Anda di halaman 1dari 43

Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

DKK 2

MELAKSANANAKAN PEMBERIAN OBAT KEPADA KLIEN/PASIEN

Pada modul ini siswa akan mempelajari tentang pemberian obat pada klien/
pasien. Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu tugas yang
penting bagi tenaga kesehatan, dimana obat adalah alat utama terapi yang
digunakan dokter untuk mengobati pasien yang memiliki masalah kesehatan.
Walaupun obat menguntungkan pasien dalam banyak hal, namun beberapa obat
yang berbahaya menimbulkan efek samping yang serius atau berpotensi
menimbulkan efek samping yang berbahaya bila tidak tepat pemberiannya. Oleh
karena itu sebagai tenaga kesehatan bertanggung jawab memahami kerja obat dan
efek samping yang ditimbulkan. Untuk mengurangi efek yang tidak diinginkan,
petugas kesehatan dituntun untuk memberikan obat dengan tepat, memantau
respon pasien dan membantu pemberian obat yang tepat, benar, aman dan
berdasarkan pengetahuan.

Selanjutnya pada pembahasan modul ini akan disampaikan lebih terinci


mengenai pemberian obat kepada klien / pasien sesuai dengan kurikulum SMK
Perawat Kesehatan yang berlaku. Dasar kompetensi kejuruan melaksanakan
pemberian obat pada klien pasien, memuat 2 kompetensi dasar yang meliputi:

1. Menjelaskan Cara-cara Pemberian Obat Kepada Pasien


2. Melakukan Pemberian Obat Kepada Pasien Sesuai Resep Dokter

Setelah mempelajari modul ini diaharapkan siswa mampu melaksanakan


tindakan dalam praktik pemberian obat kepada klien/ pasien dengan dibekali
pengetahuan tentang konsep obat. Selain itu siswa diharapkan mampu :

1. Menjelaskan konsep obat


2. Menguraikan cara pemberian obat melalui mulut: per oral, sub lingual,
dan bukal
3. Menjelaskan cara pemberian obat melalui kulit yaitu secara topikal
4. Menguraikan cara pemberian obat melalui membran mukosa yaitu
mukosa mata, hidung, dan telinga, serta rektum/ anus
5. Mempraktekkan cara pemberian obat melalui suntikan/ parenteral
meliputi: injeksi intra muscular, intra vena, sub cutan dan intra cutan.
DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

1
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

2.1 Menjelaskan Cara-cara Pemberian Obat Kepada Pasien

A. Konsep Obat
Obat adalah salah satu dari serangkaian terapi yang diberikan kepada
pasien guna menunjang proses penyembuhan pasien. Meski demikian
pemberian obat harus tetap memperhatikan beberapa aturan atau prinsip,
agar efek terapi obat yang diberikan tepat dan aman kepada pasien.
Sebagai tenaga kesehatan utamanya perawat kesehatan yang senantiasa
disamping pasien selama proses perawatan disarana pelayanan kesehatan,
tentulah harus mampu memahami dan melaksanakan aturan dan prinsip
dalam pemberian obat kepada pasien. Obat adalah senyawa atau campuran
senyawa untuk mengurangi gejala dan atau menyembuhkan penyakit
(Ramali, 2000).
Sedang menurut (WHO) obat adalah zat kimia yang digunakan untuk
mengubah/ memeriksa sistem tubuh, baik dalam keadaan fisiologis maupun
patologis.
Tujuan pemberian obat adalah :
1. Menyembuhkan penyakit
2. Mencegah/ mengurangi/ menghilangkan rasa nyeri
3. Menimbulkan perasaan ngantuk / penenang
4. Sebagai stimulan
5. Sebagai pencahar
Berdasarkan bahannya obat dibedakan menjadi :
1. Obat keras / daftar (G) artinya berbahaya : obat ini hanya dijual
diapotek saja dan harus dengan resep dokter, tandanya terdapat
lingkaran bulat merah
2. Obat keras bebas terbatas : tandanya lingkaran biru dengan garis
tepi berwarna hitam
3. Narkotika : obat golongan ini pembelian dan pemberiannya harus
atas delegasi dokter karena dapat menimbulkan ketergantungan dan
disalah gunakan.
4. Obat bebas : obat ini dapat dibeli tanpa resep dokter, tandanya
lingkaran hiaju dengan garis tepi warna hitam

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

2
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

Pada umumnya setiap obat yang masuk kedalam tubuh akan mengalami
empat proses, yaitu :
Absorbsi merupakan proses perpindahan obat dari pintu masuk menuju
sirkulasi darah kecuali obat yang dimasukkan scara intravena.
Distribusi, setelah obat diabsorbsi atau diinjeksi kedalam pembuluh darah,
obat akan diedarkan keseluruh tubuh oleh sistem sirkulasi.
Metabolisme/ Biotransformasi, sebagian besar obat setelah mengalami
absorbsi dan didistribusi akan mengalami proses pengubahan metabolik
atau bio transformasi. Obat akan di ubah menjadi bentuk kurang aktif.
Ekskresi, merupakan proses fisiologi dimana obat dan metabolik
dikeluarkan dari tubuh.
Bentuk sediaan obat bermacam-macam, serta disesuaikan dengan
berbagai kebutuhan. Bentuk obat yang sering dijumpai meliputi:
1. Kapsul : bentuk padan dan bersalut untuk pemberian oral. Obat
dapat bebentuk bubuk
2. Puyer : obat yang ditumbuk halus
3. Eksilir : cairan jernih berisi air dan atau alkohol biasanya ditambah
pemanis. Contoh : borak gliserin
4. Suspensi : partikel obat yang dibelah sampai halus dan larut dalam
media cair bila dibiarkan partikel obat akan berkumpul dibawah
5. Sirup : obat yang larut dalam obat pekat, ada perasa sehingga
terasa enak.
6. Pil : bentuk obat padat berisi satu atau lebih, obat ukurannya kecil,
bentuk bulat, lonjong, dan silinder
7. Tablet : bentuk obat padat ukurannya lebih besar dari pil mempunyai
alur
8. Tablet isap : berasa, bahan perekat cair, larut dalam mulut untuk
melepas obat
9. Obat gosok : preparat biasanya mengandung akhohol
10. Lotion : obat dalam cairan suspensi yang dioles pada kulit untuk
melindunginya

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

3
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

B. Pemberian Obat
1. Pemberian Obat Melalui Mulut
Pemberian obat oral adalah suatu tindakan untuk membantu
proses penyembuhan dengan cara memberikan obat-obatan melalui
mulut sesuai dengan program pengobatan dari dokter. Pemakaian obat
melalui oral merupakan cara yang mudah,murah aman dan nyaman
bagi pasien. Berbagai bentuk obat dapat diberikan secara oral baik
dalam bentuk tablet, sirup, kapsul atau puyer. Untuk membantu
abrosbsi, maka pemberiannya dapat disertai dengan pemberian
setengah gelas air atau cairan yang lain.
Tujuan pemberian obat melalui oral:
1) Memberikan efek sistemik : obat masuk kedalam pembuluh
darah dan beredar ke seluruh tubuh setelah terjadi absorbsi
disepanjang saluran gastrointestinal
2) Ada obat-obat tertentu yang memberikan efek lokal dalam usus
atau lambung, karena obat ini tidak larut/ tidak dapat diabsorbsi
dalam rute ini.
3) Pasien mendapatkan pengobatan sesuai program pengobatan
dokter
4) Memperlancar proses pengobatan dan menhindari kesalahan
dalam pemberian obat
5) Mencegah mengobati dan mengurangi rasa sakit sesuai dengan
efek terapi dari jenis obat
6) Proses reabsorbsi lebih lambat sehingga bila timbul efek
samping dari obat tersebut dapat segera diatasi
7) Menghindari pemberian obat yang menyebabkan kerusakan kulit
dan jaringan

Indikasi pemberian obat melalui oral :

1) Pada pasien yang tidak membutuhkan absrorbsi obat secara


cepat
2) Pada pasien yang tidak mengalami gangguan pencernaan

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

4
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

Sedangkan kontraindikasi pemberian obat melalui oral adalah


tidak dapat diberikan pada pasien yang mengalami kesulitan
menelan, mual atau muntah. Peradangan usus atau penurunan
peristaltik usus. Pasien yang akan menjalani pembedahan saluran
pencernaan, dan penurunan kesadaran.

Kelebihan pemberian obat melalui oral :

- Relatif aman
- Praktif dan ekonomis
- Meminimalkan ketidaknyamanan pada klien dan dengan efek
samping kecil

Kekurangan pemberian obat melalui oral :

- Iritasi pada saluran cerna


- Efek yang ditimbulkan lambat (tidak bermanfaat diberikan pada
pasien muntah dan pasien yang tidak kooperatif)
- Rasa tidak enak
- Absorbsi obat tidak teratur, kerja obat oral lebih lambat dan
efeknya lebih lama

Macam-macam pemberian obat melalui oral :

a. Pemberian obat sub lingual


Pemberian obat sub lingual adalah memberikan obat dengan cara
meletakkan obat dibawah lidah. Dari selaput dibawah lidah
langsung ke aliran darah, sehingga efek yang dicapai lebih cepat.
Tujuan pemberian obat sub lingual adalah :
1. Mencegah efek lokal dan sistemik
2. Memperoleh kerja obat yang lebih cepat
3. Menghindari kerusakan obat oleh hati

Kelebihan pemberian obat sub lingual:

- Obar cepat, tidak diperlukan kemampuan menelan


- Kerusakan obat disaluran cerna dan metabolisme di dinding usus
dan hati dapat dihindari
DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

5
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

Kekurangan pemberian obat sub lingual:

- Absorsi tidak adekuat


- Kepatuhan pasien kurang
- Sulit mencegah pasien menelan obat
b. Pemberian obat secara bukal
Pemberian obat dengan cara bukal adalaah memberikan obat
dengan cara meletakkan antara gigi dan mukosa pipi bagian
dalam. Jenis obat yang digunakan biasanya golongan preparat
hormon dan enzim. Klien harus diajarkan untuk menempatkan
dosis obat secara bergantian di pipi kanan dan kiri supaya
mukosa tidak iritasi.
Tujuan pemberian obat secara bukal :
1. Percepat absorbsi dalam aliran darah
2. Aman, tidak merusak jaringan kulit
3. Pasien tidak stress

Kelebihan penggunaan obat melalui bukal:

- Onset cepat
- Mencegah FPE (first-pass effect)
- Tidak diperlukan kemampuan menelan

Kekurangan penggunaan obat melalui bukal:

- Absorbsi tidak adekuat


- Kepatuhan pasien kurang
- Mencegah pasien menelan

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

6
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

Tabel 2.1.1 SOP Pemberian Obat Melalu Mulut


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Persiapan Baki berisi:
Alat 1. Obat dalam tempatnya
2. Air minum
3. Buah pisang (bila pasien terbiasa minum obat
dengan buah)
4. Tisu dalam tempatnya
5. Sarung tangan bila perlu
Prosedur 1. Cek program pengobatan dengan prinsip 5 benar
Pelaksanaan 2. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan
3. Jelaskan prosedur dan persetujuan pasien
4. Tanyakan apakah pasien ingin memegang obat
ditangannya sendiri atau dengan bantuan petugas
5. Tawarkan air putih segelas atau menggunakan
makanan yang lain
6. Berikan obat dengan benar
a. Untuk obat yang diberikan secara sublingual,
minta pasien untuk meletakkan obat dibawah
lidah dan biarkan obat larut seluruhnya
b. Untuk obat puyer, campurkan obat puyer dengan
air putih dalam sendok dan berikan kepada
pasien untuk diminum
c. Untuk obat pil atau kapsul, instruksikan pasien
untuk menelan dan segera minum air putih
7. Jika pasien susah menelan obat, tempatkan cangkir
berisi obat pada bibir dan denga perlahan
memasukkan setiap obat kedalam mulut pasien
jangan tegesa-gesa
8. Jika obat jatuh kelantai, buang dan siapkan lagi
9. Rapikan alat
10. Lepas sarung tangan dan cuci tangan
11. Dokumentasi

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

7
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

2. Pemberian Obat Melalui Kulit

Berbagai macam bentuk obat dapat diberikan pada kulit pasien


untuk beberapa tujuan. Meskipun setiap obat dioleskan dengan cara
kusus, namun harus waspada bahwa pemakaian tersebut dapat
menyebabkan efek sistemik atau lokal. Ketika merawat luka terbuka
menggunakan tehnik steril sangatlah penting, obat topikal harus dioleskan
dengan menggunakan sarung tangan, oleh karena itu pada saat
memberikan obat topikal harus didasari dengan pengetahuan dan
pemahaman yang benar. Fungsi kulit merupakan pelindung jaringan
dibawahnya dan sebagai organ perasa, yang terdiri dari 2 lapis yaitu
epidermis dan dermis. Lapisan epidermis merupakan lapisan epitel yang
bertanduk tidak mengandung pembuluh darah, ketebalannya tidak sama
dan terdapat 3 kelenjar yaitu kelenjar sebum, kelenjar keringat dan
kelenjar ceruminosa. Pemberian obat secara topikal kulit obat diserap
melalui kelenjar sebum.

Pemberian obat topikal adalah pemberian obat yang digunakan untuk


menimbulkan pengaruh langsung pada bagian tubuh yaitu melalui kulit.

Tujuan pemberian obat topikal kulit adalah:

1. Mempertahankan hidrasi permukaan kulit


2. Melindungi bagian atas kulit
3. Mengurangi iritasi kulit lokal
4. Membuat anestesi lokal
5. Mengobati infeksi, iritasi dan abrasi serta gatal

Cara pemberian obat topikal kulit dapat digosokkan, ditepukkan,


disemprotkan dan dioleskan.

Macam obat topikal kulit adalah:

- Gel/ jelly : obat semi padat yang jernih dan tembus cahaya,
mencair jika dioleskan
- Cream : obat semi padat
- Ointment/ salep : obat semi padat untuk kulit/ selaput lendir

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

8
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

- Pasta : seperti ointment tetapi lebih tebal dan lengket


- Liniment (obat gosok) : mengandung minyak, alkhohol atau
pelembut sabun
- Lotion : obat dalam cairan suspensi untuk kulit
- Serbuk : obat dalam bentuk butiran serbuk/ tabur
- Spray : larutan obat yang dapat disemprotkan pada kulit berupa
partikel cairan yang sangat halus
- Koyo : plaster berisi sediaan obat digunakan dengan
menempelkan ke permukaan kulit

Kelebihan pemberian obat topikal melalui kulit:

1. Efek lokal, efek samping sistemik minimal


2. Mencegah FPE (fierst-pass effect)

Kekurangan pemeberian obat topikal melalui kulit:

1. Secara kosmetik kurang menarik (mengurangi penampilan)


2. Absorbsi tidak menentu

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

9
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

Tabel 2.1.2 SOP Pemberian Obat Melalui Kulit


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Persiapan 1. Obat topikal yang diresepkan (lotion, krim, aerosol,
Alat spray, serbuk, koyo)
2. Bak instrumen berisi: kasa steril, pinset anatomi,
kapas lidi dan sarung tangan
3. Cairan pencuci steril
4. Plester dan gunting
5. Perlak pengalas
6. Bengkok

Prosedur 1. Tinjau kembali program terapi dan pengobatan


Pelaksanaan 2. Jelaskan prosedur dan persetujuan pasien
3. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan
4. Posisikan pasien nyaman dan area yang akan diberi
obat terpapar petugas
5. Perhatikan kondisi kulit pasien, bersihkan area yang
sakit dan keringkan
6. Jika kulit sangat kering dan mengelupas, oleskan obat
topikal sewaktu kulit masih lembab
7. Letakkan obat pada sarung tangan (jika diindikasikan)
8. Oleskan obat topikal pada permukaan kulit, jangan
menggosok atau melakukan masase salep pada kulit
9. Tutup salep dengan kasa steril dan plester secara
aman
10. Jika obat dalam bentuk spray aerosol (semprot):
a. Kocok botol dengan cepat
b. Baca label sesuai dengan jarak yang dianjurkan
c. Jika leher atau dada atas terkena spray beritahu
pasien untuk memalingkan wajah menjauhi spray
d. Semprotkan obat perlahan dan merata
11. Jika bentuk obat lotion mengandung suspensi:
a. Kocok botol secara cepat

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

10
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

b. Oleskan sedikit lotion pada kasa steril lalu usapkan


secara merata mengikuti arah pertumbuhan rambut
kulit
12. Jika obat dalam bentuk serbuk:
a. Pastikan bahwa permukaan kulit seluruhnya kering
b. Taburi area kulit secara lembut hingga area kulit
tertutup dengan lapisan serbuk yang lembut dan
tipis
c. Tutup area kulit dengan membalutnya dengan
kasa/ verban (sesuai indikasi)
13. Rapikan pasien dan alat
14. Lepas sarung tangan, cuci tangan dan
dokumentasikan

3. Pemberian Obat Melalui Membran Mukosa


a. Pemberian obat melalui mata
Mata adalah organ yang sangat sensitif. Oleh karena itu harus
menghindari memberi obat langsung pada permukaan kornea mata.
Tujuan pemberian obat topikal mata :
1) Digunakan untuk mendilatasi pupil pada pemeriksaan struktur
dalam mata
2) Melemahkan otot lensa mata pada pengukuran refraksi lensa
3) Digunakan untuk menghilangkan iritasi lokal
4) Meminyaki kornea dan konjungtiva
5) Sebagai terapi pengobatan

Indikasi pemberian : mata merah akibat iritasi ringan yang dapat


disebabkan oleh debu, serangan sinar matahari, pemakaian lensa
kontak, alergi atau sehabis berenang, Infeksi mata atau konjungtivitis

Kontra indikasi : pada bayi dan anak, kecuali dalam pengawasan


dan nasehat dokter

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

11
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

Efek samping obat tetes mata dan salep untuk mta adalah:
penglihatan kabur, nyeri pada mata, iritasi atau infeksi mata, sakit
kepala, alergi kontak.

Tabel 2.1.3 SOP Pemberian Obat Melalui Mata

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


Persiapan 1. Botol obat dengan penetes steril atau salep
Alat dalam tube
2. Kapas steril atau tisu
3. Kapas basah
4. Baskom cuci dengan air hangat
5. Kasa steril dan plester
6. Sarung tangan sekali pakai
7. Bengkok
Prosedur 1. Tinjau nama obat, dosis, waktu pemberian,
Pelaksanaan rute dan dosis
2. Cuci tangan dan pakai sarung tangan
3. Jelaskan prosedur dan persetujuan pasien
4. Minta pasien berbaring dengan leher ekstensi
5. Pegang kapas/ tisu dengan tangan
nondominan pada tulang pipi pasien dibagian
bawah kelopak mata
6. Dengan kapas/ tisu dibawah kelopak mata
bawah, tekan perlahan bagian bawah dengan
ibu jari atau jari telunjuk diatas orbita
7. Minta pasien untuk melihat ke atas
8. Berikan tetesan mata dengan tangan dominan
diletakkan pada dahi pasien, pegang ujung
penentes mata ± 2cm diatas kantung
konjungtiva
9. Teteskan sejumlah obat (sesuai dosis)
kedalam kantung konjungtiva, anjurkan pasien

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

12
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

tidak berkedip saat meneteskan


10. Minta pasien untuk menutup mata dengan
perlahan
11. Jika obat salep, pegang aplikator salep diatas
garis kelopak, berikan aliran tipis dispenajang
tepi dalam kelopak mata bawah pada
konjungtiva
12. Bersihkan dengan perlahan kelebihan obat
pada kelopak mata
13. Bila pasien mempunyai penutup mata berikan
dengan menempatkan pada mata yang sakit
14. Rapikan alat, lepas sarung tangan dan cuci
tangan
15. Dokumentasi

b. Pemberian Obat Melalui Hidung


Hidung adalah salah satu organ tempat keluar masukknya udara
dari paru-paru, selain itu juga mempunyai fungsi menyaring,
menghangatkan dan melembabkan udara. Pemberian obat pada
hidung adalah dengan cara memberikan tetes hidung yang dapat
dilakukan pada seseorang dengan peradangan (rhinitis) atau
nasofaring. Obat yang diberikan melalui tetesan hidung (inhalasi
hidung) diberikan dengan maksud menimbulkan efek obat dalam
mengerutkan selaput lendir yang bengkak.

Tujuan:
Untuk mengencerkan sekresi dan memfasilitasi drainase hidung,
mengobati infeksi dari rongga hidung dan sinus, meredakan gejala
sumbatan sinus dan flu, sebagai pengobatan asma
Indikasi:
Peradangan hidung atau nasofaring dan perdarahan hidung berat
(tampon epineprin)
Kontra indikasi:

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

13
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

Pada pasien yang menderita hipertensi, karena bisa menyebabkan


vasokonstriksi

Tabel 2.1.4 SOP Pemberian Obat Melalui Hidung


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Persiapan 1. Obat tetes hidung
Alat 2. Kapas basah dan kering/ tisu
3. Pincet
4. Sarung tangan steril
5. Bengkok
Prosedur 1. Tinjau nama obat, dosis, waktu pemberian, rute
Pelaksanaan dan dosis
2. Bantu pasien posisi telentang dan tanyakan
persetujuan pasien
3. Cuci tangan dan pakai sarung tangan
4. Inspeksi hidung dan sinus , palpasi adanya nyeri
tekan
5. Jelaskan mengenai prosedur dan sensasi yang
akan timbul seperti rasa terbakar/ tersengat pada
mukosa/ sensasi tersedak ketika obat menetes
ketenggorokan
6. Instruksikan pasien untuk menghembuskan udara
kecuali dikontra indikasikan
7. Instrksikan pasien bernafas melalui mulut
8. Pegang obat tetes ± 1 cm diatas nares dan
masukkan tetesan obat sesuai dosis melalui garis
tengan tulang ethmoidal
9. Minta pasien berbaring terlentang selama 5 menit
10. Lepas sarung tangan dan cuci tangan
11. Dokumentasi

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

14
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

c. Pemberian Obat Melalu Telinga


Obat tetes telinga pada umumnya diberikan pada gangguan infeksi
telinga khususnya pada telinga tengan (otitis media)
Tujuan:
1) Sebagai pengobatan, sebagai anestesi lokal
2) Membasmi mikroorganisme
3) Serangga yang masuk kelubang telinga hinggga mati

Indikasi:

1) Pasien kurang aktif dalam pendengarannya


2) Pasien yang mengalami gangguan seperti: kemasukan benda
asing
3) Pasien yang serumennya keras
4) Paasien yang mengalami peradangan, mengurangi/
menghilangkan rasa sakit

Efek samping : timbul bercak kemerahan, iritasailokal, rasa gatal.

Tabel 2.1.5 SOP Pemberian Obat Melalui Telinga


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Persiapan 1. Obat dalam tempatnya
Alat 2. Spekulum telinga
3. Pinset anatomi dalam tempatnya
4. Plester dan sarung tangan
5. Kasa, lidi kapas dan kapas
6. Bengkok
Prosedur 1. Tinjau kembali program pengobatan
Pelaksanaan 2. Jelsakan prosedur ke pasien dan persetujuan pasien
3. Cuci tangan dan kenakan sarung tangan
4. Kaji kondisi struktur tulang telinga luar dan salurannya
5. Bersihkan telinga bagian luar dengan mengunakan
kasa/ kapas dengan hati-hati
6. Minta pasien mengambil posisi miring dengan telinga
yang sakit berada diatas

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

15
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

7. Luruskan saluran telinga dengan menarik daun telinga


kebawah dan kebelakang (pada anak-anak) atau
keatas dan keluar (pada dewasa)
8. Masukkan tetesan obat sesuai dosis, pegang alat tetes
± 1 cm diatas saluran telinga
9. Pertahankan posisi miring pasien 2-3 menit tekan
secara lembut kulit penutup kecil telinga atau gunakan
kapas steril untuk menyumbat lubang telinga
10. Lepskan kapas dalam ± 5 menit
11. Buang kedalam bengkok, lepas sarung tangan dan
cuci tangan
12. Dokumentasi

d. Pemberian Obat Melalui Rektum (Anus)


Obat dalam bentuk cairan yang banyak diberikan melalui rektal
disebut enema. Obat dalam bentuk kapsul yang besar dan panjang
(supposutoria) juga dikemas untuk diberikan melalui anus/ rektum.
Hal yang perlu diperhatikan saat memberikan obat per rektal adalah:
1. Penempatan obat supposutoria dengan benar pada dinding
mukosa rektal melewati sfingter anal interna, sehingga obat tidak
akan keluar lagi
2. Pasien yang mengalami pembedahan atau perdarahan rektal
tidak boleh diberikan supposutoria
3. Supposutoria tidak boleh dipaksakan masuk kedalam massa
atau materi feses, jadi rektum dibersihkan dulu dengan
memberikan enema

Tujuan:

1. Memberikan efek lokal sistemik


2. Memberikan obat pada pasien yang tidak dapat menoleransi
obat oral

Keuntungan:

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

16
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

1. Tidak menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan bagian


atas
2. Obat tertentu dapat diabsorbsi dengan baik melalui dinding
permukaan rektal
3. Mempunyai tingkatan aliran darah yang besar
4. Pembuluh darah vena pada rektum tidak ditransportasikan
melalui liver

Tabel 2.1.6 SOP Pemberian Obat Melalui Rectum/ Anus


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Persiapan 1. Baki berisi obat supposutoria
Alat 2. Jelly pelumas
3. Sarung tangan
4. Kasa dan tisu dalam tempatnya
5. Duk
6. Bengkok
Prosedur 1. Tinjau ulang pemberian obat denga prinsip 5
Pelaksanaan benar
2. Jelaskan prosedur dan persetujuan pasien
3. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan
4. Minta pasien untuk posisi miring tau sims
dengan kaki atas fleksi ke depan
5. Pertahankan klien tertutup duk dengan hanya
area anal terpajan
6. Periksa kondisi anus eksternal dan palpasi
dinding rektal
7. Lepaskan supposutorian dari bungkus dan
beri pelumas pada sekitar ujung dengan jelly.
Beri pelumas sarung tangan pada jari telunjuk
tangan domonan
8. Minta pasien untuk menarik nafas perlahan
melalui mulut dan untuk merilekskan sfingter
anal (anjurkan tidak mengejan)

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

17
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

9. Regangkan bokong pasien dengan tangan


non dominan, dengan jari telunjuk tangan
dominan masukkan obat dengan perlahan.
Masukan selurh jari pada orang dewasa ± 7-8
cm dan ± 5 cm pada anak-anak
10. Tarik jari dan bersihkan area anal pasien
11. Instruksikan pasien untuk tetap berbaring
terlentang atau miring selama 5 menit
12. Lepas sarung tangan dan cuci tangan
13. Dokumentasi

4. Pemberian Obat Melalui Suntikan / Parenteral


Arti parenteral adalah suatau rute yang tidak melalui usus. Istilah
umum yang lain adalah injeksi atau obat suntik. Injeksi adalah sediaan
berupa larutan, emulsi atau suspensi dalam air atau ciaran pembawa
lain yang cocok, steril dan digunakan secara parenteral dengan merobek
kulit atau lapisan mukosa. Pemberian suntikan adalah prosedur invasif
yang melibatkan deposit obat melalui jarum steril yang dimasukkan
kedalam jaringan tubuh. Tehnik aseptik harus dipertahankan karena
pasien berisiko infeksi bila jarum menembus kulit.

Kelebihan rute parenteral adalah:


1. Bisa untuk pasien tidak sadar
2. Pasien sering muntah dan tidak kooperatif
3. Tidak dapat untuk obat yang mengiritasi lambung
4. Dapat menghindari kerusakan obat disaluran cerna dan hati, bekerja
cepat dan dosis ekonomis

Kekurangan rute parenteral:

1. Kurang aman karena jika nsudah disuntikkan kedalam tubuh tidak bisa
dikeluarkan lagi bila terjadi kesalahan
2. Tidak disukai pasien
3. Berbahaya (suntikan berhubungan dengan infeksi)
4. Perlu tenaga terlatih untuk melakukannya
DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

18
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

Pemberian obat pada pasien melalui parenteral dapat dilakukan


dengan banyak cara, namun yang paling utama dan sering digunakan
dalah intra vena, intra muskular, sub kutan dan intra kutan.

Sekarang mari kita uraikan satu persatu pemberian obat melalui


parenteral.

a. Injeksi Intra Vena (IV)


Pemberian obat secara intra vena ditujukan untuk mempercepat
reaksi, karena tidak mengalami tahab absorbsi. Obat langsung
dimasukkan ke pembuluh darah sehingga kadar obat didalam darah
diperoleh dengan cepat, tepat dan dapat disesuaikan langsung dengan
respon penderita. Pemberian obat intra vena dapat langsung diberikan
pada vena atau pada pasien yang dipasang infus. Obat dapat diberikan
melalui botol infus atau pada karet selang infus.

Tujuan:
1. Agar reaksi berlangsung cepat dan langsung masuk dalam
pembuluh darah
2. Untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan kadar
terapeutik dalam darah

Kelebihan:

1. Cepat mencapai konsentrasi


2. Dosis tepat
3. Mudah menitrasi dosis

Kekurangan:

1. Obat yang sudah diberikan tidak dapat ditarik kembali, sehingga efek
toksik lebih mudah terjadi
2. Pemberian intra vena harus dilakukan perlahan-lahan sambil
mengawasi respon penderita
3. Konsentrasi awal tinggi toksis, invasive resiko infeksi
4. Memerlukan keahlian
DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

19
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

Tabel 2.1.7 SOP Pemberian Obat Intra Vena


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Persiapan 1. Bak instrumen berisi: spuit steril (ukuran sesuai
Alat indikasi), jarum steril, dan sarung tangan
2. Obat sesuai indikasi (obat bisa juga sudah
disiapkan didalam spuit)
3. Kapas alkhohol
4. Bengkok
5. Torniquet
6. Perlak pengalas
Prosedur 1. Menjelaskan prosedur tindakan dan persetujuan
Pelaksanaan pasien
2. Mendekatkan alat
3. Mencuci tangan dan memakai sarung tangan
4. Bantu pasien posisi telentang atau semi-fowler
dengan lengan lurus
5. Membebaskan daerah yang akan disuntik dari
pakaian pasien
6. Letakkan perlak pengalas dibawah lengan atas
pasien
7. Pilih sisi distal pada vena yang digunakan dan
pasang torniquet 5-10 cm diatas tempat injeksi
8. Pilih vena yang terdilatasi dengan baik,
instruksikan pasien untuk mengepalkan tangan
9. Beri desinfektan pada area suntikan menggunakan
kapas alkhohol dengan gerakan sirkular
10. Regangkan kulit dengan ibu jari dan jari tulunjuk
tangan yang tidak dominan
11. Tusuk jarum kedalam vena dengan lubang jarum
menghadap keatas membentuk sudut ± 20°
12. Tarik sedikit penghisap untuk memeriksa apakah
jarum sudah masuk kedalam vena yang ditandai
dengan darah masuk ke spuit

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

20
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

13. Buka torniquet dan anjurkan pasien membuka


kepalan tangannya, masukkan obat perlahan
14. Letakkan kapas alkhohol diatas jarum, kemudian
menarik spuit dengan cepat
15. Menutup tempat penusukan dengan kapas steril
dan beri plester
16. Rapikan pasien dan alat
17. Lepas sarung tangan dan cuci tangan
18. Dokumentasi

b. Injeksi Intra Muskular (IM)


Rute IM memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada
rute SC karena pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. Bahaya
kerusakan jaringan berkurang ketika obat memasuki otot yang dalam,
tetapi bila tidak berhati-hati ada resiko menginjeksi obat langsung ke
pembuluh darah. Dengan injeksi di dalam otot yang terlarut
berlangsung 10-30 menit, guna memperlambat absorbsi dengan
maksud memperpanjang kerja obat, seringkali digunakan larutan atau
suspensi.
Pemberian obat secara intra muskular dilakukan pada bagian
tubuh yang berotot besar, agar tidak ada kemungkinan untuk
menusuk syaraf, misalnya pada bokong dan kaki bagian atas atau
pada lengan bagian atas. Jaringan intramuskular terbentuk dari otot
yang bergaris yang mempunyai banyak vaskularisasi aliran darah
tergantung dari posisi otot ditempat penyuntikan.
Tujuan pemberian obat intra muskular yaitu agar obat dapat
diabsorbsi tubuh dengan cepat

Indikasi pemberian obat intramuskular:


1. Pada pasien yang tidak sadar
2. Pasien tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan
diberikan secara oral
3. Bebas dari infeksi, lesi kulit, dan jaringan parut

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

21
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

Pemberian obat intra muskular harus dengan perintah dokter

Kontra indikasi:

Penyuntikan pada tubuh pasien dibagian yang mengalami nyeri/


luka jaringan otot

Komplikasi yang timbul:

1. Abses
2. Necrosis / kulit mengelupas
3. Periostitis

Daerah/ tempat penyuntikan intramuskular:

1. Pada daerah paha


2. Pada ventrogluteal
3. Pada daerah dorsogluteal
4. Pada daerah lengan atas

Tabel 2.1.8 SOP Pemberian Obat Intra Muskular


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Persiapan 1. Bak instrumen berisi: spuit steril bersisi obat
Alat beserta jarumnya, sarung tangan steril
2. Kapas alkohol
3. Bengkok
Prosedur 1. Menjelaskan prosedur dan persetujuan pasien
Pelaksanaan 2. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan
3. Pilih tempat injeksi dan posisikan pasien sehingga
tempat yang akan disuntik terlihat jelas
4. Palpasi adanya masa pada area yang akan
disuntik
5. Lakukan desinfeksi menggunakan kapas alkohol
sekali usap (sirkular)
6. Pertahankan kapas alkohol dekat tangan
7. Lepaskan penutup jarum dari spuit dengan
menarik penutup tegak lurus menggunakan satu

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

22
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

jari
8. Pegang kulit dan dengan cepat injeksikan dengan
jarum menghadap kedepan membentuk sudut 90°
9. Setelah jarum masuk area, tarik plunger untuk
mengaspirasi obat secara perlahan, bila tidak
nampak darah masukkan obat
10. Secara halus dan mantap tarik jarum dengan
cepat sambil menempatkan swab antiseptik di
tempat injeksi
11. Berikan tekanan perlahan, jangan memasase kulit
12. Posisikan pasien senyaman mungkin
13. Rapikan alat
14. Lepas sarung tangan dan cuci tangan
15. Dokumentasi

c. Injeksi Sub Cutan (SC)


Pemberian obat subkutan adalah pemberian obat melalui suntikan
ke area bawah kulit yaitu pada jaringan konektif atau lemak di bawah
dermis (Aziz, 2006)
Pemberian obat melalui subkutan ini umummnya dilakukan dalam
program pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar
gula darah. Tehnik ini digunakan apabila menginginkan obat yang
masuk diabsorbsi oleh tubuh dengan pelan dan berdurasi panjang
Lokasi penyuntikan:
1. Lengan atas sebelah luar
2. Paha bagian depan
3. Perut
4. Area scapula
5. Area ventrogluteal
6. Area dorsogluteal
Indikasi: bisa dilakukan pada pasien yang tidak sadar, tidak mau
bekerjasama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara
oral.
Kontraindikasi: luka, berbulu, alergi, infeksi kulit
DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

23
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

Tabel 2.1.9 SOP Pemberian Obat Sub Cutan


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Persiapan 1. Bak instrumen berisi: spuit steril (ukuran sesuai
Alat indikasi), jarum steril, dan sarung tangan
2. Obat sesuai indikasi (obat bisa juga sudah
disiapkan didalam spuit)
3. Kapas alkhohol
4. Bengkok
Prosedur 1. Menjelaskan prosedur tindakan dan persetujuan
Pelaksanaan pasien
2. Mendekatkan alat
3. Mencuci tangan dan memakai sarung tangan
4. Bebaskan daerah yang akan disuntikkan
5. Desinfeksi dengan kapas alkohol sekali usap
(sirkular)
6. Sedikit gelembungkan kulit (angkat kulit seperti
mencubit) dengan tangan kiri daerah yang akan
disuntik
7. Lakukan penusukan dengan lubang jarum
menghadap keatas membentuk sudut 45°
8. Lakukan aspirasi, bila tidak terdapat darah
dorong plunger spuit perlahan hingga habis
9. Tarik spuit dan tangan non dominan menekan
dengan kapas alkohol pada daerah bekas
penyuntikan
10. Bereskan alat dan rapikan pasien
11. Lepas sarung tangan dan cuci tangan
12. Dokumentasi

d. Injeksi Intra Cutan (IC)


Pemberian suntikan intra cutan atau intra dermal ialah suatu
tindakan membantu proses penyembuhan lewat suntikan kedalam
jaringan kulit/ intra dermis. Penyerapan/ abrsorbsi pada tehnik ini

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

24
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

lambat dan dibatasi dengan efek sistemik yang bisa dibandingkan.


Karena absorbsi terbatas, penggunaanya bisa untuk aksi lokal dalam
kulit.

Tujuan pemberin obat intracutan:


1. Mendapatkan pengobatan sesuai program pengobatan dokter
2. Memperlancar proses pengobatan
3. Menghindarkan pasien dari efek alergi obat dengan skin tes

Indikasi:

1. Pasien yang membutuhkan tes alergi


2. Pasien yang melakukan vaksinasi
3. Sebelum memasukkan obat (skin test)

Kontra indikasi:

1. Pasien yang mengalami infeksi kulit


2. Pasien dengan luka kulit terbuka

Kelebihan tehnik intra cutan:

1. Suplai darah sedikit, sehingga absorbsi lambat


2. Dapat mengetahui adanya alergi terhadap obat tertentu
3. Memperlancar proses pengobatan dan menghindari kesalahan dalam
pemberian obat

Kekurangan tehnik intracutan:

1. Obat yang sudah masuk, tidak bisa ditarik kembali


2. Tuntutan sterilitas yang ketat
3. Membutuhkan petugas terlatih dan mempunyai wewenang untuk
melaksanakan tindakan
4. Adanya resiko toksisitas jaringan dan rasa sakit saat penyuntikan

Lokasi yang digunakan untuk penyuntikan intracutan:

1. Lengan bawah bagian dalam


DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

25
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

2. Dada bagian atas


3. Punggung pada area skapula

Tabel 2.1.10 SOP Pemberian Obat Intra Cutan


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Persiapan 1. Bak instrumen berisi: spuit steril (ukuran sesuai
Alat indikasi), jarum steril, dan sarung tangan
2. Obat sesuai indikasi (obat bisa juga sudah
disiapkan didalam spuit)
3. Kapas alkhohol
4. Bengkok
5. Bolpoin
Prosedur 1. Menjelaskan prosedur tindakan dan
Pelaksanaan persetujuan pasien
2. Mendekatkan alat
3. Mencuci tangan dan memakai sarung tangan
4. Pilih tempat injeksi yang tepat, palpasi adanya
masa atau nyeri
5. Desinfeksi menggunakan kapa alkohol dengan
pergerakan sirkular (sekali usap)
6. Tempatkan ibu jari tangann non dominan
dibawah area penusukan
7. Dengan ujung jarum menghadap keatas
membentuk sudut 15° masukkan jarum sampai
bawah kulit
8. Masukkan obat perlahan-lahan, perhatikan
sampai adanya indurasi/ gelembung dalam kulit
9. Cabut jarum sesuai sudut masuknya, usap
darah menggunakan kapas alkohol (tanpa
menekan)
10. Buat lingkaran daerah penusukan dengan
menggunakan bolpoin diameter ± 5 cm
11. Rapikan alat dan pasien

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

26
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

12. Lepas sarung tangan dan cuci tangan


13. Evaluasi respon pasien setelah 15-30 menit
14. Dokumentasi

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

27
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

EVALUASI KOMPETENSI 1

A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b,c, d atau eyang menurut anda
paling benar!

1. Rute pemberian obat yang paling 7. Bentuk obat padat ukurannya lebih
panjang adalah.... besar dari pil dan mempunyai alur
a. Per oral didebut..
b. Parenteral a. Pil
c. Sublingual b. Kapsul
d. Topikal c. Tablet
e. supposutoria d. Suspendi
2. Tujuan pemberian obat oral adalah.... e. eksilir
1. Memberikan efek sistemik 8. Dibawah ini yang bukan jenis obat
2. Memberikan efek lokal dalam usus padat adalah....
atau lambung a. Pil
3. Mencegah, mengobati dan b. Tablet
mengurangi rasa sakit c. Kapsul
4. Menghindari pemberian obat yang d. Lotion
menyebabkan kerusakan kulit dan e. Puyer
jaringan 9. Proses fisiologi dimana obat dan
3. Pemberian obat intra cutan disebut metabolik dikeluarkan dari tubuh...
juga.... a. Absorbsi
a. Intra dermal b. Distribusi
b. Intra muskular c. Biotransformasi
c. Intra cranial d. Metabolisme
d. Intra vena e. Sekresi
e. Sub cutan 10. Berapa diameter lingkaran yang dibuat
4. Di bawah ini yang bukan tujuan dari setelah memberikan injeksi intra
pemberian obat adalah..... cutan.....
a. Mencegah penyakit a. 2 cm
b. Menghilangkan rasa sakit b. 3 cm
c. Mengurangi rasa sakit c. 4 cm
d. Sebagai stimulan d. 5 cm
e. Sebagai pencakar e. 6 cm
5. Lingkaran biru dalam box obat 11. Obat supposutoria tidak diperbolehkan
mendakan bahwa... diberikan kepada...
a. Obat keras a. Pasien nyeri
b. Obat G
b. Pasien yang membutuhkan efek
c. Obat bebas terbatas
d. Obat narkotika lokal sistemik
e. Obat generik c. Pasien yang tidak kooperatif
6. Sediaan obat yang ditumbuk halus minum obat
disebut.... d. Pasien gangguan menelan
a. Eksilir e. Sirup e. Pasien haemoroid
b. Kapsul 12. Pemberian obat perenteral yang tanpa
c. Puyer
melewati proses absorbsi adalah...
d. Suspensi

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

28
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

a. Intravena 17. Sebagai upaya pencegahan


b. Intracutan terjadinya shock akibat alergi obat
c. Intradermal maka perlu di lakukan...
d. Intramuscular a. Drug tes
e. Sub cutan b. Skrining tes
13. Suatau rute yang tidak melalui usus,
c. Skin tes
disebut....
a. Oral d. Rumple lead tes
b. Bukal e. Mantoux tes
c. Sub lingual 18. Cara meluruskan saluran telinga
d. Parenteral pada anak saat memberikan obat
e. Supposutoria tetes telinga adalah....
14. Berikut yang benar tentang cara a. Menarik daun telinga kearah
pemberian obat secar sub lingual bawah keluar
adalah..... b. Menarik daun telinga kearah
a. Meletakkan obat dibawah lidah atas keluar
b. Meletakkan obat diatas lidah c. Menarik daun telinga kebawah
c. Meletakkan obat dipangkal lidah
dan belakang
d. Meletakkan obat antara gigi dan
mukosa pipi bagian dalam d. Menarik daun telinga keatas
e. Meletakkan obat disamping lidah lalu kebawah
15. Cara membersihkan keropeng mata e. Menarik daun telinga ke
sebelum diberikan salep mata atau belakang
tetes mata adalah.... 19. Efek obat paling cepat adalah
a. Membersihkan dari kantus dalam pemberian obat melalui...
kekantus luar a. Sub cutan
b. Membersihkan dari kantus luar b. Intra cutan
kekantus dalam c. Intra muskular
c. Membersihkan mata dari d. Intra vena
konjungtiva bawah ke konjungtiva
e. Intra dermal
atas
d. Membersihkan mata dari 20. Pernyataan yang tidak benar
konjungtiva atas ke konjungtiva tentang pemberian obat secara
bawah intra cutan adalah....
e. Membersihkan konjugtiva dengan a. Menyemprotkan cairan sampai
mengopres air hangat sampai terjadi gelembung berwarna
lunak putih di dalam kulit
16. Cara yang tepat memberikan obat b. Jarum dan permukaan kulit
tetes mata adalah.... membentuk sudut 15-20°
a. Tepat dikongtiva palpebra superior c. Lakukan masase setelah
b. Tepat dikantong palpebra inverior penyutikan
c. Tepat pada konjungtiva
d. Tidak dihapus diamkan dengan
d. Di sekeliling konjungtiva
e. Tepat pada kornea kapas alkohol
e. Lingkari area penyuntikan
dengan bolpoin

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

29
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas dan benar!

1. Jelaskan pengertian obat!


2. Sebutkan prinsip dan tujuan pemebrian obat!
3. Sebutkan dan jelaskan proses obat didalam tubuh!
4. Sebutkan lokasi penyuntikan intravena!
5. Jelaskan prosedur pemberian obat sub cutan!

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

30
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

2.2 Melakukan Pemberian Obat Kepada Pasien Sesuai Resep Dokter

Resep adalah permintaan tertulis seorang dokter yang diberi ijin berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker untuk menyediakan
dan menyerahkan obat-obtan bagi penderita. Setelah obat diserahkan kepada
penderita, adalah tugas perawat sebagai tenaga kesehatan yang senantiasa
mendampingi pasien selama 24 jam, maka dibutuhkan kemampuan untuk
memahami tentang jenis obat, cara/ aturan pakai, dosis, waktu pemakaian dan
tentang efek samping obat yang dikonsumsi pasien.

Pada bab ini akan dibahas tentang bagaimana cara pasien mendapatkan obat,
cara mendapatkan obat, dan hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum
menggunakan obat. Pada akhir bab ini diiharapkan siswa kompetensi Perawat
Kesehatan mampu memahami tentang peranya dalam pengobatan pasien.

A. Cara Mendapatkan Obat


Obat bebas dapat diperoleh dari toko obat, pedagang eceran obat
berizin yang dipimpin oleh asisten apoteker dan dari apotek. Obat bebas
tersebut dalam kemasan asli dari pabrik dengan disertai tanda lingkaran
hijau sebagai tanda obat bebas dan disertai brosur yang berisi nama obat,
nama isi zat berkhasiat, indikasi, dosis atau aturan pemakaian, nomor batch
dan nomor register, nama pabrik dan alamatnya, serta cara
penyimpanannya.
Obat bebas terbatas dapat diperoleh tanpa resep dari pedagang eceran
obat berizin dan apotek. Dalam bungkus asli dari pabrik dengan disertai
tanda lingkaran berwarna biru sebagai tanda obat bebas terbatas, disamping
itu ada tanda peringatan sesuai dengan SK Menkes No. 6355/Dirjen/SK/69
tanggal 5 November 1975, dan harus ditandai dengan etiket-etiket atau
brosur yang menyebutkan:
1. Nama obat yang bersangkutan
2. Daftar bahan bekasiat serta jumlahnya yang digunakan
3. Nomor batch dan tanggal daluwarsa, serta nomor register
4. Nama dan alamat produsen
5. Petunjuk kegunaan (indikasi), cara pemakaian dan peringatan, serta
pencegahan (kontra indikasi) yang dipandang perlu

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

31
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

Obat keras dan Obat narkotik hanya dapat diperoleh di apotek


denganresep dokter. Resep yang mengandung obat narkotik tidak boleh
diulang dan harus dengan resep dokter.

Resep merupakan permintaan tertulis dari seorang dokter kepada


apoteker untuk membuat dan atau menyerahkan obat kepada pasien. Dalam
resep harus ditulis dengan menyebutkan:

1. Tanggal dan tempat ditulisnya resep


2. Nama pasien
3. Aturan pakai dari obat yang tertulis
4. Paraf/ tanda tangan dokter

B. Penyimpanan Obat
Masa penyimpanan semua jenis obat mempunyai batas waktu,
karena lambat laun obat akan terurai secara kimiawi akibat pengaruh cahaya
udara dan suhu, akhirnya khasiat obat akan berkurang. Tanda-tanda
kerusakan obat kadang kala tampak dengan jelas, misalnya bila larutan
bening menjadi keruh dan bila warna suatu krim berubah tidak seperti
awalnya ataupun berjamur.
Guna memperlambat penguraian, maka semua obat sebaiknya
disimpan ditempat yang sejuk dalam wadah asli dan terlindung dari lembab
dan cahaya, serta hendaknya diletakkan disuatu tempat yang tidak bisa
dijangkau oleh anak-anak. Obat-obat tertentu harus disimpan dilemari es
dan sesuai aturan penyimpanan yang tertera pada bungkus obat tersebut.
Masa penyimpanan obat tergantung dari kandungan dan cara
menyimpannya. Obat yang mengandung cairan paling cepat terurainya,
karena bakteri dan jamur dapat tumbuh baik di lingkungan lembab. Maka itu
terutama obat tetes mata, telinga dan hidung, larutan, sirup dan salep yang
mengandung air/ krim sangat terbatas jangka waktu kedaluwarsanya.

Pengertian
Menurut Depkes RI (2003) menyatakan bahwa penyimpanan obat adalah
suatu kegiatan pengamanan terhadap obat-obatan yang diterima agar aman

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

32
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

(tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya
tetap terjamin.

Tujuan Penyimpanan Obat


Menurut Warman (1997) tujuan penyimpanan obat antara lain:
1. Mempertahankan mutu obat dari kerusakan akibat penyimpanan yang
tidak baik
2. Mempermudah pencarian digudang/ kamar penyimpanan
3. Mencegah kehilangan
4. Mempermudah stok opname dan pengawasan
5. Mencegah bahaya penyimpanan yang salah

Sedang secara terperinci, Suryandana (2001) menjelaskan tujuan


penyimpanan obat meliputi:

1. Aman, yaitu setiap barang/ obat yang disimpan tetap aman dari
kehilangan dan kerusakan
a. Kehilangan karena:
- Dicuri orang lain
- Dicuri karyawan sendiri (di toko obat/ apotek)
- Dimakan hama (tikus)
- Hilang sendiri (susut, tumpah, menguap)
b. Kerusakan karena:
- Barang rusak sendiri
- Barang tersebut merusak lingkungan (polusi)
2. Awet, yaitu barang tidak berubah warnanya, baunya, gunanya, sifatnya,
ukurannya, fungsinya dan lain-lain
3. Cepat, yaitu cepat dalam penanganan barang berupa menaruh/
menyimpan, mengambil dan lain-lain
4. Tepat, dimana bila diperlukan dalam keadaan mendadak dan darurat
tidak salah dalam mengambil
5. FIFO (First In First Out), obat yang datang lebih awal harus dikeluarkan/
digunakan terlebih dahulu
6. FEFO (First Expired First Out), obat yang lebih awal kedaluwarsa harus
dikelurakan/ digunakan terlebih dahulu
DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

33
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

7. Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab


8. Mudah, yaitu:
a. Mudah menangani barang dan mudah menempatkan barang
ditempatnya
b. Mudah menemukan dan mngambilnya kembali
c. Mudah mengetahui jumlah persediaan
d. Mudah dalam pengawasan barang
9. Murah, yaitu biaya yang dikeluarkan sedikit untuk menanganinya, yaitu
murah dalam menghitung persediaan, pengamanan dan pengawasannya

Prosedur Penyimpanan Obat

a. Pengaturan Penyimpanan
1. Obat-obatan dipisahkan dari bahan beracun
2. Obat luar dipisahkan dari obat dalam
3. Obat yang berbahaya (mengandung zat narkotika) dipisahkan dari
obat-obatan lain dan disimpan dilemari khusus
4. Tablet, kapsul dan oralit disimpan dalam kemasan kedap udara
5. Salep dan obat cair dipisahkan dengan obat tablet
b. Penyimpanan Khusus (untuk di toko obat/ apotek/ gudang farmasi)
1. Obat, vaksin dan serum memerlukan tempat khusus seperti lemari
pendingin khusus dan harus dilindungi dari kemungkinan putusnya
arus listrik
2. Bahan kimia harusnya disimpan dalam bangunan khusus yang
terpisah dari gudang induk

Faktor Penentu Dalam Penyimpanan Obat

Dalam menyimpan obat, harus diperhatikan tiga faktor utama, yaitu:

1. Suhu
Suhu adalah salah satu faktor terpenting, karena kebanyakan obat
bersifat termo-labil (rusak atau diubah oleh panas). Untuk itu,
penyimpanan obat harus:

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

34
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

a. Ditempat sejuk: <15° C (misalnya insulin → tidak boleh beku)


b. Didalam lemari es
c. Pada suhu antara 2°-10° C (misalnya vaksin tifoid)
d. Beku (misalnya vaksin cacar air harus disimpan pada suhu <5° C)
2. Letak
Obat bersifat toksik. Oleh sebab itu, tempat penyimpanan obat harus
terang, letak setinggi mata, bukan ditempat umum. Lemari obat harus
terkunci, jauh dari jangkauan anak
3. Kedaluwarsa
kurangi kemungkinan penggunaan obat kedaluwarsa dengan cara rotasi
stok, artinya obat baru (pengganti) diletakkan dibelakang. Obat yang
kedaluwarsa akan berkurang khasiatnya bahkan menimbulkan efek yang
tidak diinginkan. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan warna (dari
bening jadi keruh) dan tablet menjadi basah

C. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menggunakan Obat


Dengan penggunaan obat diharapkan agar pasien dapat memperoleh
kesembuhan dari yang diderita. Perlu diperhatikan agar penggunaan
tersebut tepat sesuai dengan ketentuan, sebab bila salah penggunaan obat
dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Dikatakan bahwa obat
dapat memberi kesembuhan dari penyakit bila digunakan untuk penyakit
yang cocok dengan dosis yang tepat dan cara pemakaian yang tepat. Bila
tidak, akan mendapatkan kerugian bagi badan bahkan sampai kematian.
Oleh karena itu harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut sebelum
menggunakannya.
1. Perhatikan etiketnya
a. Bila berwarna biru adalah obat luar, artinya obat tidak digunakan
melalui mulut terus masuk kedalam perut. Dengan kata lain obat
tersebut tidak boleh ditelan masuk ke perut, yang termasuk obat ini
adalah:
- Obat tetes mata
- Obat tetes hidung
- Obat tetes telinga
- Salep kulit/ mata
DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

35
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

- Supposutoria
- Injeksi/ obat suntik
- Lotion, krim
- Serbuk tabur/ bedak
b. Bila berwarna putih adalah obat dalam artinya obat digunakan melalui
mulut, ditelan terus masuk perut. Yang termasuk obat ini adalah:
- Larutan
- Emulsi
- Puyer
- Tablet
- Sirup
2. Bacalah dalam etiket apakah nama anda sebagai pasien sudah benar?
Bila ada keraguan segera tanyalah ke petugas
3. Perhatikan aturan pemakaian. Mengenai ukuran sendok perlu
diperhatikan volumenya, karena sering ukuran sendok dirumah tidak
sama.
4. Perhatikan mengenai cara penggunaan macam-macam tablet, sebab
ada tablet yang:
- Ditelan, umumnya tablet ditelan untuk mendapat efek sistemik atau
efek lokal pada usus
- Dihisap, diletakkan dibawah lidah atau diantara gusi dan pipi, karena
dikehendaki obatnya bekerja pada rongga mulut, ini dimaksud untuk
mendapatkan efek sistemik, karena obatnya dapat mengganggu
perut atau dirusak dilambung, tablet tersebut disebut peranan obat
- Dikunyah, tablet kunyah ini besar-besar maksud dikunyah adalah
supaya mendapat serbuk yang halus misalkan tablet antasid
diperlukan partikel yang halus agar dapat bekerja lebih cepat dan
baik
- Dihisap, tablet ditaruh dibawah lidah atau ditaruh di antara gusi
5. Perhatikan cara penggunaan supposutoria. Obat ini umumnya
menggunakan bahan oleum cacao yang mudah meleleh apabila
dipegang karena titik lebur 36°-37°, oleh karena itu pada waktu
menggunakan jangan terlalu lama dipegang tangan

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

36
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

6. Perhatikan pula apakah obatnya sudah rusak atau masih baik. Sebagai
petunjuk bahwa obat sudah rusak atau dapat diduga sudah berkurang
kasiatnya adalah sebagai berikut:
a. Terjadi perubahan warna, pecah dan berubah warna isinya
b. Drage sudah meleleh, pecah dan berubah warnanya
c. Emulsi yang pecah
d. Larutan menjadi keruh, terdapat cendawan
e. Tablet berubah warna, timbul cedawan atau menjadi basah
f. Salep yang menjadi tengik, berubah warna, terjadi pemisahan
7. Perhatikan mengenai tanggal kedaluwarsa obatnya

D. Pentingnya Pemberian Obat Dalam Perawat Kesehatan


Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada manusia atau
binatang sebagai perawatan atau pengobatan, bahkan pencegahan
terhadap berbagai gangguan yang terjadi di dalam tubuhnya. Pada pada
keseharian, serimg kita mendengar beberapa istilah yang berhubungan
dengan obat, diantaranya:
Generik, yaitu nama pertama dari pabrik yang sudah mendapatkan lisensi
dan belum diterima secara resmi
Nama dagang (trade mark), yaitu nama yang keluar sesuai dengan
perusahaan atau pabrik dalam menggunakan simbol.

Masalah-Masalah Dalam pemberian Obat dan Intervensinya


1. Menolak pemberian obat
Jika pasien menolak pemberian obat, intervensi pertama yang dapat
dilakukan adalah dengan menanyakan alasan pasien melakukan hal
tersebut. Kemudian, jelaskan kembali kepada pasien alasan pemberian
obat. Jika pasien terus menolak, maka sebaiknya tunda pengobatan,
laporkan ke dokter, dan catat dalam pelaporan.
2. Integritas kulit terganggu
Untuk mengatasi masalah gangguan integritas kulit, lakukan penundaan
dalam pengobatan, kemudian laporkan ke dokter dan catat dalam
laporan.
3. Disorientasi dan bingung
DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

37
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

Masalah disorientasi dan bingung dapat diatasi dengan cara melakukan


penundaan pengobatan. Jika pasien ragu, laporkan ke dokter dan catat
dalam buku pelaporan.
4. Menelan obat bukal atau sublingual
Jika pasien menelan obat bukal atau sublingual, maka sabaiknya
laporkan kejadian tersebut kepada dokter, untuk selanjutnya dokter yang
akan melakukan intervensi.
5. Alergi kulit
Apabila terjadi alergi kulit atas pemberian obat kepada pasien, keluarkan
sebanyak mungkin pengobatan yang telah diberikan, beritahu dokter dan
catat dalam pelaopran.

E. Peran Perawat Dalam Pemberian Obat


Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat-obatan yang
aman khususnya pada pasien yang menjalani perawatan di layanan
kesehatan. Sebelum sesuatu obat diberikan atau dikonsumsi seseorang,
obat telah melalui berbagai proses antara lain proses penyediaan,
pengolahan, pengijinan, perdagangan, pengorderan, pembelian dan
pemakaian.
Perawat harus terampil dan tepat saat memberikan obat, tidak
sekedar memberikan pil untuk diminum, atau injeksi obat melalui pembuluh
darah, namun juga mengobservasi respon pasien terhadap pemberian obat
tersebut.
1. Peran perawat dalam hak pasien yang berhubungan dengan
pemberian obat
a. Hak pasien untuk mengetahui alasan pemberian obat
Hak ini adalah prinsip dari pemberian persetujuan setelah
mendapatkan informasi yang berdasarkan pengetahuan individu
yang diperlukan untuk membuat keputusan.
b. Hak pasien untuk menolak pengobatan
Pasien dapat menolak untuk menerima suatu pengobatan. Adalah
tanggung jawab perawat untuk menentukan, jika memungkinkan
alasan penolakan dan mengambil langkah-langkah yang perlu untuk
mengusahakan agar pasien mau menerima pengobatan. Jika tetap
DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

38
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

menolak, perawat wajib mendokumentasikan pada catatan


perawatan dan melapor kepada dokter yang menginstruksikan.
2. Peran perawat dalam kesalahan pemberian obat
Kesalahan pemberian obat, selain memberi obat yang salah,
mencakup faktor lain yang mengubah terapi obat yang direncanakan,
misalnya lupa memberi obat, memberi obat dua sekaligus, memberi
obat yang benar pada waktu yang salah, atau memberi obat yang
benar pada rute yang salah.
Jika terjadi kesalahan pemberian obat, perawat yang bersangkutan
harus segera menghubungi dokter yang menangani, atau kepala
perawat atau perawat yang senior segera setelah kesalahan itu
diketahui.
3. Peran perawat dalam pendidikan kesehatan
Secara moral perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan
kesehatan pada pasien dan keluarga. Pendidikan kesehatan yang perlu
diberikan mencakup informasi tentang penyakit, kemajuan pasien,
obat, cara merawat pasien. Pendidikan kesehatan yang berkaitan
dengan pemberian obat yaitu informasi tentang efek samping obat,
cara minum obat, waktu minum obat dan dosis.
4. Peran perawat dalam mendukung keefektifitasan obat
Dengan memiliki pengetahuan yang memadai tentang daya kerja dan
efek terapeutik obat, perawat harus mampu melakukan observasi untuk
mengevaluasi efek obat dan harus melakukan upaya untuk
meningkatkan keefektifitasan obat. Pemberian obat tidak boleh
dipandang sebagai pengganti perawatan, karena upaya kesehatan
tidak dapat terlaksana dengan pemberian obat saja. Pemberian obat
harus dikaitkan dengan tindakan perawatan.
Ada berbagai pendekatan yang dapat dipakai dalam mengevaluasi
keefektifitasan obat yang diberikan kepada pasien. Namun, laporan
langsung yang disampaikan oleh pasien dapat digunakan pada
berbagai keadaan. Sehingga, perawat penting untuk bertanya langsung
kepada pasien tentang keefektifitasan obat yang diberikan

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

39
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

5. Peran perawat dalam mengobservasi efek samping dan alergi obat


Perawat mempunyai peran yang penting dalam mengobservasi pasien
terhadap kemungkinan terjadinya efek samping obat. Untuk melakukan
hal ini, perawat harus mengetahui obat yang diberikan pada pasien
serta kemungkinan efek samping yang dapat terjadi. Beberapa efek
samping obat khususnya yang menimbulkan keracunan memerlukan
tindakan segera misalnya dengan memberikan obat-obatan emergensi,
menghentikan obat yang diberikan dan secepatnya memberitahu
dokter.
Perawat harus memberitahu pasien yang memakai/ minum obat di
rumah mengenai tanda-tanda atau gejala efek samping obat yang
harus dilaporkan pada dokter atau perawat. Setiap pasien mempunyai
ketahanan yang berbeda terhadap obat. Beberapa pasien dapat
mengalami alergi terhadap obat-obat tertentu. Perawat mempunyai
peran penting untuk mencegah terjadinya alergi pada pasien akibat
pemberian obat. Data tentang alergi harus diperoleh sewaktu perawat
melakukan pengumpulan data riwayat kesehatan.

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

40
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

EVALUASI KOMPETENSI 2

A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b,c, d atau eyang menurut anda
paling benar!

1. Yang berhak untuk menulis resep, 7. Titik lebur obat per supp adalah...
kecuali.... a. 35° - 36°
a. Dokter umum b. 36° - 37°
b. Dokter spesialis c. 37° - 38°
c. Dokter gigi d. 38° - 39°
d. Perawat
e. 39° - 40°
e. Dokter hewan
8. Obat yang dapat diperoleh dari
2. Lingkaran hijau dalam kemasan obat
warung / toko adalah....
menandakan jenis obat...
a. Obat bebas
a. Obat bebas
b. Obat bebas terbatas
b. Obat bebas terbatas
c. Obat G
c. Obat G
d. Obat narkotik
d. Obat narkoti
e. Obat keras
e. Obat keras
3. Obat akan terurai secara kimiawi 9. Dibawah ini yang bukan
akibat pengaruh... serangkaian dalam proses
a. Tempat pembuatan obat..
b. Waktu dan cara a. Pengolahan
c. Cahaya, udara dan tempat b. Pengijinan
d. Udara, waktu dan suhu c. Perdagangan
e. Cahaya, udara dan suhu d. Penjualan
4. Obat yang hanya bisa diperoleh di e. Pengorderan
apotek dengan resep dokter 10. Bahan dasar pembuat obat
adalah.... supposutoria adalah...
a. Obat keras a. Gel
b. Obat narkotik b. Minyak atsiri
c. Obat bebas terbatas c. Oleum vokus
d. A dan B benar d. Oleum cacao
e. Semua benar
e. Oleum cocus
5. Yang berhak menyediakan dan
memberikan obat adalah... 11. Vaksin untuk penyakit tipus
a. Perawat disimpan pada suhu...
b. Dokter a. 0,5° - 1°
c. Apoteker b. 1° - 2°
d. Asisten apoteker c. 2° - 3°
e. Bidan d. 2° - 5°
6. Jika pasien menolak pemberian e. 2° - 10°
obat, intervensi pertama yang dapat 12. Ante ceneum adalah istilah
dilakukan adalah.... dalam pemberian obat, yang
a. Dengan menanyakan alasan artinya...
pasien melakukan hal tersebut a. Minum per oral
b. Menjelaskan kembali kepada b. Minum secara bukal
pasien alasan pemberian obat
c. Oabta per rectal
c. Menunda pengobatan
d. Sebelum makan
d. Melaporkan ke dokter
e. Setelah makan
e. Mencatat dalam pelaporan
DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

41
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

13. Menanyakan kepada pasien setelah a. Penolakan pemberian obat


minum obat apakah sudah ada b. Disorientasi dan bingung
perubahan atau belum, termasuk c. Menelan obat bukal
peran perawat dalam..... d. Menelan obat sublingual
a. Observasi efek samping e. Pasien tidak sadar
b. Observasi alergi obat 17. Keadaan yang berlawanan terhadap
c. Mendukung efektifitas obat penggunaan terapi obat disebut.....
d. Kesalahan pemberian obat a. Alergi
e. Penyuluhan tentang obat b. Indikasi
14. Syock yang disebabkan karena c. Kontra indikasi
reaksi obat disebut.... d. Efek samping
a. Syock hipovolemik e. Efek teraputik
b. Syock anafilaktic 18. Efek yang hanya setempat dimana
c. Syock cardiogenik obat digunakan disebut....
d. Syock hipoglicemik a. Efek teraputik
e. Syok alergika b. Efek yang diinginkan
15. Peraturan tentang tanda peringatan c. Efek sistemik
obat tertuang dalam.... d. Efek lokal
a. SK Menkes No. e. Efek terapi
6355/Dirjen/SK/69 tanggal 5 19. Obat yang dikehendaki bekerja pada
November 1975 rongga mulut dan memeiliki efek
b. SK Menkes No. sistemik adalah pemberian obat...
6355/Dirjen/SK/69 tanggal 5 a. Dihisap
November 1977 b. Ditelan
c. SK Menkes No. c. Diminum
6375/Dirjen/SK/69 tanggal 5 d. Disemprot
November 1975 e. Dihirup
d. SK Menkes No. 20. Tiga faktor penentu dalam
6355/Dirjen/SK/69 tanggal 5 penyimpanan obat antara alin...
Oktober 1975 a. Letak, suhu, cahaya
e. SK Menkes No. b. Letak, suhu, expired
3655/Dirjen/SK/69 tanggal 5 c. Suhu, cahaya, kadaluwarsa
November 1975 d. Cahaya, suhu, ruangan
16. Melakukan penundaan pengobatan e. Letak, ruang, kadaluwarsa
merupakan cara mengatasi masalah
dalam pemberian obat tentang...

B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas dan benar!

1. Jelaskan yang dimaksud dengan obat Generik dan obat Paten!


2. Jelaskan dan beri contoh pemberian obat yang benar pada rute yang salah!
3. Sebutkan dan jelaskan peran perawat dalam pemberian obat!
4. Bagaimanakah cara mencegah agar tidak terjadi alergi obat pada pasien?
5. Jika selang 1 jam pemberian obat muncul tanda keluhan gatal dan tampak bintik
merah di kulit pasien, tindakan apa yang anda lakukan?

DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

42
Buku Ajar SMK Kesehatan, Kompetensi Keahlian Perawat Kesehatan

DAFTAR PUSTAKA
Alimul, Aziz. H. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia 1. Jakarta: Salmeba Medika

------------------. 2013. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia 2, Aplikasi Konsep dan Proses
Perawat Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika

Anief, Moh. 2009. Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi. Yogyakarta: Fakultas Farmasi –
Universitas Gadjah Mada

Depkes RI. 2003. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekaln Farmasi. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI

Potter, Perry. Gaaniswara. 2005. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Farmakologi, FKUI

---------------------. 2005. Buku ajar Fundamental Perawat Kesehatan. Alih bahasa: Made
Sumarwati. Jakarta: EGC

---------------------. 2005. Buku Saku Keterampilan dan Prosedur Dasar, Edisi 5. Alih bahasa:
Didah Rosidah. Jakarta: EGC

Priharjo, Robert. 1995. Teknik Dasar Pemberian Obat. Jakarta: EGC

Ramali, Ahmad. 2000. Kamus Kedokteran: Arti & Keterangan Istilah. Jakarta: Agung Seto

Ratna Ambarwati, Eni. 2009. KDPK Kebidanan Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT. Kawan
Pustaka

Saifudin, Abdul Bani. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Suryadan, avicena Indraswara. 2001. Tinjauan Pelaksanaan Penyimpanan Obat di Bagian


Farmasi Balai Pengobatan Departemen Penerangan Jakarta. Depok: FKM UI

Tambayong, Jan. 2014. Farmakologi Perawat Kesehatan. Editor: Dwi Widiarti. Jakarta: EGC

Tjay, T.H. 2009. Faktor Patofisiologi Tubuh. Http://view.267.wordpress.com/pengaruh cara


pemberian terhadap absorbsi obat/ diakses tanggal 20 April 2016 jam 19.30 WIB

Uliyah, Musrifatul dkk. 2008. Ketrampilan Dasar Praktik Klinik. Jakarta: salemba Medika

Warman, Jhon. 1997. Manajemen Perdagangan. Jakarta: LPPM

Wisnu, Nurweningtyas. 2015. Kegiatan Belajar Pemberian Obat-obatan. Jakarta: Pusat


Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan Badan Pengembangan dan
Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Diakses dari
http://www.slideshare.net//pjj_kemenkes/kb-2-pemberian-obat-obatan pada
tanggal 18 April 2016 jam 22.51 WIB
DKK2. Melaksanakan Pemberian Obat Kepada Klien/Pasien

43