Anda di halaman 1dari 6

OBAT – OBAT ANTIHIPERTENSI

Lini pertama : diuretik, beta blocker, ACE-inhibitor, ARB, dan antagonis kalsium

Lini kedua : penghambat saraf adrenergik, agonis alfa 2 sentral, dan vasodilator

DIURETIK

Diuretik bekerja dengan :

 meningkatkan ekskresi natrium, air dan klorida sehingga menurunkan volume darah dan
cairan ekstra seluler  penurunan curah jantung dan tekanan darah
 menurunkan resistensi perifer  dengan penurunan Na diikuti penghambatan influks
kalsium  hipotensi
 kasus hipertensi ringan – sedang

Golongan Tiazid

Hidroklorotiazid, bendroflumetiazid, klorotiazid, diuretik lain yang memiliki gugus aryl


sulfonamida seperti indapamid dan klortalidon; bekerja dengan menghambat transport
bersama Na-Cl di tubulus distal ginjal, sehingga ekskresi Na dan Cl meningkat.

GOLONGAN TIAZID
Farmakokinetika Efek Samping Penggunaan
Bendroflumetiazid dengan Kurang efektif pada gagal  Pasien hipertensi dengan
masa paruh 3 jam ginjal, memperburuk fungsi kadar renin rendah
HCT dengan masa paruh 10 ginjal, pemakaian lama  Obat tunggal dalam
– 12 jam menyebabkan hiperlipidemia hipertensi ringan – sedang,
(peningkatan kolesterol, LDL dalam kombinasi dengan
dan trigliserida) obat antihipertensi lain bila
Indapamid 15 – 25 jam Masih efektif terhadap gagal penggunaan diuretik saja
Interaksi obat dengan NSAID ginjal, netral pada tidak cukup
dimana NSAID menghambat metabolisme lemak, regresi  Jarang menyebabkan
sintesa prostaglandin yang hipertrofi ventrikel hipotensi ortostatik,
berperan penting dalam ditoleransi dengan baik,
pengaturan aliran darah harga murah, efek jangka
ginjal dan transport air dan panjang, satu kali sehari
garam  Kombinasi meningkatkan
efektivitas antihipertensi
lain dengan mekanisme
berbeda, mencegah retensi
cairan oleh anti hipertensi
lain
 Hipokalemia, berbahaya
pada pasien yang
mendapatkan digitalis
(kombinasikan dengan
obat diuretik hemat K,
atau dengan ACE-i, atau
berikan dalam dosis
rendah
 Hiponatremia,
hipomagnesemia,
hiperkalsemia
 Menghambat ekskresi
asam urat dari ginjal
(mencetuskan serangan
gout)
 Hiperglikemia pada
pasien DM karena
mengurangi sekresi
insulin.

GOLONGAN DIURETIK KUAT


Mekanisme Kerja Farmakokinetik Jenis Obat Efek samping
Diuretik kuat bekerja Onset kerja cepat Furosemid, Hiperkalsiuria
di ansa Henle degan efek diuretik torasemid, sehingga
asenden bagian epitel yang lebih kuat. bumetanid, dan asam menurunkan
tebal dengan cara Waktu paruh pendek etakrinat konsentrasi kalsium
menghambat sehingga perlu darah
kotransport Na, K, pemberian 2 atau 3
Cl; menghambat kali sehari.
resorpsi air dan
elektrolit
Jarang digunakan
sebagai obat
antihipertensi kecuali
pada pasien gagal
ginjal dan gagal
jantung

GOLONGAN DIURETIK HEMAT KALIUM


Mekanisme Kerja Farmakokinetik Jenis Obat Efek samping
Bekerja dengan Onset kerja cepat Amilorid, triamteren, Hiperkalemia jika
diuretik lain untuk degan efek diuretik spironolakton dikombinasikan
mencegah yang lebih kuat. dengan ACE-i, ARB,
hipokalemia Waktu paruh pendek beta bloker, atau
sehingga perlu dengan suplemen
pemberian 2 atau 3 kalium; diberikan
kali sehari. pada pasien gagal
ginjal.

Spironolakton untuk ES Spironolakton :


hiperaldosteronisme ginekomastia,
primer (antagonis mastodinia,
aldosteron); pasien gangguan menstruasi
dengan dan penurunan libido
hiperurisemia, pada pria
hipokalemia dan
intoleransi glukosa;
tidak mempengaruhi
kadar kalsium dan
gula darah

Obat Dosis (mg) Pemberian Sediaan


Diuretik Tiazid
Hidroklorotiazid 12,5 – 25 1x sehari Tab 25 dan 50 mg
Klortalidon 12,5 – 25 1x sehari Tab 50 mg
Indapamid 1,25 – 2,5 1x sehari Tab 2,5 mg
Bendroflumetiazid 2,5 – 5 1x sehari Tab 5 mg
Metolazon 2,5 – 5 1x sehari Tab 2,5 ; 5 dan 10
mg
Metolazon rapid 0,5 – 1 1x sehari Tab 0,5 mg
acting
Xipamid 10 - 20 1x sehari Tab 2,5 mg
Diuretik Kuat
Furosemid 20 – 80 2 – 3x sehari Tab 40 mg, ampul 20
mg
Torsemid 2,5 -10 1 – 2x sehari Tab 5, 10, 20, 100
mg; ampul 10mg/ml
(2 dan 5 ml)
Bumetanid 0,5 – 4 2 – 3x sehari Tab 0,5; 1 dan 2 mg
Asam etakrinat 25 - 100 2 – 3x sehari Tab 25 dan 50 mg
Dosis furosemid untuk gagal jantung dan gagal ginjal dapat ditingkatkan sampai 240mg/hari
Dosis torsemid untuk gagal jantung dapat ditingkatkan sampai 200mg/hari
Diuretik Hemat Kalium
Amilorid 5 – 10 1 – 2x sehari
Spironolakton 25 – 100 1x sehari Tab 25, 100mg
Traimteren 25 - 300 1x sehari Tab 50, 100mg
Dosis spironolakton untuk asites refrakter dapat ditingkatkan sampai 400mg/hari
Penghambat Sistem Adrenergik

Penghambat adrenergik atau adrenolitik ialah golongan obat yang menghambat perangsangan
adrenergik. Berdasarkan tempat kerjanya, golongan obat ini dibagi atas antagonis
adrenoseptor dan penghambat saraf adrenergik.
1. Antagonis adrenoseptor menduduki reseptor sehingga menghalanginya untuk berikatan
dengan obat adrenergik sehingga menghalangi kerja obat pada sel efektornya. Akibatnya,
sel efektor kurang responsif terhadap perangsangan saraf adrenergik maupun obat
adrenergik eksogen.
2. Penghambat saraf adrenergik mengurangi respon sel efektor terhadap perangsangan saraf
adrenergik tetapi tidak terhadap obat adrenergik eksogen (mengganggu pelepasan dan
penyimpanan norepinefrin).
Penghambat Adrenoseptor Beta
Mekanisme Penggunaan dan Jenis Obat Efek samping,
keuntungan perhatian dan KI
Hambatan reseptor Keuntungan : tidak Atenolol : Bradikardia, blokade
beta 1 : penurunan menimbulkan kardioselektif, AV, hambatan nodus
frekuensi denyut hipotensi ortostatik penetrasi ke SSP SA, menurunkan
jantung dan dan tidak minimal, pemberian kekuatan kontraksi
kontraktilitas menimbulkan retensi sekali sehari. miokard,
miokard, hambatan air dan garam. memperberat gejala
sekresi renin di sel Metoprolol kurang angina varian,
jukstaglomerular, selektif dari atenolol rebound
efek sentral yang hypertension jika
mempengaruhi Labetalol dan penghentian terapi
aktivitas saraf karvedilol : efek mendadak; depresi,
simpatis, perubahan vasodilatasi karena mimpi buruk,
sensitivitas selain menghambat halusinasi (beta
baroreseptor, reseptor beta, obat ini bloker lipofilik
perubahan aktivitas juga menghambat seperti, propranolol
neuron adrenergik reseptor alfa dan oksprenolol);
perifer dan (meningkatkan efek gangguan fungsi
peningkatan antihipertensi dan seksual (beta bloker
biosintesa PGI mengurangi efek non selektif);
samping rasa dingin memperburuk fungsi
di ext., tapi timbul ginjal; menutup
hipotensi postural) gejala hipoglikemia
(tremor, takikardi,
palpitasi) akibat
penghambatan kerja
simpatis.

KI : asma bronkial,
blokade AV derajat 2
dan 3, sindrom sinus
sakit, gagal jantung
yang belum stabil
Penggunaan :
Hipertensi ringan –
sedang pada pasien
muda, pasien dengan
PJK khususnya
sesudah IMA, pasien
dengan aritmia
supraventrikular dan
ventrikel tanpa
kelainan konduksi,
pasien muda dengan
sirkulasi
hiperdinamik, pasien
yang memerlukan
antidepresan trisiklik
atau antipsikotik.

Pemilihan obat
ditentukan dari
kardioselektivitas,
aktivitas
simpatomimetik
intrinsik dan aktivitas
stabilisasi membran.
Pasien DM atau
gangguan sirkulasi
perifer maka lebih
baik diberi beta 1
bloker selektif karena
efek hipoglikemia
ringan dan tidak
menghambat reseptor
beta 2 di otot rangka