Anda di halaman 1dari 26

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa Laporan Desain Tekstil II (Dekomposisi


Kain Handuk) beserta isinya adalah benar-benar karya saya dan saya tidak
melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan
etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat ilmiah.
Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko/sanksi yang dijatuhkan
kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika
keilmuan dalam laporan ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian laporan
saya ini.

Bandung, 22 Juni 2015


Yang membuat pernyataan,

Andrian Wijayono
NPM : 13010082

KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
anugrahNya penyusunan Laporan ini dapat terselesaikan dengan baik. Tidak lupa
kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
terlaksananya penulisan laporan ini hingga bisa tersusun dengan baik.

Laporan ini kami susun berdasarkan praktek yang telah dilakukan yaitu
praktek dekomposisi kain tenun dengan anyaman handuk atau kain handuk. Dalam
laporan ini juga telah disusun data mengenai hasil pengamatan dan perhitungan
yang telah dilakukan pada saat praktikum.

Kami menyadari bahwa penulisan Laporan ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun
demi perbaikan penerbitan Laporan ini di masa mendatang.

Bandung, 22 Juni 2015

Penyusun

DEKOMPOSISI KAIN
ANYAMAN HANDUK

I. Maksud & Tujuan

Maksud dari percobaan yang kita laksanakan adalah untuk


dekomposisi kain yaitu menguraikan hasil produksi tenun (yang berupa
kain) untuk mengetahui anyaman, nomor benang, tetal lusi dan pakan.
Yang mana pada praktikum kali ini kita akan mendekomposisi kain yang
memiliki Anyaman handuk yang mana untuk selanjutnya kita akan
menentukan jumlah tetal lusi dan pakan, berat bahan per meter persegi,
dan kebutuhan bahan yang memiliki warna tertentu dan untuk menghitung
perbedaan selisih berat kain antara hasil penimbangan dengan hasil
perhitungan.
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami mengenai
konstruksi dari kain handuk serta hal-hal yang dapat mempengaruhi
perbedaan berat kain antara hasil penimbangan dengan hasil perhitungan
dan diharapkan untuk mendapatkan hasil data yang berguna untuk tujuan
produksi lainnya.

II. Alat & Bahan

1. Frame [berbahan metal]


2. Kaca Pembesar
3. Lubang Pemeriksa
4. Engsel
5. Jarum
6. Mistar dan Satu Set Segitiga
7. Gunting
8. Timbangan
9. Kertas Desain
III. Teori Dasar

I.1 Dekomposisi Komposisi Kain Tenun

Menganalisis kain tenun atau biasa disebut dengan


“dekomposisi”, adalah suatu cara menganalisis kain contoh, sehingga
dari hasil analisis tersebut dapat diperoleh data – data yang dapat
digunakan untuk membuat kembali kain yang sesuai dengan contoh
yang dianalisis tadi.
Dekomposisi kain sendiri berprinsip untuk menentukan jenis
anyaman yang dipakai oleh suatu jenis kain berdasarkan penelitian
yang dilakukan pada anyaman yang digunakan oleh kain yang
diujiakan. Dengan meneliti anyaman yang tergabung oleh benang
pakan dan benang lusi [titik temu antara 2 titik tersebut].
Secara umum proses dekomposisi kain bermaksud dan bertujuan
untuk mengetahui jenis anyaman yang dipakai atau digunakan pada
suatu jenis kain [kain contoh uji].

Proses dekomposisi kain ini dilakukan mempunyai maksud dan


beberapa tujuan. Yaitu sbb:

Tujuan Ekonomis; untuk menghitung biaya atau harga pokok


pembuatan kain yang seperti kain contoh.

Tujuan Pengawasan Mutu; untuk dipakai sebagai alat guna


menentukan mutu kain jadi maupun untuk pengawasan mutu
kain yang sedang dibuat berkenaan dengan suatau kontrak
[pesanan].

Tujuan Teknis; untuk memperoleh data – data guna pembuatan


kembali [meniru dengan tepat] kain yang sesuai dengan contoh.
Bahkan bila perlu membuat kain yang lebih baik daripada kain
contoh.

1.2 Kain Handuk

Kain handuk (Turkish Towelling Fabrics) adalah struktur kain yang


bisa dimasukan dalam kelas kain bulu lusi yang disebut dengan istilah
“terry” pile.

Pada kain ini sebagian benang-benang lusi tertentu membentuk


jeratan (loop) atau lengkungan yang menonjol pada permukaan kain.
Struktur kain ini tersusun oleh satu macam pakan dan dua macam
benang lusi yang lalatan tenunnya terpisah. Satu macam lusi bersama
pakan membentuk kain dasar, sedang satu macam lusi lainnya
membentuk bulu-bulu loop tersebut.
Perbedaan jenis kain ini dibandingkan dengan kain berbulu lusi
yang biasa adalah bahwa pembentukan bulu disisni tidak
menggunakan bantuan kawat melainkan menggunakan gerakan sisir
tenun dan alat pengulur lusi yang memungkinkan jeratan-jeratan
benang (loop) terbentuk. Jeratan-jeratan bisa terbentuk pada sebelah
muka kain maupun pada kedua muka kain.

Kain ini biasa dibuat dari benang-benang linen atau kapas dipakai
untuk keperluan lap mandi, lap tangan, pakaian olah raga, dan
sebagainya, tetapi masih mungkin dibuat dari benang-benang lainnya.

a. Pembentukan Bulu

Tidak seperti menenun kain yang tiap kali peluncuran teropong


disusul dengan pengetekan pakan pada ujung kain. Pada pembuatan
kain ini pengetekan untuk merapatkan benang pakan pada kain
dilakukan setelah beberapa kali peluncuran benang pakan terjadi.
Untuk lebih jelasnya perhatikan penampang kain handuk pada
gambar 339 yang bulunya terbentuk pada kedua permukaan kain.

Garis tegak putus-putus RR, SS dan TT membagi pakan 1 , 2 dan


3 kedalam grup yang terdiri dari 3 pakan, garis TT adalah posisi tepi
kain. Sebelah kanannya adalah gambar anyaman atau grup yang
terdiri 3 pakan, yang merupakan satu ulangan dari setiap pengetekan
merapat pada kain.

G dan G’adalah lusi – lusi dasar, F dan B masing – masing bulu


lusi bawah dan atas yang masing – masing tergambar pada desain
anyaman P. Dalam pertenunan lalatan lusi dasar untuk G dan G’
dengan tegangan yang besar sedang lalatan untuk lusi bulu F dan B
yang memiliki teganga n kendor.

Mula – mula pakan 1 dan 2 ditenun, tetapi tidak diketek merapat


pada kain, tetapi begitu pakan 3 dimasukan, pengetekan dilakukan
sehingga 3 pakan bergeser bersama-sama pada ujung kain. Dengan
grup tiga pakan ini menjepit benang – benang lusi bulu sehingga
dengan bergesernya grup pakan ini benang lusi F dan B lebih cepat
tertarik dan terbentuk kain.

Struktur terry dengan grup 3 pakan banyak dipakai, tetapi bisa


juga 4, 5 dan 6 pakan untuk membuat garis baris bulu arah melintang
kain.
Gambar 339

b. Tenunan Handuk

Sejumlah desain standar untuk kain handuk terlihat pada gambar


340. Desain – desain tersebut dikelompokan sehingga mudah untuk
membandingannya satu dengan yang lain.

Tanda titik menujukan efek lusi dasar, tanda kotak penuh


menunjukan efek benang-benang bulu atas, sedang tanda silang
menunjukan efek benang – benang bulu bawah.

Desain A, B, C, D dan E susunan benang lusi adalah satu lusi


dasar, satu lusi bulu. Pada desain F,G,H,I,J dan K susunan benang
lusi adalah 1 dasar, 1 bulu atas, 1 dasar, 1 bulu bawah.

Desain L,M,O,P da Q menghasilkan efek yang masin-masing


sama dengan desaing F – K, tetapi desain-desain terdahulu tersusun
1 dasar, 1 bulu atas, 1 bulu bawah dan 1 dasar.

Pada tiap desain A sampai desain E ada satu lusi bulu atas setiap
lusi dasar, sedangkan mulai desain F sampai Q,susunannya adalah 1
lusi bulu setiap 2 lusi dasar.

A,F dan L adalah rencana untuk menghasilkan efek bulu pada 3


pakan, B,G dan M pada 4 pakan, C,H,N,D,I,O,J dan P pada 5 pakan
dan E,K,Q pada 6 pakan.

Efek 5 pakan (C,H dan N) masing-masing sama dengan D,I dan O


kecuali bahwa benang-benang bulu lebih banyak silangannya sedang
J dan P menunjukan modifikasi lebih lanjut dimana lusi bulu atas lebih
banyak menyilang lagi dari pada lusi bulu bawah. Meskipun jumlah
benang pakan kurang tetapi desain ini mesin menghasilkan anyaman
yang kokoh dan kadang – kadang menghasilkan struktur yang kuat
dan awet.
Pada efek 6 pakan E,K dan Q lusi-lusi menyilang dengan pakan
sama betul dengan A,F dan L mesing-masing, tetapi bulu dihasilkan
pada tiap 6 pakan.

Struktur ini masih jauh lebih kokoh dari pada efek 4 pakan,
dengan alasan makin besar silangan yang berada pada tiap baris bulu
yang melintang, dan dengan makin halus benangnya dan makin besar
tetal per inch, maka kain akan sangat kuat dan awet.

Gambar 340

c. Cara pencucukan benang lusi

Dalam pencucukan benang lusi, lusi bulu dicucuk pada dua gun
muka sedang lusi dasar (apabila sepanjang kain membentuk bulu
terus) pada dua gun belakang seperti terlihat pada gambar R 340,
untuk susunan 1 dasar, 1 bulu dan pada S untuk susunan 2 dasar, 2
bulu.

Biasanya dua benang terpisah tiap lubang sisir dan untuk susunan
1 dasar, 1 bulu, maka satu dari tiap macam dimasukan dalam lubang
yang sama seperti terlihat pada gambar yang terletak diatas R
gambar 340.

Tetapi pada susunan 2 dasar, 2 bulu, maka dua benang dari seri
yang sama dimasukan dalam satu lubang seperti pada gambar diatas
S. Kedua susunan tersebut praktis menghasilkan kain yang sama,
tetapi susunan 2 a 2 ada keuntungannya dengan pencucukan
tersebut diatas, naik turunnya benang tiap lubang berlawanan satu
sama lain dan pada waktu yang sama benang lusi bulu dan benang
lusi dasar berada pada pakan yang sama dipisahkan oleh kawat sisir,
sehingga mulut lusi akan lebih bersih.

Contoh konstruksi handuk kapas yang bermutu baik sebagai


berikut:

Lusi – lusi bulu : 20/S’ rangkap dua

Lusi dasar : 18/2’S

Pakan : 16/2’S

Tetal lusi : 50 helai per inch

Tetal pakan : 58 helai per inch

Untuk memproduksi kain 100 yard kain diperlukan 500 yard benang
lusi bulu dan 102 yard benang lusi dasar.

Mengkeret kain sekitar 12%. Untuk kain yang lebih murah pakan bisa
20’S, tetapi tetal 36 per inch atau lebih, lusi bulu 16’S dan lusi dasar
14’S

Tiap 100 yard kain dibutuhkan 300 yard untuk lusi bulu. Untuk kain
yang lembut (soft) benang bulu harus dipintal dengan twist yang
rendah. Rasa pegangan yang juga bergantung dari pada panjang
pendeknya bulu, makin panjang pegangan makin lembut. Panjang
bulu-bulu tersebut ditentukan oleh jarak antara tepi kain (TT) gambar
339 dengan dua pakan yang kemudian (sebelah kanan, pakan 1 , 2)
yang besarnya sekitar ½ inch.

d. Gerakan – gerakan dalam pembentukan bulu

Macam – macam sistem telah dibuat orang untuk memungkinkan


dua pakan berturut-turut tidak diketekan terlebih dahulu pada kain.
Salah satu sistem yang dapat diikuti penjelasan gambar 341 (seperti
dibuat oleh Messr, Butterworth & Dickinson, Ltd) dimana mekanisnya
dikendalikan oleh alat dobby atau jacquard.

Kedudukan sisir S selama waktu penyetelan dikendalikan oleh


mekanis pembukaan mulut lusi melalui tali A yang diikatkan pada
tangan B dengan titik tumpu C.
Gambar 341

 Pada waktu diperlukan penyetelan untuk merapatkan


benang pada kain, maka sisir S harus dipegang kokoh oleh
M. Dalam keadaan demikian tali A tidak naik, ujung
sebelah kiri B naik, tali E menarik ujung G, sedang ujung F
yang lain akan naik.

Gerakan penyetelan lade U kekiri dimana anti friksi bowl H


berada, tidak akan mengenai cam G yang sudah naik
diluar daerah kerja H. Dengan demikian juga pal H tetap
berkedudukan dibawah, sehingga waktu bergerak kekiri
berada dibawah dan tidak mengenai pal O.

Karena itu lever M menekan ujung bawah sisir, dan


akibatnya waktu penyetelan terjadi, sisir mampu
menggeser pakan merapat pada kain seperti biasa.
 Pada waktu sisir harus tinggal dibelakang pada waktu
pemasukan dua benang pakan 1 dan 2, tali A dinaikan
(oleh gerakan mekanisme pembukaan mulut, tepat pakan
1 dan 2 dimasukan), maka ujung kiri lever B turun dan tali
E mengendor melepas ujung G untuk naik sedang ujung
kanan G turun.

Pada saat U bergerak kekiri bowl H mengenai ujung G,


sehingga G bergerak keatas mendorong pal N naik melalui
batang J. Pada waktu lade U bergerak kekiri pal N akan
naik keatas O dan lever M jatuh kebelakang pakan tidak
terketek atau tetap tinggal dengan jarak tertentu dari kain.

Gerakan pada 1 dan 2 bergantian selama proses


pertenunan berlangsung. Hanya pada waktu membuat tepi
handuk dimana bulu tidak terbentuk, maka tali A harus
diturunkan sehingga pengetekan bisa berjalan biasa.

Jauh dekatnya gerakan sisir dapat diatur dengan menyetel


ujung batang J pada celah – celah I dan K.

Pal P dan Q untuk membatasi gerakan cam G. Per R


diperlukan untuk mengabsorpsi setiap akses gerakan dari
mekanisme pembukaan mulut lusi.

Karena benang lusi bulu relatif cepat habis biasanya


gulungan lusi bulu dilalatkan pada lalatan yang lebih besar.

Lalatan ditunjang dengan oleh penyangga yang agak lebih


tinggi dari pada mulut. Pada waktu berjalan, ketegangan
lusi sedikit diperlukan dengan beban pengantar 1, dan
tengangan bisa ditambah pada saat pembentukan bulu
dihentikan.

Pada waktu tali-tali naik oleh gerakan mekanisme


pembukaan mulut, ujung lever 3 turun, dan batang 5 juga
turun dan beban bertambah pada lalatan.

Sebaliknya kalau tali-tali turun, oleh tarikan per 6 ujung


lever 3naik, dan lever 5 naik pula maka beban berkurang.

Pada waktu menenun tepi handuk dimana bulu tidak


terbentuk maka tali 2 dinaikan dan lever 5 turun sehingga
selama itu menghasilkan tegangan lusi yang lebih besar.

e. Tenunan Handuk Hias

Kemungkinan yang bisa dibuat dari desain pada gambar 340


hanyalah hiasan dengan benang bulu berwarna untuk menghasilkan
hiasan bentuk strip.
Untuk membuat motif-motif dapat dilakukan dengan pertukaran
benang – benang bulu, yang pada daerah tertentu benang-benang
lusi bulu merupakan bulu atas dapat diubah menjadi bulu bawah pada
tempat-tampat yanglain dan sebaliknya seperti jelas terlihat pada
gambar 342.

Gambar 342

Kalau diperhatikan pada gambar 342 itu dalam tiap grup tiga
pakan, bulu-bulu atas selalu berada diatas pakan pertama dan pakan
terakhir, dan sebaliknya bulu-bulu bawah berada dibawah pakan
pertama dan pakan terakhir.

Dengan berpedoman pada ketentuan tersebut, dapat dengan


mudah mendesain perubahan-perubahan dari bulu atas menjadi bulu
bawah dan sebaliknya.

Sebagai contoh diperlihatkan pada gambar 344.Susunan benang


lusi 2 lusi dasan dan 2 lusi bulu. Anyaman dasar rib 2/1, lusi bulu
terbentuk hanya pada sebelah muka anyaman dibagi dalam 4 bagian.

Bagian G membentuk bulu atas. Bagian H membentuk bulu


bawah, yang gambar penampangnya terlihat pada gambar 342 A.

Cucukan dalam gun terlihat pada gambar I. Lusi – lusi bulu


dicucuk pada gun-dun muka sedang lusi – lusi dasar dicucuk pada
gun-gun belakang, I adalah gambar rencana kartu dobby yang
dipakai.
Desain anyaman tersebut akan membentuk kain bermotif kotak-
kotak yang terlihat pada gambar 343.

Gambar 343

Gambar 345 menunjukan contoh desain anyaman yang susunan


benang 1 dasar 1 bulu atas 1 dasar dan 1 bulu bawah, anyaman
dsaar rib 2/1. Desain tersebut juga dibagi dalam beberapa bagian
seperti gambar 346. Pada L lusi bulu atas bertanda kotak penuh, pada
M lusi bulu atas ini dirubah menjadi bulu bawah dan luci bulu bawah
yang bertanda silang, pada M dirubah menjadi lusi bulu atas.

Gambar 344
Gambar 345

Demikian pula pada N bulu atas dan bulu bawah masing – masing
dirubah pada O menjadi bulu bawah dan bulu atas.

Agar lebih jelas dapat dilihat prinsipnya sesuai dengan gambar


342 D. Bagian K gambar desain tersebut membentuk strip yang
kontinu. Untuk jelasnya lihat gamber 345.

Bagian bawah dari gambar 345 tersebut menunjukan bagian yang


tidak terbentuk bulu yang diberi pula garis dengan pakan tebal yang
berefek agak panjang.

Desain tenunnya tampak pada gambar 346 R. Cucukan dalam


gun terlihat pada gambar P, sedang waktu dobby terlihat pada gambar
S.
Gambar 346

f. Kain handuk bergambar atau bermotif

Pada prinsipnya kain handuk ini juga sama prinsipnya


dengan handuk yang lainnya, namun terdapat gambar atau motif
yang dibuat dengan bantuan jacquard.

Pada gambar 347 dilakukan pergantian antara lusi berwarna


putih dan berwarna biru. Dimana ketika tampak daerah berwarna
putih yang artinya lusi putih sedang membentuk loop pada
permukaan kain, sedangkan benang biru membentuk loop
dibaliknya.

Apabila diingat kembali, maka prinsip pembuatannya sama


saja dengan kain dua muka yang telah dipelajari sebelumnya,
hanya kain ini memiliki bulu-bulu dipermukaanya yang
disebabkan oleh gerakan sisir tenun.

Untuk memperjelas penjelasan ini, perhatikan gambar 347


yaitu gambar dari contoh kain handuk bergambar dibawah ini:
Gambar 347

Seperti yang dapat dilihat, kain diatas adalah salah satu kain
handuk yang memilii corak gambar, namun bukan dengan cara di
sablon atau diprint, namun dengan cara teknik anyamannya.

Kain handuk diatas memiliki susunan lusi yaitu satu benang dasar,
satu benang bulu berwarna putih, 1 buah benang ground dan 1 buah
benang bulu berwarna biru dan terbentuknya bulu untuk setiap tiga
peluncuran pakan.
IV. Langkah Kerja
4.1 Langkah – langkah Dekomposisi

1. Menentukan Arah Lusi dan Arah Pakan

Panduan Menentukan Arah Lusi dan Arah Pakan

 Jika pada kain contoh terdapat pinggiran kain,


maka benang lusi sejajar dengan pinggir kain.

 Garis sisir yang mungkin terdapat pada kain,


selalu sejajar dengan arah lusi.

 Jika salah satu arah terdapat benang yang


dikanji, maka benang kanji tersebut adalah
benang lusi.

 Bandingkan twist dari benang lusi dan twist dari


benang pakan. Biasanya twist dari benang lusi
lebih tinggi dari twist benang pakan.

 Bandingkan teteal lusi dan tetal pakan. Umumnya


tetal lusi lebih tinggi daripada tetal benang pakan.

 Jika salah satu arah terdapat benang yang


digintir, maka benang gintir tersebut adalah
benang lusi.

 Jika salah satu arah terdiri dari benang yang lebih


kaku dari benang arah lainnya, maka benang
yang lebih kaku adalah benang lusi.

 Pada umunya nomor benang pakan lebih rendah


[Ne] daripada nomor benang lusi [diameter
benang pakan > diameter benang lusi].

 Pada kain dengan desain kotak [Check Design],


kotak – kotak yang searah dengan lusi akan lebih
panjang daripada kotak yang searah dengan
benang pakan.

 Pada benang lusi yang dikanji, dapat digunakan


larutan 10 g/l yoodkali dan 1 g/l yodium, yang
diteteskan diatas kain. Benang yang dikanji dan
terkena larutan tersebut akan berwarna biru.
2. Menentukan Susunan Lusi

 Ratakan kain tanpa tengangan pada


meja pemeriksa

 Rapihkan ujung kain dengan meniras


sebagian benang pakan dan lusi hingga
tidak terdapat lusi atau pakan yang
terpotong ditengah

 Lakukan pengamatan dengan


menggunakan loupe untuk membedakan
benang lusi dasar, lusi bulu atas atau lusi
bulu bawah

 Benang lusi dasar memiliki ciri yaitu


apabila ditiras, maka tidak memiliki
mengekeret yang sangat besar

 Sedangkan benang lusi bulu memiliki ciri


yaitu apabila ditiras, maka benang
tersebut memiliki mengekeret yang
sangat besar.

 Untuk membedakan lusi bulu atas dan


bawah dapat dilakukan dengan cara
melihat posisi bulu yang terbentuk pada
benang tersebut. Apabila bulu berada
pada permukaan kain, maka termasuk
lusi bulu atas. Namun apabilla bulu
berada pada permukaan kain belakang,
maka termasuk lusi bulu bawah.

3. Menentukan Tetal Lusi dan Tetal Pakan

Dengan Menggunakan Loupe

 Ratakan kain tanpa tegangan pada meja


pemeriksa.

 Dengan kaca pembesar [lope] dibantu


dengan jarum. Hitung jumlah lusi atau
pakan setiap 1 inch.

 Pengujian dilakukan paling sedikit di 5


[lima] tempat yang berbeda secara
merata [arah horizontal].
 Hitung rata – rata tetal lusi dan tetal
pakan.

Dengan Cara Urai atau Cara Tiras

 Gunting kain dengan ukuran 1 inch x 1


inch tepat lurus benang.

 Keluarkan atau tiras benang lusi dan


benang pakan kemudian kelompokkan.

 Hitung jumlah masing – masing benang


lusi dan benang pakan.

 Ulangi langkah diatas paling sedikit lima


kali pada tempat yang berbeda.

 Hitung rata – rata tetal lusi dan tetal


pakan.

4. Menentukan Berat Kain

 Potong kain dengan ukuran [20 x 20] cm atau sekurang-


kurangnya [10 x 10] cm.

 Letakkan kain diatas meja datar dan ratakan dengan tangan,


kain tidak boleh mengalami tegangan.

 Beri tanda garis dengan pensil pada kain yang berukuran [20
x 20] cm atau [10 x 10] cm. Usahakan letak garis searah
dengan lusi dan pakan.

 Gunting, kain diluar garis dengan jarak 1 cm diluar ukuran [20


x 20] cm atau [10 x 10] cm.

 Keluarkan benang lusi atau pakan bagian pinggir dengan hati


– hati, dan kemudian gunting sisa – sisa benang yang keluar
dari kain agar didapat kain yang berukuran [20 x 20] cm atau
[10 x 10] cm.
Cara Mengukur dan Menggunting Kain Sample

A B C D

5. Menentukan Mengkeret Benang

 Potong contoh uji dengan ukuran [10 x 10] cm. Sejajar dengan
benang lusi dan benang pakan.

 Ambil 10 helai lusi (baik bulu maupun dasar) atau pakan masing –
masing 5 helai dari kedua sisinya.

 Ukur panjang masing – masing benang lusi dan benang pakan


dengan tegangan benag tidak terlalu tengang atauh kendor.

 Hitung panjang rata – rata.

6. Menentukan Nomor Benang

 Potong contoh uji dengan ukuran [10 x 10] cm sejajar dengan


benang lusi dan benang pakan.

 Ambil 10 helai lusi (baik bulu maupun dasar) atau pakan


masing – masing 5 helai dari kedua sisinya.

 Ukur panjang benang lusi dengan tegangan benang tidak


terlalu tegang atau kendor, kemudian jumlahkan.

 Ukur panjang benang pakan dengan tegangan benang tidak


terlalu tegang atau kendor, kemudian jumlahkan.

 Timbangan masing – masing 10 helai lusi (bulu 10 helai


maupun dasar 10 helai) dan 10 helai pakan.

4.2 Dekomposisi Anyaman Handuk


1. Menentukan arah lusi dan kain dengan cara melihat benang
yang membentuk bulu pada permukaan kain

2. Memotong kain dengan ukuran [20 x 20] cm atau sekurang-


kurangnya [10 x 10] cm. Timbang dengan neraca digital.

3. Menentukan tetal lusi dan tetal pakan dengan menggunting


kain contoh uji per 1 inch sebanyak 5 potong kain di tempat
yang berbeda berarah horizontal.

4. Meniras benang dari arah lusi bulu dan dasar maupun pakan,
masing – masing 5 dari kanan dan 5 dari kiri. Timbang.

5. Benang yang telah ditiras dan ditimbang tadi di tentukan


panjang rata – ratanya.

6. Menghitung mengkeret benang [C].

7. Menentukan nomor benang.

No. Metrik [Nm]

No. Inggris [Ne1]

Tex

Denier

8. Menghitung berat kain contoh. Yang meliputi :

Berat Percobaan/ m²

Berat Kain/ m² Menurut Perhitungan [lusi dasar, lusi


bulu, pakan, jumlahkan].

Selisih dalam Persen [%]

9. Menghitung fabric cover. Meliputi :

Warp Cover [Cw]

Filling Cover [Cf]

CF (%)

10. Mengambar anyaman.

II. Data Pengamatan


Jenis anyaman = Anyaman Handuk
Susunan Lusi = Lusi dasar, Lusi Dasar, Lusi Bulu, Lusi Bulu
Panjang kain = 10 cm
Lebar kain = 10 cm
Berat kain = 3.60 gram (10cm2)

Tetal Lusi Tetal Tetal Panjang Panjang Berat Berat


Panjang Berat
Dasar Lusi Pakan Lusi Lusi 10 hl 10 hl
No Pakan 10 hl
(hl/inch) Bulu (hl/in Bulu Dasar lusi lusi
(cm) pakan
(hl/inch) ch) (cm) (cm) dasar bulu
1 36 35 40 49 10,2 10,3
2 35 35 41 50 10,2 10,2
3 35 35 39 49.5 10,3 10,2
4 36 34 40 49.2 10,4 10,3 42.5 160 42.5
5 36 35 40 49.3 10,2 10,4 mg mg mg =
6 49.5 10,3 10,3 =0,042 =0,16 0,042
7 49.6 10,4 10,2 5g g 5g
8 49.4 10,2 10,3
9 49 10,1 10,2
10 50 10,2 10,4
∑= ∑= ∑=
Rata- Rata- 497.2 103.1 104.2
Rata-
rata= rata= Rata - Rata - Rata -
rata= 35.4
34.8 40 rata = rata = rata =
49.72 10,31 10,42

Bentuk Anyaman (1 raport)

X X
X X
X X
X X
X X
X X
Lb Lb Ld Ld Lb Lb Ld Ld

III. Perhitungan

A. Lusi Dasar
PB  PL
 x100%
PB
1) Mengkeret (Cl)

10,42  10
 x100%  4,03%
10,42
PanjangTotal 1,042
2) No. metrik (Nm)    24.81
Berat 0,042

3) No. Inggris (Ne1) = 0,59 x Nm = 0,59 x 24.81 = 14.64


1000 1000
4) Tex    40.3
Nm 24.81

9000 9000
5) Den    362.76
Nm 24.81

B. Lusi Bulu

1) Mengkeret (Cl) PB  PL
 x100%
PB

49.72  10
 x100%  79.89%
49.72
PanjangTot al 4.972
2) No. metrik (Nm)    31.075
Berat 0.16

3) No. Inggris (Ne1) = 0,59 x Nm = 0,59 x 31.075 = 18.33

4) Tex 1000 1000


   32.18
Nm 31,075

9000 9000
5) Den    289.62
Nm 31,075
C. Pakan
PB  Pk
1) Mengkeret (Cp)  x100%
PB
10,31  10
 x100%  3%
10,31

PanjangTot al 1,031
2) No. metrik (Nm)    24.55
Berat 0,042
3) No. Inggris (Ne1) = 0,59 x Nm = 0,59 x 24.55 = 14.48
1000 1000
4) Tex    40.73
Nm 24.55

9000 9000
   366.6
Nm 24.55
5) Den

D. Berat Kain Contoh

1) Berat penimbangan = 100 x gr = 100 x 3.6 = 360 gr/m2

2) Berat perhitungan :

Berat lusi dasar 100


tetallusidasar ( hl / cm) x100 x x100
 100  Cl
Nmx100

35.4 100
x100 x x100
2,54 100  4.03
  58.53gram / m 2
24.81x100

100
tetallusibulu (hl / cm) x100 x x100
 100  Cl
Berat lusi bulu Nmx100

34.8 100
x100 x x100
2,54 100  79.89
  219.24 gram / m 2
31.075 x100

100
tetalpakan( hl / cm) x100 x x100
100  Cp
Berat Pakan 
Nmx100
40 100
x100 x x100
2,54 100  3
  66.13gram / m 2
24.55 x100

3) Jumlah Berat Kain = Berat lusi dasar + Berat lusi bulu + Berat pakan

= 58,53 gram/ +219,24 gram/ + 66,13 gram/

= 343.9 gram/

BeratPenimbangan  BeratPerhitungan
4) Selisih dalam %  BeratPenimbangan
x100%

360  343.9
 x100%  4.47%
E. Fabric Cover 360
1 1 1
1) Dw   
28 Ne1 28 14.64 107.13
1 1
2) cw  Tetallusi  70.2  0,655
28 Ne1 107.13

1 1 1
3) df   
28 Ne1 28 14.48 106.55

1 1
 TetalPakan  40  0,375
4) cf 28 Ne1 106.55

5) CF%  ((cw  cf )  (cw * cf )) x100%


 ((0,655  0,375)  (0,655 * 0,375)) x100%
 78.43%

IV. Diskusi Kesimpulan

7.1 Diskusi

Anyaman handuk atau disebut juga kain handuk adalah kain yang
terdiri dari dua seri lusi dan satu seri pakan, dua seri lusi ini terdiri atas
lusi bulu dan lusi dasar. Pada kain ini sebagian benang-benang lusi
tertentu membentuk jeratan (loop) atau lengkungan yang menonjol
pada permukaan kain. Struktur kain ini tersusun oleh satu macam
pakan dan dua macam benang lusi yang lalatan tenunnya terpisah.
Satu macam lusi bersama pakan membentuk kain dasar, sedang satu
macam lusi lainnya membentuk bulu-bulu loop tersebut.

Perbedaan jenis kain ini dibandingkan dengan kain berbulu lusi


yang biasa adalah bahwa pembentukan bulu disisni tidak
menggunakan bantuan kawat melainkan menggunakan gerakan sisir
tenun dan alat pengulur lusi yang memungkinkan jeratan-jeratan
benang (loop) terbentuk. Jeratan-jeratan bisa terbentuk pada sebelah
muka kain maupun pada kedua muka kain.

Khususnya untuk anyaman pada praktikum kali ini, anyaman


handuk memiliki susunan 1 dasar, 1dasar, 1 bulu atas dan 1 bulu
bawah. Selain itu, pada kedua permukaan kain, baik depan maupun
belakang memiliki bulu-bulu atau loop.

Pada kain ini memiliki 3 jenis benang, yaitu benang pakan,


benang lusi dasar dan lusi bulu. Sehingga penentuan mengkeret, dan
kebutuhan bahan juga harus dilakukan secara terpisah secara
masing-masing.

Pada saat praktikum, terdapat beberapa kesulitan yaitu untuk


melihat anyaman, bulu-bulu pada permukaan kain mempersulit untuk
proses pengamatan struktur anyaman. Selain itu, ada beberapa cara
khusus yang dilakukan pada pengamatan kain kali ini, yaitu untuk
menentukan arah lusi dan pakan. Jika pada sebelumnya kita
mementukannya dengan cara memerhitungkan tetal atau dengan
melihat arah motif kotak-kotak, namun kali ini kita hanya tinggal
melihat benang yang membentuk jeratan atau loop pada kain, maka
arah lusi adalah searah dengan benang tersebut.

Kain handuk biasanya digunakan sebagai kain yang diharapkan


untuk memiliki daya serap yang tinggi, oleh karena itu kain handuk
biasanya dibuat dari benang dengan serat yang mudah menyerap air
(higroskopis). Selain itu, karakteristik benang biasanya memiliki twist
yang rendah.

7.2 Kesimpulan

Anyaman handuk atau disebut juga kain handuk adalah kain


yang terdiri dari dua seri lusi dan satu seri pakan, dua seri lusi ini
terdiri atas lusi bulu dan lusi dasar. Pada kain ini sebagian
benang-benang lusi tertentu membentuk jeratan (loop) atau
lengkungan yang menonjol pada permukaan kain. Struktur kain ini
tersusun oleh satu macam pakan dan dua macam benang lusi
yang lalatan tenunnya terpisah.

Dengan melakukan dekomposisi pada kain ini, kita dapat


mengetahui dan memahami struktur dan perhitungan diperlukan
untuk pembuatan kain yang sama persis dengan kain yang
diujikan.

Berikut ini adalah nilai yang diperoleh dari pengujian yang


diperlukan untuk pembuatan kain yang sama persis:

Nomor Benang lusi dasar : Ne1 = 14.64

Nomor Benang lusi bulu : Ne1 = 18.33

Nomor Benang pakan : Ne1 = 14.48

Tetal lusi dasar : 35.4 helai/ “

Tetal lusi bulu : 34.8 helai/”

Tetal pakan : 40 helai/ “

Mengkeret lusi dasar : 4.03%

Mengkeret lusi bulu : 79.89%

Mengkeret pakan : 40%

Kebutuhan/m2 lusi dasar : 53.53gram/m2


Kebutuhan/m2 lusi bulu : 219.24gram/m2

Kebutuhan/m2 pakan : 66.13gram/m2

Struktur Anyaman (1 rapot):

X X
X X
X X
X X
X X
X X
Lb Lb Ld Ld Lb Lb Ld Ld

V. Daftar Pustaka

Jumaeri, dkk. 1974. Textile Design. Institut Teknologi Tekstil. Bandung.

Watson, William, 1913. Advanced Textile Design. Longmans Green. London.

Jurnal Praktikum Desain Tekstil II