Anda di halaman 1dari 142

DOKUMEN USULAN TEKNIS

E.1. GAMBARAN UMUM WILAYAH PERENCANAAN

Bengkulu merupakan provinsi yang juga memiliki garis pantai yang tegas dengan
keindahan pantai nya. Pantai Panjang Bengkulu ini terdapat di kota Bengkulu, Ibukota
Provinsi Bengkulu. Dinamakan demikian karena pantai ini memiliki garis pantai yang sangat
panjang mencapai 7 km dan lebar pantai (garis pasang dan garis surut) sekitar 500 meter.
Hal ini terjadi karena di sekitar pantai tidak terdapat karang sehingga saat air laut pasang
membuat hamparannya menjangkau sangat jauh ke dalam pantai.

E.1.1. LETAK GEOGRAFIS DAN BATAS ADMINISTRASI

Kota Bengkulu adalah ibukota Provinsi Bengkulu. Bengkulu yang dahulu disebut
Bencoolen merupakan kota pelabuhan tua Bencoolen yang dijadikan kota
pendudukan dan perdagangan oleh Inggris pada abad XVIII dan XIX. Pelabuhan
Bengkulu (Pelabuhan Pulau Baai) berada sekitar 20 km dari Pusat Kota Bengkulu
dan memiliki hinterland yang cukup luas dengan potensi pertambangan, perkebunan
dan kehutanan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan agrobisnis,
pertambangan dan industri.
Secara administratif, Kota Bengkulu mempunyai luas wilayah sekitar 14.452 km²,
yang terdiri dari 9 kecamatan (pemekaran kecamatan baru yaitu Kecamatan
Singaran Pati dari kecamatan induk, yaitu Kecamatan Gading Cempaka) dan 66
kelurahan, dengan batas administratif sebagai berikut :
 Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Tengah;
 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Seluma;

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E-1 |Page


DOKUMEN USULAN TEKNIS

 Sebelah Timur berbatasan Kabupaten Bengkulu Utara;


 Sebelah Barat berbatasan Samudera Hindia.
Untuk lebih jelasnya, letak geografis Kota Bengkulu dan administratif Kota Bengkulu
dapat dilihat pada Gambar E.1, Gambar E.2 dan Tabel E.1 berikut ini :

Tabel E.1. Luas Wilayah Kota Bengkulu Menurut Kecamatan Tahun 2009

No Kecamatan Luas (Km2) Persentase (%)

1 Kec. Selebar 34,68 24


2 Kec. Kampung Melayu 40,65 28
3 Kec. Gading Cempaka 8,398 6
4 Kec. Singaran Pati * 1,442 1
5 Kec. Ratu Agung 8,78 6
6 Kec. Ratu Samban 9,93 7
7 Kec. Teluk Segara 7,35 5
8 Kec. Sungai Serut 9,33 6
9 Kec. Muara Bangkahulu 23,96 17
Jumlah 144,52 100

Sumber : Bengkulu Dalam Angka Tahun 2009, BPS Kota Bengkulu.

Ket : * Pemekaran dari Kec. Gading Cempaka

Tabel E.1 di atas menunjukkan bahwa kecamatan-kecamatan yang berada di


kawasan Pusat Kota memiliki luas wilayah yang lebih kecil daripada kecamatan-
kecamatan yang berada yang berada di pinggiran kota.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E-2 |Page


DOKUMEN USULAN TEKNIS

Gambar E.1. Peta Orientasi Kota Bengkulu

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E-3 |Page


DOKUMEN USULAN TEKNIS

Gambar E.2. Peta Administrasi Kota Bengkulu

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E-4 |Page


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Pantai Panjang, merupakan pantai yang berada di Provinsi Bengkulu tepatnya di
Kota Bengkulu. Pantai ini memiliki garis pantai yang mencapai 7 km dan lebar pantai
sekitar 500 meter. Pantai Panjang terletak di Kecamatan Ratu Agung, Kecamatan
Teluk Segara, & Kecamatan Ratu Samban.

Letaknya sekitar 4 km dari pusat kota. Pantai ini memiliki garis pantai yang
mencapai 7 km dan lebar pantai sekitar 500 meter. Pantai Panjang terletak di
Kecamatan Ratu Agung, Kecamatan Teluk Segara, & Kecamatan Ratu Samban.
Pantai Panjang terletak sejajar dengan Pantai Tapak Paderi dan Pantai Jakat.

Gambar E.3. Peta Lokasi Pantai Panjang

Tabel E.2. Batas Wilayah Pantai Panjang


Arah Batas Wilayah
Utara Daerah Kelurahan Penurunan
Selatan Samudera Hindia
Barat Kelurahan Sumur Meleleh, Pasar Pantai Malabro
Timur Daerah Lempuing, Nusa Indah

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E-5 |Page


DOKUMEN USULAN TEKNIS
E.1.2. TOPOGRAFI DAN KEMIRINGAN LAHAN

a) Ketinggian
Kota Bengkulu terletak pada ketinggian antara 0 – 100 m/dpl, dengan
persebaran sporadis pada setiap wilayah kota, sehingga menyebabkan
morfologi kota yang bergelombang. Lokasi dengan titik tertinggi (hingga 100
m/dpl) berada di bagian tenggara (Kec. Selebar). Sementara titik terendah
(antara 0 m/dpl – 10 m/dpl) di bagian Selatan, Utara dan Timur, sedangkan
Pusat Kota Bengkulu sendiri berada pada ketinggian antara 10 – 25 m/dpl.

b) Kemiringan
Secara umum wilayah Kota Bengkulu didominasi oleh kelas lereng datar, yang
mencapai 88,09% (12.730,7 Ha), yang terdiri dari 2 (dua) kelas kemiringan
lereng yaitu kemiringan lerengnya 0 – 3% dengan luas 8.145,38 Ha dan sekitar
4.585,32 Ha kemiringan lereng 3 – 8% yang sesuai untuk pengembangan
pembangunan kota.
Wilayah dengan kemiringan 0 – 3% ini terletak di daerah bagian Barat,
Selatan dan Timur Laut Kota Bengkulu, sedangkan kemiringan lereng 3 – 8%
sebagian di Utara, pusat kota yang memanjang ke arah Tenggara Kota
Bengkulu.

Tabel E.3. Kemiringan / Lereng Kota Bengkulu


Nilai Kemiringan Kelas Luas (Ha) Persentase (%)
0-3% Datar 8.145,38 56,36
Agak
3-8% 4.585,32 31,72
Landai
8 - 15 % Landai 1.705,19 11,79
15 - 40 % Agak Curam 16,11 0,11
Jumlah 144.520 100
Sumber : Hasil Perhitungan Aplikasi ARCGIS, Tahun 2008

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E-6 |Page


DOKUMEN USULAN TEKNIS
E.1.3. KLIMATOLOGI

Berdasarkan klasifikasi iklim, daerah ini tergolong tipe iklim A (Tropis Basah) dengan
kelembaban 70 – 87%. Jumlah bulan basah 10 bulan, yakni pada bulan Oktober
- Juli. Temperatur rata-rata tahunan antara 25º - 27ºC dengan curah hujan bulanan
berkisar 230 - 620 mm, dengan jumlah hari hujan berkisar antara 10 - 23 hari.

Suhu udara maksimum berkisar antara 29,60C – 31,50C dan suhu minimum berkisar
antara 23,10C – 24,20C dengan curah hujan rata-rata 2.626 mm/ tahun dan rata-
rata hari hujan sekitar 188 hari/tahun. Curah hujan tahunan berkisar 2.500 – 4.000
mm. Kecepatan angin rata-rata 18 knot atau sekitar 10 km/jam, tekanan udara
berkisar antara 1.008,4 – 1.012,6 MB dan kecepatan angin maksimum berkisar 14
- 32 mil/jam. Lama penyinaran matahari rata - rata berkisar antara 55 – 86%.

E.1.4. GEOLOGI DAN TANAH

a) Geologi Umum
Secara umum bagian tengah Peta Geologi Lembar Bengkulu dan sekitarnya (S.
Gafoer, T. C. Amin dan R. Pardede,1992.) skala 1: 250.000, ditempati oleh
beberapa gunung api muda, antara lain Bukit Dingin dengan ketinggian
mencapai 2.020 m di atas permukaan laut (dpl), Bukit Balai (1.683 m dpl), Bukit
Condong (2.079 m dpl), Bukit Daun (2.467 m dpl), Gunung Hulupalik (2.493 m
dpl), dan Bukit Gendahululai (2.130 m dpl). Gunung-gunung tersebut membentuk
jajaran gunungapi strato sebagai bagian dari rangkaian Pegunungan Bukit
Barisan dengan arah umum Barat Laut – Tenggara. Di bagian Barat dan Timur
dibatasi oleh perbukitan bergelombang, setempat dengan timbulan tajam
terdapat di bagian Utara dan Selatan. Dataran sempit terdapat setempat-
setempat di daerah pantai pada bagian Barat Daya.
Sesar Sumatera dengan arah umum Barat Laut - Tenggara memotong batuan
berumur Oligosen sampai Kuarter. Di beberapa tempat terlihat bahwa sesar
Sumatera merupakan kontak antara batuan vulkanik Kuarter dengan batuan
padu berumur lebih tua. Dataran sempit yang dijumpai setempat-setempat di

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E-7 |Page


DOKUMEN USULAN TEKNIS
bagian Barat Daya menurut Ratman dkk. (1978) dibentuk oleh material lepas
berukuran lempung sampai kerikil dengan ketebalan kurang dari 5 m.

b) Geologi Wilayah
Dijelaskan pada Peta Geologi Lembar Bengkulu dan sekitarnya (S. Gafoer, T.
C. Amin dan R. Pardede,1992.) skala 1: 250.000, bahwa wilayah Kota
Bengkulu secara umum tersusun oleh batuan endapan permukaan (surficial
deposits) berumur Kuarter dan batuan sedimen dan gunung api (sedimentary
and volcanic rocks) serta batuan terobosan berumur Tersier.
Urutan stratigrafi dari satuan termuda sampai yang tertua adalah sebagai
berikut :
1. Undak Aluvium (Qat)
Satuan ini merupakan endapan permukaan yang termuda, berumur Holosen
Kuarter yang tersusun oleh pasir, lanau, lempung dan kerikil yang dibentuk
oleh endapan sungai, pantai dan rawa. Endapan ini penyebarannya hampir
di seluruh Kota Bengkulu, mulai dari bagian Utara hingga bagian Selatan,
namun tidak mencapai batas kota di sebelah Timur, dengan luas sekitar
62,8%.

2. Aluvium (Qa)
Satuan ini juga berumur Holosen Kuarter yang tersusun oleh bongkah, kerikil,
pasir, lempung, lanau dan lumpur. Endapan permukaan ini penyebarannya
hanya pada sebagian wilayah Kecamatan Muara Bangkahulu, Kecamatan
Sungai Serut dan Kecamatan Gading Cempaka (seluruh kawasan Danau
Dendam Tak Sudah), dengan luasan berkisar sekitar 15%.

3. Endapan Rawa (Qs)


Endapan permukaan yang berumur Holosen Kuarter ini tersusun oleh pasir,
lanau dan lumpur dengan sisa tumbuhan. Penyebarannya hanya terdapat
pada bagian Utara Kecamatan Muara Bangkahulu dan sebelah Timur
Kecamatan Gading Cempaka, dengan luas total sekitar 3%.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E-8 |Page


DOKUMEN USULAN TEKNIS
4. Batu Gamping Terumbu Karang (Ql)
Endapan permukaan yang berumur Plistosen Kuarter ini tersusun oleh batu
gamping terumbu. Penyebarannya sporadis pada beberapa kecamatan,
umumnya berbatasan langsung dengan laut, yaitu Kecamatan Kampung
Melayu dan Kecamatan Ratu Samban dan Kecamatan Ratu Agung.

5. Formasi Bintuhan (QTb)


Satuan batuan ini merupakan batuan sedimen dan gunung api yang diduga
berumur Plistosen Kuarter dan tersusun oleh konglomerat aneka bahan,
breksi, batu gamping terumbu, batu lempung tufan, berbatuapung, kayu
terkesikan. Umumnya terdapat di bagian Timur Kecamatan Muara
Bangkahulu.

6. Andesit (Tpan)
Andesit merupakan batuan terobosan, yang diduga berumur Pliosen Tersier.
Penyebarannya di Kota Bengkulu umumnya berada di Kecamatan Selebar

c) Struktur Geologi
Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bengkulu dan sekitarnya (S. Gafoer, T.C.
Amin dan R. Pardede,1992.) dengan skala 1: 250.000, struktur geologi yang
terdapat di Kota Bengkulu adalah kelurusan, dengan sumbu Barat Laut
Tenggara yang terdapat di Kecamatan Gading Cempaka, Kecamatan Selebar
dan Kecamatan Kampung Melayu.
Struktur geologi tersebut masuk dalam sistem patahan Sumatera dan bagian
dari sesar Musi Keruh dan Sesar Ketaun, yang bagian dari Sesar Semangko.
Struktur geologi dengan skala regional misalnya Sesar Semangko yang relatif
berarah Barat Laut – Tenggara atau relatif searah dengan Pulau Sumatera
dapat berfungsi sebagai pemicu terjadinya gempa di sepanjang/di sekitar
zona sesar tersebut.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E-9 |Page


DOKUMEN USULAN TEKNIS
E.1.5. HidroGeologi
a) Air Permukaan
Air permukaan yang terdapat di Kota Bengkulu dapat ditemukenali dari
informasi Satuan Wilayah Sungai/Wilayah Sungai (SWS/WS) dan Daerah
Aliran Sungai (DAS). Pentingnya informasi mengenai SWS/WS dan DAS, karena
masing-masing WS umumnya mempunyai karakteristik berbeda, demikian juga
dengan DAS yang diharapkan dapat memberikan gambaran potensi sungai
sampai orde yang terkecil.
Dalam pengelompokan Satuan Wilayah Sungai (SWS), sungai-sungai di
wilayah Kota Bengkulu termasuk dalam SWS 01.28 (Kanal-Alas-Talo), yang
mempunyai 35 sungai, dengan luas Daerah Pengaliran Sungai (DPS) sekitar
6.884,3 km². Adapun sungai yang melintasi Kota Bengkulu antara lain Air
Bengkulu, Air Jenggalu, Air Hitam, Air Babatan, Air Betungan, Air Muara, Air
Riak, Air Lempuing dan Air Sepan. Selain sungai, di Kota Bengkulu terdapat
Danau Dendam Tak Sudah dengan luas genangan sekitar 70 ha. Danau ini
merupakan sumber air irigasi dengan areal sawah seluas 510 ha (sebelum alih
fungsi).
Air permukaan yang terdapat di Kota Bengkulu dimanfaatkan sebagai sumber
air baku bagi penduduk Kota Bengkulu oleh PDAM. Salah-satunya adalah IPA
Surabaya yang memanfaatkan Air Bengkulu sebagai sumber air baku. Selain
IPA Surabaya, pemanfaatan sumber air baku oleh PDAM adalah Air Jenggalu,
dengan IPA Nelas, yang terletak di Kabupaten Seluma. Dari kedua IPA tersebut
mempunyai kapasitas terpasang dan kapasitas produksi sebesar 650 lt./detik.

b) Air Tanah
Potensi air tanah dangkal di Kota Bengkulu berupa sumur dan mata air.
Penggunaan sumur sebagai sumber air baku oleh penduduk digunakan hampir
merata di seluruh wilayah kota. Kedalaman sumur untuk mendapatkan air
adalah sekitar 10-15 m. Adapun sumber mata air di Kota Bengkulu terdapat di
beberapa lokasi, yang dimanfaatkan sebagai sumber air baku.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 10 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Potensi air tanah dalam Kota Bengkulu berdasarkan Peta Hidrogeologi Lembar
Bengkulu, skala 1 : 250.000 dari Direktorat Geologi Tata Lingkungan
digambarkan sebagai berikut :
1. Berdasarkan litologi batuan dan kelulusannya, Kota Bengkulu berada pada
2 (dua) jenis litologi, yaitu :
a. Aluvium, yang terdiri dari kerikil, pasir dan lempung, dengan kelulusan
sedang sampai tinggi pada material kasar dan berkelulusan rendah pada
material lempungan;
b. Napal, tufa napalan dan tufa lempungan, dengan kelulusan, yang
umumnya rendah sampai dengan sangat rendah.
2. Berdasarkan keterdapatan air tanah dan produktifitas akuifer, Kota
Bengkulu termasuk ke dalam akuifer (bercelah atau sarang) dengan
produktifitas rendah dan daerah air tanah yang langka. Kondisi ini berlaku
di seluruh Kota Bengkulu.
3. Daerah air tanah jelek, yang terdapat pada bagian selatan Kec. Kampung
Melayu.

Akuifer dangkal di wilayah dataran umumnya kurang produktif menilik litologi


akuifernya bersifat lempungan dan tidak menerus, serta pelamparan
vertikalnya yang tipis. Menurut Siddik dkk. (1977) mata air di sekitar Pondok
Kelapa menghasilkan debit kurang dari 10 l/dtk. Pemboran di Stasiun Relay
TVRI Bengkulu menunjukkan adanya akuifer dalam berupa batupasir lempungan
pada kedalaman 42-60 m dari muka tanah setempat, bertekanan negatif dan
kecil potensinya. Purbo-Hadiwidjojo dan Tjahjadi (1981) menyatakan bahwa
akuifer terpenting di sekitar Kota Bengkulu adalah batupasir dengan
kedalaman akuifer bervariasi, debit diperkirakan kurang dari 2 l/dtk.
Beberapa pemboran di Padang Harapan dan Pekan Sabtu pada jarak kurang
5 km dan 12,5 km ke arah tenggara dari pusat Kota Bengkulu, serta di lokasi
Bentiring pada jarak lebih kurang 15 km ke arah Timur Laut dari pusat Kota
Bengkulu menembus akuifer batupasir, setempat dengan campuran fragmen
batuan. Ketebalan bervariasi antara 3 hingga 64 m (PT. Rayakonsult, 1984).

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 11 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Potensi Air di Kota Bengkulu sangat melimpah, dan bisa dilihat dari banyaknya
aliran sungai yang melintasi daerah ini. Dalam pengelompokan Satuan Wilayah
Sungai (SWS), sungai-sungai di wilayah Kota Bengkulu termasuk dalam SWS
01.28 (Nasal – Alas - Talo).

E.2. LANDASAN TEORI

E.2.1. DASAR HUKUM


Produk hukum yang terkait dengan teknis Penataan Kawasan dapat dirujuk antara
lain:
 UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH).
 UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepawisataan.
 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2010 Tentang Kawasan Pariwisata
 Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Kota Bengkulu Tahun 2012-2032
 Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 1984 Tentang Rencana Induk Pengembangan
Pariwisata Daerah (RIPDA) Kota Bengkulu.
 Peraturan Daerah Nomor 06 tahun 2016 tentang Rencana Induk
Pengembangan Obyek Wisata (RIPOW) kawasan Pantai Panjang Kota
Bengkulu.
 Peraturan Daerah Provinsi Bengkulu Nomor 6 Tahun 2016 Tentang RPJMD
Provinsi Bengkulu 2016-2021.
 DPA Nomor : 1.03 .01. 11.17.5.2 DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota
Bengkulu.

E.2.2. PEMAHAMAN TENTANG TATA RUANG


a) Pengertian Tata Ruang
Semakin luasnya pemaknaan, penerapan dan ruang lingkup persoalan yang
berkaitan dengan perencanaan telah semakin memperluas pengartian
terhadap perencanaan atau planning. Di dalam perkembangannya dari

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 12 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
pandangan di negara yang telah sejak lama mengfungsikan perencanaan,
bahkan keluasan arti ini menyangkut berbagai hal yang berkaitan dengan
perencanaan seperti arti untuk plan, planning, planner yang masing masing
diartikan sebagai produk dari proses perencanaan proses kegiatan penyusunan
rencana dan subyek perencana atau penyusun rencana. (Prof. Djoko Sujarto)
Tata Ruang: wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan
maupun tidak (UU No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang). Penataan
Ruang: suatu sistem proses perencanaan penataan ruang, pemanfaatan ruang,
dan pengendalian pemanfaatan ruang sebagai suatu proses yang ketiganya
tersebut merupakan satu kesatuan sistem yang tidak dapat dipisahkan satu
dengan yang lainnya (UU No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang). Dalam
penyusunan dan penetapan rencana tata ruang, ditempuh langkah-langkah
kegiatan.
1. Menentukan arah pengembangan yang akan dicapai dilihat dari segi
ekonomi, sosial, budaya, daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta
fungsi pertahanan keamanan
2. Mengidentifikasikan berbagai potensi dan masalah pembangunan dalam
suatu wilayah perencanaan
3. Perumusan perencanaan tata ruang
4. Penetapan rencana tata ruang

Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan


ruang beserta pembiayaannya, yang didasarkan atas rencana tata ruang,
diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka waktu yang
ditetapkan dalam rencana tata ruang. Pengendalian pamanfaatan ruang
diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap
ruang. Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang diselenggarakan dalam
bentuk pelaporan, pemantauan dan evaluasi. Penertiban pemanfaatan ruang
yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan dalam bentuk
pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Pengertian 'perencanaan' pada hakekatnya mengandung 4 hal pokok
sebagai 'ingre-dients' yaitu :

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 13 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
1. Tujuan yang lebih baik dimasa yang akan datang
2. Adanya sumber daya (alam, manusia, modal dan informasi)
3. Adanya limitasi dan kendala (limitation and constraints)
4. Efisiensi dan keefektifan

b) Pengertian Perencanaan
Berdasarkan terminologi planologis, prinsip perencanaan tata ruang menurut
Prof. Djoko Sujarto, antara lain :
1. Suatu penentuan pilihan (setting up choices). Perencanaan terkait dengan
pengambilan keputusan untuk menetapkan pilihan. Dalam hal ini maka
proses pemilihan ini didasari oleh suatu pertimbangan untuk memilih unsure-
unsur yang akan dikembangkan dan tindakan mana yang akan dipakai
sebagai cara bertindak di dalam pembangunan;
2. Suatu penetapan pengagihan sumber daya (resources allocation). Pada
dasarnya perencanaan merupakan suatu usaha untuk mempertimbangkan
secara rasional pengagihan sumber daya yang potensial dan dimiliki
termasuk sumber daya manusuia, sumber daya alam, sumber daya modal
untuk mencapai tujuan pembangunan berdasarkan keterbatasan dan
kendala sumber daya potensial tersebut berdasarkan strategi yang akan
menentuan urutan prioritas pembangunan;
3. Suatu penetapan dan usaha pencapaian sasaran dan tujuan pembangunan
(setting up goals and objectives), yaitu menetapkan sasaran tujuan yang
diperhitungkan sesuai dengan kuantitas usaha pencapaian dan apa yang
ingin dicapai dalam kurun waktu mendatang tertentu. Seringkali terjadi
bahwa sasaran dan tujuan pembangunan yang ditetapkan akan berdeviasi
di dalam kurun waktu pelaksanaan pembangunan tersebut;
4. Suatu mencapai keadaan yang baik masa mendatang yang di dalam
usaha menrealisasikannnya perlu mempertimbangkan dua hal pokok yaitu:
 Pertama, dapat membuat perkiraan yang baik dan menjabarkannya
dalam suatu penjadwalan yang berurutan (sequential) sesuai dengan
kebutuhan dan sumber daya yang mendukungnya

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 14 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

 Kedua, Pelaksanaan pentahapan untuk,mencapai tujuan masa


mendatang disusun dalam urutan kegiatan yang logis, rasional dan
tertata secara bertahap berurutan. Dalam perkembangan selanjutnya
'planning' atau 'perencanaan' kemudian dikaitkan dengan upaya
merumuskan keinginan dan cita cita manusia dalam arti yang lebih luas.
Perencanaan merupakan rumusan keinginan dari kelompok manusia
dalam mencapai keadaan yang lebih baik. Dengan berbagai sifat
yang ada pada manusia sebagai mahluk dinamis, maka makna dan
arti planning telah mengalami perkembangan. Sekarang kalau
berbicara 'planning' atau 'perencanaan', maka selalu terkandung
pengertian adanya suatu rangkaian yang menerus secara
bersinambungan.

c) Unsur – Unsur Perencanaan


Sehubungan dengan tingkat kepentingan dan lingkup strategi
permasalahannya, maka rencana tata ruang disusun secara bertahap dan
dalam jenjang cakupan yang berurutan. Secara sistematis jenjang cakupan
rencana ini dimulai dari lingkup yang lebih luas dan substansinya menyeluruh
hingga ke jenjang cakupannya semakin terinci (detailed). Semakin kecil cakupan
wilayahnya, maka rencana tersebut semakin terinci dan semakin tertuju kepada
segi fisik yang lebih nyata. Pada awalnya penyusunan rencana kota di
Indonesia telah diatur melalui Permendagri No. 2 Tahun 1987 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Kota. Mengingat peraturan perundang-undangan yang
telah ada belum dapat menampung tuntutan perkembangan pembangunan,
maka Pemerintah mengeluarkan Undang-undang No. 24 Tahun 1992 dan
disempurnakan dengan Undang-undang No. 26 tahun 2007 mengenai
Penataan Ruang. Tata ruang yang dimaksud dalam undang-undang tersebut
adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan
maupun tidak. Mengacu pada UU No 26 Tahun 2007, jenis rencana tata ruang
dibedakan berdasarkan sistem, fungsi utama kawasan, wilayah administrasi,
kegiatan kawasan, dan nilai strategis kawasan.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 15 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Penataan ruang berdasarkan sistem terdiri atas sistem wilayah dan sistem
internal perkotaan.
1. Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan terdiri atas kawasan
lindung dan kawasan budidaya
2. Penataan ruang berdasarkan wilayah administratif terdiri atas penataan
ruang wilayah nasional, penataan ruang wilayah provinsi, dan penataan
ruang wilayah kabupaten/kota
3. Penataan ruang berdasarkan kegiatan kawasan terdiri atas penataan
ruang kawasan perkotaan dan penataan ruang kawasan pedesaan
4. Penataan ruang berdasarkan nilai strategis kawasan terdiri atas penataan
ruang kawasan strategis nasional, penataan ruang kawasan strategis
provinsi, dan penataan ruang kawasan strategis kabupaten/kota..

Setiap tingkatan rencana tata ruang tersebut memiliki cakupan wilayah


perencanaan yang berbeda dengan maksud yang berbeda pula. Definisi dan
cakupan wilayah perencanaan, maksud, dan skala ketelitian peta yang
digunakan setiap tingkatan rencana tata ruang berdasarkan Undang-Undang
No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang .Dalam setiap proses
perumusannya, rencana tata ruang kota tersebut selalu mengacu kepada
kebijakan-kebijakan lain yang secara luas terkait dalam suatu struktur
kebijakan pembangunan, yang dimulai dari kebijakan skala nasional, regional
hingga kebijakan pembangunan kota itu sendiri. Perencanaan tata ruang
menurut Undang-undang No. 26 tahun 2007 dilakukan untuk menghasilkan :
Rencana umum tata ruang, secara hirarki terdiri atas:
1. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
2. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi
3. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten, dan Kota

Rencana rinci tata ruang, secara hirarki terdiri atas:


1. Rencana Tata Ruang Pulau, atau kepulauan dan rencana tata ruang
kawasan strategis nasional
2. Rencana Tata Ruang Kawasan strategis provinsi

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 16 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
3. Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/kota dan rencana tata ruang
strategis kabupaten/kota dijadikan dasar bagi penyusunan rencana
tataruang kawasan perbatasan

E.2.3. TINJAUAN MENGENAI PENGEMBANGAN WILAYAH


Globalisasi yang antara lain ditandai dengan integrasi perekonomian dunia dan
kemajuan di bidang teknologi informasi, komunikasi dan transportasi adalah
kenyataan yang harus dihadapi bangsabangsa di dunia, termasuk juga Indonesia.
Seiring dengan proses tersebut terjadi pula pergeseran pada paradigma
pengembangan wilayah sekarang ini, seperti proses perencanaan yang top-down
menuju bottom-up, desentralisasi, penguatan institusi lokal dan perhatian pada
masalah lingkungan. Otonomi daerah yang telah dijalankan di Indonesia telah
memberikan kewenangan yang lebih luas kepada daerah untuk melaksanakan
pembangunan sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Dengan kewenangan yang
lebih besar ini diharapkan pengembangan wilayah yang sesuai dengan
karakteristik wilayah itu sendiri. Implikasi yang dapat timbul dari hal tersebut adalah
adanya persaingan antar wilayah untuk dapat memasarkan produk unggulan yang
dimilikinya. Pengembangan wilayah (regional development) sebagai upaya untuk
memacu kondisi sosialekonomi, budaya dan geografis yang sangat berbeda antara
suatu wilayah dengan wilayah lainnya (Firman,1999). Kebutuhan akan informasi
yang akurat tentang potensi dan kondisi wilayah sangat diperlukan untuk dapat
melakukan analisis wilayah. Dalam pemanfaatan potensi wilayah, perlu
dipertimbangkan agar tidak mengeksploitasi sumberdaya tetapi lebih kepada
upaya optimalisasi sumberdaya dengan tanpa mengorbankan sumberdaya di masa
mendatang (Ahmadjayadi dalam Munir, 2002). Karenannya ada enam upaya
penting yang perlu dilakukan, yaitu :

1. Melakukan deskripsi jenis-jenis potensi wilayah secara sistematis, misalnya


potensi wilayah yang berkaitan dengan pertanian, pariwisata, kehutanan,
perikanan, pertambangan dan tenaga kerja

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 17 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
2. Melakukan klasifikasi jenis-jenis potensi wilayah secara sistematis, misalnya
pengelompokan potensi wilayah di bidang perikanan, pertanian, pariwisata.
3. Melakukan deskripsi di mana setiap potensi wilayah berada, yaitu melakukan
deskripsi di mana setiap potensi wilayah yang sudah diklasifikasikan tersebut
4. Melakukan deskripsi jumlah ketersediaan potensi wilayah, yaitu melakukan
identifikasi dengan memberikan deskripsi berapa jumlah jenis potensi wilayah
yang sudah diklasifikasikan di setiap lokasi.
5. Melakukan deskripsi pengembangan potensi wilayah, yaitu melakukan
identifikasi dengan memberikan deskripsi pengembangan potensi wilayah yang
telah dikembangkan dengan orientasi pemikiran akan adanya nilai tambah
terhadap potensi wilayah
6. Melakukan deskripsi perubahan-perubahan atas potensi wilayah yang telah
diidentifikasi, yaitu melakukan identifikasi dengan memberi deskripsi terhadap
jenis potensi wilayah yang telah berubah (Munir, 2002).

Pengenalan wilayah merupakan hal penting untuk dapat melakukan pengembangan


wilayah, karena wilayah terbentuk melaui suatu keterkaitan antar aktifitas yang ada
di dalamnya melalui suatu hubungan fungsional antar aktifitas tersebut. Untuk
mencapai hal tersebut dalam pengembangan wilayah perlu dilaksanakan dengan
mengoptimalkan beberapa prinsip yaitu:
1. Mengoptimalkan penggunaan sumberdaya yang tersedia, mulai dari
sumberdaya alam, sumberdaya manusia, maupun sumberdaya sosial dengan
tujuan keuntungan komparatif.
2. Pengembangan wilayah memerlukan desentralisasi fungsi, yakni adanya
distribusi kegiatan
3. Apabila pengembangan kegiatan ekonomi pada suatu wilayah ditujukan
sebagai basis ekspor dengan pemasaran luar negeri, diperlukan aksesibilitas
yang tinggi (Riant Nugroho dalam Munir, 2002).

Dalam pengembangan wilayah ada tiga sasaran utama yang banyak dicanangkan
baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat yaitu meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, memperluas kesempatan berusaha serta menjaga agar

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 18 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
pembangunan dapat tetap berjalan secara berkesinambungan (Alkadri et al, 1999).
Jika dilihat praktik perngembangan wilayah di Indonesia selama ini, terutama
sebelum otonomi daerah, banyak kebijakan yang sifatnya top-down.
Pengembangan wilayah di Indonesia antara lain ditandai dengan kehadiran
Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi/Kabupaten (RTRWP/RTRWK), Rencana
Pengembangan Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (KAPET) sebagai upaya
untuk mengurangi kesenjangan antara Kawasan Barat Indonesia dengan Kawasan
Indonesia Timur. Dalam rencana pengembangan wilayah tersebut terlihat skala yang
sangat besar, dilakukan secara top-down dengan inisiatif dari pemerintah pusat,
dan sangat mengandalkan investasi dari luar sebagai pendorongnya (Firman,1999).

E.2.4. TINJAUAN MENGENAI PENGEMANGAN SEKTORAL

Pendekatan sektoral merupakan pendekatan aktifitas ekonomi di dalam suatu


wilayah dibagi menjadi sektor-sektor yang dianalisis secara terpisah. Dalam
pendekatan sektoral, untuk tiap sektor semestinya dibuat analisis sehingga dapat
memberi jawaban mengenai sektor tertentu. (Tarigan, 2004).

1. Sektor apa yang memiliki competitive advantage di wilayah tersebut


2. Sektor yang menjadi sektor basis dan non basis
3. Sektor yang memiliki nilai tambah tinggi
4. Sektor yang memiliki forward linkage dan backward linkage tinggi.
5. Sektor yang perlu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan minimal wilayah
tersebut.
6. Sektor yang banyak menyerap tenaga kerja Atas dasar beberapa kriteria di
atas, selanjutnya dapat ditetapkan sektor yang dapat dikembangkan di
wilayah tersebut. Pendekatan sektoral yang sebenarnya berupaya
meningkatkan optimasi penggunaan ruang dan potensi sumberdaya wilayah
dan hubungannya dengan pemanfaatan, produktifitas dan konservasi bagi
kelestarian lingkungan, masih berjalan sendiri-sendiri serta lebih
menitikberatkan pada kepentingan sektor itu sendiri tanpa terlalu
memperhatikan kepentingannya dengan sektor lainnya (Riyadi, 2002). Contoh
pendekatan sektoral adalah dalam pengembangan pertanian adalah analisis

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 19 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
kesesuaian lahan pertanian berdasarkan penilaian terhadap sifat dan kondisi
tanah, iklim dan morfologi dengan menggunakan standar dan kriteria FAO yang
dimodifikasi oleh PPT Bogor.

E.2.5. TINJAUAN MENGENAI PENGEMANGAN SEKTORAL

Definisi konsep pembangunan berkelanjutan diinteprestasikan oleh beberapa ahli


secara berbedabeda. Namun demikian pembangunan berkelanjutan sebenarnya
didasarkan kepada kenyataan bahwa kebutuhan manusia terus meningkat. Kondisi
yang demikian ini membutuhkan suatu strategi pemanfaatan sumberdaya alam yang
efesien. Disamping itu perhatian dari konsep pembangunan yang berkelanjutan
adalah adanya tanggungjawab moral untuk memberikan kesejahteraan bagi
generasi yang akan datang, sehingga permasalahan yang dihadapi dalam
pembangunan adalah bagaimana memperlakukan alam dengan kapasitas yang
terbatas namun akan tetap dapat mengalokasikan sumberdaya secara adil
sepanjang waktu dan antar generasi untuk menjamin kesejahteraannya. Penyusutan
yang terjadi akibat pemanfaatan masa kini hendaknya disertai suatu bentuk usaha
mengkompensasi yang dapat dilakukan dengan menggali kemampuan untuk
mensubstitusi semaksimal mungkin sumberdaya yang langka dan terbatas tersebut
sehingga pemanfaatan sumberdaya alam pada saat ini tidak mengorbankan hak
pemenuhan kebutuhan generasi yang akan dating (intergenerational equity). Definisi
Pembangunan berkelanjutan menurut Bond et al. (2001) pembangunan
berkelanjutan didefinisikan sebagai pembangunan dari kesepakatan
multidimensional untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik untuk semua orang
dimana pembangunan ekonomi, sosial dan proteksi lingkungan saling memperkuat
dalam pembangunan. Bosshard (2000) mendefinisikan pembangunan berkelanjutan
sebagai pembangunan yang harus mempertimbangkan lima prinsip kriteria yaitu:
(1) abiotik lingkungan, (2) biotik lingkungan, (3) nilai-nilai budaya, (4) sosiologi, dan
(5) ekonomi. Marten (2001) mendefinisikan sebagai pemenuhan kebutuhan sekarang
tanpa mengorbankan kecukupan kebutuhan generasi mendatang. Pembangunan
berkelanjutan tidak berarti berlanjutnya pertumbuhan ekonomi, karena tidak

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 20 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
mungkin ekonomi tumbuh jika ia tergantung pada keterbatasan kapasitas
sumberdaya alam yang ada.

E.2.6. TINJAUAN MENGENAI PERENCANAAN TATA RUANG

Dalam Undang – undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang


disebutkan bahwa pelaksanaan penataan ruang merupakan upaya pencapaian
tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan Perencanaan Ruang, Pemanfaatan
Ruang dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang. Perencanaan Tata Ruang merupakan
proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan
dan penetapan rencana tata ruang. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk
mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang.
Beberapa kaidah yang terkait dengan pemanfaatan ruang antara lain

1. Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan


ruang beserta pembiayaannya.
2. Pemanfaatan ruang dapat dilaksanakan dengan pemanfaatan ruang, baik
pemanfaatan ruang secara vertikal maupun pemanfaatan ruang di dalam bumi.
3. Program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya termasuk jabaran dari
indikasi program utama yang termuat di dalam rencana tata ruang wilayah.
Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka
waktu indikasi program utama pemanfaatan ruang yang ditetapkan dalam
rencana tata ruang
4. Pelaksanaan pemanfaatan ruang di wilayah disinkronisasikan dengan
pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah administratif sekitarnya
5. Pemanfaatan ruang dilaksanakan dengan memperhatikan standar pelayanan
minimal dalam penyediaan sarana dan prasarana. Pengendalian pemanfaatan
ruang merupakan upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang yang dilakukan
melalui penetapan peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan
disinsentif, serta pengenaan sanksi. Agar pemanfaatan ruang sesuai dengan
rencana tata ruang wilayah, dapat diberikan insentif dan/atau disinsentif oleh
Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Insentif diberikan sebagai upaya untuk

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 21 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan
rencana tata ruang, berupa :
 Keringanan pajak, pemberian kompensasi, subsidi silang, imbalan, sewa
ruang dan urun saham.
 Pembangunan serta pengadaan infrastruktur,
 Kemudahan prosedur perijinan, dan / atau
 Pemberian penghargaan kepada nasyarakat, swasta dan / atau
pemerintah daerah.

Disinsentif diberikan sebagai upaya untuk mencegah, membatasi pertumbuhan dan


mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang, berupa :
1. Pengenaan pajak yang tinggi yang disesuaikan dengan besarnya biaya yang
dibutuhkan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat pemanfaatan
ruang, atau
2. Pembatasan penyediaan infrastruktur, pengenaan kompensasi dan penalti.
Produk rencana tata ruang diklasifikasikan sebagai rencana umum tata ruang
dan rencana rinci tata ruang. Rencana umum tata ruang secara hierarkhi terdiri
atas: Rencana Tata Ruang Wilayah

Nasional (RTRWN), Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten / Kota. Rencana rinci tata ruang disusun sebagai perangkat
operasional rencana umum tata ruang, termasuk di dalamnya sebagai dasar dalam
pelaksanaan pemanfaatan ruang.

E.3. URAIAN PENDEKATAN DAN METODOLOGI

E.3.1. KRITERIA UMUM


Pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh Konsultan Perencana harus memperhatikan
kriteria umum Penataan Kawasan disesuaikan berdasarkan fungsi dan kompleksitas
kawasan, yaitu :
1). Persyaratan Peruntukan dan Intensitas :
a) Menjamin Penataan kawasan didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang
dan tata bangunan yang ditetapkan di daerah yang bersangkutan.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 22 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
b) Menjamin penataan kawasan bermanfaat sesuai dengan fungsinya.
c) Menjamin keselamatan pengguna, masyarakat, dan lingkungan.
d) Sesuai dengan prinsip-prinsip anggaran belanja negara :
1) Hemat, tidak mewah, efisien dan sesuai dengan kebutuhan teknis yang
disyaratkan.
2) Terarah dan terkendali sesuai dengan rencana, program/kegiatan
serta fungsi.
3) Semaksimal mungkin menggunakan hasil produksi dalam negeri
dengan memperhatikan kemampuan/potensi nasional.
2). Persyaratan Arsitektur dan lingkungan :
a) Penataan Kawasan harus didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan,
ketentuan wujud bangunan dan budaya daerah, sehingga seimbang,
serasi dan selaras dengan lingkungannya
b) Menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan
keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya.
c) Penataan Kawasan yang dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
3). Persyaratan Sarana Jalan Masuk dan Keluar :
a) Penataan kawasan harus mempunyai akses yang layak, aman dan nyaman
ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya,
b) Menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari kesakitan atau luka
saat evakuasi pada keadaan darurat,
c) Menjamin tersedianya aksesbilitas bagi penyandang cacat, khususnya
untuk bangunan fasilitas umum dan sosial.
4) Persyaratan Sanitasi dalam penataan kawasan :
a) Menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang
terselenggaranya kegiatan di dalam kawasan sesuai dengan fungsinya,
b) Menjamin terwujudnya kebersihan, kesehatan dan memberikan kenyamanan
bagi pengguna kawasan,
c) Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi
secara baik.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 23 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
E.3.2. KRITERIA KHUSUS
Kriteria khusus dimaksudkan untuk memberikan syarat-syarat yang khusus, spesifik
berkaitan dengan penataan kawasan yang akan direncanakan, baik dari segi
fungsi khusus kawasan, segi teknis lainnya, misalnya :

1). Dikaitkan dengan upaya pelestarian atau konservasi kawasan yang ada (jika
ada).
2). Kesatuan perencanaan kawasan dengan facade bangunan disekitarnya,
estetika dan lingkup pelayanan yang ada di lingkungan sekitar, seperti dalam
rangka implementasi penataan bangunan dan lingkungan.
3). Solusi dan batasan-batasan kontekstual, seperti faktor sosial budaya setempat,
geografi klimatologi, dan lain-lain.

E.3.3. PENDEKATAN PENYUSUNAN

1. Pengelolaan Terpadu
Pengelolaan wilayah terpadu (integrated coastal zone management – ICZM)
adalah pengelolaan pemanfaatan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan
(environmental service)yang terdapat di wilayah perencanaan, dengan cara
melakukan penilaian menyeluruh (comprehensive assessment) tentang kawasan
beserta sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di
dalamnya, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan dan kemudian
merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya, guna
mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan (Dahuri et al. 2001).
Pengelolaan ini dilakukan dengan kontinyu dan dinamis dengan
mempertimbangkan segenap aspek sosial ekonomi budaya dan aspirasi
masyarakat (stakeholder) serta memperhatikan konflik kepentingan dan konflik
pemanfaatan kawasan yang mungkin ada (Sorensen dan Mc Creary dalam
Dahuri et al. 2001). Batas wilayah untuk kepentingan pengelolaan perencanaan
terdapat dua macam, yaitu batas untuk wilayah perencanaan dan batas untuk
wilayah pengaturan atau pengelolaan seharihari. Wilayah perencanaan
meliputi seluruh daerah daratan (hulu) apabila terdapat kegiatan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 24 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
pembangunan yang dapat menimbulkan dampak secara nyata terhadap
lingkungan dan sumber daya. Sementara dalam pengelolaan wilayah sehari-
hari (day to day management), pemerintah (pihak pengelola) mempunyai
kewenangan untuk mengeluarkan atau menolak suatu kegiatan pembangunan
setempat. Sehingga untuk wilayah pengaturan menjadi tanggung jawab
bersama antara instansi pemerintahan dan masyarakat. Pengelolaan
(management) terdiri dari tiga tahap utama yaitu : perencanaan, implementasi,
monitoring dan evaluasi, maka nuansa keterpaduan tersebut perlu diterapkan
sejak tahap perencanaan hingga evaluasi. Selain itu keterpaduan juga harus
mencakup tiga dimensi yaitu dimensi sektoral, bidang ilmu serta keterkaitan
ekologis. Pada dimensi keterpaduan sektoral, mensyaratkan adanya koordinasi
tugas, wewenang dan tanggung jawab antar sektoral. Keterpaduan dari sudut
pandang bidang keilmuan dimaksudkan bahwa pengelolaan wilayah
perencanaan harus dilaksanakan atas dasar pendekatan interdisiplin ilmu
(ekonomi, ekologi, teknik, sosiologi, hukum, dll) yang relevan.

2. Pengelolaan Normatif
Pendekatan normatif dalam pekerjaan ini menekankan pada kajian terhadap
produk peraturan dan kebijakan baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah
yang terkait dengan Penyusunan Perencanaan Penataan Kawasan Pantai
Panjang di Kota Bengkulu. Pendekatan normatif yang digunakan dalam
penyusunan pekerjaan ini, pada dasarnya merupakan pendekatan yang
digunakan untuk merumuskan suatu kebijakan dan strategi berdasarkan data
dan informasi yang tersedia serta mengacu pada produk peraturan dan
perundangan yang terkait dengan substansi pekerjaan ini, yaitu terkait dengan
rencana pengembangan kawasan potensial, arahan pemanfaatan ruang
kawasan dan arahan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. Terkait
dengan pekerjaan ini, pendekatan normatif ini tidak dipandang sekedar
sebagai pendekatan untuk merumuskan kebijakan yang sifatnya konseptual.
Pendekatan ini dilakukan mulai dari bagaimana kondisi dan permasalahan
kawasan dilihat sampai dengan perumusan kebijakan dan strategi yang tepat
untuk kondisi dan permasalahan yang ada. Oleh sebab itu perlu juga dengan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 25 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
membandingkan kondisi eksisting dengan kriteria dan standar yang ada.
Konsep dasar dari pendekatan normatif adalah bahwa proses pembangunan
kawasan bertumpu pada prosedur/skema tertentu, dengan memperhatikan
seluruh faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan pencapaian atas
tujuan yang akan dicapai. Landasan normatif dalam melaksanakan pekerjaan
ini, dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu landasan normatif yang bersifat umum,
yaitu produk-produk peraturan di tingkat pusat yang berlaku untuk seluruh
wilayah kajian, dan landasan normatif yang bersifat kewilayahan, yaitu
produk-produk peraturan di tingkat daerah yang hanya berlaku di level
wilayah kajian. Pada dasarnya pendekatan normatif dalam pekerjaan ini akan
digunakan dalam seluruh proses pelaksanaan kegiatan. Baik itu pada proses
penyusunan maupun dalam peningkatan kegiatan pekerjaan ini. Pendekatan
normatif akan digunakan dalam setiap kegiatan yang terkait dengan kajian
dan analisis kebijakan dan strategi serta produk-produk peraturan daerah
yang dijadikan acuan dalam pengembangan dan pembangunan kawasan
perencanaan. Pendekatan normatif dalam kegiatan ini dilakukan dengan
menggunakan data sekunder, seperti ketentuan perundangan dan kebijakan,
identifikasi guna lahan, identifikasi kelembagaan, kajian literatur mengenai
kasus terkait, standar-standar dan literatur yang yang berkaitan dengan
RENCANA PENATAAN KAWASAN seperti guna lahan, pemanfaatan dan
pengendalian pemanfaatan ruang, eksterior bangunan, bangunan-bangunan
dan prasarana.

3. Pendekatan Sitem Dalam Penyelesaian Persoalan


Pada dasarnya pendekatan ini mendasarkan pemahaman bahwa setiap apa
yang ada di alam semesta adalah merupakan sistem yang terdiri dari
subsistem-subsistem / komponen/elemen yang saling berinteraksi untuk
mencapai tujuan sistem, yaitu menuju keseimbangan sistem (steady state).
Apabila sistem mengalami gangguan, maka sistem akan berinteraksi antar
subsistemnya untuk menuju pada keseimbangan baru. Keseimbangan baru ini
dapat merupakan kondisi yang berbeda dengan kondisi semula atau dapat
menuju kondisi sementara dan kemudian kembali pada kondisi semula. Jumlah

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 26 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
sistem yang ada di alam semesta tidak terbatas, karena sistem yang satu dapat
menjadi subsistem lainnya yang lebih besar. Demikian seterusnya sampai jumlah
tak hingga. Demikian juga suatu sistem besar memiliki subsistem yang lebih kecil,
dan seterusnya subsistem yang lebih kecil tersebut juga memiliki subsistem lagi
yang lebih kecil. Demikian seterusnya sampai jumlah tak hingga. Pendekatan ini
digunakan dalam Rencana Tata Ruang Kecamatan, agar apa yang dirumuskan
dapat menjadikan sistem yang sudah terbentuk sebelumnya menuju
keseimbangan baru yang lebih sempurna dan memberikan efek positif bagi
manusia dari berbagai aspek.

4. Pendekatan Ekstraplitatif
Pendekatan ektraploitatif yaitu pendekatan perencanaan atas dasar fakta dan
kecendrungan perkembangan yang terjadi akibat pendayagunaan aspek fisik,
sosial dan ekonomi, baik dalam struktur tata ruang kawasan maupun regional
yang selama ini telah terjadi. Asumsi Pendekatan Ekstrapolatif

 Keajegan (persistence): Pola yang terjadi di masalalu akan tetap terjadi di


masa mendatang. Misal jika konsumsi energi di masa lalu meningkat, iaakan
selalu meningkat di masa depan
 Keteraturan (regularity): Variasi di masa lalu akansecara teratur muncul di
masa depan. Misal jika banjir besar di Jakarta terjadi setiap 16 tahun sekali,
pola yang sama akan terjadi lagi.
 Keandalan (reliability) dan kesahihan (validity)data: Ketepatan ramalan
tergantung kepada keandalan dan kesahihan data yg tersedia. Misal data
tentang laporan kejahatan seringkali tidak sesuaidengan insiden kejahatan
yg sesungguhnya, data ttg gajibukan ukuran tepat dari pendapatan
merupakan masyarakat.

5. Pendekatan Partisipatif dan Fasilitatif


Dalam proses kegiatan pekerjaan ini, selain berkaitan dengan dokumen-
dokumen perencanaan pembangunan (development plan) dan perencanaan
ruang (spatial plan) serta produk-produk kebijakan dan strategi
pengembangan kawasan yang terkait lainnya, tidak terlepas dari keterlibatan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 27 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
pemerintah daerah, masyarakat dan stakeholder kota lainnya, sebagai
pengendali, pelaksana dan pemanfaat dan sebagai pihak yang terkena
dampak positif maupun negatif dari pelaksanaan pembangunan kota itu sendiri.
Oleh karena itu dalam penyusunan pekerjaan ini digunakan beberapa model
pelibatan para pelaku pembangunan untuk mengikutsertakan pihak-pihak yang
terkait dalam kegiatan ini. Pada dasarnya Penyusunan kegiatan pekerjaan ini
dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan seluruh stakeholder yang
terkait dengan pengembangan kawasan. Pelibatan seluruh stakeholder terkait
diakomodasi melalui forum-forum diskusi dan konsultasi publik, untuk
memperoleh saran, masukan dan penyepakatan terhadap rumusan kebijakan
dan strategi yang disusun. Dengan demikian selain melalui penjaringan aspirasi,
pelibatan stakeholder dalam kegiatan penyusunan pekerjaan ini juga dilakukan
dengan melaui pembahasan-pembahasan melalui forum-forum diskusi dan
konsultasi publik untuk mengkaji lebih lanjut hasil analisis dan perumusan strategi
yang dibuat. Manfaat penggunaan pendekatan tersebut adalah untuk
meminimalkan konflik berbagai kepentingan yang berarti juga mendapatkan
hasil akhir yang menguntungkan untuk semua pihak. Keuntungan lainnya yang
akan diperoleh adalah jaminan kelancaran implementasi hasil kajian ini di
kemudian hari. Dalam pelaksanaan pekerjaan ini, Pemerintah Provinsi melalui
Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Prov. Kalimantan Utara bertindak sebagai fasilitator dalam kegiatan
penyusunan pekerjaan ini. Peran fasilitasi ini antara lain dilakukan dengan
memberikan pendampingan kepada daerah serta seluruh stakeholder terkait
kegiatan penyusunan pekerjaan ini. Beberapa aspek yang terkait dengan
pendekatan partisipatif dan fasilitatif dalam kegiatan penyusunan pekerjaan
ini dijelaskan berikut :

a) Kemitraan
Kegiatan penyusunan pekerjaan ini, adalah pendekatan yang bercirikan top
down namun sekaligus memiliki nuansa partnership atau kemitraan. Berbeda
dengan paradigma sentralisasi dalam mekanisme pengambilan keputusan
publik pada konsep otoriter, mekanisme top down dalam bantek lebih

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 28 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
didasarkan pertimbanganakan adanya kebutuhan memberikan bantuan
secara teknis (technical assistance) sehingga akan dapat meningkatkan
kapasitas aparat Pemerintah Daerah. Pendekatan kemitraan (partnership)
disini diartikan sebagai adanya posisi kemitraan antara Pemerintah Provinsi,
Pemerintah Kabupaten/Kota, Dinasterkait dan Pihak Konsultan. Meskipun
ada perbedaan tingkatan, namun masing-masing pihak berusaha untuk
dapat bekerjasama dan memberikan pemahaman kesetaraan hubungan,
sehingga dapat terjalin kerjasama yang kompak untuk mencapai tujuan
bersama.

b) Perencanaan Partisipatif
Bentuk Peran serta masyarakat dalam penataan ruang menurut hirarkhi
rencana yang diindikasikan dalam PP No. 69 Tahun 1996 (Pasal-Pasal di
BAB III dari PP 69/96):

 Pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan.


 Pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah pembangunan.
 Pemberian masukan dalam perumusan rencana tata ruang.
 Pemberian informasi, saran, pertimbangan, atau pendapat dalam
penyusunan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang.
 Pengajuan keberatan terhadap rancangan rencana.
 Kerja sama dalam penelitian dan pengembangan.
 Bantuan tenaga ahli.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh Bank Dunia (World Bank Theory
of Participation, 1997), partisipasi merupakan suatu proses dimana pihak-
pihak terlibat akan saling mempengaruhi dan bertukar kontrol atas inisiatif
pembangunan dan keputusan serta sumberdaya yang berpengaruh
terhadapnya. Selanjutnya pihak-pihak yang terlibat dalam proses
partisipasi tersebut disebut sebagai stakeholder. Karenanya, pemahaman
mengenai partisipasi akan selalu berkaitan dengan pemahaman mengenai
stakeholder, kepentingan-kepentingannya, serta pelibatannya. Perencanaan
partisipatif di Indonesia didefinisikan sebagai upaya perencanaan yang

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 29 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
dilakukan bersama antara unsur pemerintah dan masyarakat. Dalam hal ini,
peran masyarakat ditekankan pada penentuan tingkat kebutuhan, skala
prioritas, dan alokasi sumber daya masyarakat. Definisi tersebut selanjutnya
dilengkapi dengan pemahaman dari UNDP, dimana perencanaan
partisipatif merupakan upaya perencanaan yang
melibatkan/mengikutsertakan seluruh stakeholder yang ada. Dalam definisi
tersebut, stakeholder selaku pemeran dapat terdiri dari kelompok
pemerintah, swasta, dan masyarakat umum. Dengan pemahaman tersebut,
perencanaan secara partisipatif sudah tentu melibatkan berbagai komunitas
secara menyeluruh. Upaya perencanaan partisipatif menghadirkan proses
perencanaan terstruktur yang terdiri dari aspek-aspek :
 Kerjasama guna membangun konsensus
 Komunikasi kelompok stakeholder yang efektif, serta
 Proses implementasi rencana guna mengubah berbagai ide / pemikiran
menjadi kegiatan yang produktif dan penyelesaiannya yang maksimal

Dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan pekerjaan ini akan dilakukan


serangkaian kegiatan diskusi/seminar dan pengumpulan data/ informasi.
Pendekatan perencanaan partisipatif pada intinya merupakan usaha
penyelesaian persoalan yang menjadi target pekerjaan secara aktif dengan
melakukan pelibatan semua stakeholder terkait, baik sektoral maupun
wilayah di tingkat daerah, serta para pakar dan pihak lainnya. Model
perencanaan partisipatif dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan
pekerjaan ini dilakukan dalam beberapa bentuk kegiatan, sebagaimana
telah diungkapkan dalam pengantar bab di atas, yaitu diskusi dan konsultasi
publik. Model diskusi yang digunakan dalam perencanaan partisipatif ini
adalah focus group discussion (FGD) dan konsultasi publik. Pendekatan
partisipasi stakeholder yang digunakan untuk penyelesaian kegiatan ini
bukan sekedar mengajak para stakeholder tersebut untuk mendengar dan
memberi masukan saja. Para stakeholder juga didorong untuk ingin tahu
hingga akhirnya bersedia untuk terlibat aktif memberikan masukan.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 30 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Keikutsertaan tersebut sudah mengarah pada suatu kebutuhan bukan lagi
suatu paksaan.
Namun demikian disadari bahwa penggunaan perencanaan partisipatif
akan menimbulkan berbagai persoalan dalam prosesnya, terutama masalah
keterbatasan waktu. Masalah ini akan dicoba diminimalkan melalui
persiapan materi dan pelaksanaan yang matang, sehingga kesepakatan
dapat dengan segera dicapai tanpa mengurangi kebebasan stakeholders
untuk mengeluarkan aspirasi dan pendapatnya.

c) Perencanaan Partisipatif
Mengingat dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan pekerjaan ini dilakukan
secara partisipatif, maka diharapkan adanya keterlibatan stakeholder
secara utuh dalam tiap proses pelaksanaan pekerjaan. Bahwasannya
keterlibatan tersebut diharapkan tidak hanya bersifat pasif namun juga aktif
dari para stakeholder yang terkait. Oleh sebab itu diperlukan adanya
kapasitas dan pemahaman yang cukup memadai mengenai persoalan-
persoalan yang terkait dengan pengembangan dan pembangunan kawasan
dan solusi-solusi strategis atas persoalan tersebut. Mengingat hal-hal diatas,
maka konsultan akan memfasilitasi peningkatan kapasitas dan pemahaman
para stakeholder terkait dengan rencana pemanfaatan ruang kawasan,
pembangunan dan pengembangan kawasan serta pengendalian
pemanfaatan ruang kawasan. Diketahui dalam menyelenggarakan kegiatan
penyusunan pekerjaan ini diperlukan sebuah teamwork yang solid, bersifat
multisektoral dan komprehensif. Teamwork yang dibangun bukan merupakan
implikasi dari sebuah power sharing tetapi lebih merupakan team work yang
bersifat kemitraan dan sinergis. Oleh karenanya mengingat kompleksnya
masalah juga, maka para pelaku dituntut untuk berbagi peran dan fungsi di
dalam penyelenggaraan kegiatan penyusunan pekerjaan ini.

6. Pendekatan Teknis Akedemis


a) Perencanaan Eksploratif

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 31 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Pendekatan eksploratif dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan pekerjaan
ini digunakan untuk mendapatkan gambaran yang seluas-luasnya mengenai
persoalanpersoalan yang terkait pemanfaatan, pembangunan,
pengembangan dan pengendalian kawasan. Pendekatan eksploratif
bercirikan pencarian yang berlangsung secara menerus. Pendekatan ini akan
digunakan baik dalam proses pengumpulan data & informasi maupun dalam
proses analisis.
 Dalam proses pengumpulan data & informasi, pendekatan eksploratif
digunakan mulai dari kegiatan inventarisasi dan pengumpulan data
awal, hingga eksplorasi literatur yang diperlukan dalam mendukung
kegiatan perumusan. Sifat pendekatan eksploratif yang menerus akan
memungkinkan terjadinya pembaharuan data dan informasi
berdasarkan hasil temuan terakhir
 Pendekatan eksploratif juga memungkinkan proses pengumpulan data
yang memanfaatkan sumber informasi secara luas, tidak terbatas pada
ahli yang sudah berpengalaman dalam bidangnya ataupun pelaku
pembangunan yang terkait langsung dengan upaya pengendalian
pemanfaatan ruang, namun juga dari berbagai literatur dalam dan luar
negeri, baik dalam bentuk buku maupun tulisan singkat yang memuat
mengenai teori-teori ataupun studi-studi terkait dengan pengendalian
pemanfaatan ruang. Dalam pendekatan eksploratif ini sangat
memungkinkan diperoleh informasi-informasi tambahan dari sumber
yang tidak diprediksi sebelumnya
 Eksplorasi dalam proses analisis dilakukan guna mengelaborasi
perumusan kebijakan dan strategi pengembangan kota dan penyusunan
strategi pengembgangan permukiman dan infrastruktur permukiman.
Proses eksplorasi ini mendorong kepada pemahaman yang mendalam
terhadap aspek yang dikaji, melalui seluruh dokumen dan informasi
yang berhasil dikumpulkan.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 32 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
b) Pendekatan Komprehensif
Pendekatan Komprehensif memandang bahwa untuk menghasilkan suatu
produk Kebijakan dan Strategi yang baik perlu adanya pemahaman yang
menyeluruh mengenai wilayah dan persoalan yang akan direncanakan atau
dipecahkan, tidak hanya pada saat pengumpulan data dan analisis saja,
melainkan sampai pada kebijakan dan strategi yang dibangun. Kata
“komprehensif” dalam konteks pendekatan ini merujuk pada upaya
memahami suatu permasalahan dari sudut pandang semua aspek kehidupan
mulai dari aspek ekonomi, politik, sosial budaya, sampai dengan pertahanan
keamanan. Semua aspek tersebut dalam cara pandang ini dilihat sebagai
satu kesatuan rantai kehidupan yang saling terkait satu dengan yang lain.
Selain itu kata komprehensif juga mengandung pemahaman bahwa suatu
wilayah dimana persoalan tersebut akan dipecahkan dipandang sebagai
satu kesatuan sistem yang di dalamnya terdiri dari berbagai sub sistem-sub
sistem yang saling terkait, termasuk dalam kaitannya dengan lingkup
wilayah administrasi (konstelasi regional, nasional, dan internasional). Dalam
kaitannya dengan keterkaitan antar aspek ini, dalam pendekatan yang
bersifat komprehensif dipandang sebagai suatu bentuk konsep kedinamisan
dimana aspek kehidupan yang satu mempengaruhi aspek kehidupan yang
lain dan begitu seterusnya. Tidak dapat ditentukan aspek mana yang
menjadi awal dan akhir. Semua aspek dapat menjadi sebab dan menjadi
aibat yang saling terkait. Aspek-aspek kehidupan tersebut dalam
penanganannya didasarkan pada suatu kerangka acuan yang disebut
dengan keterpaduan.

c) Perencanaan Pembangunan Berkelanjutan


Pendekatan pembangunan berkelanjutan merupakan suatu pendekatan
dalam perencanaan yang memandang bahwa pembangunan bukan
merupakan suatu kegiatan yang sesaat melainkan suatu kegiatan yang
berlangsung secara kontinyu dan tidak pernah berhenti seiring dengan
perkembangan jaman. Pendekatan ini menekankan pada keseimbangan
ekosistem, antara ekosistem buatan dengan ekosistem alamiah. Dalam

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 33 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
perencanaan pembangunan kesesuaian ekologi dan sumber daya alam
penting artinya agar pembangunan yang terjadi tidak terbatas dalam tahun
rencana yang disusun saja. Pendekatan pembangunan berkelanjutan dalam
kegiatan bertujuan untuk menghasilkan suatu konsep kebijakan dan strategi
pengembangan kawasan yang berwawasan lingkungan, namun bukan
berarti menjadikan kepentingan lingkungan sebagai segala-galanya. Dalam
pendekatan ini yang dipentingkan adalah keseimbangan antara
pembangunan lingkungan dan non-lingkungan (ekonomi, sosial, teknologi,
dan sebagainya) sehingga dicapai suatu kondisi pembangunan yang
harmonis. Dalam pendekatan ini ada tiga prinsip dasar yang dipegang,
yaitu (Haughton dan Hunter, 1994) :
 Prinsip persamaan antar generasi, yaitu pengaruh pada kemampuan
generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi
mereka harus dipertimbangkan. Prinsip ini dikenal juga sebagai
principle of futurity.
 Prinsip keadilan sosial, yaitu keberlanjutan mensyaratkan bahwa
pengontrolan keseluruhan distribusi sumber daya harus merata
 Prinsip tanggungjawab transfontier, yaitu bahwa dampak dari aktivitas
manusia seharusnya tidak melibatkan suatu pemindahan geografis yang
tidak seimbang dari masalah lingkungan. Dalam prinsip ini terdapat
perlindungan terhadap kualitas dari lingkungan

Dalam pendekatan pembangunan berkelanjutan ini terkait juga dengan


penciptaan keberlanjutan masyarakat / komunitas (sustainable communities)
tempat dimana suatu komunitas ingin tinggal dan bekerja pada masa
sekarang dan masa yang akan datang. Konsep pembangunan berkelanjutan
akan dapat terus berlanjut jika terdapat masyarakat yang terus berlanjut
pula. Dalam sustainable communities, masyarakat menciptakan suatu
komunitas seperti yang dikehendaki oleh masyarakat sehingga dapat
tercipta suatu keberlanjutan dalam komunitas tersebut. Sustainable
communities ini akan dapat dikembangkan dimana banyak ”pemain” dalam

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 34 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
peran yang berbedabeda dan dengan ketertarikan dan nilai yang berbeda
dalam suatu aliran informasi yang berharga dan mereka memiliki
kesempatan untuk bergabung dalam suatu proses pembelajaran dan respon
inovatif terhadap perubahan lingkungan dan perubahan lainnya (Innes dan
Booher, 2000)

7. Pendekatan Kualitatif
Pendekatan kualitatif dilakukan untuk menyeimbangkan pendekatan normative
sehingga diperoleh sebuah perencanaan yang komprehensif dan berkelanjutan.
Aspek kualitatif yang muncul di lokasi kegiatan seperti aspek sosial, budaya,
dan politik lokal harus dapat dipertimbangkan sehingga dapat mencerminkan
keunikan lokal di setiap lokasi kegiatan dan menghasilkan sebuah produk
pengaturan yang memiliki visi berkelanjutan. Kajian kualitatif dapat dilakukan
dengan menggunakan metode desk study dan dapat menggunakan data
sekunder dan primer. Selain itu pendekatan kualitatif juga dilakukan melalui
kajian terhadap persepsi dan preferensi terhadap materi Zoning Regulation
baik dari hasil wawancara, kuisioner maupun diskusi. Pencatatan lapangan,
dokumentasi visual dan digital dan sejenisnya diperlukan untuk mengidentifikasi
guna lahan maupun kegiatan pemanfaatan ruang. Kedua data tersebut
dielaborasikan ke dalam analisis–analisis keruangan, pemanfaatan ruang, dan
hal lain yang berkorelasi dengan kegiatan penyusunan pekerjaan ini. Hasil dari
pengolahan data secara desk study dari dua pendekatan tersebut dipertajam
dengan diskusi dan konsultasi dengan stakeholder lain (Pemerintah Pusat dan
Daerah, masyarakat lokal, swasta, LSM, dan perguruan tinggi) sehingga
memenuhi aspek partisipatif dan dengan demikian aspek kesepakatan dalam
produk pengaturan dapat tercapai.

a) Pendekatan Pengembangan Wilayah


Dalam pendekatan ini akan dilakukan penelaahan terhadap kegiatan
penyusunan pekerjaan inidalam kaitannya dengan tata ruang wilayah
perencanaan. Selain itu akan mencoba mengetahui hubungan interaksi antar
wilayah yang menjadi objek penelitian di wilayah perencanaan. Di masa

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 35 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
datang keberhasilan penataan ruang sangat tergantung pada kebijakan
pemerintah daerah terutama dalam menyikapi perubahan-perubahan yang
terjadi. Oleh karena itu, setiap pemerintah daerah harus mampu
mengembangkan visi pengembangan wilayahnya masing-masing sesuai
dengan citra, nilai, arah dan tujuan yang akan memberikan arah masa depan
wilayah yang bersangkutan. Pada tingkat nasional, dengan karakteristik
wilayah yang terdiri dari 300-an daerah otonom, maka visi pengembangan
wilayah yang sejalan dengan tuntutan perubahan yang terjadi adalah
menciptakan wilayah-wilayah/unit-unit otonom dalam suatu jaringan
(network) yang kuat, dimana tiap unit-unit otonom tersebut diarahkan untuk
mampu bersaing menjadi pusat dari jaringan tersebut. Sebagai
konsekuensinya, setiap daerah harus mampu memiliki keunggulan yang
spesifik. Dengan demikian, arah
pengembangan wilayah menjadi lebih jelas yakni mengarah pada
penciptaan spesialisasi. Sedangkan pada tingkat daerah, dalam
mengembangkan visinya, setiap daerah dituntut untuk mampu :
 Mengidentifikasikan kapabilitas dan tindakan dari daerah lainnya
sebagai wilayah pesaing
 Mengenali penggerak dan pengaruh dari lingkungan ekstemal
 Menilai kebutuhan, hambatan dan kapabilitas wilayahnya sendiri.

b) Deliniasi Kawasan Perencanaan


Dalam pendekatan ini akan dilakukan penelaahan kembali mengenai
kawasan perencanaan yang akan menjadi wilayah kajian ditinjau dari
beberapa faktor antara lain :
 Kebijaksanaan pengembangan daerah, khususnya daerah perkotaan
yang berada di sekitar wilayah perencanaan yang memberikan
kecenderungan perkembangan terhadap kawasan perencanaan
 Kondisi Fisik buatan, yaitu meninjau kondisi pembangunan setiap daerah
yang memiliki tingkat perkembangan tinggi yang mempengaruhi
terhadap penyatuan fisik terhadap kawasan perkotaan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 36 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

 Kondisi sosial perekonomian, yaitu perkembangan ekonomi makro di


setiap daerah yang berdekatan kawasan perencanaan

c) Identifikasi Potensi dan Permasalahan


Pada dasarnya setiap perkembangan dan pertumbuhan suatu wilayah
menginginkan perkembangan dan pertumbuhan wilayah ke arah yang lebih
baik dan berkualitas Maka sebagai bahan untuk mengetahui bagaimana
arah perkembangan wilayah untuk selanjutnya, maka harus diketahui
beberapa potensi dan permasalahan yang terdapat di wilayah
perencanaan diantaranya melalui
 Review potensi dan permasalahan berdasarkan Pengembangan
Kawasan Strategis yang masuk ke dalam wilayah perencanaan yang
telah ada sebelumnnya.
 Pengkajian mengenai data dan informasi mengenai karakteristik
wilayah perencanaan berdasarkan data dan informasi yang terbaru

d) Pendekatan Secara Aspiratif Terhadap Pengembangan Kawasan


Perubahan strutur dan tata ruang wilayah merupakan suatu proses dalam
paradigma perkembangan wilayah itu sendiri. Maka dalam proses
pembangunan dan pengelolaannya akan melibatkan beberapa elemen
yang terkait didalamnya antara lain stakeholder yang berada di wilayah
perencanaan. Keterlibatan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :
 Pemerintah Pusat sebagai pembantu pemerintah daerah dalam
merumuskan Pola Pemanfaatan Ruang.
 Pemerintah daerah sebagai pelaksana pembangunan dan pengelola
sumberdaya yang terdapat di wilayahnya
 Swasta yang berperan sebagai penanam modal yang berpengaruh
terhadap implementasi pembangunan secara fisik dan perekonomian
baik makro maupun mikro
 Masyarakat

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 37 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
E.3.4. KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka pemikiran penyusunan DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota
Bengkulu merupakan rangkaian dari pemikiran dan kegiatan untuk menyelesaikan
pekerjaan sesuai dengan maksud dan tujuan dari pekerjaan. Kerangka pemikiran
ini ini dapat juga dianggap sebagai alur penyelesaian pekerjaan yang merupakan
dasar dalam pembuatan metodologi pengelolaan pekerjaan, yang dapat
memberikan gambaran metodologi penyelesaian pekerjaan secara garis besar
serta menunjukkan keterkaitan antara materi/proses satu dengan lainnya.
Sedangkan detail metodologi pada tiap tahapan diterangkan pada Tahapan
Pelaksanaan Pekerjaan (sesuai dengan kerangka pemikiran tersebut), dan metoda
serta teknik yang digunakan.

E.3.5. Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan


Dalam tahap identifikasi persoalan dan potensi pengembangan ini dipilih beberapa
metode yang didasarkan pada kebutuhan penanganan Penyusunan DED Penataan
Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu. Metode identifikasi persoalan dan
potensi pengembangan merupakan metode-metode pengumpulan data dan
informasi terkait dengan persoalan-persoalan pengembangan pertanian sebagai
masukan untuk kegiatan analisis.

a) Studi Dokumen dan Literatur


Pada dasarnya pekerjaan Penyusunan DED Penataan Kawasan Pantai Panjang
Kota Bengkulu ini dititikberatkan pada kegiatan kajian terhadap seluruh
dokumen dan literatur terkait pengembangan kawasan perkotaan Kecamatan
Kawasan pesisr, baik itu berupa dokumen kebijakan dan strategi, rencana,
jurnal, teori, hingga berbagai jenis peraturan perundang-undangan terkait.
Untuk itu, diperlukan metode studi dokumen dan literatur yang akan
menginventarisasi dan mengeksplorasi berbagai dokumen tersebut.

Studi dokumen dan literatur ini dilakukan dengan cara melaksanakan kajian
terhadap dokumen dan literatur yang sangat kuat relevansinya dengan
pekerjaan ini, yang dalam hal ini berupa: (i) kajian terhadap peraturan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 38 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
perundangan (ii) review atau kajian terhadap kebijakan dan pemanfaatan
ruang, dan pengembangan Kecamatan di wilayah perencanaan (iii) review atau
kajian terhadap dokumen-dokumen perencanaan terkait (iv) review atau kajian
terhadap hasil studi atau penelitian yang terkait sebagai masukan dalam
penyusunan kegiatan ini.

b) Observasi Lapangan
Secara umum observasi lapangan dilakukan untuk memahami persoalan-
persoalan terkait kondisi Kawasan Perkotaan Kecamatan yang ada secara
nyata di lapangan. Persiapan survei dan observasi di lokasi kecamatan. Untuk
itu perlu dilakukan beberapa kegiatan persiapan, antara lain :
 Identifikasi stakeholder terkait dan berwenang dalam masalah Kawasan
Kecamatan Kawasan pesisr. Kegiatan ini dapat dilakukan berbarengan
dengan kegiatan koordinasi dan sosialisasi
 Upaya memperoleh contact person di daerah untuk menunjang
pelaksanaan kegiatan dan penyesuaian jadwal kegiatan
 Need assessment survey, guna memperoleh rincian kebutuhan pelaksanaan
pekerjaan serta menyusun rancangan pelaksanaan kegiatan survei dan
observasi di kawasan perencanaan serta penyiapan perangkat pendukung
kegiatan
 Penyiapan tim survei, yaitu pembagian tim pelaksana survey yang terdiri
dari tenaga ahli sesuai pekerjaan. Adapun dalam pelaksanaan survey dan
observasi di lokasi amatan, digunakan metode survei sekunder dan survey
primer sebagaimana dijelaskan berikut:
 Survei Sekunder, dilakukan terhadap instansi pemda/institusi terkait
dengan pengembangan Kawasan Kabupaten dilakukan guna
memperoleh data mengenai perkembangan, serta berbagai dokumen
terkait lainnya.
 Survei Primer, dilakukan dengan 2 teknik survey, yaitu :

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 39 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

- Observasi lapangan, dilakukan untuk memperoleh gambaran


kondisi eksisting di lokasi amatan serta pemahaman karakteristik
kawasan

- Ground truth survei, merupakan metoda teknis yang bertujuan


untuk membandingkan/mengkonfirmasi data/informasi sekunder
dengan kondisi nyata di lapangan. Metode ini dapat
memperlihatkan adanya perubahan tertentu dalam rentang waktu
antara suatu data sekunder dikompilasikan oleh instansi terkait
dengan perkembangan yang telah terjadi hingga saat terakhir
(waktu dilakukannya survey primer).

c) Penjaringan Informasi
Pada dasarnya metode penjaringan aspirasi merupakan bagian dari
pendekatan partisipatif dalam pekerjaan Penyusunan DED Penataan Kawasan
Pantai Panjang Kota Bengkulu. Penjaringan aspirasi ini dilakukan untuk
mengakomodasi aspirasi dan kepentingan masyarakat dan stakeholder lainnya
yang belum terakomodir bisa dilakukan melalui penjaringan aspirasi atau
survey dan wawancara yang dilaksanakan. Dalam penjaringan aspirasi ini
usulan, masukan, saran dan kritik atau keberatan dari masyarakat dan
stakeholder terkait lainnya diterima dengan disesuaikan dengan maksud dan
tujuan studi secara keseluruhan.

E.3.6. METODOLOGI PENGUMPULAN DATA


Sebelum melaksanakan kegiatan pengumpulan data untuk penyusunan
perencanaan, perencana harus mampu merumuskan data apa saja yang akan
didapat di lapangan yang menunjang terhadap kedalaman materi rencana yang
akan disusun
a) Persiapan Survey Lapangan
o Penelaahan materi penyusunan kegiatan pekerjaan
o Pembuatan daftar data yang akan dicari di lapangan
o Pembuatan model-model untuk pengumpulan data di lapangan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 40 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
o Pembuatan Peta dasar skala 1:25.000
o Pembuatan program kerja survey lapangan
b) Survey Lapangan
Observasi fisik lapangan untuk mengenali karakteristik struktur kawasan secara
keseluruhan dan secara lebih detail pada wilayah perencanaan, mengevaluasi
mengenai kebijakan struktur tata ruang. Mengumpulkan data penunjang yang
diperlukan dalam kegiatan penyusunan pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
1. Data Keadaan fisik dasar yang meliputi keadaan topografi, kemiringan
tanah, geologi, daya dukung hidrologi, sumber air untuk seluruh wilayah
2. Informasi data tersebut perlu dilengkapi dengan kedalaman peta skala
1 : 25.000 yang dilengkapi dengan kedudukan tepat dari kawasan.
Kedudukan ini perlu diperkuat oleh hasil interprestasi foto udara atau
pengukuran atau pengecekan ground control atau benchmark sehingga
jelas kedudukan unsur tersebut terhadap koordinatnya. Bila perlu diadakan
pengukuran untuk memperoleh beberapa titik pengikat berupa titik holigon
atau garis poligon.
3. Data penggunaan ruang yang menggambarkan karakteristik penebaran
bentuk-bentuk fisik buatan manusia, yaitu meliputi :
o Perincian jenis penggunaan lahan yang masih ada (melalui data
sekunder).
o Struktur dan kualitas bangunan untuk masing-masing jenis penggunaan
ruang.
o Kepadatan bangunan pada setiap jenis penggunaan ruang.
o Kedudukan/peran/estetika bangunan pada lingkungan kawasan yang
bersangkutan.
o Data tersebut disajikan dalam bentuk peta kedalaman skala 1 : 25.000
dan menggunakan perbedaan warna atau kode serta dilengkapi
dengan tabel-tabel data
o Data keadaan kawasan untuk menggambarkan pola kualitas jaringan
jalan di kawasan perencanaan yaitu meliputi: -Panjang dan lebar
menurut fungsinya -Jenis dan kondisi perkerasan jalan. -Kondisi fasilitas

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 41 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
jalan lainnya seperti saluran air limbah, saluran pengeringan dan lain-
lain Data tersebut disajikan dalam bentuk peta dengan kedalaman
skala 1 : 25.000 dan menggunakan perbedaan warna atau kode serta
dilengkapi dengan tabel-tabel data
o Data mengenai tanah meliputi data pola pemilikan tanah secara umum
dan perkiraan umum harga atau nilai pada skala 1 : 25.000.
o Data mengenai aspek kependudukan sebagai bahan evaluasi
kebijaksanaan kependudukan yang telah ditetapkan. Data tersebut
meliputi :
 Data jumlah penduduk kota 5 tahun terakhir.
 Data distribusi jumlah penduduk diuraikan dalam unit data kota
dalam wilayah administratif terkecil untuk 5 tahun terakhir.
 Data penduduk berdasarkan usia kerja untuk seluruh kota untuk 5
tahun terakhir.
 Data distribusi jenis struktur tenaga kerja diuraikan dalam unit data
kota terkecil (kelurahan/desa) untuk 5 tahun terakhir.
o Data mengenai sarana dan prasarana utama kawasan yang meliputi:
- Pola distribusi fasilitas pendidikan, peribadatan, kesehatan dan
rekreasi beserta intensitas fungsi pelayanannya, pergudangan dan
sebagainya.
- Sistem distribusi dan kapasitas sumber air bersih/ air minum.
- Sistem pembuangan air limbah dan jaringan drainase kota.
- Sistem pembuangan sampah, jaringan listrik dan telepon
c) Survey Lapangan
1. Data Primer
Untuk mengumpulkan data primer ini perlu dilakukan survey lapangan
langsung (on site) meliputi :
 Observasi
Observasi merupakan suatu langkah untuk mengenali lebih dekat
mengenai kondisi wilayah perencanaan terutama berkaitan dengan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 42 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
kondisi fisik yang ada di wilayah studi. Adapun pengertian lain
mengenai observasi ini adalah merupakan pengamatan dan
pencatatan dengan sistematik mengenai fenomena-fenomena yang
diselidiki secara visual. Sedangkan dalam artian lebih luas, observasi
sebenarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang
dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Observasi lapangan sangat ditentukan oleh kondisi dan karakter
lapangan, ada yang cukup diobservasi saja, ada yang harus
diperdalam untuk mengetahui karakter objek secara lebih menRinci
atau lebih teknis, dan ada juga kemungkinan yang perlu didukung
dengan wawancara atau interview. Hasil survey/observasi lapangan
ini merupakan data primer. Beberapa contoh panduan
survey/observasi lapangan dimaksud dapat dikemukakan sebagai
berikut ini :
- Survey Perubahan Penggunaan Lahan. Survey ini dilakukan
dengan pengamatan langsung kelapangan dengan menggunakan
peta dasar (Peta foto udara atau peta rupa bumi dan peta yang
telah dimodifikasi sesuai kebutuhan).
- Survey Infrastruktur dan Bangunan. Survey ini dilakukan dengan
pengamatan langsung kelapangan dengan melakukan plotting
dan sketsa lokasi, melalui wawancara terhadap stakeholder
setempat maupun dengan foto / shootting
- Survey Transportasi/Lalu Lintas. Survey ini dilakukan dengan
pengamatan langsung ke lapangan dengan menggunakan form
isian yang telah disesuaikan kebutuhan analisa melalui traffic
counting untuk perhitungan LHR pada jalanjalan utama maupun
persimpangan, serta dengan survey asal dan tujuan perjalanan.
 Tahap Penyelidikan Detail Survey Visual, Survey visual merupakan
suatu kegiatan pengamatan terhadap keadaan di lapangan atas
dasar penglihatan pengamatan surveyor secara langsung. Selanjutnya

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 43 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
hasil pengamatan itu direkam dalam bentuk suatu penilaian kualitatif
di atas peta dasar, lembaran survey atau bentuk pemotretan. Tujuan
dari survey ini adalah untuk mendapatkan gambaran aktual mengenai
situasi dan kondisi aspek visual yang diamati, nantinya akan digunakan
sebagai faktor pertimbangan dalam penyusunan alternatif
pengembangan fisiknya.
Dengan demikian, rencana yang akan dihasilkan tidak hanya
memberikan pedoman pengembangan tata ruang fisik yang optimal
dari segi struktur dan pola tata ruang tetapi juga keserasian dari segi
estetika visual.
 Lingkup Pengamatan Pengamatan dilakukan terhadap berbagai
obyek di daerah studi yang dianggap penting berdasarkan kesan
visual yang ditonjolkan. Obyek tersebut dapat berupa suatu unsur atau
elemen bentukan alamiah atau juga buatan manusia. Elemen-elemen
tersebut adalah:
- Path : yaitu garis atau jalur sirkulasi yang digunakan sebagai
tempat pergerakan manusia, seperti : jalan, jalan setapak dan
jalur rel.
- Nodes : yang merupakan pusat dari kegiatan, yaitu pertemuan
atau persilangan dari path atau titik konsentrasi seperti pusat
transportasi.
- Edge : berupa garis pembatas atau tepian yang membedakan
suatu kawasan atau wilayah lainnya. Bentukan dapat berupa:
sungai, deretan bangunan, jalur jalan yang memisahkan dua
bagian dari permukiman.
- District : yang berupa suatu bagian luas atau sedang dari suatu
kawasan studi dengan karakteristik yang umum atau sama
misalnya : kawasan pusat kota, kawasan perdagangan dan
sebagainya.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 44 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

- Land Mark: yang merupakan obyek fisik seperti menara,


bangunan tanda lalu lintas, gunung atau bukit yang membantu
memberikan identifikasi dari titik penelitian arah tersebut.
Kelima elemen yang disebutkan di atas merupakan sarana untuk
menunjukkan identitas atau citra dari suatu kota.
 Teknik Pengamatan
Pengamatan dilakukan dengan mengamati secara langsung keadaan
di lapangan. Dalam hal ini, surveyor harus melakukan perjalanan di
lapangan, terutama pada jalurjalur jalan raya utama. Selanjutnya
pada titik-titik tertentu yang dianggap mempunyai arah pandangan
yang jelas, dilakukan perekaman obyek pandangan (dalam bentuk
kelima elemen tersebut di atas) yang harus dicatat adalah :
- Posisi tempat surveyor melakukan pengamatan.
- Waktu pengamatan.
- Penilaian terhadap obyek pengamatan

Dalam hal ini, bila dirasakan perlu untuk merekam obyek yang
dimaksud dengan lebih jelas, dapat pula dibantu dengan teknis
pemotretan. Dengan demikian perlengkapan yang diperlukan untuk
melaksanakan survey visual ini adalah :
- Peta dasar dan lembaran survey.
- Kompas dan alat tulis.
- Jam dan kamera.
- Kendaraan.

Survey Kondisi Bangunan, survey ini dimaksudkan untuk memperoleh


gambaran tentang keadaan fisik kota. Hal-hal yang perlu diamati
adalah :
- Jenis Penggunaan Lahan
- Keadaan Bangunan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 45 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

- Kelayakan Utilitas, meliputi ada atau tidaknya jaringan air bersih,


listrik, telepon dan Drainase.

2. Wawancara

Wawancara ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran secara


langsung, keinginan atau aspirasi masyarakat tentang bentuk kawasan
studi yang diinginkan sehingga dapat menjadikan masukan dalam kegiatan
perencanaan. Dari hasil wawancara ini dapat diketahui tokoh-tokoh
masyarakat yang berpengaruh, sehingga dapat dilakukan pendekatan-
pendekatan dalam pelaksanaan rencana kelak. Wawancara juga
dilakukan dengan membuat kebijaksanaan (decision maker) untuk
memperoleh informasi mengenai arah kebijaksanaan daerah dan pola
dasar pembangunan daerah.

3. Data Sekunder

Data sekunder ini diperoleh melalui survey intansional dan kajian


kepustakaan, yaitu mengumpulkan data-data yang relevan dari suatu
instansi yang berwenang dan terkaitserta sumber-sumber lain yang dapat
dijadikan literature dalam proses pelaksanaan pekerjaan. Untuk
melaksanakan survey ini dibutuhkan suatu check list instansional yang
memuat nama-nama instansi yang berwenang serta data-data yang
dibutuhkan dari masing-masing instansi tersebut. Hasil dari survey ini adalah
uraian, data angka atau peta mengenai keadaan kawasan.

4. Kompilasi Data

Kompilasi data merupakan tahap seleksi data, tabulasi data dan


mengelompokkan atau mensistematisasikan data hasil survey sesuai dengan
kebutuhan. Data-data yang disajikan secara garis besar meliputi data
makro dan data mikro Data makro meliputi: aspek kebijaksanaan regional

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 46 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
dalam hal ini Kawasan perencanaan yang berpengaruh nantinya pada
perkembangan kawasan sekitarnya khususnya baik aspek kependudukan,
aspek perekonomian, aspek sumber daya alam, aspek pelayanan fasilitas
dan utilitas. Data mikro meliputi: aspek fisik dasar, penggunaan lahan dan
fungsi bangunan, aspek kependudukan, sosial dan kebudayaan, sistem
transportasi, aspek perekonomian kota dengan fokus masalah kegiatan
komersial, aspek pelayanan fasilitas sosial dan utilitas kota, aspek-aspek
yang berkaitan dengan masalah desain perkotaan, nilai bangunan atau
estetika kota dan sebagainya.

E.3.4.1. Metode Analisis dan Perumusan Ketentuan Teknis

Suatu wilayah/kawasan dapat dianggap sebagi suatu organisasi yang


bersifat dinamis dan mengalami mekanisme pertumbuhan dan
perkembangan. Proses pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi oleh
faktor-faktor yang berasal dari dalam wilayah (internal faktor) maupun
dari luar wilayah (eksternal faktor). Suatu penataan kawasan menghendaki
masukan yang berupa pengetahuan mengenai ciri dan karakter kawasan
tersebut. Masukan ini selanjutnya diolah dalam suatu proses yang
menghasilkan pola tindakan dalam pembangunan yang terencana yang
selanjutnya disebut sebagai proses analisis. Tahap analisis merupakan
salah satu kelengkapan dalam proses perencanaan yang tujuan
kegiatannya adalah untuk memahami permasalahan beserta gambaran
tentang hal-hal yang merupakan pedoman pemikiran tentang upaya
pemecahan masalah maupun peningkatan suatu keadaan yang dinilai
cukup memenuhi kriteria. Dalam mendukung proses analisis, diperlukan
kompilasi (ketersediaan) data yang akurat sebagai input yang meliputi
informasi-informasi berkaitan dengan kebutuhan penyusunan pekerjaanini.
Melengkapi tahapan tersebut selanjutnya disusun suatu dokumen analisis
yang pada dasarnya memberikan uraian, penjelasan, penilaian, serta

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 47 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
perhitungan dan prediksi keadaan daerah perencanaan dalam kurun
waktu perencanaan. Pada dasarnya, prediksi tersebut adalah analisa
terhadap kecenderungan perkembangan dan berbagai faktor serta
variabel yang berpengaruh dalam mekanisme perkembangan dan
pertumbuhan kawasan perkotaan. Hasil dari tahapan tersebut akan
digunakan sebagai dasar penentuan strategi perencanaan jangka
panjang, baik dalam dimensi penataan ruang fisik maupun pengembangan
kegiatan sektoral.

a) Analisis Kajian Terhadap Kebijakan Terkait

Analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan


menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberi
landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan.
(E.S. Quade (Alm.), mantan kepala Departemen Matematika di
perusahaan Rand). Analisis kebijakan digunakan oleh para analisis
profesional di bidang pemerintahan maupun bisnis untuk membantu
para pengambil keputusan menyelesaikan setiap masalah dan
mengambil manfaat dari setiap kesempatan yang ada. Karena setiap
masalah dan kesempatan itu sangat berbeda-beda, prosesnya pun
amatlah fleksibel, maka hal ini memberikan peluang kepada para
analisis untuk mengulangi langkah-langkah yang telah dilakukan untuk
membuat perubahan apabila dianggap perlu. Proses tersebut
dirancang untuk dapat menghasilkan analisisanalisis yang relevan,
berwawasan, dan akurat dan untuk mencapai hal ini secara tepat
sesuai dengan anggaran yang tersedia. Dalam praktek, analisis
kebijakan itu jauh lebih bersifat keahlian dan bukan suatu ilmu
pengetahuan teoritis. Seorang analisis kebijakan yang baik selalu
mengandalkan diri pada proses yang dapat dipertahankan, metode
yang tepat, dan pertimbangan yang didasarkan pada
pengalamannya. Satu bagian penting untuk belajar menjadi seorang
analisis kebijakan adalah dngan cara bergelut dengan masalah-

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 48 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
masalah yang nyata dan rumit. Ciri seorang analisis profesional yang
ulung adalah kemampuannya untuk menerapkan teori-teori dan
metode-metode yang relatif bersifat abstrak. Untuk menjelaskan apa
yang dimaksud dengan perencanaan kebijakan, adalah sangat
penting untuk menunjuka apa yang justru tidak termasuk di dalamnya.
Kebanyakan orang jauh lebih mengenal apa yang disebut
perencanaan menyeluruh atau komprehensif dibanding dengan
perencanaan kebijakan, mungkin mereka menganggapnya sebagai
suatu jenis perencanaan yang komprehensif, tetapi kedua hal ini
tidaklah serupa sama sekali perbedaan antara keduanya terletak
pada hal-hal sebagai berikut :

 Ruang Lingkup. Perencanaan kebijakan ditujukan pada masalah


tertentu, sementara salah satu prinsip perencanaan komprehensif
adalah mempertimbangkan semua aspek dari suatu sistem secara
simultan, apakah suatu masalah khusus atau kesempatan yang
berkaitan dengan aspek tersebut sudh diketahui atau belum.
Sebaliknya perencanaan kebijakan lebih memusatkan diri pada
masalah-masalah khusus saja.

 Produk. Para perencana komprehensif pada umumnya


mengembangkan satu rencana. Akan tetapi, hasil yang diperoleh
dari perencanaan kebijakan, terdiri dari perencanaan kebijakan,
terdiri dari momerandum, kertas kerja, rancangan peraturan
perundangundangan, dan bahkan catatan-catatan mengenai
pembicaran telepon, sehingga produkproduk ini benar-benar
berbeda dan biasanya terbatas ruang lingkupnya dibanding
dengan perencanaan itu sendiri.

 Klien. Klien atau nasabah dari perencanaan komprehensif


tradisional adalah kepentingan umum, para perencana mencoba
menerka kecnderungan hubungan dan pendapat dari klien yang
masih di awang-awang ini dan menafsirkan pendapatan-

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 49 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
pendapatan ini jika mereka lihat terdapat kecocokan. Sebaliknya,
klien dari perencanaan kebijakan sangat jelas

 Waktu. Cakrawala waktu perencanaan komprehensif tradisional


adalah jangka panjang. Hampir semua perencanaan komprehensif
menguraikan suatu keadaan di masa 20 tahun yang akan datang
atau malah lebih. Cakrawala waktu perencanaan kebijakan
biasanya jauh lebih pendek sesuai dengan apa yang menjadi
perhatian klien itu sendiri.

 Politik. Perencanaan komprehensif tradisional menganut sutau


pendekatan apolitis dalam proses penerapannya, sementara
perencanaan kebijakan kemungkinan bisa saja bersifat sangat
politis. Suatu pemerintah daerah modern perlu untuk membuat baik
perencanaan komprehensif maupun perencanaan kebijakan.
Hampir semua klien swasta hanya akan tertarik pada kedua.

Suatu kota atau kawasan perkotaan akan memiliki keterkaitan dengan


wilayah yang lebih luas guna mendukung perkembangannya.
Perkembangan kota atau kawasan perkotaan tersebut tidak terlepas
dari fungsi dan keefektifan yang dapat terlihat pada wilayah
pelayanannya. Oleh karena itu untuk melihat kebijakan pembangunan
pada kawasan perencanaan, perlu dilakukan tinjauan kebijaksanaan
yang terkait dengan kawasan perencanaan.

b) Analisis Identifikasi Kendala, Peluang dan Potensi Pengembangan


Kawasan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 50 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Analisa SWOT pada kegiatan ini dilakukan melalui analisis interaksi
faktor internal (strength / kekuatan dan weakness / kelemahan) dan
eksternal (opportunity / peluang dan threat / ancaman) dengan
mengalikan antara kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Dari
hasil perkalian kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman tersebut
akan diperoleh beberapa jenis strategi, antara lain : strategi SO,
strategi ST, strategi WT, dan strategi OT.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 51 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
c) Analisis Fisik

Dalam analisis fisik digunakan pendekatan terhadap beberapa model


analisis yaitu sebagai berikut :

1. Analisis Daya Dukung Lahan

Metode analisis yang digunakan untuk menilai daya dukung


lingkungan fisik alamiah ini adalah metode context analysis
(analisis tautan) melalui teknik superimpose atau overlay diagram
informasi. Metode analisis tautan ini menurut Edward T. White
adalah kegiatan riset praperancangan yang memusat pada
kondisi-kondisi yang ada, dekat dan potensial pada dan di
wilayah perencanaan sebagai jaringan yang kompleks dan aktif.
Analisis tautan merupakan suatu penyelidikan atas seluruh situasi
yang mempengaruhi lahan yang akan direncanakan. Peran utama
dari analisis tautan dalam perancangan adalah memberi kita
informasi mengenai daya dukung lingkungan sebelum memulai
konsep-konsep perencanaan dan perancangan pengembangan
kawasan.

Adapun kriteria analisis daya dukung lahan adalah sebagai


berikut :

Gambar E.4. Super Impose

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 52 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
2. Kriteria Topografi

Berdasarkan The urban, rural regional planning field (1980)


bahwa kegiatan bududaya perkotaan dapat dikembangkan
pada ketinggian regional > 1.000 m dpl. Berdasarkan ketentuan
KBU bahwa kegiatan budidaya di atas kontur 750 m dpl dibatasi
dengan KDB maksimum 20 % dan Koefisien Wilayah Terbangun
(KWT) yang disesuaikan dengan perhutungan indek konservasi
potensial (IKP).

3. Kriteria Kemiringan Lahan

Pemahaman lengkap terhadap kemiringan lahan (slope) tidak


hanya memberi petunjuk terhadap pemilihan rute lintasan tetapi
juga menyatakan susunan keruangan dan kestabilan pondasi
bangunan di wilayah perencanaan. Kriteria kemiringan lahan
yang akan digunakan sebagai pedoman dan dasar pertimbangan
peruntukan lahan bagi Wilayah Perencanaan dapat dilihat pada
rangkaian tabel di bawah ini.

4. Kriteria Geologi

Pertimbangan terpenting dalam unsur geologi adalah rintangan


fisiografik yaitu unsurunsur alamiah yang merintangi atau
membahayakan berbagai jenis pembangunan. Unsur-unsur
rintangan ini berkaitan dengan fungsi yang akan direncanakan
seperti gerakan tanah, sesar, gempa, dan bahaya vulkonologi

5. Kriteria Jenis Tanah

Pemahaman yang ekstensif terhadap kondisi tanah pada sebuah


wilayah perencanaan akan membantu untuk menentukan
kesesuaian guna lahan tapak dan kestabilan konstruksi pondasi
bangunan

6. Kriteria Hidrologi

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 53 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Hidrologi suatu daerah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain : geologi, vegetasi, tata guna tanah, dan curah hujan. Apabila
terdapat luas areal vegetasi yang cukup besar maka akan
semakin luas areal peresapan hujan ke dalam tanah, sebaliknya
apabila areal vegetasi sempit akan mempercepat erosi dan akan
menimbulkan sedimentasi dalam perairan sungai, bahkan dapat
menghambat kecepatan air hujan yang meresap ke dalam tanah,
dimana peresapan air ke dalam tanah ditentukan oleh kondisi
geologi setempat.

Analisis hidrologi yang dimaksud di sini adalah menganalisis data


yang berkaitan dengan kondisi keairan, baik air permukaan
maupun air tanah. Untuk itu penyajian data hidrologi ini
dibedakan atas air permukaan dan air tanah. Air permukaan
adalah air yang muncul atau mengalir di permukaan seperti mata
air, danau, sungai, dan rawa. Pada data air permukaan ini
masing-masing jenis sumber air tersebut hendaknya diikuti besaran
atau debitnya, sehingga dapat terlihat potensi air permukaan
secara umum. Khusus untuk sungai disajikan lengkap dengan
Wilayah Sungai (WS) dan Daerah Aliran Sungai (DAS) nya,
karena masing-masing WS umumnya mempunyai karakteristik
berbeda, demikian juga dengan DAS yang diharapkan dapat
memberikan gambaran potensi sungai sampai orde yang terkecil.
Data sungai ini juga dilengkapi dengan pola aliran, arah aliran
air permukaan pada masing-masing DAS serta kerapatan sungai
yang secara tidak langsung akan memperlihatkan aktivitas sungai
tersebut baik pengaliran maupun pengikisannya.

Data air permukaan ini dapat diperoleh pada instansi pengairan


setempat ataupun pusat, dilengkapi dengan pengamatan
lapangan yang menunjukkan kondisi keairan sesaat pada waktu
pengamatan yang akan menunjukkan potensi air pada musim

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 54 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
tertentu (penghujan atau kemarau, tergantung waktu
pengamatan). Sedangkan untuk data mata air kemungkinan juga
dapat diperoleh dari peta hidrologi yang dikeluarkan oleh Badan
Pertanahan Nasional. Air Tanah, dapat dipisahkan atas air tanah
dangkal dan air tanah dalam, yang masingmasing diupayakan
diperoleh besaran potensinya. Air tanah dangkal adalah air tanah
yang umum digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air bersih
berupa sumursumur, sehingga untuk mengetahui potensi air tanah
bebas ini perlu diketahui kedalaman sumur-sumur penduduk, dan
kemudian dikaitkan dengan sifat fisik tanah/batunya dalam
kaitannya sebagai pembawa air. Selain besarannya air tanah ini
perlu diketahui mutunya secara umum, dan kalau memungkinkan
hasil pengujian mutu air dari laboratorium. Sedangkan air tanah
dalam yakni air tanah yang memerlukan teknologi tambahan untuk
pengadaannya, secara umum dapat diketahui dari kondisi
geologinya, yang tentunya memerlukan pengamatan struktur
geologi yang cermat. Kondisi air tanah ini dapat diperoleh dari
penelitian hidro-geologi baik yang dilakukan oleh Direktorat
Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral Departemen Energi
dan Sumber Daya Mineral, maupun instansi lainnya yang
berkaitan dengan keairan seperti Direktorat Jenderal Sumber
Daya Air Departemen Pekerjaan Umum, ataupun juga dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada uraian berikut :

Data hidrologi merupakan data yang terkait dengan tata air yang
ada, baik di permukaan maupun di dalam tanah/bumi. Tata air
yang berada di permukaan tanah dapat berbentuk badan-badan
air terbuka seperti sungai, kanal, danau/situ, mata air dan laut.
Sedangkan tata air yang berada di dalam tanah (geohidrologi)
dapat berbentuk aliran air tanah atau pun sungai bawah tanah.
Data tata air diperlukan untuk dapat melihat dan memperkirakan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 55 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
ketersediaan air untuk suatu wilayah. Informasi yang dibutuhkan
dari data hidrologi ini adalah kuantitas dan kualitas air yang ada.
Data kuantitas terkait dengan pola dan arah aliran serta debit air
yang ada dari masingmasing badan air. Sedangkan data kualitas
terkait dengan mutu air (dilihat dari sifat fisik, kimia dan biologi).
Namun data yang terkait dengan kondisi hidrologi ini biasanya
sukar didapat karena harus melakukan pengambilan data
primer/pengamatan langsung. Data sekunder biasanya didapat
dari instansi yang terkait dengan lingkungan dan PAM. Data umum
hidrologi yang biasa tersedia adalah peta lokasi badan air
(sungai, danau, laut) yang dapat dilihat dari peta rupabumi. Dari
peta ini biasanya bisa didapat informasi wilayah sungai dan
daerah aliran sungai, termasuk pola dan arah alirannya..

7. Kriteria Klimatologi

Kondisi udara secara geografis tergantung dari garis lintang,


pengaruh masa daratan, masa air vegetasi, lamanya penyinaran
matahari, dan ketinggian tempat. Nilai perubahan temperatur
terhadap ketinggian disebut "Temperature Lapse rate", yaitu
dengan setiap kenaikan tempat sebesar 100 meter, temperatur
akan turun sebesar ± 0,6°C

Analisis klimatologi memerlukan data iklim berdasarkan hasil


pengamatan pada stasiun pengamat di wilayah yang
bersangkutan dan/atau daerah sekitarnya, meliputi:
o Curah hujan,
o Hari hujan,
o Intensitas hujan
o Temperatur rata-rata,
o Kelembaban relatif,
o Kecepatan dan arah angin,
o Lama penyinaran (durasi) matahari

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 56 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Data klimatologi ini dapat diperoleh pada stasiun meteorologi
dan geofisika di wilayah dan/atau kawasan atau daerah
sekitarnya yang terdekat, atau pada kabupaten dalam bentuk
laporan, atau dapat juga diperoleh pada Badan Meteorologi dan
Geofisika Pusat di Jakarta. Seperti pada uraian berikut :
Kedalaman data yang dibutuhkan dalam analisis ini adalah
pengamatan selama 10 tahun (bila tersedia). Bila data yang
diperoleh tidak mencapai kedalaman tersebut, sebaiknya
dikumpulkan data semaksimum yang tersedia, dengan contoh
penyajian seperti yang disajikan pada Tabel di bawah. Adapun
Kendala umum yang sering terjadi dalam pengumpulan data
klimatologi adalah kelengkapan data yang minim, karena
ketiadaan data/pengukuran dari stasiun klimatologi terdekat.

8. Analisis Penggunaan Lahan

Analisis penggunaan lahan di wilayah dan/atau kawasan


perencanaan perlu diketahui secara terinci, terutama sebaran
bangunan yang bersifat tidak meluluskan air/kedap air. Hal ini
berkaitan erat dengan rasio tutupan lahan yang ada saat ini yang
nantinya digunakan dalam penghitungan ketersediaan air tanah
bebas. Selain untuk mengetahui rasio tutupan lahan, data
penggunaan lahan juga diperlukan untuk mengetahui
pengelompokan peruntukan lahan, termasuk aglomerasi fasilitas
yang akan membentuk pusat kota serta bangunan-bangunan yang
memerlukan persyaratan kemampuan lahan tinggi, yang akan
digunakan dalam penentuan rekomendasi kesesuaian lahan.

Di samping itu dengan mengetahui sebaran penggunaan lahan di


wilayah ini, maka akan terlihat pada daerah-daerah mana
penggunaan lahan yang ternyata menyimpang dari
kesesuaiannya atau melampaui kemampuannya, sehingga dapat
dijadikan masukan juga dalam memberikan rekomendasi

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 57 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
kesesuaian lahan ini. Data penggunaan lahan disajikan berupa
peta penggunaan lahan/tata guna lahan.

d) Analisis Fisik Binaan

1. Analisis Kesesuaian Lahan

Analisis kesesuaian lahan dilakukan untuk mengetahui potensi atau


nilai suatu areal untuk penggunaan tertentu. Dalam hal ini, untuk
mengetahui kesesuaian lahan untuk kegiatan pengembangan
perkotaan dapat digunakan ‘Skala Mabbery’

2. Penentuan KDB, KLB dan Sempadan Bangunan

Bertujuan untuk mengetahui intensitas penggunaan ruang


berdasarkan hasil perhitungan luas penggunaan tanah, jumlah
bangunan, luas lantai bangunan (KDB dan KLB), ketinggian
bangunan, dan yang lainnya. Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
merupakan perbandingan antara luas lahan terbangun dengan
luas lahan keseluruhan dan dinyatakan dalam persen (%).
Pengaturan terhadap Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dilakukan
untuk menjaga keseimbangan aliran permukaan dan kestabilan
muka air. Semakin tinggi KDB-nya maka aliran air permukaan
akan semakin meningkat dan muka air tanah semakin menurun. KLB
merupakan batas maksimum ketinggian bangunan yang
diperbolehkan, sedangkan sempadan bangunan merupakan batas
muka, pinggir maupun belakang bangunan terhadap area
sekelilingnya..

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 58 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Tabel E.1. Hubungan Fisik Penggunan Lahan Berdasarkan Peruntukannya
NO JENIS PERUNTUKAN KRITERIA
1 Kawasan Hutan Lindung  Kemiringan > 40 % (Inmendagri
8/ 1985)
 Ketinggian > 2000 m dpl
2 Kawasan Industri Tidak berada di areal pertanian
3 Perumahan dan Permukiman  Kemiringan < 15 % Tidak
berada di rawan bencana atau
rendah erosi
 Jaringan primer dan sekunder
prasarana lingkungan
 Rencana tata ruang yang rinci
4 Jalan Tidak berada di rawan bencana
5 Pusat Perdagangan  Kemiringan < 5 %
 Berada di kawasan kota
6 Jalan Kereta Api  Kemiringan 0 – 5 %
 Tidak di daerah erosi atau
rawan bencana alam
7 Rekreasi Umum  Kemiringan 0 – 50 %
 Tidak di daerah erosi atau
rawam bencana alam
8 Kawasan Resapan Air  Curah hujan yang cukup tinggi
 Mampu menyerapkan air
secara besar-besaran
9 Kawasan Sekitar Waduk Daratan sekeliling tepian
proporsional dengan bentuk dan
kondisi fisik danau/waduk (antara
50-100 m dari titik pasang tertinggi
ke arah barat)
10 Kawasan Tanaman Pangan  Kemiringan < 40 %
Lahan Kering  Ketinggian < 1000 m
 Kedalaman efektf lapisan tanah
> 30 cm
11 Kawasan Tanaman Tahunan  Kemiringan < 40 %
 Ketinggian < 2000 m
 Kedalaman efektif lapisan
tanah > 30 cm

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 59 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

12 Kawasan Peternakan  Kemiringan < 15 %


 Ketinggian < 2000 m
 Jenis tanah dan iklim yang
sesuai untuk padang rumput
alamiah

e) Analisis Kependudukan
Kependudukan merupakan sekumpulan orang dalam jumlah besar
dengan karakteristik, tingkah laku, struktur/komposisi yang berbeda-
beda serta memiliki ikatan faktor budaya yang erat. Pada hakekatnya
pengertian penduduk lebih ditekankan pada komposisi penduduk.
Pengertian ini mempunyai arti yang sangat luas, tidak hanya meliputi
pengertian umur, kelamin dan lain-lain. Tetapi juga klasifikasi tenaga
kerja dan watak ekonomi, tingkat pendidikan, agama, dan angka
stasistik lainnya yang menyatakan distribusi frekuensi. Penduduk
merupakan Faktor utama perencanaan, sehingga pengetahuan akan
tingkah laku dan perkembangan penduduk merupakan bagian pokok
dari perancangan. Pertumbuhan penduduk merupakan keseimbangan
yang dinamis antara kekuatan-kekuatan yang menambah dan
kekuatan-kekuatan yang mengurangi jumlah penduduk. Pertumbuhan
penduduk dipengaruhi oleh 4 komponen, yaitu: kelahiran (fertilitas),
kematian (mortalitas), migrasi masuk (in-migration), migrasi keluar (out-
migration).
 Struktur dan Persebaran Penduduk
Pengelompokkan penduduk berdasarkan Ciri-ciri tertentu dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
- Biologis, meliputi umur dan jenis kelamin
- Sosial, antara lain meliputi tingkat pendidikan, status
perkawinan.
- Ekonomi, meliputi penduduk yang aktif secara ekonomi,
lapangan pekerjaan, jenis pekerjaan, serta tingkat

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 60 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
pendapatan.
- Geografis besarkan tempat tinggal, daerah perkotaan,
pedesaan, propinsi, kabupaten, dan lain-lain.
 Struktur Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin
Umur dan jenis kelamin merupakan karakteristik penduduk yang
pokok. Struktur ini mempunyai pengaruh penting terhadap tingkah
laku maupun ekonomi. Dalam demografi distribusi umur penduduk
dapat digolongkan antara lain menurut umur satu tahunan maupun
lima tahunan. Stuktur umur yang ideal akan tercapai jika proporsi
setiap golongan umur terhadap total populasi adalah seimbang,
dengan kata lain jumlah penduduk dalam setiap kelompok umur
adalah sama atau Datang dengan seimbang. Dengan kondisi
tersebut jumlah yang berusia kurang dari 15 tahun dan diatas 65
tahun (beban tanggungan bagi penduduk usia produktif, antara 16
- 65 tahun) akan menjadi sedikit, dan mampu ditanggung oleh
penduduk usia produktif. Yang lebih penting lagi, minimalnya jumlah
penduduk di bawah usia 15 tahun akan menjadi syarat perlu bagi
pertumbuhan penduduk yang kecil dimasa datang (syarat cukupnya
setiap ibu tidak melahirkan tidak terlalu banyak atau idealnya
melahirkan dengan tingkat penggantian atau replacement fertility
rate).
 Migrasi Penduduk
Migrasi merupakan salah satu dari alasan dasar yang
mempengaruhi pertumbuhan penduduk. Pengertian migrasi adalah
perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu
tempat ke tempat lain melampaui batas politik/Negara ataupun
batas administratif. Migrasi juga sering diartikan sebagai
perpindahan yang dilakukan dari suatu
daerah ke daerah lain. Ada beberapa jenis migrasi yang perlu
diketahui, diantaranya adalah :
- Migrasi Masuk (In Migration), yaitu masuknya penduduk ke

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 61 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
suatu daerah tempat tujuan (area of destination).
- Migrasi Keluar (Out Migration), yaitu perpindahan keluar dari
suatu daerah asal (area of origin).
- Urbanisasi, yaitu bertambahnya proporsi penduduk yang
berdiam di daerah kota yang disebabkan oleh proses
perpindahan penduduk ke kota dan atau akibat dari perluasan
daerah kota.
- Transmigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari suatu daerah
untuk menetap ke daerah lain yang ditetapkan di dalam
Wilayah Republik Indonesia guna kepentingan pembangunan
Negara.
Pada dasarnya ada dua pengelompokkan faktor yang
menyebabkan seseorang melakukan migrasi, yaitu:
- Faktor Pendorong yang timbul dari tempat asal, seperti
berkurangnya sumber daya, menyempitnya lapangan kerja,
adanya tekanan/deskriminasi politik, agama atau suku,
ketidakcocokkan adat istiadat, jenis pekerjaan atau
perkawinan, serta bencana alam
- Faktor Penarik yang timbul dari tempat tujuan, seperti adanya
kesempatan lapangan kerja, adanya pendapatan dan
pendidikan yang lebih baik, keadaan lingkungan yang lebih
baik, adanya aktivitas-aktivitas yang menarik.
 Laju Pertumbuhan Penduduk
Dalam menentukan laju pertumbuhan penduduk yang merupakan
prosentase rata-rata pertambahan penduduk dari tahun ke tahun
dilakukan dengan menggunakan persamaan rumus.

 Matriks Antara Hubungan Jumlah Penduduk, Laju Pertumbuhan


Penduduk dan Kepadatan Penduduk
Berbagai aktivitas penduduk akan mempengaruhi perkembangan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 62 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
daerah karena pada dasamya pembangunan ditujukan sebesar-
besarnya untuk memenuhi kepentingan penduduk. Perkembangan
penduduk pada suatu kawasan pada umumnya di setiap tahun
mengalami peningkatan. Untuk interval kelas yang digunakan
dalam pengklasifikasian laju pertumbuhan penduduk digunakan
metoda pengkelasan sebagai berikut:

Sebagai hasil analisis yang telah dilakukan, maka langkah


selanjutnya yaitu melihat sejauhmana keterkaitan antara jumlah
penduduk, laju pertumbuhan dan tingkat kepadatan yang terjadi di
kawasan perencanaan, serta guna mengelompokan/
mengklasifikasikan kelurahan-kelurahan yang ada kedalamnya,
untuk lebih jelasnya dapat dilihat dibawah ini :

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 63 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Tabel E.2. Contoh Ilustrasi Matriks Jumlah Penduduk, Laju Pertumbuhan
Penduduk dan Kepadatan Penduduk per-Kelurahan pada suatu Kawasan

 Sex Ratio dan Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio)


Sex Ratio adalah perbandingan banyaknya penduduk laki-laki
dengan banyaknya
penduduk perempuan pada suatu daerah dari waktu tertentu.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 64 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Biasanya dinyatakan dalam
bentuk pernyataan yang menyebutkan “banyaknya penduduk laki-
laki per 100 perempuan”. Sex ratio dapat dicari dengan
menggunakan rumus :

Jika di suatu daerah sex ratio penduduk > 100%, berarti didaerah
tersebut lebih banyak penduduk laki-laki dibandingkan dengan
penduduk perempuan. Sebaliknya, jika sex rationya < 100%,
berarti daerah tersebut didominasi oleh penduduk perempuan.
Akibat dari sex ratio penduduk > 100%, maka kecenderungan
produktivitas penduduk dimasa yang akan datang akan berkurang
karena jumlah ibu yang melahiran sedikit.
Sedangkan akibat dari sex ratio penduduk < 100%, maka
kecenderungan produktivitas akan meningkat dimasa yang akan
datang.
Jika dependency ratio > 100% akibatnya pendapatan per kapita
kota tersebut sangat rendah karena penduduk usia produktif sangat
sedikit daripada penduduk usia tidak produktif.
Sebaliknya jika dependency ratio < 100% akibatnya pendapatan
kota tersebut tinggi.

 Proyeksi Penduduk
Perencanaan mencakup penduduk, dibuat untuk penduduk, dan
dilakukan oleh penduduk, salah satunya adalah perkembangannya.
Perkembangan yang dimaksudkan mencakup pengertian yang luas,
baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kualitatif, proyeksi
penduduk ke masa depan berarti meramalkan mutu penduduk di
masa depan. Sedangkan secara kuantitatif proyeksi penduduk
dilakukan secara eksak dengan meramalkan jumlah penduduk di

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 65 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
masa depan yang tidak terlepas dari keadaan penduduk di masa
lampau.
Dalam proses proyeksi yang dilakukan, dapat digunakan 3 buah
metode analisis yaitu metode eksponensial,metode lung polynomial
dan metode regresi linier.
 Pengaruh Pertumbuhan Populasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Peningkatan populasi diakibatkan oleh tingkat kelahiran, penurunan
tingkat kematian, dan kelebihan migrasi terhadap emigrasi.
Pengaruh pertumbuhan populasi terhadap pertumbuhan ekonomi
bisa dikategorikan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan
penghambat pertumbuhan ekonomi. Menurut Adam Smith dalam
Wealth of Nations mengemukakan penduduk merupakan sumber
angkatan kerja yang diperlukan dalam pembangunan meskipun
perannya pasif mengikuti perkembangan perekonomian.
 Diferesiansi Sosial
Diferensiasi sosial adalah wujud keanekaragaman budaya dalam
hal-hal corak dan tingkat perkembangan masyarakat dan
kebudayaan suku-suku bangsa, atau daerah-daerah dan kehidupan
sosial, ekonomi, dan politik pada umumnya. Untuk memudahkan
pemahaman pelapisan sosial atau stratifikasi sosial membedakan
masyarakat ke dalam kelas-kelas atau tingkat-tingkat dari bawah
ke atas atau secara hierarkis, sedangkan diferensiasi sosial tidak
mengenal adanya tingkatan-tingkatan dalam ras, agama, dan lain-
lain. Perbedaan tersebut terjadi secara sejajar.
 Diferensiasi Sosial Berdasarkan Ras
Menurut Koentjaraningrat adalah suatu golongan manusia yang
memiliki ciri tubuh tertentu dengan suatu frekuensi yang besar.
Sedangkan menurut kamus besar Bahasa Indoensia Ras adalah
golongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik maupun rukun bangsa.
Penggolongan ras manusia yang terbesar di muka bumi.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 66 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

 Diferensiasi Sosial Berdasarkan Agama


Perkembangan ilmu dan teknologi harus diimbangi dengan
peningkatan keimanan dan ketaqwaan. Agama merupakan
tuntunan hidup bagi umat manusia didunia dan sebagai bekal di
akhirat. Tuntunan hidup tersebut selain agama ada juga keyakinan
terhadap
animisme dan dinamisme. Diferensiasi masyarakat ke dalam
golongan-golongan agama di Indonesia berdasarkan Pasal 29
UUD tahun 1945 terdapat lima golongan agama, yaitu: Islam,
Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, dan Budha.
 Diferensiasi Sosial Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan kategori sosial yang diperoleh manusia
secara otomatis. Para biologis beranggapan bahwa pria secara
biologis tidak lebih tinggi dari wanita dalam berbagai kesempatan
yang berhubungan dengan ekonomi, sosial, politik dan hak
istimewa.
Kita menyadari bahwa hingga dewasa ini masih ada perbedaan
sosial antara pria dan wanita yang penting anak laki-laki daripada
anak perempuan.
 Pranata Sosial
Pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan
yang berpusat pada aktivitas untuk memenuhi kompleksitas
kebutuhan dalam kehidupan masyarakat (Yunan, 1996, hal 14).
Adapun batasan pranata sosial adalah suatu sistem norma yang
mengatur segala tindakan manusia dalam memenuhi kebutuhan
pokoknya dalam kehidupan masyarakat.
Ciri-ciri pranata sosial, yaitu :
- Setiap pranata sosial memiliki simbol sendiri.
- Pranata memiliki tata tertib dan tradisi baik yang tertulis
maupun yang tidak tertulis.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 67 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

- Pranata sosial memiliki sosialnya sendiri


- Pranata sosial mempunyai alat perlengkapan yang digunakan
untuk mengukur tujuan.
- Usia pranata sosial lebih panjang daripada orang-orang yang
membentuknya.
 Kebudayaan
Sistem budaya merupakan wujud yang abstrak dari kebudayaan,
berisi ide-ide atau gagasan-gagasan manusia yang hidup bersama
dalam suatu masyarakat. Gagasan-gagasan tersebut saling
berkaitan dan menjadi suatu sistem. Jadi, yang dimaksud dengan
sistem sosial budaya adalah satu kesatuan dari unsur-unsur budaya
yang secara bersama-sama membentuk suatu sistem untuk mencapai
suatu tujuan. Komponen-komponen dari sistem sosial budaya yaitu
sistem kepercayaan atau religi, sistem kultur masyarakat, sistem
mata pencaharian hidup, peralatan dan perlengkapan hidup,
bahasa, kesenian/adat istiadat, dan ilmu pengetahuan.

f) Analisis Sosial Budaya


Analisis sosial budaya merupakan analisis terhadap kondisi sosial
budaya masyarakat akibat adanya suatu pembangunan ataupun
aktivitas kegiatan dan bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial dan
budaya masyarakat.
Analisis sosial budaya akan menilai kondisi sosial budaya yang
mengalami perubahan ataupun tidak mengalami perubahan akibat
adanya suatu kegiatan dan atau proses pembangunan.
Analisis sosial budaya dapat diartikan sebagai Kajian untuk mengenali
struktur sosial budaya serta prasarana dan sarana budaya; kajian ini
dilakukan untuk mencapai pemanfaatan sumber daya alam secara
berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang
bersifat lahiriah, batiniah atau spiritual (PU,2011).
Sosial dalam arti masyarakat atau kemasyarakatan berarti segala

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 68 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
sesuatu yang bertalian dengan sistem hidup bersama atau hidup
bermasyarakat dari orang atau kelompok orang yang didalamnya
sudah tercakup struktur, organisasi, nilai-nilai sosial, dan aspirasi hidup
serta cara mencapainya.
Budaya mencakup mencakup obyek, lokasi, struktur, kelompok struktur,
fitur alam dan lanskap yang dapat dipindahkan atau tidak dapat
dipindahkan yang memiliki kepentingan paleontologi, sejarah,
arsitektur, agama dan keindahan.
Benda budaya lainnya mencakup kuburan modern, pohon keramat,
batu keramat, kuil, dan bangunan bersejarah (Amin, 2009). budaya
merupakan suatu hal yang erat kaitannya dengan masalah sosial
masyarakat. Budaya akan selalu beriringan dengan kondisi sosial
masyarakat, karena kondisi sosial masyarakat akan selalu
berpengaruh dan mempengaruhi kondisi sosial kemasyarakatan.
Untuk mengetahui kondisi sosial budaya dapat diamati kondisi yang
da pada komponen-komponen masyarakat. Komponen adalah unsur-
unsur atau bagian-bagian yang ada di dalam sistem. Jadi kaitan
dengan masyarakat, maka komponen itu menjadi bagian-bagian yang
ada dalam masyarakat yang bersifat fungsional artinya komponen itu
dapat memberikan transformasi (perubahan demi terjalannya suatu
proses agar termaknai).
Komponen Utama dalam Kebudayaan di Masyarakat (Sakwati,2010):
a. Kebudayaan Material : Mengacu pada semua ciptaan manusia
yang konkret
b. Kebudayaan Nonmaterial : Ciptaan-ciptaan abstrak yang
diwariskan dari generasi kegenerasi
Dalam menganalisis suatu kondisi sosial budaya masyarakat, perlu
diperhatikan system sosial yang ada pada masyarakat. Dalam sistem
sosial pada umumnya terdapat proses yang saling mempengaruhi. Hal
ini dikarenakan adanya saling keterkaitan antar suatu unsur dengan
unsur lainnya. Ciri utama sistem sosial yaitu menerima unsur-unsur dari

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 69 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
luar (eksternal), namun juga menimbulkan terjalinnya ikatan antar unsur
yang satu dengan lainnya serta pertukaran antara sistem sosial
dengan lingkungannya. Dalam suatu system sosial terjadi proses-proses
sosial, yang meliputi:
a. komunikasi
b. memelihara tanpa batas
c. perjalinan system
d. sosialisasi
e. pengawasan social
f. Pelembagaan
g. pengawasan social
Unsur-unsur terbesar dari kebudayaan yang universal yang pasti bisa
ditemukan di semua kebudayaan di dunia, baik yang hidup dalam
masyarakat pedesaan yang terpencil maupun dalam masyarakat
perkotaan yang besar dan kompleks. Unsur-unsur universal tersebut
antara lain:
a. sistem religi dan upacara keagamaan
b. sistem dan organisasi kemasyarakatan
c. sistem pengetahuan
d. bahasa
e. kesenian
f. sistem mata pencaharian hidup
g. teknologi dan peralatan
h. Untuk melakukan analisis sosial budaya pada masyarakat dapat
dilakukan dengan memperhatikan
i. perubahan-perubahan yang terjadi dari unsur-unsur universal
diatas tersebut.

g) Analisis Perekonomian
Suatu kota atau kawasan terlihat berkembang itu terlihat dari ekonomi
kotanya, untuk melihat perkembangannya itu dapat dilihat dari
indikator-indikator sebagai berikut.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 70 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
1. Laju Pertumbuhan Ekonomi
Tingkat pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator
yang relatif mudah dalam mengidentifikasi hasil pembangunan,
khususnya pembangunan perkotaan dari berbagai sektor.
Dimana, Laju Pertumbuhan Ekonomi sangat penting untuk
menentukan kemajuan pembangunan kota. Laju pertumbuhan
ekonomi suatu kota dapat dilihat berkembang atau turun dapat
terlihat dari pendapatan perkapitanya.
Laju Pertumbuhan Ekonomi ini disebut juga indeks berantai, baik
harga berlaku maupun harga konstan. Pada umumnya yang sering
digunakan adalah LPE harga konstan karena menggambarkan
pertumbuhan produksi riil dari masing-masing sektor. Data LPE
sangat banyak digunakan dalam evaluasi dan untuk menyusun
strategi pembangunan terutama di daerah-daerah. Laju
pertumbuhan ekonomi diperoleh dengan cara membagi nilai
sektor
atau subsektor PDRB tahun berjalan dengan tahun sebelunya
dikurangi satu, dikalikan 100%. (Sumber : BPS. Buku-buku Kota
dan Kabupaten dalam Angka)
2. Struktur Perekonomian
Laju pertumbuhan ekonomi suatu kota dapat dilihat berkembang
atau turun dapat terlihat dari pendapatan perkapitanya.
Pendapatan perkapita yaitu pendapatan rata-rata suatu kota
yang berasal dari PDRB suatu kota dibagi jumlah penduduk
3. Sebaran Kegiatan Sektor
Suatu kota terlihat berkembang selain dilihat dari pendapatan
perkapita, tetapi juga dilihat dari kemampuan struktur
perekonomian yang mampu memberikan kontribusi terhadap
sektor-sektor lain juga memberikan kontribusi yang besar
terhadap total PDRB suatu kota, sehingga saling berkaitan antara
pendapatan perkapita dengan struktur perekonomian. Sektor

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 71 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
ekonomi yang memberikan kontribusi yang besar maka akan
mempengaruhi terhadap basarnya PDRB dan pendapatan
perkapita juga akan meningkat, juga sebaliknya. Struktur
perekonomian kota akan berkembang apabila terjadi
Peningkatan kontribusi, Penurunan kontribusi, Kontribusi tetap.
Struktur peronomian yang ada di suatu kota yaitu biasanya
 Sektor Pertanian
 Pertambangan dan galian
 Industri
 Listrik, gas, air minum
 Bangunan dan kontruksi
 Perdagangan
 Angkutan dan komunikasi
 Lembaga keuangan dan persewaan
 Jasa-jasa
4. Pola Aliran Barang
Pola aliran barang merupakan suatu sistem distribusi barang yang
dihasilkan dari sektor basisnya maupun non basisnya, dimana
barang yang diproduksi dapat merata dan optimal dalam
penyalurannya sehingga dapat memenuhi keseluruh pusat
pelayanan.
Salah satu perwujudan antar daerah ialah adanya pertukaran
antar daerah yang dapat berwujud barang, uang, maupun jasa.
Maka, analisis aliran barang dapat digunakan sebagai salah satu
ukuran intensitas hubungan suatu daerah dengan daerah lain.
Lebih dari itu dapat pula diketahui tingkat ketergantungan daerah
yang diselidiki pada daerah lain, atau peranan daerah yang
diselidiki atas daerah lain yang lebih luas.
Analisis aliran barang mempunyai nilai yang jelas karena karena
memperlihatkan hubungan antara produksi industri, tenaga kerja

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 72 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
dan penduduk dalam kegiatan perekonomian. Analisis aliran
barang beguna untuk mengidentifikasi perkembangan potensi
(sumber daya) dan industri. (Warpani, Suwardjoko. 1980. Analisis
Kota dan Daerah. ITB, hal 71).
5. Kegiatan Ekonomi
Dalam kehidupan ekonomi, yang penting adalah produksi barang
dan jasa, penyaluran dan pertukaran barang tersebut, dan
konsumsinya. Dalam kehidupan sehari-hari dikenal beberapa
macam kegiatan ekonomi, yaitu: ( Jayadinata, T Johara. 1999.
Tata Guna.
Tanah Dalam Perencanaan Pedesaan & Perkotaan, Wilayah. ITB)
o Kegiatan ekonomi dalam produksi menurut prosesnya terjadi
atas empat kelompok, yakni:
- Kegiatan produksi rayah (extractive) yang terdiri atas
segala kegiatan produksi, dimana manusia hanya
mengambil/ memindahkan/mengumpulkan semua barang
yang telah tersedia dalam alam. Contoh: perburuan,
perikanan laut, penebangan kayu dihutan alam,
pengumpulan hasil hutan, pertambangan dan sebagainya.
- Kegiatan produksi budidaya (reproductive industries) yang
meliputi segala kegiatan produksi, dimana manusia harus
mengadakan usaha tertentu dulu, sebelum dapat
mengambil hasilnya. Usaha tertentu itu dilakukan manusia
dengan bantuan alam, yaitu [roses alam. Contoh kegiatan
budidaya adalah: pertanian, perkebunan, peternakan,
perikanan darat, penebangan kayu dihutan buatan, dan
sebagainya.
- Kegiatan produksi industri (manufactural industries), yaitu
kegiatan manusia dalam mengubah barang mentah
menjadi barang yang lebih berguna atau barang industri,
yaitu barang setengah jadi dan barang jadi. Dalam

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 73 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
kegiatan industri akan terdapat penambahan nilai atau
value adding (penambahan nilai ini terjadi juga dalam
kegiatan ekonomi lain. Added value =nilai tambah).
- Kegiatan produksi jasa (facility industries) yang meliputi
segala kegiatan, dimana manusia memberikan jasanya
baik secara langsung maupun melalui alat tertentu dalam
segala kegiatan ekonomi yang telah disebut diatas itu.
o Dalam penggunaan sehari-hari terdapat istilah produksi
Untuk kegiatan ekonomi tersebut biasanya digunakan istilah:
- Produksi primer (termasuk kegiatan produksi ekstraktif dan
reproduktif), yaitu produksi yang menggunakan sumber
daya alam terutama tanah;
- Produksi sekunder (yaitu kegiatan industri) ialah produksi
yang mengubah barang mentah menjadi barang industri;
- Produksi tersier (kegiatan produksi fasilitatif), yaitu
produksi jasa.
Pada aspek ekonomi ini beberapa metode analisis yang dapat
dipakai adalah sebagai berikut:
 Analisis Perekonomian Berdasarkan Location Quotient (LQ)
Analisis sektor–sektor ekonomi dengan menggunakan metode
Location Quotient dilakukan untuk mengetahui arah dan
pertumbuhan suatu wilayah melalui ekspor wilayah. Ekspor tersebut
merupakan perpindahan barang dan jasa dari suatu wilayah ke
wilayah yang lain (membutuhkan). Jadi untuk mengetahui sektor-
sektor ekonomi, perlu mengetahui arah dan pertumbuhan barang
dan jasa yang ada di suatu daerah. Apakah sektor-sektor ekonomi
yang ada di daerah tersebut sudah memilki orientasi ekspor (basis)
atau belum (non basis). Terjadinya sektor basis pada dan
pendapatan adalah suatu fungsi permintaan dari luar
(exogeneous), yaitu permintaan dari luar yang mengakibatkan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 74 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
terjadinya ekspor dari daerah tersebut. Analisis perkembangan
sektor-sektor pada suatu kawasan dapat dilakukan untuk
mengetahui bagaimana perkembangan koefisien LQ dari tahun ke
tahun. Apabila perkembangan LQ suatu sektor cenderung
meningkat setiap tahunnya berarti sektor tersebut dapat terus
dikembangkan pada
kawasan perencanaan sebagai sektor unggulan. Untuk menganalisis
LQ sektor-sektor tersebut pada kawasan prencanaan diperlukan
data PDRB sektor-sektor, serta data PDRB sektor-sektor eksternal.
Indikator yang digunakan adalah, apabila nilai koefisien LQ > 1
maka sektor tersebut merupakan sektor basis/surplus dan memiliki
orientasi ekspor sehingga bisa dijadikan sektor unggulan dan
apabila nilai koefisien LQ suatu sektor ≤ 1, maka sektor tersebut
merupakan sektor non basis (bukan unggulan).
 Analisis Perekonomian Berdasarkan Shift dan Share
Analisa shift-share adalah suatu teknik yang digunakan untuk
menganalisa data statistik regional, baik berupa pendapatan per
kapita, output, tenaga kerja maupun data lainnya.
Metode ini juga digunakan untuk mengamati struktur pasar
perekonomian daerah dan perubahannya secara deskriptif dengan
cara menekankan pada bagian-bagian pertumbuhan sektor atau
industri di daerah, dan memproyeksikan kegiatan ekonomi di
daerah tersebut dengan data yang terbatas. Dalam Analisa ini,
pertumbuhan kegiatan di suatu daerah pada dasarnya ditentukan
oleh tiga hal, yaitu:
1. National Share/National Growth Effect (N), yaitu pertumbuhan
daerah dibandingkan dengan pertumbuhan nasional. Jika
daerah tumbuh seperti rata-rata nasional, maka peranannya
terhadap nasional akan tetap.
2. Proportional Shift/Sectoral Mix Effect/Composition Shift (M),
yaitu perbedaan pertumbuhan daerah dengan menggunakan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 75 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
pertumbuhan nasional sektoral dan pertumbuhan daerah
dengan menggunakan pertumbuhan nasional total. Daerah
dapat tumbuh lebih cepat/lambat daripada rata-rata nasional
jika mempunyai sektor/industri yang tumbuh lebih
cepat/lambat dari nasional. Dengan demikian perbedaan laju
pertumbuhan dengan nasional disebabkan oleh komposisi
sektoral yang berbeda.
3. Differential Shift/Regional Share/Competitive Effect(S), yaitu
perbedaan antara pertumbuhan daerah secara aktual dengan
pertumbuhan daerah jika menggunakan pertumbuhan sektoral
nasional. Daerah dapat saja mempunyai keunggulan
komparatif dibandingkan dengan daerah lain, karena
lingkungannya mendorong suatu sektor tertentu untuk tumbuh
lebih cepat. Lingkungan disini dapat berarti lahan, tanaga
kerja, maupun keahlian tertentu.
Berdasarkan keadaan di atas, maka dibuatkan perumusan shift
share secara kuantitatif. Pertumbuhan daerah pada dasarnya
dipengaruhi oleh share nasional, proporsional shift dan
differensial shift atau :

Jika M dan S positif, menunjukkan bahwa komposisi kegiatan di


daerah sudah baik untuk daerah yang bersangkutan.
Sebaliknya, jika M negatif atau S negatif menunjukkan bahwa
komposisi kegiatan belum cukup baik, namun masih mungkin
ditingkatkan dengan membandingkannya dengan komposisi

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 76 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
nasional. Dalam menentukan komoditas unggulan, maka
komponen S dan M ini akan digunakan sebagai kriteria kinerja
komoditas pada tahap pertama. Komponen S yang positif
menunjukkan keunggulan komoditas tertentu dibandingkan
dengan komoditas serupa di daerah lain dalam satu lingkup
nasionalnya. sedangkankomponen M yang positif menunjukkan
komposisi industri yang sudah relatif baik terhadap
pertumbuhan perekonomian wilayahnya.

h) Analisis Transportasi
Perencanaan transportasi adalah salah satu usaha pada sistem
transportasi agar prasarana transportasi yang ada dapat digunakan
secara optimal. Prasarana transportasi dapat berupa pelabuhan laut,
pelabuhan udara, terminal, stasiun, jalan dan lain sebagainya. Maksud
perencanaan transportasi adalah mengatasi masalah transportasi
yang terjadi sekarang dan yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Tujuan dasar dari perencanaan transportasi adalah memperkirakan
jumlah serta lokasi kebutuhan akan transportasi (misalnya menentukan
total pergerakan baik untuk angkutan umum ataupun angkutan
pribadi) pada masa mendatang atau pada tahun rencana yang akan
digunakan untuk berbagai kebijakan investasi perencanaan
transportasi. Sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi dalam
mencapai tujuannya adalah tata guna tanah, ekonomi, sosial-budaya,
teknologi transportasi dan lain sebagainya.
Banyaknya lalu lintas dan pepergian antar zone selalu bertambah
karena prasarana hubunganpun terus meningkat, misalnya pembuatan
jalan baru dan penataan jalan lama atau meningkatkan prasarana
dan sarana adalah jawaban atas kebutuhan perhubungan antar zone.
Disamping itu, sering pula timbul satu dua zone lain yang memperoleh
manfaat dari padanya.
Tambahan jumlah lalu lintas ini dapat dipilah-pilah atas 3 bagian :

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 77 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

 Tambahan wajar lalu lintas, yaitu tambahan akibat bertambahnya


penduduk dan kendaraan.
 Lalu lintas bangkitan, yaitu tambahan akibat berkembanganya
kepentingan sebagai akibat bertambahnya kesempatan
melakukan perjalanan.
 Perkembangan lalu lintas, yaitu tambahan akibat adanya jalan
baru.
Ada 10 faktor yang menjadi penentu bangkitan lalu lintas dan
semuanya sangat mempengaruhi volume lalu lintas serta penggunaan
sarana perangkutan yang tersedia, yaitu Maksud Perjalanan,
Pengahasilan Keluarga, Pemilikan Kendaraan., Guna Lahan di tempat
Asal., Jarak dari PKK, Jauh Perjalanan, Moda Perjalanan, Penggunaan
Lahan, Guna Lahan di Tempat Tujuan. Di dalam perencanaan
transportasi dikenal 3 tingkatan perencanaan transportasi, yaitu :
 Perencanaan Operasional. Pada tahap ini pekerjaan yang
dilakukan adalah membuat denah untuk persimpangan,
penyeberangan untuk pejalan kaki, daerah parkir penempatan
bagi pemberhentian bus, membuat metoda pembelian karcis,
langkahlangkah keselamatan dan lain-lain.
 Perencanaan Teknis. Pekerjaan yang berhubungan dengan tingkat
ini adalah pola-pola manajemen lalu-lintas, pembangunan jalan-
jalan lokal, pengendalian parkir, pengorganisasian transportasi
umum, koordinasi dalam memberlakukan tarif dan lain
sebagainya.
 Perencanaan Strategis. Tingkat ini berkaitan erat dengan struktur
dan kapasitas jalan utama dan sistem transportasi umum,
keterkaitan transportasi dengan tata guna tanah, keseimbangan
antara permintaan dan penawaran, keterkaitan antara tujuan-
tujuan transportasi dengan ekonomi, tujuan-tujuan lingkungan dan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 78 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
sosial untuk suatu kota. Semuanya ini merupakan masalah yang
sulit dan tidak mudah untuk dimengerti.

1. Prasarana Pengangkutan
Komponen sistem Perangkutan yang pokok adalah prasarana
(jalan) dan sarana (kendaraan). Hal penting yang hars diingat
dalam perangktan adalah bahwa setiap sistem Perangkutan harus
dapat mengankut muatan dan membongkarnya lagi pada akhir
perjalanan selain itu perlu diingat pula sepanjang perjalanan, dan
tempat asal ke tujuan, mungkin terpaksa harus digunakan lebih
dari satu moda angkutan. Penggantian moda dilakukan di tempat
yang disebut terminal. Sebuah terminal mempunyai empat fungsi
pokok yaitu :
 Menyediakan akses ke kendaraan yang bergerak pada jalur
khusus.
 Menyediakan tempat dan kemudahan
perpindahan/pergantian moda angkutan.
 Menyediakan sarana simpul lalu lintas, tempat konsolidasi lalu
lintas
 Menyediakan tempat untuk menyimpan barang.
Selain terminal, prasarana yang paling penting dalam
perangkutan adalah jalan. Jalan adalah suatu prasarana
berhubungan dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan,
termasuk bangnan pelengkap dan perlengkapanya, yang
diperuntkan bagi lalu lintas (UU No.13 tahun 1980). Jalan
mempunyai beberapa bagian yaitu Daerah Manfaat Jalan
(DAMAJA), Daerah Milik Jalan (DAMIJA), dan Daerah
Pengawasan alan (DAWASJA).
Berdasarkan perananya, dikenal tiga kelompok jalan (UU No. 13
pasal 4) yaitu Jalan Arteri, Jalan Kolektor, dan Jalan Lokal.
a. Sarana Pengangkutan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 79 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Sepanjang sejarah, perkembangan taknologi perangkutan ini
cukup pesat. Pada umumnya penemuan teknologi perangkutan
didasarkan pada pengamatan pergerakan alami, berjalan
kaki, meluncur berenang, terbang dan pemindahan tanah oleh
air.
Semua itu belum cukup memenuhi kebuthan masyarakat
moderen, maka angkuan pada umumnya dilakukan dengan
menggunakan alat buatan mansia. Pada dasarnya jenis
perangkutan dibagi menjadi tiga yaitu Perangkutan darat,
Perangkutan air, Perangkutan udara. Angkutan darat misalnya
dengan kendaaan bermotor, kereta api, gerobak yang ditarik
dengan binatang atau orang. Pada dasarnya kendaraan
angkutan jalan raya terdiri dari dua bagian pokok, yaitu Unit
tenaga atau mesin penggerak, Unit pengangkutatau tempat
penumpang dan barang Angkutan air dilakukan dengan kapal,
tongkang, perahu, rakit dan lain-lain. Yang termasuk angkutan
air adalah angkutan laut, danau dan sungai. Bentuk maupun
ukuran kendaraan air cukup beragam mulai dari perahu
dayung, rakit sampai kapal besar yang daya angkutnya besar.
Sedangkan untuk angkutan udara hanya dapat dilakukan
dengan pesawat terbang.
b. Kelembagaan
Di Indonesia, ada beberapa departemen yang berhubungan
dengan transportasi. Departemen Dalam Negeri, Departemen
Perhubungan, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen
Pertahanan dan Keamanan, dan Departemen Keuangan untuk
tingat Nasional. Sedangkan dibawahnya ditingkat
pelaksanaan seperti: Bina Marga, DLLAJR, Polisi lalu lintas dan
lain-lain, termasuk perusahaan angkutan. Karena demikian
anyak pihak dan lembaga yang bersangkut paut, maka
diperlukan sistem untuk mengangkut masalah transportasi.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 80 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
c. Ciri Permasalahan Transportasi
Terbatasnya bahan bakar secara temporer bukanlah
permasalahan yang parah akan tetapi peningkatan arus lalu-
lintas dan kebutuhan akan transportasi telah menghasilkan
kemacetan, tundaan, kecelakaan, dan permasalahan
lingkungan yang sudah berada di atas ambang batas.
Permasalahan tersebut semakin bertambah parah melihat
kenyataan bahwa meskipun sistem prasarana transportasi
sudah sangat terbatas akan tetapi banyak dari sistem
prasarana tersebut yang berfungsi secara tidak efisien
(beroperasi dibawah kapasitas).
d. Ciri Sistem Prasrana Transportasi
Ciri utama sistem prasarana transportasi adalah melayani
pengguna, bukan berupa barang atau komoditas. Sistem
prasarana transportasi harus selalu dapat digunakan
dimanapun dan kapanpun, karena jika tidak kita akan
kehilangan manfaatnya. Pada dasarnya sistem prasarana
transportasi mempunyai dua peran utama, yaitu :
- Sebagai alat bantu untuk mengarahkan pembangunan di
daerah perkotaan.
- Sebagai prasarana bagi pergerakan manusia dan atau
barang yang timbul akibat adanya kegiatan di daerah
perkotaan tersebut.

2. Faktor Dalam Pemodelan Transportasi


 Struktur Model. Model kontemporer selalu mempunyai banyak
parameter untuk bisa menunjukkan aspek structural model
tersebut dan dengan metodologi yang sudah berkembang
sekarang sangat dimungkinkan membentuk model yang sangat
umum yang memiliki banyak peubah.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 81 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

 Bentuk Fungsional. Pemecahan tidak linear akan dapat


mencerminkan realita secara lebih tepat, tetapi membutuhkan
lebih banyak sumber daya dan teknik untuk proses
pengkalibrasian model tersebut.
 Spesifikasi Peubah. Untuk menjelaskannya diperlukan proses
tertentu dalam menentukan peubah yang dominan antara lain
proses kalibrasi dan pengabsahan.
 Kalibrasi dan Pengabsahan Model. Suatu model dapat secara
sederhana dinyatakan sebagai fungsi matematika dari
beberapa peubah X dan parameter (Y = f(X, ))

3. Sistem Tata Guna Lahan – Transportasi


Sistem transportasi perkotaan terdiri dari berbagai aktifitas
seperti bekerja, sekolah, olahraga, belanja dan bertamu yang
berlangsung di atas sebidang tanah (kantor, pabrik, pertokoan,
rumah, dan lain-lain). Potongan lahan ini biasa disebut tata guna
lahan.
Sasaran umum perencanaan transportasi adalah membuat
interaksi tersebut menjadi semudah dan seefisien mungkin. Cara
perencanaan transportasi untuk mencapai sasaran umum itu antara
lain dengan menetapkan kebijakan tentang hal berikut ini.
 Sistem kegiatan. Rencana tata guna lahan yang baik (lokasi
took, sekolah, perumahan, pekerjaan, dan lain-lain yang
benar) dapat mengurangi kebutuhan akan perjalanan yang
panjang sehingga membuat interaksi menjadi lebih mudah.
Perencanaan tata guna lahan biasanya memerlukan waktu
yang cukup lama dan tergantung pada badan pengelola
yang berwenang untuk melaksanakan rencana tata guna
lahan tersebut.
 Sistem jaringan. Hal yang dapat dilakukan misalnya
meningkatkan kapasitas pelayanan prasarana yang ada

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 82 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
misalnya, melebarkan jalan, menambah jaringan jalan baru
dan lain-lain.
 Sistem Pergerakan. Hal yang dapat dilakukan antara lain
mengatur teknik dan manajemen lalu-lintas (jangka pendek),
fasilitas angkutan umum yang lebih baik (jangka pendek dan
menengah), atau pembangunan jalan (jangka panjang).

4. Analisis Sistem Kegiatan Dengan Sistem Jaringan


Hubungan dasar antara sisem kegiatan, sistem jaringan, dan sistem
pergerakan dapat disatukan dalam beberapa urutan tahapan,
yang biasanya dilakukan secara berurutan sebagai berikut :
 Aksesibilitas dan Mobilitas. Ukuran potensial atau kesempatan
untuk melakukan perjalanan. Tahapan ini bersifat lebih
abstrak jika dibandingkan dengan empat tahapan berikut,
digunakan untuk mengalokasikan masalah yang terdapat
dalam sistem transportasi dan mengevaluasi pemecahan
alternatif.
 Pembangkit Lalu-Lintas. Bagaimana perjalanan dapat
bangkit dari suatu tata guna lahan atau dapat tertarik ke
suatu tata guna lahan.
 Sebaran Penduduk. Bagaimana perjalanan tersebut
disebarkan secara geografis di dalam daerah perkotaan
(daerah kajian).
 Pemilihan Moda Transportasi. Menentukan faktor yang
mempengaruhi pemilihan moda transportasi untuk tujuan
perjalanan tertentu.
 Pemilihan Rute. Menentukan faktor yang mempengaruhi
pemilihan rute dari setiap zona asal dan ke setiap zona
tujuan.

5. Aksesibilitas dan Mobilitas

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 83 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Aksesibilitas adalah konsep yang menggabungkan sistem
pengaturan tata guna lahan secara geografis dengan sistem
jaringan transportasi yang menghubungkannya. Mobilitas adalah
suatu ukuran kemampuan seseorang untuk bergerak yang
biasanya dinyatakan dari kemampuannya membayar biaya
transportasi.
Ada yang menyatakan bahwa aksesibilitas dapat dinyatakan
dengan jarak. Jika suatu tempat berdekatan dengan tempat
lainnya, dikatakan aksesibilitas antara kedua tempat tersebut
tinggi. Sebaliknya, jika kedua tempat itu sangat berjauhan,
aksesibilitas antara keduanya rendah. Jadi tata guna lahan yang
berbeda pasti mempunyai aksesibilitas yang berbeda pula
karena aktivitas tata guna lahan tersebut tersebar dalam ruang
secara tidak merata (heterogen).

6. Konsep Perencanaan Transportasi


Terdapat beberapa konsep perencanaan transportasi yang telah
berkembang sampai saat ini-yang paling popular adalah “Model
Perencanaan Transportasi Empat Tahap”.
Model perencanaan ini merupakan gabungan dari beberapa seri
sub model yang masingmasing harus dilakukan secara terpisah
dan berurutan. Sub model tersebut adalah Aksesibilitas, Bangkitan
dan tarikan pergerakan, Sebaran pergerakan, Pemilihan moda,
Pemilihan rute, Arus lalu-lintas dinamis.

7. Bangkitan dan Tarikan Pergerakan


Bangkitan pergerakan adalah tahapan pemodelan yang
memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona
atau tata guna lahan dan jumlah pergerakan yang tertarik ke
suatu tata guna lahan atau zona. Pergerakan lalu-lintas
merupakan fungsi tata guna lahan yang menghasilkan pergerakan
lalu-lintas. Bangkitan lalu-lintas ini mencakup Lalu-lintas yang

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 84 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
meninggalkan suatu lokasi, Lalu-lintas yang menuju atau tiba ke
suatu lokasi.
Bangkitan dan tarikan lalu-lintas tersebut tergantung pada dua
aspek tata guna lahan Jenis tata guna lahan, dan Jumlah aktivitas
dan intensitas pada tata guna lahan tersebut.

8. Jenis Tata Guna Lahan


Jenis tata guna lahan yang berbeda (permukiman, pendidikan dan
komersial) mempunyai ciri bangkitan lalu-lintas yang berbeda
Jumlah arus lalu-lintas, Jenis lalu-lintas (pejalan kaki, truk, mobil),
Lalu-lintas pada waktu tertentu (kantor menghasilkan arus lalu-
lintas pada pagi dan sore hari sedangkan pertokoan
menghasilkan arus lalu-lintas di sepanjang hari.
Jumlah dan jenis lalu-lintas yang dihasilkan oleh setiap tata guna
lahan merupakan hasil dari fungsi parameter sosial dan ekonomi,
seperti contoh di Amerika Serikat (Black, 1978) :
 1 ha perumahan menghasilkan 60 – 70 pergerakan
kendaraan per minggu.
 1 ha perkantoran menghasilkan 700 pergerakan kendaraan
per hari.
 1 ha tempat parkir umum menghasilkan 12 pergerakan
kendaraan perhari.

9. Klasifikasi Jalan
Undang-undang nomor 13 tahun 1980 tentang jalan membedakan
antara jalan umum dan jalan khusus. Jaringan jalan umum di
Indonesia dibagi kedalam jaringan jalan primer dan jalan
sekunder. Jaringan jalan primer menghubungkan kota-kota baik
besar maupun kecil.
Desa-desa dan pedalaman jaringan jalan sekunder terdiri atas
jalan-jalan dalam kota dan desa kecuali jalan kota yang
diklasifikasikan sebagai ruas jalan primer.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 85 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Di setiap kelompok jaringan primer dan sekunder, jalan dibagi
lagi menurut fungsinya dalam melayani arus lalu-lintas menjadi
jalan arteri, kolektor dan lokal. Dasar klasifikasi ini adalah
ketentuan untuk menjamin tercapainya efisiensi pelayanan
transportasi dari lokasi produksi sampai ke pusat pemasaran dan
sebaliknya.

10. Peranan Transportasi Dalam Pengembangan Wilayah dan Kota


Perencanaan transportasi merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari perencanaan wilayah dan kota. Rencana Kota
tanpa mempertimbangkan keadaan dan pola perangkutan yang
akan terjadi seagai akibat rencana itu sendiri, akan menghasilkan
kesemrawutan lalu lintas di kemudian hari. Keadaan ini akan
membewa akibat berantai cukup panjang dengan meningatnya
jumlah kecelakaan, pelanggaran lalu lintas, menuurunya sopan
santn lalu lintas dan lain-lain.
Setiap kota atau wilayah dapat dipastikan akan berkembang.
Perkembangan ini dapat ke arah positif, yaitu makin maju dan
bertumbuhnya kota atau daerah tersebut, tetapi dapat pula
berkembang ke arah negatif, yaitu tidak atau surut dan akhirnya
mati. Dari sini terlihat bahwa perkembangan kota atau wilayah
merupakan fungsi waktu.
Kota maupun wilayah berkembang karena bekerjanya semua
faktor perkembangan yang ada di dalamnya serta adanya
perkembangan faktor luar. Apabila semua faktor ini dibiarkan
bekerja dengan cirinya masing-masing, maka mungkin sekali
perkembanganya.

i) Analisis Sarana dan Prasarana


1. Sarana/Fasilitas

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 86 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Sarana merupakan fasilitas penunjang yang berfungsi untuk
menyelenggarakan dan mengembangkan kehidupan ekonomi,
sosial, dan budaya. Untuk itu sarana hendaknya ditempatkan
pada lokasi yang mudah di jangkau dari lingkungan permukiman
dan lokasinya menyebar secara merata di setiap kelompok
masyarakat. Sarana penunjang ini meliputi sarana pendidikan,
sarana kesehatan, sarana peribadatan, sarana perdagangan dan
jasa, sarana taman, rekreasi dan olah raga, dan sarana
penunjang lainnya.
Sarana dapat diartikan sebagai suatu aktivitas atau materi yang
melayani kebutuhan individu atau kelompok individu di dalam
suatu lingkungan kehidupan, khususnya untuk kehidupan fungsional.
Kelengkapan dan distribusi sarana ini akan dapat
menggambarkan sampai sejauh mana perkembangan suatu
daerah. Keadaan sarana pada suatu kawasan digambarkan
dengan adanya sarana-sarana yang ada antara lain sarana
pendidikan, kesehatan, peribadatan, perdagangan dan jasa, dan
lain-lain.
Analisis kebutuhan sarana disesuaikan dengan keadaan, kondisi
dan karakteristik sarana yang ada saat ini, serta akan
memperkirakan kebutuhan jumlah sarana dan kebutuhan ruangnya
untuk masa mendatang. Dalam analisis penentuan jumlah dan
sarana ini, mengacu pada standard yang ada yaitu standar
PU/SKBI – 2.3.51. 1987 mengenai petunjuk perencanaan
kawasan perumahan kota dan berpedoman pada standar yang
dikeluarkan dari kimpraswil (SK Menteri Permukiman dan
Prasarana No. 534/KPTS/M/2001) dengan didasarkan pada
jumlah penduduk pendukung.

a. Sarana Pendidikan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 87 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Dalam merencanakan sarana pendidikan harus bertitik tolak
dari tujuan-tujuan pendidikan yang akan dicapai. Sarana
pendidikan yang berupa ruang belajar harus memungkinkan
siswa untuk dapat mengembangkan pengetahuan,
keterampilan, serta sikap secara optimal. Dengan demikian
pengadaan ruang belajar tidak akan lepas hubungannya
dalam strategi belajar-mengajar berdasarkan kurikulum yang
berlaku. Kebutuhan ruang belajar ditentukan berdasarkan
kebutuhan untuk memberi kesempatan belajar kepada semua
anak-anak usia sekolah. Oleh karena itu dalam tahap
perencanaan perlu diketahui berapa anak-anak yang
memerlukan penampungan dan berapa daya tampung yang
tersedia. Berdasarkan Petunjuk Perencanaan Kawasan
Perumahan maka kriteria sarana pendidikan di wilayah studi
diantaranya:
TK (Taman Kanak-Kanak), Taman kanak-kanak adalah
sarana paling dasar yang diperuntukan anak-anak usia 5-6
tahun. Terdiri dari 2 ruang kelas yang dapat menampung 35
sampai 40 murid per kelas dan ruang-ruang pelengkap
lainnya. Minimum penduduk yang dapat mendukung sarana ini
adalah 1.000 penduduk dimana kanak-kanak usia 5-6 tahun =
8%. Lokasi sebaiknya di tengah-tengah kelompok keluarga,
digabung dengan taman-taman tempat bermain, balai
pengobatan, pertokoan, sehingga terjadi pengelompokan
aktifitas untuk ibu-ibu. Luas tanah yang dibutuhkan adalah
1.200 m2 dengan luas lantai 252 m2 (15 m2/murid).
SD (Sekolah Dasar), Sekolah untuk anak-anak usia 6-12 tahun
terdiri dari 6 kelas masing-masing 40 murid. Minimum penduduk
yang dapat mendukung sarana ini adalah 1.600 penduduk.
Lokasi sebaiknya tidak menyebrang jalan lingkungan dan masih
tetap di tengah-tengah kelompok keluarga. Radius pencapaian

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 88 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
dari area yang dilayani maksimum 1.000 m2. Bila diperlukan
penghematan area, fasilitas TK dan SD dapat digabung dalam
1 komplek dengan SLTP dan SLTA.
SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama), Adalah sekolah
untuk melayani anak-anak lulusan SD. Dimana 3 SD dilayani
oleh sebuah SLTP yang dipakai pagi sore. Terdiri dari 2 unit,
jadi 6 kelas masing-masing untuk 40 murid. Minimum penduduk
yang dapat mendukung sarana ini adalah 4.800 penduduk.
Lokasi dapat digabung dengan lapangan olah raga atau
digabung dengan sarana-sarana pendidikan lainnya . Tidak
harus dipusat-pusat lingkungan. Untuk SLTP dapat dipakai pagi
dan sore (2 sekolah). Sarana-sarana pelengkap terdiri dari
Parkir, dan Lapangan Olah Raga.
SMU (Sekolah Menengah Umum), SMU adalah kelanjutan
dari SLTP di mana 1 SLTP sebaiknya dilayanai oleh 1 SMU
yang terdiri dari 6 kelas, masing-masing untuk 30 murid.
Minimum penduduk yang dapat mendukung sarana ini adalah
4.800 penduduk, lokasi sama dengan SLTP. Sarana-sarana
pelengkap terdiri dari Parkir, danLapangan Olah Raga.
Akademi/PT (Perguruan Tinggi), Akademi/perguruan tinggi
merupakan kelanjutan dari SMU, dimana minimal sama dengan
kota sedang/kecil, 1 perguruan tinggi untuk setiap 70.000
penduduk.

b. Srarana Kesehatan
Sarana dan prasarana kesehatan merupakan sarana dan
prasarana penting untuk menunjang kehidupan penduduk.
Selain pemenuhan kebutuhan pelayanan, perlu diperhatikan
pula mengenai distribusi dan alokasi penyebaran sarana
kesehatan di wilayah perencanaan. Hal ini disebabkan sarana
tersebut harus dapat dicapai dengan cepat dan mudah dari

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 89 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
setiap lingkungan perumahan supaya pertolongan untuk
pengobatan dapat dilakukan segera mungkin.
Balai Pengobatan (BP), fungsi utama Balai Pengobatan adalah
memberikan pelayanan kepada penduduk dalam bidang
kesehatan. Titik beratnya terletak pada kesembuhan (currative)
tanpa perawatan, berobat dan pada waktu tertentu juga untuk
vaksinasi (preventive). Lokasinya haruslah terletak di pusat
lingkungan dekat dengan pelayanan pemerintahan. Minimum
penduduk yang dapat mendukung sarana ini adalah 3.000
penduduk. Luas tanah yang dibutuhkan 300 m2. Saranasarana
lain yang sebaiknya ada dan mendukung sarana ini adalah
Tempat parkir, Pusat pertokoan, dan Taman kanak-kanak.
Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) dan Rumah
Bersalin, Fungsi utama dari sarana ini adalah untuk melayani
Ibu-Ibu sebelum, pada waktu, dan sesudah melahirkan serta
melayani anak-anak usia 1 s/d 6 tahun. Lokasi haruslah terletak
di tengah-tengah lingkungan keluarga dan dan diusahakan
tidak menyebrang jalan-jalan lingkungan, radius pencapaian
maksimum 2.000 m, dan minimum penduduk yang dapat
mendukung sarana ini adalah 10.000 penduduk (4 RW).
Dengan luas tanah yang dibutuhkan 1.600 m2. Sarana-sarana
lain sebagai pelengkap sarana ini adalah Tempat parkir, Balai
pengobatan, Pertokoan dan Apotik.
Rumah Sakit Wilayah, Fungsi utama dari sarana ini adalah
memberikan pelayanan medis kepada penduduk dalam
bidang kesehatan baik sebagai pasien luar maupun pasien
menetap (Kuratip, Preventif dan Edukatif). Rumah sakit
sebaiknya tersebar di setiap wilayah dengan dikoordinasi oleh
sebuah Rumah Sakit Umum Pusat, sehingga kasus-kasus yang
jarang/khusus cukup ditangani oleh Rumah Sakit Umum Pusat
(RSUP). Lokasi tidak perlu dikelompokan dengan pusat-pusat

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 90 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
wilayah tetapi dipilih daerahdaerah yang cukup tenang dan
mempunyai radius yang merata dengan daerah yang
dilayaninya. Minimum penduduk penduduk pendukung adalah
240.000 penduduk dengan luas tanah yang dibutuhkan 8.64
Ha/86.400 m2. Sarana-sarana lain yang
mendukung/melengkapi sarana ini adalah Tempat parkir
(sudah termasuk dalam luas area), dan Taman.
Apotik, Fungsi utama dari sarana ini adalah untuk melayani
penduduk di dalam bidang obat-obatan. Lokasinya sebaiknya
tersebar di antara kelompok keluarga dan terletak di pusat-
pusat RW atau pusat lingkungan. Minimum penduduk yang
dapat mendukung sarana ini adalah 10.000 penduduk dengan
luas tanah yang dibutuhkan sebesar 350 m2.

c. Sarana Peribadatan
Sarana-sarana peribadatan jenis, macam dan besarannya
sangat tergantung pada kondisi setempat. Untuk mendapatkan
hasil perencanaan yang sesuai, perlu dilakukan survey
setempat tentang Struktur penduduk menurut umur dan jenis
kelamin, Jenis agama/kepercayaan yang dianut, Cara atau
pola melaksanakan agama dan kepercayaan. Sarana
peribadatan untuk agama Islam:
Langgar, penduduk pendukung 2500 penduduk dengan luas
300 m2.
Mesjid Lingkungan penduduk pendukung 30.000 penduduk
dengan luas 1.750 m2
Mesjid Skala Kecamatan, penduduk pendukung 120.000
penduduk dengan luas 4.000 m2
Mesjid skala kota penduduk pendukung 1.000.000 penduduk
Sedangkan untuk sarana peribadatan lain seperti gereja,

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 91 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
vihara, dan lain sebagainya, penduduk pendukung 30.000
dengan luas 1.750 m2.

d. Sarana Perdagangan dan Jasa


Sarana perdagangan merupakan unsur karya dalam
perencanaan wilayah. Disamping sebagai fasilitas
perbelanjaan juga merupakan fasilitas kerja bagi kelompok
yang lain (sebagai mata pencaharian).
Warung, Fungsi utama warung adalah tempat menjual barang-
barang keperluan sehari-hari (sabun, gula, teh, rempah-
rempah, dan lain-lain). Lokasinya terletak di pusat lingkungan
yang mudah dicapai dan mempunyai radius maksimum 500 m.
Minimum penduduk pendukung yang dapat mendukung sarana
ini adalah 250 penduduk.
Pasar Tradisional, Fungsi utama Pasar tradisional adalah
tempat menjual barangbarang keperluan sehari-hari
(sembako) dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Lokasinya
terletak di pusat lingkungan yang mudah dicapai mempunyai
radius yang merata dengan daerah yang dilayaninya.
Minimum penduduk penduduk pendukung adalah 1.000-2.000
penduduk. Sarana-sarana lain yang mendukung/melengkapi
sarana ini adalah Tempat parkir (sudah termasuk dalam luas
area) dan Terminal
Pertokoan, pendukung sarana ini adalah 2.500 penduduk
dengan luas tanah 1.200 m2. Fungsi utama sarana ini adalah
menjual barang-barang keperluan sehari-hari.
Lokasinya terletak di pusat dan tidak menyeberang jalan
lingkungan dekat dengan taman kanak-kanak atau taman
bermain. Minimun penduduk. Sarana-sarana pelengkap sarana
ini adalah :

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 92 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

- Tempat parkir kendaraan umum yang dapat dipakai


bersama kegiatan lain pada pusat lingkungan.
- Sarana-sarana lain yang erat kaitannya dengan aktivitas
ibu, Balai pengobatan.
- Pos Keamanan
Pusat Perbelanjaan Lingkungan, Fungsi utama sebagai pusat
perbelanjaan di lingkungan yang menjual keperluan sehari-hari
termasuk sayur, daging, ikan, buahbuahan, beras, dll. Terdiri
dari pasar dan toko-toko lengkap dengan bengkelbengkel
reparasi kecil seperti radio, kompor, setrika, dan lain-lain.
Lokasinya pada jalan utama lingkungan dan mengelompok
dengan pusat lingkungan, mempunyai terminal kecil untuk
pemberhentian kendaraan. Minimum penduduk yang dapat
mendukung sarana ini adalah 30.000 penduduk. Luas tanah
yang dibutuhkan adalah 13.500 m2. sarana-sarana pelengkap
yang seharusnya ada Tempat parkir umum, Pos polisi, Pos
pemadam kebakaran, Kantor pos pembantu dan Tempat
ibadah.
usat Perbelanjaan dan Niaga skala Kecamatan, Fungsi utama
sama dengan pusat perbelanjaan lingkungan lain hanya
dilengkapi sarana-sarana niaga lainnya seperti kantor-kantor,
bank, industri kecil, dan lain-lain. Toko-toko tidak hanya menjual
kebutuhan sehari-hari tapi juga untuk toko-toko lainnya yang
terdiri dari toko-toko pagar, bengkel reparasi, dan service juga
unit-unit produksi dan tempat hiburan. Lokasinya mengelompok
dengan pusat kecamatan, dan mempunyai pangkalan transpor
untuk kendaraan. Minimum penduduk yang dapat mendukung
sarana ini adalah 120.000 penduduk dengan luas tanah yang
dibutuhkan adalah 36.000 m2. sarana-sarana pelengkap yang
seharusnya ada Tempat parkir umum, Pos polisi, Pos pemadam
kebakaran, Kantor pos pembantu dan Tempat ibadah.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 93 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Pusat Perbelanjaan dan Niaga skala wilayah, Fungsi utama
sama dengan pusat perbelanjaan dan niaga yang lebih kecil
dengan skala usaha yang lebih besar dan lengkap. Lokasinya
dikelompokkan dengan pusat wilayah dan mempunyai terminal
bis, oplet dan kendaraan-kendaraan jenis angkutan
penumpang kecil lainnya. Minimum penduduk pendukung
adalah 480.000 penduduk dengan luas tanah 96.000 m2.
Sarana-sarana pelengkap diantaranya Tempat parkir umum,
Pos polisi, Pos pemadam kebakaran, Kantor pos pembantu, dan
Tempat ibadah.
Pemakaman, Sarana lainnya yang masih dianggap
mempunyai fungsi sebagai daerah terbuka adalah
pemakaman. Besar atau luas tanah pemakaman ini sangat
tergantung dari sistem penyempurnaan yang dianut sesuai
dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Sebagai
patokan perhitungan dapat digunakan Angka kematian
setempat, dan Sistem penyempurnaan.

e. Sarana Taman, Rekreasi dan Olah Raga


Taman skala 250 penduduk, Setiap 250 penduduk dibutuhkan
minimal 1 taman dan sekaligur tempat bermain anak-anak
dengan sekurang-kurangnya 250 m2.
Lokasi taman diusahakan sedemikian rupa sehingga merupakan
faktor pengikat.
Taman Skala 2.500 penduduk, Untuk setiap kelompok 2.500
penduduk diperlukan sekurang-kurangnya satu daerah terbuka
disamping daerah-daerah terbuka yang sudah ada pada tiap
kelompok 250 penduduk. Daerah terbuka sebaiknya
merupakan taman yang dapat digunakan untuk aktivitas-
aktivitas olah raga seperti volley, badminton dan sebagainya.
Luas area yang diperlukan untuk ini adalah : 1.250 m2 atau

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 94 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
dengan standar : 0,5 m2/penduduk. Lokasinya dapat
disatukan dengan pusat kegiatan RW di mana terletak TK,
Pertokoan, Pos Hansip, Balai Pertemuan dan lain-lain.
Taman dan lapangan olah raga skala 30.000 penduduk,
Sarana ini sangat diperlukan untuk kelompok 30.000 penduduk
(satu lingkungan) yang dapat melayani aktivitas-aktivitas
kelompok di area terbuka, misalnya : pertandingan olah
raga, apel, dan lain-lain. Sebaiknya berbentuk taman yang
dilengkapi dengan lapangan olah raga/sepak bola sehingga
berfungsi serba guna dan harus tetap terbuka. Untuk peneduh
dapat ditanam pohon di sekelilingnya. Luas area yang
dibutuhkan untuk sarana ini adalah : 9000 m2, atau dengan
standar : 0,3 m2/penduduk. Lokasi tidak harus di pusat
lingkungan tetapi sebaiknya digabung dengan sekolah
sehingga bermanfaat untuk murid-murid sekaligus berfungsi
sebagai peredam gaduh (buffer).
Taman dan lapangan olah raga untuk 120.000 penduduk,
Setiap kelompok penduduk 120.000 penduduk sekurang-
kurangnya harus memiliki satu lapangan hijau yang terbuka.
Sarana ini berfungis juga seperti pada kelompok 30.000
penduduk. Begitu juga bentuknya hanya lengkap dengan
sarana-sarana olah raga yang diperkeras seperti tenis, bola
basket, juga tempat ganti pakaian dan WC umum. Luas area
yang diperlukan untuk sarana ini adalah 24.000 m2. Lokasinya
tidak harus di pusat Kecamatan. Sebaiknya dikelompokkan
dengan sekolah.
Taman dan lapangan olah raga skala 480.000 penduduk,
Sarana ini untuk melayani penduduk sejumlah 480.000
penduduk. Berbentuk suatu kompleks yang terdiri dari Stadion,
Taman-taman/tempat bermain, Area parkir, dan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 95 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Bangunanbangunan fungsional. Adapun Luas tanah yang
dibutuhkan untuk aktivitas ini adalah 144.000 m2.

2. Prasrana/Utilitas
Prasarana disebut juga suatu kebutuhan pokok penduduk yang
utama dan tidak bisa dilepaskan dari kehidupannya dalam
melakukan berbagai macam aktivitas. Adapun yang termasuk
dalam prasarana, yaitu prasarana air bersih, prasarana
pembuangan air limbah, tempat pembuangan sampah, drainase,
jaringan listrik, jaringan telekomunikasi dan irigasi.

a. Prasarana Listrik
Jaringan listrik merupakan suatu kebutuhan penunjang utama
bagi kehidupan manusia dalam melakukan aktivitasnya dan
dikelola oleh PLN melalui jaringan kabel di atas permukaan
tanah. Prasarana listrik harus dapat melayani penduduk dalam
melakukan aktivitas ekonomi dan sosial. Pendistribusian
prasarana listrik harus dapat mencukupi kebutuhan penduduk
sesuai dengan yang dibutuhkan.
Sistem pelayanan listrik secara garis besar dibagi atas tiga
jenis jaringan, yaitu :
 Jaringan listrik tegangan tinggi (SUTT 70/150 KV)
 Jaringan listrik tegangan menengah (SUTM 6/20 KV)
 Jaringan listrik tegangan rendah (SUTR 110/220 KV)
Untuk perhitungan kebutuhan listrik dapat dihitung berdasarkan
asumsi yang disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik
prasarana listrik setempat. Berikut merupakan contoh
Perhitungan kebutuhan listrik pada suatu kawasan perencaan
untuk kebutuhan rumah tangga dihitung berdasarkan asumsi:
1. kebutuhan listrik rumah tangga adl 150 VA/jiwa atau 0,15
KVA/jiwa

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 96 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
2. Kebutuhan listrik non rumah tangga adalah 41,5 % yang
terbagi untuk :
- Penerangan jalan : 1,5 %
- Komersil : 15 %
- Pemerintah dan Pelayanan Umum : 15 %
- Cadangan : 10 %
3. Satu keluarga disumsikan terdiri dari 5 jiwa/KK
Jumlah pelanggan = jumlah penduduk/5 jiwa
4. Standar kebutuhan listrik untuk pemukiman adalah sebesar
900 watt/rumah
Kebutuhan daya listrik = jumlah KK x 900 watt

b. Prasrana Telekomunikasi
Sistem komunikasi secara fisik menggunakan kabel, yaitu
dengan cara langsung.
Sistem kerjanya yaitu berawal dari central yang kemudian
diteruskan ke MDF (Main Distribution Frame). Rangka pembagi
utama yang berfungsi sebagai pembagi informasi dari central,
kemudian dari MDF akan diteruskan melalui kabel primer yaitu
melalui rumah kabel dan langsung melalui DP (Dudukan
Penyaluran). Dari rumah kabel tersambung kedudukan
penyaluran dan langsung menuju rumah melalui kabel
penanggal.

c. Prasarana Air Bersih


Kebutuhan air bersih baik untuk memenuhi kebutuhan rumah
tangga, komersial maupun untuk kebutuhan lainnya dan
terpenuhi melalui beberapa sumber, yaitu air
ledeng yang dikelola oleh PDAM, air sumur bor, sumur galian,
air permukaan serta mata air. Kapasitas air bersih harus
mencukupi kebutuhan penduduk jika menggunakan air bersih

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 97 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
dari PDAM, sehingga perlu dilakukan pembangunan
saranasarana air bersih.
Dalam mendesain suatu sistem instalasi pengolahan air bersih,
yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
- Perhitungan perkiraaan kebutuhan air untuk daerah
perencanaan semaksimal mungkin dapat memenuhi
kebutuhan pemakai, dihitung berdasarkan pengalokasian
air untuk semua unsur daerah perencanaan
- Nilai kehilangan air yang terjadi selama proses
pengolahan dan pendistribusian
Tujuan pengembangan prasarana penyediaan air bersih
adalah Melayani wilayah perkotaan dan produksi tinggi,
Menciptakan tarikan perkembangan wilayah, dan Melayani
wilayah-wilayah dengan ketersediaan air yang terbatas (tidak
mencukupi kebutuhan).
Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam penyediaan air
bersih bagi masyarakat dan aktivitas sosial ekonomi adalah
sebagai berikut :
- Harus dapat memenuhi persyaratan kualitas sebagai air
minum, baik secara fisik, kimia dan biologis serta cukup
secara kuantitas untuk memenuhi segala kebutuhan yang
diperlukan terutama pada jam puncak. Secara kualitas
penyediaan air bersih harus memenuhi persyaratan fisik,
kimiawi dan biologis, yaitu tidak berasa, tidak berbau,
tidak mengandung zat-zat kimia dalam jumlah berlebih
serta tidak mengandung bakteri yang dapat
membahayakan kesehatan. Secara kuantitatif, kapasitas
sumber air harus dapat menjamin kontinuitas suplai air dan
cadangan yang cukup terutama pada jam puncak dan hari
maksimum serta cadangan air bagi kebutuhan pemadam
kebakaran dan keperluan khusus lainnya.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 98 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

- Pendistribusian air dari instalasi dan reservoir ke daerah


pelayanan harus dapat terjamin kontinuitasnya dengan
tekanan yang cukup.
Kebutuhan air bersih dapat diperhitungkan berdasarkan
standar-standar berikut ini:
o Standar Kebutuhan rata-rata = 100 l/org/hari
o Kebutuhan rata-rata rumahtangga = 5 x 100 l/org/hari
o Fasilitas sosial dan perkantoran = 1/6 kebutuhan
rumahtangga
o Komersial = 1/6 kebutuhan rumahtangga
o Industri = 1/12 kebutuhan rumahtangga
o Cadangan kebocoran = 10 % kebutuhan total kegiatan
o Pemadam kebakaran = 10 % kebutuhan total kegiatan
atau menggunakan perhitungan :
- Kebutuhan Domestik = Jumlah Penduduk x Standar
Kebutuhan
- Kebutuhan Non Domestik = 20-30% Kebutuhan
Domestik
- Fasilitas Umum/Fas.Sosial = 10-20 % (keb. domestik
+ Keb. Non Domestik)
- Hidran dan Kebocoran = 20-30 % (Keb. domestik +
Keb. Non Domestik)

d. Prasarana Irigasi
Irigasi merupakan suatu saluran yang
digunakan/dimanfaatkan untuk pengairan pertanian lahan
basah (sawah). Irigasi mempunyai dua sistem pengairan, yaitu
:
- Irigasi teknis merupakan suatu saluran pengairan sawah
yang menggunakan teknik pembangunan beton.
- Irigasi non teknis yaitu suatu saluran irigasi secara alami

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 99 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
e. Prasarana Pembuangan Air Limbah
Air limbah merupakan salah satu bentuk sampah dalam wujud
cair yang merupakan sisa dari berbagai kegiatan penduduk.
Perencanaan air limbah biasanya dialirkan melalui sistem
sewerage, yakni saluran pembuangan air limbah yang
akhirnya
dibuang pada sungai-sungai terdekat setelah melalui
penampungan. Fungsi dari pengolahan air limbah agar air
limbah tersebut tidak menimbulkan polusi pada air sungai
dimana air limbah tersebut dialirkan. Adapun sumber-sumber
air limbah, yaitu :
- Rumah tangga/domestik, Banyaknya antara 70% - 80 %
dari pemakaian air minum/air bersih. Air buangan
domestik dapat berupa:
 Air buangan Black Water, air buangan yang berasal
dari kakus, dimana air buangan ini mengandung
padatan tinja.
 Air buangan Grey Water, yaitu air buangan yang
berasal dari sumber nonkakus.
Misalnya: air bekas mandi, cuci dan sebagainya.
- Kegiatan komersil, Kegiatan bisnis, jasa, perhotelan dan
lain-lain yang menyebabkan pencemaran di perkotaan. Ini
mendekati kegiatan rumah tangga dan industri. Hasil
kegiatannya bersifat anorganik dan organik. Air limbah
dapat dibagi dua menurut sifatnya yaitu ;
 Organik adalah hasil kegiatan organisme atau alamiah,
contoh kotoran manusia.
 Anorganik adalah hasil kegiatan yang tidak terdapat
di dalam tubuh manusia.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 100 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Contoh , pencemaran air limbah yang berasal dari
pabrik.
- Kegiatan industri yaitu kegiatan membuang air limbah
yang sifatnya anorganik.
- Sumber-sumber lain seperti ; kegiatan perkebunan,
pertanian dengan menggunakan pestisida.

f. Drainase
Drainase merupakan saluran untuk mengalirkan air hujan
apabila hujan tiba. Fungsi drainase pada suatu wilayah dapat
menentukan keadaan wilayah dari segi kebersihan dan
estetika, karena jaringan drainase yang berfungsi dengan baik
agar terjaganya badan jalan dari genangan air hujan dan
tidak akan menimbulkan banjir. Sistem drainase harus dapat
menampung air hujan dan mengalirkannya secepat mungkin ke
dalam saluran pembuangan. Kecepatan aliran di dalam
saluran drainase tidak boleh merusak badan saluran dan tidak
menimbulkan erosi, dengan batasan self cleaning pada
kecepatan maksimum. Saluran drainase dapat berbentuk:
- Saluran Alami, Saluran alami dapat berupa saluran/parit
kecil di halaman, saluran-saluran kecil dan sungai-sungai
besar yang ada. Sungai-sungai besar bahkan dijadikan
saluran drainase primer.
- Saluran Buatan, Saluran buatan berupa saluran tersier
(saluran pelayanan) dan sekunder yang dibuat di
kawasan-kawasan perumahan, perkantoran dan kawasan
komersial. Saluran ini mengalirkan air hujan dari saluran
drainase tersier ke saluran drainase sekunder dan terakhir
menuju saluran drainase primer, dimana saluran drainase
primer berupa sungai-sungai besar yang ada.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 101 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Untuk menentukan saluran primer, sekunder dan primer
dikeluarkan pedoman Program Pembangunan Prasarana Kota
Terpadu, yaitu :
- Saluran Primer : lebar alas 2 m
- Saluran Sekunder : lebar 0,5-2m
- Saluran Tersier : lebar kurang dari 0,5m
- Sumber Buangan
Sumber air buangan dapat terdiri dari : Air limbah (rumah
tangga, fasilitas dan industri). Besarnya volume air limbah yang
kan ditampung tergantung pada jumlah pemakainya (jumlah
penduduk beserta segala kebiasaannya). Sumber-sumber
penghasil limbah cair dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
a. Pemukiman, besarnya air limbah yang akan dihasilkan
diperkirakan sebesar 70% dari kebutuhan air bersihnya,
sedangkan perkembangan/peningkatan volume
limbahnya adalah berbanding lurus dengan peningkatan
jumlah penduduknya.
b. Kegiatan komersial dan industri, besarnya air limbah yang
dihasilkan diperkirakan sebesar 60% dari kebutuhan air
bersihnya, sedangkan perkembangan/peningkatan
volume limbahnya berbanding lurus dengan peningkatan
skala industri dan luas tanahnya/lahannya.
c. Kegiatan pendidikan, peribadatan, perkantoran,
pelayanan umum dan sebagainya diperkirakan sebesar
50% dari kebutuhan air bersihnya.
d. Air hujan (air limpasan)
e. Untuk memperhitungkan volume air limpasan yang
dihasilkan oleh kota sebagai dasar penentuan tipe saluran
dan penempatannya digunakan rumus sebagai berikut:

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 102 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

g. Prasarana Persampahan
Sampah merupakan suatu sisa dari berbagai kegiatan yang
dilakukan oleh penduduk pada suatu wilayah. Sampah tidak
dapat dihindarkan dari kegiatan penduduk, tetapi
hal yang lebih penting adalah bagaimana pengelolaan
sampah tersebut dilakukan sehingga tidak mengganggu
kesehatan dan kebersihan. Secara garis besar sampah dapat
digolongkan menjadi:
- Sampah golongan I, yaitu sampah yang terdiri dari bahan-
bahan yang mudah mengalami pembusukan dan mudah
musnah. Contoh : sampah yang berasal dari sisa
pengolahan, sisa makanan, sayur-mayur, dan sebagainya
- Sampah golongan II, yaitu sampah yang terdiri dari dari
bahan-bahan yang mudah dimusnahkan tetapi sukar
mengalami pembusukan dan berasimilai dengan tanah.
Contoh : karton, kertas, kayu, dan sebagainya
- Sampah golongan III, yaitu sampah yang sukar
dimusnahkan dan tidak mengalami pembusukan. Contoh :
besi, batu, pasir serta bahan-bahan konstruksi lainnya.
Mengingat sampah merupakan salah satu indikator kesehatan
dan kebersihan lingkungan di suatu wilayah maka sampah
tersebut dibuang dan diolah sehingga tidak menimbulkan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 103 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
pencemaran dan membahayakan kehidupan manusia atau
penduduk.
Tempat pembuangan akhir adalah untuk tempat terakhir dari
pembuangan sampah dan tempat pengelolaan samapah.
Syarat-syarat tempat pembuangan akhir diantaranya
Mempunyai jarak yang jauh dari sumber-sumber air maksimum
5 km, Bebas banjir dan Harus jauh dari permukiman penduduk.
Adapun Jenis-jenis pengelolaan sampah diantaranya adalah
sebagai berikut :
- Open dumping merupakan jenis pengelolaan tahap akhir
sampah yang paling sederhana.
- Sistem pengurugan sampah merupakan jenis pengelolaan
tahap akhir sampah dengan cara penimbunan.
- Incinerator merupakan tempat pembuangan sampah akhir
dengan cara dibakar dengan suhu 900-1400 derajat
celcius.
Untuk menghitung volume sampah kota pertahun yang
digunakan sebagai standar bagi perhitungan kebutuhan
Transfer depo/TPS, Tempat pembuangan akhir (TPA) dan
kebutuhan prasarana penunjang lainnya digunakan rumus-
rumus berikut ini :
- Volume sampah kawasan pertahun (Qk)

Dimana : P = Jumlah penduduk


Q = Standar kuantitas timbunan sampah,
l/org/hari
Berdasarkan tingkat ekonomi dengan patokan :
a. Ekonomi rendah, q = 1,686 l/org/hari
b. Ekonomi sedang, q = 1,803 l/org/hari

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 104 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
c. Ekonomi tinggi, q = 1,873 l/org/hari

j) Analisis Intensitas Pemanfaatan Lahan


Penetapan intensitas penggunaan lahan merupakan penetapan dari
rencana tiga dimensi yang mencakup penetapan Koefisien Lantai
Bangunan (KLB), Koefisien Dasar Bangunan(KDB) dan lebar sempadan
bangunan. Tujuan dari rencana intensitas ini adalah untuk menciptakan
keseimbangan dan keserasian antara manusia dengan lingkungan
serta antara kegiatan-kegiatan kota dengan lingkungannya sebagai
upaya meningkatkan kualitas estetika lingkungan kota. Penentuan KDB
dan KLB merupakan salah satu kriteria yang penting berhubungan
dengan pengendalian lingkungan, karena KDB dan KLB ini akan sangat
berperan dalam membentuk estetika yang terbentuk dari
keseragaman persen lahan yang tertutup oleh bangunan dan
ketinggian bangunan dan dasar pertimbangan untuk menetapkan
daya tampung optimal suatu wilayah Hal-hal yang perlu diketahui
dalam proses pembentukan KDB dan KLB, yaitu:
 Penentuan KDB didasarkan pada pertimbangan besarnya lahan
terbangun dan kepadatan penduduknya.
 KLB merupakan ketentuan tentang jumlah lantai bangunan atau
ketinggian bangunan pada suatu wilayah. Penerapan KLB ini
disesuaikan juga dengan daya dukung lahan yang ada dan
intensitas penggunaan lahan suatu wilayah.
Aspek umum yang diperkirakan sebagai bahan pertimbangan dalam
penetapan intensitas peruntukkan lahan adalah :
 Fungsi dari unit-unit lingkungan kawasan perkotaan (setara
dengan beberapa desa atau kelurahan).
 Kondisi fisik dasar untuk setiap unit lingkungan atau setiap blok
peruntukkan kawasan, yang meliputi daya dukung tanah, kondisi
geologi, kestabilan tanah dan pola sirkulasi angin.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 105 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

 Pemanfaatan unsur-unsur visual yang menarik.


 Keserasian dan keharmonisan lansekap kota.
 Keseimbangan antara unsur-unsur alami dengan unsur-unsur
buatan.
Sedangkan aspek-aspek khusus yang diperhatikan adalah sebagai
berikut :
 Struktur kegiatan untuk setiap unit lingkungan maupun blok
peruntukkan.
 Struktur jaringan jalan dalam kaitannya dengan penetapan garis
sempadan bangunan.
Kecenderungan perkembangan sosial ekonomi yang terjadi di wilayah
perencanaan.

1. Analisis Penentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB)


Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah angka prosentase
berdasarkan perbandingan luas lantai dasar bangunan terhadap
luas tanah perpetakan. Koefisien dasar bangunan diperlukan
untuk membatasi luas lahan yang tertutup perkerasan, sebagai
upaya untuk melestarikan ekosistem, sehingga dalam lingkungan
yang bersangkutan sisa tanah sebagai ruang terbuka masih
menyerap atau mengalirkan air hujan ke dalam tanah.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 106 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Batasan Koefisien Dasar Bangunan adalah :
 Batasan KDB adalah suatu nilai hasil perbandingan antara luas
seluruh lantai dasar bangunan dan luas daerah perencanaan
 Batasan KDB dinyatakan dalam persen (%)
 Analisis KDB pada masing-masing blok peruntukan meliputi
tahapan-tahapan sebagai berikut :
a. Analisis daya dukung lingkungan, yang mengidentifikasi
kawasan-kawasan berdasarkan kemampuan wilayah
untuk menampung suatu kegiatan di atasnya, yang meliputi
:
- Kawasan Pengendalian Ketat : Kawasan yang
diperkenankan untuk memiliki bangunan di atasnya,
namun dengan batasan-batasan tertentu.
- Kawasan Intensif : Kawasan yang diperkenankan
sebagai kawasan terbangun dengan kepadatan
bangunan tinggi.
- Nilai lahan pada suatu kawasan, baik berupa nilai
ekonomis maupun nilai sosial.
b. Analisis Kebijakan Kepadatan Bangunan yang terdapat
dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung.
- Blok peruntukan Analisis Rencana Struktur Tata Ruang,
dengan meninjau sistem pusat pewilayahan. Semakin
tinggi hirarki pusat pelayanannya, maka
- semakin tinggi pula kepadatan bangunan yang
diperbolehkan.
- Analisis Pemanfaatan Ruang, dengan meninjau fungsi
masing-masing blok dalam kawasan.
- Analisis penentuan Koefisien Dasar Bangunan dengan
melalukan analisis super impose analisis sebelumnya
sehingga dapat dihasilkan arahan KDB pada setiap

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 107 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
blok. Sedangkan pengelompokan blok peruntukan
berdasarkan KDB dapat dibagi menjadi:
 dengan Koefisien Dasar Bangunan Sangat Tinggi
(> 75%),
 Blok peruntukan dengan Koefisien Dasar
Bangunan Tinggi (50% sampai 75%),
 Blok peruntukan dengan Koefisien Dasar
Bangunan Menengah (20% sampai 50%),
 Blok peruntukan dengan Koefisien Dasar
Bangunan Rendah (5% sampai 20%),
 Blok peruntukan dengan Koefisien Dasar
Bangunan sangat Rendah (< 5%).

2. Analisis Koefisien Lantai Bangunan (KLB)


KLB adalah angka perbandingan antara jumlah seluruh luas lantai
dari seluruh bangunan terhadap luas tanah perpetakan/daerah
terbangun pada daerah perencanaan yang dikuasai sesuai
dengan rencana kota. KLB ditetapkan sesuai dengan rencana
intensitas pemanfaatan lahan dari suatu unit lingkungan/kawasan
berdasarkan rencana kota yang ada, sekaligus dapat membatasi
ketinggian bangunan. Besarnya angka KLB ditentukan
berdasarkan jumlah tingkat bangunan dikalikan dengan KDB.
Kriteria pengembangan dan pengendalian bangunan dalam hal
ketinggian di setiap unit lingkungan akan tergantung pada
berbagai faktor, diantaranya sebagai berikut :
 Karakteristik fisik di setiap unit lingkungan yang bersangkutan
dalam hal ini mencakup masalah kemiringan tanah, struktur
geologi dan hidrologi.
 Tingkat penggunaan ruang dan struktur ruang.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 108 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

 Harga dan nilai tanah yang sangat mempengaruhi intensitas


kawasan.
 Aspek urban desain, kesan ritmik, kesan monumental, sinar
matahari serta kesesuaian dengan lingkungan sekitarnya.
Secara sederhana analisis Koefisien Lantai Bangunan dapat
diperoleh dengan metode perhitungan sebagai berikut :

KLB = Jumlah Lantai x KDB

Adapun tahapan analisis untuk menentukan KLB pada masing-


masing blok yaitu sebagai berikut : Analisis daya dukung
lingkungan, yang mengidentifikasi kawasan - kawasan
berdasarkan kemampuan wilayah untuk menampung ketinggian
bangunan yang diperkenankan. Kriteria kemampuan kawasan
meliputi pertimbangan aspek :
(1) KKOP-keamanan ketinggian penerbangan,
(2) Pencahayaan,
(3) Angle-Sudut, dan
(4) Tinggi maksimum bangunan pada umumnya ditentukan
berdasarkan ketentuan :

Analisis penentuan Koefisien Lantai Bangunan dengan melakukan


analisis super impose analisis sebelumnya sehingga dapat
dihasilkan arahan KDB pada setiap blok.
Adapun standar yang digunakan untuk mengatur ketinggian
bangunan adalah sebagai berikut :
 Blok peruntukan ketinggian bangunan sangat rendah adalah
blok dengan bangunan tidak bertingkat dan bertingkat

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 109 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
maksimum 2 lantai (KLB maksimum = 2 x KDB) dengan tinggi
puncak bangunan maksimum 12 m dari lantai dasar:
 Blok peruntukan ketinggian bangunan rendah adalah blok
dengan bangunan bertingkat maksimum 4 lantai (KLB max = 4
x KDB) dengan tinggi puncak bangunan maksimum 20 m dan
minimum 12 m dari lantai dasar.
 Blok peruntukan ketinggian bangunan sedang dengan
bangunan tingkat maksimum 8 lantai (KLB maksimum = 8 x KDB)
dengan tinggi puncak bangunan maksimum 36 m dan minimum
24 m dari lantai dasar.
 Blok peruntukan ketinggian bangunan tinggi dengan bangunan
bertingkat minimum 9 lantai (KLB = 9 x KDB) dengan tinggi
puncak bangunan minimum 40 m dari lantai dasar.
 Blok peruntukan bangunan sangat tinggi dengan bangunan
bertingkat minimum 20 lantai (KLB = 9 x KDB) dengan tinggi
puncak bangunan minimum 84 m dari lantai dasar.

3. Analisis Perpetakan Bangunan


Analisis standar untuk perpetakan bangunan yang terdapat pada
setiap blok adalah :
 Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi I
(di atas 2.500 m2)
 Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi II
(1.000-2.500 m2)
 Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi III
(600-1.000 m2)
 Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi IV
(250-600 m2)
 Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi V
(100-250 m2)

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 110 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

 Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi VI


(50-100 m2)
 Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi VII
(di bawah 50 m2)
 Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi
VIII (rumah susun/flat)

4. Analisis Sempadan Bangunan


Pengaturan Sempadan Bangunan, adalah lebar ruang bebas
bangunan yang dihitung dari batas dinding bangunan terluar
hingga batas pinggir daerah milik jalan, dari jalan yang ada di
depan, di belakang dan di samping bangunan. Maksud
pembuatan sempadan bangunan ini adalah untuk pengaturan
ruang terbuka antara jalan dengan bangunan, bangunan dengan
bangunan, untuk sirkulasi penghuni, ventilasi cahaya matahari atau
kemungkinan bahaya kebakaran.
Pada umumnya penetapan sempadan bangunan dipengaruhi oleh
aspek-aspek sebagai berikut :
 Luas Petakan Lahan/Kavling; Luas kavling berbanding lurus
dengan sempadan bangunan. Semakin lebar luas kavling
semakin besar pula sempadan bangunan yang ditetapkan,
begitu juga sebaliknya.
 Jenis Penggunaan Bangunan; Bangunan umum, bangunan
gudang dan bangunan pabrik serta bangunan perkantoran,
sempadan bangunannya ditetapkan lebih besar dari bangunan
perumahan.
 Struktur Jaringan Jalan; Makin tinggi hirarki jalan yang berada
dihadapan bangunan ditetapkan sempadan bangunan lebih
besar, begitu juga sebaliknya.
 Kepadatan Bangunan; Semakin padat bangunan, semakin kecil
sempadan bangunannya, begitu juga sebaliknya.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 111 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Analisis Pengaturan sempadan dilakukan untuk menciptakan
keteraturan bangunan dan mempertimbangkan bahaya
kebakaran, sirkulasi udara, cahaya matahari dan sirkulasi manusia
dalam halaman rumah. Berbagai garis sempadan antara lain
sebagai berikut :
Garis Sempadan pagar
 Untuk jalan dengan lebar lebih dari 10 m berjarak 1,5 m dari
siring jalan dan lebar trotoar
 Untuk jalan dengan lebar 6 m s/d 10 m berjarak 1 m dari siring
jalan
 Untuk jalan dengan lebar kurang dari 6 m berjarak 0,5 m dari
siring jalan
Garis Sempadan muka bangunan dan sempadan samping
bangunan yang menghadap jalan minimum berjarak 0,5 m x lebar
jalan dan 1 m dari siring jalan Garis Sempadan samping
bangunan bukan jalan dan belakang bangunan, berjarak minimum
1,5 m dari dinding bangunan.
Untuk memproteksi bangunan terhadap bahaya kebakaran dan
memudahkan operasi pemadaman, maka perlu adanya penentuan
terhadap jarak antar bangunan yang ditentukan berdasarkan
tinggi bangunan tersebut. Penentuan jarak antar bangunan (garis
sempadan bangunan) antara lain :
 Tinggi bangunan kurang dari 8 meter, maka jarak minimum
antar bangunan berjarak 3 meter.
 Tinggi bangunan antara 8-14 meter, maka jarak minimum antar
bangunan berjarak 3 s/d 6 meter.
 Tinggi bangunan antara 14-40 meter, maka jarak minimum
antar bangunan berjarak 6 s/d 8 meter.
 Tinggi bangunan lebih dari 40 meter, maka jarak minimum
antar bangunan berjarak 8 meter.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 112 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
5. Analisis Penanganan Bangunan
Untuk penanganan bangunan perkotaan terdapat 5 (lima) macam
bentuk penanganan yang dapat dilakukan, yaitu :
 Peningkatan; dilakukan pada daerah dengan kondisi
bangunan yang masih minimalis sedangkan daerah tersebut
mempunyai pemanfaatan ruang yang cukup tinggi
 Perbaikan; dilakukan pada bangunan yang mengalami
kerusakan tetapi masih digunakan sebagai sarana kota seperti
kantor, sekolah, dll.
 Pembaharuan; dilakukan pada bangunan dengan konstruksi
lama yang dibangun kembali dengan konstruksi baru agar
bangunan tersebut lebih kuat/kokoh.
 Pemugaran; dilakukan pada bangunan lama yang masih
dipakai sampai sekarang. Pemugaran ini dilakukan untuk
menambah kekuatan bangunan tanpa merubah bentuk asli
bangunan Perlindungan; dilakukan terutama pada bangunan
bersejarah/gedung bersejarah.

6. Analisis Sistem Jaringan Jalan


Analisis sistem pergerakan dirumuskan sebagai upaya untuk
mengidentifikasi dan memperkirakan dampak-dampak sistem
pergerakan dari adanya suatu kegiatan rencana pembangunan
dan juga sebagai konsekuensi dari adanya :
1) Pertumbuhan
- Jika diketahui / diharapkan bahwa penduduk di suatu
tempat akan bertambah dengan pesat.
- Jika tingkat pendapatan meningkat, karena hal ini
mengakibatkan meningkatnya jumlah kendaraan,
perumahan, penurunan kepadatan rumah dan lain-lain.
2) Keadaan Lalu Lintas
- Apabila kesesakan dan kemacetan di jalan meningkat

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 113 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

- Apabila sistem pemindahan massa tidak ekonomis lagi


dan dengan demikian perlu koordinasi.
3) Perkembangan Wilayah
Apabila pemerintah kota menghendaki mempengaruhi
perkembangan dengan perencanaan transport.
Secara rinci, metode-metode analisis sistem pergerakan yang
akan digunakan dalam kegiatan ini akan diuraikan pada
pembahasan sub bab di bawah ini.

 Analisis Kapasitas Ruas Jalan


Perhitungan Kapasitas Ruas jalan dilakukan dengan
menggunakan metode Indonesian Highway Capacity Manual
(IHCM 1997 : III-12) untuk daerah perkotaan, dengan
formulasi sebagai berikut :

Rincian dari masing-masing variabel pada formula di atas,


diuraikan sebagai berikut :
Kapasitas Dasar (Co)
Kapasitas dasar Co ditentukan berdasarkan tipe jalan sesuai
dengan nilai yang tertera pada Tabel di bawah ini.

 Analisis Bangkitan Lalu Lintas


Bangkitan lalu-lintas adalah banyaknya lalu-lintas yang
ditimbulkan oleh suatu zone atau daerah per satuan waktu.
Jumlah lalu-lintas bergantung pada kegiatan kota, karena

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 114 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
penyebab lalu-lintas ialah adanya kebutuhan manusia untuk
melakukan kegiatan berhubungan dan mengangkut barang
kebutuhannya.

Keterangan :
Q = Jumlah lalu-lintas (t,m,p menunjukkan waktu, macam
kendaraan, dan maksud perjalanan)
x1 = Peubah penentu
a1 = Koefisien regresi (i = 0, 1, ..., n)
Produksi pergerakan dapat dihitung berdasarkan persamaan
bangkitan lalu-lintas :

Keterangan :
Y = Jumlah pergerakan
Xn = Peubah bebas seperti jumlah mobil dalam keluarga,
banyaknya anggota keluarga dan sebagainya.
bn = Koefisien regresi
k = Tetapan/konstanta

 Trip Distribusi ( Distribusi lalu lintas)


Adalah mengenai dari mana dan kemana lalu lintas yang
dibangkitkan tersebut tersalur.
Distribusi lalu lintas tidak mengandung arti penyaluran pada
macam kendaraan melainkan hanya mengandung pengertian
asal dan tujuan perjalanan.

 Analisis Fungsi Jalan


1) Sistem Jaringan Jalan Primer, antara lain :
a) Jalan Arteri Primer, dengan syarat :

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 115 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

- Kecepatan rencana rata-rata tinggi 60 Km/jam


dengan lebar badan jalan tidak kurang dari 8 m
- Batas luar Ruas Pengawasan Jalan (Ruwasja)
yang diukur dari as jalan tidak kurang dari 20 m
- Mempunyai kapasitas yang lebih besar dari
volume lalu lintas rata-rata
- Tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang alik,
lalu lintas lokal dan kegiatan lokal
- Mempunyai peran pelayanan distribusi barang
dan jasa untuk pengembangan wilayah di tingkat
nasional
- Menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang
berwujud pusat-pusat kegiatan dengan skala
nasional
- Melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan
jarak jauh, bervolume besar dan dan bernilai
ekonomis yang tinggi
- Jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya
guna

b) Jalan Kolektor Primer :


- Didesain berdasarkan kecepatan rencana rata-
rata sedang, dengan ketentuan paling rendah 40
Km/jam dengan lebar jalan tidak kurang dari 7
m
- Batas luar Ruas Pengawasan Jalan (Ruwasja)
yang diukur dari as jalan tidakn kurang dari 15
m
- Mempunyai kapasitas yang lebih besar dari
volume lalu lintas rata-rata

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 116 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

- Tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang alik,


lalu lintas lokal dan kegiatan lokal
- Jumlah jalan masuk dibatasi
- Memiliki fungsi melayani angkutan pengumpul
atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak
sedang dalam lingkup wilayah
- Mempunyai peran pelayanan distribusi barang
dan jasa untuk pengembangan wilayah di lingkup
wilayah
- Menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang
berwujud pusat-pusat kegiatan dengan skala
wilayah

c) Jalan Lokal Primer :


- Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling
rendah 20 Km/jam dengan lebar jalan tidak
kurang dari 6 m
- Batas luar Ruas Pengawasan Jalan (Ruwasja)
yang diukur dari as jalan tidak kurang dari 10
meter
- Memiliki fungsi melayani angkutan setempat
dengan ciri perjalanan jarak dekat dalam lingkup
skala wilayah tingkat lokal
- Jumlah jalan masuk tidak dibatasi
- Mempunyai peran pelayanan distribusi barang
dan jasa untuk pengembangan wilayah di lingkup
skala wilayah tingkat lokal
- Menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang
berwujud pusat-pusat kegiatan dengan skala
wilayah tingkat lokal

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 117 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
2) Jaringan Jalan Sekunder, antara lain :

a) Jalan Arteri Sekunder


- Kecepatan rencana 30 Km /jam dengan lebar
badan jalan tidak kurang dari 8 m
- Batas luar Ruas Pengawasan Jalan (Ruwasja)
yang diukur dari as jalan tidak kurang dari 20 m
- Mempunyai kapasitas yang lebih besar dari
volume lalu lintas rata-rata
- Tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang alik,
lalu lintas lokal dan kegiatan lokal
- Jumlah jalan masuk dibatasi
- Mempunyai peran pelayanan distribusi barang
dan jasa untuk masyarakat pada skala perkotaan
- Melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan
jarak jauh, bervolume besar dan dan bernilai
ekonomis yang tinggi

b) Jalan Kolektor Sekunder


- Kecepatan rencana 20 Km /jam dengan lebar
badan jalan tidak kurang dari 7m
- atas luar Ruas Pengawasan Jalan (Ruwasja) yang
diukur dari as jalan tidak kurang dari 7 m
- Memiliki fungsi melayani angkutan pengumpul
atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak
sedang di lingkup perkotaan (dalam kota)
- Sistem jaringan jalan dengan peran pelayanan
distribusi dan jasa untuk masyarakat di dalam
kawasan perkotaan, dan memiliki fungsi sebagai
penghubung antara angkutan utama dengan
angkutan setempat

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 118 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
c) Jalan Lokal Sekunder
- Kecepatan rencana 10 Km /jam dengan lebar
badan jalan tidak kurang dari 5 m
- Batas luar Ruas Pengawasan Jalan (Ruwasja)
yang diukur dari as jalan tidak kurang dari 4 m
- Tidak diperuntukan untuk kendaraan roda tiga
atau harus mempunyai lebar jalan tidak kurang
dari 3,5 m
- Memiliki fungsi melayani angkutan setempat
dengan ciri perjalanan jarak dekat dalam lingkup
skala perkotaan tingkat lokal
- Sistem jaringan jalan dengan peran pelayanan
distribusi dan jasa untuk masyarakat di dalam
kawasan perkotaan tingkat lokal, dan sebagai
penghubung dengan lingkungan permukiman di
kawasan perkotaan (Sumber: UU no 38 tahun
2004 tentang Jalan)

k) Analisis Tapak
Dalam analisis ini diperlukan beberapa analisis secara deskriptif
terhadap faktor tapak yang akan bermanfaat dalam proses
perencanaan dan perancangan. Sedangkan untuk mengetahui tingkat
kelayakan kawasan sebagai kawasan layak bangun atau tidak, maka
akan diterapkan analisis tapak. Adapun variabel analisis tapak
tersebut terdiri dari topografi, jenis tanah (soil), geologi, hidrologi,
klimatologi, vegetasi, kebisingan, dan best view.
Penyelidikan tapak yang dilakukan bersamaan dengan formulasi
tujuan dapat menjamin refleksibilitas pemanfaatan potensi tapak serta
pemaduan bentuk-bentuk alam atau buatan pada rancangannya.
Analisis tapak pada hakekatnya terdiri atas dua komponen dasar
yaitu:

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 119 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

 Observasi tapak guna mengumpulkan semua fakta yang


berhubungan dari sumber informasi.
 Penafsiran atau penilaian akan tiap-tiap data untuk mengetahui
relevansinya terhadap tujuan studi.
Adapun analisis tapak yang dibahas dalam pekerjaan ini meliputi:
analisis kemiringan, analsis vegetasi, analisis aliran air, best view,
analisis pencahayaan matahari, analisis kebisingan, dan analisis
orientasi angin.
 Analisis Kemiringan
Analisis kemiringan akan sangat membantu untuk mengetahui
daerah-daerah yang penting pada tapak untuk lokasi bangunan,
jalan, tempat parkir dan lain-lain. Analisis kemiringan juga dapat
menunjukkan apakah suatu konstruksi layak untuk dilaksanakan.
Pola kemiringan lahan secara menyeluruh yang dihasilkan dari
analisis kemiringan akan sangat membantu dalam menetapkan
penggunaan lahan yang terbaik pada berbagai bagian tapak.
Dengan berpedoman pada skala Mabbery, 1972 yang
menyebutkan bahwa lahan terbangun memiliki kemiringan lahan
dari 0 -15 % maka penentuan daerah layak bangunan
berpedoman pada skala tersebut.
 Analisis Vegetasi
Analisis vegetasi di wilayah studi digunakan untuk berbagai
kepentingan, misalnya penyaring debu, penahan angin, dan
penyeimbang iklim lingkungan. Analisis ini dapat diterapkan di
wilayah studi dengan menanam berbagai jenis tanaman
disepanjang jalur lintasan kendaraan bermotor maupun lintasan
pejalan kaki yang dapat mengantisipasi daripada polusi yang
dihasilkan oleh kendaraan bermotor pada umumnya. Selain itu
juga vegetasi ini berfungsi sebagai peneduh atau penyeimbang
ekosistem lingkungan.
 Analisis Aliran Air

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 120 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
Pola aliran air pada tapak dapat berpengaruh pada
perancangan tapak, dimana unsur-unsur hidrografis mempunyai
sifat menunjang pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan
lahan, dan mempunyai peran utama dalam pembuatan sistem
drainase tapak dengan memanfaatkan pola drainase daerah
aliran air yang ada. Aliran air ini mengikuti pola kontur yang
mengalir dari kontur paling tinggi menuju kontur paling rendah.
 Best View
Analisis best view digunakan untuk menentukan kearah mana
tapak menghadap. Analisis ini berkaitan dengan pandangan
visual dan estetika dimana pemandangan dapat menjadi pusat
orientasi suatu bangunan. Pemandangan harus muncul dan terlihat
sepenuhnya hanya dari titik yang saling menguntungkan. Tapak
alami memiliki sungai yang berpotensi dijadikan orientasi best
view.

Gambar E.5. Orientasi Bangunan Terhadap Best View

 Analisis Pencahayaan Matahari


Analisis pencahayaan matahari berkaitan dengan pencahayaan
pada ruang. Dimana cahaya dapat langsung menyilaukan atau
dapat terdiri dari cahaya pantulan dan cahaya yang tak
berbayang. Analisis terhadap pencahayaan matahari dapat

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 121 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
digunakan untuk penempatan kekuatan penerapan bangunan,
warna dan tekstur bangunan serta penempatan lampulampu di
jalan. Seperti pada umumnya matahari bergerak dari arah timur
ke arah barat.
Dengan mengetahui tingkat penyinaran matahari dan pola
peredaran matahari, maka akan dapat dijadikan sebagai
pertimbangan dalam perancangan kawasan terutama dalam pola
penataan bangunan untuk memperoleh tingkat kenyamanan
dalam melaksanakan berbagai aktifitas. Untuk lebih jelasnya
mengenai pola peredaran matahari dapat dilihat pada gambar
berikut ini.

Gambar E.6. Orientasi Matahari


 Analisis Kebisingan
Sumber kebisingan utama berasal dari kendaraan bermotor di
jalan raya yang mengelilingi lokasi tapak. Untuk mengurangi
kebisingan tersebut dapat dilakukan dengan penanaman
vegetasi, upaya land scape, pengaturan jalan pencapaian masuk
dan organisasi ruang.
Untuk lebih jelasnya mengenai sumber kebisingan dapat dilihat
pada gambar berikut ini.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 122 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

Gambar E.7. Zona Kebisingan

 Analisis Orientasi Angin


Umumnya bangunan pada tapak diorientasikan pada kemudahan
pencapaian ke jalan raya dan jalan lingkungan. Disarankan
bagian bangunan yang sempit dapat diarahkan atau dihadapkan
pada datangnya angin. Hal ini dilakukan untuk menghindari angin
kencang yang dapat merusak. Dan upaya pengelak hempasan
angin dapat dilakukan dengan pengaturan penempatan vegetasi.

l) Analisis Kelembagaan dan Keuangan


Metode analisis kelembagaan dan sumber pembiayaan ini bertujuan
untuk mengetahui:
1. Kesiapan lembaga pemerintah dan non pemerintah dalam
menjalani otonomi daerah.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 123 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
2. Kesiapan sumber daya manusia dalam pengelolaan lembaga
pemerintahan dan non pemerintahan.
3. Efisiensi lembaga-lembaga pemerintah dan non pemerintah yang
dibutuhkan dalam otonomi daerah.
4. Menggali dan mencari sumber-sumber pendanaan dalam rangka
otonomi daerah.
5. Pengelolaan/manajemen sumber-sumber pembiayaan
pembangunan.
6. Mengetahui pemasukan dan pengeluaran belanja daerah.

m) Analisis Hubungan Fungsional Antar Berbagai Elemen Kawasan


Kajian analisis tersebut didasarkan kepada hubungan tingkat
kepentingan antara elemenelemen pembentuk ruang yang terintegrasi
dalam suatu kawasan dan dinyatakan dalam kriteria rank (dekat,
sedang, jauh), seperti terlihat pada Gambar 5.13. Hasil dari analisis
tersebut dapat digunakan dalam peletakan elemen-elemen antar
bangunan sesuai tingkatan hubungan fungsionalnya.

Gambar E.8. Contoh Matriks Hubungan Fungsional

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 124 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
n) Analisis Perancangan Kota
Analisis perancangan kota akan dilakukan dengan beberapa metode
analisis yaitu
 Analisis figure and ground. Analisis figure and ground adalah
analisis untuk memahami permasalahan pola perkotaan dengan
hubungan antara bentuk yang dibangun (building mass) dan ruang
terbuka (open space). Analisis figure/ground adalah alat yang
baik untuk :
- mengidentifikasikan sebuah tekstur dan pola-pola tata ruang
perkotaan (urban fabric)
- mengidentifikasi masalah keteraturan massa/ruang pekotaan
 Analisis linkage. Analisis lingkage adalah analisis untuk memahami
hubungan-hubungan dan gerakan-gerakan (dinamika) rupa kota
yang dianggap sebagai generator kota. Analisis lingkage adalah
alat yang baik untuk memperhatikan dan menegaskan hubungan-
hubungan dan gerakan-gerakan sebuah tata ruang perkotaan
(urban fabric). Linkage perkotaan dapat diamati dengan cara dan
pendekatan yang berbeda, diantaranya adalah :
- Linkage yang visual
- Linkage yang structural
- Linkage bentuk yang kolektif
 Analisis Place. Analisis Place adalah analisis untuk memahami
seberapa besar kepentingan tempat-tempat perkotaan terbuka
terhadap sejarah, budaya dan sosialisasinya. Analisis place
adalah alat yang baik untuk:
- memberi pengertian mengenai ruang kota melalui tanda
kehidupan perkotaannya
- memberi pengertian mengenai ruang kota secara konstektual
Ketiga metode analisis tersebut akan dikuatkan dengan
pendekatan Analisis Responsive Environments. Yang

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 125 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
dikembangkan oleh Ian Bentley dkk.Analisis Responsive
Environments meliputi:
- Analisis Permeabilitas. Analisis permeabilitas berkaitan
dengan analisis kemudahan pencapaian bagi setiap orang.
Analisis untuk mengkaji permasalahan rute-rute akses jalan,
mengidentifikasi potensi yang dimiliki untuk mengembangan
akses serta kebutuhan dan kelayakan untuk mengembangan
akses antara satu tempat dengan tempat yang lain.
- Analisis keanekaragaman. Analisis keanekaragaman
berkaitan dengan analisis keanekaragaman tataguna lahan.
Berkaitan dengan tingkat permintaan untuk tipe tataguna
yang berbeda-beda pada tapak, dan menentukan seberapa
luas suatu campuran tataguna yang ekonomis dan fungsional
yang layak dimiliki.
- Analisis kejelasan. Analisis kejelasan berkaitan dengan
permasalahan seberapa ‘jelas’ pemahaman masyarakat
terhadap suatu ruang, seberapa mudah masyarakat dapat
memahami tataletaknya.
- Analisis kekuatan. Analisis kekuatan berkaitan dengan analisis
tempat yang dapat dipakai untuk banyak maksud yang
berbeda-beda memberi kepada pemakainya lebih banyak
pilihan dari pada tempat yang rancangannya membatasi
mereka ke suatu tata guna lahan tunggal. Lingkungan yang
memiliki kekuatan adalah lingkungan yang memberikan
banyak pilihan.
- Analisis kesesuaian visual. Analisis kesesuaian visual adalah
analisis untuk mengidentifikasi kesesuaian antara satu
tempat/bangunan dengan tempat/bangunan yang lainnya.
Bagaimana kesesuaian tersebut didukung oleh system jaringan
jalan, streetscape, landscape, citycolouring dsb.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 126 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

- Analisis kekayaan. Analisis kekayaan berkaitan dengan


analisis keanekaragaman pada tatanan lebih rinci, seperti
tata bangunan, desain, bahan dan teknik kontruksi.
- Analisis personalisasi. Analisis personalisasi berkaitan dengan
seberapa besar masyarakat teraktualisasikan karakternya
dalam hasil rancangan tata ruang kota.

o) Analisis Partisipasi
Analisis partisipasi adalah suatu metode untuk melibatkan masyarakat
berpartisipasi dalam program pembangunan. Apabila dilihat dari
definisinya, partisipasi sebagai suatu pendekatan dan kumpulan teknik
untuk memberdayakan pelaku dalam menganalisa mengembangkan
dan berbagi pengetahuan tentang kehidupan setempat keadaan dan
sumber dayanya untuk bertindak dengan lebih baik. Adapun teknik-
teknik partisipasi sebagai berikut:
1. Informasi Data Sekunder. Informasi sekunder adalah data yang
dipublikasi atau tidak dipublikasikan yang dikumpulkan oleh
orang lain sebelumnya yang berhubungan dengan sasaran
RRA/PRA.
2. Pemetaan Partisipatif. Tujuan pemetaan partisipasi adalah
memperoleh orientasi awal bersama dengan masyarakat.
Pemetaan ini manjadi titik tolak pembahasan bersama untuk
mengidentifikasi masalah-masalah dan potensi yang ada.
3. Wawancara Semi Terstruktur. Wawancara semi terstruktur adalah
suatu bentuk wawancara yang hanya menggunakan beberapa
pertanyaan pokok (topik dan sub topik) sebagai pedoman.
Pertanyaan-pertanyaan pokok tersebut telah disiapkan
sebelumnya (tetapi bukan dalam bentuk kuesioner) dan dijadikan
acuan untuk membuat pertanyaan ketika melaksanakan
wawancara.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 127 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
4. Diskusi Kelompok Terarah. Diskusi kelompok terarah mengarahkan
diskusi dalam suatu kelompok orang yang mempunyai
pengetahuan atau pengalaman yang sama mengenain analisis
dan penelitian suatu topik untuk mengfokuskan masalah-masalah
dan kesempatan yang dihadapi oleh kelompok atau untuk
membahas persoalan-persoalan yang terjadi di antara kelompok-
kelompok.
5. Observasi Langsung. Observasi langsung merupakan suatu metode
perolehan informasi yang mengandalkan pengamatan langsung di
lapangan baik yang menyangkut obyek, kejadian, proses,
hubungan atau kondisi penduduk.
6. Potongan Melintang / Transek. Potongan melintang atau transek
ini adalah potongan melintang dari suatu gambaran daerah/desa
studi yang melukiskan keadaan lingkungan di satu wilayah
berdasarkan topografi dan penggunaan lahan.

Gambar E.9. Daur Program Partisipasi

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 128 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
E.4. PROGRAM KERJA
E.4.1. TAHAP KEGIATAN / PEKERJAAN
Lingkup kegiatan dalam Penyusunan DED Penataan Kawasan Pantai Panjang
Kota Bengkulu ini terdiri atas kegiatan pra persiapan penyusunan, persiapan,
pengumpulan data, Kompilasi/ pengolahan data, serta perumusan konsepsi
Perencanaan Pengembangan Kawasan.

1. Pra persiapan penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis


meliputi:
 penentuan metodologi yang digunakan; dan
 penganggaran kegiatan Penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan
Strategis .
2. Persiapan penyusunan Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis
Tujuan dari langkah persiapan dalam Penyusunan DED Penataan Kawasan
Pantai Panjang Kota Bengkulu adalah dalam rangka memobilisasi seluruh
sumber daya yang ada guna mencapai tujuan yang dikehendaki di dalam
kerangka acuan. Dengan demikian langkah awalnya adalah pemahaman
terhadap tujuan studi yang kemudian dijabarkan ke dalam metoda pendekatan
dan selanjutnya dituangkan ke dalam mekanisme pelaksanaan kegiatannya.
Dengan demikian kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pada bagian ini
adalah:
 Pemahaman terhadap kerangka acuan kerja
 Pemahaman terhadap materi pengembangan kawasan
 Pemahaman terhadap tujuan dan lingkup kegiatan
 Pengenalan awal terhadap permasalahan kawasan perencanaan
 Perumusan data-data yang dibutuhkan
 Perumusan metodologi pendekatan
 Penyusunan jadwal pelaksanaan kegiatan
 Perumusan rencana survey
 Perumusan mekanisme pelaksanaan kegiatan
 Melakukan koordinasi awal dengan pemerintah daerah

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 129 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
3. Pengumpulan Data
Untuk keperluan pengenalan karakteristik wilayah perencanaan, penyusunan
rencana struktur ruang dan rencana pola ruang, dilakukan pengumpulan data
primer dan data sekunder.

Pengumpulan data primer setingkat kecamatan dilakukan melalui:


a. penjaringan aspirasi masyarakat yang dapat dilaksanakan melalui
penyebaran angket, temu wicara, wawancara orang per orang, dan lain
sebagainya; dan/atau
b. pengenalan kondisi fisik dan sosial ekonomi secara langsung melalui
kunjungan ke kecamatan kecamatan.
c. Potensi fungsi kawasan/lingkungan
d. Potensi ekonomi/sosial/budaya masyarakatnya
e. Kondisi fisik kawasan/lingkungan yang berupa prasarana/sarana dan
fasilitasnya
f. Karakteristik arsitektur yang ada, dll yang dianggap perlu
g. Diskusi, konsultasi dan koordinasi
Diskusi meliputi :
 diskusi intern yang dilaksanakan antara pihak konsultan dengan Dinas
Perumahan, Kawasan Permukiman Dan Tata Bangunan Kabupaten
Serang selaku pemberi tugas, dan Tim Teknis Perencanaan
Pengembangan Kawasan Strategis selaku tim pengarah teknis dan
substansi Perencanaan Pengembangan Kawasan Strategis yang terdiri
atas Bappeda, Dinas (Bidang Tata Ruang);
 Diskusi intern dilakukan dengan Dinas dan Tim Teknis Perencanaan
Pengembangan Kawasan Strategis untuk membahas kemajuan dan
hasil pekerjaan yang telah disusun oleh Konsultan baik itu untuk laporan
pendahuluan, laporan antara, dan laporan akhir.
 Sebelum dan sesudah dilakukan diskusi, Konsultan (pihak ke-3)
diharuskan melakukan asistensi hasil pekerjaan dengan pihak Dinas
Perumahan, Kawasan Permukiman Dan Tata Bangunan yang

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 130 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
membahas antara lain perbaikan dan penyempurnaan hasil laporan
pekerjaan tersebut.

Adapun tahapan diskusi dilakukan dalam 3 (tiga) tahap :


 Tahap I dilakukan diskusi/ pembahasan laporan pendahuluan, yang
berisi pembahasan dan penyepakatan substansi yang akan dimuat
dalam penyusunan Penataan Kawasan di Kawasan Pantai Panjang
Kota Bengkulu.
 Tahap II dilakukan diskusi/ pembahasan laporan antara, yang berisi
pembahasan dan penyempurnaan hasil analisis potensi dan
permasalahan yang ada, konsep rencana struktur ruang maupun pola
ruang serta konsep pemanfaatan ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang maupun kelembagaan kawasan.
 Tahap III dilakukan diskusi/ pembahasan laporan akhir, untuk
penyempurnaan dan penyepakatan konsep rencana yang dipilih
sampai dengan hasil akhir Penataan Kawasan di Kawasan Pantai
Panjang Kota Bengkulu.

4. Tahap Kompilasi/Pengolahan dan Analisis Data


Melakukan kompilasi data dan melakukan analisis data menggunakan teknik-
teknik analisis kuantitatif dan kualitatif serta membuat kesimpulan hasil analisis
dan menyajikan prioritas dan alternatif untuk penyusunan Penataan Kawasan
di Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu, meliputi:

a. Analisis karakteristik wilayah Perencanaan Pengembangan Kawasan


Pantai Panjang
 Kedudukan dan peran Perencanaan Pengembangan Kawasan Pantai
Panjang dalam konteks wilayah lebih luas
 Keterkaitan antar Perencanaan Pengembangan Kawasan Pantai
Panjang dan antar kawasan dalam Perencanaan Pengembangan
Kawasan Strategis
 Keterkaitan antar komponen ruang dalam Perencanaan
Pengembangan Kawasan Pantai Panjang

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 131 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

 Karakteristik fisik wilayah dan lingkungan Perencanaan


Pengembangan Kawasan Pantai Panjang
 Karakteristik sosial kependudukan
 Karakteristik perekonomian
 Kemampuan keuangan daerah
b. Analisis Potensi dan Masalah Pengembangan Perencanaan Pengembangan
Kawasan Pantai Panjang
 Analisis pusat-pusat pelayanan/ kegiatan
 Analisis kebutuhan ruang
 Analisis daya dukung
 Analisis daya tampung
 Analisis perubahan pemanfaatan ruang
c. Analisis daya dukung dan daya tampung (termasuk prasarana/
infrastruktur danutilitas) dan daya tampung lingkungan hidup yang,
meliputi:
 Karakteristik umum fisik wilayah (letak geografis, morfologi wilayah,
dsb)
 Potensi rawan bencana alam (longsor, banjir, bencana alam geologi)
 Potensi sumber daya alam (migas, panas bumi dan air tanah)
 Kesesuaian penggunaan lahan
 Kesesuaian intensitas pemanfaatan ruang dengan daya dukung fisik
dan daya dukung prasarana/ infrastruktur dan utilitas pada kawasan
d. Analisis kualitas kinerja kawasan dan bangunan.

5. Tahap Penyusunan Rencana Umum


 Rencana peruntukan lahan mikro (land use) termasuk rencana perpetakan
dan rencana tapak.
 Rencana wujud bangunan seperti : ketinggian, kedalaman, garis sempadan,
koefisien dasar bangunan, gubahan massa, orientasi, bentuk dasar,
 Rencana system pergerakan / sirkulasi dan masalah parkir.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 132 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

 Rencana ruang terbuka (open space) seperti : pertamanan, perkerasan,


termasuk fasilitas tambahan lingkungan (bangku taman dan lain – lain).
 Rencana jalan setapak (pedestrian ways) termasuk sarana penyeberangan.
 Rencana pendukung aktifitas atau sarana untuk kegiatan umum.
 Rambu – rambu lingkungan.
 Rencana preservasi

6. Tahap Penyusunan Rencana Detail


 Lebih rinci menjelaskan arahan bentuk, dimensi, gubahan, perletakan dan
lain-lain dari suatu kawasan, komponen kawasan, ruang terbuka, sarana,
prasarana bangunan dan lingkungan sampai dengan materi seperti
fasade, perletakan dan signage, pedestrian dan lain-lain.
 Gambar-gambar pelaksanaan: gambar site plan, Denah, potongan,
Rencana dan Detail yang sesuai dengan gambar rencana yang telah
disetujui.
 Rencana kerja dan syarat-syarat (RKS/spesifikasi).
 Rencana anggaran biaya (RAB/Estimasi Biaya).
 Rincian volume pelaksanaan pekerjaan (BQ/Bill of Quantity)
 Seluruh dokumen yang dihasilkan digandakan sebanyak 5 (lima)
eksemplar.

Laporan akhir perencanaan meliputi laporan penyelenggaraan perencanaan


teknis secara lengkap digandakan sebanyak 10 (Sepuluh) eksemplar.

7. Tahap Pengadaan Jasa Konstruksi / Pemborongan, konsultan berkewajiban


membantu Panitia Pengadaan Jasa Konstruksi / Pemborongan dalam kegiatan
penjelasan pekerjaan (aanwijzing).

E.4.2. KELUARAN
Keluaran yang dihasilkan oleh Konsultan Perencana dari kegiatan ini adalah DED
Perencanaan Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu merupakan produk

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 133 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
yang jelas dan konsisten yang disajikan dalam format yang sistematik dan baik
Secara substansi harus memenuhi kriteria perencanaan teknis.

E.4.3. PELAPORAN
Adapun sistematika pelaporan pekerjaan DED Kawasan Pantai Panjang di Kota
Bengkulu, terdiri atas :

1. Laporan Pendahuluan, (Preliminary Design) sebanyak 5 (lima) Buku.


Dalam Laporan pendahuluan secara substansi meliputi:
- Konsep Penyiapan rencana Teknis, termasuk konsep organisasi ruang,
jumlah dan kualifikasi Tim Perencana, metode pelaksanaan dan
tanggung jawab waktu perencanaan.
- Konsep Skematis rencana teknis, termasuk konsep organisasi ruang,
jumlah dan organisi hubungan ruang, detail-detail dan lain-lain.
- Laporan data dan informasi lapangan yang ada, termasuk penyelidikan
tanah, keterangan pengguna tentang kebutuhan ruang dan lingkup
pelayanan, fasilitas yang dibutuhkan, kapasitas ruang, jumlah pengguna
dan lain-lain yang dianggap perlu.
- Konsep desain ini harus mendapat persetujuan pemberi tugas terlebih
dahulu agar dapat dilanjutkan ke tahapan Pra-rencana penataan
kawasan.
Laporan Pendahuluan disusun setelah melaksanakan survey awal
(pendahuluan) dan melakukan curah pendapat dengan Dinas Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang Provinsi Bengkulu dan stakeholder terkait.
Laporan Pendahuluan diserahkan paling lambat pada minggu ke 4 (empat)
setelah diterbitkannya SPK. Laporan ini diserahkan sebanyak 5 (lima) buku

2. Laporan Antara (Interim Report)


Dalam Laporan antara secara substansi meliputi:
a) Tahap Pra - Perencanaan Teknis terdiri dari :
- Gambar-gambar pra-rencana penataan kawasan pantai panjang
- Perkiraan biaya pembangunan.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 134 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

- Garis besar rencana kerja dan syarat-syarat (RKS).


- Pra-rencana desain ini harus mendapat persetujuan pemberi tugas,
tim teknis dan stakeholder terkait terlebih dahulu agar dapat
dilanjutkan ke tahapan pengembangan rencana penataan
kawasan.
b) Tahap Pengembangan Rencana Terdiri dari :
- Gambar pengembangan rencana penataan kawasan berdasarkan
pra-rencana yang telah disetujui.
- Uraian konsep rencana dan perhitungan-perhitungan lain yang
diperlukan.
- Draft rencana anggaran biaya.
- Draft rencana kerja dan syarat-syarat.
- Pengembangan rencana desain ini harus mendapat persetujuan
pemberi tugas, tim teknis dan stakeholder terkait terlebih dahulu
agar dapat dilanjutkan ke tahapan rencana detail Penataan
kawasan.
Laporan Antara disusun setelah melaksanakan pra rencana teknis,
pengembangan rencana dan melakukan curah pendapat dengan Dinas
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Bengkulu dan stakeholder
terkait. Laporan Antara diserahkan paling lambat pada minggu ke 10
(sepuluh) setelah diterbitkannya SPK. Laporan ini diserahkan sebanyak 5
(lima) buku.

3. Draft Laporan Akhir


Merupakan konsep produk akhir pekerjaan hasil diskusi dari pemberi tugas,
tim teknis dan stakeholder terkait yang merupakan kesepakatan yang harus
dipenuhi penyedia jasa. Draft Laporan Akhir diserahkan paling lambat pada
minggu ke 15 (Lima Belas) setelah diterbitkannya SPK. Draft Laporan Akhir
diserahkan lengkap dengan RAB, RKS, Ringkasan Eksekutif, Gambar rencana
Teknis perencanaan lengkap, peta tematik, laporan rapat, usulan kebijakan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 135 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
penataan kawasan pantai panjang, hasil koordinasi pembahasan dan BOQ
masing-masing sebanyak 5 buku.

4. Laporan Akhir
Merupakan produk akhir pekerjaan hasil diskusi dari pemberi tugas, tim
teknis, dan stakeholder terkait yang merupakan kesepakatan yang harus
dipenuhi mengacu pada hasil pembahasan laporan akhir. Dokumen laporan
akhir diserahkan paling lambat minggu ke 19 ( sembilan belas) setelah
diterbitkannya SPK. Laporan akhir diserahkan sebanyak 10 (sepuluh) buku.

5. Peta Tematik
Merupakan bagian dari info grfis gambaran informasi eksisting maupun
rencana lokasi pengerjaan konstruksi. Peta tematikyang akan dibuat sesuai
dengan hasil diskusi dari pemberi tugas, tim teknis dan stakeholder terkait.
Peta tematik diserahkan saat mengajukan draft laporan akhir.

6. Gambar Rencana Teknis Bangunan


Merupakan rincian gambar teknis bangunan/struktur yang akan dibangun
oleh pelaksana konstruksi sesuai dengan hasil diskusi dari pemberi tugas, tim
teknis dan stakeholder terkait yang merupakan kesepakatan yang harus
dipenuhi. Gambar rencana teknis bangunan lengkap disertakan saat
mengajukan laporan akhir. Gambar rencana teknis bangunan lengkap
diserahkan sebanyak 5 (lima ) buku.

7. Gambar A0 berbingkai
Merupakan gambar pilihan yang ada dalam DED penataan kawasan pantai
panjang yang dicetak besar dan dibingkai dengan tujuan sebagai media
pemapar. Gambar yang diperbesar dan dibingkai merupakan visualisasi
representatif yang bisa berupa peta tematik, tampak 3 dimensi desain
bangunan kepariwisataan dan sebagainya.

8. Laporan Rapat dan Koordinasi Pembahasan


Merupakan laporan dari rapat – rapat dan koordinasi selama penyusunan
dokumen perencanaan. Laporan berisi notulensi, dokumentasi dan daftar
hadir peserta rapat dan koordinasi. Laporan Rapat dan koordinasi

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 136 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
pembahasan disertakan saat mengajukan draft laporan Akhir. Laporan
Rapat dan koordinasi pembahasan diserahkan sebanyak 5 (lima) buku.

9. Flashdisk
Merupakan media penyimpanan yang berisikan kompilasi softcopy seluruh
produk DED penataan kawasan Pantai Panjang yang dihasilkan, Flashdisk
8GB diserahkan saat penyerahan laporan Akhir sejumlah 5 (Lima) buah

E.5. URAIAN TUGAS TENAGA AHLI DAN STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANA

E.5.1. URAIAN TUGAS TENAGA AHLI


Untuk mencapai maksud dan tujuan yang telah dibahas pada bagian sebelumnya,
dibentuk sebuah tim yang terdiri dari 2 (dua) orang tenaga ahli dengan kualifikasi
dan uraian tanggung jawab sebagai berikut:

1. Ketua Tim (Ahli Arsitek Madya)


Team Leader yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan ini adalah seorang
tenaga ahli dengan kualifikasi minimal sarjana strata-1 Teknik Arsitektur,
memiliki Sertifikasi Keahlian Ahli Arsitektur Madya) dari institusi / lembaga yang
telah diakui oleh Pemerintah dan mempunyai pengalaman 5 (Lima) tahun di
bidangnya.
Tugas dari team leader adalah bertanggung jawab pada hal-hal sebagai
berikut :
 Mengendalikan seluruh proses pekerjaan Penataan Kawasan sesuai
dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.
 Mengkoordinasikan dan mengendalikan semua personil yang terlibat
dalam pekerjaan ini sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik
serta mencapai hasil yang diharapkan.
 Berkoordinasi dengan pemberi tugas, tim teknis dan stakeholder terkait
terkait dengan tanggung jawab DED Penataan Kawasan Pantai Panjang:

Dan sebagai ahli Arsitektur tugas utamanya adalah :


 Memberi input design arsitek

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 137 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
 Memecahkan problem design arsitektural
 Mengadakan review dan diskusi
 Mendisain, menghitung secara konstruksi pada proses perencanaan dan
proses pelaksanaan
 Mengumpulkan serta mengolah data dan informasi lapangan
 Membuat gambar skematik sistem struktur yang akan digunakan
 Pekerjaan Grading, Pekerjaan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan lahan
agar siap untuk Dibangun

2. Ahli Sipil (Ahli Bangunan Gedung Muda)


Tenaga Ahli Sipil yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan ini adalah
seorang tenaga ahli dengan kualifikasi minimal sarjana strata-1 Teknik Sipil,
memiliki Sertifikasi Keahlian Ahli Teknik Bangunan Gedung Muda) dari institusi/
lembaga yang telah diakui oleh Pemerintah dan mempunyai pengalaman 4
(Empat) tahun di bidangnya.

Adapun tugas tenaga ahli Sipil adalah :


 membantu team leader dalam pelaksanaan pekerjaan DED Penataan
Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu terkait dengan pekerjaan
perencanaan struktur serta memberikan masukan kepada tenaga ahli
lainnya yang terkait.
 Bertanggung jawab atas hasil pekerjaan pada bidangnya
 Mengidentifikasi dan merumuskan kembali ketentuan-ketentuan teknis
perencanaan bangunan
 Mengupayakan dan menyimpulkan hasil pengujian hasil survey tanah.
 Ikut serta Membuat konsep dasar, outline sistem struktur, rencana struktur
serta penghitungan awal struktur.
 Membuat gambar kerja, rencana kerja, merumuskan syarat-syarat
pelaksanaannya serta mengidentifikasi bill of quantity (BQ).
 Melakukan prakiraan biaya awal dan penghitungan Rencana Anggaran
Biaya (RAB),

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 138 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
 Menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB).
 Menentukan material yang dipakai untuk ruang dalam maupun luar
 Memberikan Arahan dan Informasi terkait penyusunan RAB kepada
Estimator.
 Konsultasi dengan Dinas Teknis Bangunan atau Unit Satuan Kerja terkait
lainnya
 Membuat konsep & gambar perencanaan
 Membantu mengembangkan konsep preliminary desain Struktur Atas.
 Melakukan pengembangan perencanaan Struktur atas bangunan sampai
diselesaikannya gambar desain rinci yang constructable tetapi dalam
alokasi budget pembangunan.
 Membantu menyusun Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
 Berkoordinasi dengan disiplin lainnya yang terkait dengan proyek
ini sehingga menghasilkan keluaran desain yang terpadu.

3. Ahli Tata Lingkungan (Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota Muda)


Tenaga Ahli Tata Lingkungan yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan ini
adalah seorang tenaga ahli dengan kualifikasi minimal sarjana strata-1
Planologi/ Perencanaan Wilayah dan Kota, memiliki Sertifikasi Keahlian Ahli
Perencanaan Wilayah dan Kota Muda) dari institusi / lembaga yang telah
diakui oleh Pemerintah dan mempunyai pengalaman 4 (Empat) tahun di
bidangnya.
Adapun tugas tenaga ahli Tata Lingkungan adalah membantu team leader
dalam pelaksanaan pekerjaan DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota
Bengkulu terkait dengan pekerjaan perencanaan kawasan serta memberikan
masukan kepada tenaga ahli lainnya yang terkait.

E.5.2. URAIAN TUGAS ASISTEN TENAGA AHLI DAN TENAGA PENDUKUNG


Untuk membantu Tenaga Ahli dalam proses pekerjaan ini, maka akan dilibatkan
Asiten Tenaga Ahli dan beberapa orang Tenaga Pendukung, yakni :

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 139 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

 Asisten Ahli Arsitektur


 Pendidikan : S1 Teknik Arsitektur
 Pengalaman : minimal 2 thn
 Bertugas membantu Team leader/Ahli Arsitektur dalam DED penataan
Kawasan Pantai Panjang dan juga sebagai CAD Operator

 Surveyor/ Juru Ukur


 Pendidikan : S1 sarjana semua jurusan
 Pengalaman : minimal 2 thn

 Administrasi & Keuangan.


 Pendidikan : S1 sarjana semua jurusan
 Pengalaman : minimal 2 thn

E.5.3. STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANA


Untuk mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan di dalam pekerjaan,
diperlukan susunan organisasi dan program kerja pelaksanaan secara terperinci
agar didapatkan suatu sistem kegiatan yang efektif dan efisien dengan hasil yang
maksimal. Hal ini untuk memudahkan pembagian tugas dan tanggung jawab internal
dalam Tim Pelaksana, sekaligus untuk memudahkan pendelegasian tugas dan
komunikasi antara pihak pemberi tugas dengan tim pelaksana pekerjaan.
Komunikasi ini penting untuk memonitor proses dan hasil kerja tim pelaksana
berdasarkan Kerangka Acuan Kerja yang telah disepakati bersama.
Organisasi pelaksanaan pekerjaan Konsultan disusun dengan tujuan pokok antara
lain:
o Terciptanya koordinasi yang baik antara Pemberi Tugas, Pemimpin Kegiatan
dan pihak terkait lainnya.
o Terciptanya koordinasi yang baik antar Tim Konsultan, agar pekerjaan dapat
benar-benar dilaksanakan secara efektif, efisien, dengan berpedoman pada
rencana/schedule ketat yang telah dibuat, agar pekerjaan dapat diselesaikan
tepat pada waktunya dan dapat memenuhi persyaratan teknis yang
ditetapkan.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 140 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS
o Terciptanya Koordinasi yang sinergis antara Tim Pelaksana dengan Tim Teknis
dalam pelaksanaan pekerjaan.

Sejumlah tim pelaksana yang nantinya akan bekerjasama untuk menyelesaikan


pekerjaan ini sesuai dengan jadwal dan kebutuhan substansial yang dibutuhkan. Tim
pelaksana pekerjaan tersebut terdiri dari ahli-ahli dari berbagai disiplin ilmu
(multidisiplin) yang telah lama menekuni bidangnya masing-masing dengan
pengalaman yang cukup lama. Semua tim pelaksana memiliki kemampuan di dalam
melaksanakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan berdasarkan Kerangka
Acuan Kerja. Untuk mengorganisir tim pelaksana dibutuhkan struktur organisasi yang
jelas. Susunan yang diusulkan dan diagram organisasi pelaksana pekerjaan ini
adalah seperti pada Gambar berikut.

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 141 | P a g e


DOKUMEN USULAN TEKNIS

TEAM LEADER
Ir. JOKO BOEDIONO.

AHLI TATA LINGKUNGAN


AHLI SIPIL
(PERENCANAAN WILAYAH)
RATMOKO BAYU AJI, ST.
DEDI NUR URIP, ST

ASS. AHLI ARSITEKTUR


YANTO SISWANTO, ST

ADMINISTRASI &
SURVEYOR
KEUANGAN
ADITYA SETIAWAN, ST.
BAGUS SETYO LAKSONO, ST

Gambar E.10. Struktur Organisasi Konsultan

DED Penataan Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu E - 142 | P a g e