Anda di halaman 1dari 34

1

Bab I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit


menular yang berbahaya dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat
dan sering menimbulkan wabah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di
Manila Filipina pada tahun 1953 dan selanjutnya menyebar ke berbagai
negara (Lestari, 2007). Setiap tahun diperkirakan 50 sampai 100 juta orang
terinfeksi demam berdarah di seluruh dunia, dengan beberapa ratus ribu
kasus serius dan kira-kira 20 ribu meninggal dan 3 milyar orang beresiko
terkena demam berdarah (Hales et al, 2006). Demam berdarah banyak
menyebar di daerah tropis dan sub tropis melalui nyamuk Aedes aegypti. Di
beberapa daerah disebarkan oleh spesies lain seperti Aedes albopticus dan
Aedes polynesiensis (Gubler, 1997).

Sejak pertama kali ditemukan jumlah kasus demam berdarah di


Indonesia mengalami kecenderungan kenaikan. Kejadian luar biasa terjadi
pada tahun 1998, dengan Incidence Rate(IR) = 35,19 per 100.000 peduduk
dan CFR = 2 %. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun
tahun tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000);
21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003) (Depkes,
2004). Pada tahun 2007 dilaporkan terjadi 158.115 kasus dengan Inciden
2

Rate (IR) sebesar 71,78 per 100.000 penduduk dengan CFR sebesar 1,01 %.
Sepanjang tahun 2007 terdapat 11 provinsi yang dilanda KLB DBD, yaitu ;
Jawa Barat, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Tengah,
Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah (Depkes, 2008). Pada
tahun 2008 ada penurunan jumlah penderita yaitu 136.333 dengan CFR
sebesar 0,86 dan IR sebesar 60.06 (Depkes, 2009). Namun bila diamati dari
tahun 2000 – 2009 terjadi peningkatan kejadian demam berdarah.

Dengan adanya peningkatan kasus kejadian demam berdarah ini


maka diperlukan program – program yang tepat untuk penanggulangan
kejadian demam berdarah. Agar kegiatan tersebut dapat berlangsung efektif,
efisien dan tepat sasaran maka diperlukan suatu kegiatan surveilans
epidemiologi dimana hasil kegiatan surveilans sangat menentukan tindakan
pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi
kegiatan (Hariyana, 2007).

B. Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk memahami tentang kegiatan


surveilan penyakit demam berdarah dan bentuk - bentuk pengendalian
kejadian demam berdarah.

C. Manfaat

Memberikan informasi tentang kegiatan – kegiatan surveilan penyakit


demam berdarah dan bentuk – bentuk pengendalian kejadian demam
berdarah.
3

Bab II

Kajian Pustaka

1. Etiologi Demam Berdarah


Demam Berdarah Dengue adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes
Aegypti. DBD disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari
genus Flavivirus, famili Flaviridae. (Lestari, 2007). Empat serotipe
tersebut adalah Den 1, Den 2, Den 3 dan Den 4. Infeksi dari salah satu
serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap serotipe bersangkutan
namun antibodi ini tidak dapat melindungi dari serotipe yang lain,
sehingga seorang yang tinggal di daerah endemis Demam Berdarah
Dengue akan dapat terinfeksi 3 atau 4 serotipe selama hidupnya (WHO,
2000).

2. Symptomologi Demam Berdarah


Gejala – gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan
hal – hal sebagai berikut :
a. Terdapat gejala demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 oC- 40oC).
b. Trombositopeni, terjadi penurunan trombosit dibawah 150.000/mm3,
biasanya ditemukan antara hari ke 3- 7.
c. Manifestasi pendarahan dari yang paling ringan seperti uji tourniquet
positif, bintik – bintik merah (petechia), lebam (ecchymosis), ruam
(purpura), mimisan, perdarahan gusi, perdarahan lambung (lambung
terasa nyeri) sampai adanya perdarahan berat misalnya perdarahan
gastrointestinal lain seperti muntah darah dan melena.
d. Hepatomegali (pembesaran hati).
4

e. Renjatan (Shock). Renjatan dapat terjadi pada saat demam tinggi yaitu
antara hari 3-7 mulai sakit. Renjatan terjadi karena perdarahan atau
kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapilar yang
rusak. Adapun tanda - tanda perdarahan :
o Kulit teraba dingin pada ujung hidung, jari dan kaki.
o Penderita menjadi gelisah.
o Nadi cepat, lemah, kecil sampai tas teraba.
o Tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang)
o Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80
mmhg atau kurang).
o Renjatan yang terjadi pada saat demam, biasanya mempunyai
kemungkinan yang lebih buruk.

f. Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai Hematokrit, merupakan indikator


yang peka terhadap terjadinya renjatan sehingga perlu dilaksanakan
penekanan berulang secara periodik. Kenaikan Ht 20% menunjang
diagnosa klinis Demam Berdarah Dengue.
g. Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah,
mual, muntah, sakit perut, diare kejang dan sakit kepala (WHO, 1986).

3. Ciri – ciri nyamuk Aedes

Gambar 2.1
Nyamuk Aedes aegypti
(Sumber: Depkes RI, 1996/1997: 20)
Ciri-ciri nyamuk aedes aegypti seperti yang terlihat pada gambar 1
yaitu : nyamuk aedes aegypti berwarna hitam dengan belang-belang
5

(loreng) putih pada seluruh tubuhnya. Hidup didalam dan disekitar rumah,
juga di temukan di tempat umum, mampu terbang sampai 100 meter.
(Depkes RI,1996/1997:20). Nyamuk betina aktif menggigit (menghisap)
darah pada pagi hari sampai sore hari. Nyamuk jantan biasa menghisap
sari bunga/ tumbuhan yang mengandung gula. Umur nyamuk aedes
aegypti rata-rata 2 minggu, tetapi sebagian diantaranya dapat hidup
sampai 2-3 bulan

4. Penyebaran Penyakit Demam Berdarah

Penyakit demam berdarah di sebarkan oleh nyamuk Aedes.


Dalam penyebaran penyakit demam berdarah dapat di jelaskan melalui
tiga hal berikut :
1. Agen
Penyebab dari penyakit demam berdarah adalah virus dengue. Tipe
virus ini adalah Arbovirus yang berasal dari famili flaviviridae (Hung
et al, 1999). Terdapat 4 tipe dari virus ini yaitu dengue 1, dengue 2,
dengue 3 dan dengue 4. Di Indonesia ke 4 tipe ini dapat ditemukan,
jumlah terbanyak adalah tipe serotipe 3 (Wuryadi, 1990).

2. Host
Virus dengue biasa menginfeksi manusia. Manusia merupakan
tempat utama dari virus dengue hidup (WHO, 1986). Manusia dapat
terinfeksi demam berdarah dengue apabila mendapatkan infeksi
ulang dari virus dengue ini dengan tipe virus yang berbeda. Infeksi
dari satu tipe virus saja paling berat hanya akan menimbulkan
demam dengue tanpa adanya perdarahan (Gubler, 1988).

3. Vektor
6

Ada dua spesies nyamuk yang dapat menularkan virus dengue, yaitu
Aedes Aegypti dan Aedes Albopticus. Penyebaran dua jenis nyamuk
ini hampir di seluruh wilayah indonesia kecuali di daerah2 yang
mempunyai ketinggian di atas 1000 meter di atas permukaan laut
(Depkes, 1998).

5. Pencegahan dan Kontrol Demam Berdarah


Menurut WHO (1999) ada beberapa pendekatan dalam
pencegahan demam berdarah dengue. Pendekatan – pendekatan
tersebut adalah sebagai berikut :
a. Surveilan Demam Berdarah
Menurut WHO (1999) tujuan dari kegiatan ini adalah untuk
mengetahui secara dini munculnya kejadian demam berdarah untuk
menentukan penerapan upaya kontrol yang tepat.
b. Pengembangan rencana apabila terjadinya epidemi
Dalam kegiatan ini dilakukan perkiraan jumlah populasi yang
beresiko, penentuan jumlah peralatan, persediaan dan jumlah
personil yang dibutuhkan untuk mengontrol vektor dan manajemen
pasien. Selain itu untuk mendukung kegiatan ini diperlukan
peningkatan kapasitas dokter, perawat dan laboran (WHO, 1999).
c. Pertukaran informasi
Pertukaran informasi sangat penting untuk mencegah dan
mengontrol kejadian demam berdarah. Informasi tersebut dapat
berupa laporan epidemiologi, laporan isolasi virus demam berdarah,
laporan survei entomologi Aedes aegypti dan laporan program
survailan serta kontrol (WHO, 1999).
d. Perlindungan Personal
7

Perlindungan ini bertujuan untuk mencegah gigitan nyamuk.


Perlindungan ini bisa menggunakan kelambu tidur dan bahan2
pengusir nyamuk (WHO, 1999).
e. Pengembangan Vaksin
Vaksin untuk pencegahan terinfeksinya demam berdarah saat ini
belum tersedia. Saat ini vaksin demam berdarah sedang
dikembangkan (WHO, 1999).

Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian


vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut
dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat,
yaitu :
a. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara
lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan
sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil
samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai
contoh: Menguras bak mandi/penampungan airsekurang-
kurangnya sekali seminggu. Mengganti/menguras vas bunga dan
tempatminum burung seminggu sekali. Menutup dengan rapat
tempat penampunganair. Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki
bekas dan ban bekas di sekitar rumahdan lain sebagainya.
b. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan
pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).

c. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan:
8

o Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan


fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan
sampai batas waktu tertentu.
o Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat
penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-
lain. Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah
dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan
”3M Plus”, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga
melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik,
menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur,
memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan
repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll
sesuai dengan kondisi setempat (Lestari, 2007).

6. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Demam Berdarah


a. Faktor Biologi
Faktor biologi yang mempengaruhi penyebaran demam berdarah
adalah reproduksi dan pergerakan. Reproduksi yang tinggi dan
pergerakan virus dengue dan Aedes aegypti akan meningkatkan resiko
penyebaran demam berdarah (Amalya, 2008).
b. Fakor Sosial
Peningkatan kasus demam berdarah dapat dipengaruhi oleh
peningkatan urbanisasi yang meningkatkan kontak antara manusia dan
Aedes aegypti, ketidakcukupan persediaan air dan peningkatan
migrasi, perjalanan internasional dan perdagangan yang meningkatkan
kemungkinan penyebaran demam berdarah dan virus (WHO, 1999).

c. Faktor Ekologi
9

Literatur mengenai hubungan antara demam berdarah dengan


berbagai macam faktor ekologi masih sangat terbatas. Hal ini di
sebabkan oleh adanya kesulitan untuk meneliti semua hubungan
yang begitu komplek (Halide et al, 2008). Secara ekologi, transmisi
demam berdarah dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu hist, vektor
nyamuk dan virus, dimana lingkungan secara langsung maupun tidak
langsung mempengaruhi tiga populasi tersebut dan interaksinya
(Gubler, 1997).

d. Faktor Iklim
Penyakit demam berdarah biasa muncul di daerah tropis dan
sub tropis seperti negara negara di Amerika latin, Afrika, Mediterania
timur, Asia tengara dan Pasifik barat (Schultz, 1993). Iklim
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya demam
berdarah. Ada beberapa variabel iklim yang mempengaruhi
penyebaran demam berdarah. Faktor – faktor tersebut adalah suhu,
curah hujan. kelembaban, angin dan lamanya siang hari. Di antara
faktor-faktor iklim tersebut suhu, curah hujan dan kelembaban
merupakan faktor yang paling penting dalam penyebaran demam
berdarah (Gubler, 1998).

e. Ketinggian
Ketinggian merupakan salah satu hal yang mempengaruhi
penyebaran nyamuk dan virus DBD. Ketinggian suatu daerah akan
berpengaruh terhadap daerah tersebut sehingga daerah yang lebih
tinggi akan memiliki suhu yang lebih rendah. Setiap kenaikan 100
meter suatu tempat maka selisih suhu udara dengan tempat semula
adalah setengah derajat celcius. Bila perbedaan cukup tinggi, maka
perbedaan suhu udara juga akan cukup banyak dan akan
10

mempengaruhi pula faktor-faktor yang lain termasuk penyebaran


nyamuk (Sejati, 2001).

6. Sistem Surveilans

Menurut WHO kegiatan surveilan adalan proses pengumpulan,


pengolahan, analisis, dan interpretasi data secara sistematik dan terus
menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan
untuk dapat mengambil tindakan. Menurut WHO (1999) tujuan dari
kegiatan ini adalah untuk mengetahui secara dini munculnya kejadian
demam berdarah untuk menentukan penerapan upaya kontrol yang tepat.

a. Komponen – komponen kegiatan surveilan

Dalam pelaksanaan kegiatan surveilan epidemiologi menurut


Noor (2002), terdapat beberapa komponen utama, komponen –
komponen tersebut adalah sebagai berikut :

1) Pengumpulan/pencatatan kejadian (data) yang dapat dipercaya.


Data yang dikumpulkan meliputi data epidemiologi yang jelas,
tepat dapat dipercaya dengan validitas dan reliabilitas yang
tinggi serta mempunyai hubungan dengan penyakit yang
mengalami surveilan. Jenis dan bentuk data yang dikumpulkan
di sesuaikan dengan tujuan surveilan.

2) Pengelolaan data untuk dapat memberikan keterangan yang


berarti.
11

Data yang diperoleh biasanya masih dalam bentuk data mentah


(row data) yang masih perlu disusun sedemikian rupa sehingga
mudah di analisis. Data yang terkumpul dapat diolah dalam
bentuk tabel, grafik maupun bentuk peta atau bentuk lainnya.
Kompilasi data tersebut harus dapat memberikan keterangan
yang berarti.

3. Analisis dan interpretasi data untuk keperluan kegiatan. Data


yang telah disusun dan dikompilasi, selanjutnya dianalisis dan
dilakukan interprestasi untuk memberikan arti dan memberikan
kejelasan tentang situasi yang ada dalam masyarakat.

4. Penyebarluasan data dan keterangan termasuk umpan balik.


Setelah analisis dan interpretasi data serta telah memiliki nilai
keterangan yang cukup jelas dan sudah disimpulkan dalam
suatu kesimpulan, selanjutnya dapat disebarluaskan kepada
semua pihak yang berkepentingan, agar informasi ini dapat
dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Penyebarluasan data dan
informasi dilakukan dalam tiga arah yang meliputi :
(a). Ditujukan ke tingkat administrasi yang lebih tinggi sebagai
informasi untuk dapat menentukan kebijakan selanjutnya.
(b). Dikirim kepada instansi pelapor atau ke tingkat administrasi
yang lebih rendah yang berfungsi sebagai pengumpul dan
pelapor data dalam bentuk umpan balik dan
(c) Disebarluaskan kepada instansi terkait kepada masyarakat.

e. Hasil evaluasi terhadap data sistem surveilans selanjutnya dapat


digunakan untuk perencanaan penanggulangan khusus serta
program pelaksanaanya, untuk kegiatan tindak lanjut (follow up),
12

untuk melakukan koreksi dan perbaikan – perbaikan program dan


pelaksanaan progra, serta untuk kepentingan evaluasi maupun
penilaian hasil kegiatan.

Proses sistem surveilans dapat dilihat dalam flow chart sistem


surveilans berikut :

Kejadian
Peristiwa Kesehatan

Diagnosis

Oleh siapa

Bagaimana
Masyarakat Sumber Pelaporan

Dokter
Umpan balik Laboratorium
dan penyebaran Rumah Sakit
informasi Sekolah Proses
Catatan Vital pelaporan

Penerima Data Manajemen data


Pengumpulan
Tkt I :Kesehatan kota/kabupaten Pemasukan
Tkt II : Dinas Kesehatan Propinsi Editing
Tkt III : Pusat Surveilans Depkes Analisis
Laporan
Penyebaran

(Noor M N, 2010)
13

b. Surveilan Penyakit Demam Berdarah

Sistem surveilans penyakit DBD adalah pengamatan penyakit


DBD meliputi kegiatan pencatatan, pengolahan dan penyajian data
penderita DBD untuk pemantauan mingguan, laporan mingguan wabah,
laporan bulanan, penentuan desa / kelurahan rawan, mengetahui
distribusi kasus DBD / kasus tersangka DBD, menentukan musim
penularan dan mengetahui kecenderungan penyakit (Ditjen P2M &
PLP,1992).

Surveilens untuk aedes aegypti sangat penting untuk


menentukan distribusi, kepadatan populasi, habitat utama larva, faktor
resiko berdasarkan waktu dan tempat yang berkaitan dengan penyebaran
dengue, dan tingkat kerentanan atau kekebalan insektisida yang dipakai
guna memprioritaskan wilayah dan musim untuk pelaksanaan
pengendalian vektor. Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi
keberadaan jentik yaitu: variasi musiman, ketinggian tempat, vektor
nyamuk aedes aegypti, pelaksanaan PSN – DBD, macam tempat
penampungan air, persediaan air bersih, pembuangan sampah padat,
tempat perindukan yang bukan tempat penampungan air, dan abatisasi
selektif.
Menurut WHO (1999) dalam kegiatan survailan ada 5 kegiatan
dasar yaitu : (1). Survailan demam, (2). Pengenalan kasus demam
berdarah dengue, (3). Pelaporan kasus pada pihak berwenang, (4).
Survailan Aedes aegypti, (5). Survailance virologi.
14

1. Surveilan demam

Pada daerah yang mempunyai resiko tinggi pada demam berdarah,


rumah sakit atau klinik seharusnya memberikan laporan mingguan
kepada pemerintah lokal maupun nasional tentang jumlah pasien yang
bersuhu lebih dari 38oC. Sehingga peningkatan angka kejadian DBD
dapat diidentifikasi (WHO, 1999).

2. Pengenalan kasus demam berdarah dengue

Identifikasi penyakit demam berdarah seharusnya mengikuti diagnosis


klinik yang dikembangkan oleh WHO. Selain itu juga didukung oleh
konfirmasi laboratorium. Pengidentifikasian kasus demam berdarah
sangat penting untuk kegiatan perencanaan dan program kontrol
Kebanyakan infeksi virus dengue pada anak-anak kecil adalah ringan dan
sulit dibedakan dari penyakit demam akut lainnya (WHO, 1999).

3. Pelaporan kasus pada pihak yang berwenang

Menurut WHO (1999), kasus demam berdarah seharusnya dilaporkan


kepada pemerintah lokal, nasional dan internasional. Dalam laporan
tersebut disampaikan jumlah pasien dengan demam berdarah dan jumlah
kematian terkait penyakit tersebut berdasarkan umur, jenis kelamin lokasi
dan data serangan. Data – data ini harus di proses dengan cepat dan
laporan harus di serahkan melalui pejabat kesehatan masyarakat nasional
ke WHO dan lainya sesui dengan kebutuhan, dengan salinan ke individu
dan institusi yang mengkontribusi data. Laporan harus mencakup jumlah
pasien dengan dan kematian akibat demam berdarah dengue
berdasarkan usia, jenis kelamin, lokasi dan tanggal.
15

4. Surveilan (vektor) Aedes aegypti

Pada Survei Entomologi DBD ada 5 Kegiatan Pokok, yaitu : pengumpulan


data terkait, survei telur, survei jentik atau larva, survei nyamuk, dan
survei lain lain (Depkes RI, 2002:3). Ada beberapa metode untuk
mendeteksi keberadaan jentik yaitu menggunakan cara survei jentik.
Survei jentik dapat dilakukan dengan beberapa metode :

a. Metode Single Larva


Pada setiap kontainer yang ditemukan ada jentik, maka satu ekor jentik
akan diambil dengan cidukan (gayung plastik) atau menggunakan pipet
panjang jentik sebagai sampel untuk pemeriksaan spesies jentik dan
identifikasi lebih lanjut jenis jentiknya. Jentik yang diambil ditempatkan
dalam botol kecil/vial bottle dan diberi label sesuai dengan nomor tim
survei, nomor lembar formulir berdasarkan 1 nomor rumah yang di
survei dan nomor kontainer dalam formulir.

b. Metode Visual
Hanya dilihat dan dicatat ada tidaknya jentik didalam kontainer tidak
dilakukan pengambilan dan pemeriksaan spesies jentik. Survei ini
dilakukan pada survei lanjutan untuk memonitor indek-indek jentik atau
menilai PSN yang dilakukan. (Depkes RI, 2002:3). Tiga indeks yang
biasa dipakai untuk memantau tingkat gangguan aedes aegypti, yaitu:
1.House Index (HI) yaitu persentase rumah yang terjangkit larva/ jentik.
2.Container index (CI) yaitu persentase penampungan air yang
terjangkit larva atau jentik.
3.Breteau index (BI) yaitu jumlah penampung air yang positif per 100
rumah yang diperiksa.
16

5. Surveilan virologi

Pemantauan infeksi virus dengue dan surveilan serotipe dengue


di daerah endemik mungkin dilakukan bila tersedia fasilitas dan staf
terlatih. Upaya- upaya ini dapat terdiri atas, sebagai contoh,
mengumpulkan laporan tentang isolasi virus dari pasien demam dan
pengumpulan serta pemrosesan sistematik nyamuk yang dicurigai untuk
upaya isolasi virus. Spesimen asli (serum viraemik atau kelompok nyamuk
terinfeksi), juga pewarnaan virus yang telah berhasil dikultur, harus
dipertahankan untuk studi di masa yang akan datang. Isolasi virus dari
pasien dicurigai mengalami demam berdarah dengue dan WHO atau
pusat kolaborasi WHO dapat dihubungi untuk mendapatkan saran2 dan
bantuan tentang prosedur isolasi virus dan penyimpanan atau pengiriman
virus dengue yang tepat.
17

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sistem surveilan dan bentuk – bentuk pengendalian yang telah


diuraikan dalam kajian pustaka dalam bab ini akan di bahas berdasarkan
penelitian – penelitian terkait dengan mengkaji berbagai faktor yang
mempengaruhi kejadian demam berdarah.

a. Sistem Surveilan Berbasis Web


Berdasarkan komponen – komponen surveilan kegiatan yang
diuraikan dalam kajian pustaka di atas maka perlu adanya pengembangan
proses tersebut. Di era perkembangan teknologi sekarang ini potensi untuk
meningkatkan hal tersebut sangatlah besar. Sebuah penelitian Solihudin dkk,
mengenai Sistem Informasi Surveilans (SIS DBD) berbasis web untuk
perencanaan, pencegahan dan pemberantasan DBD di Semarang bisa
menjadi salah satu bahan pembelajaran. Sistem informasi surveilans ini bisa
di gambarkan dalam diagram di bawah ini :
Masyarakat

Data Survey Data RS


dan kasus Rumah Sakit
Pemerintahan Kota
Sistem Informasi
Surveilans DBD
Dan kasus Puskesmas
Dinas Kesehatan Hasil PE
Propinsi
dan data
Dinas Kesehatan Kota Dan
kasus
Semarang
kasu
s
Gambar 1. Diagram pemanfaatan data dan
Daninformasi DBD
kasus
18

Pada sistem informasi surveilans tersebut terdiri dari modul – modul :


pemasukan kasus/penderita, masukan pengamatan jentik berkala,
penyelidikan epidemiologi, pencatatan fogging, pokja DBD, pemasukan data
jumlah penduduk dan pelaporan. Sistem ini menggunakan aplikasi yang
menggunakan dasar web. Aplikasi yang digunakan adalah PHP dan My SQL.

Dengan memanfaatkan sistem informasi surveilans maka


keterlambatan pelaporan data dapat dicegah sehingga upaya – upaya
perencanaan, pencegahan dan pemberantasan dapat di upayakan dengan
lebih optimal.

b. Surveilan vektor

Kegiatan surveilan vektor merupakan salah satu upaya yang sangat


penting untuk dilakukan. Ada beberapa metode dalam pengamatan
diantaranya adalah metode single larva dan visual. Bentuk pengendalian
yang biasa di lakukan adalah program pemberantasan sarang nyamuk.
Sebagaimana uraian pada kajian pustaka bahwa program – program yang
biasa di lakukan adalah program 3 M plus dan abatisasi.
Dalam pelaksanaan program tersebut di pengaruhi oleh faktor
perilaku dimana menurut penelitian Rambey (2003) yang dilakukan di kota
Jambi pada tahun 2003, bahwa pendidikan, status ekonomi, pengetahuan,
sikap, sarana dan prasarana, keterpaparan penyuluhan dan pemeriksaan
jentik mempunyai hubungan yang bermakna dengan perilaku masyarakat
dalam pemberantasan sarang nyamuk. Dalam penelitian ini variabel
pengetahuan merupakan yang paling dominan dengan OR 6,741 dengan
kata lain bahwa responden yang berpengetahuan tinggi akan berpeluang
6,741 kali untuk berperilaku baik dalam pemberantasan sarang nyamuk di
banding yang berpengetahuan rendah.
19

Berdasarkan hasil tersebut maka pengetahuan masyarakat perlu


ditingkatkan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam
pemberantasan sarang nyamuk. Berdasarkan hasil tersebut maka program –
program pemerintah bisa lebih difokuskan pada masalah ini.

c. Fogging focus

Program ini merupakan program yang ditujukan kepada nyamuk


dewasa yaitu dengan cara pengasapan dengan menggunakan insektisida.
Sistem pengasapan meliputi penggunaan butiran kecil insektisida ke udara
untuk membunuh nyamuk dewasa. Alat yang digunakan adalah mesin fog
atau mesin ULV. Pengasapan dilakukan sebanyak 2 siklus dengan interval 1
minggu (depkes, 1992a)

Insektisida yang dapat digunakan ialah :


a. Golongan organophospate, misalnya malathion, fenitrothion
b. Golongan Pyetroid sintetic, misalnya lamda sihalotrin, permetrin
c. Carbamat
Fogging focus ini hanya berpengaruh kecil terhadap populasi nyamuk
dan juga penularan dengue. Selain itu penyemprotan bila dilakukan di
masyarakat akan menimbulkan rasa aman yang semu sehingga akan
mengganggu program pemberantasan sarang nyamuk di masyarakat.
Rekomendasi terbaru penyemprotan insektisida sebaiknya digunakan,
kecuali dalam keadaan genting selama terjadinya kejadian luar biasa
(KLB/wabah. (Depkes, 2000).
20

Indikasi fogging yang ditetapkan WHO, yaitu berdasarkan keganasan


virulensi virus demam beradarah dengue, ada tambahan kasus dua hingga
tiga kasus, serta kepadatan jentik demam berdarah dengue > 5% (Erik tapan,
2004: 91). Jika teknik pengasapan ini yang digunakan, penting kiranya untuk
mematuhi instruksi tentang penggunaan peralatan dan petunjuk yang ada
pada label insektisida serta memastikan bahwa peralatan yang digunakan
memang terpelihara dengan baik dan dikalibrasi dengan benar. Yang lebih
penting lagi yang harus diperhatikan adalah pada saat penyemprotan,
makanan harus ditutup dengan rapat agar tidak tercemar partikel- partikel
racun serangga, selam penyemprotan penghuni rumah (termasuk hewan
peliharaan) sebaiknya tidak berada didalam rumah, agar aman. Begitu juga
sebelum penyemprotan perlu menutup rapat wadah air minum dan
perlengkapan dapur. Karena efek- efek tersebut, maka selayaknya
penyemprotan dilakukan jika memang ada indikasi yang disebutkan dan pada
wilayah yang terjangkit demam berdarah dengue radius 100 meter. Juga
selayaknya dilakukan oleh mereka yang berkompeten dan sudah terlatih
melakukan fogging.

d. Pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Kesehatan

Sumber daya kesehatan sangat penting dalam rangka upaya


penurunan angkat kematian penyakit demam berdarah. Dalam hal
mendukung pelaksanan pemberantasan sarang nyamuk yang dilakukan oleh
masyarakat, tidak lepas dari peran serta sumber daya kesehatan juga, yaitu
faktor petugas kesehatan dan ketersediaan sumber daya yang lain yang
berupa anggaran, bahan / materi, mesin / alat, cara yang dipergunakan, dan
pemasaran hasil / jasa (Djoko Wiyono, 1997: 234).
Pada dasarnya perencanaan kesehatan dimaksudkan untuk
menangani program- program yang dapat meningkatkan kualitas manusia
21

seutuhnya. Seperti dimaksudkan pada pengertian sehat, sekaligus dengan


adanya kualitas manusia yang semakin meningkat, pembangunan kesehatan
pada khususnya dan pembangunan secara keseluruhan akan semakin
meningkat pula. Namun demikian perencanaan kesehatan tidak
memperlakukan sebagai objek pembangunan belaka, namun sekaligus
sebagai pelaku pembangunan kesehatan dalam wujud peran serta.(Djoko
Wiyono, 1997: 171).
Dalam hal mendukung pelaksanan pemberantasan sarang nyamuk
yang dilakukan oleh masyarakat, tidak lepas dari peran serta sumber daya
kesehatan juga, yaitu faktor petugas kesehatan dan ketersediaan sumber
daya yang lain yang berupa anggaran, bahan / materi, mesin / alat, cara yang
dipergunakan, dan pemasaran hasil / jasa (Djoko Wiyono, 1997: 234).

e. Analisa Faktor Resiko Dalam Kegiatan Surveilan

Kejadian demam berdarah ini dipengaruhi oleh berbagai macam faktor


resiko. Hal ini tentu saja menjadi pertimbangan ketika melakukan kegiatan
surveilan. Aneka faktor resiko tersebut antara lain adalah :
A. Faktor perilaku
Perilaku dalam hal ini ada dua jenis perilaku petugas kesehatan sendiri
dan juga masyarakat.
1. Dalam hal ini sikap dan perilaku petugas kesehatan juga berpengaruh
terhadap pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk yang dilakukan
oleh masyarakat, karena masyarakat juga butuh bantuan dan pertisipasi
aktif dari petugas kesehatan dalam penyampaian informasi juga.
Aparatur pemerintah dalam memberi pelayanan kepada masyarakat
diharapkan memahami bahwa dirinya adalah bertugas melayani bukan
untuk dilayani masyarakat, oleh karena itu hendaknya dapat
memberikan pelayanan yang prima. (Djoko Wiyono, 1999: 123).
22

2. Perilaku dari masyarakat


Hasil penelitian Duma et al (2007) tentang analisis faktor yang
berhubungan dengan kejadian DBD di Kecamatan Baruga Kota Kendari
menyatakan bahwa faktor pengetahuan, kebiasaan menggantung
pakaian, kondisi TPA,kebersihan lingkungan berhubungan dengan
kejadian DBD. Faktor TPA yang merupakan faktor paling berpengaruh
dengan kejadian DBD.
Kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah merupakan
indikasi menjadi kesenangan beristirahat nyamuk Aedes aegypti.
Kegiatan PSN dan 3M ditambahkan dengan cara menghindari
kebiasaan menggantung pakaian di dalam kamar merupakan kegiatan
yang mesti dilakukan untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes
aegypti, sehingga penularan penyakit DBD dapat dicegah dan dikurangi.
Salah satu kegiatan yang dianjurkan daelam pelaksanaan PSN
adalah pengurasan TPA sekurang-kurangnya dalam frekuensi 1 minggu
sekali. TPA yang berjentik, halaman yang tidak bersih dan anak dengan
golongan umur 5-9 tahun.

B. Kepadatan hunian rumah


Nyamuk Aedes aegypti merupakan nyamuk yang sangat aktif
mencari makan, nyamuk tersebut dapat menggigit banyak orang dalam
waktu yang pendek. Oleh karena itu bila dalam satu rumah ada penghuni
yang menderita DBD maka penghuni lain mempunyai risiko untuk tertular
penyakit DBD.

C. Mobilitas penduduk
Mobilitas penduduk memegang peranan penting pada transmisi
penularan infeksi virus dengue. Salah satu faktor yang mempengaruhi
penyebaran epidemi dari Queensland ke New South Wales pada tahun
23

1942 adalah perpindahan personil militer dan angkatan udara, karena


jalur transportasi yang dilewati merupakan jalul penyebaran virus dengue
(Sutaryo, 2005).

D. Populasi

Kepadatan penduduk yang tinggi akan mempermudah terjadinya


infeksi virus dengue, karena daerah yang berpenduduk padat akan
meningkatkan jumlah insiden kasus DBD tersebut.

E. Lingkungan (environment)
Lingkungan yang mempengaruhi timbulnya penyakit dengue adalah:
1. Letak geografis

Penyakit akibat infeksi virus dengue ditemukan tersebar luas di


berbagai negara terutama di negara tropik dan subtropik yang
terletak antara 30º Lintang Utara dan 40º Lintang Selatan seperti
Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Caribbean dengan tingkat kejadian
sekitar 50-100 juta kasus setiap tahunnya (Djunaedi, 2006).

Infeksi virus dengue di Indonesia telah ada sejak abad ke-18 seperti
yang dilaporkan oleh David Bylon seorang dokter berkebangsaan
Belanda. Pada saat itu virus dengue menimbulkan penyakit yang
disebut penyakit demam lima hari (vijfdaagse koorts) kadang-
kadang disebut demam sendi (knokkel koorts). Disebut demikian
karena demam yang terjadi menghilang dalam lima hari, disertai
nyeri otot, nyeri pada sendi dan nyeri kepala. Sehingga sampai saat
ini penyakit tersebut masih merupakan problem kesehatan
masyarakat dan dapat muncul secara endemik maupun epidemik
24

yang menyebar dari suatu daerah ke daerah lain atau dari suatu
negara ke negara lain (Hadinegoro dan Satari, 2002).

b. Musim
Negara dengan 4 musim, epidemi DBD berlangsung pada musim
panas, meskipun ditemukan kasus DBD sporadis pada musim
dingin. Di Asia Tenggara epidemi DBD terjadi pada musim hujan,
seperti di Indonesia, Thailand, Malaysia dan Philippines epidemi
DBD terjadi beberapa minggu setelah musim hujan. Periode
epidemi yang terutama berlangsung selama musim hujan dan erat
kaitannya dengan kelembaban pada musim hujan. Hal tersebut
menyebabkan peningkatan aktivitas vektor dalam menggigit karena
didukung oleh lingkungan yang baik untuk masa inkubasi.

F. Surveilan dan pengendalian penyakit demam berdarah pasca bencana

Bencana alam maupun karena buatan manusia, akan


menyebabkan hancurnya infrastruktur kesehatan serta hilangnya
kapasitas sistem kesehatan untuk merespon kebutuhan kesehatan
populasi di wilayah tersebut. Rusaknya fasilitas kesehatan, berkurangnya
jumlah tenaga kesehatan karena menjadi korban bencana, maupun
karena keluarganya menjadi korban, lumpuhnya sarana komunikasi dan
koordinasi menjadi penyebab kolapsnya sistem kesehatan setempat.
Meskipun penyakit menular tidak serta merta muncul sesaat sesudah
bencana akan tetapi, apabila tidak ada pengamatan penyakit secara
seksama dengan sistem surveilans yang baik, maka penyakit menular
akan mempunyai potensi yang sangat besar untuk menjadi wabah
maupun epidemi, sebagai akibat:
25

 Berkumpulnya manusia dalam jumlah yang banyak


 Sanitasi, air bersih, nutrisi yang tidak memadai
 Perpindahan penyakit karena perubahan lingkungan paska bencana,
maupun karena perpindahan penduduk karena pengungsian.
Beberapa hal yang perlu diperhatiakan dalam upaya surveilan
penyakit demam berdarah pasca bencana adalah sebagaia berikut :
1. Definisi kasus dan pengendalian penyakit
Definisi kasus merupakan aspek yang sangat krusial dalam melakukan
deteksi dan pengendalian penyakit menular pada situasi paska
bencana. Definisi kasus mempengaruhi terdeteksi atau tidaknya
sebuah penyakit berpotensi KLB. Definisi kasus untuk kegiatan
surveilans paska bencana haruslah bersifat sederhana, dengan
sensitivitas yang tinggi agar sebuah penyakit dapat sesegera mungkin
dideteksi dan dikendalikan untuk mencegah terjadinya KLB
2. Pengamatan pola penyakit dan kewaspadaan dini
WHO merekomendasikan pelaporan surveilans mingguan untuk
memonitor pola penyakit di wilayah bencana. Penyakit yang
dimasukkan dalam daftar pengamatan merupakan penyakit prioritas
yang sebaiknya dibatasi tidak terlalu banyak (lebih kurang 10 penyakit
prioritas). Prioritas didasarkan atas kriteri yang sudah dibahas di
bagian sebelumnya.
3. Respon cepat pengendalian penyakit
Untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa pada situasi bencana,
maka deteksi kasus dan respons pengendalian harus dilakukan secara
simultan. Setiap informasi yang mengarah munculnya sebuah kasus
penyakit prioritas di wilayah bencana (meskipun dalam bentuk rumor),
harus ditindak lanjuti dengan proses verifikasi segera dengan
melakukan penyelidikan epidemiologis. Tim epidemiolog lapangan
harus sesegera mungkin diterjunkan ke lapangan untuk mengambil
26

sampel penderita, melakukan verifikasi laboratorium, yang apabila


memungkinkan dengan menggunakan tes cepat (rapid test), agar
verifikasi diagnosis dapat dilakukan pada saat itu juga. (PAHO, 2000,
WHO, 2006, Mala, 2006).
27

BAB IV

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan
 Sistem surveilans penyakit DBD adalah pengamatan penyakit DBD
meliputi kegiatan pencatatan, pengolahan dan penyajian data
penderita DBD untuk pemantauan mingguan, laporan mingguan
wabah, laporan bulanan, penentuan desa / kelurahan rawan,
mengetahui distribusi kasus DBD / kasus tersangka DBD, menentukan
musim penularan dan mengetahui kecenderungan penyakit (Ditjen
P2M & PLP,1992).

 Kegiatan surveilan penyakit demam berdarah perlu di upayakan


dengan program – program untuk pengendalian seperti fogging focus,
program 3 M plus, abatisasi, penyuluhan, pengembangan sistem
informasi surveilan.

 Program pemberantasan sarang nyamuk harus dilakukan secara


holistik dengan memperhatikan semua faktor – faktor yang
mempengaruhi.

 Program pemberantasan sarang nyamuk harus bisa melibatkan


berbagai pihak terkait.

B. Rekomendasi
28

 Perlu dilakukan pengembangan sistem surveilan untuk lebih


meningkatkan efektifitas dalam upaya pengendalian penyakit demam
berdarah.
 Perlu peningkatan koordinasi yang lebih baik antar internal maupun
eksternal pada institusi yang terkait dalam program kegiatan surveilan
untuk pengendalian penyakti demam berdarah.

DAFTAR PUSTAKA
29

Depkes RI. 1998. Petunjuk teknis penemuan pertolongan dan


pelaporan penderitapenyakit DBD. Edisi tahun 1998/1999,
Ditjen P2M-PLP Jakarta;

Ditjen P2 PL Depkes RI. 2008. Profil P2 PL tahun 2008. Jakarta

Gubler DJ. 1997. Dengue and dengue hemorrhagic fever: its


history and resurgence as a global public health problem.
Wallingford, UK: CAB International,: 1–22.

Gubler DJ. 1988. The Arbovirosis Epidemiology and Ecology.


US Departement of Health and human services volume II
chapter 23. Emerging Infectious Diseases Vol 4, Special
Issue. 442–450.

Hales S, Weinstein P, Souares Y, Woodward A. 1999. El Nino


and the dynamics of vectorborne diseases transmission.
Environ Health Perspect. 107:99-102.

Hariyana B, 2007. Pengembangan sistem informasi surveilans


epidemiologi demam berdarah dengue untuk kewaspadaan
dini dengan sistem informasi geografis di wilayah dinas
kesehatan kabupaten Jepara (STUDI KASUS DI
PUSKESMAS MLONGGO I). Tesis UNDIP
Lestari K. 2007. Epidemiologi dan pencegahan demam
berdarah dengue di Indonesia. Farmaka Universitas
Padjajaran. Vol. 5 ; 3
30

Nurbeti, M. 2008. Surveilan Epidemiologi. dari www.


Kesehatanmasyarakat.com di akses pada tanggal 12 Maret
2010.
Rambey. I . M, 2005. Faktor – faktor yang berhubungan dengan
perilaku masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk
demam berdarah dengue di Kota Jambi tahun 2003. Tesis
UI

WHO. Dengue haemorrhagic fever: diagnosis, treatment,


preventioan and control (2 nd ed). Geneva : World disadur
dari
http://www.who.int/crs/resources/publications/dengue/dengu
epublication/en/.

TUGAS INDIVIDU
31

SURVEILAN UNTUK PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE

Mata Kuliah : Surveilan Penyakit


Dosen : Dr. drg Andi Zulkifli Abdullah , M.S

oleh :

Agung Priyanto

(P1800209002)

Program Studi Kesehatan Masyarakat


Program Pasca Sarjana
Universitas Hasanuddin
2 0 10

Kata Pengantar

Syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga kami bisa menyelesaikan
32

paper yang berjudul “ Surveilan penyakit demam berdarah dengue”. Rasa


terima kasih juga kami sampaikan kepada Dr. drg. Andi Zulkifli Abdullah,
Mkes selaku dosen pengampu mata kuliah surveilan epidemiologi yang telah
banyak memberikan ilmu dan bimbingannya kepada kami.
Kami berharap paper ini dapat bermanfaat bagi penulis dan juga bagi
pembaca sekalian. Kami yakin paper ini masih jauh dari sempurna dan
banyak kekurangan, untuk itu kami mohon masukkan untuk menambah
kesempurnaan dari paper ini. Akhirnya kami ucapkan terima kasih

Hormat kami

penulis

DAFTAR ISI

Daftar Isi.............................................................................................................i
33

Daftar Isi.............................................................................................................ii

Bab I

Pendahuluan.....................................................................................................1

A. Latar Belakang..........................................................................................1

B. Tujuan........................................................................................................2

C. Manfaat.....................................................................................................3

Bab II. Kajian Pustaka.......................................................................................4

1. Etiologi Demam Berdarah.........................................................................4

2. Symptomologi Demam Berdarah..............................................................4

3. Ciri – ciri nyamuk Aedes............................................................................5

4. Penyebaran Penyakit Demam Berdarah...................................................6

5. Pencegahan dan Kontrol Demam Berdarah............................................7

6. Surveilan Demam Berdarah......................................................................9

Bab IV. HASIL DAN PEMBAHASAN..............................................................14

A. Hasil dan Pembahasan...........................................................................14

Bab V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI.................................................20

A. Kesimpulan..............................................................................................20

B. Rekomendasi..........................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................21
34

Anda mungkin juga menyukai