Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum ke-1 Hari, tanggal : Rabu, 3 Oktober 2018

Teknik Dasar Nekropsi Waktu : 08.50 – 11.20


Hewan

TEKNIK NEKROPSI ANJING

Kelompok 2

1. Grace Tina A S B04160004


2. Ginanjar Retno S B04160006
3. Riko Saputra B04160007
4. Siti Asri Fuzianti B04160008
5. Aulia Dina Kristina B04160009
6. Febri Rizki A B04160010
7. Evi Inayati B04160011

BAGIAN PATOLOGI
DEPARTEMEN KLINIK REPRODUKSI PATOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2018
PENDAHULUAN
Nekropsi atau bedah bangkai adalah teknik lanjutan dari diagnosa klinik
untuk mengukuhkan atau meyakinkan hasil diagnosa klinik. Pada prinsipnya, bedah
bangkai adalah mengeluarkan organ-organ yang dihinggapi penyakit-penyakit
tertentu. Bedah bangkai hendaknya dilakukan secepat mungkin setelah hewan mati.
Untuk daerah tropis seperti Indonesia, sebaiknya bedah bangkai dilakukan tidak
lebih dari 6 jam setelah hewan mati. Hewan yang gemuk atau tertutup bulu lebih
cepat. Bila pelaksanaan bedah bangkai akan ditunda, bangkai dapat disimpan pada
refrigerator agar tidak membusuk. Bedah bangkai dapat dilakukan pada hewan
hidup atau pada hewan mati. Jika menggunakan hewan hidup, maka hewan harus
dibunuh dahulu, terdapat beberapa cara membunuh hewan sebelum dinekropsi,
yaitu disembelih, euthanasia dengan penyuntikkan berlebih Magnesium Sulfat atau
preparat Barbitol intravena atau intracardial, emboli, pemutusan persendian atlanto-
occipital, electrocution (penyetruman), atau dengan pembiusan ether yang berlebih.
Adapun prinsip dalam melakukan nekropsi ialah dengan cara inspeksi
(pengamatan), palpasi (perabaan), dan insisi (penyayatan). Cara tersebut harus
dilakukan secara berurutan.
Anjing merupakan jenis hewan yang didomestikasi sebagai hewan
kesayangan dan membantu manusia untuk melaksanakan berbagai pekerjaan
seperti penjaga, pelacak, atau penggembala ternak (Dharmojono, 2003). Tingkat
kedekatan yang sangat tinggi dengan manusia memungkinkan penularan berbagai
penyakit parasit yang dibawa oleh anjing kepada manusia. Terdapat berbagai
penyakit yang dapat menyerang anjing, salah satunya adalah dirofilariasis.
Dirofilaria immitis adalah golongan parasit nematoda filaria dan merupakan salah
satu parasit yang berbahaya bagi anjing, kucing, dan mamalia lainnya. Larva
infektif yang ditularkan oleh nyamuk dan cacing dewasa berpredileksi dalam
jantung terutama ventrikel kanan dan arteri pulmonalis pada host definitifnya
(Reinecke, 1983). Di Indonesia, berdasarkan hasil penelitian telah diketahui bahwa
nyamuk dari genus Aedes aegypti, Aedes albopictus,Anopheles subalbatus, dan
Culex quinquefas dapat menjadi vektor D. immitis (Karmil 2002).
Selain dirofilariasis, penyakit pada anjing lainnya yaitu distemper.
Distemper pada anjing merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus RNA dari
genus morbili virus dan tergolong ke dalam famili Paramixoviridae. Penyakit ini
termasuk salah satu penyaki yang bersifat sangat menular dengan angka morbiditas
dan mortalitasnya cukup tinggi (Pomeroy et al 2008). Virus penyebab penyakit
distemper ini dapat menyerang semua umur berbagai kelompok hewan dari famili
canidae, dengan gejala klinis yang bervariasi. Variasi gejala klinis mulai dari
subklinis, gangguan pernafasan, gangguan saluran cerna, sampai dengan adanya
gangguan syaraf yang bersifat fatal (Zhao et al 2009). Umumnya perubahan-
perubahan organ pada pengamatan post mortem dapat terjadi pada keadaan infeksi
yang berlangsung pada tahapan sub akut sampai kronis. Gejala patognomonis dari
penyakit ini akan tampak lebih jelas terlihat pada kira-kira satu atau dua minggu
pasca infeksi. Pada periode iniparu-paru akan tampak adanya zona nekrotik atau
infark; sedangkan pada saluran pencernaan akan mengalami enteritis haemoragi,
yang juga akan tampak pada saluran urinaria terutama pada vesika urinaria yang
tampak mengalami peradangan serta pada daerah mukosanya akan terlihat adanya
hemoragi. Organ-organ limfatik juga akan mengalami perubahan berupa proloferasi
limfoid (Kardena et al. 2011).Praktikum ini bertujuan mengetahui penyakit klinis
dan cara nekropsi pada anjing.

Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 3 Oktober 2018 di Ruang
Nekropsi Patologi FKH-IPB.

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan antara lain adalah pisau, gergaji, gunting (Gunting
Runcing, Gunting Tumpul dan Gunting Tulang), pinset dan skalpel, dan alat uji
apung. Kemudian bahan yang digunakan adalah kadaver anjing.

METODE
Metode Nekropsi Anjing

1. Hewan yang telah mati, setelah keadaannya sudah diamati lubang kumlah
kemudian diletkkan dengan bagian dorsal menempel di atas meja nekropsi.
Setelah itu melipat ketiak, disayat hingga persendian di axilla dan scapula
terlepas. Lipatan paha disayat sehingga os femur pada persendian coxo-
femoral terlepas dari acetabulumnya.
2. Keadaan subkutis diperiksa dengan menguakkan jaringan ikat longgar
subkutis ke arah kanan dan kiri tubuh.
3. Rongga perut dan rongga dada dibuka dengan cara otot perut digunting pada
linea alba kemudian pada batas costae ke arah kanan dan kiri. Memeriksa
tekanan negatif rongga dada dengan cara melubangi otot intercostalis
dengan menggunakan pisau. Kemudian diafragma digunting di dekat
perlekatannya dengan costae. Costae dipotong pada perbatasan tulang
rawan dan tulang keras.
4. Organ tubuh rongga dada dikeluarkan dengan menyayat otot yang bertaut
pada os Mandinula hingga lidah dapat ditarik ke arah ventral. Lidah
dikelurkan bersama esofagus dan trakhea. Setelah itu, menyayat alat
penggantung sehingga paru-paru dan jantung dapat dikeluarkan dari rongga
dada. Perbatasan esofagus dan lambung dipotong setelah diikat ganda.
Jantung dan pembuluh darah dipisahkan dari pertautannya dengan paru-
paru. Laring, trakhea, dan bronchus diperiksa dengan menggunting bagian
cincicn tulang rawan hingga terbuka. Lalu pengguntingannya dilanjutkan
hingga cabang-cabang bronkhus.
5. Setelah organ rongga dada dan perut dikeluarkan, maka langkah terakhir
adalah rongga otak dibuka dengan membersihkan tulang tengkorak dari
kulit dan otot yang melekat. Tulang tengkorak digergaji dengan pola garis
melingkar tepat di belakang mata, di atas telinga, dan menuju lumen
occipitale . Tulang yang telah digergaji kemudian dilepas menggunakan
palu atau pahat.
6. Pemeriksaan organ-organ sangat penting karena untuk mengetahui kondisi
normal atau tidak normal. Pemeriksaan paru-paru dilakukan dengan
menginspeksi adanya perubahan warna, penggembungan, pengempisan,
ada atau tidaknya bungkil. Palpasi selanjutnya dilakukan untuk memeriksa
kepadatan konsistensi, adanya krepitasi, dan terabanya bungkul ataupun
pasir padat pada permukaan organ. Insisi dapat dilakukan pada bagian yang
diduga berisi darah, cairan, nanah, ataupun benda asing. Paru-paru juga diuji
apung untuk memeriksa pneumonia.
7. Jantung juga diperiksa. Akan tetapi keadaan perikarium dan epikardium
diperiksa terlebih dahulu. Jantung diperiksa dengan menyayat ventrikel
jantung pada dinding sejajar sulcus longitudinalis kanan dan kiri. Selain itu,
inspeksi dilakukan untuk melihat adanya perubahan warna pada
perikardium, epikardium, miokardium, dan endokardium. Perubahan
bentuk diamati apabila terdapat kemungkinan adanya chicken fat clot ,
penebalan atau penipisan dinding jantung. Palpasi pada dinding jantung
untuk memastikan adanya perubahan konsistensi dinding tersebut. Insisi
dilakukan untuk megetahui keadaan yang terjadi pada dinding ventrikel.
8. Saluran pencernaan diperiksa mulai dari rongga mulut untuk melihat
keadaan gigi, gusi, dan mukosa pipi. Pemeriksaan dilanjutkan ke esofagys,
lambung, dan usus terhadap lumen dan keadaan mukosanya. Lambung
sebelumya digunting terlebih dahulu pada kurvatura mayor sedangkan usus
digunting terlebih dahulu di dekat alat penggantungya. Pemeriksaan
kantung empedu juga dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya
penyumbatan kantung empedu.
9. Limpa diperiksa secara inspeksi untuk melihat perubahan warna, bentuk,
dan keadaan pada tepi berserta kapsulanya. Palpasi pada limpa dilakukan
untuk memeriksa adanya perubahan konsistensi yang terjadi.

HASIL DAN PEMBAHASAN


a. Daerah Kulit
Kulit, yang dikenal sebagai system integumentari adalah organ terbesar
tubuh. Kuku dan rambut lebih dianggap sebagai bagian tambahan dari kulit
daripada sebagai kesatuan anatomi yang independen. Peningkatan kelembapan dan
panas (suhu) akan memfasilitasi pergantian bulu/rambut dan proses pergantian
bulu/rabut (Cooper dan Harrison 1994). Pada daerah kulit ditemukan bekas lesio
dan kulit terlihat pucat. Selain itu juga ditemukan parasit berupa kutu yang berada
diantara rambut dan di sela jari.
Dari pengamatan lubang kumlah didapatkan mukosa dari mulut yang telah
kering dan juga gusi yang telah pucat. Selain itu, lubang telinga yang kotor dan
permukaanya kasar akibat cairan serumen yan telah mongering. Lubang anus juga
terlihat kotor yang disebabkan oleh adanya feses yang cair dan bercampur dengan
darah seperti yang telah terlihat di bagian usus besar.
b. Regio Kepala
c. Regio Toraks
Cavum thoracis atau rongga dada terletak diantara leher dan abdomen yang
merupakan tempat beberapa organ vital tubuh seperti paru-paru dan jantung. Selain
itu terdapat pula saluran pernafasan dan saluran pencernaan yaitu trakhea dan
esophagus (Abdul dan Agung 2008). Rongga dada merupakan daerah di sepanjang
os vertebrae thoracicae yang juga dibatasi oleh os sternum dan os costales,
berbatasan langsung dengan rongga perut (cavum abdominis) dan diantaranya
dibatasi oleh diaphragma. Hasil pengamatan rongga dada pada praktikum nekropsi
anjing menunjukan bahwa situs viscerum organ dan unsur lainnya dalam kondisi
normal. Terdapat cairan berwarna merah hati dan berkonsistensi cair dalam jumlah
yang cukup banyak . Belum diketahui asal cairan tersebut tetapi kemungkinan
terjadi oedema pada rongga dada. Rongga dada dalam keadaan normal memiliki
tekanan negatif hal ini memungkinkan untuk stabilitas paru-paru agar tidak kolaps
dan proses pernafasan dapat berjalan normal. Hasil pengamatan tekanan negatif
pada rongga dada masih terlihat hal ini dibuktikan dengan membesarnya
diaphragma ketika ditusukan pisau di daerah intercostae menembus ruang dada.
Adapun hasil pengamatan pada trakhea terdapat leleran yang diketahui sebagai
eksudat kataralis, yaitu eksudat yang berasal dari peningkatan sekresi mukus oleh
sel goblet (Sumirat 2015).
Adanya eksudat kataralis mengindikasikan trakhea mengalami trakheitis
yaitu gangguan saluran pernafasan yang disebabkan oleh agen infeksisus. Kondisi
esophagus normal tidak ditemukan adanya kelainan dan belum mengalami
autolisis. Kondisi paru-paru mengalami hemorragi hal ini terlihat dari aspek
warnanya yang berwarna merah tua dan tidak homogen di seluruh permukaannya,
tekstur normal dengan masih terdapatnya krepitasi saat dilakukan palpasi, adapun
hasil insisi pada beberapa bagian tidak ditemukan adanya leleran ataupun darah
yang keluar. Hasil pengamatan pada organ jantung, lapisan pericardium tidak dapat
diamati karena terlepas ketika proses pengambilan dari situs viscerum. Warna
jantung terlihat lebih pucat, saat dilakukan insisi sejajar dengan sulcus
longitudinalis untuk melihat ruang jantung ditemukan ada gumpalan darah atau
disebut chicken fat clot terdiri dari zat serupa fibrin yang biasanya ditemukan pada
jantung dan pembuluh darah besar (Uekita et al. 2008).

d. Regio Abdomen
Pada nekropsi anjing ini pada saat diinsisi terjadi proses autolisis ditandaii
pada saat di insisi, permukaan bagian dalam limfonodus ini bewarna kelabu serta
dibagian luar bewarna merah kecoklatan.Berdasarkan hasil pengamatan, organ Hati
yang merupakan kelenjar aksesoris yang berperan dalam proses pencernaan
memiliki kelainan. Kelainan tersebut dalam aspek warna yaitu kuning pucat. Hal
ini menunjukkan bahwa terjadi degenerasi pada organ tersebut serta kemungkinan
adanya perembesan cairan empedu. Sedangkan margo hati berbentuj lancip, artinya
tidak terjadi peradangan, aspek permukaan licin dan teksturnya kenyal. Kantung
empedu merupakan kelenjar eksokrin yang mensekresikan enzim untuk membantu
dalam proses pencernaan lemak. Pemeriksaan post mortem menunjukkan bahwa
dalan kantung empedu didapatkan cairan yang berwarna merah kekuningan. Hal ini
mengindikasikan adanya peradangan.
Limpa adalah salah satu organ pertahanan yang berperan penting dalam
imunitas tubuh. Berdasarkan hasil pemeriksaan, limpa berwarna hitam, hal ini
menunjukkan telah terjadinya proses autolisis. Bentuk dari margonya tidak lancip
melainkan tumpul yang mengindikasikan adanya peradangan. Teksturnya kenyal,
namun kapsulanya tidak berkeriput sebagaimana normalnya. Uji usap dilakukan
dengan cara meninsisi limpa pada bagian hilus, lalu pisau dilekatkan pada bagian
dalam di daerah insisi. Hasil menunjukkan bahwa terdapatnya bintik-bintik merah
(pulpa merah) yang melekat pada pisau. Dan dapat disimpulkan bahwa organ limpa
ini mengalami splenitis. penyebabnya bisa tumor akibat pertumbuhan sel asing, bisa
juga akibat dari paparan zat-zat kimia atau radiasi, terdapat sel-sel darah merah
abnormal, adanya sel-sel abnormal dalam darah merah dengan jumlah banyak bisa
memicu pembesaran limpa, karena limpa harus bekerja keras untuk menghancurkan
sel-sel tersebut, adanya infeksi bakteri, virus, ataupun parasit, atau penyakit
metabolik.
Pada tahap nekropsi mukosa lambung berwarna putih dan terdapat mukus
pada lumen lambung. Mukus lambung merupakan protein sitoprotektif yang
disintesis oleh sel epitel lambung. Pembentukan mukus lambung yang meningkat
menandakan lambung mengalami peradangan (gastritis), metaplasia dan penyakit
malignan (Budi dan Widyarini 2010). Mukus pada lambung yang melapisi mukosa
lambung berfungsi sebagai pertahanan utama dinding lambung untuk mendindari
kerusakan mukosa (Maria et al. 2017). Produksi mukus pada lambung anjing
menandakan lambung dalam keadaan peradangan kareana rusaknya mukosa
lambung.
Kolon anjing yang sudah dibuka memperlihatkan tinja anjing yang
berwarna hitam. Warna hitam pada tinja anjing menandakan adanya melena, yaitu
keadaan di mana tinja bercampur dengan darah karena adanya perdarahan pada
saluran pencernaan atas serta dicernanya darah pada usus halus (Almi 2013).
Adanya mukus yang berlebih pada lambung dan melena menandakan adanya
peradangan disertai darah pada organ pencernaan atas terutama pada lambung.
Pankreas pada anjing ini terlihat kemerahan (pankreatitis), fungsi dari
pankreas adalah sebagai sumber hormon insulin dan enzim. Beberapa enzim yang
dikeluarkan oleh pankreas antara lain adalah lipase dan fosfolipase untuk
metabolisme lemak, amilase untuk metabolisme karbohidrat, juga tripsin dan
kimotripsin untuk metabolisme protein. Pankreatitis disebabkan karena oleh
insufiensi vascular, cedera hipoksia akibat kekurangan darah pada awalnya akan
mengenai asinus bagian perifer lobulus. Selanjutnya akan terjadi pelepasan enzim
proteolitik dan menyebabkan kerusakan yang lebih lanjut dan timbul pankreatitis
difus secara cepat. Akibatnya kelenjar menjadi bengkak dan sering terjadi
pendarahan apabila proses peradangan berat. Peradangan pada pankreas disebabkan
oleh enzim-enzim lipase, amilase dan tripsin yang membantu proses pencernaan
makanan tetap diproduksi namun tidak ada asupan makanan yang masuk ke
lambung dan usus, karena terjadinya pankreatitis. Pankreas juga berwarna agak
kehijauan yang disebabkan terjadinya pelepasan enzim yang berasal dari pankreas
akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel postmortem. Hal ini disebut
autolisis yaitu pelunakan dan pencairan jaringan pankreas. Pada kematian, enzim
amilase, lipase, dan tripsinogen dilepaskan oleh sel eksokrin dari pankreas dan
enzim ini akan menyebabkan pankreass mencerna dirinya sendiri (autodigesti).
Pemeriksaan ginjal terlihat bahwa ukuran ginjal kanan dan kiri sama besar,
kapsula yang melekat dapat dibuka/dilepas dengan mudah, dan antara korteks dan
medulla dapat dibedakan dengan jelas. Ginjal seperti ini berarti sehat tidak ada
gangguan apapun.

e. Limfonodus
Pembukaan area subkutis menunjukan adanya sedikit perlemakan bewarna
putih kekuninangan. Limfoglandula submandibularis, retropayngeal, prescapularis,
axillaris tidak terdapat kelainan kecuali di limfonodus poplitea kiri mengalami
autolisis. Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam
keadaan steril melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim-enzim itrasel,
sehigga organ-organ yang kaya degan enzim-enzim akan mengalami proses
autolysis lebih cepat dari pada organ-organ yang tidak memiliki enzim (savalina et
al. 2016).

f. Otak dan Hippocampus

Pemeriksaan otak terlihat adanya perubahan warna pada otak yaitu menjadi
kemerahan. Warna merah ini disebabkan adanya imbibisi haemoglobin, integrasi
intima akan berkurang selang beberapa jam hewan mati dan menyebabkan lepasnya
hemoglobin akibatnya eritrosit akan lisis melewati pembuluh darah dan mewarnai
jaringan (Zacahry dan McGavin 2007). Warna kemerahan ini merupakan nukti
bahwa proses autolisis sedang terjadi. Kepentingan dari sediian otak antara lain
adalah untuk pemeriksaan rabies pada hipokampus anjing (Adjid et al 2005).
Kondisi otak juga sudah mulai mengalami autolisis yaitu terdapat perlunakan dan
pencairan jaringan otak. Autolisis ditandai dengan adanya inti sel yang mulai pecah,
selanjutnya terjadi karyolisis dimana sel mengalami lisis yang juga disertai
hilangnya batas-batas sel satu dengan sel lain (Hasan et al 2015).
SIMPULAN
Saat dilakukan nekropsi anjing dapat diketahui adanya penyakit klinis
setelah membuka semua organ tubuh. Hal itu dapat diketahui karena terlihat adanya
perbedaan dari keaadan normal.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul MI, Agung LT.2008. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses
Penyidikan. Jakarta (ID): CV Sagung Seto.
Adjid RMA, Sarosa A, Syafriati T, Yuningsih. 2005. Penyakit Rabies di Indonesia
dan Pengembangan Teknik Diagnosa. Wartazoa. 15(4): 165-172.

Almi DU. 2013. Hematemesis melena et causa gastritis erosif dengan riwayat
penggunaan obat nsaid pada pasien laki-laki lanjut usia. Jurnal Medula. 1
(1): 72-78.

Budi RTM, Widyarini S. 2010. Dampak induksi karsinogenesis galndula mammae


dengan 7, 12-dimetilbenz(α)antrasen terhadap gambaran histopatologis
lambung tikus Sparague dawley. Jurnal Veteriner. 11 (1): 17-23.

Cooper, J.E. dan Harrison G.J. 1994. Dermatology. Dalam : Avian Medicine:
Principles and Application. Eds. Ritchie BW, Harrison GJ, Harrison LR.
Pp 607-639. Wingers, Lake Worth, Florida.
Dharmojono. 2003. Anjing Permasalahan dan Pemecahan. Jakarta(ID). Penebar
Swadaya.
Hasan FA, Berata IK, Karden IM. 2015. Perbandingan Autolisis Organ Jantung
dan Ginjal Sapi Bali pada Beberapa Periode Waktu Pasca Penyembelihan.
Medicus Veterinus. 4(4): 305-314.

Kardena IM, Winaya IO, Berata IK. 2011. Gambaran patologi paru-paru pada
anjing lokal Bali yang terinfeksi penyakit distemper. Buletin Veteriner
Udayana. 3(1): 17-24.
Karmil, TF. 2002. Studi Biologis dan Potensi Vektor Alami Dirofilaria immitis
sebagai Landasan Penyiapan Bahan Hayati. Disertasi. Program
Pascasarjana Institut Petanian Bogor.
Maria N, Berata IK, Kardena IM, Samsuri. 2017. Studi histopatologis lambung
tikus putih yang diberi parasetamol dan suplementasi propolis. Buletin
Veteriner Udayana. 9 (1): 94-99.
Pomeroy L, Bjornstad O, Holmes E. 2008. The evolutionary and epidemiological
dynamics of the paramyxoviridae. Journal of Molecular Evolution. 66(2):
98-106.
Reinecke RK. 1983. Veterrinary Helminthology. Durbane. Butterworths.
Savalina DNS, Ticoulu SHR, Wangko S.2016.Gambaran Makroskopik dan
Mikroskopik Pada Hewan Coba Postmortem.Jurnal e-Biomedik.4(1):1-7.
Sumirat I.2015. Kelainan-kelainan yang terjadi pada nekropsi ayam dan
kemungkinan penyebabnya. Majalah Medik Veteriner. 10(1):12-16.

Uekita I, Ijiri I, Nagasaki Y, Haba R, Funamoto Y, Matsunaga T, Jamal M, Wang


W, Kumihashi M, Ameno K. 2008. Medico-legal investigation of chicken
fat clot in forensic cases : immunohischemical and retrospective studies.
Legal Medicine. 10(3): 138-142.
Zachary JF, McGavin MD. 2007. Pathologic Basic Of Veterinary Diseases. Edisi
ke-4. Tennessee (US): Elsevier Pub.

Zhao J, Yan Y, Chai X, Martella V, Luo G, Zhang H, Gao H, Liu Y, Bai X, Zhang
L, Chen T, Xu L, Zhao C, Wang F, Shao X, Wu W, Cheng S. 2009.
Phylogenetic analysis of the haemaglutinin gene of canine distemper virus
strains detected from breeding foxes, racoon, dogs and minks in China.
Veterinary Microbiology. 140(1-2): 34-42.

Lampiran