Anda di halaman 1dari 17

SATUAN ACARA PENYULUHAN

HEPATITIS

Oleh :
Ketut Dian Wahyuni
P07120215025
D-IV Keperawatan Tingkat 2.A
Semester IV

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2017
SATUAN ACARA PENYULUHAN HEPATITIS

I. LATAR BELAKANG
Hepatitis adalah penyakit infeksi hati yang disebabkan oleh virus
Hepatitis A, B, C, D atau E. Hepatitis dapat menimbulkan gejala demam,
lesu, hilang nafsu makan, mual, nyeri pada perut kanan atas, disertai urin
warna coklat yang kemudian diikuti dengan ikterus (warna kuning pada kulit
dan/sklera mata karena tingginya bilirubin dalam darah). Hepatitis dapat pula
terjadi tanpa menunjukkan gejala (asimptomatis) (Riskesdas, 2013).
Insiden hepatitis yang terus meningkat semakin menjadi masalah
kesehatan masyarakat. Penyakit ini menjadi penting karena mudah ditularkan,
memiliki morbiditas yang tinggi, dan menyebabkan penderitanya absen dari
sekolah atau pekerjaan untuk waktu yang lama.
Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2013, prevalensi
hepatitis 2013 adalah 1,2% , dua kali lebih tinggi dibandingkan 2007. Jenis
hepatitis yang banyak menginfeksi penduduk Indonesia adalah hepatitis B
(21,8 %) dan hepatitis A (19,3 %). Jumlah penduduk yang terinfeksi hepatitis
di provinsi Bali sendiri, yaitu hepatitis A (25.7%), hepatitis B (20.1%),
hepatitis C (6.4%), dan hepatitis jenis lain (6.7%).
Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan melalui
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
(Ditjen PP & PL) telah membuat suatu pengembangan program dalam usaha
pengendalian penyakit hepatitis di Indonesia. Ada 3 (tiga) kegiatan utama
yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit hepatitis, yakni
melalui pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pencegahan primer yakni
dengan cara promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), imunisasi
pada bayi, dan catch up immunization (imunisasi pada remaja dan dewasa).
Pencegahan sekunder melalui deteksi dini dengan skrining (penapisan),
penegakan diagnose, dan pengobatan. Sedangkan pencegahan tersier lebih
kepada untuk mencegah keparahan dan rehabilitasi, monitoring pengobatan
untuk mengetahui efektifitas dan resistensi terhadap obat pilihan (Kompas,
2011).
II. TUJUAN
A. Tujuan Intruksional Umum (TIU)
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama 35 menit, diharapkan
Ny. X dan keluarga mampu memahami tentang penyakit hepatitis dan
pentingnya melakukan pencegahan hepatitis sedini mungkin.

B. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)


Setelah dilakukan kegiatan penyuluhan selama 1 x 35 menit,
diharapkan Ny. X dan keluarga mampu menjelaskan tentang:
1. Pengertian Hepatitis
2. Jenis-jenis Hepatitis
3. Penyebab dan Cara Penularan Hepatitis
4. Tanda dan Gejala Hepatitis
5. Pengobatan dan Pencegahan Hepatitis

III. MATERI
Materi yang dijelaskan pada kegiatan penyuluhan, yaitu:
1. Pengertian Hepatitis
2. Jenis-jenis Hepatitis
3. Penyebab dan Cara Penularan Hepatitis
4. Tanda dan Gejala Hepatitis
5. Pengobatan dan Pencegahan Hepatitis
IV. KEGIATAN

No Kegiatan Waktu Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta


1 Pembukaan 5 menit  Memberikan salam  Menjawab salam
 Perkenalan  Menyimak
 Menyampaikan tujuan dari  Mendengarkan
pertemuan dan menjawab
 Kontrak waktu
pertanyaan
 Apersepsi
2 Penyampaian 15 menit  Penyampaian materi:  Mendengarkan
materi 1. Pengertian Hepatitis dengan penuh
2. Jenis-jenis Hepatitis perhatian
3. Penyebab dan Cara
Penularan Hepatitis
4. Tanda dan Gejala Hepatitis
5. Pengobatan dan Pencegahan
Hepatitis
3 Sesi tanya 10 menit  Memberikan kesempatan  Mengemukakan
jawab kepada peserta untuk bertanya pertanyaan
 Memberikan evaluasi  Memperhatikan
jawaban dari
penyuluh
 Mampu menjawab
pertanyaan saat
diberikan evaluasi
3 Penutup 5 menit  Mengucapkan terima kasih  Mendengarkan
 Menjawab salam
kepada peserta
 Memberikan salam penutup
Kegiatan penyuluhan disajikan pada tabel berikut:

V. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Demonstrasi

VI. MEDIA
1. Leaflet
2. Sound system

VII. ALAT DAN BAHAN


1. Sabun
2. Air
3. Tissue /Kain bersih

VIII. SUMBER
Candra, Asep. 2011. Pemerintah Canangkan Pengendalian Hepatitis.
http://health.kompas.com/read/2011/07/12/1543089/pemerintah.ca
nangkan.pengendalian.hepatitis Diakses pada tanggal 22 Februari
2017 Pukul 18.10 WITA. Kompas 12 Juli 2011
Ester, Monica. 2002 . Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Kementerian Kesehatan. 2013. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2013).
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil
%20Riskesdas%202013.pdf Diakses pada tanggal 21 Februari
2017 Pukul 17.50 WITA
Kementerian Kesehatan. 2014. Situasi dan Analisis Hepatitis.
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/inf
odatin-hepatitis.pdf Diakses pada tanggal 21 Februari 2017 Pukul
17.36 WITA
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi K. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC.
Yogyakarta : Mediaction

IX. PESERTA
Ny. X penderita penyakit hepatitis dan keluarga
X. WAKTU
Hari : Kamis
Tanggal : 16 Maret 2017
Jam : 09.00 WITA

XI. TEMPAT
Penyuluhan dilakukan di ruang Apel RSUD Klungkung
Seting Tempat :
Penyuluh

sasaran

XII. RENCANA EVALUASI


A. Struktur
1. Persiapan media
Media yang akan digunakan dalam penyuluhan semuanya lengkap dan
siap digunakan. Media yang digunakan dalam bentuk leaflet. Kurun
waktu dalam persiapan media 2 hari.
2. Persiapan materi
Materi yang akan diberikan dalam penyuluhan semuanya lengkap dan
siap diberikan kepada peserta. Materi yang digunakan diambil dari
kutipan-kutipan buku. Kurun waktu dalam mempersiapkan materi,
yaitu 2 hari.

B. Proses penyuluhan
1. Kegiatan penyuluhan yang akan diberikan diharapkan berjalan
lancar dan sasaran mampu memahami tentang penyuluhan yang
diberikan. Sasaran diharapkan mampu mengerti dan memahami
penyuluhan dan 50% bisa menjawab.
2. Dalam proses penyuluhan diharapkan terjadi interaksi antara
penyuluh dan sasaran sehingga diakhir penyuluhan, sasaran
diharapkan bertanya.
3. Diharapkan dalam proses penyuluhan terdapat 5 orang atau lebih
peserta.
4. Sasaran diharapkan memperhatikan materi yang diberikan.

C. Hasil penyuluhan
1. Ny. X dan keluarga paham seluruh materi yang diberikan
2. Ny. X dan keluarga paham dan bisa mempraktekkannya di rumah
mengenai cara mencegah penyakit hepatitis
3. Ny. X dan keluarga dapat menjelaskan ulang tentang :
 Pengertian Hepatitis
 Jenis-jenis Hepatitis
 Penyebab dan Cara Penularan Hepatitis
 Tanda dan Gejala Hepatitis
 Pengobatan dan Pencegahan Hepatitis
LAMPIRAN 1
MATERI PENYULUHAN HEPATITIS

1. Pengertian Hepatitis
Hepatitis adalah peradangan pada hati (liver) yang disebabkan oleh
virus. Virus hepatitis termasuk virus hepatotorik yang dapat mengakibatkan
hepatitis A (HAV), hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV), delta hepatitis
(HDV), hepatitis E (HEV), hepatitis F dan hepatitis G (Aplikasi Nanda,
2015).
Hepatitis adalah inflamasi/radang dan cedera pada hepar karena
reaksi hepar terhadap berbagai kondisi terutama virus, obat-obatan dan
alkohol (Ester Monica, 2002).
Hepatitis adalah penyakit infeksi hati yang disebabkan oleh virus
Hepatitis A, B, C, D atau E. Hepatitis dapat menimbulkan gejala demam,
lesu, hilang nafsu makan, mual, nyeri pada perut kanan atas, disertai urin
warna coklat yang kemudian diikuti dengan ikterus (warna kuning pada kulit
dan/sklera mata karena tingginya bilirubin dalam darah). Hepatitis dapat pula
terjadi tanpa menunjukkan gejala (asimptomatis) (Riskesdas, 2013).
Hepatitis adalah suatu proses peradangan pada jaringan hati.
Hepatitis dalam bahasa awam sering disebut dengan istilah lever atau sakit
kuning. Padahal definisi lever itu sendiri sebenarnya berasal dari bahasa
Belanda yang berarti organ hati, bukan penyakit hati. Namun banyak asumsi
yang berkembang di masyarakat mengartikan lever adalah penyakit radang
hati. Sedangkan istilah sakit kuning sebenarnya dapat menimbulkan
keracunan, karena tidak semua penyakit kuning disebabkan oleh radang hati,
tetapi juga karena adanya peradangan pada kantung empedu.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hepatitis
adalah suatu penyakit peradangan pada jaringan hati yang disebabkan oleh
infeksi virus yang menyebabkan sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga
tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
2. Jenis-jenis Hepatitis
a. Hepatitis A
Dikenal dengan hepatitis infeksiosa, merupakan hepatitis
yang ringan, bersifat akut, sembuh spontan/sempurna tanpa sejala sisa
dan tidak menyebabkan infeksi kronik. Rute penularan adalah melalui
kontaminasi oral-fekal, HVA terdapat dalam makanan, air yang
terkontaminasi, personal hygiene yang rendah. Potensi penularan
infeksi hepatitis ini melalui sekret saluran cerna. Umumnya terjadi
didaerah kumuh berupa endemik. Masa inkubasi : 2-6 minggu,
kemudian menunjukkan gejala klinis. Populasi paling sering terinfeksi
adalah anak-anak dan dewasa muda.
b. Hepatitis B
Penularan virus ini melalui rute transfusi darah/produk
darah, jarum suntik, atau hubungan seks. Golongan yang beresiko
tinggi adalah mereka yang sering tranfusi darah, pengguna obat
injeksi; pekerja perawatan kesehatan dan keamanan masyarakat yang
terpajan terhadap darah; klien dan staf institusi untuk kecatatan
perkembangan, pria homoseksual, pria dan wanita dengan pasangan
heteroseksual, anak kecil yang terinfeksi ibunya, resipien produk darah
tertentu dan pasien hemodialisa. Masa inkubasi mulai 6 minggu
sampai dengan 6 bulan sampai timbul gejala klinis.
c. Hepatitis C
Hepatitis C merupakan penyebab tersering infeksi hepatitis
yang ditularkan melalui suplai darah komersial. HCV ditularkan
dengan cara yang sama seperti HBV, tetapi terutama melalui transfusi
darah. Populasi yang paling sering terinfeksi adalah pengguna obat
injeksi, individu yang menerima produk darah, potensial risiko
terhadap pekerja perawatan kesehatan dan keamanan masyarakat yang
terpajan pada darah. Masa inkubasinya adalah selama 18-180 hari.
d. Hepatitis D
Virus ini melakukan koinfeksi dengan HBV sehingga
infeksi HBV bertambah parah. Infeksi oleh HDV juga dapat timbul
belakangan pada individu yang mengidap infeksi kronik HBV jadi
dapat menyebabkan infeksi hanya bila individu telah mempunyai
HBV, dan darah infeksius melalui infeksi HDV. Populasi yang sering
terinfeksi adalah pengguna obat injeksi, hemofili, resipien tranfusi
darah multipel (infeksi hanya individu yang telah mempunyai HBV).
Masa inkubasinya belum diketahui secara pasti. HDV ini
meningkatkan resiko timbulnya hepatitis fulminan, kegagalan hati, dan
kematian.
e. Hepatitis E
Virus ini adalah suatu virus RNA. Penularan melalui oral-
fekal seperti hepatitis A. Didiagnosis dengan didapatkannya IgM dan
IgG anti HEV pada penderita yang terinfeksi. Gejalanya ringan
menyerupai gejala flu, sampai icterus.
f. Kemungkinan hepatitis F dan G
Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan tentang hepatitis F.
Saat ini para pakar belum sepakat hepatitis F merupakan penyakit
hepatitis yang terpisah. Sedangkan hepatitis G gejala serupa hepatitis
C, seringkali infeksi bersamaan dengan hepatitis B dan/atau C. Tidak
menyebabkan hepatitis fulminan ataupun hepatitis kronik. Penularan
melalui transfusi darah jarum suntik.

3. Penyebab dan Cara Penularan Hepatitis


a. Hepatitis A
Hepatitis A pada umumnya dapat ditularkan melalui mulut / oral-
fekal, misalnya melalui gelas atau sendok bekas yang dipakai
penderita hepatitis A.
b. Hepatitis B
Hampir semua jenis virus hepatitis dapat menyerang manusia. Pada
ibu hamil bila terserang virus ini dapat menularkan pada bayinya yang
ada dalam kandungan atau waktu menyusui bayi itu. Bentuk
penularan seperti inilah yang banyak dijumpai pada penyakit hepatitis
B. Pada saat ini jenis hepatitis yang paling banyak dipelajari ialah
hepatitis B dan telah dapat pula dicegah melalui vaksinasi. Walaupun
infeksi virus ini jarang terjadi pada populasi orang dewasa, kelompok
tertentu dan orang yang memiliki cara hidup tertentu berisiko tinggi.
Kelompok ini mencakup:
 Imigran dari daerah endemis hepatitis B
 Pengguna obat IV yang sering bertukar jarum dan alat suntik
 Pelaku hubungan seksual dengan banyak orang atau dengan
orang yang terinfeksi
 Pria homoseksual yaang secara seksual aktif
 Pasien rumah sakit jiwa
 Narapidana pria
 Pasien hemodialisis dan penderita hemofilia yang menerima
produk tertentu dari plasma
 Kontak serumah dengan karier hepatitis
 Pekerja sosial di bidang kesehatan, terutama yang banyak
kontak dengan darah
c. Hepatitis C
Penularan hepatitis C pada orang dewasa bisa terjadi melalui kontak
seksual, suntikan ataupun transfusi darah. Virus hepatitis C juga
berbahaya karena sebagian besar penyakit Hepatitis C dapat
berkembang menjadi kronis/menahun dan menjadi pengidap yang
selanjutnya akan menjadi sumber infeksi bagi orang sekitarnya.
d. Hepatitis Delta dan hepatitis E
Hepatitis delta dan hepatitis E diduga penularannya melalui mulut,
tetapi belum ada penelitian yang lebih mendalam.

4. Tanda dan Gejala


Semua hepatitis virus mempunyai gejala yang hampir sama,
sehingga secara klinis hampir tidak mungkin dibedakan satu sama lain.
Dokter hanya dapat memperkirakan jenis hepatitis apa yang diderita
pasiennya dan untuk membedakannya secara pasti masih diperlukan bantuan
melalui pemeriksaan darah penderita.
Gejala penderita hepatitis virus mula-mula badannya terasa panas,
mual dan kadang-kadang muntah, setelah beberapa hari air seninya berwarna
seperti teh tua, kemudian matanya terlihat kuning, dan akhirnya seluruh kulit
tubuh menjadi kuning. Pasien hepatitis virus biasanya dapat sembuh setelah
satu bulan. Hampir semua penderita hepatitis A dapat sembuh dengan
sempurna, sedangkan penderita hepatitis C dapat menjadi kronis. Mengenai
hepatitis delta dan E belum dapat di ketahui secara pasti bagaimana
perjalanan penyakitnya.
Gejala hepatitis akut terbagi dalam 4 tahap, yaitu :
a. Fase inkubasi
Waktu antara masuknya virus dan timbulnya gejala atau ikterus. Panjang
fase tergantung pada dosis inokulum yang ditularkan dan jalur penularan,
makin besar dosis inokulum, makin pendek fase inkubasi.
b. Fase prodormal (pra ikterik)
Fase diantar timbulnya keluhan – keluhan pertama dan timbulnya gejala
ikterus. Awitannya dapat disingkat atau insidius ditandai dengan malaise
umum, mialgia, atralgia, mudah lelah, gejala saluran nafas atas dan
anoreksia, diare, demam, dan nyeri abdomen di kuadran kanan atas atau
epgastrium.
c. Fase ikterus
Fase munculnya setelah 5 – 10 hari, tetapi dapat juga muncul bersamaan
dengan munculnya gejala. Setelah timbul ikterus jarang terjadi perburukan
gejala prodormal, tetapi justru akan terjadi perbaikan klinis yang nyata.
d. Fase konvalesen (penyembuhan)
Menghilangnya ikterus dan keluhan lain, tetapi hepatomegali dan
abnormalitas fungsi hati tetap ada. Nafsu makan kembali normal, keadaan
akut akan membaik dalam 2 – 3 minggu. Pada hepatitis A perbaikan klinis
dan laboratorium lengkap terjadi dalam 9 minggu dan 16 minggu untuk
hepatitis B.
(Aplikasi Nanda, 2015)

5. Pengobatan dan Pencegahan


Pengobatan yang dilakukan terutama bersifat dukungan dan
mencakup istirahat, hidrasi, dan asupan makanan yang adekuat. Hospitalisasi
diindikasikan bila terdapat muntah, dehidrasi, faktor pembekuan abnormal,
atau tanda-tanda gagal hati, yang membahayakan (gelisah, perubahan
kepribadian, letargi, penurunan tingkat kesadaran, dan perdarahan). Berikut
ini adalah obat-obat yang dapat digunakan :
a. Globulin imun (Ig) – digunakan sebagai profilaksis sebelum dan
sesudah terpajan hepatitis A (diberikan dalam waktu 2 minggu setelah
pemajanan)
b. HBIG – diberikan sebagai profilaksis setelah pemajanan (Tidak
divaksinasi : diberikan per IM dan mulai dengan vaksin HB.
Divaksinasi: diberikan per IM ditambah dosis booster. Perinatal : 0,5 ml
per IM dalam 12 jam setelah kelahiran)
c. Vaksin Hepatitis B (Hevtavax B) – digunakan untuk mencegah
munculnya hepatitis B (Perinatal : diberikan per IM dalam 12 jam
setelah kelahiran, diulangi pada usia 1 dan 6 bulan. Anak-anak yang
berusia kurang dari 10 tahun. Tiga dosis IM (paha anterolateral /
deltoid), dua dosis pertama diberikan berselang 1 bulan, dan booster
diberikan 6 bulan setelah dosis pertama. Anak-anak yang berusia lebih
dari 10 tahun diberikan tiga dosis ke dalam otot deltoid. Perhatikan
bahwa anak yang menjalankan hemodialisis jangka panjang dan anak
dengan sindrom Down harus divaksinasi secara rutin karena tingginya
resiko memperoleh infeksi Hepatitis B ini).
Secara keseluruhan tindakan pencegahan terhadap hepatitis adalah
dengan memakai sarung tangan bila berkontak dengan darah /cairan tubuh
lainnya, dan harus hati-hati memasang kembali tutup jarum suntik.
Perhatikan cara pembuangan bahan-bahan terkontaminasi dan pembersihan
alat-alat dan permukaan yang terkontaminasi. Bahan pemeriksaan untuk
laboratorium harus diberi label jelas bahwa bahan berasal dari pasien
hepatitis. Perlu juga menjelaskan pentingnya mencuci tangan kepada pasien,
keluarga, dan lainnya.
LAMPIRAN 2
EVALUASI

 Pertanyaan
1. Apakah pengertian dari hepatitis ?
2. Sebutkan jenis-jenis hepatitis !
3. Bagaimana penyebab dan cara penularan hepatitis ?
4. Bagaimana tanda dan gejala hepatitis ?
5. Bagaimana pengobatan dan pencegahan hepatitis ?

 Jawaban
1. Pengertian dari hepatitis :
Hepatitis adalah suatu penyakit peradangan pada jaringan hati yang
disebabkan oleh infeksi virus yang menyebabkan sel-sel hati
mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya.
2. Jenis-jenis hepatitis :
a. Hepatitis A
Dikenal dengan hepatitis infeksiosa, merupakan hepatitis yang
ringan, bersifat akut, sembuh spontan/sempurna tanpa sejala
sisa dan tidak menyebabkan infeksi kronik.
b. Hepatitis B
Golongan yang beresiko tinggi adalah mereka yang sering
tranfusi darah, pengguna obat injeksi; pekerja perawatan
kesehatan dan keamanan masyarakat yang terpajan terhadap
darah; klien dan staf institusi untuk kecatatan perkembangan,
pria homoseksual, pria dan wanita dengan pasangan
heteroseksual, anak kecil yang terinfeksi ibunya, resipien
produk darah tertentu dan pasien hemodialisa.
c. Hepatitis C
Hepatitis C merupakan penyebab tersering infeksi hepatitis
yang ditularkan melalui suplai darah komersial. HCV
ditularkan dengan cara yang sama seperti HBV, tetapi terutama
melalui transfusi darah.
d. Hepatitis D
Virus ini melakukan koinfeksi dengan HBV sehingga infeksi
HBV bertambah parah. Infeksi oleh HDV juga dapat timbul
belakangan pada individu yang mengidap infeksi kronik HBV
jadi dapat menyebabkan infeksi hanya bila individu telah
mempunyai HBV, dan darah infeksius melalui infeksi HDV.
e. Hepatitis E
Virus ini adalah suatu virus RNA. Didiagnosis dengan
didapatkannya IgM dan IgG anti HEV pada penderita yang
terinfeksi.
f. Kemungkinan hepatitis F dan G
Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan tentang hepatitis F. Saat
ini para pakar belum sepakat hepatitis F merupakan penyakit
hepatitis yang terpisah. Sedangkan hepatitis G gejala serupa
hepatitis C, seringkali infeksi bersamaan dengan hepatitis B
dan/atau C. Tidak menyebabkan hepatitis fulminan ataupun
hepatitis kronik. Penularan melalui transfusi darah jarum
suntik.
3. Penyebab dan cara penularan hepatitis :
a. Hepatitis A
Hepatitis A pada umumnya dapat ditularkan melalui mulut /
oral-fekal, misalnya melalui gelas atau sendok bekas yang
dipakai penderita hepatitis A.
b. Hepatitis B
Penularan virus ini melalui rute transfusi darah/produk darah,
jarum suntik, atau hubungan seks.
c. Hepatitis C
Penularan hepatitis C pada orang dewasa bisa terjadi melalui
kontak seksual, suntikan ataupun transfusi darah. Virus
hepatitis C juga berbahaya karena sebagian besar penyakit
Hepatitis C dapat berkembang menjadi kronis/menahun dan
menjadi pengidap yang selanjutnya akan menjadi sumber
infeksi bagi orang sekitarnya.
d. Hepatitis Delta dan hepatitis E
Hepatitis delta dan hepatitis E diduga penularannya melalui
mulut, tetapi belum ada penelitian yang lebih mendalam.
4. Gejala hepatitis akut terbagi dalam 4 tahap, yaitu :
a. Fase inkubasi
Waktu antara masuknya virus dan timbulnya gejala atau
ikterus. Panjang fase tergantung pada dosis inokulum yang
ditularkan dan jalur penularan, makin besar dosis inokulum,
makin pendek fase inkubasi.
b. Fase prodormal (pra ikterik)
Fase diantar timbulnya keluhan – keluhan pertama dan
timbulnya gejala ikterus. Awitannya dapat disingkat atau
insidius ditandai dengan malaise umum, mialgia, atralgia,
mudah lelah, gejala saluran nafas atas dan anoreksia, diare,
demam, dan nyeri abdomen di kuadran kanan atas atau
epgastrium.
c. Fase ikterus
Fase munculnya setelah 5 – 10 hari, tetapi dapat juga muncul
bersamaan dengan munculnya gejala. Setelah timbul ikterus
jarang terjadi perburukan gejala prodormal, tetapi justru akan
terjadi perbaikan klinis yang nyata.
d. Fase konvalesen (penyembuhan)
Menghilangnya ikterus dan keluhan lain, tetapi hepatomegali
dan abnormalitas fungsi hati tetap ada. Nafsu makan kembali
normal, keadaan akut akan membaik dalam 2 – 3 minggu. Pada
hepatitis A perbaikan klinis dan laboratorium lengkap terjadi
dalam 9 minggu dan 16 minggu untuk hepatitis B.
5. Pengobatan dan pencegahan hepatitis
Berikut ini adalah obat-obat yang dapat digunakan :
a. Globulin imun (Ig) – digunakan sebagai profilaksis sebelum
dan sesudah terpajan hepatitis A (diberikan dalam waktu 2
minggu setelah pemajanan)
b. HBIG – diberikan sebagai profilaksis setelah pemajanan (Tidak
divaksinasi : diberikan per IM dan mulai dengan vaksin HB.
Divaksinasi: diberikan per IM ditambah dosis booster. Perinatal
: 0,5 ml per IM dalam 12 jam setelah kelahiran)
c. Vaksin Hepatitis B (Hevtavax B) – digunakan untuk mencegah
munculnya hepatitis B (Perinatal : diberikan per IM dalam 12
jam setelah kelahiran, diulangi pada usia 1 dan 6 bulan. Anak-
anak yang berusia kurang dari 10 tahun. Tiga dosis IM (paha
anterolateral / deltoid), dua dosis pertama diberikan berselang 1
bulan, dan booster diberikan 6 bulan setelah dosis pertama.
Anak-anak yang berusia lebih dari 10 tahun diberikan tiga
dosis ke dalam otot deltoid. Perhatikan bahwa anak yang
menjalankan hemodialisis jangka panjang dan anak dengan
sindrom Down harus divaksinasi secara rutin karena tingginya
resiko memperoleh infeksi Hepatitis B ini).

Secara keseluruhan tindakan pencegahan terhadap hepatitis


adalah dengan memakai sarung tangan bila berkontak dengan darah
/cairan tubuh lainnya, dan harus hati-hati memasang kembali tutup
jarum suntik. Perhatikan cara pembuangan bahan-bahan
terkontaminasi dan pembersihan alat-alat dan permukaan yang
terkontaminasi. Bahan pemeriksaan untuk laboratorium harus diberi
label jelas bahwa bahan berasal dari pasien hepatitis. Perlu juga
menjelaskan pentingnya mencuci tangan kepada pasien, keluarga, dan
lainnya.