Anda di halaman 1dari 10

Etika dan Cara Pelaksanaan Seminar

Etika Seminar
Kegiatan berbicara dapat dilakukan dengan beragam tujuan. Jika memperhatikan tujuan,
tentu pembicara akan menempatkan dirinya sebagai penyampai informasi, menghibur, atau
memotivasi. Kegiatan itu akan berpengaruh terhadap gaya dan teknik penyampaiannya. Jika
bertujuan untuk menyampaikan informasi, pembicara dapat bersuara datar dan tidak terlalu
sering melakukan gerakan kinestetik lainnya. Jika bertujuan untuk menghibur, pembicara
diwajibkan untuk dapat menampilkan sikap empati dan simpati melalui raut muka dan
gerakan anggota tubuh. Jika bertujuan untuk memotivasi, pembicara harus bersuara
lantang, jelas, dan sarat makna. Dan itu memerlukan kemahiran tersendiri. Karena kegiatan
itu dilaksanakan di depan public atau banyak orang, pembicara perlu mengetahui etika
sebagai pembicara. Etika adalah kesantunan atau batasan norma untuk menghormati lawan
tutur atau lawan bicara. Ada beberapa etika dalam semianar
1. Etika Menjaga Konsistensi Materi
Banyak pembicara gagal menyampaikan materi kepada pendengar karena
ketidakkonsistenannya. Maksudnya, pembicara suka berbicara secara serampangan
atau tidak terpola. Jadi, pembicara sekadar berbicara. Maka, keasyikan berbicara itu
berakibat kepada terjadinya penyimpangan materi. Etika ini terlalu sering terjadi.
Dari mana kita mengetahuinya? Cukup dari reaksi peserta atau pendengar. Jika para
pendengar itu kurang bergairah mengikuti pembicaraannya, pembicara harus cepat
bersikap. Pembicara harus berintrospeksi secara spontan: mengapa pendengar
mengantuk dan tidak memperhatikanku? Jika pembicara tidak menanggapi kondisi
ini, pendengar pun akan mengasyikkan diri seraya melakukan aktivitas menyimpang
dari materi.
2. Etika Bersikap Jujur
Dalam sebuah kegiatan seminar atau diskusi, tentu akan diadakan forum atau
session tanya jawab. Pada kesempatan seperti ini, pembicara sering gagap atau
kurang siap menerima pertanyaan dari peserta. Bagaimana kita mengetahui bahwa
pembicara bersikap demikian? Tentu dari cara menjawab pertanyaan yang sering
mbulet atau berbelit-belit. Ini adalah sikap yang tidak baik. Pembicara harus bersikap
jujur. Jika memang pertanyaan itu dirasa berat dan mungkin kurang pas, pembicara
sebaiknya menyiasatinya dengan menunda jawaban. Pembicara dapat meminta
nomor HP atau email penanya. Itu tentu lebih diapresiasi atau dihargai pendengar
daripada jawaban yang berbelit-belit tadi. Pendengar itu berasal dari tataran setting
yang berbeda-beda: akademisi, pengusaha, atau mungkin masyarakat awam. Jadi,
pembicara tidak boleh menyamaratakan kondisi jika peserta memang bertanya.
3. Etika bagi Ketua Sidang
Ketua sidang berperan sebagai penengah ketika seminar berlangsung dan
memberikan gambaran mengenai permasalahan saat peserta seminar
mengalami kesulitan. Ketua siding bukan penguji jadi tidak diperkenankkan
menguji makalah. Ketua sidang bertanggung jawab atas kelancaran sidang.
Bersama sekretaris menyusun tata tertib sidang, pembagian kelompok,
menetapkan tim perumus dan menghimpun hasil seminar.
4. Etika bagi Penyaji Makalah
Penyaji makalah dalam seminar mempunyai tugas yang berat yaitu menyajikan
makalah dengan baik dan dapat diterima dengan baik oleh peserta seminar,
maka seorang penyaji harus mempunyai etika dalam menyajikan makalah
dalam sebuah seminar yaitu menguasai masalah yang disajikan dengan
berbagai argumen dari berbagai sumber. Mau menyimak dan mencatat
tanggapan peserta. Dapat menyugesti peserta untuk mengemukakan pendapat.
Dapat mengajukan keberatan terhadap pendapat peserta dengan argumentasi
yang meyakinkan. Dapat memanfaatkan media visual yang disiapkannya
dalam penyajiannya dengan baik. Dapat menghindari pembicaraan yang
berbelit-belit dan menunjukkan solidaritas yang tinggi.
5. Etika bagi Moderator
Seorang moderator di dalam seminar berbeda dengan seorang lektor di dalam
kuliah. Ia bukanlah seorang yang memberikan pelajaran, melainkan orang
yang mengarahkan jalannya seminar. Seorang moderator adalah orang yang
paling senior dalam tema yang akan diseminarkan. Ini bukan berarti
pendapatnyalah yang paling benar. Senioritas dalam penguasaan materi
semata-mata untuk mengarahkan seminar, karena ia mestinya yang paling tahu
tentang seluk beluk tema yang diseminarkan. Peran seorang moderator ada
dua: mengarahkan (directing) dan memoderasi (moderating). Dalam
mengarahkan, ia menjaga agar seminar tidak melenceng dari tema. Dengan
memoderasi, ia menjaga agar tidak ada satu orang atau satu ide tertentu yang
terlalu mendominasi seminar sehingga seluruh tema seminar tidak
tereksplorasi dengan baik. Sebelum seminar, seorang moderator harus telah
membaca tema yang akan diseminarkan, menyiapkan catatan tentang tema
tersebut, menentukan kata-kata kunci, dan menyusun pertanyaan-pertanyaan
kunci yang nantinya akan ditanyakan di dalam seminar. Di awal seminar ia
dapat menuliskan terlebih dahulu poin-poin yang akan didiskusikan atau
menggambarkan sebuah diagram yang mencerminkan ide yang akan
didiskusikan. Seorang moderator yang baik haruslah seorang pendengar dan
pembicara yang baik. Ia mampu menangkap maksud sebuah pembicaraan dan
membuatnya lebih jelas. Ia mampu memparafrasekan sebuah pertanyaan
menjadi pertanyaan lain yang lebih jelas. Mengingat beratnya tugas seorang
moderator, sebaiknya seorang moderator tidak memimpin sebuah seminar
lebih dari satu kali dalam sehari
6. Etika bagi Peserta
Untuk berjalannya sebuah seminar dengan baik, semua peserta adalah bukan
kertas kosong yang menunggu diisi, seperti halnya kuliah. Mereka harus sudah
membaca tentang tema yang akan diseminarkan. Mereka bisa membuat sebuah
esei pendek tentang tema yang diseminarkan. Bila yang diseminarkan adalah
sebuah teks, teks tersebut telah dibaca secara analitis, ditandai, disertai
tanggapan dan kritik. Dengan terlebih dahulu membaca tentang tema yang
akan diseminarkan, mereka telah mengolahnya di dalam kepala mereka.
Mereka telah memiliki bayangan akan apa yang diseminarkan. Kertas di
tangan yang berisi ringkasan tema yang diseminarkan menurut masing-masing
peserta, akan memandu mereka nantinya di dalam seminar.

Cara Pelaksanaan Seminar


A. Bahan untuk Seminar
Bahan untuk seminar berupa:
1. Topik Seminar (sesuai penugasan kelompok);
2. Bahan tayang berupa power point, dan narasi topik seminar yang akan
menjadi bahan untuk diskusi;
3. Foto copy bahan tayang untuk dibagikan kepada peserta seminar.

B. Pembagian Kelompok
Peserta dibagi dalam kelompok-kelompok sesuai dengan kelompok
pelaksanaan dengan susunan:
1. Ketua Kelompok,
2. Moderator,
3. Penyaji,
4. Notulis,
5. Narasumber kelompok (1-2 orang), dan
6. Editor (1-2 orang).
Tugas masing-masing adalah:
1. Ketua Kelompok adalah yang memimpin kelompok masing-masing dan
membagi tugas/peran setiap anggota kelompok dalam pelaksanaan kegiatan
seminar, termasuk membagi tugas siapa yang bertanya dan yang menjawab
pertanyaan dalam kelompoknya.
2. Moderator adalah yang memimpin jalannya pelaksanaan kegiatan seminar
dari awal sampai akhir diskusi setiap kelompok. Moderator berasal dari
kelompok lainnya.
3. Penyaji makalah adalah yang bertugas untuk menyampaikan makalah dari
kelompoknya sesuai topik yang sudah ditentukan.
4. Notulis adalah yang bertugas untuk mencatat semua proses diskusi selama
presentasi kelompok dalam seminar, kemudian membantu pimpinan sidang
untuk menyimpulkan hasil seminar.
5. Narasumber kelompok adalah orang yang memberikan masukan masukan
selama proses seminar, terutama terkait dengan data dan informasi yang telah
diperoleh pada saat kunjungan lapangan.
6. Editor adalah orang yang melakukan tugas teknis berupa perbaikan dan
pemeriksaan laporan sesuai kaidah yang berlaku. Pekerjaan editing ini juga
meliputi kesalahan penulisan (data/fakta), kesalahan bahasa (ejaan, tanda baca,
penawaran, dsb), dan konsistensi dalam penulisan

D. Persiapan Seminar
Penyelenggara harus menyediakan ruang seminar yang memadai dan sesuai
untuk pelaksanaan seminar. Hal yang perlu diperhatikan yaitu cara mengatur
(formasi) tempat duduk. Agar diusahakan formasi yang digunakan dengan cara
membagi peserta ke dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok
mempunyai meja pertemuannya sendiri-sendiri.
Contoh pengaturan tempat duduk dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
E. Pelaksanaan Seminar
Seminar dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh
Penyelenggara, pada ruang yang ditentukan lengkap dengan peralatan yang
diperlukan oleh Peserta, Narasumber dan lainnya. Rincian pelaksanaan
seminar sebagai berikut

1. Moderator membuka acara seminar, memperkenalkan pemakalah dan latar


belakang dari seminar.
2. Moderator memberikan kesempatan kepada pemakalah untuk menyampaikan
materi.
3. Pemakalah menyampaikan materi seminar.
4. Setelah pemakalah selesai menyampaikan materi, kesempatan diberikan
kembali kepada moderator.
5. Setelah itu moderator memberikan kesempatan kepada pemakalah selanjutnya
untuk menyampaikan materi, dan selanjutnya pemakalah menyerahkan
kepada moderator untuk kembali memandu jalannya seminar.
6. Moderator membuka sesi tanya jawab, pada sesi tanya jawab, moderator
memberikan kesempatan kepada peserta seminar untuk menyampaikan
permasalahan, saran, kritik, terkait jalannya seminar.
7. Setelah peserta seminar menyampaikan permasalahan, moderator memberikan
kesempatan kepada pemakalah untuk menanggapi permasalahan yang
disampaikan peserta seminar.
8. Para pemakalah menanggapi permasalahan yang disampaikan oleh peserta
seminar.
9. Setelah para pemakalah menanggapi permasalahan yang disampaikan oleh
peserta seminar, maka waktu dan kesempatan dikembalikan lagi ke
moderator.
10. Selanjutnya moderator menyimpulkan semua hasil dan mengakhiri kegiatan
seminar.
11. Notulis mencari hal-hal penting dalam pelaksanaan seminar.

F. Rangkuman
Dalam melaksanakan sebuah seminar maka harus diperhatikan beberapa hal
agar pelaksanaan seminar dapat berjalan dengan lancar. Dalam seminar semua
perangkat seperti moderator, penyaji dan notulis harus dapat bekerja sesuai
dengan fungsinya masing-masing. Hal-hal lain yang perlu dipersiapkan adalah
pengaturan ruang atau setting tempat duduk, kesiapan peralatan seperti laptop,
LCD, sound system, bahan presentasi, dan jadwal pelaksanaan seminar

Tata Tertib Seminar


A. Tata Cara Moderator dalam Memimpin Seminar
Seminar dimulai dengan pengantar singkat dari moderator, dan dilanjutkan
dengan pemaparan oleh kelompok sesuai gilirannya. Seminar adalah sebuah
diskusi dua arah, sehingga tidak ada seorangpun yang lebih mendominasi
pembicaraan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Moderator supaya seminar berjalan
baik, yaitu:
1. Moderator hanya mempersilakan kepada seluruh Peserta saja, dan bukan
kepada para Narasumber, Widyaiswara ataupun Penyelenggara.
2. Moderator haruslah berperan agar dapat menjaring berbagai pertanyaan dari
kelompok yang tidak presentasi dan jawaban dari kelompok yang presentasi
selama waktu yang ditetapkan pada sesi itu.
3. Bila ada istilah yang sama, tetapi dipakai dengan arti yang berbeda oleh
beberapa orang, moderator harus menunjukkan itu dan membuat kesepakatan
dalam arti apa istilah itu dipakai sebelum melanjutkan seminar.
4. Etika harus diperhatikan dalam sebuah seminar, seperti halnya di sebuah
meja makan. Bahasa harus santun dan tidak merendahkan. Moderator harus
terlebih dahulu memberikan contoh yang dapat diikuti oleh peserta yang lain.
Bukan berarti seminar tidak bisa dilakukan dengan ringan dan diiringi tawa,
namun canda dan tawa dilakukan dengan wajar dan memberi makna di dalam
seminar. Tidak ada yang lebih membantu untuk mengingat ketimbang ide-ide
kreatif yang kadang membangkitkan tawa.

B. Tata Cara Penyaji dalam Menyampaikan Makalah


1. Menyiapkan makalah yang sesuai dengan topik yang dibahas. Tidak
menambahkan masalah diluar topik yang dibahas, kecuali ada keterkaitannya
yang kuat terhadap topik yang dibahas.
2. Menyampaikan makalah secara terstruktur dengan baik dan runtun,
sehingga mudah dicerna oleh peserta.
3. Menerima kritik dan saran dari berbagai pihak.
4. Menjawab pertanyaan dengan objektif, dan terstruktur dengan baik

C. Tata Cara Peserta dalam Seminar


1. Memahami makalah yang akan disampaikan, sehingga dapat ikut
berpartispasi dalam memberikan ide, pendapat dan gagasan.
2. Bersikap sopan santun.
3. Ikut menjaga kelancaran jalannya seminar.
4. Tidak membuat gaduh.
5. Mendengarkan penyajian makalah dengan serius.
6. Peserta tidak melontarkan pertanyaan selama penyaji menyampaikan
makalah. Peserta akan diberikan sesi khusus untuk bertanya.
7. Peserta jika akan mengajukan pertanyaan, agar mengangkat tangan. Bila
pemandu mempersilakan barulah bertanya. Pertanyaan dengan singkat dan
jelas, dan tidak memberikan kesan pertanyaan yang berbelit-belit.

D. Tata Cara dalam Mengajukan Pertanyaan dalam Diskusi pada Seminar


Setelah penyaji selesai menyampaikan pemaparan sesuai topik yang
ditentukan, agenda berikutnya adalah diskusi atau tanya jawab. Diskusi
merupakan suatu proses untuk mendapatkan solusi dari suatu masalah yang
dilakukan secara bersama-sama, dengan dasar pertimbangan intelektual.
Dengan demikian kegiatan diskusi adalah untuk mencari solusi secara
bersama. Peserta harus berperan aktif dalam mengikuti seminar, untuk itu para
peserta seminar harus menguasai betul-betul topik yang dibahas sehingga
dapat menanggapi secara baik dan proporsional. Bentuk tanggapan dari para
peserta seminar adalah dapat berupa pertanyaan, sanggahan, atau meluruskan
pernyataan dari penyaji makalah. Peran peserta seminar dalam mengajukan
pertanyaan, harus memenuhi beberapa kriteria, diantaranya adalah:
1. Pertanyaan harus jelas, fokus dan mengenai sasaran, sehingga tidak
terkesan berbelit-belit.
2. Kalimat dalam pertanyaan menggunakan kalimat yang benar dan sopan.
3. Kalimat dalam pertanyaan tidak mengesankan hanya menyalahkan
penyaji dalam menyampaikan makalahnya.

E. Tata Cara Menyampaikan Ide/ Pendapat dalam Diskusi pada Seminar


Seperti sudah didefinisikan terdahulu, bahwa diskusi adalah merupakan suatu
proses untuk mendapatkan solusi dari suatu masalah yang dilakukan secara
bersama-sama. Dengan demikian diskusi merupakan pertukaran pikiran atau
pendapat antara para peserta yang dilakukan secara lisan untuk mendapatkan
kesamaan pendapat. Ide dan pendapat peserta adalah pemikiran mengenai
sesuatu yang berasal dari pengalaman peserta, baik pengalaman praktis
maupun teoritis. Tetapi perlu diingat bahwa pengalaman yang dialami belum
tentu cocok atau sesuai jika diterapkan dengan masalah yang sedang
didiskusikan. Menyampaikan ide atau pendapat dalam diskusi berarti
menyampaikan pendapat atau ide kepada orang lain. Ide atau pendapat yang
disampaikan kepada seseorang dapat mengingatkan yang diajak bicara,
sehingga yang diajak bicara pun mengingat kembali kejadian yang pernah
dialaminya. Tetapi diluar dari itu, ide atau pendapat yang bukan merupakan
hasil penelitian atau fakta yang sudah ada, jika sampai terjadi pendapat yang
berkepanjangan, sebaiknya kedua-duanya tidak memaksakan pendapatnya.
Disini peran moderator diharapkan dapat tampil untuk memberikan pendapat
yang lebih bijaksana.

Daftar Pustaka
Tegeh,dkk.2013.Seminar Pendidikan Singaraja:Undiksha Press