggup mendeteksi foton tunggal
sekalipun. Dengan menggunakan
tabung ini, kelompok peneliti
Superkamiokande di Jepang berhasil
menyelidiki massa neutrino yang
akhirnya dianugrahi hadiah Nobel
pada tahun 2002. Di samping itu, efek fotolistrik eksternal juga dapat
dimanfaatkan untuk tujuan spektroskopi melalui peralatan yang bernama
photoelectron spectroscopy (PES).

4. Diode laser Photo


Foto-diode atau foto-transistor yang bermanfaat sebagai sensor cahaya
berkecepatan tinggi. Bahkan, dalam komunikasi serat optik transmisi sebesar 40
Gigabite perdetik yang setara dengan pulsa cahaya sepanjang 10 pikodetik (10-11
detik) masih dapat dibaca oleh sebuah foto-diode. Foto-transistor yang sangat kita
kenal manfaatnya dapat mengubah energi matahari menjadi energi listrik melalui

13
efek fotolistrik internal. Sebuah semikonduktor yang disinari dengan cahaya
tampak akan memisahkan elektron dan hole. Kelebihan elektron di satu sisi yang
disertai dengan kelebihan hole di sisi lain akan menimbulkan beda potensial yang
jika dialirkan menuju beban akan menghasilkan arus listrik.

B. Efek Compton

1. Teleskop Compton (Comptel)


Teleskop pencar Compton biasanya memiliki dua tingkat instrumen. Pada
tingkat atas, sinar gamma Compton menyebarkan kosmik dari sebuah elektron
dalam suatu sintilator. Foton tersebar kemudian bergerak kebawah ketingkat
kedua bahan sintilator yang benar-benar menyerap foton tersebar. Comptel
merupakan bentuk perkembangan dari teleskop pencar Compton. Prinsip kerja
Comptel :
Sebuah foton masuk dari atas dan menyebarkan Compton di lapisan
deteksi pertama (biru) kemudian sebagian diserap dalam lapisan kedua (hijau).
Area efektif yang dapat dideteksi oleh teleskop pencar Compton relatif kecil,
karena hanya sejumlah kecil insiden sinar gamma Compton tersebar ditingkat
atas. Resolusi energi untuk detektor ini cukup baik 5-10%, dibatasi oleh
ketidakpastian dalam pengukuran energi yang disimpan oleh setiap lapisan.

14
Penelitian teleskop Compton pada saat ini menekankan pada cara
pelacakan elektron tersebar ditingkat atas, sehingga solusi lengkap untuk lintasan
masuk dari sinar gamma dapat ditentukan. Hal ini memungkinkan Comptel
memiliki pendekatan analisis data lebih konvensional.

2. Spektroskopi gamma
Sinar gamma ini dihasilkan oleh suatu bahan radioaktif. Sinar gamma
adalah termasuk sinar yang tidak dapat dilihat oleh mata, untuk itu perlu adanya
detektor. Detektor yang digunakan adalah NaI (Tl). Apabila sinar gamma
mengenai detektor NaI(Tl) maka akan terjadi tiga efek, yaitu efek fotolistrik, efek
compton dan bentukan pasangan. Efek fotolistrik terjadi apabila ada sinar gamma
yang mengenai elektron di kulit K dari sebuah atom maka elektron tersebut akan
kosong sehingga akan diisi oleh elektron dari kulit yang lain, transisi ini yang
menyebabkan terjadinya efek fotolistrik. Efek compton adalah efek yang terjadi
apabila sinar gamma mengenai elektron bebas atau elektron terluar dari suatu
atom yang dianggap daya ikatnya sangatlah kecil sehingga sama dengan elektron
bebas. Apabila sinar gamma memancar ke elektron bebas ini maka akan terjadi
hamburan, yang disebut hamburan compton. Sedangkan Efek bentukan pasangan
terjadi ketika sinar gamma melaju di dekat inti atom sehingga akan terbentuk
pasangan positron dan elektron, syaratnya tenaga sinar haruslah cukup. Dari
ketiga efek tersebut, efek comptonlah yang paling kuat hal ini diakibatkan karena
tenaga yang digunakan untuk melepas elektron juga yang lebih besar. Dan dari
ketiga efek tersebut menghasilkan sintilasi atau pancaran cahaya, pancaran cahaya
ini akan diteruskan ke fotokatoda yang dapat menguraikan cahaya ini menjadi
elektron-elektron. Elektron ini masih lemah maka harus dikuatkan lagi dayanya
oleh pre amplifier, dan dikuatkan tinggi pulsa dengan amplifier. Lalu elektron tadi
dimasukkan ke PMT yang terdiri dari tegangan bertingkat dan banyak katoda,
keluaran dari PMT menjadi berganda. Kemudian melalui counter nilai cacahnya
dapat diketahui. Dalam spektroskopi gamma juga dicari resolusi tenaganya,
semakin kecil resolusinya semakin bagus data yang diperoleh, semakin besar
resolusinya maka semakin tidak valid data yang diperoleh.

15
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Efek fotolistrik adalah pengeluaran elektron dari suatu permukaan
(biasanya logam) ketika dikenai, dan menyerap, radiasi
elektromagnetik (seperti cahaya tampak dan radiasi ultraungu) yang
berada di atas frekuensi ambang tergantung pada jenis permukaan.
2. Efek Compton merupakan gejala hamburan (efek) dari penembakan suatu
materi dengan sinar-X. Percobaan Compton cukup sederhana yaitu
sinar Xmonokromatik (sinar X yang memiliki panjang gelombang tunggal)
dikenakan pada keping tipis berilium sebagai sasarannya. Kemudian untuk
mengamati foton dari sinar X dan elektron yang terhambur dipasang
detektor.
3. Penerapan efek fotolistrik dalam kehidupan sehari-hari yaitu pada sel
surya, dubbing film,tabung foto pengganta, diode laser photo.
4. Penerapan efek Compton dalam kehidupa yaitu, teleskop Compton dan
spektroskopi gamma.

16
DAFTAR PUSTAKA

Eisberg, R. & Resnick, R. 1985. Quantum Physics of Atoms, Molecules, Solids,


Nuclei, and \ Particles. 2nd ed. New York: John Wiley & Sons.
Purwanto, Agus. 2016. Fisika Kuantum. Surabaya : Gavamedia.
Siregar, Rustam. 2018. Fisika Kuantum. Bandung : Departemen Fisika
Universitas Padjadjaran
Mariana, Umma. B., dkk, (2017), Percobaan Efek Fotolistrik Berbasis
Mikrokontroller Dengan Led RGB Sebagai Sumber Cahaya, Jurnal Inovasi
Fisika Indonesia, (06), 90 –96.
Muji, Mulyati. R., dkk, (2018), Miskonsepsi Mahasiswa Pendidikan Fisika Pada
Materi Efek Fotolistrik, Jurnal Phenomenon, (08), 36 –45.
Surtarno., dkk, (2017), Radiasi Benda Hitam Dan Efek Fotolistrik Sebagai
Konsep Kunci Revolusi Saintifik Dalam Perkembangan Teori Kuantum
Cahaya, Jurnal Ilmiah Multi Sciences, (XI), 51 –58.
https://id.wikipedia.org/wiki/Efek_fotolistrik (diakses tanggal 23 Agustus 2019)

17