Anda di halaman 1dari 20

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

DINAS KESEHATAN
UNIT PELAKSANA TEKNIS RUMAH SAKIT UMUM MOHAMMAD NOER PAMEKASAN
Jl. Bonorogo No. 17 Telp. (0324) 322594 – Fax. 323085 Email: bp4.pamekasan@gmail.com
PAMEKASAN 69323

KEPUTUSAN
DIREKTUR UNIT PELAKSANA TEKNIS RUMAH SAKIT UMUM MOHAMMAD NOER
PAMEKASAN
NOMOR: 440 / 2768 / KPTS / 102.6 / 2017
TENTANG
KEBIJAKAN AKSES DAN KONTINUITAS PELAYANAN
DI UNIT PELAKSANA TEKNIS RUMAH SAKIT UMUM MOHAMMAD NOER PAMEKASAN

DIREKTUR UNIT PELAKSANA TEKNIS RUMAH SAKIT UMUM MOHAMMAD NOER


PAMEKASAN
Menimbang : a. Bahwa dalam upaya memberikanaksespelayanan yang cepat,bermututinggi,
dandenganmemperhatikankeselamatanpasiensertauntukmemberikan
kepuasankepadapasiendankeluargadi Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum
Mohammad Noer Pamekasan maka diperlukan penyelenggaraan pelayanan yang
berkesinambungan mulai dari pasien masuk sampai pasien keluar ;
b. Bahwa agar akses pelayanandan kontinuitaspelayanan dapat dilaksanakandengan
baik, makaperlu adanya kebijakan Direktur Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit
Umum Mohammad Noer Pamekasan sebagai landasan bagi penyelenggaraan
pelayanan di Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum Mohammad Noer
Pamekasan;
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a dan b
makaperlu ditetapkan Kebijakan AksesPelayanan danKontinuitasPelayanan
diUnit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum Mohammad Noer Pamekasan
dengan Peraturan Direktur Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum
Mohammad Noer Pamekasan.
Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia no :44 tahun 2009 Tentang Rumah Sakit;
2. Undang – Undang nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
3. Undang – Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
4. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no :
1203/Menkes/SK/XII/2008 tentang Standar Pelayanan Intensif Care Unit Rumah
Sakit
6. Peraturan Menteri Kesehatan no : 269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis
7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no :
1087/Menkes/SK/VIII/2008 tentang Standart Keselamatan dan Kesehatan Kerja
8. Peraturan Kepala Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum Asy-Syaafi Nomor :
181.4/458/101.12/2016 tentang Kebijakan Pelayanan Pasien Rumah Sakit Umum
Asy-Syaafi Pamekasan.

MEMUTUSKAN
Menetapkan:
Pertama : Keputusan direktur Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum
Mohammad Noer Pamekasan tentang kebijakan Akses pelayanan dan
Kontinuitas pelayanan di Rumah sakit
Kedua : Kebijakan Akses peleyanan danKontinuitas PelayananUnit Pelaksana
Teknis Rumah Sakit Umum Mohammad Noer Pamekasansebagaimana
tercantum dalam lampiran Keputusan ini.
Ketiga : Pembinaan dan Pengawasan pelaksanaan Akses Pelayanan dan Kontinuitas
pelayanan di Unit Pelaksana Teknis RumahSakit Mohammad Noer
Pamekasan dilaksanakan oleh setiap ManagerKepala Bagian dan
Kepalaruang terkait.

Ditetapkan di Pamekasan
Pada tanggal 03 November 2017
Direktur
Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit
UmumMohammad Noer Pamekasan

dr . Setya budiyono,M.Kes
Pembina Tk I
NIP. 19710514 200012 1 002
KEBIJAKAN AKSES danKONTINUITAS PELAYANAN
Di Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum Mohammad Noer Pamekasan

A. KebijakanUmum
1. Pelayanan kesehatan yang di selenggarakan di Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum
Mohammad Noer Pamekasan merupakan pelayanan terhadap manusia secara utuh, dilakukan
sebagai wujud ucapan syukur atas karunia keselamatan yang telah kita terima dari Tuhan Yang
Maha Esa.
2. Pelayanan yang diberikan kepada pasien harus berorientasi pada keselamatan pasien danupaya
peningkatan mutu, sesuai dengan visi , misi dan nilai dasar yang ada di Rumah SakitUmum
Mohammad Noer Pamekasan
3. Seluruh staf Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum Mohammad Noer Pamekasan harus
bekerja sesuai dengan standar profesi,pedoman,panduan dan standar prosedur operasional
yang berlaku, serta sesuai dengan etika profesi,etika rumah sakit serta peraturan perusahan
yang berlaku
4. Pelayanan rumah sakit dilaksanakan dalam 24 jam, kecuali di unit- unit tertentu.
5. Rumah sakit memberikan pelayanan yang seragam bagi semua pasien dan dicatat dalamrekam
medis pasien.
6. Pelayanan rumah sakit di setiap unit kerja harus selalu berfokus pada pasien dengan
melaksanakan akses pelayanan dan kontinuitas serta dengan memberikan edukasi kepada
pasien dan keluarga.
7. Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum Mohammad Noer Pamekasan selalu memberikan
pelayanan terlebih dahulu tanpa memungut uang muka.
8. Rumah sakit memberikan pelayanan sosial bagi pasien yang tidak mampu.
9. Seluruh karyawan Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum Mohammad Noer Pamekasan
dalam melaksanakan pekerjaannya wajib sesuai dengan ketentuan K3 (Keselamatan dan
Kesehatan Kerja), termasuk dalam penggunaan APD (Alat Pelindung Diri).
10. Rumah sakit dalam memberikan pelayanan menghormati hak pasien dan keluarga
sesuaidengan undang-undang dan nilai–nilaiserta kepercayaan yang dianut oleh pasien.
11. Dalam memberikan pelayanan kepada pasien setiap petugas harus memperhatikan privasi
pasien.
12. Semua petugas yang terlibat dalam memberikan pelayanan kepada pasien wajib melakukan
handhygiene dengan “five moment dan 6 langkah cuci tangan“
13. Semua petugas wajib memiliki izin, lisensi, sertifikasi sesuai dengan standar profesi dan
ketentuan yang berlaku di Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum Mohammad Noer
Pamekasan.
14. Penyediaan tenaga di setiap unit kerja harus mengacu pada pola ketenagaan.
15. Peralatan di unit kerja harus selalu siap pakai dan dilakukan pemeliharaan dan kalibrasi secara
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
16. Dalam melaksanaksan fungsi koordinasi dan evaluasi maka setiap unit kerja
wajibmelaksanakan rapat rutin bulanan minimal 1 kali dalam 1 bulan.
17. Semua kepalaseksi, kepala bagian, manager dan direksi wajib untuk membuat laporanbulanan
dan tahunan.
18. Rumah sakit menjalankan program keselamatan pasien melalui 7 standar keselamatan pasien, 7
langkah keselamatan pasien , dan 6 sasaran keselamatan pasien.
19. Rumah sakit menjalankan program PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal
EmergencyKomprehensif) untuk menurunkan angka kematian bayi dan ibu serta
meningkatkankesehatan ibu.
20. Rumah sakit melaksanakan penanggulangan TB sesuai dengan pedoman strategi DOTS.
21. Rumah sakit melaksanakan penanggulangan HIV /AIDS sesuai dengan pedoman ODHA serta
disesuaikandengan kemampuan Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum Mohammad
NoerPamekasan.
22. Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum Mohammad Noer Pamekasanakanmerujuk pasien
jika diperlukan pelayanan dan fasilitas yang tidak tersedia di Unit Pelaksana Teknis Rumah
Sakit Umum Mohammad Noer Pamekasan atau atas permintaan pasien / keluarga.

B. KebijakanKhusus
I. SKRINING
1. Skrining Kontak Pertama
Skrining dilakukan pada area :
1. Diluar rumah sakit.
2. Pendaftaran
3. Poliklinik
4. IGD
Skrining dilakukan melalui:
1. Kriteria triage
2. Evaluasi visual atau pengamatan
3. Pemeriksaan fisik atau hasil dari pemeriksaan fisik, psikologik
4. Pemeriksaan Laboratorium atau diagnostic imajing sebelumnya
Skrining secara visual dilakukan dengan caramengamati:
 Cara berjalan pasien,normal,memakai alat bantu
 Keadaan umum pasien : sesak nafas,pucat,sianosis/kebiruan
 Ekspresi wajah ,apakah kesakitan,keringat dingin
2. Skrining di LuarRumahSakit
Untuk skrining di luarRumahsakit dapat dilakukan di Instalasi Gawat Darurat
(IGD) melalui interaksi per telepon. Interaksi telepon bisa datang dari pasien atau
keluarga pasien yang mencari informasi dengan melakukan panggilan ke nomor rumah
sakit, atau dari fasilitas kesehatan luar rumah sakit yang berencana merujuk pasien ke
rumah sakit Umum Mohammad Noer Pamekasan, akan diterima oleh operator yakni
petugas admisi, atau tenaga medis dan paramedis yang ada di ruangan terkait (IGD/IRJ)
setelah disambungkan olehoperator.
.
3. Skrining pasien dipendaftaran.
a. Skrining kebutuhan pelayanan.
Skrining kebutuhan pelayanan bertujuan untuk mengarahkan pasien mendapatkan
pelayanan sesuai kebutuhan.
b. Skrining prioritas pelayanan.
Proses skrining untuk pasien yang datang ke Instalasi Rawat Jalan (poliklinik)
dilaksanakan melalui evaluasi visual atau pengamatan oleh petugas rekam medis.
Evaluasi visual atau pengamatan merupakan salah satu kegiatan pemilahan pasien
melalui visual atau pengamatan untuk menentukan apakah pasien ini membutuhkan
penanganan segera atau tidak (prioritas penanganan pasien). Setelah dilakukan
evaluasi visual atau pengamatan, dapat diambil keputusan sebagai berikut:
a. Poliklinik sesuai antrian
b. IGD
4. Skrining Pasien Poliklinik
Skrining rawat jalan dilakukan oleh dokter dan perawat di rawa jalan. Skrining rawat
jalan meliputi :
a. Kondisi umum pasien
b. Penilaian nyeri
c.Skrining pasien jatuh
d. Skrining hambatan pasien
5. Skrining Di Rawat Inap
- Kebutuhan pasien yang berkenaan dengan pelayanan preventif, kuratif, rehabilitative
dan paliatif dan isolasidiprioritaskan
- Skrining pasien indikasi rawat inap dapat dilakukan oleh dokter umum melalui
UGD/Poliklinik umum dan oleh dokter spesialis
- Pasien akan masuk pada kriteria kuratif, preventif, rehabilitative, pasien indikasi
rawat inap, memerlukan kamar isolasi atau dapat berobatjalan.

II. Standing Order


Standing Order adalah pemeriksaan penunjang diagnostic standar yang harus sudah dilakukan
di Instalasi Gawat Darurat sebelum pasien dipindahkan ke ruangan biasa, ruangan khusus atau
dirujuk.
A. Pasien dengan febris > 3 hari
 Darah Rutin (Hb,Ht,Trombo,Lekosit)
B. Pasien dengan febris > 5 hari
 Darah Rutin
 Urin Rutin
 IgM Salmonella
C. Pasien GE
 Darah Rutin
 Feses rutin
 Elektrolit
D. Pasien Stroke
 CT-scan kepala
 ECG
 Thorax Foto
 Darah rutin
 GDS
 Ureum , Creatinin
 SGOT, SGPT
 Cholesterol Total, HDL, LDL
 Trigliserid
 Elektrolit (Na,K,Ca)
 Analisa Gas Darah ( untuk pasien penurunan kesadaran, RR > 30X/menit, Saturasi <
95%
E. Pasien Nyeri Dada
 ECG
 CKMB (cito)
 Troponin I (cito)
 Darah rutin
 GDS
 SGOT/SGPT
F. Pasien Gangguan Ginjal
 Ureum/creatinin
 Urin rutin
 Darah rutin
 Elektrolit
 BGA (bila sesak nafas)
G. Pasien Cedera Kepala
 CT-scan Kepala
 Darah rutin
H. Pasien Sakit Perut (Kolik abdomen)
 Darah rutin
 Urin rutin
 Plano tes (untuk wanita usia subur)
 USG abdomen
 BNO/LLD ( dHCUrigai trauma abdomen)
I. Pasien pro operasi
 Paket Operasi 1 : untuk pasien operasi usia < 30 tahun dan operasi bersih :
- Darah Rutin
- Golongan darah
- APTT / PTTK
 Paket Operasi 2 : untuk pasien operasi usia > 30 tahun tanpa komplikasi :
- Darah Rutin
- Golongan darah
- APTT / PTTK
- GDS
 Paket Operasi 3 : untuk pasien operasi usia > 30 tahun dengan komplikasi
- Darah Rutin
- Golongan darah
- APTT / PTTK
- GDS
- Rontgen Thorax
- EKG
- Ureum, creatinin
- Konsul Spesialis Penyakit Dalam atau Spesialis Anak

III. PENDAFTARAN PASIEN RAWAT JALAN DAN PENERIMAAN PASIEN RAWAT


INAP
A. Pelayanan Pendaftaran Rawat Jalan
a. Pasien baru
Setiap pasien baru mengambil nomor antrian pendaftaran, setelah giliran antrian
akan di registrasi dan akan diwawancarai oleh petugas guna mendapatkan data identitas
yang akan ditulis diberkas rekam medis dan di entry pada komputer.

b. Pasien lama
1. Pasien lama dengan jenis pasien umum yaaitu pasien yang melakukan pembayaran
langsung
2. Pasien baru dan lama dengan pembayaran jaminan (Asuransi )
B. Pasien Gawat Darurat
a. Sistem Pencatatan rekam medik
1) Identitas Penderita
 Penderita datang sendiri dan dalam keadaan sadar, maka petugas pendaftaran
gawat darurat mendatangi penderita untuk mendapatkan identitas
selengkapnya.
 Penderita datang dengan keluarga, maka keluarga penderita tersebut mendaftar
ke tempat pendaftaran gawat darurat
 Penderita tak sadar tanpa keluarga: Sementara diberi kode MR “X” atau MRS
“X” sampai ada keluarga yang mampu memberikan identitas penderita atau
penderita sendiri dapat memberikannya.
 Penderita tak sadar dengan keluarga: maka keluarga penderita mendaftar ke
tempat pendaftaran pasien gawat darurat.
2) Berkas rekam medik instalasi rawat darurat
- Petugas tempat pendaftaran mengisi identitas sosial pada format yang telah
disediakan.
- Berkas rekam medis selanjutnya akan diisi oleh dokter dan perawat yang
memeriksa dan yang melakukan pelayanan kepada penderita.
- Berkas rekam medik dikirim ke :
 Bila penderita lansung pulang/meninggal setelah dirawat di IGD: berkas
rekam medis dikirim dan disimpan di ruang filling Rekam Medik rawat
jalan.
 Bilamana penderita rawat inap : berkas rekam medik IGD disertakan
bersama berkas rekam medik rawat inap ke instalasi rawat inap yang
dituju.
 Foto radiologi diberikan kepada penderita namun hasil bacaan tersimpan
dalam berkas RM.
 Hasil pemeriksaan penunjang lainnya disimpan dalam berkas rekam
medik untuk kepentingan kronologi data penderita
b. Registrasi penderita
 Registrasi penderita dilaksanakan secara sentral melalui satu tempat registerasi /
pendaftaran penderita.
 Satu penderita hanya memiliki 1 (satu) nomor registerasi rekam medik untuk semua
jenis pelayanan di RS yakni sama dengan nomor rawat inap dan rawat jalan.
 Pemberian nomor dilakukan berdasarkan bank nomor yang telah ada.
c. Pengisian berkas rekam medik
 Kelengkapan pengisian berkas rekam medik menjadi tanggung jawab dokter dan
petugas yang saat itu bertugas melayani penderita di Instalasi Gawat Darurat.
 Bilamana penderita perlu dirawat inap, maka keluarga pasien akan melakukan
pendaftaran di Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Inap untuk dibuatkan berkas
rekam medis rawat inapnya.
C. Pelayanan Pendaftaran Pasien Rawat Inap
Tempat penerimaan pasien rawat inap dinamakan TPPRI (Tempat Pendaftaran
Pasien Rawat Inap) yang fungsi utamanya adalah menerima pasien untuk dirawat di
Rumah Sakit Umum Mohammad Noer Pamekasan.

IV. PENUNDAAN PELAYANAN ATAU PENGOBATAN

Penundaan / perubahan jadwal adalah penundaan atau perubahan jadwal pelayanan atau
pengobatan yang disebabkan oleh berbagai hal seperti :kondisi pasien, dokter berhalangan,
kerusakan alat, masalah administrasi dan lain – lain ( bukan berasal dari keinginan pasien ).
A. PERNYATAAN KEBIJAKAN
1) Penjelasan tentang penundaan / perubahan jadwal pelayanan atau pengobatan yang
disebabkan oleh masalah medis dilakukan oleh dokter yang akan melakukan pelayanan
atau pengobatan.
2) Pada kondisi dimana dokter tidak dapat memeberi penjelasan alasan penuduhan
tindakan, maka dapat diwakilkan kepada manajemen RSU Moh Noer Pamekasan
3) Penjelasan tentang penundaan / perubahan jadwal pelayanan atau pengobatan yang
disebabkan oleh masalah unit dilakukan oleg petugas unit terkait.
4) Penjelasan tentang penundaan / perubahan pelayanan jadwal pelayanan atau
pengobatan yang disebabkan oleh masalah kerusakan alat dilakukan oleh penanggung
jawab unit.
5) Informasi yang diberikan kepasien berkaitan dengan penundaan / perubahan jadwal
pelayanan atau pengobatan paling sedikit meliputi : alasan penundaan, rencana jadwal
berikutnya.
6) Untuk pasien dengan indikasi CITO dan mengalami penundaan tindakan / pelayanan
atau pengobatan yang mengakibatkan baik masalah adiministrasi maupun masalah
kerusakan alat, maka pasien tersebut harus segera dirujuk kerumah sakit yang
mempunyai pelayanan atau pengobatan sejenis.
7) Semua proses penundaan pelayanan atau pengobatan pasien dicatat dalam case note.
B. PENUNDAAN SEBELUM PASIEN DIRAWAT
1) Apabila penundaan / perubahan jadwal pelayanan atau penobatan disebabkan masalah
administrasi, maka petugas Administrasi menghitung pasien, dokter dan perawat untuk
menginformasikan tentang penundaan / perubahan jadwal pelayanan atau pengobatan.
2) Apabila penundaan / perubahan jadwal pelayanan atau pengobatan disebabkan oleh
dokter berhalangan pada jadwal yang ditentukan, maka kepala unit menginformasikan
tentang penundaan / perubahan jadwal pelayanan atau pengobatan tersebut kepada
pasien.
3) Apabila penundaan / perubahan jadwal pelayanan atau pengobatan disebabkan
kerusakan alat, maka Penanggung jawab unit tersebut menghubungi pasien dan dokter
untuk menginformasikan tentang penundaan / perubahan jadwal pelayanan atau
pengobatan.
C. PENUNDAAN SETELAH PASIEN DIRAWAT
Apabila terdapat kondisi yang menyebabkan penundaan / perubahan jadwal pelayanan atau
pengobatan seperti :
1) Masalah medis :
a. Dokter member penjelasan tentang penyebab penundaan / perubahan jadwal
pelayanan atau pengobatan dan menjadwalkan ulang rencana pelayanan atau
pengobatan.
b. Pasien dipulangkan menunggu kondisi pasien secara medis sudah layak untuk
dilakukan pelayanan atau pengobatan dan dijadwalkan berikutnya.
2) Masalah administrasi :
a. Petugas administrasi menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang penyebab
penundaan / perubahan jadwal pelayanan atau pengobatan.
b. Petugas administrasi menginformasikan kedokter dan perawat bahwa pelayanan
atau pengobatan belum bias dilakukan.
c. Perawat menghubungi dokter untuk meminta penjadwalkan ulang.
d. Pasien dipulangkan / menunggu sampai masalah administrasi selesai.
e. Apabila masalah administrasi sudah selesai, maka pasien harus melakukan
penjadwalan ulang.
3) Masalah fasilitas / kerusakan alat medis :
a. Penanggung jawab unit memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga
tentang penyebab penundaan / perubahan jadwal pelayanan atau pengobatan.
b. Penanggungj awab unit menghubungi dokter dan memberikan penjelasan tentang
penyebab penundaan / perubahan jadwal pelayanan atau pengobatan.
c. Pasien diruju kkerumah sakit lain yang mempunyai fasilitas pelayanan atau
pengobatan yang sama atau dipulangkan menunggu sampai alat diperbaiki.
d. Apabila alat sudah diperbaiki, maka penanggung jawab unit menghubungi dokter
untuk penjadwalan ulang dan menhubungi pasien untuk menginformasikan jadwal
yang telah ditentukan dokter.
V. Penunjukan DPJP dan pengelompokan staf medis
 Regulasi tentang penunjukan seorang DPJP untuk mengelola seorang pasien,
pergantian DPJP, selesainya DPJP karena asuhan medisnya telah tuntas,
ditetapkan Direktur / Kepala Rumah Sakit. Penunjukan seorang DPJP dapat a.l.
berdasarkan permintaan pasien, jadwal praktek, jadwal jaga, konsul/rujukan langsung.
Pergantian DPJP perlu pengaturan rinci tentang alih tanggungjawabnya.
 Regulasi tentang pelaksanaan asuhan medis oleh lebih dari satu DPJP dan
penunjukan DPJP Utama, tugas dan kewenangannya ditetapkan Direktur /
Kepala Rumah Sakit.
 Kriteria penunjukan DPJP Utama untuk seorang pasien dapat digunakan butir butir sbb:
 DPJP Utama dapat merupakan DPJP yang pertama kali mengelola pasien pada awal
perawatan.
 DPJP Utama dapat merupakan DPJP yang mengelola pasien dengan penyakit dalam
kondisi (relatif) terparah.
 DPJP Utama dapat ditentukan melalui kesepakatan antar para DPJP terkait.
 DPJP Utama dapat merupakan pilihan dari pasien
 Pengaturan tentang pengelompokan Staf Medis ditetapkan oleh Direktur sesuai kebutuhan.
Pengelompokan dapat dilakukan a.l. dengan kategori per disiplin (Kelompok Staf Medis
Bedah, Penyakit Dalam, Radiologi, Mata dsb), kategori penyakit (Kelompok Kerja / Tim
Kanker Payudara, Kanker Cerviks, dsb), kategori organ (Kelompok Kerja / Tim
Cerebrovasculer, Cardiovasculer, Hati, dsb).
VI. Kriteria Pasien Pulang Rawat Inap
a. Dinyatakan sembuh oleh Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP)
b. Keluhan membaik/ sudah tidak ada keluhan
c. Hasil pemeriksaan penunjang membaik/ normal kembali
d. Kondisi pasien stabil
e. Dinyatakan sembuh oleh Dokter Penanggung Jawab Pasien.
VII. Kriteria Pasien Stabil
 Dewasa
a. Tidak ada ancaman sumbatan jalan nafas, bila ada sudah diatasi. Saturasi oksigen > 90%
b. Tanda-tanda vital:
1) Capillary Refill Time < 3 detik
2) Nadi : kuat, Frekuensi > 50X/menit dan < 150 X/menit
3) Tekanan Darah systole > 80 mmHg dan < 170X/menit
4) Respirasi < 35X/menit dan > 12 X/menit
5) Suhu >360C dan <39 °C
6) Skala nyeri 1 – 5
Bila telah memenuhi 4 kriteria dari 6 kriteria tersebut sudah dinyatakan stabil dan
pasien boleh ditransfer ke ruangan khusus atau dirujuk.
7) Sudah tidak kejang
Tidak ada masalah metabolik
8) Na > 110mEq/L dan < 170mEq/L
9) K > 2mEq/L dan < 7 mEq/L
10) PaO2> 50 mmHg
11) pH > 7,1 mmHg dan < 7,7 mmHg
12) GDS > 80 mmHg dan < 300 mmHg
13) Calcium serum < 15mg/dl
14) Gambarn EKG sinus rhytm
Masalah spesifik pasien sudah dilakukan manajemen medis
 Resusitasi cairan
 Immobilisasi: cervical, Fraktur, lumbal
 Menghentikan perdarahan luka
 Anak
a. Tidak ada ancaman sumbatan jalan nafas, bila ada sudah diatasi.
Saturasi oksigen > 90%
b. Tanda-tanda vital:
1) Capillary Refill Time < 3 detik
2) Frekuensi jantung
 Bayi 90 – 180 X/menit
 1 th 80 – 160 X/menit
 1 – 4 th 80 – 120 X/ menit
 5 – 12 th 70 – 110 X/menit
3) Tekanan Darah
Umur Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Neonatal 75 - 105 45 - 75
2 – 6 th 80 – 110 50 - 80
7 – 9 th 85 – 120 50 - 85
10 – 14 th 95 – 140 60 -90

4) Respirasi
 Bayi 30 -60X /menit
 1 th 25 – 40X/menit
 1-4 th 20 – 30 X/menit
 5-12 th 16 – 20X/menit
5) Kulit dan bibir kemerahan
6) Suhu aksila > 36 - <390C
7) Skala nyeri 0 -5
8) Kejang sudah teratasi
Masalah metabolic sudah teratasi
9) Na > 110mEq/L dan < 170mEq/L
10) K > 2mEq/L dan < 7 mEq/L
11) PaO2> 50 mmHg
12) pH > 7,1 mmHg dan < 7,7 mmHg
13) GDS > 80 mmHg dan < 300 mmHg
14) Calcium serum < 15mg/dl
Masalah spesifik pasien sudah dilakukan manajemen medis
 Resusitasi cairan
 Menghentikan perdarahan luka
 Pemeriksaan penunjang sudah dilakukan.
 Pasien diberi informasi apabila akan terjadi penundaan pelayanan atau pengobatan dan
diberikan juga informasi alternatif yang tersedia.
 Pasien dan keluarga diberikan informasi atau penjelasan saat admisi dan registrasi
tentang pelayanan yang ditawarkan,hasil pelayanan yang diharapkan,dan perkiraan
biaya.
 Pasien yang mengalami hambatan baik kendala fisik,bahasa dan budaya dilayani
dengan dilakukan identifikasi terlebih dahulu.
VIII. Discharge Planning
Dischargeplanning dilakukan pada semua pasien yang berada di rawat jalan maupun rawat
inap. Dischargeplanning dilakukan oleh dokter dan perawat pada pasien pulang dalam kondisi
sembuh, kritis, maupun pulang atas permintaan sendiri.
Prinsip discharge planning
a. Koordinasi (saling berhubungan)
b. Interdisiplin (saling menjaga, disiplin ilmu, keterampilan sesuai standar keperawatan)
c. Pengenalan secara dini mungkin (penjelasan tentang apa yang kita informasi)
d. Perencaan secara hati-hati
e. Melibatka klien dan keluarga dalam memberikan perawatan
Karakteristik indikasi kebutuhan discharge planning:
a. Kurang pengetahuan tentang pengobatan
b. Isolasi sosial
c. Diagnosa baru penyakit kronik
d. Operasi besar
e. Perpanjangan operasi besar
f. Oramg labil
g. Penatalaksanaan dirumah secara kompleks
h. Kesulitan financial
i. Ketidakmampuan menggunakan sumber rujukan/fasilitas pelayanan kesehatan
j. Penyakit terminal
Prioritas klien yang mendapat discharge planning
a. Umur >70 th
b. Maltipe diagnosa
c. Resiko kematian tinggi
d. Terbatas mobilitas fisik
e. Keterbatasan merawat diri sendiri
f. Penurunan status kognitif
g. Resiko terjadinya cidera
h. Tunawisma
i. Fakir miskin
j. Penyakit kronis
k. Pasien diagnosa baru
l. Penyalahgunaan zat
m. Sering keluarmasuk emergency

KriteriaPasienSembuh / stabil :
a) Jalan nafas paten
b) Breathing adekuat
c) Sirkulasi hemodinamik stabi
d) Suhu : demam ↓ ≤ 39 ⁰Celcius
e) Perdarahan teratasi
f) Luka telah dirawat, dijahit, dibebat
g) Fraktur telah dipasang bidai
h) Nyeri teratasi dan berkurang, nyeri ringan VAS 1-3
i) Tidak kejang
j) Tidak inpartu kala 1 fase aktif, kala 2, organ bayi menumbung, kala 3
3.1 Tahapan dalam Discharge Planning
A. Pengkajian
Yang harus dikaji adalah :
1. Data kesehatan
2. Data pribadi
3. Pemberi perawatan
4. Lingkungan
5. Keuangan dan pelayanan yang dapat mendukung.
B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang digunakan berdasarkan hasil dari pengkajian
dischargeplanning. Keluarga sebagai unit pemberi perawatan berdampak pada anggota
keluarga yang membutuhkan perawatan.
C. Perencanaan
Perawat berfokus pada kebutuhan perawatan selanjutnya dengan baik serta untuk
mempersiapkan pemulangan klien, yang disingkat dengan METHOD, yaitu :
 Medication
Pasien harus mengetahui obat yang dilanjutkan setelah pulang.
 Treatment
Perawat harus memastikan bahwa perawatan yangdidapatkan pasien di rumah sakit
berjalan dengan baik sesuai kebutuhan klien, dan memberikan edukasi terhadfap
keluarga dan pasien antisipasi apa yang harus dilakukan jika pasien mengalami
kegawatan.
 Health Teaching
Pemberian edukasi bagaimana mempertahankan derajat kesehatan. Termasuk tanda dan
gejala yang mengindikasikan pemberian perawatan kesehatan tambahan.
 Outpatient Referral
Pasien harus mengenal pelayanan dari Rumah Sakit yang dapat meningkatkan perawatan
yang kontinue selama dirawat di Rumah sakit, termasuk kapan pasien akan menjalani
kontrol, dimana dan kepada siapa pasien harus kontrol.
 Diet
Pasien harus mengetahui diet yang yang sesuai untuk dirinya.
D. Implementasi
Pelaksanaan perencanaan pulang yang dilakukan kepada pasien dapat dilakukan dengan
cara edukasi maupun demonstrasi, dan pasien harus mendapatkan instruksi tertulis yang
dapat dibawa pulang.
E. Evaluasi
Evaluasi discharge planning dapat dilakukan pada saat pasien kontrol.

3.2 Langkah-Langkah Discharge Planning


A. Asesmen awal saat pasien masuk rumah sakit
1. Identifikasi pasien, persiapan dan rancang dischargeplanning.
2. Peninjauan ulang rekam medis (anamnesis, hasil pemeriksaan fisik, diagnosis dan tata
laksana).
3. Lakukan anamnesis: identifikasi alasan pasien dirawat.
4. Asesmen kebutuhan perawatan pasien berdasarkan kondisi dan penyakit yang
dideritanya.
5. Asesmen mengenai kemampuan fungsional pasien saat ini.
6. Asesmen mengenai kondisi keuangan dan status pendidikan pasien.
7. Asesmen mengenai status mental pasien.
8. Tanyakan mengenai medikasi terkini yang dikonsumsi pasien di rumah.
9. Identifikasi siapa penganggung jawab pasien.
10. Tanyakan mengenai harapan dan atau keinginan dari pasien dan atau keluarga.
11. Gunakan bahasa awam yang dimengerti.
12. Setelah asesmen pasien dilakukan maka diskusikan dengan tim multidisiplin mengenai :
a. Asesmen resiko
b. Perawatan apa yang tersedia untuk pasien
c. Verifikasi tempat perawatan pasien setelah pulang dari rumah sakit
B. Saat di ruang rawat inap
1. Tetapkan prioritas mengenai hal-hal yang dibutuhkan oleh pasien dan keluarga.
2. Gunakan pendekatan multidisiplin.
3. DPJP dan PPJP harus memastikan pasien memperoleh perawatan yang sesuai dan
adekuat serta proses dischargeplanning berjalan lancar.
4. Identifikasi dan latihan profesional kesehatan yang dapat merawat pasien.
5. Lakukan diskusi dengan pasien dan keluarga mengenai alasan dirawat, tata laksana,
prognosis dan dischargeplanning.
C. Saatpasienakandipulangkandarirumahsakit
1. Saat pasien tidak lagi memerlukan perawatan rumah sakit, pasien sebaiknya dipulangkan
dan memperoleh dischargeplanning yang sesuai.
2. Yang berwenang memutuskan pasien boleh pulang atau tidak adalah DPJP.
3. Pastikan bahwa pasien dan keluarganya berperan aktif dalam perencanaan dan
pemulangan pasien.
4. Lakukan penilaian pasien secara menyeluruh.
5. Berikan hak pasien saat dipulangkan yaitu mendapat penjelasan yang lengkap mengenai
diagnosis detail kontak yang dapat dihubungi, obat obatan dan tata laksana lanjutan.
6. Berikan semua berkas pasien dan resume medis yang lengkap.

IX. Kriteria Pasien Masuk HCU (High Care Unit)


Berdasarkan prioritas:
a. Prioritas 1
Kelompok ini merupakan pasien kritis, tidak stabil yang memerlukan terapi intensif
seperti dukungan/bantuan ventilasi, infus, obat-obat vasoaktif continue, dll. Pada
umumnya pasien kelompok ini tidak mempunyai batas ditinjau dari macam terapi yang
diterimanya.
Contoh: Pasca bedah kardiotoraksik, pasien shock septic, pasien dengan atau potensial
gagal nafas,
b. Prioritas 2
Pasien kelompok ini memerlukan pelayanan pemantauan canggih dari HCU, misalnya
pulmonary arterial catether. Pada prioritas 2 umumnya tidak terbatas macam terapi
yang diterima, mengingat kondisi mediknya senantiasa berubah. Contoh: pasien dengan
penyakit dasar jantung, paru atau ginjal akut dan berat atau yang mengalami
pembedahan mayor
c. Prioritas 3
Pasien jenis ini sakit kritis dan tidak stabil dimana status kesehatannya sebelumnya,
penyakit yang mendasarinya, atau penyakit akutnya, baik masing-masing atau
kombinasinya, sangat mengurangi kemungkinan kesembuhan dan atau mendapat
manfaat dari terapi HCU.
Contoh: pasien dengan keganasan metastatic disertai penyulit infeksi, pericardial
tamponade atau sumbatan jalan nafas atau pasien penderita penyakit jantung paru atau
paru terminal disertai komplikasi penyakit akut berat. Pasien prioritas 3 mungkin
mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut, tetapi usaha terapi mungkin
tidak sampai melakukan intubasi atau resusitasi kardiopulmonal.
d. Indikasi social ( atas permintaan pejabat, pemerintahan atau instansi Negara )
X. Kriteria pasien keluar dari HCU
a. Pasien Prioritas 1
Pasien kelompok ini dikeluarkan dari HCU bila kebutuhan untuk terapi intensif telah
tidak ada lagi, atau bila terapi telah gagal dan prognosis jangka pendek jelek dengan
kemungkinan kesembuhan atau manfaat dari terapi intensif continue kecil.
b. Pasien Prioritas 2
Pasien kelompok ini dikeluarkan bila kemungkinan untuk mendadak memerlukan
terapi intensif telah berkurang.
c. Pasien Prioritas 3
Pasien kelompok ini dikeluarkan dari HCU bila kebutuhan untuk terapi intensif telah
tidak ada lagi, tetapi mereka mungkin dikeluarkan lebih dini bila kemungkinan
kesembuhannya atau manfaat dari terapi intensif continue kecil.
d. Terapi intensif tidak memberi manfaat dan tidak perlu diteruskan lagi pada:
 Pasien usia lanjut dengan gagal 3 organ atau lebih yang tidak memberikan
respon terhadap terapi intensif selama 72 jam
 Pasien mati batang otak atau koma ( bukan karena trauma) yang menimbulkan
keadaan vegetative dan sangat kecil kemungkinan pulih.
 Pasien dengan bermacam-macam diagnosis seperti COPD, Jantung terminal,
karsinoma metastase
 DNR (Do Not Resusitasi)
XI. Kriteria pasien cuti rawat inap
a. Pasien mendapat ijin dari Dokter Penanggung Jawab Pasien.
b. Pasien dalam kondisi stabil dan tidak menderita penyakit yang beresiko mengancam jiwa.
c. Pasien dan keluarga sudah menandatangani surat ijin keluar Rumah Sakit.
d. Batasan ijin cuti adalah maksimal 6 jam apabila pasien tidak kembali dihubungi melalui
telpon.
e. Alat kesehatan intravena yang digunakan harus dilepas dan akan dipasang lagi setelah
pasien kembali ke ruang rawat inap.
XII. Kriteria Pasien Dirujuk Ke Rumah Sakit Lain
Rujukan Tindakan atau penunjang medik:
a. Rujukan bersifat sementara, setelah tindakan atau pemeriksaan ke rumah sakit
rujukan akan kembali lagi ke rumah sakit semula.
b. Ada MOU dengan Rumah Sakit rujukan.
c. Rumah Sakit belum mempunyai penunjang medik yang diperlukan pasien
d. Alat penunjang medik rumah sakit sedang mengalami kerusakan
e. Rumah Sakit belum punya sumber daya manusia dan alat yang bisa melakukan tindakan
medis yang dibutuhkan pasien.

Rujukan ke Rumah sakit lain


a. Pasien dirujuk ke rumah sakit lain bila Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum
Mohammad Noer Pamekasan tidak dapat memberikan pelayanan sesuai kebutuhan pasien
b. Semua pasien yang dirujuk mendapatkan surat rujukan dan hasil pemeriksaan penunjang
yang ada.
c. Dokter Penanggung Jawab Pasien yang menentukan pasien harus di rujuk ke rumah sakit
lain yang mempunyai sumber daya yang dibutuhkan pasien.
d. Pasien yang dirujuk harus stabil
Pindah Rawat
a. Pasien pindah ke rumah sakit lain karena alasan permintaan pasien atau keluarga dan
tempat penuh
b. Pasien yang tidak indikasi dirawat dan minta dirawat di Rumah Sakit Lain maka tidak
perlu pendampingan petugas.
XIII. Kriteria Pendampingan Pasien Saat Transfer
Selama transfer pasien didampingi oleh petugas rumah sakit yang kompeten.
Pasien harus didampingi oleh dokter, jika:
a. Pasien sakit berat, dalam kondisi stabil yang memerlukan terapi intensif seperti bantuan
ventilator, pemberian obat vasoaktif melalui intravena terus-menerus.
( contoh: gagal nafas berat, syok septic )
b. Pasien yang memerlukan bantuan pemantauan intensif atau non invasive, dimana
komplikasi berat dapat terjadi tiba-tiba ( contoh: pasca bedah besar dan luas, pasien dengan
penyakit jantung, paru, GBS,dll)
Pasien dapat hanya didampingi oleh perawat jika:
a. Pasien dalam kondisi stabil yang tidak menderita penyakit yang beresiko dapat mengancam
jiwa, misalnya Febris, gastritis, DM tanpa asidosis, dll
b. Pasien yang dirujuk untuk menjalani prosedur diagnosis atau tindakan medis ke Rumah
Sakit lain dengan kondisi stabil
XIV. Transfer Pasien Di Dalam Dan Keluar Rumah Sakit
a. Proses transfer/ perpindahan pasien di dalam lingkungan rumah sakit
1) Pasien yang berada dalam kondisi tidak stabil/mengalami kedaruratan. Dalam proses
transfer pasien harus dalam kondisi stabil dan diberi pendampingan oleh perawat
yang mempunyai kompetensi menangani kegawatdaruratan serta membawa
emergency kit.
2) Sebelum pasien dipindahkan ke ruang lain , perawat yang mendampingi transfer
harus memberi informasi kepada petugas ruangan yang dituju untuk menjamin
kesiapan Sumber Daya Manusia dan sarana prasarana sesuai kebutuhan pasien.
b. Proses transfer keluar Rumah sakit / rujukan
1) Pasien yang berada dalam kondisi tidak stabil/mengalami kedaruratan, dalam proses
transfer pasien harus dalam kondisi stabil dan diberikan pendampingan oleh petugas
( dokter dan atau perawat ) yang mempunyai kompetensi menanganani
kegawatdaruratan dan membawa emergency kit
2) Sebelum pasien dipindah ke Rumah Sakit lain, petugas Unit Pelaksana Teknis
Rumah Sakit Umum Mohammad Noer Pamekasan harus memberi informasi rujukan
pasien ke Rumah sakit yang dituju agar menjamin kesiapan sumber daya manusia
dan sarana prasarana yang dibutuhkan pasien
3) Setiap pasien dirujuk harus menggunakan ambulance rumah sakit, apabila keluarga
menolak harus membuat surat penolakan dan alat kesehatan harus dilepas setelah
mendapat penjelasan dan memahami risiko yang mungkin terjadi, kecuali apabila
pasien dijemput oleh ambulan dan tenaga medis dari rumah sakit yang dituju.
4) Pasien hanya boleh dirujuk/dipindahkan ke RS lain apabila hasil pemeriksaan
penunjang diagnostic sudah tersedia.
5) Observasi selama transfer didokumentasikan pada form observasi saat rujukan.
6) Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum Mohammad Noer Pamekasan menjalin
kerjasama dengan Rumah sakit lain demi kelancaran proses rujukan pasien.
7) Penjemputan dengan ambulan harus didampingi tenaga kesehatan yang kompeten
menangani kegawatdaruratan.
c. Transportasi Pasien
1) Rumah Sakit menyediakan transportasi ambulan :
 Ambulan gawat darurat
 Ambulan jemputan
 Ambulan Pelayanan Kesehatan Masyarakat
 Ambulan transportasi
 Ambulan jenazah.
2) Bila Rumah Sakit tidak dapat melayani maka Rumah Sakit bekerjasama dengan
fasilitas kesehatan yang ada di kota kudus dan Perusahaan Pelayanan transportasi
jenazah.
d. Rujukan Tidak Mungkin Dilaksanakan Apabila
1) Pasien terminal
2) Pasien tidak stabil yang tidak berhasil dalam proses stabilisasi
3) Ruang Perawatan Kritis (HCU/IMC/ICCU) penuh di semua rumah sakit saat
dihubungi.
e. Pasien Tidak Mau Dirujuk ke Rumah Sakit Lain
1) Pasien diberi penjelasan resiko yang mungkin terjadi.
2) Pasien dan keluarga memahami penjelasan yang disampaikan petugas kesehatan
dan menandatangani penolakan dirujuk.

Ditetapkan di Pamekasan
Pada tanggal :

Direktur
Unit Pelaksana Teknis Rumah Sakit Umum
Mohammad Noer Pamekasan

dr , SETYA BUDIONO,M.Kes
Pembina tk I
NIP. 19710514 200012 1 002