Anda di halaman 1dari 7

MANAJEMEN BENCANA DAN PENYAKIT PASCA BENCANA

MANAJEMEN BENCANA DAN PENYAKIT-PENYAKIT PASCA BENCANA


Sri Murni
E2A009201
RII / 2009
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia dengan keadaan geografis dan kondisi sosialnya berpotensi rawan
bencana, balk yang disebabkan oleh kejadian alam seperti gempa bumi,
tsunami, tanah longsor, letusan gunung berapi, banjir, angin puting beliung
dan kekeringan, maupun yang disebabkan oleh ulah manusia dalam
pengelolaan sumber daya dan lingkungan (contohnya kebakaran hutan,
pencemaran lingkungan, kecelakaan transportasi, kecelakaan industri, dan
tindakan teror born) serta konflik antar kelompok masyarakat.
Kejadian bencana umumnya berdampak merugikan. Rusaknya sarana dan
prasarana fisik (perumahan penduduk, bangunan perkantoran, sekolah, tempat
ibadah, sarana jalan, jembatan dan lain-lain) hanyalah sebagian kecil dari
dampak terjadinya bencana disamping masalah kesehatan seperti korban luka,
penyakit menular tertentu, menurunnya status gizi masyarakat, stress pasca
trauma dan masalah psikososial, bahkan korban jiwa. Bencana dapat pula
mengakibatkan arus pengungsian penduduk ke lokasi-lokasi yang dianggap
aman. Hal ini tentunya dapat menimbulkan masalah kesehatan baru di wilayah
yang menjadi tempat penampungan pengungsi, mulai dari munculnya kasus
penyakit dan masalah gizi serta masalah kesehatan reproduksi hingga masalah
penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, penyediaan air bersih, sanitasi serta
penurunan kualitas kesehatan lingkungan.
Upaya penanggulangan krisis akibat bencana merupakan rangkaian kegiatan
yang dimulai sejak sebelum terjadinya bencana yang dilakukan melalui
kegiatan pencegahan, mitigasi (pelunakan/penjinakan dampak) dan
kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Kegiatan yang dilakukan pada
saat terjadi bencana berupa kegiatan tanggap darurat sementara pada saat
setelah terjadi bencana berupa kegiatan
II. BENCANA

DEFINISI
Kejadian / peristiwa bencana yang diakibatkan oleh alam atau ulah manusia,
baik yang terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan,dapat menyebabkan
hilangnya jiwa manusia, trauma fisik dan psikis, kerusakan harta benda dan
lingkungan, yang mampu melampaui kemampuan sumberdaya masy.untuk
mengatasinya.
1. Definisi Oprasional
a. Gawat Darurat :
Keadaan dimana diperlukan pertolongan segeracepat,cermat,tepat) untuk
mencegah kematian atau kecacatan
b. Tanggap Darurat :
Upaya penangulangan dampak yang timbul akibat bencana, terutama
penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian.
c. Pencegahan ( prevention) :
Upaya pencegahan terjadinya bencana dan jika mungkin meniadakan
bencana.
d. Mitigasi ( Mitigation ) :
Upaya untuk mengurangi dampak bencana, baik fisik struktural melalui
pembuatan bangunan fisik maupun non fisik struktural melalui undang-
undang & pelatihan
e. Kesiapsiagaan ( Preparedness ) :
Upaya mengantisipasi bencana, melalui pengorganisasian langkah – langkah
tepat guna dan berdaya guna.
2. Kesiapsiagaan = preparedness kegiatan pra bencana prevention mitigasi
3. Kegiatan saat bencana
a) Menginformasikan kejadian bencana misal pada forum desa dan petugas
kesehatan..
b) Memberitahukan pada warga (kentongan dll)
c) Membantu melakukan PPGD bersama petugas kesehatan.
d) Memberi bantuan perlengkapan pengungsian / logistik. (Dapur Umum,
Tenda, Posko, dll)
e) Membantu petugas dalam pencatatan dan (data korban, data logistik)
f) Membantu petugas kesehatan memberikan pertolongan awal
g) Mengaktifkan sistem pertolongan
h) Melakan evakuasi dan transfortasi dengan benar
i) Mengaktifkan sistem peringatan
4. Kegiatan paska bencana
a) Pengamatan terhadap dampak bencana (Misalnya sumur yg rusak, pipa air
putus atau jamban hancur)
b) Membantu memulihkan kondisi emosi warga (menghibur, menenangkan
warga dg cara berdoa/ berzikir bersama atau mendampingi korban)
5. Apa saja yang dicatat dan dilaporkan
a) Nama korban
b) Umur dan jenis kelamin
c) Tempat dan waktu kejadian
d) Penolong
e) Tindakan yang dilakukan
f) Tempat rujukan selanjutnya

III. PENYAKIT PASCA BENCANA

Bencana alam yang terjadi selalu menyisakan kepedihan yang mendalam.


Baik berupa gempa bumi, tanah longsor, banjir, gunung meletus, ataupun
tsunami. Banyak korban nyawa, fisik, dan harta akibat bencana yang terjadi.
Bencana menyebabkan korban yang selamat, kehilangan keluarga, sahabat,
harta, bahkan tempat tinggal. Bencana ini selanjutnya menyebabkan
berbagai masalah kesehatan. Menurut Ketua Umum PB IDI Fachmi Idris,
secara umum, masalah kesehatan utama setelah bencana adalah trauma
fisik seperti luka dan patah tulang. Kemudian, selama dan sesudah masa itu
korban bencana yang selamat dan tinggal di pengungsian juga terancam
penyakit jika upaya antisipasinya tidak memadai. Berbagai penyakit yang
muncul pascabencana alam antara lain malaria, ISPA, diare, leptospirosis,
kolera, dan infeksi kulit.
Pada umumnya masalah kesehatan pasca gempa dapat dibagi dalam 3
fase:
a) Penyakit akut pasca bencana.
Yaitu penyakit yang berhubungan langsung dengan bencana yang terjadi.
Misalnya, kasus gempa bumi di Padang tanggal 30 September 2009,
penyakit yang berhubungan langsung dengan gempa adalah cedera akibat
reruntuhan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa cedera utama akibat
gempa adalah cedera kepala dan patah tulang.
b) Penyakit ikutan pada beberapa hari-minggu pasca bencana
1) Malaria
Penyakit malaria dapat timbul misalnya saat masyarakat berada di
pengungsian ( tenda-tenda darurat ), nyamuk anopheles bisa menginfeksi
korban-korban bencana.
2) DBD
Misalnya banjir, air yang tergenang dapat menyebabkan bersarangnya
nyamuk aides aigypti. Kemudian menginfeksi korban-korban bencana.
3) Diare dan penyakit kulit
Penyakit ini bisa menginfeksi korban bencana karena sanitasi yang jelek.
Misalnya kuman-kuman penyebab diare seperti ; Vibrio kolera, Salmonella
dysentriae pada genangan banjir, diare akibat kurangnya asupan air bersih
karena saluran air bersih dan sanitari yang rusak.
Seseorang menderita diare bila frekuensi buang air besar telah melampaui
kebiasaannya dengan kotoran encer dan banyak cairan. Diare yang terus
menerus mungkin merupakan gejala penyakit berat seperti tipus, kolera dan
kanker usus. Diare yang berat bisa menyebabkan dehidrasi dan bisa
membahayakan jiwa.
Gejala-gejalanya seperti frekuensi buang air besar melebihi normal, kotoran
encer/cair, sakit/kejang perut, demam dan muntah. Penyebabnya bisa dari
Anxietas (rasa cemas), keracunan makanan, infeksi virus dari usus, alergi
terhadap makanan tertentu.
Penanggulangannya adalah dengan minum banyak cairan, hindari makanan
padat atau yang tidak berperasa selama 1-2 hari, minum cairan rehidrasi
oral-oralit.
4) ISPA ( Infeksi Saluran Pernapasan Atas )
ISPA terjadi karena masuknya kuman atau mirkoorganisme ke dalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
Istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris acute respiratory
infections (ARI). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran
pernapasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut:
a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mirkoorganisme ke dalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
b. Saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli. Secara
anatomis mencakup saluran pernapasan bagian atas, saluran pernpasan
bagian bawah (termasuk jaringan saluran pernapasan).
c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari, Batas
14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa
penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung
lebih dari 14 hari.
Selain ISPA sering juga ditemukan pnemonia yaitu proses infeksi akut yang
mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pnemonia pada anak
seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa
disebut bronchopneumonia).
Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak, karena paru
meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi
pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia dua bulan
sampai kurang dari satu tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak
usia satu tajun sampai kurang dari lima tahun. Pada anak di bawah usia dua
bulan, tidak dikenal diagnosis pnemonia.
Pencegahannya dengan pengadaan rumah dengan ventilasi yang memadai,
perilaku hidup bersih dan sehat, peningkatan gizi balita.
5) Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira
berbentuk spiral dan hidup di air tawar. Penyakit ini timbul karena
terkontaminasinya air oleh air seni hewan yang menderita leptospirosis.
Biasanya penyakit ini terdapat pada korban banjir.
6) Tipes
Penyakit tipes sebenarnya juga berkaitan erat dengan faktor daya tahan
tubuh seseorang. Oleh sebab itu, untuk mencegah terkena penyakit tipes,
masyarakat harus menjaga kondisi tubuh dengan makan makanan bergizi
dan jangan sampai kelelahan.
c) Masalah kesehatan mental akibat gempa.
Penyakit psikologis / Trauma berkepanjangan akibat reaksi stres akut saat
bencana bisa menetap menjadi kecemasan yang berlebihan. Akibat
kehilangan rumah, kehilangan anggota keluarga atau bisa juga trauma
karena ketakutan yang mendalam

IV. PENANGGULANGAN PASCA BENCANA

a. Tatakelola lingkungan pasca bencana

b. Ketersediaan fasilitas sanitasi

c. Suplay makanan dan air bersih


d. Pengiriman relawan-relawan ke lokasi bencana

REFERENSI

1. “Pencegahan Wabah Penyakit Pasca-Bencana” dalam


www.cybernet.cbn.id.

2. “Isu Pasca Bencana” dalam www.menlh.go.id.

3. “ Waspadai Penyakit Pasca Bencana” dalam www.lautanindonesia.com.

4. http://www.scribd.com/doc/36278905/Pedoman-Manajemen-
Sdm-Kesehatan-Dalam-Penanggulangan-Bencana

5. http://indonews.org/berbagai-penyakit-mengincar-
pascabencana/

6. http://regional.kompas.com/read/2010/10/29/04294798/Berbag
ai.Penyakit.Mengincar.Pascabencana

Anda mungkin juga menyukai